DARI BATIK KE BENANG BINTIK

Jurnal Toddoppuli

Cerit Buat Andrini S. Kusni Dan Anak-Anakku

DARI BATIK KE BENANG BINTIK

 

‘’Bagaimana ciri Kalteng dalam bidang busana adalah pertanyaan yang dihadapi oleh  Drs.Suparmanto ketika menjadi  Gubernur Kalteng  (1989-1993). Untuk menjawab pertanyaan mendasar ini maka istrinya berprakarsa menciptakan apa yang  disebut Batik Kalteng. Dengan menggunakan yang disebut ‘’Batik Kalteng’’ inilah kemudian berbagai macam pakaian yang disebut Pakaian Adat Dayak dibuat. Keadaan begini berlangsung smpai sekarang, bahkan untuk acara-acara formal dan hari-hari tertentu, penggunaan pakaian Batik Kalteng menjadi keharusan. Perkembangan lebih lanjut , pembuatan yang disebut  ‘’Batik Kalteng’’ itu dikerjakan di Kalteng, terutama cq Palangka Raya.

 

Ia disebut Batik Kalteng karena pada dasarnya ia adalah batik yang dibuat menggunakan motif-motif Dayak Kalteng dengan tekhnik batik cap di atas helai-helai kain putih bukan batik lukisan. Sejauh ini tidak ada batik lukis seperti yang dilakukan di Jawa Tengah. Dengan tekhnik cap maka produksinya bisa lebih massal. Seandainya Batik Kalteng ini dibuat dengan motif-motif Jawa maka ia tidak lagi menjadi motif Kalteng tapi kembali menjadi Batik Jawa.

 

Sebelum pembuatan Batik Kalteng itu dilakukan  di Kalteng, batik-batik ini dikerjakan  di Jawa. Dari Jawa kemudian produk itu dibawa masuk ke Kalteng seperti halnya yang pernah saya lakukan sendiri ketika menangani kerajinan tangan.

 

Apa yang dilakukan oleh istri Suparmanto dalam menciptakan Batik Kalteng bisa disebut sebagai bentuk dari akulturasi. Penggunaan tekhnik batik untuk menciptakan yng disebut Batik Kalteng. Akulturasi model begini tidak salah, wajar dan jalan mudah. Apalagi jika tidak disertai dengan pendalaman terhadap budaya Dayak seperti warna, hubungan motif, warna dan sebagainya dengan roh budaya Dayak. Karya begini, dengan segala penghargaan kepada penciptnya, bisa menjadi karya tanpa jiwa seperti yang diperlihatkan oleh Patung Tjilik Riwut di depan Kantor Bupati Katingan yang dibuat oleh pematung dari Jawa, patung enggang (yang menjelma jadi burung belibis) di depan kantor Badan Lingkungan Hidup Provinsi Kalteng di Palangka Raya, lukisan mural di kaki-kaki Jembatan Kahayan, atau beberapa karya sastra-seni lainnya diciptakan oleh seniman-seniman non-Dayak tentang Kalteng membuat yang mengerti jadi geli.

 

Jika tadiya, Batik Kalteng diciptakan dalam upaya menjawab keperluan praktis dalam pergaulan tingkat nasional, internasional dan local, serta pertanyaan ‘’apa ciri khas busana  Kalteng’’, upaya ini dari segi linguistik saja dimentahkan secara dini oleh sebutan ‘’Batik Kalteng’’. Batik bukanlah ciri khas Kalteng, tapi serta-merta membawa imajinasi orang ke Tanah Jawa. Saya khawatir jika nama ini dipertahankan, ia menyimbolkan dominasi dan aneksi mayoritas. Paling tidak penciptaannya menggunakan metode jalan pintas, jalan mudah tanpa pencarian serius. Secara sepintas, bagi orang yang tidak mengenal Kalteng, cq Dayak, melihat Batik Kalteng, orang segera menganggap lembaran kain bermotif Dayak itu adalah kain atau pakaian dari Jawa, bernama batik. Jika benar demikian maka upaya mencari kekhasan Dayak Kalteng dengan Batik Kalteng nyata-nyata gagal. Yang disebut khas itu tidak lain karya itu atau hal-ikhwal itu menonjol karakter uniknya. Jika orang tidak mengetahuinya, oleh karakter unik itu, orang segera bertanya dari mana ia berasal, siapa penciptanya. Adakah hal demikian pada Batik Kalteng? Saya kira tidak.

Berkata begini, tidak berarti saya menolak pengaruh. Tapi hendaknya pengaruh tidak membuang ciri khas. Karakter unik. Jika demikian, mampukah Batik Kalteng, sebuah karya epigon, kitch dari Batik Jawa bisa bersaing dengan Batik Jawa? Jika ini terjadi  untuk tingkt Kalteng saja, maka perolehan ini sudah cukup baik, Epigon atau kitch tidak pernah melampaui yang orisinal. Karena itu, saya menganggap dari segi apapun Batik Kalteng adalah karya yang gagal. Karya gagal tidak pernah mempunyai pasar luas, sekalipun ditopang oleh kekuasaan politik dan uang. Karena konsumen lebih memilih yang orisinal. Jika orang Kalteng membeli Batik Kalteng, pertama-tama pembelinya barangkali adalah pihak resmi, lembaga-lembaga seperti sekolah karena sesuai ketentuan pemerintah atau lembaga. Ia juga dibeli karena tidak ada pilihan lain untuk menampakkan identitas, tapi antara bentuk dan identitas sebagai substansi sama sekali tidak rasuk (uncompatible). Berbeda halnya dengan Sarung Samarinda, kain  Batak,Sumba,Timor, Mandar, Toraja dan lain-lain. Kegagalan ini diperlihatkan juga oleh upaya-upaya yang dilakukan sampai sekarang untuk mencari busana atas dasar kain yang benar-benar khas Kalteng. Pencarian menunjukkan orang tidak puas dengan apa yang ada. Tidak puas dan merasa tidak rasuk dengan yang disebut Batik Kalteng, yang membuat Uluh Kalteng hanya epigon Jawa Tengah secara budaya.  Kalteng sedang mencari kembali dirinya. Suatu hal yag baik untuk orang yang mau mempunyai harkat dan martabat. Agaknya dengan pencarian terus-menerus ini Batik Kalteng, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, cepat atau lambat pada suatu saat yang entah kapan,  akan meninggalkan ‘’masa jaya’’ karena monopoli yang didapatnya dengan jalan pintas. Apabila Batik Kalteng melenyap, motif Dayak akan tetap ada karena ia memang mempunyai akar dan berakar sejarah di Tanah Dayak.

 

Pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Palangka Raya, merupakan salah  satu pihak yang cukup aktif melakukan pencarian diri ini. Berbagai kegiatan  telah, sedang dan terus dilakukanya dalam upaha begini. Misal Disbudpar Kota pernah menyelenggarakan lomba penulisan cerita-cerita Dayak dalam bahasa Indonesia dan bahasa Dayak Ngaju. Pernah menyelenggarakan lomba souvenir khas Kalteng dengan bahan-bahan dari Kalteng, lomba tari tradisional dan garapan. Sekolah Tinggi  Agama Hindu-Kaharingan pernah menyelenggarakan lomba karungut, TVRI Kalteng mengutamakan budaya Dayak  dalam siaran-siaran lokalnya yang hanya 4 jam. Disbudpar Kota akan mampu memberikan sumbangan-sumbangan berarti lagi di masa datang apabila tetap berpegang pada sikap terbuka dan malah mengharapkan pengawasan dari pekerja-pekerja budaya seperti yang diutarakan oleh Kadis Disbudpar Kota,Trecy Anden. Sikap langka di kalangan birokrat.

 

Pencarian ini juga mengatakan bahwa sadar atau tidak sadar Uluh Kalteng, terutama Uluh Itah merasa bahwa mereka kehilangan sesuatu yang berharga yaitu jati diri mereka, termasuk dalam soal busana.

 

Kehilangan dalam bidang pertenunan ini terutama dimulai sejak Keputusan Pertemuan Tumbang Anoi 1894 diterima oleh Orang Dayak. Pertemuan Tumbangan Anoi 1894 dilihat dari latar belakang situasi sejarah pada waktu itu adalah bentuk lain khas Tanah Dayak,  dari politik devide et impera (memecah belah dan menguasai) Belanda. Politik kolonial yang diterapkan Belanda pada waktu itu di seluruh Hindia Belanda. Di Tanah Dayak pada waktu perang perlawanan untuk kemerdekaan berlangsung di mana-mana. Memenangi perang tersebut secara fisik di wilayah seluas Tanah Dayak yang lebih besar dari Pulau Jawa, tidaklah mungkin. Apalagi menghentikan perang gerilya. Karena itu perlu dicari jalan lain. Untuk itu beberapa pemuka Dayak yang mungkin ditarik dan mingkin dikelabui atau yang kurang awas untuk ditarik  dengan berbagai cara untuk mewujudkan tujuan kolonialnya. Sedangkan terhadap  yang disebut perdamaian antar Dayak , sesungguhnya tidak lain proklamasi pengakuan sukarela sebagai anak jajahan  sebagimana tertera pada poin pertama dari  9 butir  kesimpulan Perjanjian Tumbang Anoi 1894, yaitu ‘’(1). Persetujuan penghentian permusuhan dengan pihak Pemerintah Hindia Belanda’’ , ‘’sehingga seluruh Kalimantan dan suku Dayak menjadi ‘’milik’’ Hindia Belanda,di luar Kalimantan jajahan Inggris dan Kesultanan Brunai’’(Lihat :Prof.Dr. ahim S. Rusan, et.al  2006 :73). Sedangkan kerukunan antar suku-suku Dayak, sesungguhnya, kerukunan  yang memang sangat diperlukan  juga oleh Belanda. Sebab kayau-mengayau menghambat ekspansi pendudukan Belanda (lihat Dr. Anton W. Nieuwenhuis, 1894. Edisi Indonesia, 1994, 266 hlm.). Jadi poin-poin lain Perjanjian Tumbang Anoi tentang hubungan antar Dayak, sesungguhnya lebih bertolak dari kepentingan Belanda. Untuk mengkonsolidasi hasil Perjanjian maka Belanda lalu melancarkan politik desivilisasi bernama ‘’Ragi Usang’’. Semua budaya Dayak dipandang sebagai ragi usang yng harus dibuang, termasuk kemmpuan menenun, membuat gula, dan lain-lain.Sebagai gantinya dimasukkan kain belacu dan kain dari karung gandum. Oleh politik ragi usang inilah maka kemampuan menenun Orang Dayak tidak berkembang. Jika demikian, masuk akalkah Perjanjian Tumbang Anoi dipandang sebagai ‘’Fajar Peradaban’’, padahal sesungguhnya yang terjadi adalah masuknya Tanah Dayak ke dalam masa kegelapan.

 

Berdirinya Kalteng sebagai ‘’The Heart Land of  Dayak’’, membawa cahaya ke Tanah Dayak. Tapi ketika memasuki periode ini, Orang Dayak telah kehilangan banyak hal, termasuk jati diri mereka. Sadar akan hal ini maka pencarian terus-menerus dilakukan sampai sekarang. Dari segi ini, maka lomba desain benang bintik menjadi bagian dari upaya mecari identits diri yang hilang. Pencarian jati diri yang meniscayakan si pencari untuk menelusur sejarah dan akar budayanya kembali tanpa menutup diri terhadap unsur-unsur luar mana pun, termasuk dari Jawa. Tapi pasti pula bahwa bukan unsur luar itu yang berdominasi. Unsur luar bersifat pelengkap, tidak seperti Batik Kalteng yang namanya saja sudah kehilangan karakter khas Kalteng, karena  yang dominan adalah unsur luar. Barangkali para saudagar Batik Kalteng tidak mengindahkan hal karkater khas sebab bgi pedagang yang paling penting adalah laba.

 

Bénang Bintik , dari segi namanya sudah khas dan punya dasar sejarah serta budaya lokal daripada batik. Bénang dalah helaian kain putih. Bintik adalah desain, bintik yang  akan diterakan di atas helaian kain putih itu. Jika boleh berandai-andai, maka seandainya kemampuan menenun tidak dibasmi oleh politik desivilisasi ragi usang, bisa dipastikan bahwa bénang-nya pun diproduksi di, dan oleh Uluh Dayak sendiri. Ditambah dengan bintik yang khas, maka tidak ayal karakter khas Dayak Kalteng-nya akan sangat kuat. Tapi andaian itu adalah andaian yang tidak terjadi.

 

Sekarang Uluh Itah dengan dipelopori oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotamengajak semua warga mencari dan menciptakan karakter khas itu. Upaya ini tentu baru merupakan langkah pertama untuk langkah-langkah selanjutnya yang masih patut ditangani seperti busana dan fesyen yang berkarakter khas. Saya kira patokan pencarian diri ini tidak lepas dari orientasi umum kebudayaan Kalteng yaitu Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng. Yang menjadi dasar bagi identitas Kalteng ini tidak bisa lain dari budaya Dayak. Jika dasar identitas ini dibuang atau tidak diindahkan maka ia tidak akan berkarakter khas Kalteng lagi. Bénang Bintik inilah kelak yang bisa diharapkan sebagai helaian kain atau bénang untuk membuat macam-macam busana dan fesyen Kalteng. Bukan lagi Batik Kalteng. Karya tanpa identits khas kan menjadi karya tanpa roh. Karya yang beridentitas tidak berarti karya yang menyempitkan dunia, tapi justru menjadi kekayaan dunia dan bangsa. Kekhasan, lokalitas adalah bentuk, universalitas adalah substansi. Keduanya niscaya padu. Karena itu pasar dan penggunanya pun akan seluas negeri dan dunia yang lebih mencari yang berkarakter khas daripada berwatak epigonis atau kitch.  Biarlah Jawa dengan batik, blangkon dan kerisnya sedangkan Kalteng dengan bénang bintik, mandau, tombak dan sumpitannya. Apakah saya meentang pembuatan, penggunaan dan pemasaran Batik Kalteng? Tentu saja tidak sebab prinsip yang saya pegang adalah ‘’biar bunga mekar bersama, seribu aliran bersaing suara’’. Yang utama saya persoalankan adalah identitas Kalteng.  ***

 

KUSNI SULANG, Anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, Palangka Raya.

Advertisements

2 comments so far

  1. […] Saat ini, ada beberapa orang yang menyebut Sasirangan sebagai Batik Sasirangan. Seperti sudah dijelaskan tadi, Sasirangan dan Batik merupakan dua kain berbeda. Teknik pembuatan yang menjadi ciri kain sasirangan dan batik. Batik dinamakan batik karena dibuat dengan teknik dititik. Sedangkan Sasirangan dinamakan sasirangan karena dibuat dengan teknik disirang. Memang ada di beberapa daerah kain hasil akulturasi budaya Jawa dengan budaya setempat, seperti Batik Benang Bintik di Kalimantan Tengah yang merupakan akulturasi budaya Jawa dengan Dayak Ngaju. Batik benang bintik dibuat mengikuti teknik pembuatan batik seperti di Jawa, namun batik yang dibuat bermotifkan budaya Dayak. Batik Benang Bintik tercipta atas prakarsa isteri Drs.Suparmanto ketika menjadi Gubernur Kalteng (1989-1993) sebagai ciri busana Kalimantan Tengah (Lihat tentang Batik Benang Bintik di Kalteng) […]

  2. Kalteng.net on

    […] Tentang Batik Kalteng dapat dilihat di tulisan IndonesiaWonder.com, tulisan di Batikjirolupat.com, tulisan di radioevella.com dan sedikit catatan kritis oleh Andrini S. Kusni di sini… […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: