Archive for December, 2009|Monthly archive page

NEGARA SOSIALIS (2)

Djoko Sri Moeljono:

Setiap warga negara Rusia yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi setelah lulus sekolah menengah tingkat atas, tidak akan mengalami banyak hambatan seperti misalnya masalah beaya masuk, pemondokan dsb. Pemerintah menjamin segala keperluan mahasiswa dan yang diperlukan hanya kemauan dan tekad untuk belajar, tidak lebih dari itu. Fasilitas belajar boleh dikata lengkap,baik dari segi fasilitas fisik maupun dukungan pengajar dengan rasio jumlah mahasiswa dan pengajar sangat mendukung. Para dosen berkualifikasi professor sangat mendukung aktivitas belajar mengajar dan mereka berdedikasi tinggi sebagai pendidik. Perkuliahan yang didukung perpustaan lengkap dan laboratorium sangat mendukung. Mahasiswa untuk bisa menyelesaikan jenjang pendidikan tepat waktu dan tidak ada alasan untuk bermalas-malasan.

Mahasiswa tidak perlu khawatir mencari buku rujukan ataupun buku panduan, semua tersedia di perpustakaan dan tinggal pinjam. Setiap awal semester setiap mahasiswa wajib, ulangi: wajib pinjam buku yang diperlukan untuk perkuliahan selama semester tertentu. Buku-buku ini sudah disusun dalam satu paket (terdiri dari beberapa buku dan paket ini sama untuk setiap mahasiswa dengan spesialisasi sama). Mahasiswa tinggal datang ke perpustakaan, tanda tangan dan bawa paket buku ke asrama.Kami mahasiswa asing tidak terkecuali,harus mengikuti aturan yang berlaku. Tetapi sebagai mahasiswa asing kami juga harus memikirkan hari depan bila selesai kuliah dan pulang ke tanah-air, kami tidak bisa mengharapkan ada perpustakaan yang menyediakan buku-buku panduan yang diperlukan. Kami harus menyisihkan sebagian uang beasiswa untuk belanja buku. Dan harga buku di Rusia sangat terjangkau dan untuk seorang kutu buku seperti penulis, setiap kali pergi ke toko buku harus membatasi diri bawa uang, Bisa-bisa uang beasiswa habis untuk belanja buku. Harus diakui bahwa segala kebutuhan belajar, termasuk buku, harganya sangat terjangkau dan boleh dibilang sangat murah. Penulis masih ingat saat membeli jangka (passer doos) hanya membayar 3,60 rubel dari beasiswa bulanan yang 90 rubel. Padahal harga passer doos di Indonesia saat itu sangat sangat mahal dan tidak semua mahasiswa mampu membelinya.

Bagi pemerintah Rusia mutu kertas buku-buku tidak penting, kecuali untuk penerbitan khusus seperti ensiklopedi atau buku dengan ilustrasi berwarna. Yang penting adalah menyebarkan ilmu pengetahuan seluas mungkin, mencerdaskan bangsa. Penerbitan dan perdagangan buku jelas tidak dibebani pajak seperti di Indonesia. Memang harus diakui bahwa buku-buku terbitan barat mutu kertasnya jauh lebih baik tetapi tentu saja diikuti harga mahal. Saat masih belajar di Bandung, penulis harus menimbang-nimbang seribu kali sebelum membeli buku walaupun sudah dibantu harga khusus dengan adanya “Kupon” buku bagai mahasiswa. Masalahnya, semua buku un tuk perkuliahan hanya tersedia dalam bahasa asing yang merupakan buku impor. Penulis saat itu pernah menjadi pemasok buku-buku terbitan Republik Demokrasi Jerman yang dijual sangat murah di Moskwa. Buku-buku teknik yang sama juga dipergunakan di Repulik Federasi Jerman (Barat). Beberapa mahasiswa Indonesia memesan buku terbitan Jerman Timur berharga murah dan penulis kiirimkan ke Jerman Barat dengan harga khusus, lebih mahal dari harga Moskwa tapi lebih rendah dari Berlin. Fasilitas laboratorium juga lengkap dan semua kuliah bisa diserap dengan baik berkat bantuan praktek di laboratorium maupun kerja lapangan.

Dalam penyampaian pelajaran di bangku kuliah, para pengajar sangat kooperatif dan tidak pernah menyulitkan mahasiswa seperti yang sering kami alami saat kuliah di ITB (dosen mengada-ada, mempersulit mahasiswa lulus dan bangga  mendapat sebu tan dosen “killer”). Di Rusia seorang dosen akan malu bila banyak mahasiswanya tidak lulus ujian karena itu berarti sang dosen tidak becus mengajar. Sistem ujian mulai dari semester ke-5 dan seterusnya adalah sistem ujian lisan dimana dosen menguji satu persatu mahasiswanya dan hasil ujiannya disampaikan saat itu juga begitu ujian selesai.Tidak ada pengumuman hasil ujian seperti di Indonesia dimana mahasiswa pesertga ujian harus menunggu berhari-hari.

Apabila mahasiswa Rusia mengalami kesulitan dalam mencerna pelajaran di bangku kuliah, institut bisa memberi peluang kerja dibidang yang dipelajari disalah satu pabrik atau perusahaan selama maksimal satu tahun. Saat mahasiswa kembali duduk di bangku kuliah,semua mata kuliah yang diajarkan akan dengan mudah diserap karena didukung kerja dibidangnya dan menggelutinya setiap hari. Nagi mahasiswa asing seperti penulis, saat mengalami kesulitan pada awal-awal perkuliahan, penulis dibantu seorang asisten dosen untuk mata kuliah tertentu. Dan semuanya jelas bebas beaya, tanpa dipungut sesenpun. Ini adalah fasilitas dari negara yang ikut kami manfaatkan.

Karena kami mahasiswa asing, maka penguasaan bahasa Rusia kami harus didorong dengan pelajaran tambahan bahasa Rusia. Pelajaran bahasa yang dipersiapkan di Fakultas Persiapan,dengan didukung paralatan mutakhir (magnetofon atau tape recorder untuk setiap mahasiswa) selama maksimum 10 bulan,jelas tidak mencukupi untuk membuat kami bisa menangkap semua pelajaran di bangku kuliah. Setelah duduk di bangku kuliah institut yang di[ilih,penulis mendapat guru bahasa Rusia sebagai pendamping untuk membantu memahami buku-buku perkuliahan di samping mengembangkan pengetahuan bahasa Rusia kami. Dan semua ini juga disediakan secara cuma-cuma.Institut berusaha agar mahasiswanya bisa benar-benar menjadi sarjana yang bisa diandalkan dan menjaga nama baik almamater. Guru pendamping bahasa Rusia ini,di kalangan mahasiswa asing juga dicurigai se bagai mata-mata yang mencoba mengorek kecenderungan politik mahasiswa yang didampinginya sambil sekaligus memasukkan kehebatan dan kelebihan sosialisme. Dalam kasus penulis pribadi, selama sekian tahun didampingi guru bahasa sampai selesai belajar dan diwisuda,penulis sedikitpun tidak merasakan adanya tekanan maupun paksaan kearah itu. Bahkan penulis sama sekali tidak bersedia mengiluti matakuliah yang wajib bagi mahasiswa tuan rumah: sejarah PKUS (Partai Komunis Uni Soviet), Marxisme-Leninisme, Politekonomiya dsb. Dan pihak institut juga tidak pernah memaksa atau mengharuskan mahasiswa asing hadir di bangku kuliah. Saat mulai duduk di bangku kuliah institut pilihan, sangat terasa bagaimana penekanan masalah disiplin ditanamkan. Penulis tidak tahu apakah cara ini berlaku diseluruh perguruan tinggi atau hanya di institut dimana penulis belajar. Kalau tidak berlaku di seluruh republik Uni Soviet berarti institut punya wewenang untuk menerapkan aturan-aturan tertentu sebatas internal kampus.

Peraturan yang berlaku dan mengejutkan di hari pertama: menjelang jam kuliah dimulai, bel listrik berbunyi satu kali untuk mengingatkan mahasiswa agar siap-siap memasuki ruangan kuliah. Saat bel berbunyi dua kali, semua mahasiswa harus sudah memasuki ruangan kuliah. Bel ketiga berbunyi, pengajar memasuki ruang kuliah dan semua mahasiswa wajib berdiri. Ini sih mirip akademi militer saja! Pintu dikunci dan tidak ada alasan mengetuk dan minta maaf terlambat datang, tidak juga bagi mahasiswa asing. Setiap mahasiswa harus tahu benar peraturan ini. Kemudian dosen pengajar mengambil absen dan setiap mahasiswa yang disebut namanya harus berdiri.

Cara-cara seperti ini khas Rusia dan saat penulis ikut menghadiri kuliah diajak teman di yang belajar di kota Aachen, Jerman Barat, penulis lihat mahasiswa bisa keluar masuk ruangan kuliah dengan bebas bahkan saat dosen sedang mengajar.

Di saat liburan musim panas, semua mahasiswa asing punya hak berlibur di tempat yang sudah ditentukan dan hak ini tidak bisa dipertukarkan dengan uang. Pilihannya hanya: pergi berlibur atau hangus.  Liburan dua minggu ini prodeo, dibeayai negara Hak ini kami manfaatkan sejauh mungkin karena pulang liburan ke tanah air jelas tidak mungkin dari segi beaya. Mahasiswa dari sesama negara sosialis umumnya pulang berlibur ke negara-negara mereka  (Bulgaria, Cekoslowakia, Jerman Timur, Polandia, Rumania, Bulgaria, Hongaria). Mahasiswa asing dari apa yang disebut Rusia sebagai negara kapitalis, umumnya. Juga memanfaatkan masa liburannya di Rusia (Italia, Perancis, Inggris dsb)

Sesudah lulus dan di wisuda, setiap sarjana baru sudah ditunggu tugas bekerja di perusahaaan-perusahaan pemerintah. Mahasiswa yang lulus dengan angka terbaik punya hak memilih tempat kerja dalam daftar yang disodorkan. Kewajiban kerja semacam ini juga berlaku bagi mahasiswa-mahasiswa asing yang berasal dari negeri-negeri sosialis lainnya di Eropa Timur. Teman sebangku yang berasal dari republik demokrasi jerman sudah tahu kemana dia harus bekerja,begitu pula yang pulang ke Bulgaria atau Rumania, Cekoslowakia dan Polandia. Lulusan perguruan tinggi tidak perlu kelimpungan kesana kemari mencari pekerjaan.

Setiap mahasiswa Rusia seperti juga warga negara Amerika, harus menjalani wajib militer jika dipanggil negara. Impian mereka yang terpanggil adalah ditempatkan diluar negeri, seperti di Jerman (Berlin yang terpecah menjadi empat zona). Kami sebagai mahasiswa asing ikut menikmati fasilitas belajar yang sama seperti mahasiswa Rusia, diluar hal-hal wajib yang harus mereka jalani. Kelebihan lain dari negara sosialis Uni Soviet adalah jaminan kesehatan bagi warga negaranya dan juga berlaku bagi mahasiswa asing yang belajar di Uni Soviet.

Penulis tidak tahu apakah jaminan kesehatan ini juga berlaku untuk semua aspek perawatan sampai ke operasi berat atau tidak,tetapi yang pernah penulis dengar dari sesama teman kuliah warga Rusia.jaminan kwesehatan ini tidak berlaku untuk perawatan gigi (prothesa misalnya)

Penulis pernah suatu ketika memanfaatkan layanan kesehatan, yang di mata penulis tergolong prima dan istimewa untuk ukuran Indonesia saat itu. Saat penulis jatuh sakit dan tidak bisa hadir ke kampus, segala sesuatu urusan kesehatan diatur oleh institut (di institut ada Dekanat po Delam s Innostranimi Studentami atau Dekan Urusan Mahasiswa Asing). Penulis tidak perlu pergi ke poliklinik dan dokter dari poliklinik terdekat datang dan memeriksa ke asrama. Setelah hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa penyakit bisa disembuhkan tanpa harus dirawat di RS.penulis bisa istirahat di asrama. Dan setiap sekian jam datang perawat memeriksa apakah obat yang diberikan dokter diminum teratur. Ini benar-benar pelayanan luar biasa dan gratis pula! Penulis sampai sembuh selalu dipantau kesehatannya dan tidak tahu siapa yang mengurusnya. Semula penulis menduga bahwa pelayanan  istimewa ini diberikan karena para dokter curiga penulis membawa sejenis penyakit menular dari daerah tropis dan bisa menular serta mebahayakan lingkungan sekitar, tetapi ternyata dugaan itu keliru.

Apakah pelayanan Cuma-Cuma seperti ini juga diberikan kepada warga Rusia, tidak jelas. Kebanyakan dokter yang bertugas adalah perempuan, karena bagi pria muda Rusia akan jadi bahan tertawaan jika mendaftar ke perguruan tinggi kedokteran. Profesi dokter adalah untuk perempuan sedang pria harus memilih profesi lain yang berhubungan langsung dengan bidang pembangunan  negara, entah itu di Wilayah Timur atau Utara yang sangat dingin bersalju sepanjang tahun. Di sanalah tempat para pria, bukan di poliklinik atau rumah sakit. Ini adalah kenyataan di dunia masiswa Rusia yang terjadi dan sering jadi pembicaraan dikalangan mereka. Kalau ada undangan pentas di kampus kedokteran, ruang pesta dipenuhi mahasiswi dan sulit bagi anda untuk tidak mengajak mereka berdansa, membiarkan mereka menunggu-nunggu ajakan pria yang tahu adab dan kesopanan pergaulan.

Tulisan ini adalah pengalaman pribadi sebagi warga asing yang tinggal di sebuah negara sosialis dengan ciri-ciri kehidupan yang berbeda dari negara Barat. Kalau.berkunjung ke Barat,memang memukau dengan kehidupan sepanjang malam tanpa henti, lampu-lampu reklame berpendar sepanjang malam.

Saat pulang ke tanah air, penulis sempat bertanya-tanya dalam hati: seperti apakah yang dimasud presiden Indonesia Sukarno dengan cita-citanya menegakkan: Sosialisme a la Indonesia ?

Tulisan ini bisa jadi menjadi semacam kesaksian tentang negara sosialis yang sudah hilang dari muka bumi,kecuali tinggal eksis di beberapa negara saja. Semoga kesaksian ini bisa jadi bahan renungan bagi semua!

******* Sumber: Milis Nasional List

Advertisements

NEGARA SOSIALIS (1)

Djoko Sri Moeljono:

Apabila 60 tahun lalu hubungan diplomatik antara Indonesia dan Uni Soviet tidak dijalin,maka penulis bersama ratusan mahasiswa Indonesia lainnya tidak bisa menikmati  kesempatan menimba ilmu di negara yang dikenal sebagai negara pertama didunia yg berlandaskan pada ajaran sosialisme/komunisme dan layak disebut sebagai negara sosialis pertama dibunia.

Penulis yakin bahwa diantara sekian ratus juta penduduk Indonesia saat ini, tidak lebih dari 10,000 orang yang pernah benar-benar merasakan hidup di sebuah negara sosialis. Sebelum kami mengalaminya sendiri,memang banyak pertanyaan yang terlintas dalam benak banyak orang : apa itu negara sosialis? Jawabannya kami temukan setelah kami sendiri menjalani, mengalami, menyelami kehidupan di sebuah negara sosialis. Kami merupakan saksi-saksi hidup tentang apa itu yang disebut negara sosialis, dalam kehidupan nyata dan bukan penjelasan teori dalam buku-buku ilmiah.

Penulis berangkat sebagai anak muda yang sudah menempuh kuliah di ITB Jurusan Pertambangan dan pernah mengalami masa-masa transisi pergantian pengajar dari berkebangsaan Belanda kemudian digantikan pengajar asal Amerika Serikat setelah para pengajar berkebangsaan Belanda diusir dari Indonesia dalam rangka merebut Irian Barat kembali kepangkuan ibu pertiwi.

Penulis mengalami masa-masa kuliah dengan dosen Belanda dan kemudian diganti dosen Amerika dengan sistem ujian yang sama sekali berbeda.
Kami yang sebelum berangkat masih bermental asli Indonesia yang tidak mengenal disiplin ketat, begitu terjun dalam masyarakat Rusia mengalami goncangan budaya kecil-kecilan. Kalau tidak ingin dibilang “ne kulturnii” (tidak tahu sopan santun), anda harus mau antri berdiri saat beli apa saja di toko. Saat baru menjejakkan kaki di Uni Soviet memang sempat kaget dan heran : kok di Uni Soviet orang antri roti? Mereka teratur antri bukan untuk mendapatkan roti, tetapi antri karena watak disiplin

Sebelum berangkat penulis masih ikut antri gula dan memang kondisi ekonomi Indonesia sedang sulit, sehingga begitu tiba di Uni Soviet kami melihat perbedaan yang begitu mencolok antara kehidupan di tanah-air yang baru kami tinggalkan dibanding dengan kehidupan di Uni Soviet yang tampak begitu tertata. Dan masalah pangan tidak jadi persoalan, memang bukan untuk membandingkan dengan kondisi Indonesia dimana penulis masih harus antri bahan pokok sebelum berangkat. Kondisi Indonesia yang serba kesulitan bahan makanan pokok ini ini masih sangat dalam meninggalkan kesan dalam benak..

Bulan-bulan pertama sebagai mahasiswa di asrama, kami masih bisa makan roti sepuasnya tanpa bayar. Tetapi memasuki tahun 1961, saat Rusia gagal panen gandum, maka: makan roti di Stolowaya harus bayar walaupun murah dan sangat terjangkau..Penulis tidak tahu pasti apakah roti gratis ini hanya berlaku di Stolowaya kampus? Atau juga di Stolowaya sekolah-sekolah dan juga di pabrik-pabrik untuk buruh? Kelebihan sistem sosialis yang kami rasakan dalam kehidupan mahasiswa: adalah kenyataan bahwa pendidikan dan perawatan kesehatan dijamin pemerintah secara cuma-cuma. Dan kami para mahasiswa asing ikut menikmati sisi-sisi positif dari pendidikan
cuma-cuma yang diselenggarakan negara. Mahasiswa tuan rumah adalah mahasiswa ikatan dinas seluruhnya, mereka menerima tunjangan dari negara walaupun tidak besar tetapi cukup untuk hidup layak dan disediakan asrama bagi mahasiswa dari luar kota..

Apa yang penulis coba paparkan dalam tulisan singkat dibawah ini merupakan pengalaman hidup sebenarnya,bukan cerita rekaan dan tidak terlupakan. Apa yang penulis alami di Uni Soviet mungkin tidak jauh berbeda dari pengalaman mereka yang pernah menimba ilmu di negara-negara Blok Timur lainnya, terutama yang belajar di Eropa Timur atau yang lebih dikenal dengan sebutan negara-negara Pakta Warsawa, sebagai tandingan Blok NATO sebelum runtuhnya Tembok Berlin di penghujung tahun 1980-han dan ambruknya Uni Soviet. Bagaimanapun, mereka-mereka yang pernah menimba ilmu di Uni Soviet di era 1960-an merupakan saksi-saksi hidup tentang tegaknya negara-negara sosialis yang dipelopori oleh Uni Soviet sebagai negara sosialis pertama didunia.

Tulisan singkat dibawah ini merupakan kesan dan pengalaman pribadi, yang mungkin berbeda dari pengalaman orang lain.

Sebagai mahasiswa muda kami meninggalkan tanah air yng pada tahun 1960 disaat ketegangan politik internasional baru saja mereda setelah tetembaknya pesawat mata-mata U-2 Amerika di wilayah Uni Soviet. Kami ditugasi belajar di negara yang disebut Uni Republik Sosialis Soviet atau disingkat Uni Soviet, sebagai bagian dari kerjasama dibidang kebudayaan.

Awal-awal kehidupan di Uni Soviet, bagi penulis pribadi, memang terkesan hebat danmenjanjikan dimata rakyat Rusia. Tidak ada orang antri roti karena barangnya langka, pembangunan berjalan siang malam tanpa henti dan ini bisa disaksikan lewat jendela kamar asrama setiap hari. Bagi penulis saat itu,orang bekerja siang malam merupakan hal baru yng belum pernah penulis saksikan di tanah air (mungkin juga sudah pernah terjadi di daerah terpencil seperti jatiluhur atau proyek Sigura-gura di Sumatera Utara tapi bukan ditengah kota seperti di Moskwa).

Penulis setiap hari bisa melihat lewat jendela bagaimana pembangunan kwartira (apartemen) tumbuh begitu cepat dari minggu ke minggu) walaupun dengan mutu bangunan yang dibawah standar Eropa dan ini bisa dilihat setelah penulis berkunjung ke beberapa negara Eropa Barat: Jerman, Italia dan Perancis)/ Sasaran pemerintah bisa diduga agar bisa dengan cepat memenuhi kebutuhan perumahan masyarakat dan masalah mutu sementara di nomor duakan.

Kesan lain yang sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari adalah stabilnya harga karena semua diatur pemeritah,tidak ada inflasi atau gejolak ekonomi yang disebabkanoleh faktor spekulasi pelaku pasar (menurut kacamata Barat ekonomi semacam ini sifatnya statis,tidak berkembang karena tidak ada persaingan dan stagnan, serta semua-nya dikendalikan secara terpusat oleh negara dan tidak memungkinkan persaingan).

Penulis selama empat tahun bermukim di Moskwa,sepanjang ingatan yang bisa dirunut kembali, rasanya tidak pernah membaca berita tentang kenaikan harga . Hal lain yang penuis kagumi adalah rasa aman dari gangguan kriminal, kemanapun kita pergi di malam hari, tidak pernah merasa takut dirampok atau diganggu dengan macam-macam ulah yang mengganggu. Gangguan yang agak mengusik adalah masalah orang-orang mabok yang berkeliaran di hari-hari pembayaran gaji atau menjelang hari libur. Wodka sudah membudaya dan berakar dalam kehidupan rakyat Rusia. Dikenal pemeo “Rusia tanpa wodka, bukan Rusia”

Aturan hukum mungkin begitu ketat sehingga membuat orang Rusia sangat menahandiri dalam pertengkaran agar tidak sampai berkelahi dan kami tahu benar hal ini, serta memanfaatkan sebaik mungkin. Kalau bertengkar dengan orang Rusia, bagaimanapun sengitnya pertengkaran kami yakin bahwa mereka tidak akan memukul. Banyak sisi-sisi yang membuat penulis kagum,tetapi harus diakui bahwa tidak sedikit pula sisi-sisi yang menjengkelkan dan menjemukan,bahkan kadang memuakkan.
Kalau semasa di Indonesia bisa bebas mendengarfkan radio mana saja,terutama men dengarkan siaran VOA (Voice of America) dengan Jazz Session-nya, di Moskwa mendadak radio yang kami miliki jadi bungkam dan hanya bisa menerima siaram Goworit Moskwa. Benar-benar menyebalkan! Punya radio bagus bagi kami sia-sia karena disetiap kamar asrama ada radio umum, seperti pernah kami alami di masa pendudukan Jepang. Radio di kamar asrama ditempelkan didinding semacam jam dan hanya
memiki satu tombol: untuk menghidupkan dan mematikan, tidak ada tombol lain. Dan isisiaran yang dipancarkan hanya satu: siaran pemerintah dan sesekali hiburan. Bagaimanapun juga ada manfaatnya bagi kami di musim dingin mengingat-ingat ramalan cuaca untuk esok hari, sehingga kami bisa siap dengan pakaian sesuai suhu besok. Tidak jarang radio umum ini hidup sepanjang hari dari saat kami bangun pagi sampai malam hari saat pergi tidur. Tak seorangpun penghuni kamar punya perhatian untuk mematikannya.

Di Uni Soviet tidak dikenal kehidupan malam dan semua kegiatan berhenti pada jam 23.00 malam. Trem, bus, Metro – semua berhenti berdenyut dan kota Moskwa seolah menjadi kota mati dan gelap dan hanya ada lampu penerangan jalan umum serta sedikit sekali lampu reklame berwarna-warni. Pertunjukan film, ballet atau teater juga berhenti sebelum jam 23.00 karena tidak ada lagi transport umum yang bekerja. Satu-satunya pilihan tinggal taksi dan itupun tidak banyak.

Uni Soviet tidak mengenal buku telepon dan peta kota yang baik, sehingga bagi warga asing akan sulit menemukan alamat atau nomor telepon yang diperlukan. Anda harus membuat sendiri catatan nomor-nomor telepon yang diperlukan. Tetapi di kota Moskwa banyak bertebaran kios Informasi, dimana anda bisa menanykan apa saja dari alamat dan nomor telepon yang anda perlukan. Semua hal yang remeh dalam benak kami, sepertinya menjadi sesuatu yang harus dirahasiakan di Rusia.

Rakyat Rusia sangat bangga dengan negara dan Tentara Merah-nya bila berceloteh mengenai Perang Dunia ke-II yang dalam bahasa Rusia disebut Patrioticeskaya Woiina atau Perang Patriotik. Harus diakui bahwa Soviet Uni sangat menderita dengan jutaan orang tewas sebagai korban perang,tetapi mereka bangga bahwa Tentara Merahadalah pasukan pertama yang berhasil menaklukkan tentara Nazi Hitler. Pantas kalau mereka bangga dan merasa diri besar, kadang berlebihan dan menganggap bangsa
lain lebih rendah. Ini adalah hasil propaganda pemerintah yang benar-benar merasuk dalam kalbu warga negaranya dan bersifat massif. Perlu juga diingat bahwa disaat tegang-tegangnya Perang Dingin berkonfrontasi dengan Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat, pemerintah Rusia sangat aktif berusaha merebut pengaruh di Asia-Afrika dan Amerika Latin sehingga berdampak positif pada mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Untuk menarik perhatian kami, pemerintah Rusia tidak segan-segan memomulerkan lagu “Rayuan Pulau Kelapa” sebagai semacam lagu wajib disekolah-sekolah dan kemananpun kami pergi berkunjung,tidak jarang disambut dengan paduan suara mengalunkan lagu wajib tsb. Nama Soekarno juga sangat diken al secara luas, se
hingga rakyat kecil dipinggir jalanpun tahu bahwa Indonesia = Soekarno.

Rakyat Rusia lewat propaganda pemerintah yang begitu deras mengalir, membuat mereka bangga dengan capaian teknologi seperti Sputnik pertama, manusia pertama terbang keluar angkasa jadi pahlawan nasional Yurii Gagarin, wanita pertama jadi astronot Teresykova dsb. Belum lagi ditambah dengan keberhasilan Uni Soviet dibidangmiliter dengan pesawat-pesawat tempur canggih, tank dan kapal selamnya. Semua ini tentu menelan beaya sangat besar sehingga harus mengorbankan keperluan rakyat banyak dibidang kesejahteraan.

Dimata rakyat, Uni Soviet harus jadi negara adidaya, negara besar yang ditakuti dunia dan harus diakui, pemerintah Rusia berhasil membangun impian di benak rakyatnya. Tetapi disisi lain dalam hal kesejahteraan hidup,pemerintah Rusia diam-diam harus mengakui bahwa kehidupan di Amerika, musuh nomor satu,jauh lebih baik dari kehidupan rakyatnya sendiri. Lihat saja semboyan saat itu: mengejar dan melampaui Amerika dalam 15 tahun! Kalau anda pergi ke toko besar Gosudarstwenii Universalnii Magazin (GUM), semacam mall yang berserakan di Jakarta saat ini,barang yang dipajang di etalase sangat terbatas dan tidak banyak pilihan, belum lagi mutunya yang rendah. Pelayanan para pramuniaganyapun sangat buruk dan bahkan kadang-kadang menjengkelkan, seolah-olah mereka tidak butuh pembeli. “Pembeli adalah raja” tidak berlaku disini. Para pramuniaga dan pengelola toko seolah-olah tidak berusaha menarik pembeli.

Harus diakui bahwa di surat-surat kabar atau siaran televisi, iklan sepertinya tabu! Penulis kadang bertanya dalam hati: sampai-sampai pasta gigi dan sabun mandi yng baikpun pemerintah Rusia tidak bisa membuatnya, padahal pesawat MIG-17 sudah di ekspor ke pelbagai penjuru dunia.

Propaganda memang sangat banyak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat dan dimana-mana anda bisa melihat poster-poster raksasa dengan gambar pria berotot diikuti tulisan mencolok : Plan wipolnen do srocno! Target tercapai lebih cepat! Kalau Indonesia punya Repelita (Rencana Lima Tahun) maka Uni Soviet memiliki Semiletka atau rencana Tujuh Tahun dipelbagai bidang: pertanian, industri, berita disurat-surat kabar Pravda atau Izweztiya hanya berisi keberhasilan dan sukses, tidak ada berita kegagalan. Kegagalan adalah tabu untuk diberitakan!

Akibat dari propaganda yang sangat effektif dan mencapai sasaran,raskyat awam kalau berdialog dengan kami mahasiswa yang datang dari negara berkembang, mereka
menganggap dirinya sebagai :”saudara tua” yang penolong, mereka berada diatas kita yang mendahkan tangan. Walaupun memuakkan karena seringnya mendengar “pencerahan” semacam ini, kami tidak bisa berbuat apa-apa.Yang bicara begini bisa sesama penumpang Metro, warga biasa yang bertemu di taman, termasuk teman kuliah. Banyak hal-hal yang merupakan sisi-sisi negatif dalam kehidupan sehari-hari dan semua ini adalah pengaturan atau pengelolaan masyarakat dalam suatu sistem besar. Kalau anda lupa membawa tanda pengenal yang disebut “propusk” jangan harap anda bisa melenggang masuk rumah sendiri (asrama). Tidak jarang anda harus bertengkar adu argumentasi sampai otot muncul di batang leher melawan Komendant (Kepa
la srama sebelum bisa masuk rumah sendiri) karena lupa membawa propusk.
Tetapi belakangan kami bisa memakluminya karena asrama dimana kami tinggal, sebuah gedung berlantai 10 dan 8 diantaranya terdiri dari kamar-kamar yang kami huni. Kalau 8 lantai dan setiap lantai terdiri dari 70 kamar (penulis mengisi kamar nomor 671) maka ada 560 kamar dan setiap kamar diisi 4 mahasiswa, anda bisa hitung berapa mahasiswa tinggal di asrama tsb.

Kepala asrama sampai berapa tahunpun tidak bakal bisa mengingat-ingat wajah setiap penghuninya,walaupun kami orang asing (di asrama penulis ada mahasiswa asing non-kulit putih berasal dari Vietrnam,Tiongkok, Sri Lanka,Mesir, Irak, India). Tanda pengenal penting kemanapun anda pergi: ke kampus, Dom Kulturi (Gedung Kesenian) dimana anda secara teratur berlatih kesenian dan harus punya propusk terdendiri. Setelah cukup lama tinggal dan hidup ditengah masyarakat Rusia, kami akhirnya merasa nyaman-nyaman saja dengan kehidupan masyarakat sosialistis. Sisi positif dari pengaturan negara yang dikelola menurut ajaran sosialisme/komunisme juga kami rasakan dan ikut menikmati (menikmati hal-hal positif).
*******

(Bersambung)

PERNYATAAN SIKAP INSTITUT SEJARAH SOSIAL INDONESIA (ISSI)

Subject: [DikBud] Pernyataan ISSI Menentang Pelarangan Buku ‘Dalih Pembunuhan Massal’
To: Undisclosed-Recipient@yahoo.com
Date: Thursday, 24 December, 2009, 11:48 PM

Pernyataan ISSI Menentang Pelarangan Buku ‘Dalih Pembunuhan Massal’

Rabu, 23 Desember 2009, Kejaksaan Agung mengumumkan pelarangan lima judul buku yang dianggap ‘mengganggu ketertiban umum’, termasuk Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karya John Roosa yang diterbitkan oleh Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) pada 2008. Sebagai penerbit buku ini dan warga yang sadar akan hak menyampaikan pendapat dan menerima informasi kami menentang pelarangan itu. Pelarangan itu tidak saja bertentangan dengan prinsip umum hak asasi manusia tapi juga amanat UUD 1945 untuk ‘memajukan kecerdasan umum.’

Institut Sejarah Sosial Indonesia menerbitkan buku Dalih Pembunuhan Massal sebagai sumbangan terhadap studi sejarah kontemporer Indonesia, khususnya peristiwa G-30-S. Dalam buku ini John Roosa menunjukkan sikap ilmiah yang terpuji sebagai sejarawan: ia mengungkapkan sumber-sumber baru mengenai G-30-S yang belum pernah digunakan sebelumnya, menelaah setiap sumber yang ada mengenai peristiwa itu secara teliti, lalu menghadirkan argumentasi dan kesimpulan berdasarkan temuannya itu. Pelarangan oleh Jaksa Agung jelas menghalangi perkembangan studi sejarah pada khususnya dan kerja ilmiah pada umumnya.

Buku Dalih Pembunuhan Massal sudah beredar selama satu tahun dan sembilan bulan, dan justru mendapat sambutan baik dari dalam maupun luar negeri. Buku ini masuk nominasi buku terbaik dalam International Convention of Asian Scholars, perhelatan ilmiah terbesar untuk bidang studi Asia pada 2007. Tinjauan terhadap buku ini dimuat dalam berbagai berkala ilmiah internasional. Di Indonesia sendiri, buku ini disambut baik oleh para ahli sejarah, guru sekolah dan masyarakat umum dalam berbagai seminar dan
pertemuan ilmiah yang digelar selama ini.

Singkatnya, jelas ada banyak pihak yang menarik manfaat dari terbitnya buku
ini, dan keputusan Jaksa Agung melarang buku ini dengan alasan ‘mengganggu ketertiban umum’ sesungguhnya justru merugikan kepentingan umum.

Karena itu kami menuntut agar:

1. Kejaksaan Agung segera mencabut surat keputusan tersebut dan menghentikan praktek pelarangan secara umum. Perbedaan pandangan mengenai sejarah hendaknya diselesaikan secara ilmiah, bukan dengan unjuk kuasa menggunakan hukum warisan rezim otoriter.

2. Pemerintah dan DPR segera mencabut semua aturan hukum yang mengekang kebebasan berekspresi dan hak mendapatkan informasi. Warisan kolonial dan rezim otoriter yang ingin mengatur arus informasi dan pemikiran sudah sepatutnya diakhiri.

Kami percaya bahwa pelarangan buku ini tidak akan menyurutkan kehendak
publik untuk mencari kebenaran. Dengan semangat itu dan juga sebagai bentuk konkret perlawanan, dengan pernyataan ini kami melepas copyright atas buku Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karya John Roosa kepada publik sehingga dapat disebarluaskan melalui berbagai media. ISSI juga akan mengajukan somasi kepada Kejaksaan Agung dan meminta agar larangan itu dicabut. Jika tidak dipenuhi, ISSI akan menempuh jalur hukum dan menggugat keputusan Jaksa Agung tersebut.

Jakarta, 24 Desember 2009

ttd.

I Gusti Agung Ayu Ratih
Direktur

Hilmar Farid
Ketua Dewan Pembina

———— ——— ——— ——— ——
njalanya
tak terpadamkan
hingga kini
nanti
dan kapanpun
njalanya panas menempa
badja kemerdekaan
badja kehidupan
ketika kita tidak lagi bertanja
pilih njala atau pilih badjanya?
dan kita merebut kedua-duanja”

Agam Wispi, “Surabaja” (1965)

Pengetahuan dan Jalan Kemanusiaan

Catatan Andriani S. Kusni

Minggu malam lalu, saya dan beberapa teman-teman dari Univeristas Palangka Raya mengunjungi Sabran Ahmad di rumahnya. Tujuan kami, belajar dan berdiskusi tentang sejarah lahirnya Kalimantan Tengah. Kelas diskusi ini, yang saya namakan ‘kelas diskusi bergerak’, baru dibentuk. Idenya lahir dari pemikiran bahwa akses kepada pengetahuan harus dibuka selebar-lebarnya. Tentu saja, pengetahuan yang dimaksud tak terbatas pada pengetahuan yang hanya diperoleh di kampus. Mengingat bahwa umur seseorang terbatas, tentu belajar dari pengalaman-pengalaman orang lain terutama orang-orang tua banyak berguna.

Pengetahuan melahirkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan mengajarkan bahwa segala sesuatu tak melulu baru dapat terlaksana dengan adanya uang.  Perlu sikap terbuka, keinginan maju mencapai prestasi, pemahaman bahwa pengetahuan bisa diperoleh dari mana saja-kapan saja dan siapa saja. Jadi begitulah. Bersama cemilan-cemilan yang dibeli secara patungan, peserta berjumlah sebelas orang, datang membawa rasa ingin tahu dan ide-ide. Bu Sabran membantu dengan menyediakan kopi khas buatannya. Kopi lokal dicampur kayu manis. Pak Sabran bahkan memberi saya tanda mata berupa foto kopi daftar panitia Kongres Rakyat Kalimantan Tengah I tertanggal 6 Oktober 1956 yang sudah dilaminating.

Persatuan lahir dari pengorganisasian, kata Sabran. Sebagaimana dicatat dalam sejarah lahirnya Kalimantan Tengah. Moral dan etika menjadi dasar. Jika ada niat baik, kejujuran, kerjasama, dan kemampuan melawan kesulitan, pasti cita-cita dan tujuan tercapai. Kami saling berjanji untuk belajar bersama lagi. Belajar dan mencari ilmu menjadi kegiatan menggairahkan. Sekali lagi, persatuan melalui pengorganisasian. Ini juga mendorong terlaksananya Ganderang Tingang pada 7 Desember 2009 lalu, sebuah acara gelar seni-budaya Kalimantan Tengah yang dikerjakan “bermodalkan kemandirian dan kemauan berkoordinasi” oleh Komunitas Seniman dan Budayawan Palangka Raya (KSB-PR). Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi kalimantan Tengah, Ir. Sadar Ardi mengatakan: “…perkembangan dan kemajuan kebudayaan sebuah daerah mencerminkan perkembangan dan kemajuan kehidupan masyarakatnya….saya harapkan dapat terus dipertahankan dan dikembangkan, sehingga seniman dan budayawan benar-benar menjadi kelompok yang memiliki kekuatan untuk menjadi salah satu motor penggerak pembangunan Kalimanatan Tengah…”

Ganderang Tingang dan kegiatan-kegiatan lain yang akan segera dilaksanakan oleh KSB-PR seperti Pameran Lukisan Anak-Anak juga kelas-kelas diskusi, penulisan dan pelatihan oleh Grup Penulis Edelweis (GPE) menjadi satu tempat belajar. Belajar bersatu. Belajar  mandiri. Belajar bersama mencari jalan mengatasi kesulitan untuk mengembangkan kebudayaan khususnya kebudayaan Kalimantan Tengah. Belajar mengembangkan diri sendiri dan masyarakat. Pada akhirnya, semua bermuara pada belajar untuk memperoleh pengetahuan yang bermanfaat bagi terbentuknya jalan penyebaran nilai-nilai kemanusiaan untuk mencapai ketinggian dan kesempurnaan harkat dan martabat manusia. Amin.

Ruang Anak

Karya Viona Jane, Kelas IV A SD Katolik Santo Don Bosco Palangka Raya

Tgl. lahir: 5 Januari 2000

Alamat: Jl. Gagak 3

Karya Ella Juanita, Kelas IV C SD Katolik Santo Don Bosco Palangka Raya

Tgl. lahir: 18 Juni 2000

Alamat: Jl. Merak No. 58

Agenda Kegiatan Grup Penulis Edelweis (GPE)

Sekilas tentang GPE: Grup ini berdiri di Palangka Raya 14/11/2009. Tujuannya, membuka akses pada pengetahuan secara teoritis dan praktis dengan mengorganisasi dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang berguna membangun watak dan karakter nasional untuk meningkatkan kualitas hidup, harkat dan martabat  manusia. Tempat  di Wisma Edelweis Jl. Yos Sudarso No. 095 Palangka Raya.

Kelas Kerajinan Aksesoris Batu Alam

Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009

Diselenggarakan tiap Sabtu dan Minggu pukul 15:00-17:00. Pendaftaran hingga Minggu I Januari 2010. Peserta tidak dipungut biaya. Pengajar: Nindita Nareswari, pemilik merek Lamiang Exotic. Syarat keikutsertaan: pengetahuan yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk orang banyak. Bahan-bahan dan alat dibeli sendiri. kira-kira perlu dana Rp 50.000,-. Peserta akan diajarkan masing-masing 2 model rangkaian untuk anting-gelang-kalung, pengenalan bahan, alat, dimana bahan-bahan diperoleh, harga-harga,  jenis-jenis batu alam, dan macam-macam kelengkapan pembuatan aksesoris. Hasil karya dibawa pulang.

Kelas Penulisan Jurnalisme Sastrawi

Pendaftaran hingga Minggu I Januari 2010. Peserta tidak dipungut biaya. Pengajar Andriani S. Kusni, pengasuh halaman budaya Palangka Pos. Syarat keikutsertaan: pengetahuan yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk orang banyak. Peserta akan diajarkan dasar-dasar genre jurnalisme sastrawi dengan pembahasan-pembahasan karya jurnalistik yang menggunakan genre tersebut. Peserta akan diikutkan dalam kelas diskusi bergerak dan jika memenuhi kriteria dapat menjadi anggota kelompok Grup Penulis Edelweis.

Kelas Diskusi Bergerak

Terbuka untuk umum. Sebuah kelas dimana para peserta belajar langsung di rumah pengajar-pengajar dari berbagai latar belakang dan disiplin ilmu yang ditunjuk dan bersedia membagi ilmu tanpa biaya apapun. Waktu masing-masing kelas ditentukan kemudian berdasarkan kesepakatan peserta dan pengajar. Kelas berikut akan dimulai pada Minggu I Januari 2010.

Pertama kali dimut di Ruang Budaya Harian Umum Palangka Pos, Rabu, 16/12/2009

MASYARAKAT, PENYAIR DAN PEMIKIR

Catatan Andriani S. Kusni

Pernah seorang pejabat penting yang membidangi masalah kebudayaan di provinsi ini berucap bahwa “sastra itu tidak menarik”. Sementara yang lain berkata bahwa “kegiatan kebudayaan hanya membuang-buang uang”. Sementara di pihak lain ketika melukiskan peran puisi, orang Jerman mengatakan bahwa “Negeri dan bangsa kita memerlukan penyair dan pemikir”. Dan bangsa kita? Dalam semua kurun   sejarahnya, bangsa kita pun  tidak pernah jauh serta terpisah dari puisi. Kenyataan ini ditunjukkan oleh adanya sastra lisan ataupun sastra tulisan dalam berbagai bentuk, seperti sansana kayau, pantun, gurindam, deder, karungut, dan sebagainya. Mengapa tidak terpisahkan? Jawabannya terletak pada kenyataan bahwa mengungkapkan diri adalah suatu keperluan niscaya pada anak manusia pada tingkat perkembangan masyarakat yang bagaimanapun juga. Perlu ungkapan estetis. Puisi adalah salah satu ungkapan estetis. Dalam puisi diungkapkan pikiran, perasaan, mimpi, harapan dan tanggapan terhadap lingkungan serta permasalahannya. Sehingga puisi sesungguhnya merupakan cerminan zaman, suatu catatan sejarah dalam bentuk salah satu genre sastra.  Kemampuan mencerminkan masyarakat dan  zaman banyak ditentukan oleh tingkat pengamatan, kepekaan  dan perenungan seorang penyair. Yang rajin mengamati, yang peka, yang berpikir,  akan memperoleh kemungkinan mendapatkan pemahaman terhadap keadaan masyarakat, menjadi kian peka, kian peduli dan berada selangkah di depan orang kebanyakan.  Dari tempat berada selangkah di depan ini, ia menawarkan solusi dan menyerukan himbauan kepada masyarakatnya melalui tokoh-tokoh atau kalimat-kalimat reflektif dan yang bersifat penyimpulan. Makna-makna demikian misalnya tertuang pada kalimat Chairil Anwar: “Sekali berarti sesudah itu mati” atau pada baris-baris puisi Jalaluddin Rumi : « Saudagar yang penakut takkan meraih untung maupun rugi; bahkan sesungguhnya ia merugi; orang harus mengambil api agar dapat cahaya”.

Dari dua contoh baris puisi di atas nampak bahwa puisi, selain berurusan dengan unsur estetika, ia juga bergumul dengan perolehan nilai. Dengan nilai ini penyair mencoba menuntun pikiran masyarakat ke arah yang lebih baik dari yang sudah ada.  Arahan tawaran ini hanya mungkin diperoleh apabila penyair merenung dan berpikir. Menyimpulkan data-data, keadaan masyarakat dalam kalimat-kalimat puitis. Data dan  keadaan yang ia simpulkan dalam tawaran nilai hanya mungkin diperoleh jika penyair tidak nangkring di menara gading elitisme. Karena itu penyair tidak lain adalah seorang pemburu makna tanpa ujung dari perburuannya. Dalam nilai tawaran ini terangkum keadaan masa lalu, hari ini dan hari esok. Manusia yang tak peduli pada nilai dan arti nilai sama dengan manusia tanpa budaya. Manusia-manusia mati, jika menggunakan ungkapan Nikolai Gogol, sastrawan Russia. Oleh sebab itu barangkali orang Jerman bahwa masyarakat kita memerlukan penyair dan pemikir. Atau menurut ungkapan Edgar Morin, filosof Perancis kekinian: mengangkat masyarakat prosaik menjadi puitik: paduan antara sikap realis dan penuh imajinasi.  Seberapa jauh imajinasi masyarakat dan petinggi-petinggi Kalteng? Adakah penyair dan pemikir di provinsi ini?***

SAJAK SAJAK KUSNI SULANG

EDELWEIS

jalan setapak

mendaki puncak

edelweis kupetik

kuberikan

di dataran

kepadamu

ribuan jalan setapak

mendaki dan beronak

perjalananku

menuju edelweis

April 2009

DI KATINGAN

seperti dahulu di katingan

masih ada bintang beruang besar dan layang-layang

bagai dahulu

matahari masih jatuh di hulu

yang jarang sudah itulah

suara kecapi dan rebana tepian

tingkah-meningkah

tenggelam di irama dangdut

gelombang speed-boat

mengukur sela malam dan siang

jarak hulu ke muara

bagai dahulu masih

mengalir arus riam kaki bukit raya

mencari pagatan kota muara ditimang gelombang tak pernah jeda

yang tak lagi adalah gelombang mudik ribuan ikan untuk berbiak

hutan tak lagi wangi hilang enggang

air tak lagi jernih bersih

sekeruh kehidupan dan harapan

mengalir katingan sungai pengasuh

mengukur jauh perjalanan

waktu mengobah segala

nasib enggang anak naga

April 2009

ULUH KATINGAN

dari rimba raya

di seberang

tumbuh kota

melalui jembatan

melintasi arus keruh

siamang dan tapurau 1)

di kenangan

tinggal suara dan sarangnya

siamang dan tapurau

uluh katingan

si anak enggang

entah di muara mana

hanyut terbuang

tak lagi ada kayau 2) di sini, indang sita

hutan berganti padang pasir sejauh cakrawala

yang berkeliaran hanyalah pangayau berdasi

duduk di kantor-kantor melaju di belakang segala kendaraan

menghambur debu di gubuk-gubuk uluh katingan

di katingan, indang sita

kambé 3) dan segala roh dahulu

menyingkir entah ke mana

berganti kambé baru

katingan kini

bukan lagi katingan dahulu

Palangka Raya, April 2009

Catatan :

1). tapurau, sebuah pohon besar tinggi dari segala jenis pohon hutan, tempat lebah dan enggang bersarang.

2).kayau, pemburu dan pemenggal kepala.

3). Kambé, bahasa Dayak Katingan, berarti hantu.

SEPULUH BOCAH KATINGAN

sepuluh bocah naik turun merenangi arus dari batang*)

diayun gelombang klotok lalu-lalang membangun kenang

anak katingan anak sungai memang seperti juga diriku

yang kemudian menjadi penjelajah benua dan terbuang

sementara esok dan hari ini masih jauh dari hitungan

kembali pulang kukenal diriku

bersobat kehilangan dan duka

hanyalah seorang pengembara

yang ajaib di sini makin banyak orang lupa nama sendiri

hanya hapal kata-kata tanpa paham makna

April 2009-04-20

Catatan :

*). Batang, bahasa Dayak Katingan, tempat kapal dan kelotok merapat, juga digunakan sebagai tempat mandi, buang air, atau mencuci pakaian.

SAHEB 1)

speed boat

pesawat udara

parabola

tak asing sudah bagi uluh katingan

rock ‘n  roll segala pop

bersaing dengan dangdut

sansana tinggal sahéb  di dasar lubuk

uluh katingan

asing dari tanah kelahiran

sahéb tanah dayak

Palangka Raya, April 2009

Catatan :

1). Sahéb, bahasa Dayak Katingan, daun-daun yang jatih dan mengendap di lubuk sungai.Humus.


DI ANTARA BOTOL-BOTOL BARAM

di antara botol-botol baram *)

meja judi dan narkoba

pencurian dan kekerasan meriuhkan sungaiku

aku melihat orang-orang muda hanyut bagai busa

tak obah sampah sangkut di tiang-tiang pelabuhan

diayun gelombang klotok lalu-lalang

pepohonan buah menua

manggis, langsat atau barania

menua  harapan dahulu

langka berbunga

mendekat layu

indang sita,

apakah mereka hangus oleh kebakaran rimba

modernisasi

apakah katingan

perahu tenggelam

tanpa pelampung

orang-orang terkapai

di permukaan?

di antara botol-botol baram*)

meja judi bau  narkoba

aku melihat orang-orang tenggelam

menjadi dayak pun masih tanda tanya

Palangka Raya, April 2009

Catatan:

*). Arak tradisional  berkadar kurang lebih 40°

Pertama kali dimuat di Ruang Budaya Harian Umum Palangka Pos, Rabu, 9/12/2009

Berita Buku & Budaya

Telah terbit:

1. LEWU NAKAN, Antologi Puisi Kusni Sulang tentang Kalimantan Tengah

Antologi ini diterbitkan oleh Institut Toddoppuli bekerjasama dengan Komunitas Seniman Budayawan Palangka Raya.  Diharapkan dalam waktu dekat seusai semua kegiatan mendesak komunitas (Gelar Seni Budaya di Kasongan pada Akhir Desember 2009, Pameran Lukisan Anak-Anak SD, Pertunjukan Monolog tiap bulan pada minggu II mulai Januari 2010). Antologi ini akan diluncurkan di Perpustakaan Daerah Palangka Raya. Diharapkan juga dalam waktu dekat, Komunitas Seniman Budayawan Palangka Raya menerbitkan jurnal sastra 3 bulanan. Sementara itu, komunitas ini akan memulai program siaran budaya tiap minggu III tiap bulan bekerja sama dengan RRI KalTeng. Peluncuran siaran pada Januari 2010.

2. KAMELUH TAMBUSU, karya Andriani S. Kusni. Sebuah versi kontemporer cerita rakyat KalTeng tentang Legenda Bukit Batu yang disadur dari kisah dalam buku Maneser Panatau Tatu Hiyang karya Tjilik Riwut. Diterbitkan oleh Institut Toddoppuli bekerjasama dengan Komunitas Seniman Budayawan Palangka Raya. Peluncuran akan di selenggarakan di Perpustakaan Daerah Palangka Raya bersama LEWU NAKAN-Kusni Sulang dan karya-karya penulis lain yang tergabung dalam KSB-PR.

Kesadaran Politik Dayak dalam Teropong Sejarah

Oleh Christian P. Sidenden*)

Acara bertajuk Sejarah Kalteng di ruang tamu H. Sabran Ahmad, baru-baru ini terlaksana berkat inisiatif budayawan JJ. Kusni dan istrinya, Andriani S. Kusni, sebagai upaya pembinaan kesadaran menulis generasi muda Dayak di kota budaya, Palangka Raya.

Sedianya pembekalan dari H. Sabran Ahmad dilakukan dalam beberapa sesi, hasilnya akan disunting menjadi sebuah karya jurnalistik. H. Sabran Ahmad adalah pelaku sejara KalTeng yang masih hidup. Pada tahun 2-5/12/1956, ia turut menjadi anggota panitia persiapan Kongres Masyarakat Dayak I yang berlangsung di Banjarmasin. Waktu itu peserta yang hadir berjumlah 600 orang lebih. Saksi hidup lain dari peristiwa penting tersebut adalah Mubangil. Hanya mereka berdua yang masih hidup.

Kongres tersebut dilakukan guna mempercepat pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah. Hal-hal yang melandasi dilakukanya Kongres Dayak I adalah pertama, pembagian Pulau Kalimantan menjadi 3 provinsi (Barat, Timur dan Selatan) dirasakan sangat tidak menguntungkan masyarakat Dayak Besar. Sebagaimana dijelaskan Sabran, yang termasuk kategori orang-orang Dayak Besar adalah mereka yang menghuni wilayah diantara Sungai Katingan di Barat hingga Sungai Barito di Timur. Kedua, oleh karena wilayah Dayak Besar ini sendiri oleh Pemerintahan Pusat dimasukkan ke dalam Provinsi Kalimantan Selatan dan orang-orang Banjar tidak mau lagi disebut ataupun menyebut diri sebagai ‘Dayak’ maka tujuan kongres ialah merekomendasikan kepada DPR Pusat untuk melakukan pemisahan segera dari Kalimantan Selatan. Hasil dari kongres, suara bulat mendorong percepatan persiapan pembentukan provinsi baru.

Beberapa  bulan kemudian lahirlah UU Darurat No. 10/1957 tertanggal 23 Mei, resmi keputusan pemerintahan pusat mengesahkan lahirnya Provinsi Kalteng. Tanggal tersebut kemudian dijadikan tanggal merayakan HUT Kalteng. Kantor persiapan pembentukan Provinsi Kalteng diketuai Tjilik Riwut, G. Obos, dan F. Patianom.

Kesadaran masyarakat Dayak Besar sebenarnya jauh melampaui Soempah Pemoeda 1928. Sebagaimana dikisahkan Sabran, pada tahun 1919 telah didirikan organisasi Sarikat Dayak di Tumbang Kapuas (sekarang Kuala Kapuas). Ketua  perhimpunan adalah Luwi Khamis. Kemudian Sarikat Dayak diubah menjadi Pakat Dayak guna lebih menajamkan kesadaran nasionalisme Dayak pada tahun 1926, dua tahun mendahului Kongres Pemoeda I Idonesia di Jakarta yang melahirkan Soempah Pemoeda. Katua Pakat Dayak dipercayakan pada Oesman Baboe. Pada tahun itu pula (1926), lahir organisasi wirausahawan bernama Sarikat Dagang Dayak (SDD) yang tiga tahun kemudian mendirikan Majalah Suara Pakat sebagai karya jurnalistik pertama orang-orang Dayak Besar.

Sabran menegaskan, bahwa pengetahuan atas sejarah suku bangsa Dayak ini harusnya disebarluaskan kepada publik agar jangan lagi orang-orang Dayak diadikan sasaran banyak label negatif dan tak produktif. Sabran menegaskan lagi, bahwa pembentukan NKRI seharusnya dipahami turut dibidani pula oleh kesadaran bertanah air, bersuku bangsa, dan berbahasa Dayak. Jadi, berbanggalah seharusnya kita sebagai orang Dayak!

*)Christian P. Sidenden, Wartawan Tabengan. Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Umum Tabengan, Kamis,  17/12/2009

PEMBANGUNAN KALIMANTAN TENGAH: HARI INI DAN LIMA TAHUN KE DEPAN

Pokok-pokok Pikiran Kusni Sulang, Disampaikan Dalam Diskusi Panel
Dan Rakerda III DPD KNPI Kabupaten Katingan
Di Kasongan, 21 Desember 2009

(Dalam diskusi panel ini akan berbicara: Prof. DR. Danes Jayanegara-Akademisi, DR. JJ. Kusni-Pencinta Sastra-Seni, Ir. H. Eddy Raya Samsuri-Ketua DPD KNPI Prov. KalTeng, Sabran Ahmad-Salah Seorang Pendiri Prov. KalTeng, KMA Usop, MA-LMMDDKT Prov. KalTeng, Drs. Duwel Rawing-Bupati Katingan, Ir. Teguh Patriawan-Pengusaha, H. Achmad Amur Sh, Mh-Calon Gubernur KalTeng 2010Agustin Teras Narang, SH-Gubernur KalTeng Sekarang, Jeferson Dau-Calon Gubernur KalTeng 2010, Drs. H. Wahyudi K. Anwar, MM-Bupati Kotawaringin Timur Sekarang dan calon Gubernur KalTeng 2010)

1. Titik Tolak: Di manapun, pada kesempatan apapun, ketika menyampaikan pikiran-pikiran, saya selalu berpegang pada apa yang diucapkan oleh Arthur Khoestler, penulis roman “1984” dan “The Animal Farm”, seorang pengarang Inggris yang turut serta dalam Perang Saudara Spanyol tahun 1930, bahwa “mengatakan kebenaran adalah suatu tindakan revolusioner”. Menurut seorang penyair besar Tiongkok abad XX, kebenaran itu didapat dengan pencarian terhadap kenyataan. Dengan kata lain, melalui riset. Secara ekstrim untuk menunjukkan arti penting menentukan dari penelitian, penyair ini bahkan berkata bahwa “yang tidak melakukan riset tidak berhak bicara”. Sekalipun apabila orang demikian berbicara sang penyair menasehatkan bahwa “yang berbicara tak berdosa, yang mendengar patut waspada”. Hanya saja jika berbicara tanpa data riset, maka yang berbicara, apalagi yang menyusun suatu kebijakan, sama dengan tanggungjawabnya patut dipertanyakan. Kebenaran tak ubah kaca di mana kita melihat wajah kita yang sebenarnya. Sering kita malu melihat wajah bopeng kita. Mengatakan kebenaran, seadanya kebenaran itu, selain merupakan dasar pemilihan dan penyusunan kebijakan, ia juga merupakan epistemologi ilmu pengetahuan. Dimaksudkan untuk memerdekakan, untuk mengoreksi kekeliruan. Saya tidak mengatakan “politik itu kotor”, seperti yang umum dicekokkan di negeri ini selama berdasarwarsa, selama politisi itu bersikap setia pada kebenaran, menggunakan kuasanya mengelola kekuasaan untuk memanusiawikan diri sendiri, manusia, kehidupan dan masyarakat. Dengan sikap demikian, maka seorang pengelola kekuasaan akan terbuka. Pandai mendengar. Jujur sebagai ciri dari seorang pimpinan visioner. Jika politisi memperebutkan kekuasaan untuk kekuasaan, maka « politik itu kotor » akan terus berlanjut dan dipraktekkan. Kotor bersihnya, sejak dini akan menampakkan diri pada slogan kampanye dan cara-cara menuju ke kekuasaan.
2. Panitia Pelaksana Diskusi Panel ini mengajukan tema : « Memperteguh Komitmen Pemuda Dalam Melanjutkan Arah Pembangunan Kalimantan Tengah 5 Tahun Ke Depan”. Judul tema ini menimbulkan pertanyaan : (1). Memperteguh komitmen. Apakah komitmen pemuda Kalteng selama ini sudah teguh?. (2). Apakah arah pembangunan Kalteng sekarang sudah tidak perlu dipertanyakan sehingga harus dipertahankan tanpa koreksi untuk lima tahun ke depan lagi?
3. Komitmen berarti kebulatan hati melakukan suatu kebijakan, atau pilihan politik. Kuat tidaknya komitmen ditentukan oleh pola pikir, mentalitas. Pola pikir dan wacana terkait dengan wacana, pandangan hidup (weltanschaung) seseorang. Tidak kalah pentingnya tingkat keterampîlan atau keahlian yang tinggi. Weltanschaung, pandangan hidup, pikiran, wacana, ditentukan oleh lingkungan keluarga, sekolah, pekerjaan dan nilai dominan dalam masyarakat. Karena pikiran manusia banyak ditentukan oleh keadaan dan lingkungan sosial seseorang. Kalau nilai dominan dalam masyarakat adalah KKN maka nilai ini akan besar pengaruhnya terhadap yang menyebut diri “komit”. Jadi komitmen dan komitmen ada macam-macam: (1). komitmen yang tujuan tidak benar dan tidak manusiawi; (2). komitmen untuk pemanusiawian manusia, kehidupan dan masyarakat. Anggota Nazi Hitler mempunyai komitmen yang kuat. Kaum sektarian juga mempunyai komitmen yang kuat. Kita perlu mempertanyakan, secara obyektif, bukan subyektif, komitmen yang bagaimana yang dianut oleh pemuda Kalteng? Bagaimana wacana, pola pikir, dan mentalitas pemuda Kalteng sekarang? Bicara tentang komitmen, bicara tentang mutu manusia, mutu pendidikan, mutu birokrasi dan mutu masyarakat secara keseluruhan, termasuk mutu pembangunan. Tidak adakah persoalan dalam soal komitmen ini di kalangan kita? Jika terdapat persoalan, untuk memiliki komitmen teguh yang manusiawi, apakah tidak perlu dilakukan perubahan kultur dan struktur?
4. Arah Pembangunan Kalimantan Tengah: Apakah mengenai arah pembangunan selama kurun waktu Teras-Diran mengelola kekuasaan di Kalteng tidak ada persoalan? Teras-Diran merumuskan visi mereka dalam kata-kata: “Membuka isolasi menuju Kalimantan Tengah yang sejahtera dan bermartabat”. Kalau bacaan dan pemahaman saya benar, maka perumusan ini merupakan kontektualisasi dari ide Sarikat Dayak (dan Pakat Dayak) pada tahun 1919, tepat 25 tahun setelah Pertemuan Tumbang Anoi 1894. Sarikat Dayak merupakan titik penting kebangkitan Dayak. Pengangkatan kembali dan aktualisasi wacana Sarikat Dayak, sejak 2005 merupakan jasa penting Agustin Teras Narang (ATN) yang niscaya dicatat. Lebih-lebih setelah Tjilik Riwut tiada, wacana atau mimpi bersama ini seakan tidak diindahkan. Arah ini, apakah akan terus dilaksanakan oleh gubernur dan wakil gubernur selanjutnya? Tandatanya besar, apalagi jika ATN tidak menduduki lagi jabatannya yang sekarang. Ketika orientasi yang mempunyai akar sejarah panjang ini merupakan arah yang obyektif dan tanggap zaman, apakah dalam pelaksanaannya tidak ada persoalan? Yang saya maksudkan dengan pelaksanaan, termasuk perda dan pergub yang diharapkan bisa jadi patokan dalam mengejawantahkan mimpi besar bersama dan mengakar itu? Kecuali itu pelaksanaan orientasi ini dilapangan oleh dinas-dinas, dan pengelola kekuasaan berbagai tingkat. Dalam pelaksanaan, saya melihat banyak kesulitan dan rintangan dalam mewujudkan orientasi tersebut. Dalam pelaksanaan terdapat tidak sedikit penyimpangan, bahkan menuju arah yang berlawanan dengan arah semula. Secara lebih moderat bisa disebut “bias”. Keadaan demikian, bisa dipahami apabila kita sepakat bahwa birokrasi dan birokrat kita masih dibelenggu oleh tradisi lama dengan kekuatan menjerat yang kuat. Sejarah berbagai negeri di manapun mengatakan bahwa tradisi itu mempunyai kekuatan luar biasa. Salah satu tradisi kuat di Kalteng kita adalah tradisi Orde Baru, paternalisme, neo-feodalisme, budaya ghetto yang mendasari dunia politik kita. Tradisionalisme negatif ini mencerminkan diri di berbagai bidang, termasuk dalam cara membuat dan mengambil keputusan seperti pergub, atau perda. Dengan kata lain pada langgam dan gaya kerja. Barangkali halangan pelaksanaan mimpi bersama itu juga terdapat pada wacana kita tentang kekuasaan politik dan negara. Tidak gampang melawan Mengobahnya tidak segampang membalikkan telapak tangan.
5. Beberapa bias:
• (1). Bidang politik: Aneksasi Masyarakat Adat (MA) dan lembaga-lembaga keadatan, seperti tercermin pada Perda No.16 Tahun 2008; Pergub No. 13/2009. Saya membedakan antara aneksasi dengan rekoginisi (pengakuan). Dengan aneksasi maka MA dipolisasikan, meninggalkan karakternya semula. Rekognisi akan memungkinkan MA lebih berkembang alami dan tidak dipertanyakan keadaannya saat ATN tidak menjadi gubernur lagi.
• (2). Bidang ekonomi, dari berita-berita dan percakapan-percakapan di lapangan di berbagai DAS saya dapatkan bahwa ekonomi kerakyatan yang dipilih oleh ATN, dalam pelaksanaan menjurus ke dominasi Perusahaan Besar Swasta (PBS). Menurut Tim Peneliti Gama dan Walhi, (tak jauh berbeda statistik Transparancy Internastional), 80% daratan Kalteng berada di tangan PBS, 20% untuk konservasi, Taman Nasional dan lahan garapan. Akibatnya penduduk Kalteng terancam menjadi landless people. Ekonomi kerakyatan tidak mendapatkan perwujudan nyatanya. Bukan investor yang mengendalikan kekuasaan, tapi kekuasaan yang mengendalikan investor.
• (3). Bidang Sosial: Kemiskinan masih merajalela. Menurut angka ATN sendiri yang disiarkan oleh Harian Tabengan, 30% penduduk Kalteng yang berjumlah 2,6 juta masih hidup di garis kemiskinan. Biasanya dalam kenyataan, angka ini lebih besar lagi, karena biasanya angka statistik merupakan piranti politik. Ditambah dengan cara pembuatannya jauh dari bisa dipertanggungjawabkan. Program PM2L tidak menyentuh individu atau keluarga-keluarga miskin. Menggunakan istilah Tim Peneliti Gama, PM2L mirip dengan Desa Inpres Orba sehingga orientasi di atas tidak mengentas kemiskinan tapi lebih memproyekkan kemiskinan. Contoh: pelatihan pengrajin rotan di Palangka Raya, 13-14 November 2009. Pelaksanaan dan pelaporannya asal-asalan dan penuh keanehan. Pendekatan PM2L bukan pemberdayaan sebagai basis pembangunan berkelanjutan. PM2L tidak menghalau kemiskinan. Kemiskinan masih ada di sana. Mondar-mandir di kampung. Yang berhamburan adalah dana.Pengalaman ini perlu disimpulkan. Beda dengan CU atau KPD. Barangkali di sini terdapat masalah wacana tentang pengentasan kemiskinan dan cara pengentasannya.
• (4). Bidang kebudayaan: Sampai sekarang belum ada Pergub apapun. Saya melihat kehidupan kebudayaan di daerah ini sangat potensial tapi bersifat sporadik dan insidental. Tanpa rencana. Mandeg. Memproyekkan kebudayaan juga masih berlangsung. Muatan lokal sejauh ini masih terhenti di kertas-kertas resolusi. Apakah mengherankan jika angkatan muda makin asing dari budaya kampung halamannya sendiri?
• (5). Pendekatan Pembangunan: Dalam mewujudkan orientasi atau visi di atas, tidak nampak sama sekali pendekatan kebudayaan. Pembangunan tidak nyata menyandarkan diri pada pemberdayaan. Padahal pembangunan dilakukan oleh manusia untuk manusia. Pendekatan yang berlangsung lebih pada pendekatan fisik dan materi, tertumpu pada pertumbuhan GDP Rostowien, tidak pada resdistribusi produk per kapita. Dari segi teori pendekatan ini sudah kadaluwarsa.
• (6). Dunia pendidikan masih belum bisa diharapkan untuk menghasilkan kader-kader pemberdayaan dan pembangunan manusiawi dan ahli. Sebagai ahli pun bisa diragukan apabila praktek-praktek tidak jujur seperti yang disinyalir oleh Mendiknas Moh Nuh masih merajalela. Padahal sebenarnya dari dunia pendidikan diharapkan bisa lahir kader-kader pemberdayaan dan pembangunan yang manusiawi dan ahli. Diharapkan sebagai sumber think tank (pemikir-pemikir) merakyat sesuai harapan para pendahulu Kalteng. Tanpa tenaga-tenaga demikian, orientasi di atas tidak mungkin diejawantahkan. Saya melihat di Kalteng ada suatu kelengangan intelektualitas (intellectuality loneliness and emptiness). Berapa banyak cendekiawan dalam arti sesungguhnya di daerah ini? Saya mengalamatkan pertanyaan ini kepada Rektor Unpar.

• Singkatnya: orientasi tanggap zaman dan keadaan, tapi ada torpedo di lapangan. Reformasi birokrasi, struktur dan kultur perlu dilakukan sebagai hal mendesak. Dengan keadaan di atas, bagaimana pemuda memperkuat komitmen untuk melaksanakan orientasi atau arah pembangunan 5 tahun ke depan? Wacana pembangunanpun niscaya diperdebatkan ulang.

6. Pengawalan Terhadap Pengelolaan Kekuasaaan: Sekarang ini, negara terlalu kuat, rakyat lemah. Kontrol sosial perlu diperkuat untuk mengawal pemberdayaan dan pembangunan sesuai orientasi di atas. LSM-LSM pun perlu dikontrol. Masyarakat Adat merupakan kekuatan potensial sebagai kekuatan kontrol jika mereka dibebaskan dari aneksasi. Sebagai kekuatan pengawal, buruh tambang, perkebunan, guru-guru, petani, perlu dibangun sebagai patner sosial yang independen. Mahasiswa perlu aktif dan mengembangkan diri bebas dari kekangan, pungli. Kebebasan mimbar ditegakkan.
7. Keterbukaan Informasi: Sesuai undang-udang No. 14/2008 keterbukaan informasi niscaya dilaksanakan untuk mengawal pemberdayaan dan pembangunan Kalteng sebagai betang budaya dan betang Uluh Kalteng.
8. Nucleus Forces: Sekalipun sekarang dan justru karena ada perubahan perkembangan demografis di Kalteng maka seniscayanya pengelola kekuasaan mengambil Uluh Itah (Etnik Dayak) sebagai nucleus forces guna mempersatukan seluruh Uluh Kalteng yang beridentitas Kalteng. Dengan bersandar pada nucleus forces demikian « Itah tau » (Kita Bisa) mencapai tujuan sesuai arah di atas. Menterpurukkan Uluh Itah sama dengan mengkhianati para pendiri Kalteng dan cita-cita mereka. Akankah terjadi khianat demikian ?

Palangka Raya, 21 Desember 2009
KUSNI SULANG
Alamat Blog : https://jurnaltoddoppuli.wordpress.com

Daftar Pustaka:

• Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Kalmantan Tengah, « Prakarsa Teras-Diran Membuka Isolasi Mewujudkan Kalimantan Tengah Yang Sejahtera Dan Bermartabat », Palangka Raya, Agustus 2009.
• Budiman, Arief , « Kebebasan, Negara, Pembangunan. Kumpulan Tulisan 1965-2005” Freedom Institute, Jakarta, Agustus 2006.
• Kavanag, Dennis, « Kebudayaan Politik », Penerbit Bina Aksara, Jakarta, 1982.
• Khamenei, Imam Ali, “Perang Kebudayaan”, Penerbit Cahaya, Jakarta, 2005.
• Kurik, A. Suman, Drs, MM, « Membangun Ekonomi Kerakyatan », Penerbit Graha Guru, Yogyakarta, 2008.
• Kurniawan, Nanang Indra, « Globalisasi Dan Negara : Perspektif Institusionalisme », Laboratorium Juruqan Ilmu Pemerintah, Fisipol UGMn, Yogyakarta, April 2009.
• Kusni, JJ, « Negara Etnik. Beberapa Gagasan Pemberdayaan Suku Dayak », Fuspad, Yogyakarta, 2001.
• —————-, « Dayak Membangun. Masalah Etnis dan Pembangunan. Kasus Dayak Kalimantan Tengah », PT. Paragon, Jakarta, 1994.
• Lay, Cornelis (Ed.), « Membangun NKRI dari Bumi Tambun Bungai Kalimantan Tengah », Kerjasama Provinsi Kalimantan Tengah dan JIP Fisipol UGM, Yogyakarta, Juli 2007.
• Narang, Agustin Teras, « Mimpi, Cita-Cita &Tekad Teras-Diran Untuk Kalteng »Pidato Dalam Rangka Pemaparan Visi, Misi rogram Kerja Agustin Teras Narang, SH dan Ir. H. Achmad Diran, Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2005-2010.
• Pergub No.13 Tahun 2009.
• Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah No. 16 Tahun 2008 Tentang Kelembagaan Adat Dayak Di Kalimantan Tengah”, Biro Hukum Selretariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya, 2009.
• Rinting, A.G, « Koperasi Sebagai Upaya Membangun Kemandirian Ekonomi Rakyat », makalah sampaikan pada seminar Labda Palangka Raya, di Kum Kum, Palangka Raya, 7 Desember 2009.
• Rusan, Ahim S, Prof. DR, et al, « Sejarah Kalimantan Tengah », Penerbit Kerjasama Lembaga Universitas Palangka Raya dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Februari 2005.
• Sen, Amartya, « Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas », PT.Buku Kita, 2007.
• Santoso,Puwo dan Lay,Cornelis, (ed.) « Kalimantan Tengah Membangun Dari Pedalaman & Membangun Dengan Komitmen”, Penerbit Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, JIP Universitas GadjahMada, The ATN Center, Yogyakarta, Agustus 2009.
• Soyomukti, Nurni, « Revolusi Sandidinista. Perjuangan Tanpa Akhir Melawan Neo-Liberalisme », Penerbit Garasi, Yogyakarta, 2008.
• Suharto, Edi, Ph.D., « Analisisi Kebijakan Publik. Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan Kebijakan Sosial », Edisi Revisi, Penerbit Alfabeta, Bandung, Mei 2005.
• ——————–, “Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik”, Penerbit Alfabeta Bandung, Juli 2008.
• Tunggul Alam, Wawan, “Di bawah Cengkeraman Asing. Membongkar Akar Persoalannya dan Tawaran Revolusi untuk Menjadi Tuan di Negeri Sendiri”, Penerbit Ufuk Press, Jakarta, Juli 2009.
• Yuwono, Islantoro Dwi, “Boediono dan Neoliberalisme”, Penerbit Bio Pustaka, 2009.

HAK MASYARAKAT ADAT

Saya berterima kasih benar pada Damang Nurtinus Lui di Katingan Hilir, Damang Tusi B. Rampay di Mentaya Hulu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Katingan-Suropati Nanyan, dan para penduduk yang saya jumpai di pasar, di jalan, di sekolah-sekolah dan tempat-tempat umum. Dari mereka, saya mendapat banyak pengetahuan tentang manusia, kearifan lokal Bumi Tambun Bungai dan soal-soal kehidupan masyarakat setempat.

Pengetahuan dari mereka mendorong saya  mengikuti Rapat Koordinasi Damang, Camat dan Dewan Adat Dayak yang diselenggarakan oleh Dewan Adat Dayak Provinsi tanggal 10-11/12 lalu, sebagai peninjau sukarela atas undangan pribadi Damang Tusi.

Pengakuan Hukum terhadap Masyarakat Adat

Teks Soempah Poemoeda 1928 telah memperlihatkan kesadaran tentang hukum adat:”…..Mengeloerkan kejakinan persatoean Indonesia diperkoeat dengan memperhatikan dasar persatoeannya: Kemaoean, Sedjarah, Bahasa, Hoekoem Adat, Pendidikan dan Kepanduan…..dst”. Pendiri NKRI juga menghormati hak-hak masyarakat adat. Terbukti dari diakuinya kesatuan-kesatuan wilayah hukum adat dalam Pasal 18 UUD 1945 beserta penjelasannya. Hak-hak masyarakat asli (indegenous people rights) diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa: “Para warga masyarakat asli memiliki hak-hak untuk dilibatkan dalam proses pembangunan dan modernisasi. Sehingga, mereka tak hanya sebagai obyek penderita, tapi menjadi subyek yang ikut menentukan proses pengambilan keputusan”. Adapula pasal 41 Piagam Hak Asasi Manusia, yang menjadi bagian integral ketetapan MPR No XVII/MPR/1998 yang menegaskan: “Identitas budaya masyarakat tradisional, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman”. Juga ada Pasal 14 Konvensi ILO Nomor 169, yang menyatakan: “Hak pemilikan dan penguasaan bangsa pribumi dan masyarakat adat terhadap tanah yang secara tradisional mereka huni dan manfaatkan harus diakui…..dst”.

Ada beberapa produk hukum Orde Lama yang menghormati hak-hak masyarakat adat. UU No. 5/1960 tentang Pokok-Pokok Agraria (UUPA) memiliki pasal-pasal yang mengakui ketentuan hukum adat. Juga di bidang sumber daya hutan, ada PP No. 64/1957 tentang desentralisasi di bidang kehutanan.

Merumuskan Kebijakan

Sayang sekali bahwa draft rancangan peraturan tentang pembentukan Badan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak di Kalimantan Tengah  yang menjadi materi pada sesi I hari II RAKOR, tidak dibagikan kepada peserta rapat. Sungguh mengherankan bagi saya bahwa ditengah upaya sosialisasi Peraturan Daerah No. 16 Tahun 2008 tentang Kelembagaan Adat Dayak dan Peraturan Gubernur No. 13 Tahun 2009 tentang Tanah Adat dan Hak-Hak Adat di Atas Tanah, peningkatan partisipasi peserta tidak sungguh-sungguh diupayakan. Saya bertanya tentang kemungkinan memperoleh salinan draft kepada DR. Siun saat sesi istirahat RAKOR. Dikatakan bahwa belum bisa dibagikan karena setelah RAKOR masih ada dua tahap lagi penggodokan draft oleh tim perumus yang akan dibentuk kemudian, sebelum draft mencapai final. Bukankah lebih baik jika draft dibagikan sejak awal untuk dipelajari dan dianalisis untuk kemudian dikritisi oleh para Damang, Camat, DAD dan peninjau agar masukan-masukan yang diperoleh menjadi lebih optimal? Saya kira pola “mengalir dari hulu ke hilir” sebagai prinsip pelaksanaan program sertifikasi tanah adat, muatan lokal, dan pengangkatan fungsionaris Lembaga Kedamangan sebagaimana tertuang dalam sambutan Gubernur Kalimantan Tengah, Teras Narang, di buku panduan RAKOR, sangat penting diterapkan dalam proses perumusan peraturan-peraturan pemerintah dan kebijakan yang nantinya digunakan untuk menopang eksistensi masyarakat adat. Ini tentu berarti peningkatan partisipasi melalui keterbukaan akses informasi terhadap draft rancangan peraturan. Ini juga berarti, jika dilakukan dan diupayakan sungguh-sungguh, secara tidak langsung penyelenggara negara memberi pendidikan hukum bagi masyarakat tentang bagaimana mekanisme ideal perumusan suatu produk hukum ataukebijakan yang ditujukan bagi kepentingan masyarakat.

Tanah untuk Rakyat

Catatan yang cukup menggembirakan dari sambutan Gubernur Kalimantan Tengah, Teras Narang, bahwa program sertifikasi tanah gratis di Badan Pertanahan Nasional bagi masyarakat kurang mampu seluas minimal 2 hektar akan dimulai tahun 2010. Langkah pertama, Damang bekerja sama dengan penyelenggara negara tingkat kecamatan dan kabupaten, akan mengindetifikasi dan menginventarisasi tanah-tanah adat masyarakat secara adil. Tanah adat yang sudah disertifikasi akan diatur agar tidak dapat diperjualbelikan tapi bisa dijaminkan di bank atau lembaga keuangan untuk membantu membangun perekonomian masyarakat.

Ini sungguh langkah awal yang baik. Tentu tak akan mudah. Saya berharap langkah tersebut tidak berhenti sampai disitu.  Mengingat bahwa berdasarkan penelitian tim dari Universitas Gadjah Mada saat melakukan evaluasi empat tahun kepemimpinan Teras-Diran, delapan puluh persen tanah di Kalimantan Tengah sudah dikuasai oleh pihak asing dan dibawah kontrol investor. Artinya, hanya dua puluh persen yang tersisa untuk penduduk asli. Ini ancaman jangka panjang. Penduduk asli bisa menjadi orang-orang tanpa tanah (landless people). Jika itu terjadi maka seperti ungkapan, penduduk asli akan tempun petak batana sare, tempun puyah batawah belai, tempun kajang bisa puat (punya tanah berladang di tepi, punya garam hambar dirasa, punya atap basah muatan).

Juga masih banyak soal baik pada tingkat masyarakat adat, koordinasi Damang dengan penyelenggara negara tingkat kecamatan/kabupaten yang masih banyak dilingkupi pandangan saling curiga dan merasa paling berwenang, teknis pengukuran batas-batas tanah dimana sebagian besar batas-batas didasarkan atas informasi lisan orang per orang,  ditambah lagi teknis peminjaman perbankan karena sepanjang pengetahuan saya tak ada bank yang mau memberi pinjaman dengan agunan tanah saja kecuali jika ada bangunan diatasnya dan mengingat bahwa sebagian besar lokasi tanah adat berada di wilayah-wilayah yang belum memiliki bank baik pemerintah atau swasta (sebagian besar bank, hanya bisa memberi kredit atas agunan yang berada dalam wilayah kerja mereka).

Belajar dari Morales

“Kita ingin mengubah Bolivia bersama-sama. Mendapatkan kembali lahan berarti mendapatkan kembali seluruh sumber daya alam, kita menasionalisasikan seluruh sumber daya alam,” diucapkan Evo Morales, presiden Bolivia yang berasal dari suku asli negeri itu kepada ribuan warga Indian yang berkumpul untuk mendapatkan hak mereka atas tanah di Santa Cruz, wilayah timur Bolivia. Rencana Revolusi Lahan mencakup penyerahan 3,1 juta hektar kepada 60 kelompok masyarakat Indian di wilayah timur Bolivia. Kebijakan  menargetkan distribusi lahan publik seluas 200.000 km2 dalam lima tahun. Pemerintah Bolivia juga mempelajari redistribusi lahan-lahan pribadi yang tidak produktif, diperoleh secara ilegal atau digunakan untuk spekulasi. Tak sampai disitu. Morales melabrak dan memberi ultimatum kepada semua perusahaan asing di Bolivia yang selama ini memonopoli sumber-sumber daya alam penting bagi hajat hidup orang banyak, untuk segera menyusun ulang perjanjian-perjanjian kerjasama agar keuntungan investasi merata dan seimbang antara investor asing dan rakyat Bolivia. Yang tidak bersedia, silahkan hengkang dari Bolivia. Kejelasan. Komunikasi. Konsistensi. Jika benar-benar ada rencana studi banding atau kunjungan kerja untuk belajar tentang bagaimana cara penyelenggara negara memakmurkan rakyat terutama penduduk asli, barangkali kita perlu berkunjung ke Bolivia dan berbincang dengan Morales.

Andriani S. Kusni*

*) Desainer, Penulis Lepas, Anggota Grup Penulis Edelweis

Pertama kali dimuat di Harian Tabengan, Palangka Raya, Rubrik Opini,  Selasa-15/12/2009

MENGAMANKAN DUNIA PENDIDIKAN

Jurnal Toddoppuli

Cerita untuk Andriani S. Kusni & Anak-Anakku

Mengamankan? Ya, mengamankan. Mengapa harus diamankan ? Apakah dunia pendidikan kita, dunia pendidikan di Kalteng tidak aman dan terancam padahal media massa cetak mengabarkan bahwa kelulusan dalam ujian nasional mencapai persentase yang menggembirakan,  bahkan sementara sekolah mencapai tingkat 100% dan dana untuk pendidikan oleh Presiden dinaikkan hingga 20% ? Lalu tidak sedikit pemerintah kabupaten mengumumkan tentang sekolah gratis selama 9-12 tahun? Ya, memang demikian. Justru karena adanya angka-angka demikian ketidakamanan itu makin nyata.

Lulus bukankah sebenarnya telah menunjukkan suatu tingkat kualitas ? Kualitas dengan menggunakan standar nasional pula. Jika dalam proses lulus itu terdapat kejujuran, tentu saja sangat menggembirakan. Tapi jika di dalamnya terdapat ketidakjujuran, maka kelulusan itu menjadi turun mutu dan martabatnya. Selain itu, kelulusan tersebut mempengaruhi mutu lulusan dan sekaligus kadar pendidikan. Terakhir menyangkut kualitas sumber daya manusia (SDM) yang diluluskan. Jika mau bersikap keras menuntut diri, maka kelulusan demikian, menjadi bentuk penipuan pada diri sendiri. Padahal anak didik yang diasuh di sekolah-sekolah dari playgroup hingga pendidikan tinggi, menjadi andalan harapan esok bangsa dan negeri. Bisakah lulusan ketidakjujuran menjadi andalan harapan esok? Bermula dari alur pikiran dan keadaaan  beginilah rasa tidak aman itu muncul pada diri saya terhadap dunia pendidikan kita. Padahal siapapun tahu arti dan peran pendidikan dalam melahirkan dan membentuk SDM bermutu. Arti penting SDM bermutu ini, lebih-lebih bagi etnik Dayak yang dalam proses perubahan komposisi demografis di Kalteng menjadi makin minoritas. Untuk menghadapi esok yang demikian, jalan terbaik bagi etnik Dayak agar bisa hidup semestinya di Kalteng sebagai betang bersama segala etnik, hanya ada satu jalan utama, yaitu menjadi Dayak Bermutu. Untuk sampai ke tujuan ini, pendidikan merupakan jalur utama menentukan. Jika dunia pendidikan kita, terancam oleh ketidakjujuran, saya khawatir kita bukannya menjadi Dayak (manusia) bermutu, tapi malah menjadi benalu sosial yang brengsek.

Pendidikan yang bermutu erat kaitannya dengan kurikulum, proses ajar-mengajar, orientasi yang menjadi arah pendidikan, menanamkan upaya sadar mencari nilai dan komitmen sosial manusiawi. Deretan gelar akademi yang diperoleh dari proses yang tidak jujur, tidak menjamin adanya SDM bermutu. Gelar akademi yang berderet tidak menjamin penyandangnya menjadi seorang cendekiawan. Cendekiawan adalah produsen ide, pemburu nilai dan hakekat dengan ciri kejujuran tanpa tawar.

Bagaimana dunia pendidikan kita di Kalteng?

Pada masa pemerintahan Abdurrachman Wahid (Gus Dur), saya berada di Palangka Raya. Menteri pendidikan pemerintahan Gus Dur pernah datang ke Palangka Raya dan menurut media massa cetak, sang menteri mengatakan bahwa tingkat pendidikan kita, termasuk perguruan tinggi belum mencapai nilai C. Hari ini 07 Desember 2009, saya berbincang-bincang dengan seorang kepala sekolah non Dayak yang sudah tinggal dan memimpin sebuah sekolah penting. Ketika berbicara  tentang mutu pendidikan, beliau mengatakan bahwa kalau mau jujur, Kalteng sesungguhnya “berada di daerah merah”. Tenggang waktu penilaian demikian sudah berlangsung hampir 10 tahun. Keadaan menjadi lebih kongkret dan memprihatinkan, ketika seorang mantan rektor universitas utama di Kalteng, menuturkan kepada saya tentang komposisi mahasiswa-mahasiswi yang diterima di universitas yang pernah ia pimpin. Mahasiswa-mahasiswi lokal diterima setelah penerimaan tingkat pertama berdasarkan hasil kelulusan UN. Pada tahap pertama  ini, siswa-siswa SMA/SMU kita sangat sedikit yang diterima. Artinya kadar kelulusan UN berbanding terbalik dengan yang dikatakan pihak resmi tentang persentase kelulusan. Jika demikian maka ada sesuatu yang tidak beres dalam masalah kelulusan.

Sehubungan dengan keadaan demikian Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Kabinet Indonesia Bersatu II, Moh. Nuh “mempersilahkan pemerintah daerah menargetkan tinggi kelulusan siswanya dalam UN. Dengan catatan, upaya tersebut dilakukan dengan penuh kejujuran dan fair”. Untuk ini Moh. Nuh meminta agar persiapan UN 2010 dilakukan dengan baik. “Gubernur, bupati, dan kepala dinas boleh mencanangkan target kelulusan i100%. Caranya untuk mencapai kelulusan itu sama dengan kita punya target ingin pergi haji. Tidak ada yang melarang, tapi yang tidak boleh itu jika pakai cara tidak benar”, ujar Moh. Nuh pada 06 Desember 2009”. (Harian Kalteng Pos, Palangka Raya, 07 Desember 2009). Mendiknas lebih spesifik meminta agar “Pemda kami harapkan mampu mengawal nilai kejujuran. Jangan sekali-kali UN dijadikan sebagai eksperimen lapangan untuk pembuktian kecurangan”. Permintaan ini terutama dialamatkan kepada kepala dinas.

Pernyataan Moh. Nuh selaku Mendiknas, tentu bukan karangan, tapi disampaikan berdasarkan keadaan yang selama ini terjadi.Yang terjadi adalah ketidakjujuran dalam soal kelulusan dan persentase kelulusan. Pertanyaan: Dengan mutu pendidikan Kalteng yang masih berada di “daerah merah”, berada di bawah nilai C, apakah masalah “kejujuran” dan penggunaan “cara tidak benar” tidak terjadi di  Kalteng kita? Pernyataan Mendiknas Moh. Nuh ini hanya memperkuat  kekhawatiran saya bahwa benar dunia pendidikan kita, memang tidak aman. Ketidakamanan yang mewujudkan diri dalam berbagai bentuk, seperti  santase, pemungutan liar, pemotongan beasiswa,  penyalahgunaan dana dan kekuasaan, dan lain-lain… Di luar kemampuan bayangan saya bahwa sebuah sekolah, sebuah perguruan tinggi yang ditandai oleh ketidakjujuran dan “cara-cara tidak benar” bisa berkembang maju dan memberikan sumbangan kepada masyarakat dalam bentuk melahirkan SDM yang bermutu.

Berbicara tentang esok yang baik, akan makin jauh dari kenyataan jika tidak disertai oleh adanya SDM bermutu berapapun panjangnya gelar akademi yang dlekatkan pada penyandangnya. Saya memandang Kalteng dengan rasa cemas ketika melihat dunia pendidikannya dan sumber daya bermutu yang tentu tidak berkecukupan. Saya yang hanya bermodal kata hanya bisa menorehkan kalimat: “Amankan dunia pendidikan kita dari petaka untuk mengamankan esok Kalteng betang bersama etnik-etnik”.  Kemudian: “Dayak Bermutu adalah jalan eksiensi bermartabat dan berharkat bagi etnik Dayak”. Tidak seniscayanya kita menipu diri.***

Palangka Raya, Desember 2009

KUSNI SULANG