Archive for May, 2011|Monthly archive page

HTI Ingatkan Bahaya Kapitalisme

http://berita.liputan6.com/daerah/201105/336754/hti_ingatkan_bahaya_kapitalisme

HTI Ingatkan Bahaya Kapitalisme

Ismoyo

29/05/2011 20:37
Liputan6.com, Surabaya: Ribuan anggota Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI menghadiri rapat terbuka di Gedung Gelora Pancasila, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (29/5). Dalam pertemuan ini, HTI mengingatkan agar masyarakat mewaspadai paham kapitalisme dan neoliberalisme yang disebarkan Amerika Serikat yang akan membuat masyarakat kian terpuruk.

HTI juga mengingatkan agar masyarakat dalam menjalankan kehidupan keseharian tetap berperilaku sesuai dengan khilafah. HTI yakin, kebangkitan Indonesia dari keterpurukan ekonomi hanya dapat dilakukan melalui khilafah.(BOG)

 

Advertisements

Buku “Saatnya Baduy Bicara” Diminta Ditarik dari Peredaran

Buku “Saatnya Baduy Bicara” Diminta Ditarik dari Peredaran

REPUBLIKA.CO.ID, LEBAK – Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Jaro Dainah meminta penerbit buku Saatnya Baduy Bicara yang beredar luas di pasar ditarik karena warga Baduy tidak menyetujui penulisan buku tersebut. “Saya berharap buku yang diterbitkan kerja sama PT Bumi Aksara Jakarta dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa pada September 2010 ditarik,” kata Kepala Desa Kanekes yang juga Kepala Pemerintahan Adat Baduy, Jaro Dainah, di Rangkasbitung, Jumat.

Dainah mengatakan, dirinya merasa tidak memberikan rekomendasi penerbitan buku tersebut karena berdasarkan kesepakatan lembaga adat menolaknya.

Namun, dalam buku Saatnya Baduy Bicara  seolah-olah dapat persetujuan dalam bentuk tanda tangan, cap stempel dan kata sambutan pengantar kepala desa. “Kami sama sekali tidak menyetujui penulisan buku itu.”

Menurut dia, buku Saatnya Baduy Bicara yang ditulis Asep Kurnia dan Ahmad Sihabudin diduga memalsukan tanda tangan, cap stempel desa dan kata sambutan pengantar.

Masyarakat komunitas Baduy Dalam tidak boleh dipublikasikan karena bertentangan (kontradiktif) dengan adat sesuai pesan leluhur nenek moyangnya. Oleh karena itu, hasil keputusan rapat adat penerbit buku tersebut berkewajiban untuk menarik dari peredaran, katanya.

Selain itu juga dugaan pemalsuan dapat diproses secara hukum karena kepala desa dirugikan dengan penulisan buku itu. “Sepengetahuan kami tidak pernah melakukan tanda tangan, membubuhkan stempel desa dan kata sambutan pengantar,” katanya.

Dia menyebutkan, sebetulnya buku tersebut sudah beredar saat perayaan Seba di Gedung Pendopo Pemerintah Kabupaten Lebak tahun 2008 lalu.

 

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/05/13/ll4tv4-buku-saatnya-baduy-bicara-diminta-ditarik-dari-peredaran

__._,_.___

KPK Kehilangan Kepercayaan Masyarakat

Refleksi sunny <ambon@tele2.se> : Kalau KPK kehilangan kepercayaan masyarakat, maka sudah sepatutnya nama dari  “Komisi  Pemberantas Korupsi”  dirubah menjadi Kementrian Penyelamat Koruptor. Apakah Anda setuju ataukah Anda mempunyai usulan lebih baik? Monggo, plisssss, plissss

KPK Kehilangan Kepercayaan Masyarakat
Sabtu, 28 Mei 2011 | 11:44

[JAKARTA] Pakar hukum Universitas Trisaksi, Abdul Fickar Hadjar mengatakan tidak ada sanksi hukum yang dapat dijatuhkan kepada KPK atas langkah lamban lembaga independen ini mencekal Nazaruddin. Sebab, KPK adalah lembaga independen yang mempertanggungjawabkan kinerjanya ke DPR. Tetapi, sayangnya DPR tidak bisa memberikan sanksi untuk KPK.

Menurut Abdul, saksi untuk KPK akan datang dari masyarakat, yaitu kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Kehilangan kepercayaan tersebut, terutama untuk lima komisioner KPK. Karena itu  DPR tidak boleh memilih mereka kembali sebagai komisioner KPK.

Terhadap kasusnya sendiri, Abdul Fickar mengatakan langkah yang harus secepatnya dilakukan oleh Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) terkait kepergian Nazaruddin ke Singapura adalah mempercepat proses penyidikan kasus yang diduga melibatkan mantan Bendahara Umum (Bendum) Partai Demokrat tersebut.

“Yang harus dilakukan KPK adalah mempercepat proses peyidikan kasus ini. Sehingga, akan terlihat siapa yang tidak mempunyai komitmen bahkan menghalangi pemberantasan korupsi,” kata Abdul Fickar kepada SP, Sabtu (28/5).

Abdul mengungkapkan bahwa KPK bisa terus melanjutkan proses hukum bagi Nazaruddin. Walaupun, akhirnya harus disidangkan tanpa kehadiran terdakwa (inabsentia).

Sedangkan soal konspirasi dalam proses kepergian Nazaruddin ke luar negeri dapat terlihat ketika mantan Bendum Demokrat tersebut tidak hadir ketika di panggil KPK. “Belum lama ini ada pernyataan dari teman Nazaruddin di Demokrat yang mungkin mewakili Nazaruddin. Dimana, mengatakan bahwa Nazaruddin akan datang jika ada panggilan dari KPK. Atas dasar pernyataan tersebut kita bisa membuktikan adanya konspirasi, yaitu jika janji tidak terbukti maka dikatakan ada konspirasi,” ungkapnya. [N-8]

Papua Masuk Kategori Rawan Pangan

Kamis, 26 Mei 2011 , 09:30:00


JAYAPURA-Wilayah Papua yang memiliki dan menyimpan potensi sumber alam yang cukup kaya, termasuk potensi pangan lokalnya tampaknya oleh dewan ketahanan pangan nasional, bahkan dunia Papua masih masuk kategori rawan pangan.

Hal tersebut seperti dikatakan Kepala Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinis Papua, Ir. Wilhelmina H Warwe pada acara pelatihan Food Security dan Vulnerability Atlas atau pemetaan pangan di Hotel Green Abepura, kemarin.
 Menurut Wilhelmina, dari 19 Kabupaten dan Kota di Provinis Papua, 11 Kabupaten masuk rawan pangan. Karena itu, diharapkan melalui pelatihan tentang pemetaan potensi pangan ini bisa meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) untuk kepentingan perencanaan pengembangan pangan didaerah.
 “Mewujudkan ketahanan pangan didaerah ini menjadi bagian dari tanggungjawab pemerintah dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan keluarga guna terpenuhinya kebutuhan gizi anak dan keluarga,”tandasnya.
 Bagi Wilhelmina, persoalan ketahanan pangan ini masih menjadi permasalahan yang harus diatasi bersama, mengingat sampai saat ini untuk memenuhi kebutuhan pangan masih sangat tergantung persediaan/suplay dari luar Papua.
 Harapannya melalui pelatihan seperti ini, pihaknya mengharapkan agar masing-masing daerah melalui instasni teknis terkait bisa menyusun dan merencanakan pemetaan ketahanan pangan baik untuk jangka pendek, menengah dan panjang. (mud/nat)
__._,_.___

Kelapa Sawit Tidak Ramah Lingkungan

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/kelapa-sawit-tidak-ramah-lingkungan

Avatar Bari Muchtar
hilversum, Belanda
hilversum, Belanda

Kelapa Sawit Tidak Ramah

Lingkungan

Diterbitkan : 27 Mei 2011 – 2:40pm | Oleh Bari Muchtar (flickr)

Di Indonesia banyak orang berpendapat bahwa berusaha di bidang minyak kelapa sawit adalah cara mencari nafkah yang sangat menguntungkan dan sekaligus ramah lingkungan. Lagi pula, selain bisa dikonsumsi, minyak kelapa sawit juga bisa dijadikan bahan bakar.

Tapi organisasi lingkungan hidup Belanda  Milieudefensie atau Pertahanan Lingkungan menilai,  penggunaan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar, lebih banyak merusak lingkungan ketimbang bahan bakar konvesional seperti disel.  Pegiat lingkungan Belanda  yang bermitra dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) ini prihatin terhadap nasib hutan asli di Indonesia yang banyak dibabat oleh berbagai perusahaan.

Perusahaan Malaysia
Sebagai contoh Ritsema menyebut perusahaan minyak kelapa sawat Malaysia yang dianggapnya merupakan penyebab besar pencemaran lingkungan di Indonesia.

“Kami telah meneliti cara perusahaan itu beroperasi. Mereka antara lain bersalah melakukan pembabatan hutan secara ilegal. Kami berhasil membokar kasus ini dan telah menyusun laporan tentang itu. Kemudian kami berbicara dengan perusahaan tersebut, tapi tidak membuahkan hasil.”

Oleh karena itu milieudefensie menyampaikan keluhan di organisasi gabungan industri minyak kelapa sawit. “Dengan cara ini kami melakukan desakan,” tandas Ritsema.

Ritsma menambahkan, secara umum di Indonesia pembabatan hutan terjadi luar biasa. Oleh karena itu Indonesia termasuk negara-negara yang terbanyak menyemburkan emisi CO2. Cina nomor satu, kemudian disusul Amerika dan setelah itu Indonesia.

CO2
“Ini aneh, karena Indonesia sebenarnya bukan negara yang paling maju industrinya. Tapi emisi CO2 itu disebabkan karena hutan banyak ditebangi,” tandas Ritsema. Karena pohon-pohon ditebangi, maka berkuranglah pohon yang menyedot CO2, jelas Ritsema.

Kendati demikian, sekarang di Indonesia banyak proyek-proyek penanaman pohon, misalnya apa yang dilakukan oleh berbagai LSM di Jawa. Menurut Ritsema, proyek-proyek itu tidak bakal mampu berlomba melawan gencarnya penebangan hutan tadi. “Manfaatnya kurang kalau pohon ditanam tapi hutan tetap dibabat. Ini merupakan kemunduran”

Namun Ritsema melihat proyek-proyek tersebut ada manfaatnya. “Saya kira, proyek penanaman pohon itu ada juga dampak positifnya. Tapi ini tetap tidak akan bisa metralisir dampak pengrusakan hutan rimba. Proyek penanaman pohon itu tidak bakal bisa memulihkan hutan rimba.”

Sikap pemerintah RI
Namun syukur banyak juga hutan rimba yang diselamatkan. Pemerintah Indonesia tampaknya memang prihatin terhadap pembabatan hutan rimba. Tapi, tambah Ritsema, harus ada langka kongret.

“Kami berpendapat, permintaan terhadap produk tertentu harus dikurangi. Atau produksi harus dilakukan dengan cara langgeng. Jadi, merupakan kombinasi.”

Minyak kelapa sawit banyak digunakan sebagai pangan dan juga sebagai bahan bakar untuk mobil. Milieudefensie menilai penggunaan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar, bukanlah gagasan yang bagus.

Cari alternatif
Karena hal ini menggalakkan untuk membuka usaha di bidang minyak kelapa sawit. Dan dampaknya adalah makin banyak hutan dibabat untuk dijadikan kebun kelapa sawit. Sebaiknya dicari alternatif supaya jangan menggunakan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar.

“Kalau dilihat dari proses produksi yang diawali dari penebangan hutan, pembersihan lahan, trasport – karena minyak kelapa sawit harus diangkut ke Eropa – dampak pembakaran dan lain-lain, maka minyak kelapa sawit lebih buruk dampaknya buat lingkungan dibandingkan disel konvensional.”

Tiap tahun kalau hari lingkungan internasional tiba, sering digelar acara penanaman pohon. Menurut milieudefensie, ini kegiatan baik untuk melestarikan lingkungan, tapi jauh dari cukup. Ritsema tetap berpendapat, yang paling penting adalah pengurangan produksi minyak kelapa sawit.

Label FSC
Lalu apakah sama sekali tidak boleh menembang pohon? Boleh saja, asal hutannya tetap dilestarikan. Kayu-kayu yang dipotong dan banyak diimpor misalnya ke Belanda harus memenuhi syarat label FSC (Forest Stewardship Council).

“Kalau kayunya berlabel FSC, kita tahu proses penebangannya tanpa merusak hutan rimba.”

 

Mahbub Djunaidi, Berjuang Lewat Pena

Mahbub Djunaidi, Berjuang Lewat Pena

[image: mahbub junaidi.jpg]

Dunia pers Indonesia tak akan bisa melupakan nama Mahbub Djunaidi yang
pernah tiga kali memimpin organisasi kewartawanan, PWI, Mahbub juga dikenal
sebagai pemikir NU.

Ia lahir di Jakarta, 27 juli 1933, anak pasangan dari H. Djunaidi dan Ibu
Muchsinati. Ayahnya sebagai Kepala Biro Peradilan Agama pada Kementerian
Agama yang setiap awal ramadhan dan malam idul fitri mengumumkan hasil
rukyah melalui radio. Mahbub Djunaidi, sebagaimana anak-anak Indonesia pada
umumnya di zaman revolusi kemerdekaan, usia sekolahnya panjang. Dia baru
duduk dikelas satu SMP menginjak usia 16 tahun, saat seharusnya
menyelesaikan sekolah pertama. Usia 16 tahun itu bersamaan dengan waktu
pemulihan kedaulatan RI dari Belanda tahun 1949.

Menginjak usia remaja, Mahbub Djunaidi bergabung ke dalam Ikatan Pelajar
Nahdlatul Ulama (IPNU), organisasi kader partai NU (saat itu), selagi masih
duduk di SMA. Dia hadir di kongres pertama IPNU di Malang 1955 yang dibuka
oleh Presiden RI Sukarno, di saat negeri ini beberapa bulan lagi akan
menyelenggarakan pemungutan suara pemilu pertama.

*Gerakan Mahasiswa***

Mahbub mulai menulis waktu SMP dan waktu di SMA tulisan-tulisannya sudah
dimuat di majalah-majalah bergengsi waktu itu, seperti Siasat (sajak),
Mimbar Indonesia (esai), Kisah, Roman, Star Weekly, Tjinta (cerita pendek).
Ia terjun ke dunia jurnalistik pada tahun 1958 mengisi harian duta
masyarakat yang kemudian ia menjadi Pemimpin Redaksinya pada tahun
1960-1970.

Di tengah memimpin Duta Masyarakat sebagai corong partai warga
nahdlyyin-saat itu-, ia juga berhasil mendeklarasikan organisasi mahasiswa
NU yang berafiliasi ke partai NU (waktu itu) yang bernama Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada tahun 1960. Ia sendiri sebagai ketua
umum pertama selama dua periode. Sekarang organisasi ini menjadi besar dan
tumpuan mahasiswa yang berbasis nahdliyyin. Pendek kata, dimana ada cabang
NU, disitu ada PMIInya, karena pernah menjadi anak kandung saat NU jadi
partai politik.

Sebagai sebuah organisasi kader partai yang tergolong besar, tidak bisa lain
dia juga harus seorang pendidik. Pada tahun 1961, melalui kongres pertama
PMII dilahirkan pokok-pokok pikiran yang diwadahi dalam apa yang disebut
“deklarasi tawangmangu”. Deklarasi tersebut isinya meliputi pandangan
tentang dan sikap terhadap sosialisme Indoensia, pendidikan nasional,
kebudayaan nasional dan lain-lain. Deklarasi tawangmangu merupakan refleksi
PMII terhadap isu nasional pada saat itu.

Mahbub berusaha dengan sungguh penuh agresif menjadikan PMII sebagai wadah
pembentukan kader, sebagaimana diamanatkan kepadanya oleh musyawarah
mahasiswa NU seluruh Indonesia. salah satu cara membentuk jiwa dan menempa
semangat kader adalah melalui lagu-lagu mars PMII, lagu yang di nyanyikan
setiap saat akan acara penting PMII sampai sekarang masih tetap
dipertahankan.
Sehingga tidaklah berlebihan kantor PB PMII, Bangunan seluas 400 meter
persegi yang beralamat di Jl Salemba Tengah 57A Jakarta Pusat bernama “Graha
Mahbub Djunaidi”. Pemberian nama Graha Mahbub Djunaidi tersebut merupakan
penghormatan kepada Ketua Umum PMII pertama yang menjabat selama dua periode
pada tahun 1960-1963 dan 1963-1966, kata Malik Haramain, Ketua Umum PB PMII
tahun 2003-2005 saat peresmian kantor tersebut.

Setelah aktif sebagai Ketua Umum PMII, Mahbub kemudian diminta pula membantu
pengembangan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Ia sempat duduk sebagai salah
satu ketua pimpinan pusat organisasi kader NU untuk kalangan pemuda
tersebut. untuk organisasi inipun, Mahbub menulis lirik lagu marsnya yang
tetap di gunakan sampai sekarang.

Setelah dirasa cukup membantu pada organisasi kader muda NU, akhirnya ia di
tarik ke rahim NU-nya yaitu sebagai Wakil Sekjend PBNU (1970-1979) dan Wakil
Ketua PBNU mulai tahun 1984-1989.

Setelah terjadi pasifikasi politik NU pada muktamar di Situbondo, Jawa Timur
tahun 1984 dengan jargon kembali ke khittah 1926, Mahbub pun mempunyai
penafsiran sendiri tentang hal itu. Ia memperkenalkan menggagas istilah
“khittah plus”. Menurutnya, kembali ke khittah 1926 bukanlah merupakan
perwujudan dari sebuah perjuangan. Pendek kata, Mahbub menginginkan NU
kembali berpolitik praktis sebagai wadah aspirasinya, mengingat NU –waktu
itu- selalu dipinggirkan.

*Pena Sebagi Teman Karib Dan Politikus***

Selama sepuluh tahun memimpin media harian Duta Masyarakat sebagai corong
partai NU -saat itu-, tulisan-tulisan Mahbub yang menggelitik mulai di kenal
oleh wartawan-wartawan senior dan media-media baik cetak maupun eletronek.
Lambat laun tapi pasti, ia terpilih sebagai Ketua PWI periode 1965, 1968,
dan 1970 ini dikenal sebagai sosok yang prigel, luwes, dan profilik dalam
menuangkan gagasan-gagasannya lewat tulisan. Mahbub Djunaidi dikenal sebagai
penulis dengan gaya bahasa yang lugas, sederhana, dan humoris.

Bagi dunia pers, nama Mahbub Djunaidi bukanlah nama yang asing lagi. Sebagai
seorang wartawan, Mahbub adalah wartawan pemikir yang cerdas dan “kental”,
namun juga jenaka dan penuh kejutan-kejutan dalam setiap tulisannya. Dalam
istilah sekarang, ia adalah seorang yang humanis dan moderat.

Menurut Jakob Oetama, Pendiri dan Pemimpin Umum harian KOMPAS yang kenal
secara pribadi, mengamati Mahbub mencapai formatnya yang optimal sebagai
wartawan, justru ketika ia bebas dari beban-beban menjadi pemimpin redaksi
Duta Masyarakat dan sebagai aktivis partai atau keorganisasian lainnya.

Mahbub menulis untuk rubrik Asal-Usul tiap hari minggu di harian Kompas
selama 9 tahun tanpa jedah, sambil masih juga diminta penerbitan pers
lainnya menulis topik-topik tertentu seperti Tempo, Pelita dan lain-lain.
Sebagian tulisan-tulisannya, lebih dari 100 judul telah diterbitkan menjadi
buku ‘Mahbub Djunaidi Asal Usul’. Di situ dia justru menjadi besar. Sebagai
politikus, wartawan dan sastrawan, sosok pemikirannya tampil.

Sosok Mahbub Djunaidi, masih menurut Jakob, mempunyai gaya keunikan
tersendiri dalam tulisannya. Ia seakan bersaksi dalam buku “Mahbub Djunaidi,
Seniman Politik Dari Kalangan NU Modern”. Menurutnya, kalau kebanyakan
penulis adalah menganalisa suatu masalah dan baru menjelaskan ide-nya, maka
Mahbub tidaklah demikian. Baginya, suatu peristiwa, kejadian, atau sosok
orang bisa dijadikan alat untuk menjelaskan ide-idenya.

Dunia politik pun tak lepas dari hari-hari Mahbub Djunaidi. Ketika NU
berafiliasi ke PPP, Mahbub Djunaidi menduduki jabatan sebagai salah seorang
wakil ketua DPP PPP dan kemudian di Majelis Pertimbangan Partai (MPP).

*Bela Wartawan***

Tapi, sebelum itu, Mahbub juga pernah menjadi anggota DPR-GR/MPRS. Nah,
dalam posisi inilah naluri kewartawanannya muncul. Ia mengetuai pansus
penyusunan RUU tentang ketentuan pokok pers. Dalam tim pansus tersebut ia
dibantu oleh Sayuti Melik, RH Kusman, Soetanto Martoprasonto, dan Said
Budairi. Sebagai seorang politikus, ia tetap memikirkan nasib pers di
Indonesia. Hal ini diwujudkannya melalui penyusunan perundang-undangan pers
semasa almarhum menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR
GR) tahun 1965.

Sebagai jurnalis, penulis dan sastrawan, Mahbub telah meraih prestasi yang
sangat baik. Tulisanya sebagai Pemred Duta Masyarakat telah menunjukkan
benang merah dari gagasan dan pikirannya mengenai berbagai masalah yang
dihadapi bangsa kita. Perjalanan panjang dalm organisasi di lingkungan NU
dapat menjadi bukti dari pengabdiannya kepada masyarakat. Kiprahnya sebagai
Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dapat dari petunjuk dari
pengabdiannya dalam mengembangkan kehidupan pers nasional.

Tulisannya sebagai sastrawan telah menununjukkan keragaman kemampuan yang
dimilikinya dengan meraih penghargaan sastra tingkat nasional. Kolom “Asal
Usul” yang dimuat secara tetap di tiap hari minggu harian Kompas selama
jangka waktu yang cukup lama menunjukkan kemampuan Mahbub dalam menulis dan
daya pikat tulisannya terhadap masyarakat. Gaya tulisannya sekarang banyak
ditiru oleh penulis Indonesia.

Terlepas dari plus-minusnya selama berinteraksi dengan koleganya semasa
hidup, Mahbub Djunaidi adalah manusia biasa. Manusia adalah makhluk yang
punyak banyak kesalahan dan kelemahan. Kita menilai mereka tidak semata-mata
sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai manusia.

Yang pasti Mahbub Djunaidi adalah tokoh nasional yang bersahaja, seorang
jenius yang berkarakter mengamati perkembangan hidup melalui
tulisan-tulisannya, penggerak organisasi dan seniman politik yang dimiliki
oleh NU dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sementara Mahbub Djunaidi
meninggal dunia pada tahun 1995 di usia 62 tahun, usia yang masih cukup
untuk beraktivitas dan berjuang. (*mashudi umar*)

*Telah dipublikasikan di Majalah Risalah NU, No.12 / Thn II /1430 H*


“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

SBY: Gus Dur Mengabdi Tanpa Pamrih Melalui NU

SBY: Gus Dur Mengabdi Tanpa Pamrih Melalui NU

Kamis, 31 Desember 2009 14:43

Jombang, NU Online

Upacara pemakaman kenegaraan untuk KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur telah
diadakan siang ini yang dipimpin langsung oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY). Gus Dur dimakamkan di komplek pemakaman Pondok Pesantren
Tebuireng, Jombang, tepat di samping makam kakeknya KH Hasyim Asy’ari.

Dalam sambutanya SBY menyampaikan, bangsa Indonesia telah kehilangan salah
seorang putra terbaiknya. Karena itu pemerintah memberikan penghormatan
terakhir kepada Gus Dur melalui upacara kenegaraan.

”Kita semua hadir di sini untuk memberikan penghormatan terakhir melalui
upacara kenegaraaan atas jasa-jasa almarhum kepada bangsa,” kata SBY

Menurut SBY, Gus Dur sepanjang hidupnya telah mengabdikan dirinya kepada
bangsa Indonesia, terutaa melalui organisasi terbesar Nahdlatul Ulama (NU).

”Sejarah mencatat, sepanjang sejarah hidupnya, Gus Dur telah memberikan
pengabdian terbaiknya. Almarhum telah memberikan pengabdian tanpa pamrih
terutama melalui organisasi Islam terbesar Nahdlatul Ulama. Gus Dur menjabat
ketua umum PBNU selama tiga periode, sejak tahun 1984-1999,” demikian SBY.

SBY menyampaikan, sebagai tokoh beragama Islam Gus Dur telah memberikan
inspirasi bagi besar bagi bangsa Indonesia. Pemikiran Gus Dur mengenai
keadilan keadamaian dan toleransi sangat dihormati oleh bangsa Indonesia,
bahkan seluruh dunia. (nam)

EMPAT PILAR BERBANGSA, RADIKALISASI MASYARAKAT DAN AGAMA

Jurnal Toddoppuli

Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku

EMPAT PILAR BERBANGSA,

RADIKALISASI MASYARAKAT DAN AGAMA

 

Empat pilar berbangsa di negeri ini yang sudah bisa dikatakan menjadi sebuah konsesus nasional yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Agar empat pilar berbangsa ini menjadi kokoh , maka mantan wakil presiden Hamzah Haz menyarankan agar empat pilar tersebut ditambah dengan pilar kelima, yaitu pilar  moral (Harian Media Indonesia, Jakarta, 26 Mei 2011).

 

Saran ini , barangkali diketengahkan oleh Hamzah Haz setelah melihat betapa rusaknya bangsa ini dari segi moral, terutama di kalangan elit kekuasaan. Sedangkan seperti ujar pepatah ‘’ikan busuk dari kepalanya’’. ‘’Kebusukan di ’kepala ikan’’ ini akan menjadi-jadi lagi dalam masyarakat primordial atau panutan seperti halnya dengan Indoesi sekarang. Sehingga seperti sudah lama dicanangkan oleh tetua kita, bahwa apabila ‘’guru kencing berdiri’’maka ‘’murid akan kencing  berlari’’. Jadi penanggungjawab utama kerusakan dan terpuruknya bangsa ini terletak pada ‘’kepala ikan’’ alias elite masyarakat dan kekuasaan. Maju mundurnya suatu bangsa , pzran pimpinan dan elite masyarakat serta kekuasaan sangat menentukan. Berdasarkan pelajaran yang ditunjukkan oleh Tiongkok,India dan Malaysia, untuk menyebut beberapa negeri yang tidak jauh dari Indonesia, nampak bahwa untuk bisa maju, sebuah negara dan suatu bangsa memerlukan  “setidaknya tiga pilar kunci keberhasilan’’, yakni penegakan hukum yang tegas, moral yang teruji dan kepemimpinan yag kuat. Di negara manapun ketiga faktor itu sangat dominan untuk kemajuan sebuah bangsa. Negara yang tidak memiliki ketiganya, bisa dibayangkan mau sampai di mana eksistensi mereka sebagai bangsa’’, demikian tulis penulis Ruang Etalase Harian Banjarmasin Post ketika memperingati Hari Kebangkitan Nasional beberapa hari lalu(Banjarmasin Post, 29 Mei 2011). Apakah Indonesia memiliki ketiga faktor itu? Kenyataan menjawabnya secara negatif sekalipun bngsa ini memiliki empat pilar berbangsa tersebut di atas. Empat pilar itu justru tidak digubris. Tig belas tahun reformasi yang dihasilkannya menempatkan Indonesia kian tertinggal dengan negeri-negeri jiran. Penyalahgunaan kekuasaan bukan semakin berkurang tapi makin menggila. UU dibuat untuk diabaikan dan dilanggar oleh elite kekuasaan itu sendiri. Seperti dikatakan oleh Permadi, anggota DPR-RI, “setiap undang-undang yang  disahkan DPR ada tarifnya, titipan pasal ada harganya dan tidak sedikit anggota DPR yang jadi calo proyek’’ (Harian Banjarmasin Post, 29 Mei 2011). Keadaan begini bukan hanya, terjadi di Pusat tetapi juga di daerah. Empat pilar berbangsa di atas tidak dijadikan pegangan berpikir dan bertindak tapi dikesampingkan, hanya dijadikan jargon klise dalam pidato-pidato standar formal yang kering .tak berjiwa.

 

Sebagai akibat dari pengabaian empat pilar berbangsa di atas maka Wakil Ketua MPR-RI Ahmad Farhan Hamid telah menyusun sebuah Tabel Permasalahan sebagai berikut:

Tabel Permasalahan Bangsa yang bertentangan dengan Nilai Pancasila

1.Sifat gotong-royong bangsa Indonesia yang mulai hilang
2.Saling menghargai antar golongan berbeda yang cenderung mengalami penurunan.
3. Adanya sekelompok orang yang ingin membentuk negara yang berbeda dari Indonesia
4.Pengambilan keputusan cenderung mengabaikan kepentingan rakyat
5.Sistem perekonomian menuju pasar bebas mengakibatkan keadilan social tidak diakomodasi
6.Politik menjadi politik liberlisme, sehingga pemilik modal akan lebih berkuasa
7.Prinsip kebangsaan sudah jauh berkurang dan lebih berpikir etnis
8.Menguatnya prinsip etnosentris

 

Sumber: Harian Media Indonesia, Jakarta, 26  Mei 2011).

 

Delapan akibat pengabaian Pancasila oleh elite kekuasaan dan masyarakat juga terdapat dan bisa dilihat secara nyata di Kalimantan Tengah. Gotong-royong, toleransi diganti dengan budaya ghetto. Hal ini sangat mencuat ke permukaan, pada saat-saat menjelang dan selama pilkada. Kalau sekarang ia kurang memperlihatkan tampang telanjangnya, tetapi ia tetap ada seperti bara dalam sekam, mencari waktu tepat untuk mencuat. Dari 2,6 juta penduduk Kalteng tidak semua merasakan diri sebagai Uluh Kalteng dan Kalteng adalah kampung-halaman mereka. Kalteng dikatakan oleh tindakan mereka, tidak lain dari daerah usaha yang harus direbut, dicaplok, dan dikuras bukan daerah yang niscaya dibangun. Secara tertulis hal begini diperlihatkan juga antara lain oleh antologi puisi ‘’Rambang. Dua Sosok Empat Lukisan”, yang diterbitkan oleh Penerbit Kalakai dan Komunitas Terapung, Palangka Raya  (lihat: Kusni Sulang, ‘’Kita Perlu Lebih Lagi Berbaur’’, in: Ruangan Budaya, Harian Palangka Post , 28 Mei 2011).

 

Kutub lain dari ghettoisme adalah kutub republikan dan berkeindonesiaan melalui upaya secara tegar dan sadar membangun Budaya Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng menggunakan pendekatan wacana Budaya Kampung Halaman. Di bidang politik menerapkan pendekatan kewarganegaraan. Bukan keagamaan, yang sejatinya jika menurut Adat Dayak, adalah urusan masing-masing dengan kekuasaan yang di sana. Pembauran sadar dengan berpegang teguh pada Pancasila, akan mempermudah lahirnya Kalteng Betang Bersama di atas dasar Budaya Beridentitas Kalteng. Adanya migran,, pendatang  yang sekalipun sudah 40 tahun di Kalteng tapi belum juga mampu berkomunikasi dengan bahasa lokal menunjukkan pembauran sadar ini hanya jargon pelamis bibir belaka. Pembauran melahirkan saling harga-menghargai, ajang saling belajar,memberi syarat lahirnya budaya hibrida bernama Budaya Kalteng Beridentitas Kalteng seperti ditunjukkan oleh komunitas Bali di Bahaur, Kabupaten Kapuas (Percakapan dengan Yusran Pare, Pemred Banjarmasin Post, 5 Mei 2011) atau yang diperlihatkan oleh Sanggar Balanga Tingang., Palangka Raya. Pemburan inipun juga merupakan keniscayaan bagi Uluh Itah. Melalui pembauran sadar dan intens, masing-masing memungut keuntungan dalam banyak bidang. Pandangan ‘’salah sendiri’’ dilihat dari nilai Pancasila (sekalipun perumusan Pancasila yang sekarang mengandung kelemahan), dan rangkaian nilai republikan serta berkeindonesiaan, adalah pandangan tidak kompatibel, tidak rasuk. Menggunakan dasar lain dari Pancasila, dalam hal ini, orang tersebut seperti bermain api dekat gudang bensin atau di kawasan SBPU. Bermain api dekat gudang bensin atau di kawasan SBPU ini ada masih di Kalteng. Berkembangnya etnisitas yang menjurus ke etnosentrisme seperti dicanangkan oleh Ahmad Fahran Hamid hanyalah reaksi terhadap suatu aksi dari hukum sebab-akibat yang dialektis. Dalam istilah tetua kita, ‘’tidak ada asap jika tidak ada api’’. Pada saat negara tidak hadir di tengah warganegara yang terdiri dari berbagai etnik, mereka mencari perindungan, bertahan dan menjaga eksisensi mereka pada kesatuan etnik mereka atau menggunakan agama sebagai ide pemersatu. Bentuk tertinggi menampakkan diri pada ide pemisahan diri dari NKRI. Sebab NKRI dirasakan bukan daerah aman lagi bagi eksistensi mereka. Etnisitas dan etnosentrisme pada masa pemerintahan Soekarno jauh lebih rendah tingkatnya daripada sekarang, ketika pemerintah melaksanakan pembangunan dan politik ekonomi kerakyatan tapi yang diterapkan tidak lain dari neo-liberalisme yang membuat NKRI, bertentangan dengan wacan empat pilar berbangsa di atas. Meneruskan pengingkaran terhadap empat pilar, sama dengan melanjutkan perobekan dan penghancuran hingga kepelikwidasian NKRI. Pengingkara empat pilar berbngsa ini menyebabkan Masyarakat Adat dikriminalisasi, seperti yang terjadi juga di Kalteng. Elite kekuasaan dan masyarakat yang menjadi penanggungjawab keadaan begini , bukan rakyat. Sumbernya berada di kepentingan-kepentingan  pada elite kekuasaan Jakarta dan daerah-daerah. Bisa munculnya NII dan terorisme juga berkaitan dengan ulah dan sikap politik para elite kekuasaan dan masyarakat.

 

Demi kepentingan-kepentingan politik-ekonominya, para elite kekuasaan dan  elite masyarakat yang terkontaminasi,  sengaja memperlemahkan organisasi masyarakat. Karena itu masyarakat harus melawan pelemahan sistematik ini. Sehingga daya tawar mereka seimbang dalam perundingan, kata-kata-mereka mempunyai daya paksa. Cara ini pulalah yang niscaya dilakukan untuk membela empat pilar berbangsa ketika pemerintah selaku penyelenggara tidak melakukan fungsi semestinya, malah menjadi penindas. Ini sudah tajoro-joro ji, sudah kelewat batas. Palalau, orang Dayak bilang.Pengelola kekuasaan negaralah yang menjadi sumber utama radikalisasi dalam masyrakat ini, termasuk radikalisasi etnisitas.

 

Menjadi Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng pada hakekatnya tidak lain dari melaksanakan empat pilar berbangsa sesuai dengan kondisi budaya lokal. Bukan wacana etnosentrisme. Menjadi Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng tidak bertentangan dengan menjadi Indonesia dan anak manusia. Uluh Kalteng dengan identitas demikian akan berdiri di kampung halaman memandang tanahair merangkul bumi. Uluh Kalteng beginilah yang sanggup mencegah elit kekuasaan dan elit masyarakat untuk mencampakkan panji-panji empat pilar berbangsa. Maka membangkitkan kampung-kampung mengibarkan catur panji ini akan memberi harapan baru. Tak perlu menunggu Jakarta, Palangka Raya, dan ibukota-ibukota kabupaten untuk membangun kampung-halaman. Uluh Kalteng, lebih-lebih Uluh Itah perlu menjadi kapten nasib dan jiwanya sendiri. Menunggu tidak membawa mujur tapi sebaliknya menjadi kujur (Bhs.Jawa:celaka). Tindakan ‘’tolo-tolo’’,ujar orang Bugis. Kata-kata akan hilang begitu saja diserap udara, tanpa mempunyai daya, sebelum sampai ke menara gading di mana ‘’para raja’’ dan ‘’pangeran’’ bermukim..***

 

KUSNI SULANG, Anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah Palangka Raya.

DEWAN ADAT DAYAK DAN MASYARAKAT ADAT DAYAK

Jurnal Toddoppuli

Cerita Buat Andriani S. Kusni dan Anak-Anakku

 

DEWAN ADAT DAYAK DAN MASYARAKAT ADAT DAYAK

 

Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) telah berlangsung dari tanggal 25 sd 26 Mei 2011 lalu. Setelah melalui proses diskusi yang cukup sengit, terutama dalam hal menerapkan demokrasi sebagai metode diskusi, Rapimnas menghasilkan tujuh rekomendasi, yaitu: (1). Hubungan kerja MADN dengan pemerintah. Dalam hal ini, Rapimnas meminta MADN melakukan audiensi denga Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono guna menyampaikan berbagai kebijakan, program kerja dan rekomendasi. (2). Membentuk Tim Cendekiawan Masyarakat Dayak yang difasilitasi oleh MADN untuk merumuskan dan menyepakati pengelolaan Sumber Dayak Alam yang berpihak kepada Masyarakat Dayak. (3).MADN dan Dewan Adat Dayak (DAD) bekerjasama dengan lembaga-lembaga adat Dayak mengawal dan mengkritisi pelaksanaan peraturan perundang-undangan bidang kehutanan, perkebunan, pertambangan, penempatan transmigran,dan memperhatikan kesejahteraan masyarakat Dayak di kawasan perbatsan antar negara.Termasuk perdagangan karbon, pengurangan emisi karbon akibat deforestasi dan degradasi hutan dan lahan gambut serta mengawal pelaksanaan Inpres No.10 Tahun 2011 tentang Moratorium Konversi Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. (4). Mengenai bidang tata ruang merumuskan tiga hal: Mendorong pemetaan hingga memperoleh pengakuan terhadap hak adat atas tanah asyarakat Adat (MA) Dayak. MADN dan DAD bekerjasama dengan pemerintah daerah menginventarisasi batas wilayah provinsi/kabupaten/ kota yang bermasalah dan berdmpak langsung terhadap MA Dayak, serta bekerjasama dengan pemerintah  daerah menginventarisasi dan mengidentifikasi tanah hak adat yang dikuasai oleh berbgai pihak tnp prosedur (kehutanan, pertambangan, perkebunan). (5). Tentang kearifan lokal direkomendasikan agar MADN dan DAD menginventarisasi dan membuat konsep materi (bahasa daerah, budaya adat-istiadat , hukum adat, tekhnologi, lingkungn hidup serta olahraga dan seni) sebagai materi muatan lokal (mulok) di sekolah mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. (6). Melestarikan dan memberdayakan materi-materi kearifan lokal dalam sendi-sendi kehidupan MA Dayak sebagai dasar/acuan dalam penetapan kebijakan pemerintah daerah. (7).Tentang pembentukan badan usaha, direkomendasikan agar membentuk Tim guna melakukan kajian dan persiapan pembentukan badan usaha (Harian Tabengan, Palangka Raya, 30 Mei 2011).

 

Setelah Tujuh Rekomendasi ini disepakati, Presiden MADN Agustin Teras Narang yang juga Gubernur Kalimantan Tengah meminta agar rekomendasi ini segera diwujudkan ke dalam program rinci serta diterjemahkan ke dalam kenyataan oleh DAD. Permintaan demikian tentu bukan kebetulan karena tidak sedikit resolusi,rekomendasi dan program MADN yang dalam kenyataannya terhenti di kertas-kertas resolusi, program dan rekomendasi tanpa nampak terjemahannya di dalam kenyataan. Sehingga seperti dikatakan oleh Yansen Binti dari Gerakan Pemuda Dayak Indonesia (GPDI),MA Dayak merasakan hak-hak mereka belum terlindungi hukum nasional’’ (Harian Tabengan, Palangka Raya, 30 Mei 2011). Akibatnya MA Dayak,seperti di Kalteng, misalnya, bukan menguat tapi tetap terpuruk, apalagi ketika Damang Kepala Adat memperoleh setara tunjangan jabatan Eselon III b, Sekretaris Damang Kepala Adat memperoleh setara tunjangan jabatan Eselon IV a,Mantir Adat Kecamatan memperoleh setara tunjangan jabatan IV b dan Mantir Adat Desa/Kelurahan memperoleh setara tunjangan keuangan jabatan Eselon V a (Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 16 Tahun 2008 Tentang Kelembagaan Adat Dayak Di Kalimatan Tengah, Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, Tahun 2009, hlm. 29).

 

Dengan Peraturan Daerah (Perda) ini, posisi-posisi tersebut diincar sebagaimana halnya posisi Pegawai Negeri Sipil (PNS) diburu. Sehingga dalam pemilihan damang terjadi pembentukan sistem mayoritas. Akibatnya di sebuah desa Barito Selatan, terpilih seorang damang yang tidak tahu dan tidak paham tentang adat dan hukum adat. Demikian juga halnya yag terjadi di sebuah kecamatan kabupaten Seruyan. Lembaga-lembaga adat Dayak ini turut diperlemah oleh kontaminasi virus suap dan kolusi dengan Perusahaan Besar Swasta (PBS) yang lapar lahan.

 

Melemahnya lembaga-lembaga adat ini membuat MA gampang dikriminalisasikan,, dan dikalahkan dalam konflik lahan dengan PBS seperti yang diperlihatkan oleh kenyataan pengadilan di berbagai daerah di Kalteng dan provinsi-provinsi Kalimantan Indonesia lainnya seperti di Ketapang, Kalimantan Barat , 28 Februari 2011 lalu (jurnaltoddoppuli.wordpress.com).

 

Niscayanya, MADN dan DAD turun tangan dan bereaksi terhadap kriminalisasi MA, segera menangani pengaduan-pengaduan anggota MA terhadap masalah-masalah konflik lahan yang masuk ke MADN. MADN dan DAD serta lembaga-lembaganya sesungguhnya dipaksa oleh keadaan menjadi lembaga-lembaga panarung. Bukan lembaga birokrat melempem. Dengan demikian, warga MA merasa bahwa mereka tidak ditinggal, tidak dibiarkan sendiri dalam menghadapi konflik-konflik antar kekuatan tidak seimbang yang berlangsung. Dengan cara begini DAD akan mempunyai wibawa, pengaruh dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Wibawa, pengaruh dan diperhitungkan, tidak akan diperoleh dengan ketidak hadiran DAD, dari warga MA. Barangkali masalah mendesak yang patut dijawab oleh DAD yaitu bagaimana mereka dirasakan nyata hadir di tengah MA dan benar-benar menjadi sahabat dan pelindung warga MA yang terpojok.Tanpa melakukan hal ini,DAD akan tinggal nama dan lambat-laun akan tidak diindahkan oleh warga MA, kemudian tenggelam ditelan waktu. Perumusan-perumusan solusi tanpa riset dengan metode turun kebawah menggunakan cara empat sama (sama kerja, sama makan, tidur dan diskusi, bukan dengan metode menunggang kuda melihat bunga) tidak lebih dari  masturbasi intelektual atas nama model kerja akademisi, tapi sesungguhnya hanyalah cara halus  dan gampang untuk memperoleh dana atas nama MA. Riset sangat terabaikan oleh DAD dan MADN. Padahal untuk menetapkan kebijakan, program, resolusi dan rekomendasi tanggap aspirasi serta mempunyai peta keadaan yang persis, kuncinya terletak pada riset. Kalau tidak akn menjadi sangat subyektif. Menjadikan kemauan subyektif sebagai keadaan obyektif.

 

Adalah sangat tepat pembentukan usaha-usaha produktif di kalangan MA. Tapi jika hanya dibatasi pada usaha kredit simpan-pinjam yang gampang merosot menjadi rentenir, tukang riba, usaha ini pasti akan gagal. Hanya mengangkat kesejahteraan kalangan rentenir belaka. Usaha produktif yang mau berhasil patut ditunggui, didampingi, dikelola dengan tekun. Berada bersama mereka. Untuk ini perlu kader-kader dengan komitmen tinggi yang bisa membangkitkan warga MA menjadi aktor pemberdayaan diri mereka sendiri, sebagai pelaku dan tujuan pemberdayaan. Kader bukanlah diukur dengan tingkat pendidikan. Tapi orang yang mempunyai wacana, komitmen manusiawi, gaya dan langgam kerja merakyat, mempunyai kemampuan mengorganisasi dan memobilisasi, teruji dalam badai topan perjuangan bersama warga MA. Orang bersekolah Orang-orang sekolahan dari segi-segi ini, diperlihatkan oleh sejarah berbagai negeri, sering sangat goyah sebelum mereka tertempa. Apalagi dari segi pendirian dan pandangan.Yang patut jadi sandaran dan dikaderkan adalah masyarakat lapisan bawah. Orang-orang bersekolah yang takut tinggal di bawah, tidak bisa jadi hitungan gerakan. Lihat saja peserta Sarjana Mamangun Mahaga Lewu, berapa yang ajeg di tempat? Apalagi yang bermentalitas ABS dan penjilat. Orang-orang jenis ini tidak mempunyai kebebasan dan keberanian berpikir, hanya menjadi ‘’his master’s voice’’, tanpa prakarsa kecuali bagaimana menyelamatkan posisi dan meraup dana, bergaya dan berlanggam kerja pegawai kekaisaran, bukan seorang pelaga merakyat yang diperlukan oleh DAD dan MA.

 

Untuk keluar dari keterpurukan sekarang, DAD dengan lembaga-lembaga adatnya memainkan peranan penting dan menentukan jika ia hadir di kalangan warga MA. Untuk bisa hadir, DAD patut memperkuat organisasinya, membangun barisan kader yang tangguh. Sekarang adalah saat-saat menentukan bagi kehidupan MA dan Uluh Itah serta Kalteng. Jika terlambat, MA, Uluh Itah dan Kalteng sebagai wacana semula  akan binasa, tinggal legenda masa silam. Saya kira, keadaan dan syarat-syarat demikianlah yang melatarbelakangi permintaan Presiden MADN A.Teras Narang: ‘’DAD diminta untuk mengimplementasikan rekomendasi dan diterapkan di tingkat provinsi, kabupaten,/kota, kecamatan, hingga desa/kelurahan’’ (Harian Tabengan, Palangka Raya, 30 Mei 2011). Persoalan yang dihadapi oleh MA hari ini adalah ‘’to be or not to be’’(ada atau binasa), jika meminjam rumusan masalah dari dramartug Inggris, William Shakespeare.***

 

KUSNI SULANG,Anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah Palagka Raya.

Mantan Agen CIA Klaim Amerika Tidak Bunuh Bin Laden

Mantan Agen CIA Klaim Amerika Tidak Bunuh Bin Laden
http://english.pravda.ru/news/world/19-05-2011/117950-binladen-0/

Klaim Mantan Agen CIA Amerika Tidak Bunuh Bin Laden
2011/05/19 | Source: Pravda.Ru

Osama bin Laden meninggal secara wajar hampir 5 tahun sebelum diumumkan bahwa ia dieliminasi oleh pasukan Amerika. Pernyataan sensasional dibuat oleh seorang politikus Turki, dan mantan agen intelijen AS. Dalam sebuah wawancara dengan Channel One Rusia, ia mengatakan bahwa Amerika hanya menemukan dan membuka makam pemimpin al-Qaeda tersebut.

Para wartawan dari Channel One pertama kali bertemu orang ini pada tahun 2008. Pada waktu itu ia adalah fitur dalam film dokumenter “Rencana Kaukasus,” berbicara tentang upaya dari badan intelijen Barat di awal 1990-an untuk memisahkan Kaukasus Utara dan, khususnya, Chechnya dari Rusia. Menjadi Chechnya karena kebangsaan, Berkan Yashar sekarang menjadi politikus Turki, tetapi dalam tahun-tahun ia adalah salah satu ideolog Johar Dudayev. Dia meminta pertemuan, menjanjikan untuk memberitahu kebenaran tentang kematian Osama bin Laden yang dijumpainya di awal 90-ies di Chechnya.

“Pada bulan September 1992 saya di Chechnya, saat itulah aku pertama kali bertemu orang yang bernama Bin Laden Pertemuan ini terjadi di sebuah rumah dua lantai di kota Grozny;. Di lantai atas adalah keluarga Gamsakhurdia, yang Presiden Georgia, yang kemudian ditendang keluar dari negaranya. Kami bertemu di lantai bawah;. Osama tinggal di gedung yang sama, “kata Berkan Yashar. Berkan mengatakan ia tidak tahu mengapa bin Laden dikunjungi sewaktu di Grozny, dan mengatakan hanya satu hal tentang pertemuannya: “. Hanya ingin bicara”

Namun, menurut Channel One, dalam tahun-tahun mantan karyawan Radio Liberty Berkan Yashar telah memiliki nama operasional Abubakar, yang diberikan kepadanya oleh CIA. Menurut Berkan, setelah perjalanan tersebut, warga Chechnya tersebut bisa muncul dalam lingkaran Osama bin Laden. Berkan Yashar menekankan bahwa mereka tidak berpartisipasi “langsung dalam pemboman teror.” “Mereka dilindungi bin Laden, itu adalah pilihan karena ia percaya mereka sepenuhnya, dan tahu bahwa mereka tidak akan mengkhianati,” kata Yashar. Menurut Yashar ia bukan satu-satunya yang tahu tentang itu, tapi layanan keamanan Rusia dan CIA sadar akan hal ini juga.

Menjawab pertanyaan apakah ia percaya bahwa Amerika membunuh Osama bin Laden di Pakistan, Berkan Yashar menjawab: “Bahkan jika seluruh dunia yakin saya tidak mungkin percaya.” . “Saya pribadi tahu Chechen yang melindungi dia, mereka adalah Sami, Mahmood, dan Ayub, dan mereka dengan dia sampai akhir hayatnya. Aku ingat kejadian hari itu dengan sangat baik, ada tiga angka enam di dalamnya:. 26 Juni 2006.

Orang-orang ini, serta dua lainnya dari London dan dua orang Amerika, semua tujuh dari mereka, melihat dia wafat. Dia sangat sakit, hanya tinggal kulit dan tulang, sangat tipis, dan mereka memandikan dia dan menguburkan dia, “kata Berkan Yashar.

Yashar menekankan bahwa meskipun dua Muslim Amerika dan dua Muslim Inggris penjaga bin Laden dan melihat dia wafat, mereka tidak berpartisipasi dalam pemakaman. “Hanya tiga Chechen menguburkan dia, menurut kehendak-Nya,” kata Yashar.

Bin Laden telah dikuburkan, menurut Yashar, di pegunungan di perbatasan Pakistan-Afghanistan.  ” Tidak ada serangan,” kata Yashar. “Saya tahu operasi Amerika dari dalam: mereka menemukan kuburan, menggali makam bin Laden dan memberitahu semua orang tentang hal ini.  Mereka perlu untuk menunjukkan bagaimana teknologi layanan keamanan bekerja, bagaimana setiap langkah dikontrol, dan kemudian hadir sebagai kemenangan besar. untuk menunjukkan kepada pembayar pajak bahwa mereka tidak membayar pajak untuk apa-apa. ”

Berkan sekarang menyalahkan diri sendiri karena fakta bahwa orang Chechen dari perlindungan bin Laden, “teroris nomor satu” tidak lagi hidup setelah badan intelijen AS mulai menyadap percakapan telepon Berkan’s. Dia bilang dia adalah orang pertama yang mengumumkan tanggal kematian bin Laden. “Aku adalah orang pertama yang mengumumkan tanggal kematiannya pada bulan November tahun 2008 di sebuah konferensi di Washington, tidak menyebut nama apapun, dan tampaknya seperti itu ketika Amerika mulai melacak kontak saya,” katanya.

Keamanan terakhir penjaga Berkan melihat Sami, yang, menurut dia, beberapa hari sebelum bin Laden telah dinyatakan tewas, diculik oleh badan-badan intelijen AS. Menurut Berkan, kemungkinan besar, itu dia yang diungkapkan kepada mereka tempat yang tepat penguburan di pegunungan di perbatasan Pakistan-Afghanistan.

Dalam hal apapun, panggilan terakhir dari Sami adalah dari Pakistan. Berkan menjelaskan mengapa ia memberitahu wartawan Channel One: dia takut untuk hidup. Menurut dia, hanya publisitas luas di seluruh dunia bisa melindungi dia dari CIA. Namun, hanya dalam kasus, dinas rahasia Turki, menurut dia, memberikan pengawalan dengan penjaga dan senjata.

Former CIA Agent Claims Americans

Did Not Kill bin Laden

19.05.2011 | Source:

Pravda.Ru

Former CIA Agent Claims Americans Did Not Kill bin Laden. 44382.jpeg

Osama bin Laden died a natural death nearly 5 years before it was announced that he was eliminated by the American commandos. This sensational statement was made by a Turkish politician, and a former U.S. intelligence agent. In an interview with Russia’s Channel One, he said that the Americans simply found and opened the tomb of the leader of al-Qaeda.

The journalists of Channel One first met this man in 2008. At the time he was featured in the documentary “Plan Caucasus,” talking about the attempts of the western intelligence services in the early 1990’s to separate the Northern Caucasus and, in particular, Chechnya from Russia. Chechen by nationality, Berkan Yashar is now a Turkish politician, but in those years he was one of the ideologists of Johar Dudayev. He asked for a meeting, promising to tell the truth about the death of Osama bin Laden whom he met in the early 90-ies in Chechnya.

“In September of 1992 I was in Chechnya, that’s when I first met the man whose name was Bin Laden. This meeting took place in a two-story house in the city of Grozny; on the top floor was a family of Gamsakhurdia, the Georgian president, who then was kicked out of his country. We met on the bottom floor; Osama lived in the same building, “said Berkan Yashar. Berkan said he did not know why bin Laden visited while in Grozny, and said only one thing about his meetings: “Just wanted to talk.”

However, according to Channel One, in those years the former employee of Radio Liberty Berkan Yashar already had an operational name Abubakar, given to him by the CIA. According to Berkan, after that trip Chechen nationals appeared in Osama bin Laden’s circle. Berkan Yashar emphasized that they did not participate “directly in the terror bombings.” “They protected bin Laden, it was his choice because he trusted them entirely, and knew that they would never betray,” said Yashar. According to Yashar he was not the only one who knew about it, but the Russian security services and the CIA were aware of this as well.

Answering the question whether he believed that the Americans killed Osama bin Laden in Pakistan, Berkan Yashar answered: “Even if the entire world believed I could not possibly believe it.” “I personally know the Chechens who protected him, they are Sami, Mahmood, and Ayub, and they were with him until the very end. I remember that day very well, there were three sixes in it: 26 June 2006. These people, as well as two others from London and two Americans, all seven of them, saw him dead. He was very ill, he was skin and bones, very thin, and they washed him and buried him,” said Berkan Yashar.

Yashar stressed that although the two American Muslims and two British Muslims the guards of bin Laden and saw him dead, they did not participate in the funerals. “Only three Chechens buried him, according to his will,” said Yashar. Bin Laden was buried, according to Yashar, in the mountains on the Pakistan-Afghan border. “There was no assault,” said Yashar. “I know the American operations from the inside: they find the grave, dig out bin Laden and tell everyone about this. They need to show how technologically the security services worked, how each step was controlled, and then present it as a great victory to show that taxpayers are not paying taxes for nothing. ”

Berkan now blames himself for the fact that the Chechens from the protection of bin Laden, “the terrorist number one” are no longer alive after the U.S. intelligence services began to tap Berkan’s telephone conversations. He said he was the first one who announced the date of death of bin Laden. “I was the first one who announced the date of his death in November of 2008 at a conference in Washington, not naming any names, and it looks like it was when the Americans began to track my contacts,” he said.

The last security guard Berkan saw Sami, who, according to him, a few days before bin Laden was declared killed, was kidnapped by the U.S. intelligence agencies. According to Berkan, most likely, it was him who disclosed to them the exact place of burial in the mountains on the Pakistan-Afghan border.
In any case, the last call from Sami was from Pakistan. Berkan explained why he informed the journalists of Channel One: he feared for his life. According to him, only wide publicity around the world can protect him from the CIA. However, just in case, the Turkish secret services, according to him, provided him with guards and weapons.