Archive for August, 2009|Monthly archive page

SEBAIKNYA CERMAT SEDIKIT (Bag. 5-Tamat)

Jurnal Toddoppuli

(Cerita Untuk Anak-Anak Kami)

Judul Novel: “Terjebak Dunia Gaib Rimba Kalimantan”

(Serial Lima Sahabat)

Penulis: Ghaizah Fasya

Editor: Asep Sambodja

Penerbit:  PT.Cita Putra Bangsa

Cetakan Pertama: Juli 2006

Tebal: 124 halaman

5. Pengetahuan Antropologis & Sikap Terhadap Budaya Lain

Yang kami maksudkan dengan pengetahuan antropologis adalah pengetahuan tentang adat-istiadat, kepercayaan dan filosofi, wacana, pola pikir dan mentalitas manusia Dayak  atau tentang kebudayaan – cq kebudayaan Dayak. Ketika datang berkunjung ke Tanah Dayak,  «lima sahabat muslim»-nya  Ghaizah bukan mencoba memahami kebudayaan Dayak tapi mencercanya. Bukan menggunakan pendekatan «involvement culture» atau minimal mentrapkan metode partisipatif serta menghormati orang lokal tapi_ justru memandangnya sebagai «setan dan jin » yang « menggoda dan menyesatkan dengan berbagai cara» (hlm. 118).  Pak Dayau  dalam novel ini tampil sebagai tokoh Dayak yang kepala suku dan adat yang jahat. «Dan kuharap kalian juga tidak menganggap semua suku Dayak seperti ini. Masih banyak suku Dayak yang baik. Suku pamanku terlalu kaku menjunjung adat yang sebenarnya tiap suku berbeda dalam adat-istiadatnya» jelas Usay yang tampak sedih melihat kondisiku.» (hlm. 66_67). Tulis Ghaizah yang masih saja belum puas dengan hujatan-hujatannya pada suku Dayak. Ditambahkan oleh Ghaizah bahwa suku Dayak itu tergolong komunitas masyarakat yang tidak tahu balas budi. Tulisnya :  “Dan, yang lebih kusesalkan adalah Abi Arman sudah banyak membantu warga sini. Hanya karena masalah adat mereka melupakan semuanya”, lanjut Usay geram” (hlm. 67).

Ghaizah melihat dan menakar kebudayaan Dayak dari dan dengan kacamata seorang Muslim yang rajin shalat, di tengah rimba belantara sekali pun. Usay yang mau membantu “lima sahabat muslim”, terutama Sarah yang dikatakan kena aji-aji hitam Pak Dayau dengan cara Dayak, dihentak oleh Zaid sambil berkata:

“Tidak” seru Zaid, sambil meraih ranting tersebut dari tangan Usay.

“Ustighfar! Apa yang kalu lakukan?” Tanya Zaid memegang bahu Usay.

“Biarkan aku membantu kalian dengan ini , aku juga meminta kepada roh nenek moyangku agar membebaskan kalian dari pengaruh ilmu” seru Usay penuh dengan kemarahan.

“Dengar! Jangan  sampai kamu menjadi ingkar kepada Allah, hanya karena masalah ini. Kita pasrahkan dan kembalikan semuanya kepada Allah, bukankah kamu telah meyakini itu?”  ujar Zaid mengingatkan.

“Astagfirulalah!” seru Usay sambil  terduduk lemas. Lalu perlahan Zaid mendekati Usay dan membacakan sebuah surat a-Israa ayat 85 yang berbunyi: “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, ruh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan seiki-“, jelas Zaid.

“Jadi, jangan takut, tidakakan ada roh-roh nenek moyangmu yang akan menganiaya kita. Semua telah diatur oleh Allah. Dan semua ini adalah perbuatan jin-jin yang membantu pamanmu.» (hlm-hlm.79-81).

Ghaizah melihat dan mengukur kebudayaan Dayak dari segi pandangan Islamnya dan tidak dari segi pandangan kebudayaan Dayak. Bagi Ghaizah hanya ada satu ukuran benar dan salah yaitu agamanya. Ghaizah sama sekali tidak memberi tempat bahkan tidak menghormati pandangan dan kepercayaan orang lain yang berbeda. Mengapa Ghaizah tidak membiarkan diri dan orang lain hidup damai dan rukun dalam perbedaan seperti yang terjadi dalam masyarakat Dayak sampai sekarang? Silahkan Ghaizah menganut keyakinan dan agamanya, tapi mengapa tidak bisa mempersilahkan orang lain menganut keyakinan dan agamanya sendiri? Di mana Ghaizah menaruh rangkaian nilai republikan dan berkeindonesiaan? Di mana Ghaizah menaruh prinsip bhinneka tunggal ika yang merupakan motto bersama bangsa ini? Pikiran tunggal (la pensée unique) model Ghaizah bisa dipastikan akan menghancurkan toleransi dan akan berujung dengan kekerasan sambil menyebut nama Allah. Inilah kebenaran Ghaizah sampai « ..melirik melihat hidangan yang tertata, melihatnya aku benar-benar hampir tidak dapat menahan diri untuk muntah ».(hlm. 52). «Untuk memakan daging rusa pun rasanya aku tidak mampu, karena kami lihat sendiri cara memasaknya yang tercampur dengan alat-alt- yang kami tidak yakin dengan kehalalan tempat masaknya. Lagi pula jika kami memakannya, sama juga dengan kami  mengikuti upacara ini» (hlm. 52).

Ketika kembali berada di rumah Paman Arman, di Sampit, Ghaizah berkata lega: « baru ini kami menemukan makanan » (hlm.119). Artinya apa yang dimakan orang Dayak bukan makanan. Begitu terbelakang (hlm. 59) dan hinanya manusia Dayak di mata Ghaizah yang dieditori oleh Asep Sambodja dan informasi yang disebarluaskan oleh PT Cita Putra Bangsa.

Pak Dayau berkali-kali mengajak «lima sahabat muslim» Ghaizah untuk makan bersama, tapi ditolak. Mereka hanya mengambil pisang yang terletak agak jauh dari makanan-makanan lainnya «karena buah itu tidak termasuk dalam doa-doa yang diucapkan Pak Dayau» (hlm. 54).

Dan benar, Sarah akhirnya muntah di tengah anggota-anggota komunitas Dayak yang sedang berpesta dan mengadakan upacara adat. Pak Dayau dan komunitas Dayaknya memandang hal ini sebagai pelecehan terhadap upacara mereka dan menjatuhkan hukuman sesuai adat. Adat dan hukum adat yang mengatur kehidupan komunitas Dayak jauh sebelum Islam masuk dan Republik Indonesia berdiri, dipandang oleh Ghaizah sebagai «terlalu kaku menjunjung adat» tidak toleran pada adat suku lain yang berbeda (hlm .67). Amboi, amboi Ghaizah, apa tidak terbalik. Apa bukan Anda yang terlalu kaku dan tidak toleran?

Dengan gaya seorang arif-bijaksana, Ghaizah kemudian menulis: “… kita tidak juga bisa menyalahkan orang-orang suku Dayak itu. Tingkat pendidikan mereka bisa dikatakan tidak ada. Apalagi suku-suku mereka mempunyai bahasa yang sangat beragam dan kebanyakan juga suka berpindah-pindah tempat. Sehingga pemerintah sendiri terkadang mengalami kesulitan untuk memberikan pembangunan yang baik untuk mereka », jelas Bibi Ana yang kutahu juga mengajar ngaji untuk para mualaf dari suku-suku Dayak yang memeluk agama Ilam » (hlm. 118).

Apakah sikap Ghaizah yang tidak toleran dan fanatik, menggunakan kacamata kuda dalam melihat kehidupan, merupakan sikap orang berpendidikan dan berpendidikan tinggi ?

Mengenai pendidikan di kalangan masyarakat Dayak, apakah Ghaizah tahu benar perkembangannya sehingga berani berkata «Tingkat pendidikan mereka bisa dikatakan tidak ada». Untuk ini,  kami sarankan Ghaizah meluangkan waktu melihat-lihat misalnya buku «Katingan Dalam Angka 2007» yang diterbitkan dengan «Kerjsama Badan Pusat Statistik Kabupaten Katingan Dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Katingan», lihat juga buku serupa yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur. Lihat juga statistik-statistik terkait yang dikeluarkan oleh Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah, Harian Dayak Pos, Palangka Raya, 14 Agustus 2009, «Wawancara Dengan Bupati Katingan, Drs. Duwel Rawing». Perlu kami tambahkan bahwa 30 Agustus 2009 lalu, Universitas Palangka Raya telah meluluskan seribuan sarjana bertingkat S1. Mereka ini berasal dari berbagai sub-etnik Dayak yang disebut oleh Ghaizah «sangat terbelakang» itu. Di Sampit sendiri sudah lama terdapat sebuah universitas.

Bahasa suku-suku Dayak di Kalimantan Tengah memang bermacam-ragam, tapi di Kalimantan Tengah terdapat sebuah lingua franca, bahasa yang umum digunakan sebagai bahasa komunikasi sesama mereka yaitu Bahasa Dayak Ngaju. Pada suatu saat komunitas Dayak di Kalimantan dan Borneo menggunakan bahasa Dohoi sebagai bahasa komunikasi antar mereka. Apakah Ghaizah mengerti akan keadaan ini sampai berani menulis bahwa bahasa merupakan suatu kendala bagi komunitas Dayak berkomunikasi satu dengan yang lain dan upaya pembangunan ?

Suku Dayak berpindah-pindah? Coba berikan kami buktinya Ghaizah. Apa Anda tidak rancu dengan sistem ladang berpindah?

Pengetahuan Ghaizah tentang kebudayaan masyarakat Dayak pun nampak ketika ia mengatakan bahwa Pak Dayau mempunyai dua istri (hlm. 38). Setahu kami, dalam  masyarakat Dayak yang menganut kepercayaan Kaharingan, tidak dikenal kebiasaan poligami. Bisa dipastikan bahwa Pak Dayau yang disepelekan oleh Ghaizah, adalah seorang yang berkebudayaan Kaharingan. Sangat menyenangkan jika Ghaizah bisa memberitahukan darimana ia mendapatkan informasi tentang kebiasaan poligami di kalangan masyarakat Dayak dan hukum adatnya.

Ketidaktahuan Ghaizah akan kebudayaan Dayak, termasuk upacara-upacara adat serta hewan persembahan nampak dari tuturan berikut :

Baru saja kami beberapa langkah melihat-lihat sekitar permukiman suku Usay, ternyata ada pemandangan yang cukup membuat kami sedikit kaget. Ada beberapa ekor babi dan rusa yang terikat di bawah pohon yang cukup besar. Dan juga beberapa orang laki-laki. Ada yang hanya mengenakan semacam kulit pohon yang menutupi auratnya saja»

«Jangan-jangan, semua hewan ini untuk acara besok ya, Sar?», tanya Fatima.

«Aku pikir juga begitu,» jawabku pelan»  (hlm.42).

Benar babi termasuk hewan persembahan penting dalam upacara-upacara penting Kaharingan. Tapi babi tidak diikat di pohon atau sapundu. Babi biasanya diikat keempat kakinya dan diletakkan di tempat khusus. Sedangkan rusa sama sekali tidak pernah dijadikan hewan persembahan, apalagi diikat di pohon besar atau sapundu. Sapundu memang terbuat dari batang kayu yang ditancapkan di tanah. Karena Ghaizah tidak mengetahui nama tiang pengorbanan ini maka barangkali untuk mudahnya ia menyebut sapundu sebagai pohon besar. Yang biasa diikat di sapundu adalah kerbau atau sapi. Bukan babi dan tidak pernah rusa. Ketidaktahuan masih bisa dipahami, tapi masalahnya jadi berbeda jika melecehkan agama, kepercayaan atau keyakinan orang lain. Lebih tidak bisa diterima jika menilai etnik lain atas dasar_ketidaktahuan dan bermodalkan bonek, hingga bernada menghina semata-mata karena agama, kepercayaan dan keyakinannya berbeda dari sipenilai. Entah sadar atau tidak, tapi sangat disesalkan, justru hal beginilah yang dilakukan oleh Ghaizah, editor dan penerbit PT Cita Putra Bangsa,  terhadap etnik Dayak dalam novelnya «Terjebak Dunia Gaib Rimba Kalimantan». Apakah gerangan tujuan hendak dicapai dengan novel begini?

Bonek (bondo nekad)nya Ghaizah kembali nampak ketika ia berbicara tentang penyelesaian masalah dengan masyarakat adat. Nampak ia sama sekali tidak mengenal struktur lembaga-lembaga adat Dayak di Kalimantan Tengah. Juga tidak mengenal pengaruh dan peran kepala adat atau damang dalam masyarakat adat Dayak. Tidak tahu bahwa masyarakat adat dan damang-damangnya mempunyai wilayah adat masing-masing. Damang-damang inilah bersama Pengadilan Masyarakat Adat ke mana Ghaizah, editor dan penerbit,  pantas dibawa untuk diperiksa atas substansi novelnya, menyelesaikan masalah-masalah adat di wilayah adat masing-masing. Polisi, aparat negara  pun jika melanggar hukum adat akan dijatuhi hukuman adat (singer), disamping mendapatkan ganjaran dari kesatuannya. Tapi apa yang ditulis oleh Ghaizah ?

«Keesokan harinya Paman Arman langsung menuju rumah beberapa kepala adat  yang paman kenal  yang ada di desa-desa kecil di Sampit». «Paman juga membawa beberapa petugas kepolisian agar suasana bisa dikendalikan dengan baik» (hlm. 119).

Wilayah adat agaknya tidak diketahui oleh Ghaizah meliputi beberapa desa. Penyelesaian masalah adat di wilayah adat tertentu tidak perlu melibatkan pihak kepolisian, apalagi sekarang lembaga-lembaga adat sudah di Perda-kan (Perda No. 16/2008). Ghaizah bercerita tentang masyarakat adat Kalimantan Tengah berbekalkan nol pengetahuan dan pendekatan yang keliru serta tidak mengenal situasi politik, geografis, sosial-budaya yang minim sekali pun. Pengetahuan Ghaizah tentang Kalimantan Tengah dan masyarakat Dayak bertingkat NOL BESAR. Sikap budayanya sangat sektaris, mengukur bajunya pada diri orang lain. Sedikitpun kami tidak ada niat menuntut novel ini ditarik dari peredaran, kecuali berharap ia bisa didiskusikan, baik secara substansi, mau pun secara teknis penulisan.  Dengan cara ini, masing-masing bisa belajar dan berkembang. Biarkan ia dibaca semua pihak, karena percaya bahwa pembaca yang berdaulat bisa menimbangnya sendiri dengan kedaulatan pembaca mereka. Tidak tahu adalah hak, asalkan ia tahu ia tidak tahu dan tidak berlagak tahu. Berbuat salah pun adalah suatu hak, asal ia berani mengakui dan memperbaiki kesalahan setelah tahu ia sudah melakukan kesalahan.

Berharap saja tulisan ini terbaca oleh Ghaizah Fasya, Asep Sambodja sebagai editor dan PT Cita Putra Bangsa sebagai penerbit buku yang berbau SARA ini. Kami menunggu tanggapan mereka. ***

Palangka Raya, 2009

Andriani S. Kusni & Kusni Sulang

(Selesai)

Advertisements

SEBAIKNYA CERMAT SEDIKIT (Bag. 4)

Jurnal Toddoppuli

(Cerita Untuk Anak-Anak Kami)

Sungai Kahayan dari Kampung Flamboyan, cat minyak, Andriani S. Kusni, 2009

Sungai Kahayan dari Kampung Flamboyan, cat minyak, Andriani S. Kusni, 2009

Judul Novel: “Terjebak Dunia Gaib Rimba Kalimantan”

(Serial Lima Sahabat)

Penulis: Ghaizah Fasya

Editor: Asep Sambodja

Penerbit:  PT.Cita Putra Bangsa

Cetakan Pertama: Juli 2006

Tebal: 124 halaman

4

4. Pengetahuan Sosial Dan Politik

Bagaimana pengetahun Ghaizah tentang keadaan masyarakat suku Dayak di daerah Kabupaten Kotawaringin Timur? Tentang hal ini Ghaizah antara lain menulis: «….hukum rimba yang berlaku di sini » (hlm.60)

Kemudian Ghaizah juga menulis tentang suku Dayak sebagai berikut :

«Kada pa-pa, semua tuh sudah takdir. Umak dan Usay sudah bersyukur ada di sini di tengah kebaikan Aman dan Ana, amun kada kami tarus jadi suku terbelakang, yang gampang terhasut karena kurang ilmu dan jua melajari Usay biar rajin sekolah dan belajar Islam dengan bujur », ujar Umak Usay (hlm. 19).

Lalu tulis Ghaizah :

« Mereka masih sangat terbelakang, sedikit sejarah yang kutahu, bahwa dulu ketika terjadi  pertikaian antara dua  suku dan kalian tahu pasti peristiwa yang terkenal dengan peristiwa Sampit, di situlah sebenarnya ayahku terbunuh. Padahal ayahku membela suku lawan dan pamanku merasa ayahku pengkhianat  ketika itu, hanya untuk yang tahu siapa yang telah membunuh ayahku da numak tetap merahasiakannya padaku. Tapi aku tahu, ayahku dulu pasti membela yang benar, ia tidak mau pertumpahan darah. Karena, kata Umak ketika itu, banyak sekali orang-orang yang tidak berdosa mati sia-sia, hanya karena masalah yang dibuat oloeh segelintir orang saja. Umak bilang ayahku orang yang baik hati dan ayah sangat dekat dengan Abi Aman. Makanya , ketika tahu ayah terbunuh dan kondisi mulai aman, Abi menyuruh aku dan umak untuk tinggal bersamanya », ujar Usay menerawang » (59-60).

Di bagian lain Ghaizah masih menulis sebagai berikut :

“… semua logika pun sudah aku coba ungkapkan dan keputusannya tetap pada Pak Dayau yang akhirnya tidak ada cara lain. Sarah harus segera dinikahkan dengan salah seorang pemuda Dayak suku  mereka, anak dari Pak Dayau, sebagai penebus penghormatan kepada leluhur mereka”, ujar Zaid (hlm. 58).

Ghaizah masih belum puas melukiskan kejahatan, keburukan manusia Dayak. Tulisnya:

“Ada cerita, beberapa tahun yang lalu, ada seseorang di suku kami yang melanggar adat, tapi  berbeda dengan masalah yang terjadi  pada Sarah. Orang itu sengaja disekap dalam ruangan seperti ini. Padahal, aku tahu orang itu adalah orang baik. Hanya ketika itu, dia tidak mematuhi perintah Pak Dayau untuk mencoba dalam hal pembukaan lahan untuk hutan, bila aku tidak salah. Dan orang itu tidak mau karena dia mempunyai  cara tersendiri yang menurutnya benar, orang itu sebenarnya berasal dari suku Dayak lain yang kawin dengan wanita dari sukuku. Mungkin perbedaan antara suku dia dengan suku kami yang tidak_bisa diterima oleh Pak Dayau yang sangat marah besar karena perintahnya tidak dilaksanakan orang itu” (hlm. 72).

Begitu banyak predikat negatif atau topi dikenakan oleh Ghaziah terhadap suku Dayak yang semestinya patut ia pertanggungjawabkan bersama editor dan penerbit PT Cita Putra Bangsa. Kalau menurut Perda Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 16 Tahun 2008 Tentang Kelembagaan Adat  Dayak Kalimantan Tengah patut dibawa ke depan Kerapatan Mantir/Let Perdamaian Adat atau Dewan Adat untuk diperiksa masalahnya dan diminta penjelasan serta pertanggungjawaban, lebih-lebih terhadap predikat bahwa yang berlaku di Tanah Dayak (cq. Suku Dayak Pak Dayau) adalah “hukum rimba” kesewenang-wenangan menghukum orang karena beda pendapat, bahkan membunuh ayah Usay karena membela suku lawan dalam konflik, tudingan yang menyalahkan orang Dayak dalam Tragedi Sampit tahun 2000, pemutarbalikan hukum adat (dalam kasus Sarah, kasus orang Dayak suku lain dari suku Pak Dayau ). Pertanggungjawaban ini demi yang disebut Ghaizah “kebenaran” (Lihat juga tentang UU tentang media massa Republik Indonesia).

Andaikan saja Ghaizah ada usaha untuk mempelajari sedikit saja tentang suku Dayak sebelum menulis, misalnya minimal membaca karya Tjilik Riwut “Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan” (NR Publishing Yogyakarta, 1993, 2007) atau “Maneser Panatau Tatu Hiang, Menyelam Kekayaan Leluhur” (Pustaka Lima, Palangka Raya, Oktober  2003) atau “Sejarah Kalimantan Tengah “ (Kerjasama Lembaga Penelitian Universitas Palangka Raya dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya, 2006) serta Koran-koran lokal tentang Tragedi Sampit, barangkali Ghaizah tidak akan menulis dengan kecermatan yang minim dan editor  serta penerbit tidak akan meloloskan tulisan Ghaizah ini.

Apakah benar di Tanah Dayak berlaku “hukum rimba”? Dalam masyarakat Dayak berlaku “hukum adat” jauh sebelum kolonialisme Belanda menancapkan cengkeramannya di Kalimantan. Hukum adat inilah yang mengatur kehidupan bermasyarakat orang Dayak dan mereka yang tinggal, hidup dan mendatangi wilayah Tanah Dayak.

Tentang hal ini Tjilik Riwut antara lain menulis, khususnya mengenai para pendatang non Dayak:

« Di dalam Hukum Adat Suku Dayak, ditemukan juga hal istimewa untuk melindungi dan menjaga orang asing yang mengembara di daerah suku Dayak. Suku Dayak merasa terhina apabila ada orang asing yang datang ke daerahnya, selagi dalam perjalanan di daerah suku Dayak kemudian orang asing tersebut menderita atau pun mengalami kesusahan. Oleh karena itu ada Hukum Dayak yang isinya antara lain harus menerima dan memelihara keamanan orang asing yang masuk daerah suku Dayak, dan telah bernjanji menyerahkan  nasib kepada Kepala Adat dan berjanji untuk tunduk kepada Hukum Adat suku Dayak di mana orang asing tersebut berada.

Akan tetapi apabila orang asing yang masuk ke daerah suku Dayak tersebut tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, mungkin saja terjadi pembunuhan, karena orang asing tersebut dianggap merusak dan mengganggu keamanan suku.

Sesuai Adat, apabila seorang asing yang memasuki daerah suku Dayak dan membuat suatu kesalahan besarakan menerima hukuman berat, bisa terjadi bila kesalahan besar yang dilakukan pada Kepala Suku/Pemimpin Agama, hampir tidak terelakkan menerima hukuman mati, akan tetapi bila kesalahan yang dilakukan hanya dianggap kesalahan kecil, hukuman yang diperoleh dapat dijadikan jipen (budak). (Lihat :Tjilik Riwut, »Kalimantan Membangun Alam Dan Kebudayaan», NR Publishing, Yogyakarta, 2007, hlm. 466. Lihat juga: Tjilik Riwut, «Maneser Panatau Tatu Hiang»,  Penerbit Pustaka Lima, Palangka Raya, Oktober 2003, tentang Singer, hlm-hlm.285-310).

Tetua kita mengatakan bahwa «di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung». Apakah sikap begini terkecuali terhadap Tanah Dayak? Apakah keadaan di atas yang disebut oleh Ghaizah sebagai «hukum rimba», dan  Ghaizah mau mengecualikan diri dari hukum adat Dayak ketika memasuki Tanah Dayak? Sebagai perbandingan, baru-baru ini, DETAK, sebuah tabloid mingguan lokal, mewawancarai Andriani S. Kusni mengenai pandangannya sebagai pendatang. Dalam wawancara itu, Andriani S. Kusni menyarankan kepada pewawancara agar membaca buku Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan karya Tjilik Riwut agar pewawancara yang masih magang tersebut mengetahui hukum istimewa dalam Hukum Adat Dayak tentang perlakuan terhadap tamu/orang asing.

Evaluasi Ghaizah yang mengatakan bahwa suku Dayak «amun kada kami tarus jadi suku terbelakang, yang gampang terhasut karena kurang ilmu» (kalau bukan kami, (suku Dayak) akan terus menjadi suku terbelakang, yang gampang terhasut karena kurang ilmu ), sungguh suatu pernyataan menghina orang Dayak dari seseorang yang tidak belajar sejarah Dayak sehingga dengan berani mengoceh tanpa tahu apa yang diomnginya, tidak bsa mengendalikan mulut dan penanya. Apa yang dicapai oleh masyarakat Dayak sampai sekarang sebenarnya bukanlah belas-kasihan, apalagi hadiah dari  siapa pun tapi justru sebagai buah perjuangan mereka sendiri. Pernyataan Ghaizah ini juga memperlihatkan bahwa ia tidak melihat perkembangan pendidikan hingga jauh di hulu-hulu sungai. Berkat belas-kasihan dan hadiah dari luarkah perkembangan pendidikan bahkan adanya universitas-universitas dan perguruan-perguruan tinggi di Kalimantan Tengah? Pengetahuan kemasyarakatan dan perkembangan masyarakat Kalimantan Tengah pun,  Ghaizah tidak tahu. Kami hanya tak habis heran, orang seperti Asep Sambodja dan penerbit PT Cita Putra Bangsa bisa meloloskan tulisan seperti ini ke tengah publik – dengan tetap menghargai hak masing-masing dan hak berpendapat. Tapi pendapat Ghaizah menyasar dan mendiskreditkan suku lain.

Tentang Tragedi Sampit tahun 2000, Ghaizah pun melakukan penilaian sangat subyektif. Berat sebelah. Dikesankan oleh Ghaizah bahwa Tragedi Sampit meletus karena «Mereka masih sangat terbelakang, sedikit sejarah yang kutahu, bahwa dulu ketika terjadi  pertikaian antara dua  suku dan kalian tahu pasti peristiwa yang terkenal dengan peristiwa Sampit». Apakah benar demikian sebab meletusnya Tragedi Sampit? Banyak buku sudah ditulis mengenai hal ini dengan menggunakan berbagai sudut pandang, baik oleh penulis dalam negeri mau pun manca negara serta oleh orang Dayak sendiri. Misalnya buku «Majelis Adat Dayak Kalteng Menjawab Tantangan Terjadinya Kerusuhan Di Kalimantan Tengah» (Edisi Kedua, diterbitkan atas kerjasama Pusat Penelitian Kebudayaan Dayak Lembaga Penelitian Unversitas  Palangka Raya dengan Majelis Adat Dayak Propinsi Kalimantan Tengah, Agustus 2002). Sebagai penulis yang menyebut diri setia pada kebenaran, kami tanyakan:  *Demikiankah cara Ghaizah mendapatkan kebenaran? Tanpa penelitian yang jujur? Lalu apa yang diucapkan dikatakan sebagai kebenaran? ».

“… semua logika pun sudah aku coba ungkapkan dan keputusannya tetap pada Pak Dayau yang akhirnya tidak ada cara lain». Dengan mencap Pak Dayau tidak punya «logika sedikit pun», sebenarnya Ghaizah melihat Dayak yang «terbelakang», «gampang dihasut» karena kurang ilmu, tidak terdidik sebagai tidak mempunyai logika sedikit pun. Barangkali benar jika Ghaizah mengukur ada tidaknya logika dari sudut pandang dan ukuran Ghaizah sendiri walaupun hukum adat, konsep hidup mati dan pandangan-pandangan Dayak tentang masyarakat sebenarnya penuh alur nalar. Misalnya konsep hidup mati «rengan tingang nyanak jata»(anak enggang putra-putri naga), berlomba-lomba menjadi manusia yang manusiawi, saling mengembarai pikiran dan perasaan masing-masing», «belum bahadat», dan lain-lain…. Sudahkah Ghaizah, editor dan penerbit,  mempelajari wacana-wacana ini? Kami khawatir label tidak punya logika sama sekali justru bisa dikembalikan kepada Ghaizah sendiri.

Sedangkan perihal perkawinan, jika Ghaizah mengerti jalan pikiran dan adat-istiadat Dayak, barangkali ia tidak akan segegabah seperti yang ia tuliskan di novelnya seorang Dayak memandang perkawinan, mencari jodoh dan pertunangan (Lihat: Tjilik Riwut, «Maneser  Panatau Tatu Hiang», hlm. 283-285).

“Ada cerita, beberapa tahun yang lalu, ada seseorang di suku kami yang melanggar adat, tapi  berbeda dengan masalah yang terjadi  pada Sarah. Orang itu sengaja disekap dalam ruangan seperti ini. Padahal, aku tahu orang itu adalah orang baik. Hanya ketika itu, dia tidak mematuhi perintah Pak Dayau untuk mencoba dalam hal pembukaan lahan untuk hutan, bila aku tidak salah. Dan orang itu tidak mau karena dia mempunyai  cara tersendiri yang menurutnya benar, orang itu sebenarnya berasal dari suku Dayak lain yang kawin dengan wanita dari sukuku. Mungkin perbedaan antara suku dia dengan suku kami yang tidak_bisa diterima oleh Pak Dayau yang sangat marah besar karena perintahnya tidak dilaksanakan orang itu” (hlm. 72).

Dari alinea ini, Ghaizah menggambarkan betapa kepala suku dan adat masyarakat Dayak bertindak sewenang-wenang, tidak memberikan peluang untuk perbedaan pendapat. Main hukum jika terjadi perbedaan pendapat. Sejauh pengetahuan kami masyarakat Dayak itu sangat toleran dan tidak mencampuri urusan teknik apa yang digunakan oleh warganya untuk membuka dan mengolah ladang atau pun membuka hutan untuk ladang. Di pihak lain, alinea ini juga memperlihatkan kurang cermatnya Ghaizah dan editor ketika membiarkan kalimat « …..pembukaan untuk hutan ». Di mana  tidak cermatnya ? Apakah membuka hutan untuk lahan ladang? Mana ada orang Dayak membuka “lahan untuk hutan”? Nah, siapa gerangan yang tak punya logika? Ghaizah dan Pak Editor? Selain itu, alinea ini juga mempertontonkan betapa imajinasi Ghaizah melayang liar tanpa kendali logika dan lepas dari dasar realita sosial dan politik di Kalimantan Tengah. Ketika datang ke Kalimantan Tengah, yang geografinya pun tidak ia kenal, ia memandang propinsi yang lebih luas dari Pulau Jawa ini dari “punggung kuda” dan dengan kaca mata kuda wacana tanpa toleransi.

Palangka Raya, 2009

Andriani S. Kusni & Kusni Sulang

(Bersambung…….)

SEBAIKNYA CERMAT SEDIKIT (Bag. 3)

Jurnal Toddoppuli

(Cerita Untuk Anak-Anak Kami)

sore di sungai katingan dalam lukisan cat minyak Andriani S. Kusni, 2009

sore di sungai katingan dalam lukisan cat minyak Andriani S. Kusni, 2009

Judul Novel: “Terjebak Dunia Gaib Rimba Kalimantan”

(Serial Lima Sahabat)

Penulis: Ghaizah Fasya

Editor: Asep Sambodja

Penerbit:  PT.Cita Putra Bangsa

Cetakan Pertama: Juli 2006

Tebal: 124 halaman

3.

Beberapa Catatan

Fiksi, termasuk novel, memang berbeda dari karya ilmiah atau kajian atau penelitian ilmiah, terutama dalam cara penyajian dan penggunaan data.  Tapi antara keduanya, barangkali terdapat satu kesamaan yaitu dalam kesetiaan pada kebenaran, akurasi data. Baik karya ilmiah, mau pun karya-karya fiksi, kedua-duanya tidak beranjak dari kesetiaan pada kebenaran, apalagi jika karya fiksi itu mau menyampaikan  pesan-pesan tertentu. Pesan-pesan tertentu yang mau disampaikan itu akan lebih gampang dipahami dan diterima pembaca yang mempunyai kedaulatan sendiri,  jika data-datanya tidak terlalu jauh menyimpang dari obyektivitas. Yang ingin kami katakan bahwa sekali pun ia sevuah fiksi di mana data dikembangkan oleh imajinasi, tapi imajinasi itu tidak bisa lepas dari data obyektif dan tidak bisa membebaskan diri sepenuhnya dari alur nalar atau logika sekali pun ada kebebasan pada sang penulis, apalagi jika yang dibicarakan menyangkut masalah sejarah, peristiwa politik atau pun yang bersifat antropologis atau tuturan filosofis. Fiksi, apalagi fiksi yang disertai oleh pesan-pesan tertentu, artinya ia bergerak di wilayah pemikiran, pola pikir dan mentalitas. Jika ia bercerita tentang pandangan, pola pikir dan mentalitas atau pun bertutur tentang keadaan pihak lain, hendaknya dari penulis diharapkan untuk tidak terlalu menyimpang dari realita sebenarnya dari obyek yang dilukiskannya. Jangan terlalu «mengarang-ngarang», mengada-adakan yang tidak ada dan tidak benar , lalu menganggap tuturannya sebagai kebenaran, mengukur baju dan celananya pada orang lain. Urutan nalar perlu juga hendaknya dijaga.

Jika hal-hal umum di atas, bisa disepakati dan diterima oleh Ghaizah Fasya, maka apa dan bagaimana yang Ghaizah lakukan dalam novel 124 yang dieditori oleh Asep Sambodja (yang dosen sastra?) dan yang oleh PT Cita Putra Bangsa sebagai penerbit, yang agaknya mau mengeksploatasi eksotisme,  termasuk dipuji «selalu mengandung pesan moral  buat kita-kita semua»?  Apakah Ghaizah  mematuhi tuntutan-tuntutan di atas? Agaknya dalam soal-soal ini,  Ghaizah dan editor agak tidak cermat dan bertindak sembrono. Bahkan terkadang ngawur. Bagaimana rinciannya ketidak cermatan dan kesembronoan ini?

1. Data Geografis:

Ghaizah mengambil Sampit yang terletak di tepi Sungai Mentaya sebagai tempat bermula “petualangan lima sahabat muslim”nya. Ketika lari dari kejaran kepala suku, Pak  Dayau serta anak buahnya, “lima sahabat muslim” dari Jakarta ini setelah melalui beberapa anak sungai, akhirnya sampai ke Sungai Kapuas dengan menggunakan rakit.  Ghaizah berkisah:

“Hari telah menjelang sore sekali, tiba juga akhirnya kami di Sungai Kapuas,karena sudah banyak tampak kapal-kapal nelayan penangkap ikan yang cukup besar. Ada salah seorang dari nelayan yang menggunakan sendiri perahu motornya menegur kami, ketika rakit kami melewati perahunya. Mereka menanyakan, kenapa kami menggunakan rakit. Usay pun menjelaskannya.

Dengan sangat baik nelayan itu mau menolong kami, mengantarkan kali ke pelabuhan Sampit. Rupanya cukup jauh juga perjalanan kali hampir satu hari kami baru tiba di pelabuhan Sampit. Itu pun dengan adanya sedikit kendala pada mesin motor perahunya” (hlm. 112).

Pada waktu novel ini diterbitkan yaitu Juli 2006, jalan darat sudah ada dari Kuala Kapuas menuju Sampit melalui Palangka Raya. Antara Sungai Mentaya dan Sungai Kapuas mengalir sungai-sungai besar yaitu Katingan dan Kahayan. Antara Sungai Kapuas dan Kahayan «pada tahun 1880-1890, untuk beberapa alasan politik dan perdagangan, penjajah Belanda membangun beberapa Kanal yang menghubungkan Sungai Kapuas, Barito dan Kahayan.Maksudnya untuk mempercepat komunikasi yang baik lewat sarana transportasi sungai dari daerah pedesaan sampai ujung tenggara pulau ini» («Potret Sepuluh Tahun Keuskupan Palangka Raya» diterbitkan oleh Panitia Perayaan Dasawarsa Keuskupan Palangka Raya, 2003, hlm.2).

Dari  Sungai Kahayan  ke Sungai Katingan dan ke Sungai Mentaya, tidak ada kanal-kanal seperti antara Sungai Kapuas, Kahayan dan Barito.Sehingga kalau mau ke Mentaya melalui transportasi sungai sama sekali tidak mungkin, kecuali melalui Laut Jawa di mana kelima sungai itu bermuara. Jika melalui Laut Jawa ke Mentaya menuju Sampit sekali pun menggunakan kapal 60-80 ton pun , tidak mungkin dicapai dalam waktu «hampir satu hari». Waktu «hampir satu hari» itu hanya mungkin digunakan untuk mencapai Sampit jika menggunakan jalan darat.

Mungkinkah pergi ke Sampit menggunakan perahu klotok? Sekali pun menyisir (pelayaran menyusur pantai), rasanya cara demikian sangat beresiko dan sejauh pengetahuan kami tidak pernah dilakukan. Kerusakan mesin yang diceritakan oleh Ghaizah hanya upaya menimbulkan efek dramatik dari petualangan “lima sahabat muslim” itu.  Tuturan Ghaizah tentang hal ini adalah kisah yang tak pernah terjadi dan mengatakan secara polos ketidaktahuan untuk tidak menyebutnya kengawuran Ghaizah tentang geografis Kalimantan Tengah. Padahal apa gerangan sulitnya jika sebelum menulis Ghaizah meluangkan waktu melihat-lihat peta Kalimantan Tengah? Agaknya  Ghaizah memang bukan seorang yang rajin dan teliti tidak secermat Karl May atau Jules Verne mempelajari obyeknya sebelum menulis. Karena itu agaknya akan berkelebihan menagih Ghaizah menunjukkan dengan persis suku Dayak mana di Kabupaten Kotawaringin Timur yang masih hidup seperti pada zaman Tumbang Anoi 1894.

Kekurang cermatan Ghaizah kembali ia pertontonkan ketika menulis: “Kalimantan itu memang banyak sungai besarnya Id, hampir seluruh Pulau di Kalimantan dialiri beberapa sungai besar yang akhirnya bermuara ke Laut Jawa”, ujar Usay” (hlm. 26). Tidak Ghaizah, tidak semua sungai besar di Kalimantan bermuara di Laut Jawa. Sungai Kapuas Bohang bermuara di Selat Karimata, Sungai Mahakam bermuara di Selat Makasar. Apalagi sungai-sungai di Kalimantan Utara, tidak satu pun yang bermuara di Laut Jawa.

Tentang “”desa-desa kecil di Sampit”. Apa gerangan yang Ghaizah maksudkan  dengan «desa-desa kecil di Sampit”? (hlm. 119). Sampit adalah sebuah kota pelabuhan, pernah memiliki pabrik kayu terbesar di Asia Tenggara dan sampai sekarang masih memiliki pabrik pengolahan karet di daerah Ketapang. Yang ada di Sampit adalah kampung seperti Bamang, Ketapang. Lagi-lagi di sini penulis novel yang ditulis dalam bahasa Indonesia ini nampak kurang cermat dalam menggunakan bahasa Indonesia sarana pengungkapannya.

Sementara itu dari segi editing, agaknya Asep Sambodja, barangkali karena lelah, meloloskan kalimat “seluruh Pulau di Kalimantan” yang menunjukkan bahwa di dalam Pulau Kalimantan ada pulau. Benar ada di tengah sungai, tapi pulau-pulau itu tidak dialiri sungai-sungai besar. Lalu kalimat “akhirnya bermuara ke Laut Jawa”. Ke atau di? Tentu ada bukan perbedaan antara di dan ke?

Selain itu, kami juga ingin menanyakan kepada Ghaizah, di mana gerangan “pantai pelabuhan Sampit” yang dimaksudkan ketika Ghaizah menulis: “Malam terakhir kami isi dengan duduk di dekat pantai Pelabuhan Sampit”? Apa yang dimaksud dengan “pantai” di sini sama dengan tebing Sungai Mentaya? Pertanyaan ini muncul karena dalam pengertian orang di Kalimantan yang disebut “pantai” lebih mengarah ke pantai laut, sedangkan Sampit masih sangat jauh dari Laut Jawa. Antara laut dan Sampit terdapat kota Samuda yang kaya akan pohon kelapa serta tubuh-tubuh kapal kayu buatan sendiri. Lalu tentang “pelabuhan Sampit yang luas”. Apa benar “pelabuhan Sampit cukup luas”, sementara kapal-kapal besar sebesar kapal PELNI yang bisa merapat kade-kade pelabuhan sampai sekarang paling banyak dua buah. Selebihnya harus antri dan berlabuh di tengah sungai Mentaya untuk bisa melakukan bongkar-muat (Lihat: Harian Kalteng Pos , 26 Agustus 2009, tentang pelabuhan Sampit).

2. Data Fauna & Flora Kalimantan Tengah

Mengenai fauna di Kabupaten Kotawaringin Timur, khususnya di wilayah suku Dayak asal Usay, lokasi di mana cerita berlangsung, Ghaizah antara lain menulis:

“Masih banyak bintatang buas  di sini , Say?” tanya Ali.

Ya, masih. Harimau juga masih banyak, juga ular berbisa », jawab  Usay (hlm. 43).

Setahu kami, harimau banyak terdapat di Pulau Jawa dan Sumatra. Sedangkan Pulau Kalimantan bukanlah tempat berkeliaran harimau. Paling-paling, kalau pun ada yang disebut macan atau harimau, maka yang ada yaitu harimau dahan atau macan tutul. Itu pun pada tahun 1940, sudah sangat jarang terdapat sehingga tidak bisa dikatakan sebagai «banyak». Apalagi di tahun 2006, tahun novel ini ditulis saat hutan-hutan tropis sudah dibabat buas oleh pemegang HPH, perkebunan sawit dan para penambang emas. Kabupaten Kotawaringin termasuk wilayah di mana  perkebunan kelapa sawit berkembang marak pada tahun novel ini ditulis. Sejauh pengetahuan kami yang sangat terbatas, tidak  pernah terbetik berita akan adanya penambang atau buruh-buruh HPH, buruh perkebunan sawit, yang  mati diserang oleh  macan, termasuk  oleh serangan harimau dahan. Populasi beruang (bahuang – dalam bahasa Dayak Katingan) jauh lebih banyak daripada macan tutul. Yang lebih ditakuti bukan serangan macan tutul (haramaung édan), tapi  malah keroyokan bakara alias kera merah yang nakal. Oleh kenakalan kera dari segala jenis, maka kera dipandang sebagai tidak beradat (bélum dia bahadat) sehingga makian keras di Tanah Dayak adalah “seperti kera” (kilau bakéi). Pembatasan hutan tropis gila-gilaan ini menyebabkan kerusakan alam lngkungan yang luar biasa sehingga terutama pada bulan-bulan Juli-Agustus terjadi kebakaran hutan yang menyebabkan langit pulau ditutup asap dan menyebabkan timbulnya rupa-rupa penyakit. Sayangnya kerusakan alam atau lingkungan ini sangat jauh dari perhatian Ghaizah dibandingkan dengan obsesinya mengukur baju sendiri pada orang lain ketika berbicara tentang suku Dayak. Oleh kerusakan hutan ini maka banyak tanaman obat-obatan punah, margasatwa, termasuk orang hutan (kahiu) dan enggang (tingang) yang oleh Ghaizah dinamakan “burung engkang” (hlm. 111). Penamaan sesukanya ini atau kesalahan memberikan nama  pada burung enggang begini hanya memperlihatkan ketidaktahuan besar Ghaizah dan editor tentang alam Kalimantan, sampai-sampai editor meloloskan novel ini terbit dengan kaya kesalahan. Yang tidak kurang hebat, penerbit memujinya.

Dalam keadaan di mana SD bahkan SMP, sudah menyusup jauh hingga ke hulu-hulu sungai di mana gerangan ada orang Dayak yang hidup dan berpakaian seperti pada masa Pertemuan Damai Tumbang Anoi 1894? Kami menagih lokasi persis suku Dayak di Kabupaten Kotawaringin Timur yang dituturkan oleh cerita ini pada Ghaizah, ilustrator dan editor. Tolong juga sebutkan nama-nama anak-anak dan cucu sungai yang dilalui oleh rakit menyelamatkan diri hingga jatuh di batang Sungai Kapuas sehingga pembaca bisa menelusur, cek-ricek apa yang Ghaizah tuturkan. Pertanyaan ini didasarkan pada pernyataan Ghaizah sendiri yang menulis: “…. kamu  benar-benar mirip seperti ayahmu yang berani dan tidak takut membela kebenaran” (hlm. 117).

Mengenai “sungai kecil” (hlm. 106), Ghaizah tidak menjelaskan dengan persis juga, apakah “sungai kecil” itu anak sungai atau cucu sungai. Kalau “sungai kecil” itu adalah anak sungai, rasanya tidak mungkin dedahanan akan menutup seluruh permukaan sungai. Jika “sungai kecil” itu cucu sungai, tidak mungkin dilewati oleh rakit. Kalau pun itu anak sungai, biasanya rakit mengambil jalan di tengah menggunakan kekuatan arus untuk menghanyutkan diri. Tidak pernah ada rakit melaju melawan arus. Demikian sepengetahuan kami. Sedangkan untuk mengikat kayu-kayu atau bambu yang dijadikan bahan pembuat rakit, biasanya akar-akaran tidak akan cukup kuat melawan akibat arus yang membanting rakit, entah pada tebing tanjung dan rantau atau pun benturan benda keras lainnya yang hanyut di sungai. Akan lebih meyakinkan jika ia diikat dengan rotan yang banyak terdapat di hutan Kalimantan, termasuk hutan-hutan Kabupaten Kotawaringin Timur. Tidak disinggungnya masalah penggunaan rotan ini menambah petunjuk tentang pengetahuan nol Ghaizah terhadap flora Kalimantan Tengah. Ghaizah bertutur tentang fauna dan flora  Kalimantan Tengah berangkat dari modal nekad (bonek, bondo nekad guna mendapatkan eksotisme tanpa mempertimbangkan dampak kebonekannya itu pada perasaan orang lain yang ia tuturkan. Imajinasi tipe bonek. Alangkah baiknya jika penulis dan editor serta ilstrator bersikap cermat ketika menulis mengedit dan membuat ilustrasi. Tak perlu memaksa diri berlagak tahu, tapi sesungguhnya tidak tahu apa-apa tentang yang dilukiskan.

3. ILOGISME

Pengetahuan nol tentang alam Kalimantan Tengah menjadikan penulis dan editor jatuh pada ilogisme. Bukti ilogisme ini antara lain, ada rakit bergerak melawan arus, adanya perjalanan dari Kapuas menggunakan stempel (klotok) melintasi Laut Jawa dan juga adanya jalan pintas dari Sungai Kapuas ke Sungai Mentaya yang dipisah sekian ribu kilometer oleh dua sungai besar yaitu Sungai Katingan dan Kahayan. Ilogisme ini juga diperlihatkan oleh tokoh Usay yang sejak usia tiga tahun hidup bersama Paman Arman, meninggalkan sukunya tapi di satu pihak disebut tidak begitu mengerti lagi bahasa Dayak, tapi di pihak lain digambarkan masih lancar berbahasa Dayak. Dari segi logika, kapan anak yang sejak usia tiga tahun meninggalkan wilayah suku asalnya mempunyai kesempatan bermain-main di hutan tapi diluksskan seperti kenal benar alam hutan suku asalnya? Selain terdapat ketidaknalaran, lukisan-lukisan begini juga menunjukkan adanya tuturan yang saling sangkal. Barangkali dalam pandangan Ghaizah dan editor, novel, imajinasi, kebebasan berpikir dan kebebasan pengarang,  tidak berurusan dengan logika, cukup dengan bonek?

Palangka Raya, 2009

Andriani S. Kusni & Kusni Sulang

(Bersambung……)

SEBAIKNYA CERMAT SEDIKIT (Bag. 2)

Jurnal Toddoppuli

(Cerita Untuk Anak-Anak Kami)

Judul Novel: “Terjebak Dunia Gaib Rimba Kalimantan”

(Serial Lima Sahabat)

Penulis: Ghaizah Fasya

Editor: Asep Sambodja

Penerbit:  PT.Cita Putra Bangsa

Cetakan Pertama: Juli 2006

Tebal: 124 halaman

2.

Dalam novel TDGRK ini, Ghaizah bercerita tentang «petualangan» «lima sahabat muslim» dari Jakarta,  pada saat libur panjang,  ke daerah Sampit, Kalimantan Tengah. Lima “sahabat muslim” ini adalah Sarahh, Ali, Kemal, Zaid, dan Fatima. Kelima anak muda ini diundang oleh seorang pedagang Banjar yang sudah lama tinggal di Sampit. Selain itu, Paman Arman juga adalah orang yang  telah mengambil Usay seorang anak laki-laki Dayak sebagai anak angkatnya, sejak ia berusia tiga tahun ketika ayah Usay dan suami ibu Usay terbunuh dalam konflik (baca: konflik etnik di Kalimantan Tengah yang dikenal juga dengan nama Tragedi Sampit). Karena lama meninggalkan sukunya yang bermukim di pedalaman kabupaten Kotawaringin Timur yang beribukotakan Sampit, maka Usay kurang lancar berbahasa sukunya dan kurang mengenal lagi geografi lingkungan sukunya.

Pada suatu ketika, sukunya Usay mengadakan upacara adat dan “lima sahabat muslim” dari Jakarta itu ditemani oleh Usay dan ibunya pergi berkunjung ke suku asal Usay yang tidak disebutkan dengan persis suku apa gerangan suku tersebut oleh Ghaizah.

Untuk menuju ke tempat suku asal Usay yang berpenduduk kurang lebih 60 orang itu dengan Pak Dayau sebagai kepala suku, “lima sahabat muslim” dari Jakarta itu menggunakan stempel yang dalam ilustrasi novel dilukiskan sebagai “speed boat” bukan klotok. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki sambil menggotong mesin “speed boat” yang dicopot agar tidak dicuri orang. Setiba di kampung suku asal Usay, “lima sahabat muslim” dari Jakarta itu disambut dengan ramah dan  ditempatkan di rumah besar tanpa sekatan dan atau kamar-kamar. Pak  Dayau dan Tungga, putranya turut menyambut “lima sahabat muslim” dari Jakarta. Sekali pandang Tungga diceritakan jatuh cinta pada Sarah.

Mereka menyaksikan upacara dan persiapan upacara adat, termasuk babi dan rusa yang diikat di sebuah tiang yang akan dijadikan hewan persembahan dan hidangan di pesta. Begitu melihat babi, apalagi ketika penduduk Dayak ini makan mereka menolak diajak makan dan merasa perut mereka tiba-tiba mual karena terkesan jorok (hlm.52). Mereka mengambil pisang saja, itu pun pisang yang diperkirakan tidak  terkena doa-doa Dayak. Sarah akhirnya tidak dapat menahan mual perutnya dan muntah di tengah-tengah orang Dayak yang sedang makan dan berpesta. Orang Dayak memandang hal ini sebagai suatu hinaan pada mereka dan pada leluhur mereka serta menjatuhkan hukuman karena melanggar adat. Mereka bisa terhindar dari hukuman hanya apabila Sarah mau segera dikawinkan dengan Tungga, sebagai «penebus penghormatan kepada leluhur mereka» (hlm.58). Tentu saja Sarah dan teman-temannya menolak dengan tekad «Biarlah kepalaku dipenggal  saja daripada aku harus menikah dengan suku mereka» (hl.60).

«Lima sahabat muslim» itu dibantu oleh Usay dan ibunya mengatur rencana melarikan diri, sementara pojok-pojok dan tempat-tempat strategis sudah dijaga oleh orang-orang Dayak dan keadaan Sarah tidak juga membaik oleh guna-guna orang Dayak sehingga ia perlu ditandu oleh teman-temannya. Berkat pertolongan Allah, sekali pun orang-orang Dayak berjarak beberapa langkah saja dari gua tempat mereka bersembunyi, akhirnya «lima sahabat muslim» dari Jakarta itu bisa selamat. Mereka lalu membuat rakit untuk menyelamatkan diri menuju Sungai Kapuas, melalui anak-anak sungai dengan melawan arus. Oleh kebaikan hati seorang nelayan Kapuas, mereka kemudian ditolong dan diantarkan ke Sampit.

Sesampai di Sampit, Paman Arman ditemani beberapa beberapa kepala adat dan  aparat keamanan menemui Pak Dayau untuk menyelesaikan persoalan. Pak Dayau tetap bertahan pada keputusan hukumannya, hanya bentuknya lain . Bukan keharusan Sarah nikah segera dengan Tungga tetapi dengan tiga ekor sapi (hlm.121).

Setelah semua permasalahan dengan suku Dayak diselesaikan, “lima sahabat muslim dari Jakarta selamat berkat pertolongan Allah, sebelum keesokannya mereka pulang ke Jakarta menggunakan pesawat terbang, berita gembira lainnya adalah pemberitahuan Paman Arman memberitakan bahwa berkat Allah juga istrinya, Bibi Ana hamil, padahal puluhan tahun lamanya suami-istri Paman Armand dan Bibi  Ana menunggu-nunggu saat tersebut. Kebesarann Allah inilah yang diingatkan dan dipesankan untuk selalu diingatkan oleh penulis sambil menyiratkan budaya Dayak sebagai bentuk “setan dan jin” yang “akan selalu menggoda dan menyesatkan dengan berbagai cara. Apalagi di daerah Kalimantan Tengah ini” (hlm. 118). “…inilah hikmah bagi yang bisa kalian ambil” , ujar Paman Arman menyimpulkan pengalaman “lima sahabat muslim “ dari Jakarta.

Itulah ringkasan cerita novel “Terjebak Dunia Gaib Rimba Kalimantan” karya Ghaizah Fasya yang dieditori oleh Asep Sambodja, diterbitkan oleh PT Cita Putra Bangsa yang dalam otopromosinya menulis bahwa “Novel-novel  Cita Putra Bangsa selalu menghadirkan cerita-cerita petualangan yang asyik untuk diikuti dan bikin penasaran? Cerita serunya selalu mengandung pesan moral buat-buat kita semua”. Dari sinopsis di atas, gambaran dan pesan apakah yang disajikan terhadap etnik lain, cq. Dayak oleh PT. Cita Putra Bangsa? Rangkaian nilai republikan dan berkeindonesiakah? Kebhinnekaan budaya ataukah pemikiran tunggal (la pensée unique)? ***

Palangka Raya, 2009

Andriani S. Kusni & Kusni Sulang

(Bersambung…..)

SEBAIKNYA CERMAT SEDIKIT (Bag. 1)

Jurnal Toddoppuli

(Cerita Untuk Anak-Anak Kami)

Kulit muka novel (Repro)

Kulit muka novel (Repro)

1.

Judul Novel: “Terjebak Dunia Gaib Rimba Kalimantan”

(Serial Lima Sahabat)

Penulis: Ghaizah Fasya

Editor: Asep Sambodja

Penerbit:  PT.Cita Putra Bangsa

Cetakan Pertama: Juli 2006

Tebal: 124 halaman

Buku “Terjebak Dunia Gaib Rimba Kalimantan” (TDGRK) kami dapatkan di Toko Buku Kharisma yang terletak di jalan protokol Yos Sudarso — salah satu dari dua toko buku utama di Palangka Raya. Kulit mukanya, sekali pun berwarna, sangat tidak mengesankan. Bahkan sangat tidak menarik minat untuk membelinya. Tapi karena pada judulnya tertera kata Kalimantan dan di kulit belakang tercantum keterangan tetang “kehidupan suku Dayak”, kemudian  Ghaizah Fasya sebagai penulis  di Kata Pengantar-nya menjelaskan bahwa lokasi cerita berlangsung di Kalimantan Tengah, maka buku kecil berukuran saku ini segera kami ambil. Kami ingin tahu, apa yang diceritakan oleh Ghaizah  melalui  buku  Serial Lima Sahabat dalam Serial Menyurusi Dunia Gaib yang mengingatkan kami akan cerita terjemahan Serial  Petualangan Lima Sekawan  karya Enid Blyton. Bagaimana Ghaizah  memandang “masyarakat  Kalimantan Tengah  umumnya dan suku Dayak khususnya”. Di bawah promosi PT Cita Putra Bangsa bahwa “Novel-novel Cita Putra Bangsa selalu menghadirkan cerita-cerita petualangan yang asyik untuk diikuti dan bikin penasaran. Cerita serunya selalu mengandung pesan moral buat kita-kita semua”. Ditambah lagi di halaman dalam tertera nama Asep Sambodja yang secara nama telah kami kenal  lama, sebagai editor. Sebagai editor tentunya Asep sedikit banyak mempunyai peran dalam memilih cerita-cerita yang akan diterbitkan oleh PT Cita Putra Bangsa, bukan hanya editor bahasa – apalagi sekarang pada sementara koran dan majalah serta penerbitan ada Editor Bahasa-nya. Faktor-faktor demikianlah yang membuat kami berkeputusan membeli novel berukuran saku ini.

Hal lain yang kami cari-cari adalah tahun berapa novel ini ditulis dan apa-siapa Ghaizah Fasya. Sayangnya mengenai yang terakhir ini sama sekali tidak kami dapatkan sehingga novel ini kami terima sebuah teks sebagaimana adanya dengan posisi seorang  pembaca yang berdaulat. Kami mencari keterangan tentang apa-siapa Ghaizah dengan maksud memahami latar-belakang pendidikan, pengalaman dan bidang yang ia geluti, dari segi mana dan apa ia menyorot permasalahan yang ia angkat, dan dengan demikian bisa membantu kami mengukur-ngukur analisa dan evaluasinya tentang Kalimantan Tengah, khususnya tentang suku Dayak yang ia ambil sebagai lokasi berlangsungnya cerita serta terjadinya konflik dalam novel.  Barangkali penerbit dan editor sengaja tidak memperkenalkan apa-siapa penulisnya dengan maksud menampilkan karya ini kepada para pembaca sebagai sebuah teks sebagaimana adanya sebuah teks yang setelah dilempar ke publik mempunyai jalan hidupnya tersendiri.

Dalam Kata Pengantar-nya Ghaizah sudah menyediakan perisai pelindung diri dalam kata-kata: «Akhir kata, penulis meminta maaf bila dalam penulisan ada beberapa kata yang menyebabkan kesalahpahaman dengan masyarakat Kalimantan Tengah umumnya dan masyarakat suku Dayak khususnya». «Dalam hal ini, tidak sedikit pun niat dari penulis untuk merusak budaya mau pun adat istiadat yang sudah ada».

Agak ganjil juga terasa membaca kalimat-kalimat perisai preventif  ini. Ganjilnya terletak bahwa sebagai penulis, Ghaizah sudah sejak dini merasa dirinya tidak cermat berbahasa.  Bagaimana seorang novelis atau penulis tidak yakin akan kata dan kalimat yang ia gunakan sementara bahasa yang digunakannya bukanlah bahasa asing tapi bahasa nasionalnya sendiri. Memang bahasa erat kaitannya dengan pemahaman. Barangkali kalimat-kalimat tameng preventif di atas, ia tulis karena sadar bahwa pengetahuannya tentang masyarakat Kalimantan Tengah dan suku Dayak memang sangat minim untuk tidak mengatakannya nol besar. Jika demikian, mengapa ia tetap memilih lokasi dan permasalahan yang tidak terlalu ia ketahui dan tidak ia kuasai? Tentu saja cara begini akan penuh resiko. Melanjutkan penulisan dengan pengetahuan minim, bahkan hampir nol, tentang suatu obyek,walau pun bentuk pengungkapan yang digunakan adalah fiksi, tidak lain dari suatu « petualangan » nyata betapa pun ia membawakan pesan baik « bahwa kesalahpahaman bila tidak kita selesaikan dengan cepat, akan membawa pada suatu bencana ». Pesan yang baik bisa dinegasi oleh rincian suatu fiksi dan tidak terlindung oleh perisai preventif berapa tebal halamannya pun. “Hikmah dan manfaat” apa yang bisa didapat dari petualangan nekad dan deskripsi ngawur begini?

Fiksi, betapa pun ia sebuah fiksi, sebelum ia ditulis dan dipublikasikan, niscayanya diawali dengan sebuah studi geografi, antropologi (termasuk adat-istiadat, pakaian), politik, sosiologi, filosofi,  ekonomi, bahasa, sejarah, fauna, flora, hubungan antara etnik dan agama di Kalimantan Tengah, dan lain-lain guna meminimalkan kesalahan. Sayangnya, hal begini agaknya kurang dilakukan oleh Ghaizah Fasya yang mengambil  masalah sentral yang sangat peka yaitu  konflik antara pandangan Islam dan adat suku Dayak. Tanpa melakukan studi (bukan studi ilmu kuping) terhadap soal-soal tersebut, penulis dan teks yang dipublikasikan akan gampang terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan. Dikesankan oleh teks yang diproduksi oleh Ghaizah dan PT Cita Putra Bangsa..justru tidak melakukan hal-hal yang perlu seperti di atas, sekali pun penelitian terhadap hal-hal dasar tersebut berbeda dengan penelitian ilmiah. Kami khawatir dengan modal nol pengetahuan tentang hal-hal di atas, lepas dari keinginan penulis, fiksi yang dipublikasi sebagai teks dengan perjalanan sendiri,  hadir ke tengah-tengah publik  “akan membawa pada  suatu bencana” jika menggunakan istilah Ghaizah sendiri. Teks itu akan meracuni publik dengan deskripsi salah dan ngawurnya tentang daerah dan etnik lain sambil secara ringan berkata untuk mencuci tangan: “O, bukan begitu maksud saya. Tafsiran Anda hanya suatu kesalahpahaman. Salah tafsir. Sikap demikian  memang merupakan salah satu ciri “petualangan intelektualitas” tanpa tanggungjawab yang bisa bersikap “telunjuk lurus kelingking berkait” di hadapan publik. Dan ketika membuka halaman-halaman novel Ghaizah, dari Kata Pengantar hingga halaman terakhir, tidak nampak adanya pengetahuan berupa kutipan dialog berbahasa Dayak lokal disisipkan oleh Ghaizah kecuali motto Kota Palangka Raya, bukan Sampit–yang disebut oleh Ghaizah sebagai “lambang” : “Isen Mulang” (hIm. 123), lalu  kata “lemu” (hlm.68). Kami tidak tahu dari bahasa Dayak  mana kata “lemu” ini diambil oleh  Ghaziah. Kami mengerti maksud Ghaizah dengan kata “lemu” itu yakni “ilmu”, “aji-aji” atau “kaji” dan dengan sedikit pengaruh Bahasa Banjar maka disebut “elmu”. Dalam Bahasa Dayak Ngaju, lingua franca antar Dayak di Kalimantan, “lemu”, kata dasar bagi “balemu” artinya “lemah”. Tapi dengan sedikit menggunakan “kata-kata Dayak” yang tak jelas Dayak mana, barangkali Dayak Ghaziah, Ghaziah ingin meyakinkan bahwa ia  mengerti bahasa Dayak dan masyarakat Dayak. Berlagak atau “jual koyok”, begitulah  kata orang Dayak di Kalimantan Tengah, sedangkan sering terjadi “penjual koyok” di mata masyarakat Dayak merosot ke tingkat badut.  Karena  berlagak tahu tapi sebenarnya tidak tahu.

Ketika menulis novel ini, Ghaziah banyak dibantu oleh keluarga dan teman-teman dari etnik Banjar (Paman Arman). Melalui pergaulan dengan keluarga dan teman-teman Banjarnya inilah penulis mengenal  sedikit sedikit bahasa Banjar dan masyarakat Banjar. Pengenalan terhadap Banjar agaknya jauh lebih banyak dari pengenalan Ghaziah terhadap masyarakat dan budaya Dayak yang dalam novel “petualangan” ini disuarakan dan diwakili oleh Usay. Sedangkan Usay sendiri sejak usia  tiga tahun sudah dipungut serta diasuh oleh keluarga Paman Arman sehingga Usay lebih mengenal Banjar daripada Dayak. Berbahasa Dayak pun ia terpatah-patah. Karena keluarga Paman Arman adalah keluarga Muslim maka sebagai anak angkat, Usay, demikian juga ibunya masuk ke agama Islam, meninggalkan Kaharingan. Melalui mulut Usay yang secara budaya lebih Banjar daripada Dayak, Ghaziah melihat Dayak, bukan dengan metode yang disebut “involvement cultural approach” yang disarankan oleh Prof. Dr. Selo Sumardjan, saat kita berhadapan dan meneliti budaya lain. Jangankan “ivolvement cultural approach”, usaha mentrapkan metode partisipatif pun tidak dilukiskan oleh Ghaziah saat “lima sahabat muslim” itu melakukan petualangan menyusuri dunia gaib. Dalam berhubungan dengan kebudayaan lain, Ghaziah mengukur bajunya sendiri pada badan orang lain, mengukur baik buruk menurut pandangannya sendiri tanpa nampak upaya memahami dan memberi tempat kepada kebudayaan lain. Menggunakan istilah Ghaziah sendiri, dengan cara pandang demikian, lalu di mana letak “keindahan yang ditampilkan oleh ragam budaya dan tempat-tempat pariwisata yang ada di Kalimantan”?

Bercerita tentang apakah Ghaziah  dalam novel 124 halamannya: “Terjebak Dunia Gaib Rimba Kalimantan”?

Palangka Raya, 2009

Andriani S. Kusni & JJ. Kusni

(Bersambung…)

Berita Budaya

Majalah Siswarta  Menerbitkan Cergam

Majalah Siswarta, majalah murid-murid  Sekolah Dasar Siswarta Palangka Raya, asuhan Yayasan Siswarta yang dipimpin oleh Bruder Markus, mulai nomor 13 Tahun II/Juli-Agustus 2009 dalam  setiap penerbitannya secara bersambug menerbitkan cerita bergambar (cergam) dalam tiga bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Dayak Ngaju dan Bahasa Inggris. Cergam itu berjudul “Anak-Anak Gerilyawan Ujung Hurung” dilukis oleh F.X. Suryo Sulistiyo berdasarkan naskah Kusni Sulang. Sebelumnya cerita ini telah difilmkan oleh TVRI Kalimantan Tengah sebagai film cerita anak dan diikutsertan pada lomba film mewakili Kalimantan Tengah dalam rangka ulang-tahun TVRI. Film Anak-Anak Gerilyawan Ujung Murung sudah ditayangkan secara nasional oleh TVRI Pusat, Jakarta pada 18 Agustus 2009 pukul 18.30 WIB.

Penerbitan cergam secara bersambung dimaksudkan sebagai upaya mengisi muatan lokal yang dipandang sebagai suatu keniscayaan oleh Yayasan Siswarta sehingga anak didik mereka tidak menjadi orang yang tercerabut dari akar budayanya. Menurut rencana Yayasan,  cergam pertama ini akan dilanjutkan dengan cergam cerita lain berikut.

Perlu ditambahkan, majalah Siswarta yang terbit dua bulan sekali sejak tahun 2008 ini dibiayai oleh anak-anak SD sendiri secara gotong-royong, demikian pula isinya. Lukisan-lukisan, puisi dan cerita pendek anak-anak selalu mengisi halaman-halaman majalah. Dalam waktu dekat diharapkan segera terbit juga majalah khusus untuk siswa-siswa SMA Siswarta.*** (SP)

KAMELUH TAMBUSU MEMPEROLEH NOMINASI KE-EMPAT

Dalam lomba penulisan cerita rakyat yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan & Pariwisata Propinsi Kalimantan Tengah yang baru-baru ini diselenggarakan, Andriani S. Kusni, penulis Kasongan, Katingan dan juga pengasuh Ruang Seni-Budaya Sahewan Panarung, Harian Dayak Pos telah mendapat nominasi ke-empat melalui kisah Kameluh Tambusu, saduran kontemporer Legenda Bukit Batu, Kasongan.

Dalam lomba penulisan yang dijuri antara lain oleh Bajik R. Simpei, Abdul Fatah Nahan, telah masuk 30 naskah. Dari pihak Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kota Palangka Raya, Sahewan Panarung (SP) memperoleh keterangan bahwa karya-karya ini kelak akan diterbitkan sebagai sebuah buku. Yang belum diketahui, apakah penerbitan ini kelak akan dimanfaatkan sekaligus sebagai bahan muatan lokal di sekolah-sekolah yang hingga sekarang masih perlu mendapat perhatian dan penanganan ataukah penerbitan ini kelak hanya jadi yang disebut “untuk kepentingan sendiri” sehingga tidak bisa dinikmati oleh publik luas.

Dalam cerita yang ditulisnya, penulis Kasongan ini melihat cerita rakyat dari segi terbalik dengan mempertanyakan tuturan yang biasa dalam upaya memahami pesan dan makna legenda-legenda yang ada lebih jauh. Tuturan yang biasa, ia gunakan sebagai sumber.

Arti lain dari lomba penulisan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan & Pariwisata ini jika tidak dilakukan tanpa wacana bahwa ia bisa melahirkan barisan penulis di Kalimantan Tengah yang masih sangat kurang dibandingkan dengan propinsi-propinsi lain.

Perang Kebudayaan Oleh Imam Ali Khamenei



Serangan tanpa persenjataan militer. Politik dan ekonomi adalah senjata perang kebudayaan terhadap prinsip-prinsip dan unsur-unsur kebudayaan umat manusia. (Meriam di Sandung Pahandut, Foto & dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Serangan tanpa persenjataan militer. Politik dan ekonomi adalah senjata perang kebudayaan terhadap prinsip-prinsip dan unsur-unsur kebudayaan umat manusia. (Meriam di Sandung Pahandut, Foto & dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Makna dan maksud “perang kebudayaan” adalah saat suatu kekuatan politik atau ekonomi melakukan penyerangan atau teror halus terhadap prinsip-prinsip dan unsur-unsur kebudayaan umat lain. Serangan tersebut bertujuan merealisasikan keinginannya dan menundukkan  umat dimaksud di bawah  kendalinya. Dalam konteks perang ini, dengan cara paksa, memberlakukan keyakinan dan kebudayaan baru sebagai ganti kebudayaan dan keyakinan lama umat itu. Perang semacam ini bercorak budaya, karena berlangsung diam-diam tanpa menimbulkan kegaduhan atau menarik perhatian.

Perang kebudayaan menghendaki generasi baru melucuti keyakinan dirinya dengan berbagai cara. Pertama, menggoyangkan keyakinan mereka terhadap agamanya. Kedua, memutuskan hubungan mereka dari keyakinan mereka terhadap prinsip-prinsip revolusi. Ketiga, menjauhkan mereka dari pemikiran  efektif yang mampu menghasilkan kekuatan besar yang berwibawa supaya menggiring mereka  untuk merasakan keadaan yang diliputi ketakutan dan ancaman.

Dalam perang kebudayaan, para musuh  berusaha memaksakan unsur budayanya kepada negeri yang diserangnya. Mereka menanamkan keinginan dan kepentingannya jauh di lubuk jiwa bangsa yang dijadikan targetnya. Tentunya sudah dketahui pasti ada kepentingan dan keinginan musuh tersebut.

Perang kebudayaan–sebuah istilah yang saya ulang-ulang dan saya merasakan di hadapannya dengan keperluan khusus yang memenuhi dan menyentuh leberadaanku, hati dan jiwaku– dilakukan berdasarkan  dua pilar yang patut kita perhatikan dengan seksama.

Pertama, menggantikan budaya setempat (lokal)  dengan budaya asing. Praktek ini dalam kenyataannya melanjutkan politik yang dulu pernah diberlakukan di masa Pahlevi. Dulu Pahlevi pernah menjalankan politik ini  secara besar-besaran dan disebarluaskan tanpa mendapat rintangan berarti. Kemudian ia terhenti dengan kemenangan Revolusi Islam. Namun, mereka masih terus melakukan tekanan demi tekanan untuk kembali meratakan jalan bagi tersebarnya budaya asing di seluruh pelosok negeri.

Kedua, melakukan serangan budaya terhadap nilai-nilai yang menyangga Republik Islam dan bangsanya dengan berbagai cara dan sarana. Di antaranya, mengimpor film-film dan drama picisan  berseri produksi asing serta penyebaran buku-buku dan majalah yang ditulis berdasarkan arahan pihak asing.***

(Sumber: Imam Ali Khamenei, “Perang Kebudayaan”,  Penerbit Cahaya, Jakarta Selatan,  April 2005, hlm-hlm. 15-17)

Mendobrak Isolasi Budaya


Merdeka dari isolasi pikiran dan mentalitas jauh lebih rumit daripada merdeka secara fisik. (Patung Pejuang di Taman Monumen Juang’45, Foto & dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Merdeka dari isolasi pikiran dan mentalitas jauh lebih rumit daripada merdeka secara fisik. (Patung Pejuang di Taman Monumen Juang’45, Foto & dok. Andriani S. Kusni, 2009)

“Isolasi”, “membuka isolasi” merupakan ungkapan popular yang banyak digunakan dewasa ini di Kalimantan Tengah semenjak pasangan Teras-Diran menetapkan visi pemerintahannya “Membuka Isolasi Menuju Masyarakat Kalimantan Tengah Yang Sejahtera dan Bermartabat”. Tentu saja yang dimaksud bukan hanya sebatas isolasi fisik, tetapi termasuk isolasi non-fisik antara lain berupa pikiran yang memenjarakan dan mengucilkan. Isolasi non-fisik  barangkali jauh lebih penting lagi dari isolasi fisik karena semua langkah, tindakan dan kebijakan baik perorangan mau pun kolektif dan penyelenggara kekuasaan berangkat dari dermaga berpangkal bernama  pandangan atau pikiran. Keluar dari penjara atau isolasi pikiran dan mentalitas jauh lebih rumit daripada menerobos keluar dari isolasi fisik karena tembok-tembok penjara pikiran dan mentalitas jauh lebih kokoh dibandingkan dengan isolasi. fisik Tidak dibantah bahwa isolasi fisik akan membawa dampak langsung ke sektor-sektor lain tapi isolasi non-fisik yang berbentuk pikiran dan mentalitas juga berdampak jauh lebih dahsyat lagi dibandingkan isolasi fisik. Terkurungnya seorang penulis seperti Pramoedya Ananta Toer di pulau pembuangan Buru selama 14 tahun tidak mengisolasi pikiran dan mentalitasnya. Demikian juga halnya dengan  Dr. Albert Schweitzer ketika ia berada di jantung benua Afrika. Sekali pun mereka terisolasi secara fisik tapi secara pikiran dan mentalitas, mereka bebas, tidak terpenjara, tidak terkekang. Kemerdekaan pikiran dan mentalitas ini dari tangan Pram telah dilahirkan Tetratologi Pulau Buru yang ternama itu. Sebaliknya tidak sedikit orang yang tidak terkurung secara fisik tapi pikiran dan mentalitasnya terpenjara, terisolasi. Terisolasi, terpenjara dan terkungkung tidak pikiran dan mental termasuk masalah kebudayaan. Isolasi budaya ini barangkali bukan hanya masalah Kalimantan Tengah, tapi merupakan masalah nasional. Untuk mendobrak isolasi budaya yang menghambat jalan maju ini, Presiden Soekarno menetapkan “kebudayaan yang berkepribadian nasional” sebagai politik kebudayaannya. Menekankan perlunya national character building, melawan text book thinking, melawan musik ngak-ngik-ngok, mengganyang dominasi film Amerika Serikat melalui AMPAI sebagai agen penyalurnya, dalam upaya membangun kebudayaan nasional yang demokratik dan ilmiah. Ketika kita berbicara tentang masalah kebudayaan berarti kita memasuki masalah pandangan hidup, filosofi yang holistik, nilai dominan dalam suatu masyarakat di suatu kurun waktu dan ruang tertentu. Filosofi, pandangan hidup yang membimbing tindakan, pilihan politik dan kebijakan serta dermaga berangkat saat menetapkan visi dan misi. Dengan demikian, maka boleh jadi bisa nampak apa arti pendekatan kebudayaan dalam kehidupan politik, ekonomi dan sosial. Pendekatan kebudayaan, jadinya merupakan pendekatan hakiki dan bukan pendekatan sebatas kulit luar atau sebatas permukaan.

Apakah pasangan Teras-Diran dalam visi-misinya sudah memperhatikan masalah pendekatan kebudayaan ini? Memang dikatakan bahwa kebudayaan termasuk bidang urgen dalam visi-misi itu dan diletakkan pada urutan keenam. Sementara resiko konflik  di masyarakat bawah  banyak contoh memperlihatkan diri dalam bentuk konflik budaya. Bersumber pada masalah kebudayaan seperti larangan membakar lahan, konflik dengan perkebunan, masalah miras dan narkoba atau perjudian serta pemerkosaan, money politic, KKN, arah pendidikan, PNS sebagai pekerjaan idola, kepasifan, menempatkan kegiatan berkesenian sebagai paket proyek, masalah adat dan lembaga-lembaga adat yang diformalkan  ke dalam birokrasi, mempolitisir soal etnik dan agama,   pola pikir dan mentalitas mie instant, budakisme,  eskapisme,  malas berpikir, jual-beli ijazah,  latahisme, dan sebagainya, dan sebagainya.

Pemahaman terhadap bidang kebudayaan yang minim lebih menampakkan diri secara telanjang melalui pandangan bahwa “pekerjaan kebudayaan hanya membuang-buang uang”. Mengikuti alur pikiran ini secara konsekuen maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa daripada membuang-buang uang, seniscayanya Dinas Kebudayaan dihapuskan saja. Untuk apa dipertahankan jika kebudayaan hanya membuang-buang uang? Sejalan dengan pandangan “membuang-buang uang” ini maka ketika komunitas-komunitas mengharapkan bantuan dana untuk berkegiatan, jawaban klasik selalu terdengar “tidak ada dana disediakan untuk kegiatan demikian”,. dan jawaban-jawaban yang senada. Uang nampak menjadi filosofi pembimbing, sekaligus memperlihatkan posisi “uang adalah raja” sebagai nilai dominan. Nilai dominan ini kemudan mengerem laju kegiatan dan kehidupan kebudayaan, sepinya dunia penelitian, penerbitan,  dan penciptaan. Padang lengang pun terhampar. Padang sepi bernama kerdilnya apresiasi  di mana kebudayaan berbagai bentuk berangsur-angsur terkubur. Inikah embrio dari masyarakat tanpa kebudayaan atau beginikah wujud masyarakat saat kebudayaan terisolasi? Pikiran manusia dalam kerangkeng? Tapi rasanya “Masyarakat Kalimantan Tengah Yang Sejahtera dan Bermartabat” akan mustahil tercapai dengan kebudayaan dalam kerangkeng. Kerangkeng budaya dan isolasi terhadap kebudayaan ini, seniscayanya  didobrak guna membangun Kebudayaan Kalimantan Tengah Yang Zamani.

JJ. Kusni

Palangka Raya, 2009

Catatan Panarung Andriani S. Kusni

Andriani S. KusniNomor Khusus Sahewan Panarung

Senin, 31 Agustus 2009

Isolasi Budaya

REFORMASI BESAR BUDAYA YANG TODDOPPULIS *)

Suara dan kata-kata Cornelis Lay dari Universitas Gadjah Mada, ketika berjumpa di Hotel Aquarius 4 Agustus 2009 saat peluncuran buku Kalimantan Tengah Membangun Dari Pedalaman & Membangun Dengan Komtmen,  masih terngiang-ngiang di rongga telinga. Dalam pembicaraan santai di depan lift sebelum berpisah , waktu itu Cornelis mengatakan antara lain bahwa “kalau mau jujur, sebenarnya Kalimantan Tengah masih sangat terbelakang dan tertinggal dibandingkan dengan propinsi-propinsi lain. Tapi ia akan melesat maju jika ia bisa melakukan pendekatan baru yang bersifat konseptual dan budaya”.  Saya menemukan keresahan saya  selama ini menemukan perumusannya melalui ungkapan Cornelis. Keresahan yang mungkin dianggap oleh sementara orang sebagai “selalu mengkritisi dan mengkritisi tak habis-habisnya tentang keadaan, seakan-akan tidak ada yang benar. Konsep kemasyarakatan adalah suatu grand design tentang kemasyarakatan. Grand design ini kemudian dituangkan dalam visi-misi serta program berbagai tingkat. Grand design adalah gambaran dari mind set. Dan justru pada mind set inilah kebudayaan menyarikan diri secara terpusat yang . kemudian mewujudkan diri ke dalam pilihan politik dan segala kebijakan.  Soal-soal konseptual, termasuk mind set atau pun society grand design termasuk bidang yang digeluti oleh Litbang atau Tim Ahli penyelenggara kekuasaan politik, lembaga akademi, penerbitan  bahkan perusahaan-perusahaan. Para seniman dan budayawan pun tergolong mereka yang menggeluti bidang tersebut, pergelutan yang oleh Cornelis Lay dikatakan sebagai bukanlah pergulatan sederhana. Lulusan sekolah tinggi tanpa wacana, tanpa society grand design dan mind set yang berpihak kepada kemanusiaan boleh jadi kepakarannya akan berhenti pada tingkat ketukangan. Yang diperlukan oleh Kalimantan Tengah adalah tenaga yang pakar dan manusiawi dengan gaya kerja yang tak takut susah payah dan pendirian yang tegar menyetiai komitmen merakyatnya. Bukan sekedar tukang. Pendidikan, seniscayanya membentuk manusia dan sumber daya manusia yang demikian. Dengan tersedianya sumber daya manusia demikian bisa diharapkan bahwa Kalimantan Tengah akan maju melesat dalam mewujudkan mimpi-mimpi lama seluruh masyarakat. Salah satu kendala melesatnya Kalimantan Tengah sampai hari ini barangkali terletak pada kontradiksi antara kultur dan struktur, kontradiksi yang belum mendapat perhatian dan belum dijamah sebagai metode pendekatan. Bahkan masalah kegiatan kebudayaan dipandang sebagai “kegiatan yang membuang-buang uang”, penelaahan, penelitian budaya untuk menimba nilai-nilai lokal yang ada belum menarik kesadaran sehingga nampak kecenderungan melenyapnya  secara berangsur-angsur nilai-nilai lama yang masih tanggap zaman. Dalam keadaan demikian, secara kebudayaan, Kalimantan Tengah tidak mempunyai benteng budaya yang kokoh dalam berdialog dan menyaring masuknya budaya dari luar. Nilai-nilai dan budaya luar ditelan begitu saja atas nama “globalisasi” , atas nama “modernitas , kebhinnekaan tidak dirasakan sebagai kekayaan budaya. Dikhawatirkan ketika Kebudayaan Kalimantan Tengah sudah demikian majemuk, kita masih menganggap kebudayaan daerah ini masih tunggal, yang bisa berdampak negatif bagi hubungan antar komposisi demografis yang sudah jauh berobah. Kebudayaan dipandang sebagai  tidak lebih dari pergelaran tari-tari, pakaian adat, atau perlombaan kecantikan,hal-hal yang seremonial, dan lain-lain, tanpa menyelami lebih dalam tampilan luar seni pertunjukan, drama, karya-karya  sastra-seni itu. Kegiatan-kegiatan ini pun dijadikan bagian dari satu “proyek”. “Proyek”, “paket proyek”, secara tak disadari terbentuk menjadi satu “identitas”, suatu mind set. Terasa ada kekurangan terhadap konsep budaya pada kita, terutama dari pihak penanggungjawab bidang kebudayaan. Dinas Kebudayaan (yang niscayanya dipisahkan dari Kepariwisatawan), demikian juga Dewan Kesenian, sebenarnya mempunyai fungsi sebagai organisator kegiatan kebudayaan. Organisasator kebudayaan yang berwacana budaya. Paham kebudayaan. Terbangunnya Jembatan Kebudayaan dalam masyarakat yang selalu majemuk akan membantu kita membangun Budaya Kalimantan Tengah sebagai  Betang Budaya, yang mengerahkan semua unsur demografis melesat tinggi dan maju bersama. Pendekatan agama dan etnik dalam politik–tanda dari tingkat kekanak–kanakan dunia politik kita – barangkali dengan demikan berangsur-angsur menjadi kadaluwarsa.  Reformasi besar budaya, nampaknya merupakan keperluan mendesak propinsi ini. Jika terjadi reformasi besar budaya ini bisa dipastikan ia merambah ke segala jurusan, bersifat toddoppuli, ujar orang Bugis. Reformasi besar toddoppulis kebudayaan tentu bukanlah hal yang gampang, Bahkan sangat sulit, tapi barangkali pengalaman Nelson Mandela  dari Afrika Selatan, yang ia simpulkan dalam kata-kata “Tidak ada sesuatu yang hebat selain ketika anda berhasil mengubah suatu tempat yang sulit berubah, dan menemukan jalan perubahan seperti yang anda inginkan”,  bisa dijadikan acuan dan penyemangat sebab “saat anda.berhenti berubah saat itu jugalah (hidup) anda berakhir”, ujar Benjamin Franklin, filsuf dan penulis Amerika Serikat. Akankah hidup Kalimantan kita berakhir dalam kemandegan dan keterpurukan?***

Dalam upaya memperlihatkan arti penting masalah kebudayaan dan apa permasalahan kebudayaan itu, maka  Pengasuh Ruangan Seni-Budaya Sahewan Panarung mengetengahkan tulisan satu tulisan oleh Imam Ali Khamenei sebagai acuan. Perang Kebudayaan dan agresi kebudayaan  terhadap budaya Dayak sampai sekarang masih saja berlangsung. Politik “ragi usang” bentuk baru sekarang diterapkan untuk mengagresi kebudayaan Dayak. Menurut kesimpulan Tim Penyusun buku Potret Sepuluh Tahun Keuskupan Palangka Raya, “Bagi orang Dayak musuh yang dikenal hanyalah musuh yang menyerang  secara fisik” (2003:15), artinya orang  Dayak tidak sadar akan arti dan bahayanya agresi  kebudayaan. Barangkali karena keadaan demikianlah maka kebudayaan Dayak sekarang menghadapi kehidupan yang tersengal-sengal.

*). Toddoppulis, berasal dari kata “toddoppuli”, bahasa Bugis yang berarti “menyerang ke segala jurusan. Pada masa perang perlawanan terhadap pendudukan Belanda, kata ini digunakan sebagai nama sebuah resimen terkemuka di Sulawesi Selatan yaitu Resimen Toddoppuli

PERLUNYA RISET DALAM PENULISAN SEJARAH -Melihat Sepintas Penulisan Sejarah Masyarakat Dayak-

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Anak-Anak Kami)

Secara tak terduga, kami bertemu kembali dengan Yohanes Eugene, teman lama, seorang Dayak Taman yang kami kenal saat berlangungnya Kongres Nasional Kebudayaan Dayak yang diselenggarakan oleh Institut of Dayakology Research and Development, di Pontianak tahun 1991. Setelah 18 tahun kemudian, tentu saja wajahnya sangat jauh berobah. Tapi begitu bertemu di Gedung Olah Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Proponsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya, saat penyelenggaraan Temu Teater Se-Kalimantan Ke-VI (13-16 Agustus 2009), Yohanes segera mengenalku. Kami berpelukan hangat lalu terlibat dalam pembicaraan yang mengalir seperti arus tak punya henti dari satu satu tanjung dan rantau persoalan ke tanjung dan rantau lain. Yohanes Eugene yang kami panggil Jo, sekarang tumbuh menjadi seorang dewasa, salah seorang tokoh musik, perupa dan dunia seni di Kalimantan Barat. Sering mengikuti pertemuan-pertemuan kebudayaan tingkat nasional seperti pertemuan di Bali yang membicarakan masalah UU Tentang Pornografi & Pornoaksi. Ia banyak berpergian ke berbagai daerah yang jauh hingga pedalaman dan kaki-kaki gunung di seluruh pulau Kalimantan, baik yang wilayah Republik Indonesia, mau pun wilayah Malaysia, termasuk kawasan yang disebut Jantung Borneo (Heart of Borneo).

Hujan deras di luar gedung pertunjukan seperti tangan langit mau membersih asap dan debu dari hutan yang terbakar dari angkasa kota. Kami melanjutkan pembicaraan di bawah suhu yang menyejuk.

Pertama-tama tentu saja yang kami bicarakan adalah perkembangan berkesenian di Kalimantan Barat. Setelah itu Jo membicarakan tentang perkembangan kehidupan teater dan kesenian pada umumnya di Kalimantan Barat yang menurut tuturannya mengalami kemajuan pesat relatif merata. Mulai dari kota-kota kabupaten hingga ke Pontianak sebagai ibukota terdapat komunitas-komunitas sastra-seni yang aktif. Demikianlah perkembangan kesenian yang berlangsung dalam 19 tahun di Kalimantan Barat.

Pembicaraan kami alihkan ke Pertemuan Damai Tumbang Anoi 1894 yang oleh Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) sebagai hasil Rapat Pimpinannya terakhir bulan lalu diusulkan agar diperingati saban tahun karena dipandang sebagai titik awal masyarakat Dayak mengenal cahaya peradaban dan modernitas. Padahal jika dilihat benar, Pertemuan Damai Tumbang Anoi 1894 adalah titik awal legalisasi kolonialisme Belanda dan menurut Prof. DR. Ahim S. Rusan et.al.:

“Dengan usainya Rapat Damai Tumbang Anoi atau disebut Pertemuan Tumbang Anoi (Mei-Juli 1894) ternyata nasib Sulu Dayak bukannya tmenjadi semakin bertambah maju, malahan membuat mereka menjadi semakin terbelakang. Belanda telah dapat menancapkan cengkeraman penjajahannya di seluruh Kalimantan kawasan Hindia Belanda.. Hampir dalam semua hal mereka tidak mendapat/tidak diberikan hak-hak yang telah diakui oleh Negara” (DR. Ahim S. Rusan, 2006: 73; Tjilik Riwut, 1958: 175-178).

Menggunakan sumber dari Barnamas Masuka Jating, salah seorang Pangkalima Kalimantan Barat, Jo menjelaskan bahwa yang disebut Rapat Damai Tumbang Anoi itu sebenarnya bermula dari permintaan pemerintah Jerman untuk mencari mayat Schwanner, seorang Kapten tentara Jerman dan Müller, seorang anak bangsawan Jerman, yang terbunuh di Kawasan Jantung Kalimantan. Untuk keperluan tersebut dan kepentingan kolonialismenya, maka Belanda memerlukan perdamaian dengan orang Dayak. Maka lahirlah prakarsa Rapat Damai Tumbang Anoi 1894 itu.

Perihal perdamaian antar suku-suku Dayak, sebenarnya proses situ bisa dan terbukti berlangsung dengan kasus bagaimana mereka mengeroyok Bo Lejo dari Kalimantan Timur yang terkenal sangat agresif. Dayak-Dayak dari berbagai daerah, termasuk Iban dari Sarawak,  balas menyerang sehingga Bo Lejo meminta damai sampai dua kali. Suku-suku saling menghormati batas wilayah mereka masing-masing.

Adanya keterangan Jo berdasarkan narasumbernya di atas, barangkali mengharapkan kita perlu memikir ulang penilaian terhadap Rapat Damai Tumbang Anoi yang dnilai demikian tinggi berdasarkan datas-data yang patut dipertanyakan akurasinya, tapi atas akurasi yang patut diragukan ini, malah diusulkan untuk diperingati saban tahun. Cek-recek data nampaknya masih perlu dilakukan untuk tidak sampai jatuh ke jerat langkah yang blunder dan menertawakan.  Akurasi data dalam sejarah tidak bisa digantikan dengan emosi dan atau dugaan, apalagi politisasi data.

Dayak, Kalimantan sesungguhnya menurut Jo terdapat di Jatung Kalimantan (Heart of Borneo)  yang sekarang mencakup wilayah Kalimantan Indonesia dan Malaysia, di mana bertemu sungai-sungai besar dari berbagai daerah atau propinsi. Daerah ini tidak tertemus oleh kolonialisme Belanda atau pun Jepang. Pertemuan Damai Tumbang Anoi barangkali dimaksudkan juga oleh Belanda guna menetralisasi Jantung Borneo ini. Pertanyaan lain, apakah penyelenggaraan Pertemuan Damai Tumbang Anoi dan keputusannya, di satu segi tidak bermula dari tekecohnya Damang Batu sebagai organisator kunci? Mengapa terkecoh? Pertanyaan ini pun patut dikaji dan tidak bisa dijawab dengan pujian serta kekaguman membuta sehingga seorang tokoh muncul sebagai tanpa cacat.

Dengan pertanyaan-pertanyaan di atas dan pertanyaan-pertanyaan lain sekitar Pertemuan Damai Tumbang Anoi 1894 itu, nampak adanya keniscayaan riset cermat diperlukan. Adanya riset sejarah dan kebudayaan yang cermat, sebelum memberikan evaluasi definitif serta mengambil keputusan untuk merayakan tidaknya peringatan setiap tahun atas penyelenggaraan terhadap Pertemuan  Damai Tumbang Anoi, sebelum menyebut Pertemuan Damai Tumbang Anoi sebagai awal masuknya orang Dayak ke dunia modernitas dan terbitnya fajar peradaban di kalangan masyarakat Dayak. Tanpa penelitian dan kajian cermat demikian maka keputusan dan evaluasi bagaimana pun tidak lebih suatu praduga tak berdasar dan keputusan yang gegabah, paling tidak akan bersifat terlalu dini yang mempertontonkan kekurangan cerdikan yang mendekati budaya latah . Riset dan riset, sekali lagi riset niscaya dilakukan dalam penulisan sejarah yang relatif obyektif dan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Pembicraan dengan Jo juga menyentuh soal Partai Dayak di Kalimantan Barat yang hampir bersamaan munculnya dengan Pakat Dayak di Kalimantan Tengah di tahun-tahun 20an, tahun-tahun menjelang Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda, tahun-tahun bertamba maraknya semangat nasionalisme. Perlu ditambahkankan bahwa semangat nasionalisme dan kemerdekaan serta anti pnjajahan pada waktu itu mencapai puncak dengan meletusnya pemberontakan nasional yang dikenal dengan nama Pemberontakan Nasional 12 November 1926 di bawah pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI). Setelah pemberontakan nasional pertama ini dikalahkan, para pengikutnya dibuang ke Tanah Merah (Boven Digul). Dari Kalimantan Barat Dgranding Abdul Rachman yang juga dikenal dengan nama Grendeng turut dibuang. Seperti halnya Pakat Dayak yang mempunyai penerbitan « Soeara Pakat », Partai Dayak di Kalimantan Barat juga mempunyai penerbitan di mana Grendeng turut aktif menulis.

Keadaan tersebut menimbul pertanyaan : Adakah dan sejauh mana peranan Grendeng dalam lahirnya Partai Dayak? Adakah pengaruhnya, sebagai orang Dayak terhadap lahirnya Pakat Dayak? Jika ada sejauh mana pengaruh dan peranannya? Nama Grendeng atau Dgrandung Abdul Rachman, pertama kali kami dengar dari keterangan Mbah Ramidjo, dan Haji Dasuki Sirad, dua seorang anggota PKI 1926 yang turut dibuang ke Boven Digul. Waktu itu almarhum sedang berbaring di sanatorium Nanking, Republik Rakyat Tiongkok . Haji Dasuki Sirad adalah salah seorang tokoh PKI 1926L lulusan Al Azhar Kairo. Apa- siapa  Grendeng yang oleh Mbah Ramidjo disebut Grenjeng, sampai sekarang belum pernah diselidiki oleh siapa pun termasuk oleh peneliti-peneliti Dayak.

Lepas dari kekurangan kisah tentang Grendeng ini, dari kisahnya, demikian juga dari kehadiran tokoh-tokoh Pakat Dayak dalam Kongres Pemuda, Oktober 1928, nampak bahwa perjuangan masyarakat Dayak tidak terpisah dan tidak terlepas dari perjuangan nasional melawan kolonialisme Belanda untuk kemerdekaan. Perjuangan dan perkembangan masyarakat Dayak tidaklah berdiri sendiri. Partai Dayak dan Pakat Dayak membuat latar belakang sejarah tersendiri dan perjuangan, ide-ide serta semangatnya jauh berbeda dari Pertemuan Damai Tumbang Anoi, pertemuan yang menandakan legalisasi dan pengakuan terhadap kolonialisasi Belanda atas Tanah Dayak. Barangkali lahirnya Pakat Dayak-lah justru yang lebih pantas diperingati sebagai hari kebangkitan kesadaran nasional masyarakat Dayak. Semangat Pakat Dayak, kami kira adalah kemerdekaan dalam arti luas, adalah serangkaian nilai  yang  terkandung dalam kata Republik: kebebasan, kesetaraan dan persaudaraan, sesuai dengan konsep hidup-mati Dayak “rengan tingang, nyanak jata” (anak enggang putera-puteri naga) atau konsep “hatamuei lingu nalata” (saling mengembara jiwa dan pikiran satu dan yang lain), atau konsep “hatindih kambang nyahun tarung, mantang lawang langit” (berlomba-lomba menjadi anak manusia yang manusiawi, dan konsep-konsep budaya Kaharingan yang lain (Kami tidak menggunakan istilah Agama, tapi Budaya Kaharingan.Juga tidak budaya betang. Betang lahir dari konsep budaya Kaharingan dan dilahirkan oleh lingkungan. Filosofi Dayak terdapat pada budaya Kaharingan). Konsep-konsep yang kami nilai tetap tanggap zaman, betapa pun ia sudah ada jauh sebelum Pertemuan Damai Tumbang Anoi 1894.

Mengklasifikasi sejarah masyarakat Dayak Baru pasca betang barangkali patut dipertanyakan akurasi ilmiahnya – jika mau menggunakan kata ilmiah. Memasukkan lembaga ini dan itu pasca Pakat Dayak sebagai bagian dari perjalanan Pakat Dayak, kami khawatirkan politisasi sejarah dan kenyataan. Wujud dari memperlakukan sejarah sebagai gelanggang pertarungan politik.

Keadaan di atas agaknya mengatakan bahwa riset dan riset sekali lagi riset budaya dan sejarah, merupakan pekerjaan mendesak bagi Kalimantan Tengah khususnya dan, Kalimantan pada umumnya. Sejarah perlu ditulis kembali. Direkonstruksi lagi. Kamingnya masalah kebudayaan di propinsi ini dipandang sebagai “kegiatan  membuang-buang uang” diturunkan ke tingkat eternainment (hiburan) belaka.***

Palangka Raya, 2009

Andriani S. Kusni & JJ. Kusni