Antologi Puisi Terjemahan

PUISI-PUISI ALIHBAHASA OLEH JJ. KUSNI

GACELA CINTA SIA-SIA

malam menolak tiba
kau pun tak datang
sedang aku tak bisa menjelang

tapi aku kan berangkat juga
kendati pelipisku mesti makan matahari kalajengking.

dan belakangan kau menyusul datang
dengan lidah dibakar hujan garam

siang menolak datang
kau luput dari pandang
sedang aku juga terhalang

tapi aku akhirnya datang juga
menyerahkan ke tunanetra anyelirku yang cedera

malam dan siang menolak datang
akhirnya aku mati untukmu
dan kau pun mati untukku

GACELA SOUVENIR ASMARA

jangan bawa kenanganmu
biarkan ia sendiri di hatiku

gemetar pepohonan céri putih
dalam martir bulan januari

sebaris tembok mimpi buruk
memisahkan aku dari maut

setangkai leli langka kupersembahkan
bagai hadiah bagi hati yang beku

di taman saban malam, mataku
ibarat dua ekor anjing perkasa

sepanjang malam mengepung meronda
pojok demi pojok dan segala bisa

angin terkadang bagaikan
kembang tulip kengerian

dialah kembang tulip duka
kerna pagi beku musim dingin

sebaris tembok mimpi buruk
memisahkan aku dari maut

kabut menyelimut keheningan
lembah kelabu tubuhmu

di bawah lengkung perjumpaan dahulu
belukar racun sekarang menghutan

tapi tinggalkan untukku kenanganmu
biarkan sendiri ia di situ di kalbuku

Alihbahasa: JJ. KUSNI
Sumber: Federico Garcia Lorca,”Poésies III. 1926-1936″, Gallimard, Paris,
1954,hlm.155.

KASIDA MAWAR
mawar
tak mengejar fajar:
hampir abadi di dahannya,
hal lain yang disasar

mawar
tak memburu ilmu dan bayang:
dihalang jasad dan angan
hal lain yang dipegang.

mawar
tak mengejar mawar,
tak beranjak dari langit
hal lain yang bangkit

SENANDUNG UNTUK MERCEDES YANG MATI

demikianlah kau pun tidur
di perahu kayumu di pinggir tebing
pangeran puteri putih tak tertanding!

tidur dalam malam yang dalam,
tubuh bumi dan salju!
tidur dalam fajar warna putih! tidurlah!

dan demikianlah kau pun kian menjauh tertidur
di perahu kabut tipis dan mimpi sepanjang tebing!

KASIDA TANGAN TAK TERGAPAI

tak ada lain yang kuingini kecuali satu tangan, tangan ini
sebuah tangan luka — inipun jika mungkin terjadi
tak ada lain yang kuingini kecuali satu tangan, tangan ini
kendatipun ribuan malam tiada ranjang kumiliki

tangan itu adalah kembang leli putih warna kapur
tangan itu adalah merpati tertambat di hatiku,
tangan itu adalah pengawal malam kematianku
yang tegas melarang bulan masuk menyerbu

tak ada lain yang kuingini kecuali tangan, tangan ini
yang kujadikan minyak hari-hari
dan sprei putih kematianku.
tak ada lain yang kuingin kecuali tangan, tangan ini
untuk menyangga sebuah sayap kematianku.

selebihnya berlalu
warna merah cacat muka pun sudah tak bernama, bintang kekal.
selebihnya adalah yang lain: angin duka,
sedangkan dedaunan berhamburan melayang

Alihbahasa: JJ.KUSNI
Sumber: Federico Garcia Lorca, “Poésies III. 1926- 1936”, Editions
Gallimard, Paris, 1954.
IV.KASIDAH PEREMPUAN TIDUR

Oleh Federico Garcia LORCA

Telanjang kau berbaring, mengingatkan pada Bumi
Bumi yang licin dan kuda-kuda perawan,
Bumi licin tanpa kemerut, murni ujud,
tertutup ke haridepan: berbatasan perak.
Aku melihatmu telanjang, kupahami lalu kecemasan
hujan mencari benih-benih ranumbelia,
demam laut di wajah terbentang
tanpa menjumpai kilau permainan.
Melalui ranjang-ranjang darah menggelora
dan datang merengkuh besi-besinya mengkilat,
tapi di mana berlindung akupun tak tahu
untuk jiwaku cacat atau lembayung.
Perutmu adalah pertarungan mengakar,
bibir-bibirmu adalah fajar tanpa kontur.
Di bawah mawar-mawar hangat ranjangmu
Ajal menritih menunggu giliran

V. KASIDA MIMPI DI LANGIT TERBUKA

Bunga jasmin dan banteng di sembelih.
Jalan tak berujung. Kartu. Ruangan. Harpa. Dan dinihari.
Gadis kecil membayangkan seekor banteng dari bunga jasmin
Dan banteng itu adalah senja berdarah yang menjerit
Kalau langit adalah anak kecil yang begitu mungil
bunga-bunga jasmin menjadi seorang perempuan yang berduka,
Dan banteng itu sirkus biru tanpa pertarungan
dengan jantung di kaki sebatang tiang

Tetapi langit adalah seekor gajah,
bunga jasmin adalah air kekurangan darah
sedangkan gadis adalah serangkum nokturno
di atas jalan besar yang buram.
Antara bunga jasmin dan banteng
cantolan-cantolan gading ataqu orang-orang terlena.
Dalam bunga jasmin seekor gajah dan gemawan,
dalam banteng kerangka badan gadis kecil

VI. KASIDAH TANGAN YANG SIA-SIA

Aku hanya menginginkan sebuah tangan
Hanya tangan yang lukaa, kalau bisa.
Saya hanya menginginkan sebuah tangan,
walaupun seribu malam aku tak beranjang.

Ranjang itu adalah ranjang putih kapur
ia semestinya seekor merpati yang tertambat di jantungku,
ia semestinya penjaga malam kematianku
yang mutlak melarang bulan menyusup.

aku bagai minyak hari-hari
dan sprei putih ajalku.
Aku hanya menginginkan tangan ini
Penopang sayap-sayap kematianku.
Selebihnya biarkan.
Tanpa nama sudah kemerahakan wajah, bintang abadi.
Selebihnya adalah soal lain: angin nestapa,
Sementara dalam gerombolan dedaunan berlari

VIII. KASIDAH GADIS KENCANA

Gadis kencana
mandinya di air
dan air kencana
Ganggang laut, dedahanan
Cemburu dalam bayangan
dan rosinyol
untuk gadis putih
yang menyanyi
Tibalah cahaya malam
bagai tembaga yang buruk,
gunung-gunung terkelupas
di bawah kelam yang pecah.
Gadis itu basah
Putih dalam air,
Dan air bagai nyala.
Datang fajar tanpa cela
— seribu mongong lembu –
dalam kain kafan kaku,
terangkai
beku
Gadis kecil itu meratap
mandi dalam api,
dan burung-burung rosinyol
terbakar sayap-sayapnya,
menangis.
Gadis kencana
Adalah burung bangau
putih, di air kencana

Alihbahasa JJ. Kusni
Sumber: Federico Garcia LORCA, “POESIES III 1926-1936”,
Editions Gallimard, Paris, 1954
Sanjak-sanjak Federico Garcia LORCA
Alihbahasa: JJ: KUSNI

1.KASIDAH ANAK YANG DILUKAI AIR

Aku ingin turun hingga ke sumur,
aku ingin memanjat tembok-tembok Granada
untuk melihat hati yang lobang
oleh bor air yang hitam.
Anak luka merintih
bermahkotakan kebekuan
Tempayan, tangki dan fonten
di tengah angin mengacungkan pedang-pedang mereka.
Ai, alangkah ganasnya cinta, alangkah melukainya tikaman,
wahai berita burung malam, alangkah putihnya ajal!
Betapa lengangnya cahaya melengkung
pasir-pasir pagi!
Anak itu sendiri
Bersama kota yang terlena di lehernya.
Secercah air memercik dari dukanya
yang membelanya dari lapar ganggang laut.
Anak itu dan ajalnya hadap-hadapan,
Bagaikan dua hujan hijau lilit-melilit.
Anak itu terbujur di bumi
dan ajal bersandar kepadanya
Aku ingin turun ke sumur ,
Aku ingin, di garis-garis lempang , membunuh ajalku ,
Aku ingin mengisi buih jantungku,
demi anak yang dilukai air

III. KASIDAH DEDAHANAN

di bawah pepohonan Tamarit
anjing-anjing timah berdatangan tiba
menunggu jatuhnya dedahanan
menununggu remuknya kesendirian
Pohon Tamarit mempunyai sebatang apel
dihasebuah apel sedu-sedan.
Burung rosinyol bernafas lega
Dihalau debu kuau berlalu
Tapi dedahanan punya kegembiraan mereka,
dedahanan bagaikan kita.
Lupa hujan lalu terlena
dengan segera, demikianlah dedahanan.

Di lutut-lutut mereka menggenang air
dua lembah menunggu musim gugur.
Remang-remang di jejak gajah
menggerakkan dahan dan pohon-pohon
Di bawah pepohonan Tamarit
banyak anak bertutup cadar,
menunggu jatuhnya dedahananku,
menunggu remuknya kesendirian.

1.KASIDAH ANAK YANG DILUKAI AIR

Aku ingin turun hingga ke sumur,
aku ingin memanjat tembok-tembok Granada
untuk melihat hati yang lobang
oleh bor air yang hitam.
Anak luka merintih
bermahkotakan kebekuan
Tempayan, tangki dan fonten
di tengah angin mengacungkan pedang-pedang mereka.
Ai, alangkah ganasnya cinta, alangkah melukainya tikaman,
wahai berita burung malam, alangkah putihnya ajal!
Betapa lengangnya cahaya melengkung
pasir-pasir pagi!
Anak itu sendiri
Bersama kota yang terlena di lehernya.
Secercah air memercik dari dukanya
yang membelanya dari lapar ganggang laut.
Anak itu dan ajalnya hadap-hadapan,
Bagaikan dua hujan hijau lilit-melilit.
Anak itu terbujur di bumi
dan ajal bersandar kepadanya
Aku ingin turun ke sumur ,
Aku ingin, di garis-garis lempang , membunuh ajalku ,
Aku ingin mengisi buih jantungku,
demi anak yang dilukai air

III. KASIDAH DEDAHANAN

di bawah pepohonan Tamarit
anjing-anjing timah berdatangan tiba
menunggu jatuhnya dedahanan
menununggu remuknya kesendirian

Pohon Tamarit mempunyai sebatang apel
sebuah apel sedu-sedan.
Burung rosinyol bernafas lega
Dihalau debu kuau berlalu
Tapi dedahanan punya kegembiraan mereka,
dedahanan bagaikan kita.
Lupa hujan lalu terlena
dengan segera, demikianlah dedahanan.
Di lutut-lutut mereka menggenang air
dua lembah menunggu musim gugur.
Remang-remang di jejak gajah
menggerakkan dahan dan pohon-pohon
Di bawah pepohonan Tamarit
banyak anak bertutup cadar,
menunggu jatuhnya dedahananku,
menunggu remuknya kesendirian.

MENYANYIKAN BULAN DI GUNUNG EMEI
Oleh Li Bai

Di gunung Emei (1) bulan bundar terbelah dua
Wajahmu membayang di air sungai Pingqiang
Malam ini aku meninggalkan Qingxi (2)pergi ke Tiga Jurang
Menuju Yuzhou (3) kernanya kukira kita tak lagi bisa bersua

Catatan:
(1). Gunung Emei terletak di Propinsi Sichuan, di baratlautnya mengalir sungai Pingqiang.
(2). Qingxi, nama lama sebuah tempat persinggahan di dekat Gunung Emei.
(3). Yuzhou , sekarang berganti nama ;enjadi Congqing.

GENTA

Oleh: Guillaume APPOLINAIRE

Jipsiku yang tampan buah hatiku sayang
Dengarkanlah gentang yang berdentang
Sedangkan kita berdua saling menyayang
Kepercayaan adalah urusan orang-seorang
Tapi pesembunyian kita tak padan, malangnya
Genta-genta yang meronda
Dari ketinggiannya memandang kita
Dan menuturkan kepada semua
Besok Cyprien dan Henri
Marie Ursula dan Catherine
Tukang roti dan suaminya
Lalu Gertrude saudara kandungku
Menyenyumiku kala kulalu
Menaruh muka aku tak tahu
Dan kaupun jauh yang membuatku tersedu
Boleh jadi mati lebih baik bagiku

(Dari kusanjak Alkohol)
Sumber: Jean-Marc Debenetti, “La Poesie Moderniste”
France Loisirs, Paris 1992.
Alihbasa: JJ. KUSNI

SANJAK WALT WHITMAN*]

AKU MENDENGAR AMERIKA MENYANYI

Aku mendengar Amerika sedang menyanyi, aku mendengar rupa-rupa litani,
Nyanyian para montir yang menyanyikan lagu begitu gairah dan perkasa, lagu
tentang diri sendiri,
Tukang kayu menyanyi ketika mengukur papan dan memalu,
Tukang batu berlagu ketika siap dan usai bekerja,
Pendayung mendendangkan yang mereka punya di perahu, jurumudi menyanyi di
belakang jentera,
Tukang sepatu menyanyi ketika mereka berjongkok, tukang cukur menyanyi
ketika berdiri,
Nyanyian perimba, anak pembajak menyusur pagi atau petang dan rembang
sedang berganti,
Merdu lembutnya lagu ibu atau istri belia sedang bekerja atau gadis-gadis
sedang menjahit atau mencuci,
Semua menyanyi menyanyikan yang dimiliki hari ini –sedang malam semarak
pesta para remaja, penuh tenaga dan rasa saudara,
Mereka menyanyi dan menyanyikan dengan mulut lebar terbuka lagu-lagu merdu
perkasa.

1860-1867.

BERMULA DARI PAUMANOK

9.

Kau cari apa gerangan maka jadi demikian diam dan menekur?
Kau perlu apa gerangan camerado?
Puteraku tersayang, kau kira itukah cinta?

Dengar nak, anakku — dengarkan Amerika, putera ataupun puteri,
Memang pahit mencintai seorang lelaki ataua perempuan berkelebihan, tapi
memuaskan, dan hebat memang,
Hanya masih ada yang amat hebat lagi memungkinkan segala terjadi,
Ia sungguh luar biasa mengatasi segala benda, dengan tangan-tangannya ia
menyapu dan menyediakan untuk semua.

Alihbahasa: JJ.KUSNI
Sumber: “Walt Whitman Selected Poems”, Dover Publications,Inc. New York,
1991.

Catatan:
*]. Disebut oleh kritikus sastra Mark van Doren sebagai “penyair Amerika
yang paling orisinal dan memukau”, Walt Whitman (1819-1892) berhasil
membangun batang tubuh puisi yang yang khas miliknya — tidak konvensional, tidak kurang akan irama atau meter, menyenandungkan segala macam objek — dengan kekuatan, kepekaan, paparan yang menghidupkan pembaca.

Karyanya yang paling terkenal adalah “Leaves of Grass” — sebuah proyek
raksasa Whitman setara dengan membangun sebuah katedral atau bagaikan
sebatang pohon yang tumbuh pelan membesar dengan pasti. Karya ini merupakan sebuah serial dan ketika Whitman hidup ia sudah terbit dalam sembilan edisi
antara 1855 dan 1892. “Leaves of Grass” sekarang dipandang sebagai salah
satu tonggak dalam sejarah sastra Amerika.

TENTANG KOPLA

Di atas senar-senar gitar, empat baris yang keluar langsung dari lubukhati, rakyat Spanyol, termasuk Andalusia, menyenandungkan duka-lara mereka. Gitar dan puisi. Federico Garcia Lorca pernah mengatakan bahwa Spanyol akan sepi tanpa gitar. Sebuah jendelapun lalu lebar terbuka dari mana kita bisa memandang wajah jiwa seorang anak manusia yang sedang berlagu. Dan itulah copla, yang di sini kuindonesiakan menjadi “kopla”. Jarang ada penyair dari negeri manapun yang mempunyai daya ungkap begitu intens dengan kata-kata demikian ekonomis ketika berbicara tentang bunga, gelora cinta dan kesedihan yang mendekati keputusasaan. Para penyanyi kopla pun mengungkapkan diri tanpa pretensi untuk disebut dan menjadi penyair atau menciptakan suatu karya seni karena yang terpenting bagi para penyanyi kopla adalah membuka pintu dan jendela hati mereka agar burung-burung hitam duka bisa terbang leluasa keluar mengarung angkasa luas di atas perbukitan atau dataran terhampar Andalusia. Yang mereka perlukan adalah menyanyi menendangkan kegembiraan, bersenandung untuk melagukan dukalara mereka. Ketika berbicara tentang cinta, mereka sering menghubungkannya dengan kematian. Mereka jarang sekali menyambungkan cinta dengan kegembiraan. Kopla tidak ditulis, ia dinyanyikan. Para penyanyi membiarkan perasaan mereka terbang menyatu dengan angin dan mengelanai penjuru demi penjuru. Setiap kopla adalah ungkapan lugas tentang hidup dan perasaan yang merasuk, motif-motif abadi, kebersamaan ataupun yang khusus bersifat perseorangan, tentang perempuan dan lelaki, cinta, benci, kemiskinan, kesedihan dan kematian. Daya kopla, oleh orang-orang Andalusia sering disebut mendekati kekuatan mantra dalam masyarakat berbagai etnik di Indonesia. Melalui kopla kita menyaksikan gambaran menyeluruh kehidupan sebagai sebuah drama.Kita mendengar tetapi lebih-lebih lagi kita menyaksikannya. Malangnya, tapi ini adalah juga kenyataan, yang ditampilkan lebih banyak kesedihan sebagaimana halnya dengan keadaan kehidupan itu sendiri. Kopla menuturkan segalanya ini dengan kesederhanaan ironis menusuk, terkadang mendekati suara jeritan.Isi kopla lebih dekat kepada kepercayaan yang jauh dari Tuhan [païen].

Di Andalusia kopla hidup sangat subur, merupakan pengungkap diri utama yang digunakan dalam Kantata Flamenco atau Kantata Jondo. Ia banyak ditemukan di lingkungan para gitana [jipsi. Jadinya, kopla bisa disebut sebagai Andalusia dan gitana itu sendiri.

Andalusia termasuk salah satu daerah yang langka di mana puisi abadi demikian menyatu dengan nyanyian, menyuarakan segala pahit-manis yang dikecap dalam kehidupan sehari-hari, memancar dari setiap bintang malamnya, menyenandungkan kepahlawanan dan kekalahan. Kopla adalah tempat di mana raga dan jiwa bertemu. Dan inilah, Romansero Spanyol, inilah Cancionero dan Kantata Jondo. Kopla mengingatkan aku akan sansana kayau, khususnya Sansana Kayau Pulang di Katingan, sungai kelahiranku di Kalimantan Tengah, yang tentunya juga kau kenal. Selanjutnya akan kusertakan contoh menyusul apa yang sudah kusampaikan terdahulu.

Paris, Mei 2004.
—————
JJ.KUSNI

KOPLA CINTA ANDALUSIA:[1]

hari kau dilahirkan
matahari tentu akan berduka
oleh munculnya tandingan
dari dirinya lebih bercahaya

kembang mawar kembang anyelir
demikian pun cengkeh yang wangi,
menyertai bibirmu
ketika kau tersenyum

matamu, wahai si kulit sawomatangku
demikian bijak bestari
pembunuhmu pun merunduk
memberikan salut

wajahmu bernama
Sierra Morena
dan matamu, para pencuri
yang melintasinya

– dengan gerangan apa
wajah kau basuh maka warna kencana?
– kubasuh dia dengan air jernih
selebihnya tuhanlah yang lakukan

nafasmu, nafasmu bunga
nafas limau, mungil:
di dadamu ada
sebuah limau semarak bunga

aku tak tahu gimana dan pabila
ia datang ke kalbu
cercah api pelan menyala
tapi tak nampak lidah cahayanya

sebuah derita lembut kecil
di sini kupunyai bernama cinta
dari mana gerangan ia masuk tiba
maka sampai tak terasa?

bukan salahku tentu saja
kalau mawar jadi milikmu
sedangkan wanginya berasal dari diriku

kau menatapku dan kau kupandang
kepalamu merunduk, demikianpun aku:
tak tahu apa yang kau harapkan
akupun tak tahu apa yang kutunggu

para pastur padaku berkata
agar aku jangan mencintaimu
kepadanya kukatakan: “ah, pasturku
andaikan kau melihatnya…!”

andaikan cinta yang kukandung ini
menjelma jadi gandum
di sevilla tak kan ada
lumbung tak menyimpannya

kalau kau berangkat perang
gantungkan fotoku di dada
ketika peluru melanda abang
kita terbunuh bersama-sama

kau memandangku dan kau kupandang
sedang apa yang ingin kau bilang
melalui pandang
kudengar dengan terang

kau adalah cinta pertamaku
kaulah yang mengajarku cinta
tapi jangan ajarkan aku lupa
yang tak ingin kutahu

kalau kau ingin melupakan aku
lebih baik kau membunuhku
yang kuminta adalah kematian
samasekali bukan melupakan

Catatan:
* Kopla, adalah salah satu bentuk sanjak-sanjak pandak Spanyol.

[Dari: “Coplas. Poemes de l’Amour Andalou”, Edition Allia, Paris,1998].

Alihbahasa: JJ.KUSNI

[Bersambung…]

KOPLA CINTA ANDALUSIA [2]

bawalah hatiku ke sana ;
kalau mau bunuh saja, jika bisa;
tapi karena kau juga di dalamnya ,
membunuhnya kau ikut binasa.

ambillah belati kecil ini,
buka dadaku maka wajahmu
di situ kau dapati
sempurna tertata rapi.

ambillah jeruk ini, o perempuan
demi cinta kepadamu kuberikan
tapi jangan belah dengan belati
kerna jantungku di dalamnya ada.

kulempar ke langit sebuah limau
ingin tahu apakah ia berobah merah;
naik hijau dan jatuhpun hijau;
seperti harapanku warna hijau

pada laut kucari limau
tapi laut tak punya;
ke dalam air tangan kucelup
harapan memberiku rasa hidup.

kalau boleh mencintaimu
wangikan diriku dengan pandan
penghapus semerbak
cinta-cintamu semula

kau satu dan juga dua
juga tiga dan empatpuluh
kau juga bagai gereja
di mana berbondong orang tiba

pinjamkan matamu kepadaku
hingga mataku jadi empat
karena dengan dua aku tak bisa
menangiskan duka-petaka

gitar yang kupetik ini
punya mulut dan bisa bicara;
hanya yang kurang adalah mata
yang membantuku untuk menangis.

terasa ada perih di dada, ku tak tahu di mana,
lahir dari mana pun aku juga alpa;
ketika sembuh akupun lupa
penyembuhnya pun aku tak tahu siapa.

kuterjuni air
dalam sepinggang
tunanganku dibawa orang
dan dingin tiba-tiba menyusup belulang

ketidakmungkinan membunuhku
aku terbunuh oleh ketidakmungkinan;
ketidakmungkinan pun sampai tepian
ketidakmungkinan yang kurindukan.

Catatan:
* Kopla, adalah salah satu bentuk sanjak-sanjak pandak Spanyol.

[Dari: “Coplas. Poemes de l’Amour Andalou”, Edition
Allia, Paris,1998].
Alihbahasa: JJ.KUSNI

[Bersambung…]

KOPLA CINTA ANDALUSIA

tiga kali pena kuangkat
tiga kali pula aku teriak
tiga kali aku tergeletak
dibanting hatiku

aku merasa sangat menderita, alangkah perihnya!
aku merasa sangat sakit dan alangkah pahitnya!
aku merasa ada paku
menancap di tengah jantungku

kepada Tuhan kupinta
untuk mengakhiri dukaku ini
Dia berkata:”Ini berarti
tanpa dia kau tak bisa hidup lagi”.

kalau begitu rajamlah aku, kawan-kawan;
lepaskan anjing-anjing, biarkan ia menggigitku;
gadis yang berumah di jalan ini kepadaku
ia berkata tidak mencintaiku!

tersandung aku di pintumu
terjerembab aku di jendelamu;
lalu berpegangan di kisi-kisi;
maafkan jika kau anggap aku melecehi.

agak keras memang ibuku,
o kebahagiaanku;
agak keras memang ibuku,
tapi segalanya hanya pada diriku.

perawan sepiku, perawan!
di pelukan buah jiwa
kuasa ia membuatku
meronta-ronta…!

Santo Jesus penaka baja
tapi aku telah membuatnya menangis
ia menangis bagaikan baja
o, apakah juga demikian raganya?

janganlah menangis hatiku
janganlah berduka;
karena yang sudah tak lagi nyata
bagaikan tak pernah ada.

[Selesai]

Alihbahasa oleh: JJ. Kusni

Advertisements

7 comments so far

  1. Mega Vristian on

    apa kabar, tolong balas email saya

  2. Arik on

    makasi orang berjiwa muda….
    saya jadi punya koleksi puisi lebih banyak
    saya guru sastra di sekolah swasta…

  3. Achmad Riyadi on

    Kepada sahabatku JJ. Kusni dan seperti yang kau paparkan diakhir puisimu “janganlah menangis hatiku
    janganlah berduka;
    karena yang sudah tak lagi nyata
    bagaikan tak pernah ada.”
    ya jangan lagi menangis. simpanlah tangis itu meski membara didada. dan kamu tetaplah tersenyum disaat duka itu datang menghunjam. biarlah ia menjadi memori tentang kisah kesaksian hidupmu. kelak pada masanya, semua orang bingung, bila kamu pun bisa membuat dunia berbeda.. (tabe dari titisan bara sungai arut bung JJ. Kusni)

  4. kusni sulang on

    terimakasih,bung. apabila ke palangkraya,mudahan bisa jumpa

  5. Iehda Cafilchine on

    puisi itu persaan kita
    🙂

  6. Annisa on

    Keren banget…
    bahasanya enak tapi penuh makna……..

    terus berkarya, ya…????????
    🙂

  7. sayangkuadalahdia on

    KEREN


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: