Archive for the ‘SAJAK’ Tag

SAJAK KUSNI SULANG: BOUI YANG PADAM

PULAU INI DIJATUHI HUKUMAN MATI
langit oktober masih berwarna hitam asap
abunya masuk dapur dan ruang tidur
selalu begini saban kemarau sejak kematian Tuhan dan nurani
yang menyemai kematian di seluas pulau
kantor statistik bangga mencatat pertumbuhan kesejahteraan
sementara kekumuhan berbaris sepanjang sungai
melukiskan dusta yang bulat telanjang

kantor itu tak bicara sepatahpun tentang ancaman kematian massal yang nyata
kerna citra lebih utama dari kehidupan hingga puisi pun tak dipandang
— citra seperti janji pilkada tidak lain dari bius berkelebihan disuntikkan ke tubuh
di antara 2, 4 juta warga
kemarin koran-koran mencatat 500 bayi tergolek di pintu ajal didera ispa
mereka senasib mangga, pisang, sayuran dan tanaman di halaman
senasib ilalang dan rerumputan
senasib matahari, bintang dan bulan, disekap dan dikucilkan
kekeringan melayukan segala merentang hingga ujung cakrawala
sejak pembunuhan Tuhan dan kematian nurani
orang-orang buta-tuli dan membatu
pulauku menjadi pulau zombie
santapan raksasa

sejak pembunuhan Tuhan dan kematian nurani
penduduk pulau ini dijatuhi hukuman mati
aku mencoba melawan dengan milik tunggal:
kata bermartabat
langit oktober masih berwarna hitam asap
tanda duka memang sahabat
tapi masih saja kukalungi harapan pelaga
selalu kurawat
kerna aku mau jadi manusia
2015.

BOUI YANG PADAM

kemudian orang-orang pun tak lagi banyak bicara tentang asap
sekali pun kota gelap-gelita, batuk, diare, dan rasa sesak
bahkan kematian menanti dengan peti mati kain kafan

lewat konvoi petinggi
orang-orang pun tak peduli
kata-kata mereka di koran
dilirik setara abu

orang-orang tahu
entah sekarang
entah tahun depan
ke rumah-rumah
ajal mengantar peti jenazah
seperti dijanjikan sejak kebakaran

aku menyaksikan
orang-orang mencintai hidup
keluarga dan kampunghalaman
inilah yang tak hangus
inilah yang tak tenggelam
inilah cahaya di kegelapan
ketika negara melenyap
seperti boui laut yang padam

2015.

Advertisements

PULAU INI DIJATUHI HUKUMAN MATI

PULAU INI DIJATUHI HUKUMAN MATI
 
/: Kusni Sulang 
 
 
 
langit oktober masih berwarna hitam asap
abunya masuk dapur dan  ruang tidur
selalu begini saban kemarau sejak kematian Tuhan dan nurani
yang menyemai kematian di seluas pulau
 
 
kantor statistik bangga mencatat pertumbuhan kesejahteraan
sementara kekumuhan berbaris sepanjang sungai
melukiskan dusta yang bulat telanjang
 
 
kantor itu tak bicara sepatahpun tentang ancaman kematian massal yang nyata
kerna citra lebih utama dari kehidupan hingga puisi pun tak dipandang 
— citra seperti janji pilkada tidak lain dari bius berkelebihan disuntikkan ke tubuh
 
 
di antara 2, 4 juta warga
kemarin koran-koran mencatat 500 bayi tergolek di pintu ajal didera ispa
mereka senasib mangga, pisang, sayuran dan tanaman di halaman
senasib ilalang dan rerumputan
senasib matahari, bintang dan bulan, disekap dan dikucilkan
kekeringan melayukan segala merentang hingga ujung cakrawala
 
 
sejak pembunuhan Tuhan dan kematian nurani
orang-orang buta-tuli dan membatu
pulauku menjadi pulau zombie
santapan  raksasa
 
 
sejak pembunuhan Tuhan dan kematian nurani
penduduk pulau ini  dijatuhi hukuman mati
aku mencoba melawan dengan milik tunggal:
kata bermartabat
 
 
langit oktober masih berwarna hitam asap
tanda duka memang sahabat
tapi masih saja kukalungi harapan pelaga
selalu kurawat
kerna aku mau jadi manusia
 
 
2015.

SANSANA * PULAU TERBAKAR MENUNGU HUJAN

SANSANA * PULAU TERBAKAR MENUNGU HUJAN

/: Kusni Sulang

 

 
aku hanya bisa geleng-geleng kepala menatap langit warna lumpur
hitam coklat warna asap; tak terbayang warna paru- paru
berbulan-bulan menghirup udara beracun
maut menghitung hari kami
sejak tanah tak lagi milik kami
gambut tak lagi di kuasa adat kami
yang tersisa hanya nyawa
dua kaki
dua tangan
satu kepala
dan itu adalah dayak hari ini
di tengah kebakaran ini
kami terlalu lemah untuk bisa membela diri
hitam coklat warna asap
hitam coklat warna dukaku
hijau sawit
hijau seluruh pulau
hijau warna kematian
menganga lobang-lobang tambang
mulut buaya menganga
mengunyah jasad
laparku, dandau
laparku
lapar ketiadaan
lapar mereka
lapar lahan
ayah-ibu berladang di pinggiran 1)
mereka menamakan petaka begini modern
kemajuan melesat hasil pembangunan merakyat
sementara dukaku melampaui puncak langit
mimpi kemerdekaan
sampah dalam parit
betapa pun sungai berair raksa
limbah pembangunan segala rupa
arusnya, airnya, tetap mengalir mencari muara
ini kepastian: semuanya mengalir
orang kecil saja yang terbungkam
dengan bisul bernanah di lubuk jiwa
bisu ini pun akhirnya akan pecah

kernanya aku percaya
bersama petaka baru
hujan akan tiba seusai kebakaran
dan mereka pun lupa petaka lalu
memang dan tentu saja
mereka memang tidak perlu mengingatnya
mereka tak tahu duka dan lukaku
tak perduli harapan dan kecewaku
dari musim ke musim
kemarau dan hujan bergantian
membantai harapan
sepiku, dandau
coklat dan hitam
kesendirianku juga
coklat hitam
aku bertanya:
coklat dan hitamkah aslinya republik?
kekuasaan di sini
coklat dan hitam
manusia tiarap di pinggiran
2015
* Sansana, salah satu bentuk puisi lisan di daerah aliran Sungai Katingan, Kalimantan Tengah.

1). Dalam bahasa Dayak Ngaju terdapat ungkapan « tempun pétak batana saré, témpun uyah batawah bélai, témpun kajang bisa puat » (punya tanah berladang di tepi, punya garam hambar di rasa, punya atap basah muatan ». Ungkapan ini melukiskan keadaan masyarakat Dayak yang dipinggirkan.

KALIMANTAN

KALIMANTAN
 
/: Kusni Sulang
 
 
 
untuk apa membicarakan luka-luka
jika dari raga hingga ke hati
darah sudah mencurat
memberi garis merah
memotong kabut asap
 
 
untuk apa kecewa dan  meratap
khianat seperti sunyi dan duka
mereka senantiasa seakrab tetangga
sesetia haruei* sepasang
 
 
dari segala penjuru angin
dari hutan
dari langit
dari sungai
tepian
dan bukit-bukit
ajal tiba berlindung di kabut
perkasa dan bertekad tempur
ibarat pasukan komando
menghancurkan
 
 
aku tahu muasalnya
aku pasti musababnya
pasukan tempur komando perkasa ini
tiba dari mana
 
 
ada kolone ke lima di sini
berpangkat pejabat tinggi
 
 
di pulau kalimantan ini, bung
empat bulan sudah kami rapat terkepung
seluruh kampung terkepung
sedangkan bala cadangan sudah tiada
saat nurani tewas tanpa tarung
tanpa laga
 
 
lelaki dan perempuan pulau ini dahulu memang pernah membangun
lasykar demi lasykar untuk mengibarkan merahputih
ada lasykar perempuan dayak
ada lasykar lawung
ada mn1001
naga-naga sungai naik ke permukaan
menciptakan topan
mengaduk hutan
saban tapak
maut menjebak
 

 

terhalau belanda
jogja tiba                                                                                  
mereka tak dipandang sebelah mata
 
 
harapan kembali melukai
luka dan sunyi
sahabat lama
menggandeng kami
 
 
rapat terkepung berbulan-bulan
aku rasakan kembali kesunyian hutan
tapi barangkali kesendirian memang hakiki
luka-luka bahkan tertembak mati
bagian dari jalan pelaga 
 
 
lalu apa yang mesti kami banggakan
jika di republik dan indonesia terjadi penjajahan
terjadi penyingkiran
kemerdekaan yang diimpi seperti cakrawala
nampak di mata tak tergapai tangan
merahputih bukan lagi lambang kemerdekaan
 
 
tanpa keluh akan luka
tanpa ratap akan khianat
dalam sunyi kesendirian
kepadamu kupastikan:
“kalimantan rumah kelahiran”
“kalimantan kampunghalaman
tak dijual, tuan-tuan
tak dirombeng, puan-puan”
 
 
ya, ada memang  
memang ada dayak yang menjualnya atas nama kita
ada dayak yang campakkan martabat atas nama adat
pembangunan dan modernitas pulau
 
 
orang-orang kampung memandangku
mengangguk sebagai dayak anak bumi
di balik tirai kabut kelabu
kulihat  isyarat tersirat
 
 
harapan lagikah ini
ataukah aku bermimpi
oleh demam luka-luka dalam
sebab di luar
runyam temaram
kendati  berapi 
 
 
2015. 

SAJAK KUSNI SULANG: BARANGKALI JAKARTA MEMANG IBUKOTAMU

MERAHPUTIH DI HALAMAN DEPAN RUMAHKU
di halaman depan rumahku merahputih berkibar siang-malam
kepada yang bertanya kukatakan ia lambang kemerdekaan
yang sekarang menjadi mangga busuk dalam
oleh debu dan asap warnanya kusam
angin merobeknya
kemerdekaan hari ini
seperti bendera halamanku
memang robek dan busuk dalam

di halaman depan rumahku merahputih berkibar di segala musim
kepada yang bertanya kukatakan ia pengingat
bahwa kemerdekaan suatu kemutlakan
jika hilang patut direbut
ia pun serupa tempayan raksasa patut di isi
sedangkan tempayan raksasa itu hari ini kosong
kecuali amis bangkai dan asin airmata
orang-orang pasti tak tahan menjadi anak tiri
tak bisa menerima penyingkiran terprogram, apalagi pencaplokan
maka aku tak khawatir jika suatu hari bendera baru berkibar di pulau ini
apa pun coraknya bagiku ia tetap lambang kemerdekaan
ia tetap tempayan patut di isi
lambang lahir dari duka bersama
lambang mati oleh duka bersama
khianat menghancurkannya
karena itu orang-orang pun bertarung dengan lambang baru
juga disatukan oleh duka bersama
sedangkan nama tanahair tak pernah harga mati
merahputih di halaman depan rumahku berkibar di antara tanaman dan bunga-bunga
padanya aku membaca sejarah pertarungan hidup-mati dan khianat luarbiasa
yang hari ini berkuasa dan merobek-robek bendera itu
presiden dan gubernur silih berganti
nestapa kian menjadi
pilkada serupa komedi
harapan pun seperti bendera halaman depan
dan hatiku kian sobek terurai
karenanya aku kian memahamimu, wahai pulau-pulau
kian memahamimu, orang-orang kampung
kita dikepung kabut asap menahun yang berlarut
namun menolak untuk berlutut.

2015

BARANGKALI JAKARTA MEMANG IBUKOTAMU
siang-malam kami menarung kabut asap pelaku masakre
siang-malam melaga bah, air raksa, aneka ancaman
stigma-stigma bernanah menuba udara seluruh alam
ketika jakarta tak ambil perduli
kembali terasa benar di sini
kami hanyalah yatim piatu republik ini
barangkali jakarta memang ibukotamu
bukan ibukota daerah vazal.
2015.

PULAU ASAP — SAJAK-SAJAK KUSNI SULANG

SAJAK-SAJAK “PULAU ASAP”

TIGA MUSIM
mereka datang dari jauh menyusup jauh hingga jantung pulau
para petinggi mengatakan para pendatang ini pembawa bahagia
sementara yang kusaksikan kampung-kampung kian kumuh
sungai-sungai kian keruh seperti tatapan kehabisan asa
ibarat rumah adat tua doyong menjelang roboh
kemajuan dan kerobohan hadap-hadapan di kampungku
seperti juga kemewahan dan kematian penduduk kehabisan airmata diperas duka
di samping musim hujan dan kemarau ada musim baru di ini pulau raksasa
musim asap yang membuat hari ini dan esok samar berkabut
ketiganya sama-sama amis darah dan asin airmata

September 2015.

KAMPUNG ZOMBIE
kelabu kabut asap sejauh pandang seluas langit kota sepanjang sungai
ke depan aku hanya bisa melihat jarak 15 meter kemudian segalanya abu-abu
berapa orang dan siapakah gerangan yang menghitung esok yang memang abstrak
sedang laba perkebunan dan kolusi sangat nyata bagi pedagang kekuasaan
kampung-halaman hanya tersimpan di hati para pemimpi yang terkepung
sehingga jumlah mereka yang setia pada cintanya bisa dihitung dengan jari
hari ini keluhuran pahlawan dan martabat hanya tersisa di basa-basi
di pembuangan sampah manusia seperti bayi tak diharapkan tergeletak mati
dari kemarau ke kemarau aku menyaksikan asap kebakaran hutan dan lahan
menjadi kafan kelabu pembunuhan massal
kalimantan kampungku menjadi kampung zombie
September 2015.

YANG TERBAKAR HARI INI
seperti kemarau tahun-tahun lalu tahun ini pun bulan
dan matahari terbakar menjadi bara
kelabu asapnya mewarnai angkasa kampung-kampung pulau
yang terbakar hari ini sesungguhnya bukan cuma hutan
tapi seluruh kehidupan, dan yang tinggal abu
adalah nurani dan martabat kemanusiaan
September 2015.

AKU TAK INGIN HANGUS TERBAKAR
kabut bangkit dari hutan
bangkit dari aspal-aspal jalan
turun dari langit dan dedahanan
abu bulan dan matahari yang terbakar
dari tahun ke tahun
aku di dalamnya
didera di kampung kelahiran
atas nama pembangunan kalteng
apakah asa masih diperlukan ?
tentu saja, tentu saja
tapi kurasakan benar
betapa harapan itu menyakitkan
betapa tak gampangnya mencintai
dan memenangkan hidup?
kabut bangkit dari hutan
bangkit dari aspal-aspal jalan
turun dari langit dan dedahanan
abu bulan dan matahari yang terbakar
di tengahnya aku tak ingin hangus terbakar

September 2015.

KOTAKU TENGGELAM DALAM KABUT

kotaku tenggelam dalam kabut
kita seperti orang picik dengan pandang sejauh ujung jari
tapi kepicikan, warisan perbudakan memang dominan di sini
menenggelamkan kami lebih dalam dalam sungai bencana
tidak kukatakan bencana mendasawarsa ini takdir Ilahi yang berang
tidak kusalahkan para dewa atau malaikat penjaga langit bumi
sebab kerusakan pulau berawal dari kerakusan tak terkendali
pongah bertahta di kursi kekuasaan dari kota hingga desa
handai taulan, sanak-saudara
kita akan tambah celaka menamakan kabut-asap penabur maut ini takdir
coba kita tatap tajam kiri-kanan dan diri sendiri
siapakah penyulut dan penanggungjawab kebakaran pulau ini
aku tahu kejujuran di sini sudah lama nama baru dari kebebalan
dan kebebalan tak pernah dipandang
yang mau jadi manusia akan terkucil
tapi bisakah kehidupan diselamatkan binatang?
kabut kelabu hingga hingga ujung jari
kematian massal menanti
manusia setara sampah
September 2015.

BERTAHAN DI KALTENG
menahun pulauku terbakar
saban kemarau pulau menjadi pulau api
menyembunyikan bulan dan matahari
menyekap penduduk di bumi bencana
“ini demi kemajuan kalteng”
“tanpa investasi kita berada di kegelapan langgeng”
para petinggi berkata di hadapan duka yang mengamuk penduduk
ketika kocek mereka kian gemuk, perut kian gendut

di sini, bung dan para saudara
tak ada tempat berlindung menghindari kejaran bencana
ia telah menyerbu dapur, ruang makan dan ruang tidur
bau ajal tertinggal di tikar lampit, kasur dan bantal
setiakawan dan omong kosong menjadi sinonim
semua merasa pahlawan dan pangkalima
hari-hari kelabu dan senyap
dikenakan serupa celana dan kemeja siapa saja
sehingga kukira secara spiritual orang –orang di sini
ibarat ikan mengapung tertuba menunggu mati
dituba pendidikan, perbudakan dan ketakutan
serta racun kepentingan sedetik
yang berani berdiri dan bersuara di tengah sunyi dan tukang kroyok
hanyalah sisa-sisa dayak dahulu
itu pun bung bisa menghitunrgnya dengan jari
apakah ini kemajuan?
apakah ini modern yang dibangga-banggakan angkatan kekinian?
ataukah keterbelakangan tersamar?
kabut asap ini mengungkapkan kenyataan seadanya
dari negeri salju
kutahu jalan kembali
tak kuduga kalteng dibakar api
udaranya bertuba
stigma kadaluwarsa — racun warisan
aku melihat orang-orang berlari maju ke belakang
harapan yang menyakitkan dalam kabut
kian sayup dan jauh
di tengahnya aku bertahan
mencoba tidak munafik dengan cinta
mengasah dan menempanya
tak menjadi bayang-bayang
di kampung ini aku berdiri
memandang tanahair
merangkul bumi
kabut asap bencana
bagian dari pilihan lama
sebagai dayak dunia
September 2015.

SAJAK-SAJAK GUS MUS

Islam Bergerak

Puisi-puisi Gus Mus untuk Hari “Kemerdekaan”

miskin-500x330

Kumpulan Kambing

kumpulan kambing mengembik bersama
memaksa kumpulan serigala
menyingkir (sementara)
kumpulan serigala berembuk bersama
bagaimana memaksa
kumpulan kambing terus mengikuti mereka
(selamanya)

kumpulan kambing merdeka
makin terbuka matanya
makin terbuka telinganya
makin terbuka seleranya
seperti kumpulan serigala

kumpulan kambing merdeka
makin rakus makannya
makin banyak keinginannya
makin menggila pestanya
seperti kumpulan serigala

kumpulan kambing merdeka
makin muluk-muluk bicaranya
makin tidak-tidak mimpinya
melebihi kumpulan serigala

kumpulan kambing merdeka
makin tertutup matanya
makin seperti kumpulan serigala

kumpulan kambing merdeka
makin merdeka meniru serigala

tapi, kumpulan kambing merdeka
yang tak mau mengembik lagi
tetap saja melolong pun tak bisa
seperti kumpulan serigala
terus saja hanya menari-nari
dan menyanyi gembira:
wekwekwek, wekwekwek, wekwekwek!

1416 H

Rembang

ketika langit menyiramkan hujannya
kau kebagian gerimisnya
ketika matahari membagi sinarnya
kau kebagian teriknya
ketika laut menghibahkan ikan-ikannya
kau kebagian amisnya
dan keringatmu hanya menghasilkan
garam penambah perih luka

o, kotakemarauku

pohon-pohon asam
yang menjaga jalanmu
pohon-pohon tanjung
yang menghias alun-alunmu—
seperti raden-ajeng-kartini-mu
yang menjadi tugu—tinggal jadi
cerita tahunan para pensiunan
(nelayan-nelayan-telanjangmu
kuli-kuli-tambakmu
petani-petani-tadah-hujanmu
pencari-pencari-kayu-krecekmu
pencuri-pencuri-hutanmu
apalagi pengemis-pengemis-pasarmu
mana tahu raden-ajeng-mu?)

o, jiwakemarauku

mereka yang lalu-lalang mengejar sesuatu
hanya melewatimu, sayang
seperti matahari, angin, dan awan

1416/1996

Bumi Terbujur

bumi terbujur
ada banyak luka menganga
pada jasadnya

nafasnya tinggal
bagai benang rantas
sepertinya akan segera putus
oleh sekali retas
tapi, aneh, tak putus-putus juga
meski masih ada yang terus tega
mengerat-ngeratnya
dengan bangga

bagaimana, o,
bila benar-benar putus?
dengan waswas matahari
hanya mengawasi

o, bumi
apa yang kau rasakan?
apa yang bisa kulakukan?

wahai para malaikat di langit
wahai para jin dan dedemit
yang terjepit
ikutlah mengamini doaku

             allah, selamatkanlah bumiku!

wahai hujan, angin, dan taufan
wahai lautan dan daratan
yang tertekan
ikutlah mengamini doaku:

             allah, selamatkanlah bumiku!

wahai gunung-gubung dan bebatuan
wahai burung-burung dan rerumputan
yang tercampakkan
ikutlah mengamini doaku:

allah, selamatkanlah bumiku!

wahai daun-daun yang berguguran
wahai bunga-bunga yang berserakan
yang terabaikan
ikutlah mengamini doaku:

allah, selamatkanlah bumiku!

wahai segenap binatang melata
wahai segenap rakyat jelata
yang tersia-sia
ikutlah mengamini doaku:

allah, selamatkanlah bumiku!

wahai tanah memerah yang menyerap darah
wahai arwah syuhada yang pasrah
ikutlah mengamini doaku:

             allah, selamatkanlah bumiku!

wahai para wali penjaga mataangin
wahai para empu yang bersemayam di atas angin
ikutlah mengamini doaku:

             allah, selamatkanlah bumiku!

wahai orang-orang madhlum yang tak berdaya
wahai jiwa-jiwa damai yang tak ternoda
ikutlah mengamini doaku:

allah, selamatkanlah bumiku!

amin.

1416/1995

Dengan Apa Hendak Kueja Zaman?

Dengan apa hendak kueja zaman?
kemarau dan hujan
tak lagi datang
pada musimnya
sungai-sungai mengudik
membuat bingung laut dan gunung
jalan-jalan semakin panjang
dan bercabang
tak lagi mengantar musafir
ke tujuan
Dengan apa hendak kueja zaman?
seharian matahari disimpan
dalam lemari es para tuan
semalaman bulan dan bintang
disekap para preman
Dengan apa hendak kueja zaman?
setiap hari orang melahirkan
dan mengubur fakta
makna-makna semakin bingung
hendak hinggap di kata-kata mana?
kata-kata tak lagi tahu
membawa makna apa?
Dengan apa hendak kueja zaman?
khalifah hutan membabati hutan
khalifah pantai mengotori pantai
khalifah laut menguras laut
khalifah gunung meledakkan gunung
khalifah kehidupan membantai kehidupan
khalifah yang hamba lupa dirinya
ditinggal jiwanya
Dengan apa hendak kueja zaman?

1416

Aku Merindukanmu O, Muhammadku

Aku merindukanmu o, Muhammadku

Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah
Menatap mataku yang tak berdaya
Sementara tangan-tangan perkasa
Terus mempermainkan kelemahan
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan
Mencari-cari tangan
Lembut-wibawamu

Dari dada-dada tipis papan
Terus kudengar suara serutan
Derita mengiris berkepanjangan
Dan kepongahan tingkah-meningkah
Telingaku pun kutelengkan
Berharap sesekali mendengar
Merdu-menghibur suaramu

Aku merindukanmu o, Muhammadku

Ribuan tangan gurita keserakahan
Menjulur-julur kesana kemari
Mencari mangsa memakan kurban
Melilit bumi meretas harapan
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku
Mencoba memanggil-manggilmu
O, Muhammadku, o Muhammadku!

Di mana-mana sesama saudara
Saling cakar berebut benar
Sambil terus berbuat kesalahan
Quran dan sabdamu hanyalah kendaraan
Masing-masing mereka yang berkepentingan
Aku pun meninggalkan mereka
Mencoba mencarimu dalam sepi rinduku

Aku merindukanmu o, Muhammadku

Sekian banyak Abu Jahal Abu Lahab
Menitis ke sekian banyak umatmu
O, Muhammadku—salawat dan salam bagimu—
Bagaimana melawan gelombang kebodohan
Dan kecongkakan yang telah tergayakan
Bagaimana memerangi
Umat sendiri? O, Muhammadku

Aku merindukanmu o, Muhammadku
Aku sungguh merindukanmu.

1416

Keyakinan

Kesalahan demi kesalahanmu
Dan kekesalan demi kekesalanku
Mungkin membuat dirimu dan diriku lelah
Tapi lihatlah
Aku atau kau yang terlebih dahulu kalah

1416

*GusMus (KH A. Mustofa Bisri), ulama, penyair, dan pelukis. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang. Puisi-puisi ini dijumput dari buku kumpulannya, “WEKWEKWEK: Sajak Bumilangit” (Surabaya:Risalah Gusti, 1996).

SAJAK ARIFIN C NOER: SELAMAT PAGI, JAJANG

SAJAK KUSNI SULANG

Sajak-Sajak Kusni Sulang

JAWABAN HAUSMANN *

patutkah tumbang anoi kita rayakan menyambutnya dengan gempita tepuk tangan
padahal tumbang anoi menjadikan kita anak jajahan ?

pembudakan dan penjahan tidak membangun harkat
anak manusia tak berkembang jadi manusia
peradaban hanyalah bualan ragi usang

patutkah tumbang anoi kita rayakan
menyambutnya dengan gempita tepuk tangan
padahal sejak itu kita tak lagi anak merdeka?

aku sungguh tak paham mengapa penjajahan dinamakan peradaban,
perlawanan anak merdeka disebut kebiadaban
di hampatung hausmann menegaskan jawaban
anak dayak sejati – hari ini dilempar ke selokan []

  • Hausmann Baboe, bapak kebangkitan Dayak yang dilupakan perannya oleh angkatan sekarang.

DI JEMBATAN KASONGAN

di jembatan kasongan
katingan mengalir dan
segala kisah
tanpa bendungan

terasa benar harapan yang dijaga sangat menyiksa
apalagi di sini, di kampunghalaman yang
kusambangi tanpa sesal oleh hutang patut dibayar

kembali terasa sulitnya sungguh-sungguh
mencintai apalagi stigma
masih mengintai diam-diam di kanan-kiri – petinggi jadi berhala

di sungai-sungai yang mengalir
asin airnya yang mengalir airmata
bulan tembaga matahari tembikar
memancar kegeraman berdarah
orang hilang pegangan

angin bermain di daun-daun
mengangguk mengenalku, aku pun mengenalnya
karena dukanya dan dukaku
dua saudara seibu sebapak

untuk mengenal benar kampung kelahiran
kita patut turun tangga hingga jauh ke gunung
ucapan petinggi 99 persen dusta
hanya membagus-baguskan diri
sebab petinggi hari ini tidak suka kenyataan

untuk mengenal para panarung kita perlu ketemu tetua kampung yang pendiam
sebab petinggi merasa diri pahlawan sendiri
sedangkan yang sungguh mereka bunuh
juga kau, hausmann
di jembatan kasongan
katingan mengalir dan
segala kisah
tanpa bendungan

aku pulang mencari
menjumpainya
pahit atau manis
aku menjumpaimu []

KAMI MUAK DAN BOSAN!!!

KAMI MUAK DAN BOSAN !!!
Oleh  Taufiq Ismail

 

 

Dengarlah kami akan menyanyi lagu yang tidak nyaman di hati
Lagu tentang sebuah negeri,
negeri yang sedih dan ngeri
Dahulu pada abad abad yang silam, Negeri ini penduduknya begitu rukun, pemimpinnya jujur dan ikhlas memperjuangkan kemerdekaan.
Mereka secara pribadi tidak menumpuk-numpuk harta dan kekayaan.

Ciri utama yang tampak,
adalah kesederhanaan.
Hubungan kemanusiaannya,
adalah kesantunan dan kesetiakawanan.
Semuanya ini fondasinya adalah keimanan.

Tapi.., negeri ini berubah
jadi negeri MALING COPET, RAMPOK, BANDIT dan MAKELAR.
Nege ri PEMERAS, PENCOLENG, PENIPU, PENYOGOK dan KORUPTOR.

Negeri banyak omong,
orang banyak omong, fitnah kotor.
Tukang dusta, jago intrik dan ingkar janji.
Kini…
Mobil, tanah deposito, relasi dan kepangkatan
Kini, politik ideologi kekuasaan disembah sebagai tuhan
Kini, dominasi materi menggantikan tuhan

Kemudian alkohol nikotin heroin kokain sabu ekstasi ganja dan mriyuana
Pornografi, hp dan internet bagian dari gerakan sahwat merdeka
Seks tanpa aturan, gaya neoliberal dan ultra liberan merajalela
Setiap 15 detik seorang bayi diaborsi di ujung jalan jauh disana

KINI…
Negeri ini penuh dengan wong edan, gendeng, sinting.
Negeri padat jerma garelo (sinting), urang gilo, orang gila…
kronis nyaris sempurna infausta (buruk).

Jika mereka di bawa ke depan meja pengadilan,
apa betul mereka akan mendapat hukuman???
Divonis juga, tapi diringan-ringankan,
bahkan!!! berpuluh-puluh dibebaskan!

Yang mengelak dari pe ngadilan, lari ke luar negeri dibiarkan.
Semua tergantung kecil besarnya uang sogokan.

Di RRC, koruptor dipotong kepala.
Di Arab Saudi, koruptor dipotong tangan.
Di Indonesia, koruptor dipotong masa tahanan.

Dari barat sampai ke timur, berjajar dusta-dusta.
Itulah kini Indonesia.
Sogok menyogok menjadi satu,
Itulah kini Indonesia.

Kami… MUAK!!!
Kami MUAK dan BOSAN!!!
Kami sudah hilang kepercayaan lama,
lama kami sudah hilang kepercayaan.
HILANG… KEPERCAYAAN !!!

https://www.youtube.com/watch? v=4bnCH5Jt2Vg