Archive for February, 2012|Monthly archive page

MONTMARTRE IN BONDOWOSO by May Swan BOOK LAUNCH

———————– Invitation ———————–


Select Books

invites you to the launch of

Cover

MONTMARTRE IN BONDOWOSO

by May Swan

BOOK LAUNCH


Date and Time

Wednesday, 29 February 2012, 530pm

Venue
The Living Room at
The Arts House
1 Old Parliament Lane, Singapore 179429 (www.theartshouse.com.sg)

About the Book
Soerono and Lee Lin were high school sweethearts from Pah Chung Chinese School in late-1950s Jakarta, he of Javanese stock and she Chinese. After graduation, swept up in the political fervor of the times, both left for the newly liberated People’s Republic of China with the intention of furthering their education and building a new society. They were quickly caught up in the turmoil of the Cultural Revolution and the impact of the bloody 1965–1968 military purge that affected their families back home in Indonesia. With the help of a family friend they managed to leave China and set up a new life in the Paris suburbs.

After several years, Soerono became restless and started resenting the sedate provincial life. He returned to Bondowoso in East Java, the place of his birth, in an attempt to connect to his roots and recover the vigor of youth which he desperately missed. He wanted to create the vibrant Bohemian lifestyle of Montmartre in Bondowoso. There, in the land of his birth, he experienced a reverse culture shock, with rampant cultural and social degradation, and prevalent corruption and religious intolerance. And to his surprise, he saw people still living under the shadow of the 1965–1968 mass murders, which continued to haunt every aspect of their daily lives.

During his stay in Bondowoso, Soerono developed a whirlwind affair and gratifying relationship with Marjora, a gorgeous young fashion journalist, a social activist with a strong nationalistic bent. It was a life changing experience for Soerono, who prior to this affair, had been a faithful husband. In spite of his long marriage, he had remained emotionally a virgin in such matters. His relationship with Marjora led him to question the sanctity of marriage and the meaning of sexual fidelity. Faced with the discovery of the affair by his wife, the book leaves him struggling with his moral dilemma and shattered dreams.

———-

About the Author
May Swan was born and educated in Indonesia. She came to Singapore and became a citizen in the 1960s. She is the Honorary Secretary of  US based Pilot Club International Singapore Chapter, a volunteer organization. She is also a regular contributing writer to Indonesia Media-USA, a US based magazine

———-

Comments on the Book

“MONTMARTRE IN BONDOWOSO is not the first book that May Swan has written against the backdrop of historical events in Indonesia and China. It mirrors the writer’s engrossment and knowledge of modern Indonesian and Chinese history. This has always been a characteristic of May Swan’s work…This is indeed a rare find. Not involved in political activities, she nonetheless considers politics a fundamental part of society at large affecting the lives of the common people as well as the world of literature…Her work reflects her identity as an Indonesia-born Singaporean writer…A characteristic of May Swan’s work is that she allows the readers to come to their own conclusions about the protagonist’s fate, a fate that is closely intertwined with the fate of Indonesia as a nation.” Amsterdam based writer and editor Ibrahim Isa.

Launch Contact
Email:  dan@selectbooks.com.sg

Advertisements

Dua Pria Dibakar Massa, Polisi Kantongi Identitas Tersangka

http://www.suarapembaruan.com/home/dua-pria-dibakar-massa-polisi-kantongi-identitas-tersangka/17666

Dua Pria Dibakar Massa, Polisi Kantongi Identitas

 

Tersangka


Rabu, 29 Februari 2012 | 9:12

Keluarga dua korban yang dibakar massa histeris. [sumutpos.com] Keluarga dua korban yang dibakar massa histeris. [sumutpos.com]

[MEDAN] Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) sudah mengantongi identitas tersangka pelaku pembakaran Ricardo Jefri Sitorus (24) dan Christian Marco Siregar (24) di Desa Lau Bekeri, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut).

Namun, penangkapan belum dilakukan karena penyelidikan lebih mendalam sedang dilakukan. Polisi memastikan, para pelaku yang melakukan peradilan massa itu akan ditangkap.

“Sampai saat ini, petugas luar memantau para pelaku pembakaran terhadap Jefri dan Christian Marco tersebut. Untuk proses penangkapan ini nanti dikoordinasikan dengan pihak kepolisian resort (Polres) dan Polsek setempat, biar tidak menimbulkan kericuhan,” ujar Kepala Bagian Dokumentasi dan Liputan Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan kepada SP di Medan, Kamis (1/3).

Nainggolan mengatakan, tindakan main hakim terhadap orang yang belum terbukti melakukan kejahatan, seperti tuduhan masyarakat tersebut, sangat tidak dibenarkan.

Tindakan massa melakukan penganiayaan itu justru melakukan pelanggaran hukum. Oleh karena itu, polisi harus mengambil sikap tegas untuk menangani kasus itu, apalagi tindakan masyarakat itu sampai merenggut dua korban jiwa.

“Sejumlah saksi sudah dimintai keterangan atas kejadian tersebut. Perwakilan dari masyarakat yang dimintai keterangan adalah kepala desa dan lainnya. Sementara itu, penyidik juga meminta keterangan tiga orang anggota polisi. Ketiganya bersama dengan dua orang korban di Desa Lau Bekeri. Saat kejadian, dua melarikan diri dan seorang petugas ditangkap massa dan  nyaris dihakimi,” katanya.

Menurutnya, kedatangan tiga polisi dengan membawa Jefri dan Christian untuk mendalami kasus perjudian di desa itu. Petugas ini mengidentifikasi bahwa bandar besar perjudian di desa itu bernama Kirana.

Polisi pun mencoba melakukan penangkapan, namun oleh bandar judi itu langsung diteriaki maling. Warga berhamburan keluar rumah mengejar para petugas tersebut.

“Tiga orang petugas itu, salah satunya adalah anggota reserse kriminal umum di Polda Sumut. Dua orang lagi anggota Polsek Kutalimbaru. Mereka pun dimintai keterangan oleh petugas Provesi dan Pengamanan (Propam) atas prosedur penyelidikan dan penangkapan. Selama belum menemukan bukti miring atas rencana petugas ini, maka kita belum dapat menuduh mereka terbukti bersalah,” sebutnya.

Menurut informasi, Kirana yang menjadi dalang di balik pembantaian tersebut sudah melarikan diri. Dia melarikan diri karena sudah mengetahui polisi akan menangkap dirinya.

Laporan ini diketahui dari masyarakat di desa tersebut yang tidak melihat Kirana keesokan harinya. Setelah kejadian pembakaran, Kirana langsung melarikan diri malam itu juga. [155]

Massa FPI-Front Jihad Bentrok di PN Yogya

Massa FPI-Front Jihad Bentrok di PN Yogya

Terkait kasus penganiayaan dengan terdakwa Ketua FPI Yogyakarta, Bambang Teddy.

Selasa, 28 Februari 2012, 15:12 WIB

Elin Yunita Kristanti, Erick Tanjung (Yogyakarta)

http://media.vivanews.com/thumbs2/2010/08/31/95263_anggota-fpi_300_225.jpg

Anggota FPI (James Nachtwey/National Geographic)

 

VIVAnews — Massa Front Pembela Islam (FPI) sempat terlibat bentrok dengan massa Front Jihad Islam (FJI) di Pengadilan Negeri Kota Yogyakarta, Selasa 28 Februari 2012 sekitar pukul 14.15 WIB. Mereka saling lempar batu.

Kericuhan terjadi sekitar 10 menit, mengakibatkan salah satu kameramen terluka di bagian pelipis, terkena lemparan batu. Salah satu anggota FPI mengatakan, bentrok diduga dipicu ucapan “Banci, beraninya ke perempuan”, oleh massa FJI.

Beruntung kericuhan tak meluas, dan segera bisa dihalau oleh aparat keamanan. Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Donni Siswoyo mengatakan bahwa kepolsian tak menduga bentrok akan terjadi. “Ini sudah kami amankan,” kata dia.

Antisipasi ke depan akan dilakukan. “Polresta akan menambah personel,” kata dia.

Untuk diketahui, hari ini massa FPI menghadiri persidangan kasus penganiayaan dengan terdakwa Ketua Front Pembela Islam (FPI) wilayah DI Yogyakarta, Bambang Teddy.

Agenda sidang hari ini mendengar keterangan saksi korban, Erna Afriyanti, yang adalah sekretaris FJI Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebelumnya, keributan juga sempat terjadi lantaran simpatisan FPI yang memprotes karena tak bisa memasuki ruang sidang. Karena keterbatasan ruang, polisi hanya mengizinkan sebagian dari mereka masuk. (eh)

• VIVAnews

http://nasional.vivanews.com/news/read/291945-massa-fpi-front-jihad-bentrok-di-pn-yogya

Gaza on the brink

23 – 29 February 2011
Issue No. 1086
Published in Cairo by AL-AHRAM established in 1875

Gaza on the brink

Gaza is on the brink of a humanitarian crisis as a result of electricity blackouts and cuts to fuel supplies, writes Saleh Al-Naami

Click to view caption
Palestinian boys hold candles during a protest in Gaza City against widespread blackouts


Contrary to his usual custom, Magid Abu Samha has stopped buying a week’s supply of fruits and vegetables for his eight-member family. The university lecturer from Birkat Al-Wizz west of the Maghazi refugee camp in central Gaza is afraid they will rot before the week is out due to the constant electricity cuts that sometimes last for 16 hours a day and make refrigerators useless.

Electricity blackouts are only one of the innumerable hardships that more than a million Palestinians in Gaza are forced to endure.

In order to accommodate themselves to them, people have had to alter many aspects of their daily lives, with some families changing their sleep patterns to coincide with the cuts and school and university students staying awake all hours to take advantage of the few hours when their homes are connected to the mains.

The cuts have also hit commercial establishments hard, with stores being unable to display their wares and frozen goods vanishing from the market because they cannot be kept under such conditions.

However, even if Gazans have managed to adjust in various ways to the blackouts in their daily lives, the cuts have also exposed them to more serious risks and dangers.

Gaza was plunged into darkness 10 days ago when the only power station in the Strip ground to a halt due to a lack of fuel.

According to Ahmed Abul-Omrein, director of information in the Gaza Energy Department, talks with Egypt over providing the fuel needed to operate the plant produced “only promises”, resulting in the blackout.

Should the closure of the plant continue, it will lead to a 70 per cent deficit in Gaza’s electricity needs, as only 30 per cent of the electricity in Gaza is supplied from Egypt and Israel.

Unless fuel supplies for the Gaza plant are forthcoming, blackouts will continue for up to 18 hours a day, with available electricity being distributed across the Strip during the six remaining hours.

To make matters worse, privately owned generating stations have nearly run out of the type of fuel needed to operate the small electricity generators that families use during blackouts.

The crisis has also struck in the midst of a cold winter when the electricity demand increases.

Many Gazans have reverted to using kerosene burners, and the rise in demand for these, commonly used before the introduction of electricity into the Strip in the early 1980s, has caused a rise in demand for kerosene, which has been rapidly disappearing from the market.

As result, the use of kerosene burners has been restricted for essential purposes only, such as cooking family meals.

The Ministry of Health in Gaza has warned that the lives of hospital patients are at risk due to the electricity shortages.

Director of media relations Ashraf Al-Qudra said that the lives of 80 per cent of patients were in peril, including 100 infants in incubators and 404 patients whose treatment uses equipment requiring a constant electricity supply.

Al-Qudra said that 72 per cent of hospital fuel reserves had been depleted and that they were on the verge of total paralysis. He urged all the Palestinian factions to act quickly to save the lives of patients whose lives were at risk, also appealing to Egypt for electricity supplies.

Hospitals are not the only worry, since municipal leaders in Gaza have said that more than 200 wells, 40 wastewater pumps, four wastewater treatment plants, and 10 large and dozens of small water purification stations are at risk of grinding to a halt should the crisis continue, as will hundreds of refuse collection machines.

The municipal leaders said that Gaza was on the brink of a “humanitarian crisis”, warning that essential health and environmental services, public utilities, wastewater disposal facilities and hospitals were on the verge of collapse because of the electricity and fuel crisis.

The Ministry of Agriculture in Gaza has also warned of an “immanent” food crisis due to the electricity cuts and fuel shortages, saying in a statement this week that the food supply was threatened with disruption.

Wells, farm machinery, processing and packaging plants, and poultry farms were particularly in danger, the ministry said.

Meanwhile, hundreds of boats are trapped in port due to a lack of fuel.

The production stoppage in the agricultural sector was “another episode in the string of catastrophes that has afflicted Gaza because of the Israeli blockade and the lack of intervention on the part of the Arab and European states and human-rights organisations,” the ministry statement said.

The public transport system in Gaza also faces impending crisis. Because of the shortage of petrol from Egypt, private vehicles will soon have to stop operating, leading to a rise in the pressure on public transport.

Despite the crisis, the local governments of Gaza and Ramallah are still deducting 170 shekels ($44) from every government employee’s pay to help foot the bill for domestic electricity consumption.

Under current conditions, many civil servants cannot see the justification for continuing these deductions.

Ahmed Hamad, 65, told the Weekly that two of his sons worked for the government in Ramallah, while a third worked for a government agency in Gaza. Together, they have 540 shekels deducted from their monthly salaries, even though they live in the same house and suffer from the ongoing electricity crisis.

A further cause of the fuel crisis in Gaza is political and related to the internal rift among the Palestinians. While the Arab League has said that Gaza can be hooked up to the regional grid that covers seven countries, among them Egypt, this can only happen if the Palestinian factions reach reconciliation first.

According to the League, Gaza cannot be connected to the regional grid in the absence of a request from Mahmoud Abbas in his capacity as Palestinian president.

However, it seems that Abbas has been treating the electricity question in Gaza as one of the issues needing to be resolved as part of a comprehensive agreement between the factions, and it has several times been on the agenda of talks between Abbas and Khaled Meshaal, head of the Hamas political bureau.

Some of the pressures afflicting Palestinians in Gaza have been caused by the Israeli blockade. However, others have been caused by the Palestinians’ own failure to establish a system of government that puts the welfare of the people first.

Until such a system is in place, the Palestinians’ daily tragedy is likely to continue.

Laki-laki Pemanggul Goni

http://oase.kompas.com/read/2012/02/27/1728474/Laki-laki.Pemanggul.Goni

Laki-laki Pemanggul Goni

| Jodhi Yudono | Senin, 27 Februari 2012 | 17:28 WIB

Karya Amrizal Salayan

Budi Darma

Setiap kali akan sembahyang, sebelum sempat menggelar sajadah untuk sembahyang, Karmain selalu ditarik oleh kekuatan luar biasa besar untuk mendekati jendela, membuka sedikit kordennya, dan mengintip ke bawah, ke jalan besar, dari apartemennya di lantai sembilan, untuk menyaksikan laki-laki pemanggul goni menembakkan matanya ke arah matanya.

Tidak tergantung apakah fajar, tengah hari, sore, senja, malam, ataupun selepas tengah malam, mata laki-laki pemanggul goni selalu menyala-nyala bagaikan mata kucing di malam hari, dan selalu memancarkan hasrat besar untuk menghancurkan.

Tubuh laki-laki pemanggul goni tidak besar, tidak juga kecil, dan tidak tinggi namun juga tidak pendek, sementara goni yang dipanggulnya selamanya tampak berat, entah apa isinya. Pada waktu sepi, laki-laki pemanggul goni pasti berdiri di tengah jalan, dan pada waktu jalan ramai, pasti laki-laki pemanggul goni berdiri di trotoir, tidak jauh dari semak-semak, yang kalau sepi dan angin sedang kencang selalu mengeluarkan bunyi-bunyian yang sangat menyayat hati.

Beberapa kali terjadi, ketika jalan sedang ramai dan laki-laki pemanggul goni menembakkan mata kepadanya, Karmain dengan tergesa-gesa turun, lalu mendekati semak-semak dekat trotoir, tetapi laki-laki pemanggul goni pasti sudah tidak ada lagi. Dan ketika Karmain bertanya kepada beberapa orang apakah mereka tadi melihat ada seorang laki-laki pemanggul goni, mereka menggeleng.

Apabila hari masih terang, beberapa kali laki-laki pemanggul goni membaur dengan orang-orang yang sedang menunggu bus, sambil menembakkan matanya ke arah Karmain. Tapi, ketika Karmain tiba di tempat orang-orang yang menunggu bus, laki-laki pemanggul goni sudah tidak ada, dan orang-orang pasti menggelengkan kepala apabila mereka ditanya apakah tadi mereka menyaksikan ada laki-laki pemanggul goni.

Pada suatu hari, ketika hari sudah melewati tengah malam dan Karmain sudah bangun lalu membersihkan tubuh untuk sembahyang, korden jendela seolah-olah terkena angin dan menyingkap dengan sendirinya. Maka Karmain pun bergegas mendekati jendela, dan menyaksikan di bawah sana, di tengah-tengah jalan besar, laki-laki pemanggul goni berdiri membungkuk mungkin karena goninya terlalu berat, sambil menembakkan matanya ke arah dirinya. Kendati lampu jalan tidak begitu terang, tampak dengan jelas wajah laki-laki pemanggul goni menyiratkan rasa amarah, dan menantang Karmain untuk turun ke bawah.

Karena sudah terbiasa menyaksikan laki-laki pemanggul goni bertingkah, dengan lembut Karmain berkata: ”Wahai, laki-laki pemanggul goni, mengapakah kau tidak naik saja, dan ikut bersembahyang bersama saya.” Kendati jarak antara jendela di lantai sembilan dan jalan besar di bawah sana cukup jauh, tampak laki-laki pemanggul goni mendengar ajakan lembut Karmain. Wajah laki-laki pemanggul goni tampak berkerut-kerut marah, dan matanya makin tajam, makin menyala, dan makin mengancam.

”Baiklah, laki-laki pemanggul goni, kalau kau tak sudi naik dan sembahyang bersama saya, tunggulah saya di bawah. Saya akan sembahyang dulu. Sejak saya masih kecil sampai dengan saatnya ibu saya akan meninggal, ibu saya selalu mengingatkan saya untuk sembahyang dengan teratur lima kali sehari. Fajar sembahyang satu kali. Itulah sembahyang subuh. Tengah hari sembahyang satu kali. Itulah sembahyang lohor. Sore satu kali, itulah sembahyang ashar. Senja satu kali. Itulah sembahyang maghrib. Malam satu kali. Itulah sembahyang isya. Lima kali sehari. Dan kalau perlu, enam kali sehari, tambahan sekali setelah saya bangun lewat tengah malam dan akan tidur lagi. Itulah sembahyang tahajud. Dan kamu selalu mengawasi saya, seolah-olah kamu tidak tahu apa yang patut aku lakukan dan apa yang tidak patut aku lakukan.”

Dengan tenang Karmain menutup korden, namun karena sekonyong-konyong angin bertiup keras, korden menyingkap kembali. Laki-laki pemanggul goni tetap berdiri di tengah jalan, tetap menampakkan wajah penuh kerut menandakan kemarahan besar, dan tetap menembakkan matanya dengan nyala mengancam. Di sebelah sana, dekat trotoir di sebelah sana, semak-semak bergoyang-goyang keras tertimpa angin, dan mengirimkan bunyi-bunyi yang benar-benar menyayat hati.

Karmain melayangkan pandangannya ke depan, ke gugusan apartemen-apartemen besar, dan tampaklah semua lampu di apartemen sudah padam, sejak beberapa jam yang lalu. Lampu yang masih menyala hanyalah lampu-lampu di gang-gang yang menghubungkan apartemen-apartemen itu, sementara lampu merah di tiang tinggi di sebelah sana itu, berkedip-kedip seperti biasa, seperti biasa menjelang hari menjadi gelap, atau mendung, atau hujan lebat.

Seperti biasa pula, lampu di tempat pemberhentian bus menyala, sebetulnya terang, tetapi tampak redup. Selebihnya sepi, kecuali angin yang tetap menderu-deru. Karmain pindah ke kamar lain, yang korden jendelanya ternyata juga terbuka, kemudian melihat jauh ke sana. Di sana itu, ada laut, dan meskipun gelap, terasa benar bahwa laut benar-benar sedang gelisah.

Sembahyang selesailah, lalu Karmain mendekati jendela, dan laki-laki pemanggul goni masih di sana, masih menunjukkan wajah marah, masih menembakkan pandangan mengancam. Maka Karmain turunlah. Dan ketika Karmain tiba di tepi jalan, laki-laki pemanggul goni tidak ada. Angin masih bertiup keras. Seekor anjing hitam, besar dan tinggi tubuhnya, mengawasi Karmain sekejap, kemudian menyeberang jalan, dan di tengah jalan berhenti lagi sebentar, mengawasi Karmain lagi, lalu lari ke arah kegelapan. Lalu terdengar lolongan-lolongan anjing, lolongan kesakitan, lolongan pada saat-saat meregang nyawa.

Dulu, ketika masih kecil, Karmain bersahabat karib dengan Ahmadi, Koiri, dan Abdul Gani, semuanya dari kampung Burikan. Dan di kampung Burikan tidak ada satu orang pun yang memelihara anjing, dan anjing dari kampung-kampung lain pun tidak pernah berkeliaran di kampung Burikan. Terceritalah, ketika mereka sedang berjalan-jalan di kampung Barongan, mereka tertarik untuk mencuri buah mangga di pekarangan rumah seseorang yang terkenal karena anjingnya sangat galak. Belum sempat mereka memanjat pohon mangga, dengan sangat mendadak ada seekor anjing hitam, tinggi dan besar tubuhnya, menyalak-nyalak ganas, kemudian mengejar mereka.

Sebulan kemudian, anjing hitam bertubuh tinggi dan besar mati, setelah terperangkap oleh racun hasil ramuan Ahmadi, Koiri, dan Abdul Gani.

Karmain menunggu beberapa saat, sambil berkata lembut dan perlahan-lahan: ”Wahai, laki-laki pemanggul goni, di manakah kau sekarang. Marilah kita bertemu, dan berbicara.”

Karena tidak ada kejadian apa-apa lagi, Karmain berjalan menuju semak-semak, dan, meskipun tiupan angin sudah meredup, semak-semak masih bergerak-gerak, menciptakan bunyi-bunyi yang menyayat hati.

Karmain kembali ke lantai sembilan, masuk ke dalam apartemen, kemudian mencari berkas-berkas lama yang sudah lama tidak ditengoknya. Setelah membuka-buka sana dan sini, Karmain menemukan album lama. Ada foto ibunya ketika masih muda, seorang janda yang ditinggal oleh suaminya karena pada hari raya Idul Adha, suaminya tertembak ketika sedang berburu babi hutan bersama teman-temannya di hutan Medaeng. Ada lima pemburu, termasuk dia, ayah Karmain. Mereka berlima masuk hutan bersama-sama, kemudian melihat seekor babi hutan berlari kencang, menabrak beberapa semak-semak. Untuk mengejar babi hutan itu, mereka berpisah, masing-masing lari ke berbagai arah. Siapa di antara empat temannya yang dengan tidak sengaja menembak ayah Karmain, atau justru dengan sengaja menembaknya, tidak ada yang tahu.

Karmain terpaku pada foto ibunya sampai lama, kemudian, tanpa sadar, dia terisak-isak. Dulu ibunya pernah bercerita, bahwa pada waktu-waktu tertentu akan ada laki-laki pemanggul goni, mengunjungi orang-orang berdosa. Pekerjaan laki-laki pemanggul goni adalah mencabut nyawa, kemudian memasukkan nyawa korbannya ke dalam goni. Ibunya juga bercerita, beberapa hari sebelum suaminya tertembak, pada tengah malam laki-laki pemanggul goni datang, mengetuk-ngetuk pintu, kemudian pergi tanpa meninggalkan jejak.

”Pada hari Idul Adha,” kata ibu Karmain dahulu, sebelum ayahnya pergi berburu. ”Tuhan menguji kesetiaan Nabi Ibrahim. Anaknya, Ismail, harus disembelih oleh ayahnya, oleh Nabi Ibrahim sendiri.”

Karmain tertidur, dan ketika terbangun, waktu sembahyang fajar sudah tiba. Dan setelah Karmain membersihkan tubuh, siap untuk sembahyang, korden jendela menyingkap lagi. Laki-laki pemanggul goni berdiri di tengah jalan lagi, wajahnya menunjukkan kemarahan lagi, dan matanya menyala-nyala, menantang lagi.

”Baiklah, laki-laki pemanggul goni, harap kamu jangan lari lagi.”

Dengan sangat tergesa-gesa Karmain turun, langsung ke pinggir jalan, dan laki-laki pemanggul goni sudah tidak ada.

Ketika Karmain tiba kembali di apartemennya, ternyata laki-laki pemanggul goni sudah ada di dalam, duduk di atas sajadah, melantunkan ayat-ayat suci, sementara goninya terletak di sampingnya.

Setelah selesai berdoa, tanpa memandang Karmain, laki-laki pemanggul goni berkata lembut: ”Karmain, kamu sekarang sudah menjadi orang penting. Kamu sudah menjelajahi dunia, dan akhirnya kamu di sini, di negara yang terkenal makmur. Bahwa kamu tidak mau kembali ke tanah airmu, bukan masalah penting. Tapi mengapa kamu tidak pernah lagi berpikir tentang makam ayahmu? Tidak pernah berpikir lagi tentang makam ibumu. Makam orangtuamu sudah lama rusak, tidak terawat, tanahnya tenggelam tergerus oleh banjir setiap kali hujan datang, dan kamu tidak pernah peduli.”

Laki-laki pemanggul goni berhenti sebentar, kemudian bertanya:

”Apakah kamu beserta sahabat-sahabatmu, Ahmadi, Koiri, dan Abdul Gani, pernah tersesat di hutan Gunung Muria?”

”Ya.”

”Tahukah kamu ke mana sahabat-sahabatmu itu pergi?”

”Tidak.”

”Mereka saya ambil. Saya tahu, kalau mereka tidak saya ambil, pada suatu saat kelak dunia akan gaduh. Gaduh karena, kalau tetap hidup, mereka akan mengacau, membunuh, dan menyebarkan nafsu besar untuk berbuat dosa. Saya tidak mengambil kamu karena kasihan. Kamu habis kehilangan ayah. Ayah bejat. Pada saat seharusnya dia di masjid, bersembahyang, dan kemudian membantu orang-orang menyembelih kambing, ayahmu berkeliaran di hutan. Bukan untuk menyembelih kambing, tapi mengejar-ngejar babi hutan untuk dibunuh. Ingatlah, pada hari Idul Adha, ketika Nabi Ibrahim sedang menyembelih anaknya sendiri, Ismail, datang keajaiban. Bukan Ismail yang disembelih, tapi kambing.”

Berhenti sebentar, kemudian laki-laki pemanggul goni bertanya dengan nada menuduh:

”Apakah benar, ketika kamu masih remaja, kamu menjadi penabuh beduk masjid kampung Burikan? Setiap saat sembahyang tiba, lima kali sehari, kamu menabuh beduk mengingatkan semua orang untuk sembahyang?”

Karmain ingat, ketika masih umurnya memasuki masa remaja, dia bercita-cita, kelak kalau sudah dewasa, dia akan memiliki gedung bioskop. Maka, dengan caranya sendiri, dia menciptakan bioskop-bioskopan. Kertas tipis dia gunting, dia bentuk menjadi orang-orangan. Lalu dengan tekun dia membuat roda kecil dari kayu. Orang-orangan dari kertas tipis dia ikat pada benang, benang ditempelkan pada roda kayu. Lalu dia memasang kertas minyak, menutup semua jendela supaya gelap, menyalakan lilin, menggerak-gerakkan orang-orangan. Dari balik kertas minyak terpantulah bayangan orang-orangan. Mereka bisa berlari-lari, berkejar-kejaran, dan saling membunuh, seperti yang terjadi pada tontonan wayang kulit.

Demikianlah, pada suatu hari, ketika sedang asyik-asyiknya bermain bioskop-bioskopan, tiba-tiba Karmain ingat, waktu untuk menabuh beduk sudah tiba. Maka berlarilah dia ke masjid, meninggalkan kertas-kertas tipis berserakan di lantai. Seorang anak kampung Burikan pula, Amin namanya, telah datang terlebih dahulu, dan telah menabuh beduk. Setelah selesai sembahyang, Karmain dan beberapa orang pulang. Dalam perjalanan pulang itulah, mereka melihat asap hitam pekat membubung ke langit. Udara pun menjadi luar biasa panas.

Hampir seperempat rumah di kampung Burikan terbakar, dan dua laki-laki lumpuh meninggal, terjebak oleh kobaran-kobaran api.

”Karmain,” kata laki-laki pemanggul goni sambil menunduk, ”Janganlah kamu pura-pura tidak tahu, kamu lari ke masjid, sementara lilin masih menyala.”

Sunyi senyap, dan laki-laki pemanggul goni tetap tertunduk.

”Wahai, laki-laki pemanggul goni,” kata Karmain setelah terdiam agak lama. ”Ibu saya dulu pernah berkata, ada laki-laki pemanggul goni yang sebenarnya, ada pula pemanggul goni yang sebetulnya setan, dan menyamar sebagai laki-laki pemanggul goni.”

Laki-laki pemanggul goni tersengat, kemudian memandang tajam ke arah Karmain. Wajahnya penuh kerut-kerut menandakan rasa amarah yang sangat besar, dan matanya benar-benar merah, benar-benar ganas, dan benar-benar menantang.

Setelah membisikkan doa singkat, Karmain berkata lagi: ”Bagaimana kamu bisa tahu, wahai laki-laki pemanggul goni, bahwa kelak Ahmadi, Koiri, dan Abdul Gani akan menyebarkan dosa yang membuat orang-orang tersesat?”

Laki-laki pemanggul goni, dengan kerut-kerut wajahnya dan nyala matanya, dengan nada ganas berkata: ”Hanya sayalah yang tahu apa yang akan terjadi seandainya mereka saya biarkan hidup.”

”Wahai, laki-laki pemanggul goni, hanya Nabi Kidirlah yang tahu apakah seorang anak kelak akan menciptakan dosa-dosa besar atau tidak. Apakah kamu tidak ingat, Nabi Kidir menenggelamkan perahu seorang anak muda yang tampan? Nabi Kidir tahu, kelak anak tampan ini akan menjadi pengacau dunia. Dan Nabi Kidir pun mempunyai hak untuk menghancurleburkan sebuah rumah mewah. Sebuah rumah mewah yang dihuni oleh seorang bayi yang kelak akan membahayakan dunia.”

Dan Karmain ingat benar, dulu, menjelang kebakaran hebat melanda kampung Burikan, kata beberapa orang saksi, laki-laki pemanggul goni datang. Lalu, kata beberapa saksi pula, laki-laki pemanggul goni masuk ke rumah Karmain, kemudian bergegas-gegas ke luar, dan melemparkan bola-bola api ke rumah Karmain. Dan setelah api berkobar-kobar ganas menjilati sebagian rumah di kampung Burikan, beberapa orang dari kampung Burikan dan kampung Barongan sempat melihat, laki-laki pemanggul goni melarikan diri di antara lidah-lidah api yang makin membesar.

Iran: senjata nuklir tidak pantas bagi kemanusiaan

Iran: senjata nuklir tidak pantas bagi kemanusiaan

Rabu, 29 Februari 2012 01:53 WIB | 911 Views

Jakarta (ANTARA News) – Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh mengatakan senjata nuklir tidak pantas bagi kemanusiaan, oleh karena itu tidak mungkin Iran menggunakan nuklir sebagai senjata.

“Kami sangat menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Jadi tidak mungkin Iran menggunakan nuklir sebagai senjata,” kata Mahmoud di Jakarta, Selasa malam.

Dia mengatakan Iran menggunakan hak wajarnya untuk memanfaatkan nuklir untuk tujuan sipil yakni mencari alternatif energi lain selain fosil. Diakuinya, seharusnya negara-negara yang melemparkan isu tersebut bisa memberi bukti.

“Namun kenyataannya, mereka sama sekali tidak bisa membuktikannya,” kata dia.

Farazandeh juga membantah pemberitaan yang menyebutkan pihaknya menghalang-halangi inspeksi yang dilakukan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pekan lalu.

“Itu merupakan hasil propaganda media Barat yang tidak senang terhadap kemajuan yang dicapai Iran,” tambah Farazandeh.

Dia menuturkan kejadian yang sebenarnya adalah inspektur IAEA melakukan inspeksi di situs pengembangan nuklir Iran dan mendapatkan akses untuk melihat uji coba nuklir tersebut.

“Iran sangat terbuka dengan negosiasi. Kami kecewa dengan pemberitaan Barat yang memberitakan sebaliknya. Media Barat bahkan menyebut Iran menghalangi kunjungan IAEA,” ujarnya.

Farazandeh mengatakan hal itu merupakan strategi Barat untuk menghancurkan Iran. Menurutnya, ada dua isu yang digunakan yakni isu hak asasi manusia dan nuklir.

“Padahal, Iran memanfaatkan nuklir untuk kepentingan damai. Bom atom itu melanggar nilai akhlak dan kemanusiaan. Kemanusiaan pantas mendapatkan hal yang jauh lebih baik daripada bom atom yang mampu menghancurkan banyak nyawa,” tambah Farazandeh.

Dia mengakui selama ini banyak pihak yang tidak senang dengan kemajuan yang dicapai Iran usai terjadinya Revolusi Islam, 33 tahun yang lalu. Oleh karenanya, banyak pihak berusaha mengganyang Iran dengan berbagai cara.

(I025/M014)
Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2012

 

Pembocor Rahasia AS Dinominasikan Raih Nobel

 

Pembocor Rahasia AS Dinominasikan Raih Nobel  

Rizki Gunawan

28/02/2012 12:31
Liputan6.com, Oslo: Institut Nobel Perdamaian belum lama ini mengumumkan 231 calon penerima penghargaan bergengsi Nobel Perdamaian 2012. Dalam daftar nama tersebut terdapat tentara Amerika Serikat bernama Bradley Manning yang membocorkan dokumen rahasia ke WikiLeaks. Analis militer AS itu dituding membocorkan ribuan dokumen rahasia kepada situs whistle-blower tersebut. Pria itu terpaksa harus menghadapi 22 dakwaan yang diajukan terhadap dirinya.

Selain Manning, mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan bekas Kanselir Jerman Helmut Kohl yang memimpin proses reunifikasi negaranya juga terdaftar untuk menerima hadiah bergengsi tersebut. Tak hanya itu, mantan Perdana Menteri Ukraina sekaligus pemimpin oposisi yang kini dipenjara, Yulia Tymoshenko juga masuk dalam daftar kandidat pemenang.

Seperti dilansir media Times of India, Selasa (28/2), total calon penerima nobel 2012 ini terdiri dari 188 individu dan 43 organisasi. Adapun pemenang akan diumumkan pada Oktober mendatang.

“Seperti biasanya, ada kandidat yang biasa masuk daftar, ada juga sejumlah pendatang baru. Beberapa calon ada yang terkenal dan ada juga yang tidak dikenal. Semua kandidat berasal dari empat penjuru dunia,” kata Kepala Institut Nobel Geir Lundestad.(RZK/ANS)

 

Buruh Tuntut Sistem Kontrak Kerja Dihapus

Buruh Tuntut Sistem Kontrak Kerja Dihapus

Edwin Satriyo

28/02/2012 23:01
Liputan6.com, Surabaya: Ribuan karyawan dan buruh outsourcing berdemonstrasi di depan halaman PT Jacob di Jalan Raya Kali Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (28/2). Mereka meminta manajemen pabrik menghapus sistem kontrak.

Para karyawan yang telah mengabdi selama puluhan tahun itu juga merasa keberatan dengan peraturan perusahaan yang baru. Mereka menilai peraturan tersebut memberatkan para pekerja.

Massa menuntut agar permintaan buruh dipenuhi pihak perusahan dan segera melakukan dialog. Jika tidak, mereka mengancam akan menduduki area pabrik dan mogok kerja. Akibat aksi ini, pabrik tersebut tidak beroperasi.(APY/ULF)

 

BBM Naik Rp2.000/Liter?

BBM Naik Rp2.000/Liter?

Jero Wacik meminta rakyat tenang menghadapi isu kenaikan BBM.

Rabu, 29 Februari 2012, 03:03 WIB
Denny Armandhanu, Winda Yanti

VIVAnews – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memilih opsi kedua yaitu mematok subsidi bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp2000 per liter karena dinilai lebih fleksibel.

“Pemerintah pilih kedua, karena opsi kedua lebih fleksibel, jadi kalau naik turun sedikit akan terus disubsidi.” kata Menteri ESDM, Jero Wacik usai Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI di Gedung MPR/DPR RI, Jakarta, Selasa 28 Februari 2012.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah mempunyai dua opsi terkait BBM bersubsidi. Opsi pertama, menurunkan subsidi Rp1.500 sehingga BBM naik dari Rp 4.500 menjadi Rp6.000 kembali seperti Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I dan opsi kedua dengan mematok penurunan subsidi Rp2.000 per liter, sehingga harga BBM menjadi Rp6.500 per liter.

Jero mengatakan pemerintah mempunyai dua opsi mengingat harga minyak dunia sudah mengalami kenaikan dimana rata-rata harga minyak mentah (ICP) sekarang sudah menembus US$121 per barel.

“Kemarin Januari saya tanda tangan harga minyak mentah US$115 per barel dimana asumsi APBN US$90 per barel kelihatan jauh. Nah sekarang rata-rata harga minyak mentah kita sudah US$121 per barel. Dilihat dari segi harga minyak mentah, APBN kita akan tertekan.” ujar Jero.

Apalagi, lanjut Jero, dengan melihat pertumbuhan dunia yang memengaruhi harga minyak dunia dan suasana geopolitik di Iran. “Maka asumsi-asumsi yang sudah diadakan di APBN tahun 2012 banyak yang menyimpang dan signifikan.” kata Jero.

“Karena itu kita harus segera mengambil langkah tentang APBN tapi kita juga harus jaga masyarakat menangah kebawah, karena mereka rentan” tambah Jero.

Maka dari itu, Jero mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dalam menghadapi u rencana kenaikan harga BBM. “Tenang saja, kami dengan DPR akan cari formula yang baik, kalau APBN mengalami kenaikan nantinya akan ada kompensasi kepada masyarakat yang tergolong miskin supaya tidak terlalu berat.” kata Jero.

Jero mengatakan bahwa sesuai dengan petunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar kalau kantong pemerintah kempes jangan rakyat saja yang disuruh berkorban, pemerintah juga harus berkorban. “Maka dari itu, APBN kami juga akan dikurangi, proyek dan gedung bisa ditunda untuk mengamankan APBN,” kata Jero. (umi)

• VIVAnews

 

Tahun Depan Tak Boleh Impor Garam

28.02.2012 12:43

Rokhmin Dahuri: Tahun Depan Tak Boleh Impor Garam

(foto:dok/ist)

JAKARTA – Pemerintah memutuskan akan mengimpor garam konsumsi sebanyak 500.000 ton. Terkait hal itu, pemerintah diingatkan untuk memprioritaskan garam hasil produksi petani. Jika terpaksa impor, pertimbangannya semata-mata untuk memenuhi kekurangan atas kebutuhan industri, bukan untuk konsumsi.

Hal itu dikatakan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, yang juga Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia, Rokhmin Dahuri kepada SH di Jakarta, Minggu (26/2).

“Kalaupun terpaksa impor tahun ini hanya untuk garam industri, jangan garam konsumsi dan sifatnya sementara. Tahun depan tidak boleh impor lagi,” katanya.

Rokhmin juga menegaskan, kebijakan impor garam selain menghamburkan devisa juga akan menghancurkan usaha dan industri garam nasional, menyengsarakan petani garam dalam negeri, menambah jumlah penganggur, kehilangan nilai tambah dan sejumlah multiplier effects lainnya.

Menurutnya, strategi untuk mewujudkan Indonesia berswasembada dan sekaligus sebagai eksportir garam dapat ditempuh melalui tujuh kebijakan dan program aksi,  di antaranya dengan pemberhentian impor garam secara bertahap,  peningkatan produksi garam nasional, penguatan dan pengembangan supply and value chain system secara terpadu, pengembangan program penelitian (research and development), peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), penciptaan iklim investasi yang kondusif, dan kebijakan politik ekonomi yang mendukung kinerja usaha garam nasional.

Ketua Umum KTNA, Winarno Tohir mengatakan, dengan melihat stok garam di awal 2012 yang mencapai 306.000 ton, angka tersebut hanya mencukupi untuk jangka waktu 2,5 bulan sebelum menghadapi masa panen raya yang diperkirakan akan terjadi pada Juni mendatang.

“Dengan asumsi kebutuhan industri per bulan mencapai 120.000 ton, untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri setidaknya dibutuhkan sekitar 500.000 ton,” katanya kepada SH, Sabtu (25/2).

Ia menegaskan, kebutuhan impor ini hanya untuk memenuhi kekurangan selama masa panen belum bergulir. Atau hanya selama empat bulan sebelum masa panen garam, dengan asumsi kebutuhan industri per bulan mencapai 120.000 ton.

“Saat ini saja kalau tidak ada panen garam, harganya bisa mencapai Rp 700-900 per kg. Namun, jika panen datang harganya bisa mencapai Rp 250-300 per kg,” ia menjelaskan.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo mengatakan, sebelum impor dibuka, pemerintah akan memastikan importir dan produsen menyerap garam petani dulu. ”Pemerintah juga harus mengidentifikasi stok yang ada saat ini ada di mana saja. Jadi, selama dalam negeri bisa mencukupi, impor tidak diperlukan. Impor adalah alternatif terakhir,” katanya. (CR-29)

=========

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/impor-meracuni-swasembada-garam/

28.02.2012 10:11

Impor Meracuni Swasembada Garam

Penulis : Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri, MS*

(foto:dok/ist)

Di era dunia yang semakin padat, persaingan antarbangsa yang kian tajam, dan bumi yang terus memanas (global warming), hanya bangsa yang mampu mengembangkan daya sainglah yang bisa maju, sejahtera, dan berdaulat.

Dengan daya saing yang tinggi, sebuah bangsa dapat memproduksi barang dan jasa yang kompetitif, baik untuk memenuhi kebutuhan nasional maupun ekspor. Tujuannya agar bangsa tersebut mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas untuk memberikan lapangan kerja bagi rakyatnya secara adil dan berkesinambungan.

Sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia yang 3/4 wilayahnya berupa laut dengan lebih dari 13.400 pulau yang dirangkai garis pantai sepanjang 95.200 km (terpanjang kedua setelah Kanada), Indonesia sejatinya memiliki potensi produksi sumber daya alam pesisir dan lautan yang sangat besar dan beragam, termasuk garam.

Ironisnya, sejak sepuluh tahun terakhir Indonesia justru menjadi pengimpor garam terbesar di dunia. Selain menghamburkan devisa, kebijakan itu juga akan menghancurkan usaha dan industri garam nasional dengan segala dampaknya.

Padahal, garam merupakan salah satu dari sembilan kebutuhan pokok dan bahan baku berbagai macam industri. Sepatutnya, sejak sekarang kita mengelola usaha produksi garam nasional secara cerdas dan serius, demi memenuhi keperluan konsumsi maupun industri.

Strategi untuk mewujudkan Indonesia berswasembada dan sekaligus sebagai eksportir garam dapat ditempuh melalui tujuh kebijakan dan program aksi sebagai berikut: (1) menghentikan impor garam secara bertahap, (2) meningkatkan produksi garam nasional, (3) penguatan dan pengembangan supply and value chain system secara terpadu, (4) pengembangan program penelitian (research and development), (5) peningkatan kapasitas sumber daya manusia, (6) penciptaan iklim investasi yang kondusif, dan (7) kebijakan politik ekonomi yang mendukung kinerja usaha garam nasional.

Status Produksi

Untuk menyusun dan mengimplementasikan ketujuh kebijakan serta program aksinya, haruslah didasarkan pada data yang sahih tentang: (1) potensi produksi dan produksi garam saat ini (existing production) secara nasional maupun per daerah (kabupaten dan provinsi); (2) kebutuhan nasional untuk garam konsumsi, industri, dan keperluan lainnya; (3) stok dan sistem logistik garam nasional, dan (4) faktor-faktor yang menyebabkan Indonesia mengimpor garam.

Dari 40 kabupaten/kota produsen garam nasional yang tersebar di 10 provinsi (Jabar, Jateng, Jatim, Bali, NTB, NTT, Sulteng, Sulsel, Sulut, dan Gorontalo) dengan luas total lahan 21.876,05 hektare (ha) pada 2011, dapat diproduksi 1,4 juta ton garam.

Sementara itu, , total produksi garam nasional pada 2008, 2009, dan 2010 berturut-turut sebesar 1,2 juta ton, 1,37 juta ton, dan 0,031 juta ton. Sampai sekarang Indonesia mengimpor garam industri dari berbagai negara, khususnya Australia dan India.

Perlu dicatat, total produksi garam konsumsi sebesar 1,4 juta ton pada 2011 (Tabel 1) itu adalah perkiraan KKP pada 2011. Namun, berdasarkan perhitungan terakhir, ternyata total produksi garam konsumsi nasional pada 2011 hanya mencapai 1,1 juta ton (Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Kemendag dalam Republika, 20 Februari 2012, halaman 13). Oleh karena itu, sangat beralasan bila Indonesia masih mengimpor garam.

Akan tetapi, banyak produsen (petani) garam berkeyakinan, terjadi manipulasi data produksi dan kebutuhan garam nasional, terutama garam konsumsi oleh pihak (kelompok) importir garam.

Para pengimpor garam ini diduga melaporkan kebutuhan garam nasional yang lebih besar daripada kebutuhan sebenarnya. Sebaliknya, mereka melaporkan data produksi garam konsumsi nasional lebih kecil ketimbang produksi riil.

Tujuannya jelas, yakni ada argumen untuk mendapatkan izin impor garam dari Kementerian Perdagangan. Untuk alasan impor, para importir juga kerap menimbun garam dari produksi nasional agar peredarannya terbatas dan harga naik.

Produktivitas Rendah

Rendahnya produksi garam nasional disebabkan produktivitas yang sangat rendah, yakni sekitar 60 ton per ha per tahun. Sementara itu, produktivitas usaha garam di Australia dan India kini rata-rata mencapai 200 ton per ha per tahun. Kita pun belum mengusahakan seluruh lahan pesisir yang potensial atau cocok untuk tambak garam, yang diperkirakan mencapai 100.000 ha.

Apabila pada 2012 ini kita mampu mengembangkan usaha tambak garam seluas 40.000 ha (40 persen dari total luas potensial) dengan produktivitas rata-rata 100 ton per ha per tahun (setengah dari Australia dan India), kita akan dapat menghasilkan garam nasional sebesar 4 juta ton.

Jika diasumsikan total kebutuhan garam nasional untuk konsumsi dan industri pada tahun ini meningkat 15 persen dari 2011, total kebutuhan garam nasional pada 2012 ini sekitar 3,91 juta ton. Artinya, kita tidak perlu impor.

Sayang, rapat koordinasi di Kemenko Perekonomian pada 19 Februari 2012 telah memutuskan pemerintah akan mengimpor garam sedikitnya 500.000 ton pada 2012. Sebagai catatan, pada 2011 Kemendag mengizinkan impor garam konsumsi sebesar 1,04 juta ton, dan yang terealisasi baru 923.756 ton atau 88,82 persen pada awal Agustus tahun lalu.

Peningkatan Produksi

Berdasarkan data pada Tabel 1 dan uraian di atas, jelas sebenarnya kita bisa memproduksi garam bukan hanya untuk kebutuhan nasional, namun juga ekspor dalam rangka mendapatkan tambahan devisa, nilai tambah, penciptaan lapangan kerja baru, dan membangkitkan sejumlah efek berantai.

Akan tetapi, upaya peningkatan produksi garam nasional juga harus dipastikan mampu meningkatkan kesejahteraan para petambak garam rakyat. Untuk itu, kita perlu melaksanakan sejumlah kebijakan dan program berikut:

Pertama, pada subsistem produksi, kita mesti meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha garam dengan menerapkan teknologi produksi garam dan sesuai daya dukung wilayah. Dengan begitu, kita dapat meningkatkan produktivitas garam nasional sejajar dengan Australia dan India, yakni 200 ton per ha per tahun.

Para petambak garam di Kecamatan Ambulu, Kabupaten Cirebon berhasil meningkatkan prduktivitas tambak garamnya dari 60 ton per ha per tahun menjadi 120 ton per ha per tahun. Selain itu, kita pun memperluas usaha produksi garam di lahan pesisir baru dengan teknologi baru selain penguapan, seperti teknologi perebusan yang diterapkan di Sulawesi Utara.

Kedua, sejak sekarang kita harus mulai memproduksi garam industri di Tanah Air dengan menerapkan teknologi mutakhir.

Ketiga, setiap unit usaha produksi garam perlu diupayakan agar memenuhi skala ekonomi, sehingga menguntungkan pelaku usahanya.

Keempat, pemerintah bekerja sama dengan sektor swasta dan BUMN harus menjamin pasar bagi produk garam dari petambak (produsen) garam di seluruh wilayah NKRI dengan harga yang menguntungkan petambak garam.

Kelima, infrastruktur dan sarana untuk produksi garam mesti dirawat dan diperbaiki, serta dibangun yang baru di setiap kabupaten/kota sesuai kebutuhan wilayah di seluruh Indonesia. Ini perlu agar swasembada garam yang telah dicanangkan pemerintah dapat diraih dan bukan sekadar wacana.

Keenam, pemerintah harus memberikan dukungan permodalan dari lembaga perbankan kepada pengusaha garam, termasuk para petambak garam, dengan suku bunga yang relatif rendah (sama dengan di Malaysia, India, Australia, Thailand, dan China) dan persyaratan lunak.

Ketujuh, pendampingan teknologi produksi dan manajemen usaha. Swasembada garam nasional, bahkan Indonesia sebagai pengekspor garam, akan berhasil bila petambak garam diberikan pendampingan teknologi dan manajemen tentang cara mengelola produksi garam sesuai standar.

Ini dilakukan agar petambak menghasilkan garam bermutu tinggi dan mampu bersaing dengan garam dari negara lain. Peran penyuluh atau pendampingan di lapangan sangat penting untuk membina para petambak garam.

Kedelapan, penguatan dan pengembangan aktivitas riset dan pengembangan agar Indonesia mampu menguasai dan menerapkan teknologi mutakhir di bidang produksi garam.

Akhirnya, kedelapan, jurus di atas akan membuahkan hasil gemilang bila didukung iklim investasi yang atraktif dan kondusif serta kebijkan politik-ekonomi yang kondusif bagi tumbuh kembangnya usaha produksi garam nasional.

*Penulis adalah Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB; Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia; juga Penasihat Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan RI.