Archive for October, 2009|Monthly archive page

RAKERNAS APPSI (18-20 NOVEMBER 2009): PERISTIWA POLITIK-EKONOMI DAN KEBUDAYAAN

 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  direncanakan akan hadir di Palangka Raya, 18-20 November 2009, membuka Rakernas Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI). Rakernas APPSI di Palangka Raya itu akan membahas kedudukan provinsi sebagai otonomi daerah dan kedudukan gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah yang selama ini dinilai masih kurang maksimal. Akan dibahas juga tentang pemekaran di wilayah provinsi, global climate change. Seluruh hasil pembahasan itu, nantinya akan durangkaikan dalam sebuah proposal yang lebih kongkret, termasuk efek positif dan negatifnya pada pemprov untuk diajukan kepada pemerintah pusat (Harian Tabengan, Palangka Raya, 26 Oktober 2009).

Dipercayakannya penyelenggaraan Rakernas APPSI ini kepada Kalteng, merupakan suatu kepercayaan politik dan tentu saja mempunyai makna politik. Kepercayaan politik bahwa Kalteng dinilai oleh Jakarta mempunyai syarat dan kemampuan untuk menyelenggarakannya. Makna politik bahwa Kalteng  didorong untuk lebih mengkonsolidasi capaian-capaian yang sudah diraup. Kecuali itu suatu kesempatan bagi Kalteng untuk memperlihatkan kebolehan diri baik secara politis, organisatoris dan kemampuan praktis/tekhnis menyelenggarakan pertemuan penting skala nasional. Barangkali Rakernas APPSI beginipun  membuka peluang bagi Kalteng untuk menggalang kerjasama saling menguntungkan dalam berbagai bidang dengan provinsi-provinsi lain di tanahair. Melalui Pameran Pembangunan diikuti oleh 33 provinsi, yang akan diadakan bersamaan dengan Rakernas, barangkali Kalteng dan provinsi-provinsi lain bisa saling berkaca diri tentang keunggulan dan kelemahan masing-masing.

Perihal tema yang dibahas, kita berharap Rakernas Palangka Raya sungguh-sungguh bisa menyimpulkan positif-negatifnya otonomi daerah selama ini. Kita tidak mengharapkan bahwa otonomi daerah, hanya namanya saja yang otonomi, tetapi pada kenyataannya, ketergantungan pada Pusat masih kuat. Pusat masih menentukan hal-hal kunci terutama dari segi politik dan ekonomi. Sehingga yang disebut otonomi tidak ubah seperti otonomi ular. Pegang ekor lepas kepala. Padahal ular tidak membunuh karena ekornya melainkan karena bisa yang dilepaskannya melalui kepalanya. Pembagian pendapatan yang tak adil, timpang antara pusat dan daerah, penguasaan sebagian besar hasil-hasil tambang, pajak yang tidak memberi peluang kepada daerah untuk membangun  dan berbenah, kekuasaan Pusat sampai dalam soal rusunawa (rumah susun sewa) , pelistrikan dan lain-lain, tidak lain dari bisa-bisa membunuh daerah dari yang disebut otonomi daerah. Pertanyaan terpenting dalam otonomi daerah, barangkali bagaimana otonomi itu benar-benar merupakan sarana memberdayakan dan membangun daerah sehingga Republik Indonesia benar-benar dirasakan sebagai betang bersama yang nyaman, adil, sejahtera dan tenteram oleh semua etnik. Perasaan dan terwujudnya hasrat ini akan meredam reaksi politik seperti munculnya gerakan separatis atau gerakan kemerdekaan. Gerakan kemerdekaan atau separatis sesungguhnya tidak lain dari jawaban terhadap segala akitbat yang diangkut dan diturunkan oleh pilihan politik Jakarta. Upaya untuk memukul kepala ular yang menabur bisa pembunuh. Diharapkan pula bagaimana otonomi daerah tidak menjadi kesempatan menyebarkan korupsi dan melalui korupsi membangun dinasti-dinasti politik dan ekonomi yang akhirnya mirip dengan tumbuhnya rajaperang-rajaperang (warlords) kekinian. Diharapkan bagaimana melalui Rakernas Palangka Raya APPSI terpecahkan masalah kepadanan antara struktur dan kultur.

Termasuk sebagai persiapan Rakernas APPSI, sudah diminta masukan dari politikolog Ryas Rasyid dan ekonom Avillani. Tanpa mengurangi arti penting pakar, jika boleh mengambil acuan dari negeri-negeri Eropa Barat, terutama Perancis, untuk pertemuan-pertemuan penting, biasanya pihak pemerintah meminta pula pendapat-pendapat partner sosial.  Selain dekat dengan lapangan, patner-patner sosial ini (sarikatburuh-sarikat buruh, sarikat tani, sarikat buruh, dan lain-lain) juga mempunyai tim ahli mereka. Tidak jarang apa yang dikatakan dan dinasehatkan para pakar sangat jauh dari tanggap keadaan. Sebagaimana halnya media massa dan sarikat majikan, mempunyai biro penelitian mereka sendiri. Tapi posisi patner sosial ini di Indonesia, apalagi Kalimantan Tengah, masih sangat lemah sehingga akhirnya pemerintah dan masyarakat mengarah pada pandangan pakar. Pakar dipandang sebagai luput dari kesalahan. Padahal tidak demikian kenyataannya. Dalam keadaan posisi patner sosial yang tidak bisa dijadikan hitungan, barangkali media massa, terutama media massa tulis, bisa membantu menyalurkan pendapat-pendapat dari kalangan masyarakat sebagai masukan bagi Gubernur dan kabinetnya guna memahami aspirasi masyarakat. Gubernur dan kabinetnya yang merakyat akan sangat memerlukan masukan begini. Mengetahui aspirasi masyarakat barangkali bisa dijadikan bahan mentah, paling tidak untuk menangkap persoalan hidup dalam masyarakat, sebagai sangu ke Rakernas. Sebab persoalan pun bisa berkarakter ganda: subyektif dan obyektif. Yang diperlukan Rakernas, yang diperlukan Gubernur dan kabinetnya adalah menangkap persoalan secara benar. “Engkau tak dapat memisahkan yang adil dan yang tidak adil, yang baik dan tidak baik. Sebab mereka berdiri bersama-sama di hadapan matahari seperti halnya benang hitam dan benang putih ditenun bersama-sama. Ketika benang hitamnya putus, sang penenun akan memandang keseluruhan kainnya, dan juga akan memeriksa alat tenunnya”, ujar Kahlil Gibran. Tanpa langkah demikian, maka seperti yang dikatakan oleh filosof Perancis Jean Baudrillard, yang dianggap benar tidak lain dari “apa yang harus ditertawakan”, alias kebenaran atau persoalan subyektif.

Rakernas dalam tuturan seperti di atas bisa disebut sebagai peristiwa politik-ekonomi. Apalagi hasil-hasil Rakernas bisa dipastikan akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan politik di negeri ini, termasuk di Kalteng.

Di pihak lain, hasilnya pun akan mempunyai dampak budaya yang sulit direka sekarang, sebelum hasilnya dirumuskan. Hanya saja, waktu Rakernas tersebut diselenggarakan, saya kira, kegiatan-kegiatan kebudayaan akan turut memeriahkannya. Entah itu berupa pergelaran tari, musik, teater, musikalisasi puisi, pembacaan puisi,  dan entah apa lagi. Pergelaran-pergelaran apapun yang akan ditampilkan kelak, hal ini merupakan peristiwa budaya khusus baik dalam mutu maupun dalam kadar penonton. Pergelaran-pergelaran demikian seniscayanya benar-benar mewakili Kalteng. Karena itu perlu disiapkan benar-benar. Diharapkan pergelaran-pergelaran seni ini kelak, sekaligus berdampak memacu kehidupan berkesenian di provinsi kita. Dengan tujuan memacu maju perkembangan kebudayaan di Kalteng, alangkah baiknya pemilihan grup-grup, komunitas-komunitas dan sanggar-sanggar yang dilibatkan, tidak sebatas yang terdapat di Palangka Raya saja, tapi juga mengikut-sertakan komunitas-komunitas terpilih dari segi mutu dari kabupaten-kabupaten. Pengikut-sertaan kabupaten secara psikhologis akan sangat mendorong mereka. Dorongan psikhologis akan berlanjut pada dorongan riil. Pengikutsertaan berdasarkan mutu ini, meniscayakan kita melakukan seleksi ketat secara obyektif kesenian murni, tanpa pertimbangan  politik ini itu dan apalagi pertimbangan subyektif yang berbahaya. Dari Palangka Raya, barangkali Grup Paduan Suara Sakatik dan Komunitas Sastra-Seni Terapung (baik untuk pembacaan puisi, atau musikalisasi puisi, drama ), satu sanggar tari (misalnya sanggar asuhan Tonny Sulantri atau yang lain). Selebihnya diambil dari Katingan Hilir (misalnya Sanggar Antang Handep Batuah), Barito, Seruyan, dan lain-lain. Hasil Festival Tari Pelajar Se Kalteng di Buntok  (26-27 Oktober 2009) barangkali bisa dijadikan sebagai salah satu acuan. Sekali lagi yang jadi pertimbangan terutama dan paling utama adalah mutu seni obyektif pertunjukkan jika kita ingin Kalteng terwakili secara layak dan maju bersama-sama. Event begini akan berdampak besar bagi kehidupan berkesenian di provinsi. Penyakit pilih kasih dan subyektif tidak menguntungkan Kalteng.

Entah siapa yang terpilih berdasarkan mutu, sejak dini perlu diberitahu agar mereka bisa melakukan persiapan-persiapan sebaik mungkin demi nama Kalteng kita. Waktu latihan sampai 18 November bukanlah waktu yang lama.

Terlintas juga di pikiran saya, pada kesempatan Rakornas APPSI ini apakah tidak ada baiknya jika berbarengan dengan Pameran Pembangunan 33 Provinsi, diselenggarakan juga pameran lukisan pelukis-pelukis Uluh Kalteng dan buku-buku (termasuk media massa cetak) tentang Kalteng (khususnya kebudayaan), termasuk pameran lukisan anak-anak. Untuk yang terakhir ini, Bruder Markus, F.X Suryo Sulistyo, Lampang, dan Mas Eko barangkali layak didengar pendapat mereka dan dilibatkan. Karena sehari-hari, mereka langsung terlibat dalam bidang ini.

Dengan demikian usulan-usulan demikian, maka Rakernas APPSI sekaligus merupakan suatu event budaya berdampak jauh bagi kehîdupan budaya provinsi. Bahwa seandainya kesempatan ini, para seniman-budayawan ingin memanfaatkannya sebagai kesempatan tukar-pendapat, entah berbentuk seminar atau apakah namanya, tentu bukan sesuatu yang negatif.

Saya sudah menuliskan usul dan harapan yang lahir dari mimpi saya tentang bangkitnya kegiatan budaya di Kalteng. Boleh jadi suara ini bernasib suara yang diteriakkan di pinggir lembah berhutan lebat, yang terdengar hanyalah gaung-gema suara sendiri. Boleh jadi juga ia jika mimpi, mimpi yang jauh dari bumi.***

 

Palangka Raya, Oktober 2009

Kusni Sulang

Advertisements

MEREKA TIBA DENGAN SAHEWAN HARAPAN & SPIRIT MEMBANGUN KALTENG

 

Seorang penyair Tiongkok pernah menulis bahwa selaiknya di tengah kegelapan pekat yang tidak menampakkan ujung jari  sekalipun, kita harus melihat titik cahaya sekecil apapun. Bahwa kehidupan bukanlah hanya terdiri dari kegelapan. Dengan kata lain, bahwa guntur dan petir yang sambar-menyambar dari langit tidak meruntuhkan matahari dan mengambrukkan langit. Demikianlah peran dan posisi harapan realis, yang juga disebut mimpi. Karena itu “Anda harus bermimpi sebelum mimpi itu berubah menjadi kenyataan”, ujar politisi kawakan India, Abdul Kalam.

Bayangkanlah Kalimantan Tengah kita masih berada di bawah langit kelam. Guntur dan petir persoalan masih menggelegar menyambar kehidupan. Berada di tengah-tengah Kalteng masih berada dalam keadaan demikian, ketika kembali pulang membayar hutang moral pada kampung-halaman, tanpa diduga, tanpa pernah membayangkannya,  saya berjumpa dengan Atal S. Depari dan Bina Karos, keponakannya yang seorang fotografer. Kedua paman-keponakan itu berdarah Batak Karo yang menurut Bang Atal, demikian saya memanggilnya, adalah seorang wartawan berpengalaman dan salah seorang pengurus PWI Pusat. Di Jakarta dan di Sumatera Selatan pernah merintis penerbitan harian yang kemudian berkembang maju sampai sekarang. Dan sekarang ia dan Bina datang ke Palangka Raya untuk mendirikan Harian Umum Tabengan. Sejak 12 Oktober lalu, Harian ini telah memulai penerbitannya dan menemui para pembaca saban hari membawa « spirit membangun Kalteng » sebagai motto. “Spirit membangun” bukan hanya spirit Tabengan tapi juga spirit Bang Atal dan Bina.

Ketika merenungkan apa arti dan ciri “spirit membangun” ini, saya sampai pada kesmpulan bahwa spirit itu ditandai oleh prakarsa, kreativitas, sifat pelopor, kerja keras, tekad dan keberanian. Spirit itu lahir dari kandungan wacana utuh tentang hari esok baik yang manusiawi, berkeadaban, kemudian diikuti oleh komitmen untuk melaksanakannya.

Tentang wacana dan perlunya wacana utuh manusiawi berkeadaban ini sangat jelas pada Bang Atal ketika ia berbicara tentang hubungan pers, kebudayaan, politik, ekonomi, pariwisata, kesehatan, pendidikan, asap, dan bidang-bidang lain. Juga tersirat ketika ia mengkritisi padangan bahwa wartawan tidak lain dari “kuli tinta” saja. Tidak! Menurut pandangan Bang Atal, pekerja pers, khususnya wartawan, bukanlah “kuli tinta”. Kuli itu adalah pekerja badan. Ketika disuruh oleh majikan atau mandornya mengangkat barang ini dan itu ke suatu tempat, maka mereka angkat sesuai perintah majikan dan atau mandor. Benar, wartawan memang ada yang memperlakukan diri dan bertindak seperti kuli. Tapi wartawan/pekerja pers demikian bukanlah wartawan sejati. Bukan wartawan sesungguhnya. Wartawan sesungguhnya adalah yang mempunyai wacana, juga seorang pemikir dan penganalisis. Untuk bisa menjadi wartawan demikian, wartawan sesungguhnya, selain harus kaya data, iapun harus tanpa henti belajar dan berpikir. Belajar dari kehidupan, dari buku, dari siapa saja dan apa saja. Kehidupan adalah ruang kuliah yang kaya muatan. Hanya wartawan-wartawan beginilah yang mampu melakukan langkah-langkah pembidasan dan mampu menawarkan ide-ide terobosan untuk bangsa dan negeri serta kemanusiaan. Karena wacana demikian merupakan sumber dari segala prakarsa.

Sebagai seorang pemikir, Bang Atal sering mengatakan bahwa ia memerlukan sparing-patner dalam debat pencarian hakiki hal-ikhwal agar tidak jatuh ke ruang sunyi intelektualitas. Ia merasa bahwa kesunyian intelektualitas akan membuat orang kerdil, bisa memerosotkan seseorang pekerja pers ke tingkat “tukang” atau “kuli” yang kemudian akan menumpulkan penanya. Karena itu, ia ingin di atas kantornya bisa dibangun sebuah tempat santai untuk tukar-pikiran, berbincang-bincang, berdebat tentang rupa-rupa masalah, yang memungkinkan ide-ide baru bisa ditelorkan. Ketakutan Bang Atal akan kesunyian intelektualitas menandakan ia adalah seorang pencari nilai yang gelisah. Kehidupannya tak obah sebuah kalimat yang hanya sampai koma, tak  punya titik. Sebenarnya semangat inilah yang ia coba alihkan kepada para wartawan Tabengan yang ia pimpin.Ia memimpinkan wartawan-wartawan Tabengan bisa tumbuh berkembang sebagai wartawan sejati. Tak ia inginkan adanya wartawan yang puas diri karena sudah menyandang profesi wartawan tapi hampa isi. Mengikutinya menuturkan mimpi tentang Tabengan dan  Kalteng, saya melihat di suatu hari melalui tangannya akan lahir barisan wartawan sejati di Bumi Tambun Bungai itu. Melihat Kalteng  setara dengan kegiatan-kegiatan kebudayaan dengan mutu tak kalah dari daerah manapun. Dalam kenyataan, sebagai seorang pemred, Bang Atal pada galibnya tidak lain dari seorang guru. Sebagai pemred, ia sedang berada di depan kelas jurnalistik. Keinginan-keinginan inipun merupakan bukti lain bahwa Bang Atal adalah seorang pemimpi, pemikir dan pencari nilai yang membumi dan tak takut kerja susah-payah. Tanpa ia katakan tapi saya simak bahwa melalui tindakan-tindakannya pemred yang bersemangat dan gigih ini bersikap seperti yang dikatakan oleh Johan Wolfgang Goethe: “Aapalah arti hidup jika tidak banyak memberi manfaat kepada orang lain?”

Sangat menarik bagaimana Bang Atal mengetengahkan hasil renungannya tentang masa jabatan lima tahun gubernur-wakil gubernur. Sebagai mantan wartawan olahraga, ia melukiskan masa jabatan ini dengan posisi 2-1-2 itu, mengcu pada susunan 4-2-4 dalam sepak bola . Dua tahun untuk sosialisasi visi-misi, satu tahun digunakan untuk melaksanakannya dan dua tahun lagi untuk persiapan pilkada berikutnya. Apa yang bisa dibangun secara berarti dalam waktu satu tahun?, ujarnya. Belum lagi bujet yang harus dicari ke sana ke mari sementara bujet pilkada yang sangat mahal diambil APBD. Analisa demikian diketengahkan oleh Bang Atal, ayah dari seorang diplomat dan dokter,  saat merenungi masalah politik dan pembangunan di Indonesia. Dari cara analisa demikian, saya melihat tekhnik pengutaraan yang sederhana tapi jelas dari seorang jurnalis yang menguasai bidangnya. Penguasaan atas kemampuan tekhnis sejalan dengan kedalaman analisis sangat diperlukan dalam profesi apapun, termasuk jurnalisme. Taraf ini tercapai dengan kerja keras yang sadar. Kerja keras dan tak takut susah-payah adalah ciri utama dari dua paman-keponakan Bang Atal-Bina.

Tidak banyak seorang pemred yang mengurus semua soal penerbitan. Mulai dari soal keredaksian, mengoreksi tulisan-tulisan, iklan, fisibilitas, keuangan sampai pada soal-soal teknis percetakan. Sering saya menyaksikan ia dan Bina, pergi pagi pulang subuh. Lalu pagi-pagi sudah bangun, untuk kembali ke kantor Harian. Bina Karos, keponakannya yang pernah terjun sebagai fotografer ke kancah pertempuran di Aceh, bahkan tidak jarang seperti pamannya tidur di kantor,  di kursi dan tumpukan kertas. “Beginilah mengawali suatu penerbitan dan usaha. Memulai sesuatu tidak pernah sederhana”, ujar Bang Atal menjawab kekhawatiran saya bahwa ia bisa jatuh sakit kelelahan. Dan memang Kalteng adalah nama dari tantangan dan himbauan untuk semua, terutama untuk Uluh Kalteng guna merambah rimba keterpurukan dengan spirit membangun. Bang Atal dan Bina datang dengan membawa sahewan (obor dari mayang kelapa) spirit membangun. Keduanya dating dengan semangat pembidas penuh prakarsa guna membangun Kalteng sebagai betang etnik dan betang budaya.  Keduanya sedang menyulut sahewan harapan melangkah bersama-sama yang lain untuk Kalteng yang lain. Membakar keterpurukan. “Sayapun terbakar”, jika meminjam kata-kata Pramoedya Ananta Toer, terbakar oleh sprit Bang Atal dan Bina Karos.  Tidakkah kau melihat dari kehadiran dua Putra Karo ini bahwa benar, kebhinnekaan adalah kekayaan dan rakhmat bagi negeri ini, dan juga Kalteng kita? Kehadiran Bang Atal dan Bina Karos di Kalteng mengatakan sekaligus bahwa tiap inci wilayah bangsa dan negeri adalah tiap inci pengabdian cinta dan pengejawantahan prakarsa putra-putrinya.

“Has eh, Hari!” (Ayo, Saudara-saudariku), ujar Uluh Katingan sambil mengikat lawung di kepala mengajak orang sekampung melangkah maju merebut menang. “Has eh!” Sebab “Anda bisa memiliki ide cemerlang. Namun jika tidak mampu menjabarkannya, ide tersebut tidak akan pernah membawa diri Anda ke mana pun”, ujar Lido Anthony “Lee” Iaccocca.***

Palangka Raya, Oktober 2009

Kusni Sulang

ANUGERAH SENI “TERAPUNG” & HADIAH AKADEMI GONCOURT PERANCIS

Jurnal Toddoppuli

Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-Anakku

Waktu itu, ada sekelompok anak-anak muda. Mereka umumnya berasal dari luar Kalteng tapi kemudian berketatapan memilih Bumi Tambun Bungai sebagai tempat tinggal, hidup dan berkegiatan. Di tempat kelahiran mereka atau asal, mereka adalah penggiat kesenian. Seperti kau tahu, penggiat kesenian adalah jenis manusia yang gelisah dalam pencarian mereka. Selalu gelisah sekalipun pencarian itu tidak pernah mencapai titik akhir, kecuali kesementaraan. Kelompok anak-anak muda inilah yang kemudian di Palangka Raya, pada 1 Oktober 2004 di  didorong oleh kegelisah mencari serta keperluan untuk berdialog, berkeputusan untuk membantu sebuah komunitas bernama Lingkar Studi Terapung. Terapung selain sebagai singkatan dari teater, sastra dan kampung, sekaligus merupakan ibarat “sebagaimana bunga teratai selalu berada di permukaan, meliputi dunia atas dan bawah, namun tidak mengawang di langit modernisasi dan tidak tenggelam dalam kejumudan tradisi”. Mereka membangun Komunitas ini dengan tujuan “berusah dengan sungguh-sungguh untuk menghidupkan kesenian supaya lebih hidup” di Kalimantan Tengah, khususnya di Palangka Raya, “sambil dengan sedikit demi sedikit menghilangkan kegenitan bawaan yang merengek-rengek meminta ruang bagi gerak kesenian itu sendiri”. Sekretariat dan sanggar disepakati bersama menggunakan rumah Aliemha Huda yang mempunyai halaman agak luas. Halaman ini lalu dirubah menjadi ruang berkesenian.

Sesuai dengan prinsip “sedikit demi sedikit menghilangkan kegenitan bawaan yang merengek-rengek meminta ruang bagi gerak kesenian itu sendiri”, Komunitas Terapung melakukan kegiatan secara mandiri, mulai dari seadanya, dari apa yang mereka miliki,  tanpa bantuan dari manapun. Tapi justru dengan prinsip ini, mereka tetap eksis sampai hari ini. Tampil di semua kegiatan kesenian di Kalimantan, bukan hanya di Kalimantan Tengah. Dalam penyelenggaraan Temu Teater Se-Kalimantan V (3-6 Agustus 2009), Komunitas Terapung tampil sebagai salah satu komunitas teras penyelenggaraan. Di samping bergabung dengan komunitas lain mewakili Kalteng dengan mementaskan drama “Nindan Bulau” karya Abdi Rachmat.

Intensitas kegiatan berkesenian mereka, tergambarkan melalui karya dan kegiatan berikut:

  • Pentas puisi dan Happening Art “Doa Untuk Aceh” (tahun 2004).
  • Pantomim “Keterasingan”; Musikalisasi Puisi “Ritus”, Musikalisasi Puisi pada Tebaran Sastra di RRI Palangka Raya ; Pentas Teater « Lukisan Cinta di Kanvas Hitam » ; Launching Antologi Puisi « Ekspedisi Waktu »; Musikalisasi Puisi pada Pekan Teater Kalteng; “Lukisan Cinta di Kanvas Hitam” (pentas keduapada Pekan Teater); Produlsi Sinetron Dalkarhut 5 episode (TVRI Kalteng); Musikalisasi Puisi “Lagu Penambang”; Happening Art “Indonesia Bangkit”; Lomba Menggambar dan mewarna anak-anak; Pemutaran Film pada HUT le-1 Terapung; Rekrutmen Anggota (Tahun 2005).
  • Musikalisasi Puisi “Sebuah Trilogi”; Pentas Teater “Alang-Alang” (Pentas ke-1 di Palangka Raya dan Pentas Ke-2 oada Temu Teater Se-Kalimanan Ke-3 di Banjarmasin ; Musikalisasi Puisi « Kembalikan Indonesia Padaku » ; Puisi dan Happening Art « Doa untk Jogja dan Jateng » ; Drama anak “Hadiah Buat Penolong” di TK Aqidah Palangka Raya; Sinetron Dalkarhut 5 sepisode (TVRI Kalteng); Teaterklisasi Puisi “Padang Penangsaran” di Sampit; Pementasan Teater Anak-anak “Ember” pada HUT ke-2 Terapung; Teaterikalisasi Puisi “Padang Penangsaran” pada HUT ke-2 Terapung; Teaterikalisasi Puisi “Cinta Puspa”; ILM “Kebakaran Hutan” 3 episode (Tahun 2006).
  • Tetarikalisasi “Ambigu” pada Pelantikan Dewan Kesenian Daerah Kalteng; Teater Anak-Anak “Ember” pada Festival Isen Mulang; Teaterikalisasin”Jangan Petik Bunga” pada HUT Palangka Raya; Pentas bersama “Seperti Kuciu Baumu”;Pentas Teater “Siapa yang Banyak” pada Gebyar Tambun Bungai (Tahun 2007).
  • Musikalisasi Puisi pada TUBABA  RRI dan Pembukaan Balai Bahasa Kalteng; Sinetron « Masih Ada Yang Lain » (TVRI Kalteng); Teaterikalisasi di Balai Bahasa; Pentas Teater “Nyonya-Nyonya” pada Temu Teater Se-Kalimantan Ke-4 Pontianak; Sandiwara Radio “Setitik Embun di Jantung Borneo” (Heart of Borneo) (Tahun 2008).
  • Pentas Teater “Nindan Bulau” pada Temu Teater Se-Kalimantan Ke-5 Pakangka Raya ; Pemutaran Film « Garuda Di Dadaku », musikalisasi puisi, orasi budaya oleh JJ. Kusni pada Ultah ke-5 Terapung (2009).

Di samping kegiatan-kegiatan di atas, Komunitas Terapung juga pernah menerima kunjungan ke Palangka Raya, sastrawan-sastrawan seperti W.S. Rendra, Taufiq Ismail, Dorothea Rosa Herliany, redaktur Majalah Sastra Horison, Jakarta dan teman-teman seniman dari Malang.

Hal yang menarik dan sangat berarti bagi perkembangan kebudayaan di Kalteng adalah pemberian penghargaan berupa sertifikat kepada para sastrawan-seniman dan budayawan Kalteng yang dilakukan oleh Komunitas Terapung. Sekalipun bentuk penghargaan ini hanya berupa sebuah piagam dari kertas tapi adanya penghargaan sesuai kemampuan begini mempunyai makna mendorong kehidupan kebudayaan di provinsi ini. Menarik karena ia dilakukan dan dipelopori oleh sebuah komunitas. Menarik dan pantas dihormati karena Komunitas miskin dan berkegiatan dengan modal semangat menghidupkan kebudayaan di provinsi memberikan penghargaan tahunan kepada seniman-budayawan yang sama-sama berkegiatan dengan syarat-syarat di bawah minimal. Piagam penghargaan ke-2 diberikan oleh Komunitas Terapung kepada pelukis Eko dari Sanggar Sketsa yang banyak dan teratur mengasuh anak-anak Kalteng menggambar. Sedang sebelumnya, Komunitas Terapung telah pula memberikan Piagam Penghargaan kepada Makmur Anwar, sastrawan Kalteng, pengasuh Tebaran Sastra RRI Palangka Raya, yang menangani siaran ini sejak 1970an tanpa apresiasi sedikitpun dari lembaga manapun.

Penghargaan yang dilakukan oleh Komunitas Terapung ini mengingatkan saya akan Hadiah l’Académie Goncourt di Perancis. Hadiah ini diberikan dan dimulai oleh dua sastrawan bersaudara : Goncourt. Dari segi financial, hadiah Akademi Goncourt ini sangat tidak berarti. Tidak lebih dari F.Fr. 10 (sepuluh Francs Perancis, sekarang bernilai kurang lebih 1,4 Euro). Sehingga Hadiah ini sebenarnya lebih merupakan Hadiah Simbolik. Tapi sastrawan yang menerima hadiah Gongcourt merasa bangga dan memandangnya sebagai sebuah hadiah berprestasi tinggi oleh ketatnya standar penilaian. Karya-karya yang mendapat Hadiah Goncourt dipastikan akan sangat laku di pasar dan menempati posisi utama dalam jajaran sastra Perancis. Kalau pada mulanya tim penilai Hadiah Goncourt terdiri dari dua saudara, sekarang setelah dua saudara itu tidak ada, ia dilanjutkan oleh Tim yang terdiri dari para sastrawan dan pakar sastra.

Hadiah sastra-seni dari pihak pemerintah Perancis diberikan dalam bentuk Bintang Jasa yang disebut Légion d’Honneur. Yang mendapat Bintang Légion d’Honneur  Perancis ini dari Indonesia, sampai sekarang adalah Pramoedya A. Toer, Joesoef Isak, dan Goenawan Mohamad. Mereka bertiga juga mendapat Wertheim Award dari Negeri Belanda.

Antara Hadiah Sastra-Seni Terapung dan Hadiah Académie Goncourt nampak ada paralelisme. Komunitas Terapung pantas dihormati untuk prakarsanya ini, walau pun mungkin pada masa mendatang Komunitas Terapung perlu memikirkan standar pemilihan yang lebih jelas dan tajam.

Dari lahir dan proses perjalanan hidupnya sampai hari ini, Komunitas Terapung menunjukkan salah satu jalan berkesenian dan menggalakkan kehidupan kebudayaan Uluh Kalteng.***

Palangka Raya, Oktober 2009

JJ. Kusni

“Teratai” yang Tidak Mengawang dan Tidak Tenggelam

Catatan Panarung Andriani S. Kusni

Menghargai Diri Sendiri

Terapung….. sebagaimana bunga teratai. Selalu berada di permukaan, meliputi dunia atas dan bawah, namun tidak mengawang di langit modernisasi dan tidak tenggelam dalam kejumudan tradisi.  (Kutipan dari leaflet Lingkar Studi Terapung)

Sabtu (24/10) lalu, saya dan suami mendapat undangan menghadiri syukuran berdirinya lingkar studi Terapung, sebuah komunitas seni yang lahir pada 1 Oktober 2004. Komunitas ini dimulai dengan pengetahuan minim tentang seni dan dalam kondisi serba sederhana, mengesampingkan arogansi birokrasi, romantisme senioritas dan segala tetek-bengek yang hanya akan mengurangi ruang gerak dan bahkan memasung kreativitas, demikian penjelasan yang saya baca dalam leaflet mereka.

Apa yang saya lihat dan saya baca dari acara syukuran malam itu? Sebuah upaya menghargai diri sendiri yang sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh dan konsisten. Dalam keadaan serba sederhana, kemampuan keuangan minim dari seluruh anggota, komunitas ini mengadakan pagelaran tanpa banyak tetek-bengek, sebuah peran penting yang diwujudkan secara konkrit dan sadar untuk membangun proses berkesenian yang tidak instan bagi anggota-anggotanya dan masyarakat kampung sekitar. Sebuah upaya mengasah dan mengasuh keindahan artistik berkesenian sekaligus tanpa mengenyampingkan keberpihakan sosial. Keberpihakan sosial ini dapat saya lihat dari untuk siapa pertunjukan ini digelar dan dengan siapa komunitas ini berinteraksi dalam proses mengasah dan mengasuh keindahan artistik berkeseniannya. Barangkali, upaya asah dan asuh ini sejalan dengan misi membangun pola pikir dan mentalitas yang tidak instan. Pola pikir dan mentalitas “mie instan”, mengutip kalimat Kusni Sulang dalam buku Menoleh Silam Melirik Esok,  yang sibuk dengan sastra-seks, ratap tangis putus cinta, sibuk mengharap pengakuan sebagai sastrawan-seniman, ingin jadi celebrities, tapi tidak menyediakan waktu cukup untuk memikirkan apa-siapa dan apa misi budayawan, sastrawan, seniman.  Pola pikir dan mentalitas “mie instan” yang berujung pada ingin jadi celebrities – satu jenis “kekosongan” jika meminjam istilah sosiolog Perancis, Alain Touraine.

Satu bentuk lain dari upaya menghargai kesungguhan proses berkesenian dari komunitas ini adalah pemberian penghargaan kepada pekerja seni-budaya yang berdedikasi dan berkomitmen terhadap seni dan budaya itu sendiri. Arti penting pemberian penghargaan ini, yang tidak dilakukan hanya sekali adalah sikap menghargai diri sendiri dan  mendorong kreativitas secara mandiri. Di tengah minimnya sikap menghargai diri-sendiri dan orang lain termasuk menghargai budaya sendiri, komunitas ini memberi contoh, betapa kekurangan sana-sini dalam kondisi keserbasederhanaan, tidak menjadi alasan untuk tidak berterima kasih pada diri sendiri dan pada orang lain. Saya melihat sikap yang menghargai diri sendiri maupun orang lain sebagai satu sikap yang berharga diri dan bermartabat. Sikap berharga diri dan bermartabat seperti ini tidak bisa dibentuk secara instan tanpa proses memadai. Dalam berkesenian pun, diyakini bersama oleh seluruh anggota komunitas bahwa proses menjadi dan mencapai keindahan artistik yang setinggi-tingginya tak dapat diperoleh jika  seseorang berkesenian seperti sekedar mengikuti sebuah kegiatan ekstra kurikuler.

 

“Teratai” yang Tidak Mengawang dan Tidak Tenggelam

Searah jarum jam: Huda, Ketua RT, Kusni Sulang, Eko dan seorang anggota komunitas, berfoto bersama selepas pemberian penghargaan dalam acara Syukuran 5 tahun komunitas seni Terapung. (Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Searah jarum jam: Huda, Ketua RT, Kusni Sulang, Eko dan seorang anggota komunitas, berfoto bersama selepas pemberian penghargaan dalam acara Syukuran 5 tahun komunitas seni Terapung. (Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Panggung segi empat dari semen berukuran kira-kira 5 x 10 meter, dialasi karpet hitam, setinggi duapuluh sentimeter dari permukaan tanah. Terletak di pekarangan rumah yang luas di pusat permukiman yang padat di Jl. Rajawali 2C. Udara malam sejuk, mengalir di sela-sela celah baju. Anak-anak bermain, bergulat, berteriak dan berlari kesana-kemari, sebagian lagi tidur-tiduran di lantai panggung.  Bapak-bapak diskusi sambil merokok, duduk di lantai panggung. Ibu-ibu datang dengan bayi digendongan, juga duduk di lantai panggung dan bikin kelompok sendiri. Kain putih dibentangkan di dinding depan  rumah sebagai layar. Gendang, kecapi, rebana, karakas, diletakkan hati-hati di sudut panggung agar tak kena senggol kaki anak-anak. Di tengah panggung, ada meja pendek abu-abu tempat menaruh laptop dan proyektor untuk memutar film. Di salah satu sisi memanjang panggung, ada tiang lampu dari kayu bulat tanpa finishing. Bola lampunya memancarkan warna kuning redup. Lampu lainnya, persis di sisi kanan pintu pagar, menyorot ke meja penerima tamu. Di sisi memanjang panggung yang lain, ada tenda biru dengan tiga deret kursi plastik biru bersandaran. Mungkin untuk penonton yang tak suka melantai. Bising, sejuk, orang tumpah ruah. Bayangkanlah panggung itu seperti sebuah ruang duduk keluarga besar.

Orang-orang berkumpul sejak waktu Isya usai. Ini acara ulang tahun komunitas seni bernama Terapung yang didirikan 1 Oktober 2004. Undangan ada yang diundang resmi, maksudnya pakai undangan tertulis, namun kebanyakan diundang secara lisan. Wartawan, pekerja budaya, pekerja bahasa, penduduk dan kepala kampung, sudah lengkap.

Lalu, seorang perempuan berjilbab hitam yang sedari tadi duduk berbincang dengan ibu-ibu, berdiri sambil memegang mikrofon. Acara dimulai. Orang-orang diminta berdoa bersama. Selepas berdoa, Huda, ketua komunitas yang sudah ganti baju dengan baju batik, sebelumnya ia masih kesana-kemari memakai kaos, berdiri mengucapkan terima kasih dan menjelaskan sedikit sejarah komunitas. Lampu proyektor berwarna kebiruan menyorot layar. Layar yang tadi putih berubah warna. Menampilkan slide-slide presentasi, gambar dan foto-foto dokumentasi kegiatan komunitas seni Terapung. Ditengah-tengah penjelasan tentang sejarah berdirinya komunitas, Huda berkomentar,”Saya adalah ketua komunitas dari awal berdiri sampai sekarang, meskipun sebenarnya pemilihan saya sebagai ketua rada tidak demokratis. Tiba-tiba saja nama saya sudah tercantum di posisi ketua. Ini benar-benar tidak demokratis….” Rekan-rekan Huda terkikik. Kira-kira hanya lima menit Huda berbicara. Acara dilanjutkan dengan pementasan dari teater Srikandi yang anggotanya perempuan semua. Selepas Srikandi, ada pembacaan puisi karya W.S. Rendra dari salah seorang anggota komunitas Terapung. Acara dilanjutkan dengan musikalisasi puisi yang dibawakan Teater Terapung. Sehabis ini, puncak acara berupa penyerahan penghargaan kepada pekerja budaya yang dipilih oleh anggota komunitas. Terpilih adalah Eko. Ia, biasa dipanggil Mas Eko, mengasuh Pondok Seni Sketsa yang memberi les melukis bagi anak-anak. Dulu, Mas Eko ini rajin menulis puisi. Puisi-puisinya saat Gelar Sastra pada Temu Teater di Banjarmasin 9-15 April 2006, dikopi, dijilid, dibagikan. Penghargaan kepada Mas Eko berupa selembar piagam yang diserahkan oleh Kusni Sulang. Kata Kusni Sulang,”Apalah arti selembar kertas. Bukan soal kertasnya. Tapi bagaimana kita melihat upaya menghargai orang lain.”

Setelah menyerahkan piagam penghargaan untuk Eko, Kusni Sulang didaulat membacakan orasi budaya. Kusni Sulang atau Magusig O Bungai, nama penanya, adalah cekalan Orde Baru. Ia adalah Doktor bidang sejarah lulusan Sorbonne, Paris, Perancis yang melewati waktu puluhan tahun belajar dan bekerja di lima benua karena terhalang pulang dan mencari selamat dari kejaran antek-antek Orde Baru akibat aktivitasnya sebagai Sekertaris LEKRA dahoeloe. Dalam orasi budaya berjudul Mencari dan Membangun Suatu Perspektif Bagi Kebudayaan Uluh Kalteng, Kusni Sulang mengasosiasikan, Kalteng tanpa kehidupan budaya “tak ubah hutan terbakar dan kehidupan yang dijaring asap dan kabut. Jiwa penduduknya batuk-batuk dan penyakitan.”

Sarungan kurik (panginan kurik atau makanan kecil) yang disajikan sambil menonton film Garuda di Dadaku (Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Sarungan kurik (panginan kurik atau makanan kecil) yang disajikan sambil menonton film Garuda di Dadaku (Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Saat orasi selesai, malam sudah lewat pukul sepuluh. Undangan tinggal sedikit. Yang tersisa hanya penduduk kampung, anggota-anggota komunitas dan anak-anak yang menunggu pemutaran film Garuda di Dadaku. Pemutaran film anak-anak dimulai. Sebelumnya anak-anak diminta memilih. Mau nonton Laskar Pelangi atau Garuda di Dadaku. Banyak yang memilih Garuda di Dadaku. Maka diputarlah film itu. Saya dan suami ikut menonton karena belum pernah juga menonton film tersebut. Tak berapa lama setelah film dimulai, keluarlah tampi-tampi lebar dari rotan. Seluruh penonton disuguhi penganan. Di atas tampi-tampi itu ada singkong rebus kecil-kecil dibalut kelapa parut, rebusan kacang tanah, rebusan kacang kedelai dan jagung rebus. Anak-anak bersorak. Mereka nonton sambil makan. Ada yang duduk, ada yang sambil tiduran. Sekitar pukul 12 malam, film usai.  Setelah pamitan dan buat janji bertemu untuk membahas masalah-masalah dan rencana kegiatan budaya dengan rekan-rekan komunitas, saya dan suami pun pulang diantar Huda.

Melintasi jalan-jalan raya di kota Palangka Raya yang mulai sepi menuju kediaman saya dan suami, hati terasa riuh dan ramai oleh kegembiraan. Melalui acara ulang tahun komunitas seni Terapung, saya berharap kuncup-kuncup teratai baru, tumbuh dan berkembang hingga kelopak-kelopak putihnya dapat memanggil lebih keras, merangkul dan membuat orang-orang yang hanya “memandang bunga dari punggung kuda” seperti kata pepatah Tiongkok, berhenti dan turun dari punggung-punggung kuda tunggangan mereka untuk menikmati, meresapi keindahan dan kalau mungkin, bersama-sama turut berupaya membuat kuncup-kuncup teratai itu mekar terbuka selebar-lebarnya.***

Andriani S. Kusni

Palangka Raya, 2009

Makmur Anwar

makmur anwar

Makmur Anwar, tokoh sastra Kalteng, pengasuh & penyiar program Tebaran Sastra di RRI Kalteng sejak tahun 70-an (Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009)

FX. SURYO SULISTYO

FX. Suryo Sulistyo, Karikaturis asal Solo, guru di SMP Katolik Palangka Raya. Turut mengasuh majalah siswa bernama SISWARTA. (Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009)
FX. Suryo Sulistyo, karikaturis asal Solo, guru di SMP Katolik Palangka Raya. Turut mengasuh majalah siswa bernama SISWARTA. (Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Huda

Aliemul Huda asal Pekalongan, salah seorang pendiri komunitas TERAPUNG-Palangka Raya, pembawa teater modern ke Kalteng. (Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Aliemul Huda asal Pekalongan, salah seorang pendiri komunitas TERAPUNG-Palangka Raya, pembawa teater modern ke Kalteng. (Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Ravein

Koreografer Sanggar Seni Antang Handep Batuah, Kasongan, Katingan, Kalteng. (Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Koreografer Sanggar Seni Antang Handep Batuah, Kasongan, Katingan, Kalteng. (Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Wawancara Andriani S. Kusni: RAVEIN

Pemain musik Sanggar Seni Antang Handep Batuah, Kasongan, Katingan (Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Pemain musik Sanggar Seni Antang Handep Batuah, Kasongan, Katingan (Foto & Dok. Andriani S. Kusni, 2009)

Catatan Panarung Andriani S. Kusni

Jalan Pengembangan & Peningkatan Kreativitas

Malam sudah turun menjaring jalan-jalan Kasongan dan sungai yang mengalir melingkari ibukota kabupaten Katingan, ketika saya dan suami datang ke Gedung Serba Guna kecamatan Katingan Hilir. Di sini anggota-anggota Sanggar Seni Antang Handep Batuah sedang berlatih menghadapi Festival Tari Pelajar tingkat provinsi yang akan diselenggarakan pada tanggal 26-27 Oktober di Buntok. Sanggar Antang Handep Batuah yang bediri pada awal 2002 telah berhasil meraih hadiah pertama dalam seni tari Festival Isen Mulang selama empat kali. Hadiah pertama empat kali ini mengatakan prestasi dan mutu pementasan Sanggar Antang Handep Batuah yang beranggotakan kurang-lebih 150 orang, terdiri dari pelajar dan umum.

 

Kelam malam barangkali gemetar oleh didih semangat dikobarkan oleh suara gendang, petikan gambus, gong  dan kangkanong mengiring latihan tari tradisional Dayak dan tari daerah pantai yang baru diciptakan. Semuanya berlatih sungguh-sungguh. Penuh disiplin. Kesungguhan dan disiplin barangkali merupakan kunci dari keberhasilan mereka di Festival Isen Mulang dan berkesenian.

 

Menyaksikan dua mata acara latihan, saya dan suami bukan hanya berkesan oleh kesungguhan dan disiplin anggota-anggota Sanggar. Di samping adanya unsur repetisi karya lama yang hidup dalam masyarakat Katingan, saya juga melihat adanya unsur kreativitas. Adanya karya baru menandakan adanya geliat berkreasi. Pertanda hidupnya jiwa kesenimanan sebagai mahluk kreator. Pada Tari Pantai, sebagai karya baru, saya menyaksikan masih melekat kuat unsur-unsur lokalitas dalam mengangkat kehidupan Katingan dalam bentuk artistik. Unsur-unsur balet kekinian yang juga terdapat dalam karya baru ini mengingatkan saya akan gerak-gerak tari Bagong Kussudiardjo dan Wishnu Wardhana dua penari Yogya yang pernah belajar pada Martha Graham. Dan benar saja, Ravein pemimpin utama Sanggar memang pernah belajar di Padepokan Bagong Kussudiardjo selama setahun, khusus dalam komposisi tari dan musik.  Pengalaman belajar pada Padepokan Bagong ini mempunyai peran dalam kerja kreatif Ravein di Kasongan, membantunya dalam mengangkat karya-karya lama dan menciptakan karya-karya baru. Peran pendidikan dalam mengembangkan dan meningkatkan mutu karya dan kreativitas, juga saya saksikan dari seniman-seniman Pontianak yang hadir dalam Temu Teater Se Kalimanan V di Palangka Raya 3-6 Agustus 2009 lalu. Dalam rombongan teater Pontianak itu terdapat tidak sedikit mereka lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, bahkan ada yang lulusan Akademi Seni Drama dan Film (ASDRAFI) Yogyakarta. Lulusan ISI dan ASDRAFI inilah kemudian yang menjadi tenaga utama pengembangan sastra-seni di Kalimantan Barat. Demikian juga halnya dengan di Kalimantan Selatan.

 

Pengalaman demikian, seperti mengatakan, demikianlah, bahwa inilah juga jalan pengembangan dan peningkatan mutu dunia kreativitas di bumi Tambun Bungai ini di samping berkeasi dan berkreasi, berlatih dan berlatih penuh kesungguhan dan disiplin. Kreativitas adalah cakrawala jelajah tanpa batas.

 

“Kami juara tapi yang ke Jakarta sanggar lain…”

Baru-baru ini saya berjumpa dengan Ravein. Saya mendapat informasi tentang sebuah sanggar tari yang rutin berlatih di Gedung Serba Guna Kantor Kecamatan Katingan Hilir dari Nurtinus Lui, Damang Kecamatan Katingan Hilir yang turut membina sanggar-sanggar seni di Katingan. Ravein seorang pemuda berdarah Katingan-Kapuas. Pernah belajar di padepokan Bagong Kussudiardjo selama setahun. Ia penata tari Sanggar Antang Handep Batuah di Katingan, tengah melatih tari saat saya menjumpainya. Saya menunggu sambil menikmati gerakan dan musik karya Ravein, penata dan para pemain musik,  penari-penari perempuan remaja pilihan dari seluruh SMA di Katingan Hilir hingga mereka selesai berlatih tari. Saya memperkenalkan diri sebagai kontributor khusus sekaligus pengasuh Ruang Kebudayaan di harian Palangka Post.

Sedang persiapan apa?

Kami latihan tari pesisir untuk Festival Tari Pelajar Se-Kalteng di Buntok.

Kapan?

Tanggal 26 dan 27 Oktober nanti.

Festival Pelajar ini tiap tahun?

Ya. Yang jadi juara umum akan menjadi tuan rumah pada tahun berikutnya.

Kategori apa yang diikuti?

Dua kategori. Tari pesisir dan tari pedalaman.

Penari-penari ini darimana?

Dari seluruh SMA se-Katingan Hilir dan sanggar-sanggar. Ada 6 sanggar di kecamatan ini dan  kurang-lebih 150 orang anggota sanggar. Kami seleksi khusus pelajar tingkat SMA.

Peran anda?

Menata tari. Untuk penata musik, ada khusus.

Berapa lama perlu latihan untuk festival nanti?

Latihan koreografi satu bulan. Latihan musik kurang lebih satu mingguan.

Apa masalah terbesar dalam latihan ini?

Menyesuaikan komposisi gerak dan musik dengan durasi yang sudah dipatok saat festival dan SDM. Penari-penari masih muda. Gestur, kekuatan tubuh masih kurang. Sekarang, kami latihan per bagian-agar lebih mudah sambil melihat dan memperbaiki kekurangan sana-sini.

Sanggar Antang Handep Batuah ini ada sejak kapan?

Awal 2002.

Anggotanya pelajar?

Selain SD, SMP dan SMA, umum juga boleh.

Prestasi sanggar?

Kami tiga kali berturut-turut juara pertama Festival Isen Mulang tahun 2003, 2004, 2005. Pernah juga tidak dapat juara. Gagal tahun 2006 dan 2007. Tahun 2008, juara pertama lagi. Kami pernah juara sebagai unggulan ketiga kategori penyaji pada festival tingkat nasional. Itu tahun 2006. Baru-baru ini, kami ikut Pagelaran Kesenian Tradisonal Nusantara di Jakarta.

Anda belajar tari dimana?

Saya pernah setahun di padepokan Bagong Kussudiardjo khusus komposisi tari dan musik. Satu tahun jadi penari di Sampit, tahun 97-98.

Pemerintah berperan apa terhadap sanggar ini?

Kami dibawah naungan Kecamatan Katigan Hilir dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten.

Pemerintah membantu apa?

Tempat latihan, Gedung Serba Guna ini gratis. Nanti, kami berangkat juga atas biaya Pemerintah Daerah. Kami latihan saja.

Ada yang mendampingi ke festival nanti?

Untuk pendamping ke festival-festival, biasanya ada orang dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Hal-hal apa yang masih kurang menyangkut perhatian Pemerintah terhadap sanggar-sanggar seni begini?

Alokasi dan skedul tampil.

Maksudnya?

Misalnya begini, juara I, II, III Festival Isen Mulang belum diatur cermat untuk menghadiri atau mengikuti festival dan pagelaran tingkat nasional. Kami pernah juara I Festival Isen Mulang, tapi yang dikirim ke Jakarta mengikuti festival tingkat nasional malah bukan kami. Mestinya pemerintah propinsi mengatur dan menetapkan, misal juara I Festival Isen Mulang ikut acara apa, juara II acara apa, juara III acara apa di tingkat nasional. Supaya jelas apresiasi dan kalender kegiatan bagi pemenang-pemenang tingkat propinsi.

Sudah pukul 6 sore. Langit hitam. Saya pamit pada seluruh pekerja-pekerja budaya yang masih muda tersebut. Sambil menjabat tangan Ravein, saya bilang,”Semoga sukses.”

“Ya. Terima kasih.” jawabnya.

Melintasi halaman kantor kecamatan, saya merasakan bahwa kalimantan Tengah tak kekurangan sumber daya manusia. Banyak contoh yang saya temui dimana pekerja-pekerja budaya semacam Ravein dan kawan-kawan, secara sukarela atau dengan apresiasi sangat minim, menyumbangkan ilmu pengetahuan untuk memelihara kekayaan tradisi lokal.***

Andriani S. Kusni

Pertama kali dimuat di Harian Palangka Post Kal-Teng, Halaman Kebudayaan Sahewan Panarung, Rabu-21 Oktober 2009

‘KATINGAN LUMBAH’ Kolonel Yuandrias

Catatan Panarung Andriani S. Kusni

Sahéwan Panarung edisi II yang sekarang hadir di hadapan pembaca sekalian, memperkenalkan karungut karya Yuandrias, seorang komandan Kopassus, anak petani rotan dari Sungai Katingan. Ia sekarang sedang melanjutkan pendidikan di Lemhanas. Anak petani rotan dari Katingan ini telah juga menyelesaikan Program Master di bidang sosiologi pada Universitas Kebangsaan, Kuala Lumpur, Malaysia.  Karungut Yuandrias yang disiarkan Sahewan Panarung kali ini, diambil dari kumpulan karungut berjudul ‘Katingan Lumbah’ yang berarti Katingan Luas. Seorang militer menulis karya sastra adalah hal yang khusus di Indonesia, walau pun di Republik Rakyat Tiongkok atau Viêt Nam misalnya, merupakan hal yang jamak. Di kedua negeri tersebut, seorang pemimpin diniscayakan memiliki kemampuan dan keterampilan dalam tiga bidang yaitu politik, kebudayaan dan militer. Kemampuan dan keterampilan dalam tiga bidang tersebut merupakan syarat minim untuk menjadi seorang pemimpin.

Karungut, bentuk puisi dengan rumus menyerupai pantun, sampai sekarang masih sangat populer di berbagai daerah aliran sungai Kalimantan Tengah. Karungut termasuk salah satu bentuk sastra lisan yang menandai sastra tradisi pada umumnya. Tapi seperti kata Rahayu Supanggah, doktor etno-musikolog dari Universitas Paris VII, Paris: “Sangat sedikit yang memahami potensi besar yang dimiliki masyarakat tradisi di tengah-tengah pergaulan dunia”, bahwa “tradisi-tradisi nusantara … bisa menjadi sumber inspirasi bagi ‘penciptaan’ produk kontemporer dengan pendekatan kreatif “ (Lihat: Kompas, 29 Mei 2009. Judul asli: Rahayu Supanggah, Mantan Pimpinan Institut  Seni Indonesia Surakarta).

Pertanyaannya: Apakah kita manusia kreatif  ataukah, jika meminjam istilah Kahlil Gibran dalam karyanya “Sang Nabi”, kita termasuk manusia dengan “kemiskinan rohani” atau “jiwa yang kering” sehingga membiarkan “yang baik disiksa oleh kelaparan serta kehausannya sendiri?”. Kalau kita kreatif, mengapa tidak karungut, deder, sansana, mamanda, dan lain-lain, menjadi sumber inspirasi bagi penciptaan produk kontemporer di Kalimantan Tengah? Jika demikian, tidak heran terjadi keadaan dimana tempun pétak batana saré, témpun kajang bisa puat, témpun uyah batawah bélai(punya tanah berladang di tepi, punya atap basah muatan, punya garam hambar di rasa).

Sastra-seni lokal merupakan lumbung pemikiran dan metafora bersifat mendidik yang kaya raya. Ia merupakan kesimpulan pengalaman daerah dan masyarakat dalam menjawab persoalan zaman. Mengutip pandangan Kusni Sulang, “Lumbung sastra-seni ini, kiranya bisa menjadi sangu dan bahan ramuan lebih lanjut dalam usaha membangun kebudayaan nasional yang berkarakter republikan dan berkeindonesiaan.”

KATINGAN LUMBAH

1

Ayu itah tundah pahari

Dohop aku handak manggali

Kesah Katingan danul bahari

Uka ela nihau tintu rajaki

2

Aku mangarang paham juju-juju

Handak mangesah riwayat Katingan

Akan pegangan itah zaman harian

Akan kare penyang tasihan

3

Puji huran aku mahining

Kakuan auh hiau suling nuhing

Intu lewun sanggalang garing

Inampa dengan humbang paning

4

Nangking dohong ie sangkalemu

Hapan pahimang metu kalingu

Mambayar hajat uluh lewu

Uka rajaki belum batantu

5

Imapui dengan kayu garu

Paputan batu kayu bakawu

Hapa mapas ganan nyaru

Akan salamat uras itah lewu

6

Bangunan betang huma panjang

Bajihi uras tabalien manang

Hasapau sirap kayu talatang

Eka melai garing sangiang

7

Sandung impendeng dengan niat

Pambak imbangun kaluarga  karabat

Janji adat aruah salamat

Pesta tiwah tukabg iangkat

8

Pendeng karamat jete sarat adat

Uluh Dayak Ngaju jete irawat

Eka ingkes salilir parapat

Hajambat hajat mangat salamat

9

Ancak inggantung intu baun huma

Kalute kia panginan hunga

Inggantung umba humbang palaka

Uka panginan taluh ihaga

10

Humbang palingkau kayu habilu

Jete kayu akan pasha sababulu

Impendeng tukep dengan sapundu

Jetuh utus bara uluh helu

11

Behas bahenda panginan jata

Nawur ngumbang taluh sansila

Hapa nganan dahiang papa

Jete auh petua paham barega

12

Sapundu impendeng intu bentuk lewu

Uka njarat metu imunu

Lunju barumbai garing metu

Inetek dengan mandau bahinis tutu

13

Balai ilabuh laluhan jukung

Akan jata intu lewu panda

Imbangun dengan kayu kanjunjung

Jete syarat harus ihaga

14

Hadaren tingang sahapuk dandang

Kapating naga bagawing singa

Inggambar umba warna kasumba

Imbungkus dengan kain bahenda

15

Jete sarat intu pelabuhan jata

Ayun indang jata kuasa panda

Manumun saritan hatuen raja

Bara lewu petak balanga

16

Sapuyung perak darei haretet

Inyarenang umba kayu kasumba

Awin bawin kuwu tiap katika

Jete ingguna akan karuhei tabela

Andriani S. Kusni & Kusni Sulang

Pertama kali dimuat di harian Palangka Post Kal-Teng, Halaman Kebudayaan Sahewan Panarung, Rabu-14 Oktober 2009