Archive for November, 2002|Monthly archive page

RESTORAN INDONESIA PARIS: 20 TAHUN SEBUAH KOPERASI (1)

RESTORAN INDONESIA PARIS:
20 TAHUN SEBUAH KOPERASI (1)

Kang Saikul dan Kang Luthfi yang baik,

Maaf besar baru sekarang saya memenuhi permintaan Kang Saikul dan Kang Luthfi yang dikirimkan pada 7 Oktober 2002. Bukan disebabkan karena lupa atau karena tidak menganggap penting serta tidak menghormati permintaan Kakang berdua, tapi semata dengan pertimbangan akan lebih baik jika sekaligus saya tulis pada kesempatan khusus yaitu ketika koperasi Restoran Indonesia yang oleh Mbak Yuli Mumpuni, Kepala Bidang Penerangan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris, disingkat RI — singkatan yang oleh para pekerja koperasi itupun digunakan, seperti diterakan pada taplak meja RI dari batik buatan Pekalongan.

Karena tentang RI, sebuah usaha berbentuk koperasi, tidak ada sesuatu yang patut dirahasiakan, maka tulisan memenuhi permintaan Kakang berdua tidak saya kirimkan melalui japri tapi saya sampaikan melalui saluran media listrik secara terbuka agar dengan demikian bisa diketahui khalayak lebih luas. Saya akan memulai cerita ini dari awal perjalanan — mudah-mudahan dengan demikian permasalahan bisa jadi gamblang. Mudah-mudahan pula saya pun mampu menuturkannya dengan baik dan sederhana. (Soal kesederhanaan bentuk tulisan, memang merupakan cara bertutur yang selalu saya usahakan dan gunakan dengan pertimbangan agar gampang dipahami. Sebab saya kira tulisan dibuat untuk dikomunikasikan kepada audiens. Sehingga sekali pikiran yang dikomunikasikan menjadi milik audiens maka pikiran, mimpi, harapan dan lain-lain yang dikomunikasikan itu akan berobah menjadi kekuatan material. Jika hal yang dituturkan itu pelik dan rumit, si penulis selayaknya — paling tidak inilah sikap saya — mencoba mengutarakan hal yang pelik dan rumit itu dengan cara sesederhana mungkin sehingga jelas dan gampang dicerna.( Bentuk ndakik-ndakik hanya akan menyulitkan komunikasi dua pihak).

SUAKA POLITIK SETELAH TRAGEDI SEPTEMBER 1965:

Adanya suaka politik Indonesia dalam sejarah Republik Indonesia bukanlah masalah baru yang hanya muncul setelah Tragedi September 1965. Orang-orang yang terlibat dalam Pemberontakan PRRI/Permesta (1958) telah memulai kehidupan sebagai suaka politik di negeri asing. Misalnya Takdir Alisjahbana mengungsi di Eropa Barat, Prof. Sumitro menyingkir ke Malaysia. Sedangkan sesudah Pemberontakan Nasional Nopember 1926, sementara pimpinan PKI ada yang bersuaka di Uni Soviet dan basis perlawanan Partai Komunis Tiongkok di Yen An.

Hanya saja jumlah pencari suaka politik pada periode-periode itu tidak sebanyak jumlah mereka yang mencari suaka politik setelah terjadinya Tragedi September 1965 yang oleh Orde Baru Soeharto dinamakan sebagai Pemberontakan G- 30- S/PKI. Saya sebutkan peristiwa yang berdampak luas dan dalam terhadap kehidupan masyarakat kita sampai hari ini, sebagai Tragedi karena kalau saya melihatnya dengan tenang, kita telah menjadi korban Perang Dingin antara dua kekuatan besar pada waktu itu (Tentang soal ini, saya tidak membicarakannya lebih jauh, karena bukan tema surat ini). Dalam hal ini, saya merundukkan kepala menyatakan hormat kepada kemuliaan dan kebesaran hati Gus Dur yang pada berbagai kesempatan di dalam dan di luar negeri telah meminta maaf kepada orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI) dan non PKI, oleh keterlibatan orang-orang NU dalam masakre 1965. Continue reading

Advertisements