Archive for the ‘ESAI; INFO; DISKUSI’ Tag

Diskusi Buku “Puisi-Puisi Amrus Natalsya”

Diskusi Buku “Puisi-Puisi Amrus Natalsya”

Perayaan Ultah VI Sanggar Bumi Tarung Fans Club, 26 Februari 2016

Balairung Taman Budaya Kayu Tangi Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Foto-Foto Andriani S. Kusni

SBTFC Ultah 6

SBTFC Ulta 6

SBTFC Ulta 6

SBTFC Ulta 6

SBTFC Ulta 6

SBTFC Ulta 6

SBTFC Ulta 6

SBTFC Ulta 6

SBTFC Ulta 6

SBTFC Ulta 6

SBTFC Ulta 6

SBTFC Ulta 6

SBTFC Ulta 6

SBTFC Ulta 6

Advertisements

HUKUM BELUM JADI TUAN RUMAH DI INDONESIA

bergelora.com

Wakil Ketua Komite I DPD RI, Fachrul Razi (Ist)‏Wakil Ketua Komite I DPD RI, Fachrul Razi (Ist)‏JAKARTA- Dewan Perwakilan Daerah RI (DPD RI) mempunyai fungsi dalam pengawasan dan legislasi di bidang hukum di Indonesia. Belum ditetapkannya Rancangan Undang-undang (RUU) KUHP menjadi Undang-Undang mendorong Komite I DPD RI yang membidangi masalah tersebut melakukan Rapat Dengar Pendapat dengan pakar dan ahli hukum. DPD RI melalui Komite I ingin berkontribusi dalam memperkaya substansi RUU KUHP yang saat ini sedang di bahas oleh Komisi 3 DPR dan pemerintah.

“Hukum di Indonesia masih belum menjadi panglima dalam pondasi kenegaraan tetapi politik dan uang lebih berperan,”ujar Fachrul Razi Wakil Ketua Komite I DPD RI dalam rapat dengar pendapat di Jakarta Rabu (26/8).

Ahli hukum Prof. Dr Muladi dan Prof.Dr M Arif Amrullah memberikan masukan kepada Komite I DPD RI tentang isu-isu strategis yang harus dibahas dalam RUU KUHP. Prof Muladi mengapresiasi DPD karena ingin memperkaya substansi materi RUU KUHP tersebut.

“Karakter nasional, karakter pemerintah, karakter sosial harus dijadikan salah satu parameter dalam menguji RUU tersebut” jelas muladi.

Menurut Muladi hukum pidana di Indonesia saat ini masih belum seimbang. Hukum harus memberi nilai keseimbangan antara korban dan pelaku.  Dalam Hukum harus ada unsur pencegahan agar membatasi subjek hukum dalam bertindak, kemudian hukuman bagi pelaku, dan rehabilitasi bagi korban.

Muladi menilai bahwa KUHP yang ada sekarang ini perlu dilakukan revisi karena masih buatan Belanda di jaman penjajahan yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

“Dengan alasan sosiogis, alasan kultur, alasan praktis ini kenapa KUHP ini perlu dilakukan revisi,” jelasnya.

Komite I DPD RI ingin agar dalam RUU KUHP yang akan dibahas nanti akan lebih merinci substansinya dan seimbang dalam semua aspeknya, baik pelaku dan korban. RUU KUHP ini diharapkan segera disahkan oleh DPR agar Hukum Indonesia benar-benar menjadi pedoman.

Komite I akan menggodok lebih dalam lagi tentang pasal-pasal dalam RUU KUHP nanti agar semakin kaya substansinya dan menjadi satu suara dengan DPR dan Pemerintah saat dibahas nanti.(Enrico N. Abdielli)

‘ISU ISIS DI INDONESIA HANYA HOAX DAN POLITIS’

AJARAN ISIS BERTENTANGAN DENGAN ISLAM

Al-Irsyad: Ajaran ISIS Bertentangan dengan Islam

Selasa, 07/04/2015 11:30

Jakarta, NU Online
Pimpinan Pusat Al-Irsyad al-Islamiyyah menyatakan, ideologi atau ajaran yang dibawa oleh gerakan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) tidak sejalan dan amat bertentangan dengan agama Islam rahmatan lil alamin.

PP Al-Irsyad memandang perlu menyampaikan pernyataan sikap ini untuk menanggapi situasi mutakhir tentang penyebaran ideologi Islam garis keras tersebut di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

“PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah juga meminta Pemerintah Republik Indonesia untuk menindak dengan tegas siapapun yang terkait dengan aktivitas gerakan ISIS ini sesuai dengan hukum yang berlaku di Republik Indonesia,” kata Ketua Umum PP Al-Irsyad al-Islamiyyah KH Abdullah Djaidi dalam rilis yang dikirim ke NU Online, Senin (6/4).

Sebagai ormas Islam nasional yang bergerak di bidang pendidikan, pemberdayaan sosial ekonomi umat, dan dakwah islamiyyah, pihaknya akan berusaha membantu Pemerintah dalam upayanya membendung tersebarnya ideologi, ajaran atau gerakan ISIS ini.

Sebagaimana diwartakan, dengan membawa simbol-simbol agama, ISIS di beberapa tempat telah melakukan pembantaian secara brutal, perampokan, dan perusakan terhadap situs-situs sejarah yang sangat dihormati. (Mahbib)

Sumber:
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,44-id,58682-lang,id-c,nasional-t,Al+Irsyad++Ajaran+ISIS+Bertentangan+dengan+Islam-.phpx


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”

“Ananto pratikno.ananto@gmail.com [ppiindia]”,in:<ppiindia@yahoogroups.com>, Wednesday, 8 April 2015, 10:36.

________________________________________
Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>
________________________________________

 

 

TANGKAL PAHAM ISIS LEWAT GERAKAN PRAMUKA

Selasa, 07/04/2015 06:14

Majalengka, NU Online
Ideologi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang merambah masuk ke Indonesia dan menjangkiti sebagian generasi muda harus terus ditangkal. Salah satunya lewat gerakan Pramuka yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme.

Demikian hal itu diungkapkan H Maman Imanulhaq, anggota DPR RI pada acara pelantikan Satuan Komunitas (Sakom) Pramuka Ma’arif NU Kabupaten Majalengka pada Sabtu (4/04) di Pondok Pesantren Al-Mizan.

Pengasuh Pesantren Al-Mizan ini, menyebut bahwa tantangan besar saat ini terkait ideologi atau pemahaman adalah ideologi transnasional termasuk ISIS yang berpotensi menggerus ideologi Negara kita.

“Pemahaman keagamaan yang sempit, radikal dan intoleran harus kita tangkal lewat penanaman nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme di kalangan pelajar NU lewat gerakan Pramuka dan eksistensi Ma’arif NU,” kata Maman.

Semetara itu, Drs. H. Damahuri, M.Ag, Ketua Sakom Pramuka Ma’arif NU Majalengka bertekad akan terus memperkuat basis-basis sekolah NU di wilayahnya melalui organisasi Ma’arif NU yang dipimpinnya.

“Di kalangan pelajar Nahdiyyin, kita akan perkuat Islam Ahlussuah wal Jamaah yang rahmatan lilalamin, yakni Islam yang ramah, toleran dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, bukan Islam keras yang sukanya marah-marah,” tegasnya.

Perwakilan Pengurus Satuan Komunitas (Sakom) Wilayah Provinsi Jawa Barat, Tata Setiawan, menargetkan tiga program prioritas ke depan, yakni pembentukan Sakom Pramuka Ma’arif NU di 26 Kabupaten di Jabar, Penguatan Kualitas Pembina Pramuka di lingkungan Ma’arif NU, dan Perkemahan Akbar Pramuka Ma’arif NU Jawa Barat.

“Sekarang baru terbentuk sembilan Sakom, kabupaten lain segera kita bentuk karena tahun ini kita targetkan mengadakan perkemahan akbar Pramuka Ma’arif NU yang diikuti oleh seluruh kabupaten di Jawa Barat,” ungkap Tata.

Pada kesempatan itu, jajaran pengurus Sakom Pramuka Ma’arif NU Majalengka dilantik langsug oleh Ketua Harian Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Majalengka, H Sanwasi yang saat ini mejabat sebagai Asisten Daerah (Asda) III Pemeritah Daerah Kabupaten Majalengka. (Red: Mahbib)

Sumber:

http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,58684-lang,id-c,daerah-t,Tangkal+Paham+ISIS+lewat+Gerakan+Pramuka-.phpx

 

WASPADAI PAHAM RADIKAL

 

‘Isu ISIS di Indonesia Hanya Hoax dan Politis’
Rabu, 08 April 2015, 01:15 WIB

Pengendara motor melintas di dekat spanduk himbauan menolak ISIS yang terpasang di pinggir jalan Solo-Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (2/4).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Isu Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) kembali merebak setelah tak lama kisruh Pemilihan Pilpres (Pilpres) 2014 sempat mencuat. Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) meyakini, modus di balik hebohnya isu tersebut di Indonesia hanyalah sebuah ‘komoditas dagang’.

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PP KAMMI, Sofyardi Rahmat meyakini isu ISIS dipenuhi kepentingan oknum tertentu guna kepentingan politiknya semata. Dia menghimbau agar masyarakat tidak perlu khawatir dan jangan terprovokasi lalu terbawa arus.

“ISIS itu hoax, hanya mainan oknum untuk cari perhatian dan cari jabatan,” kata dia melalui rilis, Selasa (7/4).

Tindakan teror memang tidak dapat dibenarkan karena tidak jauh berbeda dengan penjajahan. Perang terhadap terorisme juga penting dilakukan. Namun demikian, lanjut Sofyardi, kita perlu memerhatikan siapa yang bermain dan memanfaatkan isu terkait di tanah air.

Oleh karena itu, tambahnya, KAMMI mendorong Jokowi untuk mewaspadai oknum-oknum di balik layar yang mengendalikan isu tersebut. KAMMI meyakini bahwa Jokowi selaku kepala negara akan mengedepankan kepentingan nasional di atas segalanya.

Selain itu, Sofyardi mengatakan, pengetahuan masyarakat sudah mulai mampu memahami permasalahan bangsa ini. Sehingga, isu dan berita yang menyebar melalui media “bodong” di masyarakat tidak begitu saja ditelan mentah-mentah.

“Memang isu ISIS yang punya skala global ini bukan isu kecil, bukan isu sektoral yang hanya ada di negara tertentu saja. Artinya, peran asing dibaliknya bisa jadi ada. Namun, saya meyakini masyarakat sekarang pintar-pintar,” ujar Sofyardi.[]

DEBAT ANTARA JAYA SUPRANA DAN CHAN CT

DEBAT ANTARA JAYA SUPRANA DAN CHAN CT

On Tuesday, 7 April 2015, 19:21, “‘Chan CT’ SADAR@netvigator.com [GELORA45]” <GELORA45@yahoogroups.com> wrote:

Bung Jaya yb,

Naah, ini satu balasan yang menyejukkan. Syukurlah kalau bung akhirnya bisa menanggapi pendapat yang lain sebagai masukan, tidak lagi merasa “terhina”, sekalipun lepas dari keharusan sependapat. Dan saya usul bung ikut bergabung dalam grup “Diskusi Kita” yang dikelola bung Salim, sahabat kita bersama, biar nanti sekali-kali kita bisa bertemu mendiskusikan masalah yang kebetulan menjadi perhatian dan menarik disitu. Jadi tidak perlu merepotkan bung Salim untuk mem-Fw-kan email-email kita.

Dan, seandainya saja bung berkenan, masih cukup waktu luang ditengah kesibukan kerja, sekalian ikutan dalam Grup Diskusi GELORA45 yang saya kelola. Kirimlah email kosong kealamat:
gelora45-subscribe@yahoogroups.com dan bung juga boleh masuk ke Web. GELORA45, http://www.gelora45.com/ yang gunakan 2 bahasa, Tionghoa dan Indonesia, sebagai satu sarana mempererat hubungan persahabatan 2 rakyat, Indonesia dan Tiongkok! Hanya itulah yang bisa saya lakukan sesuai dengan kemampuan, …

Terimakasih, … dan saya juga senang bisa berkenalan dengan bung didunia maya ini.

Tapi bung Jaya, nama saya itu Chan CT, kok jadi balik lagi menjadi AT? Hehehee, … Yaag, nama di HK sesuai ejaan Kongfu, kalau di Indonesia menjadi Tan Tiong Tik.

Salam,
ChanCT

From: Jaya Suprana
Sent: Tuesday, April 7, 2015 7:27 PM
To: Chan CT
Cc: GELORA_In ; Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; Bekto Suprapto ; Atmajaya Salim ; Ahmad Zen Umar Purba ; nuning_nk@yahoo.com ; Dr. Taufik Abdullah ; Harry Tjan Silalahi ; Rudy tanoesoedibjo ; gigin Praginanto ; aal@imparsial.org ; A. Mustofa Bisri
Subject: Re: mohon petunjuk

Pak AT Chan yth, kisah perjalanan hidup anda benar-benar sangat penuh dengan gelora romantika dan dramatika. Saya juga punya sepupu yang berbakat pianis kelas dunia yang hwa-kiauw ke China hanya untuk mengalami derita luar biasa yaitu kedua tangannya dipukul sampai hancur dengan laras senapan oleh para pendekar revolusi kebudayaan. Saya dapat merasakan betapa mendalam derita para korban revolusi kebudayaan di daratan China yang setara dengan derita para korban tragedi G-30-S , holocaust, ISIS, Irak, Suriah dan lain-lainnya yang semoga tidak terjadi di Tanah Air tercinta kita. Kisah perjuangan hidup anda membuat saya makin menghormati, menghargai dan mengagumi anda . Menurut saya, dengan begitu tulus terus lestari mengasih-sayangi Tanah Air anda sudah mempersembahkan karsa dan karya pengabdian anda kepada Tanah Air yang tak ternilai tinggi maknanya . Karena saya yakin bukanlah kebencian namun kasih-sayang merupakan enerji yang terindah dan terdahsyat bagi kehidupan umat manusia . Suatu kehormatan bagi saya dapat berkenalan dengan anda. Sekali lagi saya mohon diperkenankan menyampaikan penghormatan dan penghargaan tulus saya kepada anda. Salam hormat dari jaua suprana

jaya suprana
Pada 7 April 2015 18.09, Jaya Suprana <semarsuprana@gmail.com> menulis:
Pak AT Chan yth, menurut saya perdebatan kita berdua konstruktif karena sepenuh hati saya menghormati dan menghargai pendapat dan pandangan anda meski tidak semuanya sama dengan pendapat dan pandangan saya . Bagi saya perbedaan itu justru merupakan keindahan kehidupan. Betapa membosankannya hidup ini jika semuanya sama. Saya melihat pada diri anda seorang tokoh yang mau dan mampu berpikir kritis tentang makna kebangsaan dalam makna seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya . Saya banyak belajar dari anda mengenai berbagai hal yang semula saya sama sekali tidak menyadarinya. Masukan-masukan anda sangat berharga bagi saya yang dengan segala keterbatasan diri saya ingin membantu menegakkan pilar-pilar Integritas Nasional di persada Nusantara berbingkai Bhinekka Tunggal Ika yang terlanjur saya cintai ini . Senang dapat berkenalan dengan anda dan semoga di masa mendatang kita bisa bersama membahas berbagai masalah kehidupan di planet bumi nan sarat kemelut deru campur debu berpercik keringat air mata dan darah ini. Salam hormat dari jaya suprana
jaya suprana

Pada 7 April 2015 15.08, Chan CT <sadar@netvigator.com> menulis:
Bung Jaya yb,

Nampaknya pembicaraan kita sudah berkepanjangan dan ternyata tidak memasuki masalah sikap dan pengertian kebangsaan, … sedang seseorang mau bersikap KIRNO maupun KIRIN adalah pilihan dan itu terserah saja maunya dia.

Saya juga sudah cukup banyak menguraikan pendapat saya, bung boleh setuju juga boleh tidak. Bagaimana sikap dan langkah bung selanjutnya tentu sepenuhnya berada ditangan bung sendiri! Saya tidak bermaksud merubah sikap/karakter seseorang dengan komentar yang saya keluarkan itu.

Sebenarnya saja, dalam melinat satu PENDAPAT yang diajukan, bukan mengutamakan SIAPA yang bilang, tapi cukup direnungkan saja baik-baik isi pendapat yang diajukan. Terima-lah yang dirasa BENAR dan buang yang salah! Jadi siapa saya, bukanlah soal penting!

Saya dilahirkan dalam keluarga peranakan Tionghoa, babah yg sudah sudah tidak mengenal bhs. Tionghoa. Katakanlah hanya numpang lahir di Malang, (cuma Malangnya bukan Malang = sial, tapi Malang Melintang didunia Kangauw. Hehehe) dan besar di Jakarta. Seminggu menjelang G30S 1965, saya sudah terbang ke Beijing untuk meneruskan sekolah. Ternyata nasib kurang beruntung, pertengahan tahun 1966 di Beijing juga meletus RBKP (Revolusi Besar Kebudayaan Proletar) dimana semua sekolah terhenti melancarkan revolusi ganyang-mengganyang itu. Lalu mengikuti seruan Ketua Mao, kaum intelektual harus turun kedesa-desa menerima pendidikan kembali dari kaum tani. Pertengahan tahun 1976 saya berkesempatan mengikuti arus Huakiao keluar dan meneempuh hidup baru di HK, … Wantu sungguh terbang dengan cepat, ternyata sekali lewat sudah 1/2 abad hidup dirantau. Tersangkut di Hong Kong. Tapi kenyataan HIDUP yang saya hadapi, sekalipun sudah berganti jubah berkewarganegaraan Tiongkok-HK, hati dan jiwa saya TETAP INDONESIA! Diakui atau tidak sebagai Orang Indonesia, kecintaan saya pada INDONESIA tetap melebihi Tiongkok, negeri leluhur. Sekalipun diantara 2 negara ini, hidup saya 1/2 abad ini dilewatkan di Tiongkok/Hongkong, … tapi perhatian dan kepedulian saya tetap lebih besar dan berat pada perkembangan politik, ekonomi dan kehidupan rakyat di Indonesia pada umumnya dan khususnya peranakan Tionghoa atau suku Tionghoa di Indonesia.

Masalah pengabdian pada tanahair yang bung singgung, dalam kondisi saya sekarang ini, tentu harus dikatakan TIDAK ADA yang bisa saya berikan pada Indonesia. Tenaga sudah nyaris habis dimakan usia, keahlian kosong-melompong, apa lagi yang bisa disumbangkan dengan tulang tua ini, … oouh, nampaknya sudah TIDAK ada HARAPAN lagi bagi saya untuk mengabdikan diri pada INDONESIA! Satu penyesalan dalam hidup yang harus saya bawa mati! Apaboleh buat. Berbeda dengan bung yang bisa menepuk dada telah berbuat banyak, BERJASA untuk Indonesia yag telah diakui tanahaiarnya itu!

Tapi, bung Jaya, mungkin bung juga pernah mendengar pujangga Tionghoa kuno yang kira-kira mengatakan, “Kemampuan seseorang bisa besar bisa kecil, hidupnya mulia selama sepenuh hati mengabdikan diri pada rakyat!”. Jadi JASA seseorang bukan hanya dilihat BESAR jumlah dan nilai yg diberikan saja pada bangsa dan tanahairnya, tapi juga dikaitkan deengan kemampuan dan kesungguhan hati orang berangkutan. Misalnya, bung sebagai pengusaha yang kemampuannya lebih besar, sudah selayaknya bisa memberikan sumbangan lebih besar pada bangsa dan tanah air. Tapi selama bung tidak SEPENUH HATI, misalnya saja, sekali lagi penekanan saya pada misalnya saja, menggelapkan pajak, lalu berkolusi dengan penguasa utk meraih keuntungan lebih besar, … maka bung betapapun besar yg dirasakan telah disumbangkan dan mendapatkan tanda JASA, akhirnya juga akan TETAP dikutuk oleh rakyat! Sebaliknya saya yang tidak berkemampuan, sekalipun sedikit saja sumbangan yang bisa diberikan, tapi karena saya lakukan SEPENUH HATI, tetap hidup saya mulia. Lepas dari jubah warganegara yang saya sandang!

Entah bung bisa menerima konsep pemikiran demikian tidak?

Salam,
ChanCT

From: Jaya Suprana
Sent: Monday, April 6, 2015 4:50 PM
To: Chan CT
Cc: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; alumnilemhanas92@yahoo.com ; group-independen@googlegroups.com ; Bekto Suprapto ; Atmajaya Salim ; Ahmad Zen Umar Purba ; nuning_nk@yahoo.com ; Dr. Taufik Abdullah ; Harry Tjan Silalahi ; Rudy tanoesoedibjo ; gigin Praginanto ; aal@imparsial.org ; A. Mustofa Bisri
Subject: Re: mohon petunjuk

Pak Chan CT yth , ( sebenarnya email yang anda tanggapi bukan balasan namun pemberitahuan saja, makanya diawali dengan By The Way ) saya akui bahwa anda memang konsekuen dan konsisten dalam mempertahankan kesan anda bahwa saya memang tergolong seorang merasa salah, atau terlalu kuatir disalahkan karena ke-Tionghoa-an dirinya. Entah berapa kali saya harus bilang bahwa sebenarnya saya tidak merasa bersalah akibat tidak tahu bahwa saya keturunan Tionghoa sampai para huruharawan menyadarkan saya bahwa saya harus merasa bersalah bahwa saya keturunan Tionghoa bahkan mereka tidak peduli saya merasa bersalah atau tidak bersalah, pokoknya karena saya keturunan Tionghoa maka harus dibasmi habis. Jadi sebenarnya saya tidak merasa bersalah namun sebab saya sudah terlanjur dicap harus merasa bersalah maka saya dipaksa untuk merasa bersalah padahal saya tidak merasa bersalah . Kini saya jadi kuatir bahwa saya cinta Indonesia akibat merasa salah, atau terlalu kuatir disalahkan karena ke-Tionghoa-an saya. Maka sesuai ajaran Gus Dur gitu aja repot maka lebih baik saya akui (meski pun sebenarnya tidak namun demi menyesuaikan diri saya dengan kesan anda tentang saya ) bahwa saya memang tergolong seorang merasa salah, atau terlalu kuatir disalahkan karena ke-Tionghoa-an dirinya. Maka kalimat pertama pada email pemberitahuan itu perlu saya lengkapi dan koreksi menjadi begini saja : Pak Chan CT yth, sebenarnya saya tidak peduli saya dianggap warga berotak kelas dua tidak punya harga diri tergolong seorang merasa salah atau terlalu kuatir disalahkan karena ke-Tionghoa-an dirinya maka mustahil mampu membangun negara bahkan potensial menghianati negara sendiri atau apa pun, mau dibilang KIRNO (Mungkir Cino) juga boleh-boleh saja, asal jangan KIRIN (Mungkir Indonesia) karena saya sudah bahagia banget, barusan lewat sms mahasuhu saya, Harry Tjan Silalahi menyebut saya sebagai seorang dari sekian banyak Nation Builders ( of course Indonesia ! ) lalu tadi pagi lewat telpon mahaguru saya Prof Salim Said menyebut saya sebagai Pahlawan Integritas Nasional Indonesia di samping sebelumnya Kementerian Kebudayaan sempat memberi surat penghargaan Pembina Kebudayaan Nasional Indonesia . Namun saya tetap sadar bahwa segenap sebutan itu justru jangan sampai membuat saya mabuk kepayang puas diri apalagi arogan merasa diri pasti selalu benar sambil merendahkan orang lain , namun justru harus berjuang lebih keras lagi di tempat berlindung di hari tua sampai akhir menutup mata di persada Nusantara yang terlanjur sangat saya cintai ini. Salam MERDEKA dari jaya suprana !
Dengan demikian saya telah berhasil menyesuaikan diri dengan kesan anda tentang saya sebab memang tidak bisa tidak, anda pasti lebih tahu tentang diri saya ketimbang saya sendiri. Selanjutnya saya tunggu tanggapan anda yang selalu inspiratif bagi saya untuk mengenal diri saya sendiri . Hanya saja lama-lama suasana kok terkesan pincang sebab yang menjadi obyek alias sasaran pembahasan bahkan penghakiman kok selalu saya terus-menerus sehingga terkesan saya egosentris banget . Apabila diperbolehkan , kini tiba giliran saya yang bertanya sebenarnya anda itu siapa, lahir di mana, kini tinggal di mana, apakah anda pernah mengalami trauma huruhara rasialis di Indonesia dan karena setahu saya anda keturunan Tionghoa maka ke golongan mana sebaiknya saya menggolongkan anda seperti halnya anda menggolongkan saya. Namun dari email-email anda terdahulu saya bisa menduga bahwa anda bukan tergolong warga kelas dua maka bukan golongan merasa bersalah atau terlalu kuatir disalahkan karena ke-Tionghoa-an dirinya maka mustahil mampu membangun negara bahkan potensial menghianati negara sendiri . Pasti anda sudah mampu membangun negara Indonesia dan mustahil anda menghianagi negara sendiri yaitu Indonesia. Suatu kehormatan bagi saya dapat mengenal bahkan beruntung bisa banyak belajar dari seorang nasionalis sejati berwawasan pandang luas dan jauh ke depan seperti anda !
Terima kasih dan salam hormat dari jaya suprana

jaya suprana

Pada 6 April 2015 14.34, Chan CT <sadar@netvigator.com> menulis:
Bung Jaya yb,

Entah mengapa, setelah membaca balasan bung ini, lagi-lagi saya berkesan bung termasuk seorang merasa salah, atau terlalu kuatir disalahkan karena ke-Tionghoa-an anda. Berbeda deengan Ahok yang bersikap TEGAS dan memperlakukan dirinya sudah sebagai INDONESIA ASLI titik. Tidak ada embel-embel perasaan lainnya lagi! Ahok bicara sebagai ORANG INDONESIA, tidak hendak dibedakan dengan suku lain apalagi menyeret atau dikaitkan dengan etnis Tionghoa, kalau ada kesalahan, adalah tanggungjawabnya sendiri. Itulah yang saya bilang ketegasan SIKAP AHok!

Sedang dari email bung dibawah ini, bung masih saja berulang kali menekankan , bukan China, … bukan Tiongkok! Kenapa harus begitu? Karena bung BELUM bisa memperlakukan diri atau memposisikan diri sepenuhnya adalah orang INDONESIA! Atau, masih saja kuatir orang lain, khususnya saya meragukan ke-Indonesiaan bung karena etnis Tionghoa yg melekat pada diri bung! Kalau sudah dinyatakan sebagai Pahlawan Integritas Nasional Indonesia, kenapa masih pula harus ditegaskan bukan Tiongkok? Kalau Harry Tjan berani menyebutkan Nation Builders pada bung, kenapa pula bung masih harus diberi penekanan of course Indonesia, not China? Padahal kalau bung dari suku Jawa, Batak ataupun Makasar, … pasti bung merasa tidak ada perlunya penegasan “bukan Tiongkok” dan “of course Indonesia, not China”, … bukankah begitu!

Kedua, seandainya saja bung adalah seorang yg mempunyai pendirian tegas dimana berpijak, … juga tidak akan terjadi yg bung bilang “Yang merasa bahwa saya terhina itu adalah teman-teman saya yang merasa tahu hukum maka menyarankan saya untuk nyomasi anda”, …. Lho, yang merasa terhina atau tidak kan, mestinya bung sendiri! Bung merasa tidak, ya tidak ada masalah dengan teman-teman yang berpendapat sebetulnya bung merasa terhina itu! Peduli apa dengan perasaan teman-teman yg mengerti hukum? Kalau bung kemudian menerima saran teman-teman dan merasa terhina, ya ajukan saja dimana masalahnya dengan jelas dan terus terang. Ya, kita bicarakan atau diskusikan dengan baik-baik saja. Sulit-sulit amat, sih?

Saya tetap berpegang pada pujangga kuno Tionghoa, “Yang bicara tidak berdosa, yang mendengar patut waspada”. Kita tetap boleh bersahabat, kita harus bisa saling menerima dan menghormati siapa saja dengan segala perbedaan yang ada, termasuk beda pandangan ideologi/politik!

Salam,
ChanCT

From: Jaya Suprana
Sent: Monday, April 6, 2015 1:42 PM
To: Chan CT
Cc: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; alumnilemhanas92@yahoo.com ; group-independen@googlegroups.com ; Bekto Suprapto ; Atmajaya Salim ; Ahmad Zen Umar Purba ; nuning_nk@yahoo.com ; Dr. Taufik Abdullah ; Harry Tjan Silalahi ; Rudy tanoesoedibjo ; gigin Praginanto ; aal@imparsial.org ; A. Mustofa Bisri
Subject: Re: Fwd: mohon petunjuk

By the way, pak Chan CT yth, sebenarnya saya tidak peduli saya dianggap warga berotak kelas dua tidak punya harga diri maka mustahil mampu membangun negara bahkan potensial menghianati negara sendiri atau apa pun, mau dibilang KIRNO (Mungkir Cino) juga boleh-boleh saja, asal jangan KIRIN (Mungkir Indonesia) karena saya sudah bahagia banget, barusan lewat sms mahasuhu saya, Harry Tjan Silalahi menyebut saya sebagai seorang dari sekian banyak Nation Builders ( of course Indonesia, not China ! ) lalu tadi pagi lewat telpon mahaguru saya Prof Salim Said menyebut saya sebagai Pahlawan Integritas Nasional Indonesia (bukan Tiongkok) di samping sebelumnya Kementerian Kebudayaan sempat memberi surat penghargaan Pembina Kebudayaan Nasional Indonesia ( bukan Tiongkok ). Namun saya tetap sadar bahwa segenap sebutan itu justru jangan sampai membuat saya mabuk kepayang puas diri apalagi arogan merasa diri pasti selalu benar sambil merendahkan orang lain , namun justru harus berjuang lebih keras lagi di tempat berlindung di hari tua sampai akhir menutup mata di persada Nusantara yang terlanjur sangat saya cintai ini. Salam MERDEKA dari jaya suprana !

jaya suprana

Pada 6 April 2015 11.47, Jaya Suprana <semarsuprana@gmail.com> menulis:
Pak Chan CT yth, aduh pak, tolong kalau membaca itu yang teliti, cermat dan lengkap, dong ! Yang merasa saya terhina itu bukan saya, pak ! Yang merasa bahwa saya terhina itu adalah teman-teman saya yang merasa tahu hukum maka menyarankan saya untuk nyomasi anda yang semula saya batalkan karena teringat kisah Haji Lulung yang juga tidak mau somasi Kak Slank, namun teman-teman saya bilang bahwa saya tidak punya harga diri bahkan penghianat terhadap diri saya sendiri . Maka saya menulis mohon petunjuk sebaiknya saya bersikap bagaimana.
Sebaiknya terlebih dahulu anda baca tulisan saya yang mohon petunjuk dari teman-teman yang masih berpikiran waras termasuk anda tentunya itu, baru anda memberi tanggapan. Demi mempermudah anda, saya perlu peringkas pertanyaan saya menjadi APAKAH SEBAIKNYA SAYA TIDAK KALAH BERJIWA BESAR KETIMBANG HAJI LULUNG ATAU SAYA WAJIB PUNYA HARGA DIRI MAKA MELAKUKAN SOMASI . Itu saja. Apabila masih terlalu sulit bagi anda untuk menjawabnya, ya tidak usah dijawab saja sebab masih begitu banyak urusan bangsa dan negara Indonesia yang lebih perlu anda urus ketimbang menjawab pertanyaan mubazir seorang titisan siluman Tie Pat Kay yang tidak punya harga diri. Insya Allah, masih banyak teman-teman saya yang lain yang mungkin sudi memberi petunjuk kepada saya.
Terima kasih dan salam hormat dari jaya suprana
jaya suprana

Pada 6 April 2015 10.50, Chan CT <sadar@netvigator.com> menulis:
Bung Jaya yb,

Pertama saya hendak menyatakan maaf seandainya kata-kata yang saya tulis itu kemudian dirasakan “MENGHINA”, padahal saya kenal juga tidak siapa itu yang bernama Jaya Suprana, … Apa perlunya dan manfaatnya menghina orang yang tidak dikenal? Kecuali saya seorang yang hanya mencari perkara dan mau bikin ribut saja.

Kedua, Saya SETUJU, seandainya berkenan dan ada kesempatan kita bisa mendiskusikan dengan kepala dingin, dimana “KESALAHAN” apa yang saya ajukan ini: “justru disinilah saya melihat perbedaan sikap/karakter yang mencolok antara Ahok dan Jaya Suprana ! Ahok sekalipun Tionghoa tetap TEGAK BERDIRI menjadi INDONESIA ASLI, sedang Jaya Suprana berusaha menghilangkan ke-Tionghoa-annya untuk bisa jadi Indonesia. Ketegasan mengakui kenyataan diri sebagai Tionghoa dengan perbedaan yang ada sebagai bagian bangsa Indonesia tentu jauh akan lebih baik ketimbang merasa diri bersalah dilahirkan sebagai Tionghoa dan lalu berusaha menghilangkan/menyalahkan segala yg berbau Tionghoa untuk menjadi Indonesia, … orang jenis kedua yg sudah tidak mempunyai harga diri begini, bagaimana bisa berjuang untuk KEPENTINGAN BANGSAnya? Lha dirinya sendiri saja dia sudah tidak bisa menghargainya, disatu saat menghadapi kesulitan segera dan mudah saja dia akan menghianati bangsanya juga! Orang Tionghoa bilang, itu orang yang tidak bertulang! Kalau di Indonesia dibilang apa, ya? Kok lupa. Hehehee …..”

Bung tidak perlu terburu-buru merasa tersinggung dan terhinakan, karena saya keluarkan kata-kata itu sepnuhnya dari perbandingan sikap/karakter kalian berdua, Ahok dan Jaya Suprana yang tercetus dan dari “surat terbuka” bung itu, timbul kesan perbedaan sikap/kareakter antara Ahok dan JS. Yang nampaknya bung dalam memposisikan diri sebagai Tionghoa yang serba salah, atau bisa juga akibat dari TRAUMA berlebih yg terjadi setelah jadi korban kerusuhan Mei 98.

Dan oleh karena itu, diemail yl. saya juga mengatakan, sebetulnya tidak perlu diseret atau dikaitkan dengan kerusuhan Mei ‘98 yg terjadi di Nusantara ini, karena kenyataan yg terjadi, bukan konflik horizontal. Huru-hara kerusuhan itu meletup bukan karena tingkah tengik sementara pengusaha Tionghoa berhasil, yang superior, yg melecehkan suku lain, … sekalipun itu dijadikan alasan. Siapa juga tidak senang melihat tingkah tengik begitu, tidak hanya kawan-kawan dari suku lain yang ada di Nusantara ini, saya yakin juga termasuk mayoritas mutlak Tionghoa sendiri. Saya menyatakan utamanya kerusuhan-kerusuhan anti-Tionghoa yg berulang kali terjadi didalangi atau direkayasa oleh sementara pejabat/jendral rasis, yang menjadikan Tionghoa sebagai TUMBAL untuk mencapai tujuan politik tertentu! Dan, … diemail sebelumnya, sepertinya bung juga hendak membenarkan kesimpulan ini, dengan adanya pernyataan, bung sekalipun SELAMAT dengan dilindungi TNI, tapi yang memanggil TNI itu adalah penduduk kampung disekitar dari suku-suku lain, … karena bung merasa tidak ada kemampuan untuk memanggil TNI datang melindungi bung dari amuk kerusuhan. Saya juga pernah dengar, sementara Tionghoa elite justru “MEMBAYAR” TNI dengan datangkan pancer untuk melindungi keamanan rumahnya, dan selamat! Itulah pengakuan mereka, … yg tentunya juga nyata terjadi. SELAMAT karena dilindungi Tentara!

Dari PERNYATAAN bung yang termasuk dilindungi oleh penduduk kampung ini juga sekaligus bisa membuktikan, seandainya saja ketika itu aparat keamanan Negara, Polisi dan TNI sigap dan TEGAS menjalankan KEWAJIBANNYA, untuk mempertahankan ketertiban dan keamanan masyarakat, kerusuhan Mei itu bisa dicegah dan TIDAK akan terjadi! Sayang, seribu sayang, yang terjadi tidak begitu! Itulah KENYATAAN PAHIT yang dihadapi bangsa ini dan harus berjuang lebih keras untuk mentuntaskan setiap pelanggaran HAM berat yang pernah terjadi. Jangan biarkan pelanggaran-pelanggaran HAM lewat begitu saja, jangan biarkan tokoh-tokoh yang harus bertanggungjawab tetap saja lolos dari jerat HUKUM.

Dari email bung sebelumnya, yang begitu sopannya, sampai-sampai saya risih menanggapinya itu, ternyata bung menyangkal “tudingan” saya, dengan mengatakan seringkali mengakui dirinya Tionghoa bahkan menyebutkan Tie Pat Kay (siluman babi). Artinya bung merasa tidak menampatkan diri dalam posisi Tionghoa yang tidak mau mengakui diri sebagai Tionghoa, dan, … sedang berusaha menghilangkan segala yang berbau TIonghoa.

Tapi, dari nada tanggapan bung kali ini, kesan saya bung juga SETUJU sepenuhnya dengan pernyataan saya: “kalau dirinya sendiri saja sudah tidak diakui dan dihargai, bagaimana dia bisa tegak berdiri membela BANGSA-nya!”, itu yang saya bilang sudah menjadi manusia tidak bertulang, kata dalam bhs. Tionghoa. Tentu, kalau kesan saya ini salah lagi, kita boleh lanjutkan diskusi ini.

Nah, kalau sudah begitu mestinya boleh berlakukan kata pujangga kuno Tionghoa, “Yang berbicara tidak berdosa, yang mendengar patut waspada!” Katakanlah kesan saya dari “Surat Terbuka” bung itu yang salah, ternyata bung tidak bersikap/berkarakter sebagaimana saya tuding, ya cukup sebagai canang dan waspada saja.

Ketiga, sedikit koreksi saja, biasa di dunia maya saya gunakan nama saya cukup dengan ChanCT, singkatan dari Chan Chung Tak. Bukan ATChan, tapi CT dan nama marga Chan (She Tan, di Indonesia) tidak saya ditaroh dibelakang sebagaimana kebiasaan orang barat. Saya tetap lebih suka gunakan tradisi Tionghoa sendiri, nama Marga tetap didepan. Hehehee, …

Tapi bung Jaya, saya senang bisa berbincang didunia maya ini, … untuk mengenal bung lebih baik.

Dan terakhir, terimakasih sebesar-besarnya pada bung Salim yg rajin-rajin amat mem-FW-kan email-email kami berdua.

Salam-kenal,
CHanCT

From: Salim Said
Sent: Monday, April 6, 2015 9:36 AM
To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; alumnilemhanas92@yahoo.com ; group-independen@googlegroups.com ; Bekto Suprapto ; Atmajaya Salim ; Ahmad Zen Umar Purba ; nuning_nk@yahoo.com ; Dr. Taufik Abdullah ; Harry Tjan Silalahi ; Rudy tanoesoedibjo ; gigin Praginanto ; aal@imparsial.org ; ambis1944@yahoo.com
Subject: Fwd: mohon petunjuk

———- Forwarded message ———-
From: Jaya Suprana <semarsuprana@gmail.com>
Date: 2015-04-06 7:36 GMT+07:00
Subject: mohon petunjuk
To: Salim Said <bungsalim43@gmail.com>

Prof Salim Said yang sangat saya hormati sebagai sahabat mau pun mahaguru politik saya,
sesuai ajuran Prof. saya akan melanjutkan pembahasan mengenai problematika minoritas yang sudah dianggap tiada lagi maka ditabukan oleh sebagian pihak di Indonesia. Sebagai pembuka diskusi ke arah sana, saya memanfaatkan kasus ATChan menyebut saya warga Tionghoa tidak punya harga diri bahkan potensial mengkhianati bangsa Indonesia yang mustahil akan saya khianati sampai akhir zaman. Maka saya melampirkan profokasi saya di email ini yang apabila Prof anggap trash harap langsung didelete saja. Namun apabila Prof anggap perlu, silakan Prof. umumkan secara terbuka di milis group-independen atau group lain-lainnya yang menurut Prof perlu dan layak mengetahuinya.
Trims dan hormat dari

jaya suprana
——————————————————————————————————————————————

Milis group independen sempat memuat tulisan Bpk ATChan sbb : …. justru disinilah saya melihat perbedaan sikap/karakter yang mencolok antara Ahok dan Jaya Suprana ! Ahok sekalipun Tionghoa tetap TEGAK BERDIRI menjadi INDONESIA ASLI, sedang Jaya Suprana berusaha menghilangkan ke-Tionghoa-annya untuk bisa jadi Indonesia. Ketegasan mengakui kenyataan diri sebagai Tionghoa dengan perbedaan yang ada sebagai bagian bangsa Indonesia tentu jauh akan lebih baik ketimbang merasa diri bersalah dilahirkan sebagai Tionghoa dan lalu berusaha menghilangkan/menyalahkan segala yg berbau Tionghoa untuk menjadi Indonesia, … orang jenis kedua yg sudah tidak mempunyai harga diri begini, bagaimana bisa berjuang untuk KEPENTINGAN BANGSAnya? Lha dirinya sendiri saja dia sudah tidak bisa menghargainya, disatu saat menghadapi kesulitan segera dan mudah saja dia akan menghianati bangsanya juga! Orang Tionghoa bilang, itu orang yang tidak bertulang! Kalau di Indonesia dibilang apa, ya? Kok lupa. Hehehee …..
Semula saya tidak serius memperhatikan tulisan pak ATChan tersebut apalagi karena diakhiri dengan Hehehehe … Namun beberapa teman saya yang mengerti hukum menilai tulisan Bpk ATChan tersebut adalah penghinaan terhadap diri saya yang bukan hanya tersirat namun juga tersurat di dalam kalimat tulisan Bpk ATChan : orang jenis kedua yang sudah tidak mempunyai harga diri begini, bagaimana bisa berjuang untuk KEPENTINGAN BANGSAnya ? Lha dirinya sendiri saja dia sudah tidak bisa menghargainya, disatu saat menghadapi kesulitan segera dan mudah saja dia akan menghianati bangsanya juga! Orang Tionghoa bilang, itu orang yang tidak bertulang ! Kalau di Indonesia dibilang apa, ya? Kok lupa. Hehehee ….. Maka teman-teman saya yang mengerti hukum menganjurkan saya untuk mensomasi penulis kalimat yang memang bisa dianggap menghina saya sebagai seorang yang tidak punya harga diri maka potensial akan menghianati bangsanya juga. Semula saya sempat terpancing bisikan iblisi itu namun kebetulan saya sedang menulis tentang Haji Lulung di mana terkisah bagaimana Haji Lulung tidak berhasil dikompori oleh Pemuda Panca-Marga dan Badan Musyawarah Betawi untuk menyomasi Kaka “Slank” yang saking geram terhadap Haji Lulung sampai di media online sempat menyebut Wakil Ketua DPR Jakarta sebagai orang yang berbahaya . Haji Lulung bijak menyarankan bahwa sebaiknya jangan bikin masalah baru dengan main somasi-somasian . Bahkan Haji Lulung cukup berjiwa besar untuk arif-bijaksana bersabda “ Biar Allah yang memaafkan dia (Kaka “Slank” )” . Maka saya menjadi malu sendiri. Jika seorang Haji Lulung bisa bersikap sedemikian luhur kenapa saya harus kalah dibanding dia. Lebih baik saya mengurus urusan lain yang lebih memiliki makna nyata bagi negara, bangsa dan rakyat Indonesia ketimbang ecek-ecek seperti urusan saya dihina-hina . Namun setelah tahu bahwa saya tidak mau menyomasi Bpk ATChan, para pengompor saya menyebut saya seorang pengecut yang tidak punya harga diri bahkan penghianat terhadap diri sendiri. Mumpung saya masih memiliki begitu banyak teman-teman lain yang masih mampu berpikir waras, maka saya mohon petunjuk para teman yang masih mampu berpikir waras melalui milis group-independen ini mengenai apakah sebaiknya saya tidak kalah berjiwa besar ketimbang Haji Lulung atau saya wajib punya harga diri maka menyomasi Bpk ATChan dengan anggapan bahwa beliau telah menghina saya.
Terima kasih dan salam hormat dari jaya suprana

SINDIRAN AKBAR FAIZAL SOAL LULUSAN HAVARD MASUK ISTANA

Ini Isi Lengkap Sindiran Akbar Faizal Soal Lulusan Harvard Masuk Istana
Indah Mutiara Kami – detikNews, Minggu, 05/04/2015 23:15 WIB

Ini Isi Lengkap Sindiran Akbar Faizal Soal Lulusan Harvard Masuk Istana - 1
Foto: Akbar Faizal (twitter)

Sindiran Akbar Faizal Bocor
Jakarta – Pesan dari politikus NasDem Akbar Faizal ke Deputi II Kantor Staf Kepresidenan Yanuar Nugroho bocor ke masyarakat. Akbar sendiri sudah mengakui bahwa ia menulis pesan tersebut.

“Itu percakapan dalam grup, jadi tidak perlu ditanggapi. Intinya itu percakapan dalam grup. Misal ada yang membocorkan itu bukan dari saya. Kemudian orang-orang tidak mengetahui apa konteks yang sedang dibicarakan,” ungkap Akbar saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (5/4/2015) pukul 19.30 WIB.

Bocoran pesan tersebut pertama kali dicuitkan oleh netizen melalui akun Twitter @yani_bertiana. Belum diketahui siapa sosok pemilik akun ini.

“Selamat berlibur, teman-teman semua……… Ini ada bocoran SMS dari Akbar Faizal kepada Yanuar Nugroho, Deputi Kepala Staf Kepresidenan,” tulis akun itu tadi siang. Ada sekitar 40 cuitan terkait pesan dari Akbar Faizal ini.

Dalam pesan tersebut, Akbar menyindir Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Panjaitan yang mendeklarasikan masuknya sejumlah lulusan Harvard ke kantornya. Pria yang saat ini merupakan anggota DPR dari Komisi III lalu menjabarkan jasa serta asal orang-orang yang ada di tim pemenangan Jokowi.

Akbar memang pernah menjabat sebagai Deputi Kantor Transisi Jokowi-JK yang turut pula merancang arsitektur kabinet. Tetapi Akbar kemudian tak masuk ke dalam ring-1 Istana.

Berikut adalah isi lengkap pesan dari Akbar Faizal ke Yanuar Nugroho yang bocor ke masyarakat, seperti dikutip dari akun @yani_bertiana:

Sindiran Akbar Faizal Bocor
Yth. Pak Yanuar Nugroho, saya Akbar Faizal alumni IKIP Ujung Pandang jurusan Sastra (S1) dan Komunikasi Politik (S2) UI, sekarang anggota DPR RI. Saya ucapkan selamat atas jabatan mentereng sebagai deputinya Jenderal Luhut. Pak Luhut dulu bagian dari tim kampanye Jokowi-JK dan juga Tim Transisi. Ada beberapa peran Pak Luhut yang cukup layak untuk dicatat dalam pemenangan Jokowi meski menurutku tidak sebesar peran Megawati yang memerintahkan PDIP hingga ke akar rumput untuk memenangkan Jokowi. Sesungguhnya Jokowi tak akan jadi Presiden jika PDIP atau Mega tidak merekomendasikan Jokowi. Hal yang sama juga terjadi pada Surya Paloh, Muhaimin Iskandar, Wiranto dan belakangan Sutiyoso. Selanjutnya bergabung berbagai relawan seperti Projo, Bara JP, Seknas, dan lain-lain. Tak boleh dilupakan sayap-sayap partai pengusung seperti PIR dari Nasdem dalam komando Martin Manurung dan Relawan Cik Ditiro dalam komando kawan-kawab PDIP. Pasukan PKB terutama Marwan Jafar berjibaku dengan kami di Timkamnas dalam komando Cahyo Kumolo dan Andi Wijayanto berkeliling Indonesia meneriakkan “Pilih Jokowi karena bla…bla…bla…”

Tak ada anak Harvard di tim pemenangan kami, yang agak jauh kuliahnya itu paling Eva K. Sundari yang pernah sekolah di Inggris entah di mana. Saya tak terlalu paham pula apakah di Inggris sana dia menemukan suaminya yang orang Timor Leste dan membuatnya dimaki setiap hari oleh tim Prabowo sebagai Katholik sejati atau pengkhianat bangsa dan seterusnya. Rieke Pitaloka setahu saya kuliah di UI namun berkeliling dari kampung ke kampung sepanjang Jawa untuk meyakinkan ibu-ibu untuk memilih Jokowi dan berakibat dia disumpahi sebagai keturunan PKI di semua medsos. Ada pula yang bernama Teten Masduki yang setahu saya hanya alumni IKIP Bandung namun fokus ke Jawa Barat dan meyakinkan semua seniman-seniman bermartabat untuk mendukung Jokowi seperti Slank atau Iwan fals atau Bimbo. Jika Anda tahu tentang “Konser 2 Jari” yang menjadi pamungkas kampanye dan membalikkan persepsi publik tentang besarnya dukungan massa terhadap Jokowi dan Prabowo di masa-masa krusial saat itu, itu adalah kerjaan Teten.

Pak Luhut sendiri setahu saya (dan sesungguhnya saya sangat tahu masalahnya) banyak menghabiskan waktu di kantor pemenangan yang dibentuknya di Bravo 5 Menteng dan berdiskusi or menelepon banyak orang yang saya dengar sebagai “orang LBP” entah di mana saja. Beberapa kali saya rapat dengan tim mereka di mana hadir para pensiunan Jendral yang –mohon maaf– masih merasa sebagai komandan pasukan dengan berbagai kewenangan. Juga proposal beliau tentang sistem IT beliau yang cukup memarkir mobil di depan KPU dan seluruh data-data bisa tersedot. Kami di Jl. Subang 3A –itu markas utama pemenangan Jokowi Mas– terkagum-kagum membayangkan kehebatan teknologi Pak LBP sekaligus mengernyitkan dahi tentang proses kerja penyedotan data tadi. Saya yang pernah menjadi wartawan senyum-senyum saja sebab sedikit paham soal IT. Senyumanku semakin melebar saat membaca jumlah dan yang dibutuhkan untuk pengadaan teknologi sedot-menyedot tadi. Dalam hal massa, tercatat 2 kali LBP mengumpulkan masyarakat Batak di Medan dan Jakarta untuk mendukung Jokowi-JK.

Mas Yanuar, saya merasa perlu menulis seperti ini sebab saya merasa kantor Anda terlalu jauh mendeskripsikan diri akan tugas dan kualifikasi staf sebuah kantor Kastaf Presiden. Sebenarnya saya tak perlu terlalu menanggapi soal Harvard ini. Saya juga pernah ke sana tapi sebagai turis. Otak saya memang tak akan mampu kuliah di sana. Lha wong saya orang desa. Bahasa Bugis saya juga jauh lebih lancar dari Bahasa Inggris saya. Namun soal Harvard ini membuat saya merasa “koq kalian menghina bangsamu sendiri? Merendahkan kualitas pendidikan bangsamu yang kabarnya akan kau katrol kualitasnya dengan cara memasukkan orang Harvard atau entah dari mana lagi di luar negeri sana? Mengapa kalian semakin jauh dari ‘kesepakatan awal kita di tim dulu untuk menghormati bangsamu sendiri?’ Mengapa kalian makin kurang ajar saja? Saya sebenarnya pernah ingin mempersoalkan lembaga bernama Kastaf ini sebab sejujurnya “tak ada” dalam perencanaan kami di Tim Transisi dulu. Sekadar menginfokan ke Anda Mas bahwa Tim Transisi itu dibentuk Pak jokowi untuk merancang pemerintahan yang akan dipimpinnya. Tapi saya sungguh tak nyaman mempersoalkan itu sebab akan dituding macam-macam. Misalnya, akh karena AF kecewa tidak jadi menteri dan lain-lain. Dan masih banyak lagi sebenarnya yang ingin saya pertanyakan. Termasuk surat presiden ke DPR tentang Budi Gunawan yang disusul kontroversi-kontroversi lainnya. Ke mana para pemikir Tata Negara di sekitar Pak Jokowi sekarang? Yang kudengar selanjutnya malah pengangkatan Refly Harun sebagai Komisaris Utama Jasa Marga. Mungkin Bu Rini anggap Refly sangat paham soal Tol karena setiap hari melalui macet, persoalan yang Pak Jokowi katakan dulu akan lebih mudah menyelesaikannya sebagai presiden ketimbang sebagai Gubernur DKI– dari rumahnya di Buaran sana.

Mas Yanuar, sebagai anggota DPR pendukung pemerintah dan Insya Allah punya peran (meski sangat kecil) terhadap kemenangan Jokowi-JK, saya ingin kalian di istana fokus pada tugas yang lebih membumi. Misalnya, jangan biarkan kami di DPR dihajar bagai sansak oleh orang-orang Prabowo dalam kasus kenaikan tunjangan mobil pejabat, misalnya, hanya karena kalian tak mampu berkomunikasi dengan kami di DPR (atau parpol pendukung. Ini juga satu soal sendiri karena terbaca dengan kuat kalau kalian ring 1 Presiden kini sukses melakukan deparpolisasi) dan atau gagal meyakinkan publik akan seluruh keputusan-keputusan Presiden/pemerintah. Soal sesepele ini tak perlu kualitas Harvard.

Saya merasa mengenal beberapa orang di Istana Negara tempat Anda berkantor sekarang. Entah apa mereka (masih) mengenal saya sekarang.
Tapi saya nggak memikirkannya. Saya hanya minta kalian di sana berhenti melakukan hal yang tak perlu seperti deklarasi soal Harvard yang akan masuk Istana. Sekali lagi, saya sebenarnya tak perlu menulis panjang lebar seperti ini hanya untuk menanggapi soal Harvard ini. Tapi saya harus lakukan sebab menurutku kalian makin jauh dari seluruh rencana awal kita. Dan sayangnya, seluruh rencana awal itu saya pahami dan terlibat di dalamnya. Saya sekuat mungkin berusaha menghindari kalimat-kalimat keras untuk memahami apa yang kalian lakukan di sana. Tapi sepak terjang kantor Mas Yanuar bernama Kastaf Kepresidenan itu makin jauh.

Terakhir, saya sarankan agar menahan diri dalam memberikan masukan ke presiden. Jangan racuni pikiran presiden yang polos dengan permainan yang dulu kami hindarkan beliau lakukan meski kadang gregetan lihat langkah-langkah tim Prahara. Terkhusus dengan Pak JK, saya minta kalian berikan rasa hormat. Tanggal 9 Juli lalu, 63% penduduk Indonesia memilih Jokowi-JK dan bukan Jendral Luhut Binsar Pandjaitan apalagi Anda-anda yang bergabung belakangan. .(imk/bar)

INI BUKTI AHOK ‘BEBAL’ KRITIK, SURAT NASEHAT JAYA SUPRANA DIBALAS ‘UMPATAN’

INI BUKTI AHOK ‘BEBAL’ KRITIK, SURAT NASEHAT JAYA SUPRANA DIBALAS ‘UMPATAN’
Sent: Wednesday, April 1, 2015 10:05 AM

Surat terbuka yang di tulis oleh budayawan Jaya Suprana ternyata berbuntut panjang. Ahok sebagai orang yang di surati bukan malah berterima kasih, namun malah balik ‘menyerang’ Jaya Suprana.

Dilansir dalam RmolJakarta (30/3), Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengaku tidak pernah merasa sebagai kaum minoritas di Indonesia.

Pernyataan ini Ahok sampaikan untuk menanggapi pernyataan  Ketua Museum Rekor Indonesia (MURI) Jaya Suprana. Bahkan, Ahok mencibir sikap Jaya Suprana.

“Ini hak saya ngomong apapun. Yang salah ya pribadi saya. Kalau mau nyalaih ya salahin keluarga yang didik saya,” ujarnya di Balaikota, Jakarta Pusat, Senin (30/3).

Ahok juga menuding, sikap Jaya Suprana yang menunjukkan dirinya sebagai warga negara kelas dua. “Otak beliau itu masih otak yang merasa dia warga negara kelas dua,” katanya.

Ia juga menanyakan, alasan mengapa Jaya Suprana harus mengirimkan surat terbuka melalui surat kabar. Ia menuding Jaya sengaja ingin memprovokasi orang lain.
“Itu strategi memprovoskasi nakut-nakutin orang supaya orang turunan marah-marahin saya,” tukasnya, demikian Rmol mengabarkan.

Ketika berita diatas sampai media sosial twitter, Ratna Sarumpaet berikan komentar atas sikap Ahok kepada Jaya Suprana. Melalui akun @RatnaSpaet menulis, “Duh, makin aneh aja…,” kicaunya dengan nada bingung atas sikap Ahok sambil me-retwett link berita terkait pernya. []

LANJUTAN SURAT JAYA SUPRANA KEPADA AHOK

 

LANJUTAN SURAT JAYA SUPRANA KEPADA AHOK
On Monday, 6 April 2015, 15:54, “‘Chan CT’ SADAR@netvigator.com [nasional-list]” <nasional-list@yahoogroups.com> wrote:

Bung Jaya yb,

Pertama saya hendak menyatakan maaf seandainya kata-kata yang saya tulis itu kemudian dirasakan “MENGHINA”, padahal saya kenal juga tidak siapa itu yang bernama Jaya Suprana, … Apa perlunya dan manfaatnya menghina orang yang tidak dikenal? Kecuali saya seorang yang hanya mencari perkara dan mau bikin ribut saja.

Kedua, Saya SETUJU, seandainya berkenan dan ada kesempatan kita bisa mendiskusikan dengan kepala dingin, dimana “KESALAHAN” apa yang saya ajukan ini: “justru disinilah saya melihat perbedaan sikap/karakter yang mencolok antara Ahok dan Jaya Suprana ! Ahok sekalipun Tionghoa tetap TEGAK BERDIRI menjadi INDONESIA ASLI, sedang Jaya Suprana berusaha menghilangkan ke-Tionghoa-annya untuk bisa jadi Indonesia. Ketegasan mengakui kenyataan diri sebagai Tionghoa dengan perbedaan yang ada sebagai bagian bangsa Indonesia tentu jauh akan lebih baik ketimbang merasa diri bersalah dilahirkan sebagai Tionghoa dan lalu berusaha menghilangkan/menyalahkan segala yg berbau Tionghoa untuk menjadi Indonesia, … orang jenis kedua yg sudah tidak mempunyai harga diri begini, bagaimana bisa berjuang untuk KEPENTINGAN BANGSAnya? Lha dirinya sendiri saja dia sudah tidak bisa menghargainya, disatu saat menghadapi kesulitan segera dan mudah saja dia akan menghianati bangsanya juga! Orang Tionghoa bilang, itu orang yang tidak bertulang! Kalau di Indonesia dibilang apa, ya? Kok lupa. Hehehee …..”

Bung tidak perlu terburu-buru merasa tersinggung dan terhinakan, karena saya keluarkan kata-kata itu sepenuhnya dari perbandingan sikap/karakter kalian berdua, Ahok dan Jaya Suprana yang tercetus dan dari “surat terbuka” bung itu, timbul kesan perbedaan sikap/kareakter antara Ahok dan JS. Yang nampaknya bung dalam memposisikan diri sebagai Tionghoa yang serba salah, atau bisa juga akibat dari TRAUMA berlebih yg terjadi setelah jadi korban kerusuhan Mei 98.

Dan oleh karena itu, diemail yl. saya juga mengatakan, sebetulnya tidak perlu diseret atau dikaitkan dengan kerusuhan Mei ‘98 yg terjadi di Nusantara ini, karena kenyataan yg terjadi, bukan konflik horizontal. Huru-hara kerusuhan itu meletup bukan karena tingkah tengik sementara pengusaha Tionghoa berhasil, yang superior, yg melecehkan suku lain, … sekalipun itu dijadikan alasan. Siapa juga tidak senang melihat tingkah tengik begitu, tidak hanya kawan-kawan dari suku lain yang ada di Nusantara ini, saya yakin juga termasuk mayoritas mutlak Tionghoa sendiri. Saya menyatakan utamanya kerusuhan-kerusuhan anti-Tionghoa yg berulang kali terjadi didalangi atau direkayasa oleh sementara pejabat/jendral rasis, yang menjadikan Tionghoa sebagai TUMBAL untuk mencapai tujuan politik tertentu! Dan, … diemail sebelumnya, sepertinya bung juga hendak membenarkan kesimpulan ini, dengan adanya pernyataan, bung sekalipun SELAMAT dengan dilindungi TNI, tapi yang memanggil TNI itu adalah penduduk kampung disekitar dari suku-suku lain, … karena bung merasa tidak ada kemampuan untuk memanggil TNI datang melindungi bung dari amuk kerusuhan. Saya juga pernah dengar, sementara Tionghoa elite justru “MEMBAYAR” TNI dengan datangkan pancer untuk melindungi keamanan rumahnya, dan selamat! Itulah pengakuan mereka, … yg tentunya juga nyata terjadi. SELAMAT karena dilindungi Tentara!

Dari PERNYATAAN bung yang termasuk dilindungi oleh penduduk kampung ini juga sekaligus bisa membuktikan, seandainya saja ketika itu aparat keamanan Negara, Polisi dan TNI sigap dan TEGAS menjalankan KEWAJIBANNYA, untuk mempertahankan ketertiban dan keamanan masyarakat, kerusuhan Mei itu bisa dicegah dan TIDAK akan terjadi! Sayang, seribu sayang, yang terjadi tidak begitu! Itulah KENYATAAN PAHIT yang dihadapi bangsa ini dan harus berjuang lebih keras untuk mentuntaskan setiap pelanggaran HAM berat yang pernah terjadi. Jangan biarkan pelanggaran-pelanggaran HAM lewat begitu saja, jangan biarkan tokoh-tokoh yang harus bertanggungjawab tetap saja lolos dari jerat HUKUM.

Dari email bung sebelumnya, yang begitu sopannya, sampai-sampai saya risih menanggapinya itu, ternyata bung menyangkal “tudingan” saya, dengan mengatakan seringkali mengakui dirinya Tionghoa bahkan menyebutkan Tie Pat Kay (siluman babi). Artinya bung merasa tidak menampatkan diri dalam posisi Tionghoa yang tidak mau mengakui diri sebagai Tionghoa, dan, … sedang berusaha menghilangkan segala yang berbau TIonghoa.

Tapi, dari nada tanggapan bung kali ini, kesan saya bung juga SETUJU sepenuhnya dengan pernyataan saya: “kalau dirinya sendiri saja sudah tidak diakui dan dihargai, bagaimana dia bisa tegak berdiri membela BANGSA-nya!”, itu yang saya bilang sudah menjadi manusia tidak bertulang, kata dalam bhs. Tionghoa. Tentu, kalau kesan saya ini salah lagi, kita boleh lanjutkan diskusi ini.

Nah, kalau sudah begitu mestinya boleh berlakukan kata pujangga kuno Tionghoa, “Yang berbicara tidak berdosa, yang mendengar patut waspada!” Katakanlah kesan saya dari “Surat Terbuka” bung itu yang salah, ternyata bung tidak bersikap/berkarakter sebagaimana saya tuding, ya cukup sebagai canang dan waspada saja.

Ketiga, sedikit koreksi saja, biasa di dunia maya saya gunakan nama saya cukup dengan ChanCT, singkatan dari Chan Chung Tak. Bukan ATChan, tapi CT dan nama marga Chan (She Tan, di Indonesia) tidak saya ditaroh dibelakang sebagaimana kebiasaan orang barat. Saya tetap lebih suka gunakan tradisi Tionghoa sendiri, nama Marga tetap didepan. Hehehee, …

Tapi bung Jaya, saya senang bisa berbincang didunia maya ini, … untuk mengenal bung lebih baik.

Dan terakhir, terimakasih sebesar-besarnya pada bung Salim yg rajin-rajin amat mem-FW-kan email-email kami berdua.

Salam-kenal,
CHanCT

From: Salim Said
Sent: Monday, April 6, 2015 9:36 AM
To: Group Diskusi Kita ; alumnas-oot ; alumnilemhanas92@yahoo.com ; group-independen@googlegroups.com ; Bekto Suprapto ; Atmajaya Salim ; Ahmad Zen Umar Purba ; nuning_nk@yahoo.com ; Dr. Taufik Abdullah ; Harry Tjan Silalahi ; Rudy tanoesoedibjo ; gigin Praginanto ; aal@imparsial.org ; ambis1944@yahoo.com
Subject: Fwd: mohon petunjuk

———- Forwarded message ———-
From: Jaya Suprana <semarsuprana@gmail.com>
Date: 2015-04-06 7:36 GMT+07:00
Subject: mohon petunjuk
To: Salim Said <bungsalim43@gmail.com>

Prof Salim Said yang sangat saya hormati sebagai sahabat mau pun mahaguru politik saya, sesuai ajuran Prof. saya akan melanjutkan pembahasan mengenai problematika minoritas yang sudah dianggap tiada lagi maka ditabukan oleh sebagian pihak di Indonesia. Sebagai pembuka diskusi ke arah sana, saya memanfaatkan kasus ATChan menyebut saya warga Tionghoa tidak punya harga diri bahkan potensial mengkhianati bangsa Indonesia yang mustahil akan saya khianati sampai akhir zaman. Maka saya melampirkan profokasi saya di email ini yang apabila Prof anggap trash harap langsung didelete saja. Namun apabila Prof anggap perlu, silakan Prof. umumkan secara terbuka di milis group-independen atau group lain-lainnya yang menurut Prof perlu dan layak mengetahuinya.
Trims dan hormat dari

jaya suprana
————————————————————————————————————————-

Milis group independen sempat memuat tulisan Bpk ATChan sbb : …. justru disinilah saya melihat perbedaan sikap/karakter yang mencolok antara Ahok dan Jaya Suprana ! Ahok sekalipun Tionghoa tetap TEGAK BERDIRI menjadi INDONESIA ASLI, sedang Jaya Suprana berusaha menghilangkan ke-Tionghoa-annya untuk bisa jadi Indonesia. Ketegasan mengakui kenyataan diri sebagai Tionghoa dengan perbedaan yang ada sebagai bagian bangsa Indonesia tentu jauh akan lebih baik ketimbang merasa diri bersalah dilahirkan sebagai Tionghoa dan lalu berusaha menghilangkan/menyalahkan segala yg berbau Tionghoa untuk menjadi Indonesia, … orang jenis kedua yg sudah tidak mempunyai harga diri begini, bagaimana bisa berjuang untuk KEPENTINGAN BANGSAnya? Lha dirinya sendiri saja dia sudah tidak bisa menghargainya, disatu saat menghadapi kesulitan segera dan mudah saja dia akan menghianati bangsanya juga! Orang Tionghoa bilang, itu orang yang tidak bertulang! Kalau di Indonesia dibilang apa, ya? Kok lupa. Hehehee …..
Semula saya tidak serius memperhatikan tulisan pak ATChan tersebut apalagi karena diakhiri dengan Hehehehe … Namun beberapa teman saya yang mengerti hukum menilai tulisan Bpk ATChan tersebut adalah penghinaan terhadap diri saya yang bukan hanya tersirat namun juga tersurat di dalam kalimat tulisan Bpk ATChan : orang jenis kedua yang sudah tidak mempunyai harga diri begini, bagaimana bisa berjuang untuk KEPENTINGAN BANGSAnya ? Lha dirinya sendiri saja dia sudah tidak bisa menghargainya, disatu saat menghadapi kesulitan segera dan mudah saja dia akan menghianati bangsanya juga! Orang Tionghoa bilang, itu orang yang tidak bertulang ! Kalau di Indonesia dibilang apa, ya? Kok lupa. Hehehee ….. Maka teman-teman saya yang mengerti hukum menganjurkan saya untuk mensomasi penulis kalimat yang memang bisa dianggap menghina saya sebagai seorang yang tidak punya harga diri maka potensial akan menghianati bangsanya juga. Semula saya sempat terpancing bisikan iblisi itu namun kebetulan saya sedang menulis tentang Haji Lulung di mana terkisah bagaimana Haji Lulung tidak berhasil dikompori oleh Pemuda Panca-Marga dan Badan Musyawarah Betawi untuk menyomasi Kaka “Slank” yang saking geram terhadap Haji Lulung sampai di media online sempat menyebut Wakil Ketua DPR Jakarta sebagai orang yang berbahaya . Haji Lulung bijak menyarankan bahwa sebaiknya jangan bikin masalah baru dengan main somasi-somasian . Bahkan Haji Lulung cukup berjiwa besar untuk arif-bijaksana bersabda “ Biar Allah yang memaafkan dia (Kaka “Slank” )” . Maka saya menjadi malu sendiri. Jika seorang Haji Lulung bisa bersikap sedemikian luhur kenapa saya harus kalah dibanding dia. Lebih baik saya mengurus urusan lain yang lebih memiliki makna nyata bagi negara, bangsa dan rakyat Indonesia ketimbang ecek-ecek seperti urusan saya dihina-hina . Namun setelah tahu bahwa saya tidak mau menyomasi Bpk ATChan, para pengompor saya menyebut saya seorang pengecut yang tidak punya harga diri bahkan penghianat terhadap diri sendiri. Mumpung saya masih memiliki begitu banyak teman-teman lain yang masih mampu berpikir waras, maka saya mohon petunjuk para teman yang masih mampu berpikir waras melalui milis group-independen ini mengenai apakah sebaiknya saya tidak kalah berjiwa besar ketimbang Haji Lulung atau saya wajib punya harga diri maka menyomasi Bpk ATChan dengan anggapan bahwa beliau telah menghina saya.
Terima kasih dan salam hormat dari jaya suprana

MEMBACA LAGI SURAT JAYA SUPRANA

MEMBACA LAGI SURAT JAYA SUPRANA
 
Kompasiana.Com,  | 02 April 2015 | 09:14 

Oleh S. Aji
14279509741472184271

Jaya Suprana (Warta Kota)

Surat terbuka Jaya Suprana untuk Ahok sudah ditanggapi beberapa Kompasianer. Gubernur Ahok, yang menjadi tujuan surat juga sudah menanggapi. ““Dia merasa masih kayak otak warga negara kelas dua, dia melatih merasis diri,” tuturnya kepada wartawan, Senin (30/3/2015). [link beritanya .]

Beberapa dari kita yang bergiat di Kompasiana barangkali menanggapi surat terbuka tadi dengan cara pandang yang senafas dengan Gubernur Ahok : melawan korupsi tidak usah takut dan terlalu banyak tetek bengek sopan santun. Dalam urusan perang melawan korupsi, tidak ada urusan minoritas atau mayoritas. Atau, yang kedua, barangkali kita juga melihat surat terbuka tersebut sebagai ekspresi cara pandang rasis yang—anehnya—datang dari kesadaran seorang korban rasisme.

Untuk bagian kedua, tentang rasisme itu, Jaya Suprana sudah membalasnya pada tulisan Saya Makin Mengagumi Ahok [link tulisan .]. Jaya Suprana tidak hendak menggelorakan rasisme dan tegas ia mengatakan dirinya antirasisme. Jadi soal rasisme tidak rasisme dalam surat Jaya Suprana, kita tanggalkan.

Surat Terbuka Jaya Suprana dan Pesan Traumatik Hidup Berbangsa

Dalam keterbatasan saya, ada satu sisi pada surat terbuka Jaya Suprana yang hendak saya soroti. Yakni pesan kebangsaan dari pengalaman traumatik akan kerusuhan dan kekerasan rasial di Indonesia. Saya kutipkan disini, apa yang bisa kita tangkap sebagai pengalaman traumatik dari seorang Jaya Suprana.

Bukan rahasia lagi, bahkan fakta sejarah, bahwa telah berulang kali terjadi malapetaka huru-hara rasialis di persada Nusantara. Akibat memang beberapa insan bersikap dan berperilaku layak dibenci maka beberapa titik nila merusak susu sebelanga. Akibat beberapa insan keturunan Tionghoa bersikap dan berperilaku layak dibenci maka seluruh warga keturunan Tionghoa di Indonesia dipukul-rata untuk dianggap layak dibenci.

Pada paragraf ini, Jaya Suprana sedang menghadirkan konteks besar/makro dari pengalaman traumatik berbangsa. Bahwa dalam sejarah Nusantara, ada huruhara rasialis yang menjadikan warga keturunan sebagai korban. Negeri ini memiliki riwayat kekerasan yang turut serta menyertai perjalanan hidup berbangsa dan ada stigma (sikap pukul rata) yang terlanjur terbentuk.

Peristiwa huruhara rasial–menggunakan istilah Jaya Suprana–mungkin sudah pergi, tapi stigmanya tetap melekat, entah sampai kapan. Selanjutnya, peletak “ilmu kelirumologi” ini mengatakan :

Cukup banyak warga keturunan Tionghoa jatuh sebagai korban nyawa termasuk ayah kandung dan beberapa sanak-keluarga saya sendiri di masa kemelut tragedi G-30-S. Nyawa saya pribadi memang selamat, namun sekolah saya dibakar dan ditutup hanya akibat sekolah digolongkan sebagai sekolah kaum keturunan Tionghoa, padahal saya pribadi tidak pernah setuju komunisme.

Ketika huru-hara rasialis 1980-an di Semarang, kantor saya dilempari batu. Mobil saya dibakar dan rumah saya nyaris dibumi-hanguskan para huruharawan apabila tidak diselamatkan oleh TNI, kepolisian, dan tetangga saya yang justru bukan keturunan Tionghoa.

Sesudah memberi konteks makro sejarah Nusantara, Jaya Suprana lalu masuk pada pengalaman traumatisnya sendiri. Ia harus kehilangan ayah kandung dan sanak keluarga akibat peristiwa G-30-S. Dalam pengalaman yang lebih kontemporer, tahun 1980-an, ia juga mengalami perisitiwa huruhara rasialis lagi pada sebuah kota yang justru dibangun dari warga keturunan. Tapi ia masih selamat. Dengan kata lain, ia masih hidup untuk berjuang melawan ingatan traumatis tersebut.

Tapi kalimat pamungkasnya barangkali ada pada paragraf ini :

Pada kenyataan sebenarnya kebencian terhadap kaum Tionghoa di Indonesia  belum lenyap. Kebencian masih hadir sebagai api dalam sekam yang setiap saat rawan membara, bahkan meledak jadi huru-hara apabila ada alasan.

Di sinilah, Jaya Suprana terbaca suram dan getir. Pengalaman traumatisnya atas huruhara rasial menjadi tilikan paling kuat untuk mengingatkan Gubernur Ahok. Walau kemudian surat terbukanya justru ditanggapi sebagai ‘provokasi yang rasistik’, kita tidak bisa mengabaikan pengalaman traumatis ini.

Terhadap pengalaman atau ingatan traumatis dimana kita sebagai korban yang tidak mengerti urusan, kita bukan saja dibuat tidak bisa lupa. Tapi juga, yang kiranya sungguh berat adalah, berjuang untuk memaafkan.

Sebagai korban, selain tidak faham urusan, kita juga dipaksa untuk tumbuh dalam ketakutan. Hidup dalam ketakutan adalah pertanda dari tidak merdeka. Selama ketakutan itu tumbuh, apalagi kita dirawat oleh stigma dan kebencian yang latency lalu dikonstruk oleh kuasa mayor-minor, maka trauma-trauma sebagai anak bangsa itu akan selalu bertahta mengisi ruang batin kolektif.

Saya menangkap pesan Jaya Suprana dalam surat terbukanya itu disini. Pada konteks pengalaman traumatis sebagai warga keturunan. Istilah warga keturunan sendiri sudah seharusnya dibuang dari kosa kata berbangsa dan bernegara. Yang jelas, surat terbukanya adalah sebuah pesan getir yang masih nyaring bersuara dalam ruang-ruang senyap ketika hidup berbeda secara etnik dan keyakinan dipermasalahkan bahkan mendapat ancaman.

Saya tidak setuju Jaya Suprana mengkhawatirkan sikap miskin kesantuan Ahok dapat memicu kebencian yang lebih luas dan aksi huruhara rasial. Karena dengan logika seperti ini, seorang Jaya Suprana yang ceria itu seolah menghidupkan pesimisme dan memberi oksigen kemenangan pada koruptor. Jaya Suprana juga terkesan meremehkan fakta bahwa tidak semua manusia Indonesia mudah dilarutkan oleh massa yang terprovokasi.

Oleh karena itu, kesan pesimisme surat terbuka Jaya Suprana tadi harus kita balik, kita inversi, menjadi optimisme.

Menghalau Pesimisme

Sebagai bangsa, kita sudah harus bergerak dari kondisi pesimisme demikian. Bahwa yang menjadi kekhawatiran Jaya Suprana memang masih terus hidup dalam bawah sadar bangsa ini, tidak bisa kita pungkiri. Pengalaman traumatik itu masih seringkali dijadikan bensin psikologi untuk menulis ulang sejarah huruhara rasial. Tapi justru kita harus menghidupkan optimisme bahwa bangsa ini memiliki kapasitas belajar dari narasi getir sejarahnya.

Dalam pengalaman kontemporer, kita memang tidak lagi mengalami Gus Dur atau Romo Mangunwijaya secara langsung. Saya menyebut dua tokoh ini bukan berarti tidak ada lagi orang lain yang bekerja membangun persaudaran sebagai bangsa. Tapi, dari mereka yang pernah bekerja membangun persaudaraan sebangsa, kita bisa mengambil pelajaran buat generasi hari ini dan masa depan.

Termasuk juga mengambil pelajaran dari pengalaman keseharian kita dalam hidup yang plural. Indonesia yang berkepulauan ini terlalu kaya dengan kearifan hidup berbangsa, barangkali kita saja yang kekurangan sensitivitas untuk menginternalisasinya; memasukkan pengetahuan kearifan itu ke dalam kesadaran subyektif kita.

Dan, yang tak kalah pentingnya, mengawasi pemerintah/negara untuk menegakkan hukum dan melindungi seluruh warga negara dari meluasnya prasangka subyektif yang rasistik dan kemungkinan-kemungkinan huruhara rasial. Sebab, tak sedikit penelitian yang menunjukan kalau kerusuhan dan kekerasan itu memiliki konteks pembangunan yang memelihara ketimpangan dan diskriminasi. Pada titik inilah, negara yang bertanggungjawab.

Demikian sedikit catatan saya terhadap surat terbuka Jaya Suprana. Semoga bermanfaat.

Salam