APA ARTI ISEN MULANG?

Jurnal Toddoppuli

Cerita Untuk Andriani S. Kusni & Anak-Anakku

Mayoritas penduduk Kalimantan Tengah (Kalteng) berbagai generasi bisa dipastikan hapal dan sering mengucapkan kata-kata ‘’Isen Mulang’’ yang menjadi motto kota Palangka Raya. Kalau ditanya apa makna motto tersebut, tidak ayal mayoritas pula akan menjawab serupa bahwa ‘’Isen Mulang’’ adalah sinonim dari kata-kata ‘’Maju Tak Gentar’’.

 

Tepatkah terjemahan Isen Mulang menjadi ‘’Maju Tak Gentar’’ ?

 

Maju Tak Gentar, sekalipun untuk ‘’membela yang benar’’ jika meminjam lanjutannya dari lagu karya Cornel Simanjuntak dengan judul yang sama, berarti berjuang dengan segala daya dan upaya tanpa memperdulikan segala kesulitan dan rintangan, bahkan termasuk menantang ajal, untuk membela (yang benar itu). Sikap Maju Tak Gentar demikian lahir dari suatu kesadaran, muncul sebagai bentuk pengkhayatan ide oleh penganutnya sehingga ide itu berobah menjadi suatu kekuatan material nyata, bernama Semangat Maju Tak Gentar. Misalnya setelah ide ‘’Indonesia Merdeka Sekarang Juga’’ dikhayati rakyat, maka ide ini menjelma menjadi sutu sikap nyata berupa perjuangan mati-matian untuk merebut serta membela kemerdekaan dengan resiko apapun. Maka sejarah memperlihatkan bagaimana ada yang dengan berani memanjat tiang bendera di mana bendera Belanda sedang berkibar, lalu menyobek bagian berwarna biru sehingga yang tersisa di tiang adalah bendera berwarna Merah Putih. Dengan latar perubahan ide menjelma jadi kekuatan material, maka di tembok-tembok kota Yogyakarta, tertera semboyan ‘’Merdeka Atau Mati’’  atau bagaimana pasukan-pasukan gerilya hanya dengan bersenjata bambu runcing, mandau, sumpitan dan senjata-senjata sederhana bertempur melawan Belanda.  Dari keadaan demikian, nampak proses lahirnya suatu kesadaran, peran kesadaran dalam perjuangan serta perobahan maju, latar belakang politik nasional ataupun internasional, peran cendekiawan dalam masyarakat, apa-siapa pendukung utama atau kekuatan induk perjuangan perobahan maju, bagaimana hubungan massa dan individu serta bagaimana proses lahirnya seorang pemimpin yang merakyat. Hal-hal di atas adalah hal-hal umum yang berlaku di semua negeri.Kalaupun ada perbedaan, ia terletak dalam istilah-istilah lain, seperti ‘’Lebih baik mati berdiri daripada mati berlutut’’,  ‘’Liberté ou Mort’’, ‘’Liberta ou Muerte’’,  dan lain-lain. Hanya saja slogan Maju Tak Gentar itu, tidak memperlihatkan  latar dan penjelasan budaya tertentu.

 

Bagaimana dengan slogan Isen Mulang? Apakah terjemahan Isen Mulang menjadi Maju Tak Gentar, Pantang Menyerah, itu rasuk dengan ide aslinya sebagaimana yang terdapat dalam budaya Dayak? Saya kira Isen Mulang sebagai sebuah diskursus atau wacana mengandung pengertian tidak pulang kalau tidak menang. Artinya sekali orang Dayak memutuskan turun ke medan laga, sangat memalukan jika ia pulang tanpa membawa kemenangan. Karena itu lebih baik pulang nama dari pada pulang menating kekalahan. Bagi yang pulang kalah, yang bersangkutan tidak akan mempunyai tempat menaruh muka di depan masyarakat. Ia tidak dipandang sebelah mata lagi. Daripada pulang tidak lagi dipandang oleh masyarakat kampungnya, pertanda bahwa ia bukan seseorang yang ‘’mamut-menteng, pintar-harati, mameh-ureh, andal dia batimpal’’ (gagah-berani, cerdik-berbudi, urakan dan tekun, hebat tiada bertara), maka  dari pada hidup menanggung malu, lebih baik bertarung habis-habisan merebut kemenangan. Kalaupun mati dalam pertarungan ini, hidup, harkat dan martabatnya telah ia bela dengan semestinya sebagai seorang Dayak. Pandangan dan sikap begini barangkali ada kesejajarannya dengan ungkapan penyair Chairil Anwar : “Sekali berarti sudah itu mati’’.  Secara lambang, pandangan dan sikap Isen Mulang ini diungkapkan dengan ‘lawung bahandang’’ (ikat kepala merah), malahap atau manakir petak (menumiti bumi). Sekali Uluh Itah mengenakan lawung bahandang, memasang mangkok merah, malahap atau manakir pétak, artinya ia siap turun berlaga dengan motif seperti di atas. Sesuai diskursus demikian maka Utus Itah menyebut diri sebagai Utus Panarung, wajah dari manusia ideal atau idaman. Isen Mulang sebagai bagian dari tatanan nilai tentang manusia idaman, dinyatakan pula dengan pandangan rendah terhadap seorang pendusta, yang kata dan perbuatannya berbeda, pada pengkhianat, pencuri.

 

Status Utus Panarung ditetapkan oleh konsep hidup-mati di ‘’Saran Danum Kalunen’’ yaitu menjadikan ‘’Saran Danum Kalunen ‘’ (Bumi) ini sebagai tempat hidup anak manusia (kalunen) secara manusiawi sebagaimana yang terdapat di ‘Saran Danum Sangiang’’. Untuk mampu mewujudkan diskursus ini maka pertama-tama seseorang itu niscaya menjadikan diri sebagai anak manusia yang manusiawi sebagaimana tersirat dalam konsep ‘’kalunen” (manusia). Dalam sastra lisan Dayak Kalteng, kalunen ditimang sebagai “rengan tingang nyanak jata” (anak enggang putera-puteri naga). Yang tidak mampu jadi kalunen, akan tidak mendapat tempat di  Lewu Liau.(Negeri Sesudah Kematian). Apabila mengikuti alur filosofi ini, maka tidak serta-merta kalunen (manusia) berkadar atau menjadikan diri sebagai kalunen (manusia). Ada kalunen yang berkadar bakei (kera), makian terkeras dalam masyarakat Dayak Kalteng. Sedang bakara (kera merah), makian Uluh Katingan pada Belanda. Bakara termasuk manusia berkadar kera atau bakei. (Kata-kata makian atau tema senda-guray yang digunakan dalam masyarakat, sebenarnya bisa dijadikan petunjuk untuk melihat tatanan nilai dalam suatu masyarakat).

 

Keterangan di atas memperlihatkan bahwa Isen Mulang merupakan bagian tak terpisahkan dari filosofi hidup-mati Manusia Dayak yang mewujudkan diri dalam berbagai bentuk, termasuk ke dalam sastra-seni. Karena itu mengindonesiakan Usen Mulang dengan Maju Tak Gentar atau Pantang Menyerah, barangkali sangat tidak memadai, untuk mengatakan sangat tidak rasuk. Maju Tak Gentar dan atau Pantang Menyerah tidak mampu menampung keluasan dan kedalaman diskursus Manusia Dayak dahulu tentang hidup-mati. (Saya katakan Manusia Dayak dahulu, karena yang menyebut diri Manusia Dayak sekarang, tidak sedikit yang mengasingkan diri secara sukarela dari budaya Dayak. Bahkan tidak sedikit yang mencemoohnya sebagi ‘budaya setan’, dan lain-lain yang negatif). Tapi kiranya diskursus Isen Mulang sebagai bagian tak terpisahkan dari filosofi Dayak termasuk diskursus yang masih sangat tanggap zaman untuk diejawantahkan, perlu dikhayati. Bukan hanya diucapkan dan dihapal. Saya malah berhipotesa jika diskursus Isen Mulang ini dibandingkan dengan harakiri dari Jepang,  Siri’ dari Tanah Bugis, mempunyai kekhususan. Barangkali diskursus Isen Mulang lebih menyeluruh. Jelas juga bahwa Isen Mulang sebagai dikursus jauh berbeda dari wacana “mampir ngumbé’’ Orang Jawa.  Apabila Max Weber mengatakan bahwa Protesanisme mendorong laju perkembangan kapitalisme yang berarti juga mendorong maju perkembangan msyarakat Eropa Barat, terlintas di kepala saya, mengapa tidak Utus Panarung dengan Isen Mulang sebagai salah satu bagian isi diskursusnya,  jika sari nilainya dikhayati dan diterapkan akan mampu  membawa Kalteng maju melesat seperti yang diucapkan oleh Cornelis Lay dalam pembicaraan kami di Hotel Aquarius Agustus 2009 lalu? Boleh jadi, kajian terhadap wacana Utus Panarung dengan Isen Mulang-nya bisa  memberi sumbangan yang pantas dilirik oleh ilmu sosial dunia. Sayangnya di Kalteng, untuk menghargai diri sendiri saja agaknya masih sesuatu masalah yang tidak sederhana.****

 

KUSNI SULANG, Anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Palangka Raya (LKD-PR).

Advertisements

1 comment so far

  1. Irianty M Yuandrias on

    Aku balaku ijin copas lah pa Kusni. Tabe akan ka Andriani. tabe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: