Archive for January, 2006|Monthly archive page

MEMPERJUANGKAN PUISI

Catatan Di Meja Nusa Dua & Café Bandar:

MEMPERJUANGKAN PUISI

1.

Oleh: Dr. JJ Kusni

Kali ini, aku mengajakmu memperhatikan dan membicarakan puisi-puisi Gendhotwukir yang sekarang sedang belajar di Jerman, dan agaknya mendalami ilmu filsafat. Gendhotwukir adalah nama pena , bukan nama benar. Nama pena bagi seorang penyair apalagi yang sedang mendalami ilmu filsafat [kalau dugaanku benar], tentu mempunyai makna tersendiri yang sampai sekarang belum kuketahui. Kutanyai ke sana ke mari pada teman-teman yang berasal dari etnik Jawa, mereka pun tidak bisa memberikan keterangan yang pasti. Sebagai orang Jawa barangkali kau lebih paham.

Sejak beberapa minggu mulai dari akhir tahun 2005 hingga bulan Januari 2006 ini, dan nampaknya akan terus berlanjut, Gendhotwukir, wartawan senior Majalah Budaya-Sastra ‘Aksara’ Jakarta, melalui berbagai milis menyiarkan puisi-puisi yang ia tulis sejak tahun 2002 sampai pada tahun 2006. Dari puisi-puisi yang ditulisnya pada masa kurun waktu tersebut kita bisa melihat bahwa Gendhotwukir sejak lama menggeluti dunia perpuisian dan menggunakan puisi sebagai salah satu media pengungkapan diri. Akan tidak berkelebihan pula jika saya mengatakan bahwa melalui rangkaian puisi yang dijuduli penyair, ‘Sajak-sajak Protes Sosial’ ini bisa dilihat apa-siapa penyair dan bagaimana ciri penyair. Puisi-puisi yang ditulis dalam kurun waktu selama empat tahun terus-menerus tanpa absen, boleh dipandang sebagai sample yang padan atau mewakili.

Hanya saja yang masih saya pelajari, mengapa dalam menyiarkan puisi-puisi ini Gendhotwukir tidak menyusunnya secara kronologis tapi menempatkannya dalam urutan waktu yang meloncat-loncat. Barangkali penempatan sengaja begini dilakukan atas dasar pertimbangan bersifat tematik, bukan suatu kebetulan. Yang sedikit mengganggu dan kurang saya pahami, paling tidak merupakan pertanyaan yang belum terjawab oleh saya mengapa dalam teks puisi Gendhowukir [selanjutnya saya sebut Gendhot] terdapat penggunaan huruf-huruf besar [kapital] seperti ‘Terbang Tinggi’, ‘Burung-burung Bangau’, ‘Aku Termangu’, ‘Sungguh Kita’, ‘Kerak Nisan’, ‘Lalu Kawanan’, dan lain-lain… dan lain-lain yang berserakan dalam puisi Gendhot. `Apakah ini suatu kesengajaan dengan perhitungan dan makna unik ataukah kesalahan ketik yang tidak dikoreksi? Jika suatu kesenggajaan dan dilakukan dengan perhitungan unik maka saya merasa kemampuan saya amat terbatas untuk memahami dasar kesengajaan mahasiswa filsafat ini sehingga terasa menganggu keinginanan saya untuk memahami Gendhot secara maksimal sesuai kemampuan saya. Pengaruh bahasa Jerman yang menulis kata benda dengan huruf besarkah ini? Tapi kata ‘tinggi’ atau ‘termangu’, kukira tidak bisa dikategorikan pada kata benda.

Masalah begini saya angkat karena seorang penyair kukira akan cermat mempertimbangkan masalah-masalah titik-koma, tanda baca dan cara penulisan sebagai bagian dari puisi dan bahasa. Boleh dikatakan tidak ada yang tidak dipertimbangkan dan tidak dihitung dalam puisi [tanpa usah saya mengajukan deretan contoh-contoh pendukung pendapat ini]. Akan sangat aneh, jika orang seperti Gendhot tidak mempunyai alasan untuk melakukan hal-hal demikian [Lihat: Lampiran]. Apalagi puisi, bahasa dan filsafat, kukira ,mempunyai tautan sangat erat, lebih-lebih bagi seseorang yang menggunakan puisi dan bahasa sebagai sarana pengungkap diri.

Bahwa Gendhot mengalirkan ke berbagai milis ‘Sajak-sajak Protes Sosial’nya di tengah-tengah keadaan tanah air seperti sekarang pun kutafsirkan bukan sebagai suatu kebetulan. ‘Sajak-sajak protes sosial’ ini saya lihat sebagai tanda keperdulian dan kepekaan Gendhot sebagai penyair dan pemikir yang sangat terusik oleh keadaan yang dihadapkan padanya. Di samping itu barangkali ia pun bentuk halus bagaimana Gendhot menanggapi karya-karya sastra baik puisi atau prosa yang ‘wangi birahi’ di dunia sastra Indonesia dengan menggunakan berbagai dalih atau alasan. Dengan ‘sajak-sajak protes sosial’nya secara tidak langsung sebagai orang Jawa, Gendhot barangkali ingin bertanya kepada para sastrawan yang memburu uang dengan dalih seks dan erotisme: ‘Bagaimana sikap para Anda pada masalah-masalah sosial begini?’. Melihat keadaan sosial demikian, Gendhot pun dengan tanpa tedeng aling-aling mempertanyakan penggunaan nama Tuhan yang digunakan untuk korupsi dan melancarkan terorisme. Dengan mengangkat ‘tema-tema sosial’ bahkan memprotes keadaan sosial yang demikian, Gendhot mempertanyakan tanggungjawab sastrawan dan seluruh anak bangsa. Sehingga akhirnya protes Gendhot, sesungguhnya bukan hanya sebatas protes pada keadaan sosial [dalam arti luas] tetapi juga dialamatkan kepada penanggungjawab penyebab keadaan sosial demikian dan kepada ketidakacuhan atau ketidakperdulian pada kemanusiaan. Melalui sikap ini, saya kira, Gendhot hanya kembali melanjutkan tradisi sastra sebagai republik berdaulat dan sastrawan sebagai warga dari republik berdaulat tersebut sesuai dengan sejarah kelahiran sastra itu dan hubungannya dengan kehidupan. Melalui ‘sajak-sajak protes sosial’nya, saya melihat seakan-akan Gendhot ingin mengatakan: Lihat, ini lho masalah-masalah besar yang ada di hadapan kita. Lalu bagaimana para Anda menyikapinya?

[Untuk bisa mengikuti ulang sanjak-sanjak Gendhot, maka sebagian di sini saya lampirkan].

Paris, Januari 2006.

JJ. Kusni

Advertisements