Archive for the ‘Belajar dari Orang Lain’ Tag

PW AMAN SUMSEL DESAK KEMBALIKAN HUKUM ADAT

PW AMAN Sumsel Desak Kembalikan Hukum Adat
Sriwijaya Post Senin, 9 Februari 2015 13:11 WIB

SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ

PW AMAN Sumsel Desak Kembalikan Hukum Adat
Ketua Dewan Pembina Amanwil Sumsel Beni Hernedi (tengah) memberikan paparan menggelar seminar Legislasi Masyarakat Hukum Adat Legislasi pengakuan masyarakat hukum adat Sumsel merujuk Putusan MK 35/2012, UU Desa dan Permendagri 52/2014 di Hotel Sintesa Peninsula, Senin (9/2/2015).

SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Sumatera Selatan (PW AMAN Sumsel) mendesak agar dikembalikan hukum adat.
Pasalnya sejak penghapusan hak marga/adat di Sumsel MK dalam putusannya mengakui hak adat itu.
Hak-hak adat pada Orde Baru tidak akui pemerintah.
Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Sumatera Selatan (PW AMAN Sumsel) menggelar seminar Legislasi Masyarakat Hukum Adat Legislasi pengakuan masyarakat hukum adat Sumsel merujuk Putusan MK 35/2012, UU Desa dan Permendagri 52/2014 di Hotel Sintesa Peninsula, Senin (9/2/2015).
Menurut Ketua Dewan Pembina Amanwil Sumsel Beni Hernedi, lebih separoh Muba, hutan. Bermula sejak seragam di republik ini. UU Desa no 5 Tahun 1979.
Padahal yang disebut kawasan hutan pada praktiknya sebelum Indonesia merdeka, rakyat sudah di kampung hutan itu.
Di Muba, kata Beni, pihaknya mendata ada 15 marga.
Mereka berdiam diri dan bisa mengakses sumber daya alam.
Sebelum penjajahan pun sudah ada dan tidak dipermasalahkan. Selagi negara belum menghormati, menghargai.
“Itulah kenapa saya harus turun langsung. Karena menyangkut sumber daya alam dan rakyat. 35 persen dari 240 desa itu masuk dalam kawasan hutan,” kata Beni yang juga Wakil Bupati Muba.
Selama ini di Muba, balai konservasi dan pihak terkait berwenang kerap meminta agar membatalkan setiap akan membangun gara-gara menurutnya masuk dalam kawasan hutan.
“Kalau di Riau itu 60 desa di Riau diusulkan desa adat. Nah saya ingin di Muba seperti itu. Marga diakui konstitusi. Tapi dalam prakteknya tidak. Di Sumbar, di daerah lain. Apakah di Sumsel sudah sepakat mengilangkan desa adat. Saya himbau jangan ada kriminalisasi terhadap warga kita selagi dalam pembahasan,” ujar Beni yang juga politisi PDIP.[]

BELAJAR DARI SUNAN KALIJAGA

Belajar dari Sunan Kalijaga

Oleh Ilham Khoiri

Alun-alun Utara di depan Keraton Ngayogyakarta, Sabtu (30/7) malam itu, dipenuhi ribuan orang. Tiduran di atas tikar, duduk di kursi, di atas sepeda motor atau sepeda, bahkan berdiri, mereka menonton pergelaran wayang kulit. Lakonnya, ”Pandhawa Muksa”.

Ketika udara kian dingin pada Minggu dini hari itu, cerita kian menukik pada kehidupan Puntadewa, tokoh Pandhawa dalam epik Mahabharata . Dikisahkan, raja dari Astina itu lama hidup sendirian karena sulit meninggal. Dia menemui Sunan Kalijaga untuk mencari sarana menuju alam baka, yaitu mendengar bacaan Jamus Kalimasada .

”Jamus meniko seratan suci wonten agama kulo, enggih meniko kalimat syahadat (Jamus ini adalah catatan suci dalam agama saya, yaitu kalimat syahadat),” jawab Sunan Kalijaga, sembari melafalkan dua kalimat syahadat (kesaksian akan Allah dan Muhammad sebagai rasul). Konon, begitu mendengar itu, Puntadewa akhirnya meninggal dengan tenang.

Lakon ”Pandhawa Muksa” adalah bagian akhir dari 11 lakon dalam rangkaian pergelaran wayang kulit di Alun-alun Utara Keraton Ngayogyakarta. Semuanya mengangkat cerita yang dipercaya sebagai kreasi Sunan Kalijaga, salah satu Wali Sanga yang berdakwah Islam di tanah Jawa sekitar abad ke-16 Masehi. Umumnya cerita itu carangan alias pengembangan baru dari pakem asli wayang kulit itu.

”Tak ada cerita Jamus Kalimasada dalam lakon asli. Itu kreasi Sunan Kalijaga demi memasukkan napas Islam dalam cerita wayang kulit,” kata Ki Seno Nugroho, dalang dalam pergelaran itu.

Meski dikaitkan dengan ajaran Islam, lakon itu tetap enak ditonton karena mempertahankan unsur-unsur drama. Beberapa tambahan itu justru memberikan nuansa menyegarkan. Lihat saja kemunculan punakawan di tengah lakon—yang juga dipercaya hasil tambahan— yang selalu membuat penonton gergeran (tawa berderai-derai).

Pergelaran wayang tadi menjadi bagian penting dari perhelatan peringatan ”500 Tahun Sunan Kalijaga” di Yogyakarta, 18-31 Juli lalu. Selama 19 hari, masyarakat disuguhi berbagai ekspresi budaya yang bersumber dari gagasan, kreasi, dan kearifan wali yang kerap digambarkan pakai udeng-udeng itu. Ada laku spiritual, tahlilan, pentas seni, diskusi, seminar, suluk, dan semaan Al Quran.

Toleran dan arif

Ada apa dengan Sunan Kalijaga sehingga perlu diperingati saat ini? ”Sunan Kalijaga berperan penting dalam membentuk karakter Islam di Jawa, bahkan Nusantara, yang lentur, toleran, dan penuh kearifan,” kata M Jadul Maula, ketua panitia pengarah kegiatan ini.

Tokoh bernama asli Raden Sahid (diperkirakan hidup di Demak, Jawa Tengah) itu adalah arsitek budaya Islam Jawa. Terlepas dari mitos atau legenda yang menyertai, dia telah meletakkan dasar-dasar kehidupan masyarakat yang harmonis, produktif, dan kreatif di antara berbagai kelompok yang berbeda suku, bahasa, dan keyakinan. Dari tangan wali yang seniman ini, tumbuh wajah Islam kultural: moderat, lentur, dan menyerap beragam ekspresi budaya lokal.

Bukan hanya lakon wayang, dia juga diyakini sebagai pencipta tembang ”Lir Ilir” yang terkenal itu. Tradisi tahlilan, sulukan, sedekah bumi, bahkan arsitektur masjid yang bernuansa Jawa juga kerap dikaitkan dengan spirit dakwahnya.

Beragam ekspresi budaya lokal tak diharamkan, tetapi justru dikembangkan menjadi berwajah baru dengan menyisipkan nilai-nilai kearifan agama. Sebagian tradisi itu masih terus dijadikan sumber inspirasi masyarakat hingga sekarang.

Mau buktinya? Mari kita tengok Kampung Sorowajan dan Plumbon di Banguntapan, Kabupaten Bantul. Masyarakat di kawasan sebelah timur-selatan dari pusat Kota Yogyakarta itu termasuk majemuk. Meski sebagian besar penduduknya Muslim, kelompok agama lain bebas menjalankan keyakinan dan ibadah, seperti Hindu, Buddha, Katolik, dan Kristen.

Di tengah kampung, ada Masjid Al Muhtadin dan madrasah ibtidaiyah. Di depannya, ada Pura Jagatnatha, milik kaum Hindu. Beberapa warung Bali berjejer di dekatnya. Tak jauh dari situ, ada SD Kanisius dan SD Muhammadiyah.

Berbagai kelompok agama itu hidup rukun, bahkan punya tradisi doa bersama. Setiap menjelang bulan puasa, rutin digelar nyadranan atau semacam kenduri massal. Setiap keluarga datang ke balai dusun sambil membawa ambengan berisi makanan, lauk, jajanan, beserta ubo rampe lainnya.

Setelah berkumpul, dilantunkan doa bersama oleh setiap tokoh agama sesuai tata cara dan bahasa agamanya sendiri-sendiri. ”Ambengan tadi lantas ditukar-tukar. Sebagian dimakan di tempat, sisanya dibawa pulang,” kata Sularto, Kepala Dukuh Sorowajan.

Saat perayaan hari keagamaan, masyarakat leluasa memberi selamat atau berkunjung. Lebaran, Natal, Kuningan, dan Galungan menjadi momen untuk mempererat silaturahim. Pernah beberapa kali muncul sedikit gesekan, tetapi selalu bisa dipecahkan dengan kembali merujuk pada semangat saling pengertian. ”Rukun itu membuat hidup lebih enak,” kata Achir Murtiadiwiyono, Pinandeta Pura Jagatnatha. Bahkan, lelaki itu ikut membangun Masjid Al Muhtadin di belakang pura.

Kampung Sorowajan cukup bisa mewakili semangat Islam kultural di Jawa. Meski mungkin tak dicatat resmi, sebenarnya harmoni kehidupan semacam itu mencerminkan spirit dakwah Sunan Kalijaga.

Bagi pengajar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Abdul Munir Mulkhan, pendekatan wali itu mudah diterima dan tetap hidup sampai sekarang karena mengembangkan agama dalam konteks budaya dan kemanusiaan. Dasarnya adalah rasa empati terhadap sesama, menghargai perbedaan, dan toleran. Warna Islam-nya lebih sufistik, santun, terbuka, bahkan dibungkus ekspresi seni yang indah.

Semangat semacam itu, lanjut Mulkhan, selalu diperlukan bagi kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk. Apalagi, belakangan kian menguat gerakan radikalisme yang merasa benar sendiri dan mengajarkan agama dengan paksaan, bahkan kekerasan.

http://travel.kompas.com/read/2011/08/19/03144757/Belajar.dari.Sunan.Kalijaga

TANAH MANGGARAI: Bermimpi Menjadi Sejahtera

TANAH MANGGARAI
Bermimpi Menjadi Sejahtera
Oleh: BRIGITTA ISWORO LAKSMI
Kompas, SENIN, 9 FEBRUARI 2015

Manggarai. Buminya subur nan kaya. Pemandangan hijau di sepanjang jalan yang kami lewati dari barat hingga ke tengah adalah bukti. Mineral mangan berkualitas tinggi menggoda orang mengambilnya, mengeruknya. Masyarakat Manggarai sejak lahir telah dibekali kekayaan yang tinggal mereka olah. Menjadi sejahtera mestinya bukan lagi sebuah mimpi.
Sepanjang perjalanan dari barat ke Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, bukit menghijau dan hamparan padi terentang panjang berselang-seling dengan bangunan perumahan sederhana dan amat sederhana. Wajah kemiskinan menjadi selingan di tengah janji kemakmuran.
Mashur, nenek moyang orang Manggarai yang berasal dari Tanah Minangkabau, mungkin tak pernah membayangkan bahwa di kemudian hari keturunannya harus berhadapan dengan tangan-tangan pemodal tambang yang mengoyak rajut kehidupan sosial-ekonomi mereka.
Mashur-lah yang memperkenalkan sistem pertanian dan perladangan kepada penduduk asli yang disebut orang Kuleng. Mereka juga mengajarkan penggunaan peralatan pertanian dari besi, mendirikan rumah besar, membuka kebun, dan mengenalkan api. Semula masyarakat asli hidup dengan beternak dan berburu hewan liar serta masih mengonsumsi daging mentah (Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi, Damie N Toda, 1999).
Sebagai salah satu potongan dari lingkaran Cincin Api, Pulau Flores merupakan pulau yang amat subur karena kehadiran 13 gunung api. Di Manggarai, Flores Barat, Gunung Anak Ranaka merupakan yang tertinggi di Pulau Flores. Sementara, melalui proses geologisnya, Pulau Flores dikaruniai kekayaan lain berupa kandungan mineral dan logam.
Kisah kekayaan tanah Flores akan logam berharga bermula tahun 1854 dari pedagang Freijss yang terus berlanjut hingga terjadi kontrak kerja dengan pihak Belanda.
Belanda yang telah lama menginjakkan kaki di Ende mulai memasuki wilayah Manggarai tahun 1907. Belanda menguasai Manggarai secara politik dan ekonomi pada awal 1900-an hingga 1950-an. Pada masa itulah Belanda mengenalkan tanaman keras kopi, yang mereka bawa dari luar.
Pergolakan sosial politik di Manggarai telah terjadi lama sebelum Belanda menginjakkan kaki di Manggarai.
”… Pengaruh Kerajaan Goa dan Bima terhadap munculnya kekuatan-kekuatan politik di Manggarai merupakan dasar konflik sosial yang berkelanjutan pada waktu Belanda menguasai Manggarai.” (Stratifikasi Sosial, Robert MZ Lawang)
Kekacauan sosial dan peperangan terjadi di Manggarai jauh sebelum Belanda hadir. kekacauan itu baru reda setelah Belanda campur tangan. Belanda lalu menunjukkan kekuasaan politisnya dengan mengangkat Alexander Baroek pada tahun 1930 sebagai raja di Kerajaan Todo-Pongkor. Kerajaan tersebut menguasai 38 kedaluan (tingkatan di bawah kerajaan). Kerajaan tersebut di kemudian hari tercatat sebagai kerajaan paling berpengaruh di Tanah Manggarai.
Pada masa sekarang, jahitan kekerabatan dan kelindan masyarakat dengan lingko (lahan milik adat) masih melekat pada sebagian besar masyarakat Manggarai, terutama mereka yang hidup di luar wilayah kota.
Desa administratif eksis secara hukum (de jure), tetapi secara nyata (de facto) sebagian besar masyarakat yang tinggal di satuan masyarakat yang lebih kecil dari desa administratif masih menerapkan sistem stratifikasi sosial masyarakat makro Manggarai Tengah.
Segala aktivitas dan kegiatan di dalam masyarakat di suatu kampung masih dipimpin tua golo dan tua teno. Mereka masih tetap berpegang pada filosofi gendang one lingko pe’ang.
Gendang yang merupakan pusat komunitas dari garis ayah/patrilineal (wa’u) selalu terkait dengan lingko. Lingkoadalah tanah milik warga gendang. ”Tak ada gendang, maka tak ada lingko, dan sebaliknya,” ujar Direktur Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC)-OFM Peter Aman, OFM.
Manggarai Raya
Setelah kemerdekaan Indonesia, Manggarai semula merupakan satu wilayah kabupaten yang meliputi daerah Labuan Bajo di sebelah barat hingga perbatasan dengan Ngada.
Tahun 2003 terbentuklah Kabupaten Manggarai Barat yang beribu kota Labuan Bajo. Tahun 2007 lahirlah Kabupaten Manggarai Timur dengan ibu kota Borong.
Pada era Bupati Antony Bagul, isu lingkungan menjadi hal utama. Prinsip dia, menyejahterakan masyarakat adalah dengan membuat masyarakat sehat dengan menyediakan lingkungan yang sehat pula.
Berpegang pada prinsip perlindungan lingkungan, Antony melarang warga menggantungkan hidup dari berkebun kopi di hutan lindung di Kampung Colol, Desa Ulu Wae, Kecamatan Pocoranaka, Kabupaten Manggarai Timur. Pada saat tanaman-tanaman kopi dibabat pemerintah, terjadi bentrok yang kemudian dikenal dengan ”Rabu Berdarah”. Enam warga Colol tewas. ”Saya sudah ada kesepakatan dengan warga sebelumnya,” ujar Antony. Sementara dari warga, diwakili Yosef Danur, merasa tidak pernah ada pembicaraan.
Isu lingkungan kemudian tak lagi mengemuka sejak Antony tidak lagi terpilih sebagai Bupati Manggarai Raya.
Wajah pertambangan
Secara perlahan, wajah pertambangan mulai menggantikan wajah lingkungan yang semula dirintis Antony. Kisah pertambangan dimulai tahun 1980-an ketika kekayaan Manggarai mulai diendus PT Aneka Tambang.
Pertengahan tahun 1990-an beberapa perusahaan pertambangan mulai masuk. Semua masih dalam rangka aktivitas pemetaan, studi kelayakan, atau eksplorasi pendahuluan.
Sementara itu, Badan Geologi juga melakukan berbagai survei. Dalam laporan Kertas Posisi JPIC-OFM Indonesia dituliskan, pemetaan dan penyelidikan geologi dan geokimia pada 1980-2008 antara lain menghasilkan kesimpulan adanya tembaga (Cu) yang disertai emas (Au) di sejumlah desa. Sementara mangan (Mn) antara lain ditemukan di Kampung Tumbak, Kajong, Lante, dan Meas.
Eksplorasi lalu seakan tak terbendung dan sebagian kemudian melanjutkan dengan penambangan. Orang Manggarai biasa berkata, ”Mangan di Manggarai tinggal diangkat, tak perlu digali. Sudah siap ambil.”
Lapisan mangan di Manggarai banyak berada di permukaan. Oleh karena itu, sistem peledakan menjadi pilihan kebanyakan usaha pertambangan.
Lalu, berbagai persoalan baru mulai menyapa masyarakat yang tinggal di daerah lingkar tambang. Mulai dari ledakan yang memekakkan telinga, debu yang menutupi permukaan tanah dan lahan serta tanaman, menyusutnya sumber air, intimidasi dari orang perusahaan, sampai tercerainya rajutan kekerabatan dalam wa’u.
Bupati Manggarai Christian Rotok selalu menegaskan, dirinya tak pernah mengeluarkan izin baru. ”Warga yang meminta ada tambang masuk. Mereka tiba-tiba sudah ada di kantor saya dan meminta saya memberikan izin,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Manggarai Timur Andreas Agas yang ditemui di Borong mengatakan, tanaman tak bisa tumbuh karena tanah panas akibat mengandung mangan. Maka, katanya, mangan harus dikupas lebih dulu, baru kemudian direklamasi dan pertanian mulai dikembangkan.
Kedua pemegang kepemimpinan daerah di dua kabupaten itu menegaskan, pertambangan untuk menyejahterakan masyarakat. Itu pula yang diserukan siapa pun pendukung tambang.
Pada kenyataannya, dalam hal ini di Manggarai, aktivitas pertambangan justru banyak merusak lingkungan pendukung pertanian dan peternakan. Koordinator JPIC Keuskupan Ruteng Marten Jenarut mengatakan, ”Tugas pastoral kami adalah memastikan keutuhan ciptaan.”
Muncul tanya di pengujung kisah: masih absahkah mimpi menjadi sejahtera itu? Kompas akan menuliskan serial hasil peliputannya.
Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000011897628

The Millionaire Who Rebuilt a Village

The Millionaire Who Rebuilt a Village

Baba-Mail

 

Have you ever fantasized about becoming a millionaire and surprising all the people that were there for you along the way? Well this is the recent story of a man who did just that, and in a splendid way.
54-year-old Xiong Shuihua was born in a little village called Xiongkeng, in Southern China. Many times during his childhood, he recalls, the kind villagers helped him and his family, when they were going through hard times. In time, he grew to become a successful businessman who made millions in the steel industry.
millionaire chinese houses

The business tycoon recently headed back to his home village. These were the huts and dirty houses the poor villagers had to live in.
millionaire chinese houses

They only had dirt roads filled with mud and old detritus was heaped everywhere one looked. 
millionaire chinese houses

Xiong saw this and decided to change the lives of these kind villagers forever.
I earned more money than I knew what to do with, and I didn’t want to forget my roots. I always pay my debts, and wanted to make sure the people who helped me and my family when I was younger were paid back.” He said.
millionaire chinese houses

He had all the huts torn down and instead built luxury apartments and villas for all the villagers. 
millionaire chinese houses
He then replaced the muddy dirt roads with nicely paved streets.
millionaire chinese houses

millionaire chinese houses

millionaire chinese houses
The kind millionaire even promised that any elderly or low income families who need it will get 3 meals a day free of charge.
millionaire chinese houses

Thanks to him, 72 families are living in luxury apartments and another 18, who have been especially kind to his family, got their own villas. This is after living in wooden huts for decades.
millionaire chinese houses
A local man by the name of Qiong Chu, age 75, said:
I remember his parents. They were kind-hearted people who cared very much for others, and it’s great that their son has inherited that kindness.
Baba-Mail is a family friendly service that provides you with daily uplifting, informative and entertaining emails free of charge! Baba-mail will collect all the fascinating information the web has to offer on various subjects, such as: Health, Nature, Amazing Videos, jokes, riddles, sports, computers & internet, recipes, leisure, dirty jokes, design, photography, laughs, daily email updates, daily mail and more. Joining the service is completely free. The most interesting things – Coming to you.

 

KESAN TERHADAP ROJAVA

Kesan Terhadap Rojava:

Laporan Dari Revolusi 27 Januari 2015 Oleh Janet Biehl. 16 Desember 2014
[Diterjemahkan oleh Yab Sarpote]
Pada awal Desember, sebuah delegasi internasional mengunjungi kanton Cezire di Rojava, tempat delegasi ini belajar tentang revolusi, kerjasama dan toleransi yang sedang berlangsung. Dari 1 hingga 9 Desember, saya mendapat kehormatan untuk mengunjungi Rojava sebagai bagian dari delegasi akademisi dari Austria, Jerman, Norwegia, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat. Kami berkumpul di Erbil, Irak, pada 29 November dan menghabiskan hari berikutnya dengan belajar tentang daerah kaya minyak yang dikenal sebagai Pemerintah Daerah Kurdi (KRG), dengan politik minyaknya, politik patronase, partai-partai yang bermusuhan (PPK dan PUK), dan cita-cita yang sangat kentara untuk meniru Dubai. Kami tak ingin berlama-lama di sana dan, pada Senin pagi, kami diperbolehkan untuk memasuki Tigris, tempat kami menyeberangi perbatasan ke Suriah dan masuk Rojava, wilayah otonom di Suriah utara yang mayoritas penduduknya adalah orang Kurdi. Alur sungai Tigris sempit, tapi masyarakat yang kami temui di pesisir sangat berbeda dengan KRG: semangat revolusi sosial dan politik ada di mana-mana. Saat kami turun, kami disambut oleh Asayis, atau pasukan keamanan sipil revolusi. Asayis menolak label polisi, karena polisi melayani negara sedangkan mereka melayani masyarakat. Selama sembilan hari berikutnya, kami mengeksplorasi swapemerintahan (self-government) revolusioner Rojava dan tenggelam di dalamnya (tidak ada akses internet yang mengalihkan perhatian kami). Dua pengorganisir delegasi kami – Dilar Dirik (mahasiswa PhD yang sangat berbakat dari Cambridge University) dan Devris Cimen (kepala Civaka Azad, Pusat Informasi Publik tentang Kurdi di Jerman) – membawa kami dalam tur intensif ke berbagai lembaga revolusioner. Rojava terdiri dari tiga kanton geografis yang tidak bersebelahan; kami hanya melihat wilayah paling timur, Cezire (atau Jazira), karena perang yang sedang berkecamuk dengan ISIS, yang terus merangsek ke barat, terutama ke Kobane. Tapi di mana-mana kami disambut hangat. Jalan Ketiga Rojava Pada awalnya, wakil menteri luar negeri, Amine Ossi, memperkenalkan kami pada sejarah revolusi mereka. Rezim Ba’ath Suriah, sistem pemerintahan satu partai, telah lama bersikeras bahwa semua orang Suriah adalah orang Arab dan berusaha melakukan “Arabisasi&quo t; pada empat juta orang Kurdi di negara tersebut, menekan identitas mereka dan mengenyahkan mereka yang keberatan dengan kewarganegaraan tersebut. Setelah kelompok oposisi Tunisia dan Mesir melakukan pemberontakan selama Arab Spring pada tahun 2011, pemberontak Suriah bangkit juga, memulai perang sipil. Pada musim panas 2012, otoritas rezim tersebut runtuh di Rojava, tempat orang Kurdi sedikit kesulitan membujuk para pejabatnya untuk meninggalkan rezim tersebut dengan jalan tanpa kekerasan. Penduduk Rojava (Saya memanggil mereka dengan sebutan itu karena kebanyakan mereka bukan hanya Kurdi, tapi juga terdiri dari orang Arab, Asiria, Chechen, dan lain-lain) lalu menghadapi dua pilihan: mendekatkan diri pada rezim yang telah menganiaya mereka, atau dengan kelompok oposisi yang sebagian besar berasal dari kelompok Islam militan. Karena orang Kurdi di Rojava relatif sekuler, mereka menolak kedua belah pihak dan malah memutuskan untuk memulai Jalan Ketiga yang didasarkan pada ide-ide Abdullah Ocalan, pemimpin Kurdi yang dipenjara yang memikirkan kembali masalah-masalah orang Kurdi, hakekat revolusi, dan modernitas alternatif terhadap negara-bangsa dan kapitalisme. Awalnya, di bawah kepemimpinannya, Kurdi berjuang untuk mendirikan sebuah negara, namun beberapa dekade yang lalu, di bawah kepemimpinannya juga, tujuan mereka mulai berubah: mereka sekarang menolak negara karena negara menjadi sumber penindasan dan tidak membangun swapemerintahan dan demokrasi kerakyatan. Belajar dari beragam sumber sejarah, filsafat, politik, dan antropologi, Öcalan mengajukan Konfederalisme Demokratis’ sebagai nama untuk program menyeluruh atas demokrasi, kesetaraan gender, ekologi, dan ekonomi koperasi yang dijalankan dari bawah ke atas (bottom-up). Pelaksanaan prinsip-prinsip tersebut, di institusi yang tidak hanya dalam aspek swapemerintahan demokratis, tetapi juga dalam aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan dan gender, disebut Otonomi Demokratis. Revolusi Perempuan Dengan Jalan Ketiga mereka ini, tiga kanton Rojava mendeklarasikan Otonomi Demokratis dan secara resmi mendirikannya dalam sebuah “kontrak sosial” (istilah non-negara yang digunakannya untuk membedakannya dari “konstitusi&qu ot;). Dalam program itu, mereka menciptakan sebuah sistem swapemerintahan kerakyatan (popular self-government) , yang berbasis di dewan komun lingkungan (yang terdiri dari beberapa ratus rumah tangga untuk tiap-tiap dewan komun), yang siapa pun dapat turut-serta, dan dengan meningkatnya kekuasaan dari bawah ke atas melalui deputi terpilih untuk tingkat kota dan kanton. Ketika delegasi kami mengunjungi lingkungan Qamishlo (Qamishlo menjadi kota terbesar di kanton Cezire), kami menghadiri pertemuan dewan rakyat setempat, tempat listrik dan hal-hal yang berkaitan dengan perempuan, penyelesaian konflik dan keluarga para martir yang mati dalam perang dibahas. Pria dan wanita duduk dan berpartisipasi bersama-sama. Di tempat lain di Qamishlo, kami menyaksikan perkumpulan perempuan yang menangani masalah tertentu tentang gender mereka. Gender menjadi hal khusus terkait emansipasi manusia dalam proyek ini. Kami segera menyadari bahwa Revolusi Rojava secara fundamental didasarkan pada revolusi perempuan. Wilayah ini dulunya merupakan sarang bagi penindasan patriarkis yang ekstrim: terlahir sebagai perempuan berarti berisiko mengalami kekerasan, dinikahkan saat masih kanak-kanak, dibunuh atas nama kehormatan adat-istiadat, poligami, dan banyak lagi. Tapi hari ini para perempuan Rojava telah terbebas dari tradisi itu dan berpartisipasi penuh dalam kehidupan masyarakat: di setiap tingkat politik dan masyarakat. Kepemimpinan institusional terdiri bukan dari satu posisi melainkan dua: satu pejabat laki-laki dan satu pejabat perempuan – demi kesetaraan gender dan juga untuk menghindari kekuasaan terpusat di tangan satu orang. Perwakilan dari Yekitiya Star, organisasi wadah bagi kelompok perempuan, menjelaskan bahwa perempuan sangat penting bagi demokrasi – mereka bahkan mengartikan musuh bagi kebebasan perempuan bukan patriarki tetapi negara-bangsa dan modernitas kapitalis. Revolusi perempuan bertujuan untuk membebaskan semua orang. Perempuan berarti bagi revolusi ini layaknya proletariat bagi revolusi Marxis-Leninis pada abad yang lalu. Hal ini sangat mengubah tidak hanya status perempuan, tetapi setiap aspek masyarakat. Bahkan aspek masyarakat yang dulunya didominasi pria, seperti militer, telah jauh berubah. Unit Pertahanan Masyarakat (YPG) telah bersatu dengan YPJ – atau Unit Pertahanan Perempuan – yang citranya kini sangat dikenal di dunia. Bersama-sama, YPG dan YPJ, dengan Kalashnikov di tangan, membela masyarakat dari pasukan jihad ISIS dan Al-Nusra dan, mungkin sama dahsyatnya, dengan komitmen intelektual dan emosional mereka tidak hanya pada kelangsungan hidup masyarakat, tetapi gagasan dan aspirasi politiknya. Ketika kami mengunjungi pertemuan YPJ, kami diberitahu bahwa pendidikan para pejuang ‘terdiri tidak hanya dari pelatihan dalam hal-hal praktis seperti senjata, tetapi juga dalam pemahaman Otonomi Demokratis. “Kami berjuang demi gagasan-gagasan kami,” mereka menekankan di setiap kesempatan. Dua perempuan yang kami temui terluka dalam pertempuran. Satu duduk dengan kantong IV, satu lagi dengan kruk logam – keduanya meringis kesakitan tetapi tabah dan berdisiplin diri untuk berpartisipasi dalam sesi kami. Kerjasama dan Pendidikan Penduduk Rojava berjuang demi kelangsungan hidup masyarakat mereka, tetapi di atas semuanya, seperti yang dikatakan YPJ kepada kami, demi gagasan-gagasan mereka. Mereka bahkan menempatkan keberhasilan pelaksanaan demokrasi di atas etnisitas. Perjanjian sosial mereka menegaskan dimasukkannya etnis minoritas (Arab, Chechen, Asiria) dan agama (Islam, Kristen, Yezidis), dan Otonomi Demokratis dalam praktik tampaknya berusaha sekuat tenaga untuk memasukkan minoritas, tanpa memaksa orang lain yang bertentangan dengan keinginan mereka. Mereka membuka pintu untuk semua. Ketika delegasi kami meminta sekelompok orang Asiria untuk memberitahu kami tantangan mereka dalam menjalankan Otonomi Demokratis, mereka mengatakan tidak memiliki tantangan. Selama sembilan hari, kami tidak mungkin menjelajahi semua masalah Rojava, dan lawan bicara kami terang-terangan mengakui bahwa Rojava jelas banyak kelemahan, tapi sejauh yang saya amati, Rojava setidaknya mengupayakan model toleransi dan pluralisme di wilayah yang selama ini telah melihat terlalu banyak fanatisme dan penindasan – dan sampai batas apa pun keberhasilannya, Rojava layak mendapat pujian. Model ekonomi Rojava “sama dengan model politiknya,” penasihat ekonomi di Derik mengatakan kepada kami: untuk membuat “ekonomi kerakyatan,” membangun koperasi di semua sektor dan mendidik orang-orang dalam gagasan-gagasan kami. Penasihat tersebut menyatakan kepuasannya bahwa, meskipun 70 persen sumber daya Rojava harus dihabiskan dalam perang, perekonomian masih berhasil memenuhi kebutuhan dasar setiap orang.Mereka berjuang untuk swasembada, karena mereka harus melakukannya: fakta pentingnya adalah bahwa Rojava berada di bawah embargo. Rojava tidak dapat mengekspor ke atau mengimpor dari tetangga terdekatnya di utara, Turki, yang ingin menyaksikan seluruh proyek Kurdi musnah. Bahkan KRG, yang memiliki kendali kekerabatan etnis namun secara ekonomi terikat ke Turki, tak dapat melakukan banyak hal, meskipun lebih banyak perdagangan lintas batas antara KRG-Rojava kini tumbuh di tengah-tengah perkembangan politik. Namun negeri ini masih kekurangan sumber daya. Ini tidak menyurutkan semangat mereka: “Jika hanya ada roti, maka kita semua saling berbagi,” kata penasihat tersebut. Kami mengunjungi akademi ekonomi dan koperasi ekonomi: koperasi jahit di Derik membuat seragam untuk pasukan pertahanan; kebun berbasis koperasi membudidayakan ketimun dan tomat; koperasi susu di Rimelan, tempat gudang baru sedang dibangun. Daerah Kurdi adalah bagian yang paling subur di Suriah, rumah pasokan gandum yang berlimpah, namun rezim Ba’ath sengaja melarang industrialisasi di daerah tersebut untuk menjaganya tetap sebagai pemasok bahan baku. Oleh karenanya, gandum dibudidayakan tetapi tidak bisa digiling menjadi tepung. Kami mengunjungi pabrik penggilingan, baru dibangun sejak revolusi, dibangun lewat improvisasi dari bahan-bahan setempat. Saat ini pabrik ini telah menyediakan tepung untuk membuat roti yang dikonsumsi di Cezire, yang penghuninya mendapatkan tiga roti sehari. Sama seperti itu pula, Cezire adalah sumber utama minyak bumi Suriah, dengan beberapa ribu rig minyak, terutama di daerah Rimelan. Tapi rezim Ba’ath tidak memperbolehkan Rojava membangun kilang, memaksa minyak diangkut ke kilang di tempat lain di Suriah. Tapi sejak revolusi, penduduk Rojava telah melakukan improvisasi sendiri dengan membangun dua kilang minyak baru, yang digunakan terutama untuk menyediakan solar untuk generator yang mengaliri listrik ke kanton. Industri minyak lokal, jika bisa disebut begitu, menghasilkan hanya cukup untuk kebutuhan lokal, tidak lebih. Revolusi “Do It Yourself” Tingkat improvisasi sangat mencolok di seluruh kanton. Semakin banyak kami melakukan perjalanan di Rojava, semakin saya mengagumi sifat do-it-yourself dalam revolusi ini, kepercayaan diri mereka pada kearifan lokal dan bahan langka yang mereka punya. Tapi itu belum seberapa hingga saat kami mengunjungi berbagai akademi – akademi perempuan di Rimelan dan Akademi Mesopotamia di Qamishlo – barulah saya menyadari bahwa Do-it-yourself merupakan bagian integral dari sistem secara keseluruhan. Sistem pendidikan di Rojava bersifat non-tradisional, menolak gagasan hierarki, kekuasaan dan hegemoni. Alih-alih mengikuti hirarki guru-murid, siswa mengajari satu sama lain dan belajar dari pengalaman masing-masing. Siswa belajar apa yang berguna, dalam hal praktis; mereka “mencari makna” begitu kami diberitahu, dalam hal intelektual. Mereka tidak menghafal; mereka belajar untuk berpikir sendiri dan membuat keputusan, untuk menjadi subyek dari kehidupan mereka sendiri. Mereka belajar untuk berdaya dan berpartisipasi dalam Otonomi Demokratis. Gambar Abdullah Ocalan ada di mana-mana, yang bagi pandangan Barat mungkin mengisyarakatkan sesuatu yang sangat Orwellian: indoktrinasi, keyakinan buta. Tetapi untuk menafsirkan gambar-gambar Ocalan dengan cara seperti itu tentu akan meminggirkan yang tengah terjadi di sini sama sekali. “Tidak ada yang akan memberikan hak-hak Anda,”seseorang mengutip Ocalan saat berbicara dengan kami,”Anda harus berjuang untuk mendapatkannya.” Dan untuk menjalankan perjuangan, penduduk Rojava tahu bahwa mereka harus mendidik diri mereka sendiri dan masyarakat. Ocalan mengajari mereka Konfederalisme Demokratis sebagai seperangkat prinsip. Peran mereka adalah mencari cara untuk menerapkannya, di Otonomi Demokratis, dan dengan demikian memberdayakan diri mereka sendiri. Sepanjang sejarah, orang Kurdi hanya memiliki sedikit teman. Mereka diabaikan oleh Perjanjian Lausanne yang membagi-bagi Timur Tengah setelah Perang Dunia I. Selama sebagian besar abad yang lalu, mereka menderita sebagai minoritas di Turki, Suriah, Iran dan Irak. Bahasa dan budaya mereka telah berupaya dihabisi, identitas mereka disangkal, hak asasi manusia mereka ditolak. Mereka berada di daerah-daerah yang didominasi NATO, tempat Turki diizinkan melepaskan tembakan untuk menyelesaikan masalah dengan orang Kurdi. Mereka telah lama menjadi orang-orang yang terasing. Pengalaman yang mereka alami sangat brutal, termasuk penyiksaan, pengasingan dan perang. Tetapi itu juga memberi mereka kekuatan dan kemandirian berpikir. Ocalan mengajarkan mereka cara untuk memulai ulang ketentuan-ketentuan hidup mereka dalam cara yang memberi mereka martabat dan harga diri. Revolusi do-it-yourself oleh rakyat tanpa pendidikan ini telah diembargo oleh tetangga mereka sendiri dan bertahan dengan tertatih-tatih. Hal ini merupakan upaya membangun dunia yang jauh lebih baik. Di awal abad kedua puluh, banyak orang mendapati hal-hal terburuk dari sifat manusia, tetapi di abad kedua puluh satu, penduduk Rojava telah menetapkan standar baru apa yang dapat dilakukan manusia. Dalam dunia yang harapannya cepat padam, mereka bersinar seperti mercusuar. Siapapun yang percaya sedikit dengan kemanusiaan harus berharap penduduk Rojava berhasil dengan revolusi mereka dan melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membantunya. Siapapun harus menuntut pemerintah masing-masing untuk berhenti mengizinkan Turki menentukan kebijakan internasional yang menolak Kurdi dan Otonomi Demokratis. Siapapun harus menuntut penghentian embargo terhadap Rojava. Para anggota delegasi yang saya ikuti (meskipun saya bukan akademisi) melakukan pekerjaannya dengan baik. Walaupun bersimpati kepada revolusi, mereka tetap mengajukan pertanyaan yang menantang, tentang prospek ekonomi Rojava, tentang penanganan etnisitas dan nasionalisme, dan banyak lagi. Terbiasa bergulat dengan pertanyaan sulit, Penduduk Rojava yang kami temui menanggapi dengan serius dan bahkan menyambut kritik.
Pembaca yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Revolusi Rojava dapat menanti tulisan-tulisan mendatang dari anggota delegasi lainnya: Welat (Oktay) Ay, Rebecca Coles, Antonia Davidovic, Eirik Eiglad, David Graeber, Thomas Jeffrey Miley, Johanna Riha, Nazan Üstündag, dan Christian Zimmer. Saya sendiri punya lebih banyak yang akan saya ceritakan daripada yang dapat dirangkum lewat laporan singkat ini, dan berencana untuk menulis sebuah karya lebih lanjut yang juga dilengkapi dengan gambar-gambar yang saya buat selama perjalanan. Janet Biehl adalah penulis independen, seniman, dan penerjemah yang tinggal di Burlington, Vt. Dia adalah editor “The Murray Bookchin Reader” dan penulis “Ecology or Catastrophe: The Life of Murray Bookchin”, yang akan diterbitkan oleh Oxford University Press. Kaum perempuan Rojava di Unit Pertahanan Perempuan (YPJ) – kegembiraan sesaat setelah mengetahui rekan seperjuangannya turut bertempur di garis depan melawan ISIS.[]

 

 

Komentar “Tatiana Lukman, jetaimemucho1@yahoo.com, in: [temu_eropa]” temu_eropa@yahoogroups.com, Friday, February 6, 2015 5:14 PM
“ Bukankah ini satu contoh gamblang dan jelas rakyat bisa membangun kesejahteraannya tanpa bersandar kepada modal asing, tanpa merampas tanah garapan atau menggusur rakyat dari rumahnya?”

MAMA ALETA DI GUNUNG BATU

Mama Aleta di Gunung Batu
MENGENAKAN celana pendek dan jaket abu-abu gombrong, Piter Oematan berdiri tegap di depan rumah adat di Kampung Nausus, Mollo Utara. Pada Senin siang itu dua pekan lalu guyuran hujan lebat baru reda. Aroma pohon kasuari dan rerumputan basah menyergap perkampungan. Mata Piter menatap tajam ke arah dua gunung batu marmer yang menjulang di sana. Ada kenangan pahit yang tersisa dari kedua gunung itu.
Terletak di pedalaman Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, bentuk gunung itu sudah tidak utuh. Sebagian bopeng-bopeng dipotong penambang marmer pada 1990-an. Beberapa batu hasil tambang dibiarkan teronggok di tengah hutan karena tak sempat diangkut ke luar kampung.
Itulah sisa penambangan yang pada dua dekade silam ditentang keras oleh sebagian besar masyarakat adat dari lima desa di sekitar wilayah tambang. Dimotori Aleta Baun atau Mama Aleta, begitu dia biasa disebut mereka menolak masuknya penambang marmer karena telah merusak lingkungan. “Di sekitar situlah lokasi peternakan masyarakat adat dulu berada,” kata Piter, 56 tahun, salah satu tetua adat di sana.
Mereka percaya leluhur mereka berasal dari batu, kayu, dan air di sekitar desa. “Batu, hutan, dan air merupakan simbol marga dan martabat bagi masyarakat adat di sana,” kata Aleta kepada Tempo. Marga Baun yang disandang Aleta diambil dari unsur air. Di bawah gunung batu terdapat sumber mata air. Maka, tatkala kawasan itu terancam akibat penambangan, urat saraf Piter dan Aleta pun bergolak.
Ancaman terhadap alam di Mollo dimulai ketika pemerintah mengizinkan PT So’e Indah Marmer melakukan penambangan di daerah itu pada 1994. Satu tahun kemudian, giliran PT Karya Asta Alam, perusahaan Thailand, memperoleh lampu hijau. Selain menambang, perusahaan tersebut membuka jalan menuju gunung batu dengan membabat hutan. Walhasil, wilayah yang dikelilingi hutan kasuari jadi kering-kerontang. Air bersih sulit ditemukan.
Padahal, sebelum perusahaan masuk ke sana, masyarakat adat mudah memperoleh air untuk ternak mereka. Rumput yang tumbuh di sekitar kampung adalah sumber pakan ternak buat sapi, kerbau, dan kuda yang banyak terdapat di Mollo. Aleta dan Piter lantas mendatangi kampung demi kampung untuk menggalang penolakan. Dimulailah kisah perlawanan dari Desa Fatukoto, Lelobatan, Leloboko, Ajobaki, dan Bijaepunu, yang terbentang di sekitar gunung batu itu.
Awalnya, tidak semua warga serta-merta mendukung gerakan itu apalagi warga desa yang bekerja di perusahaan tambang. Posisi Aleta juga terjepit karena dia bekerja di Sanggar Suara Perempuan yang dikelola istri bupati. Atasannya melarang dia berdemo.
Strategi lain ditempuh. Sekitar 1999, Aleta diam-diam bertemu dengan para tokoh adat pada malam hari. Menurut Piter, gerakan ini berhasil mendapat dukungan dari masyarakat adat dari suku Amanuban, Amanatun, dan Mollo. Dukungan ini tak mengendurkan tekanan aparat keamanan di lokasi tambang. Mereka malah makin ringan tangan melakukan tindak kekerasan. “Kami kadang dipukul,” Piter mengenang. Masyarakat yang menolak tambang diancam akan dijebloskan ke penjara.
Pemerintah setempat juga mengeluarkan sayembara. Aleta dicap antipembangunan. Nyawanya dihargai Rp 750 ribu-Rp 1 juta bagi mereka yang berhasil membunuhnya. Rumahnya hampir setiap malam dilempari batu. Ibu tiga anak ini pernah dikejar 14 orang sampai ke hutan. Tebasan parang dari para pemburunya menyisakan bekas luka di kakinya. Semula Aleta diungsikan ke Kupang. Tapi dia kemudian kembali ke Mollo. Ia hidup dalam hutan selama enam bulan untuk menghindari kejaran aparat desa.
Dalam pelarian itu, Ainina Sanam, si bungsu yang ketika itu berusia enam tahun, ikut menemani ibunya di hutan. Untunglah, ada Lifsus Sanam, 50 tahun, suami Aleta, yang penuh pengertian. “Saya mendukung perjuangan dia mencari keadilan,” kata Lifsus.
Menurut Piter, intimidasi dan ancaman aparat tidak mengendurkan ikhtiar masyarakat Mollo. Mereka berkukuh menolak perusahaan tambang. Mama Aleta menemukan taktik protes baru yang amat “beraroma lokal”. Dia ke luar hutan dan disertai tiga mama sebutan untuk kaum ibu di Pulau Timor lain, Aleta menenun di celah-celah gunung batu yang hendak ditambang. Sejak pagi buta hingga pukul empat sore para ibu rumah tangga suku Mollo menenun be¬ramai-ramai di tempat itu.
Taktik ini dipilih untuk menggambarkan pentingnya kelestarian hutan di sekitar lokasi tambang bagi masyarakat adat di sana. “Seluruh kapas, pewarna, dan alat-alat tenun berasal dari hutan,” ujarnya. Kondisi sebagian hutan Mollo ketika itu telah gundul dibabat perusahaan tambang.
Motif kain tenun yang dihasilkan beragam. Kebanyakan bercerita tentang hubungan manusia dengan alam. Dalam kain tenun itu ada simbol hutan, panglima masyarakat adat, hingga wilayah kepemilikan hak ulayat di sekitar kawasan hutan.
Aksi ini lambat-laun memperoleh simpati. Jumlah penenun bertambah jadi sekitar 60. “Semua ibu rumah tangga dari tiga suku ikut menenun,” kata Aleta. Mereka bermalam di lokasi tambang bersama keluarga. Satu tahun berlangsung, strategi ini ampuh untuk menghadang para pekerja tambang yang hendak bekerja.
Piter mengatakan, karena jumlahnya kian banyak, masyarakat lalu mendirikan perumahan di sekitar lokasi tambang. “Kami juga menggelar ritual adat untuk memohon bantuan leluhur,” ujarnya. Aleta percaya, roh suku Mollo telah menolong perjuangan mereka. Ikhtiar panjang ini membuahkan hasil. Dua perusahaan itu akhirnya angkat kaki dari sana pada akhir 2001.
Setelah berhasil mengusir para penambang, masyarakat adat tiga suku mulai membangun lopo, sebutan untuk rumah adat, di sekitar lokasi tambang. Upaya ini, ujar Piter, dilakukan agar tidak ada lagi penambangan di daerah itu.
Perumahan tadi menjadi cikal bakal Kampung Nausus, yang berjarak 60 kilometer dari Kota So’e, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sekitar sepuluh rumah dan satu balai pertemuan kini berdiri di sana. Sedikitnya 20 keluarga menghuni perkampungan itu, tempat Piter menjadi salah satu tetua adat.
Aleta dan Piter juga menggerakkan penduduk setempat untuk menghijaukan kembali kawasan hutan. Mereka menanam pohon kasuari di sekitar bekas lokasi tambang. Masyarakat desa berkebun dengan menanam tanaman berumur pendek, umpama jagung, pisang, ubi-ubian, dan kacang-kacangan. Hasil bercocok tanam ini tidak dijual. “Tapi untuk dikonsumsi dan dibagikan kepada masyarakat adat,” kata Piter.
Kegiatan menenun juga semakin digiatkan oleh ibu-ibu di wilayah Mollo. Hasilnya dijual ke seluruh Indonesia. Untuk mengenang dan menghargai perjuangan kaum perempuan, masyarakat adat Mollo menggelar Festival Ningkam Haumeni atau Lilin, Madu, dan Cendana. Dilangsungkan pada setiap Mei setelah panen, festival yang dimulai sejak dua tahun lalu ini mempertontonkan kain-kain tenun para mama dan hasil-hasil kebun.
Itu semua, kata Aleta, adalah cara mereka menunjukkan bahwa masyarakat adat di sana mampu hidup mandiri, berdampingan dengan alam.
Yandhrie Arvian, Yohanes Seo (Timor Tengah Selatan)
Sumber : Majalah Tempo (Senin, 07 Mei 2012)

PANGKEP

Tajuk Panarung
PANGKEP
Oleh Andriani S. Kusni
Kepulauan Pangkajéné, disingkat Pangkep merupakan sebuah kabupaten provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), di utara Makassar, terdiri dari puluhan pulau-pulau kecil, terkenal belakangan ini sebagai penghasil marmar indah bermutu. Sekali pun banyak keunikan menarik dari kabupaten yang bergunung-gunung, dengan sungai dan dikitari oleh laut, tapi yang ingin saya kemukakan kali ini bukanlah keindahan alam yang relatif masih terjaga ini (berbeda dengan keadaan lingkungan di Kalimantan Tengah), melainkan bentuk-bentuk rumah penduduk Bugis , baik Bugis Makassar, maupun (Bagian) Bawah seperti Sidrap, Pindrang, Penrekang, Ba’ru, dll. Rumah-rumah mereka merupakan rumah panggung dan pada puncak bubungannya terdapat dua buah kayu menyilang atau berbentuk mata sahipang bermata dua. Sebelum mengenal rumah-rumah Dayak Kalimantan, adanya sepasang kayu menyilang atau bebentuk sehipang bermata dua yang mencandai rumah-rumah panggung orang Bugis sama sekali tidak menarik perhatian saya. Hal ini baru menjadi perhatian saya setelah saya menjadi Orang Kalteng (Uluh Kalteng). Ketika kembali berkunjung ke Sulsel kali ini, kesamaan arsitektural membangkitkan pertanyaan serangkaian pertanyaan: Apa arti dua buah kayu menyilang atau berbentuk mata sahipang bermata dua itu yang juga menandai rumah-rumah orang Dayak Kalteng hingga sekarang? Kebetulankah adanya kesamaan ini? Saya menanyai kepada orang-orang tua yang saya jumpai di kampung. Mereka tidak bisa menjelaskan, kecuali mengatakan bahwa “memang begitulah ciri rumah Bugis”. Saya pun menjelaskan maknanya bagi orang Dayak Kalteng bahwa dua buah kayu menyilang atau berbentuk mata sahipang bermata dua itu adalah abstraksi dari burung enggang (tingang) dan nata (jata) yang merupakan lambang kekuasaan di atas dan di bawah, lambang dari visi-misi hidup-mati manusia Dayak Kalteng dahoeloe. Mohammad Mutalib penduduk desa yang saya jumpai menjelaskan bahwa dahoeloe, salah satu dari dua buah kayu menyilang atau berbentuk mata sahipang bermata dua itu memang merupakan ukiran naga. Karena mengukirnya memerlukan waktu lama, meminta ketrampilan dan ketekunan, maka oleh alasan kepraktisan kemudian bentuk naga itu tidak lagi diukir tapi disederhanakan. Alasan yang masuk akal. “Lalu satu kayu lagi, dahoeloe berbentuk apa?” tanya saya pada Mohammad Mutalib yang puluhan tahun hidup di Kalimantan Timur. “Saya tidak tahu,” jawabnya. Mohammad Mutalib hanya menjelaskan bahwa kampung-kampung yang bertumbuhan di pinggir sungai, sering dilanda banjir atau pasang jika berada di daerah pasang-surut. Keterangan ini pula melukiskan satu kesamaan lagi dengan rumah-rumah panggung Dayak yang didirikan sesuai keperluan lingkungan, artinya secara arsitektur rumah-rumah Bugis pun merupakan bangunan vernakuler bukan rumah tradisional dengan filosofi khas seperti tongkonan, rumah tradisional Toraja. Rasa ingin tahu menjadi bertambah ketika Harian Radar Makassar, 18 Juli 2014 menurunkan tulisan yang mengatakan bahwa “penduduk Sulawesi berasal dari Kalimantan”. Ketika meninggalkan Pangkep, tentu saja semua pertanyaan tidak terjawab kecuali memperbesar rasa ingin tahu yang menggelombangkan barisan pertanyaan lebih jauh. Gelombang pertanyaan inilah yang kembali membisikkan ke telingga saya bahwa betapa anak bangsa ini, terutama yang bersekolah, menjadi lebih mengenal negeri orang lain seperti Belanda, Perancis, Jerman, Jepang, Amerika Serikat, dll daripada tanahair atau kampung-halaman sendiri. Yang lebih berbahaya dan membuat kita kian terasing, keterasingan sukarela, jika ketidaktahuan akan diri sendiri, akan kampung kelahiran sendiri dipandang sebagai modernitas dan kebanggaan. Adanya keadaan begini tidak lepas dari hasil politik pendidikan nasional serta mengingatkan betapa arti penting mata pelajaran muatan lokal dan penelitian, terutama sejarah dan budaya. Keterasingan baik sukarela maupun tidak disadari, menjadikan kita sebagai agen asing untuk memperjual-belikan kampung-halaman dan orang-orang bersekolah kita, kalaupun disebut cendekiawan tidak lebih dari cendekiawan cacatan kaki, jongos dari kepentingan asing, bukan pengabdi rakyat. Berada di geografis kampung-halaman, lahir, besar dan berkubur di tanahair tidak sertamerta menjadi kita tahu dan kenal akan kampung-halaman. Pengetahuan dan pengenalan tidak terlepas dari kerja keras: belajar, penelitian, penulisan dan penerbitan.
Tidak sedikit yang mengaku Dayak tapi tidak tahu apa-siapa Dayak itu.
Apakah dengan memilih Trisakti Bung Karno sebagai program umum, Jokowi-JK akan mampu membalik arah pendidikan dan kebudayaan kita? Kerja nyata Jokowi-JK akan segera menjawab pertanyaan ini? Inilah pesan dari Kepulauanan Pangkajéné yang disingkat Pangkep. []

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang
Ungkapan-ungkapan Filosofis Dayak

~ Isen mulang (lihat edisi terdahulu)
~Hatamuéi lingu nalata (lihat edisi terdahulu)
~Hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit (lihat edisi terdahulu)
~Réngan tingang nyanak jata. Anak enggang, putera-puteri naga.(lihat edisi (terdahulu)
~Budaya Bétang (lihat edisi terdahulu).
~ Utus Panarung. Turunan pelaga.(Lihat edisi terdahulu).
~Mamut-Ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal (Gagah berani, pintar-berbudi atau beradat, urakan-tekun, handal tidak berbanding). Sekarang kita sampai pada konsep maméh-uréh. Apa yang dimaksudkan dengan uréh? Saya membedakan antara kata uréh dan huréh. Uréh berarti rajin, tekun, ulet, tidak takut susah-payah melukis suatu etos kerja. Kelanjutan dari etos kerja ini adalah cangkal, bekerja meningkatkan kualitas diri dan usahanya secara berprakarsa. Sedangkan huréh berarti bercanda. Adanya kata huréh ini secara implisit melukiskan karakter manusia Dayak yang suka bercanda. Ketika seseorang mmemahami canda suatu bangsa atau etnik seseorang baru bisa dikatakan memahami benar bangsa atau etnik tersebut. Etos kerja uréh yang penuh prakarsa sering melahirkan tindak maméh. Huréh oleh para tetua Dayak tidak dimasukkan sebagai salah-satu ciri manusia Dayak ideal boleh jadi karena ciri-ciri manusia Dayak ideal dikaitkan dengan konsep réngan tingang nyanak jata, visi-misi hidup-mati manusia Dayak. Huréh yang bekelebihan tidak menunjukkan keseriusan.

Kepada para pengambil kebijakan, cq, Dinas Pendidikan, dan tentunya juga Dinas Kebudayaan saya ingin bertanya: Manusia Dayak ideal yang bagaimana yang ingin dibangun melalui mata pelajaran muatan lokal (mulok)? Bisakah mulok diajarkan tanpa wacana filosofis dan berhenti pada permukaan yang bersifat tekhnis belaka?Berhenti pada soal tekhnis akan melahirkan tukang-tukang. Apakah mulok merupakan bagian dari “revolusi mental?” jika menggunakan wacana mutakhir ataukah terjebak dalam rutinisme zombie? Yang Kalteng perlukan untuk pemberdayaan dan pembangunan dirinya adalah manusia-manusia ideal seperti yang diajarkan oleh pengalaman sejarah Dayak yaitu manusia yang mamut-ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal. Tidak cukup hanya harati. Tidak cukup hanya pintar atau gagah-berani. Hanya manusia ideal beginilah yang mampu hidup beradat dan menjadi andalan dalam upaya memberdayakan dan membangun Kalteng. Sehingga pengertian hidup beradat (bélum bahadat) tidak lain dari menciptakan manusia-manusia ideal demikian.
UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK NGAJU
~ Kilau lamanték bésuh. Seperti lintang kenyang. Perbandingan ini menggambarkan keadaan bentuk fisik seseorang yang bulat bundar, perut buncit kaki dan kepala kecil. Singkatnya, sangat tidak proposional atau harmonis.
~ Kilau lamanték handak jadi panganén. Seperti lintah hendak menjadi ular sawah. Perbandingan ini menggambarkan perilaku atau pun psikhologi seseorang yang tidak berdaya tapi berlagak penguasa besar; seseorang yang sesungguhnya miskin tapi berlagak kaya. Istilah lain setara adalah “jual koyok”, “jual tampang”. Dalam bahasa prokem ”menang gaya doang”.
~ Kilau kuluk kélép, juju-kuhut. Seperti kepala kura-kurang masuk-keluar Perbandingan untuk menggambarkan perilaku seseorang yang tidak tetap pendiriannya.

Kalimantan
Asal Mula Penduduk Sulawesi

Setua apakah peradaban di Sulawesi? Tak banyak yang mengulask tentang kehidupan ini semenjak masa pra-sejarah, sementara perhatian terpusat pada kehidupan manusia purba di Jawa. Namun dari menelusuri jejak linguistik, pola kedatangan manusia dan persebarannya di Sulawesi (terutama Sulsel) bisa dipetakan.
Data radiokarbon yang diperoleh arkeolog pada peninggalan pra-sejarah di Maros menunjukkan bahwa manusia modern pertama mendiami wilayah /Sulawesi Selatan pada 30.000 S.M.. Tak ada bukti yang lebih tua daripada penemuan di Maros, sehingga ilmuqan sementara berpendapat pada masa tersebut migrasi manusia masuk ke Sulawesi.
Sulawesi tak mengalami kehidupan manusia purba, sebagaimana penemuan fosil mengindikasikan Jawa sidah dihuni semenjak 1,5 juta tahun sebelum Masehi. Sementara tak ada bukti langsung yang menunjukkan peninggalan manusia purba di Sulawesi sehingga ini memperkuat teori bahwa manusia di Sulawesi datang dari migrasi kontinen lain. Peter Bellwood , Profesor Arkeologi dari Australia dalam bukunya “Southeast Asia From Prehistory to History” (2004) menunjukkan bahwa kehidupan manusia modern di Sulawesi berasal dari masuknya para peladang berbahasa Austronesia. Asal-muasal para “pendatang” tersebut, berdasarkan catatan radiokarbon di Maros, adalah dari Pulau Kalimantan.
Bellwood memelajari simulasi migrasi ini berdasarkan perkembangan bahasa yang dibawa. Migran yang sampai ke Sulawesi, menurut Bellwood, membawa akar bahasa Melayu Polinesia (Proto-Malayu-Polinesia/PMP). Bahasa yang mereka bawa merupakan bentuk mula dari bahasa di Sulawesi Selatan.
Para pendatang ini awalnya membuat koloni di hikir sungai Sa’dan yang lantas berpindah ke bagian dalam, ke kawasan pegunungan dan berkembang menjadi delapan kelompok yang terisolasi satu sama lain. Hal ini mempengaruhi timbulnya delapan jenis bahasa di Sulawesi Selatan. Bukti keterikatan ini antara lain adanya hubungan linguistik antar suku di nSulawesi. Misalnya antara bahasa Bugis dan Toraja saat ini, yang mengindikasikan hubungan lebih erat di masa lalu.
Salah nsatu kelompok yang paling berkembang secara geografis adalah kelompok Bugis. Kaum Bugis awal yang menghuni daerah kitaran Danau Tempe dan Sidenreng mulai bermigrasi dan menempati wilayah-wilayah lain setelah mereka menemukan sumberdaya dan mineral yang bisa diperjuabelikan dengan bangsa lain, terutama Cina. Beberapa mulai meninggalkan daerah pegunungan dan menetap di wilayah pesisir.
Dari sinilah suku Bugis terus berkembang menjadi kelompok dan kerajaan yang menentukan sejarah modern Sulawesi Selatan [Radar Makassar, 18 Juli 2014].

MUSA: LANGUAGE AND LITERATURE ARE NO LESS IMPORTANT

Source :Insight Sabah, 30 October 2013
Sabah Writer’s Month
Musa: Language and literature are no less important

Deputy Chief Minister Datuk Seri Panglima Yahya Hussin (second from left front row) mingling with writers Faridah Abdul Hamid and Dr Mastura Ismail while browsing through one of the 17 books launched on the first day of Writer’s Month 2013. He is accompanied by DBP Board Member and Membakut State Legislative Assemblyman Datuk Mohd Arifin Mohd Arif (far left) and Yang Di Pertua of BAHASA Jasni Matlani (middle back row)
By Shalina R
Pictures by Victor Lo and Oliver Majaham

Musa Aman
Chief Minister Datuk Seri Panglima Musa Aman said a nation’s culture, language and literary heritage are of great values to balance the physical advancements that characterise a developed society.
The Chief Minister said this in his speech, read by Deputy Chief Minister Datuk Seri Panglima Yahya Hussin at the launch of the state’s 2013 Writers Month held at Dewan Bahasa dan Pustaka Sabah in Kota Kinabalu on April 5th.
Held for the first time in 2012, the Writers Month Celebration Program was conceived by the President of BAHASA (Badan Bahasa dan Sastera Sabah) Jasni Matlani in recognition of the writers of Sabah.
Besides highlighting the language and literature activities, the annual program also aims to heighten BAHASA’s role to make it more effective in strengthening and preserving our language and literature, especially at the grassroots level,” said the Chief Minister.
“In my opinion, the efforts of government bodies like DBP and ITBM, along with NGOs like Badan Bahasa dan Sastera Sabah (BAHASA), GAPENA and PENA should continue and increase further in the years to come. If we work together and stand united, this program can be implemented successfully throughout the state.”

Yahya Hussin
“As a state leader, I support the idea of having Sabah Writer’s Month To promote our language and literature.”
Sabah’s International Short Story Symposium as well as 17 ITBM (Malaysian Institute of Translation and Books) published books authored by Sabahans were also launched at the function.
In addition, Yahya also handed out the letter of appointment of the members of the Sabah Language and Literature Council. – Insight Sabah

Posted on April 6, 2013

CHINA AND CONFUCIANISM

China and Confucianism

China hails Confucianism without excluding other cultures
(Xinhua) Updated: 2014-09-25 20:36
BEIJING – There was a period in the Han dynasty more than 2,000 years ago when Chinese authorities established Confucianism as a state doctrine while rejecting any other schools of thoughts.

At that time, Confucianism had supreme position in the system of state governance as rulers needed to promote an idea helpful for safeguarding unification and autarchy.

But when Chinese President Xi Jinping voiced his respect for Confucius while attending a commemoration of the ancient philosopher’s birth, he did not mean to follow the ancient way.

As a major symbol of traditional Chinese culture, Confucianism has experienced a sharp rise and fall in Chinese history.

From the early 20th century, the philosophical system came under attack for being imperial, feudal and a hindrance to the modernization of China. Yet today Confucian ideas are back in favor and Confucianism is engaging closely with contemporary society on issues ranging from human relationships to state governance and morality.

Behind the promotion of Confucius is a hunger for deeper traditions as the nation enters a new era of increased wealth. In the eyes of many Chinese, prosperity has created a moral void.

Confucianism, along with other philosophies and cultures taking shape and growing within China, is a record of spiritual experience and the rational thinking of the nation. These cultures are believed to help modern people find spiritual roots and continue to nourish China.

However, during its formation and development, traditional culture including Confucianism had its shortcomings as ancient people’s knowledge was limited by the times and social systems.

Some ideas have become outdated or even deemed as dross. The feudal hierarchical order Confucianism advocated has been replaced by equality, and the feudal rule of propriety has been replaced by rule of law.

It is dangerous to blindly copy old ideas in today’s society.

Like other parts of the world, China is facing problems including a widening income gap, boundless pursuit of luxuries, expansion of individualism, declining honesty as well as tension between human activities and nature.

Solutions to these problems lie in wisdom and strength that need to be pooled from both traditional culture and that developed in the modern world. [ That is why China encourages creative shifts and innovative development of traditional culture in keeping with the progress of the times. While China stresses Confucianism, it is not judging its culture superior to others.

Openness to other cultures and willingness for cultural exchanges is an important precondition to building self-respect and self-confidence.

History shows that only through exchanges and mutual learning can a civilization have vitality.

President Xi has never hidden his admiration for foreign civilizations during his overseas trips. His choice of reading ranges from Russia’s Alexander Pushkin to France’s Victor Hugo. He has also quoted from African poets and showed interest in American movies.

As he said during his recent visit to UNESCO headquarters, Chinese culture, together with the rich and colorful cultures created by the people of other countries, will provide mankind with cultural guidance and strong motivation.

There is no perfect civilization in the world, nor is there a civilization that is devoid of any merit.

China will inherit and promote Confucianism, which is embedded in the genes of Chinese people. The country will also take an inclusive attitude to other excellent cultures to form new wisdom that can answer today’s questions and contribute to global civilization.[]

Indonesia di Jalan Restorasi: Politik Gagasan Surya Paloh

Indonesia di Jalan Restorasi karya Willy Aditya. Repro: Andriani S. Kusni

Indonesia di Jalan Restorasi karya Willy Aditya. Repro: Andriani S. Kusni

POLITISI PEMIKIR

Membaca buku Willy Aditya

“Indonesia di Jalan Restorasi: Politik Gagasan Surya Paloh”, Populis Institut, 2013, xxx + 188 hlm.

Oleh: Kusni Sulang

Pengantar:

Terimakasih telah mengundang dan mengajak saya dalam acara bedah buku ini. Suatu kehormatan, apalagi buku yang dibicarakan adalah Gagasan dari seorang tokoh nasional: Surya Paloh.

Pada masa “jayanya” Orde Baru, saya berterimakasih kepada Surya Paloh yang memberikan kemungkinan saya bekerja  sebagai pembantu luar negeri cq. Eropa Barat untuk Harian Media Indonesia yang dimiliki oleh Surya Paloh, walaupun menggunakan nama lain. Sebagai tanda terimakasih, kemudian saya memberikan kesempatan kepada salah seorang wartawannya untuk belajar jurnalistik di Perancis. Melalui Willy Aditya sebagai kenangan dan salam hangat kepada Bung Surya Paloh, saya serahkan buku tentang Dayak yang kami dari Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah terbitkan (LKD-KT). Dalam tahun 2013 ini kami telah dan akan menerbitkan 10 judul buku tentang kebudayaan Dayak. LKD-KT fokus bekerja dalam soal penelitian dan penerbitan mengenai kebudayaan dan sejarah Kalteng, khususnya  Dayak – hal yang terbengkalai sampai sekarang.

Beberapa Catatan

(1) Politisi Pemikir

Saya hidup di Eropa Barat lebih dari 30 tahun, 28 tahun tinggal di Paris. Di Perancis orang-orang politik terdapat dua macam: (1) Politisi dan (2) Politiciennes. Politiciennes adalah mereka yang berpolitik dengan motif sempit dan karena itu sering menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Sedangkan politisi adalah mereka yang menjadikan dunia politik sebagai sarana menegakkan keadilan. Sehingga mereka bisa disebut sebagai politisi negarawan.

Dua jenis politisi ini sama-sama aktif menulis dan rajin berpikir. Hanya dari segi kuantitas,  politisi negarawan jauh lebih aktif menulis esai, roman, novel, puisi, lagu, drama dan lain genre kesenian dan atau filosof. F. Mitterrand misalnya dikenal sebagai seorang presiden yang berbahasa Perancis sangat bagus dan penulis esais terkemuka. Presiden George Pompidou adalah seorang penyair yang dikenal dengan antologi puisi Perancisnya. André Malraux seorang Menteri Kebudayaan yang novelis terkemuka.Yang mau saya katakan dengan sedikit contoh ini adalah bahwa politisi Perancis bisa dikatakan politisi berbudaya, bahkan ada yang budayawan politisi. Sehingga pendekatan politik mereka berbasiskan kebudayaan.

Di Indonesia, politisi-budayawan begini, barangkali terdapat pada masa Pemerintahan Soekarno. Sedangkan sejak Orde Baru hingga sekarang, politisi-budayawan ini langka sekali didapat. Umumnya pendekatan politisi Indonesia, yang adanya lebih banyak adalah les politiciennes, lebih menjurus ke pendekatan kekuasaan – pendekatan gampang dan memintas atau instan – pola pikir umum dominan di negeri ini. Pendekatan pintas ini menimbulkan pandangan bahwa kekuasaan sama dengan kebenaran, sehingga kritik dipandang sebagai meludahi muka yang dikritik.

Setelah membaca buku Willy Aditya ini, di depan saya muncul seorang yang lain dari les politiciennes yang mendominasi dunia perpolitikan Indonesia. Seorang lain itu bernama Surya Paloh yang politisi tetapi juga seorang pemikir. Berapa banyak gerangan politisi-pemikir di Indonesia sekarang? Buku Willy Aditya memperlihatkan bahwa Surya Paloh ingin menjadi politisi-negarawan dengan konsep yang jelas. Tentu akan lebih pepak lagi apabila berkembang menjadi politisi-negarawan-budayawan. Di negeri-negeri Konfusionis seperti RRT, Viet Nam, ada tradisi bahwa seorang politisi ideal adalah  yang negarawan, menguasai ilmu militer dan kebudayaan (sastra-seni). Mereka ini bukanlah orang-orang lulusan “tiga pintu” (pintu keluarga, pintu sekolah dan pintu kantor) tapi juga lulus dari ujian badai topan perjuangan massa, sehingga tertempa. Berapa banyak politisi di negeri ini yang demikian? Tuturan Willy Aditya, melukiskan Surya Paloh adalah figur yang demikian, walaupun begitu saya tetap ingin mencatat bahwa “daya tahan seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh”. Kadar sesungguhnya seorang manusia baru bisa ditetapkan ketika nafas terakhir telah dihela. Sebab bisa saja sekarang seseorang itu berada “out of the box”, esok-lusa kita saksikan menjadi “man in the box”.

Tokoh politisi-negarawan-budayawan sangat diperlukan oleh negeri kita di mana tidak sedikit politis sebenarnya tidak lebih dari “jiwa-jiwa mati” (the death soul) jika  meminjam istilah N. Gogol.

(2) “Indonesia di Jalan Restorasi”

“Indonesia di Jalan Restorasi” adalah hasil renungan orisinal – paling tidak secara formulasi — Surya Paloh untuk menyelamatkan Republik dan Indonesia sebagai rangkaian nilai dan wujud nilai. Surya Paloh tidak menginginkan revolusi dan melihat reformasi gagal lalu menawarkan “restorasi” sebagai jalan keluar penyelamatan. “Restorasi Indonesia adalah upaya mengembalikan negara dan bangsa Indonesia kepada falsafah dan ideologi Pancasila” (hlm. 87).

Alasan mengembalikan negara dan bangsa Indonesia kepada falsafah dan ideologi Pancasila” barangkali tidak terlalu orisinal sebab Orde Baru ketika naik ke panggung kekuasaan juga menggunakan alasan serupa. Bedanya Orde Baru membidik Soekarnoisme, sedang Surya Paloh mengangkat kembali Soekarnoisme. Karena itu Rachmawati Soekarnoputri menyebut Surya Paloh sebagai “seorang Soekarnois” (endorsement hlm. belakang). Kalau Bung Karno sering mengatakan “revolusi belum selesai”,  suatu pertanyaan: Apakah setelah “mengembalikan negara dan bangsa Indonesia kepada falsafah dan ideologi Pancasila” maka segalanya sudah selesai? Willy Aditya tidak menguraikan hal ini. Seperti halnya Willy juga tidak menjelaskan perspektif dan menuju ke mana “restorasi Indonesia”, sementara Soekarno jelas-jelas menunjuk arah ke Sosialisme ala Indonesia.

Dengan menunjuk jalan “restorasi Indonesia”, Surya Paloh melalui Willy Aditya melukiskan keadaan negera dan bangsa yang runyam. Kerunyaman yang dilawan oleh Surya Paloh.

Yang menjadi pertanyaan saya: Bagaimana sikap Bung Paloh dengan yang disebut “kesaktian Pancasila?” Kemudian Pancasila yang mana yang mau dikembalikan? Benarkah pemahaman saya bahwa yang dimaksudkan dengan Pancasila adalah yang diutarakan oleh Bung Karno dalam Pidato Lahirnya Pancasila (1 Juni 1045). Apakah setelah kembali ke Pancasila (sekali lagi yang mana?)  segalanya relatif akan terestorasi, seperti arah sosialisme ala Indonesia, politik front persatuan nasional Nasakom, dan lain-lain (yang tak disinggung oleh Willy Aditya)? Sehubungan dengan pertanyaan ini, pertanyaan lain saya adalah: Jika demikian apakah tidak lebih kena menggunakan istilah rekonstruksi atau membangun kembali, sesuai dengan ajaran Bung Karno tentang menjebol dan membangun. Bagaimana mencampakkan kerunyaman jika tidak dijebol? Boleh jadi Paloh menggunakan istilah “restorasi Indonesia” untuk keperluan taktis melalui bahasa.

 (3) Soekarnoisme

Rachmawati Soekarnoputri menyebut Surya Paloh sebagai “seorang Soekarnois” artinya Surya Paloh menganut Soekarnoisme yang tidak jelas dikatakan oleh Willy Aditya dalam bukunya yang banyak menguraikan pandangan-pandangan Soekarno di berbagai bidang dengan yang dianut oleh Surya Paloh.

Nasional-demokrasi yang digunakan oleh Surya Paloh dan teman-teman sebagai nama ormas dan kemudian juga nama partai, oleh Soekarno dilihat sebagai tahap perkembangan masyarakat Indonesia pada zaman Soekarno. Nasional artinya anti imperialis, sedangkan demokrasi merupakan perjuangan melawan feodalisme. Tentang tahap nasional-demokrasi sebagai tingkat perkembangan dan bentuk kontradiksi pokok masyarakat  Indonesia hari ini tidak saya dapatkan dalam uraian Willy. Masalah ini menjadi penting kalau kita bicara tentang kekuatan pokok, sahabat atau sekutu dan siapa lawan. Atau perjuangan tanpa lawan? Kalau mengatakan “Tak ada gerakan revolusioner tanpa teori revolusioner” (hlm. 86), maka masalah kawan, lawan, dan kontradiksi pokok adalah salah satu dari masalah-masalah teoritis.

Demikian juga tentang front nasional Nasakom juga tidak tersentuh. Sebagaimana halnya dengan sosialisme ala Indonesia. Yang disinggung oleh Willy hanya tentang sifat kolektif masyarakat yang patut dikembalikan – sebab sekarang barangkali individualisme telah menggerus kolektivisme.

Uraian  Willy Aditya menyebutkan bahwa “Partai Nasdem bukan sebagai wadah individu atau kelompok semata. Partai ini, membuka tangan selebar-lebarnya bagi organisasi non-politik yang ingin bergerak bersama dalam aktivitas pe4gerakan. Melting pot, begitu Bung Surya membahasakan wadah perjuangan bagi kaum pergerakan dari mana pun asal, warna, dan organisasinya” (hlm. 57). Apakah Nasdem sebagai partai politik jadinya sama dengan ormas front persatuan?

Lalu tentang partai pelopor yang oleh Bung Karno sangat dipandang penting. Willy tidak menuturkan banyak tentang soal partai pelopor.

Saya khawatir Soekarnoisme Surya Paloh menjadi Soekarnoisme  terfilter yang dalam ilmu komunikasi disebut kualitas terpilih, memilih yang cocok dan disukai, membuang yang tidak disukai.

Sekalipun misalnya Soekarnoisme Surya Paloh adalah Soekarnoismje terfilter, apabila terlaksana tetap akan lebih baik daripada neo-liberalisme pada politik pedagang primer.

(4) Zaman Selalu Menagih Kreativitas

Dengan segala hormat kepada para pendahulu, barangkali memang zaman ini menghadapkan kita pada keadaan baru yang menagih kreativitas tanpa lepas akar, kejelian mata elang membaca keadaan untuk mewujudkan rangkaian nilai republikan dan berkeindonesiaan. Republik dan Indonesia yang bagaimanapun bersifat dinamis. Barangkali buku Willy Aditya berikutnya akan menjawab soal-soal di atas.

Palangka Raya, 28 Oktober 2013

Disampaikan pada acara bedah buku Indonesia di Jalan Menuju Restorasi: Politik Gagasan Surya Paloh, Hotel Swiss Bell Danum, Palangka Raya, 28 Oktober 2013

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 62 other followers