Archive for the ‘Dayak’ Tag

TAMBUN-BUNGAI

Tambun-Bungai

Patung dua saudara Tambun-Bungai. Nama dua bersaudara ini sekarang dijadikan sebagai nama lain dari Kalimantan Tengah (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak/Andriani. S. Kusni, 2013)

Patung dua saudara Tambun-Bungai. Nama dua bersaudara ini sekarang dijadikan sebagai nama lain dari Kalimantan Tengah. Patung ini merupakan salah satu versi wajah Tambun-Bungai.  (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak/Andriani. S. Kusni, 2013)

BORNEO’S NATURE AND CULTURE AT RISK DUE TO SALE OF MAGNIFICENT HORNBILL

Enggang (tingang), lambang kekuasaan di atas. Naga (jata), lambang kekuasaan di bawah). [ Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015]

Enggang (tingang), lambang kekuasaan alam  atas. Naga (jata), lambang kekuasaan alam  bawah). [ Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2012]

Borneo’s Nature and Culture at Risk Due to Sale of Magnificent Hornbills
http://thejakartaglobe.beritasatu.com/opinion/borneos-nature-culture-risk-due-sale-magnificent-hornbills/

By Erik Meijaard on 11:20 pm Oct 23, 2014

“Hornbill and Dragon, Arts and Culture of Borneo,” is a book by Bernard Sellato, one of Borneo’s most famous anthropologists. The title nicely captures the great reverence that Borneo’s indigenous people have for hornbills. These birds were once powerful omens that determined the lives of many people on the island.
For the Iban people of West Kalimantan and Sarawak, the hornbill took messages from the human world to the world of spirits. When people on Borneo saw a hornbill fly over, they would consider it either a good or bad omen depending on the direction of flight. And up until today, traditional dancers use hornbill feathers to mimic the flight of these birds, further suggesting the close connections between people and nature. Soon enough though, Borneo’s Dayaks may need to look for other symbols, because people are rapidly hunting hornbills to extinction.
Hornbills are large birds with oversized beaks and outrageous casques on top of those beaks. One theory goes that these massive bill structures evolved as part of sexual displays in which males could show females that they were powerful enough to function despite these totally clumsy appendices. Weird or what?
Hornbills are also unusual in their breeding behavior. Females seek out hollows in large trees, where they make their nests. Once inside, they close off the opening, leaving only a narrow slit, so that neither can she get out nor predators come in. It’s the male’s task to supply food to keep the female and her young alive.
People have been hunting hornbills for millennia. Hornbills are large and with a rifle or blowpipe they are easy targets. Stuck in their nests, they are sitting ducks — although admittedly strangely shaped ones — and hunters can easily climb trees to catch the females and young. Their final ‘design fault’ is that these birds are really noisy, with, for example, the Helmeted Hornbill having a loud, raucous call, which some have described as “hoots followed by maniacal laughter.” So, their presence in a particular forest area is hardly a secret.
Traditionally the feathers of these birds were used in ceremonial clothing, the hornbill “ivory” for carving, and, with a body the size of a small chicken, they regularly ended up in the pot. Carvings of hornbill “ivory” over 2,000 years old have been found in Borneo, and Chinese carvings have been traced back to the 6th century A.D. The Chinese held the material in high regard, preferring it to real (rhino and elephant) ivory, and calling it “golden jade.”
Despite hunting for various purposes, most hornbill species remained relatively common until quite recently. When I was traveling on the large rivers of Borneo in the early 1990s, I often saw them fly overhead. Much has changed since then.
A few years ago, commercial animal traders started to specifically demand hornbill casques to feed an increasing demand, particularly from China, for hornbill ivory for medicinal purposes and carvings. This created significant additional pressure on many hornbill populations, and the hornbills are now rapidly disappearing from forest areas.
Hornbill casques and bills sell for between Rp 2 million and Rp 3 million (or around $250), making these beautiful and enigmatic birds a new favorite of local hunters. Groups of hunters as large as 60 people now roam the extensive and remote forest areas of central Borneo, listening out for hornbills and killing any that they can lay their hands on.
The amounts of birds involved are staggering. A recent confiscation in the Melawi district of West Kalimantan resulted in 229 hornbill heads, while in 2013 four Chinese nationals were apprehended at Soekarno-Hatta Interational Airport with 248 hornbill beaks in their luggage. I am sure, though, that much higher numbers slip through. It must be really easy to smuggle these hornbills along with other internationally traded bulk goods.
So far there has been little action by the government to combat this trade. There are no concerted efforts to document the scale of the problem and understand its dynamics. But if the authorities apprehended middlemen and traders, it would be easy to significantly reduce demand from hunters. Without anyone buying, people would soon stop making lengthy forest trips required to obtain these birds.
Also, the non-governmental sector seems to largely ignore the issue, although there are exceptions, with organizations such as TRAFFIC, Birdlife and the Wildlife Conservation Society drawing attention to the problem.
I have no doubt that most people would prefer to live in areas where the magnificent hornbills would still noisily fly overhead. But as with most natural resources, the greed of a few who benefit from the trade, and the total lack of commitment for effectively addressing the problem, could so easily end up with the loss of these cultural icons.
Concerted efforts could still prevent hornbill extinctions. If you see or hear of any hornbill heads for sale, take note of the details including name and address of traders, ask who is buying and for how much, and where hunters obtain the birds. Take photos if possible, and feel free to pass information on to me.
Solutions ultimately lie with the people who live alongside the hornbills. They need to decide what they want their future to look like. What we can do is to help them understand what choices they have and what means to influence the outcome of these choices.
It is possible to retain healthy and prosperous forest landscapes in Borneo with hornbills in the sky, but this requires major change in development thinking and much better management of environments and resources.
Erik Meijaard is a conservation scientist based in Jakarta. He coordinates the Borneo Futures — Science for Change research program.

FESTIVAL SENI-BUDAYA DAYAK SE-KALIMANTAN XIII DI YOGYAKARTA

Festival ini menjadi agenda tahunan pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, diselenggarakan oleh para mahasiswa Dayak yang sedang menuntut pelajaran di Yogyakarta.

Festival yang ke-13 ini diselenggarakan oleh para mahasiswa Dayak dari kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sedangkan Festival berikutnya dipercayakan kepada para mahasiswa dari kabupaten Skadau, juga ari Kalimantan Barat.

Bermacam kegiatan budaya dilangsungkan selama festival, termasuk seminar. Seminar dalam Festival ke-13 ini bertema: Menggagas Strategi Kaum Muda Dayak Dalam Era Globalisasi" dengan pembicara Dr. A. Teras Narang, SH; Dr. Arie Setyaningrum Pamungkas, MA, sosiolog dari Gadjah Mada; Kusni Sulang dari Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, Palangka Raya (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani. S. Kusni, 2015).

Bermacam kegiatan budaya dilangsungkan selama festival, termasuk seminar. Seminar dalam Festival ke-13 ini bertema: Menggagas Strategi Kaum Muda Dayak Dalam Era Globalisasi” dengan pembicara Dr. A. Teras Narang, SH; Dr. Arie Setyaningrum Pamungkas, MA, sosiolog dari Gadjah Mada; Kusni Sulang dari Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, Palangka Raya (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani. S. Kusni, 2015).

 

Suaana Taman Budaya Yogyakarta sebelum penutupan Festival (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015)

Suasana Taman Budaya Yogyakarta sebelum penutupan Festival (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015)

 

Suasana di luar Gedung Taman Budaya untuk menyaksikan acara penutupan Festival (Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S.Kusni, 2015)

Suasana di luar Gedung Taman Budaya untuk menyaksikan acara penutupan Festival (Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S.Kusni, 2015)

 

Pemangku adat Dayak dari Kalimantan Barat memulai acara ritual penutupan secara adat (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani. S. Kusni, 2015)

Pemangku adat Dayak dari Kalimantan Barat memulai acara ritual penutupan secara adat (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani. S. Kusni, 2015)

 

 

 

 

 

KABUT ASAP & PILKADA

KABUT ASAP & PILKADA
Oleh Kusni Sulang

Ketika Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah (Kalteng) bersama Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Nasional menyelenggarakan diskusi tentang baik-buruknya tambang, terutama tambang batu-bara, di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada 27 Mei 2015 lalu, kepala desa menjelaskan bahwa mereka sedang bersiap-siap menghadapi musim kemarau dengan bencana kabut asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan. Adanya persiapan demikian menumbuhkan harapan pada diri saya bahwa kemarau tahun ini, Kalteng akan bebas dari bencana kabut asap yang menyiksa dan menimbulkan banyak kerugian bagi kehidupan sehari-hari penduduk. Kalau pun bencana tersebut masih ada, pada harapan yang tumbuh itu terbayang ia tidak akan separah tahun 2014. Agustus tiba disusul oleh September tiba dengan kenyataan yang menghancurkan harapan tersebut. Bencana kabut asap bukannya berkurang tapi justru lebih parah dari tahun silam. Asap bahkan menyusup ke ruang-ruang rumah tempat tinggal dari pagi hingga malam, berlanjut hingga pagi lagi.Sementara penyelenggara Negara berteriak lantang agar pembakar lahan dan hutan ditangkap dan dihukum. Media massa cetak lokal memberitakan bahwa ada beberapa pembakar lahan yang ditangkap tapi mereka adalah pekerja upaha dengan bayaran Rp.100.000,- serta petani-petani biasa dengan tradisi berladangnya. Sementara perusahaan-perusahaaan yang junlahnya bervariasi (kadang-kadang dikatakan berjumlah tujuh, kadang-kadang berjumlah 12) yang diduga sengaja membakar lahan tidak satu pun yang disentuh. Hukum nampak hanya diberlakukan untuk wong cilik. Penyebab kebakaran hutan dan lahan pun ditimpakan pada wong cilik, yaitu petani kecil ladang berpindah. Tapi apakah kabut asap akan sebegini parah, jika penyebabnya adalah petani ladang berpindah yang menggarap ladangnya dengan cara membakar sejak ratusan tahun lakukannya? Menuding mereka sebagai salah satu penyebab kebakaran hutan, apakah lalu mereka dilarang berladang? Lalu hidup dari mana lagi mereka? Ini namanya kesewenang-wenangan seperti yang dilukiskan oleh pepatah Tiongkok Kuno: “raja boleh membakar rumah, penduduk tak boleh menyalakan tungku”. Sehingga penangkapan dan diproses-hukumkannya wong cilik ini mengesankan tidak lebih untuk memperlihatkan bahwa penyelenggara Negara mau menciptakan citra bahwa mereka bekerja dan tegas dalam melaksanakan hukum tanpa tebang pilih. Perusahaan-perusahaan besar dalam kenyataan menjadi kebal hukum (impunity) karena kekuatan uang dan tumbuhnya suburnya kolusi. Walau pun perusahaan-perusahaan besar swasta (PBS) ini seperti ditunjukkan oleh Kepala Bidang Pengawasan Pengamanan (Dishhutbun) Kotim Adrianus Salampak bahwa “pihaknya menemukan 12 perusahaan perkebunan kelapa sawit yang sengaja melakukan pembakaran untuk membuka lahannya” (Kalteng Pos, Palangka Raya, 10 September 2015). Impunitas PBS-PBS memperlihatkan bahwa dalam politik, investorlah yang mengatur pemerintah, bukan penyelenggara Negara yang mengatur investor. Karena itu, meskipun pemerintah Kotim menemukan perusahaan-perusahaan yang melakukan pembakaran lahan, namun menurut Adrianus, pihaknya tidak bisa mengambil tindakan tegas terhadap PBS-PBS tersebut. “Kendalanya karena kami saat ini tidak memiliki Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS), untuk menindak dan melakukan penyidikan”.
Padahal Presiden Joko Widodo ketika melihat langsung lokasi kebakaran hutan di Desa Pulau Geronggang, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, didampingi beberapa pejabat tinggi, termasuk Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menginstruksikan aparatnya bertindak tegas terhadap para pembakar hutan. “Saya perintahkan ditindak setegas-tegasnya, sekeras-kerasnya, untuk perusahaan yang tidak mematuhi. Tidak sekali dua kali disampaikan karena mereka sebetulnya juga harus bertanggung jawab.” (http://www.sinarharapan.co/news/read/150908266/mempertanyakan-kebakaran-hutan).
Dengan alasan demikian, maka perintah Presiden Jokowi untuk menindak PBS-PBS pembakar hutan, “ setegas-tegasnya, sekeras-kerasnya”, menjadi tidak dilaksanakan. Sementara di pihak lain, pemberian izin secara tumpang-tindih dengan gampang dilakukan. Dengan tidak dilaksanakannya perintah Presiden ini oleh kepala-kepala daerah maka jangan diharap aka nada tindakan kongkret untuk menangani bencana asap yang mendera Kalteng. PBS-PBS pembakar hutan dan lahan tetap tak tersentuh hukum. Mereka tidak akan pernah jera melakukannya. Dari kenyataan ini nampak bahwa kekuasaan untuk menyelenggara Negara diperlakukan sebagai ladang subur untuk meraup uang oleh pemegang kekuasaan.
Jika dihubungkan dengan pilkada, terutama untuk melihat kemampuan dan rekam jejak petahana, untuk mengetahui kualitas seorang kepala daerah, kemampuan menangani dan mencegah bencana kabut asap, sebenarnya bisa dijadikan salah satu tolok-ukurnya. Sejarah mengatakan bahwa kata-kata kampanye dan pencitraan, tidak pernah bisa dipercayai. Pilkada bukanlah peluang memilih Negarawan tapi kalau ikut memilih, memilih politisien yang tidak akan menghalau bencana kabut asap dari kehidupan. Negarawan lahir dari gerakan massa. []

Politik Ekonomi Kebakaran Dan Asap: Melangkah Ke Solusi Jangka Panjang
Oleh Herry Purnomo

Lima puluh tahun lalu, Indonesia kaya dengan hutan lebat. Dan kemudian bum! Antara 1980 dan 2000 – ledakan penebangan kayu terjadi. Diikuti dengan penebangan kayu ilegal – selanjutnya, ledakan lain dalam 10 tahun sejak 2000, dan kemudian ledakan sawit mengikuti.
Hutan primer yang lebat digunduli dan berubah menjadi hutan terdegradasi, kemudian ditebang dan dibakar, disiapkan untuk perkebunan sawit dan kayu dengan skala berbeda.
Transformasi bentang alam ini memberi manfaat dan kerugian bagi aktor berbeda. Tetapi kebakaran dan asap menjadi bagian transformasi bentang alam.
Pemerintahan Presiden Joko Widodo, Indonesia berkomitmen mengurangi – atau bahkan menihilkan – kejadian kebakaran di Indonesia. Dan walaupun beberapa peningkatan dibuat, kebakaran dan asap berlanjut.
Tahun ini, Indonesia menghadapi El Niño, yang akan menyebabkan cuaca lebih kering dan meningkatkan kejadian kebakaran dan asap.
Solusi diperlukan, karena aksi selama ini sebagian besar memerangi kebakaran dan tidak secara sistematis mentautkannya dengan politik dan ekonomi kebakaran. El Nino menyebabkan cuaca lebih kering dan bisa meningkatkan intensitas kebakaran dan asap.
Mengkaji kebijakan dan perundangan kebakaran (yang berjalan maupun yang tidak) memetakan aktor, jejaring dan ekonomi, menyediakan peta tata ruang yang jelas dan transparan, serta melibatkannya dengan pembuat kebijakan dan praktisi kunci adalah jalan penting mengurangi kebakaran dan asap.

DIPERLUKAN RENCANA TATA RUANG
Tidak jelasnya rencana tata ruang berpengaruh dalam menghambat upaya penurunan kebakaran. Pada temu konsultatif pemangku kepentingan di Pekanbaru pada 25 Maret, perlunya memiliki kesepakatan dan rencana tata ruang yang bisa ditegakkan menjadi catatan khusus. Namun, ini tidaklah cukup.
Semua pemangku kepentingan perlu kembali duduk dan mendiskusikan pemetaan tata ruang dan mencoba mencapai kesepakatan. Menegosiasikan kepentingan konservasi, legalitas, bisnis, penghidupan lokal, reduksi emisi karbon dll. sangat penting, seraya juga memahami solusi “ideal” mungkin tidak ada.
Ketika mendiskusikan sejarah wilayah terdegradasi, negosiasi seharusnya mendiskusikan tidak hanya ruang tetapi juga durasi. Misalnya, sebuah wilayah yang dikonversi secara ilegal dari wilayah konservasi menjadi sawit, bisa tetap sawit untuk beberapa tahun tertentu untuk mengkompensasi investasi sektor swasta atau masyarakat lokal.
Perlu untuk duduk bersama menegoisasikan kepentingan konservasi, legalitas, bisnis, penghidupan lokal, pengurangan emisi karbon mencapai kesepakatan. Namun, setelah periode waktu terencana ada waktu merestorasi menjadi hutan.
Transaksi lahan ilegal dapat, dan memang terjadi dalam lahan konsesi dan lahan negara, ketika wilayah itu tidak benar-benar diamankan. Tuntutan ekonomi untuk lahan terdegradasi, terbakar n dan sawit merupakan penyebab besar transformasi hutan primer menjadi perkebunan tanaman yang memberi manfaat besar bagi aktor tertentu.
Pemerintah perlu menciptakan disinsentif terhadap kebutuhan lahan terdegradasi, terbakar dan tertanami sawit dengan menetapkan standar legalitas atas lahan yang telah dijual.

MENGHENTIKAN AKTIVITAS ILEGAL
Mendeteksi, mengantisipasi dan menindak kejahatan terorganisasi yang terlibat dalam transaksi lahan ilegal penyebab kebakaran dan asap harus dilakukan oleh institusi hukum. Pada saat yang sama, melatih polisi, jaksa dan hakim terkait hukum hutan dan lingkungan harus dilakukan.
Presiden Joko Widodo telah menetapkan satuan tugas untuk menyelesaikan konflik hutan di Indonesia.
Satuan tugas akan merupakan kolaborasi antara Kementerian Lingkungan Hidup and Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Agraria, serta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Untuk menjamin keberhasilan satuan tugas ini, kesadaran publik melalui media massa dan media sosial mengenai pentingnya mengurangi kebakaran dan asap diperlukan.

MENCEGAH DEGRADASI GAMBUT
Degradasi gambut adalah sumber utama emisi karbon Indonesia akibat kebakaran. Gambut tidak hanya soal ekosistem berharga, tetapi juga soal orang yang tinggal di sana.
Untuk mengurangi kebakaran lahan gambut, kita perlu segera mengembangkan penghidupan dan sumber penghasilan bagi masyarakat asli dan lokal yang tinggal di lahan terdegradasi. Ini mencakup tanaman tahunan, hortikultur, agroforestri dan penanaman pohon sesui dengan kedalaman gambut, dan terkait industri skala kecil sepanjang rantai nilai.
Pada saat yang sama, masyarakat yang tinggal di lahan gambut yang baik juga perlu bantuan mengembangkan penghidupan dan sumber penghasilan mereka – melalui bantuan pembayaran jasa lingkungan dan REDD+.
Untuk mengurangi kebakaran lahan gambut, kita perlu segera mengembangkan penghidupan dan sumber penghasilan bagi masyarakat asli dan lokal yang tinggal di lahan terdegradasi
Memperkuat dan menyediakan dukungan finansial untuk organisasi akar rumput seperti Masyarakat Peduli Api akan menjamin efektivitas mereka mendukung deteksi kebakaran dan sistem peringatan dini.
Inisiatif lokal pada level skala-mikro seharusnya merestorasi lahan gambut dengan membendung kanal, membasahi gambut dan menanam Jelutung, karet dan nanas.
Meningkatkannya pada level bentang alam atau unit hidrologi akan memerlukan pemikiran lebih dalam dan pendekatan multi-pemangku kepentingan karena air adalah sumber langka dan dapat menjadi sumber konflik di musim kering.
Merencanakan dan mengeksekusi manajemen level air dalam skala lanskap melalui – antara lain aksi – bendung kanal, akan menjamin keadilan baik bagi aktor skala kecil maupun besar.
Pembangunan masyarakat dan penghidupannya peru ditempatkan untuk melanggengkan restorasi gambut. Berbagi praktik terbaik inisiatif lokal dan sektor swasta dalam restorasi ekosistem gambut serta mendorong adopsi praktik tersebut akan membantu menciptakan keseragaman.
Akhirnya, mengurangi kebakaran dan asap tidak hanya sebuah daftar “TINDAKAN” yang harus diikuti seperti dipaparkan di atas, tetapi juga BAGAIMANA melakukannya dan SIAPA yang seharusnya melakukan itu.

BAGAIMANA DAN SIAPA
Kita dapat menggunakan ‘pendekatan bentang alam’ untuk menyatukan pertanian, konservasi, dan perebutan penggunaan lahan lain untuk menjawab pertanyaan BAGAIMANA. Dalam pendekatan ini, pemerintah, petani kecil dan pemangku kepentingan lain akan terpanggil untuk mempertimbangkan keragaman tujuan mereka dalam bentang alam, memahami penyebab, menyusun prioritas, bertindak dan memantau kemajuan.
Memahami SIAPA sejatinya adalah “pemangku kepentingan kebakaran” sebagai kunci menuju keberhasilan pendekatan bentang alam. Pendekatan ini akan dipandu oleh sepuluh prinsip pendekatan bentang alam, yang menekankan manajemen adaptif, pelibatan pemangku kepentingan dan keberagaman tujuan.
Aksi bersama di antara negara anggota ASEAN – untuk mengurangi kebakaran dan asap melalui dialog berlanjut, pengumpulan dana dan aksi nyata di lapangan – perlu dilakukan untuk merealisasikan visi ASEAN bebas-asap 2020.
Akhirnya, berpikir global, mengaitkan dengan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) diperlukan untuk mendapat dukungan masyarakat nasional dan internasional.

* Herry Purnomo adalah ilmuwan berbasis di CIFOR di Bogor. Untuk informasi lebih jauh mengenai kebakaran dan asap Indonesia, silahkan hubungih.purnomo@cgiar.org.[Sumber : Kabar Hutan, 02 September 2015].

KPK: 86 PERKEBUNAN KELAPA SAWIT ILEGAL DI KALIMANTAN

bergelora.com

Wakil Ketua KPK, Zulkarnaen (Ist)‏Wakil Ketua KPK, Zulkarnaen (Ist)‏PONTIANAK- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengakui, masih banyak perusahaan di Kalimantan yang tidak terdaftar di Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (HAM). Hal ini disampaikan Wakil Ketua KPK, Zulkarnaen, menanggapi pernyataan Koalisi Masyarakat Sipil Kalimantan Untuk Gerakan Nasional Penyelamatan Sumber Daya Alam (GN-PSDA) Kalimantan yang mengklaim, telah mendapat data valid, praktik penjarahan kawasan hutan untuk kepentingan korporasi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan secara tidak prosedural periode 2009 – 2015 mencapai 17,243 juta hektar.

“Di Kalimantan sendiri masih terdapat data perusahaan yang tidak terdaftar di Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, Kementerian Hukum dan HAM, antara lain di Kalimantan Barat terdapat 23 perusahaan. Kalimantan Tengah terdapat 22 perusahaan, di Kalimantan Selatan terdapat 25 perusahaan, serta di Kalimantan Timur terdapat 16 perusahaan,” demikian Zulkarnaen dalam forum Evaluasi Gerakan Nasional (Monev GN) Penyelamatan Sumber Daya Alam Indonesia Sektor Kehutanan dan Perkebunan, digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan lima provinsi se Kalimantan di Pontianak, Rabu (9/9) pekan lalu.

Tampak hadir Wakil Ketua KPK, Zulkarnaen, Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Christiandy Sanjaya, serta perwakilan dari Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Kalimantan Utara, Provinsi Kalimantan Selatan, dan Provinsi Kalimantan Timur.

“KPK menemukan sedikitnya lima persoalan mendasar pada sektor ini, antara lain ketidakpastian hukum kawasan hutan; lemahnya regulasi dalam perizinan; belum optimalnya perluasan wilayah kelola masyarakat,” ujar Zulkarnaen.

Selain itu, lanjut Zulkarnaen, lemahnya pengawasan dalam pengelolaan; menyebabkan hilangnya penerimaan negara; serta masih banyak konflik agraria dan kehutanan yang belum tertangani.

Penghentian Izin

Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, pada kesempatan sama, menegaskan, lima Gubernur se Kalimantan, sepakat untuk menghentikan izin baru sektor pertambangan dan perkebunan, apabila terbukti masih akan menggunakan lahan berstatus dalam kawasan hutan.

“Kami sepakat proses perizinan yang tidak prosedural segera dibenahi sesuai arahan dari KPK. Lahan di Kalimantan, sekarang hanya boleh dibuka untuk kegiatan ekonomi berbasis mendukung program kemandirian pangan, dan sudah tertutup untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan,” kata Cornelis.

Diungkapkan Gubernur Cornelis, gubernur se Kalimantan memiliki tanggungjawab moral untuk tetap melestarikan hutan.

Nantinya Kalimantan dijadikan contoh skala nasional dan internasional di dalam menjaga kelestarian hutan.

Dikatakan Cornelis, pelestarian hutan di Kalimantan, sudah menjadi sorotan dunia internasional, sehingga sudah menyangkut nama baik Bangsa Indonesia di mata masyarakat luar negeri.

Cornelis mengklaim, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat sudah memiliki komitmen untuk menyelamatkan hutan dunia melalui penyusunan rencana kerja Governors Climate and Forest Task Force (GCF).

Hal itu dikemukakan Cornelis pada Pertemuan Tingkat Tinggi Satuan Tugas Gubernur untuk Iklim dan Hutan Indonesia dengan para Gubernur anggota Governors Climate and Forest Task Force (GCF) di Jakarta, Rabu, 29 Juli 2015.

“Kalimantan Barat termasuk salah satu Provinsi yang berkomitmen untuk menyelamatkan Hutan dunia selain Aceh, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Papua dan Papua Barat,” kata Cornelis.

GCF telah bersepakat untuk melaksanakan beberapa rencana aksi guna melaksanakan Deklarasi Rio Branco. Pertemuan sekaligus menyiapkan peta jalan menuju Konferensi Perubahan Iklim di Paris pada Desember mendatang.

“Kami sudah menyusun rencana kerja yang antara lain memperkuat kesatuan pengelolaan hutan (KPH), mengendalikan penggunaan ruang dan tata kelola izin, membangun kemitraan dengan swasta untuk memastikan rantai pasok komoditas yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, serta menjamin pembangunan rendah emisi dengan keterlibatan aktif masyarakat adat dan petani,” tutur Cornelis.

Menindaklanjuti Deklarasi Rio Branco di Brazil tahun 2014, Gubernur dari enam provinsi yang menyumbang 58 persen luasan kawasan dan tutupan di Indonesia, kembali bertemu di Jakarta dan merumuskan strategi penyelamatan hutan Indonesia.

Agenda Indonesian Governors Summit Of The Governors Climate And Forests Task Force ( GCF ) yang berlangsung di Le Meridien Hotel Jakarta kemarin, merupakan Tindak Lanjut dari Deklarasi Rio Blanco itu juga telah ditandatangani negara bagian di Brasil, Meksiko, Nigeria, Pantai Gading, Peru, Spanyol, dan Amerika Serikat, di mana lebih dari 25 persen dari hutan tropis dunia, berada di provinsi atau negara bagian anggota GCF.

“Pada Deklarasi Rio Blanco telah disepakati pengurangan deforestasi (penghilangan dan penggundulan hutan yang tidak terkendali) sebesar 80 persen pada 2020 nanti. Enam provinsi anggota GCF Indonesia menargetkan pengurangan deforestasi dari rata-rata 323.749 hektare per tahun menjadi rata-rata 64.749 hektare per tahun pada 2020,” kata Cornelis. (Jimmy Kiroyan)

HUTAN KALIMANTAN DIJARAH 17.243 JUTA HEKTAR

Perkebunan sawit di Kalimatan (Ist)‏Perkebunan sawit di Kalimatan (Ist)‏PONTIANAK--Koalisi Masyarakat Sipil Kalimantan Untuk Gerakan Nasional Penyelamatan Sumber Daya Alam (GN-PSDA) Kalimantan, mengklaim, telah mendapat data valid, praktik penjarahan kawasan hutan untuk kepentingan korporasi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan secara tidak prosedural periode 2009 – 2015 mencapai 17,243 juta hektar.

Anton Wijaya, peneliti dari GN-PSDA Kalimantan, Selasa (14/9), menjelaskan kepada Bergelora.com di Pontianak, total kerugian negara di lahan yang dijarah seluas 17,243 juta hektar tembus di angka Rp30 triliun, dengan rincian kerugian negara per tahun periode 2009 – 2015, antara Rp2,1 triliun hingga Rp6 triliun.

Menurut Anton, potensi kerugian negara Rp30 triliun, telah disampaikan secara terbuka  Di forum Evaluasi Gerakan Nasional (Monev GN) Penyelamatan Sumber Daya Alam Indonesia Sektor Kehutanan dan Perkebunan, digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan lima provinsi se Kalimantan di Pontianak, Rabu (9/9) pekan lalu.

Tampak hadir Wakil Ketua KPK, Zulkarnaen, Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Christiandy Sanjaya, serta perwakilan dari Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Kalimantan Utara, Provinsi Kalimantan Selatan, dan Provinsi Kalimantan Timur.

Menurut Anton, luas Kalimantan mencapai 53,544 juta hektar, meliputi kawasan hutan (hutan produksi, suaka alam, hutan lindung dan tanam nasional) mencapai 39,207 juta hektar.

Logika sederhana saja dari luas Kalimantan 53,544 juta hektar, dikurangi kawasan hutan 39,207 juta hektar, mestinya kegiatan ekonomi non konservasi hanya diperbolehkan di lahan seluas 14,336 juta hektar.

Nyatanya izin pertambangan di Kalimantan periode 2009 – 2015 tembus 18,356 juta hektar, perkebunan kelapa sawit 13,223 juta hektar, Hutan Tanaman Industri (HIT) 4,982 juta hektar, dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) 10,917 juta hektar.

Andaikan saja izin HTI dan HPH masuk dalam kawasan hutan seluas 15,899 juta hektar, yakni hanya diperbolehkan di hutan produksi, tapi izin tambang dan kebun kelapa sawit milik korporasi sudah tembus 31,579 juta hektar.

“Jika dihitung dari luas lahan hutan di Kalimantan hanya diperbolehkan untuk kegiatan ekonomi non konservasi 14,336 juta hektar, tapi izin tambang dan kebun sawit saja mencapai 31,579 juta hektar, maka kawasan hutan beralih fungsi secara tidak prosedural mencapai 17,243 juta hektar dengan total potensi kerugian negara Rp30 triliun,” ujar Anton Wijaya.

Anton menuturkan, dari 18,356 juta hektar izin tambang di Kalimantan seluas 9,6 juta hektar berada di kawasan hutan. Dari 13,223 juta hektar izin kebun kelapa sawit di Kalimantan, seluas 7,4 juta hektar berada di kawasan hutan.

Dikatakan Anton, di Kalimantan Barat saja, izin tambang dan kelapa sawit berada di dalam kawasan hutan mencapai 5,77 juta hektar.

Sedangkan proses pengukuhan kawasan hutan di Kalimantan Barat baru mencapai 4,386 juta hektar atau sekitar 53,70 persen dari 8,166 juta hektar kawasan hutan.

“Dari 12,8 juta hektar kawasan konsesi korporasi di Provinsi Kalimantan Tengah, terdapat 483 unit perusahaan beraktifitas di kawasan hutan,” ujar Anton.

Anton menambahkan, luas wilayah perusahaan yang berada dalam kawasan hutan di Kalimantan Tengah seluas 3,370 juta hektar, masing-masing konservasi 8.315 hektar, kwasan lindung 116.758 hektar, Hutan Produksi Terbatas (HPT) 1,354 juta hektar, dan Hutan Produksi (HP) mencapai 1,364 juta hektar.

“KPK diminta melakukan langkah hukum lebih berdasarkan rasa keadilan masyarakat terhadap sejumlah pihak yang terbukti melakukan kejahatan lingkungan di Kalimantan,” ujar Anton Wijaya. (Jimmy Kiroyan)

KALTENG DIMASAKRE

by An SJK 005

KALTENG DIMASAKRE
Oleh Kusni Sulang

Perusakan besar-besaran lingkungan Kalimantan Tengah (Kalteng) dimulai pada tahun 1970-an, ketika pemegang HPH masuk dan melakukan pembabatan hutan membabibuta. Masa jaya HPH berlalu, perusakan massif, pada tahun 2000-an dilanjutkan oleh perusahaan-perusahaan besar swasta (PBS) perkebunan kepala sawit melakukan invasi besar-besaran. Invasi perkebunan kelapa sawit (yang masuk diiringi oleh penyerbuan perusahaan-perusahaan tambang batubara, emas, bauksit dll.) membuka lahan perkebunan dengan cara mudah dan murah yaitu dengan membakar lahan dan hutan. Sejak itu bencana kabut asap mulai mendera Kalteng saban kemarau sehingga di samping musim penghujan dan musim kemarau, Kalteng mengenal musim ketiga yaitu musim kabut asap. Oleh kabut asap ini, saban tahun ribuan penduduk menderita penyakit pernafasan ISPA dan disentri. Penyakit lain yang mungkin timbul oleh bencana asap periodik begini, menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan RI, Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K) adalah munculnya penyakit kanker yang tak terobati hingga sekarang.
Apabila penduduk Kalteng mendapatkan penyakit kanker oleh bencana kabut asap periodik begini, maka terjadilah kematian massal yang berlangsung pelan-pelan. Karena kabut asap berasal dari ulah pembakar hutan dan lahan, lalu adakah nama lagi bagi para pembakar hutan, terutama PBS-PBS yang membakar lahan dan hutan dalam skala besar-besaran, jika bukan pembunuh. Pembunuhan besar-besaran dalam kata lain dinamakan masakre. Dalam memprotes terjadinya bencana kabut asap Borneo Institut (BiT) Palangka Raya menulis di patung Soekarno yang terletak di depan Gedung DPRD Provinsi: “Your Haze Kill Us” (Asapmu Membunuh Kami). Sedangkan di Sampit yang sering dilakukan rupa-rupa Festival, para pemrotes dengan sinis menyebut bencana asap sebagai “Sampit ISPA Fest15. Mari ISPA Sama-sama . ‘’ Seperti diketahui Kabupaten Kotawaringin adalah salah satu pusat asap di Kalteng, contoh dari keberhasilan dalam menyelenggara Negara di kabupaten tersebut.
Masakre sadis memang sedang terjadi terhadap penduduk Kalteng. Selain dilakukan kabut asap periodik. Di samping terjadi sebagai akibat kabut asap, pembunuhan besar-besaran juga berlangsung sebagai akibat kerusakan lingkungan, terutama sungai-sungai. Sungai-sungai adalah nama baru bagi tong sampah raksasa bagi pembuangan limbah perusahaan sawit dan tambang. Sebelas sungai besar di Kalteng, tidak satu pun yang airnya bisa dikonsumsi penduduk karena bermuatan air raksa melebihi batas ambang kelayakan. Sekali pun demikian, penduduk yang turun-temurun tinggal di tepi sungai, tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengkonsumsi air sungai yang sudah terpolusi oleh air raksa (merkuri). Dengan mengkonsumsi airsungai yang mengandung merkuri itu rupa-rupa penyakit akan diidap dan kematian perlahan secara massal sedang berlangsung. Di Kalteng hari ini, tanah, sungai, udara, hutan dan gunung muncul sebagai alat pembunuh dan pembawa petaka di tangan para penganut filosofi hedonisme, seperti politisien pedagang primer.
Bagaimana dan mengapa hal demikian bisa terjadi? PBS baik perkebunan atau pun tambang, tidak mungkin hadir dan beroperasi di Kalteng tanpa sepengetahuan dan seizin penyelenggara Negara berbagai tingkat. Izin tumpang-tindih (salah satu sumber konflik) seperti yang terjadi di Kabupaten Kotawaringin yang disebut berhasil membangun (tugu-tugu!), diberikan oleh penyelenggara Negara. Artinya keadaan seperti di atas terjadi sebagai hasil dari politik investasi, kolusi dan gratifikasi. Oleh sebab itu hutan, perkebunan dan tambang adalah tempat korupsi bersarang. Guru Besar Kebijakan Kehutanan Institut Pertanian Bogor Hariadi Kartodihardjo mengatakan, perubahan kewenangan perizinan hutan dari kabupaten ke provinsi tidak akan menjawab persoalan utama pengelolaan hutan. Buruknya politik perizinan di tingkat kabupaten tidak akan hilang walau kewenangan itu dicabut.“Bukan masalah struktur, melainkan soal jaringan kekuasaan,” kata Hariadi dalam diskusi pakar bertema “Implikasi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah terhadap Pengelolaan Sumberdaya Hutan di Tingkat Daerah” di Hotel Ambhara, Rabu 11 Maret 2015 (Tempo.Co, 13 Maret 2015).
Karena itu masakre perlahan terhadap penduduk Kalteng sekarang penanggungjawab utamanya, akar dari bencana dan masakre ini, bukanlah PBS-PBS tapi penyelenggara Negara dengan pilihan politiknya dan korumpu. Dalam hubungan ini menjadi tanda tanya besar mengapa pihak kepolisian mengalami kesulitan dalam nengaitkan antara pembakar lahan dengan pemilik korporasi’’, (Radar Sampit, 15 September 2015), sementara pihak kepolisian sendiri telah membuat police line di daerah yang dibakar. Pernyataan ini memperlihatkan keengganan menyentuh PBS. Yang disasar adalah wong cilik yang tak berdaya dan lemah daya tawarnya. Sementara yang disebut “Wakil Rakyat” alias DPR hanya berkaok-kaok dan berhenti pada kaok-kaok tanpa nampak upaya lebih jauh menindaklanjuti apa yang diteriakannya. Teriakan tanpa tindak lanjut begini mengesankan bahwa ia atau mereka tidak turut bertanggungjawab.
Tanggungjawab penyelenggara dalam hal kerusakan dan masakre ini pun disebut oleh Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB, Prof Dr Hadi S Alikodra disebabkan ‘’oleh perilaku dan kebijakan pembangunan yang bertumpu pada kepentingan ekonomi sesaat dan mengabaikan fungsi-fungsi ekologi jangka panjang.” (http://www.antaranews.com/berita/495645/kerusakan-hutan-indonesia-nomor-dua-di-dunia). Artinya, bencana kabut asap dan terjadinya masakre perlahan di Kalteng merupakan bagian dan hasil dari pilihan politik pembangunan. Karena itu saya katakan bahwa kemampuan menangani dan menghentikan tidak berulangnya bencana kabut asap merupakan salah satu tolok ukur keberpihakan dan keberhasilan seorang kepala daerah. Dalam kampanye pilkada sekarang, tidak terdengar seorang pun kandidat kepala daerah dan wakilnya yang bicara tentang bencana kabut-asap. Bencana asap yang menyerang secara periodik luput dari mata program dan perhatian.
Perilaku dan pilihan politik atau kebijakan pembangunan para penyelenggara yang umumnya adalah politisien pedagang primer ini ’’ berpangkal dari paradigma scientific forestry yang berkembang pada abad ke-19. Scientific forestry mereduksi hutan sebatas sumber daya. Teritorialisasi hutan dilakukan guna memudahkan pengelolaan. Hutan menjadi lanskap yang dikonstruksi secara politis dan administratif. Negara hadir untuk membuat demarkasi antara hutan dan masyarakat. Negara juga hadir melindungi eksploitasi hutan. Di bawah bayang-bayang scientific forestry hutan terpisah dari masyarakat dan terdistorsi dari pembangunan pedesaan. Alih-alih percaya, negara justru mencurigai rakyatnya. Rakyat mendapat stigma sebagai perusak hutan. Akibatnya adalah konflik, kriminalisasi, kemiskinan, dan pelanggaran hak asasi manusia. Program perhutanan sosial untuk menebus dosa tidak efektif. Salah satunya karena pengakuan hak tidak dituntaskan. Padahal, tanpa pengakuan hak yang kokoh, tidak akan ada insentif rakyat melestarikan hutan.’’ (Myrna Safitri, Direktur Eksekutif Epistema Institut, Jakarta, in: http://print.kompas. com/baca/2015/03/10/Mencari-Perusak-Hutan).
Apabila kita tidak ingin masakre begini berlanjut, penyelenggara Negara patut mengubah pilihan politik investasinya, mengubah perilaku dan paradigma mereka dari pedagang primer menjadi Negarawan merakyat, melaksanakan politik keterbukaan dan memiliki tekad melaksanakannya. Kalau mau dan bertekad, tentu bisa. Ujar Jokowi. Soalnya terletak pada kemauan politik. Di pihak lain, masyarakat sadar terorganisasi patut melakukan perlawanan dan pengawasan. Sebab seperti dikatakan oleh petani Samuda “bahinip kita mati!”. Kalau bahinip, masakre akan berlanjut dengan leluasa. Janji Penjabat Gubernur Kalteng Hadi Prabowo yang ‘’siap mencabut izin perkebunanang membakar lahan hutan di wilayah Kalteng ‘’ (Kalteng Pos, 17 September 2015), patut diawasi karena janji petinggi seperti halnya janji pilkada, sering tidak lebih dari kata-kata kosong. Jangan bahinip! []

Di Sampit, ibukota kabupaten Kotawaringin Timur, salah satu pusat kabut asap, bencana kabut-asap periodik ini dinamakan oleh para mpemrotes sebagai "Sampit ISPA Fest15." Secara sarkastik mereka berkata :"Mari ISPA Sama-Sama".

Di Sampit, ibukota kabupaten Kotawaringin Timur, salah satu pusat kabut asap, bencana kabut-asap periodik ini dinamakan oleh para mpemrotes sebagai “Sampit ISPA Fest15.” Secara sarkastik mereka berkata :”Mari ISPA Sama-Sama”.

 (Foto.Dok. Radar Sampit, 2015).

Bisakah Asap Kebakaran Hutan Menyebabkan Kanker?
JAKARTA- Kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan sangat mengganggu kesehatan masyarakat setempat. Selain menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asap kebakaran hutan juga dikuatirkan bisa menyebabkan kanker paru-paru. Hal ini disebabkan setiap tahun terjadi kebakaran hutan yang parah terdampak langsung pada kesehatan masyarakat setempat dalam waktu yang cukup lama.
“Kanker akan terjadi bila terjadi paparan selama bertahun-tahun, paparan yang lama dan terus menerus. Kebakaran hutan biasanya hanya akan terjadi beberapa bulan saja, dan berhenti kalau musim sudah berganti,” demikian Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan RI, Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE dari Dili, Timor Leste kepada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (12/9).Menurutnya, karena kebakaran hutan terjadi setiap tahun di daerah Sumatera dan Kalimantan, maka masyarakat terkana ISPA dan menguatirkan kemungkinan dampak kanker pada tubuh masyarakat yang terpapar asap terus menerus.
“Memang, di tahun berikutnya akan terjadi kebakaran hutan lagi di daerah yang sama. Hal ini lah yang menimbulkan pemikiran tentang kemungkinan terjadinya kanker,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara kejadian kanker pada manusia dengan asap kebakaran hutan. Sampai sekarang belum ada bukti ilmiah yang nyata yang menghubungkan kanker dengan asap kebakaran hutan.
“Paparan asap kebakaran hutan tidak terus menerus ber tahun-tahun. Ini berbeda dengan paparan asap rokok yang dihisap setiap hari selama 10-20 tahun atau lebih, yang secara ilmiah jelas berhubungan antara kebiasaan merokok dan kanker,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa berbagai aspek dapat menyebabkan kanker pada seseorang. Misalnya, kalau mereka yang terpapar asap kebakaran hutan itu ternyata juga perokok berat.
“Maka harus dinilai secara mendalam tentang faktor apa yang berperan dalam terjadinya kanker pada orang itu,” ujarnya. [Bergelora.Com, Sabtu, 12 September 2015]

Belajar di Kelas, Belasan Siswa di Pontianak Pingsan Akibat Asap Pekat
PONTIANAK – Kabut asap yang menyelimuti kota Pontianak yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan mengakibatkan belasan siswa SMA pingsan saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, Rabu (16/9/2015).
Belasan siswa yang pingsan tersebut merupakan siswa SMK Negeri 5 dan MAN 2 Pontianak.
Salah seorang korban, Lady Planeta, siswa kelas 11 SMKN 5 Pontianak mengungkapkan, saat masuk sekolah pukul 08.00 WIB asap sudah terlihat tebal.
Namun sekitar 20 menit kemudian asap semakin pekat hingga masuk ke ruang kelas. Saat itulah teman-teman Lady satu persatu jatuh pingsan.
“Sebelum pingsan mereka juga keluhkan sakit tenggorokan, kemudian batuk dan sesak nafas. Pada jam 08.30 udara sudah mulai panas, asap masuk ke kelas terus (teman-teman) pada pingsan,” ungkap Lady, Rabu (16/9/2015).
Lady menambahkan, dirinya bersama belasan siswa lainnya langsung dilarikan ke RS Bhayangkara Anton Soedjarwo untuk mendapat perawatan.
Padahal, kata Lady, dia beserta teman lainnya telah menggunakan masker, namun asap pekat memang sangat mengganggu proses belajar mengajar.
“Yang pingsan dari beberapa kelas, ada kelas X dan kelas XI, kita sudah gunakan masker, tapi asap memang tebal,” kata Lady.
Sementara itu, Salasiah, seorang guru MAN 2 Pontianak mengatakan, di sekolahnya terdapat empat siswa yang merasakan sesak nafas hingga pingsan.
Dua siswa ditangani UKS, sedangkan dua lainnya dilarikan ke RS Bhayangkara Anton Soedjarwo lantaran mengalami sesak napas akut.
“Siswa MAN 2 ada empat orang, dibawa ke rumah sakit 2 siswa, dua lainnya di tangani UKS, mereka alami sesak nafas padahal tidak punya riwayat penyakit itu,” ujar Salasiah.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Handanu mengatakan, belasan siswa yang dibawa ke RS Bhayangkara tersebut telah diperiksa dan hasilnya mereka terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Ini ada 12 siswa berdasarkan data yang kita terima, anak-anak ini terkena ISPA, dengan keluhan, batuk, sesak dan sakit tenggorokan,” jelas Handanu.
Handanu menambahkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan belasan siswa tersebut pingsan.
“Yang pingsan dari beberapa kelas, ada kelas X dan kelas XI, kita sudah gunakan masker, tapi asap memang tebal,” kata Lady.
Sementara itu, Salasiah, seorang guru MAN 2 Pontianak mengatakan, di sekolahnya terdapat empat siswa yang merasakan sesak nafas hingga pingsan.
Dua siswa ditangani UKS, sedangkan dua lainnya dilarikan ke RS Bhayangkara Anton Soedjarwo lantaran mengalami sesak napas akut.
“Siswa MAN 2 ada empat orang, dibawa ke rumah sakit 2 siswa, dua lainnya di tangani UKS, mereka alami sesak nafas padahal tidak punya riwayat penyakit itu,” ujar Salasiah.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Handanu mengatakan, belasan siswa yang dibawa ke RS Bhayangkara tersebut telah diperiksa dan hasilnya mereka terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Ini ada 12 siswa berdasarkan data yang kita terima, anak-anak ini terkena ISPA, dengan keluhan, batuk, sesak dan sakit tenggorokan,” jelas Handanu.
Handanu menambahkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan belasan siswa tersebut pingsan.
Beberapa siswa yang pingsan tersebut, jelas Handanu, bukan disebabkan karena kurangnya oksigen, namun faktor psikologis dan sugesti setelah melihat kondisi akibat kabut asap.
“Mereka pingsan bukan karena kekurangan oksigen, tapi faktor psikologis. Jadi pingsannya seolah massal, melihat yang lain sesak (napas) ikut sesak. Tapi untuk yang mengalami batuk, sakit tenggorokan, sesak nafas itu benar-benar karena ISPA,” papar Handanu. (TribuneNews.Com, Rabu, 16 September 2015 22:47 WIB)

TARI DAYAK KALTENG MENUMPAS KEJAHATAN

Tari Dayak Kalteng: Menumpas Kejahatan

Tari Dayak Kalimantan Tengah: Menumpas Kejahatan (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2013)

Tari Dayak Kalimantan Tengah: Menumpas Kejahatan (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2013)

KERJASAMA DAYAK SE-BORNEO

Delegasi penulis Dayak Kadazandusun-Murut, Sabah dipimpin oleh Dr.Henry Bating, sedang berdiskusi dengan Prof.Dr. Purwadi dan Dr. Sidik Usop  dari Universitas Negeri Palangka Raya serta Kusni Sulang dan Andriani S. Kusni  dari Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah di Hotel Barito Shina, Palangka Raya 4 Agustus 2015 (Foto. Andriani S. Kusni, 2015).

Delegasi penulis Dayak Kadazandusun-Murut, Sabah dipimpin oleh Dr.Henry Bating, sedang berdiskusi dengan Prof. Dr. Purwadi dan Dr. Sidik Usop dari Universitas Negeri Palangka Raya serta Kusni Sulang dan Andriani S. Kusni dari Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah di Hotel Barito Shinta, Palangka Raya 4 Agustus 2015 . Secara budaya , Dayak se-Borneo tidak memiliki perbatasan(Foto. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015).

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni
KERJASAMA DAYAK SE-BORNEO
Sebagai kelanjutan dari Festival Budaya Dayak pertama yang berlangsung di Istora Bung Karno Jakarta Mei 2014 lalu, pada tanggal 3 sampai dengan 9 Agustus 2015 mendatang di Palangka Raya akan dilangsungkan Festival Budaya Dayak sepulau Borneo. Bersamaan dengan kegiatan ini akan dilangsungkan juga Kongres Pemuda Dayak Indonesia. Saudara-saudara Dayak Kadazan-Murut dari Sabah telah menyatakan keinginan untuk hadir dalam acara akbar tersebut yang dikabarkan bakal dibuka oleh Presiden Jokowi.
Kerjasama antar lembaga dalam berbagai bidang, terutama antara Dayak Kalimantan Barat dengan Dayak Sarawak dan Sabah sejak lama sudah berlangsung. Hanya saja kerjasama dengan Dayak Kalimantan Tengah masih kurang berkembang, baru sebatas individual.
Festival Dayak sepulau Borneo di mana Dayak sepulau raya bertemu merupakan suatu kesempatan yang tidak terjadi saban waktu. Alangkah baiknya jika kesempatan langka ini dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk membicarakan dan mengembangkan kerjasama erat antar Dayak sepulau. Karena Festival merupakan temu budaya, maka mengapa tidak kerjasama itu dimulai dari bidang sastra-seni, misalnya. Kesamaan budaya dan masalah yang dihadapi oleh Dayak se-Borneo merupakan landasan kuat guna menjalin kerjasama itu. Untuk mengetahui dan memperoleh kesepakatan mulai dari mana kerjasama itu dilakukan dan bagaimana ia dilangsungkan, kiranya akan sangat efektif jika panitya Festival menyediakan waktu khusus, misalnya satu atau dua hari untuk membicarakan soal ini dengan para utusan dari Sabah, Sarawak dan atau Brunei misalnya. Melalui pertemuan satu atau dua hari itu, paling tidak bisa ditampung pikiran-pikiran dan usul-usul dari saudara-saudara Dayak dari daerah lain pulau serta apa-apa saja yang bisa dilakukan bersama. Jadi Festival bukan hanya ajang pertunjukan kesenian, tapi juga merupakan kesempatan bertukarpikiran dan bertukar saran guna peningkatan mutu budaya Dayak lebih lanjut. Membatasi Festival Budaya hanya pada pertunjukan, suka atau tidak suka, akan membuat Festival berada pada alur rutinisme yang tidak membawa kita maju. Boleh jadi melalui pertemuan satu-dua hari itu didapat kesepakatan bahwa Festival selanjutnya juga bisa dilangsungkan di Sabah, atau Sarawak atau di Brunei.
Banyak hal yang bisa dilakukan bersama oleh Dayak se-Borneo dan yang sampai hari ini belum ditangani seperti sejarah, penelitian, kajian bandingan antar Dayak, bagaimana mengembangkan dan meningkatkan mutu kesenian Dayak, melakukan penerbitan bersama, dan lain-lain. Selain itu, kalau mau jujur, saling mengenal baik sesama Dayak pun masih belum. Festival Dayak se-Borneo jadinya merupakan suatu kesempatan besar untuk membicarakan kemudian melaksanakan apa-apa yang bisa dikerjasamakan. Hasil pembicaraan dalam pertemuan satu-dua hari tersebut akan jauh lebih berharga dan bermakna strategis dari sebuah tropi sebagai pemenang lomba pertunjukan.
Festival Dayak se-Borneo niscayanya ditempatkan sebagai bagian dari strategi perjalanan maju menanggapi zaman yang tak menunggu siapa pun yang lengah. Tiada siapa pun yang akan menolong dan memajukan Dayak, kecuali Dayak itu sendiri seperti yang diajarkan oleh filosofi Dayak Ngaju “menyayangi diri” (masi arép). Negara pun, apalagi penyelenggara Negara yang banyak korumpu dan memperdagangkan Kalimantan serta tidak paham budaya Dayak, tidak bakal menggubris Dayak apabila Dayak lemah. Lemah secara organisasi, lemah secara konsepsional, pikiran dan mentalitas, lembah secara karakter seperti suka menjual diri alias oportunis. []

PELEMAHAN SISTEMATIK?!

PELEMAHAN SISTEMATIK?!
Oleh Kusni Sulang

Dalam pidato ulangtahun ke-58 Kalimantan Tengah(Kalteng), yang disiarkan oleh RRI dan TVRI Kalteng, Gubernur Kalteng A. Teras Narang, SH, mengetengahkan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh Kalteng di masa kepemimpinannya bersama Achmad Diran selaku Wakil Gubernur. Angka-angka kemajuan yang digunakannya berasal dari data-data Badan Pusat Statistik (BPS). Jika angka-angka itu benar, artinya sesuai kenyataan, maka Kalteng memang cukup berkembang maju, bukan berkembang mundur dan menggembirakan. Sebenarnya saya ingin turut merasakan kegembiraan itu dan kemajuan Kalteng memang menjadi salah satu harapan saya. Apalagi dalam waktu 58 tahun, memang banyak yang bisa dilakukan dan dicapai. Sebuah misal saja, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang diproklamirkan pada tahun 1949, sekarang sudah menjadi kekuatan politik-ekonomi-militer kedua, kalau bukan pertama di dunia. Hanya saja jika membandingkan data-data BPS (lihat Harian, Palangka Raya, 23 Mei 2015) yang digunakan oleh Gubernur Teras Narang, dengan kenyataan, keinginan untuk turut bergembira menjadi tertunda. Harian Tabengan pada hari yang sama (23 Mei 2015) di halaman 20 menurunkan berita bertajuk “Kategori Masyarakat Miskin Belum Jelas. Ada Perdeaan antara BPS dan Disnakersos”. Barangkali data Disnakersos pun berbeda dengan kenyataan. Perbedaan antaraa data BPS dan data kabupaten-kabupaten, apalagi dengan kenyataan, jika mengikuti berita-berita media massa cetak saja, bisa diketahui sudah lama terdapat. Dunia akademi terutama luar negeri, seperti Eropa Barat misalnya, sejak lama meragukan data-data BPS. Mereka menggunakannya sekedar sebagai pembanding terhadap data yang mereka peroleh sendiri. Data-data BPS memang gampang digunakan untuk melaksanakan politik pencitraan yang mereduksi kenyataan menjadi gambaran semu.
Ruangan ini terlalu tidak cukup untuk menguraikan pendapat secara sangat rinci. Hanya dengan menggunakan sistematika Kondisi Umum Kalteng 2013 dan 2014 yang ditampilkan Harian Tabengan, barangkali bisa dilukiskan secara singkat. Pertumbuhan ekonom 7,37% dalam tahun 2013, 6,21% tahun 2014. Pertanyaannya terdapat pada soal bahwa pertumbuhan dan redistribusi pendapatan tidaklah sama. Ketidaksamaan ini berwujud kesenjangan antara kaya dan miskin yang kian besar. Sedangkan kalau berbicara soal tumbuhnya kelas menengah, kelas menengah Kalteng adalah kelas menengah yang lepas dari proses berproduksi, tapi tumbuh berdasarkan birokrasi alias penyalahgunaan kekuasaan. Pertumbuhan bisa saja terjadi tapi pertumbuhan tanpa keadilan. Dasar teori yang digunakan BPS dan Teras nampaknya masih bertipe Rostowien yang dikritik oleh banyak ekonom dan pernah digunakan oleh Orba Soeharto.
IPM tahun 2013 dan 2014 menempati ranking 7 Nasional. Apabila nilai, ijazah dan skripsi bisa dibeli dengan harga bervariasi, apakah IPM ini sesuai kenyataan. Belum lagi jika kita melihat dana pendidikan dalam APBD yang oleh penyelenggara Negara dipersulit untuk mengaksesnya. Saya bisa berbicara rinci tentang hal ini karena saya pernah menjadi guru di universitas Kalteng. Di tengah riuh suara tentang pendidikan gratis, pendidikan masih menjadi komoditas mahal. Kemiskinan di Kalteng pada tahun 2013 6,23% dan 6,07% pada tahun 2014 dari jumlah penduduk 2,5 juta. Sedangkan berita Harian Tabengan yang saya tunjukkan di atas mengatakan “kategori masyarakat miskin belum jelas”. Angka garis kemiskinan BPS, seperti halnya dengan upah minimum provinsi atau kabupaten, sebenarnya jumlah yang tidak memungkinkan orang hidup layak sebagai manusia. Kesehatan/harapan hidup yang mencapai 73,2 tahun masih perlu dipertanakan akurasinya. Sementara angka kematian bayi dan ibu melahirkan sebenarnya cukup tinggi. Infrastruktur memang mengurangi keterisolisasian walau pun dari segi kualitas masih jauh dari harapan. Berkurangnya keterisolasian adalah mimpi lama para pendiri provinsi Kalteng (Mahir Mahar, Tjilik Riwut dan G.Obos. Sabran Achmad tidak termasuk sebagai pendiri provinsi Kalteng!). Syarat untuk mengurangi keterisolasian pada masa Teras-Diran jauh lebih tersedia dibandingkan masa-masa sebelumnya. Sehingga tidak bisa disebut sebagai prestasi luar biasa.
Di hadapan yang disebut “Kalteng semakin maju” (Harian Tabengan, 23 Mei 2015), saya melihat Dayak di akar rumput semakin terdesak ke belakang. Sedangkan yang di tengah dan di atas, terjangkit penyakit hedonisme dan pola pikir serta mentalitas instanisme yang egoistik. Kerusakan ini pun mendera kelembagaan adat dan pemangku adat. Atas dan bawah sama rusaknya.
Yang menjadi pertanyaan saya: Apakah keterbelakangan dan ketertinggalan ini bukan disengajai dan disistematikkan agar gampang menguras sumber daya alam Kalteng? Artinya bukan keterbelakangan dan ketertinggalan ini bukan kebetulan, tapi disistematikkan. Diciptakan. Dibuat. Sedangkan politik keluarga berencana pukul rata, bentuk dari peminggiran (dalam arti jumlah) terhadap etnik-etnik minoritas termasuk Dayak. Yang minoritas makin minoritas, yang mayoritas makin mayoritas.
Penanggungjawab ketertinggalan dan keterbelakangan ini adalah elite kekuasaan, termasuk elite Dayak yang ada di kekuasaan. Politik Kalteng Harati, Kalteng Balawa, Kalteng Bésuh, Kalteng Barigas, boleh dikatakan tidak ada yang berhasil. Teras menjadi jenderal tanpa prajurit, banyak perwira minim berkapasitas. Sekali pun belum terwujud, mimpi Teras memang niscaya dikenang. Mimpi itu adalah juga mimpi dan aspirasi para pendahulu seperti misalnya Hausmann Baboe, bapak kebangkitan Dayak yang dilupakan. Semua patut dicatat, semua dapat tempat, ujar penyair Chairil Anwar.
Dalam keadaan begini, saya masih menaruh harapan pada kebangkitan kembali kelembagaan adat dan para pemangku adat tapi kelembagaan adat dan para pemangku adat yang sehat, baik sebagai organisator maupun sebagai pemikir. Pemikir artinya mencari dan menunjukkan jalan. Organisator adalah membangun kekuatan pelaksana sadar. Organisasi yang saya maksud tidak lain dari organisasi Dayak kekinian yang mengakar pada budaya, bukan berangkat dari kepentingan hedonistik. Hal ini mungkin, jika kelembagaan adat dan pemangku adat membersihkan diri dari rupa-rupa “daki” pikiran dan mental koruptif. Pertama-tama memeriksa diri dan tidak menyalah-nyalahkan orang lain sebagai penyebab yang utama. Faktor intern lebih mempunyai peran menentukan daripada faktor luar. Tapi justru pada faktor internal inilah kelembagaan dan barisan pemangku adat terdapat kelemahan sangat serius. Padahal penyelamatan sesungguhnya Dayak hanya bisa dilakukan oleh orang Dayak sendiri. Yang sekarang terjadi, Dayak merusak Dayak. Dayak hedonistik masih sangat dominan. []
SITI NURBAYA: STOP IZIN PERTAMBANGAN BATUBARA!

Radar Sampit, Jakarta, 7 Juni 2015. Pemerintah Jokowi melalui Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya memastikan di masa depan, tidak akan mengeluarkan ijzin-izin baru lagi bagi pertambangan batubara. Kepastian ini dinyatakan oleh Menteri Siti Nurbaya di Jakarta 31 Mei 2015 dalam Forum Senator Untuk Rakyat yang membahasa masalah kehutanan dan lingkungan hidup.
“Tidak ada izin baru lagi untuk perusahaan batubara karena mereka tidak melakukan reklamasi dengan baik dan melanggar aturan. Sudah terlalu banyak korban yang jatuh akibat perusahaan eksplorasi batubara,” tegas Siti Nurbaya dalam Forum tersebut yang diselenggarakan menjelang Hari Lingkungan Hidup 5 Juni lalu. Kepastian kebijakan demikian diambil demi menjaga sumber daya alam yang sekarang sudah demikian rusak dan harus ditata ulang, ujar Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup. “Menjaga sumber daya alam membutuhkan tehnologi dan modal yang kuat dari negara. Namun yang terpenting melibatkan masyarakat” tegas Siti Nurbaya.
Yang berlaku sekarang di negeri kita, menurut Menteri adalah “hanya yang kuat yang menang, kedaulatan rakyat terabaikan. Bagaimana kedaulatan bisa kita jalankan kalau rakyat tidak sejahtera, ketika sumber daya alam kita tidak terjaga?”, tandasnya.
Sedangkan Ketua Komite II DPDRI Parlindungan Purba yang juga hadir dalam Forum Senator untuk Rakyat, memandang bahwa saat ini yang krusial adalah nilai-nilai lingkungan yang belum menjadi life style di masyarakat.
Pengrusakan lingkungan masih terjadi dimana-mana. Kita harus sosialisasikan pentingnya alam menyokong keberlangsungan hidup kita,” bebernya. Parlindungan juga setuju dengan Chalid Muhammad ketua LSM Hima yang mengatakan bahwa kondisi lingkungan hidup di Indonesia tidak menunjukkan ke arah yang lebih baik bahkan makin kritis karena adanya penghancuran secara terpimpin yang terjadi lewat instrumen perizinan, lemahnya hukum, dan keberpihakan yang rendah pada masyarakat.
“Alam ini makin kritis, jika bukan kita yang merawatnya maka kita hanya akan tunggu saja kehancurannya,” ujar Ketua Komite II DPD-RI itu. (ask-1-0615)

supian ttd
Pada 13 April 2015 di sebuah desa transmigran kecamatan Parenggean Bupati Kotawaringin Timur Supian Hadi sedang turut menandatatangani Surat Perjanjian Kerjasama Penambangan Batubara Antara PT.Wahyu Murti Garuda Kencana Dengan Koperasi Unit Desa (KUD) Sumber Alam disaksikan oleh Wakil Bupati Taufiq Mukri dan pihak tambang. Apakah tindakan orang pertama Kotim ini sesuai hukum seperti yang dikatakannya baru-baru ini? Apakah tindakan ini sesuai dengan Ketetapan Gubernur Kalteng tentang Moratorium Izin dan apakah juga sesuai dengan kebijakan dan komitmen pemerintah Jokowi? (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, April 2015)

MORATORIUM IZIN DI 7 KABUPATEN KALTENG
MASIH BELUM DICABUT

Palangkaraya, Radar Sampit, 7 Juni 2015- Tahun 2012 Gubernur Kalimantan Tengah, A. Teras Narang, SH, telah mengeluarkan ketetapan tentang Moratorium penerbitan izin untuk pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan perhubungan diterapkan di tujuh kabupaten di Kalimantan Tengah. Kebijakan diberlakukan menyusul semakin banyaknya keluhan masyarakat dan indikasi pelanggaran hukum.
Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Achmad Diran di Palangkaraya, Kalteng, Jumat (21/9/12), mengatakan, moratorium diberlakukan di Kabupaten Barito Selatan, Barito Timur, Murung Raya, Kotawaringin Timur, Seruyan, Kapuas, dan Pulang Pisau. Pemerintah Provinsi Kalteng telah mengirimkan surat kepada para kepala daerah tersebut.
Berdasarkan data Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2010, terdapat tujuh perusahaan swasta di Kalteng yang diduga merugikan negara Rp 111,3 miliar dan 453.000 dollar AS.
Nilai itu baru disebabkan dana reboisasi dan iuran hasil hutan tidak dibayar. Belum termasuk soal izin pelepasan kawasan hutan (IPKH) dan izin pinjam pakai kawasan hutan (IPPKH).
Selain materi, kerugian lain yang ditimbulkan adalah kerusakan ekologi. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalteng mencatat, pada tahun 2010, terdapat 141 perusahaan perkebunan sawit yang sudah melakukan operasional dalam kawasan hutan seluas 718.295 hektar dan merugikan negara Rp 18,21 triliun dan 789.000 dollar AS.
Diran mengatakan, kebijakan serupa bisa juga dilakukan di enam kabupaten lainnya di Kalteng jika indikasi pelanggaran hukum juga meningkat di daerah tersebut.
Gubernur Kalteng Teras Narang mengatakan, pihaknya menegaskan agar menghentikan untuk sementara waktu atau moratorium terhadap penerbitan izin untuk pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan perhubungan. Izin sektor perhubungan yang dimaksud adalah pelabuhan atau terminal khusus. Dalam sektor kehutanan, moratorium juga diberlakukan untuk koridor atau jalan khusus yang dibangun perusahaan.
”Moratorium dilakukan sehubungan dengan kian banyaknya komplain masyarakat dan dugaan pelanggaran peraturan terhadap investasi, khususnya di tujuh kabupaten,” ujarnya.
Pemprov Kalteng juga meminta pemerintah kabupaten tersebut untuk melakukan audit terhadap semua perizinan.
”Baik untuk pertambangan, perkebunan, kehutanan, maupun perhubungan. Diperiksa dulu apakah sudah mematuhi aturan yang berlaku atau tidak,” katanya. Peraturan yang dimaksud, antara lain, Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara, UU Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan, UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, serta UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Teras meminta semua pemkab yang bersangkutan menyampaikan hasilnya dalam waktu tidak terlalu lama dengan tembusan disampaikan kepada menteri-menteri terkait. Pemprov Kalteng tidak akan memberikan rekomendasi atau menerapkan moratorium terhadap bidang pertambangan, perkebunan, kehutanan, perhubungan di tujuh kabupaten sampai dilaporkannya hasil audit tersebut.(ask-02-0625)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 69 other followers