Archive for the ‘Dayak’ Tag

RITUAL ADAT DAYAK PASER DIKRIMINALISASIKAN. POLISI ANGGAP RITUAL ADAT DAYAK SEBAGAI KEJAHATAN

“Polisi Anggap Ritual Adat Dayak Kejahatan”

Sumber:  Gaung AMAN Online . Jaringan Berita Masyarakat Adat

Sidang Kideco Perkarakan Ritual Adat Belian Paser

Norhayati menghadirkan 8 orang saksi dalam persidangan Pengadilan Negeri Tanah Grogot, Kabupaten Paser

 

Erika saksi Ahli u/ Norhayati

Paser 30/03/2015 –Erika sebagai saksi ahli dalam persingan terkait tuntutan UU 162 yang ditujukan kepada Norhayati menyatakan, “ menurut kami UU minerba 162 ini sifatnya tidak serta merta harus dengan kajian dan beraspek perdata karena perlu ada pembuktian hak secara perdata. Jadi harus melihat fakta di lapangan yang merupakan pembuktian penuntut umum. Apakah obyek dan subyek dalam hal ini sudak cukup, kegiatan menghalang-halangi harus diperjelas bentuknya apakah menggunakan parang, mandau dan senjata tajam lainnya atau ritual adat belian seperti dimaksud dalam persidangan ini.

“Perlu ada kajian yang sangat komprehensif, karena karena melibatkan hukum-hukum yang memperbolehkan dan diterima sebagai hukum adat,” papar Erika akademisi bidang hukum agraria, hukum kontrak, hukum adat dayak dan hukum pertambangan minerba.

Kesaksian lain juga penegasan secara hukum adat oleh Elisason Kepala Adat Besar Dayak Kaltim, “secara adat ritual belian yang dilakukan oleh Norhayati disebut melas hutan yang bertujuan merevitalisasi hutam yang sudah rusak dan itu diakui secara adat. Sedangkan kalau terjadi kriminalisasi terhadap Norhayati karena melakukan ritual adat, saya malah mempertanyakan kembali. Negara ini mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat adat termasuk hak-hak tradisionalnya termasuk melakukan ritual adat. Kemudian Kideco mengkriminalisi Norhayati menggunakan alat-alat negara, apa urusan kideco mempengaruhi Norhayati dengan menggunakan alat Negara?,” papar Elisason

Berita Komunitas

 

 

 

 

 

 

Sidang kriminalisasi ritual

Tidak ada alasan kriminalisasi terhadap Norhayati karena dia tidak melakukan ritual adat di tempat orang lain, tapi di tanahnya sendiri, tempat leluhur turun – temurun hingga ke zaman dia. Saya justru mengganggap tambang yang mengganggu Norhayati, karena dari dokumen yang saya lihat. Kideco mengakui hak-hak Norhayati, ini bisa dilihat dari beberapa negosiasi harga. Tapi tidak pernah ditemukan harga yang cocok karena terlalu rendah.
Tapi sebelum proses bernegosiasi selesai perusahaan malah melakukan penggalian dan merusak lahan. Namun ketika Norhayati mengenali tanahnya sebagai hak yang belum dilepas, malah dikriminalisasi. Harusnya Kideco yang dikriminalisasi, karena datang dari luar dan merusak lahan hak Norhayati, jadi jangan terbalik kita berfikir,” pungkas Elisason****Tim Infokom AMAN Kaltim/ Hairudin Alexander

Sidang belum menghasilkan keputusan, akan dilanjutkan sidang mendengarkan tuntutan jaksa, berlangsung pada 07 April 2014

Sidang Kriminalisasi Ritual Adat Paser

Kideco Hadirkan Saksi Ahli, Tapi Diragukan

saksi ahli disumpah

Paser 24/3/2015 – Pada sidang kriminalisasi Ritual Adat Paser 23 Maret 2015 lalu PT Kideco kembali menghadirkan dua orang saksi ahli dari Badan Pertanahan Provinsi dan Dinas Pertambangan Provinsi yaitu Safaat dan Arifin di Pengadilan Negeri Tanah Grogot, Paser (23/3/ 2015) lalu.

Kedua saksi tersebut mengaku merupakan saksi ahli, tetapi tidak memiliki surat tugas dan cenderung memberikan kesaksian secara perdata padahal proses yang berlangsung merupakan persidangan pidana.

Norhayati sebagai terdawa dalam kasus kriminalisasi Ritual Adat Belian Paser ini mengatakan sudah melayangkan keberatan atas kesaksian yang bersifat perdata. Nenurut Norhayati, kedua saksi ini merupakan saksi ahli tapi tidak ahli “Saksi menyatakan bahwa Kideco telah memenuhi seluruh persyaratan dari pemerintah, tapi ternyata dalam perkembangannya tidak ada,” papar Norhayati

Ketika ditanya apakah mereka tahu ada tanah yang belum dibayar oleh Kideco, mereka jawab tahu. Menurut saya kedua saksi ahli ini merupakan saksi jadi – jadian. Sebagai saksi ahli mereka tidak mengerti arti dari pasal 135 dan 136 yang terdapat pada UU No. 4 Minerba. Saksi ahli perusahaan ini harus belajar lagi karena dalam UU Minerba jelas disebutkan bagi mereka yang mengeksplorasi harus mendapat persetujuan. Akan tetapi menurut saksi dan jaksa, apabila pemerintah telah membayar kewajibanya untuk mendapat izin pinjam pakai dengan PKT2B itu sudah selesai melaksanakan kewajiban dan tidak perlu lagi membayar kepada masyarakat.

Dari pernyataan tersebut jelas kedua saksi merupakan saksi jadi – jadian karena tidak ada satupun undang -undang yang menyebut bahwan apabila perusahaan telah membayar kepada pemerintah maka tidak perlu lagi membayar kepada pemilik hak atas tanah. Padahal Pada UU 135 dan 136 minerba sudah jelas, artinya walaupun perusahaan ini mendapat izin usaha dari Tuhan-pun dia tetap harus melaksanakan sesuai pasal tersebut,” cetus Norhayati ***Haerudin Alexander

 

 

Warga Adat Paser Nekat Duduki Kantor PT Kideco

Paser 18 Februari 2015 – Ratusan warga masyarakat adat Paser yang berhimpun dari berbagai organisasi seperti Paser Bekeray dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), sejak pagi mengepung Pengadilan Negeri Kabupaten Paser, Tana Grogot. Pengepungan massa terkait dengan dilaksanakannya sidang lanjutan antara warga ahli waris pemilik lahan di Desa Songka, Kecamatan Batu Sopang melawan Perusahaan tambang batubara asal Korea, PT. Kideco Jaya Agung (KJA).

Sidang sudah berlangsung dijalankan sejak november 2014 lalu, dalam agenda mendengar tanggapan jaksa penuntut umum atas eksepsi tergugat kasus pidana yang dituduhkan kepada Dra. Norhayati, MT. Perempuan berumur 58 tahun tersebut sebelumnya didakwa dengan pasal 162 UU Minerba No. 4 tahun 2009 yang menganggap Norhayati beserta para ahli waris dan masyarakat adat Paser yang menyelenggarakan Upacara Adat Balian Paser sebagai upaya merintangi atau mengganggu kegiatan usaha pertambangan PT. Kideco Jaya Agung.

Kasus yang bermula pada tahun 2009, saat warga memprotes perampasan lahan seluas 598 Ha yang dilakukan oleh PT. Kideco Jaya Agung ini, mendapat penjagaan ketat aparat kepolisian Resort Kabupaten Paser. Sedikitnya 70 orang personil berikut pasukan bersenjata nampak berbaris di depan Pengadilan Negeri Tahan Grogot Kab. Paser sejak persidangan dimulai pukul 10.00 pagi waktu setempat.

“Sebelum kriminalisasi yang dilakukan Kideco Jaya Agung pada diri saya, Kideco Jaya Agung juga menggugat keabsahan kepemilikan lahan secara perdata. Namun putusan hakim menolak gugatan mereka dan menerima sebagian eksepsi saya pada 30 mei 2013 melalui putusan nomor 23/Pdt.G/2012/PN.TG,” ujar Norhayati menjelaskan.

 

https://i0.wp.com/gaung.aman.or.id/wp-content/uploads/2015/02/MA_Paser_meradang-Kideco.jpg

Polisi Anggap Ritual Adat KejahatanWarga Adat Paser Meradang

Siap-siap menembak siapa, Tuan? Senapan tidak pernah menakutkan Dayak dan tidak pernah menyelesaikan persoalan agraria (Tambahan komentar dari KS)

 

Tak habis di ruang persidangan, warga melanjutkan protesnya dengan mendatangi dan menduduki kantor besar PT. Kideco Jaya Agung selama 11 jam terhitung sejak pukul 13.00. Ratusan warga masyarakat adat yang menggunakan pakaian adat pontun, mandau, dan atribut adat lainnya nampak menduduki mulai dari teras hingga ruang pertemuan.Desakan warga agar pimpinan PT. Kideco Jaya Agung menemui mereka baru terwujud setelah aksi sweeping berlangsung hingga pukul 5 sore.

Sejumlah tuntutan warga yang disampaikan antara lain, mendesak pencabutan gugatan dan laporan yang ditujukan Kideco Jaya Agung kepada warga masyarakat adat Paser karena melakukan ritual adat Balian. Selain itu warga juga mendesak pimpinan Kideco untuk dibawa ke persidangan adat yang akan dilaksanakan 23 februari 2015 mendatang.
Ketegangan sempat berlangsung karena pimpinan Kideco Jaya Agung, Mr. Lee Seung Yeon, tak kunjung mau menyepakati perjanjian dan dianggap mengulur-ulur waktu.

Warga baru bubarkan diri saat akhirnya perundingan berlangsung yang difasilitasi Kapolres Kabupaten Paser dan Kapolsek Batu Sopang atas persetujuan Lee Seung Yeon dan diakhiri dengan penandatanganan kesepakatan.
Menurut Arsihan Bahriadi, salah seorang anggota Dewan Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kaltim, Pasal 162 UU Minerba tersebut merupakan pasal yang berpotensi dan kerap digunakan untuk mengkriminalisasi warga. Sebaliknya, menurut Pria asli Paser ini, perusahaan sesungguhnya sudah melanggar sejumlah Undang-undang, mulai dari Pasal 6 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Pasal 135 dan 136 UU Minerba No. 4 Tahun 2009, bahwa setiap perusahaan tambang harus menyelesaikan hak atas tanah sebelum melakukan kegiatan tambang. “Parahnya lagi tindakan Kideco telah menghina masyarakat adat karena telah memvonis upacara adat Balian Paser sebagai kejahatan. Sudah seharusnya masyarakat adat marah,” pungkas Arsihan Bahriadi****Ade

 

 

https://i2.wp.com/gaung.aman.or.id/wp-content/uploads/2015/02/Paser-Bekerai.png

 

Paser Bekerai Akan Laksanakan Ritual Adat Melas Taun

 

 

 

https://i1.wp.com/gaung.aman.or.id/wp-content/uploads/2015/02/ritual-mayar-melas-taun_paser.jpg

Ritual Belian yang dikriminalisasikan

Paser 12/02/2015 – PD AMAN Paser bersama Pengurus Pusat Penggerak Paser Bekerai kembali meramaikan Tana’ Paser, Kalimantan Timur. Agak berbeda dengan kegiatan aksi sebelumnya, kali ini Paser Bekerai akan melaksanakan Ritual Adat Melas Taun dengan maksud untuk menuaikan hajat (Mayar Niat) dimana sebelum aksi tanggal 29 Desember 2014 dan Rapat Besar Adat Paser tanggal 14 januari 2015 bersepakat melakukan ritual adat jika tuntutan masyarakat adat Paser dipenuhi oleh pemerintah Kabupaten Paser.

Ritual Melas Taun ini bertujuan untuk membersihkan kampung dari bala mara bahaya dengan ritual adat Belian dan Selamatan. Demi terwujudnya kampung Tana’ Paser yang aman, damai, tentram dan sejahtera. Rencana Ritual Adat Melas Taun ini akan dilaksanakan pada tanggal 27 s/d 29 Maret 2015 di Tepian Batang Kilometer 5, Kecamatan Tanah Grogot, Kalimantan Timur.

Rencananya Ritual Melas Taun ini akan dihadiri oleh para Tokoh-tokoh adat yang ada di Kalimantan. “Kita akan undang mereka untuk menyaksikan ritual adat ini, dan Paser Bekerai berharap ini akan mendapat perhatian dalam skala nasional, karena ini merupakan ritual besar yang melibatkan para tokoh adat dari penjuru adat di Tana’ Paser,” papar Syukran Amin Pengurus Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) dan Koordinator Utama Paser Bekerai***

MUSYAWARAH KEBUDAYAAN DAYAK TABALONG

MUSYAWARAH KEBUDAYAAN DAYAK TABALONG

Beberapa peserta Musyawarah Budaya Dayak Tabalong, Nov.2014 (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Kusni Sulang, 2014)

Beberapa peserta Musyawarah Budaya Dayak Tabalong, Nov.2014 (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Kusni Sulang, 2014)

Kota Tanjung November 2014 (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Kusni Sulang, 2014)

Kota Tanjung November 2014 (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Kusni Sulang, 2014)

Para  pemuka masyarakat adat Day ak Tabalong yang mengikuti Musyawarah Budaya Dayak di Tanjung, ibukota kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan (Foto. Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Kusni Sulang, 2014)

Para pemuka masyarakat adat Day ak Tabalong yang mengikuti Musyawarah Budaya Dayak di Tanjung, ibukota kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan (Foto. Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Kusni Sulang, 2014)

 

LESEHAN MENGIKUTI MALAM PUISI DI PALANGKA RAYA

LESEHAN MENGIKUTI MALAM PUISI DI PALANGKA RAYA

Dinas Kebudayaan tak perduli.

Para penonton menyaksikan pertunjukan dengan lesehan karena penyelenggara ketiadaan dana. (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015)

Para penonton menyaksikan pertunjukan dengan lesehan karena penyelenggara ketiadaan dana. (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015)

 

 

 

 

 

Siti Nafsiah penyair kelahiran Sampit sedang membacakan sajaknya di malam kesenian yang diselenggarakan oleh beberapa sanggar di Palangka Raya (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015

Siti Nafsiah penyair kelahiran Sampit sedang membacakan sajaknya di malam kesenian yang diselenggarakan oleh beberapa sanggar di Palangka Raya (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015

BEBERAPA ADEGAN SANDRA TARI MIHING MANASA

BEBERAPA ADEGAN SANDRA TARI MIHING MANASA

IMG_9971

Beberapa adegan sandra tari Mihing Manasa yang diangkat dari cerita rakyat Dayak Kalteng dan dipentaskan oleh Dinas Kebudayaan Prov. Kalteng 28 Marer 2015 di halaman Museum Balanga, Jln. Tjilik Riwut Km 2,5 Palangka Raya (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015)

Beberapa adegan sandra tari Mihing Manasa yang diangkat dari cerita rakyat Dayak Kalteng dan dipentaskan oleh Dinas Kebudayaan Prov. Kalteng 28 Marer 2015 di halaman Museum Balanga, Jln. Tjilik Riwut Km 2,5 Palangka Raya (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015)

SASTRAWATI DAYAK KADAZAN SABAH

ESOK TIDAK MUNGKIN MANGKIR

Esok bermula lembar baru
Kita tutup ceritra sejarah
Esok mungkin mengubah segalanya
Kesetian ? Siapa tahu
Penghormatan? Mungkin juga
Ketabahan? Barangkali
Kerumitan hidup? Tiada disangkal
Apapun esok tiada siapa boleh menghalang
Ia hadir tak mungkinkan mangkir
Apapun hanya masa menentukan
Apa yang akan berubah…

Kota.kinabali / 31-03-2015

Tangis Buliga

Mengimbau sejarah

Di sepanjang lorong bebatuan kaku

yang terbina bersalut kekejaman

ketakutan dan cinta kasih

aku melangkah dibuai kepiluan

sesekali kain selendang sutera merah

berkibar mengilas riak wajahmu

tersenyum dengan lakaran cinta

membuat aku teringat

janji yang kau titip bersama airmata

akan tetap menyayang dan menyintaiku

bersaksikan bebatuan Nabalu

kerana cinta kau lupa darjatmu

Bahteramu belayar

meninggalkan kehijauan hutan dan kristal Nabalu

bersama gemala dari Naga Nabalu

Antara perintah dan kuasa

Antara cinta dan tanggung jawab

kau pergi meninggalkan satu janji

akan kembali membawa bahagia

Ketika Gemala Naga jadi rebutan

dan kau kalah kerana patuh

Cintamu lenyap bersamanya

kau lupa pada satu simpulan ikatan

padaku yang setia dipergunungan

Tangisku menjadi mutiara kasih

dan bahteramu tidak pernah singgah

Dan aku tetap menunggu

cinta dan kasihku tetap untukmu

setiaku kental biar sampai Naga Nabalu

bernyawa kembali

menuntut gemala keramatnya

yang dirampas sekejamnya

Aku datang membawa rindu

Menagih janji

Dan ditembok besar aku berseru

menangisi takdir

mengapa dimungkiri

Satu ikatan kasih

Yang setia membatu

Hingga hujung nyawa

Limbas sutera merah berbunga gingko

menyedarkan aku

yang berdiri di tanah besarmu

menagih janji

namun hanya kedinginan dan usapan angin

yang cuma ada pepohon mengering

daun daun berguguran

berbisik padaku

kembalilah ke Nabalu

antara aku dan kau

bagai langit dan bumi

tidak akan bersatu

kecuali kiamat

 

Tangisku

tangis buliga

buliga yang kau rampas dari nagaku

nagaku berkubur sedih dan hampa

dipergunungan Nabalu

kasih dan cintamu

kau kubur di tembok kaku ini

bakal bertemukah kita

bila langit bertemu bumi?

Namun…

aku tetap setia melihat dari pergunungan

hingga kiamat tidak akan berganjak

setiaku seperti bebatuan Nabalu

tetap segar suci dan menghijau

walauku tahu cintamu

kaku dan mati

Seperti batu di tembok besarmu.

Great Wall Beijing, China – 30 November 2013

 

DAYAK SABAH

 BORNEO HORNBILL FESTIVAL DI SABAH
'Borneo Ethnic Beauties alert ! Last chance to be our Cultural Ambassadors of your ethnic pride category. It's our final audition.<br /><br /><br />
Date: 4th April 2015<br /><br /><br />
Time: 2.15pm (Saturday)<br /><br /><br />
Place: Pusat Pelancongan Malaysia, Jalan Ampang, KL<br /><br /><br />
Everything you need to know about the audition is at <a href=http://www.borneohornbillfestival.com</p><br />
<p>Photo credit: @[100001108192886:2048:George Pansiol], @[445420242134796:274:Magic Shutter Photography]'" width="470" height="314" />

Borneo Ethnic Beauties alert ! Last chance to be our Cultural Ambassadors of your ethnic pride category. It’s our final audition.Date: 4th April 2015 Time: 2.1…(Dari facebook sastrawan Sabah dari Dayak Kadazan Ony Latifah, 2015)

 

Tetua Dayak Kadazan Sabah menari dengan sepenuh hati. Berikut komentar fotografernya:

 
“kalu yang boliou2 sumundai bodiri aku punya bulu2 roma nampak morika sumundai. penuh penghayatan dan sumundai penuh samangat.Kalau yang muda2 sumundai cuma mokirayou dan mengada-ngada sumundai.kasi guyang2 pantat sambil katawa2 saja”.
— with Laini Masampon

HARGA MATI! DPRD PROVINSI SETUJUI PROGRAM ‘DAYAK MISIK’

 

HARGA MATI! DPRD PROVINSI SETUJUI PROGRAM ‘DAYAK MISIK’.

.
KETUA DAD- Sabran Achmad memberikan keterangan pers dirumahnya, Minggu (18/1/2015). GK/SOGI
Palangka Raya, GK- Perjuangan Kelompok Tani Dayak Misik (KTDM) untuk mendapat lahan seluas 5 hektar per kepala keluarga (KK) bagi penduduk asli agar dimasukan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) sudah mendapat lampu hijau dari Presiden Joko Widodo. Namun belakangan perjuangan berat itu malah mendapat hambatan dari kalangan DPRD Provinsi Kalimantan Tengah.

Ketua Dewan Adat Dayak (DAD), Sabran Achmad kepada Gerak Kalteng menuturkan, mendapatkan informasi ada sejumlah anggota dewan yang tak setuju dengan usulan KTDM itu. “Masih terjadi pembahasan yang cukup rumit di DPRD Provinsi,” ungkapnya, Minggu (18/1/2015) ditemui dirumahnya.

Hal ini pun sangat dikeluhkan Sabran karena bertolakbelakang dengan tugas anggota dewan yang semestinya berjuang untuk membela kepentingan Rakyat. “Harusnya inilah saatnya bagi anggota DPR untuk menepati janjinya saat berkampanye dulu,” tuturnya didampingi 6 orang perwakilan tokoh Dayak.

Dalam kesempatan itu Sabran menjelaskan, di era ekonomi kapitalisme berkuasa seperti saat ini, suku Dayak sebagai pemilik tanah dan air sering tersingkirkan. Dalam banyak kasus bahkan orang Dayak tuturnya, sering kali menjadi tamu di rumah sendiri.

Dimasukannya lahan tani seluas 5 hektar per kepala keluarga di dalam RTRWP itu bukanlah sebuah hal yang sulit dan bukan permintaan yang berlebihan. Dalam hal ini tuturnya, masyarakat Dayak hanya minta agar bisa mengelola tanahnya sendiri.

“Pemerintah telah membuat program transmigrasi, semuanya ditanggung sampai dengan kebutuhan pangan. Nah ‘Dayak Misik’ hanya minta tanah 5 hektar per KK dan diberikan sertifikat gratis, itu saja,” kata Sabran belum lama ini. sog

Sumber: http://www.gerakkalteng.com/2015/01/harga-mati-dprd-provinsi-setujui.html#sthash.jSsWnyw6.dpuf

MENEMUKAN EMAS HITAM YANG WANGI DI SUNGAI UTIK

Menemukan Emas Hitam Yang Wangi di Sungai Utik

sui utik20150125_0107 thumb

10.02.2015 
 
 
Kamis sore itu kami bertiga, saya, Annisa dan Rifky dari Green Indonesia tiba di rumah betang Sungai Utik disambut dengan teriakan anak-anak yang begitu lantang. “Oom yopiee..om yopieee dataaang,” anak-anak itu berlari menghampiri dan melihat dari pinggir pagar pelataran rumah betang. Sungguh suatu suasana yang membuat rindu dan selalu ingin kembali ke tempat ini.
 
Setelah naik tangga dan menyapa sebagian penghuni rumah betang ini kami diajak ngobrol di salah satu pelataran bilik milik Apay Janggut, di sela obrolan hangat tentang keadaan Sungai Utik itulah Rifky mengeluarkan perlengkapan grinder dan segenggam biji kopi yang sudah di gongseng. Ia mulai menggerusnya untuk menikmati minum kopi di sore hari. Pemandangan ini mengundang perhatian beberapa orang penghuni rumah betang yang ikut ngobrol bersama kami.
 
Mereka seksama mengamati Rifky yang menggiling kopi, menghirup wanginya yang mulai tercium, dan sontak obrolan kami beralih dari cerita tentang kondisi Sungai Utik terkini menjadi tentang kopi. “Di ladang saya juga masih ada tumbuh beberapa pohon kopi hingga sekarang”, ujar Apay Janggut. “Dulu disni kami minum kopi dari hasil olahan sendiri kok, tetapi karena mengolahnya sedikit rumit jadi sudah tidak diolah lagi sekarang”, lanjut Apay Janggut. “Di ladang saya juga masih ada pohon kopi” kata mama Bayu menambahkan, “tetapi sekarang gak pernah terurus lagi pohon kopinya,” demikian lanjutnya. Kami bertiga, saling melirik dan dalam hati saya berkata “Pucuk dicinta Ulam pun Tiba”, ternyata sungguh luar biasa daerah Sungai Utik ini, segala macam kebutuhan hidup yang penting ada dan tumbuh disini.
sui utik20150125_0117

Tiga pemuda Sungai Utik sedang memetik buah kopi yang sudah memerah di Kebun milik Apay Janggut. Foto oleh Rifky.
Kamipun merayu “Pay bolehkan kami besok lihat kebun kopinya, siapa tau banyak yang masak dan berwarna merah, nanti bisa kita coba panen dan olah,” tanya Rifky kepada Apay Janggut. Rifky ini adalah fotografer, aktifis pelindung burung Elang, dan pencinta kopi yang fanatik di kantor INFIS dan GreenIndonesia. Ia barista amatir kami di kantor. Sugguh berbahagia ketika Apay Janggut dengan semangat membolehkan dan mengiyakan ajakan tersebut.
 
Tetapi esok harinya sekitar pukul 15.00 sore kami justru diajak oleh Apay Saleem untuk melihat beberapa pohon kopi yang ada di ladang beliau. Dengan berjalan sekitar 20 menit ke arah hulu sungai, kami sudah tiba di ladang milik beliau yang sangat rimbun, lebih layak disebut Hutan dikarenakan sudah banyak tumbuh pohon-pohon yang tinggi. Ketika kami tiba di pinggiran sungai baru terlihat beberapa pohon kopi yang menjulang tinggi dan tidak terurus. Kamipun sibuk mencari buah kopi yang berwarna merah untuk dipanen, memang tidak banyak pohon kopi yang berbuah di ladang Apay Saleem ini, tapi akhirnya kami tetap membawa hasil buah kopi yang masak walaupun sedikit. Setibanya di rumah betang langsung saya bersihkan dan kupas dari kulitnya agar bisa di jemur esok hari dengan rasa penasaran akan rasa kopi dari daerah ini.
 
Di malam hari kami berdiskusi dengan Apay Remang, Kepala Desa Batu Lintang Kecamatan Embaloh Hulu Kabupaten Kapuas Hulu, yang tinggal di Rumah Betang Sungai Utik ini. Kami menyampaikan apa yang kami lakukan sore hari berkaitan dengan kopi tersebut. Apay Remang pun menceritakan hal yang sama seperti Apay Janggut “Dahulu para orang tua kami memang mengolah biji kopi untuk kebutuhan sendiri disini, tapi seiring berjalannya waktu dan jaman dikarenakan agak sulit mengolahnya, lambat laut kopi kami sendiri mulai ditinggalkan. Orang terbuai oleh kemudahan kopi bubuk di warung yang sudah tersedia.” Kami duduk mendengarkannya, lalu saya sedikit bercerita tentang kopi kepada beliau, “Kopi bubuk yang ada di pasaran itu sepengetahuan saya kebanyakan sudah dicampur dengan beberapa bahan seperti jagung dan beras hingga tidak murni lagi. Makanya rasa dan aroma kopi tersebut sudah tidak seharum dan senikmat dulu lagi, malah terkadang untuk beberapa orang, mengkonsumsinya bisa mengakibatkan mual dan gejala penyakit maag.” Sayapun melanjutkan cerita tentang tempat-tempat yang terus memelihara dan mengolah kopinya dengan baik, mampu mengembangkan pendapatan dari kopi yang enak dan dicari oleh penikmat kopi yang terus bertambah jumlahnya. “Alangkah asyik jika para pengunjung rumah betang Sungai Utik kelak menikmati wanginya keharuman kopi asli dari ladang-ladang yang ada di sini.” Ungkapku berandai-andai. Apay Remang mendengarkan dengan serius dan menggangguk-anggukkan kepalanya.
Muling, seorang pemuda Sungai Utik dengan semangatnya memetik buah kopi yang sudah merah. Foto oleh Rifky.

Muling, seorang pemuda Sungai Utik dengan semangatnya memetik buah kopi yang sudah merah. Foto oleh Rifky.
Sambil saya bercerita, Rifky menyiapkan seduhan kopi dari daerah Gayo-Aceh dan menyajikannya untuk kami nikmati. Apay Remang mengomentari aroma luar biasa harum dan rasanya yang berbeda. “Kita ingin mencoba untuk mengolah kopi dari daerah Sungai Utik ini,” ujar Rifky sambil menjelaskan bahwa untuk mendapatkan kenikmatan rasa dan aroma yang luar biasa, biji-biji kopi memerlukan perlakuan khusus. Mulai dari hanya memanen biji yang masak berwarna merah, menjemurnya hingga kering betul, menyimpannya agar ‘tua’ selama beberapa bulan, yang dilanjutkan dengan proses menggongseng yang benar adalah urutan perlakuan yang mesti dilakukan dengan cermat untuk mendapatkan kopi yang nikmat. Begitu jelas Rifky. Penjelasan ini membuat Apay Remang bersemangat untuk mencari lagi pohon kopi yang ada di ladang Apay Janggut.
 
Jam 10 dipagi berikutnya, saya dan Rifky beranjak dari rumah betang menuju ladang Apay janggut ditemani oleh Inam, Regang dan Muling, yang diperintahkan oleh Apay Remang untuk kami menemani dan menunjukkan jalan menuju kebun kopi. Selama perjalanan kami bicara tentang kopi dan kawan – kawan dari Sungai Utik pun tertarik dan bersemangat. Hanya 15 menit kami butuhkan untuk sampai di ladang Apay Janggut. Di kebun Apay Janggut kami menemukan banyak sekali pohon kopi yang penuh dengan buah. Ini dikarenakan pohon-pohon kopi tersebut terkena sinar matahari dan tidak tertutup kelebatan hutan seperti ladangnya Apay Saleem. Dengan bersemangat kami berlima memanen buah kopi yang merah saja. Saya harus bergelayutan di batang pohon kopi tinggi-tinggi yang ada buahnya, dan teman yang lain memetiki buahnya. Sungguh suasana luar biasa gembira bagi kami berlima, celoteh ramai mewarnai penemuan harta karun terpendam di Sungai Utik ini. Akhirnya satu kantong plastik besar seberat sekitar 3kg biji kopi merah kami bawa pulang ke rumah betang. Wooww luar biasa bukan?!!
 
Kami berlima bergegas pulang, ingin segera memberitahukan hasil yang kami dapatkan ini kepada seluruh penghuni rumah Betang Sungai Utik. Setibanya di rumah betang kami langsung menunjukkan hasil panen kami kepada Apay Janggut dan Apay Remang dengan senyuman wajah yang sumringah sambil berkata “Ayo kita kupas dan bersihkan. “ Bergegas kami ambil ember dan air untuk memproses hasil panen kami itu. Sambil mengamati kami bekerja Apay Remang mengatakan, “Hasil panen kopi ini silahkan dibawa ke bogor untuk di proses lebih lanjut agar hasilnya maksimal.” “Nanti hasil olahannya berupa bubuk kopi baru bawa kemari lagi untuk kami coba di sini,” Apay Janggut menambahkan. Jadilah kami dari GreenIndonesia membawa biji kopi yang sudah dikupas dan dibersihkan ke Bogor, untuk kami olah sambil berkonsultasi tentang mutu dengan mitra usaha kami yang pencinta kopi Indonesia – Mas Tejo Purnomo dari Rumah Kopi Ranin.
 
Harapan GreenIndonesia, adalah agar kedepan masyarakat Sungai Utik dapat memelihara pohon kopi yang tersisa dan memanen biji kopi yang masak berwarna merah hingga menjadi biji kopi pilihan setelah di jemur kering. Kami dari GreenIndonesia akan membantu memberikan asistensi teknis hingga kopi mereka benar-benar prima. Alangkah indahnya, jika kelak semua tamu yang bertandang ke Rumah Betang Sungai Utik, dapat menikmati aroma harum kopi yang ditanam, dipanen dan diolah dari ladang yang mengeliligi mereka, alangkah indah jika wisatawan yang berkunjung ke Sungai Utik dapat juga menikmati musim bebunga kopi yang wangi. Jika kopinya berlebih juga dipasarkan sebagai cindera mata, dan diperkenalkan ke jaringan kopi di Indonesia yang lebih luas, hingga semua kalangan dapat mengenal dan menikmati kopi asli dari daerah Sungai Utik – Kalbar.
sui utik20150125_0120

Satu kantung plastik penuh dengan buah kopi yang sebelumnya kita panen. Foto oleh Rifky.
Yopie Basyarah
Manager GreenIndonesia Eco-Culture Tourism Program

TIANG PERDAMAIAN ITU MASIH TEGAK DI TEMPATNYA

TIANG PERDAMAIAN ITU MASIH TEGAK DI TEMPATNYA
Oleh Kusni Sulang

Mengakhiri Tragedi Sampit tahun 2000-2001, di Km. 6 Sampit ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) didirikan sebuah Tiang Perdamaian. Tiang tinggi menjulang itu, tentunya dimaksudkan untuk memperingatkan semua orang agar Tragedi berdarah yang tidak menguntungkan siapa pun itu tidak terulang lagi dan jangan sekali-kali diulang.
Dalam masyarakat majemuk seperti di Kotim, serta Kalteng secara keseluruhan, Tiang Perdamaian bersejarah itu, sekarang masih berdiri di tempatnya semula. Niscayanya patut dirawat dan diperlakukan sebagai Monumen Utama, bukan embel-embel dan ditepikan. Bukanlah mustahil, apabila orang-orang ke Sampit yang tak luput dari pertanyaan adalah Tragedi Sampit 2000-2001 dan di sinilah Tiang Perdamaian membantu kita bertutur. Tiang ini dari segi sejarah merupakan salah-satu ikon Sampit dan bahkan ikon Kalteng. Tiang Perdamaian ini jauh lebih berarti dari Patung Manjuhan (Jelawat) yang baru dibangun dan secara politik, sejarah, kultural serta linguistik sulit dipertanggungjawabkan. Seniscayanya juga, Tragedi Sampit yang berdarah itu diperingati saban tahun agar penduduk tidak gampang lupa dan melupakan sejarah. Apakah memperingati Tragedi itu akan membuka luka lama? Bisa jadi, tapi barangkali ketika luka itu menganga, orang-orang diingatkan kembali tentang bagaimana niscayanya hidup dalam masyarakat majemuk dengan menerapkan prinsip di mana langit dijunjung, di situ bumi dibangun sesuai kedudukan sebagai warganegara Republik dan anak bangsa bernama Indonesia. Orang Poso bilang: Kalau mau masuk Poso, gantungkan badigmu di pohon perbatasan karena lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya. Terbukanya luka lama, secara perbandingan jauh lebih kurang sakitnya daripada ribuan korban nyawa dan harta benda melayang lagi secara sia-sia. Terbukanya luka barangkali gampang mengingatkan kita betapa Tragedi model Tragedi Sampit 2000, tidak baik dan tidak menguntungkan siapa pun. Memperingati Tragedi Sampit 2000 merupakan salah satu bentuk pendidikan kewarganegaraan yang republikan dan berkeindonesiaan, bagaimana hidup beradat, menjadi manusia beradat di mana pun.
Saya khawatir Tragedi Sampit 2000 tidak dipelajari benar-benar secara mendalam sehingga menyisakan arogansi di satu pihak dan dendam di pihak lain. Dua sikap ini sebenarnya tidak lain dari dua sisi dari satu mata uang, wujud dari lupa dan minim adat, bentuk dari tidak belajar sejarah sekali pun berdarah-darah, sehingga gampang tersulut dan membakar. Akibatnya pengalaman keledai yaang tersandung dua-tiga kali di batu serupa bisa terjadi di kehidupan bermasyarakat kita. Tragedi berdarah-darah tahun 2000-2001 itu hanya dilihat sebagai peristiwa tragis (kalau pun mereka pandang sebagai tragedi) tanpa makna samasekali dalam arti peningkatan taraf kesadaran manusiawi, anak bangsa, putera-puteri negeri dan warganegara.
Campurtangan Dewan Adat Dayak (DAD) Kotim yang diketuai oleh Hamidhan IJ Biring dalam relokasi para pedagang Pasar Mangkikit, Sampit, 17 Januari 2015, saya lihat sebagai salah satu bentuk dari konstatasi dk”.i atas. Sebab tentunya DAD Kotim tahu benar bahwa tidak sedikit dari pedagang Pasar Mangkikit adalah para pedagang asal Madura. Turut-sertanya DAD Kotim Hamidhan dalam relokasi para pedagang yang kebanyak asal Madura, gampang meyalakan bara terpendam dan yang dicoba dijaga selama ini agar tidak berkobar. Kalau pun ada MoU (Nota Kesepakatan antara pemerintah kabupaten dan DAD Kotim Hamidhan dan dijadikan dasar untuk campurtangan, penafsiran tentang MoU yang berbunyi “menunjang tercapainya tujuan kegiatan program pembangunan di Kotim”, penafsiran demikian sangat melenceng dari Perda No. 16 Tahun 2008 Tentang Kelembagaan Adat Dayak Kalimantan Tengah Bab XII Tentang Barisan Pertahanan Masyarakat /Adat Dayak Pasal 34 yang berbunyi: “ Untuk menjamin agar dipatuhinya sanksi Adat yang telah ditetapkan, maka Damang Kepala Adat bersama Kerapatan Mantir/Let Perdamaian Adat didukung oleh Dewan Adat melalui Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak”. Pasal ini sudah menetapkan wilayah operasi Batamad. Campurtangan DAD Kotim Hamidhan menjadi lebih tidak berdasar dan lebih tidak bisa dipertanggungjawabkan ketika Kepala Disperindagsar Kotim Mudjiono membantah tudingan bahwa pihaknya melibatkan lembaga adat dalam polemik Pasar Mangkikit. “Itu, kemarin tidak ada permintaan dari kami juga tidak ada MoU. Itu hanya partisipasi”, kilah Mudjiono (Radar Sampit 22/1/2015). Dari pernyataan ini nampak ada pihak yang melakukan kebohongan berbahaya dan tidak etis yaitu dengan menjual nama pihak lain. Dalam hal ini pihak lain yang dijual itu adalah Disperindagsar. Penjualan nama seperti ini pernah dilakukan juga terhadap Sekda Provinsi Dr. Siun Jarias, SH.MH. Penjualan nama orang atau pihak lain bukanlah tindakan beradat, dan lebih tidak beradat lagi jika mengatasnamai adat dan kelembagaannya.
Yang mengherankan adalah bungkamnya MADN, DAD Provinsi dan Bupati Kotim Supian Hadi yang mengaku berhasil membangun Kotim, dalam manuvre serius dan berbahaya seperti yang dilakukan oleh DAD Kotim Hamidhan. Apakah kebungkaman yang kebetulan atau diam yang berarti?
Dalam sajak terbarunya (januari 2015) Adhie Massardi melukiskan figur-figur dan karakater seperti di atas dalam kata-kata: “Apabila para bajingan sudah memasuki struktur kekuasaan /mustahil alat negara bisa membawa mereka ke dalam penjara/dan apabila para bajingan sudah menguasai Istana maka tinggal menunggu datangnya bencana”.
Haridepan mereka? Adhie Massardie memprediksinya sebagai berikut: “Maka ketika angin buritan bersekutu dengan waktu dan mengumpulkan remah-remah menjadi satu/perahu akan melaju menerjang badai menuju titik awal/meninggalkan para begundal dan orang-orang bebal”.
Artinya kita harus meninggalkan para begundal dan orang-orang bebal. Mereka harus dibersihkan dari kelembagaan apa pun, lebih-lebih yang berada di “Istana” alias kekuasaan. Jangan jual adat dan jangan lagi bakar Kalteng. Republik dan Indonesia sebagai rangkaian nilai menurunkan dan menetapkan aturan main yang tidak bisa ditawar-tawar.Pesan inilah yang barangkali dipancarkan siang-malam oleh Tiang Perdamaian Km.6 Sampit yang dilupakan atau yang tidak didengar . Atau apakah kita tergolong bilangan yang disebut “bajingan”, “begundal”, dan “orang bebal”? []
BADAN PENGELOLA URUSAN MASYARAKAT ADAT MALINAU TERBENTUK

Malinau. Radar Sampit, 25 Januari 2015. Bupati Malinau, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Yansen TP pada 19 November 2014 lalu telah mengeluarkan Peraturan Bupati Malinau Tentang pembentukan Badan Pengelola Urusan Masyarakat Adat (BPUMA) Kabupaten Malinau. Sebelumnya, pada tahun 2012, Bupati Malinau telah menerbitkan Peraturan Daerah Malinau No.10 Tahun 2012 tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat di Kabupaten Malinau.
BPUMA menurut Peraturan Bupati tersebut dilarang antara lain untuk “melibatkan BPUMA ke dalam kegiatan politik, langsung atau tidak langsung; dilarang mengatasnamakan BPUMA kecuali didasarkan pada ketentuan yang berlaku dalam BPUMA; dilarang menyalahgunakan wewenang BPUMA”.
BPUMA adalah lembaga pengelola urusan Masyarakat Adat dan bersifat independen, mmempunyai fungsi memastikan keberlangsungan pengakuan dan perlindungan Masyarakat Adat sesuai ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah Malinau No. 10 Tahun 2012.
Badan ini terdiri dari wakil-wakil pemerintah Kabupaten Malinau (Dinas Kehutanan, Bagian Hukum, Tata Pemerintahan dan seorang anggota DPRD); Wakil-wakil Lenbaga Adat dari semua suku Dayak yang ada di Kabupaten Malinau; seorang akademisi dan wakil LSM yang ditetapkan.
Untuk membantu BPUMA dalam melaksanakan tugas, fungsi dan wewenangnya, dibentuk satu Sekretatiat terdiri atas Divisi Tata Usaha, Divisi Pendaftaran, Divisi Verifikasi dan Divisi Finalisasi.
Pembentukan BPUMA merupakan usaha pertama di Indonesia untuk mengkongkretkan pengakuan dan perlindungan Masyarakat Adat oleh penyelenggara Negara. (ask-10-1-15).

SAHEWAN PANARUNG HARIAN RADAR SAMPIT

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang
Ungkapan-ungkapan Filosofis Dayak
~ Raja. Istilah raja adalah kata ambilan dari kosakata bahasa dari suatu masyarakat yang menerapkan sistem feodal seperti Jawa dan Kesultanan Banjar, tetangga Kalteng. Sementara masyarakat Dayak Ngaju merupakan masyarakat yang masih bersifat egaliter, masyarakat yang masih berada di taraf sederhana. Ketika mau memasuki masyarakat perbudakan, kolonialisme nmasuk memotongnya dan membawa masyarakat Dayak langsung ke masyarakat ekjonomi uang. Ketika Belanda mau menciptakan masyarakat hirarkis model Jawa, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Perkembangan yang mau dikembangkan oleh Belanda, menjadi terpotong sehingga perkembangan masyarakat Dayak Kalteng menjadi melompat-lompat. Keadaan begini sangat berpengaruh perkembangan pada manusia dan masyarakat Dayak Kalteng.
Dengan latarbelakang demikian, maka raja mempunyai pengertian negatif sebagai orang yang mau enak-enak saja, tidak mau kerja keras, malas, tapi suka main perintah.
Masuknya Christianisme menyertai dan menopang kolonialisme Belanda, membawa kosakata “raja” mempunyai pengertian lain, yaitu panutan, pemimpin, pengepala. Kosakata ‘raja’ dihubungkan dan bahkan diidentikkan dengan Yesus. Walau pun demikian pengertian dominan, tetap negatif. Misalnya “kilau raja”, seperti raja, masih berarti orang yang maunya enak-enak, malas tapi suka main perintah. Bandingkan konsep raja ini dengan dengan konsep Dayak Utus Panarung, Uras Pangkalima, Uras Tamanggung, dan lain-lain.(Lihat edisi-edisi terdahulu).

 

UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK
~ Kiti-kitik kilau ikuh asu. Bergerak (cepat ke kanan ke kiri) seperti ekor anjing. Perbandingan ini menggambarkan keadaan seseorang yang menahan kesabaranr untuk bisa segera melakukan sesuatu.
~ Manandu kilau manuk jagau. Berkokok seperti ayam jago. Perbandingan yang melukiskan kegirangan dan sorak-sorai seseorang setelah berhasil melakukan sesuatu. Misalnya gerak-gerik para olahragawan setelah memenangi pertandingan.
~Kilau kambé supa ancak. Ibarat hantu (karena kambé mempunyai konotasi negatif, saya masih mempertanyakan apakah kambé di sini, tepat diterjemahkan dengan hantu), mendapatkan saji-sajian. Perbandingan ini menggambarkan keadaan psikhologis seseorang yang mendapatkan sesuatu yang dia memang harap-harapkan. Dekat dengan perbandingan ini adalah perbandingan “seperti mendapat durian runtuh”, “pucuk dicinta ulam tiba”.

 

 

Sajak Adhie Massardi *
AYAT-AYAT REVOLUSI

1.

Aku menyaksikan matahari mengubah lautan
menjadi butiran lembut menggumpal menakutkan
menjadi tangan raksasa yang menggantung di langit
menghempaskan harapan menjadi airmata dan tawa jadi jerit

2.

Tapi isyarat langit itu tak pernah lagi sampai ke bumi
jiwa mereka sudah mati sedang jasadnya memumi
mereka agunkan kebenaran demi jabatan
dan kehormatan demi kehidupan lebih nyaman

3.

Karena isyarat langit tak bisa lagi menembus bumi
sedang para cerdik pandai mengunci diri dalam sunyi
maka aku susupkan ayat-ayat revolusi ke dalam sajak
agar pada saatnya nanti menyeruak dan menyalak

4.

Sungguh, mereka akan dicatat oleh sejarah
sebagai kaum yang tidak pernah belajar apa-apa dari sejarah
padahal sudah dicatat dalam kitab kehidupan ketatanegaraan
berbagai tanda akan lahirnya perubahan zaman

5.

Apabila para bajingan sudah memasuki struktur kekuasaan
mustahil alat negara bisa membawa mereka ke dalam penjara
dan apabila para bajingan sudah menguasai Istana
maka tinggal menunggu datangnya bencana

6.

Maka ketika angin buritan bersekutu dengan waktu
dan mengumpulkan remah-remah menjadi satu
perahu akan melaju menerjang badai menuju titik awal
meninggalkan para begundal dan orang-orang bebal

Januari 2015

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers