Archive for the ‘RAK BUKU’ Tag

BUKU-BUKU ULTIMUS

BUKU-BUKU TERBITAN ULTIMUS –BANDUNG
Pikir Itu Pelita Hati
https://i0.wp.com/ultimus-online.com/components/com_mijoshop/opencart/image/cache/catalog/Pikir%20Itu%20Pelita%20Hati-345x500.jpg

Ilmu Berpikir Mengubah Dunia: dari Marxisme sampai Teori Deng Xiaoping

Sekapur Sirih: Koesalah Soebagyo Toer
Sambutan: Yoseph Tugio Taher, Ibrahim Isa, Chalik Hamid

Editor: Bilven, Darwin Iskandar
Desain sampul: Herry Sutresna

Pikir Itu Pelita Hati lahir dari hasrat untuk melawan pembodohan dan pembiadaban akibat sepertiga abad berkuasanya rezim orba jenderal fasis Soeharto. Soeharto naik panggung dengan penggulingan Bung Karno lewat kebohongan demi kebohongan dan pembantaian terhadap pendukung Bung Karno, para pimpinan dan anggota PKI, serta manusia tak berdosa. Pembantaian ini adalah teror. Membenarkan teror untuk mencapai tujuan adalah kebiadaban. Di bawah kekuasaan orba, teror bersimaharajalela. Berkembang ajaran yang membenarkan teror untuk mencapai tujuan. Bangsa beradab jadi biadab. Berlangsung kebiadaban yang tak ada taranya dalam sejarah Indonesia.

Pembodohan dan pembiadaban inilah yang menyebabkan meski berlalu setengah abad tapi pelaku kebiadaban ini masih terlindung. Jutaan sanak keluarga korban didera siksaan batin. Tiada permintaan maaf dari pemerintah, apalagi pengadilan atas yang berdosa. Korban dipaksa memaafkan pembunuh, memaafkan yang biadab. Kebiadaban menyebabkan tak tahu lagi membedakan mana benar dan salah.

Pikiran berperan membimbing setiap perbuatan sadar manusia. Tak bisa berpikir adalah bodoh. Berpikir tidak manusiawi adalah biadab. Bodoh dan biadab berakar pada cara berpikir yang salah. Menanamkan kebiasaan tidak berpikir atau membiasakan berpikir salah, memelihara kebiasaan serba percaya tanpa berpikir, adalah pembodohan. Dari bodoh, manusia bisa jadi biadab. Pikir Itu Pelita Hati memaparkan perkembangan pikiran ilmiah. Intinya terpusat pada perkembangan Marxisme, membantah pandangan yang menyatakan Marxisme sudah punah.

Pikir Itu Pelita Hati

  • Penerbit : Ultimus
  • Cetakan : 1, Agu 2015
  • Pengarang: Suar Suroso
  • Halaman : xlviii + 404
  • Dimensi : 14.5 X 20.5 cm
  • ISBN : 978-602-8331-58-6
  • Availability: 10
  • Rp 110,000


Related Products

Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI

Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI

[1920—1965]   Editor: Bilven. Pengantar: Sumaun ..

Rp 125,000

Akar dan Dalang

Akar dan Dalang

Pembantaian Manusia Tak Berdosa dan Penggulingan B..

Rp 65,000

 Akar dan Dalang
Arus Filsafat

Arus Filsafat

Pengantar: Eep Saefulloh Fatah. Editor: Bilven. ..

Rp 45,000

Manifesto Partai Komunis

Manifesto Partai Komunis

Ditulis pada bulan Desember 1847 sampai Januari 18..

Advertisements

WARUNG SEJARAH RI: BUKU-BUKU LANGKA

Warungnya Sejarah RI

@WarungsejarahRI

Warung Yang Menjual Buku-buku Sejarah. Pemesanan: SMS/WHATSAPP 081228241709. BBM 536AD64B & warungsejarah@yahoo.co.id

  1. Buku Langka> Sebingkah Sedjarah Perang Minahasa-Sepanjol. By Taulu H.M. Tahun 1966. 78 hlm. Minat?

    Permalink gambar yang terpasang

  • Buku Lawas> Jop Ni Roha Pardomuan (Paradaton Tapanuli Selatan). By Bgd. Marakub M. Tahun 1969. 131 hlm. Minat?

    Permalink gambar yang terpasang

Buku Langka> Sabda Guru. Dening: SPH. Handanamangkara. Tahun 1971. 109 hlm. Minat?

Warungnya Sejarah RI@WarungsejarahRI 24 Agt

IBUNDA

IBUNDA– MAXIM GORKY

Diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer

 

Judul: Ibunda

Penulis: Maxim Gorky.

Penerjemah: Pramoedya Ananta Toer.

Penerbit: Kalyanamitra.

Cover: Softcover. Bahasa: Indonesia.

Harga: Rp.110.000,-

 

 

IBUNDA, merupakan sosok perempuan yang hidup di masa Revolusi Demokratik berlangsung di Rusia, sekitar awal abad 20. Ia hidup di tengah peluit pabrik yang menjerit-jerit di atas perkampungan buruh yang kumuh. Menikah dengan Michail Wlassow, laki-laki peminum berat, yang berlaku amat kejam terhadapnya. Keadaan berubah ketika suaminya meninggal dan Pawel, anaknya, menjadi aktivis buruh dan terlibat dalam gerakan politik pada waktu itu. Rumah Ibunda dijadikan anaknya pusat membangun kesadaran dan tindakan revolusioner kawan-kawannya. DI tengah situasi itulah kesadaran Ibunda terbuka dan menginsyafi siapa dirinya-yang selama ini tak pernah ia kenal kecuali ketakutan dan kesengsaraan. Keinsyafan itu membangun cinta kasihnya kepada semua anak-anak muda yang sedang berjuangan meretas jalan kebenaran dan akal untuk menerangi dunia dengan sorga baru.[]

“TEN DAYS THAT SHOOK THE WORLD”

“TEN DAYS THAT SHOOK THE WORLD”

“Sepuluh Hari Yang Mengguncangkan Dunia”

Karya JOHN REED

Kolom IBRAHIM ISA
Rabu Malam, 05 November 2014
————————————————-

“TEN DAYS THAT SHOOK THE WORLD”
(JOHN REED: “Sepuluh Hari Yang Mengguncangkan Dunia”)

Orang-orang Rusia periode Uni Sovyet, menamakan Revolusi yang dimulai di Rusia pada tanggal 07 November 1917, dengan tembakan meriam kapal perang “Aurora” tertuju pada Istana Raja Tsar di Petrograd – – – adalah “Revolusi Sosialis Oktober Besar”.

“Revolusi Februari” yang berlangsung sebelumnya, itulah pemberontakan yang sesungguhnya menggulingkan Tsar dan rezim otokrasi Rusia. Revolusi Februari menegakkan pemerintah sementara yang terdiri dari kaum elite dari kalangan bangsawan dan militer. Maka kaum buruh, tani dan prajurit yang menentang perang, dan menunutut perdamaian dan keadilan, mendirikan dewan-dewan perwakilan buruh dan tani (Sovyet-sovyet).

Di bawah pimpinan kaum revolusioner yang terutama terdiri dari kaum Bolsyewik (kaum Komunis Rusia di bawah pimpinan Lenin) melakukan kritik-kritik keras terhadap pemerintahan sementara. Karena tidak berubah dengan kritik-kritik, maka meletuslah Pemberontakan di Petrograd yang menggulingkan pemerintah sementara dan menegakkan kekuasaan Buruh dan Tani.

Dunia Barat dan media mancanegara yang sepandangan mengatakan itu “Revolusi Bolsyewik”, “atau “Revolusi Komunis Rusia”, “Revolusi Sosialis”, “Pemberontakan Merah”. Sementara pandangan lainnya, beranggapan itu adalah “Revolusi Sosialis”, dimana kaum Komunis Rusia (Bolsyewik), di bawah pimpinan V.I Lenin, berhasil mengorgnisasi dan memobilisasi kaum buruh, tani dan prajurit, bangkit berrevolusi dan menggulingkan penguasa, dan mendirikan Republik Perwakilan-Perwakilan (Sovyet-Sovyet) Buruh dan Tani.

John Reed, seorang wartawan Amerika, anggota Partai Sosialis Amerika (sementara sumber mengatakan John Reed adalah anggota Partai Komunis Amerika) — yang dengan tugas menulis untuk majalah “The Masses”, New York, berkunjung ke Rusia untuk keperluan itu, menyaksikan dengan mata kepala sendiri berlangsungnya revolusi yang bergelora di Rusia ketika itu, menamakan peristiwa besar itu “TEN DAYS THAT SHOOK THE WORLD”.
“Sepuluh Hari Yang Menggungcangkan Dunia”, adalah buku yang ditulis John Reed (1919) , mengisahkan laporannya mengenai Revolusi Yang Mengguncangkan Dunia itu.

Dalam kehidupan politik yang aktuil, memang tidak jarang terjadi hal-hal yang seperti kebetulan, yang kemudian nyatanya merupakan suatu keharusan dan banyak cocoknya dengan perkembangan berikutnya.

Suatu negeri dimana penguasanya, dalam hal ini pemerintah AS, berada paling depan dalam menentang “Revolusi Rusia” tsb… serta melakukan serentetan kebijakan menentang pengaruh Revolusi yang terjadi di Rusia tsb. justru dari negeri ini, tampil seorang wartawan, yang MEMBERITAKAN APA YANG SESUNGGUHNYA TERJADI DI RUSIA.

Buku John Reed, “Ten Days That Shook The World”, nyatanya ketika itu, menjadi satu-satunya sumber berita dan liputan yang bisa dipercaya, mengenai REVOLUSI OKTOBER RUSIA. Buku John Reed sudah diterjemahkan entah dalam berapa banyak bahasa, dan bahkan oleh Hollywood telah dibuat filmya, dengn judul yang sama, dengn bintang kenamaan Warren Beaty sebagai bintang utamanya. Beberapa kali dalam tulisan maupun pidatonya Bung Karno memuji buku John Reed tsb yang menurutnya telah memberikan inspirasi pada kaum yang berjuang untuk kebenaran dan keadilan.

John Reed sendiri mengatakan sbb tentang bukunya:

“Buku ini bagaikan sebungkah sejarah intensif sebagaimana apa yang saya lihat. Sama sekali tak berpretensi apa-apa, selain memberikan catatan rinci mengenai REVOLUSI NOVEMBER, ketika kaum Bolsyewik yang berada di barisan depan dari kaum buruh dan prajurit, merebut kekuasaan negara di Rusia, dan memasrahkannya di tangan Sovyet-Sovyet.

Di saat berkecamuknya “Perang Dingin”, fihak-fihak yang terlibat dan berkonflik adalah blok-Barat, dengan persekutuan militer Nato yang dikepalai oleh Amerika Serikat; dan Blok Timur dengn Pakta Warzawa, yang dikepalai oleh Uni Sovyet. Di Asia terdapat Republik Rakyt Tiongkok, yang dilibatkan dalam Perang Dingin, tetapi merupakan faktor tersendiri, karena faktor-faktor khusus setempat. Antarqa lain, dengn masih berdirinya rezim Republik Tiongkok di Taiwan yang dikepalai oleh Jenderalisimo Chiang Kaisyek dan disokong penuh oleh AS.

Tidak ada yang menduga bahwa puluhan tahun ke belakang (1935), jauh sebelum berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (1949) dan sebelum Perang Dunia dan Perang Dingin, – – – adalah seorang berbangsa Amerika, EDGAR SNOW, seorang jurnalis yang meriskir seribu satu macam rintangan berbahaya bagi dirinya sendiri, berhasil menerobos ke Yenan, basis dan pangkalan Partai Komunis Tiongkok dan Tentara Merah Tiongkok. Hasil kunjungan dan kesaksiannya itu adalah sebuah buku “RED STAR OVER CHINA” (1937).

Ditinjau dari sudut aktualitas, otensitas dan kesaksian pribadi langsung dari peristiwa yang dilukiskan, dua buah buku tsb — “Ten Days That Shook The World”, karya John Reed — dan “Red Star Over China”, tulisan Edgar Snow, . . . . tak ada tandingannya.

Maka, —- barang siapa berhasrat mempelajari Revolusi Oktober Rusia, membaca buku John Reed adalah suatu condisio sine qua non. Demikian juga halnya, merupakan syarat yang harus dipenuhi membaca buku Edgar Snow, Red Over China, bila hendak mempelajari Revolusi Tiongkok.
 
KEISIIMEWAAN BUKU JOHN REED
INTRODUKSI OLEH V.I. LENIN

Salah satu keisimewaan buku John Reed, adalah INTRDOKUSI untuk edisi 1922, yang ditulis oleh pemimpin Revolusi Rusia itu sendiri:L VLAIMIR ILJITS LENIN.

Berikut di bawah ini terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia:

INTRODUKSI V.I. LENIN
Dengan perhatian yang sebesar-besrnya, saya baca buku John Reeed “Ten Days That Shookd The World”.
Tanpa reserve saya rekomendasikan buku ini kpd kaum pekerja seluruh dunia. Inilah sebuah buku yang ingin saya melihatnya dipublikasikan dalam jumlah jutaan dan diterjemahkan ke dalam semua bahasa.
Buku ini memberikan pembeberan yang benar dan gamblang mengenai kejadian-kejadian yang begitu signifikan sehubungan dengan ke-konprehensifannya- – apa itu sesungguhnya REVOLUSI PROLKETAR dan DIKTATUR PROLETARIAT .
Masalah-masalah ini didiskusikan secara luas, tetapi sebelum sebelum orang menerima atau menolak ide-ide ini, ia harus mengerti arti penting sepenuhnya dari keputusannya itu.
Buku John Reed, tidak diragukan akan membantu menjernihkan masalah ini, hal mana merupakan problem findamental dari gerakan kaum pekerja internsional. V. Lenin, Akhir 1919.

 

* * *

 

Baik diakhiri pembicaraan buku John Reed “TEN DAYS THAT SHOOK THE WORLD” dengan sebuah respons oleh George F. Kennan, seoraang historikus dan diplomat Amerika, yang jelas bukan pendukung Revolusi Bolsyewik Rusia. Kennan bahkan adalah bapak protagonis dari politik-pembendungan pengaruh Revolusi Oktober. Kennan memudji buku John Reed.

Tulis George F Kennan a.l —

“Apa yang diceriterakan John Reed, mengenai apa yang terjadi waktu itu, menonjol melebihi semua catatan komtemporer, terkait kekuatan literernya, pendalamannya, serta penguasaannya pada masalah-masalah secara rinci.

“Dan buku ini akan selalu dikenang orang, sedangkan yang lain tidak.

Kennan memandang buku John Reed, sebagai suatu ‘refleksi dari kejujuran yang mencerahkan, (blazing), dan merupakan kemurnian idealisme, yang secara tidak disadari telah memberikan nama baik pada masyarakat Amerika, yang telah melahirkannya.

* * *

Lampiran:
“Ten Days That Shook the World”
Oleh John Reed
Isi —-
Pengantar
Catatn dan Penjelasan
Bab 1. Latar Belakang
Bab 2. Taufan Mendatang
Bab 3. Menjelang
Bab 4. Jatuhnya Pemerintahan Sementara
Bab 5. Maju Menerjang
Bab 6. Komite Penyelamatan
Bab 7. Front Revolusioner.
Bab 8. Kontra Revolusi.
Bab 9. Kemenangan
Bab 10. Moskow
Bab 11. Kemenangan Perebutan Kekuasaan
Bab 12. Kongres Tani
Appendices I – XII

ARI WASKAR, “EARTH POLITICS: RELIGION, DECOLONISATION, AND BOLIVIA’S INDIGENOUS INTELLECTUAL

Ari Waskar, Earth Politics: Religion, Decolonization, and Bolivia’s Indigenous Intellectuals (2014), xii + 262 (Duke University Press, Durham and London, £60.00/$101.88, £16.99/$28.84 paperback).

In this fascinating book, Aymara Bolivian historian Waskar Ari draws on a highly original collection of oral and written sources to document the lives, struggles and legacies of four indigenous activist-intellectuals at the forefront of the little-known movement of Alcaldes Mayores Particulares (AMP). From the 1930s to 1970s, AMP leaders campaigned relentlessly for Indian rights in a context of racialised segregation, indigenous labour exploitation, political exclusion and, finally, assimilationism. In doing so, they developed a vast network of grassroots indigenous activism that spanned from the Aymara highlands to the Quechua-speaking Southern Andes. Although the 1970s saw the movement’s decline, Ari argues convincingly that AMP’s legacy continues to shape ongoing struggles for indigenous rights and decolonisation in Bolivia.
For Ari, the originality of AMP’s vision lay in its rejection of republican law (including property titles) in favour of promoting a separate Indian republic governed by ‘Indian law’ – a flexible framework that combined elements of colonial law with indigenous oral traditions. Ari reveals how Indian law provided AMP activists with a unique instrument for defending Indians’ self-defined rights as ‘first peoples’, presaging later struggles for ‘differentiated citizenship’. After describing AMP’s origins and context (Chapters 1 and 2), Chapters 3-6 chart how four activists adapted Indian law to combat the geographically and temporally specific forms of internal colonialism they faced. Ari names their activism ‘earth politics’ owing to the central place given to the worship of Aymara gods, believed to provide the spiritual vitality required to resist white-mestizo domination.
The four biographical accounts are brought to life by excerpts from primary sources, many from indigenous family archives made accessible to Ari owing to his longstanding relations with AMP descendants. As well as illuminating AMP’s unique vision and expansive network, these sources shed important light on the everyday forms of coloniality faced by rural and urban indigenous people during the twentieth century. Throughout the book, Ari emphasises women’s role in the functioning and expansion of the movement, which he claims AMP (male) leaders actively promoted. While shining a rare light on indigenous women’s agency in shaping Bolivian social history, some readers may find this portrayal of AMP gender relations optimistic given the evidently limited roles available to women.
The book’s concluding chapter considers AMP’s intellectual and political legacies, which Ari traces through the Katarista movement to the current decolonising project of Evo Morales. Although this genealogy is convincing – making the book of great contemporary relevance – Ari’s discussion of MAS government discourse and policy is disappointingly superficial and uncritical, particularly in light of contemporary indigenous critiques. The latter point to a familiar gap between state and indigenous decolonial agendas, which would have been interesting to reflect on in relation to AMP’s vision. Furthermore, Ari’s critique of contemporary indigenous movements as ‘too focused on the “rural world”’ and lacking a national project sits awkwardly with the book’s celebration of AMP’s anti-establishment and rurally-based “earth politics”. Nevertheless, Earth Politics offers an original, readable, and highly significant new ‘history from below’, which should be essential reading for anyone interested in Latin American history, social change, ethnic politics, and decolonisation.
Penelope Anthias,
University of California-Berkeley
540 words.