Archive for March, 2009|Monthly archive page

DUA TAMBAH DUA BERAPA?

Jurnal Toddopuli :

DUA TAMBAH DUA BERAPA?


« Adikku, ayo teruskan menari

Seindah pinisi yang begitu tenang

menghadapi amukan topan »

(D. Zamawi Imron : « Teruskan Menari »,

in : Antologi Puisi: « Belayar Di Pamor Badik »)

Malam terasa turun lebih cepat di Kasongan, ibukota kabupaten Katingan, kampung lahirku. Saya masih memerlukan waktu untuk menduga jam di kota-desa yang dalam sansana kayau* karena bentuknya disebut sebagai « lewu lipat siku » (kota lipat siku). Di Paris, di mana saya tinggal lebih dari 30 tahun, dengan melihat langit, saya bisa menduga-duga waktu sudah pukul berapa. Setelah tinggal lebih dari dua minggu di sini, saya mulai merasakan kebosanan Andriani S. Kusni, istriku, yang terbiasa dengan rupa-rupa kegiatan sebagai arsitek dan desainer serta tak pernah diam. Kebosanan ini bertambah oleh hiburan satu-satunya adalah televisi. Seperti halnya dengan Palangka Raya, di sini pun tak ada gedung bioskop, acara-acara kesenian. Melihat kebosanan tanpa kegiatan berarti ini, saya coba menghiburnya dengan membawanya berkeliling kota-desa Kasongan, melihat sungai pada pagi hari dan matahari tenggelam di hulu di mana klotok dan speed boat melaju hulu-hilir. Jika malam, saya tunjukkan bintang kutub utara dan bintang layang-layang yang menjadi patokan arah bagi nakhoda-nakhoda kapal yang sedang berlayar di laut. Atau menunjukkan patendu, petunjuk bagi para petani tentang saat baik bagi mereka untuk berladang. Dari sini saya melihat bahwa manusia Dayak dahoeloe nampaknya sudah mengenal ilmu falak, baik sebagai perçant mau pun sebagai pelaut yang ditunjukkan oleh kisah Banama Tingang (Perahu enggang), legenda Sansana Bandar atau kisah Panimba Laut atau keterampilan mereka membuat kapal hingga ukuran 60-70 ton.

Sesuai dengan minatnya, saya juga mengantar Ann, mengunjungi dan memotret pambak-pambak (kuburan dalam bentuk rumah) dan situs-situs budaya, termasuk rumah betang (long house) yang secara budaya masih meninggalkan tanda pada kehidupan Dayak kekinian. Betang sangat menarik perhatian Ann karena ia ingin meneliti lebih jauh lagi arsitektur tradisional berbagai etnik. Agar bisa berkomunikasi langsung dengan warga Dayak, Ann mulai dengan intensif belajar bahasa Dayak Katingan dan Ngaju sehingga dalam waktu relatif sangat singkat, ia bisa memahami secara garis besar percakapan dalam bahasa Dayak, walau pun masih sulit mengungkapkan diri dalam bahasa tersebut. Selain guna mendapatkan data dari sumber-sumber bahasa lokal, penguasaan berbagai bahasa sangat diperlukan oleh seorang peneliti.

Hasil-hasil pekerjaan seharian ini , selalu Ann catat di laptop (note book) atau notes kecilnya. Sekali pun demikian, ia merasa waktunya masih tersisa. Di waktu tersisa inilah bersarang benih-benih kebosanan sebagaimana ia bosan di desa Uluale, Sidrap, kampung kelahiran ayahnya almarhum di Sulawesi Selatan. Buku-buku yang kami bawa sudah semua selesai dibaca. Melihat kebosanan karena kurang variasi di kehidupan sehari-hari, saya teringat sedikitnya orang-orang yang sanggup tinggal di Palangka Raya pada 1957 saat ibukota Kalteng ini mulai dibangun. Kesunyian, kekurangan variasi, kurang hiburan, merupakan tantangan besar bagi orang-orang yang mau membangun. Membangun seperti halnya pencarian dan pengembaraan pemikiran, tidak lain semacam jalan sunyi juga. Rasa sunyi dan kebosanan bisa juga dikatakan sebagai sejenis « topan » psikhologis seperti yang dikatakan oleh penyair asal Madura D. Zamawi Imron :

« Adikku, ayo teruskan menari

Seindah pinisi yang begitu tenang

menghadapi amukan topan »

(D. Zamawi Imron : « Teruskan Menari »,

in : Antologi Puisi: « Belayar Di Pamor Badik »)

Tidak banyak orang seperti Dr. Albert Schweitzer yang sanggup tinggal di jantung Afrika atau seperti para misi Zending Basel dari Swiss yang sanggup sampai sekarang tinggal di hulu sungai Katingan untuk menunaikan misi kemanusiaan Zending. Karena itu maka bisa dihitung dengan jari sebelah tangan berapa jumlah lulusan universitas yang mau dan sanggup tinggal di desa-desa, di hulu-hulu sungai dan daerah terpencil di pegunungan.

Seandainya para cendekiawan, lulusan sekolah tingkat atas dan tinggi mau dan sanggup tinggal di tempat-tempat terpencil demikian, barangkali pemberdayaan masyarakat akan mengalami akselerasi baru. Pengangguran akademi pun barangkali tidak ada atau paling tidak akan menipis. Dengan maksud inilah maka Mao Zedong menganjurkan turun ke desa supaya tercipta desa-kota di mana jarak perbedaan kota dan desa makin menipis.

Tapi mau dan sanggupnya Albert Schweitzer tinggal di jantung Afrika dan para warga Zending mau dan sanggup tinggal serta bekerja di hulu sungai Katingan, saya kira bukanlah hanya soal mau dan sanggup. Mau dan sanggup mereka bertautan dengan pandangan hidup dan komitmen mereka sebagai hasil dari pencarian dan pengembaraan spiritual seseorang yang selalu mempertanyakan makna hidup dan mati. Selalu mempertanyakan makna dan bertanya alias berpikir sebagai ciri eksistensi diri Bertanya atau berpikir sebagai awal dari suatu tindakan sadar.

Seusai memotret situs-situs budaya Dayak yang ada di Kasongan, dan sungai Katingan, Ann mengajakku minum kopi di kedai langganan kami milik seorang Banjar. Sambil menikmati kue-kue tradisional lokal yang di sini disebut wadai, dengan gaya dan suara khasnya, Ann bertanya sambil memandang mataku:

« Pi, suka teka-teki, kan ? Teka-teki semacam batu asah bagi pikiran ».

« Khoq pakai introduksi segala untuk mengajukan sebuah teka-teki ? Apa gerangan teka-teki yang Mi mau ajukan ? »

« Ada dua orang perempuan berjalan dengan dua anaknya. Menurut Pi berapa jumlah orang yang berjalan ? »

Mendengar pertanyaan itu , dalam hati saya berkata sendiri : « Wah, ini pertanyaan filosofis tentang relativisme ». Pertanyaan serupa pernah diajukan kepada saya entah berapa puluh tahun silam . Yang berbeda hanya angkanya. Waktu itu, saya ditanya: 1+1 berapa? Atau sering juga dikatakan, terutama di bidang organisasi bahwa 1 + 1 tidak senantiasa jadi dua, bisa-bisa menjadi Nol.

Karena saya masih belum menjawab, Ann kembali bertanya:

“Jadi 2+ 2 sama dengan berapa, Pi?”

“Dari cerita Mi, jumlah mereka tentu saja empat », jawabku sadar bahwa jawabanku salah.

“Salah!”, ujar Ann girang melihat saya memberikan jawaban yang tak memuaskan dan salah.

“Bagaimana penjelasannya maka salah?”

“Sederhana saja. Bayangkan dua perempuan itu adalah ibu dan seorang anak masing-masing. Pertama ibu dan anaknya yaitu Ann misalnya. Perempuan kedua adalah Ann dengan anak Ann. Ann dalam hal ini adalah anak dan ibu sekaligus. Maka dalam hal ini jawaban yang benar, 2+2=3 atau 2+2=4”. Ann menjulurkan lidah padaku oleh kesalahan jawaban.

Dari teka-teki berbentuk pertanyaan Ann ini saya mendapatkan beberapa sari:

1.Keniscayaan mengasah otak atau berpikir. Di negeri ini sering kita dengar adanya konstatasi bahwa kita malas atau enggan berpikir. Kemalasan dan keengganan berpikir yang menjadi lahan subur bagi budakisme dan paternalisme atau panutanisme dengan segala akibat negatifnya.

2. Berpikir memerlukan pengembangan dasar-dasar logika. Metode berpikir yang nalar.

3. Dalam berpikir dan menjawab pertanyaan, diperlukan daya dan pengembangan imajinasi. Imajinasi bisa berkembang jika kita memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas juga. Tak kalah pentingnya adalah mengenal kenyataan. Dengan mengenal kenyataan, kita bisa menjawab pertanyaan dengan ketepatan relatif. Semestinya sebelum menjawab, saya perlu bertanya untuk mengetahui kenyataan: “Siapa-siapakah yang berjalan itu?”.

4. Teka-teki atau pertanyaan dan jawaban, sama dengan tersedianya beberapa kemungkinan atau alternatif. Tersedianya berbagai alternatif berarti kemutlakan itu dekat dengan hasil dari suatu kesemuan pandang. Kehidupan adalah suatu teka-teki tak usai dijawab dan yang menyediakan sekian banyak alternatif. Dua tambah dua saja, ternyata bukan pula suatu kemutlakan.

Dari warung kopi langganan, Ann dan saya memandang klotok dan speed boat yang hulu hilir membawa penumpang dari kampung ke kampung membelah arus Katingan yang keruh oleh pencemaran menguak sunyi. Apakah kau bisa sekencang klotok dan speed boat menguak sunyi yang mengusik laju mencapai tujuan? Pertanyaan ini pun adalah varian dari pertanyaan 2 +2 sama dengan berapa? ***

Enyuh Lendai, Maret 27 Maret 2009

———————————————

JJ. Kusni

*) . Sansana kayau, puisi lisan, umumnya menggunakan bahasa klasik Dayak. Sampai sekarang sansana kayau masih hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Advertisements

MENGANGKAT KEARIFAN LOKAL

Masalah kearifan lokal, saya kira,  menyangkut masalah yang dikatakan tradisional dan modern. Soal ini, terutama masalah modernitas, pada 8 tahun lalu, pernah dibicarakan dalam sebuah diskusi di Aula Kantor Gubernur Kalteng semasa periode Aswawi Gani menduduki jabatan gubernur. Hadir dalam diskusi yang bertujuan memberikan pendampingan pelaksanaan otonomi daerah tersebut, antara lain Prof. Dr. Sajogyo dari IPB Bogor, Prof H. Usop M.A dari Lembaga Musyawarah Maaysarakat Dayak Daerah Kalimantan Tengah (LMMDDKT) dan sejumlah pejabat teras propinsi.

 

Seperti yang biasa terjadi dalam sebuah diskusi yang hidup, berbagai pendapat telah diajukan, di antaranya yang mengatakan modernisasi identik dengan penguasaan dan aplikasi tekhnologi modern. Keterbelakangan Kalteng karena kekurangan dalam menterapkan tekhnologi canggih kekinian. Pendapat lain menyebutkan bahwa ketrampilan tekhnis, termasuk penguasaan tekhnologi kekinian dan mutakhir tanpa dibimbing oleh suatu wacana dan komitmen manusiawi, maka ketrampilan demikian, tidak lebih dari ketrampilan seorang tukang. Yang diperlukan untuk memajukan, memberdayakan dan membangun Kalteng adalah manusia berwacana, berkomitmen manusiawi dan berketrampilan kekinian serta mutakhir. Manusia beginilah yang mampu membawa Kalteng menjadi sebuah propinsi tanggap zaman. Karena modern  adalah kemampuan menjawab tantangan secara tanggap dan apresisiatif. Tanggap artinya bahwa tekhnologi canggih kekinian dan mutakhir itu niscayanya tekhnologi yang tepat guna. Prinsip tepat  guna ini juga berlaku juga terhadap kebudayaan masa silam yang disebut tradisional. Dengan istilah lain kebudayaan tradisional itu niscaya direvitalisasi untuk kemudian di restitusi. Alasan untuk perlunya menyaring dan revitalisasi kebudayaan masa silan atau tradisional ini, karena tidak semua yang silam itu tepat guna dan tanggap zaman. Dengan melakukan revitalisasi maka kebudayaan dan modernisasi yang kita kembangkan menjadi tidak lepas akar. Jalan pemberdayaan dan pembangunan serta otonomi daerah begini, yang oleh Prof. Dr. Sajogyo disebut sebagai “Jalan Kalimantan”. Kata Kalimantan bisa digantikan dengan kata lain seperti Sulawesi, Papua, Sumatera, Flores, dan lain-lain.

 

Yang dimaksudkan dengan kearifan lokal,  saya kira tidak jauh dari isi dan pengertian « Jalan Kalimantan » yang dirumuskan oleh Prof. Dr. Sajogyo.

 

Ketika datang kembali ke Kalteng kali ini  (Maret 2009), saya menyaksikan adanya sikap baru menggembirakan terhadap nilai-nilai dan kearifan lokal ini. Sikap baru menggembirakan ini diperlihatkan antara oleh koran-koran Kalteng yang saban penerbitannya menyertakan ungkapan-ungkapan yang dijadikan motto oleh berbagai kabupaten dan daerah dalam memberdayakan kabupaten dan daerah mereka.

 

Kotapraja Palangka Raya misalnya, mempunyai motto : « Isen Mulang » (Pantang Mundur, Tak Pulang Jika Tak Menang), Pulang Pisau mengangkat motto « Handep Hapakat » (Persatuan dan Kesatuan Semua Komponen Masyarakat atau Gotong Royong),Kabupaten Katingan yang diresmikan statusnya pada 20 Juli 2002 mengambil motto « Penyang Hinje Simpei (Hidup Rukun dan Damai untuk Kesejahteraan Bersama – sesuai tradisi budaya betang), Kuala Kurun bermotto « Habangkalan Penyang Karuhei Tatau (Cita-cita Membangun Bersama Dilandasi Iman yang Tinggi), Gawi  Barinjam (Bekerja Bersama-sama  untuk Mencapai Tujuan Mulia) diangkat oleh Sukamara sebagai motto kabupaten, sedangkan Kabupaten Kotawaringin Timur yang beribukotakan Sampit menggunakan motto  » Habaring Hurung » (Gotong Royong), « Sanaman Lampang » sebagai nama makam pahlawan di Palangka Raya.

 

Penggunaan motto-motto yang diangkat dari ungkapan-ungkapan lokal demikian, saya pahami sekali lagi betapa dari nilai-nilai lokal tradisional masih terdapat yang tanggap zaman dan apresiatif.  Mana-mana dari nilai-nilai lokal ini yang tanggap  zaman dan apresisiatif, hanya mungkin diangkat jika kita mengenal budaya lokal. Pengenalan, bisa diperoleh melalui bacaan, dari kisah-kisah tetua, bila kita melakukan penelitian. Dari beberapa sumber yang saya ketahui, pengangkatan motto-motto di atas berasal dari usul-usul para tetua yang mengenal budaya lokal dan umumnya tidak berasal dari angkatan muda. Yang terakhir ini mengesankan adanya keterasingan mereka dari budaya daerah mereka sendiri sekali pun mereka tinggal di daerah kelahiran mereka sendiri. Konstatasi begini, saya peroleh  juga pada saat saya mengajar beberapa tahun  di sebuah universitas kecil di Palangka Raya. Kepada para pendengar mata pelajaran yang saya berikan, sering saya tanyakan sejarah dan adapt-istiadat kampung kelahiran mereka. Dan jawaban yang saya terima senantiasa menunjukkan kebutaan mereka akan sejarah dan budaya kampung mereka sendiri. Jawaban-jawaban mereka tidak mengesankan bahwa mereka paham akan apa arti menjadi manusia Dayak dan apa bagaimana budaya Dayak itu – jika menggunakan Dayak sebagai contoh.

 

Pengangkatan kembali nilai-nilai budaya Dayak yang tanggap zaman oleh koran-koran Kalteng, semoga saja bisa mendorong minat angkatan muda dan berbagai pihak untuk mempelajari sejarah dan budaya Dayak (baca: lokal) di samping usaha untuk kian lebih memperhatikan masalah muatan lokal dalam proses ajar-mengajar. Modernisasi sebagai buah kebudayaan dalam menjawab permasalahan zaman oleh angkatan sekarang, kiranya akan mustahil mempunyai akar dan komunikatif jika terasing dari budaya lokal yang tanggap zaman. Kebudayaan lokal merupakan bahasa orang lokal dalam berdialog dengan budaya nasional dan dunia. Saya khawatir, angkatan yang tercerabut dari akar budayanya akan melahirkan suatu angkatan epigon. Gampang ditaklukkan oleh budaya asing dominan. Penaklukan secara budaya gerbang terbuka bagi penaklukan di bidang-bidang lain: politik-sosial-ekonomi. Yang ditakluk akan secara gampang memandang budaya sendiri sebagai sesuatu yang kadaluwarsa  dan tidak modern.  Melihat keadaan Kalteng sekarang, saya bertanya-tanya: Apakah tidak ada semacam proses desivilisasi tidak sadar oleh orang Dayak sendiri (baca: lokal) sehingga tercipta semacam desivilisasi Dayak oleh orang Dayak sendiri, keadaan yang tidak 100% dicapai oleh politik budaya “ragi usang” kolonialis Belanda dulu?***

 

 

Enyuh Lendai, 29 Maret 2009

—————————————

JJ. Kusni     

MARXISME (3)

Sebuah kajian

dinyatakan punah

ternyata kiprah

 

Suar Suroso:

Pengantar Penulis

 

Di ujung tahun 2008, dunia buncah dilanda krisis moneter kapitalis. Krisis terhebat dalam sejarah kapitalisme. Terkulailah panji kejayaan liberalisme yang mendominasi dunia di akhir abad ke-XX. Pandangan Samuel P. Huntington bahwa ideologi liberalisme demokratis sudah menang secara global dan karena itu berlaku secara universal ternyata berlawanan dengan kenyataan. Krisis kapitalisme adalah pertanda kebangkrutan liberalisme. Ini mengingatkan orang akan ajaran klasik Marx: krisis adalah anak kandung kapitalisme. Maka fikiran orang berpaling ke arah sosialisme. Marxisme jadi mencuat.

 

Marxisme bercita-citakan keadilan. Membebaskan umat manusia dari sistim penindasan. Membangun sistim sosial yang baru di dunia. Sistim penghisapan yang mau dilenyapkan adalah kapitalisme dan feodalisme. Sistim baru yang mau dibangun adalah sosialisme dan komunisme. Sungguh agung cita-cita ini. Menghapuskan sistim penindasan, berarti melenyapkan sang penindas. Tak ayal lagi, cita-cita agung ini berhadapan dengan musuh raksasa, yaitu kaum yang tak rela dilenyapkan. Maka semenjak lahirnya, musuh-musuh Marxisme sudah berbuat segala cara untuk menyelamatkan diri. Mati-matian berjuang melenyapkan Marxisme.

 

Bukan hanya teori dibantah dengan teori. Kekuatan militer pun dikerahkan untuk membendung Marxisme. Betapa pun dibendung, untuk pertama kali Marxisme dilaksanakan, dengan digulingkannya kekuasaan burjuasi Perancis. Berdirilah kekuasaan politik klas pekerja. Inilah Komune Paris yang meletus tahun 1871. Burjuasi Perancis tersentak. Tak rela digulingkan, mengerahkan kekuatan bersenjata membasmi Komune. Dengan serangkaian pembantaian berlumuran darah, dalam tempo beberapa hari Komune Paris digulingkan. Burjuasi Perancis kembali berkuasa. Tapi usaha mewujudkan cita-cita Marxisme tidaklah mandeg.

 

Menarik pelajaran dari kegagalan Komune Paris, tiga puluh delapan tahun kemudian, Oktober 1917, kelas pekerja Russia dibawah pimpinan Partai Buruh Sosial Demokrat Russia dan Lenin memenangkan revolusi, menggulingkan kekuasaan burjuasi Russia. Berdirilah negara diktatur proletariat pertama dalam sejarah dunia, yaitu negara Uni Republik-Republik Sovyet Sosialis (URSS). Burjuasi sedunia bangkit berlawan, berusaha membasmi negara diktatur proletariat ini. “Persekutuan suci” burjuasi Amerika, Inggeris, Perancis, Jepang digalakkan dibawah pimpinan Amerika Serikat untuk mencekik URSS. Tak juga terbasmi, akhirnya tahun 1933, yaitu sesudah enam belas tahun kemenangan Revolusi Oktober, Amerika Serikat terpaksa mengakui URSS.

 

Usaha membasmi URSS dilanjutkan dengan bangkitnya fasisme Nazi. Bersekutu dengan fasis Italia dan Jepang, Nazi Jerman membangun Pakta Anti-Komintern. Tujuannya adalah melenyapkan URSS, melenyapkan komunisme dunia. Untuk itu melancarkan Perang Dunia kedua, mengagresi URSS dari Barat. Tapi URSS dibawah pimpinan Stalin mematahkan serangan militer Nazi. URSS bersekutu dengan Inggeris, Amerika, Perancis berhasil memenangkan Perang Dunia kedua. Kekuasaan fasis bertekuk lutut. URSS tidak terbasmi, malah tampil sebagai pemenang perang, dan kian berjaya. Bahkan bermunculan negara-negara sosialis baru di Eropa Tengah dan Timur, yaitu Albania, Yugoslavia, Republik Demokrasi Jerman, Rumania, Cekoslowakia, Bulgaria. Dan di Asia berdiri Republik Rakyat Tiongkok, Republik Rakyat Demokrasi Korea serta Republik Demokratis Vietnam.

 

Perang Dunia usai, Marxisme tidak terlenyapkan. Kemenangan revolusi Tiongkok dan berdirinya Republik Rakyat Demokrasi Korea mengibarkan tinggi panji Marxisme. Di banyak negeri jajahan, berkobar perang pembebasan untuk kemerdekaan yang diilhami oleh ajaran Marxisme. Burjuasi dunia dikepalai Amerika Serikat tidak berkenan akan perkembangan pengaruh Marxisme ini. Harry Truman mengobarkan Doktrin Truman, yaitu strategi “the policy of containment” – pembendungan komunisme dunia –. Maka berkobarlah Perang Dingin, usaha pembasmian komunisme sejagat.

 

Berkecamuklah kegiatan membendung Marxisme. Amerika Serikat membentuk CIA pusat intelijen yang jadi tiang penyangga Perang Dingin. Mendirikan berbagai lembaga riset yang bertugas menghadang perkembangan Marxisme di dunia. Mulai dari Ford Foundation, Rockefeller Foundation, Carnegie Foundation, RAND (Research ANd Development) Corporation, dan lain-lain. Membangun dan menggalakkan Radio Free Europe, Radio Svoboda yang disasarkan ke daerah URSS, dan Radio Free Asia yang bertugas berpropaganda anti sosialisme dan anti komunisme. Mengerahkan dan membiayai para sarjana berkarya dengan tema anti sosialisme dan anti komunisme. Maka Walt Rostow menerbitkan karyanya Stages of Economic Growth — A Non-Communist Manifesto – dengan maksud sebagai saingan bagi Manifes Partai Komunis Marx dan Engels. Allen Dulles Kepala CIA menulis The Craft of Intelligence memaparkan bahwa “Marxisme-Leninisme adalah ajaran yang menyesatkan”.

 

Jacobo Arbenz yang memenangkan pemilihan umum demokratis di Guatemala mengambil langkah melenyapkan kekuasaan kapital besar Amerika Serikat. Karena itu, Jacobo Arbenz dinilai penganut Marxisme. Tak ayal lagi, harus digulingkan dan digantikan oleh Castillo Armas, seorang perwira militer hasil didikan Amerika. Di Asia Timur, Republik Rakyat Demokrasi Korea yang menjunjung Marxisme dinilai membahayakan “dunia bebas”, mengancam kemerdekaan Amerika Serikat. Maka harus dilenyapkan. Dengan mensalah gunakan panji PBB, Amerika mengobarkan Perang Korea. Senjata-senjata termodern, yang belum pernah dipakai dalam Perang Dunia kedua ditumpahkan Amerika dalam tiga tahun Perang Korea. Hampir sebanyak 2000 pesawat terbang Amerika hancur. Akhirnya, Amerika terpaksa menanda tangani persetujuan penghentian tembak menembak. RRDK yang mengibarkan Marxisme tidaklah terbasmi.

 

Di Eropa, untuk mencegah meluasnya pengaruh URSS, Amerika melancarkan Plan Marshall, membentuk pakta militer NATO. Untuk tujuan yang sama, di Timur Tengah dibentuk CENTO (Pakta Baghdad). Di Asia dibentuk SEATO. Dan dikobarkan Perang Vietnam membasmi Republik Demokrasi Vietnam. Amerika mengerahkan seperempat juta pasukan. Di medan Perang Vietnam ditumpahkan peluru dan bom lebih banyak dari jumlah yang diledakkan dalam Perang Dunia kedua. Republik Demokrasi Vietnam tidak terbasmi. Amerika Serikat terpaksa menarik mundur pasukannya dari Vietnam. Dan Republik Sosialis Vietnam bertahan teguh menjalankan sistim sosialis, diktatur proletariat di bawah pimpinan Partai Komunis Vietnam.

 

Dalam perkembangan sejarah, pengaruh Marxisme juga melanda Indonesia. Dengan pemahaman dan sikap yang berbagai macam terhadap Marxisme, tidak ada tokoh pergerakan kemerdekaan nasional Indonesia yang tidak mendambakan sosialisme. Mulai dari Pak H.O.S.Tjokroaminoto , H.Agus Salim, Darsono, Tan Malaka, Semaoen, Soetan Sjahrir, Musso, Alimin, Amir Sjarifoeddin, Bung Hatta sampai Roeslan Abdoelgani. Yang paling terkemuka adalah Bung Karno. Pada usia muda remaja, bertolak dari kenyataan masyarakat Indonesia, tahun 1926 Bung Karno tampil dengan gagasan agungnya tentang kerjasama dan persatuan penganut Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Gagasan ini kemudian menjadi NASAKOM, kerjasama kalangan penganut nasionalisme, agama dan komunisme. Kemenangan revolusi Agustus dan naiknya Amir Sjarifoeddin menjadi Perdana Menteri Indonesia menunjukkan besarnya pengaruh Marxisme di Indonesia. Di mata burjuasi Amerika Serikat ini adalah membahayakan, merupakan ancaman yang tak boleh dibiarkan berkembang menang. Sesudah Doktrin Truman berhasil dilaksanakan di Yunani dan Itali, yaitu berhasil mencegah kaum komunis memegang kekuasaan negara, maka Doktrin Truman juga melanda Indonesia. Dengan “Peristiwa Madiun” 1948, kaum kiri disingkirkan dari kekuasaan negara, generasi pertama pimpinan utama PKI terbunuh. Tapi PKI yang mengibarkan panji Marxisme-Leninisme bangkit dan berkembang lagi di bawah pimpinan generasi kedua, dengan tokoh-tokoh D.N.Aidit, MH Lukman, Njoto dan Sudisman. Dengan mendukung politik persatuan nasional Bung Karno, jika berlangsung pemilihan umum demokratis, di pertengahan tahun enampuluhan, PKI akan mencapai kemenangan. Amerika tidak berkenan akan kemenangan kaum Marxis ini. Maka pembasmian kaum Marxis, Sukarnois adalah suatu keharusan. Rekayasa pembasmian ini hanyalah salah satu bagian dari realisasi Doktrin Truman, the policy of containment – politik pembendungan komunisme sejagat – yang dikomandoi Amerika. Inilah Perang Dingin yang melanda dunia selama setengah abad seusai Perang Dunia kedua, dan juga melanda Indonesia.

 

Perang Dingin mencapai tujuannya dengan ambruknya URSS dan brantakannya negara-negara sosialis Eropa Tengah dan Timur. Burjuasi dunia bergendang paha. Pembela tangguh kapitalisme, Francis Fukuyama tampil dengan karyanya The End of History And The Last Man, yang menyatakan bahwa liberalisme sudah mengungguli Marxisme. Samuel P. Huntington tampil dengan karya The Clash of Civilisations And The Remaking Of World Order, yang menganggap pertarungan ideologi sudah selesai dan meramalkan masa depan dunia penuh dengan bentrokan peradaban. Huntington berpendapat bahwa: “Kini Uni Sovyet yang Marxis-Leninis sudah tak lagi mengancam Dunia Bebas, dan Amerika Serikat tidak lagi merupakan ancaman bagi dunia komunis, ….. maka ancaman yang akan datang adalah dari masyarakat dengan perbedaan budaya”. (.Huntington 1997: 34-35) Diramalkannya bahwa yang akan dihadapi selanjutnya adalah “bentrokan-bentrokan peradaban”. Pandangan Huntington ini lah yang membimbing politik luarnegeri Amerika Serikat. Walaupun diuar-uarkan bahwa Perang Dingin sudah usai, dalam kenyataan, the policy of containment tidaklah berakhir. Marxisme masih tetap dianggap “menghantui dunia”.

 

Di dunia media massa, penerbitan yang kini didominasi oleh burjuasi, kian bersimaharajalela karya-karya tulis, buku-buku yang mempropagandakan bangkrutnya Marxisme dan berjayanya liberalisme. Marxisme didiskreditkan dengan sinisme, eklektisisme, dengan pemutar-balikkan sejarah. Bukan hanya terhadap Marxisme, juga tokoh-tokoh Marxis dalam sejarah pun didiskreditkan. Sebagaimana usaha menghitamkan Stalin, kini berlangsung usaha sistimatis mendiskreditkan Mao Zhedong. Tiongkok yang dengan gemilang mentrapkan Marxisme juga harus didiskreditkan Mendiskreditkan Tiongkok adalah usaha untuk menegasi sukses pelaksanaan Marxisme dalam pembangunan sosialisme yang mengagumkan dunia. Inilah realisasi the policy of containment yang masih berlanjut. Arwah dan mentalitas penghasut Perang Dingin masih gentayangan.

 

Yung Chang dan Jon Halliday, yang anti komunis menulis Mao, Kisah-kisah yang Tak Diketahui (Jung Chang & Halliday: 2007). Dalam buku setebal 959 halaman, edisi lux ini, Mao Zhedong, dengan semena-mena dilukiskan sebagai manusia keji tak beradab, tiran, sosok tak berperi kemanusiaan. Buku Jung Chang ini tak sedikit diisi dengan kisah-kisah yang sulit dibuktikan kebenarannya. Banyak berdasarkan desas-desus, dugaan-dugaan, ada yang bilang, katanya, mungkin adalah, …. Sedikit saja pembaca berfikir kritis dan memahami agak mendalam sejarah Tiongkok modern dan sejarah dunia, maka dengan mudah menemukan kebohongan-kebohong an di dalam buku ini. Antara lain: Mao dan Stalin dinyatakan memicu Perang Korea (Jung Chang & Halliday 2007: 464-475). Sesungguhnya, Perang Korea adalah realisasi the policy of containment, salah satu puncak Perang Dingin yang dikobarkan Amerika Serikat dengan mensalahgunakan panji PBB. Mao Zhedong dinyatakan menyebarkan teror (Jung Chang & Halliday 2007: 306-326), pada hal pembunuhan dilakukan oleh Kuo Mintang atas Mao Zemin dan lain-lain. Mao Zhedong dinyatakan mendalangi pembunuhan atas Liu Zhitan. Pada hal adalah Mao Zhedong dan Zhou Enlai yang membebaskan Liu Zhitan dari penjara tahanan kaum oportunis “kiri” yang dipimpin Wang Ming. Dan Liu Zhitan diangkat menjadi panglima gabungan Tentara ke-XXVI dengan Song Renqiong sebagai komisaris politiknya. Dalam usia 33 tahun, Liu Zhitan gugur kena tembakan senapan mesin musuh dalam pertempuran di desa San Jiao Zhen, provinsi Shan Xi. Peristiwa ini disaksikan oleh pengawal pribadinya Xie Wenxiang dan Pei Zhouyu anggota Barisan Pengawal khusus. Terdapat sajak dan inskripsi Mao Zhedong, Zhou Enlai, Zhu De, Ye Qianying memuja Liu Zhitan sebagai pahlawan bangsa. (Liu Zhitan 1979). Sesuatunya yang tak masuk akal, dalam buku Jung Chang, Mao Zhedong dinyatakan menolak melawan Jepang: “Stalin pasti tidak senang, karena Mao menolak melakukan aksi melawan Jepang guna membantu Uni Soviet” (Jung Chang & Halliday 2007: 325). Kenyataannya adalah: semenjak semula Mao Zhedong melawan agresi Jepang, menjadikan tugas ini sebagai program strategis bagi revolusi Tiongkok, mengajak Kuo Min Tang menggalang front persatuan untuk melawan Jepang.

 

Tampilnya Tiongkok sebagai negara sosialis dengan pembangunan ekonomi yang mengagumkan dunia dibawah pimpinan Partai Komunis, berarti mendemonstrasikan suksesnya pelaksanaan Marxisme. Maka berlangsunglah usaha serius burjuasi untuk mendiskreditkan Tiongkok. Peter Navarro, dosen Universitas California, menulis buku The Coming China Wars (Letupan-Letupan Perang China Mendatang). (Navarro 2008): Dalam bukunya ini Navarro berpendapat bahwa Tiongkok “menempatkan dirinya di jalur yang akan berbenturan dengan negara-negara lain di dunia”. Dia mengakui pesatnya perkembangan pembangunan Tiongkok hingga Tiongkok menjadi negara besar di bidang ekonomi. Tapi dengan menggunakan berbagai data sampingan akibat dari proses perkembangan pesat itu, Peter Navarro memaparkan pandangannya bahwa Tiongkok menjadi sungguh menakutkan, menjadi sumber bahaya mengerikan, menjadi imperialis yang keji mengancam keselamatan dunia dan umat manusia. Adalah benar bahwa dalam proses industrialisasi besar-besaran terjadi polusi. Dalam realisasi ekonomi pasar sosialis terjadi pemalsuan-pemalsuan barang dagangan, upah yang rendah, masalah-masalah nilai tukar mata uang Ren Min Bi, korupsi dan sebagainya. Tapi tetap berlangsung usaha mengatasinya satu demi satu. Pernyataan Navarro bahwa kaum tani di pedesaan berada dalam keadaan kian tertindas adalah tidak cocok dengan kenyataan, karena justru pemerintah Wen Jiabao mencabut semua pajak di pedesaan yang berarti untuk pertama kali dalam sejarah, kaum tani Tiongkok dibebaskan dari beban berat sistim feodal yang selama berabad-abad menindas kaum tani Tiongkok. Korupsi terjadi, tapi tindakan terhadap koruptor berlangsung dengan keras, hingga sejumlah pejabat tinggi negara dihukum mati. Upah rendah, tetapi seiring dengan kenaikan pendapatan nasional berlangsung pula penaikan upah. Pemalsuan barang dagangan terjadi, tapi tindakan keras selalu diambil untuk mengatasinya. Bahaya bentrokan militer dengan tetangga adalah dibesar-besarkan belaka, karena Tiongkok justru menjunjung tinggi lima prinsip koeksistensi secara damai dan mengangkat semboyan membangun dunia yang harmonis dalam politik luarnegerinya.

 

Memang dari pembela tangguh kapitalisme tidaklah dapat diharapkan sesuatunya, kecuali ejekan dan kutukan terhadap sosialisme. Demikianlah Navarro menutup mata terhadap penghisapan berabad-abad yang dilakukan imperialisme Barat terhadap Afrika. Tapi matanya membelalak terhadap bantuan, perdagangan dan kerjasama Tiongkok dengan berbagai negara Afrika. Kerjasama dan bantuan Tiongkok, hingga terjadi pembangunan 1800 kilometer jalan kereta api Tanzania – Zambia, pembangunan jalan kereta api di Nigeria, stadion-stadion olah raga, jalan-jalan raya, sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit di berbagai negara Afrika. Perdagangan, kerjasama dan bantuan-bantuan ini dinilai Navarro: “secara sistimatis merampas bahan-bahan mentah dan sumber daya alam dari berbagai negara” (Navarro 2008: 100). Ini dinilai Navarro sebagai “Safari parasit China di Afrika” (Idem). Kegiatan perdagangan dan kerjasama Tiongkok dengan negara-negara Amerika Latin juga meningkat sangat pesat. Mengenai ini Navarro menulis, bahwa “Ada sesuatu bahaya yang tampak jelas bagi Amerika Latin dari imperialisme China” (Navarro 2008: 115). Navarro menilai Tiongkok adalah imperialis. Tiongkok bekerjasama erat dan membantu pembangunan sosialisme di Kuba. Membangun jalan kereta api, sekolah-sekolah dan lain-lain buat Venezuela. Sesuatunya yang tak pernah terjadi di bawah kekuasaan imperialis Amerika selama ini. Secara dialektis kita melihat, bahwa kemenangan-kemenang an baru Marxisme dalam pembangunan sosialisme melahirkan reaksi dahsyat dari burjuasi yang melihat liang kuburnya menganga ! Peter Navarro menggunakan metodologi eklektika dalam menulis bukunya. Eklektika adalah metodologi pseudo-ilmiah yang gampang menyesatkan. Dia menderetkan sejumlah data yang memang ada dalam kenyataan, tapi kesimpulannya adalah menurut yang diinginkannya. Karena itulah terjadi: Tiongkok berdagang yang saling menguntungkan dan memberi bantuan yang menguntungkan bagi rakyat negara yang dibantu, tapi Navarro menilai perdagangan dan bantuan itu adalah imperialistis. Dengan ambruknya Uni Sovyet dan negara-negara sosialis Eropa Tengah dan Timur, maka bersorak-sorailah para penentang komunisme, penentang Marxisme. Di Indonesia ada yang menulis “Marxisme sudah usang dan ketinggalan zaman”. “Di negeri kelahirannya pun Marxisme sudah dicampakkan” “Secara ideologis, komunisme bukanlah ideologi yang menjanjikan. Inilah pertanda bahwa ideologi sosialisme, komunisme, marxisme-leninisme itu sekarang ini sudah finish”. “Di bawah rezim komunis, masyarakat mau bekerja hanya karena takut, ancaman mau dibunuh—dan jangan lupa 50 juta jiwa mati di Uni Soviet era rezim partai komunis”. “Ancaman komunisme tetap menghantui bangsa Indonesia. PKI telah dua kali memberontak, yaitu pada tahun 1948 dan tahun 1966”. ”Sebagai sebuah ideologi, komunisme tidak pernah mati. Dia terus mengembangkan pertentangan antar kelas: kaya miskin, buruh-pengusaha/ majikan, juga petani-tuan tanah”. Ini semua adalah lagu lama yang didendangkan sekarang oleh kaum anti-komunis.

 

Marxisme sebuah kajian dinyatakan punah ternyata kiprah adalah tulisan untuk membantah pandangan-pandangan ini. Penulis berpendapat, bahwa Marxisme bukanlah usang dan daluwarsa, tetapi sedang berkembang maju. Memahami Marxisme akan bermanfaat bagi generasi muda yang dengan sungguh-sungguh mencari jalan keluar dari keterpurukan Indonesia, setelah berlangsungnya pembodohan karena didominasi oleh kediktatoran orba dibenggoli Soeharto. Kapitalisme dan feodalisme tidaklah mungkin memakmurkan bangsa Indonesia. Untuk mencapai sosialisme tak ada jalan lain, haruslah memahami dan mempraktekkan Marxisme.

 

Sungguh tragis, pembodohan secara sistimatis masih berlangsung di Indonesia dengan adanya larangan atas Marxisme. Tidak ada satu pun negara yang menjunjung demokrasi dan beradab di dunia dewasa ini yang dengan undang-undang melarang Marxisme atau penyebaran Marxisme. Betapa pun dilarang, sebagai ilmu, Marxisme tetap dicari dan dipelajari siapa saja yang sungguh-sungguh bertujuan berjuang untuk melenyapkan penindasan manusia oleh manusia.

 

Krisis moneter kapitalis yang melanda dunia akhir tahun 2008 telah membuka mata orang, bahwa kapitalisme bukanlah sistim ekonomi yang tanpa cacat, yang dapat diandalkan untuk menyelamatkan umat manusia. Tak ada jalan lain, pilihan jatuh pada sosialisme. Maka Marxisme tampil ke permukaan dengan daya tarik yang sulit dibendung.

 

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Bung Koesalah Soebagjo Toer yang semenjak selesainya naskah ini menunjukkan perhatian besar untuk menerbitkannya. Dalam keadaan belum diterbitkan, bahkan naskah ini pernah dipamerkan dalam pameran buku tahun 2006 di Jakarta. Akhirnya, berkat perhatian dan usaha Pak Joesoef Isak, Hasta Mitra berhasil mengedit dan menerbitkan buku ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan pada Pak Joesoef Isak. Terutama atas Sebuah Renungan Singkat beliau yang memberi nilai tambah bagi buku ini. Penulis mengharapkan dan akan sangat menghargai kritik-kritik dari para pembaca atas kekurangan isi buku ini. Semoga Marxisme sebuah kajian dinyatakan punah ternyata kiprah bisa bermanfaat dalam memperkaya khazanah kepustakaan Indonesia mengenai sosialisme.

 

Januari, 2009

Jurnal Toddopuli : KECEPATAN

Tahun 1951 ketika meninggalkan Kasongan, sekarang ibukota kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, untuk menuju Sampit, mencari SMP, saya berangkat menggunakan kapal kayu 70 ton. Kapal kayu yang badannya dibuat oleh penduduk lokal, untuk menapai Sampit , ibukota kabupaten Kotawaringin Timur, setelah keluar dari muara Sungai Katingan harus berlayar mengharungi Laut Jawa, kemudian memasuk Sungai Mentaya di mana Sampit terletak dipinggirnya.Demikian juga untuk ke Jawa untuk melanjutkan sekolah, karena di kabupaten yang ukuran geografisnya jauh lebih besar dari Pulau Jawa, saya kembali harus menyeberangi Laut Jawa, menggunakan kapal van Goen milik maskapai perkapalan Belanda KPM. Waktu itu Kalimantan Tengah masih merupakan bagian dari propinsi Kalimantan Selatan (dengan ibukota Banjarmasin). Hubungan udara antara Kalsel dan Jawa merupakan sesuatu yang langka dan tak terjangkau oleh penduduk biasa seperti orangtua saya. Transport antar kota, apalagi antar pulau merupakan permasalahan sangat besar pada waktu itu. Demikian juga soal sekolah. SMP hanya terdapat di Sampit. Itu pun sekolah swastra milik gereja Kristen Protestan. SMP Negeri baru ada setelah beberapa tahun kemudian. Semua ekspor daerah seperti rotan, karet dan lain-lain, peruntungannya berhenti di Banjarmasin, sedangkan daerah penghasil asalnya boleh dikatakan tidak mendapatkan apa-apa. Ketimpangan-ketimpangan inilah kemudian yang melahirkan pemberontakan bersenjata Gerakan Mandau Talawang Pancasila pada 1956 dengan tuntutan utama agar daerah yang sekarang menjadi wilayah propinsi Kalimantan Tengah, sebagai propinsi tersendiri.

Setelah 1965 saya terlempar ke luarnegeri dan hidup bertahun-tahun di luar negeri bekerja untuk hidup dan sambil bersekolah. Beberapa dasawarsa kemudian, saya kembali ke Kalteng. Perjalanan Kalteng-Jawa dahulu ditempuh selama berhari-hari dan bermalam-malam, kali ini hanya ditempuh dalam waktu 1 jam 45 menit penerbangan. Setelah itu dari Palangka Raya ke Kasongan jalan darat beraspal licin dan Kasongan bisa dicapai hanya dalam waktu 1,5 sampai dua jam berkenderaan darat. Sedangkan dulu untuk ke Palangka Raya selain menggunakan jalan laut dan sungai juga dengan dua hari jalan kaki. Demikian juga untuk ke Sampit, yang dahulu hanya bisa dicapai melalui laut dan sungai, sekarang dengan gampang dicapai melalui jalan darat. Telpon umum di mana-mana. Ponsel berada di tangan tua dan muda.Hubungan dengan dunia luar makin dimudahkan oleh adanya internet, walau pun di Kasongan baru ada hanya satu warnet dengan dua komputer dengan tarif Rp.7000,- per jam, sedangkan di Palangka Raya berkisar antara Rp.4000,- sampai Rp.5000,- per jam. Sementara itu adanya parabola yang mencongak di halaman atau atap rumah-rumah keluarga membuat penduduk dengan cepat mengikuti berita-berita dari penjuru dunia mana pun juga. Dari kota hingga ke hulu sungai, orang-orang berbicara tentang krisis finansial dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari serta tentang globalisasi –walau pun dengan pengertian yang terbatas.

Keadaan begini menunjukkan pada saya kenyataan bahwa ruang atau jarak dan waktu menyempit dengan kecepatan luar biasa. Planet kita makin nyata merupakan sebuah “desa global kecil” semata oleh laju perkembangan tekhnologi yang kita tinggi dan pesat. Pengaruh-mempengaruhi, susup-menyusup, saling terkait dan tergantung, saling berhubungan antara negeri satu dengan yang lain makin nyata dan makin terasa. Tak terelakkan. Dengan dampak

positif dan negatifnya. Menimbulkan tantangan baru yang patut dijawab secara tanggap. Keadaan ini juga membuat sektarisme atau ketertutupan menjadi sikap kadaluwarsa dan tidak zamani.

Menyempitnya ruang dan waktu ini, barangkali niscaya layak jadi perhitungan dalam semua kegiatan kita di masa sekarang dan lebih-lebih di masa mendatang. Sejalan dengan ini, hal baru muncul yaitu tampilnya faktor kecepatan (rapidity, la vitesse). Unsur yang kiranya niscaya masuk perhitungan pengambil keputusan dan siapa saja dalam berkegiatan. Tanpa memperhitungkan unsur kecepatan kita akan ketinggalan perkembangan. Keputusan-keputusan kita menjadi tidak tanggap keadaan dan tidak zamani lagi sehingga barangkali menghasilkan buah yang tidak sesuai harapan karena sudah kadaluwarsa.

Faktor kecepatan erat kaitannya dengan mendapatkan informasi menyeluruh yang tepat waktu. Sebab kecepatan bukanlah berarti cepat asal cepat tanpa memperhitungkan keadaan obyektif yang sesungguhnya. Bukanlah meninggalkan kecermatan. Informasi yang dimaksudkan di sini, tentu adalah informasi yang akurat. Informasi yang tidak akurat akan melahirkan keputusan yang keliru yang bisa mendatangkan korban besar seperti halnya dengan keputusan George Bush Jr ketika melancarkan Perang Irak Kedua. Kecepatan tidak juga berarti melepaskan prinsip mengenal kebenaran dari kenyataan. Tapi justru menuntut agar kebenaran dari kenyataan ini didapatkan dengan cepat. Tanpa menghitung unsur kecepatan, kita akan kehilangan banyak kesempatan. Kesempatan yang sama biasanya jarang datang dua kali. Jika demikian apakah filosofi « alon-alon asal kelakon » masih tanggap zaman?

Ketika planet kecil kita menjadi sebuah “desa kecil dunia” maka unsur kecepatan ini makin mempengaruhi kehidupan kita secara nyata.

Hal inilah antara lain yang terbaca oleh saya ketika kembali ke Katingan tahun ini.***

Katingan, Maret 2009

————————-

Dr. JJ. Kusni, seorang putra Katingan yang tinggal di Paris, Perancis.

Jurnal Toddopuli « PETAK DANOM ITAH »

« Petak Danom Itah » , secara harafiah dalam bahasa Dayak Ngaju berarti « tanah air kita ». Dalam konteks lain, ungkapan ini juga bisa berarti « tanahair », tapi bisa juga berarti tanah dan air sebagai benda.

« Petak Danom Itah » (PDI) judul dari sebuah filem dokumenter berdurasi 15 menit, yang saya tonton kemarin malam di kantor Yayasan Cakrawala Indonesia Palangka Raya, dari tema dan masalah pokok yang diangkat, agaknya berarti petak dan danom sebagai benda. Bukan dalam pengertian tanahair. PDI, filem dokumenter yang diproduksi oleh Center Orang Utan Protection (Pusat Perlindungan Orang Utan) atau kahiu dalam bahasa Dayak Katingan mengangkat masalah perlawanan penduduk desa Tura, Kecamatan Pulau Malan, Kabupaten Katingan, Kalteng, terhadap rencana penggunaan tanahadat untuk areal penanaman kelapa sawit.

Kisah bermula dari kedatangan dua warga Desa Tura ke rumah Kepala Desa (Kades) untuk membut Surat Keterangan Tanah (SKT). Daryatmo, Kades termuda di kabupaten Katingan, berjanji untuk menyelesaikannya. Daryatmo, sekali pun namanya berbau-bau nama Jawa, adalah seorang putera Dayak Katingan « asli », hari berikutnya segera datang ke kantor camat mengharapkan tandatangan camat Pulau Malan. Malang, sang camat menolak menandatangani SKT itu. Bukan cuma itu, pemegang kekuasaan kecamatan Pulau Malan malah mengancam Daryatmo jika ia menolak menyerahkan tanahnya kepada pengusaha sawit. Berbagai usaha dan kegiatan dilakukan untuk mengucilkan Daryatmo.

Jawaban camat disampaikan oleh Daryatmo kepada seluruh warga desa yang bertekad tidak akan menyerahkan tanah adat mereka sejengkal pun kepada pengusaha sawit yang berasal dari luar. Mereka lalu menanam karet di lahan yang dirampas dari tangan mereka. Keputusan ini diambil « demi kepentingan anak-cucu mereka di masa depan ». Berdasarkan pengalaman desa-desa lain yang telah menyerahkan tanah adat mereka kepada pengusaha sawit, mereka melihat bahwa sawit sama dengan peminggiran atau marginalisasi diri mereka. Mereka akan menjadi orang yang “tempun petak batana saré, tempun kajang bisa puat, tempun uyah batawah belai” (punya tanah berladang di tepi , mempunyai atap basah muatan, mempunyai aram, hamar di rasa) .

Dua sikap bertolak-belakang ini menimbulkan keteganan di desa Tura sampai hari ini.

Skenario dan cerita filem documenter ini disusun dan ditulis oleh para warga desa Tura sendiri, sementara shootingnya dibantu oleh seorang kameramen professional.Pemain-pemainnya pun adalah para warga itu sendiri. Kameramen dari Jawa yang membantu warga Tura membuat filem ini mengatakan bahwa hal demikian dilakukan dengan bimbingan konsep bahwa “rakyat memuat filem tentang diri mereka sendiri. Filem bisa dibuat oleh siapapun”. Filem bukanlah dunia misteri yang terbatas pada kalangan kecil pekerja filem belaka.

Dalam usaha menarik perhatian internasional akan kasus Desa Tura, rencana merampas tanah adat masyarakat, pada Desember 2008 yang lalu, PDI telah diputar di Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, dihadiri oleh wartawan-wartawan dalam dan luar negeri. Direncanakan juga PDI, filem dokumenter nyang diselesaikan pada Oktoeber 2008 lalu akan disebarkan juga ke berbagai negeri Eropa Barat dan lembaga-lembaga HAM internasional, termasuk Amnesti Internasional, yang menurut sementara sumber bisa dipercayai sudah menggolongkan kasus tanahadat Desa Tura sebagai pelanggaran HAM paling telanjang.

Dari segi lain, PDI ini juga memperlihatkan secara nyata peran sastra-seni, termasuk seni filem bagi pemanusiawian manusia dan perjuangan bagaimana menjadikan bumi sebagai tempat anak manusia agar hidup secara manusiawi. Sastra-seni adalah sebuah republik berdaulat yang bila perlu berdiri hadap-hadapan dengan penyelenggara kekuasaan politik. ***

Palangka Raya, Maret 2009

———————————-

JJ. Kusni, seorang putera Katingan yang tinggal di Paris