Archive for April, 2009|Monthly archive page

“THE OT DANUM FROM TUMBANG MIRI UNTIL TUMBANG RUNGAN

Jurnal Toddopuli

(Cerita Kepada Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)

I.

Dalam rangka merayakan Hari Bumi 22 April 2009, bertempat di Palangka Raya Mall (Palma) Palangka Raya, pada 27 April yang lalu sebuah draft atau rancangan buku berjudul “The Ot Danum From Tumbang Miri Until Tumbang Rungan (Based On Tatum) Their Histories And Legends” (selanjutnya disingkat “The Ot Danum) diluncurkan. Saya katakan “The Ot Danum” baru merupakan draft karena ketika diluncurkan, ia baru berupa sebuah fotokopie serta dikatakan masih akan diperbaiki. Rancangan buku yang ditulis kembali oleh Abdul Fattah Nahan dan During Rihit Rampai ini adalah kumpulan 38 legenda terpelihara melalui penuturan dari mulut ke mulut dari generasi satu yang ke lain. Menurut kedua penulis ulangnya, “Semua kisah dalam buku ini adalah cerita suku Dayak Ot Danum yang mendiami daerah pedalaman Kalimantan Tengah” terutama “Kawasan yang sekarang dianggap sebagai Heart of Borneo”, yaitu “kabupaten-kabupaten Gunung Mas, Katingan, Murung Raya dan Lamandau”. Dijelaskan juga oleh Abdul Fattah Nahan, pensiunan pegawai negeri Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan yang juga Ketua Sanggar Budaya CENKAISCT (Central Kalimantan: Information for Science, Cultural and Tourism) dan During Dihit Rampai, seorang pegawai negeri aktif dari suku Dayak Ngaju yang bertugas di Kabupaten Gunung Mas, bahwa ke-38 cerita rakyat yang bersumber dari Tatum, mencapai bentuknya yang sekarang setelah melalui pekerjaan ”seperempat abad lebih”. “Sedangkan Tatum adalah kisah asal usul dan pengembaraan nenek moyang suku Dayak yang pertama kalinya memasuki wilayah Kalimantan Tengah sekarang, dituturkan dalam bahasa Sangen atau Sangiang berupa pantun-pantun atau bahasa berirama yang dibawakan dengan meratap”. “Semua mitos dan legenda ini telah menjadi cerita rakyat…. Mengenai asal usul manusia di bumi Kalimantan Tengah, serta tokoh sentralnya adalah dua orang bernama Bungai dan Tambun yang dianggap sebagai manusia super natural dan nenek moyang mereka”.

“The Ot Danum” sebagai sebuah rancangan buku dihiasi dengan ilustrasi berupa sketsa-sketsa karya Dreyano I. Lindan, seorang pegawai negeri berdarah suku Dayak Ma’nyaan, 1) karikaturis pada Harian Dayak Pos, Palangka Raya, serta foto-foto Monumen dan patung Tambun Bungai di Tumbang Pajangei.

AgustinTeras Narang, Gubernur Kalteng sekarang, dalam sambutannya terhadap rancangan buku ini antara lain menulis: “Saya berharap buku yang memaparkan potensi kabupaten Gunung Mas ini, memberikan kesadaran terhadap pelestarian budaya dan lingkungan hidup serta meningkatkan kemajuan pariwisata”.

Saya kira, yang dipaparkan oleh rancangan buku “The Ot Danum”, sama sekali tidak “memaparkan potensi kabupaten Gunung Mas”, tetapi mengangkat cerita-cerita rakyat dan mitos yang antara lain terdapat di Gunung Mas. Saya katakan “antara lain” karena cerita-cerita yang diangkat dan ditulis kembali oleh kedua penulis, seperti yang diakui oleh kedua penulisnya sendiri, juga terdapat di kawan “The Heart of Borneo” yaitu Katingan, Murung Raya dan Lamandau. Saya juga tidak jelas hubungan antara rancangan buku “The Ot Danum” dengan pelestarian lingkungan hidup dan kemajuan pariwisata. Kalau pembangunan jembatan, para sarana, kemudahan transport, pelayanan di restoran dan hotel, perawatan situs-situs budaya, yang umumnya terbengkalai, pengembangan kesenian , mempunyai hubungan dengan “meningkatkan kemayan pariwisata”, bisa dengan mudah saya pahami. Demikian juga jika penanaman pohon hias di jalan-jalan, penanaman pohon menggantikan pembabatan hutan, pengembangan kebun karet, bukan sawit, penerbitan pembuangan sampah, bisa cepat saya cernai dalam usaha menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Rancangan buku “The Ot Danum” sebagai bentuk penulisan ulang cerita-cerita dan mitos yang selama ini berkembang secara lisan, memang benar sebuah langkah positif terhadap “pelestarian budaya”. Sebab jika cerita-cerita demikian tidak dicatat, tidak ditulis, sulit diyakini bahwa pada masa mendatang masih akan ada para penuturnya. Pelestarian hanyalah salah satu langkah penting dan ia bersifat registrasi kekayaan sastra yang kita miliki. Langkah berikutnya adalah interpretasi cerita dari berbagai segi: sosial, ekonomi, filsafat, psikhologi, jender, lingkungan hidup, nilai dominan, perang dan damai, heroisme, dan lain-lain. Karena cerita, baik yang tertulis atau pun lisan, sebagai karya sastra, mengandung unsure-unsur kehidupan secara menyeluruh dan bisa dipahami dari berbagai sudut pandang. Penafisran ulang, selain bersifat apresiasi, ia juga merupakan salah satu bentuk dari revitalisasi budaya local, untuk selanjutnya direstitusi. Revitalisasi membuat khazanah budaya kita terfilter dan tanggap zaman. Yang tanggap zaman inilah kemudian yang direstitusi. Barangkali inilah jalan pembangunan kebudayaan tanpa lepas akar. Saya membedakan antara kembali ke akar dan tidak lepas akar. Yang kita perlukan adalah kebudayaan modern, dalam artian tanggap zaman, tanpa lepas akar. Pelestarian dalam artian mencatat dan registrasi hanyalah tahap awal diperlukan dalam usaha melakukan revitalisasi dan restitusi. Bukan tujuan.

Letak penting “The Ot Danum” terdapat, justru pada registrasi ini. Langkah pertama pencatatan dan pendaftaran khazanah sastra dan budaya Dayak. Usaha begini patut dihargai, apalagi telah dikerjakan sepanjang kurun waktu « seperempat abad lebih » walau pun dibandingkan dengan apa yang dicapai oleh Institut Dayakologi, Pontianak, hasil kerja selama kurun waktu demikian sangat tidak padan. Apalagi jika kita perhatikan, yang ditampilkan dalam « The Ot Danum », mendekati sebuah ikthisar belaka, ditambah tidak dengan menyertakan nara sumber dari mana cerita-cerita tersebut diperoleh. Saya katakan sebagai sebuah ikhtisar dengan perbandingan penuturan atau penulisan kembali yang dilakukan oleh Marko Mahin tentang Damang Batu dari Tumbang Anoy atau cerita-cerita yang ditulis ulang oleh teman-teman dari Institut Dayakologi, Pontianak Kalimantan Barat, yang secara teratur diterbitkan di dalam Majalah Bulanan Kalimantan Review.

Dilihat dari segi hak intelektual, kelalaian untuk tidak mencantumkan sumber, bisa dikatakan suatu pencurian atau paling tidak, tidak jujur. Pengetengahan soal hak intelektual ini, saya ajukan dengan harapan kita bisa mulai saling menghargai, menghormati jerih-payah dan karya orang lain.

Rancangan buku “The Ot Danum”, ketika diluncurkan masih tampil dalam dua bahasa, yaitu bahasa Dayak dan Bahasa Indonesia. Kedua penulis ulang kisah-kisah ini berharap ketika tebit menjadi buku, bisa muncul dalam tiga bahasa: Dayak, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dengan maksud bisa menjangkau pembaca lebih luas. Jika maksud begini ingin diwujudkan barangkali, kedua penulis ulang perlu memberikan penjelasan metode mereka dalam mengumpulkan cerita serta,memberikan sekedar penjelasan tentang Ot Danum dahulu dan sekarang sebagaimana yang dilakukan oleh Institut Dayakologi, Pontianak, dengan buku-buku hasil penelitian selama 20 tahun lebih mereka di Kalimantan Barat. Kata Pengantar yang ditulis oleh During Rampai dan Abdul Fattah Nahan boleh dikatakan tidak berucap apa pun tentang apa bagaimana dan siapa Ot Danum, serta makna Tambun-Bungai dahulu dan sekarang. Apalagi tentang tafsiran terhadap kisah-kisah yang disajikan sebagai pengantar apresiasi. Penampilan ke khalayak lebih luas dengan menggunakan bahasa Inggris, barangkali menuntut pengolahan yang lebih padan, tentu tidak seperti yang ditampilkan oleh draft. Peluncuran sebuah draft dan disebut sebagai peluncuran buku saja, memberikan pengalaman baru bagi saya dan baru sekarang saya hadiri. Semangat yang patut didorong, memang.

Sebelum menghadiri peluncuran draft buku “The Ot Danum”, seorang teman mengingatkan saya, agar kalau bicara, jangan terlalu keras dan tajam. Teman ini juga berkata bahwa Abdul Fattah Nahan dan usaha-usahanya bersifat tidak “tertanding dan tak ada duanya”. Yang pasti, saya katakan bahwa karya-karya Abdul Fattah Nahan bukanklah satu-satunya penulis dilihat dari segi Kalteng. Kalteng masih mengenal nama-nama penulis lain seangkatan atau yang masih hidup serta aktif menulis, seperti T.T. Suan, Nila Riwut, Marko Mahin, Ben Abel, Soemandi, Anthony Nyahu, Sastriadi, Prof.K.M.A.Usop, dan lain-lain. Dalam artian apakah ia “tidak ada duanya”. “Tidak tertanding” dalam hal apakah? Dari segi bahasa ataukah isi ataukah dari segi cara menuturkannya kembali?

Beberapa pembicara dalam peluncuran draft mengatakan dengan terus-terang bahwa jika dilihat dari segi bahasa, draft buku ini justru penulis yang mengaku diri sebagai “mengetahui banyak bahasa” ini bahkan merusak bahasa dan tatabahasa serta cara penulisan bahasa Dayak, termasuk menyalahi kesepakatan tentang penulisan bahasa Dayak yang dicapai dalam seminar bahasa tahun 1987.

Terhadap nasehat agar “jangan terlalu keras dan tajam” , tentu sebuah nasehat baik yang perlu diperhatikan karena tujuan baik jika tidak disertai cara yang baik, tujuan baik bisa tidak tercapai. Malah bisa menjauh. Hanya saja seorang penulis, kiranya perlu ingat bahwa teks yang ia lepas ke masyarakat, sudah memiliki kehidupan tersendiri dan masyarakat sebagai pembaca mempunyai kedaulatan. Peluncuran buku adalah salah satu cara melepaskan karya menempuh kehidupannya sendiri ke tengah masyarakat pembaca yang berdaulat.

Penulisan ulang kisah-kisah rakyat Kalteng berbentuk ikhtisar ini selain patut dihargai dari segi pencatatan dan pendaftaran khazanah sastra Dayak, juga patut disambut dilihat dari segi keberanian dan prakarsa menulis serta keberanian menulis. Apalagi jika diingat bahwa barisan penulis di Kalteng masih sangat lemah dibandingkan dengan daerah-daerah lain seperti Jambi, Lampung, Palembang, Riau, Kalsel, Kaltim, Makassar, dan lain-lain, tanpa usah membandingkannya dengan Jawa. Draft ini sebagai karya sungguh tidak padan dengan dana yang kabarnya berjumlah miliar sebagai bagian dari kerangka proyek pembangunan sederhana Monumen Tambun-Bungai. Saya tidak tahu, apakah dana besar untuk menghasilkan hal yang tak seberapa merupakan kebiasaan dan model Indonesia kekinian?

Hal lain yang ingin saya catat di sini adalah keterangan yang saya dengar di peluncuran bahwa Tambun adalah seorang perempuan. Namanya disebut lebih dahulu dari Bungai sebagai penghargaan orang Dayak terhadap perempuan, semacam “lady first” (mendahulukan perempuan) jika di Barat. Sedangkan Tambun yang pahlawan, setara dengan Tambun bisa dipahami sebagai kesetaraan antara lelaki dan perempuan di Tanah Dayak, kesetaraan yang terungkap dalam berbagai bentuk dan kehidupan sehari-hari, seperti ketika lelaki dan perempuan berperahu, kesetaraan dalam mengendalikan rumah tangga, penyebutan “bulau” (emas) untuk vagina. Sayangnya konsep jender di kalangan masyarakat Dayak ini, sampai sekarang belum dicermati sungguh-sungguh.

Lebih lanjut, di sini saya sertakan tulisan Marko Mahin, yang membahas draft buku “The Ot Danum” dan disampaikan pada saat peluncuran. ***

Palangka Raya, April 2009

—————————–

JJ. Kusni

Catatan:

1). Menurut catatan para antropolog dan ahli bahasa, pengembaraan suku Dayak Ma’nyan sudah mencapai sejauh Madagaskar yang terletak di pantai timur benua Afrika. Sisa mereka di pulau tersebut, sekarang tersebar di daerah pegunungan pulau.

II

MENAPAK JEJAK BUNGAI TAMBUN

SI BUMI TAMBUN BUNGAI

Catatan Kritis atas Buku

The Ott Danum From Tumbang Miri Until Tumbang Rungan

(Based On Tatum) Their Histories And Legends

Oleh :Marko Mahin *

Rapin Tuak Tamparan Kutak

Saya berterimakasih kepada WWF Indonesia Kalimantan Tengah yang telah mempercayakan saya untuk membahas buku ceritera yang berjudul The Ot Danum From Tumbang Miri Until Tumbang Rungan (Based On Tatum) Their Histories And Legends ini. Dengan membaca buku ini, saya teringat dengan nenek saya yang kini sudah meninggal dunia. Beliau suka menuturkan berbagai ceritera kepada kami cucu-cucunya, termasuk ceritera dua pahlawan gaga-perkasa yang bernama Tambun Bungai. Untuk mengapresiasi karya Bapak Abdul Fatah Nahan dan During Dihit Rampai ini, dalam kapasitas sebagai seorang antropolog saya hanya memberi “thin description” dalam bentuk catatan-catatan saja.

Catatan Pertama

PALANGKA BULAU LAMBAYUNG NYAHU

Menurut Basir Upo atau Basir Handepang Telon yang bernama Thian Agan 1), Palangka Bulau Lambayung Nyahu adalah tempat atau wadah persegi empat yang terbuat dari kayu, dengan cirri utamanya adalah ada hiasan kepala dan ekor burung Tingang. Pada zaman dahulu Palangka adalah wahana transportasi antara Pantai Danum Sangiang (Alam Atas) dengan Pantai Danum Kalunen (Dunia Manusia).

Dalam Panaturan, yaitu ceritera suci orang Dayak Ngaju, 2) dituturkan bahwa leluhur manusia yang berdiam di dunia ini adalah Maharaja Bunu. Pada mulanya Ia tinggal di Pantai Danum Sangiang yaitu Alam Atas bersama dua orang saudara kembarnya yaitu Maharaja Sangiang dan Maharaja Sangen. Mereka bertiga anak dari Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut Kameloh Janjulen Karangan manusia laki-laki dan manusia pertama yang diciptakan oleh Ranying Mahatala Langit.

Karena memiliki Sanaman Leteng senjata yang mematikan maka Maharaja Bunu diturunkan ke Pantai Danum Kalunen (dunia ini) dengan Palangka Bulau Lambayung Nyahu di puncak bukit Samatuan (bukan Pamatuan). Bukit itu menurut Panaturan terdapat di antara Kahayan Rotot dan Kahayan Katining.

Juga dituturkan bahwa ada beberapa kali Palangka dipakai sebagai wahana transportasi antara Alam Atas dan Dunia Manusia. Pertama dipakai untuk menurunkan Maharaja Bunu yaitu leluhur umat manusia di dunia. Kedua, dipakai ketika menurunkan Parei Manyangen Tingang yaitu bulir-bulir padi untuk umat manusia. Ketiga, dipakai ketika menurunkan Bawin Ayah yaitu para pengajar ritual Kaharingan ketika manusia telah lupa tata-cara mengadakan ritual.

Dalam beberapa ritual Palangka, dipakai untuk meletakkan sesajen dan persembahan. Palangka bukanlah ancak, terlalu banyak orang salah kaprah menyamakan palangka dengan ancak. Ancak adalah tempat meletakkan sesajen yang terbuat dari anyaman bamboo, atau daun kelapa. Sedangkan Palangka terbuat dari kayu/papan sehingga dapat diberi ornament burung Enggang. Dapat dikatakan, palangka mezbah Dayak untuk meletakkan persembahan suci bagi Para Leluhur dan Maha Pencipta.

Catatan Kedua

The Land of Tambun-Bungai

“Selamat Datang di Kalimantan Tengah Bumi Tambun-Bungai. Welcome to Central Kalimantan, The Land of Tambun-Bungai”. Demikianlah bunyi salah satu ungkapan yang sering terdengar dalam kata sambutan atau pudato para pejabat penting di kota Palangka Raya. Tentu saja ungkapan ini tidak hadir dengan sendirinya, tetapi lahir dari proses berpikir masyarakat Kalimantan Tengah tentang tanah, wilayah, daerah atau bumi tempat mereka tinggal. Di kalangan masyarakat Ot Danum dikenal tokoh pahlawan sukè yang bernama Tambun dan Bungai. Secara serampangan seringkali “Bumi Tambun-Bungai” dihubungi dengan nama dua pahlawan suku tersebut. Apakah memang demikian atau ada penjelasan lain?

Hal pertama yang harus diklarifikasi adalah Tambun dan Bungai tidak mesti nama orang atau manusia. Hans Schärer 3) dalam buku klasnya Die Gottesidee der Ngaju Dajak in Süd Borneo memaparkan bahwa Tambun dan Bungai adalah symbol dari Allah Dualitas orang Dayak Ngaju. Orang Dajak Ngaju mengakui dan mempercayai adanya Allah Tertinggi yang mempunyai aspek maskulin dan aspek feminine. Aspek maskulin memakai simbol Burung Enggang (Bungai) dan aspek feminin dengan simbol Ular Naga (Tambun).

Dalam proses penciptaan alam semesta, dua aspek ini tampil bersama, demikian juga dalam beberapa ritual tertentu, sehingga dikenal istilah Tambun haruei Bungai yang artinya Ular Naga yang manunggal dengan Burung Enggang atau Ular Naga yang adalah juga Burung Enggang. Sebutan tersebut menyatakan bahwa dua asepk itu (feminin-maskulin) adalah tunggal, esa, dan satu-kesatuan.

Konsepsi Tambun Bungai atau Tambun haruei Bungai, oleh orang Dayak Ngaju, divisualisasi dalam bentuk lukusan perahu dengan bentuk gabungan Ular Naga dan Burung Enggang, atau peti mati, atau ukiran pada Sangaran. Kerapkali juga orang tua Dayak memberi nama anaknya Tambun atau Bungai. Tokoh pahlawan Ot Danum Bungai-Tambun harus dilihat dalam konsep ini, mereka adalah dualitas karena itu dituturkan bahwa Tambun piawai bertempur di air, sedangkan Bungai di daratan.

Konsepsi Allah Dualitas itu menurut Schärer telah menjadi titik sentral dan sangat menguasai kehidupan orang Dayak Ngaju. Konsepsi ini menjadi template berfikir orang Dayak Ngaju. Misalnya deinisi manusia yang saleh atau manusia yang Belom Bahadat bagi mereka adalah manusia yang membiarkan dirinya dituntun, dibimbing dan berada di bawah lingkup hidup kekuasaan Allah Dualitas ini. Begitu juga ketika mereka mendefinisikan bumi atau dunia tempat mereka tinggal sekarang, dengan nada puitis yang indah mereka mengatakan ini adalah Lewu Injal Tingang, tempat sementara yang dipinjamkan oleh Ranying Magatalla Langit (Tingang atau Bungai, aspek maskulin). Kemudian dituturkan bahwa Lewu Injam Tingang itu berada du atas punggung Naga Air (Aspek feminin).

Karena itulah hingga kini orang-orang Dayak yang saleh (bahadat) melihat Bumi sebagai Ibu dan Langit sebagai Bapak. Ketika mereka menapak kakinya di tanah sesungguhnya ia berada di atas punggung Sang Ibu yaitu Tambun dan berada di bawah lindungan Sang Bapak yaitu Bungai. Ia tidak sendiri dab tidak pernah sendiri, tetapi senantiasa bersama Tambun dan Bungai, Ibu dan Bapaknya, Allah Tertingginya yaitu Ranying Mahatalla Langit, Jatha Balawang Bulau. Karena itu juga mereka menyebut tempat kediaman mereka sebagai Bumi Tambun Bungai.

(Bersambung….)

Catatan:

Marko Mahin adalah penggiat studi dan penelitian tentang agama, budaya, bahasa dan sejarah di Kalimantan Tengah. Pekerjaan sebagai dosen biasa di STT-GKE Banjarmaasin mengampu mata kuliah Agama Kaharingan, dan Kebudayaan Dayak. Lulus S1 dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, menyelesaikan Program Master di Universitas Leiden – Belanda, sekarang ini sedang menulis Disertasi Doktoral di Program Pasca-Sarjana Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia.

1). Wawancara pribadi, Palangka Raya, 21 Maret 2009.

2). Kini Panaturan telah menjadi Kitab Suci umat Kaharingan. Lihat Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MB-AHK) 2003. Panaturan, Palangka Raya :MB-AHL.

3). Hans Schärer adalah seorabg missionaris berkebangsaan Swiss yang telah bekerja di Kalimantan Tengah selama 7 tahun menjelang Perang Dunia Kedua (1932-1939).Dalam kurun waktu 1939-1944, ia studi doktoral bidang Etnologi di Universitas Leiden – Belanda. Di bawah bimbingan J.P.B. de Josselin de Jongn ia menulis disertasi yang berjudul Die Gottesidee der Ngaju Dajak in Süd Borneo. Disertasi yang ditulis dalam bahasa Jerman itu kemudian diterbitkan oleh E.J.Brill-Leiden pada tahun 1946, kemudian versi Bahasa Inggris diterbitkan oleh Martinus Nijhoff pada tahun 1963 dengan judum Ngaju Religion : The Conception of God among A South Borneo eople. Terjemahan bahasa Indonesia akan diterbitkan bulan Oktober 2009 oleh Lembaga Studi Dayak -21

Advertisements

MEMAHAMI KAREBOSI SEBAGAI JANTUNG KOTA

Cerita untuk suamiku JJ Kusni & anak-anakku

“Tuan, bila anda ingin memperoleh gambaran mengenai kota ini, anda tidak boleh puas dengan melihat jalan-jalan dan lapangan-lapangan besarnya saja. Tetap juga harus meneliti gang-gang dan lapangan-lapangan kecil yang tak terhingga jumlahnya.” (Samuel Johnson)

Sosialisasi UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang berlangsung pada hari Senin, 24 November 2008, bertempat di Gedung IPTEK Unhas. Dihadiri oleh mahasiswa jurusan arsitektur, dosen-dosen, staf-staf Bappeda, praktisi, dan wakil-wakil organisasi masyarakat. Acara berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang atas prakarsa Prof. Dr. Ananto Yudono, M. Eng dari Jurusan Arsitektur Universitas Hasanuddin. Kegiatan sosialisasi ini memberi saya inspirasi untuk menyampaikan satu pandangan mendasar dalam memahami definisi ruang Lapangan Karebosi.

Perlunya Pengaturan

Dalam sejarah, pengaturan ruang dan pembangunan kota bukanlah hal baru. Hammurabi pada tahun 2000 SM, mungkin merupakan yang pertama. Bangsa Yunani juga menetapkan pengaturan bangunan. Bangsa Romawi menetapkan pembatasan tinggi rumah-rumah petak. Kota-kota abad pertengahan menetapkan berbagai peraturan untuk mencegah bahaya kebakaran. Penataan ruang-ruang kota menjadi pokok bahasan dan dianalisis. Soria Y Mata, pada tahun 1882, mengusulkan teori kota linier – la ciudad linear – menanggalkan bentuk konsentrik kota padat. Ia menganjurkan, pengaturan perluasan kota sepanjang jalur komunikasi jalan raya. Dengan demikian perumahan dan industri yang membentang sepanjang jalan akan membatasi jalan utama yang menghubungkan kota-kota yang ada. Pada tahun 1917, Tony Garnier mengemukakan rencananya bagi kota industri, la cite industrialle. Gagasannya adalah memisahkan bagian perumahan dan pusat pemerintahan dari kawasan pabrik dengan memakai sebuah zona penyangga yang lebar, sebuah jalur hijau, dan jalan raya serta jalan kereta api melintasi ruang yang besar ini.

Pada tahun 1925, sebuah Plan Voisin untuk pusat kota Paris diadaptasi dari konsep Ville Contemporaine-nya Le Corbusier. Rencana yang disusun baik dengan uraian jelas yang dibuat oleh Le Corbusier itu menimbulkan sensasi. Pameran khayalan tentang La Ville Contemporaine dimulai tahun 1922. Rencana khayalannya adalah sebuah kota yang terdiri dari menara-menara pencakar langit yang dikelilingi oleh sebuah ruang terbuka yang luas. Kota itu merupakan sebuah taman yang sangat besar. Bangunan-bangunan kantor bertingkat 60 dan menampung 1200 orang per acre serta menempati hanya seluas 5% dari luas kawasan, dikelompokkan di pusat kota. Pusat kawasannya adalah pusat transportasi, stasiun kereta api, dan bandar udara. Disekitar pencakar langit terdapat kawasan apartemen, bangunan-bangunan bertingkat 8 yang diatur dalam barisan-barisan zigzag yang dikelilingi ruang terbuka luas, dengan kepadatan penduduk 120 orang per acre. Cite Jardin, kota taman yang terdiri dari rumah-rumah tunggal terletak dipinggiran. Kota tersebut dirancang untuk penduduk sebanyak 3 juta orang. Konsep la ville contemporeine ini adalah khayalan Le Corbusier berupa gabungan imajinasi kecanggihan teknologi dengan hijaunya alam yang diimplementasikan ke dalam penataan ruang kota.

Penataan Ruang Kota

Ini adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang kota. Darimanakah proses ini bermula? Saya kutip kalimat John Osman, yang pernah menjabat sebagai wakil presiden Ford Foundation untuk Pendidikan Orang Dewasa. Ia pernah mengemukakan:

“Membangun sebuah kota adalah suatu kegiatan suci dari seluruh masyarakat. Karena kota adalah manifestasi fisik dari realitas yang tidak terlihat: yakni jiwa masyarakatnya. Warga kota harus mencari karakter kota mereka bila mereka ingin membangun suatu gambaran jiwa mereka. Mereka harus memahami sifat dan fungsinya sebelum dapat merancangnya. Karena rancangan sebuah kota tidaklah dapat ditemukan pada meja gambar perencana kota. Bentuk-bentuk kota hidup pada manusianya. Bentuk-bentuk ini muncul dari pikiran dan semangat warganya. Bentuk-bentuk tersebut menetap dalam sejarah ‘tempat itu’….”

Kiranya baik mempertimbangkan usul itu bila kita melihat kusutnya ‘program-program’ pembangunan dan implementasi penataan ruang kota yang dimaksudkan untuk memperbaiki keadaan sejumlah besar penduduk miskin sambil membangun kembali kawasan-kawasan yang pudar. Meski saya terlibat dalam beberapa proses perencanaan bangunan dan ruang kota, tidaklah berarti saya tak dapat melihat kelemahan-kelemahan dari hasil rencana dan rancangan tersebut. Saya mempelajari adanya suatu sikap yang cenderung mengabaikan aspek monitoring dan evaluasi setelah suatu proyek selesai dilaksanakan. Studi-studi pasca pelaksanaan kurang diperhatikan selaiknya studi-studi pra-rencana dan pra-pelaksanaan. Padahal studi-studi pasca pelaksanaan adalah sumber data berharga untuk meningkatkan kualitas pekerjaan di masa datang. Meski evaluasi pasca pelaksanaan proyek membutuhkan kejujuran untuk mengakui dan menulis kekurangan-kekurangan, tindakan ini membantu melihat segala sesuatu dengan perspektif yang lebih luas dan lebih memadai.

Karebosi, Jantung Kota

Mari mengambil satu contoh. Lapangan Karebosi. Dalam sistem penataan ruang kota, lapangan ini memiliki fungsi utama sebagai ruang terbuka hijau. Lapangan ini sejak awal, dari jaman kolonial, telah direncanakan dan dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau di pusat kota. Koningsplein (Karebosi) dahulu menjadi alun-alun yang terbuka sampai depan RS. Pelamonia. Di tempat yang sekarang Jl. Ince Nurdin, dulu digunakan sebagai lapangan tembak infanteri dan disebelah timurnya digunakan sebagai lapangan tembak artileri. Saya ingin merevisi frasa yang digunakan beberapa orang pada beberapa tulisan di media lain mengenai lapangan ini, yang menuliskan lapangan Karebosi adalah ruang publik. Memahami Karebosi sebagai alun-alun atau jantung kota sama sekali berbeda dengan memahaminya sebagai ruang publik saja. Ruang publik dalam arsitektur adalah suatu area/zona/kawasan yang dapat diakses dan diperuntukkan bagi khalayak umum. Defenisi ini menekankan siapa pemakai ruang. Sementara ruang terbuka hijau adalah area memanjang/ jalur dan/ atau mengelompok, yang penggunaanya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Defenisi ini menekankan pada aspek pemanfaatan ruang. Ruang terbuka hijau kota, pasti ruang publik karena dapat diakses dan diperuntukkan bagi semua warga kota. Namun ruang publik tidak selalu ruang terbuka hijau. Lobi hotel pun adalah ruang publik. Ada perbedaan besar disini.

Alun-alun atau square dalam bahasa inggris atau piazza dalam bahasa italia, adalah jantung kota. Pusat aktivitas luar dan tempat pertemuan masyarakat kota. Alun–alun adalah tempat untuk pasar, perayaan, mencari dan bertukar berita, membeli makanan, mengambil air, membicarakan politik, atau sekedar menyaksikan hari-hari berlalu. Catatan penting untuk diingat adalah bahwa setiap kegiatan demonstrasi yang membawa perubahan besar dibidang politik di Eropa Timur, Republic Baltik, RRC, mengambil tempat di alun-alun kota. Alun-alun adalah pusat simpul kehidupan kota. Alun-alun adalah jantung kota.

Dimana letak pentingnya memahami Karebosi sebagai jantung kota? Sebagai jantung kota, fungsi karebosi lebih dari sekedar sebagai ruang sosial atau ruang terbuka hijau. Selain fungsi ekonomi, sosial dan ekologi, fungsi budaya dan sejarah tempat ini berhak mendapat perlindungan. Jiwa kehidupan warga kota tergambar disini. Peran sejarah Karebosi sebagai pengikat simbolis antara peristiwa-peristiwa dimasa lalu dengan peristiwa-peristiwa dimasa sekarang merupakan satu kriteria, menurut Wayne Attoe, yang memenuhi syarat bagi dilakukannya upaya preservasi dan konservasi. Kelalaian memelihara nilai-nilai emosional dan kultural tempat ini, hanya akan menyisakan nilai manfaat saja. Warga kota mungkin dapat menikmati nilai-nilai fungsi, ekonomi, sosial, politis dan etnis tempat ini. Nilai emosional yang mencakup ketakjuban, identitas, kesinambungan, spiritualitas, simbolisme dan nilai kultural yang mencakup dokumentasi, historis, kepurbakalaan, usia, kelangkaan, estetika , arsitektural, tata kota, tata guna lahan, lingkungan ekologi, niscaya dapatlah menjadi satu pelajaran yang hanya bisa dicari lewat foto-foto dan dokumentasi di museum saja.

Jantung Kota, Representasi Kota

Baru-baru ini dilangsungkan pameran Mobile Art dalam rangka memperingati 20 tahun merek dagang Coco Chanel. Pameran yang akan berlangsung di beberapa kota besar dunia ini, memulai perjalanannya di Central Park, New York sebelum pindah ke London, Moskow dan akan berakhir di Paris pada tahun 2010. Sebuah bangunan futuristik karya Zaha Hadid berbentuk piring terbang yang dapat dipindah-pindahkan, seolah-olah mendarat ditengah hutan kota New York. Di dalam bangunan berbentuk piring terbang tersebut, pengunjung dapat menyaksikan sejarah 20 tahun merek Coco Chanel divisualisasikan dalam beragam bentuk seni 3 dimensi. Salah satunya berupa model tas Coco Chanel sepanjang 2 meter, dibuat tergeletak di lantai, dengan tutup tas terbuka. Dibagian lain ruangan, seorang wanita dengan setelan elegan jas Chanel yang legendaris, memukul karung tinju. Adegan ini ditampilkan dengan mode replay pada sebuah layar LCD. Seorang pejabat pariwisata kota New York, mengatakan:

“Ini adalah pameran yang menakjubkan. Saya melihat paduan arsitektur, fashion, seni dan teknologi media di tengah hutan kota dalam satu waktu. Pameran internasional ini dapat membantu menggerakkan perekonomian kota.”

Bayangkanlah! Sebuah pameran sejarah merek dagang fashion kelas dunia, mengambil tempat di suatu ruang kota yang sejarahnya tak kalah kontroversial. Kecanggihan teknologi media dan bangunan mempresentasikan sejarah merek dagang di tengah hijaunya pepohonan. Saya menganggap ini adalah satu konsep presentasi yang kontradiktif-imajinatif. Jiwa kosmopolitan masyarakat kota-kota besar dunia ditampilkan di jantung kota New York. Dan jantung kota ini adalah hutan kota yang merupakan landmark kota New York.

Mengemukakan contoh diatas, bukan berarti saya menyerukan satu sikap contek mati segala yang berasal dari luar. Yang ingin saya ketengahkan adalah satu contoh representasi jiwa masyarakat kota yang ditampilkan di suatu ruang kota. Ruang kota yang menjadi jantung kota. Ruang kota yang tak hanya bisa dinikmati nilai manfaat ekonomi dan nilai sosialnya saja. Namun juga nilai sejarah dan nilai kultural masyarakatnya. Memahami Karebosi sebagai jantung kota berarti memahami nilai ‘tempat’ Karebosi secara utuh. Nilai ‘tempat’ ini dapat dicari akarnya di dalam jiwa masyarakat kota Makassar. Dan nilai ‘tempat’ ini, juga akan merepresentasikan jiwa masyarakat kota Makassar, dalam bentuk ruang dan pemanfaatannya.

Makassar, 27 November 2008

Menyusun Evaluasi Purna Huni Laguna Losari

Catatan Akhir Tahun untuk Suamiku JJ Kusni & Anak-Anakku

“The knowledge of the house is not limited to the buider alone.The user or master of the house will even be a better judge than the builder, just as the pilot will judge better of a rudder than the carpenter, and the guest will judge better of a feast than the cook.” (Aristotle)


Disurat ini, sesuai janjiku saya menulis tentang satu kerja penting yang telah dan masih kulakukan selama di Makassar. Sebuah kerja yang kuanggap sebagai tanggung-jawabku terhadap kota yang telah kuhuni selama hampir sebagian besar masa hidupku. Saya sedang menyusun satu riset evaluasi purna huni laguna Losari. Meski tak terlibat lagi dengan proyek ini, saya ingin menunjukkan, berdasarkan data-data yang valid, bahwa langkah Pemerintah Kota menghimpun PKL dalam satu ruang terlingkup seperti sekarang adalah satu langkah yang kurang tepat. Saya sedang menyusun bukti-bukti ilmiah untuk mempertahankan desain linear PKL Losari berdasarkan hasil riset yang sedang kulakukan sekaligus mengajukan kembali usulan penataan sesuai desain pemenang pertama sayembara Losari.

Saat ini, saya melakukan satu upaya melihat soal dari suatu perspektif yang lebih luas atas masalah penurunan pendapatan pedagang kaki lima di laguna Losari tanpa membuatnya terdengar terlalu teoretis atau ilmiah. Alasannya karena saya pernah melihat keadaan dimana pandangan yang terlalu teoretis dan idealis tak dibutuhkan oleh sekelompok orang yang membutuhkan makan detik itu juga. Benar bahwa pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan dan segala pelatihan akan berguna secara jangka panjang. Namun saya berpegang pada fakta bahwa saat orang lapar, maka yang dibutuhkan adalah makanan untuk mengisi perut agar selanjutnya bisa belajar dan beraktivitas, baik melalui pemberdayaan ataupun pelatihan-pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan dan kehidupan seseorang. Peganganku terhadap fakta ini bukanlah suatu simpulan sikap yang terjadi dalam semalam. Tapi persepsi lingkunganku yang terbentuk selama lebih dari 30 tahun membuatku sadar bahwa orang tak bisa hanya bicara tanpa bukti-bukti cukup. Bagiku, tindakan nyata untuk menyelesaikan soal-soal pemenuhan kebutuhan dasar dengan cara yang berpegang pada moral dan etika sama pentingnya dengan kekukuhan memegang tujuan utopis tanpa kompromi.

Kau tahu pelajaran arsitektur pertama saya yang paling membekas dalam ingatan? Itu adalah sebuah pertanyaan yang diajukan oleh Ir. Louis Santoso saat membawakan mata kuliah Perancangan Arsitektur II. Kuliah itu dimulai dengan pertanyaan: Apakah kriteria desain yang baik itu? Apakah karena desain itu indah? Apakah karena desain itu murah? Apakah karena desain itu berfungsi sempurna sesuai tujuan ia dibuat? Setiap kali saya mereview kembali pandangan-pandanganku tentang arsitektur, saya selalu ingat pertanyaan-pertanyaan sederhana yang diajukan oleh Ir. Louis Santoso saat saya masih menyandang status mahasiswa.

Tentu kau tahu, pemenang pertama sayembara penataan KTA Losari, tim bernama LCD (Laboratory of Computerized Design), tak mengetahui dan tak pernah membaca tentang konsep tatar perilaku yang dicetuskan Roger Baker, saat mengerjakan desain sayembara Penataan KTA Losari. LCD adalah sekelompok anak muda terdiri dari Muhammmad Ichsan, Andika Zero Sevenantha Ferial, Agus Mutallib, dan Abdul Malik. Mereka belajar arsitektur dengan cara lebih banyak mengamati lingkungan dan menuangkan hasil pengamatan ke dalam bentuk gambar-gambar arsitektur. Konsep-konsep desain LCD tak terlalu banyak direcoki dengan segala teori-teori ruang dan arsitektur. Saya masih mengingat bagaimana perdebatan-perdebatan berlangsung hingga subuh. Seluruh anggota tim punya pandangan berdasarkan hasil pengamatan terhadap perilaku pengunjung dan PKL. Semua bersikap tanpa kompromi terhadap satu tujuan: memenangkan sayembara dengan konsep meletakkan kepentingan warga kota sebagai prioritas pertama. Berdasarkan pengamatanku, orisinalitas ide dan gagasan yang muncul dari kekeraskepalaan tanpa kompromi untuk memperpanjang garis pantailah yang menjadi poin utama hingga desain penataan KTA Losari karya mereka mendapatkan penghargaan pertama.

Sejak Penataan Kawasan Tepi Air Losari disosialisasikan 5 tahun lalu, saya telah mendengar, membaca dan berdiskusi dengan beragam pihak dengan beragam motif, tentang bagaimana mencapai pemenuhan kebutuhan ruang bagi aktivitas-aktivitas utama di Losari secara adil. Adil dalam arti pelaku utama aktivitas, yakni pengunjung dan pedagang kaki lima mendapatkan ruang yang cukup. Bukan saja cukup untuk melakukan aktivitas, namun juga cukup untuk menghasilkan peluang meningkatkan kualitas aktivitas mereka.

Saya ingin mengulangi sekali lagi bahwa ide memperpanjang garis pantai Losari muncul dari pengamatan LCD terhadap perilaku 2 pelaku utama dikawasan tersebut: pengunjung dan pedagang kaki lima. Kekuatan utama Losari adalah pemandangan laut dengan matahari terbenam, makanan dan pemandangan langsung ke salah satu jalan raya utama kota. Tiga kekuatan ini tak bisa berdiri sendiri. Inilah kekuatan Losari yang menarik keramaian pengunjung sehingga hampir tiap malam hingga Losari dikenal sebagai ‘bangku terpanjang’ di dunia. LCD tahu benar hal tersebut. Maka dibuatlah desain dimana kekuatan-kekuatan tersebut dipertahankan. Garis pantai yang lebih panjang bagi pengunjung untuk menikmati pemandangan sambil menikmati jajanan pedagang kaki lima yang ditata linear. Namun kekuatan gagasan ini diabaikan saat pelaksanaan pekerjaan dimulai. Alih-alih menata PKL secara linear, pemerintah kota malah mengumpulkan para pedagang disatu tempat dengan akses pemandangan yang sangat minim. Dampak pengabaian gagasan ini adalah menurunnya kualitas aktivitas pengunjung yang menikmati jajanan pedagang kaki lima dan menurunnya pendapatan pedagang kaki lima. Pengunjung tak memiliki akses pandangan ke laut atau jalan raya saat menikmati makanan dan pedagang mengeluhkan kurangnya pembeli sehingga pemasukan berkurang.

Jika saat ini seseorang bertanya pada saya apakah mengumpulkan PKL Losari dalam satu tempat terlingkup adalah sebuah tindakan yang tepat dari sudut pandang keilmuan ruang urban, psikologi ruang dan perilaku manusia, maka saya akan menjawab secara jelas dan tegas bahwa penempatan itu adalah satu tindakan yang mengabaikan aspek-aspek paling penting yang perlu dipertimbangkan untuk mencapai keberhasilan desain ruang terbuka publik.

Saya mencatat beberapa hasil pengamatan sejak dan selama pembangunan proyek Losari berlangsung. Ada gejala menarik yang terjadi bersamaan dengan fakta menurunnya pendapatan PKL sejak ditempatkan disebuah area tertutup bernama laguna tanpa akses pencapaian & pemandangan yang memadai. Gejala lain itu antara lain; semakin banyak cafe dan resto-resto besar disisi timur jalan Penghibur dan Jalan Maipa. Jalan Lamadukelleng mulai ramai ditempati oleh PKL. Ini bukan kebetulan terjadi. Tentu ada sebab-musababnya. Dan saya masih menganalisis jawabannya.

Saya ingat pertanyaan salah seorang mahasiswiku saat saya diminta mengajar mata kuliah Psikologi Kepribadian di salah satu universitas di Makassar. “Jika setiap orang unik, bagaimana mengetahui bahwa analisis perilaku manusia menggunakan standar yang seragam, dapat dikatakan berhasil?”. Studi tentang Evaluasi Purna Huni Laguna Losari adalah satu contoh jawaban yang dapat saya berikan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Studi ini berbasis pada konsep psikologi ekologi yang dasar konsepnya diperkenalkan oleh Roger Baker pada tahun 1968. Konsep ini muncul dari pengembangan penelitian perilaku individual di lapangan, bukan di laboratorium seperti pada umumnya penelitian psikologi tradisional. Baker menelusuri pola perilaku manusia berkaitan dengan tatanan lingkungan fisik mereka, dan melahirkan konsep ‘tatar perilaku’ (behaviour setting).

Di Amerika, sebuah proyek bernama “Project for Public Spaces” dilaksanakan pada tahun 1975. Proyek ini melakukan sejumlah studi perilaku manusia di ruang-ruang terbuka kota. Salah satu obyek studi adalah perilaku pengunjung di Chase Manhattan Plaza di New York. Plaza ini memiliki 2 sub area berbeda. Satu area bernama The Pine-Liberty Area, berada diwilayah sibuk dimana pedestriannya dipenuhi orang lalu-lalang dan satu area bernama The Nassau-Liberty Area, yang agak jauh dari keramaian. Dimanakah pengunjung banyak berada dan memilih mencari tempat duduk? Jawabannya adalah di The Pine-Liberty area. Simpulan studi ini mengatakan bahwa manusia, di ruang terbuka, cenderung mencari tempat duduk ditempat dimana mereka bisa mengamati aktivitas orang lain. Perilaku ini menjelaskan bagaimana seseorang menggunakan tatanan lingkungan fisik. Orang-orang tertarik menempati tempat-tempat duduk yang menghadap ke jalan yang memiliki aktivitas tinggi.

Di lapangan Karebosi (sebelum direvitalisasi), tempat yang paling ramai digunakan untuk mengamati orang lain adalah di aula baruga Karebosi dan tempat duduk yang berfungsi sebagai dinding penahan akar di bawah pohon beringin. Di Losari, tempat ini berada di sepanjang tanggul penahan pantai. Kau amatilah sekelompok orang yang tergabung dalam komunitas-komunitas bermotor atau bersepeda yang nongkrong di pinggir jalan di sepanjang pantai atau di depan Fort Rotterdam. Kecenderungan kelompok-kelompok ini adalah mengambil tempat di area-area yang mudah dilihat orang yang lewat dan atau mudah melihat orang lain yang lalu-lalang.

Oya, sedikit tentang perilaku spasial. Perilaku spasial adalah tentang bagaimana seseorang menggunakan tatanan dalam lingkungan. Perilaku ini dapat diamati langsung sehingga pada tingkat deskriptif, hal tersebut tak menjadi kontroversi. Arsitek dan perencana kota umumnya menaruh perhatian pada perilaku skala mikro. Mulai dari ruangan hingga lingkungan atau distrik dalam kota.

Saya beri satu contoh perilaku spasial yang mempengaruhi desain. Masuklah ke toilet perempuan di Redtro’s Club Hotel Clarion. Ada sebuah bak memanjang seperti selokan di depan cermin besar yang menempel didinding yang biasa digunakan untuk memperbaiki riasan. Apa yang membedakan penataan ruang toilet ini dengan toilet perempuan di lobi hotel adalah bak memanjang tersebut. Toilet perempuan di lobi hotel hanya memiliki meja marmer dengan wastafel yang dipasang tenggelam dipermukaan meja. Seseorang tak perlu menjadi peminum dan pemabuk untuk mengetahui bahwa bak memanjang serupa selokan tersebut berguna sebagai tempat menumpahkan isi perut saat kebanyakan minum. Perencana hotel ini tahu tentang perilaku ruang di klub-klub malam. Saat seseorang terlalu banyak minum dan mulai ingin mengeluarkan isi perut sesegera mungkin, maka penting untuk meminimalisasi halangan-halangan spasial agar pemenuhan aktivitas mengeluarkan isi perut tersebut dapat segera terlaksana. Mengantri pemakaian kabin toilet, membuka pintu kabin toilet lalu membuka tutup kloset, bukanlah sebuah urut-urutan yang efektif dan efisien untuk memenuhi pelaksanaan aktivitas ‘mengeluarkan isi perut’ tersebut. Pilihannya adalah menyediakan satu tempat dimana aktivitas itu dapat segera langsung dilaksanakan tanpa mengganggu aktivitas pemakai toilet lain. Halangan spasial telah diminimalisir. Satu-satunya halangan spasial yang tersisa adalah pintu masuk toilet.

Pengamatan tatar perilaku ini menarik dilakukan pada bangunan atau lingkungan binaan yang sudah dipakai dan ternyata digunakan dengan cara yang tidak terantisipasi sebelumnya oleh perancang. Data-data berdasarkan tatar perilaku dapat digunakan baik bagi perancangan fasilitas sejenis maupun untuk penataan ulang fasilitas bersangkutan. Mengapa tatar perilaku menarik? Karena pengamatan ini memberi pandangan tentang manusia yang mengalami tekanan situasional, yang seringkali berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Hasil pengamatan ini akan memperluas wawasan pengetahuan arsitek dan perencana lingkungan tentang manusia dari perspektif yang berbeda, bukan hanya teoretis semata.

Secara garis besar, tatar perilaku didefenisikan sebagai suatu kombinasi stabil antara aktivitas, tempat, dan kriteria sebagai berikut: terdapat aktivitas berulang berupa suatu pola perilaku yang terdiri atas satu atau lebih pola perilaku ekstra individual, adanya tata lingkungan fisik tertentu dimana lingkungan fisik ini berkaitan ini dengan pola perilaku, dan pola perilaku tersebut dilakukan pada periode tertentu.

Batas suatu tatar perilaku adalah dimana perilaku tersebut berhenti. Ada macam-macam bentuk pembatas ini. Batas yang ideal adalah batas fisik berupa sebuah dinding masif. Bentuk lain pembatas sebuah setting adalah berupa batas simbolik, bukan batas fisik, misalnya pola lantai, perbedaan warna lantai, perbedaan tinggi permukaan dll. Batas simbolik dapat menimbulkan masalah seperti ketidakmengertian terhadap tanda-tanda atau rambu-rambu yang dibuat. Sebagai contoh, seringkali orang tidak mengerti atau mengenali pemanfaatan 2 macam jalan keluar dari sebuah bangunan pusat perbelanjaan, jalan keluar yang dibuat berundak-undak memakai anak tangga untuk pengunjung tanpa belanjaan dan jalan keluar yang dibuat dengan kemiringan landai untuk orang-orang yang membawa kereta dorong belanjaan. Kadang-kadang tanda-tanda atau rambu-rambu yang dibuat hanya dimengerti oleh sekelompok orang tertentu sehingga menjadi tidak efektif lagi sebagai batas tatar perilaku. Pengaturan administratif juga dipakai untuk membedakan batas tatar perilaku satu dengan tatar perilaku lainnya. Contoh paling jelas tentang pengaturan administratif ini adalah aturan dilarang merokok dalam suatu ruangan. Jika seseorang ingin merokok, maka ia boleh pergi ke ruangan lain yang khusus disediakan untuk aktivitas merokok. Apabila batas dari suatu tatar perilaku tidak jelas, masalah yang muncul adalah tidak jelasnya pemisahan aktivitas, terutama apabila sebagian aspek dari pola perilaku harus dipisahkan dari lainnya.

Mengenai evaluasi purna huni sendiri, biasanya dikenal dengan nama Post Occupancy Evaluation (POE). Didefenisikan sebagai pengujian efektivitas sebuah lingkungan binaan bagi kebutuhan manusia, baik pengujian efektivitas bangunannya sendiri maupun efektivitas terhadap kebutuhan pengguna. Ada banyak tujuan yang ingin dicapai melalui pelaksanaan evaluasi purna huni. Secara umum, tujuan evaluasi dapat dikategorikan sebagai berikut: keinginan untuk mengumpulkan dan mewakili pandangan pengguna (bukan klien yang membayar arsitek), adanya minat untuk mengeksplorasi isu-isu konseptual seperti stres lingkungan, atau untuk mengetahui sejauh mana pengaruh keputusan sebuah organisasi terhadap setting atau pengguna. Pada umumnya, evaluator tidak membuat argumentasi ilmiah, tetapi menciptakan sebuah proses dimana para pengguna lingkungan dan pengambil keputusan terlibat dan berpartisipasi sehingga kepentingan seluruh kelompok terwakili.

Evaluasi purna huni berbeda dengan kritik arsitektur. Kritik arsitektur menekankan pada hal estetika arsitektur semata dan dilakukan oleh seorang ahli arsitektur dengan mengandalkan visi dan selera artistiknya. Evaluasi purna huni menggunakan kebutuhan dan program pengguna sebagai kriteria atau tolok ukur keberhasilan lingkungan, mengandalkan kesimpulannya pada kesan pengguna dan hasil survey atau pengamatan. Dan karena evaluasi tatar perilaku berhubungan dengan manusia, bisa dikatakan bahwa evaluator bekerja bersama masyarakat daripada untuk masyarakat.

Saya habiskan akhir tahunku dengan membaca banyak buku tentang ruang-ruang urban, perilaku manusia, konsep-konsep pembiayaan yang melibatkan masyarakat, juga mempelajari contoh-contoh yang mungkin dapat jadi bahan belajar dalam menganalisis kasus ini. Sebagian dari hasil bacaan itu, saya tuangkan dalam tulisan ini. Hasil riset ini, kuharapkan dapat menjadi data-data yang bisa menjadi bahan pertimbangan ulang bagi Pemerintah Kota untuk memikirkan kembali langkah paling tepat tentang bagaimana menata PKL Losari. Mungkin saya akan terbitkan hasilnya dalam satu jurnal khusus sebagai hadiah dalam rangka memperingati kelahiran kota saya tahun depan.

Makassar, 20 Desember 2008

PERGESERAN RASA, MAKNA DAN NUANSA KOSAKATA

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)


Suatu malam, Nunut, keponakan saya yang bertugas sebagai bagian keamanan Wisma Edelweis, seusai semua pekerjaannya, duduk santai dan berbincang-bincang dengan para tamu di ruang salon. Pada umumnya, para tamu yang menginap untuk waktu beberapa bulan di Wisma terdiri dari para pejabat, pengusaha atau para perwira tinggi polisi yang sedang menunggu penempatan.

« Apakah kamu memerlukan sprei baru », tanya Nunut sopan dalam bahasa Indonesia dengan lidah Dayaknya.

Mendengar penggunaan kata ganti orang kedua tunggal itu, terus-terang saya merasa kaget, berkata pada diri sendiri: “Khoq jadi begini?”

Pertanyaan “jadi begini” ini muncul di benak, karena saya merasa kata ganti tersebut sebagai sangat kasar. Tidak layak diucapkan kepada tamu dan dari JawaTengah pula, yang dikenal mempunyai tingkat-tingkat bahasa. Halus dan kasar. Anak muda, apabila berbicara dengan yang lebih tua, berkedudukan dan lebih-lebih yang berdrah biru, niscaya menggunakan bahasa ”kromo inggil” , bukan bahasa Jawa “ngoko”. Ann sendiri yang besar di Makassar, yang bukan tempat orang-orang berperasaan dan berperangai “halus”, sangat marah pada saya kalau saya memanggilnya dengan “kau” , apalagi “kamu”. “Kau”, dipandangnya panggilan kasar dan tidak menghormatinya. Padahal di Tanah Dayak “ikau” (kau), biasa digunakan oleh anak kepada paman, ayah, ibu, kakek atau nenek. Yang terlarang adalah menyebut mereka dengan nama sesungguhnya. Sebagai pengganti, mereka diberikan gelar atau nama kecil. Untuk waktu lama, menjawab orang yang menanyakan nama ayah dan ibu, mereka saya jawab hanya dengan menuliskan nama mereka. Selama saya menjadi mahasiswa dengan teman-teman dari luar Jawa, dalam pergaulan kami selalu menggunakan kata ganti nama kedua tuggal dengan “kau”, tapi tidak pernah menggunakan kata “kamu”. “Kamu” kami rasakan sangat kasar dari segi rasa bahasa dan arti kata. Nyatanya sekarang dalam bahasa gaul, baik di radio dan televisi kata “kamu” selalu digunakan dan dipakai dengan tenang sebagaimana kata ganti nama tersebut selayaknya digunakan.

Terdapat juga keheranan dan ketidakpahaman pada diri saya. Ann adalah seorang mantan penyiar radio Delta di Makassar. Muda, tidak lebih tua dari para penyiar radio gelombang panjang dan televisi yang sering kita saksikan saban hari dan malam sekarang. Tapi ia menganggap “kau”, apalagi “kamu” sebagai kata ganti nama yang niscaya sesuai tatakrama kepada lawan bicara berapa pun usia mereka. Ann sejak kecil dididik oleh ibu bahwa kata “kau”, “kamu” adalah kata ganti orang yang digunakan dalam bahasa “pasar”. Tapi menjadi jamaknya penggunaan kata “kamu” sebagai kata ganti menunjukkan peran radio, televisi dan pendidikan dalam membentuk kebiasaan, nilai dominan dan pengaruh alat komunikasi tersebut terhadap pembentukan bahasa, pergeseran rasa dan makna kosakata. Pengaruh ini makin besar oleh adanya parabola hingga ke daerah-daerah jauh hulu. Contoh di atas, juga memeperlihatkan peran ruang dan waktu terhadap pergeseran rasa dan makna kosakata. Di samping itu, hal yang tak kurang pentingnya adalah status sosial dan ekonomi. Misalnya yang terjadi kata “genduk” dalam bahasa Jawa. Pengertian awal “genduk” dalam masyarakat Jawa Tengah adalah “vagina”. Untuk mengungkapkan rasa sayang, orangtua atau tante, biasa memanggil anak perempuannya dengan panggilan “genduk”. Tapi dalam perkembangan selanjutnya, di Solo, para keluarga yang menggunakan tenaga pembantu rumah tangga, sering memakai kosakata “genduk” saat memanggil pembantu mereka. Oleh keadaan demikian, perlahan-lahan kata “genduk” merupakan padanan bagi kata “pembantu rumah tangga”. Dari pergeseran rasa dan makna kosakata demikian, kita bisa melihat dinamika bahasa, termasuk kotakata yang mencerminkan perkembangan masyarakat dalam beberapa segi serta pembentukan nilai dominan pada suatu ruang dan waktu tertentu.

Kata Dayak, pada suatu kurun waktu yang cukup panjang, menjadi bahan perdebatan tak berkesudahan di kalangan cendekiawan-cendekiawan Dayak. Dayak, dirasakan sebagai suatu hinaan terhadap manusia Dayak, paralel dengan yang disebut oleh kaum kolonial Belanda bahwa “Dajakers” berarti kata yang menunjukkan semua keburukan dan kejahatan. Pengertian yang juga terkandung dalam “ragi usang”, politik kebudayaan kolonial Belanda yang diterapkannya terhadap kebudayaan Dayak. Polemik tak berkesudahan ini kemudian pada 1992 diselesaikan dalam Kongres Nasional Dayak di Pontianak. Kongres berkeputusan selain menghentikan polemik tanpa ujung dan guna ini, menerima kata Dayak yang tadinya dimaksudkan untuk menghina manusia Dayak. Penerimaan yang sekaligus berketetapan mengobah hinaan menjadi sesuatu yang bermakna positif, memiliki makna baru dengan memperlihatkan adanya Dayak yang bermutu, mengisi kosakata tersebut dengan isi dan nilai baru yang positif membanggakan. Bahwa menjadi Dayak tidaklah memalukan sebagaimana perasaan yang diidap oleh orang Dayak selama dasawarsa akibat penindasan budaya yang dialami etnik ini.

Pergeseran rasa dan makna kosakata yang nampak dari contoh-contoh di atas, barangkali bisa dipahami sebagai peran dan pengaruh kota sebagai sentra kebudayaan terhadap perkembangan budaya suatu bangsa, betapa pun jumlah desa masih jauh lebih banyak dari kota. Kota sebagai sentra kebudayaan, jauh lebih banyak tersentuh dan berhubungan dengan budaya dunia luar. Melalui sarana komunikasi dengan tekhnologi canggih, kota mempengaruhi daerah pedesaan sehingga mempengaruhi nilai dominant pada suatu kurun waktu suatu bangsa. Melalui kata-kata merendahkan desa seperti “kampungan”, “ndeso”, “ndesit”, “debat kusir”, dan sejenisnya, melakukan suatu ofensif kebudayaan dan nilai untuk menempatkan standar kota tanpa filter sebagai penentu modern dan kolot, maju dan terbelakang, baik dan buruk, bermutu dan tidak. Jika kita sepakat dan mengenal bahwa budaya desa atau kampung itu tidak serendah yang dinilai dan dilihat dari kota, barangkali kita bisa menghadapi masukan-masukan dari luar, termasuk yang disebut budaya kota dengan filter. Filternya bernama ketanggapan menjawab pertanyaan zaman. Perlunya filter begini meniscayakan kita mengenal budaya kita sendiri. Sayangnya, yang banyak terjadi adalah keadaan bahwa sekali pun seseorang berada di negeri itu sendiri, tidak sedikit kita tidak mengenal budaya dan nilai-nilai kita sendiri. Terkesan pada saya jika kita banyak mengacu ke literatur asing dan negeri luar, maka sikap kita makin rasional, karya tulis kita makin “ilmiah”. Apakah budaya kota dengan peran seperti di atas dibentuk melalui filter juga? Filter budaya, barangkali, selain dilakukan sesuai keperluan tanggap terhadap pertanyaan zaman, bisa juga dilakukan melalui politik kebudayaan dan atau kesadaran yang bertolak dari suatu wawasan tentang makna dari suatu nama bangsa atau negeri seperti Indonesia, Perancis, Viêt Nam, Jepang, Republik Rakyat Tiongkok, dan sebagainya… Dari segi ini, bisa dikatakan bahwa Indonesia, sebagai nama dari suatu bangsa berfungsi sebagai filter juga adanya.

Kosakata mengandung nilai, rasa, makna dan nuansa. Hal-hal ini, terutama nuansa seperti penyulingan terhadap unsur-unsur yang tak terolah, hingga barang yang setelah melalui menyulingan mencapai mutu baru atas zat dasar atau hal-hal yang mau disampaikan. Kebudayaan, termasuk kosakata atau diksi, boleh jadi merupakan hasil penyulingan. Dari segi sudut pandang demikian, apakah kosakata « kamu » buahndari proses penyulingan ?

« Vous » dan « tu » adalah dua kosakata untuk Anda, kau, saudara dalam bahasa Perancis. « Vous » mengandung unsur menghormati tapi juga sekaligus pengambilan jarak terhadap lawan bicara (inter-locuteur). Sedangkan kata « tu », selain mengandung unsur penghormatan tapi jarak dengan lawan bicara sudah ditiadakan. « Tu » mencerminkan keadaan bahwa yang berbicara atau berkomunikasi sudah merasa sangat dekat. Antara « vous » dan « tu » terdapat perbedaan rasa, makna dan nuansa yang sangat berarti. Pembedaan pemakaian dua kosakata tersebut mengandung suatu tatanan nilai, tatakrama dalam masyarakat Perancis yang dipegang kuat dalam masyarakat sehingga kata ganti, kosakata penyapa yang kunci seperti « bonjour », « comment allez-vous », « merci », « pardon », menjadi hal-hal penting dalam kehidupan sehari-hari dan masih dipertahankan sampai sekarang. Kata-kata penyapa dan pergaulan ini dipandang sebagai termasuk penakar tingkat budaya seseorang. Di tengah-tengah pergaulan internasional dengan segala ragam budayanya, Perancis masih mempertahankan tatanan nilai, rasa, nuansa dan makna kata-kata mereka sebagai tanda jati diri mereka. Mempertahankan tatanan nilai, rasa, nuansa dan makna kata, agaknya di Perancis, bisa dikatakan sebagai suatu kesadaran berbahasa. Bahkan kata-kata makian pun diusahakan untuk diperhalus. Misalnya « merde»  (tai, tinja), diperhalus menjadi « zut ». Boleh jadi penghalusan bahasa dan diksi oleh tetua kita dirumuskan dalam kesimpulan bahwa  »bahasa menunjukkan bangsa ». Yang menarik perhatian saya, bahwa anak-anak, sejak Play Group (Grup Bermain) dan Taman-Kanak-Kanak akan ditegur keras jika mereka menggunakan kata-kata makian betapa pun sudah diperhalus. Sebagai gantinya yang sering terdengar diucapkan oleh anak-anak kalau mereka marah adalah kata-kata : “Tu es nul » (Kau bernilai nol) ». Anak-anak kecil akan merasa sangat sakit hingga bisa menangis jika mereka dinilai seharga nol.

Yang menjadi pertanyaan saya: Apakah pergeseran rasa, makna, nuansa dan nilai dalam kata, dengan pengakuan akan dinamika bahasa, tidak semestinya lagi mengindahkan tatanan nilai dalam berkomunikasi manusia bermasyarakat ? Membicarakan soal kosakata, saya sedang berbicara tentang perkembangan bahasa di negeri kita dan kesadaran berbahasa serta tatanan nilai untuk hidup berbudaya.****

Palangka Raya, April 2009

———————————

JJ. Kusni

TURA

Kisah untuk Suamiku JJ. Kusni & Anak-Anakku

“…Kami berkebun untuk masa depan kalian…”
Kades Tura, dalam film Petak Danum Itah karya Edy Slamet bekerja sama dengan COP*

Wisma Edelweis, 16 April 2009
19:00
Ruang bercat pink. Kipas angin diatas pintu menyala. Film berdurasi sekitar 15 menit tentang Kades Tura sedang berjalan. Diputar menggunakan DVD player milik ponakan kami. Saya, suami, dan ponakan menonton sambil duduk melantai beralas amak lampit.

Losmen Chandra Indah. Kasongan, 1 April 2009
Belum pukul 9 pagi. Cuaca cerah. Seorang pria muda dengan seorang pria paruh baya berkunjung ke losmen, bersepeda motor. Mereka mencari suami saya. Kepada saya mereka diperkenalkan sebagai Daryatmo, Kades Tura dan Doris, Kades Tumbang Tanjung. Mereka membawa map merah muda berisi petisi menolak masuknya perkebunan kelapa sawit di desa mereka. Saya melihat dilampiran surat, ada 96 tanda tangan wakil penduduk. Dari losmen, Daryatmo dan Doris berencana mengantar petisi tersebut ke bupati.

Kades Tura sungguh muda. Umurnya sekitar 28 tahun. Penampilannya seperti anak muda kebanyakan. Bercelana jeans, kaos oblong dan jaket kulit. Ia tak banyak bicara. Sepanjang pertemuan ia hanya mendengar sambil merokok. Ia hanya menjawab jika suami saya bertanya. Meski tak banyak bicara, Daryatmo tampak sebagai orang yang keras dan tipe pemikir.

Daryatmo berpendidikan SMA. Entah selesai atau tidak. Namun ia memenangkan 80% suara saat pemilihan kepala desa. Kisah saat pemilihan kepala desa cukup unik. Ada 3 calon untuk posisi kepala desa. Dari Edy, saya mengetahui bahwa 2 calon lain selain Daryatmo menggunakan uang untuk memenangkan pemilihan. Daryatmo menang. Tanpa uang. Tanpa janji-janji. Sama sekali. Rakyat desa mempercayainya. Daryatmo terpilih menjadi kepala desa Tura dan menjadi kepala desa termuda di Kabupaten Katingan. Hingga saat ini, sejak ia terpilih sebagai kepala desa, Daryatmo tak pernah minta balas jasa pada penduduk jika penduduk mengurus sesuatu.
Pertemuan berjalan sekitar 1 jam. Saya mengambil beberapa foto.

Ruang tamu Hotel Fairuz, Palangkaraya, Maret 2009
Malam hujan rintik-rintik. Esau Tambang, sahabat kami, tiba dengan sedan tuanya. Kami telah menunggu sejak tadi. Esau adalah sahabat kami. Ia bekerja di Badan Lingkungan Hidup Propinsi Kalimantan Tengah. Malam itu kami mendapat informasi bahwa ada teman yang baru saja menyelesaikan satu film semi dokumenter tentang perlawanan rakyat desa Tura terhadap perusahaan yang akan merampas tanah adat untuk dijadikan kebun sawit. Esau memberitahu bahwa pembuat film dan beberapa teman LSM sering berkumpul di Yayasan Cakrawala Indonesia di Jl. Merpati.

Di suatu malam, sehabis saya dan suami menikmati sore di D’Green Cafe, Esau datang menjemput. Kami meluncur menumpang mobil Esau. Dilangit, bulan berpayung. Kami menuju Jl. Merpati.

Wisma Edelweis, 17 April 2009
16:30
Saya dan suami berjumpa lagi dengan Edy. Ini perjumpaan ketiga setelah jumpa kami di Yayasan Cakrawala Indonesia dan Hotel Fairuz. Edy membawa beberapa foto dan bahan tertulis tentang Daryatmo dan desa Tura.
“Jika ada waktu, coba mengunjungi Tura.” Edy berkata.

Desa Tura terletak di tepi sungai Katingan. Berada dalam wilayah kabupaten Katingan kecamatan Pulau Malan. Dari Palangkaraya, bisa dicapai dengan 4-5 jam perjalanan menggunakan kendaraan darat. Jalan menuju desa Tura rusak berat. Penerangan desa masih menggunakan petromaks dan lampu teplok. Hanya ada 1 SD, 1 SMP dan 1 pusat kesehatan masyarakat. Itupun dipakai bersama dengan desa Tumbang Tanjung. Desa Tura memiliki luas sekitar 25 km². Hanya dihuni oleh 87 kepala keluarga atau sekitar 300 jiwa.

Ketentraman hati masyarakat desa terganggu. Bermula dari keinginan warga yang ingin mengurus Surat Keterangan Tanah. Saat Daryatmo membawa berkas pengurusan ke camat Pulau Malan, pengurusan ditolak. Oleh camat dikatakan bahwa tanah adat masyarakat di Mantian akan dijadikan kebun sawit oleh PT Mitra Jaya Cemerlang. Daryatmo marah. Ia tahu bahwa wilayah yang akan dijadikan kebun sawit adalah hak ulayat warga. Menurut hukum adat, warga memiliki hak ulayat terhadap wilayah sejauh 15 kilometer dari tepi sungai Katingan. Sementara PT Mitra Jaya Cemerlang menghendaki pembukaan lahan yang berjarak 4 kilometer dari tepi Sungai Katingan. Kecemasan Daryatmo bertambah karena mengetahui bahwa wilayah yang akan dijadikan kebun sawit adalah kawasan penting yang berisi keanekaragaman hayati berupa berbagai jenis tanaman dan hewan yang dilindungi undang-undang termasuk orang utan. Tahun 2007, hatinya cukup tenang. Menteri kehutanan sudah memperingatkan bupati untuk tak mengganggu tanah adat mereka karena merupakan habitat flora dan fauna penting. Wilayah tanah adat yang akan diklaim oleh PT Mitra Jaya Cemerlang juga merupakan sumber mata pencaharian masyarakat desa. Hasil hutan di Mantian berupa rotan, karet, tanaman obat, babi adalah sumber nafkah sebagian besar warga desa.

Mengetahui ancaman terhadap nasib warganya, Daryatmo bersegera pulang. Ia lalu mengumpulkan seluruh warga desa. Kepada warga diberitahukan bahwa pengurusan surat keterangan tanah terganggu karena tanah adat mereka akan dijadikan kebun sawit.

Tanah adat desa Tura dan desa Tumbang Tanjung di Mantian memiliki luas minimal 5000 hektar. Masing-masing kepala keluarga memilki kira-kira 4 hektar untuk digarap. Tidak mudah mencapai Mantian. Orang harus melewati sungai kecil berliku melawan arus deras. Perjalanan lewat sungai makan waktu sekitar 2 jam. Lewat darat bisa lebih cepat. Hanya saja jalan rusak berat dan tak bisa dilalui karena banyak jembatan putus. Dulu, kayu-kayu di hutan Mantian ditebang oleh perusahaan HPH Samba Sakti. Setelah Samba Sakti tak beroperasi, masuk lagi sebuah perusahaan berkedok ijin perkebunan kopi. Namun tak satupun tanaman kopi ditemukan di Mantian. Sekali lagi, kayu-kayu di hutan yang menjadi incaran. Mantian sekarang seperti padang rumput yang dikelilingi hutan. Kata warga, tanahnya begitu subur. Sebagian warga desa telah menanami Mantian dengan karet.

Saat ini, situasi di Mantian masih tenang. PT Mitra Jaya Cemerlang dalam status menunggu ijin Hak Guna Usaha (HGU) dari gubernur. Namun Daryatmo dan seluruh warga tetap was-was. Menurut Daryatmo, sawit akan merugikan warga. Merusak tanah juga membuat tanah adat hilang berikut kekayaan alam didalamnya. Lebih baik mereka berkebun karet untuk kelangsungan masa depan anak cucu. Impian Daryatmo, desa harus maju dan anak-anak dapat bersekolah. Impian ini harus dicapai meski butuh kerja keras dan waktu yang panjang. Dan untuk mencapai impian ini, bukan lewat sawit. Tapi karet.

Andriani S. J. Kusni
Palangkaraya, 17 April 2009
Memperingati Hari Bumi

*COP: Center for Orang Utan Protection

KERAJINAN TANGAN RAKYAT, PERMASALAHAN DAN SOLUSINYA

Jurnal Toddopuli

(Cerita Dari Katingan Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)

Pagi jam 09:00, Ann dan saya keluar dari Wisma Edelweis menggunakan angkot ke ujung Jalan Yos Sudarso yang selain merupakan pusat rumah makan, juga merupakan tempat beberapa kantor pemerintah serta kampus Universitas Negeri Palangka Raya (UNPAR) dengan puluhan ribu mahasiswanya. Tujuan pertama kami adalah kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag).

Menurut keterangan awal yang kami dengar, pada 19-23 Mei 2009 mendatang, akan menyelenggarakan eksposisi kerajinan tangan se Kalteng bertempat di Gedung Pertemuan Tambun Bungai yang terletak di Jalan Ahmad Yani. Menurut keterangan yang saya peroleh di Kasongan, ibukota kabupaten Katingan, pameran kerajinan tangan ini diselenggarakan secara teratur oleh Disperindag, bukan hanya di dalam wilayah propinsi tapi bahkan sampai ke daerah-daerah lain seperti Bali, Jakarta, Batam, dan lain-lain, dalam rangka mempromosi hasil kerajinan tangan Kalteng. Waktu berada di Yogyakarta dan Bali, saya mendengar dari para pedagang kerajinan tangan di sepanjang jalan Malioboro dan tokoh-toko di Bali, bahwa kedua tempat ini merupakan salah satu tempat pelemparan hasil-hasil kerajinan tangan dari Kalteng, tapi tanpa mencantumkan tanda-tanda Kalteng pada produk tersebut. Hanya yang mengenal Tanah Dayak akan dengan segera mendeteksi asal produk tersebut. Bukan hanya itu, bahkan di Jalan Sleman Yogyakarta, terdapat pusat pembuatan kerajinan Dayak dengan bahan-bahan dari Kalteng. Barangkali, dari keadaan begini, kita melihat adanya masalah hak paten untuk suatu karya dan intelektual yang belum menjadi perhatian banyak kalangan, sehingga beberapa tanaman Kalimantan pun dipatenkan oleh pihak mancanegara. Kita hanya berpikir bagaimana barang itu terjual dan segera mendapat uang, tapi tidak berpikir tentang kelanjutannya yang jauh. Kolom Palui – cerita rakyat yang aslinya dari Tanah Dayak – bahkan semacam diambil alih Kalsel melalui ruang tetap di Harian Banjarmasin Pos.

Eksposisi kerajinan tangan se Kalteng yang akan diselenggarakan oleh Disperindag pada Mei mendatang sampai sekarang belum muncul di spanduk-spanduk atau pun di kolom-kolom Koran lokal. Sampai tanggal 26 April 2009, pihak yang mendatar, berdasarkan formulir yang disodorkan kepada kami, baru Andriani S. Kusni sendiri, yang bermaksud menghadirkan produk-produk dari Sulawesi Selatan. Barangkali kegiatan penting dan mempunyai nilai ekonomi begini, dipandang tidak memerlukan sosialisasi dan pemberitaan, apalagi penyelenggaraannya akan dibarengi dengan penyelenggaraan Festival Kesenian Isen Mulang yang ke-3 (?). Di sekretariat eksposisi pun ketika kami datang, tidak nampak kesibukan, untuk tidak mengatakan sepi. Sementara pada tahun 2008, ekspo ini diikuti juga antara lain oleh peserta-peserta dari luar Kalteng, seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Maluku Uara, Bali, Sulawesi Tenggara, Bengkulu, Banten, Papua dan Propinsi DKI Jakarta.

Usai mengambil formulir pendaftaran sebagai peserta dan mendapat informasi lanjut, kami meneruskan perjalanan ke Palangka Raya Mall (Palma) di mana diselenggarakan Peringatan Hari Bumi 22 April oleh WWF Kalteng, pada 25 April dibuka oleh Wakil Gubernur, Ir. A. Diran, dan membacakan pidato Gubernur A. Teras Narang, karena Gubernur berada di Jakarta mengikuti rapat Gubernur se Indonesia yang dipimpin oleh Presiden.

Di salah satu stand kecil dipamerkan hasil-hasil kerajinan tangan Dayak berbahankan rotan seperti topi, tas berbagai desain dan ukuran. Setelah memperhatikan produk kerajinan tangan ini dengan cermat satu demi satu, Ann berkomentar : “Harganya koq mahal sekali. Di Yogya, Mi membeli tas Dayak lebih besar dengan desain lebih indah seharga Rp.100.000. Di sini tas kecil berdesain lebih sederhana berharga Rp.200 ribu”. Saya turut memperhatikan harga yang tertera di produk-produk tersebut.

“Benar juga. Bagaimana mereka bisa bersaing dengan produk sama dari daerah lain”, ujarku. Persoalan harga begini sudah lama saya ketahui permasalahannya, karena selama beberapa tahun ketika berada di Kalteng, saya pernah menangani kerajinan tangan ini, sampai sempat membuka sebuah kedai kecil di daerah Candi Prambanan untuk menjual berbagai macam produk kerajinan tangan Kalteng, berkeliling Kalteng menjual produk kami.

Seorang perempuan setengah baya, yang ternyata pernah membantu kami di kampus Unpar, ketika mencari perpustakaan Unpar dan Fakultas Tekhnik, mendengar komentar Ann langsung mendekat. Perempuan setengah baya ini adalah dosen Fakultas Kehutanan tapi di samping sebagai dosen, karena memang suka menganyam, ia mengembangkan hobinya dalam bentuk membuka usaha kecil-kecilan kerajinan tangan.

“Produk-produk ini saya buat di Yogya atau Bali. Bahan-bahannya saya kirim dari Palangka Raya. Desain, penjahitan dan asesoris dilakukan di Bali atau Yogya. Setelah selesai mereka kirim kembali ke mari”, jelas perempuan setengah baya itu dengan ramah dalam bahasa Indonesia.

“Karena itu harganya jadi dua kali lipat dibandingkan dengan harga Yogya atau Bali”, lanjutnya.

“Mengapattidak dilakukan di Kalteng saja?” tanya saya.

“Di sini, kita tidak mempunyai mesinnya”.

“Berapa harga mesin yang diperlukan itu ? »

“Sekitar empat sampai lima juta rupiah. Kalau pun kita punya mesin, setelah itu akan muncul persoalan baru yaitu jika mesin itu rusak, kita tidak mempunyai kemampuan memperbaikinya. Jika terjadi hal demikian, produksi pun tersendat bahkan macet”.

“Jika dilakukan penataran, bagaimana?”

“Penataran pernah dilakukan, tapi ternyata tidak cukup hanya berlangsung seminggu seperti yang pernah dilakukan. Untuk pelatihan lebih lama, diperlukan dana lebih besar. Kita tidak mempunyai syarat untuk melakukannya ”.

Lagi-lagi saya berjumpa dengan kendala dan alasan klasik: Dana! Sementara kebocoran dana dalam miliaran rupiah terjadi di berbagai sektor dan berbagain tingkat. Mengikuti logika begini maka kerajinan tangan Kalteng akan berada dalam lingkaran setan keterpurukan terus-menerus. Dari keterpurukan, bukan tidak mungkin akan melenyap seperti halnya keterampilan membuat sumpitan, mandau, parang, cangkul, pisau dan alat-alat rumah tangga menurun ketika baputan, tanur kecil khas Dayak, sudah hampir melenyap dan hanya tinggal di hulu-hulu berbarengan dengan keterampilan membuat gula tebu, menggiling padi dengan “putar”, atau lenyapnya keterampilan membuat sabun dan kain di kalangan masyarakat Dayak Kalteng.

Jahitan produk-produk yang dibuat di Yogya dan Bali pun ternyata masih kurang cermat dan kurang rapi sehingga untuk standar ekspor barangkali tidak bisa masuk kategori.

Kelemahan desain yang dikritik oleh Ann selaku desainer, memang saya dapatkan di desa-desa pengrajin jauh di pedalaman Kalteng, saat saya turun.Warna produk pun masih sangat tradisional, dilakukan dengan cara-cara yang dilakukan oleh ibu alm. Hitam, putih, merah dan kuning. Pernah kami mendapat pesanan topi rotan tanpa warna, dalam jumlah jutaan secara berkala. Namun produsen di pedesaan dengan tekhnik berpdroduksi mereka, tidak mampu melayani pesanan ini.Yang terjadi selama ini adalah produk-produk dari desa dikumpulkan oleh para tengkulak dan tengkulak inilah yang menentukan harga baik dari produser langsung mau pun atas harga di pasar.

Dari kasus-kasus di atas nampak bahwa kemampuan dan tekhnik berproduksi sehongga mampu berproduksi dalam jumlah besar, masalah estetika atau mutu, yang mencakup varian warna, desain dan asesoris, tekhnik jahit-menjahit produk sehingga daya tahan produk relati terjamin, tanpa cacat, ketepatan waktu berproduksi, akan membantu usaha pemasaran. Yang menjadi pertanyaan saya: Seandainya kita mendapatkan pasar untuk produk-produk demikian, apakah ketepatan waktu livraison (penyerahan atau pengiriman pesanan) , jumlah dan mutu bisa dipenuhi? Bisakah pengrajin kita menjadi pengrajin profesional menggunakan cara-cara perdagangan internasional seperti LC, asuransi, kontrol mutu, dan lain-lain. Pertanyaan ini muncul di benak saya, sebab dengan cara berproduksi sekarang dan cara pemasaran produk menggunakan jasa tengkulak selain tidak membantu pengrajin secara langsung, juga tidak akan bisa memenuhi standar perdagangan internasional. Barangkali LSM profesional bisa memainkan peran menanganinya. Termasuk menangani soal pelatihan guna peningkatan mutu produk sehingga bisa memenuhi tuntutan pasar internasional. Sebaiknya juga, para pengrajin diorganisasi dalam bentuk koperasi. Dengan bentuk koperasi dibandingkan dengan pengusahaan individual atau bentuk PT, para pengrajin relatif dipermudah mendapatkan patner-patner luar negeri. Di Perancis, Jerman, Belanda, bahkan Amerika Latin dan Afrika, serta negeri-negeri lain, terdapat memang LSM-LSM internasional yang bersedia membantu pemasaran atau membeli produk-produk kerajinan tangan rakyat. Artisan du Monde adalah salah satu LSM demikian yang mempunyai cabang di berbagai negeri dan banyak membeli produk-produk dari Muangthai, Philipina, negeri-negeri Indo Cina. Juga CCFD (Komite Katolik Melawan Kelaparan Untuk Pembangunan), Secours Populaire Perancis, adalah lembaga-lembaga internasional yang pernah membantu Indonesia dalam mengelola dan memasarkan produk-produk kerajinan tangan Indonesia. Secours Populaire pernah selama bertahun-tahun memberi pekerjaan pada semua penduduk sebuah desa di Jawa Barat dengan membeli produk kerajinan tangan desa tersebut yang dibuat dari padi dan batang padi atau bulu ayam. Kegiatan Secours Populaire ini berhenti oleh ancaman dari segi keamanan yang mereka rasakan pada masa Orde Baru. Artinya dikarenakan soal politik. Kegiatan bantuan lalu dialihkan ke India dan Nepal.

Peluang lain yang bisa dimanfaatkan untuk promosi produk-produk kerajinan tangan rakyat ini adalah pameran dagang internasional, misalnya di Paris. Kedubes Indonesia nampaknya mengulurkan tangan untuk pengusaha-pengusaha Indonesia untuk bisa hadir dalam pameran dagang internasional ini. Jika pemerintah memang mendorong pengembangan koperasi dan kerajinan tangan rakyat, mengapa tidak, koperasi pengrajin begini didorong dengan bantuan kongkret, atau para pengrajin masuk ke dalam koperasi-koperasi Credit Union yang sekarang sudah mulai berkembang di Kalteng? Yang tidak kurang pentingnya juga dalam usaha mengembangkan, memasarkan produk-produk kerajinan tangan rakyat, barangkali adalah wacana, wawasan pengembangan. Wawasan, konsep akan menentukan orientasi dan cara pengembangan, pemasaran dan mencari serta mendapatkan mitra usaha lokal, nasional dan internasional. Liberalisme globalisasi, sebagai perkembangan mutakhir kapitalisme kekinian adalah satu orientasi, sedangkan Alter Mondial adalah orientasi lain lagi. Wawasan ini pulalah yang menentukan mengapa propinsi ini mengembangkan perkebunan sawit serta mengkebelakangkan karet yang mentradisi di kalangan rakyat serta tidak merusak tanah. Dengan demikian, quo vadis, mau ke mana, tetap menjadi sebuah pertanyaan klasik, juga bagi Kalimantan dan tanahair, dulu dan sekarang, termasuk bagi dunia kerajinan tangan. Pertanyaan yang menunggu jawaban tanggap kita semua. ****

Palangka Raya, April 2009

——————————-

JJ. Kusni

PRODUK KEBUN RAKYAT DAN PASAR DALAM NEGERI

Jurnal Toddopuli

(Cerita Dari Katingan Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)

Kalau kita pergi dari Kasongan menuju Sampit atau sebaliknya, kita akan melalui hamparan bidang tanah luas berhektar-hektar penuh dengan tanaman nenas. Saya tidak sempat menyelidiki, apakah nenas-nenas dari jenis nenas madu ini ditanam dengan menggunakan pupuk dan dirawat secara khusus, ditekuni serta dikelola secara profesional dan berkelanjutan, tapi yang jelas perkebunan nenas madu inilah yang melayani keperluan pasar Sampit, Kasongan , Palangka Raya dan sekitar.

Melihat jumlah yang dihasilkan kebun nenas yang terdapat di antara Sampit-Kasongan saja, saya menduga bahwa yang diproduksi akan melampaui keperluan. Apalagi jika produk ini digunakan hanya dimasak untuk sayur atau lauk-pauk, rujak dan barangkali sedikit untuk slei. Jika saya ingat masa kecil di daerah ini, terkesan bahwa masalah over production (produksi berkelebihan) merupakan soal lama untuk buah-buahan. Hasil-hasil kebun rakyat (saya membedakan antara kebun rakyat dan perkebunan) oleh kelemahan dalam pemasaran, dibiarkan membusuk. Kelemahan pemasaran produk, tentu ada kaitannya dengan tersedianya infra struktur di propinsi, kabupaten dan kecamatan. Pada masa kecil saya dahulu, alat pengangkutan utama hanya berupa perahu (jukung) yang dikayuh, bukan digerakkan oleh mesin tempel (yang di Kalteng disebut stempel). Sedangkan patokan ekonomi dalam beproduksi pada prinsipnya hanya untuk memenuhi keperluan sendiri. Hanya saja jumlah yang dihasilkan oleh kebun di samping atau belakang rumah saja sudah melebihi keperluan sendiri. Sebagai misal adalah tanaman pisang. Pisang ditanam di belakang atau di samping rumah, atau dipinggir-pinggir jalan. Pisang yang tadinya hanya ditanam empat lima batang, berkembang sangat cepat. Empat lima batang ini kemudian berkembang menjadi sepuluh dua puluh batang. Buahnya melebihi keperluan satu dua keluarga. Bercocok tanam di sekitar rumah, merupakan kebiasaan penduduk Kalteng sebagai peladang berpindah. Gampang dibayangkan, dengan kecepatan berkembang biak pisang yang demikian, hasil pohon pisang akan sangat jauh melebihi keperluan orang sekampung, apalagi yang dikonsumsi penduduk, selain buahnya, juga batang muda dan tongkolnya.

Ketika jalan darat berkembang, kota-kota berkembang, angkutan sungai mulai menggunakan klotok dan perahu-perahu bermesin, pisang, nenas, durian, mangga da lain-lain buah-buahan, mengalir dari pedalaman ke pasar-pasar kota. Ada perkembangan memang, yaitu hasil kebun rakyat mulai dipasarkan, tapi perkembangan ini masih pada tahap memenuhi keperluan keluarga sendiri. Hanya sebagai penambah penghasilan dari berbentuk natura ke bentuk uang. Yang memasarkan produk perkebunan rakyat ini adalah para tengkulak yang menampungnya sejak pelabuhan klotok atau datang langsung ke kebun sehingga bisa mendapatkan produk-produk tersebut dengan harga lebih murah. Para tengkulak yang umumnya terdiri dari orang-orang dari etnik Banjar-lah selanjutnya yang memasarkan produk-produk itu, menetapkan harga pasar dan memonopoli pasar. Orang Dayak nampaknya masih jauh dari kebiasaan berdagang, masih kuat terpengaruh oleh kebiasaan petani peladang, dengan pola pikir dan mentalitas peladang berpindah. Keadaan begini juga berlaku terhadap bidang kerajinan tangan dari jelutung dan atau rotan. Dengan pola pikir dan mentalitas begini, saya tidak heran jika kekayaan alam Kalteng menjadi kurang dinikmati dan menyejahterakan penduduk Kalteng, terutama penduduk etnik Dayak. Kekayaan sumber daya alam lebih dinikmati oleh etnik-etnik lain dengan budaya dagang dan budaya industri serta rasionalitas, tanpa ada pemikiran tentang perlunya melakukan investasi atau pun inovasi. Saya melihat dengan perasaan “ngenes”, budaya statis peladang berpindah begini, budaya yang masih menguasai komunitas Dayak. PNS sebagai kerja idola, saya kira, varian baru dari budaya statis peladang berpindah juga. Berkutat di sekitar budaya statis begini, apakah mungkin orang Dayak keluar dari keterpurukan yang membuat mereka sering terdengar mengeluh dan meratap? Credit Union dan KPD adalah suatu terobosan baru dalam mengetas pola pikir, mentalitas dan budaya statis ini. Membicarakan masalah pola pikir, mentalitas dan budaya statis begini, pada dasarnya saya sedang berbicara arti kunci manusia dalam pemberdayaan dan pembangunan.

Ketika berada di Paris, saya menyaksikan bagaimana produk buah-buahan seperti papaya, rambutan, nenas, pisang, durian, mangga, jambu, sirsak (nangka Belanda) ubikayu, ubi rambat, kelapa dan air kelapa muda, kerajinan tangan menjadi item ekspor negeri-negeri seperti Mungtahai, Republik Rakyat Tiongkok dan Nam bahkan Afrika, dengan memenuhi standar perdagangan bahan makanan internasional. Produk-produk ini sebelum diekspor telah diawetkan, dikalengkan, atau diolah ke bentuk bahan makanan baru.

Melihat hadirnya produk kebun rakyat pasar-pasar Eropa Barat demikian, serta-merta saya teringat akan kelimpahan produk kebun rakyat di Kalteng? Produk yang tidak terolah, bahkan sering membusuk, hilang begitu saja tanpa menyumbangkan arti apa-apa bagi produsennya. Yang menjadi pertanyaan saya: Sudahkah pemerintah, sudahkah kita sebagai warganegara memikirkan sungguh-sungguh akan hal ini ? Kalau sudah, apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan sehingga produk-produk itu memberikan sumbangan untuk menyejahterakan penduduk, guna memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat, memaknai secara nyata sumber daya alam kita? Perbaikan tingkat ekonomi masyarakat barangkali akan mempunyai pengaruh positif pada pada bidang-bidang lain seperti kesehatan, pendidikan, olahraga, dan lain-lain.

Gerakan « Saya Mencintai Indonesia » boleh jadi bertalian dengan usaha mengembangkan pasar dalam negeri untuk produk-produk dalam negeri, bahkan bisa ditasirkan himbauan untuk memperkokoh pasar dalam negeri, termasuk hasil kebun-kebun rakyat. Berbicara dalam skala lebih sempit, kelimpahan produksi nenas antara Sampit-Kasongan, jika nenas dan pisang, dan lain-lain, diolah menjadi slei, dodol, yang memenuhi syarat-syarat kesehatan dan kualitas, misalnya, sebagai salah satu home industry items, barangkali pasar lokal Kalteng saja sudah padan untuk menyerap produk nenas yang telah diolah. Usaha pengelolaan dan pemasaran serius terhadap tapai di Muntilan, Jawa Tengah, saya kira sebuah contoh menarik tentang bagaimana mengelola dan memasarkan produk-produk lokal yang sudah ada. Demikian juga produk dodol dari lidah buaya, yang saya cicipi di Palma (Palangka Raya Mall) yang dipamerkan pada perayaan Hari Bumi 25 April 2009, saya kira usaha suatu menarik layak dikembangkan.***

Palangka Raya, April 2009

——————————–

JJ. Kusni

DARI EDELWEIS KE RUNGAN SARI

Jurnal Toddopuli

(Cerita Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)

Pukul sepuluh pagi, Ann dan saya keluar Wisma Edelweis, sebuah penginapan cukup baik milik adik saya, di mana kami menginap selama berurusan di Palangka Raya. Dibandingkan dengan hotel-hotel dan wisma lain, Edelweis memang bisa dikatakan cukup mewah. Delapan belas kamar bangunan dengan halaman parkir cukup luas selalu terisi oleh tamu dari berbagai penjuru tanah air, terutama para pejabat, pengusaha, dan aparat keamanan yang sedang menunggu pos baru di Kalteng, dihijaukan oleh tanaman-tanaman hias dan dirindangi oleh pepohonan buah-buahan seperti mangga dan rambutan. Sebuah parit selebar tiga meter dengan kedalaman dua meter, membujur di depan wisma dengan air warna kemerahan, yang selalu mengalir di dalamnya. Parit ini, seperti halnya sungai Kahayan dan sungai-sungai lain di Kalteng menjadi parit dan sungai pembuangan sampah.

Wisma Edelweis sesungguhnya lebih berungsi sebagai tempat pemondokan. Sebab orang-orang yang tinggal di sini bukanlah mereka yang tinggal dalam takaran waktu sehari dua, tapi bulan. Tarif untuk jenis kamar ber AC dan bertelevisi, sebesar satu juta supiah sebulan, sedangkan tariff bagi kamar yang tanpa teleivisi dan AC, hanya dilengkapi dengan kipas angin, sebesar Rp.600 ribu per bulan. Penghuni kedua jenis kamar tidak dijamin makanan dan minuman mereka. Untuk makan-minum dan keperluan-keperluan lain, para pemondok bisa mendapatkannya di restoran dan warung yang berderet di sepanjang Jalan Yos Sudarso salah satu jalan protokol ibukota Kalteng dan tak jauh dari kampus Universitas Negeri Palangka Raya. Taksi, nama angkot di sini, satu-satunyan angkutan umum, lalu-lalang sampai jam 21.00, memudahkan kita pergi dari Wisma ke segala jurusan yang dituju. Kendaraan umum masih sangat terbatas di Palangka Raya yang mempunyai jalan lebar-lebar mulus. Sayangnya, trotoar untuk pejalan kaki kurang diperhatikan, seperti halnya dengan kota-kota mana pun di Indonesia hingga mengesankan jalan raya terutama disediakan untuk pejalan kaki. Saya tidak tahu bagaimana propinsi ini mengembangkan turisme jika sarana turisme paling minimal saja tidak memadai.

Berjalan kaki sesudah jam sebelas siang hingga jam 16:30, sekali pun bagi orang yang biasa dan suka berjalan kaki, memerlukan tekad untuk menarungi terik matahari bersuhu 35° di tanah yang berpasir putih memantul kembali ke muka dan seluruh tubuh kita dari aspal. Suhu kota mulai nyaman sejak pukul lima petang, saat warung-warung tenda milik berbagai pedagang makanan dari berbagai pulau. Jalan Yos Sudarso oleh pemerintah kotapraja memang disediakan khusus tempat pemusatan warung dan retoran. Mulai jam-jam sedemikian, Jalan Yos Sudarso yang kedua nsisinya ditempati oleh gedung-gedung pemda dan hotel-hotel besar, mulai riuh dan hidup kembali oleh berbagai ragam musik, terutama musik dangdut menemani penduduk yang keluar bersantai. Sepeda motor merupakan kendaraan paling umum digunakan dan barangkali merupakan kendaraan yang paling praktis. Hanya saja, para pengendaranya sangat minim etika sehingga mereka jugalah yang paling banyak menjadi korban kecelakaan lalulintas di kota berpenduduk kuranglebih 500 .000 orang ini. Pengendara-pengendara sepeda motor di kota yang belum mengenal kemacetan ini, bisa tiba-tiba memotong jalan mobil dengan jarak hanya satu meter, atau menyelit dua truk yang bersilang arah tanpa melakukan perhitungan cermat. Etika berkendaraan agaknya masih kurang dikhayati di sini. Kecepatan mengendara juga tak dihitung-hitung. Menurut keterangan dari yang pernah melakukannya, di kota yang berslogankan “Isen Mulang” ini, terdapat kelompok geng bersepeda motor. Bukan hanya itu. Di sini pun terdapat kelompok-kelompok geng yang di zaman remaja saya dulu disebut “cross boy”. Narkoba, judi , minum dan pengangguran diikuti oleh pencurian, nampaknya cukup menjangkiti kalangan muda dan mahasiswa. Waktu saya tinggal di rumah kontrakan di Gang Batu Hurun hingga tahun 1999, saban malam di jalan raya di_depan rumah, para mahasiswa menggelarkan tikar rotan untuk tempat berjudi sehingga memaksa RT mengambul tindakan menghalau mereka dari kampung. Apakah gejala-gejala sosial begini mempunyai kaitan dengan kelompok-kelompok geng “cross boy” atau tidak?

Hal yang unik juga di Palangka Raya bahwa harian-harian terkemuka seperti Harian Kalteng Pos, misalnya sejak lama, sering menyediakan kolom tentang masalah-masalah hubungan seks, seperti selingkuh dan perkosaan. Bahkan masalah kondom terdapat di stadion sepakbola atau di depan rumah atau di kantor diangkat sebagai berita atau artikel yang meminta kolom tidak kecil. Barangkali kebijakan begini, dimaksudkan sebagai selingan ringan dan untuk menambah jumlah pembaca di tengah persaingan di dunia bisnis media massa. Di Palangka Raya saja terdapat tiga harian utama, yaitu Harian Kalteng Pos, Harian Palangka Raya Pos, Dayak Pos, tabloid Detak, Warta Borneo, Bawi, ditambah dengan penerbitan-penerbitan di tiap kabupaten seperti Katingan Pos, Radar Sampit, dan lain-lain.

Ciri umum halaman-halaman rumah di Palangka Raya, di Kalteng, adalah halaman-halaman yang tak terawat , tidak tertata, keadaan yang saya duga sebagai sisa produk dari estetika peladang berpindah. Halaman rumah dan kantor, besar-besar, tapi dari segi estetika, ruang halaman besar-besar itu sama sekali tak tergarap.

***

Menembus terik kota yang mulai menanjak seiring dengan naiknya matahari, Ann dan saya keluar dari Edelweis menuju Tangkiling, terletak sekitar 30 km dari Palangka Raya memenuhi panggilan Sekolah Internasional Plus Pertama yang didanai oleh Subud internasional. Tangkiling adalah “markas besar” Subud internasional. Beberapa tahun silam, sekitar tahun 1999an, di Palangka Raya Subud sudah menyiapkan konfrensi internasional mereka. Dibatalkan karena pertimbangan keamanan oleh benih-benih konflik antar etnik di Kalteng yang mulai memanas. Berita yang gencar tersebar pada waktu itu bahwa Subud mau memindahkan kantor pusat mereka ke Palangka Raya. Dunia pendidikan hanyalah salah satu bidang kegiatan yang ditangani oleh Subud. Yang mencemaskan saya, dari kegiatan kelompok Subud yang bermarkas di kompleks Rongan 1) Sari, Tangkiling, adalah pernyataan tertulis di salahsatu dokumen yang sempat sampai ke tangan saya yang “menyetan-nyetankan budaya Dayak”, persis seperti politik “ragi usang” yang dilaksanakan oleh kolonialias Belanda dahulu mendahului agresi militer mereka. Politik budaya “ragi usang” dan pandangan komunitas Subud yang menyetan-nyetankan budaya Dayak, adalah dua politik parallel dan merupakan bentuk agresi terang-terangan di bidang kebudayaan terhadap orang Dayak. Masalah ini pernah saya angkat dan perdebatkan di berbagai milis dalam dan luarnegeri. Dan sejauh ini, saya belum pernah mengetahui Komunitas Subud meralat politik kebudayaan demikian. Saya berharap benar, jika Komunitas Subud sudah meralat politik budaya terhadap masyarakat Dayak ini, hendaknya ralat tersebut, diumumkan secara luas, walau pun bisa saja terjadi bahwa ralat dilakukan sebagai suatu taktik, tanpa mengobah inti strategi. Saya berharap agar masyarakat Dayak tidak lengah terhadap gerak-gerik Komunitas Subud di Kalteng , yang pernah menyetan-nyetankan budaya Dayak sehingga kelak-kemudian masyarakat Dayak khususnya tidak mati langkah.Harapan begini tentu tidak berangkat dari keinginan menyulut pertikaian dan kebencian pada komunitas ini dan itu, tapi semata-mata berpangkal dari suatu harapan agar masyarakat Dayak tidak mengendorkan kewaspadaan. Juga tidak bermula dari sikap tutup pintu-isme atau kebencian pada orang asing seperti yang pernah dilontarkan kepada saya. Bagaimana bisa, saya membenci orang asing, khususnya kulit putih, jika lebih dari separo usia, saya bergaul dan hidup di kalangan orang berkulit putih di negeri mereka sendiri dan bertentangan pandangan kemanusiaan saya sendiri, terutama konsep “rengan tingang nyanak jata” (anak enggang putera-puteri naga”?

Panggilan atau penamaan terhadap kaum kolonialis Belanda disebut “bakara” (kera merah) tidak lain merupakan reaksi masyarakat Dayak terhadap politik budaya ragi usang Belanda, bukan karena mereka Belanda. Sudah menjadi rahasia umum di negeri ini bahwa kolonialisme selalu berganti baju serta menyaru sesuai perkembangan keadaan. Bukan mustahil jika sekarang pun baju itu sekarang sudah berbeda, apalagi jika kita sepakat bahwa yang disebut globalisisasi, tidak lain dari tingkat terbaru dari perkembangan kapitalisme, dan imperialisme adalah wajah dari puncak tertinggi kapitalisme. Menghadapi tingkat baru kapitalisme ini maka muncul yang dinamakan Gerakan Alter Mondial. Guna mencapai tujuannya menguasai dunia, gurita globalisasi menjalarkan sungutnya ke berbagai bidang: ekonomi, politik, sosial, pendidikan dan lain-lain sector kehidupan serta kegiatan. Beasiswa dan yang disebut bantuan, tentu bukan beasiswa dan bantuan tanpa tujuan sekali pun dibalut ruâ-rupa dalih teoritis. Sejarah Republik Indonesia menunjukkan bahwa terbentuknya Berkeley Mafia yang menghasilkan tim pendamping Orde Baru merupakan buah beasiswa dari Amerika Serikat yang merupakan basis lobby Amerika Serikat di Indonesia. Perlombaan membangun lobby-lobby antar Negara-negara adikuasa dan kapitalis tidak lepas dari usaha merebut Indonesia yang berpenduduk 220 juta sebagai pasar, penyedia sumber bahan mentah kaya dan murah dan tenaga kerja yang murah pula. Apakah saya bersikap menolak bantuan dan beasiswa dari luar? Tidak. Masalahnya terletak pada siapa menggunakan siapa? Kesadaran akan latarbelakang demikian, boleh jadi membantu kita meningkatkan kewaspadaan supaya tidak menjadi negeri dan bangsa koeli di antara koeli.

Zending dari Basel Swiss, yang sekarang bermarkas di Tumbang Lahang, tadinya di Kasongan, diterima oleh masyarakat Dayak. Zending melakukan kegiatan di Kalteng , khususnya Katingan, lebih dari setengah abad, dan sepanjang kegiatan, mereka tidak pernah menyetan-nyetankan budaya Dayak. Sekolah pertukangan Mandumai yang dikelola oleh Zending Basel, menyumbangkan tenaga-tenaga terampil berkualitas di bidang pertukangan bagi Kalteng. Mereka membaur dengan masyarakat lokal. Asih berbahasa Dayak, lebih fasih dari berbahasa Indonesia. Dr. Elisabeth dengan klinik pengobatannya adalah nama yang selalu diingat oleh masyarakat Dayak Katingan. Antropolog dari Swiss jugalah yang sanggup menggadaikan kepalanya untuk bisa bersama-sama komunitas Punan membela hutannya di Sarawak.

***

Kepergian kami ke perkampungan Rungan Sari di Tangkiling, pal 36 Jalan Tjilik Riwut berawal dari pemasukan lamaran sesuai iklan oleh Ann untuk menjadi pengajar di sekolah internasional. Lamaran disampaikan di Jalan Pilau Palangka Raya. Sebagai lanjutan dari lamaran ini, beberapa hari kemudian, Ann ditelpon oleh Bu Endah untuk diwawancara di perkampungan Rongan Sari. Mestinya wawancara dilangsungkan pada pukul 12 :30. Tapi di stasiun taksi atau angkot, kami harus menunggu angkota lebih dari sejam. Sopir tidak mau berangkat sebelum jumlah penumpang memadai. Karena hampir kehilangan kesabaran, saya mencoba mencarter angkot, tapi untuk jarak 30 km, sopir meminta Rp.100 ribu. Saya mencoba melihat ke sana ke mari, kalau-kalau ada taksi lain yang menuju Tangkiling, salah satu daerah keramat bagi orang Dayak Kalteng. Tapi yang ada Cuma satu taksi yang sedang kami tunggu. Sopir mau berangkat lebih cepat jika kami mau membayar tempat duduk empat dua atau tiga penumpang yang sedang diharapkan oleh sopir. Jalan kompromi tercapai. Tarif dinaikkan dari Rp.13 ribu menjadi Rp.15 ribu perorang. Sopir masih saja belum puas dengan kenaikan ongkos dari tarif normal demikian. Sekali pun ia memberangkatkan taksinya, tapi ia masih saja berputar-putar di sekitar dengan harapan mendapatkan penumpang baru dengan tarif baru. Begitu sulit mencari penumpang, begitu minimnya juga taksi yang ke Tangkiling hingga sulit dicari dan harus lama menunggu. Angkutan publik masih merupakan masalah utama bagi penduduk Palangka Raya dan sekitarnya sedangkan jarak satu dan lain tempat cukup melelahkan jika ditempuh dengan jalan kaki di bawah suhu sangat terik. Sebelum memiliki jip Catana, waktu bekerja di sini, pada mulanya saya menempuh jarak-jarak begini dengan menggunakan sepeda dayung. Orang-orang memandang saya dengan aneh bahkan ada yang mengatakan « gila » dan « memalukan bagi seoang penyandang gelar akademi DR” karena tidak ada orang lain yang melakukannya. Sejak itu, pedagang di kaki lima, pejual koran dan pasar Blauran dan Kahayan menjuluki saya sebagai « profesor bersepeda ». Mengapa malu ? Bulankah kemampuan saya sebatas memiliki sepeda dayung ?! Dari kata-kata tersebut saya mengukur ukuran hebat tidak memalukan di kampung saya sekarang. Membantu saya mengenal permukaan mimpi mereka tentang kehebatan yang barangkali dekat dengan konsumerisme.

Naik sepeda ke Tangkiling? Tentu saja mungkin, tapi sangat melelahkan untuk memenuhi rendezvous 2) pukul 12:30. Lagi pula sepeda butut saya dulu itu ketika meninggalkan Palangka Raya sudah saya berikan pada orang.

Tahu kami akan datang terlambat, Ann saya minta mengirimkan sms untuk memberitahu persoalannya.

Taksi kami meluncur melintasi jalan perkampungan tak teratur, bahkan bisa dikatakan setengah kumuh. Halaman-halaman dibiarkan menyemak. Maaf, para handai-taulan, barangkali standar kumuh saya berkelebihan karena “risih” serta memimpikan kota dan kampung di tanah kelahiran, dengan perumahan yang rapi tertata , bersih, walau pun sederhana dan kecil, bukan asal dibangun. Saya percaya, kita bisa dan mampu. Apa salahnya rapi, tertata, indah dan bersih?

Di terminal Tangkiling, taksi berhenti dan hanya mau mengantar kami ke Rongan Sari yang masih jauh, jika kami memberi tambahan ongkos. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan dua ojeg. Dari lagu bahasa mereka kemudian dari bahasa yang mereka gunakan, saya tahu bahwa dua pengendara ojeg itu adalah orang dari etnik Dayak. Menggunakan bahasa Dayak Kahayan, saya mengorek keterangan dan kesan-kesan merka tentang perkampungan Rongan Sari yang di sini terkenal sebagai perkampungan Subud.

“Yang tinggal di Rungan Sari ini adalah orang-orang kaya dan kebanyakan orang berkulit putih”, pengendara ojeg bercerita tanpa saya tanya. Sebagai sesama Dayak, ia nampak cepat ramah dan percaya. Suatu psikhologi yang saya pahami benar dan saya gunakan untuk menimba informasi.

“Untuk masuk ke dalam pun tidak gampang. Kontrolnya ketat”, lanjut pengendera ojeg Dayak itu.

“Apakah kau 3) tinggal di sini?”, tanya saya.

« Saya lahir dan besar di sini. Tangkiling ini kampung saya . Dan kau dari mana ?».

« Saya orang Kasongan, Oloh Katingan »

Begitu melihat dua sepeda motor berhenti di depan kayu palang pintu, seorang satpam dengan seragam putih birunya, menghampiri. Ann turun menemui satpam dan menjelaskan sesuatu dengan gayanya yang pasti, tenang dan penuh percaya diri. Palang kayu jalan masuk terangkat. Nampak satpam pintu depan berbicara, di walkie-talkie. Ojeg melaju masuk. Kami sudah di tengah-tengah perkampungan Subud: Rongan Sari yang terdengar di telinga saya sebagai berbau-bau nama Jawa. Tidak sedikit nama desa, kampung dan tempat di Kalimantan menggunakan nama-nama Jawa. Bahkan istilah pambakal diganti dengan lurah. Orang-orang Dayak pun banyak yang menggunakan nama Jawa seperti Daryatmo, Dino, Kurniawan, dan lain-lain. Dari keterangan-keterangan yang saya kumpulkan sejak lama, saya dapatkan alasan penggunaan nama-nama Jawa ini berasal dari keadaan di zaman Orde Baru, yang mengutamakan etnik Jawa untuk berbagai pekerjaan, di samping pengutamaan agama Islam , terutama pada awal-awal berdirinya ICMI di masa pemerintahan Habibie. Dengan menggunakan nama-nama Jawa, orangtua berharap bahwa anak-anak mereka tidak mengalami kesulitan mencari pekerjaan, semata-mata karena mereka mengenakan nama lokal. Agama, terutama Islam atau Kristen, dan asal etnik, termasuk faktor yang selalu jadi hitungan di dunia politik di Kalteng. Terkadang, entah sadar atau tidak, faktor asal sungai turut bermain. Apakah patokan-patokan begini rasional atau tidak dalam berpolitik, adalah soal lain, tapi yang jelas, sampai sekarang faktor-faktor ini masih nyata berperan di dunia politik Kalteng, dijadikan dasar dalam menggalang aliansi.

Dari punggung sepeda motor yang melaju kencang menyusur lika-liku jalan rapi dan apik, kami mengamati sekeliling dengan cermat tanpa berbicara sepatah kata pun. Rumah-rumah berarsitektur Dayak, serupa betang (long house), beratap sirap , tiang dan dindingnya terbuat dari kayu besi. Halaman-halaman rumah yang terpencar tertata menurut sebuah rencana ditumbuhi rerumputan dan pepohonan yang juga terawat. Di belakang rumah-rumah ini, hutan rimbun memberikan suasana teduh tenang. Di bagian tengah kampung, terdapat lapangan bola basket dan sepakbola. Kepada Ann, saya katakan:

“Nah, Mi, penataan ruangan, halaman rumah-rumah di sini merupakan kontras dari penataan ruang dan halaman berdasarkan estetika peladang berpindah. Ia di atur atas dasar pola estetika negeri-negeri industri. Untuk mengimbangi kegersangan kawasan industri dengan bangunan-bangunan kaku, guruh mesin dan debu, orang-orang memerlukan suasana santai, indah dan bisa memberikan kenyamanan ».

« Iyo ji, ” jawab Ann dengan lidah Makassar-nya yang khas.

« Sampah-sampah dibuang pada tempatnya dan tak ada yang berhamburan di mana-mana. Mengapa kita tak bisa berbuat begini dan membangun perkampungan seperti ini?”

Sambil menunggu panggilan pewawancara, Ann dan saya duduk di kursi yang terletak di sudut, dekat pintu masuk, memperhatikan kegiatan anak-anak sekolah (barangkali setingkat SD, SMP dan SMU) yang mengikuti pelajaran di Sekolah Internasional Plus pertama di Kalteng – kalau menggunakan istilah yang digunakan diperkembangan Subud ini. Dua buah bus besar, belikatnya bertuliskan kalimat serupa, turut menunjukkan kelengkapan sekolah. Kemudian seorang lelaki langsing, jangkung, muda, berkulit putih, memanggil Ann masuk. Ia memperkenalkan diri sebagai Karim. Ann diwawancarai dalam bahasa Inggris oleh tiga orang yaitu Karim, seorang kulit putih lain dan kepala sekolah yang orang setempat. Tapi yang paling banyak bertanya adalah Karim. Karim menanyakan tempat tinggal dan asal Ann, filsafat mengajar Ann secara pribadi, kehidupan pribadinya.

“Apakah Anda mengetahui siapa mendanai sekolah ini?”, tanya Karim. Ann pura-pura tidak tahu dan menjawab :

« Tidak ».

« Sekolah ini diselenggarakan dengan dana dari luar negeri”  jelas Karim, dijawab dengan Ann dengan mengangguk-angguk.

Sambil menunggu Ann selesai diwawancarai, saya memperhatikan gerak-gerik serta perangai anak-anak Indonesia dan kulit putih yang ada di sekitar saya. Terdengar mereka berbicara dengan sesama menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Mereka nampak girang dan bebas. Banyak anak-anak ini yang mempunyai telepon genggam. Yang mengasuh mereka terdiri dari orang kulit putih dan orang Indonesia. Barang tentu anak-anak yang dididik di sini bukanlah dengan beaya gratis. Hanya saya tidak tahu berapa beaya kongkret yang harus dibayar oleh orangtua.Melihat perlengkapan sekolah yang ada, saya menduga mereka tidak kekurangan sehingga beaya yang harus dikeluarkan pun tidak sedikit. Hampir bisa dipastikan dari adanya telepon genggam di tangan banyak anak-anak, akan mustahil jika orangtua mereka tergolong orang-orang tak berpunya.

Saya membayangkan bagaimana kelak anak-anak dengan segala kemudahan ini berkembang dan menjadi. Terbayang mereka menjadi satu lapisan elite dari elite yang jauh dari masyarakatnya, hidup di dunia mereka sendiri. Benak saya juga diusik pertanyaan: Wacana apa dan bagaimana gerangan yang digunakan sebagai arahan pembimbingan mereka? Mau diapakan dan di kemanakan anak-anak ini? Pertanyaan-pertanyaan yang tinggal pertanyaan tak bisa terjawab hingga detik ini. Padahal ketika melihat anak-anak, saya selalu membayangkan wajah esok bangsa dan tanahair. Apakah pemda tidak menaruh perhatian pada wacana pembimbing pendidikan anak-anak di perkampungan ini dan membiarkan segalanya mengalir? Baik buruk hasil akhirnya tidak diindahkan? Jika demikian maka apakah namanya sikap demikian jika bukan ekorisme? Ekorisme, saya kira, bukanlah cara memimpin dan mengelola masyarakat yang kena. Ekorisme bisa membawa kita ke jurusan dengan keadaan tak terduga.

Bosan mengamati anak-anak yang mulai kegiatan dengan menyanyikan lagu Indonesia diiringi oleh petikan gitar seorang ABG kulit putih, saya keluar berbincang-bincang dengan bagian keamanan asal Semarang, dilengkapi dengan sebuah walkie-talkie. Tidak banyak keterangan yang bisa saya timba dari orang Semarang, walau pun saya tanya dengan berbagai cara sederhana.

“Saya hanya seorang pekerja biasa yang mencari hidup”, tuturnya. “Saya tidak tahu apa-apa tentang sekolah internasional ini dan juga tidak tahu apa-apa tentang Subud. Saya hanya bertugas menjaga keamanan sekolah », tambahnya dingin.

Ann akhirnya keluar dari ruang wawancara. Kami mengayunkan langkah santai menyusur lika-liku jalan-jalan perkampungan, mencoba mengamati cermat keadaan. Sepi. Seperti tak berpenghuni. Dari gedung-gedung berarsitektur Dayak lengkap dengan garasi mobil , tak terdengar suara apa pun.Ketenangan dan keheningan yang seperti menyimpan rahasia dari suatu rencana panjang dan jauh.

“Mi merasa seperti sedang tidak berada di Kalteng di perkampungan Subud ini”, ujar Ann dengan suara rendah.

“Pi khawatir perkampungan ini kelak akan berkembang seperti yang terjadi di Free Port Papua Barat”, balasku.

Akhirnya Ann dan saya sampai ke jalan raya mencari taksi datang dari arah Sampit menuju Palangka Raya. Setelah duduk di kursi taksi yang melaju ke jurusan Palangka Raya dalam perjalanan kembali ke Edelweis, Ann berkata:

“Kita kembali ke Kalteng lagi, Pi. Kembali ke kenyataan hidup“.

“Kenyataan adalah rumah kita, Mi”, jawabku sambil menggenggam jemarinya. Beberapa helai rambut jatuh ke dahi istriku dimainkan angin yang masuk dari jendela taksi sengaja dibuka sebagai AC alam. Ann memberiku senyum khas yang kusukai.

“Kita ke mana sekarang, Pi” , tanyanya menduga saya ingin mampir ke sana ke mari dulu sebelum ke wisma.

“Ke Edelwies , Mi. Kita ke puncak memetik Edelweis”.

“Ya, edelweis hanya ada di puncak”.

“Ya, kita ke puncak memetik edelweiss”, Ann mengulang kalimatku dengan mata bersinar.

Palangka Raya, April 2009

——————————–

JJ. Kusni

Catatan:

1). Rongan, nama sebuah sungai kecil di sekitar Tangkiling.

2). Rendezvous, bahasa Perancis, berarti « janji bertemu”.

3). Kau, ikau dalam bahasa Dayak Katingan. Kata ganti “ikau”, dalam masyarakat Dayak Katingan, bisa digunakan terhadap orang yang tidak dikenal atau orang yang lebih tua, seperti paman, ayah, ibu. Dan masih dianggap sopan.

Benarlah Yang Benar Yang Salah Salah

Benarlah Yang Benar Yang Salah Salah

Oleh : A. Kohar Ibrahim

Sambutan

Atas Penerbitan Buku Karya Suar Suroso :

Marxisme – Sebuah Kajian

*

Suar Suroso :

Dinyatakan Punah Ternyata Kiprah

Joesoef Isak :

Dambaan Kita Kedaulatan Rakyat

*

BERITA yang mengutarakan adanya hasil penerbitan ekspresi diri seperti buku itu selalu menggelitik hati dan pikiran teriring kegembiraan. Apa pula terbitan itu berupa hasil karya penulis yang saya kenal seperti Suar Suroso dengan bukunya yang terbaru berjudul Marxisme – Sebuah Pengajian. Dan apa pula penerbitnya adalah Hasta Mitra dengan editornya seorang publisis pejuang yang kondang : Joesoef Isak. Dengan Sebuah Renungan Singkat sebagai pendamping yang tak kurang pentingnya kebanding Kata Pengantar sang penulis buku tersebut.

Buku dengan ISBN 079-8659-38- 4 dan dengan kulitmuka yang apik oleh Nabil Argya itu berisi selain biodata dan pengantar penulis serta kata pendamping sang editor, berisi : (1) Arti Teori Perjuangan Kelas di Dunia. (2) Sosialisme Utopi Tanpa Perjuangan Kelas – Membangun Sosialisme. (3) Tokoh-tokoh Indonesia Tentang Sosialisme. (4) Mohammad Hatta tentang Sosialisme. (5) Bung Karno tentang Marxisme. (6) Tentang Kelas-kelas. (7) Tentang Diktatur Proletariat. (8) Jaya dan Rontoknya Diktatur Proletariat Sovyet. (9) Sosialisme Tidaklah Punah. (10) Diktatur Proletariat dalam Praktek di Tiongkok. (11) Sosialisme di Korea, Vietnam dan Kuba. (12) Kejayaan Sosialisme Berciri Tiongkok.

Demikianlah duabelas pasal yang disajikan Suar Suroso sebagai paparan sekaligus pendukung Marxisme – Sebuah Kajian dengan konstatasinya : Dinyatakan Punah Ternyata Kiprah. Dengan kata pengantar yang menggaris-bawahi argumentasi sekalian keberpihakannya, antara lain sebagai berikut :

“Dengan ambruknya Uni Sovyet dan negara-negara sosialis Eropa Tengah dan Timur, maka bersorak-sorailah para penentang komunisme, penentang Marxisme. Di Indonesia ada yang menulis “Marxisme sudah usang dan ketinggalan zaman”. “Di negeri kelahirannya pun Marxisme sudah dicampakkan” “Secara ideologis, komunisme bukanlah ideologi yang menjanjikan. Inilah pertanda bahwa ideologi sosialisme, komunisme, marxisme-leninisme itu sekarang ini sudah finish”. “Di bawah rezim komunis, masyarakat mau bekerja hanya karena takut, ancaman mau dibunuh—dan jangan lupa 50 juta jiwa mati di Uni Soviet era rezim partai komunis”. “Ancaman komunisme tetap menghantui bangsa Indonesia . PKI telah dua kali memberontak, yaitu pada tahun 1948 dan tahun 1966” . ”Sebagai sebuah ideologi, komunisme tidak pernah mati. Dia terus mengembangkan pertentangan antar kelas: kaya miskin, buruh-pengusaha/ majikan, juga petani-tuan tanah”. Ini semua adalah lagu lama yang didendangkan sekarang oleh kaum anti-komunis.

Marxisme sebuah kajian dinyatakan punah ternyata kiprah adalah tulisan untuk membantah pandangan-pandangan ini. Penulis berpendapat, bahwa Marxisme bukanlah usang dan daluwarsa, tetapi sedang berkembang maju. Memahami Marxisme akan bermanfaat bagi generasi muda yang dengan sungguh-sungguh mencari jalan keluar dari keterpurukan Indonesia , setelah berlangsungnya pembodohan karena didominasi oleh kediktatoran orba dibenggoli Soeharto. Kapitalisme dan feodalisme tidaklah mungkin memakmurkan bangsa Indonesia . Untuk mencapai sosialisme tak ada jalan lain, haruslah memahami dan mempraktekkan Marxisme.

Sungguh tragis, pembodohan secara sistimatis masih berlangsung di Indonesia dengan adanya larangan atas Marxisme. Tidak ada satu pun negara yang menjunjung demokrasi dan beradab di dunia dewasa ini yang dengan undang-undang melarang Marxisme atau penyebaran Marxisme. Betapa pun dilarang, sebagai ilmu, Marxisme tetap dicari dan dipelajari siapa saja yang sungguh-sungguh bertujuan berjuang untuk melenyapkan penindasan manusia oleh manusia.

Krisis moneter kapitalis yang melanda dunia akhir tahun 2008 telah membuka mata orang, bahwa kapitalisme bukanlah sistim ekonomi yang tanpa cacat, yang dapat diandalkan untuk menyelamatkan umat manusia. Tak ada jalan lain, pilihan jatuh pada sosialisme. Maka Marxisme tampil ke permukaan dengan daya tarik yang sulit dibendung.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Bung Koesalah Soebagjo Toer yang semenjak selesainya naskah ini menunjukkan perhatian besar untuk menerbitkannya. Dalam keadaan belum diterbitkan, bahkan naskah ini pernah dipamerkan dalam pameran buku tahun 2006 di Jakarta . Akhirnya, berkat perhatian dan usaha Pak Joesoef Isak, Hasta Mitra berhasil mengedit dan menerbitkan buku ini. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan pada Pak Joesoef Isak. Terutama atas Sebuah Renungan Singkat beliau yang memberi nilai tambah bagi buku ini.

Penulis mengharapkan dan akan sangat menghargai kritik-kritik dari para pembaca atas kekurangan isi buku ini. Semoga Marxisme sebuah kajian dinyatakan punah ternyata kiprah bisa bermanfaat dalam memperkaya khazanah kepustakaan Indonesia mengenai sosialisme. “

*

Joesoef Isak : Mendambakan Kedaulatan Rakyat

DEMIKIAN ujung kata pengantar Suar Suroso yang secara keseluruhannya sudah bisa mengundang tanggapan yang selayaknya. Dan yang cukup menggelitik adalah tanggapan pertama justeru datang dari sang editor penerbit Hasta Mitra itu sendiri, Joesoef Isak. Yang selain menegaskan soal yang jadi persoalan « The End of History and the Last Man » Francis Fukuyama, lebih menggarisbawahi akan betul-betul perlunya bagi kita terbebas dari ideologi luar, bebas dari paradigma Perang Dingin yang kontra-produktif bagi Rakyat dan Negeri. Berikut bagian Penutup Renungan Joesoef Isak :

“Selain Kedaulatan Rakyat, juga Kedaulatan Hukum dalam kaitan keamanan negeri dan individu setiap warganegara Indonesia tanpa kecuali harus ditegakkan dan dipelihara. Sinyalemen-sinyalem en tentang bahaya apa pun, termasuk bahaya PKI dan anak-anak PKI, harus serius diperhatikan dan ditindak-lanjuti sesuai hukum yang berlaku.

Untuk itu, sebagai negara hukum kita memiliki aparat Pengadilan, Kepolisian dan Kejaksaan. Semua kasus dengan unsur pidana apa pun – termasuk kriminalitas politik – harus diputuskan lewat Pengadilan. Vonnis harus dijatuhkan sesuai kejahatan yang diperbuat.

Sinyalemen-sinyalem en yang dilontar ke publik tanpa tindak-lanjut apa-apa akan menimbulkan keresahan. Benar-benar resah atau keresahan pura-pura, bisa juga banyak orang jadi bosan – akhirnya sinyalemen-sinyalem en tanpa ujung-pangkal seperti itu dianggap sepi oleh masyarakat. Kosong, cuma ramalan para prophers of doom, ocehan para dewa peramal kiamat, ramalan mengerikan yang tidak kunjung tiba. Hanya yang mengucapkan sinyalemen tahu apa motif latar-belakang dari segala ucapannya pada publik. Dari segi mukadimah UUD yang ingin mencerdaskan bangsa, hal seperti itu sangat negatif. Masyarakat tidak terdidik pada kenyataan yang ada, melainkan pada fakta semu yang dijejal-jejal dan harus dianggap sebagai kenyataan. Pada hal seluruh masyarakat perlu bersikap realistik untuk menangani segala masalah sesuai fakta yang ada – bukan realitas rekayasa hasil kutak-katik benak sendiri.

Berkali-kali kita ulangi di sini, Indonesia dan semua orang Indonesia – tentu terutama sekali seluruh aparat keamanan dan pengadilan – harus konsekuen kokoh pada identitas Indonesia sendiri, bersikap Mandiri demi kepentingan Indonesia dalam mengurus segala masalah: kesejahteraan ekonomi, keadilan sosial, juga segala urusan dan kasus di bidang keamanan, politik dan ideologi. Kita perlu betul-betul terbebas dari ideologi luar, bebas dari paradigma Perang Dingin yang kontra-produktif bagi Rakyat dan Negeri.

Inilah renungan-singkat kita pada saat mengkaji mana yang unggul antara Marxisme dan Kapitalisme; mana paling bermanfaat bagi Rakyat kita. »

Demikian kutipan bagian Penutup Renungan dari Joesoef Isak yang mendampingi buku karya Suaro : Marxisme Sebuah Kajian. Renungan yang juga secara keseluruhannya layak simak.

*

Kohar : Benarlah Yang Benar Yang Salah Salah

BENAR memanglah benar yang benar yah benar. Seperti memang benarlah sikap-pendirian saya yang tiada berubah, yakni senantiasa gembira bila mendengar atau mengetahui adanya hasil terbitan. Semata-mata adanya hasil itu merupakan bukti ekspresi dari hidupnya hak-hak azasi manusia.

Sikap-pendirian itu saya emban sejak awal mula berkecimpung di bidang tulis-menulis selaku jurnalis-penulis ; kemudian dalam periode tertentu selaku publisis – terbitan yang bisa digolongkan « pers alternatip ». Kongkritnya, ketika turut mengelola majalah Pembaruan dan mengeditori majalah-majalah Kreasi, Arena dan Mimbar (1989-1999). Upaya terbitan majalah-majalah selain brosur dan buku-buku dalam periode itu, antara lain : …dimaksudkan untuk turut memberi sumbangan bagi perkembangan kebudayaan Indonesia yang demokratik dan yang menghormati hak-hak azasi manusia. (Majalah Kreasi N° 1, 1989). Jelas pula, terbitan yang meski sederhana namun yang bernomor ISBN/ISNN serta beralamat jelas di Holland itu, merupakan pertanda dari eksistensi sekaligus sebagai bentuk perlawanan kami, para penulis yang diberangus oleh penguasa OrdeBaru.

Saya utarakan perihal upaya penerbitan tersebut semata-mata untuk sekalian menegaskan bahwasanya diantara para kontributornya adalah Bung Suar Suroso – istimewa sekali sumbangan karya tulis berupa puisi dan esai-esai-nya untuk Majalah Opini & Budaya Pluralis Arena.

Dan saya utarakan perihal upaya penerbitan kami tersebut semata-mata untuk menunjukkan kebenaran adanya bukti tertulis akan ragam macam opini yang menanggapi realita-aktualita masa itu – istimewa sekali yang berkaitan dengan sikon nasional dan internasional. Seperti, justeru, antara lain perihal evenement Runtuhnya Imperium URSS dan adanya konstatasi « The End of History »nya Fukuyama yang intinya adalah kecaman terhadap Marxisme, Sosialisme dan Komunisme. Dengan ujung tombak terhadap apa yang disebut « Blok Timur » atau « Kubu Sosialis » yang dikepalai URSS sebagai lawan dari « Blok Barat » atau « Blok Kapitalis » yang dikepalai Amerika Serikat dalam prahara « Perang Dingin ».

Benarnya memang benar, bahwasanya dalam suasana hingar-bingar di arena mondial antara pro-kontra terhadap ideologi Marxisme dengan para lawan-lawannya macam Fukuyama itu, via Majalah Pembaruan N° 13 Th 4 Mei 1987 kami siar naskah berjudul « Prométheus Sang Pembawa Obor ». Sebagai bukti salah satu upaya pencerahan kami untuk pembaca yang bertanya-tanya apa-siapa Prométheus yang tertera dalam sajak penyair dan pejuang kebebasan Pilipina Jose Maria Sison dalam Arena nomor sebelumnya. Baris-baris sajak tersebu sebagai berikut : « Penderitaanku apalah artinya / terbanding berjuta-juta mereka yang hidup sengsara / Prométheus mengidap dalam tiap dada manusia / yang haus akan pengetahuan dan kebebasan / Para dewa, mereka, mati dan terlupakan. » (hlm 27)

Prilaku Prométheus, lanjut artikel yang saya susun itu, banyak diungkap dalam karya seni. Terutama sekali dalam kesusastraan, seperti dalam karya-karya Hesiode, Eschyle, A.W. Schlegel, Byron, Schelley dan André Gide. Yang pada pokoknya menggambarkan Prométheus sebagai simbol pemberontakan manusia melawan tyrani, dan simbol kecintaan manusia akan kebenaran dan cita-citanya. Sebuah karya Eschyle, dari judulnya saja sudah terungkapkan simbol sekaligus jiwanya : Prométheus Pembawa Obor. Obor yang mengungkap kegelapan dan menerangi jalan bagi kemajuan umat manusia.

Itulah sebabnya Prométheus menjadi teladan kaum humanis sejati seperti Karl Marx. Yang dalam karya-karya permulaannya sudah mengagungkan Prométheus dan menderetkannya di barisan terdepan dari « para pahlawan sejadi dan saint-ahli-filsafat ». Sudah sejak masa mudanya Marx tercengkam oleh tuntutan ala Prométheus : Semakin keras hujaman penderitaan, perantauan politik (exil), penyakit, kematian amat menyedihkan anggota keluarganya, semakin membara pula kemauannya yang membaja akan kebebasan, semakin cerlang cemerlang berkas-berkas kebenaran terpancar dari mahluk yang kegandrungannya menggebu-gebu ini, dimana tuntutan akan kejernihan dan kejujuran ditingkatkan sedemikian rupa tingginya hingga membawanya ke jurang penghidupan yang sulit. Dalam sepucuk surat yang ditujukan kepada seorang sahabat, setelah merampungkan jilid pertama Kapital, antaranya berbunyi : « …Kenapa aku tidak menjawab suratmu ? Karena setiap saat aku hampir masuk ke liangkubur. Selagi aku masih mampu bekerja, aku mesti mencurahkan seluruh waktuku untuk merampungkan karyaku. Untuk mana telah kukorbankan kesehatanku, kebahagiaan hidupku dan keluargaku. Kuharap penjelasan ini takkan memancing komentar apapun. Orang yang menamakandirinya manusia yang berpraktek membikin aku gelaktawa dengan kebijaksanaannya… Tapi aku akan betul-betul dianggap sedikit berpraktek, jika sampai ajalku tanpa palingtidak merampungkan naskah bukuku. »

Demikian Marx, yang saya petik dari buku Les Marxistes Editions J’ai Lu, Paris 1965 halaman 20. Semata-mata untuk menguatkan argumentasi, bahwasanya « Sebagaimana halnya Prométheus, dengan ajaran-ajarannya Marx adalah pembawa obor untuk mengungkapkan kegelapan dan menerangi jalan perjuangan bagi kehidupan umat manusia yang luhur. Seluruh sejarah yang berlangsung di abad modern ini ditandai oleh Marxisme yang melingkupi kehidupan beratus-ratus juta manusia. » (Pembaruan N° 13 hlm 28-29).

Benarlah memang benarnya benar, bahwasanya apresiasi saya baik secara tersurat maupun tersirat akan apa-siapa Karl Marx dan pemikirannya yang disebut Marxisme itu jelas berlainan dengan pakar Fukuyama dan yang semacamnya yang sedang ngetrend saat itu. Yakni kaum yang secara sadar maupun yang apriori menentang Marxisme – Sosialisme dan Komunisme – baik di arena internasional maupun nasional. Dari para pengecam itu, antara lain salah seorang wartawan senior, yang dilansir Kedaulatan Rakyat (05.12.1989) menyatakan bahwa, peristiwa yang terjadi di « Blok Timur » itu sebagai « proses rontoknya sistim komunisme/marxisme/ leninisme » yang telah « dimuntahkan oleh rakyat ».

Yang tak kurang lucunya, Subagijo I.N. dalam tulisannya di Kedaulatan Rakyat itu mengutarakan rekaannya yang menyinggung adanya orang-orang Indonesia yang tidak bisa pulang sebagai kaum komunis yang « ikut-ikutan belaka », « sedang kebingungan dan kehilangan kiblat. » Sungguh konstatasi macam itu adalah serampangan belaka, jauh dari realita obyektip. Bahwasanya, yang benar adalah adanya ragam macam opini dalam mereaksi apa yang terjadi di « Blok Timur » khususnya, dalam « GKI » (Gerakan Komunis Internasional) pada umumnya. Bahkan, adalah pendapat yang jelas menyatakan, bahwa : « …Yang telah gagal dan rontok adalah sistim Stalinis, ‘sosialisme ala Stalin’ atau Breznev dan semacamnya. »

Begitulah salah satu macam dari ragam pendapat, seperti diutarakan oleh Sybrata dalam naskah-naskahnya di Majalah Mimbar N° 1 Th I 1990 Penerbit Stichting Indonesia Media, Amsterdam, ISSN 0925-5176.

Majalah MIMBAR (Informasi Studi Diskusi) – Majalah Opini Pluralis – Nomor perdana itu justeru berisi serangkum naskah : Masalah-masalah Sosialisme Dewasa Ini. Naskah-naskah dari Arief Budiman, Asnan, Jose Fort, Liem Soei Liong, Subakat, Sybrata dan V. Zelenin.

Kiranya cukup menggelitik apa yang dipaparkan oleh Liem Soei Liong dalam artikelnya bernada pertanyaan : « Pasca Tembok Berlin, Matinya Ideologi Sosialis ? » in Mimbar N° 1 halaman 19-29. Setelah menganalisa perihal « Layunya negara adikuasa » baik Uni Sovyet maupun Amerika Serikat, Liem sampai pada soal « Anjloknya blok sosialis ». Dengan sarkasmenya mengungkap ke-tidak-benar- an pandangan Francis Fukuyama yang menyatakan « Sejarah telah berakhir » itu. « Masalahnya sekarang apa yang dimaksud dengan Fukuyama dengan sistim sosialis dan faham atau ideologi Marxis…. » (hlm 25). Bagi Liem, «ambruknya blok sosialis…bukan berarti ambruknya sosialisme melainkan ambruknya stalinisme (dan juga leninisme). » (hlm 26). Lanjutnya, « yang pasti juga adalah ambruknya sistim totaliter di Eropa Timur merupakan angin segar bagi mereka yang masih setia pada cita-cita sosialis. Imago sosialis selama ini cemar karena diidentifikasi dengan bentuk-bentuk Stalinisme yang dominan di sana. Sekarang mulai era baru dimana demokrasi sampai keujung rambut merupakan bagian integral dari struktur sosialis. Arus demokrasi akan menjadi fenomena politik yang utama ditahun-tahun mendatang. Dampak demokratisasi di Eropa Timur dan usaha serupa di Brasil dan Chili akan terasa juga di Indonesia. Totaliterisme tipe Suharto sudah usang dan sampai dikalangan elit Jakarta pun kesadaran ini mulai berkembang. Sekarang tinggal mengembangkan faktor subyektifnya yaitu organisasi dan penggalangan massa. Ersatz capitalism yang dipertahankan kelompok Suharto sedang dilanda roda sejarah, anti-komunisme- nya rejim Suharto pun sudah tidak laku, tinggal mendongkelnya rame-rame. » (hlm 28-29)

Adalah naskah-naskah penting lainnya pengisi Majalah Mimbar nomor perdana itu yang layak kaji dan dijadikan bahan diskusi. Yakni tulisan Subakat berjudul « Masih Adakah Yang Dapat Kita Kerjakan ? » atau « 7 Tesis Untuk Perdebatan Rekonstruksi Gerakan Sosialis Revolusioner di Indonesia. » (hlm 42-63)

Yang layak disimak dari pemaparan yang diajukan oleh Subakat dengan « 7 Tesis »nya ini iyalah kentalnya pengaruh pemikiran Leon Trotsky. Suatu naskah yang jadi lebih menarik sebagai bahan bandingan dengan tulisan dari penulis berkecenderungan sosialis lainnya seperti Arief Budiman berjudul : «Tanggal 7 Bulan Februari 1990 Di Uni Soviet » (hlm 36-41)

Selanjutnya, naskah dari teoritikus Asnan : « Masalah Sosialisme Dewasa Ini ». Suatu upaya pengupasan masalah-masalah posisi & peranan partai komunis, kekuasaan negara sosialis, ekonomi sosialis dan teori sosialisme.

Dalam bahasan yang diutarakan Asnan, antara lain dinyatakan bahwa apa yang terjadi di Eropa Timur boleh saja disesalkan pun boleh tidak perlu disesalkan. Disesalkan, lantaran « harapan-harapan jutaan pejuang dan rakyat akan terciptanya suatu masyarakat sosialis yang meniadakan borok-borok kapitalisme belum dapat diwujudkan di negeri-negeri itu… Di pihak lain, tidak perlu disesalkan atau disayangkan. Sebab yang dibangun di negeri-negeri itu bukanlah sosialisme sebagaimana dicita-citakan dan diperjuangkan oleh kaum sosialis dan komunis. Praktek-prakteknya bahkan mencermarkan citra sosialisme sehingga dibenci dan ditolak oleh rakyatnya. »

« Boleh dikata, » lanjut Asnan, « bahwa kejadian-kejadian di Eropa Timur menutup suatu fase dalam perkembangan sosialisme. Tapi ini samasekali tak berarti habisnya atau berakhirnya sosialisme. » Ditegaskannya, bahwa : « Sistem kapitalisme tetap tidak mampu memberi jalan keluar. Mayoritas rakyat di dunia ini yang hidup di bawah kapitalisme menderita kesengsaraan dan kemelaratan. Mereka tak akan menghentikan usaha dan perjuangannya untuk suatu masyarakat yang adil dan makmur, suatu masyarakat sosialis. Demi menjaga terulangnya kesalahan perlu kerjasama dan perpaduan antara kaum komunis, kaum sosialis dan semua kekuatan politik yang ingin bebas dari penindasan kapitalisme dan mewujudkan masyarakat sosialis, masyarakat yang demokratis dan manusiawi. » (hlm 87)

Kiranya cukup menggelitik, dalam naskah salah seorang teoritikus Marxis sekaliber Asnan itu, mensitir makna penting anjuran Mao Zedong agar « seratus bunga mekar bersama dan seratus aliran bersaing suara ». Seraya menandaskan, bahwa : Dalam memupuk semangat toleransi patut dijunjung ucapan Voltaire, pemimpin Perancis yang terkenal : « Sungguhpun aku membenci pandanganmu, tapi akan kubela dengan jiwaku sendiri hakmu untuk mengutarakannya. »

DEMIKIANLAH sekedar bukti nyata dalam tulisan yang tercetak dari beberapa pandangan Marxis yang menunjang tulisan berjudul « Benarnya Yang Benar Yang Salah Salah ». Iyah, memang benarlah adanya kebenaran opini yang membantah yang salah berupa pernyataan « Sejarah Telah Berakhir » nya Francis Fukuyama.

Benarnya opini yang benar atas yang salah – yang diutarakan kurang-lebih dua dasawarsa yang lalu itu teruji kebenarannya. Benarnya bahwa runtuhnya imperium Uni Sovyet bukan berarti runtuh atau matinya Marxisme sekalian gerakan Sosialis dan Komunisnya di bola bumi yang bundar ini. Bahkan, di atas puing-puing « Blok Timur » sendiri, aliran dan gerakan tersebut masih terus eksis hingga dewasa ini. Bahkan juga, di negeri-negeri eks-kediktaoran Amerika Latin, Marxisme dan gerakan Sosialis kian banyak diminati.

Begitulah pula halnya di Indonesia sendiri. Meskipun Marxisme telah diharamkan sejak berdirinya rezim OrdeBaru bahkan hingga kini, organisasi-organisa si dan pengikut serta simpatisan bahkan mereka yang hanya diduga-duga saja pun mengalami penindasan yang luarbiasa, namun teori atau ajaran Karl Marx dan Engels itu tidak bisa terbasmi. Terbukti, dengan satu atau cara lain, kendati dalam ancaman penjara atau maut, Marxisme senantiasa diminati oleh sementara kalangan orang. Bahkan, selain adanya beragam terbitan kiri, belakangan ini buku karya Marx yang paling penting berjudul Kapital telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia.

Dalam konteks sikon seperti itulah, benarnya ungkapan Suar Suroso untuk menunjang hasil karya tulisnya berupa buku berjudul « Marxisme – Sebuah Kajian », bahwasanya yang « dinyatakan punah malah kiprah ».

Semoga buku yang merupakan sumbangan penting demi memperkaya kepustakaan Indonesia menjadi salah satu bahan pertimbangan berharga pula bagi para pembaca yang berkenan. Bagi para peminat untuk memperluas wawasan, memperhangat diskusi atau perdebatan. Diskusi dan atau perdebatan yang selayaknya. Dengan dada lapang menggunakan nalar mau dan mampu mendengar keberbedaan maupun kebersamaan ; secara kritis berupaya mengungkap mana yang benar mana yang salah. Dalam rangka menimba pelajaran dari pengalaman, memetik yang dianggap bermanfaat seraya menanggalkan yang tidak. Manfaat bagi perjuangan untuk perwujudan masyarakat yang aman, adil dan makmur. Masyarakat manusia yang manusiawi atau masyarakat sosialis yang selayaknya.

Akhirul kalam, dapatlah diketahui bahwasanya tulisan ini hanyalah sebatas sambutan atas penerbitan buku itu sendiri dan bahan yang saya terima berupa Perkenalan Buku dari Bung Suar Suroso belaka. Karena belum saya miliki, maka isi keseluruhan buku tersebut belum lagi saya telaah adanya. ***

27.03.2009

(A.Kohar Ibrahim

Sumber: Dian Su diansu6363@yahoo.com, in: [HKSIS] Sambutan Atas Terbitan Buku Marxisme Kajian Suar Suroso”, Friday, 27 March, 2009, 8:19 PM

MAMUSE 1)

Jurnal Toddopuli

(Cerita Tentang Katingan Untuk Andriani S. Kusni Dan Anak-Anakku)


Di Pata, salah satu kampung di Kasongan. Suatu siang pada saat jam makan siang, seorang perempuan muda yang baru saja bersuami dengan lingerie menerawang keluar ke belakang rumah untuk menggalah mangga dari dahan yang lentur karena lebatnya berbuah. Barangkali istri muda ini sedang ngidam anak pertama. Oleh lingerie menerawang maka seluruh bentuk tubuh, termauk payu dara dan bentuk kemaluan istri muda menjadi nampak dengan jelas. Boleh jadi ia mengenakan pakaian demikian karena tidak menduga bahwa di halaman belakang rumah yang sepi, tidak mungkin ada orang yang bakal lewat tiba-tiba.

Pada siang yang sama, seorang lelaki muda, saudara sepupu istri muda ini sedang makan siang di rumahnya yang terletak bertetangga. Untuk merangsang hasrat makan, lelaki muda itu turun ke kebun di belakang rumahnya mencari cabai yang tidak jauh dari pohon mangga yang sedang digalah oleh istri muda, saudara sepupunya. Seusai memetik beberapa buah lombok dari pohonnya, lelaki muda itu memandang saudara sepupunya yang mengenakan lingerie menerawang. Sebagai lelaki ia merasa terangsang lalu mendekat. Tanpa berpikir panjang lagi, lelaki muda itu memegang vagina saudara sepupunya yang masih saja asyik menggalah mangga. Tentu saja, istri muda tersebut terkejut dan menjerit minta tolong serta menyumpah-nyumpah saudara sepupunya yang usil itu. Galah terjatuh dari tangannya. Keributan kecil pun terjadi.

Guna menyelesaikan permasalahan, pasangan muda tersebut memutuskan untuk mengajukan pengaduan ke Dewan Masyarakat Adat Katingan Hilir di Kasongan. Pengadilan Adat bersidang.

Sebelum sidang pengadilan dimulai, salah seorang anggota Pengadilan Adat yang suka bercanda berkomentar: “Semestinya soal ini tidak perlu dibawa-bawa sampai ke Pengadilan Adat”.

“Mengapa ?”, tanya anggota Pengadilan yang lain heran.

“Mengapa? Kan yang perempuan juga merasa senang karena enak dipegang”. Ruangan pun jadi riuh-rendah oleh sèara tawa. Geli mendengar jawaban anggota Pengadilan tersebut. Sidang pengadilan dimulai. Sidang menanyai lelaki muda yang tertuduh :

« Benarkah kau memegang vagina saudara sepupumu waktu ia menggalah mangga ? ».

Lelaki muda tersebut dengan tenang menjawab terus-terang :

“Benar”.

“Mengapa?”

“Ya, untuk mamusé-nya agar tidak pahuni”, jawab lelaki muda itu dengan tenang. Yang hadir di ruang sidang hanya senyam-senyum. Sebagian lagi tidak bisa menahan gelak sambil berkata:

“Mameh”. 2)

Pengadilan adat kemudian secara aklamasi menjatuhan hukuman yang disebut singer atau jipen terhadap lelaki muda maméh tersebut. Lelaki muda itu juga tidak melakukan protes, kecuali menuturkan masalah seadanya sambil meminta maaf. Lelaki muda tersebut menerima jipen atau singer yang harus ia bayar kepada istri muda, saudara sepupunya sendiri. Tuturannya di hadapan sidang pengadilan banyak bersiat otokritik jujur.Persoalan pun selesai. Kedua belah pihak sama-sama lega.

Peristiwa lain juga terjadi di wilayah hukum adat kecamatan Katingan Hilir, dib Kasongan. Seorang anggota kepolisian menempleng seorang buruh angkut di pelabuhan klotok. Sang buruh tidak bisa menerima perlakuan aparat keamanan dan mengadukannya ke Pengadilan Adat. Sebelum bersidang, Dewan Masyarakat Adat mendatangi komandan polisi di Kasongan. Si komandan menjawab:

“Kalian kan punya undang-undang 3). Mengapa kalian tidak melaksanakan undang-undang tersebut anggota kami yang kalian pandang melakukan kesalahan di wilayah adat kalian”.

Di depan Pengadilan Adat, anggota kepolisian tersebut mengakui kesalahannya dan Pengadilan Adat kemudian menjatuhkan singer terhadap anggota kepolisian tersebut, disamping ia harus menerima hukuman dari kesatuannya. Jadi aparat keamanan tersebut menerima hukuman ganda: Pertama dari Pengadilan Adat dan kedua, dari hukum Republik. Keduanya berfungsi paralel. Kesejajaran dua jenis hukum begini juga berfungsi di masa penjajahan Belanda. Dengan hukum adat inilah masyarakat Dayak Katingan mengelola ketertiban, jauh sebelum Republik Indonesia berdiri dan Merah Putih berkibar di Tanah Dayak. Siapa pun, tanpa kecuali, yang melanggar adat di wilayah adat Dayak Katingan akan dihukum secara hukum adat. Keadaan begini memperlihatkan bahwa di masyarakat Dayak terdapat kesamaan di depan hukum adat. Tudingan tidak beradat merupakan tudingan sangat keras.

Terhadap kasus-kasus yang tidak atau belum terdapat dalam hukum adapt, atau belum ada presedennya, para damang 4), akan berkumpul merundingkan singer atau jipen jenis apa yang akan dikenakan terhadap pelanggaran demikian. Keputusan para damang inilah kemudian yang akan dijadikan pegangan selanjutnya. Dengan cara begini maka hukum adapt bersifat dinamis dan bisa tanggap zaman. Hal-hal yang berada di luar wilayah adat, bukanlah urusan damang di wilayah adat tertentu. Misalnya permasalahan yang terjadi di wilayah adat Katingan Hulu adalah tanggungjawab damang Katingan Hulu, bukan tanggungjawab damang Katingan Hilir.

Pada masa kekuasaan Orde Baru, lembaga kedamangan ini dijadikan bagian dari Golkar. Baru pada tahun 1990an saat Talusung Damar, LSM pertama di Kalteng, bersama pemerintah daerah menyelenggarakan sebuah seminar, sebuah Perda (peraturan daerah) diterbitkan, yang mengembalikan lembaga kedamangan pada status semula.

Yang menjadi damang, tidak mesti orang dari Kaharingan. Bisa dipegang oleh mereka yang beragama lain seperti Islam, Kristen atau Budha, asalkan orang tersebut mengerti adat dan hukum adat. Perbedaan agama tidak pernah menjadi penyekat hubungan antar anggota masyarakat. Yang beragama Kristen, Islam dan Kaharingan dimakamkan di satu tempat pemakaman yang sama. Karena itu ketika pada masa Drs.Asmawi Gani alm. menjadi gubernur Kalteng, setelah terjadinya Tragedi Sampit tahun 2000, pihak-pihak tertentu pernah mencoba menyulut konflik antar agama, terutama antara Kristen, Kaharingan dan Islam. Perobaan kalangan tertentu ini jadi bahan tertawaan masyarakat dan berakhir dengan kesia-siaan. Tragedi Sampit 2000, sebenarnya mengandung juga unsur “tidak beradat” , “tidak menghormati adat setempat”, “pelanggaran adat”, disamping unsur-unsur politik dan ekonomi, sebagai penyebab. Sehingga tuduhan bahwa Tragedi Sampit 2000 disebabkan karena sikap rasialis orang Dayak, seperti yang saya dengar sendiri Februari 2009 lalu di suatu forum Jakarta, sesungguhnya tudingan dari pihak yang tidak mengenal kenyataan, tidak mengenal sejarah, tidak mengenal budaya Dayak, terutama budaya betang,5) hukum adat Dayak, tuduhan yang sangat subyektif berangkat dari ketidaktahuan atau kurang lengkapnya pengetahuan. Benar, bahwa yang “berbicara tidak berdosa, yang mendengar patut waspada”, tapi kepada penuding jenis begini, saya ingin mengingatkan saran Mao Zedong tentang keakuratan, bahwa “yang tidak melakukan riset tidak berhak bicara”. Saran begini saya ketengahkan, karena salah-salah asal bicara tanpa ditopang keakuratan data dan pengetahuan, kata-kata akan menjelma jadi “rumput beracun”. Dilihat dari kacamata orang Dayak bisa tergolong sebagai”tidak beradat”., lebih-lebih dari kalangan yang disebut oleh seorang ustadz asal Bangkalan yang khusus datang ke Kalteng untuk memberi cahaya pada yang ”kadap”, “kada balampu” 6).

Peran masyarakat adat dalam menyelesaikan Tragedi Sampit 2000 yang oleh masyarakat Dayak sudah dikategorikan sebagai “perang”, barangkali tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada waktu berkecamuknya konflik, pemerintah kabupaten dan propinsi bisa dikatakan lumpuh.

Peran masyarakat adat dan pengadilannya, berlangsung dalam soal-soal besar seperti tindak kriminal, perkelahian, kehamilan sebelum nikah, dan soal-soal sederhana seperti penebangan pohon kelapa tetangga.

Pada suatu hari, keponakan saya, karena jengkel pada pohon nyiur tetangga, memutuskan untuk menebang nyiur tersebut. Kejengkelan keponakan saya tersebut muncul karena berkali-kali buah nyiur tetangga itu jatuh menimpa atap sehingga atap rumah menjadi rusak. Tetangga pemilik pohon kelapa itu mengadu ke Dewan Masyarakat Adat. Pengadilan Adat menjatuhkan singer berupa denda Rp.1.500.000 terhadap keponakan saya.

Sementara pihak mengatakan bahwa Masyarakat Adat, Pengadilan Adat, merupakan hal yang sudah kadaluwarsa. “Bagaimana hukum adat bisa diterapkan di kota-kota besar, seperti Palangka Raya dan Sampit misalnya?”, sanggah pihak yang menolak diungsikannya hukum adat. Terhadap sanggahan ini, saya hanya ingin mengatakan: “Mengapa tidak kearifan lokal begini diterapkan? Masalahnya untuk suatu kurun dasawarsa, Masyarakat Adat dikategorikan sebagai kendaraan pengembangan separatisme dan dengan sengaja disisihkan dari kehidupan politik dan sosial. Dalam mengelola masyarakat, khususnya di Kalteng, saya kira, penolakan terhadap Masyarakat Adat dan Pengadilan Adat merupakan suatu apropiorisme sementara pengadilan agama masih dan bisa diterima.

Dari segi keindonesiaan, barangkali pengakuan terhadap Masyarakat Adat dan perangkatnya, selain menunjukkan masih perlunya pada tingkat tertentu adanya kekuasaan paralel (paralelisme antara kekuasaan Republik dan Mayarakat Adat), ia juga merupakan perwujudan pengakuan serta pengejawantahan dari rangkaian nilai republiken dan berkeindonesiaan. Pengakuan dan difungsikannya Masyarakat Adat , boleh jadi juga merupakan penghormatan terhadap nilai-nilai kearifan lokal, pengejawantahan juga dari otonomi daerah yang tanggap. Otonomi daerah, kiranya, mengandung makna aplikatif atau tanggap keadaan dan zaman, berbeda dengan sistem sentralistik yang bisa berdampak dominasi mayoritas bahkan salah-salah bisa menjadi penjajahan mayoritas. Otonomi niscayanya parallel dengan pembebasan budaya dan tenaga produksi sehingga yang potensial berkembang menjadi suatu potensi riil. Mengapa daerah-daerah dan etnik-etnik kecil hanya bisa mamusé kehidupan berrepublik dan berkeindonesiaan, bukannya total menjadi warga negara Republik Indonesia dengan segala hak dan wajibnya sebagai pemilik R.I.***

Palangka Raya, April 2009

——————————–

JJ. Kusni

Catatan:

1). Mamusé, bahasa Dayak Katingan, berarti mencicipi dengan tujuan untuk tidak mendapatkan pahuni atau mendapakan malapetaka karena tidak mencicipi sesuatu. Kepercayaan bahwa seseorang akan pahuni karena tidak mamusé sesuatu masih kuat diyakini oleh Oloh Katingan sampai sekarang. Untuk mamusé sesuatu, orang tidak perlu memakan sesuatu tapi bisa cukup hanya memegangnya.

2). Maméh bahasa Dayak Katingan, berarti kurangajar, tindakan yang diluar kebiasaan dan tatakrama atau adat.

3). Yang dimaksudkan adalah hokum adat.

4). Damang, kepala adat.

5). Mengenai budaya Dayak dan hokum adapt Dayak, lihat karya-karya Tjilik Riwut yang diterbit ulang dan diedit oleh Nila Riwut serta buku-buku yang diterbitkan Institut Dayakologi Pontianak serta lembaga-lembaga Kaharingan Palangka Raya.

6).”Kadap”, “Kada balampu”, bahasa Banjar, berarti “gelap”, “tidak berlampu”.