Archive for October, 2008|Monthly archive page

“Hurt the Hollander”

Catatan : Karena membaca semangat Pak Batara Hutagalung memperjuangkan korban Rawagede selama ini, saya teringat tulisan saya yang sudah pernah dimuat di sebuah harian tahun sekitar 2003. Tulisan ini tampaknya tidak basi. AMM

“Hurt the Hollander”

A.Makmur Makka

[The Habibie Center, Jakarta]i

Tahun lalu, Geert Wilders dari Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi (partai berkuasa) di Belanda , bersama Partai Kristen Demokrat , mendesak pemerintah Belanda agar memutuskan hubungan diplomatik dengan Indonesia dan memulangkan dubes Belanda di Indonesia . Ucapan emosional dari Wilders ini merupakan reaksi atas jawaban Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra kepada pertanyaan wartawan Belanda pada tahun 2003 Wawancara tersebut kemudian di siarkan berulang-ulang media di Belanda, sehingga Yusril kemudian disebut sebagai ( the) “ Minister Hurt the Hollander” , Menteri yang membenci orang Belanda.

Isi wawancara tersebut, menurut Yusril antara lain rencana perubahan KUHP Indonesia yang masih kental dipengaruhi sistem hukum Belanda, selain mengenai masalah HAM dan tuntutan atas keganasan Kapten Westerling di Sulawesi-Selatan lebih lima puluh tahun yang lalu. Menurut Yusril, ia hanya mengatakan kepada wartawan tersebut ( yang berapi-api memojokkan Indonesia dalam masalah pelanggaran HAM ) , bahwa kalau kita berbicara soal keadilan HAM, seharusnya Belanda melakukan investigasi atas kasus Westerling di Sulawesi-Selatan . Dan, saya tahu bahwa orang Belanda yang melakukan pembunuhan di Makassar itu masih hidup sebagai pensiunan di Pereira. Seharusnya Belanda tidak hanya meributkan tewasnya wartawan Sander Thones yang tertembak di Timtim. Bahkan, sampai membawa ke sidang PBB. Ini kalau kita mau fair. Itulah penjelasan Yusril mengenai wawancara yang menghebohkan politisi di Belanda.

“ Hurt the Hollander”, apakah tidak selayaknya, justru rakyat di Sulawesi-Selatan yang membenci Belanda , karena menjadi korban keganasan Kapten Westerling, dalam peristiwa pembunuhan massal tahun 1947 ? itu. Apakah tidak terbalik , bukan mereka yang harus benci atau disakiti ?” . Selama 350 tahun, Belanda berada di Indonesia sebagai penjajah , mereka betul-betul hadir sebagai penjajah yang sangat rakus untuk kepentingan ekonominya. Bandingkan dengan kehadiran penjajah Inggris di Semenajung Malaya seperti Singapura dan Malaysia sekarang. Seorang mantan Duta Besar Indonesia di Belanda, pernah menyatakan bahwa Pemerintah Belanda dan masyarakat Belanda masih bersifat arogan terhadap Indonesia. Bahkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus l945, sampai sekarang , tidak diakui secara resmi. Mereka hanya mengakui kemerdekaan Indonesia, saat Belanda menyatakan pengakuan kedaulatan kepada Indonesia 27 Desember l949, itupun tidak termasuk Irian Jaya. Continue reading

Advertisements

I LAGALIGO MILIK ORANG ASING TIDAK DI NEGERI SENDIRI

I LAGALIGO MILIK ORANG ASING
TIDAK DI NEGERI SENDIRI

A.Makmur Makka
[The Habibie Center, Jakarta]

Penyair dan pemain teater Ikranegara, teman baik saya yang sekarang bermukin di Bloomington Amerika Serikat, memberikan kabar kalau ia mendengar naskah I Lagaligo akan dipentaskan keliling dunia oleh group seniman non Indonesia . Saya jawab bahwa saya juga pernah mendengarnya, tetapi saya belum tahu group mana mereka itu. Masalahnya siapun mereka, yang patut di puji adalah apresiasi mereka terhadap cerita yang terkandung dalam I Lagaligo, karya monumental yang berasal dari daerah Bugis Makassar. Sementara , di negeri dimana karya itu lahir I Lagaligo tidak banyak di hargai.

Saya teringat, ketika Dr.Nurhayati dari kelompok peneliti Humaniora UNHAS akan mengadakan seminar internasional I Lagaligo di Sulawesi-Selatan sekitar dua tahun yang lalu, ia tidak mendapat respons dari masyarakat maupun pemerintah. Setelah pontang-panting mencari dana , untunglah pemerintah kabupaten Barru menawarkan fasilitas seminar dan bantuan seperlunya. Itupun kebetulan, Bupati Barru, Andi Moh.Roem cerdik menangkap momentum tersebut karena Arung Pancana Towa adalah tokoh yang menulis kembali koleksi cerita I Lagaligo ketika ia membantu B.F Mathhes mengumpulkannya . Pancana sekarang adalah sebuah desa kecil di Kecamatan Tanete Barru. Seminar mengenai Sawerigading yang juga berasal dari naskah monumental I Lagaligo , beberapa bulan lalu diselenggrakan di Luwu , tetapi tidak banyak terdengar gemanya. Tenggelam dari berita pemilihan bupati.

Dr.Umar Kayam almarhum , pernah diminta mengantar tamu rombongan budayawan dari luar negeri meninjau bekas-bekas kerajaan Banten . Kerajaan ini pada abad 16 – 17 terkenal di dunia sebagai kerajaan Bantam. Ketika rombongan sampai di Serang, mereka dibawa meninjau bekas istana raja Banten yang ternyata hanya tinggal reruntuhan. Kemudian mereka dibawa lagi meninjau, masjid dimana raja-raja Banten yang dulu kesohor dimakamkan . Yang mereka temui di makam tersebut banyak orang yang datang bersimpuh disitu memohon berkah dan nasib baik. Begitu pula ketika meninjau candi bekas tempat ibu suri kerajaan Banten berdiam , ternyata juga hanya reruntuhan. Bahkan pusat kerajaan Sorosuwan tinggal hanya sisa fondasi, tempat pengembalaan kambing penduduk . Umar Kayam agak sedikit rikuh kepada tamu-tamu penting dari mancanegara itu. Mereka ternyata tidak menemui sisa kebesaran dan kecantikan kraton yang dulu masyhur ke suluruh dunia itu ? Ketika akan pulang, rombongan disuguhi atraksi debus, kemudian seseorang dengan tangkas membuat atraksi mengeluarkan kelelawar dari mulutnya. Umar Kayam makin merunduk di depan tamu-tamunya. Gusti Allah, katanya, tamu dari jauh mau menyakasikan bekas kebesaran kerajaan Banten, tetapi yang disuguhi semacam sulap. Continue reading

KEKAYAAN BUDAYA LOKAL

Jurnal Toddopuli:

[Cerita Untuk Andriani S.Kusni & Anak-anakku]

KEKAYAAN BUDAYA LOKAL

Sahabatku Andi Makmur Makka dari The Habibie Center Jakarta, dalam surat-menyurat pribadi menanyakan kepadaku “Bukankah Toddopuli itu berasal dari kosakata Boegis?”.Menjawabnya, kukatakan: “Benar”.

Selanjutnya Andi Makmur Makka yang biasa kupanggil Pak Andi, mengatakan bahwa kosakata itu sangat Boegis , berarti “memukul ke segala jurusan”. Di samping itu Toddopuli pun merupakan nama salah satu lasykar tersohor di Sulawesi Selatan pada masa melawan Belanda.

Pada kesempatan lain, Pak Andi mengirimku lagi naskah lamanya tentang I Lagaligo, di mana ia mengetengahkan prinsip “taro ada taro gau”. Apakah “taro ada taro gau” itu? Di artikel tersebut Pak Andi menjelaskan makna prinsip Boegis tersebut sebagai berikut:

“Taro ada taro gau” dapat diterjemahkan dalam pengertian “satu kata dengan perbuatan”. Betapa berat dan mulia makna yang terkandung dalam prinsip orang Bugis Makassar ini. Tidak berbilang banyaknya pemimpin-pemimpin kita masa lalu mengorbankan jiwanya demi mempertahankan prinsip ini. Apa arti materi dan nyawa bagi mereka yang selalu memegang teguh prinsip “taro ada taro gau”. Sebuah prinsip yang hanya bisa ditebus nyawa dan penderitaan sambil tersenyum”. Continue reading

“SEPULUH JAM UNTUK SASTRA INDONESIA DI PARIS”

“SEPULUH JAM UNTUK SASTRA INDONESIA DI PARIS”

[Cerita perjalanan untuk Andriani S. Kusni & Anak-anakku]

Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia, “Pasar Malam” pada tanggal 07 Desember 2008 mendatang kembali akan menyelenggarakan kegiatan budayanya. Kali ini dengan menggelarkan acara yang dijuduli “Dix Heures Pour La Littérature Indonésienne” [Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia]. Kegiatan tentang sastra Indonesia ini akan berlangsung di ruangan La Maison des Cultures du Monde,101 Boulevard Raspail, 75006 Paris.

Dalam acara “Dix Heures Pour La Littérature Indonésienne” ini akan berbicara Sitor Situmorang, Laksmi Pamuncak dan Richard Oh, dengan tema “Dari Lingkup Pribadi Ke Ruang Publik . Otofiksi atau Meninjau Ulang Citra Diri .Otobiografi Dalam Karya Sastra”[” De la sphère privée à l’espace public : . autofiction ou image de soi revisitée ? La part autobiographique dans l’œuvre littéraire”]. Tema lain yang akan dibicarakan adalah “Aku dan Orang Lain” [Je et L’Autre].

Melihat komposisi para pembicara utama dalam jumpa sastra tersebut yang berasal dari berbagai latar etnik dan sosial, maka ketika berjumpa dengan Johanna Lederer, Ketua Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia “Pasar Malam” di Koperasi Restoran Indonesia, aku jajagi pendapatnya tanyakan: “Apakah tidak sebaiknya juga para pembicara disarankan atau diarahkan untuk menyinggung masalah sastra lokal dan pengaruhnya terhadap diri mereka sebagai penulis. Bagaimana hubungan sastra lokal dan nilai-nilai universal?” Secara prinsip Johanna yang sarjana sastra Amerika lulusan Universitas Sorbonne itu, menyatakan setuju. Ia pun melihat arti penting pengangkatan sastra lokal di Indonesia dalam konteks sastra Indonesia sebagai suatu bangsa dan negeri. Pengangkatan sastra lokal, tidak berarti mempertentangkannya dengan sastra nasional yang berbahasa Indonesia. Continue reading