NEGARA SOSIALIS (2)
| Djoko Sri Moeljono:
Setiap warga negara Rusia yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi setelah lulus sekolah menengah tingkat atas, tidak akan mengalami banyak hambatan seperti misalnya masalah beaya masuk, pemondokan dsb. Pemerintah menjamin segala keperluan mahasiswa dan yang diperlukan hanya kemauan dan tekad untuk belajar, tidak lebih dari itu. Fasilitas belajar boleh dikata lengkap,baik dari segi fasilitas fisik maupun dukungan pengajar dengan rasio jumlah mahasiswa dan pengajar sangat mendukung. Para dosen berkualifikasi professor sangat mendukung aktivitas belajar mengajar dan mereka berdedikasi tinggi sebagai pendidik. Perkuliahan yang didukung perpustaan lengkap dan laboratorium sangat mendukung. Mahasiswa untuk bisa menyelesaikan jenjang pendidikan tepat waktu dan tidak ada alasan untuk bermalas-malasan. Mahasiswa tidak perlu khawatir mencari buku rujukan ataupun buku panduan, semua tersedia di perpustakaan dan tinggal pinjam. Setiap awal semester setiap mahasiswa wajib, ulangi: wajib pinjam buku yang diperlukan untuk perkuliahan selama semester tertentu. Buku-buku ini sudah disusun dalam satu paket (terdiri dari beberapa buku dan paket ini sama untuk setiap mahasiswa dengan spesialisasi sama). Mahasiswa tinggal datang ke perpustakaan, tanda tangan dan bawa paket buku ke asrama.Kami mahasiswa asing tidak terkecuali,harus mengikuti aturan yang berlaku. Tetapi sebagai mahasiswa asing kami juga harus memikirkan hari depan bila selesai kuliah dan pulang ke tanah-air, kami tidak bisa mengharapkan ada perpustakaan yang menyediakan buku-buku panduan yang diperlukan. Kami harus menyisihkan sebagian uang beasiswa untuk belanja buku. Dan harga buku di Rusia sangat terjangkau dan untuk seorang kutu buku seperti penulis, setiap kali pergi ke toko buku harus membatasi diri bawa uang, Bisa-bisa uang beasiswa habis untuk belanja buku. Harus diakui bahwa segala kebutuhan belajar, termasuk buku, harganya sangat terjangkau dan boleh dibilang sangat murah. Penulis masih ingat saat membeli jangka (passer doos) hanya membayar 3,60 rubel dari beasiswa bulanan yang 90 rubel. Padahal harga passer doos di Indonesia saat itu sangat sangat mahal dan tidak semua mahasiswa mampu membelinya. Bagi pemerintah Rusia mutu kertas buku-buku tidak penting, kecuali untuk penerbitan khusus seperti ensiklopedi atau buku dengan ilustrasi berwarna. Yang penting adalah menyebarkan ilmu pengetahuan seluas mungkin, mencerdaskan bangsa. Penerbitan dan perdagangan buku jelas tidak dibebani pajak seperti di Indonesia. Memang harus diakui bahwa buku-buku terbitan barat mutu kertasnya jauh lebih baik tetapi tentu saja diikuti harga mahal. Saat masih belajar di Bandung, penulis harus menimbang-nimbang seribu kali sebelum membeli buku walaupun sudah dibantu harga khusus dengan adanya “Kupon” buku bagai mahasiswa. Masalahnya, semua buku un tuk perkuliahan hanya tersedia dalam bahasa asing yang merupakan buku impor. Penulis saat itu pernah menjadi pemasok buku-buku terbitan Republik Demokrasi Jerman yang dijual sangat murah di Moskwa. Buku-buku teknik yang sama juga dipergunakan di Repulik Federasi Jerman (Barat). Beberapa mahasiswa Indonesia memesan buku terbitan Jerman Timur berharga murah dan penulis kiirimkan ke Jerman Barat dengan harga khusus, lebih mahal dari harga Moskwa tapi lebih rendah dari Berlin. Fasilitas laboratorium juga lengkap dan semua kuliah bisa diserap dengan baik berkat bantuan praktek di laboratorium maupun kerja lapangan. Dalam penyampaian pelajaran di bangku kuliah, para pengajar sangat kooperatif dan tidak pernah menyulitkan mahasiswa seperti yang sering kami alami saat kuliah di ITB (dosen mengada-ada, mempersulit mahasiswa lulus dan bangga mendapat sebu tan dosen “killer”). Di Rusia seorang dosen akan malu bila banyak mahasiswanya tidak lulus ujian karena itu berarti sang dosen tidak becus mengajar. Sistem ujian mulai dari semester ke-5 dan seterusnya adalah sistem ujian lisan dimana dosen menguji satu persatu mahasiswanya dan hasil ujiannya disampaikan saat itu juga begitu ujian selesai.Tidak ada pengumuman hasil ujian seperti di Indonesia dimana mahasiswa pesertga ujian harus menunggu berhari-hari. Apabila mahasiswa Rusia mengalami kesulitan dalam mencerna pelajaran di bangku kuliah, institut bisa memberi peluang kerja dibidang yang dipelajari disalah satu pabrik atau perusahaan selama maksimal satu tahun. Saat mahasiswa kembali duduk di bangku kuliah,semua mata kuliah yang diajarkan akan dengan mudah diserap karena didukung kerja dibidangnya dan menggelutinya setiap hari. Nagi mahasiswa asing seperti penulis, saat mengalami kesulitan pada awal-awal perkuliahan, penulis dibantu seorang asisten dosen untuk mata kuliah tertentu. Dan semuanya jelas bebas beaya, tanpa dipungut sesenpun. Ini adalah fasilitas dari negara yang ikut kami manfaatkan. Karena kami mahasiswa asing, maka penguasaan bahasa Rusia kami harus didorong dengan pelajaran tambahan bahasa Rusia. Pelajaran bahasa yang dipersiapkan di Fakultas Persiapan,dengan didukung paralatan mutakhir (magnetofon atau tape recorder untuk setiap mahasiswa) selama maksimum 10 bulan,jelas tidak mencukupi untuk membuat kami bisa menangkap semua pelajaran di bangku kuliah. Setelah duduk di bangku kuliah institut yang di[ilih,penulis mendapat guru bahasa Rusia sebagai pendamping untuk membantu memahami buku-buku perkuliahan di samping mengembangkan pengetahuan bahasa Rusia kami. Dan semua ini juga disediakan secara cuma-cuma.Institut berusaha agar mahasiswanya bisa benar-benar menjadi sarjana yang bisa diandalkan dan menjaga nama baik almamater. Guru pendamping bahasa Rusia ini,di kalangan mahasiswa asing juga dicurigai se bagai mata-mata yang mencoba mengorek kecenderungan politik mahasiswa yang didampinginya sambil sekaligus memasukkan kehebatan dan kelebihan sosialisme. Dalam kasus penulis pribadi, selama sekian tahun didampingi guru bahasa sampai selesai belajar dan diwisuda,penulis sedikitpun tidak merasakan adanya tekanan maupun paksaan kearah itu. Bahkan penulis sama sekali tidak bersedia mengiluti matakuliah yang wajib bagi mahasiswa tuan rumah: sejarah PKUS (Partai Komunis Uni Soviet), Marxisme-Leninisme, Politekonomiya dsb. Dan pihak institut juga tidak pernah memaksa atau mengharuskan mahasiswa asing hadir di bangku kuliah. Saat mulai duduk di bangku kuliah institut pilihan, sangat terasa bagaimana penekanan masalah disiplin ditanamkan. Penulis tidak tahu apakah cara ini berlaku diseluruh perguruan tinggi atau hanya di institut dimana penulis belajar. Kalau tidak berlaku di seluruh republik Uni Soviet berarti institut punya wewenang untuk menerapkan aturan-aturan tertentu sebatas internal kampus. Peraturan yang berlaku dan mengejutkan di hari pertama: menjelang jam kuliah dimulai, bel listrik berbunyi satu kali untuk mengingatkan mahasiswa agar siap-siap memasuki ruangan kuliah. Saat bel berbunyi dua kali, semua mahasiswa harus sudah memasuki ruangan kuliah. Bel ketiga berbunyi, pengajar memasuki ruang kuliah dan semua mahasiswa wajib berdiri. Ini sih mirip akademi militer saja! Pintu dikunci dan tidak ada alasan mengetuk dan minta maaf terlambat datang, tidak juga bagi mahasiswa asing. Setiap mahasiswa harus tahu benar peraturan ini. Kemudian dosen pengajar mengambil absen dan setiap mahasiswa yang disebut namanya harus berdiri. Cara-cara seperti ini khas Rusia dan saat penulis ikut menghadiri kuliah diajak teman di yang belajar di kota Aachen, Jerman Barat, penulis lihat mahasiswa bisa keluar masuk ruangan kuliah dengan bebas bahkan saat dosen sedang mengajar. Di saat liburan musim panas, semua mahasiswa asing punya hak berlibur di tempat yang sudah ditentukan dan hak ini tidak bisa dipertukarkan dengan uang. Pilihannya hanya: pergi berlibur atau hangus. Liburan dua minggu ini prodeo, dibeayai negara Hak ini kami manfaatkan sejauh mungkin karena pulang liburan ke tanah air jelas tidak mungkin dari segi beaya. Mahasiswa dari sesama negara sosialis umumnya pulang berlibur ke negara-negara mereka (Bulgaria, Cekoslowakia, Jerman Timur, Polandia, Rumania, Bulgaria, Hongaria). Mahasiswa asing dari apa yang disebut Rusia sebagai negara kapitalis, umumnya. Juga memanfaatkan masa liburannya di Rusia (Italia, Perancis, Inggris dsb) Sesudah lulus dan di wisuda, setiap sarjana baru sudah ditunggu tugas bekerja di perusahaaan-perusahaan pemerintah. Mahasiswa yang lulus dengan angka terbaik punya hak memilih tempat kerja dalam daftar yang disodorkan. Kewajiban kerja semacam ini juga berlaku bagi mahasiswa-mahasiswa asing yang berasal dari negeri-negeri sosialis lainnya di Eropa Timur. Teman sebangku yang berasal dari republik demokrasi jerman sudah tahu kemana dia harus bekerja,begitu pula yang pulang ke Bulgaria atau Rumania, Cekoslowakia dan Polandia. Lulusan perguruan tinggi tidak perlu kelimpungan kesana kemari mencari pekerjaan. Setiap mahasiswa Rusia seperti juga warga negara Amerika, harus menjalani wajib militer jika dipanggil negara. Impian mereka yang terpanggil adalah ditempatkan diluar negeri, seperti di Jerman (Berlin yang terpecah menjadi empat zona). Kami sebagai mahasiswa asing ikut menikmati fasilitas belajar yang sama seperti mahasiswa Rusia, diluar hal-hal wajib yang harus mereka jalani. Kelebihan lain dari negara sosialis Uni Soviet adalah jaminan kesehatan bagi warga negaranya dan juga berlaku bagi mahasiswa asing yang belajar di Uni Soviet. Penulis tidak tahu apakah jaminan kesehatan ini juga berlaku untuk semua aspek perawatan sampai ke operasi berat atau tidak,tetapi yang pernah penulis dengar dari sesama teman kuliah warga Rusia.jaminan kwesehatan ini tidak berlaku untuk perawatan gigi (prothesa misalnya) Penulis pernah suatu ketika memanfaatkan layanan kesehatan, yang di mata penulis tergolong prima dan istimewa untuk ukuran Indonesia saat itu. Saat penulis jatuh sakit dan tidak bisa hadir ke kampus, segala sesuatu urusan kesehatan diatur oleh institut (di institut ada Dekanat po Delam s Innostranimi Studentami atau Dekan Urusan Mahasiswa Asing). Penulis tidak perlu pergi ke poliklinik dan dokter dari poliklinik terdekat datang dan memeriksa ke asrama. Setelah hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa penyakit bisa disembuhkan tanpa harus dirawat di RS.penulis bisa istirahat di asrama. Dan setiap sekian jam datang perawat memeriksa apakah obat yang diberikan dokter diminum teratur. Ini benar-benar pelayanan luar biasa dan gratis pula! Penulis sampai sembuh selalu dipantau kesehatannya dan tidak tahu siapa yang mengurusnya. Semula penulis menduga bahwa pelayanan istimewa ini diberikan karena para dokter curiga penulis membawa sejenis penyakit menular dari daerah tropis dan bisa menular serta mebahayakan lingkungan sekitar, tetapi ternyata dugaan itu keliru. Apakah pelayanan Cuma-Cuma seperti ini juga diberikan kepada warga Rusia, tidak jelas. Kebanyakan dokter yang bertugas adalah perempuan, karena bagi pria muda Rusia akan jadi bahan tertawaan jika mendaftar ke perguruan tinggi kedokteran. Profesi dokter adalah untuk perempuan sedang pria harus memilih profesi lain yang berhubungan langsung dengan bidang pembangunan negara, entah itu di Wilayah Timur atau Utara yang sangat dingin bersalju sepanjang tahun. Di sanalah tempat para pria, bukan di poliklinik atau rumah sakit. Ini adalah kenyataan di dunia masiswa Rusia yang terjadi dan sering jadi pembicaraan dikalangan mereka. Kalau ada undangan pentas di kampus kedokteran, ruang pesta dipenuhi mahasiswi dan sulit bagi anda untuk tidak mengajak mereka berdansa, membiarkan mereka menunggu-nunggu ajakan pria yang tahu adab dan kesopanan pergaulan. Tulisan ini adalah pengalaman pribadi sebagi warga asing yang tinggal di sebuah negara sosialis dengan ciri-ciri kehidupan yang berbeda dari negara Barat. Kalau.berkunjung ke Barat,memang memukau dengan kehidupan sepanjang malam tanpa henti, lampu-lampu reklame berpendar sepanjang malam. Saat pulang ke tanah air, penulis sempat bertanya-tanya dalam hati: seperti apakah yang dimasud presiden Indonesia Sukarno dengan cita-citanya menegakkan: Sosialisme a la Indonesia ? Tulisan ini bisa jadi menjadi semacam kesaksian tentang negara sosialis yang sudah hilang dari muka bumi,kecuali tinggal eksis di beberapa negara saja. Semoga kesaksian ini bisa jadi bahan renungan bagi semua! ******* Sumber: Milis Nasional List |
NEGARA SOSIALIS (1)
Djoko Sri Moeljono:
Apabila 60 tahun lalu hubungan diplomatik antara Indonesia dan Uni Soviet tidak dijalin,maka penulis bersama ratusan mahasiswa Indonesia lainnya tidak bisa menikmati kesempatan menimba ilmu di negara yang dikenal sebagai negara pertama didunia yg berlandaskan pada ajaran sosialisme/komunisme dan layak disebut sebagai negara sosialis pertama dibunia.
Penulis yakin bahwa diantara sekian ratus juta penduduk Indonesia saat ini, tidak lebih dari 10,000 orang yang pernah benar-benar merasakan hidup di sebuah negara sosialis. Sebelum kami mengalaminya sendiri,memang banyak pertanyaan yang terlintas dalam benak banyak orang : apa itu negara sosialis? Jawabannya kami temukan setelah kami sendiri menjalani, mengalami, menyelami kehidupan di sebuah negara sosialis. Kami merupakan saksi-saksi hidup tentang apa itu yang disebut negara sosialis, dalam kehidupan nyata dan bukan penjelasan teori dalam buku-buku ilmiah.
Penulis berangkat sebagai anak muda yang sudah menempuh kuliah di ITB Jurusan Pertambangan dan pernah mengalami masa-masa transisi pergantian pengajar dari berkebangsaan Belanda kemudian digantikan pengajar asal Amerika Serikat setelah para pengajar berkebangsaan Belanda diusir dari Indonesia dalam rangka merebut Irian Barat kembali kepangkuan ibu pertiwi.
Penulis mengalami masa-masa kuliah dengan dosen Belanda dan kemudian diganti dosen Amerika dengan sistem ujian yang sama sekali berbeda.
Kami yang sebelum berangkat masih bermental asli Indonesia yang tidak mengenal disiplin ketat, begitu terjun dalam masyarakat Rusia mengalami goncangan budaya kecil-kecilan. Kalau tidak ingin dibilang “ne kulturnii” (tidak tahu sopan santun), anda harus mau antri berdiri saat beli apa saja di toko. Saat baru menjejakkan kaki di Uni Soviet memang sempat kaget dan heran : kok di Uni Soviet orang antri roti? Mereka teratur antri bukan untuk mendapatkan roti, tetapi antri karena watak disiplin
Sebelum berangkat penulis masih ikut antri gula dan memang kondisi ekonomi Indonesia sedang sulit, sehingga begitu tiba di Uni Soviet kami melihat perbedaan yang begitu mencolok antara kehidupan di tanah-air yang baru kami tinggalkan dibanding dengan kehidupan di Uni Soviet yang tampak begitu tertata. Dan masalah pangan tidak jadi persoalan, memang bukan untuk membandingkan dengan kondisi Indonesia dimana penulis masih harus antri bahan pokok sebelum berangkat. Kondisi Indonesia yang serba kesulitan bahan makanan pokok ini ini masih sangat dalam meninggalkan kesan dalam benak..
Bulan-bulan pertama sebagai mahasiswa di asrama, kami masih bisa makan roti sepuasnya tanpa bayar. Tetapi memasuki tahun 1961, saat Rusia gagal panen gandum, maka: makan roti di Stolowaya harus bayar walaupun murah dan sangat terjangkau..Penulis tidak tahu pasti apakah roti gratis ini hanya berlaku di Stolowaya kampus? Atau juga di Stolowaya sekolah-sekolah dan juga di pabrik-pabrik untuk buruh? Kelebihan sistem sosialis yang kami rasakan dalam kehidupan mahasiswa: adalah kenyataan bahwa pendidikan dan perawatan kesehatan dijamin pemerintah secara cuma-cuma. Dan kami para mahasiswa asing ikut menikmati sisi-sisi positif dari pendidikan
cuma-cuma yang diselenggarakan negara. Mahasiswa tuan rumah adalah mahasiswa ikatan dinas seluruhnya, mereka menerima tunjangan dari negara walaupun tidak besar tetapi cukup untuk hidup layak dan disediakan asrama bagi mahasiswa dari luar kota..
Apa yang penulis coba paparkan dalam tulisan singkat dibawah ini merupakan pengalaman hidup sebenarnya,bukan cerita rekaan dan tidak terlupakan. Apa yang penulis alami di Uni Soviet mungkin tidak jauh berbeda dari pengalaman mereka yang pernah menimba ilmu di negara-negara Blok Timur lainnya, terutama yang belajar di Eropa Timur atau yang lebih dikenal dengan sebutan negara-negara Pakta Warsawa, sebagai tandingan Blok NATO sebelum runtuhnya Tembok Berlin di penghujung tahun 1980-han dan ambruknya Uni Soviet. Bagaimanapun, mereka-mereka yang pernah menimba ilmu di Uni Soviet di era 1960-an merupakan saksi-saksi hidup tentang tegaknya negara-negara sosialis yang dipelopori oleh Uni Soviet sebagai negara sosialis pertama didunia.
Tulisan singkat dibawah ini merupakan kesan dan pengalaman pribadi, yang mungkin berbeda dari pengalaman orang lain.
Sebagai mahasiswa muda kami meninggalkan tanah air yng pada tahun 1960 disaat ketegangan politik internasional baru saja mereda setelah tetembaknya pesawat mata-mata U-2 Amerika di wilayah Uni Soviet. Kami ditugasi belajar di negara yang disebut Uni Republik Sosialis Soviet atau disingkat Uni Soviet, sebagai bagian dari kerjasama dibidang kebudayaan.
Awal-awal kehidupan di Uni Soviet, bagi penulis pribadi, memang terkesan hebat danmenjanjikan dimata rakyat Rusia. Tidak ada orang antri roti karena barangnya langka, pembangunan berjalan siang malam tanpa henti dan ini bisa disaksikan lewat jendela kamar asrama setiap hari. Bagi penulis saat itu,orang bekerja siang malam merupakan hal baru yng belum pernah penulis saksikan di tanah air (mungkin juga sudah pernah terjadi di daerah terpencil seperti jatiluhur atau proyek Sigura-gura di Sumatera Utara tapi bukan ditengah kota seperti di Moskwa).
Penulis setiap hari bisa melihat lewat jendela bagaimana pembangunan kwartira (apartemen) tumbuh begitu cepat dari minggu ke minggu) walaupun dengan mutu bangunan yang dibawah standar Eropa dan ini bisa dilihat setelah penulis berkunjung ke beberapa negara Eropa Barat: Jerman, Italia dan Perancis)/ Sasaran pemerintah bisa diduga agar bisa dengan cepat memenuhi kebutuhan perumahan masyarakat dan masalah mutu sementara di nomor duakan.
Kesan lain yang sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari adalah stabilnya harga karena semua diatur pemeritah,tidak ada inflasi atau gejolak ekonomi yang disebabkanoleh faktor spekulasi pelaku pasar (menurut kacamata Barat ekonomi semacam ini sifatnya statis,tidak berkembang karena tidak ada persaingan dan stagnan, serta semua-nya dikendalikan secara terpusat oleh negara dan tidak memungkinkan persaingan).
Penulis selama empat tahun bermukim di Moskwa,sepanjang ingatan yang bisa dirunut kembali, rasanya tidak pernah membaca berita tentang kenaikan harga . Hal lain yang penuis kagumi adalah rasa aman dari gangguan kriminal, kemanapun kita pergi di malam hari, tidak pernah merasa takut dirampok atau diganggu dengan macam-macam ulah yang mengganggu. Gangguan yang agak mengusik adalah masalah orang-orang mabok yang berkeliaran di hari-hari pembayaran gaji atau menjelang hari libur. Wodka sudah membudaya dan berakar dalam kehidupan rakyat Rusia. Dikenal pemeo “Rusia tanpa wodka, bukan Rusia”
Aturan hukum mungkin begitu ketat sehingga membuat orang Rusia sangat menahandiri dalam pertengkaran agar tidak sampai berkelahi dan kami tahu benar hal ini, serta memanfaatkan sebaik mungkin. Kalau bertengkar dengan orang Rusia, bagaimanapun sengitnya pertengkaran kami yakin bahwa mereka tidak akan memukul. Banyak sisi-sisi yang membuat penulis kagum,tetapi harus diakui bahwa tidak sedikit pula sisi-sisi yang menjengkelkan dan menjemukan,bahkan kadang memuakkan.
Kalau semasa di Indonesia bisa bebas mendengarfkan radio mana saja,terutama men dengarkan siaran VOA (Voice of America) dengan Jazz Session-nya, di Moskwa mendadak radio yang kami miliki jadi bungkam dan hanya bisa menerima siaram Goworit Moskwa. Benar-benar menyebalkan! Punya radio bagus bagi kami sia-sia karena disetiap kamar asrama ada radio umum, seperti pernah kami alami di masa pendudukan Jepang. Radio di kamar asrama ditempelkan didinding semacam jam dan hanya
memiki satu tombol: untuk menghidupkan dan mematikan, tidak ada tombol lain. Dan isisiaran yang dipancarkan hanya satu: siaran pemerintah dan sesekali hiburan. Bagaimanapun juga ada manfaatnya bagi kami di musim dingin mengingat-ingat ramalan cuaca untuk esok hari, sehingga kami bisa siap dengan pakaian sesuai suhu besok. Tidak jarang radio umum ini hidup sepanjang hari dari saat kami bangun pagi sampai malam hari saat pergi tidur. Tak seorangpun penghuni kamar punya perhatian untuk mematikannya.
Di Uni Soviet tidak dikenal kehidupan malam dan semua kegiatan berhenti pada jam 23.00 malam. Trem, bus, Metro – semua berhenti berdenyut dan kota Moskwa seolah menjadi kota mati dan gelap dan hanya ada lampu penerangan jalan umum serta sedikit sekali lampu reklame berwarna-warni. Pertunjukan film, ballet atau teater juga berhenti sebelum jam 23.00 karena tidak ada lagi transport umum yang bekerja. Satu-satunya pilihan tinggal taksi dan itupun tidak banyak.
Uni Soviet tidak mengenal buku telepon dan peta kota yang baik, sehingga bagi warga asing akan sulit menemukan alamat atau nomor telepon yang diperlukan. Anda harus membuat sendiri catatan nomor-nomor telepon yang diperlukan. Tetapi di kota Moskwa banyak bertebaran kios Informasi, dimana anda bisa menanykan apa saja dari alamat dan nomor telepon yang anda perlukan. Semua hal yang remeh dalam benak kami, sepertinya menjadi sesuatu yang harus dirahasiakan di Rusia.
Rakyat Rusia sangat bangga dengan negara dan Tentara Merah-nya bila berceloteh mengenai Perang Dunia ke-II yang dalam bahasa Rusia disebut Patrioticeskaya Woiina atau Perang Patriotik. Harus diakui bahwa Soviet Uni sangat menderita dengan jutaan orang tewas sebagai korban perang,tetapi mereka bangga bahwa Tentara Merahadalah pasukan pertama yang berhasil menaklukkan tentara Nazi Hitler. Pantas kalau mereka bangga dan merasa diri besar, kadang berlebihan dan menganggap bangsa
lain lebih rendah. Ini adalah hasil propaganda pemerintah yang benar-benar merasuk dalam kalbu warga negaranya dan bersifat massif. Perlu juga diingat bahwa disaat tegang-tegangnya Perang Dingin berkonfrontasi dengan Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat, pemerintah Rusia sangat aktif berusaha merebut pengaruh di Asia-Afrika dan Amerika Latin sehingga berdampak positif pada mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Untuk menarik perhatian kami, pemerintah Rusia tidak segan-segan memomulerkan lagu “Rayuan Pulau Kelapa” sebagai semacam lagu wajib disekolah-sekolah dan kemananpun kami pergi berkunjung,tidak jarang disambut dengan paduan suara mengalunkan lagu wajib tsb. Nama Soekarno juga sangat diken al secara luas, se
hingga rakyat kecil dipinggir jalanpun tahu bahwa Indonesia = Soekarno.
Rakyat Rusia lewat propaganda pemerintah yang begitu deras mengalir, membuat mereka bangga dengan capaian teknologi seperti Sputnik pertama, manusia pertama terbang keluar angkasa jadi pahlawan nasional Yurii Gagarin, wanita pertama jadi astronot Teresykova dsb. Belum lagi ditambah dengan keberhasilan Uni Soviet dibidangmiliter dengan pesawat-pesawat tempur canggih, tank dan kapal selamnya. Semua ini tentu menelan beaya sangat besar sehingga harus mengorbankan keperluan rakyat banyak dibidang kesejahteraan.
Dimata rakyat, Uni Soviet harus jadi negara adidaya, negara besar yang ditakuti dunia dan harus diakui, pemerintah Rusia berhasil membangun impian di benak rakyatnya. Tetapi disisi lain dalam hal kesejahteraan hidup,pemerintah Rusia diam-diam harus mengakui bahwa kehidupan di Amerika, musuh nomor satu,jauh lebih baik dari kehidupan rakyatnya sendiri. Lihat saja semboyan saat itu: mengejar dan melampaui Amerika dalam 15 tahun! Kalau anda pergi ke toko besar Gosudarstwenii Universalnii Magazin (GUM), semacam mall yang berserakan di Jakarta saat ini,barang yang dipajang di etalase sangat terbatas dan tidak banyak pilihan, belum lagi mutunya yang rendah. Pelayanan para pramuniaganyapun sangat buruk dan bahkan kadang-kadang menjengkelkan, seolah-olah mereka tidak butuh pembeli. “Pembeli adalah raja” tidak berlaku disini. Para pramuniaga dan pengelola toko seolah-olah tidak berusaha menarik pembeli.
Harus diakui bahwa di surat-surat kabar atau siaran televisi, iklan sepertinya tabu! Penulis kadang bertanya dalam hati: sampai-sampai pasta gigi dan sabun mandi yng baikpun pemerintah Rusia tidak bisa membuatnya, padahal pesawat MIG-17 sudah di ekspor ke pelbagai penjuru dunia.
Propaganda memang sangat banyak berpengaruh dalam kehidupan masyarakat dan dimana-mana anda bisa melihat poster-poster raksasa dengan gambar pria berotot diikuti tulisan mencolok : Plan wipolnen do srocno! Target tercapai lebih cepat! Kalau Indonesia punya Repelita (Rencana Lima Tahun) maka Uni Soviet memiliki Semiletka atau rencana Tujuh Tahun dipelbagai bidang: pertanian, industri, berita disurat-surat kabar Pravda atau Izweztiya hanya berisi keberhasilan dan sukses, tidak ada berita kegagalan. Kegagalan adalah tabu untuk diberitakan!
Akibat dari propaganda yang sangat effektif dan mencapai sasaran,raskyat awam kalau berdialog dengan kami mahasiswa yang datang dari negara berkembang, mereka
menganggap dirinya sebagai :”saudara tua” yang penolong, mereka berada diatas kita yang mendahkan tangan. Walaupun memuakkan karena seringnya mendengar “pencerahan” semacam ini, kami tidak bisa berbuat apa-apa.Yang bicara begini bisa sesama penumpang Metro, warga biasa yang bertemu di taman, termasuk teman kuliah. Banyak hal-hal yang merupakan sisi-sisi negatif dalam kehidupan sehari-hari dan semua ini adalah pengaturan atau pengelolaan masyarakat dalam suatu sistem besar. Kalau anda lupa membawa tanda pengenal yang disebut “propusk” jangan harap anda bisa melenggang masuk rumah sendiri (asrama). Tidak jarang anda harus bertengkar adu argumentasi sampai otot muncul di batang leher melawan Komendant (Kepa
la srama sebelum bisa masuk rumah sendiri) karena lupa membawa propusk.
Tetapi belakangan kami bisa memakluminya karena asrama dimana kami tinggal, sebuah gedung berlantai 10 dan 8 diantaranya terdiri dari kamar-kamar yang kami huni. Kalau 8 lantai dan setiap lantai terdiri dari 70 kamar (penulis mengisi kamar nomor 671) maka ada 560 kamar dan setiap kamar diisi 4 mahasiswa, anda bisa hitung berapa mahasiswa tinggal di asrama tsb.
Kepala asrama sampai berapa tahunpun tidak bakal bisa mengingat-ingat wajah setiap penghuninya,walaupun kami orang asing (di asrama penulis ada mahasiswa asing non-kulit putih berasal dari Vietrnam,Tiongkok, Sri Lanka,Mesir, Irak, India). Tanda pengenal penting kemanapun anda pergi: ke kampus, Dom Kulturi (Gedung Kesenian) dimana anda secara teratur berlatih kesenian dan harus punya propusk terdendiri. Setelah cukup lama tinggal dan hidup ditengah masyarakat Rusia, kami akhirnya merasa nyaman-nyaman saja dengan kehidupan masyarakat sosialistis. Sisi positif dari pengaturan negara yang dikelola menurut ajaran sosialisme/komunisme juga kami rasakan dan ikut menikmati (menikmati hal-hal positif).
*******
(Bersambung)
PERNYATAAN SIKAP INSTITUT SEJARAH SOSIAL INDONESIA (ISSI)
Subject: [DikBud] Pernyataan ISSI Menentang Pelarangan Buku ‘Dalih Pembunuhan Massal’
To: Undisclosed-Recipient@yahoo.com
Date: Thursday, 24 December, 2009, 11:48 PM
Pernyataan ISSI Menentang Pelarangan Buku ‘Dalih Pembunuhan Massal’
Rabu, 23 Desember 2009, Kejaksaan Agung mengumumkan pelarangan lima judul buku yang dianggap ‘mengganggu ketertiban umum’, termasuk Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karya John Roosa yang diterbitkan oleh Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) pada 2008. Sebagai penerbit buku ini dan warga yang sadar akan hak menyampaikan pendapat dan menerima informasi kami menentang pelarangan itu. Pelarangan itu tidak saja bertentangan dengan prinsip umum hak asasi manusia tapi juga amanat UUD 1945 untuk ‘memajukan kecerdasan umum.’
Institut Sejarah Sosial Indonesia menerbitkan buku Dalih Pembunuhan Massal sebagai sumbangan terhadap studi sejarah kontemporer Indonesia, khususnya peristiwa G-30-S. Dalam buku ini John Roosa menunjukkan sikap ilmiah yang terpuji sebagai sejarawan: ia mengungkapkan sumber-sumber baru mengenai G-30-S yang belum pernah digunakan sebelumnya, menelaah setiap sumber yang ada mengenai peristiwa itu secara teliti, lalu menghadirkan argumentasi dan kesimpulan berdasarkan temuannya itu. Pelarangan oleh Jaksa Agung jelas menghalangi perkembangan studi sejarah pada khususnya dan kerja ilmiah pada umumnya.
Buku Dalih Pembunuhan Massal sudah beredar selama satu tahun dan sembilan bulan, dan justru mendapat sambutan baik dari dalam maupun luar negeri. Buku ini masuk nominasi buku terbaik dalam International Convention of Asian Scholars, perhelatan ilmiah terbesar untuk bidang studi Asia pada 2007. Tinjauan terhadap buku ini dimuat dalam berbagai berkala ilmiah internasional. Di Indonesia sendiri, buku ini disambut baik oleh para ahli sejarah, guru sekolah dan masyarakat umum dalam berbagai seminar dan
pertemuan ilmiah yang digelar selama ini.
Singkatnya, jelas ada banyak pihak yang menarik manfaat dari terbitnya buku
ini, dan keputusan Jaksa Agung melarang buku ini dengan alasan ‘mengganggu ketertiban umum’ sesungguhnya justru merugikan kepentingan umum.
Karena itu kami menuntut agar:
1. Kejaksaan Agung segera mencabut surat keputusan tersebut dan menghentikan praktek pelarangan secara umum. Perbedaan pandangan mengenai sejarah hendaknya diselesaikan secara ilmiah, bukan dengan unjuk kuasa menggunakan hukum warisan rezim otoriter.
2. Pemerintah dan DPR segera mencabut semua aturan hukum yang mengekang kebebasan berekspresi dan hak mendapatkan informasi. Warisan kolonial dan rezim otoriter yang ingin mengatur arus informasi dan pemikiran sudah sepatutnya diakhiri.
Kami percaya bahwa pelarangan buku ini tidak akan menyurutkan kehendak
publik untuk mencari kebenaran. Dengan semangat itu dan juga sebagai bentuk konkret perlawanan, dengan pernyataan ini kami melepas copyright atas buku Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto karya John Roosa kepada publik sehingga dapat disebarluaskan melalui berbagai media. ISSI juga akan mengajukan somasi kepada Kejaksaan Agung dan meminta agar larangan itu dicabut. Jika tidak dipenuhi, ISSI akan menempuh jalur hukum dan menggugat keputusan Jaksa Agung tersebut.
Jakarta, 24 Desember 2009
ttd.
I Gusti Agung Ayu Ratih
Direktur
Hilmar Farid
Ketua Dewan Pembina
———— ——— ——— ——— ——
njalanya
tak terpadamkan
hingga kini
nanti
dan kapanpun
njalanya panas menempa
badja kemerdekaan
badja kehidupan
ketika kita tidak lagi bertanja
pilih njala atau pilih badjanya?
dan kita merebut kedua-duanja”
Agam Wispi, “Surabaja” (1965)
Catatan Akhir Tahun
Catatan Akhir Tahun Andriani S. Kusni
Hadiah akhir tahun yang paling berkesan pada saya adalah pesan pendek yang dikirim seorang damang dari salah satu kabupaten di pedalaman Kalimantan pada pagi hari, 29/12/2009. Isinya singkat. Satu kalimat berisi ucapan terima kasih atas tulisan saya tentang masyarakat adat di salah satu harian lokal. Kliping tulisan memang saya kirimkan ke pedalaman tempat damang bertugas di suatu waktu yang saya tak ingat lagi. Saya menitikkan air mata karena terharu. Terasa benar keikhlasan sang pengirim mengucapkan kalimat, “Terima kasih banyak.”
Tidak mudah mengucapkan terima kasih secara ikhlas. Sebagaimana tidak mudah membalas budi baik. Lupa adalah penyakit yang sering menggerogoti akal tanpa disadari. Semacam post comatose. Pingsannya masa lalu. Maka sebelum lupa, sebelum post comatose terjadi, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Sang Pencipta karena masih memberi saya umur panjang. Setidaknya untuk mengucapkan terima kasih kepada para pembaca dan kepada Harian Umum Palangka Pos yang secara konkrit mendukung upaya-upaya untuk membangkitkan kebudayaan Dayak dan Yang Majemuk di Kalimantan Tengah. Ruang budaya bernama Sahewan Panarung atau Obor Pelaga ini bermaksud, sekali lagi, mengajak semua warga Dayak yang merasa diri sebagai Dayak untuk mencintai kebudayaan Dayak, memahami makna kebudayaan Dayak sebagai bahasa berdialog dengan kebudayaan etnik-etnik dan bangsa lain di titik geografi mana pun di dunia, untuk kemudian memperkaya diri dan selanjutnya memberi sumbangan kepada budaya dunia. Seperti dikatakan JJ. Kusni, ”Hal ini mungkin sekali karena tidak ada pertentangan antara sebagai seorang Dayak tapi sekaligus menjadi anak bangsa dan putera-puteri dunia.” Sayangnya yang terjadi sekarang, entah sadar atau tidak, orang Dayak kurang, untuk tidak mengatakan tidak, menghargai diri dan budaya diri sendiri sebagai Dayak. Ada krisis ‘bebal budaya’, meminjam istilah Radhar Panca Dahana. Mengapa bisa bebal? Mungkin karena masyarakat belum menjadi ‘mesin’ utama, seperti yang dicitacitakan Andy Warhol saat berkata , “Aku mau jadi sebuah mesin!” ketika memproklamasikan kelahiran Dunia Pop. Namun media, sanggar, komunitas, pemerintah, bukan mesin utama. Misi utama gerakan kebudayaan adalah menggerakkan masyarakat. Masyarakatlah mesin utama. Agar mesin utama bergerak maka sistem-sistem pendukung mesin haruslah bekerja. Disini letak peran penting media, komunitas dan sanggar-sanggar, Dewan Kesenian Daerah, pemerintah dan perangkat-perangkatnya sebagai sistem pendukung (supporting systems) sebuah gerakan kebudayaan.
Harapan saya, tahun depan menjadi tahun yang bersemangat bagi gerakan kebangkitan kebudayaan uluh itah dan uluh KalTeng. Bersemangat dalam arti gerakan kebudayaan sanggup dan mampu menciptakan isunya sendiri tanpa terseret tema-tema trendy dan seremonial. Sanggup dan mampu menghasilkan karya-karya kemanusiaan secara mandiri dan bermanfaat karena bernilai pengetahuan dan menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan. Tidak semudah membalik telapak tangan memang. Apalagi di tanah dimana penyakit ‘bebal budaya’ juga ditularkan oleh pelayan-pelayan rakyat yang sesungguhnya berkewajiban menyajikan hal-hal bermanfaat bagi sang ‘majikan’. Pekerja-pekerja seni-budaya pun harus menjadi penyambung pesan yang tidak hanya menggaungkan suara orang lain. Tidak sekedar menjadi alat atau perangkat pihak lain. Ia harus mampu menggaungkan misi kebudayaan itu sendiri. Menggaungkan suara rakyat dengan daya hidup dan daya tumbuh seperti pohon bakau yang melindungi pantai dari abrasi dengan karakteristik khusus yang dimilikinya.***
BANDARA
Indonesia. Bandara kecil di propinsi terbesar sekaligus tertinggal. Hanya tiga maskapai yang bersedia membuka jalur penerbangan di bandara ini. Penumpang-penumpang berjalan gagah sejak turun dari mobil yang berhenti di depan teras sebelum masuk melewati check point untuk check in. Mudah mengenali orang di bandara sekecil ini. Juga mudah menangkap kegagahan manipulatif dan keangkuhan. Pesawat adalah transportasi mewah. Akses ke kemewahan terbatas ditengah ketertinggalan cenderung mudah membuat orang mengangkat dagu.
“Dengar lagu apa?”
“Macam-macam…”
“Dengar mbah Surip, ya?”
Suara tawa ditahan. Terdengar nyaring ditengah hawa lembab dan cahaya terik matahari.
“Bete banget. Jam 2 masih lama.”
“Mau cepat?
“Gimana?”
“Carter pesawat saja.”
Suara tawa ditahan lagi.
“Bisa juga muter-muter.”
“Dimana?”
“Disini.Di dalam banyak souvenir.”
“Sendiri?”
“Emang takut?”
“Hhhh…bete….”
“Atau keliling kota saja. Masih ada waktu sebelum take off. Mau saya temani?”
“Emang kamu bawa mobil?”
“Siapa juga yang mau panas-panas? Mau?”
“Ayo…”
Kursi-kursi tunggu di teras bandara. Diatur saling membelakangi formasi 3-3. Aku duduk membelakangi mereka menghadap parkiran mobil. Aku menguping. Baik…baik! Memang tidak sopan. Tapi naluriku yang liar dan tidak beradab mau tahu meskipun saat menguping itu, aku sambil membaca buku Teori Fiksi Robert Stanton. Lagipula, siapa suruh mereka tidak berbisik-bisik saja.
Laki-laki dan perempuan itu lalu berjalan menuju parkir mobil. Yang laki-laki, 30-an tahun, memakai blue jean, T-shirt putih berkerah dan menggenggam Black Berry. Yang perempuan, 20-an tahun, blue jean, kemeja coklat, rambut tebal sepundak diikat ekor kuda memperlihatkan tengkuk yang putih. 10 menit perbincangan. Itu lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan untuk……buang air besar? Aku ingat anak perempuan kecilku. Juga adik laki-lakiku di Rusia yang sedang menuntut ilmu. Hah…! Jakarta, Paris, Kualalumpur, Moskow, Frankfurt, Palangkaraya. Apa bedanya? Bandara memang tempat singgah datang-pergi. 10 menit perbincangan singkat antara laki-laki-perempuan baru kenal yang sedang bosan lalu pergi bersama-sama menikmati kota menunggu saat pesawat berangkat. 10 menit. Ini hanya soal relativitas waktu. Aku tak perlu pusing. Yang penting anak perempuanku tak berperilaku begitu saat dewasa nanti. Juga adik laki-lakiku yang sekarang sudah jauh dari akil-baliq.
“Mereka pasti akan bermesraan. Kan pakai mobil.” Suamiku, penganut materialisme dialektika historis, bentukan lingkungan akademik yang ketat dan pendukung kelompok ‘hormati privasi orang lain’, buka mulut juga. Kupikir ia tak akan tertarik dengan bahasan kasus macam ini.
“Ha…ha…ha….” aku tertawa dalam hati seperti mbah Surip. Naluri tetap naluri. Berlaku sama dimana saja kapan saja pada siapa saja.
Andriani S. Kusni-Indonesia, 7 Agustus 2009
Agenda Kegiatan
Kelas Pelatihan Kerajinan Rotan
Pengajar: Yanto, Pengrajin Rotan
Waktu dan Tempat Kegiatan:
Maret 2010, Gudang 12 C Jl. Temanggung Tilung Komp. Industri
Deskripsi Kegiatan:
Kelas pelatihan ini tak dipungut biaya. Diharapkan peserta akan memiliki bekal ketrampilan agar bisa mandiri. Kira-kira dana yang perlu disiapkan untuk beli bahan rotan Rp 50.000,-. Materi yang diajarkan adalah membuat kerajinan rotan kap lampu dan tempat buah-buahan.
Peluncuran Buku Karya-Karya KSB-PR (Komunitas Seniman-Budayawan Palangka Raya)
Penyelenggara: KSB-PR dan Dewan Kesenian Daerah
Waktu dan tempat Kegiatan:
Minggu II Februari 2010 di Toko Buku KARISMA
Deskripsi Kegiatan :
Peluncuran dan pembahasan karya-karya tulis yang telah dibukukan seperti cerita rakyat, kumpulan puisi, cerita pendek, naskah drama, dll, milik anggota Komunitas Seniman-Budayawan Palangka Raya & Dewan Kesenian Daerah. Bagi masyarakat umum non-anggota KSB-PR yang ingin karyanya disertakan dalam peluncuran, silahkan mengirimkan karya-karya ke KSB-PR. Kontak: Abdi Rahmat 081251845657. Karya-karya akan diseleksi. Tidak dipungut biaya.
Pertama kali dimuat di Ruang Budaya Harian Umum Palangka Pos, Rabu, 30/12/2009
Membaca dan Menulis
Catatan Andriani S. Kusni
Dalam salah satu sesi kelas penulisan saya, kami membahas karya tulis seorang peserta berjudul Kejenuhan Kuliah. Ia menggambarkan pengalaman pribadi mengikuti kuliah seorang dosen muda, ”Apa itu strategi kontrol? Ada yang bisa bantu saya menjelaskannya?”, tanya sang dosen. Terlihat mahasiswa kebingungan. Tidak ada yang menjawab pertanyaan dosen tersebut. Akhirnya kebingungan jugalah yang tampak dari wajah dosen muda itu, melihat para mahasiswa tidak merespon kuliah yang yang disajikannya “Oke…karena tampaknya kalian sudah ada yang pegang-pegang kepala tanda pusing, kita akhiri perkuliahan kita sampai disini. Terima kasih atas waktunya.” Tidak ada daftar referensi bacaan berkaitan mata kuliah yang disajikan. Tidak ada silabus. Dosen tersebut mengajar dengan cara mendikte. Demikian penjelasan lanjutan dari mahasiswa di salah satu universitas di Palangka Raya tersebut.
Dalam tulisan berjudul Pemiskinan Budaya di PT Cenderung Melembaga, majalah EDUCARE edisi November 2009, Prof. Mien Ahmad Rifai berkomentar, “Jika dosennya saja tidak siap menulis karya ilmiah, lalu bagaimana dengan mahasiswa-mahasiswa di bawah bimbingan mereka?” Lingkaran setan yang membelit budaya menulis di kalangan akademisi mulai terkuak karena sebagian besar peserta penataran penulisan ilmiah adalah para tenaga pengajar yang sehari-harinya berkewajiban membimbing mahasiswa menulis karya ilmiah!, demikian sajian utama majalah EDUCARE. Apa akar masalah pendidikan kita? Survey oleh Scientific American tahun 1994 mengungkapkan, kontribusi ilmuwan Indonesia terhadap khazanah pengembangan ilmu dunia setiap tahun hanya sekitar 0,012%, jauh dibawah Singapura yang berjumlah 0,179% dan sangat jauh di bawah Amerika Serikat yang besarnya 20%. Kusni Sulang dalam Diskusi Panel bertema “Memperteguh Komitmen Pemuda dalam Melanjutkan Arah Pembangunan KalTeng 5 Tahun ke Depan” yang diselenggarakan oleh KNPI Kabupaten Katingan, 21/12/2009, mengajukan pertanyaan yang dialamatkan kepada Rektor Univeristas Palangka Raya, “Berapa banyak cendekiawan dalam arti sesungguhnya di daerah ini?” Padahal sebenarnya dari dunia pendidikan diharapkan bisa lahir kader-kader pemberdayaan dan pembangunan manusiawi dan ahli, demikian kata Kusni Sulang.
Tradisi dengar-ucap masih menguasai metode pengajaran di universitas. Transfer pengetahuan secara lisan punya banyak kekurangan. Begitu terlontar, ia tak meninggalkan jejak sehingga mudah dilupakan dan tidak memberi jarak untuk melakukan refleksi kritis terhadap apa yang terkandung dalam bahasa lisan tersebut. Bahasa lisan pun memiliki hambatan-hambatan psikologis berkaitan dengan kompleks superioritas dan inferioritas pengucap dan pendengar. Untuk mengatasi kekurangan-kekurangan ini, tanpa mengabaikan manfaat bahasa lisan, pertama-tama tradisi dengar-ucap harus diubah menjadi tradisi baca-tulis. Menulis baik dan benar hanya bisa dilakukan dengan banyak membaca. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Membudayakan tradisi baca-tulis bisa dengan; memperpanjang jam kerja perpustakaan, menambah koleksi buku, mengaktifkan kegiatan-kegiatan baca-tulis-diskusi dan menerbitkan buku. Universitas sebagai ujung tombak pendidikan tinggi harus mengambil prakarsa melakukan hal-hal tersebut. Kemana perginya dan apa yang dikaryakan untuk KalTeng oleh ratusan dan ratusan alumni universitas-universitas di Palangka Raya?
Jalaluddin Rumi, penyair sufi terbesar Persia menulis, “Apabila telinga semakin peka, ia akan menjadi mata; apabila sebaliknya, kata-kata terperangkap dan tak dapat mencapai hakekat”. Membaca, menulis, mendengar adalah jalan memperoleh gagasan-gagasan dan dasar-dasar pengetahuan agar bisa merasuki hati dan ditawan oleh mata hati (oculus cordis) sehingga hakekat pengetahuan tercapai.
Wawancara Andriani S. Kusni dengan Yanto
Yanto adalah pengrajin rotan. Ia berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Beberapa kali jasanya disewa oleh pemerintah daerah di Indonesia untuk memberi pelatihan membuat kerajinan dan furniture dari rotan. Saya pertama kali berjumpa dengannya saat pameran produk unggulan di Gedung Tambun Bungai, Palangka Raya dalam rangka pertemuan APPSI, 2-4/12/2009. Waktu itu, ia turut mengisi stand pameran kota Palangka Raya. Yanto mengunjungi Wisma Edelweis, minggu, 20/12/2009, memenuhi undangan saya untuk melakukan lanjutan wawancara setelah wawancara sebelumnya di gudang tempatnya menumpang tinggal dan bekerja di Jl. Temanggung Tilung Kompleks Industri Palangka Raya.
Sudah berapa lama disini?
3 tahun. 2 tahun survey lingkungan dan kondisi. 1 tahun penjajakan untuk mencoba melihat per kembangan pasar furnitur rotan.
Mengapa anda kemari? Di Cirebon, produk rotan sudah diterima dan berjalan baik.
Disini belum ada produk rotan yang benar-benar dikembangkan. Bahan baku banyak hanya saja produk rotan belum populer.
Anda optimis ada pasar?
Optimis. Pasar lokal dulu. Harga bisa bersaing. 1 set kursi rotan desain minimalis harganya sekitar 3 juta. Dikerjakan sendiri dengan waktu kerja 10-12 hari. Kurang lebih sama harganya dengan sofa dengan jok busa.
Penghasilan sebulan berapa?
Selama ini tak tentu. Paling besar 2 juta dari hasil penjualan furnitur rotan.
Kegiatan sehari-hari?
Menganyam, bikin rangka furnitur dan bikin kerajinan tangan dari rotan. Hari minggu biasanya dipakai keliling menjajakan produk atau survey.
Anda pengrajin dan sering memberi pelatihan. Apa masalah utama produksi rotan?
SDM dan bahan baku.
Bagaimana penjelasannya?
Saya pernah disewa oleh Perusda Katingan Jaya Mandiri untuk beri pelatihan 3 bulan. Dari 30-an orang peserta, yang kemudian tetap lanjut bekerja di bidang ini hanya 4-5 orang. Di sini, orang-orang masih lebih tertarik urus kayu karena sehari bisa dapat 120-an ribu. Kalau kerja rotan, upah menganyam 50 ribu sehari. Soal bahan baku, yang penting ada uang beli rotan, sebenarnya tak ada masalah meskipun ada juga beberapa jenis rotan yang sudah dicari disini. Sekarang ini, terutama menjelang natal, banyak permintaan. Tapi tak sanggup memenuhi permintaan karena susah mencari pekerja di kota yang mau kerja rotan. Kalau saya kerja sendiri, tak sanggup. Tangan cuma dua.
Bagaimana harga produk rotan di kota Palangka Raya?
Yang bikin harga jual untuk pasar lokal tinggi adalah masalah bahan baku seperti H2O2 yang dipakai untuk memutihkan rotan. Kadang mesti mencari ke Sampit padahal yang dibutuhkan hanya 1-2 liter. Harga seliter 40 ribu di Sampit, 50 ribu di Palangka Raya. Di Jawa kita bisa dapat 20 liter dengan harga 100 ribu. Kalau beli per liter, harganya 20 ribu.
Apalagi masalah lainnya?
Tidak ada ruang pamer memadai. Disini orang tak berani bikin stok karena tak punya ruang pamer untuk simpan produk agar aman dan terjaga dari hujan atau resiko-resiko cuaca. Kalau ada ruang pamer di pinggir jalan raya, orang-orang pasti kenal.***ASK
Pertama kali dimuat di Ruang Budaya Harian Umum Palangka Pos, Rabu, 23/12/2009
Pengetahuan dan Jalan Kemanusiaan
Catatan Andriani S. Kusni
Minggu malam lalu, saya dan beberapa teman-teman dari Univeristas Palangka Raya mengunjungi Sabran Ahmad di rumahnya. Tujuan kami, belajar dan berdiskusi tentang sejarah lahirnya Kalimantan Tengah. Kelas diskusi ini, yang saya namakan ‘kelas diskusi bergerak’, baru dibentuk. Idenya lahir dari pemikiran bahwa akses kepada pengetahuan harus dibuka selebar-lebarnya. Tentu saja, pengetahuan yang dimaksud tak terbatas pada pengetahuan yang hanya diperoleh di kampus. Mengingat bahwa umur seseorang terbatas, tentu belajar dari pengalaman-pengalaman orang lain terutama orang-orang tua banyak berguna.
Pengetahuan melahirkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan mengajarkan bahwa segala sesuatu tak melulu baru dapat terlaksana dengan adanya uang. Perlu sikap terbuka, keinginan maju mencapai prestasi, pemahaman bahwa pengetahuan bisa diperoleh dari mana saja-kapan saja dan siapa saja. Jadi begitulah. Bersama cemilan-cemilan yang dibeli secara patungan, peserta berjumlah sebelas orang, datang membawa rasa ingin tahu dan ide-ide. Bu Sabran membantu dengan menyediakan kopi khas buatannya. Kopi lokal dicampur kayu manis. Pak Sabran bahkan memberi saya tanda mata berupa foto kopi daftar panitia Kongres Rakyat Kalimantan Tengah I tertanggal 6 Oktober 1956 yang sudah dilaminating.
Persatuan lahir dari pengorganisasian, kata Sabran. Sebagaimana dicatat dalam sejarah lahirnya Kalimantan Tengah. Moral dan etika menjadi dasar. Jika ada niat baik, kejujuran, kerjasama, dan kemampuan melawan kesulitan, pasti cita-cita dan tujuan tercapai. Kami saling berjanji untuk belajar bersama lagi. Belajar dan mencari ilmu menjadi kegiatan menggairahkan. Sekali lagi, persatuan melalui pengorganisasian. Ini juga mendorong terlaksananya Ganderang Tingang pada 7 Desember 2009 lalu, sebuah acara gelar seni-budaya Kalimantan Tengah yang dikerjakan “bermodalkan kemandirian dan kemauan berkoordinasi” oleh Komunitas Seniman dan Budayawan Palangka Raya (KSB-PR). Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi kalimantan Tengah, Ir. Sadar Ardi mengatakan: “…perkembangan dan kemajuan kebudayaan sebuah daerah mencerminkan perkembangan dan kemajuan kehidupan masyarakatnya….saya harapkan dapat terus dipertahankan dan dikembangkan, sehingga seniman dan budayawan benar-benar menjadi kelompok yang memiliki kekuatan untuk menjadi salah satu motor penggerak pembangunan Kalimanatan Tengah…”
Ganderang Tingang dan kegiatan-kegiatan lain yang akan segera dilaksanakan oleh KSB-PR seperti Pameran Lukisan Anak-Anak juga kelas-kelas diskusi, penulisan dan pelatihan oleh Grup Penulis Edelweis (GPE) menjadi satu tempat belajar. Belajar bersatu. Belajar mandiri. Belajar bersama mencari jalan mengatasi kesulitan untuk mengembangkan kebudayaan khususnya kebudayaan Kalimantan Tengah. Belajar mengembangkan diri sendiri dan masyarakat. Pada akhirnya, semua bermuara pada belajar untuk memperoleh pengetahuan yang bermanfaat bagi terbentuknya jalan penyebaran nilai-nilai kemanusiaan untuk mencapai ketinggian dan kesempurnaan harkat dan martabat manusia. Amin.
Ruang Anak
Karya Viona Jane, Kelas IV A SD Katolik Santo Don Bosco Palangka Raya
Tgl. lahir: 5 Januari 2000
Alamat: Jl. Gagak 3
Karya Ella Juanita, Kelas IV C SD Katolik Santo Don Bosco Palangka Raya
Tgl. lahir: 18 Juni 2000
Alamat: Jl. Merak No. 58
Agenda Kegiatan Grup Penulis Edelweis (GPE)
Sekilas tentang GPE: Grup ini berdiri di Palangka Raya 14/11/2009. Tujuannya, membuka akses pada pengetahuan secara teoritis dan praktis dengan mengorganisasi dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang berguna membangun watak dan karakter nasional untuk meningkatkan kualitas hidup, harkat dan martabat manusia. Tempat di Wisma Edelweis Jl. Yos Sudarso No. 095 Palangka Raya.
Kelas Kerajinan Aksesoris Batu Alam
Diselenggarakan tiap Sabtu dan Minggu pukul 15:00-17:00. Pendaftaran hingga Minggu I Januari 2010. Peserta tidak dipungut biaya. Pengajar: Nindita Nareswari, pemilik merek Lamiang Exotic. Syarat keikutsertaan: pengetahuan yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk orang banyak. Bahan-bahan dan alat dibeli sendiri. kira-kira perlu dana Rp 50.000,-. Peserta akan diajarkan masing-masing 2 model rangkaian untuk anting-gelang-kalung, pengenalan bahan, alat, dimana bahan-bahan diperoleh, harga-harga, jenis-jenis batu alam, dan macam-macam kelengkapan pembuatan aksesoris. Hasil karya dibawa pulang.
Kelas Penulisan Jurnalisme Sastrawi
Pendaftaran hingga Minggu I Januari 2010. Peserta tidak dipungut biaya. Pengajar Andriani S. Kusni, pengasuh halaman budaya Palangka Pos. Syarat keikutsertaan: pengetahuan yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk orang banyak. Peserta akan diajarkan dasar-dasar genre jurnalisme sastrawi dengan pembahasan-pembahasan karya jurnalistik yang menggunakan genre tersebut. Peserta akan diikutkan dalam kelas diskusi bergerak dan jika memenuhi kriteria dapat menjadi anggota kelompok Grup Penulis Edelweis.
Kelas Diskusi Bergerak
Terbuka untuk umum. Sebuah kelas dimana para peserta belajar langsung di rumah pengajar-pengajar dari berbagai latar belakang dan disiplin ilmu yang ditunjuk dan bersedia membagi ilmu tanpa biaya apapun. Waktu masing-masing kelas ditentukan kemudian berdasarkan kesepakatan peserta dan pengajar. Kelas berikut akan dimulai pada Minggu I Januari 2010.
Pertama kali dimut di Ruang Budaya Harian Umum Palangka Pos, Rabu, 16/12/2009
MASYARAKAT, PENYAIR DAN PEMIKIR
Catatan Andriani S. Kusni
Pernah seorang pejabat penting yang membidangi masalah kebudayaan di provinsi ini berucap bahwa “sastra itu tidak menarik”. Sementara yang lain berkata bahwa “kegiatan kebudayaan hanya membuang-buang uang”. Sementara di pihak lain ketika melukiskan peran puisi, orang Jerman mengatakan bahwa “Negeri dan bangsa kita memerlukan penyair dan pemikir”. Dan bangsa kita? Dalam semua kurun sejarahnya, bangsa kita pun tidak pernah jauh serta terpisah dari puisi. Kenyataan ini ditunjukkan oleh adanya sastra lisan ataupun sastra tulisan dalam berbagai bentuk, seperti sansana kayau, pantun, gurindam, deder, karungut, dan sebagainya. Mengapa tidak terpisahkan? Jawabannya terletak pada kenyataan bahwa mengungkapkan diri adalah suatu keperluan niscaya pada anak manusia pada tingkat perkembangan masyarakat yang bagaimanapun juga. Perlu ungkapan estetis. Puisi adalah salah satu ungkapan estetis. Dalam puisi diungkapkan pikiran, perasaan, mimpi, harapan dan tanggapan terhadap lingkungan serta permasalahannya. Sehingga puisi sesungguhnya merupakan cerminan zaman, suatu catatan sejarah dalam bentuk salah satu genre sastra. Kemampuan mencerminkan masyarakat dan zaman banyak ditentukan oleh tingkat pengamatan, kepekaan dan perenungan seorang penyair. Yang rajin mengamati, yang peka, yang berpikir, akan memperoleh kemungkinan mendapatkan pemahaman terhadap keadaan masyarakat, menjadi kian peka, kian peduli dan berada selangkah di depan orang kebanyakan. Dari tempat berada selangkah di depan ini, ia menawarkan solusi dan menyerukan himbauan kepada masyarakatnya melalui tokoh-tokoh atau kalimat-kalimat reflektif dan yang bersifat penyimpulan. Makna-makna demikian misalnya tertuang pada kalimat Chairil Anwar: “Sekali berarti sesudah itu mati” atau pada baris-baris puisi Jalaluddin Rumi : « Saudagar yang penakut takkan meraih untung maupun rugi; bahkan sesungguhnya ia merugi; orang harus mengambil api agar dapat cahaya”.
Dari dua contoh baris puisi di atas nampak bahwa puisi, selain berurusan dengan unsur estetika, ia juga bergumul dengan perolehan nilai. Dengan nilai ini penyair mencoba menuntun pikiran masyarakat ke arah yang lebih baik dari yang sudah ada. Arahan tawaran ini hanya mungkin diperoleh apabila penyair merenung dan berpikir. Menyimpulkan data-data, keadaan masyarakat dalam kalimat-kalimat puitis. Data dan keadaan yang ia simpulkan dalam tawaran nilai hanya mungkin diperoleh jika penyair tidak nangkring di menara gading elitisme. Karena itu penyair tidak lain adalah seorang pemburu makna tanpa ujung dari perburuannya. Dalam nilai tawaran ini terangkum keadaan masa lalu, hari ini dan hari esok. Manusia yang tak peduli pada nilai dan arti nilai sama dengan manusia tanpa budaya. Manusia-manusia mati, jika menggunakan ungkapan Nikolai Gogol, sastrawan Russia. Oleh sebab itu barangkali orang Jerman bahwa masyarakat kita memerlukan penyair dan pemikir. Atau menurut ungkapan Edgar Morin, filosof Perancis kekinian: mengangkat masyarakat prosaik menjadi puitik: paduan antara sikap realis dan penuh imajinasi. Seberapa jauh imajinasi masyarakat dan petinggi-petinggi Kalteng? Adakah penyair dan pemikir di provinsi ini?***
SAJAK SAJAK KUSNI SULANG
EDELWEIS
jalan setapak
mendaki puncak
edelweis kupetik
kuberikan
di dataran
kepadamu
ribuan jalan setapak
mendaki dan beronak
perjalananku
menuju edelweis
April 2009
DI KATINGAN
seperti dahulu di katingan
masih ada bintang beruang besar dan layang-layang
bagai dahulu
matahari masih jatuh di hulu
yang jarang sudah itulah
suara kecapi dan rebana tepian
tingkah-meningkah
tenggelam di irama dangdut
gelombang speed-boat
mengukur sela malam dan siang
jarak hulu ke muara
bagai dahulu masih
mengalir arus riam kaki bukit raya
mencari pagatan kota muara ditimang gelombang tak pernah jeda
yang tak lagi adalah gelombang mudik ribuan ikan untuk berbiak
hutan tak lagi wangi hilang enggang
air tak lagi jernih bersih
sekeruh kehidupan dan harapan
mengalir katingan sungai pengasuh
mengukur jauh perjalanan
waktu mengobah segala
nasib enggang anak naga
April 2009
ULUH KATINGAN
dari rimba raya
di seberang
tumbuh kota
melalui jembatan
melintasi arus keruh
siamang dan tapurau 1)
di kenangan
tinggal suara dan sarangnya
siamang dan tapurau
uluh katingan
si anak enggang
entah di muara mana
hanyut terbuang
tak lagi ada kayau 2) di sini, indang sita
hutan berganti padang pasir sejauh cakrawala
yang berkeliaran hanyalah pangayau berdasi
duduk di kantor-kantor melaju di belakang segala kendaraan
menghambur debu di gubuk-gubuk uluh katingan
di katingan, indang sita
kambé 3) dan segala roh dahulu
menyingkir entah ke mana
berganti kambé baru
katingan kini
bukan lagi katingan dahulu
Palangka Raya, April 2009
Catatan :
1). tapurau, sebuah pohon besar tinggi dari segala jenis pohon hutan, tempat lebah dan enggang bersarang.
2).kayau, pemburu dan pemenggal kepala.
3). Kambé, bahasa Dayak Katingan, berarti hantu.
SEPULUH BOCAH KATINGAN
sepuluh bocah naik turun merenangi arus dari batang*)
diayun gelombang klotok lalu-lalang membangun kenang
anak katingan anak sungai memang seperti juga diriku
yang kemudian menjadi penjelajah benua dan terbuang
sementara esok dan hari ini masih jauh dari hitungan
kembali pulang kukenal diriku
bersobat kehilangan dan duka
hanyalah seorang pengembara
yang ajaib di sini makin banyak orang lupa nama sendiri
hanya hapal kata-kata tanpa paham makna
April 2009-04-20
Catatan :
*). Batang, bahasa Dayak Katingan, tempat kapal dan kelotok merapat, juga digunakan sebagai tempat mandi, buang air, atau mencuci pakaian.
SAHEB 1)
speed boat
pesawat udara
parabola
tak asing sudah bagi uluh katingan
rock ‘n roll segala pop
bersaing dengan dangdut
sansana tinggal sahéb di dasar lubuk
uluh katingan
asing dari tanah kelahiran
sahéb tanah dayak
Palangka Raya, April 2009
Catatan :
1). Sahéb, bahasa Dayak Katingan, daun-daun yang jatih dan mengendap di lubuk sungai.Humus.
DI ANTARA BOTOL-BOTOL BARAM
di antara botol-botol baram *)
meja judi dan narkoba
pencurian dan kekerasan meriuhkan sungaiku
aku melihat orang-orang muda hanyut bagai busa
tak obah sampah sangkut di tiang-tiang pelabuhan
diayun gelombang klotok lalu-lalang
pepohonan buah menua
manggis, langsat atau barania
menua harapan dahulu
langka berbunga
mendekat layu
indang sita,
apakah mereka hangus oleh kebakaran rimba
modernisasi
apakah katingan
perahu tenggelam
tanpa pelampung
orang-orang terkapai
di permukaan?
di antara botol-botol baram*)
meja judi bau narkoba
aku melihat orang-orang tenggelam
menjadi dayak pun masih tanda tanya
Palangka Raya, April 2009
Catatan:
*). Arak tradisional berkadar kurang lebih 40°
Pertama kali dimuat di Ruang Budaya Harian Umum Palangka Pos, Rabu, 9/12/2009
Berita Buku & Budaya
Telah terbit:
1. LEWU NAKAN, Antologi Puisi Kusni Sulang tentang Kalimantan Tengah
Antologi ini diterbitkan oleh Institut Toddoppuli bekerjasama dengan Komunitas Seniman Budayawan Palangka Raya. Diharapkan dalam waktu dekat seusai semua kegiatan mendesak komunitas (Gelar Seni Budaya di Kasongan pada Akhir Desember 2009, Pameran Lukisan Anak-Anak SD, Pertunjukan Monolog tiap bulan pada minggu II mulai Januari 2010). Antologi ini akan diluncurkan di Perpustakaan Daerah Palangka Raya. Diharapkan juga dalam waktu dekat, Komunitas Seniman Budayawan Palangka Raya menerbitkan jurnal sastra 3 bulanan. Sementara itu, komunitas ini akan memulai program siaran budaya tiap minggu III tiap bulan bekerja sama dengan RRI KalTeng. Peluncuran siaran pada Januari 2010.
2. KAMELUH TAMBUSU, karya Andriani S. Kusni. Sebuah versi kontemporer cerita rakyat KalTeng tentang Legenda Bukit Batu yang disadur dari kisah dalam buku Maneser Panatau Tatu Hiyang karya Tjilik Riwut. Diterbitkan oleh Institut Toddoppuli bekerjasama dengan Komunitas Seniman Budayawan Palangka Raya. Peluncuran akan di selenggarakan di Perpustakaan Daerah Palangka Raya bersama LEWU NAKAN-Kusni Sulang dan karya-karya penulis lain yang tergabung dalam KSB-PR.
Kesadaran Politik Dayak dalam Teropong Sejarah
Oleh Christian P. Sidenden*)
Acara bertajuk Sejarah Kalteng di ruang tamu H. Sabran Ahmad, baru-baru ini terlaksana berkat inisiatif budayawan JJ. Kusni dan istrinya, Andriani S. Kusni, sebagai upaya pembinaan kesadaran menulis generasi muda Dayak di kota budaya, Palangka Raya.
Sedianya pembekalan dari H. Sabran Ahmad dilakukan dalam beberapa sesi, hasilnya akan disunting menjadi sebuah karya jurnalistik. H. Sabran Ahmad adalah pelaku sejara KalTeng yang masih hidup. Pada tahun 2-5/12/1956, ia turut menjadi anggota panitia persiapan Kongres Masyarakat Dayak I yang berlangsung di Banjarmasin. Waktu itu peserta yang hadir berjumlah 600 orang lebih. Saksi hidup lain dari peristiwa penting tersebut adalah Mubangil. Hanya mereka berdua yang masih hidup.
Kongres tersebut dilakukan guna mempercepat pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah. Hal-hal yang melandasi dilakukanya Kongres Dayak I adalah pertama, pembagian Pulau Kalimantan menjadi 3 provinsi (Barat, Timur dan Selatan) dirasakan sangat tidak menguntungkan masyarakat Dayak Besar. Sebagaimana dijelaskan Sabran, yang termasuk kategori orang-orang Dayak Besar adalah mereka yang menghuni wilayah diantara Sungai Katingan di Barat hingga Sungai Barito di Timur. Kedua, oleh karena wilayah Dayak Besar ini sendiri oleh Pemerintahan Pusat dimasukkan ke dalam Provinsi Kalimantan Selatan dan orang-orang Banjar tidak mau lagi disebut ataupun menyebut diri sebagai ‘Dayak’ maka tujuan kongres ialah merekomendasikan kepada DPR Pusat untuk melakukan pemisahan segera dari Kalimantan Selatan. Hasil dari kongres, suara bulat mendorong percepatan persiapan pembentukan provinsi baru.
Beberapa bulan kemudian lahirlah UU Darurat No. 10/1957 tertanggal 23 Mei, resmi keputusan pemerintahan pusat mengesahkan lahirnya Provinsi Kalteng. Tanggal tersebut kemudian dijadikan tanggal merayakan HUT Kalteng. Kantor persiapan pembentukan Provinsi Kalteng diketuai Tjilik Riwut, G. Obos, dan F. Patianom.
Kesadaran masyarakat Dayak Besar sebenarnya jauh melampaui Soempah Pemoeda 1928. Sebagaimana dikisahkan Sabran, pada tahun 1919 telah didirikan organisasi Sarikat Dayak di Tumbang Kapuas (sekarang Kuala Kapuas). Ketua perhimpunan adalah Luwi Khamis. Kemudian Sarikat Dayak diubah menjadi Pakat Dayak guna lebih menajamkan kesadaran nasionalisme Dayak pada tahun 1926, dua tahun mendahului Kongres Pemoeda I Idonesia di Jakarta yang melahirkan Soempah Pemoeda. Katua Pakat Dayak dipercayakan pada Oesman Baboe. Pada tahun itu pula (1926), lahir organisasi wirausahawan bernama Sarikat Dagang Dayak (SDD) yang tiga tahun kemudian mendirikan Majalah Suara Pakat sebagai karya jurnalistik pertama orang-orang Dayak Besar.
Sabran menegaskan, bahwa pengetahuan atas sejarah suku bangsa Dayak ini harusnya disebarluaskan kepada publik agar jangan lagi orang-orang Dayak diadikan sasaran banyak label negatif dan tak produktif. Sabran menegaskan lagi, bahwa pembentukan NKRI seharusnya dipahami turut dibidani pula oleh kesadaran bertanah air, bersuku bangsa, dan berbahasa Dayak. Jadi, berbanggalah seharusnya kita sebagai orang Dayak!
*)Christian P. Sidenden, Wartawan Tabengan. Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian Umum Tabengan, Kamis, 17/12/2009
PEMBANGUNAN KALIMANTAN TENGAH: HARI INI DAN LIMA TAHUN KE DEPAN
Pokok-pokok Pikiran Kusni Sulang, Disampaikan Dalam Diskusi Panel
Dan Rakerda III DPD KNPI Kabupaten Katingan
Di Kasongan, 21 Desember 2009
(Dalam diskusi panel ini akan berbicara: Prof. DR. Danes Jayanegara-Akademisi, DR. JJ. Kusni-Pencinta Sastra-Seni, Ir. H. Eddy Raya Samsuri-Ketua DPD KNPI Prov. KalTeng, Sabran Ahmad-Salah Seorang Pendiri Prov. KalTeng, KMA Usop, MA-LMMDDKT Prov. KalTeng, Drs. Duwel Rawing-Bupati Katingan, Ir. Teguh Patriawan-Pengusaha, H. Achmad Amur Sh, Mh-Calon Gubernur KalTeng 2010Agustin Teras Narang, SH-Gubernur KalTeng Sekarang, Jeferson Dau-Calon Gubernur KalTeng 2010, Drs. H. Wahyudi K. Anwar, MM-Bupati Kotawaringin Timur Sekarang dan calon Gubernur KalTeng 2010)
1. Titik Tolak: Di manapun, pada kesempatan apapun, ketika menyampaikan pikiran-pikiran, saya selalu berpegang pada apa yang diucapkan oleh Arthur Khoestler, penulis roman “1984” dan “The Animal Farm”, seorang pengarang Inggris yang turut serta dalam Perang Saudara Spanyol tahun 1930, bahwa “mengatakan kebenaran adalah suatu tindakan revolusioner”. Menurut seorang penyair besar Tiongkok abad XX, kebenaran itu didapat dengan pencarian terhadap kenyataan. Dengan kata lain, melalui riset. Secara ekstrim untuk menunjukkan arti penting menentukan dari penelitian, penyair ini bahkan berkata bahwa “yang tidak melakukan riset tidak berhak bicara”. Sekalipun apabila orang demikian berbicara sang penyair menasehatkan bahwa “yang berbicara tak berdosa, yang mendengar patut waspada”. Hanya saja jika berbicara tanpa data riset, maka yang berbicara, apalagi yang menyusun suatu kebijakan, sama dengan tanggungjawabnya patut dipertanyakan. Kebenaran tak ubah kaca di mana kita melihat wajah kita yang sebenarnya. Sering kita malu melihat wajah bopeng kita. Mengatakan kebenaran, seadanya kebenaran itu, selain merupakan dasar pemilihan dan penyusunan kebijakan, ia juga merupakan epistemologi ilmu pengetahuan. Dimaksudkan untuk memerdekakan, untuk mengoreksi kekeliruan. Saya tidak mengatakan “politik itu kotor”, seperti yang umum dicekokkan di negeri ini selama berdasarwarsa, selama politisi itu bersikap setia pada kebenaran, menggunakan kuasanya mengelola kekuasaan untuk memanusiawikan diri sendiri, manusia, kehidupan dan masyarakat. Dengan sikap demikian, maka seorang pengelola kekuasaan akan terbuka. Pandai mendengar. Jujur sebagai ciri dari seorang pimpinan visioner. Jika politisi memperebutkan kekuasaan untuk kekuasaan, maka « politik itu kotor » akan terus berlanjut dan dipraktekkan. Kotor bersihnya, sejak dini akan menampakkan diri pada slogan kampanye dan cara-cara menuju ke kekuasaan.
2. Panitia Pelaksana Diskusi Panel ini mengajukan tema : « Memperteguh Komitmen Pemuda Dalam Melanjutkan Arah Pembangunan Kalimantan Tengah 5 Tahun Ke Depan”. Judul tema ini menimbulkan pertanyaan : (1). Memperteguh komitmen. Apakah komitmen pemuda Kalteng selama ini sudah teguh?. (2). Apakah arah pembangunan Kalteng sekarang sudah tidak perlu dipertanyakan sehingga harus dipertahankan tanpa koreksi untuk lima tahun ke depan lagi?
3. Komitmen berarti kebulatan hati melakukan suatu kebijakan, atau pilihan politik. Kuat tidaknya komitmen ditentukan oleh pola pikir, mentalitas. Pola pikir dan wacana terkait dengan wacana, pandangan hidup (weltanschaung) seseorang. Tidak kalah pentingnya tingkat keterampîlan atau keahlian yang tinggi. Weltanschaung, pandangan hidup, pikiran, wacana, ditentukan oleh lingkungan keluarga, sekolah, pekerjaan dan nilai dominan dalam masyarakat. Karena pikiran manusia banyak ditentukan oleh keadaan dan lingkungan sosial seseorang. Kalau nilai dominan dalam masyarakat adalah KKN maka nilai ini akan besar pengaruhnya terhadap yang menyebut diri “komit”. Jadi komitmen dan komitmen ada macam-macam: (1). komitmen yang tujuan tidak benar dan tidak manusiawi; (2). komitmen untuk pemanusiawian manusia, kehidupan dan masyarakat. Anggota Nazi Hitler mempunyai komitmen yang kuat. Kaum sektarian juga mempunyai komitmen yang kuat. Kita perlu mempertanyakan, secara obyektif, bukan subyektif, komitmen yang bagaimana yang dianut oleh pemuda Kalteng? Bagaimana wacana, pola pikir, dan mentalitas pemuda Kalteng sekarang? Bicara tentang komitmen, bicara tentang mutu manusia, mutu pendidikan, mutu birokrasi dan mutu masyarakat secara keseluruhan, termasuk mutu pembangunan. Tidak adakah persoalan dalam soal komitmen ini di kalangan kita? Jika terdapat persoalan, untuk memiliki komitmen teguh yang manusiawi, apakah tidak perlu dilakukan perubahan kultur dan struktur?
4. Arah Pembangunan Kalimantan Tengah: Apakah mengenai arah pembangunan selama kurun waktu Teras-Diran mengelola kekuasaan di Kalteng tidak ada persoalan? Teras-Diran merumuskan visi mereka dalam kata-kata: “Membuka isolasi menuju Kalimantan Tengah yang sejahtera dan bermartabat”. Kalau bacaan dan pemahaman saya benar, maka perumusan ini merupakan kontektualisasi dari ide Sarikat Dayak (dan Pakat Dayak) pada tahun 1919, tepat 25 tahun setelah Pertemuan Tumbang Anoi 1894. Sarikat Dayak merupakan titik penting kebangkitan Dayak. Pengangkatan kembali dan aktualisasi wacana Sarikat Dayak, sejak 2005 merupakan jasa penting Agustin Teras Narang (ATN) yang niscaya dicatat. Lebih-lebih setelah Tjilik Riwut tiada, wacana atau mimpi bersama ini seakan tidak diindahkan. Arah ini, apakah akan terus dilaksanakan oleh gubernur dan wakil gubernur selanjutnya? Tandatanya besar, apalagi jika ATN tidak menduduki lagi jabatannya yang sekarang. Ketika orientasi yang mempunyai akar sejarah panjang ini merupakan arah yang obyektif dan tanggap zaman, apakah dalam pelaksanaannya tidak ada persoalan? Yang saya maksudkan dengan pelaksanaan, termasuk perda dan pergub yang diharapkan bisa jadi patokan dalam mengejawantahkan mimpi besar bersama dan mengakar itu? Kecuali itu pelaksanaan orientasi ini dilapangan oleh dinas-dinas, dan pengelola kekuasaan berbagai tingkat. Dalam pelaksanaan, saya melihat banyak kesulitan dan rintangan dalam mewujudkan orientasi tersebut. Dalam pelaksanaan terdapat tidak sedikit penyimpangan, bahkan menuju arah yang berlawanan dengan arah semula. Secara lebih moderat bisa disebut “bias”. Keadaan demikian, bisa dipahami apabila kita sepakat bahwa birokrasi dan birokrat kita masih dibelenggu oleh tradisi lama dengan kekuatan menjerat yang kuat. Sejarah berbagai negeri di manapun mengatakan bahwa tradisi itu mempunyai kekuatan luar biasa. Salah satu tradisi kuat di Kalteng kita adalah tradisi Orde Baru, paternalisme, neo-feodalisme, budaya ghetto yang mendasari dunia politik kita. Tradisionalisme negatif ini mencerminkan diri di berbagai bidang, termasuk dalam cara membuat dan mengambil keputusan seperti pergub, atau perda. Dengan kata lain pada langgam dan gaya kerja. Barangkali halangan pelaksanaan mimpi bersama itu juga terdapat pada wacana kita tentang kekuasaan politik dan negara. Tidak gampang melawan Mengobahnya tidak segampang membalikkan telapak tangan.
5. Beberapa bias:
• (1). Bidang politik: Aneksasi Masyarakat Adat (MA) dan lembaga-lembaga keadatan, seperti tercermin pada Perda No.16 Tahun 2008; Pergub No. 13/2009. Saya membedakan antara aneksasi dengan rekoginisi (pengakuan). Dengan aneksasi maka MA dipolisasikan, meninggalkan karakternya semula. Rekognisi akan memungkinkan MA lebih berkembang alami dan tidak dipertanyakan keadaannya saat ATN tidak menjadi gubernur lagi.
• (2). Bidang ekonomi, dari berita-berita dan percakapan-percakapan di lapangan di berbagai DAS saya dapatkan bahwa ekonomi kerakyatan yang dipilih oleh ATN, dalam pelaksanaan menjurus ke dominasi Perusahaan Besar Swasta (PBS). Menurut Tim Peneliti Gama dan Walhi, (tak jauh berbeda statistik Transparancy Internastional), 80% daratan Kalteng berada di tangan PBS, 20% untuk konservasi, Taman Nasional dan lahan garapan. Akibatnya penduduk Kalteng terancam menjadi landless people. Ekonomi kerakyatan tidak mendapatkan perwujudan nyatanya. Bukan investor yang mengendalikan kekuasaan, tapi kekuasaan yang mengendalikan investor.
• (3). Bidang Sosial: Kemiskinan masih merajalela. Menurut angka ATN sendiri yang disiarkan oleh Harian Tabengan, 30% penduduk Kalteng yang berjumlah 2,6 juta masih hidup di garis kemiskinan. Biasanya dalam kenyataan, angka ini lebih besar lagi, karena biasanya angka statistik merupakan piranti politik. Ditambah dengan cara pembuatannya jauh dari bisa dipertanggungjawabkan. Program PM2L tidak menyentuh individu atau keluarga-keluarga miskin. Menggunakan istilah Tim Peneliti Gama, PM2L mirip dengan Desa Inpres Orba sehingga orientasi di atas tidak mengentas kemiskinan tapi lebih memproyekkan kemiskinan. Contoh: pelatihan pengrajin rotan di Palangka Raya, 13-14 November 2009. Pelaksanaan dan pelaporannya asal-asalan dan penuh keanehan. Pendekatan PM2L bukan pemberdayaan sebagai basis pembangunan berkelanjutan. PM2L tidak menghalau kemiskinan. Kemiskinan masih ada di sana. Mondar-mandir di kampung. Yang berhamburan adalah dana.Pengalaman ini perlu disimpulkan. Beda dengan CU atau KPD. Barangkali di sini terdapat masalah wacana tentang pengentasan kemiskinan dan cara pengentasannya.
• (4). Bidang kebudayaan: Sampai sekarang belum ada Pergub apapun. Saya melihat kehidupan kebudayaan di daerah ini sangat potensial tapi bersifat sporadik dan insidental. Tanpa rencana. Mandeg. Memproyekkan kebudayaan juga masih berlangsung. Muatan lokal sejauh ini masih terhenti di kertas-kertas resolusi. Apakah mengherankan jika angkatan muda makin asing dari budaya kampung halamannya sendiri?
• (5). Pendekatan Pembangunan: Dalam mewujudkan orientasi atau visi di atas, tidak nampak sama sekali pendekatan kebudayaan. Pembangunan tidak nyata menyandarkan diri pada pemberdayaan. Padahal pembangunan dilakukan oleh manusia untuk manusia. Pendekatan yang berlangsung lebih pada pendekatan fisik dan materi, tertumpu pada pertumbuhan GDP Rostowien, tidak pada resdistribusi produk per kapita. Dari segi teori pendekatan ini sudah kadaluwarsa.
• (6). Dunia pendidikan masih belum bisa diharapkan untuk menghasilkan kader-kader pemberdayaan dan pembangunan manusiawi dan ahli. Sebagai ahli pun bisa diragukan apabila praktek-praktek tidak jujur seperti yang disinyalir oleh Mendiknas Moh Nuh masih merajalela. Padahal sebenarnya dari dunia pendidikan diharapkan bisa lahir kader-kader pemberdayaan dan pembangunan yang manusiawi dan ahli. Diharapkan sebagai sumber think tank (pemikir-pemikir) merakyat sesuai harapan para pendahulu Kalteng. Tanpa tenaga-tenaga demikian, orientasi di atas tidak mungkin diejawantahkan. Saya melihat di Kalteng ada suatu kelengangan intelektualitas (intellectuality loneliness and emptiness). Berapa banyak cendekiawan dalam arti sesungguhnya di daerah ini? Saya mengalamatkan pertanyaan ini kepada Rektor Unpar.
• Singkatnya: orientasi tanggap zaman dan keadaan, tapi ada torpedo di lapangan. Reformasi birokrasi, struktur dan kultur perlu dilakukan sebagai hal mendesak. Dengan keadaan di atas, bagaimana pemuda memperkuat komitmen untuk melaksanakan orientasi atau arah pembangunan 5 tahun ke depan? Wacana pembangunanpun niscaya diperdebatkan ulang.
6. Pengawalan Terhadap Pengelolaan Kekuasaaan: Sekarang ini, negara terlalu kuat, rakyat lemah. Kontrol sosial perlu diperkuat untuk mengawal pemberdayaan dan pembangunan sesuai orientasi di atas. LSM-LSM pun perlu dikontrol. Masyarakat Adat merupakan kekuatan potensial sebagai kekuatan kontrol jika mereka dibebaskan dari aneksasi. Sebagai kekuatan pengawal, buruh tambang, perkebunan, guru-guru, petani, perlu dibangun sebagai patner sosial yang independen. Mahasiswa perlu aktif dan mengembangkan diri bebas dari kekangan, pungli. Kebebasan mimbar ditegakkan.
7. Keterbukaan Informasi: Sesuai undang-udang No. 14/2008 keterbukaan informasi niscaya dilaksanakan untuk mengawal pemberdayaan dan pembangunan Kalteng sebagai betang budaya dan betang Uluh Kalteng.
8. Nucleus Forces: Sekalipun sekarang dan justru karena ada perubahan perkembangan demografis di Kalteng maka seniscayanya pengelola kekuasaan mengambil Uluh Itah (Etnik Dayak) sebagai nucleus forces guna mempersatukan seluruh Uluh Kalteng yang beridentitas Kalteng. Dengan bersandar pada nucleus forces demikian « Itah tau » (Kita Bisa) mencapai tujuan sesuai arah di atas. Menterpurukkan Uluh Itah sama dengan mengkhianati para pendiri Kalteng dan cita-cita mereka. Akankah terjadi khianat demikian ?
Palangka Raya, 21 Desember 2009
KUSNI SULANG
Alamat Blog : http://jurnaltoddoppuli.wordpress.com
Daftar Pustaka:
• Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Kalmantan Tengah, « Prakarsa Teras-Diran Membuka Isolasi Mewujudkan Kalimantan Tengah Yang Sejahtera Dan Bermartabat », Palangka Raya, Agustus 2009.
• Budiman, Arief , « Kebebasan, Negara, Pembangunan. Kumpulan Tulisan 1965-2005” Freedom Institute, Jakarta, Agustus 2006.
• Kavanag, Dennis, « Kebudayaan Politik », Penerbit Bina Aksara, Jakarta, 1982.
• Khamenei, Imam Ali, “Perang Kebudayaan”, Penerbit Cahaya, Jakarta, 2005.
• Kurik, A. Suman, Drs, MM, « Membangun Ekonomi Kerakyatan », Penerbit Graha Guru, Yogyakarta, 2008.
• Kurniawan, Nanang Indra, « Globalisasi Dan Negara : Perspektif Institusionalisme », Laboratorium Juruqan Ilmu Pemerintah, Fisipol UGMn, Yogyakarta, April 2009.
• Kusni, JJ, « Negara Etnik. Beberapa Gagasan Pemberdayaan Suku Dayak », Fuspad, Yogyakarta, 2001.
• —————-, « Dayak Membangun. Masalah Etnis dan Pembangunan. Kasus Dayak Kalimantan Tengah », PT. Paragon, Jakarta, 1994.
• Lay, Cornelis (Ed.), « Membangun NKRI dari Bumi Tambun Bungai Kalimantan Tengah », Kerjasama Provinsi Kalimantan Tengah dan JIP Fisipol UGM, Yogyakarta, Juli 2007.
• Narang, Agustin Teras, « Mimpi, Cita-Cita &Tekad Teras-Diran Untuk Kalteng »Pidato Dalam Rangka Pemaparan Visi, Misi rogram Kerja Agustin Teras Narang, SH dan Ir. H. Achmad Diran, Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2005-2010.
• Pergub No.13 Tahun 2009.
• Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah No. 16 Tahun 2008 Tentang Kelembagaan Adat Dayak Di Kalimantan Tengah”, Biro Hukum Selretariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya, 2009.
• Rinting, A.G, « Koperasi Sebagai Upaya Membangun Kemandirian Ekonomi Rakyat », makalah sampaikan pada seminar Labda Palangka Raya, di Kum Kum, Palangka Raya, 7 Desember 2009.
• Rusan, Ahim S, Prof. DR, et al, « Sejarah Kalimantan Tengah », Penerbit Kerjasama Lembaga Universitas Palangka Raya dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya, Februari 2005.
• Sen, Amartya, « Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas », PT.Buku Kita, 2007.
• Santoso,Puwo dan Lay,Cornelis, (ed.) « Kalimantan Tengah Membangun Dari Pedalaman & Membangun Dengan Komitmen”, Penerbit Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, JIP Universitas GadjahMada, The ATN Center, Yogyakarta, Agustus 2009.
• Soyomukti, Nurni, « Revolusi Sandidinista. Perjuangan Tanpa Akhir Melawan Neo-Liberalisme », Penerbit Garasi, Yogyakarta, 2008.
• Suharto, Edi, Ph.D., « Analisisi Kebijakan Publik. Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan Kebijakan Sosial », Edisi Revisi, Penerbit Alfabeta, Bandung, Mei 2005.
• ——————–, “Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik”, Penerbit Alfabeta Bandung, Juli 2008.
• Tunggul Alam, Wawan, “Di bawah Cengkeraman Asing. Membongkar Akar Persoalannya dan Tawaran Revolusi untuk Menjadi Tuan di Negeri Sendiri”, Penerbit Ufuk Press, Jakarta, Juli 2009.
• Yuwono, Islantoro Dwi, “Boediono dan Neoliberalisme”, Penerbit Bio Pustaka, 2009.
Leave a Comment
Leave a Comment
Leave a Comment


