Naga Berlidah Api: Kumpulan Sajak tentang Hausmann Baboe

Cover Depan

Judul: Naga Berlidah Api Kumpulan Sajak tentang Hausmann Baboe

Penulis: Kusni Sulang

Penerbit: Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah

Tahun terbit: Januari 2014

Pemesanan: Abdi Anang Sukri (081329051783)

Muatan Lokal:100 Peribahasa, Pepatah, dan Ungkapan Dayak Ngaju

cover depan

Judul: 100 Peribahasa, Pepatah, dan Ungkapan Dayak Ngaju

Penyusun: Kusni Sulang & Andriani S. Kusni

Penerbit: Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah

Tahun Terbit: Januari 2014

Pemesanan: Abdi Anang Sukri (081329051783)

Perhimpunan Dayak Melayu Diminta Bubar

Foto-Foto Demonstrasi oleh Andriani S. Kusni

Lokasi: Jl. Yos Sudarso, Palangka Raya

Tanggal: 9 Januari 2014 pukul 9:00-10:30

Tuntutan

Orasi (Photograph by Andriani S. Kusni)

Kerumunan (Photograph by Andriani S. Kusni)

Pengamanan (Photograph by Andriani S. Kusni)

Photograph by Andriani S. Kusni

Deretan Spanduk (Photograph by Andriani S. Kusni)

Menit-Menit Lepasnya Timor-Timur

MENIT-MENIT LEPASNYA TIMOR-TIMUR DARI INDONESIA

 

Berikut ini adalah tulisan seorang wartawan yang meliput jajak pendapat di Dili, Timor-timur. Tulisan berikut ini sungguh luar biasa, namun sekaligus membuat dada sesak.

 

Ditulis oleh Kafil Yamin, wartawan kantor berita The IPS Asia-Pacific, Bangkok, yang dikirim ke Timor Timur pada tanggal 28 Agustus 1999 untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999. Judul asli dari tulisan ini adalah Menit-Menit yang Luput dari Catatan Sejarah Indonesia. Saya sengaja ubah judulnya dengan maksud agar lebih jelas mengenai apa yang terkandung dalam tulisan tersebut. 

 

MENIT-MENIT YANG LUPUT DARI CATATAN SEJARAH INDONESIA

 

Oleh: Kafil Yamin

 

Jajak pendapat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah referendum, adalah buah dari berbagai tekanan internasioal kepada Indonesia yang sudah timbul sejak keruntuhan Uni Soviet tahun 1989. Belakangan tekanan itu makin menguat dan menyusahkan Indonesia. Ketika krisis moneter menghantam negara-negara Asia Tenggara selama tahun 1997-1999, Indonesia terkena. Guncangan ekonomi sedemikian hebat; berimbas pada stabilitas politik; dan terjadilah jajak pendapat itu.

 

Kebangkrutan ekonomi Indonesia dimanfaatkan oleh pihak Barat, melalui IMF dan Bank Dunia, untuk menekan Indonesia supaya melepas Timor Timur. IMF dan Bank Dunia bersedia membantu Indonesia lewat paket yang disebut bailout, sebesar US$43 milyar, asal Indonesia melepas Timtim.

 

Apa artinya ini? Artinya keputusan sudah dibuat sebelum jajak pendapat itu dilaksanakan. Artinya bahwa jajak pendapat itu sekedar formalitas. Namun meski itu formalitas, toh keadaan di kota Dili sejak menjelang pelaksanan jajak pendapat itu sudah ramai nian. Panita jajak pendapat didominasi bule Australia dan Portugis. Wartawan asing berdatangan. Para pegiat LSM pemantau jajak pendapat, lokal dan asing, menyemarakkan pula – untuk sebuah sandiwara besar. Hebat bukan?

 

Sekitar Jam 1 siang, tanggal 28 Agustus 1999, saya mendarat di Dili. Matahari mengangkang di tengah langit. Begitu menyimpan barang-barang di penginapan [kalau tidak salah, nama penginapannya Dahlia, milik orang Makassar], saya keliling kota Dili. Siapapun yang berada di sana ketika itu, akan berkesimpulan sama dengan saya: kota Dili didominasi kaum pro-integrasi. Mencari orang Timtim yang pro-kemerdekaan untuk saya wawancarai, tak semudah mencari orang yang pro-integrasi.

 

Penasaran, saya pun keluyuran keluar kota Dili, sampai ke Ainaro dan Liquica, sekitar 60 km dari Dili. Kesannya sama: lebih banyak orang-orang pro-integrasi. Di banyak tempat, banyak para pemuda-pemudi Timtim mengenakan kaos bertuliskan Mahidi [Mati-Hidup Demi Integrasi], Gadapaksi [Garda Muda Penegak Integrasi], BMP [Besi Merah Putih], Aitarak [Duri].

 

Setelah seharian berkeliling, saya berkesimpulan Timor Timur akan tetap bersama Indonesia. Bukan hanya dalam potensi suara, tapi dalam hal budaya, ekonomi, sosial, tidak mudah membayangkan Timor Timur bisa benar-benar terpisah dari Indonesia. Semua orang Timtim kebanyakan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Para penyedia barang-barang kebutuhan di pasar-pasar adalah orang Indonesia. Banyak pemuda-pemudi Timtim yang belajar di sekolah dan universitas Indonesia, hampir semuanya dibiayai pemerintah Indonesia. Guru-guru di sekolah-sekolah Timtim pun kebanyakan orang Indonesia, demikian juga para petugas kesehatan, dokter, mantri.

 

Selepas magrib, 28 Agustus 1999, setelah mandi dan makan, saya duduk di lobi penginapan, minum kopi dan merokok. Tak lama kemudian, seorang lelaki berusia 50an, tapi masih terlihat gagah, berambut gondrong, berbadan atletis, berjalan ke arah tempat duduk saya; duduk dekat saya dan mengeluarkan rokok. Rupanya ia pun hendak menikmati rokok dan kopi.

 

Mungkin karena dipersatukan oleh kedua barang beracun itu, kami cepat akrab. Dia menyapa duluan: “Dari mana?” sapanya.

 

“Dari Jakarta,” jawabku, sekalian menjelaskan bahwa saya wartawan, hendak meliput jajak pendapat.

 

Entah kenapa, masing-masing kami cepat larut dalam obrolan. Dia tak ragu mengungkapkan dirinya. Dia adalah mantan panglima pasukan pro-integrasi, yang tak pernah surut semangatnya memerangi Fretilin [organisasi pro-kemerdekaan], “karena bersama Portugis, mereka membantai keluarga saya,” katanya. Suaranya dalam, dengan tekanan emosi yg terkendali. Terkesan kuat dia lelaki matang yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Tebaran uban di rambut gondrongnya menguatkan kesan kematangan itu.

 

“Panggil saja saya Laffae,” katanya.

 

“Itu nama Timor atau Portugis?” Saya penasaran.

 

“Timor. Itu julukan dari kawan maupun lawan. Artinya ‘buaya’,” jelasnya lagi.

 

Julukan itu muncul karena sebagai komandan milisi, dia dan pasukannya sering tak terdeteksi lawan. Setelah lawan merasa aman, tiba-tiba dia bisa muncul di tengah pasukan lawannya dan melahap semua yang ada di situ. Nah, menurut anak buah maupun musuhnya, keahlian seperti itu dimiliki buaya.

 

Dia pun bercerita bahwa dia lebih banyak hidup di hutan, tapi telah mendidik, melatih banyak orang dalam berpolitik dan berorganisasi. “Banyak binaan saya yang sudah jadi pejabat,” katanya. Dia pun menyebut sejumlah nama tokoh dan pejabat militer Indonesia yang sering berhubungan dengannya.

 

Rupanya dia seorang tokoh. Memang, dilihat dari tongkrongannya, tampak sekali dia seorang petempur senior. Saya teringat tokoh pejuang Kuba, Che Guevara. Hanya saja ukuran badannya lebih kecil.

 

“Kalau dengan Eurico Guterres? Sering berhubungan?” saya penasaran.

 

“Dia keponakan saya,” jawab Laffae. “Kalau ketemu, salam saja dari saya.”

 

Cukup lama kami mengobrol. Dia menguasai betul sejarah dan politik Timtim dan saya sangat menikmatinya. Obrolan usai karena kantuk kian menyerang.

 

Orang ini menancapkan kesan kuat dalam diri saya. Sebagai wartawan, saya telah bertemu, berbicara dengan banyak orang, dari pedagang kaki lima sampai menteri, dari germo sampai kyai, kebanyakan sudah lupa. Tapi orang ini, sampai sekarang, saya masih ingat jelas.

 

Sambil berjalan menuju kamar, pikiran bertanya-tanya: kalau dia seorang tokoh, kenapa saya tak pernah mendengar namanya dan melihatnya? Seperti saya mengenal Eurico Gueterres, Taur Matan Ruak? Xanana Gusmao? Dan lain-lain? Tapi sudahlah.

 

Pagi tanggal 29 Agustus 1999. Saya keluar penginapan hendak memantau situasi. Hari itu saya harus kirim laporan ke Bangkok. Namun sebelum keliling saya mencari rumah makan untuk sarapan. Kebetulan lewat satu rumah makan yang cukup nyaman. Segera saya masuk dan duduk. Eh, di meja sana saya melihat Laffae sedang dikelilingi 4-5 orang, semuanya berseragam Pemda setempat. Saya tambah yakin dia memang orang penting – tapi misterius.

 

Setelah bubar, saya tanya Laffae siapa orang-orang itu. “Yang satu Bupati Los Palos, yang satu Bupati Ainaro, yang dua lagi pejabat kejaksaan,” katanya. “Mereka minta nasihat saya soal keadaan sekarang ini,” tambahnya.

 

Kalau kita ketemu Laffae di jalan, kita akan melihatnya ‘bukan siapa-siapa’. Pakaiannya sangat sederhana. Rambutnya terurai tak terurus. Dan kalau kita belum ‘masuk’, dia nampak pendiam.

 

Saya lanjut keliling. Kota Dili makin semarak oleh kesibukan orang-orang asing. Terlihat polisi dan tentara UNAMET berjaga-jaga di setiap sudut kota. Saya pun mulai sibuk, sedikitnya ada tiga konferensi pers di tempat yang berbeda. Belum lagi kejadian-kejadian tertentu. Seorang teman wartawan dari majalah Tempo, Prabandari, selalu memberi tahu saya peristiwa-peristiwa yang terjadi.

 

Dari berbagai peristiwa itu, yang menonjol adalah laporan dan kejadian tentang kecurangan panitia penyelenggara, yaitu UNAMET. Yang paling banyak dikeluhkan adalah bahwa UNAMET hanya merekrut orang-orang pro-kemerdekaan di kepanitiaan. Klaim ini terbukti. Saya mengunjungi hampir semua TPS terdekat, tidak ada orang pro-integrasi yang dilibatkan.

 

Yang bikin suasana panas di kota yang sudah panas itu adalah sikap polisi-polisi UNAMET yang tidak mengizinkan pemantau dan pengawas dari kaum pro-integrasi, bahkan untuk sekedar mendekat. Paling dekat dari jarak 200 meter. Tapi pemantau-pemantau bule bisa masuk ke sektratriat. Bahkan ikut mengetik!

 

Di sini saya perlu mengungkapkan ukuran mental orang-orang LSM dari Indonesia, yang kebanyakan mendukung kemerdekaan Timtim karena didanai asing. Mereka tak berani mendekat ke TPS dan sekretariat, baru ditunjuk polisi UNAMET saja langsung mundur. Tapi kepada pejabat-pejabat Indonesia mereka sangat galak: menuding, menuduh, menghujat. Berani melawan polisi. Di hadapan polisi bule mereka mendadak jadi inlander betulan.

 

Tambah kisruh adalah banyak orang-orang pro-integrasi tak terdaftar sebagai pemilih. Dari 4 konferensi pers, 3 di antaranya adalah tentang ungkapan soal ini. Bahkan anak-anak Mahidi mengangkut segerombolan orang tua yang ditolak mendaftar pemilih karena dikenal sebagai pendukung integrasi.

 

Saya pun harus mengungkapkan ukuran mental wartawan-wartawan Indonesia di sini. Siang menjelang sore, UNAMET menyelenggarakan konferensi pers di Dili tentang rencana penyelenggaraan jajak pendapat besok. Saya tentu hadir. Lebih banyak wartawan asing daripada wartawan Indonesia. Saya yakin wartawan-wartawan Indonesia tahu kecurangan-kecurangan itu.

 

Saat tanya jawab, tidak ada wartawan Indonesia mempertanyakan soal praktik tidak fair itu. Bahkan sekedar bertanya pun tidak. Hanya saya yang bertanya tentang itu. Jawabannya tidak jelas. Pertanyaan didominasi wartawan-wartawan bule.

 

Tapi saya ingat betapa galaknya wartawan-wartawan Indonesia kalau mewawancarai pejabat Indonesia terkait dengan HAM atau praktik-praktik kecurangan. Hambatan bahasa tidak bisa jadi alasan karena cukup banyak wartawan Indonesia yang bisa bahasa Inggris. Saya kira sebab utamanya rendah diri, seperti sikap para aktifis LSM lokal tadi.

 

Setelah konferensi pers usai, sekitar 2 jam saya habiskan untuk menulis laporan. Isi utamanya tentang praktik-praktik kecurangan itu. Selain wawancara, saya juga melengkapinya dengan pemantauan langsung.

 

Kira-kira 2 jam setelah saya kirim, editor di Bangkok menelepon. Saya masih ingat persis dialognya:

 

“Kafil, we can’t run the story,” katanya.

 

“What do you mean? You send me here. I do the job, and you don’t run the story?” saya berreaksi.

 

“We can’t say the UNAMET is cheating…” katanya.

 

“That’s what I saw. That’s the fact. You want me to lie?” saya agak emosi.

 

“Do they [pro-integrasi] say all this thing because they know they are going to loose?”

 

“Well, that’s your interpretation. I’ll make it simple. I wrote what I had to and it’s up to you,”

 

“I think we still can run the story but we should change it.”

 

“ I leave it to you,” saya menutup pembicaraan.

 

Saya merasa tak nyaman. Namun saya kemudian bisa maklum karena teringat bahwa IPS Asia-Pacific itu antara lain didanai PBB.

 

***

 

Kira-kira jam 5:30 sore, 29 Agustus 199, saya tiba di penginapan. Lagi-lagi, Laffae sedang dikerumuni tokoh-tokoh pro-integrasi Timtim. Terlihat Armindo Soares, Basilio Araujo, Hermenio da Costa, Nemecio Lopes de Carvalho, nampaknya mereka sedang membicarakan berbagai kecurangan UNAMET.

 

Makin malam, makin banyak orang berdatangan. Orang-orang tua, orang-orang muda, tampaknya dari tempat jauh di luar kota Dili. Kelihatan sekali mereka baru menempuh perjalanan jauh.

 

Seorang perempuan muda, cukup manis, tampaknya aktifis organisasi, terlihat sibuk mengatur rombongan itu. Saya tanya dia siapa orang-orang ini.

 

“Mereka saya bawa ke sini karena di desanya tidak terdaftar,” katanya. “Mereka mau saya ajak ke sini. Bahkan mereka sendiri ingin. Agar bisa memilih di sini. Tidak ada yang membiayai. Demi merah putih,” jawabnya bersemangat.

 

Saya tergetar mendengar bagian kalimat itu: “…demi merah putih.”

 

Mereka semua ngobrol sampai larut. Saya tak tahan. Masuk kamar. Tidur. Besok jajak pendapat.

 

Pagi 30 Agustus 1999. Saya keliling Dili ke tempat-tempat pemungutan suara. Di tiap TPS, para pemilih antri berjajar. Saya bisa berdiri dekat dengan antrean-antrean itu. Para ‘pemantau’ tak berani mendekat karena diusir polisi UNAMET.

 

Karena dekat, saya bisa melihat dan mendengar bule-bule Australia yang sepertinya sedang mengatur barisan padahal sedang kampanye kasar. Kebetulan mereka bisa bahasa Indonesia: “Ingat, pilih kemerdekaan ya!” teriak seorang cewek bule kepada sekelompok orang tua yang sedang antre. Bule-bule yang lain juga melakukan hal yang sama.

 

Sejenak saya heran dengan kelakuan mereka. Yang sering mengampanyekan kejujuran, hak menentukan nasib sendiri. Munafik, pikir saya. Mereka cukup tak tahu malu.

 

Setelah memantau 4-5 TPS saya segera mencari tempat untuk menulis. Saya harus kirim laporan. Setelah mengirim laporan. Saya manfaat waktu untuk rileks, mencari tempat yang nyaman, melonggarkan otot. Toh kerja hari itu sudah selesai.

 

Sampailah saya di pantai agak ke Timur, di mana patung Maria berdiri menghadap laut, seperti sedang mendaulat ombak samudra. Patung itu bediri di puncak bukit. Sangat besar. Dikelilingi taman dan bangunan indah. Untuk mencapai patung itu, anda akan melewati trap tembok yang cukup landai dan lebar. Sangat nyaman untuk jalan berombongan sekali pun. Sepanjang trap didindingi bukit yang dilapisi batu pualam. Di setiap kira jarak 10 meter, di dinding terpajang relief dari tembaga tentang Yesus, Bunda Maria, murid-murid Yesus, dengan ukiran yang sangat bermutu tinggi.

 

 

Patung dan semua fasilitasnya ini dibangun pemerintah Indonesia. Pasti dengan biaya sangat mahal. Ya, itulah biaya politik.

 

Tak terasa hari mulai redup. Saya harus pulang. Besok pengumuman hasil jajak pendapat.

 

Selepas magrib, 30 September 1999. Kembali saya menunaikan kewajiban yang diperintahkan oleh kebiasaan buruk: merokok sambil minum kopi di lobi penginapan. Kali ini, Laffae mendahului saya. Dia sudah duluan mengepulkan baris demi baris asap dari hidung dan mulutnya. Kami ngobrol lagi.

 

Tapi kali ini saya tidak leluasa. Karena banyak tamu yang menemui Laffae, kebanyakan pentolan-pentolan milisi pro-integrasi. Ditambah penginapan kian sesak. Beberapa pemantau nginap di situ. Ada juga polisi UNAMET perwakilan dari Pakistan.

 

Ada seorang perempuan keluar kamar, melihat dengan pandangan ‘meminta’ ke arah saya dan Laffae. Kami tidak mengerti maksudnya. Baru tau setelah lelaki pendampingnya bilang dia tak kuat asap rokok. Laffae lantas bilang ke orang itu kenapa dia jadi pemantau kalau tak kuat asap rokok. Kami berdua terus melanjutkan kewajiban dengan racun itu. Beberapa menit kemudian cewek itu pingsan dan dibawa ke klinik terdekat.

 

Saya masuk kamar lebih cepat. Tidur.

 

Pagi, 4 September 1999. Pengumuman hasil jajak pendapat di hotel Turismo Dili. Bagi saya, hasilnya sangat mengagetkan: 344.508 suara untuk kemerdekaan, 94.388 untuk integrasi, atau 78,5persen berbanding 21,5persen.

 

Ketua panitia mengumumkan hasil ini dengan penuh senyum, seakan baru dapat rezeki nomplok. Tak banyak tanya jawab setelah itu. Saya pun segera berlari mencari tempat untuk menulis laporan. Setelah selesai, saya balik ke penginapan.

 

Di lobi, Laffae sedang menonton teve yang menyiarkan hasil jajak pendapat. Sendirian. Saat saya mendekat, wajahnya berurai air mata. “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Mereka curang..” katanya tersedu. Dia merangkul saya. Lelaki pejuang, tegar, matang ini mendadak luluh. Saya tak punya kata apapun untuk menghiburnya. Lagi pula, mata saya saya malah berkaca-kaca, terharu membayangkan apa yang dirasakan lelaki ini. Perjuangan keras sepanjang hidupnya berakhir dengan kekalahan.

 

Saya hanya bisa diam. Dan Laffae pun nampaknya tak mau kesedihannya terlihat orang lain. Setelah beberapa jenak ia berhasil bersikap normal.

 

“Kota Dili ini akan kosong..” katanya. Pelan tapi dalam. “Setelah kosong, UNAMET mau apa.”

 

Telepon berbunyi, dari Prabandari Tempo. Dia memberi tahu semua wartawan Indonesia segera dievakuasi pakai pesawat militer Hercules, karena akan ada penyisiran terhadap semua wartawan Indonesia. Saya diminta segera ke bandara saat itu juga. Kalau tidak, militer tidak bertanggung jawab. Semua wartawan Indonesia sudah berkumpul di bandara, tinggal saya. Hanya butuh lima menit bagi saya untuk memutuskan tidak ikut. “Saya bertahan, nDari. Tinggalkan saja saya.”

 

Laffae menguping pembicaraan. Dia menimpali: “Kenapa wartawan kesini kalau ada kejadian malah lari?” katanya. Saya kira lebih benar dia mikirnya.

 

Saya lantas keluar, melakukan berbagai wawancara, menghadiri konferensi pers, kebanyakan tentang kemarahan atas kecurangan UNAMET. “Anggota Mahidi saja ada 50 ribu; belum Gardapaksi, belum BMP, belum Halilintar, belum masyarakat yang tak ikut organisasi,” kata Nemecio Lopez, komandan milisi Mahidi.

 

Kembali ke penginapan sore, Laffae sedang menghadapi tamu 4-5 orang pentolan pro-integrasi. Dia menengok ke arah saya: “Kafil! Mari sini,” mengajak saya bergabung.

 

“Sebentar!” saya bersemangat. Saya tak boleh lewatkan ini. Setelah menyimpan barang-barang di kamar, mandi kilat. Saya bergabung. Di situ saya hanya mendengarkan. Ya, hanya mendengarkan.

 

“Paling-paling kita bisa siapkan seribuan orang,” kata ketua Armindo Soares, saya bertemu dengannya berkali-kali selama peliputan.

 

“Saya perlu lima ribu,” kata Laffae.

 

“Ya, lima ribu baru cukup untuk mengguncangkan kota Dili,” katanya, sambil menengok ke arah saya.

 

“Kita akan usahakan,” kata Armindo.

 

Saya belum bisa menangkap jelas pembicaraan mereka ketika seorang kawan memberitahu ada konferensi pers di kediaman Gubernur Abilio Soares. Saya segera siap-siap berangkat ke sana. Sekitar jam 7 malam, saya sampai di rumah Gubernur. Rupanya ada perjamuan. Cukup banyak tamu. Soares berbicara kepada wartawan tentang penolakannya terhadap hasil jajak pendapat karena berbagai kecurangan yang tidak bisa dimaklumi.

 

Setelah ikut makan enak, saya pulang ke penginapan sekitar jam 8:30 malam. Sudah rindu bersantai dengan Laffae sambil ditemani nikotin dan kafein. Tapi Laffae tidak ada. Anehnya, penginapan jadi agak sepi. Para pemantau sudah check-out, juga polisi-polisi UNAMET dari Pakistan itu. Tak banyak yang bisa dilakukan kecuali tidur.

 

Namun saat rebah, kantuk susah datang karena terdengar suara-suara tembakan. Mula-mula terdengar jauh. Tapi makin lama makin terdengar lebih dekat dan frekuensi tembakannya lebih sering. Mungkin karena perut kenyang dan badan capek, saya tertidur juga.

 

Tanggal 5 September pagi, sekitar jam 09:00, saya keluar penginapan. Kota Dili jauh lebi lengang. Hanya terlihat kendaran-kendaraan UNAMET melintas di jalan. Tak ada lagi kendaraan umum. Tapi saya harus keluar. Apa boleh buat – jalan kaki. Makin jauh berjalan makin sepi, tapi tembakan nyaris terdengar dari segala arah. Sesiang ini, Dili sudah mencekam.

 

Tidak ada warung atau toko buka. Perut sudah menagih keras. Apa boleh buat saya berjalan menuju hotel Turismo, hanya di hotel besar ada makanan. Tapi segera setelah itu saya kembali ke penginapan. Tidak banyak yang bisa dikerjakan hari itu.

 

Selepas magrib 5 Setember 1999. Saya sendirian di penginapan. Lapar. Tidak ada makanan. Dili sudah seratus persen mencekam. Bunyi tembakan tak henti-henti. Terdorong rasa lapar yang sangat, saya keluar penginapan.

 

Selain mencekam. Gelap pula. Hanya di tempat-tempat tertentu lampu menyala. Baru kira-kira 20 meter berjalan, gelegar tembakan dari arah kanan. Berhenti. Jalan lagi. Tembakan lagi dari arah kiri. Tiap berhenti ada tarikan dua arah dari dalam diri: kembali atau terus. Entah kenapa, saya selalu memilih terus, karena untuk balik sudah terlanjur jauh. Saya berjalan sendirian; dalam gelap; ditaburi bunyi tembakan. Hati dipenuhi adonan tiga unsur: lapar, takut, dan perjuangan menundukkan rasa takut. Lagi pula, saya tak tau ke arah mana saya berjalan. Kepalang basah, pokoknya jalan terus.

 

Sekitar jam 11 malam, tanpa disengaja, kaki sampai di pelabuhan Dili. Lumayan terang oleh lampu pelabuhan. Segera rasa takut hilang karena di sana banyak sekali orang. Mereka duduk, bergeletak di atas aspal atau tanah pelabuhan. Rupanya, mereka hendak mengungsi via kapal laut.

 

Banyak di antara mereka yang sedang makan nasi bungkus bersama. Dalam suasa begini, malu dan segan saya buang ke tengah laut. Saya minta makan! “Ikut makan ya?” kata saya kepada serombongan keluarga yang sedang makan bersama. “Silahkan bang!.. silahkan!..” si bapak tampak senang. Tunggu apa lagi, segera saya ambil nasinya, sambar ikannya. Cepat sekali saya makan. Kenyang sudah, sehingga ada tenaga untuk kurang ajar lebih jauh: sekalian minta rokok ke bapak itu. Dikasih juga.

 

Sekitar jam 3 malam saya berhasil kembali ke penginapan.

 

Pagi menjelang siang, tanggal 6 September 1999. Saya hanya duduk di lobi penginapan karena tidak ada kendaraan. Tidak ada warung dan toko yang buka. Yang ada hanya tembakan tak henti-henti. Dili tak berpenghuni – kecuali para petugas UNAMET. Nyaris semua penduduk Dili mengungsi, sebagian via kapal, sebagian via darat ke Atambua. Orang-orang pro-kemerdekaan berlarian diserang kaum pro-integrasi. Markas dan sekretariat dibakar. Darah tumpah lagi entah untuk keberapa kalinya.

 

Sekarang, saya jadi teringat kata-kata Laffae sehabis menyaksikan pengumuman hasil jajak pedapat kemarin: “Dili ini akan kosong..”

 

Saya pun teringat kata-kata dia: “Saya perlu lima ribu orang untuk mengguncang kota Dili..” Ya, sekarang saya berkesimpulan ini aksi dia. Aksi pejuang pro-integrasi yang merasa kehilangan masa depan. Ya, hanya saya yang tahu siapa tokoh utama aksi bumi hangus ini, sementara teve-teve hanya memberitakan penyerangan mililis pro-integrasi terhadap kaum pro-kemerdekaan.

 

Tentu, orang-orang pro-integrasi pun mengungsi. Laffae dan pasukannya ingin semua orang Timtim bernasib sama: kalau ada satu pihak yang tak mendapat tempat di bumi Loro Sae, maka semua orang timtim harus keluar dari sana. Itu pernah diucapkannya kepada saya.

 

Inilah hasil langsung jajak pendapat yang dipaksakan harus dimenangkan. Hukum perhubungan antar manusia saat itu sepasti hukum kimia: tindakan lancung dan curang pasti berbuah bencana.

 

***

 

Saya harus pulang, karena tidak banyak yang bisa dilihat dan ditemui. Untung masih ada omprengan yang mau mengantara ke bandara. Sekitar jam 11 pagi saya sampai di pelabuhan udara Komoro. Keadaan di bandara sedang darurat. Semua orang panik. Semua orang ingin mendapat tiket dan tempat duduk pada jam penerbangan yang sama. Karena hura-hara sudah mendekati bandara. Lagi pula penerbangan jam itu adalah yang satu-satunya dan terakhir.

 

Bule-bule yang biasanya tertib kini saling sikut, saling dorong sampai ke depan komputer penjaga kounter. Ada bule yang stres saking tegangnya sampai-sampai minta rokok kepada saya yg berdiri di belakang tenang-tenang saja. Beginilah nikmatnya jadi orang beriman.

 

Banyak yang tidak kebagian tiket. Entah kenapa saya lancar-lancar saja. Masuk ke ruangan tunggu, di situ sudah ada Eurico Gutteres. Saya hampiri dia, saya bilang saya banyak bicara dengan Laffae dan dia menyampaikan salam untuknya. Eurico memandang saya agak lama, pasti karena saya menyebut nama Laffae itu.

 

Sore, 7 Novembe3, 1999, saya mendarat di Jakarta.

 

Penduduk Timtim mengungsi ke Atambua, NTT. Sungguh tidak mudah mereka mengungsi. Polisi UNAMET berusaha mencegah setiap bentuk pengungsian ke luar Dili. Namun hanya sedikit yang bisa mereka tahan di Dili.

 

Di kamp-kamp pengungsian Atambua, keadaan sungguh memiriskan hati. Orang-orang tua duduk mecakung; anak-anak muda gelisah ditelikung rasa takut; sebagian digerayangi rasa marah dan dendam; anak-anak diliputi kecemasan. Mereka adalah yang memilih hidup bersama Indonesia. Dan pilihan itu mengharuskan mereka terpisah dari keluarga.

 

alt

 

Pemerintah negara yang mereka pilih sebagai tumpuan hidup, jauh dari menyantuni mereka. Kaum milisi pro-integrasi dikejar-kejar tuntutan hukum atas ‘kejahatan terhadap kemanusiaan’, dan Indonesia, boro-boro membela mereka, malah ikut mengejar-ngejar orang Timtim yang memilih merah putih itu. Eurico Guterres dan Abilio Soares diadili dan dihukum di negara yang dicintai dan dibelanya.

 

Jendral-jendral yang dulu menikmati kekuasaan di Timtim, sekarang pada sembunyi. Tak ada yang punya cukup nyali untuk bersikap tegas, misalnya: “Kami melindungi rakyat Timtim yang memilih bergabung dengan Indonesia.” Padahal, mereka yang selalu mengajarkan berkorban untuk negara; menjadi tumbal untuk kehormatan pertiwi, dengan nyawa sekalipun.

 

Sementara itu, para pengungsi ditelantarkan. Tak ada solidaritas kebangsaan yang ditunjukkan pemerintah dan militer Indonesia.

 

Inilah tragedi kemanusiaan. Melihat begini, jargon-jargon negara-negara Barat, media asing, tentang ‘self determination’, tak lebih dari sekedar ironi pahit. Sikap negara-negara Barat dan para aktifis kemanusiaan internasional yang merasa memperjuangkan rakyat Timtim jadi terlihat absurd. Sebab waktu telah membuktikan bahwa yang mereka perjuangkan tak lebih tak kurang adalah sumberdaya alam Timtim, terutama minyak bumi, yang kini mereka hisap habis-habisan.

 

Pernah Laffae menelepon saya dari Jakarta, kira-kira 3 bulan setelah malapetaka itu. Ketika itu saya tinggal di Bandung. Dia bilang ingin ketemu saya dan akan datang ke Bandung. Saya sangat senang. Tapi dia tak pernah datang..saya tidak tahu sebabnya. Mudah-mudahan dia baik-baik saja.

 

***

 

12 TAHUN BERALU SUDAH. APA KABAR BAILOUT IMF YANG 43 MILYAR DOLAR ITU? SAMPAI DETIK INI, UANG ITU ENTAH DI MANA. ADA BEBERAPA PERCIK DICAIRKAN TAHUN 1999-2000, TAK SAMPAI SEPEREMPATNYA. DAN TIDAK MENOLONG APA-APA. YANG TERBUKTI BUKAN MENCAIRKAN DANA YANG DIJANJIKAN, TAPI MEMINTA PEMERINTAH INDONESIA SUPAYA MENCABUT SUBSIDI BBM, SUBSIDI PANGAN, SUBSIDI LISTRIK, YANG MEMBUAT RAKYAT INDONESIA TAMBAH MISKIN DAN SENGSARA. ANEHNYA, SEMUA SARANNYA ITU DITURUT OLEH PEMERINTAH RENDAH DIRI BIN INLANDER INI.

 

Yang paling dibutuhkan adalah menutupi defisit anggaran. Untuk itulah dana pinjaman [bukan bantuan] diperlukan. Namun IMF mengatasi defisit angaran dengan akal bulus: mencabut semua subsidi untuk kebutuhan rakyat sehingga defisit tertutupi, sehingga duit dia tetap utuh. Perkara rakyat ngamuk dan makin sengsara, peduli amat.

 

Melengkapi akal bulusnya itu IMF meminta pemerintah Indonesia menswastakan semua perusahaan negara, seperti Bank Niaga, BCA, Telkom, Indosat.

 

Pernah IMF mengeluarkan dana cadangan sebesar 9 milyar dolar. Tapi, seperti dikeluhkan Menteri Ekonomi Kwik Kian Gie ketika itu, seperak pun dana itu tidak bisa dipakai karena hanya berfungsi sebagai pengaman. Apa bedanya dengan dana fiktif?

 

Lagi pula, kenapa ketika itu pemerintah Indonesia seperti tak punya cadangan otak, yang paling sederhana sekalipun. KENAPA MAU MELEPAS TIMTIM DENGAN IMBALAN UTANG? BUKANKAN SEMESTINYA KOMPENSASI? ADAKAH DI DUNIA INI ORANG YANG HARTANYA DI BELI DENGAN UTANG? NIH SAYA BAYAR BARANGMU. BARANGMU SAYA AMBIL, TAPI KAU HARUS TETAP MENGEMBALIKAN UANG ITU. BUKANKAH INI SAMA PERSIS DENGAN MEMBERI GRATIS? DAN DALAM KASUS INI, YANG DIKASIH ADALAH NEGARA? YA, INDONESIA MEMBERI NEGARA KEPADA IMF SECARA CUMA-CUMA.

 

Kalau saya jadi wakil pemerintah Indonesia waktu itu, saya akan menawarkan ‘deal’ yang paling masuk akal: “Baik, Timor Timur kami lepas tanpa syarat. Ganti saja dana yang sudah kami keluarkan untuk membangun Timtim selama 24 tahun.” Dengan demikian, tidak ada utang piutang.

SAMPAI HARI INI INDONESIA MASIH MENYICIL UTANG KEPADA IMF, UNTUK SESUATU YANG TAK PERNAH IA DAPATKAN. SAYA HARAP GENERASI MUDA INDONESIA TIDAK SEBODOH PARA PEMIMPIN SEKARANG.

 

KabarNet, 03082013

Indonesia di Jalan Restorasi: Politik Gagasan Surya Paloh

Indonesia di Jalan Restorasi karya Willy Aditya. Repro: Andriani S. Kusni

Indonesia di Jalan Restorasi karya Willy Aditya. Repro: Andriani S. Kusni

POLITISI PEMIKIR

Membaca buku Willy Aditya

“Indonesia di Jalan Restorasi: Politik Gagasan Surya Paloh”, Populis Institut, 2013, xxx + 188 hlm.

Oleh: Kusni Sulang

Pengantar:

Terimakasih telah mengundang dan mengajak saya dalam acara bedah buku ini. Suatu kehormatan, apalagi buku yang dibicarakan adalah Gagasan dari seorang tokoh nasional: Surya Paloh.

Pada masa “jayanya” Orde Baru, saya berterimakasih kepada Surya Paloh yang memberikan kemungkinan saya bekerja  sebagai pembantu luar negeri cq. Eropa Barat untuk Harian Media Indonesia yang dimiliki oleh Surya Paloh, walaupun menggunakan nama lain. Sebagai tanda terimakasih, kemudian saya memberikan kesempatan kepada salah seorang wartawannya untuk belajar jurnalistik di Perancis. Melalui Willy Aditya sebagai kenangan dan salam hangat kepada Bung Surya Paloh, saya serahkan buku tentang Dayak yang kami dari Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah terbitkan (LKD-KT). Dalam tahun 2013 ini kami telah dan akan menerbitkan 10 judul buku tentang kebudayaan Dayak. LKD-KT fokus bekerja dalam soal penelitian dan penerbitan mengenai kebudayaan dan sejarah Kalteng, khususnya  Dayak – hal yang terbengkalai sampai sekarang.

Beberapa Catatan

(1) Politisi Pemikir

Saya hidup di Eropa Barat lebih dari 30 tahun, 28 tahun tinggal di Paris. Di Perancis orang-orang politik terdapat dua macam: (1) Politisi dan (2) Politiciennes. Politiciennes adalah mereka yang berpolitik dengan motif sempit dan karena itu sering menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Sedangkan politisi adalah mereka yang menjadikan dunia politik sebagai sarana menegakkan keadilan. Sehingga mereka bisa disebut sebagai politisi negarawan.

Dua jenis politisi ini sama-sama aktif menulis dan rajin berpikir. Hanya dari segi kuantitas,  politisi negarawan jauh lebih aktif menulis esai, roman, novel, puisi, lagu, drama dan lain genre kesenian dan atau filosof. F. Mitterrand misalnya dikenal sebagai seorang presiden yang berbahasa Perancis sangat bagus dan penulis esais terkemuka. Presiden George Pompidou adalah seorang penyair yang dikenal dengan antologi puisi Perancisnya. André Malraux seorang Menteri Kebudayaan yang novelis terkemuka.Yang mau saya katakan dengan sedikit contoh ini adalah bahwa politisi Perancis bisa dikatakan politisi berbudaya, bahkan ada yang budayawan politisi. Sehingga pendekatan politik mereka berbasiskan kebudayaan.

Di Indonesia, politisi-budayawan begini, barangkali terdapat pada masa Pemerintahan Soekarno. Sedangkan sejak Orde Baru hingga sekarang, politisi-budayawan ini langka sekali didapat. Umumnya pendekatan politisi Indonesia, yang adanya lebih banyak adalah les politiciennes, lebih menjurus ke pendekatan kekuasaan – pendekatan gampang dan memintas atau instan – pola pikir umum dominan di negeri ini. Pendekatan pintas ini menimbulkan pandangan bahwa kekuasaan sama dengan kebenaran, sehingga kritik dipandang sebagai meludahi muka yang dikritik.

Setelah membaca buku Willy Aditya ini, di depan saya muncul seorang yang lain dari les politiciennes yang mendominasi dunia perpolitikan Indonesia. Seorang lain itu bernama Surya Paloh yang politisi tetapi juga seorang pemikir. Berapa banyak gerangan politisi-pemikir di Indonesia sekarang? Buku Willy Aditya memperlihatkan bahwa Surya Paloh ingin menjadi politisi-negarawan dengan konsep yang jelas. Tentu akan lebih pepak lagi apabila berkembang menjadi politisi-negarawan-budayawan. Di negeri-negeri Konfusionis seperti RRT, Viet Nam, ada tradisi bahwa seorang politisi ideal adalah  yang negarawan, menguasai ilmu militer dan kebudayaan (sastra-seni). Mereka ini bukanlah orang-orang lulusan “tiga pintu” (pintu keluarga, pintu sekolah dan pintu kantor) tapi juga lulus dari ujian badai topan perjuangan massa, sehingga tertempa. Berapa banyak politisi di negeri ini yang demikian? Tuturan Willy Aditya, melukiskan Surya Paloh adalah figur yang demikian, walaupun begitu saya tetap ingin mencatat bahwa “daya tahan seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh”. Kadar sesungguhnya seorang manusia baru bisa ditetapkan ketika nafas terakhir telah dihela. Sebab bisa saja sekarang seseorang itu berada “out of the box”, esok-lusa kita saksikan menjadi “man in the box”.

Tokoh politisi-negarawan-budayawan sangat diperlukan oleh negeri kita di mana tidak sedikit politis sebenarnya tidak lebih dari “jiwa-jiwa mati” (the death soul) jika  meminjam istilah N. Gogol.

(2) “Indonesia di Jalan Restorasi”

“Indonesia di Jalan Restorasi” adalah hasil renungan orisinal – paling tidak secara formulasi — Surya Paloh untuk menyelamatkan Republik dan Indonesia sebagai rangkaian nilai dan wujud nilai. Surya Paloh tidak menginginkan revolusi dan melihat reformasi gagal lalu menawarkan “restorasi” sebagai jalan keluar penyelamatan. “Restorasi Indonesia adalah upaya mengembalikan negara dan bangsa Indonesia kepada falsafah dan ideologi Pancasila” (hlm. 87).

Alasan mengembalikan negara dan bangsa Indonesia kepada falsafah dan ideologi Pancasila” barangkali tidak terlalu orisinal sebab Orde Baru ketika naik ke panggung kekuasaan juga menggunakan alasan serupa. Bedanya Orde Baru membidik Soekarnoisme, sedang Surya Paloh mengangkat kembali Soekarnoisme. Karena itu Rachmawati Soekarnoputri menyebut Surya Paloh sebagai “seorang Soekarnois” (endorsement hlm. belakang). Kalau Bung Karno sering mengatakan “revolusi belum selesai”,  suatu pertanyaan: Apakah setelah “mengembalikan negara dan bangsa Indonesia kepada falsafah dan ideologi Pancasila” maka segalanya sudah selesai? Willy Aditya tidak menguraikan hal ini. Seperti halnya Willy juga tidak menjelaskan perspektif dan menuju ke mana “restorasi Indonesia”, sementara Soekarno jelas-jelas menunjuk arah ke Sosialisme ala Indonesia.

Dengan menunjuk jalan “restorasi Indonesia”, Surya Paloh melalui Willy Aditya melukiskan keadaan negera dan bangsa yang runyam. Kerunyaman yang dilawan oleh Surya Paloh.

Yang menjadi pertanyaan saya: Bagaimana sikap Bung Paloh dengan yang disebut “kesaktian Pancasila?” Kemudian Pancasila yang mana yang mau dikembalikan? Benarkah pemahaman saya bahwa yang dimaksudkan dengan Pancasila adalah yang diutarakan oleh Bung Karno dalam Pidato Lahirnya Pancasila (1 Juni 1045). Apakah setelah kembali ke Pancasila (sekali lagi yang mana?)  segalanya relatif akan terestorasi, seperti arah sosialisme ala Indonesia, politik front persatuan nasional Nasakom, dan lain-lain (yang tak disinggung oleh Willy Aditya)? Sehubungan dengan pertanyaan ini, pertanyaan lain saya adalah: Jika demikian apakah tidak lebih kena menggunakan istilah rekonstruksi atau membangun kembali, sesuai dengan ajaran Bung Karno tentang menjebol dan membangun. Bagaimana mencampakkan kerunyaman jika tidak dijebol? Boleh jadi Paloh menggunakan istilah “restorasi Indonesia” untuk keperluan taktis melalui bahasa.

 (3) Soekarnoisme

Rachmawati Soekarnoputri menyebut Surya Paloh sebagai “seorang Soekarnois” artinya Surya Paloh menganut Soekarnoisme yang tidak jelas dikatakan oleh Willy Aditya dalam bukunya yang banyak menguraikan pandangan-pandangan Soekarno di berbagai bidang dengan yang dianut oleh Surya Paloh.

Nasional-demokrasi yang digunakan oleh Surya Paloh dan teman-teman sebagai nama ormas dan kemudian juga nama partai, oleh Soekarno dilihat sebagai tahap perkembangan masyarakat Indonesia pada zaman Soekarno. Nasional artinya anti imperialis, sedangkan demokrasi merupakan perjuangan melawan feodalisme. Tentang tahap nasional-demokrasi sebagai tingkat perkembangan dan bentuk kontradiksi pokok masyarakat  Indonesia hari ini tidak saya dapatkan dalam uraian Willy. Masalah ini menjadi penting kalau kita bicara tentang kekuatan pokok, sahabat atau sekutu dan siapa lawan. Atau perjuangan tanpa lawan? Kalau mengatakan “Tak ada gerakan revolusioner tanpa teori revolusioner” (hlm. 86), maka masalah kawan, lawan, dan kontradiksi pokok adalah salah satu dari masalah-masalah teoritis.

Demikian juga tentang front nasional Nasakom juga tidak tersentuh. Sebagaimana halnya dengan sosialisme ala Indonesia. Yang disinggung oleh Willy hanya tentang sifat kolektif masyarakat yang patut dikembalikan – sebab sekarang barangkali individualisme telah menggerus kolektivisme.

Uraian  Willy Aditya menyebutkan bahwa “Partai Nasdem bukan sebagai wadah individu atau kelompok semata. Partai ini, membuka tangan selebar-lebarnya bagi organisasi non-politik yang ingin bergerak bersama dalam aktivitas pe4gerakan. Melting pot, begitu Bung Surya membahasakan wadah perjuangan bagi kaum pergerakan dari mana pun asal, warna, dan organisasinya” (hlm. 57). Apakah Nasdem sebagai partai politik jadinya sama dengan ormas front persatuan?

Lalu tentang partai pelopor yang oleh Bung Karno sangat dipandang penting. Willy tidak menuturkan banyak tentang soal partai pelopor.

Saya khawatir Soekarnoisme Surya Paloh menjadi Soekarnoisme  terfilter yang dalam ilmu komunikasi disebut kualitas terpilih, memilih yang cocok dan disukai, membuang yang tidak disukai.

Sekalipun misalnya Soekarnoisme Surya Paloh adalah Soekarnoismje terfilter, apabila terlaksana tetap akan lebih baik daripada neo-liberalisme pada politik pedagang primer.

(4) Zaman Selalu Menagih Kreativitas

Dengan segala hormat kepada para pendahulu, barangkali memang zaman ini menghadapkan kita pada keadaan baru yang menagih kreativitas tanpa lepas akar, kejelian mata elang membaca keadaan untuk mewujudkan rangkaian nilai republikan dan berkeindonesiaan. Republik dan Indonesia yang bagaimanapun bersifat dinamis. Barangkali buku Willy Aditya berikutnya akan menjawab soal-soal di atas.

Palangka Raya, 28 Oktober 2013

Disampaikan pada acara bedah buku Indonesia di Jalan Menuju Restorasi: Politik Gagasan Surya Paloh, Hotel Swiss Bell Danum, Palangka Raya, 28 Oktober 2013

Pepatah Tiongkok Kuno

Lukisan China 1Ban men nong fu. Memamerkan ketrampilan menggunakan kapak di depan tukang kayu ahli. Memamerkan ketrampilan yang sedikit di depan seorang ahli.

Ban ping cu-luan huang dang. Botol yang berisi separuh cenderung akan bergoyang. Orang yang pandai tidak akan sombong dan selalu terus ingin belajar, sedangkan yang sedikit ilmu banyak bicara dan malas belajar.

Cang ying bu ding wu feng dan. Lalat tak pernah hinggap pada telur yang tak retak. Seseorang yang tak baik cenderung mengundang teman-teman yang tak baik pula.

Cang long wo hu. Naga tersembunyi, harimau mendekam. Jangan anggap enteng sesuatu yang tampak mudah dan tidak menantang.

Chi shui bu wang jue jing ren. Ketika minum air sumur, jangan lupa penggalinya. Jangan lupakan orang-orang yang pernah membantu kita meraih keberhasilan.

Dang ju zhe mi. Seorang penonton melihat lebih cermat daripada pemain di lapangan. Pihak ketiga biasanya punya perspektif lebih baik daripada orang yang terlibat karena melihat soal secara berjarak.

Fen lin er tian, jie ze er yu. Membakar hutan untuk bertanam dan menguras kolam untuk mengail. Melakukan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa memperdulikan akibatnya.

Feng jian ning ke yu sui, qi zheng bu qiu wa quan. Saat melawan keburukan, lebih baik jadi permata yang hancur daripada jadi bata yang utuh. Lebih baik mati daripada menyerah ketika melawan kejahatan/keburukan.

Gou zui li tu bu chu xiang ya. Bagaimana mungkin berharap menemukan gading dalam mulut anjing? Jangan berharap orang jahat mengucapkan kata-kata baik.

Hua xiang bu yi ding mei li, neng shuo bu yi ding hui zuo. Bunga yang harum belum tentu bunga yang indah, seorang orator belum tentu seorang pekerja. Tindakan lebih baik dari ucapan.

Jian le zhi ma, diu le xi gua. Mencari bijih wijen, kehilangan buah semangka. Berkonsentrasi pada masalah-masalah kecil, masalah besar yang lebih penting diabaikan.

Jin zhu zhe chi, jin mo zhe hei. Yang dekat tinta merah akan kena noda merah, yang dekat tinta hitam akan kena noda hitam. Orang dipengaruhi oleh sifat temannya.

Jiu ji bu jiu qiong. Bantulah orang yang membutuhkan, bukan orang miskin. Orang-orang yang sedang membutuhkanlah yang paling perlu dibantu.

Ma wu ye cao bu fei, ren wu wai kuai bu fu. Seekor kuda tidak bisa bertambah berat badannya jika tak diberi makan malam hari. Seseorang tidak dapat menjadi kaya tanpa pendapatan lain selain pendapatan rutin.

Min bu wei si, nai he yi si ju zhi. Ketika orang tak lagi takut pada kematian, tidak ada gunanya mengancam mereka dengan kematian. Tidak ada gunanya mengancam seseorang dengan sesuatu yang tidak ditakutinya.

Ni ren pa yu, huang yan pa li. Patung lempung takut kena hujan, pembohong takut kebenaran. Kebenaran pasti lebih unggul.

Ren bu ke mao xiang, hai shui bu ke dou liang. Orang tidak dapat dinilai dari penampilan, sebagaimana laut tak dapat diukur dengan ember. Penampilan bisa menyesatkan. Kita tak tahu kecakapan atau kekuatan seseorang dari penampilan saja.

Ren e ren pa tian bu pa, ren shan ren qi tian bu qi. Orang jahat ditakuti manusia, tapi tidak oleh surga. Orang baik dikhianati manusia, tapi tidak oleh tuhan.

Ren xin ge du pi. Hati manusia terletak dalam dada. Ketulusan tampak dari tindakan. Bukan dari kata-kata atau penampilan.

Shou yi shi huo bao, tian xia e bu dao. Ketrampilan adalah harta yang tak akan habis, menjaga seseorang tidak kelaparan kemanapun ia pergi.

Xue hao san nian, xue huai san tian. Perlu waktu tiga tahun menjadi orang berintegritas, hanya perlu tiga hari untuk merusaknya. Jauh lebih mudah menjadi rusak daripada menjadi baik.

Yan lei jiu bu liao huo. Air mata tak dapat memadamkan api. Keluh-kesah dan menangis tidak akan menyelesaikan soal.

Zhi zu zhe chang le. Siapa yang tahu batas, tahu kebahagiaan sejati. Kerakusan adalah sumber ketidakbahagiaan karena sifat manusia tidak pernah puas.

AIRMAKS 2013 Moskow: Pameran Dirgantara dan Angkasa Internasional

AIM 1

Foto dan dokumentasi: M. Taufik Salam, 2013

AIRMAKS 2013 Moskow:

Pameran Dirgantara dan Angkasa Internasional

Koresponden: M. Taufiq Salam*

Dikenal dengan julukan kota militer dan pusat penelitian aviasi, kota Zhukovsky kembali menghelat pameran akbar kedigdayaan teknologi dirgantara dan angkasa Rusia. Sejak dimulai tahun 1993, ajang pameran ini selalu ramai dipenuhi pengunjung. Lebih dari ratusan perusahaan industri dalam dan luar negeri Rusia memamerkan aneka produk unggulan mereka. Militer dan sipil. Sebut saja industri mesin roket, mesin jet, peluru kendali, sistem pertahanan udara, alat-alat pengukuran besaran fisik aviasi, pesawat tempur, satelit, sistem komunikasi radio, helikopter, perangkat perang elektronik, radar, dan pesawat angkut sipil.

Kota rahasia Zhukovsky terletak di pinggiran kota Moskow 20 km ke arah selatan. Tidak sembarang orang boleh melintas di dalam kota. Semuanya dikontrol di titik-titik pemeriksaan. Polisi tersebar di setiap sudut-sudut kota, di perempatan jalan besar, di lampu merah, dan pusat-pusat penelitian. Pengendara mobil wajib menunjukan kartu ID, paspor, dan surat izin melintas. Jangan harap bisa melanjutkan perjalanan jika tidak memiliki dokumen tersebut.

Tempat pameran berlangsung di pangkalan militer Ramenskoe. Panjang lintasannya 4985 m. Terpanjang kedua di dunia setelah Cina. Pameran berlangsung dari tanggal 27 Agustus hingga 1 September. Pameran berlangsung sangat meriah. Pengunjung disuguhkan atraksi berbagai jenis pesawat. Yang paling meriah tentunya penampilan jet tempur Sukhoi. Penonton bergemuruh tatkala pilot melakukan manuver kobra. Pesawat terbang tegak dengan kecepatan 30 km/jam membentuk kemiringan hampir 90 derajat! Persis seperti ular kobra siap mematuk mangsanya. Rahasia dibalik manuver ini adalah perhitungan matematis rumit yang berhasil dilakukan oleh desainer biro konstruksi Sukhoi pada era Soviet. Mereka berhasil menempatkan pusat gaya massa pesawat F di belakang pusat gaya gravitasi pesawat G. Tak ketinggalan juara dunia 2 kali, Svetlana Kapanina, 25 tahun, ibu dari seorang anak perempuan kecil. Ia berakrobat dengan pesawat baling-baling berukuran kecil dan menunjukkan kebolehan di langit dengan beragam manuver indah. Ribuan pasang mata menyaksikan dengan seksama tatkala pesawat berliuk-liuk indah. Pesawat dibuat oleng ke kiri 45 derajat, oleng ke kanan 45 derajat, dibanting tegak lurus, di balik 180 derajat, menukik menembus mega membentuk kurva eksponensial dan yang paling menarik ketika pesawat dibiarkan jatuh bebas dari ketinggian setelah terlebih dahulu menukik 90 derajat jauh  ke angkasa. Penonton bertepuk tangan riuh memberikan penghormatan ketika pilot mendarat di lintasan.

Yang paling ditunggu tentunya jet tempur generasi ke-5 AU Rusia. T-50 PakFak. Pesawat yang masih dalam tahap percobaan ini sempat nongol beberapa menit. Dua contoh jet ditampilkan ke khalayak umum. Berdasarkan sumber berita lokal, konon jet ini bisa terbang otomatis seandainya pilot kehilangan kesadaran tak bisa mengendalikan pesawat. Dari benua biru, Eropa juga tak mau ketinggalan. AirBus A-380 menjadi andalan di sektor bisnis penerbangan sipil. Pesawat tambun dua tingkat bermesin ganda di tiap-tiap sayapnya  ini unjuk gigi dengan lepas landas dari ujung bandara. Sempat beberapa kali manuver singkat di angkasa, pilot pesawat kemudian segera mendaratkan pesawat. Penduduk Rusia mungkin tidak mengetahui kalau ada orang jenius Indonesia di balik pengembangannya. Struktur rangka pesawat yang kuat dan tubuh pesawat yang terbuat dari serat karbon memungkinkan ukuran pesawat menjadi jumbo. Pesawat angkut versi militer CN-295 yang diproduksi oleh hasil kerjasama PT DI dan AirBus Corp juga dipamerkan disamping A-380. Pemerintah Rusia hanya bisa berbangga dengan Sukhoi Super Jet dalam urusan pesawat komersil di dunia. Sebuah pesawat angkut modern versi sipil dengan logo Sky Aviation dan lambang bendera Republik Indonesia diletakkan tidak jauh dari A-380. Meskipun ukuran dan teknologi pesawat tersebut setara dengan Boeing 737 namun ditengarai sudah banyak peminatnya. Indonesia dan Armenia adalah konsumer awal yang tertarik menjajal teknologi pesawat tersebut. Masih mengingat pesawat super sonik Concorde yang pengembangannya dihentikan oleh konsorsium Eropa? Rusia juga memiliki tipe pesawat tersebut. Entah siapa yang duluan mengembangkannya. Perusahaan konstruksi pesawat Tupolev memamerkan sebuah SHU-144 versi sipil. Ukurannya terbilang gede. Badannya ramping. Panjangnya 55 meter dan tingginya 13 meter. Terjadi antrian panjang di pintu masuk  pesawat. Ratusan warga Rusia berumur sekitar 40-an dan 50-an rela antri berjam-jam hanya untuk masuk ke dalam pesawat sekedar bernostalgia dengan kejayaan teknologi kedirgantaraan Soviet.

Teknologi sistem pertahanan udara Rusia juga tak mau kalah gengsi. Diletakkan berjejer BUK-M23, Antey-2500, S-300, Radar 55ZHE6UME, TOR-M1 dan TUNGUSKA M1 tampil garang dan menakutkan. Yang unik dan menarik dibahas adalah sistem roket pertahanan udara BUK-M23 dan TOR-M1. BUK-M23 dan TOR-M1 adalah sebuah kendaraan militer lapis baja yang dilengkapi dengan radar dan peluru kendali di atasnya. Ukurannya tidak begitu besar. Seukuran tank kelas berat. Roket BUK-M23 memiliki daya jangkau 25 km dengan kemampuan membawa amunisi 6-12 biji. Didesain khusus agar bisa bergerak bebas di segala jenis medan dan kemampuan mendeteksi, mengunci, dan menembak jatuh objek musuh secara otomatis. BUK-M23 didesain untuk menghabisi objek musuh pada jarak menengah. Setali tiga uang. Roket TOR-M1 memiliki kemampuan unik bergerak acak menghindar dari serangan lawan. Roket TOR-M1 hanya bisa menembak jatuh objek asing tidak melebihi 3 km. Biasanya ditempatkan di sekitar objek vital seperti stadion dan gudang arsenal. Yunani sempat terlihat menggunakannya pada saat olimpiade. Antey-2500 dan S-300 memiliki fungsi sama dengan kedua jenis sistem pertahanan di atas. Namun, jangkauannya meningkat hingga 200 km sampai 300 km.

Di lanud Zhukosky/Ramenskoe yang luas, panitia menyiapkan banyak hall berukuran besar diperuntukkan untuk ratusan industri militer yang biasanya sebagai pendukung industri aviasi dan sistem pertahanan udara. Ada ISS Reshetnev mewakili industri satelit yang mendesain satelit Telkom-3. Irbiz, industri radar. Kuznetsov dari Rusia dan Vega engine dari Ukraina, industri mesin roket. Energia, desainer konstruksi wahana angkasa beserta sistem pendukung energinya. Ryazan Zavod, industri perangkat komunikasi radio di darat, laut, dan udara. Kazan helikopter, pembuat heli termpur Mi-30. Biro desain Tula, perusahaan pembuat senapan serbu infantri dan pelontar roket anti-tank. Izhevsky zavod, industri kamera-video. Vympel, biro desain peluru kendali di darat, laut, dan udara. T8, industri sistem komunikasi kabel beserta perangkat keras pendukungnya. Pribor, kumpulan industri teknologi penerima, registrasi, dan penyalinan sinyal aviasi. Kompozit, industri metalurgi untuk alat-alat pengukuran. Strela, industri penelitian-pengembangan-manufaktur senjata komando radio-elektronik. Konstanta Dizain, industri perangkat lunak virtualisasi pusat pelatihan militer dan sipil. Tupolev, industri pesawat angkut eksekutif supersonik.

Panitia juga menyiapkan beberapa hall yang dilengkapi balkon dan restoran untuk para tamu undangan. Deal-deal bisnis tentunya enak dibicarakan pada saat berdiri di balkon menyaksikan atraksi pesawat diselingi makan siang di restoran. Sekutu dekat Rusia juga hadir. Angkatan militer Cina dan Iran diberikan stan khusus sebagai kawan dekat Rusia di dunia internasioanal. Untuk urusan administrasi bisnis, Rosobroneksport ditunjuk sebagai perwakilan resmi untuk mengekspor teknologi dirgantara dan angkasa Rusia. Ada juga beberapa bank lokal dan internasional hadir untuk memberikan solusi masalah pendanaan. Sebagai malaikat penjaganya, beberapa jasa asuransi militer juga hadir menawarkan solusi masalah kegagalan teknologi di masa datang yang tidak bisa diprediksi.

Setelah 6 hari berturut-turut memanjakan mata pengunjung, acara ditutup pada tanggal 1 September. AIRMAKS berikutnya baru bisa dinikmati 2 tahun kemudian. Berharap, tentunya Indonesia juga bisa turut hadir memamerkan teknologinya pada tahun 2015. Menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia adalah salah satu pemain besar yang harus diperhitungkan. Tentunya sangat membanggakan dan meningkatkan prestise jika masyarakat internasional mengetahui Indonesia memiliki ilmuwan dan enjiner hebat yang bisa menciptakan teknologi dirgantara dan angkasa. Sampai jumpa lagi di AIRMAKS 2015!

AIM 12

 

 

 

*Penulis adalah mahasiswa jurusan teknik radio di Ryazan, Rusia

Menelusuri Sejarah Mencari Identitas Dayak: Sebuah Kesaksian T.T. Suan jilid 2

TTS Jilid 2

Judul:

Menelusuri Sejarah Mencari Identitas Dayak

Penulis:

T.T. Suan

Penerbit:

Bayumedia Malang untuk Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah

Terbit:

Juni 2013

Kata Pengantar

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

DR (HC) A. TERAS NARANG, SH.

 

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Mahasa Esa atas karunia-NYA  dengan telah terbitnya Buku Sejarah dan Budaya Kalimantan Tengah “Suatu Kesaksian” oleh T.T.Suan yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah.

Saya selaku Gubernur Kalimantan Tengah menyambut baik atas prakarsa dan dedikasi yang tanpa pamrih sehingga buku ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Seperti kita ketahui bersama bahwa sejarah dan budaya Kalimantan Tengah merupakan suatu rentetan kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lalu, sebagaimana kita dilahirkan oleh sejarah dan budaya dan pada akhirnya kita dapat menceritakan dari masa ke masa. Provinsi Kalimantan Tengah dapat berdiri karena sejarah dan budayanya juga menyimpan nilai-nilai adat-istiadat, kepahlawanan, perjuangan, kesatuan dan persatuan, harkat dan martabat sebagai jati diri bangsa serta identitas masyarakat.

Saya mengucapkan terimakasih dan penghargaan kepada Bapak T.T. Suan sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil, Abdi Negara, seorang Jurnalis/Wartawan pada zaman pembentukan Provinsi Kalimantan Tengah, sebagai tokoh  masyarakat Bapak T.T. Suan adalah saksi hidup bagi kita yang mengalami dan mengenal sejarah dan budaya  sampai dengan sekarang. Harapan saya agar buku ini dapat dibaca oleh para generasi muda dan seluruh lapisan masyarakat untuk menjadi contoh dan tauladan dalam semangat membangun Bumi Isen  Mulang, Bumi  Pancasila ini.

Mari kita lanjutkan perjuangan para pejuang Kalimantan Tengah ini yaitu Belum Penyang Hinje Simpei dengan membangun Kalimantan Tengah untuk lebih meningkatkan kesejahteraan, harkat dan martabat, persatuan dan kesatuan bangsa serta menin gkatkan identitas sejarah dan budaya Kalimantan Tengah.

Bagi kita yang hidup di masa sekarang, sejarah dan budaya menjadi salah satu faktor yang sangat penting agar kita mampu  melihat dan mempelajari masa lalu dan masa yang akan datang.

Saya mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah atas penerbitan buku Sejarah dan Budaya Kalimantan Tengah “Suatu Kesaksian” oleh T.T. Suan.

Semoga buku ini bermanfaat bagi setiap elemen masyarakat Kalimantan Tengah dan masyarakat Indonesia. Apa yang diciptakan para pendiri Kalimantan Tengah terdahulu akan menjadi tulisan sejarah untuk generasi berikutnya. Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penerbitan buku ini diucapkan terimakasih.

 

Palangka Raya, 30 Maret 2013

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH

AGUSTIN TERAS NARANG, SH

Sejarah & Budaya Kalimantan Tengah: Sebuah Kesaksian T.T. Suan Jilid 1

Sejarah & Budaya Kalimantan Tengah: Kesaksian T.T. Suan Jilid I

Judul: Sejarah & Budaya Kalimantan Tengah: Sebuah Kesaksian T.T. Suan Jilid 1

Penerbit: Bayumedia Malang untuk Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah

Terbit: Maret 2013

Pengantar Kusni Sulang

T.T. Suan sebagai salah seorang yang turut berkecimpung sejak dini dalam pembangunan Kalimantan Tengah, seorang penulis yang  beringatan tajam dan rajin mencatat, merupakan salah seorang saksi hidup yang masih hidup sampai sekarang dan mempunyai prinsip tidak mengkompromikan kebenaran dengan dusta, terutama dalam masalah sejarah dan budaya sehingga dusta sejarah dan budaya yang sering tampil tanpa malu-malu itu, oleh kesaksian T.T. Suan menjadi tidak leluasa bermanuver.

Untuk menegakkan kebenaran sejarah dan budaya, dalam upaya menghambat lajunya keterputusan sejarah dan budaya, untuk mencoba mencegah agar angkatan hari ini dan mendatang tidak menjadi angkatan tanpa sejarah, kesaksian langka T.T. Suan melalui kumpulan tulisan yang dipercayakannya untuk diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah (LKD-KT) menjadi sebuah sumbangan intelektual dan budaya T.T. Suan yang tak bertara.

Kembali ke Sampit: Catatan Perjalanan

cover

Judul                      : Kembali ke Sampit

Penerbit                 : Bayumedia Publishing, Malang

Tebal                      : 435 hlm.

Terbit                     : Januari 2013

Pengantar Pemimpin Redaksi Harian Radar Sampit

Journalysis

Tak perlu lama bagi saya untuk mengambil keputusan menerima kerja sama yang ditawarkan Kusni Sulang dan Andriani S. Kusni untuk membuat ruang kebudayaan di harian Radar Sampit. Pun ketika kami bertatap muka secara langsung di Sampit hingga kemudian mencuat keinginan dari keduanya untuk menuliskan catatan perjalanan singkat mereka selama di Kota Sampit (Sampit Revisited). Keputusan untuk kembali menyetujuinya juga berlangsung set-set-swuet. Karenanya, salam hormat harus saya sampaikan kepada Kusni Sulang dan Andriani S. Kusni atas inisiatifnya melakukan kerja sama dengan Radar Sampit.

Sebagai orang koran, melakukan evaluasi terhadap produk-produk redaksi merupakan rutinitas kerja. Mengukur respons pembaca terhadap konten yang disajikan adalah suatu keharusan. Cara paling sederhana untuk mengukurnya yakni dengan melihat interaksi warga melalui ruang publik dan capaian sirkulasi yang terus tumbuh.

Beberapa catatan perjalanan “Sampit Revisited” telah diterbitkan di harian Radar Sampit. Bagaimana responsnya? Pandangan indera Kusni Sulang dan Andriasni S. Kusni dalam perspektif histori Kota Sampit, kepemimpinan, tata kelola pemerintahan, kebudayaan, civil society dengan kekuatan analisisnya ternyata mendapat respons yang luar biasa.

Lewat tulisan “Sampit Revisited”, Kusni Sulang dan Andriani S. Kusni telah mengenalkan istilah JOURNALYSIS – istilah hibrida dari jurnalis dan analisis. Bahwa analisis demi kedalaman adalah keharusan. Tak punya waktu untuk menyajikan analisis? Itu alasan tak berlaku.

Sebagai koran dengan tiras terbesar di wilayah Kotawaringin, Kalimantan Tengah, kami sangat beruntung bisa bekerja sama dengan Kusni Sulang dan Andriani S. Kusni untuk memerankan media sebagai aktivis sosial dan politik, mengagendakan banyak gerakan besar, bukan sekadar institusi ekonomi. Misalnya soal kewajiban negara  memikirkan soal kepemimpinan. Buku “Sampit Revisited” cukup banyak mengulas soal kepemimpinan. Kampanye menggugah rasa cinta terhadap daerah, kritis pada kebobrokan kondisi daerah sendiri, peduli pada segala hal-ihwal Kota Sampit dan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dan tetap bangga dengan kekayaan kultural sendiri. Saya kira tak ada hati orang Kotim yang tak tergetar setelah membaca buku “Sampit Revisited”.

Catatan perjalanan pulang kampung Kusni Sulang dan Andriani S. Kusni banyak menyoroti berbagai masalah di Kota Sampit dan Kabupaten Kotawaringin Timur, sampai permasalahan-permasalahan itu diberi perhatian dan menemukan jalan keluarnya. Masalah-masalah di suatu daerah tentu tak satu wajah, dan cara keluar dari masalah itu juga bermacam-macam.

Saya mengajak Anda untuk membaca buku ini dan mengikuti pengalaman-pengalaman yang dialami Kusni Sulang dan Andriani S. Kusni dalam napak tilasnya di Kota Sampit. Saya berharap buku ini bisa menambah cakrawala kita tentang Sampit dan Kotawaringin Timur.

Salam Hangat, Ajid Kurniawan

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers