WAWANCARA DENGAN WIJAYA HERLAMBANG

WAWANCARA DENGAN WIJAYA HERLAMBANG
Mon Nov 24, 2014 8:47 am (PST) .
Posted by: “Tatiana Lukman”

Wijaya Herlambang: Salihara dan Freedom Institute itu Lembaga Sampah!

24 November 2014 Fathimah Fildzah Izzati, Rio Apinino, Wijaya Herlambang

Left Book Review Kabar yang sangat menggembirakan kembali datang secara beruntun dari dunia melawan lupa, setidaknya dalam dua tahun belakangan ini. Tahun 2012 yang lalu, kabar gembira itu datang melalui film dokumenter karya Joshua Oppenheimer, “The Act of Killing/Jagal” yang fenomenal itu. Film yang bercerita tentang pengakuan para pelaku pembantaian dalam peristiwa pembantaian massal PKI, afiliasinya serta orang-orang yang dekat dengan mereka itu memutar balikkan pengetahuan yang dimiliki publik selama ini mengenai peristiwa pembantaian pasca G30S 1965. Banyak yang terheran-heran, mengerenyitkan dahi, sedih, marah, sekaligus tercerahkan: ada fakta lain yang selama ini disembunyikan dan dilanggenggkan buku-buku sejarah resmi (baca: versi dan masih legacy Orde Baru). Film The Act of Killing/Jagal pun menjadi penanda dalam aras kebudayaan dimana monopoli sejarah Orde Baru mengenai peristiwa pembantaian dalam kurun waktu 1965-1966 itu kini berada diambang kehancuran.Sekitar 1 tahun kemudian, kabar gembira pun kembali datang dengan hadirnya buku karya Wijaya Herlambang berjudul “Kekerasan Budaya pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film”. Buku yang menguraikan praktik-praktik kekerasan budaya yang menjadi alat legitimasi berbagai kekerasan fisik yang dilakukan oleh negara dalam peristiwa pembantaian 1965-1966 itu, membuat mata siapapun yang membacanya menjadi kian terbuka lebar. Karena buku itu, banyak yang marah dan merasa sangat dibodohi Orde Baru juga rezim-rezim setelahnya khususnya mengenai peristiwa pembantaian massal 1965-1966. Buku itu pun memicu perdebatan yang cukup menarik dan belum usai antara Martin Suryajaya dan Goenawan Mohamad. Dalam edisi kali ini, Rio Apinino dan Fathimah Fildzah Izzati dari Left Book Review (LBR) IndoPROGRESS, mewawancarai sang pembawa kabar gembira, Wijaya Herlambang, doktor dari University of Queensland, Australia sekaligus dosen di beberapa kampus di Jakarta itu. Berikut petikan wawancaranya:

T: Bisa diceritakan bagaimana perjalanan intelektual Anda?

WH: Saya berasal dari keluarga yang secara ekonomi pas-pasan. Dari situ, saya tumbuh jadi anak yang bandel banget. Mabuk lah, berantem lah, intinya cuma mau mencari identitas diri dan mencari penyebab kehidupan saya dan keluarga menjadi serba susah. Mulailah saya mengidentifikasi sumber permasalahannya, apa sih yang meyebabkan kemiskinan dalam masyarakat kita? Begitulah kira-kira. Kesadaran itu tumbuh semakin kuat ketika kuliah di UNDIP tahun 1993, pada saat kasus golput baru saja meletus. Kasus itu bermula ketika ada beberapa truk tentara masuk kampus, menganiyaya dan mengintimidasi mahasiswa yang dianggap terlibat. Dua di antara yang ditangkap itu adalah Poltak sama Lukas Luwarso. Dari peristiwa itu saya lantas berpikir, kok tentara bisa masuk kampus dan melakukan kekerasan seenaknya? Peristiwa itu juga memicu keingintahuan lebih jauh tentang apa penyebab tindak kekerasan seperti itu. Mengapa jika orang tidak puas dengan sistem politik yang represif dan menyebabkan ketimpangan ekonomi justru dianiyaya? Akhirnya saya paham bahwa sumber dari berbagai masalah sosial adalah pemerintah Orde Baru, terutama figur Soeharto yang kejam dan korup. Jadi, penyebab kemiskinan di dalam masyarakat Indonesia bukan individu-individu yang malas atau ketidakmampuan tulang punggung keluarga mencari nafkah, dll, tapi sistem politik represif itulah yang membuat kita sebagai bangsa menjadi miskin secara ekonomi, sosial dan budaya.Proses berpikir itulah yang menggiring saya mempelajari banyak hal, membaca berbagai buku mulai dari filsafat, sosial, politik, budaya dan kesusastraan segala macam, termasuk bergaul dengan banyak aktivis. Saya sendiri bukan aktivis dalam arti turun ke jalan, jadi anggota SMID misalnya, itu nggak. Saya aktif di pers kampus, majalah Hayam Wuruk. Waktu itu, pada saat banyak majalah lain tidak berani wawancara dengan tokoh kritis seperti George Aditjondro dan penulis kiri seperti, Pramoedya Ananta Toer, kita justru berani. Kementerian Pendidikan, melalui Dikti juga bereaksi keras atas liputan seperti itu. Tapi tetap kita jalan terus.Di Jawa Tengah, waktu itu, ada dua majalah mahasiswa yang kritis: Balairung (UGM) dan Hayam Wuruk (UNDIP). Jadi dua majalah itulah yang sering mewakili suara-suara marjinal. Tapi di pers kampus itu juga ada banyak warna, banyak kepentingan, dari HMI, orang-orang kiri (SMID), dari orang-orang GMNI, dan segalaa macam, mereka saling berebut kendali pimpinan di majalah itu. Semuanya ingin mendominasi. Kebijakan-kebijakan editorial ingin dikuasai. Sampai akhirnya jatuh ke tangan aktivis SMID. Di situ ada Petrus, ada Aan Rusdianto, Iwan, Naning, Iin dan banyak yang kelak dikenal sebagai aktivis 98. Saya bergaul dekat dengan mereka walaupun saya bukan anggota. Jadi kalau ada demo ya kita kadang meliput, mengawal, memantau, ikut demo juga. Dari situ saya mengamati proses pergulatan politik yang sesungguhnya. Ada sebuah upaya perlawanan yang walaupun terasa sangat kecil namun penting sekali. Seperti sekarang, kita berharap terjadi revolusi dalam waktu dekat, itu kan terasa seperti mimpi? Nah, waktu itu rasanya juga seperti itu. Kapan sih Soeharto bisa jatuh, wah menjatuhkan Soeharto itu seperti mimpi di siang bolong, terasa hampir mustahil. Tapi gerakan yang terasa kecil itu dilakukan oleh teman-teman SMID dan kolega mereka dengan konsisten dan pantang menyerah. Sama jika kita bicara tentang Marco, Semaoen, Tirto Adisoerjo, perlawanan PKI terhadap pemerintah Belanda di tahun 1926, berdirinya PNI di tahun 1927 dan Sumpah Pemuda di tahun 1928, dll, mereka juga seperti sedang bermimpi bahwa Indonesia bisa merdeka dari Belanda. Mereka melakukan sesuatu yang waktu itu dianggap sebagai utopia. Tapi toh benih yang mereka tanam akhirnya tumbuh, meletus menjadi Revolusi di tahun 1945. Sejarah membuktikan, bahwa akhirnya Belanda jatuh, Soeharto akhirnya jatuh. Jadi revolusi itu tidak seperti judul buku kumpulan essaynya Goenawan Mohamad, Setelah Revolusi Tak Ada lagi. Itu hanya slogan saja. Dengan membaca judul buku itu orang akan berpikir sekilas bahwa ada suatu masa di mana revolusi sudah tidak relevan lagi walaupun isi buku itu sendiri terdiri dari berbagai macam essay berisi bermacam isu.Kembali ke SMID, jadi, waktu itu kita juga belum bisa berpikir sejauh mana usaha yang dilakukan aktivis SMID itu bisa membuahkan hasil, terutama karena organisasi mereka waktu itu masih sangat kecil. Belum ada PRD juga. PRD baru terbentuk tahun 1994, belum partai, masih persatuan, baru 1996 deklarasi jadi partai karena mau ikut pemilu, langsung diberangus. Wiji Thukul hilang dalam proses pemberangusan itu.Dari pergulatan pemikiran, pencarian informasi tentang proses politik itu saya mulai mengerti bahwa musuh utama bangsa Indonesia itu ya pemerintahnya sendiri, di bawah Soeharto, dan di atasnya adalah kapitalisme. Dari situ saya mulai mencoba mengembangkan pemikiran dan berusaha mewujudkannya lewat skripsi S1 tentang Pramoedya Ananta Toer, tapi dilarang oleh Dekan saya. Itu tahun 1997/1998. Soeharto sudah hampir jatuh. Tapi waktu itu belum ada yang tahu dia akan jatuh atau tidak. Akhirnya saya malah menulis skripsi tentang Danarto, salah satu literary champion-nya Orde Baru. Tentang Mistik, halah! Jadi dulu saya juga senang baca karya-karya Danarto, yang tanpa saya sadari, karya semacam itu adalah bagian dari strategi politik Orde Baru dan antek-antek kebudayaannya yang bertujuan untuk memberangus tradisi kesusasteraan yang berkomitmen sosial. Baru kemudian saya sadari, bahwa saya membuat skripsi yang sangat tolol. Ngomong tentang mistik, mistik Barat dan Timur, ngapain? Pada saat yang sama, saya juga bertanya-tanya, kenapa kampus mengekang mahasiswa membahas tokoh-tokoh tertentu, seperti Pram, dalam kesusasteraan. Padahal dulu waktu masih di Hayam Wuruk, saya sempat wawancara dengan Pram. Pertama kali saya ketemu Pram tahun 1995. Sejak itu saya kerap berkunjung ke rumahnya di Utan Kayu sampai dia pindah ke Bojong. Kalo ke rumahnya di Utan Kayu dulu, itu saya muter-muter dulu supaya yakin gak diikutin intel. Mastiin aman dulu. Baru saya masuk. Ngobrol. Sering dia mengungkapkan keinginannya untuk bikin ensiklopedi sastra Indonesia dengan arsipnya yang banyak banget itu. Ada cerita yang saya tidak pernah lupa. Suatu kali, saya datang lagi ke rumah Pram, Pram lagi tidur, yang keluar Bu Maimunah, saya disuguhi minum sirup Marjan warna merah. Tiba-tiba bu Maimunah marah-marah, menanyakan Naning, menanyakan kenapa anak-anak SMID tidak ada yang muncul sama sekali. Ternyata anak-anak SMID itu bawa ratusan copy buku Perburuan, tapi uang penjualannya tidak kembali ke tangan Pram. Sementara Pram itu masih seperti tahanan rumah, masih gak bisa kerja, gak bisa ngapa-ngapain. Jadi dapur mereka berhenti ngebul. Itu yang bikin bu Maimunah marah-marah. Ketika Pram bangun dan menemani saya di teras, saya kasih tau bahwa bu Maemunah jengkel sama kelakuaan anak-anak SMID, Pram malah cengengesan hahaha..Lalu saya lulus dari UNDIP, kemudian saya ke Australia tahun 1999, di sana saya kursus bahasa Inggris dulu, lalu ingin melanjutkan S2, waktu itu saya di Townsville, kota kecil di Utara Australia. Jauh dari mana-mana. Salah satu universitas yang besar, Universitas Queensland (UQ) dan punya Indonesian Studies adanya di Brisbane, 18 jam nyetir dari Townsville. Sebelum kontak UQ, saya telepon Arief Budiman. Waktu itu dia masih mengajar di Melbourne Uni. Saya minta dia jadi pembimbing saya untuk S2. Waktu itu saya masih fascinated sama Pram kan, terus Arief tanya: kamu mau neliti apanya tentang Pram? Saya bilang saya mau neliti bagaimana Pram melukiskan karakter kebudayaan Jawa dalam novel-novelnya dia, terutama tetralogi. Arief Budiman malah bilang ngga ada, ngga cocok. Lho sekaliber Arief Budiman kok malah ngomong gitu? Apa karena dulu dia penandatangan Manikebu jadi ngga boleh? Hahaha.. Pokoknya alasannya ngga jelas gitu. Akhirnya saya telepon Profesor di UQ. Helen Creese namanya. Saya tanya sama dia, kira-kira bisa gak saya menulis tesis tentang Pram. Tapi karena saya belum punya pengalaman riset yang baik, jadi proposalnya terlalu umum, padahal yang dituntut sangat spesifik. Lagi pula menurut Helen celah penelitian tentang Pram sangat sempit, karena sudah dibahas oleh ratusan sarjana. Akhirnya saya urungkan niat itu. Lalu saya teringat aktivitas di kampus dulu dan masalah sosial yang dihadapi masyarakat Indonesia pada umumnya, terutama kasus-kasus kekerasan yang dilakukan negara terhadap rakyatnya sendiri. Ada pembantaian jutaan orang yang dituduh komunis, invasi militer ke Timor Timur, Petrus, Tanjung Priok, Talangsari, DOM di Aceh, Kedung Ombo, Pembantaian Dili, Marsinah, terus menerus, bahkan dalam setahun bisa terjadi beberapa kali kasus kekerasan. Jadi itu merupakan problem gede banget pada saat Soeharto berkuasa.Itu yang saya jadikan landasan untuk penelitian saya. Tapi apa kaitannya dengan sastra? Kemudian saya mulai melakukan preliminary research, saya cari karya-karya sastra yang mengungkapkan tentang kekerasan. Yang saya temukan dan yang saya anggap paling bisa didengar orang, antara lain karya-karya Wiji Thukul, Seno Gumira Ajidarma, dan Ratna Sarumpaet. Itulah yang saya jadikan sebagai primary sources tesis saya. Dan pembacaan saya terhadap teks-teks itu saya lakukan dengan melibatkan konteks di mana teks-teks itu ditempatkan. Karena pembacaan close reading itu merupakan bagian tradisi dari positivis, yang anti dengan permasalahan- permasalahan di luar sastra, jadi metode ini tidak cukup untuk menjelaskan kedudukan seni dalam masyarakat. Tradisi positivis seperti close reading an sich itu pada dasarnya sesuai dengan ideologinya Manikebu, humanisme universal, dimana apapun yang menyangkut tentang karya seni, tidak boleh dikaitkan dengan hal lain di luar karya seni, terutama politik. Jadi, walaupun berguna, close reading tidaklah memadai untuk apa yang saya lakukan di dalam penulisan tesis itu. Sekarang tesis itu sedang saya terjemahkan ke bahasa Indonesia dan direvisi. Setelah tesis master itu selesai, saya bingung mau kerja dimana. Pulang ke Indonesia atau bagaimana? Dua minggu setelah terima ijazah, Prof. Helen Creese menelepon saya untuk menawarkan beasiswa lagi untuk lanjut ke s3. Saya pikir ini ada hubungannya dengan pertemuan saya dengan Dr. Keith Foulcher, pakar sastra Indonesia senior, penulis buku Social Commitment in Literature. Waktu itu saya diundang ke konferensi di Tasmania. Di sana saya bertemu Keith dan mengobrol tentang banyak hal karena dia juga sudah membaca tesis saya. Secara personal dia bilang ke saya bahwa dalam analisis awal tentang perkembangan kesusasteraan Indonesia, saya tidak menjelaskan bagaimana Orde Baru, terutama seniman-senimannya, para penandatangan Manikebu itu, mempromosikan ide-ide yang bertentangan dengan komunisme. Lalu saya bilang, ini akan saya lakukan jika saya punya kesempatan untuk melanjutkan studi ke S3. Helen juga hadir. Saya pikir mungkin Keith diam-diam turut merekomendasi saya untuk melanjutkan studi saya kepada Helen. Saya tidak tau.Jika dulu saya fokus pada pembahasan praktek kekerasan langsung dan struktural, maka niat saya untuk penelitian S3 saya fokuskan pada praktek kekerasan kultural. Ketiga jenis kekerasan itu adalah model teoretis yang diperkenalkan Johan Galtung. Itulah konsep dasar dari seluruh penelitian saya. Saya tidak mau mengulang-ulang teori ini. Intinya adalah kekerasan negara hanya bisa dilakukan jika ada landasan kulturalnya. Penghancuran PKI 65 itu dimungkinkan kalau ada landasan ideologisnya, yaitu Pancasila versi Soeharto dan landasan ideologis kapitalisme yang sesungguhnya, ya liberalisme. Akhirnya saya selesai dalam waktu sekitar 4 tahun, lulus, buku itu diterbitkan di Jerman pertama kali tahun 2011. Tapi gemanya tidak sampai ke Indonesia. lantas saya memutuskan balik ke Indonesia sekitar Oktober 2011. Awalnya saya ditawari kerja jadi staf ahli di DPR. Saya coba, saya lihat, ternyata kerjaannya hanya membantu korupsi. Misalnya untuk menyalurkan BLT atau sejenisnya, anggota dewan ngantongin sekian persen. Dikorupsi. Proposal diminta dari daerah, masuk, dana turun, sekian persen masuk kantongnya dia. Ancur banget. Ya saya keluar lah. Kemudian saya dapat tawaran ngajar di Gunadarma dan akhirnya juga mengajar di Pancasila, selain jadi editor di majalah Forbes Indonesia.

T: Bisa diceritakan mengenai proses penelitian anda mengenai perisitiwa 65?

WH: Secara spesifik, saya membahas 65 itu di tesis S3. Ketika saya mulai sadar bahwa kekerasan budaya dilakukan oleh negara dengan memanfaatkan produk-produk budaya. Jadi kalau misalnya ada orang dianiyaya karena perbedaan nilai (kasus Ahmadiah dan berbagai kasus lain yang mirip) dan kita menganggapnya sebagai tindakan yang sah (karena ada legitimasi nilai budaya lain di kepala kita), maka pada titik itu kita sedang melakukan praktik kekerasan budaya. Walaupun kita tidak ikut melakukan tindak kekerasan fisik itu, tapi jika kita mengamininya dalam hati, maka itu adalah kekerasan budaya. Salah satu contoh yang paling ekstrem adalah film Pengkhianatan G30S/PKI. Pemerintah menggunakan media kebudayaan untuk melegitimasi pembantaian 3 juta manusia. Orang yang menonton akan menganggap bahwa pembantaian terhadap PKI adalah hal yang wajar karena PKI di dalam film itu terlihat sangat kejam. Film itulah yang membuat saya akhirnya mau melakukan penelitian tentang 65. Walaupun film itu sudah dirilis sejak tahun 1980-an awal dan sampai 97 masih diputar dan sudah dibahas banyak orang, banyak akademisi, tapi mereka tidak pernah membahasnya secara detail. Mereka hanya merujuk, oh iya ada film ini, fungsinya untuk ini itu, selalu disebut, tapi tidak pernah dianalisis. Orang pertama yang menganalisis film itu adalah saya. Kalaupun ada yang lain, misalnya Intan Paramadhita, dia membahas film itu dari sisi gender, bagaimana heroisme atau patriarkisme itu begitu menonjol di film itu. Jadi dia melihatnya dari sisi diskriminasi gender. Sementara fungsi utamanya yang sangat luar biasa dari film itu tidak dibahas. Makanya saya membahasnya secara detail, adegan per adegan saya teliti. Jadi keliatan sekali fungsi itu film untuk apa bagi masyarakat.Itu yang pertama yang membuat saya ingin sekali membongkar peristiwa 65. Tapi motivasi itu pun didorong oleh peristiwa-peristiwa tentang kekerasan yang melibatkan isu 65, misalnya peristiwa Kaloran di Jawa Tengah. Waktu mereka menggali kubur di Wonosobo itu, terus mau dikubur ulang, lantas dihancurkan oleh kelompok FUIK, sampai tulang-belulang korban berserakan di mana-mana. Itu adalah satu contoh di mana anti-komunisme kuat sekali bercokol di otak orang Indonesia. Sampai turun temurun, mungkin sudah genetis sifatnya. Bayi yang baru lahir pun bisa jadi langsung anti-komunis hahaha. Begitu kuatnya anti-komunisme di Indonesia.Lalu apa faktor yang membuat anti-komunisme sampai begitu kuatnya di Indonesia? Ternyata faktor kebudayaan. Bukan faktor fisik tapi kekuatan kognitif. Otak kita ini dihajar dengan godam anti-komunis lewat macam-macam. Kalau buku sejarah saja tidak menyinggung PKI, tidak menyinggung Marxisme, ya lucu. Yang berontak berusaha membebaskan diri dari penjajahan Belanda pertama kali ya PKI kok. Siapa? Memang mereka pikir Golkar? Militer? Soeharto? Nasution? Tidak, tapi PKI. Baru kemudian PNI berdiri. Baru yang lain-lain ikut. PKI sudah berontak duluan. Kalau itu tidak ditulis dalam sejarah, ya lucu. Itu ditanamkan terus sejak Orde Baru. Buku-buku sejarah, materi P4, sastra, koran, musik, film, museum, diorama, patung-patung, monumen, hari-hari peringatan, semuanya. Kita bisa melihat bagaimana produk kebudayaan itu dimanipulasi untuk membuat kita memandang peristiwa kekerasan sebagai hal yang sah dan normal saja. Padahal itu pembunuhan, tanpa proses pengadilan: massif, terstruktur dan sistematis hehehe….

T: Bagaimana anda melihat perkembangan diskursus mengenai 65 saat ini?

WH:  Ada kemajuan, tapi belum signifikan. Mainstream discourse-nya tetap anti-komunis. Ada beberapa elemen kecil yang masih terus berusaha untuk membuka luka tahun˜65. Yang paling terasa besar sebetulnya literatur akademik yang mulai accessable di Indonesia. Sebetulnya dari situ, orang Indonesia sudah mulai tahu, cuma permasalahannya tradisi baca di Indonesia sangat minim. Yang kedua adalah gerakan-gerakan yang dilakukan oleh aktivis. Sejak penghancuran di tahun 65, gerakan radikal itu baru muncul di akhir 1980-an awal 90-an. Sebelum itu tidak ada. Bahkan sampai gegernya kasus Malari itu bukan gerakan radikal sama sekali. Gerakan koreksi, iya. Radikalisme muncul tahun 1980-an. Ketika DOM baru diterapkan, kemudian kasus Kedung Ombo meletus, disusul dengan pembantaian Dili, radikalisme mulai tumbuh di kalangan mahasiswa. Tapi itu pun pasang surut dan hancur tahun 98 kan. Sejak tahun 27 Juli 1996 hingga 1998, gerakan itu hancur. Untuk kesekian kalinya, radikalisme yang berhaluan Kiri, dihancurkan. Yang masih bertahan adalah karya sastra dan karya akademik.Karya akademik waktu itu belum bisa diakses secara luas, tapi karya sastra berfungsi penting sekali dalam mengubah paradigma kaum intelektual. Sastralah yang mengisi kekosongan penulisan sejarah tentang PKI atau gerakan Kiri di Indonesia. Itu sudah muncul di akhir 1970an dan awal 1980an. Mulai dari karyanya Yudisthira Ardi Nugraha: Mencoba Tidak Menyerah, Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari sampai Bumi Manusia-nya Pram. Sejak itu mulai muncul lagi tradisi yang dulu dikembangkan oleh LEKRA: realisme sosialis, komitmen sosial dalam sastra, gaya penulisan yang sederhana, straight forward, dan menceritakan isu-isu yang berhubungan dengan 65.Sebetulnya sudah ada karya sastra lain, terutama cerpen, yang terbit dari tahun 1966-1970an yang membahas 65. Beberapa akademisi seperti David Hill misalnya, berargumen bahwa karya-karya ini mengisi kekosongan informasi mengenai peristiwa 65 dan dengan demikian karya-karya ini berharga, walaupun terbitnya di majalah anti-komunis Horison, yang jelas-jelas didirikan oleh orang-orang Manikebu. Dia menganggap karya-karya ini penting dan berguna, juga sebagai sebuah usaha membongkar kasus itu. Kemudian saya baca dan pikir-pikir lagi, lalu membuat analisis atas karya-karya yang yang di Horison yang tentang peristiwa 65 itu, ternyata sama sekali tak ada hubungannya upaya membongkar, justru untuk melegitimasi peristiwa pembantaian massal itu. Ada proses manipulasi psikologis dari tokoh-tokoh di dalam karya-karya itu, yaitu justru untuk mempahlawankan si pelaku pembunuhan dan mengibliskan korbannya. Jadi tidak mengherankan kalau Horison yang anti-komunis itu mengangkat cerita-cerita ini, karena pada dasarnya, ini adalah upaya untuk membungkam gerakan Kiri, bukan untuk bersimpati terhadapnya. Bangkitnya tradisi kiri itu ya sejak akhir 70-an dengan munculnya karya Yudhistira, Ahmad Tohari, dan Pram. Karya-karya sastra inilah yang mengisi gap yang ditinggalkan oleh penulisan sejarah Indonesia. Sampai akhirnya karya-karya itu, terutama karya Pram, terkenal secara internasional. Pramoedya namanya mencuat, kemudian orang-orang Manikebu jadi ciut, di samping iri juga hahaha.Tradisi kebudayaan Manikebu itu memang untuk membungkam kesusasteraan yang berkomitmen sosial, semua yang mengandung tema sosial pasti akan dicap jelek, sastra murahan, sastra pop. Sebaliknya, sastra-sastra yang mengandung konflik intelektual, eksistensial, atau yang bertemakan fantasi, mistik dan aneh itu yang dianggap paling bernilai tinggi, sastra adiluhung dan mendapat penghargaan. Contohnya karya-karya Danarto itu, Putu Wijaya, Sutarji Calzoum Bahri, Iwan Simatupang, Abdul Hadi W.M., Sapardi Djoko Damono, Budi Darma dll. Itulah tradisi kesusasteraan Orde Baru. Institusi- institusi baru pun dibentuk. Ada DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), TIM, dan Akademi Jakarta. Semuanya anti-komunis. Satu pentolannya Ajip Rosidi memang menulis novel Anak Tanah Air, oke dia bicara tentang G30S, tapi kan memakai perspektif dia yang anti-komunis itu. Makanya pada saat Martin Aleida, mantan penulis Lekra, dicalonkan menerima penghargaan dari DKJ baru-baru ini, angkatan tua karatan seperti Ajip Rosidi, Taufik Abdullah dll menolak, Martin disingkirkan. Awal tahun 80a-n terjadi perdebatan sengit di antara pendukung Manikebu sendiri. Terutama Arief Budiman dkk karena Arief Budiman mencetuskan istilah sastra kontekstual. Sebetulnya itu Ariel Heriyanto yang duluan. Dua orang ini yang mencuat sebagai tokoh pembaharu sastra di bidang kritik dengan menelurkan konsep sastra kontekstual yang intinya adalah menekankan komitmen sosial di dalam sastra yang dulu pernah dikampanyekan LEKRA. Jadi mereka berusaha untuk belok Kiri sedikit hehehe. Pecahlah itu perdebatan tahun 84. Tapi karya-karya yang mengikuti alur sastra kontekstual tetap langka.Akhirnya, di tahun 1980 akhir, Wiji Thukul muncul. Dia sebetulnya pernah juga ngefans sama Sutardji Calzoum Bahri. Tapi kemudian Thukul mikir, sastra begitu ngga bicara apa-apa tentang situasi yang dia alami. Sutardji puisinya apaan coba, ngga jelas dan dibilangnya itu keren. Intinya, Sutadji ngomong tentang mantera. Seolah-seolah baru ada sekarang. Tidak ada artinya sama sekali juga. Ping di atas pong, pong di atas ping, apaan itu? Nah, itu yang dipikirkan Wiji Thukul, ngapain gue ngomong mantera sementara perut kelaparan? Dari situlah Thukul berontak terhadap tradisi kesusasteraan Orde Baru. Dia mulai menulis puisi-puisi yang bersinggungan secara langsung dengan kehidupan dia sehari-hari. Sampai limbah pabrik MSG di depan rumahnya dibahas. Bagaimana Thukul berpuisi tentang perkelahiannya dengan kucingnya sendiri gara-gara kucing itu nyolong ikan asin buat lauknya makan, sampai akhirnya mereka baikan, kepalanya buat sang kucing, badannya buat dia. Tentang baju loak, dll. Pada saat itu juga Thukul sudah dicurigai sebagai cikal bakal pemberontak oleh BAKIN (Badan Keamanan dan Intelijen Negara). Di masa itulah mulai muncul radikalisme baik dalam politik maupun kesusasteraan. Thukul muncul memimpin JAKER (Jaringan Kebudayaan Rakyat) dan juga PRD. Di situlah mulai muncul lagi tradisi kebudayaan Kiri. Sayangnya tidak lama. Gerakan itu dihancurkan lagi tahun 1996, Thukul dan rekan-rekannya dikejar-kejar tim Mawar-nya Prabowo. Namun sepanjang 1 dekade itu juga mulai muncul kesusasteraan yang bicara masalah kekerasan negara. Seno Gumira, Ratna Sarumpaet dan lain lain muncul. Karya-karya itulah yang meneruskan tradisi Kiri dalam kesusasteraan Indonesia. Pelopornya tetap Wiji Thukul, karena dia yang mulai.

T: Dalam buku “Kekerasan Budaya Pasca 1965″, Anda menjelaskan bahwa kekerasan yang seringkali dilupakan ialah kekerasan budaya. Bisakah anda menjelaskan kaitannya dengan konteks politik saat ini?

WH: Ada banyak sekali. Salah satunya konsep kekerasan budaya adalah slogan Trisakti dalam pilpres kemarin. Itu buat saya adalah bentuk kekerasan budaya karena apa yang dipikirkan Soekarno itu dipelintir sedemikian rupa untuk melegitimasi praktik perekonomian nasional yang sejak Orde Baru dipertahankan hingga saat ini. Tidak ada hubungannya dengan konsep Trisaktinya- nya Soekarno. Mirip dengan Pancasilanya Soeharto. Itu cuma salah satu dari sekian banyak kekerasan budaya yang masih ada.Masih banyak yang belum diberesin sama Jokowi. Mungkin karena dia masih baru. Tapi saya ragu banget. Kenapa? Karena melihat dari gelagatnya juga sudah jelas. Dengan menaikkan harga BBM, perpanjangan kontrak Freeport, MP3EI, semuanya. Termasuk tindakan represif, seperti penggusuran PKL di Kota Tua dan Monas, bentrok akibat rencana pembangunan pabrik semen di Rembang, perampasan tanah di Karawang dan demo kenaikan BBM di Makassar baru-baru ini. Saya bukan kecewa, tapi menyayangkan elemen Kiri yang mendukung Jokowi tanpa melihat faktor lain. Mendukung Jokowi untuk mengubah sistem, ini musykil untuk dilakukan. Walaupun mungkin, tapi sulit sekali karena kekuasaan korporasi raksasa di belakang Jokowi itu besar sekali. Lalu ada isu tentang Hilmar Farid yang menjadi calon menteri, ya walaupun akhirnya gak jadi, saya pikir dia lebih baik jadi intelektual independen, menjadi “guru bangsa†karena pikirannya sangat dibutuhkan oleh bangsa ini.Balik lagi ke Trisakti. Trisakti itu kan konsep Sukarno tentang kemandirian secara politik, ekonomi, dan budaya. Di masa sukarno, konteksnya jelas. Mandiri secara politik berarti bebas dari campur tangan asing. Bebas dari cengkeraman kapitalisme asing. Tapi ternyata kan infiltrasi asing bukan cuma melalui politik dan ekonomi, dia juga lewat kebudayaan. Ada CCF di situ, CIA di belakangnya. Pentolannya ya Goenawan Mohammad. Sebelumnya ada Mochtar Lubis dan Sutan Takdir Alisjahbana. Tapi karena Mochtar Lubis ditangkap Sukarno, Ivan Kats cari kader baru. Dicarilah anak-anak muda, dapatlah GM dan Arif Budiman, kakaknya Soe Hok Gie. Gie juga kenal baik kok sama Ivan Kats. Di samping berkolaborasi dengan Nugroho Notosusanto, dia juga kolaborasi dengan orang-orang CCF dan FE UI, orang-orang Ford itu, dan dengan mafia Berkeley itu, terutama Soemitro. Karena patron mereka yang paling berpengaruh saat itu ya Soemitro, bapaknya Prabowo.Jadi ya kalau tiba-tiba Jokowi ngomong Trisakti, itu bukan Trisaktinya Soekarno. Jika dia menjalankan Trisaktinya Soekarno beneran, dia harus memotong cengkeraman gurita asing di sini, terutama Amerika. Termasuk menyatakan penghapusan hutang luar negeri, menolak investasi segala jenis korporasi dan membatalkan kontrak-kontrak perusahaan pertambangan asing. Memang terdengar ekstrim, tapi itulah yang dimaksud oleh Sukarno ketika dia bicara tentang Trisakti. Berani gak pemerintah sekarang mandiri secara ekonomi, politik dan budaya? Ini yang kemudian saya sayangkan dari Martin (Suryajaya). Kenapa dia gembor-gembor soal Trisakti lewat koran itu (Koran Bakti)? Kesalahan perhitungan politik saya pikir. Ya itu sekedar kritik saja dari saya. Jokowi itu gak punya basis massa. Jadi kalau Seknas, atau relawan itu diklaim sebagai basis massa, itu salah besar. Karena para relawan itu tidak ideologis. Beda sama PKI, bahkan PNI, massanya ideologis semua. Militan. Punya kesadaran kelas. Jadi kalau ini permasalahan strategi politik, ya salah. Tapi gak masalah, itu kan pilihan dia. Tapi ya konsekuensinya juga silahkan ditanggung. Kan yang ketawa terkekeh-kekeh Goenawan Mohammad juga akhirnya. Jadi percuma kan akhirnya hehehe.

T: Menurut Anda, kekerasan budaya seperti apakah yang paling mempengaruhi kondisi sosial politik Indonesia saat ini?

WH:Yang paling jelas ya itu anti-komunisme. Anti-komunisme masih menjadi mainstream discourse. Kekerasan budaya paling besar. Itu sampai sekarang. Kenapa ide marxisme, sosialisme, komunisme itu ditakuti? Siapapun yang ngomong, memperkenalkan, melakukan gerakan, ditangkap dan dipukulin di penjara. Itu kekerasan struktural dan langsung. Disebut struktural dan langsung karena diterapkan melalui kebijakan politik, setelah diberi landasan ideologis anti-komunis (kekerasan budaya), dan hasilnya kekerasan fisik.

T: Bagaimana pandangan anda mengenai lembaga-lembaga seperti Salihara dan Freedom Institute?

WH: Lembaga sampah, tulis aja tuh di situ, jadiin judul. Udah, saya gak mau komentar banyak tentang lembaga itu. Lembaga sampah.

T: Jika pasca 65 terjadi kekerasan budaya, berarti untuk melakukan perlawanan terhadapnya diperlukan hal yang serupa. Bagaimana pendapat anda proyek kebudayaan yang ada saat ini untuk meng-counter kekerasan budaya yang pernah dilakukan?

WH: Itu memang agak problematik, sering mengundang salah tafsir. Seperti juga konsep realisme sosialis yang diperkenalkan Lekra dan orang-orang sosialis yang mengandung komitmen sosial. Itu problematik karena metode seperti itu juga dipakai Orde Baru untuk melakukan hal yang sebaliknya. Taruhlah film Pengkhianatan G30S/PKI, itu kurang realis apa? Kurang punya komitmen sosial apa? Sama juga dengan novelnya Arswendo, yang isinya juga sama dengan filmnya. Dia punya dua mata pedang. Jadi kalau kita selama puluhan tahun dicekokin lewat kekerasan budaya dan kita berusaha membalik kondisi itu, ya itu memang hal yang harus dilakukan. Definisi kekerasan budaya itu begini: kita melakukan transformasi kultural, dari memandang kekerasan negara sebagai hal yang normal, lalu mengubahnya menjadi hal yang tidak normal, sehingga kita terus menerus dan konsisten melihat praktek kekerasan negara sebagai hal yang salah. Kalau cara sih bisa lewat macam-macam lah. Lewat buku, tulisan, kampanye, lewat desain grafis, sosmed, diskusi, kurikulum, karya seni, musik dan macam-macam lah. Untuk mengkampanyekan hal yang sebaliknya. Jadi, dalam praktik itu saya tidak melihatnya sebagai kekerasan budaya, sebaliknya, dia menjadi perdamaian budaya. Karena yang dilakukan adalah untuk mereduksi atau menyingkirkan faktor kekerasan langsung dan strukturalnya. Makanya dia bukan sebuah praktik kekerasan budaya. Kekerasan budaya itu adalah cara menggunakan produk kebudayaan untuk melegitimasi kekerasan langsung dan kekerasan struktural. Sementara kalau kita melakukan hal yang sebaliknya, untuk melawan praktek kekerasan, itu adalah praktek perdamaian budaya. Dengan kata lain itu adalaah upaya kebudayaan untuk mengubah paradigma kekerasan menjadi perdamaian. Perdamaian dalam pengertian praktik kekerasan negara harus dihapus sama sekali. Termasuk membongkar kasus 65 lewat jalur-jalur kebudayaan.

T: Bagaimana berjalannya Orde Baru melanggengkan proses budaya yang mendisiplinkan masyarakat dan masih bertahan hingga saat ini?

WH: Banyaklah. Salah satu contohnya adalah HIP (Hubungan Industrial Pancasila). Selain itu juga sekolah-sekolah yang dipersiapkan untuk jadi pimpinan, seperti IPDN, sekolah taruna. Itu adalah salah satu bagian yang masih dipertahankan. Tapi juga secara lebih luas, materi-materi pelajaran dari SD sampai kuliah pun masih tetap begitu. Jadi kalau ada perubahan, tidak jauh kok perubahannya. Kecuali mungkin pusat kekuasaan menjadi lebih tersebar. Tapi sistem dan lain-lainnya masih sama, masih Orba banget. Kalau bukan Orba, seperti orang-orang Kiri di belakang Jokowi itu berharap, seharusnya kontrak-kontrak pertambangan asing dll sudah diputus duluan atau proyek MP3EI, yang salah satunya diambil Tomy Winata kemudian dibatalkan, seharusnya bukan cuma membatalkan proyek jembatannnya aja, tapi seluruhnya, karena itu melibatkan investasi asing super besar, massif, terstruktur dan sistematis hahaha. Nah kasus Rembang kemarin kan begitu. Pendirian pabrik semen di Rembang itu adalah bagian untuk menyuplai bahan baku untuk membangun infrastruktur dalam mega proyek MP3EI. Yang di Karawang juga kemarin perampasan lahan, ya sama aja. Jadi land expropriation itu masih terjadi dan parah. Makanya harus ada UU Agraria yang benar. Bidang itulah yang paling sensitif. Karena kalau ada orang yang menyuarakan reformasi agraria, langsung dilibas, mati orang itu. Jadi kalaupun ada perubahan, itu pergantian rezim, bukan sistem. Jadi ya sistemnya sama aja.

T: Apa rencana penelitian Anda selanjutnya? Bisakah diceritakan? Apakah masih berkaitan dengan penelitian kekerasan budaya?

WH: Yang jelas saya sedang meneliti tentang penghancuran gerakan Kiri di Indonesia pasca 65. Intinya adalah membongkar konspirasi itu lagi. Tentang bagaimana mereka dihancurkan, siapa aja tokohnya, bagaimana prosesnya. Yang saya teliti ya mulai peristiwa 65 sampai sekarang. PKI dihancurkan, semua organisasi yang berafiliasi dengannya dihancurkan, lalu bagaimana represi diterapkan untuk membungkam semua gerakan Kiri, sampai pertarungan politik dilakukan dari fase ke fase sepanjang Orde baru hingga sekarang. Tapi semua itu akan dilihat melalui cara pandang kebudayaan, makanya saya juga berencana menganalisis perkembangan kesusastraannya juga.

T: Apa saran Anda bagi para penulis muda yang tertarik pada peristiwa 65?

WH: Sebetulnya sih ya terus saja menulis tentang hal-hal yang selama ini dibungkam, mencari informasi dan terus membaca sambil bergerak, membangun kesadaran, karena tanpa itu revolusi tak akan pernah mendapatkan momentumnya. Jadi kalau misalnya mau niat meneliti tentang peristiwa 65 ya usahakan mencari data yang selama ini masih tersembunyi. Banyak celah yang masih belum diteliti. Misalnya, siapa yang menulis editorial Harian Rakyat tentang dukungan PKI terhadap gerakan Untung di saat gerakan itu justru telah hancur? Ada satu saksi hidup yang nanti mau saya wawancarai. Itu orang yang kayaknya tahu. Menurut Martin Aleida, editorial itu sudah gak bisa diganggu-gugat pada saat masuk ke redaksi. Tapi siapa yang nulis, atau siapa yang ngasih perintah menaikkan tulisan itu? Itu salah satu celah yang masih bisa diteliti.[]

Sumber, “temu_eropa@yahoogroups.com” <temu_eropa@yahoogroups.com> wrote:, Tuesday, 25 November 2014, 12:33.

TIGA KEBIJAKAN JOKOWI YANG MENUAI KECAMAN

TIGA KEBIJAKAN JOKOWI YANG MENUAI KECAMAN

http://www.tempo.co/read/news/2014/12/01/078625552/Tiga-Kebijakan-Jokowi-Ini-Menuai-Kecaman

Senin, 01 Desember 2014 | 09:10 WIB

Presiden Joko Widodo saat mengumumkan 34 nama menteri di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 26 Oktober 2014. Jokowi memberi nama kabinetnya Kabinet Kerja. TEMPO/Subekti
Berita Terkait
• Hadapi Kebijakan Jokowi, SBY Disebut Main Dua Kaki
• Sepatu Jokowi Bikin Media Malaysia Terkesan
• Media Malaysia Berbalik Puji Jokowi
• Tiga Kemiripan Presiden Jokowi dan Walikota London
• Sebab Masakan Indonesia Tak Dikenal Versi Jokowi
TEMPO.CO, Jakarta – Sebulan lebih menjadi Presiden Indonesia, Joko Widodo membuat berbagai terobosan dan kebijakan baru. Banyak kebijakan baru yang dipuji, tapi ada pula yang menuai banyak kecaman dari berbagai pihak.

Kecaman terhadap kebijakan Jokowi datang dari berbagai kalangan, dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat hingga aktivis hukum. Berikut ini beberapa kebijakan Jokowi yang kontroversial:

1. Menaikkan harga BBM bersubsidi

Pada 7 November 2014, Presiden Joko Widodo menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Kini, harga bensin Premium naik dari Rp 6.500 menjadi Rp 8.500, sementara solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500. Jokowi beralasan, sebagian subsidi BBM dicabut karena lebih baik digunakan untuk mengembangkan infrastruktur. Namun sebagian kalangan menolak kebijakan ini. Mahasiswa menggelar unjuk rasa di berbagai daerah, sebagian di antaranya berujung kerusuhan. Anggota DPR dari Partai Amanat Nasional, Yandri Susanto, mengatakan kebijakan ini tidak pas sebab harga minyak dunia sedang turun. (Baca: Eks Wakil Jokowi Segera Demo Kenaikan Harga BBM)

2. Mengangkat Jaksa Agung dari partai

Pada 21 November 2014, Presiden Joko Widodo mengangkat M. Prasetyo, anggota DPR dari Partai NasDem, sebagai Jaksa Agung. (Baca: 3 Dosa Jokowi Saat Pilih Jaksa Agung Prasetyo) Hal ini mengundang kecaman, terutama dari aktivis hukum. Koordinator Indonesia Corruption Watch, Emerson Yuntho, misalnya, merasa pemilihan Prasetyo merupakan titipan partai, sehingga Kejaksaan Agung rawan diintervensi. Emerson menyarankan Jokowi memasang target kerja 6-12 bulan bagi Prasetyo sebagai acuan penilaian. (Baca: (Baca: Politikus NasDem Jadi Jaksa Agung, Aktivis Berduka)

3. Melarang menteri datang ke DPR

Pada 4 November 2014, Presiden Joko Widodo menerbitkan surat yang melarang menteri datang ke DPR. Alasan Jokowi kala itu adalah kondisi DPR tengah tidak kondusif akibat persaingan antarkoalisi yang berebut kekuasaan. Keputusan Jokowi ini mengundang protes dari anggota DPR. Wakil Ketua DPR Fadli Zon merasa Jokowi malah merugikan pemerintahnya sendiri karena, tanpa DPR, para menteri tidak akan mendapat anggaran. “Angggarannya dari mana? Dari langit?” Belakangan, partai anggota Koalisi Indonesia Hebat mendapat pemberitahuan bahwa larangan itu telah dicabut. (Baca: Seskab: Larangan Menteri ke DPR Masih Berlaku)

ISTMAN M.P.

SEPERTI APA MANUSIA INDONESIA?

SEPERTI APA MANUSIA INDONESIA?

http://indonesiasatu.kompas.com/read/2014/10/22/19474801/seperti.apa.manusia.indonesia?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Ktswp

Rabu, 22 Oktober 2014 | 19:47 WIB
Oleh: Ahmad Arif

“Seperti apakah manusia Indonesia saat ini?”
KOMPAS.com — Pertanyaan ini mungkin klasik, tetapi tetap relevan, terutama ketika Presiden Joko Widodo mengemukakan ”revolusi mental”. Pertanyaannya, mental seperti apa yang perlu direvolusi?

Sebagai sebuah negara, Indonesia satu. Namun, yang satu ini terdiri atas sekumpulan etnis. Tutur bahasa dan tradisinya beragam, sekalipun terdapat beberapa ciri perilaku mirip. Kesamaan itu salah satunya soal korupsi yang menyebar luas, melampaui sekat etnis, agama, dan partai.

Potret manusia Indonesia lainnya, seperti diungkap sosiolog Universitas Indonesia (UI), Ricardi S Adnan (Potret Suram Bangsaku, 2006), adalah budaya instan dan konsumtif sehingga minim inovasi.

Jika Jepang menganut prinsip first imitation then innovation, menurut Ricardi, orang Indonesia mengikuti prinsip imitasi saja, tanpa diikuti inovasi. Padahal, dengan inovasi, Jepang yang awalnya meniru teknologi Barat kemudian memimpin industri strategis, seperti otomotif dan elektronik.

Beberapa ciri lain juga disebutnya, yakni aji mumpung, premanisme, mudah terpancing, senang komentar, dan cenderung tidak komprehensif. Selain itu, disebut pula karakter positif, seperti gotong royong dan ramah.

Gambaran Ricardi mengingatkan pada diskursus yang diwacanakan Mochtar Lubis tahun 1977. Pada pidato kebudayaan ”Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban)” di Taman Ismail Marzuki, Mochtar Lubis menyebut enam ciri orang Indonesia.

Urutan teratas adalah munafik yang menyuburkan sikap asal bapak senang (ABS). Ciri berikutnya enggan bertanggung jawab, feodal, percaya takhayul, artistik, dan lemah karakternya. Pidato ini mengundang polemik kala itu.
Sebagai jurnalis, Mochtar Lubis berangkat dari observasi walaupun stereotip memang kerap problematik karena bertendensi menggeneralisasi.

Namun, penggambaran manusia Indonesia oleh orang Indonesia sendiri memang sangat minim sehingga otokritik Mochtar Lubis dan Ricardi S Adnan menjadi penting. Studi tentang manusia Indonesia sejak dulu lebih banyak dilakukan orang luar, seperti Snouck Hurgronje.

Mendefinisikan diri

Diskursus tentang manusia Indonesia seharusnya bisa dilakukan dengan kepala dingin dalam rangka membenahi karakter negatif dan memperkuat yang positif. Seperti disebut Lawrence Harrison (Culture Matters, 2010), budaya amat menentukan keberhasilan atau kegagalan pembangunan bangsa.

Maka, riset-riset sosial yang mendalam jadi penting di sini. Sebab, beragam problem pembangunan fisik di Indonesia kerap berakar pada soal sosial budaya. Contohnya, polemik tanggul laut raksasa Jakarta tak bisa abai dengan perilaku warga yang gemar membuang limbah ke sungai. Ketika muara 13 sungai ini akan ditanggul dan dijadikan sumber air bersih, kekhawatiran tanggul ini akan jadi comberan raksasa sangat beralasan.

Faktanya, orang Indonesia gagal mendefinisikan diri. ”Indonesia negeri yang paling tidak bisa membentuk persepsi dirinya. Sekitar 90 persen artikel tentang Indonesia di luar negeri dibuat orang asing atau warga Indonesia yang tinggal di luar negeri,” ungkap Prof Peter Carey, sejarawan Inggris penulis biografi Diponegoro, dalam orasi ilmiah di Sosiologi UI.

Pendapat Carey memang beralasan. Data Kementerian Riset dan Teknologi, dalam kurun 2001-2010, kita hanya memublikasikan 7.847 karya ilmiah—baik sosial maupun eksakta—di jurnal internasional. Angka itu sangat jauh dibandingkan Malaysia dan Thailand, yang masing-masing menghasilkan lebih dari 30.000 karya ilmiah di jurnal internasional.

Demikian juga dalam hal paten internasional. Selama tahun 2011, Indonesia hanya mendaftarkan 11 paten internasional, Malaysia 263 paten, dan Thailand 67 paten (Kompas, 6 Maret 2014).

SENYAP (THE LOOK OF SILENCE) — FILM TENTANG TRAGEDI SEPTEMBER 65

“Senyap” menang di Festival Film Dokumenter Denmark

http://www.antaranews.com/berita/464483/senyap-menang-di-festival-film-dokumenter-denmark

Sabtu, 15 November 2014 14:48 WIB |
Pewarta: Priyambodo RH

Jakarta (ANTARA News) – Film “Senyap” (The Look of Silence) karya Joshua Oppenheimer meraih penghargaan tertinggi Festival Film Dokumenter Internasional di Copenhagen, Denmark, CPH:DOX.

Penghargaan Dox Award diserahkan kepada sutradara pada penutupan CPH:DOX di Copenhagen Jumat malam (14/11) menurut keterangan pers melalui surat elektronik dari sutradara Joshua Oppenheimer, Sabtu.

Kompetisi utama Dox:Award menyeleksi berbagai film dokumenter terbaik dari seluruh dunia. Pemenang tahun ini dipilih oleh juri David David Wilson, Kidlat Tahimik, Laurence Reymond, Lilibeth Cuenca, dan Nelly Ben Hayoun.

Dalam keputusannya dewan juri Dox:Award menyatakan memilih “Senyap” dengan pertimbangan film tersebut mewakili sebuah kerja riset mendalam, penggalian sejarah yang buram, dan menghasilkan sebuah perenungan filosofis tentang ingatan dan kejahatan.

Juri menyatakan penghargaan tersebut diberikan untuk sebuah karya seni yang, diatas segalanya, berhasil membongkar kesenyapan.

Sutradara Joshua Oppenheimer menyebut film “Senyap” sebagai surat cintanya kepada Indonesia.

“Sesuatu yang tak pernah saya bayangkan mungkin terjadi dalam dekade ini. Saya merasa bahwa surat cinta ini semakin nyaring ketika surat itu dibacakan dengan lantang oleh negara kepada khalayaknya, rakyat Indonesia,” ujarnya.

Sutradara film “Jagal” (The Act of Killing) itu berharap karyanya bisa membantu terjadinya proses pengungkapan kebenaran, rekonsiliasi, dam pemulihan.

“Semoga nyala semangat itu semakin menerangi babak gelap sejarah Indonesia, sejarah tentang kekerasan oleh manusia kepada manusia, dan menerangi kembali arti kata ‘manusia’ itu sendiri agar kata itu menjadi sebuah monumen yang selalu siap dipertanyakan,” katanya menambahkan.

Oppenheimer juga menyatakan, “Saya berterima kasih kepada Adi Rukun dan keluarganya, yang sejak sepuluh tahun lalu telah mengilhami saya untuk menjelajahi babak gelap dalam sejarah manusia, yang bayang-bayang gelapnya masih menaungi kita sampai hari ini. Karena kalianlah saya membuat karya ini.”

“Terima kasih saya sampaikan kepada awak film Indonesia, dan terutama ko-sutradara Anonim yang telah mengubah karirnya, mengambil risiko keselamatan diri untuk membuat dua film dengan kesadaran bahwa sampai akuntabilitas dan keadilan sejati ditegakkan di Indonesia, ia takkan pernah bisa mengakui Jagal dan Senyap sebagai karyanya,” ujarnya.

Adi Rukun selaku bintang utama dan pemilik cerita mengemukakan tidak menduga “Senyap” mendapat sambutan yang hangat.

“Saya terharu pada sambutan penonton Indonesia. Sambutan ini, dan penghargaan dari bangsa lain, selalu mengingatkan saya bahwa kita bisa mengetuk hati manusia dan membuat mereka tidak meninggalkan kita sendirian di tengah penindasan,” katanya.

Dia juga berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) mewujudkan janjinya untuk menuntaskan pengusutan dan proses hukum kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu, termasuk pembantaian massal 1965.

“Saya bukan orang berkuasa atau kaya. Saya cuma punya film, harapan, dan janji seorang Presiden. Dan, satu tugas, seperti orang kebanyakan lainnya, untuk mengingatkan Presiden kita supaya menunaikan janjinya,” katanya.

“Mudah-mudahan ramainya pemutaran perdana, dan juga penghargaan ini, adalah juga adalah gambaran besarnya perhatian masyarakat Indonesia dan dunia pada persoalan HAM masa lalu. Mudah-mudahan persoalan HAM masa lalu itu bukan cuma jadi masalah korbannya saja.”

Anonim selaku asisten sutradara menyebut Adi Rukun seorang pemberani.

“Ia pernah berujar, ‘Saya hanya orang yang ingin berhenti takut, dan saya tak ingin anak saya hidup dalam ketakutan yang sama.’ Tetapi, bagi saya, hanyalah keberanian yang membuat ia hadir di dalam film dan di atas panggung, menyuarakan kesenyapan para korban dan membuat keheningan itu jadi sebuah bunyi,” katanya.

Penghargaan CPH:DOX adalah penghargaan bagi keberanian untuk memecahkan kesenyapan yang telah meneror kita semua selama setengah abad terakhir ini, demikian Anonim.
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2014
++++

http://www.antaranews.com/berita/463547/joshua-oppenheimer-luncurkan-film-senyap-di-jakarta?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=flybox

Joshua Oppenheimer luncurkan film “Senyap” di Jakarta
Senin, 10 November 2014 19:37 WIB | 5.915 Views
Pewarta: Ida Nurcahyani

Jakarta (ANTARA News) – Film “Senyap” atau “The Look of Silence” karya sutradara Amerika Serikat Joshua Oppenheimer oleh pembuatnya disebut untuk menyuarakan keluarga korban peristiwa 1965.

Para korban, termasuk tokoh dalam dokumenter ini, Adi Rukun, menginginkan adanya pelurusan sejarah mengenai tragedi itu sehingga stigma buruk tak berlanjut pada para penerus yang menurut film ini korban tragedi tersebut.

“Melalui film ini, saya ingin beritahukan pada orang-orang apa yang sesungguhnya terjadi, pembunuh kakak saya bilang yang lalu biar berlalu tapi tidak, karna stigma masih ada,” kata Adi Rukun usai pemutaran perdana film “Senyap” di Taman Ismail Marzuki, Senin.

Dalam film dokumenter berdurasi 98 menit itu, Adi dikisahkan sebagai adik korban pembantaian 1965 di salah satu desa perkebunan di Sumatera Utara.

Bersama Joshua, dia mengumpulkan para penyintas pembantaian dan mendokumentasikan kesaksian mereka.

Adi, dengan segala risiko yang mesti dihadapinya, menemui para pembunuh kakaknya yang dianggap simpatisan PKI.

“Saya menemui mereka bukan mau balas dendam, tapi hanya ingin tahu cerita yang sebenarnya bagaimana. Selama ini saya cuma dengar dari Mamak. Yang paling saya tak suka dari para pembunuh itu, mereka mengaku pahlawan ideologi dan harapan saya mereka akui kalau mereka salah dan kami bukan orang jahat,” katanya.

Dalam film, tak satu pun pembantai meminta maaf pada Adi. Hanya ada satu anak perempuan dari pembantai yang meminta maaf atas tindakan ayahnya yang kini sudah pikun.

“Senyap” pertama kali diputar di Indonesia malam ini di Taman Ismail Marzuki. Ratusan penonton berjubel antre di depan gedung.

Saking besarnya antusiasme penonton, film yang awalnya akan diputar sekali akhirnya diputar dua kali.

“Senyap” meraih Penghargaan Utama Juri (Grand Jury Prize ) dalam Festival Film Internasional Venezia ke 71 (Venice International Film Festival) di Italia.

Selain memenangkan salah satu penghargaan utama tersebut, film ini juga memenangkan FIPRESCI Award (Penghargaan Federasi Kritikus Film Internasional) untuk film terbaik, Mouse d’Oro Award (Penghargaan Kritikus Online ) untuk film terbaik, Fedeora Award (Federasi Kritikus Film Eropa dan Mediterania) untuk film terbaik Eropa-Mediterania, dan Human Rights Nights Award untuk film terbaik bertema hak azasi manusia (HAM).

Editor: Jafar M Sidik (Antara)

“Senyap” di Amsterdam

Oleh Chalik Hamid

Film “The Look of Silence”/Senyap adalah film dokumenter ke dua yang diproduksi oleh Joshua Oppenheimer setelah “The Act of Killing”/ Jagal. Ke dua film ini berbasiskan kejadian pembunuhan kejam di Sumatra Utara. “The Act of Killing”/Jagal tampil dengan tokoh (pelaku) utama Anwar Kongo bersama teman-temannya melakukan pembantaian terhadap orang-orang PKI dan para pengikut Bung Karno di kota Medan. Pembunuhan dilakukan dengan berdarah dingin, dengan mengikatkan kawat terhadap leher para korban dan menarik kawat tersebut di kedua ujung kawat hingga korban mati dengan tidak mengeluarkan darah. Dalam film ditunjukkan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan di balkon sebuah rumah kantor Pemuda Pancasila kota Medan.
“The Look of Silence”/Senyap menampilkan tokoh utama Adi Rukun, keluarga korban 1965 yang dituduh sebagai anggota PKI. Adi adalah adik kandung Ramli yang menjadi korban pembanataian Komite Aksi yang dikendalikan oleh Militer/ABRI. Adi mengetahui kejadian pembunuhan kejam itu dari penjelasan ibundanya yang sudah sangat tua. Adi yang menyadari bahwa pembunuhan itu merupakan pelanggaran HAM berat berusaha mendatangi dan bertemu dengan para pembunuh di masa lalu itu, yang sudah tua dan renta. Tujuannya untuk meluruskan sejarah masa lalu dan menyadarkan para pelaku agar mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada korban yang masih hidup, termasuk kepada keluarga Adi. Tentu saja tujuannya untuk rekonsoliasi agar penduduk bisa hidup rukun dan berdampingan menghadapi hidup masa depan. Adi pun berusaha mendatangi rumah-rumah para pelaku pembunuhan yang masih hidup.
Dalam banyak adegan ditunjukkan bagaimana Adi berusaha mendatangi rumah para pelaku pembunuhan dengan berbagai hambatannnya. Adi berusaha meyakinkan bahwa penjagalan terhadap manusia di masa lalu itu adalah salah dan keliru. Dalam salah satu adegan, Adi berkunjung ke rumah seorang bapak yang sudah tua dan hampir pikun. Adi menanyakan pada bapak tua itu, apa yang sudah dia lakukan di masa lalu. Bapak itu dengan bangga menceritakan ulahnya di masa lalu itu. Dia menceritakan bagaimana ia membunuh seorang komunis dengan alasan tidak beragama. Dia menggorok leher orang itu dan menampung darah orang itu sebanyak dua gelas dan meminumnya. Adi bertanya mengapa meminum darah orang itu. Si Bapak menjawab dengan tenang, kalau saya tidak meminumnya, maka saya akan gila.
Dalam adegan lainnya, ditunjukkan dua pelaku memperagakan bagaimana mereka membunuh dengan kejam dan memcampakkan korbannya ke dalam Sungai Ular yang terletak antara Medan dan Lubuk Pakam di Sumatra Utara. Menurut pengakuan pelaku, ribuan warga yang dituduh komunis dibantai dan ditenggelamkan ke Sungai Ular. Pada saat itu penduduk sekitar tidak mau dan tidak berani memakan ikan karena sepanjang sungai terapung mayat-mayat orang komunis.
Sebuah adegan menarik ketika Adi berkunjung ke rumah seorang lelaki tua yang didampingi seorang anaknya perempuan. Adi mengajukan sebuah pertanyaan kenapa sang ayah turut melakukan pembunuhan di masa lalu. Sang ayah yang sudah pikun tidak tahu bagaimana memberikan jawaban, namun sang anak perempuan meminta maaf kepada Adi atas kesalahan/kesalah ayahnya di masa lalu. Adi Rukun pun memberikan maaf dan memang itulah tujuan melakukan kunjungan-kunjungan agar saling memaafkan untuk menghilangkan beban berat masa lalu. Namun demikian, ada sebuah keluarga besar yang ditemui Adi, malah menyatakan agar jangan mengungkit masa lalu, karena masa lalu itu sudah lewat dan tak perlu diingat kembali.
Film `Senyap` selalu membawa penonton terhenyak atas debat-debat yang mencekam antara Adi dan para pelaku yang ia kunjungi. Namun oleh sang sutradara/regisor segera dibawa ke adegan humor alamiah, yang bukan chusus mewmbuka ruang untuk mengadakan humor. Misalnya Adi (sanga anak) yang sudah berusia 44 tahun menanyakan berapa umur ayahnya yang sudah tua bangka dan pikun itu. Berulangkali sang ayah menjawab hahwa umurnya baru 17 tahun, padahal umurnya sudah 103 tahun. Jawaban ini menimbulkan pecah tawa sepanggung oleh penonton. Demikian juga anak perempuan Adi yang bernama Aisyah ketika berbaring di kamar yang mengatakan bahwa ayahnya kentut sehingga membikin bauk di kamar, padahal ayahnya (Adi) sama sekali tidak mengeluarkan kentut. Nah, dengan demikian adegan-degan genting, terselingi adegan humor.
Saya bersama dengan Aisah, Sulardjo dan Melia Srg menonton film ini mengikuti Fetival Film Dokumenter yang diselenggarakan di Amsterdam tanggal 20 s/d 30 November 2014. Film `Senyap`telah mendapatkan apresiasi dalam festival film di Venezia bulan Agustus yang lalu.
Apa sebenarnya tujuan Joshua Oppenheimer memprduksi film `The Look of Silence`/Senyap? Dalam wawancaranya dengan Wartawan BBC Indonesia, Ging Ginanjar, Oppenheimer pada Sabtu (08/11), sebelum pemutaran perdana Senyap di Jakarta, mengatakan:
“Senyap sebenarnya mengambil sudut pandang dari keluarga korban dan menggambarkan akibat setelah setengah abad. Senyap dan ketakutan yang dirasakan satu keluarga – yang mencerminkan ketakutan jutaan orang di Indonesia yang terkena stigma sebagai keluarga korban pembantaian 1965, yang dituduh terlibat PKI. Film ini menggambarkan betapa dahsyat kebutuhan rekonsiliasi di Indonesia sekarang“.

Amsterdam, 29 November 2014.

GLOBAL SOLUTION FOR GLOBALIZAION PROBLEMS

GLOBAL SOLUTION FOR GLOBALIZAION PROBLEMS

http://www.project-syndicate.org/commentary/globalization-and-managing-systemic-risk-by-ian-goldin-2014-11


Ian Goldin

Ian Goldin, Director of the Oxford Martin School, Professor of Globalization and Development at the University of Oxford, and Vice-Chair of the Oxford Martin Commission for Future Generations, is the co-author of The Butterfly Defect: How Globalization Creates Systemic Risks, and What to Do about… read more
OXFORD – The last few decades of globalization and innovation have resulted in the most rapid progress that the world has ever known. Poverty has been reduced. Life expectancy has increased. Wealth has been created at a scale that our ancestors could not have imagined. But the news is not all good. In fact, the achievements brought about by globalization are now under threat.

The world has simultaneously benefited from globalization and failed to manage the inherent complications resulting from the increased integration of our societies, our economies, and the infrastructure of modern life. As a result, we have become dangerously exposed to systemic risks that transcend borders.

These threats spill across national boundaries and cross the traditional divides between industries and organizations. An integrated financial system propagates economic crises. International air travel spreads pandemics. Interconnected computers provide rich hunting grounds for cybercriminals. Middle Eastern jihadis use the Internet to recruit young Europeans. Living standards rise – and greenhouse-gas emissions follow, accelerating climate change.

As a byproduct of globalization, crises that once burned locally and then quickly flamed out now risk sparking international conflagrations. A pandemic, flood, or cyber attack in the City of London or Wall Street could send the entire world into a financial tailspin.

If the progress that globalization has delivered is to be sustained, countries must accept shared responsibility for managing the risks that it has engendered. National governments – whether powerful, like the United States and China, or weak, like Iraq and Liberia – are unable to address these cascading and complex challenges on their own.
Only a small fraction of the risks arising from globalization require a truly global response. But, by definition, these risks transcend the nation-state; thus, coordinated action is required to address them effectively. The nature of the response needs to be tailored to the threat.

In the case of pandemics, the key is to support countries where outbreaks occur and help those most at risk of infection. Widespread dangers, such as climate change or a new financial crisis, can require the cooperation of dozens of countries and a broad range of institutions. In nearly every case, an international effort is needed.

An important characteristic of the risks of a globalized world is that they often become more serious over time. As a result, the speed at which they are identified, along with the effectiveness of the response, can determine whether an isolated event becomes a global threat. One need only look at the rise of the Islamic State, the outbreak of Ebola, the fight against climate change, or the financial contagion of 2008 to see what happens when a danger remains unidentified for too long or a coordinated response is missing or mismanaged.

And yet, just as the need for robust regional and international institutions is at its greatest, support for them is waning. A growing number of citizens in Europe, North America, and the Middle East blame globalization for unemployment, rising inequality, pandemics, and terrorism. Because of these risks, they regard increased integration, openness, and innovation as more of a threat than an opportunity.

This creates a vicious circle. The concerns of the electorate are reflected in rapidly growing support for political parties that advocate increased protectionism, reductions in immigration, and greater national control over the marketplace. As a result, governments across Europe, North America, Asia, and Oceania are becoming more parochial in their concerns, starving international agencies and regional organizations of the funding, credibility, and leadership capabilities needed to mount a proper response to the challenges of globalization.

In the short term, countries may be able to duck their global responsibilities, but the threat posed by events beyond their borders cannot be kept at bay forever. Unaddressed, the endemic dangers of a globalized world will continue to grow. In confronting dangers such as the Islamic State, Ebola, financial crisis, climate change, or rising inequality, short-term political expediency must be overcome – or the entire world will come to regret it.‎

Read more at http://www.project-syndicate.org/commentary/globalization-and-managing-systemic-risk-by-ian-goldin-2014-11#AR8hIMJyj34f3BYo.99

SESUATU YANG HARUS DIUCAPKAN

SESUATU YANG HARUS DIUCAPKAN

(menalar puisi Gunther Grass)

Dalam khazanah sastra pada umumnya, prosa lazim dibedakan dengan puisi. Pemisahan antara kedua genre sastra ini terwujud dalam pengertian logika langsung dan eksak di satu pihak dan tafsiran samar-samar di pihak lain. Puisi seolah-olah bersembunyi di balik tabir dayapikir para penyair yang lebih menyukai kedamaian hatinurani daripada ketajaman otak di balik batok kepala. Meski demikian, pada dasarnya setiap pengarang puisi juga menghendaki kebenaran penafsiran terhadap karya mereka, seperti halnya puisi Gunter Grass di bawah tulisan ini.

Dalam kasus puisinya itu agaknya Gunter Grass sengaja memancing reaksi penting dengan menyodorkan sebuah puisi bergaya prosa tanpa bersembunyi di balik taktik artistik sebagaimana lazimnya sebuah karya puisi. Maka hampir seluruh puisi Grass dalam bentuk terjemahan seperti di bawah tulisan ini, tersaji dengan gaya prosaik yang dianggapnya mampu langsung menikam sasaran. Grass tak segan-segan lagi menyodorkan karyanya itu dengan thema dan isi yang langsung mengungkap situasi politik di Timur Tengah yang kini semakin genting dan cenderung eksplosif. Grass merasa sudah waktunya menegaskan was gesagt werden muss (sesuatu yang harus diucapkan) sebelum segalanya terlambat. Kini baginya tak penting lagi, apakah puisi itu dikecam oleh para pembacanya sebagai puisi prosaik, atau disanjung sebagai prosa biasa dalam bentuknya yang cenderung puitis.

Puisi Gunter Grass (85 tahun) – novelis Jerman penyandang hadiah nobel bidang sastra (1999) – ini tersiar luas di media penerbitan dan televisi Jerman sejak awal April yang lalu dan telah memicu munculnya sejumlah komentar maupun kecaman bertubi-tubi dari Israel, karena isi dan thema puisi tersebut dianggap melukai hati nurani bangsa dan negeri mereka. Inilah buat pertama kali sebuah puisi telah memancing perhatian, bukan dari khalayak pembaca Jerman saja, tapi juga dari para politisi beberapa negara lain yang menganggap situasi dunia sekarang ini sudah semakin genting.

Dalam kasus puisi Grass ini rasanya tiada yang lebih menarik perhatian, kecuali reaksi perdana menteri Israel sendiri, Benyamin Netanyahu, yang akhir-akhir ini langsung terlibat dalam sengketa politik di Timur Tengah sejak Iran di bawah presiden Ahmadi Nejad dihujat sebagai biangkeladi ketegangan situasi di timurtengah dengan tuduhan sedang merencanakan produksi peluru kendali nuklir“ yang sangat berbahaya, khususnya bagi AS dan sejumlah negara sekutunya di Timur Tengah, khususnya Israel.

Sejauh ini kalangan politisi sendiri selalu membisu seolah-olah Israel – sebuah negeri mini yang diam-diam telah memiliki senjata nuklir, tidak merupakan ancaman bagi perdamaian di wilayah timurtengah, khususnya Iran. Ketegangan itu juga terjadi hampir setiap hari antara Israel dan Palestina, khususnya di kawasan Gaza. Tetapi bagi Israel, ancaman Iran di bawah presiden Ahmadi Nedjad telah meningkat menjadi sangat membahayakan dan Israel merasa berhak membela dan mempertahankan kedaulatannya di wilayah Timur Tengah.

Situasi itu bagi Gunter Grass sangat membahayakan perdamaian dunia, karena sikap dan politik Israel dalam menghadapi Iran, justru memicu nafsu siap-siaga di pihak Iran. Ini berarti saling curiga dan siap-siaga di pihak dua-duanya. Grass merasa sangat cemas karena situasi seperti ini akan sukar dikendalikan dan cenderung menjadi sangat eksplosif karena Israel sendiri sudah memiliki potensi nuklir yang sewaktu-waktu bisa digunakan. Justru inilah gagasan dan kekhawatiran Gunter Grass yang tertuang dalam puisi yang disiarkan di berbagai penerbitan…: „Was Gesagt Werden Muss“ (Apa Yang Seharusnya Diucapkan).

Namun Benyamin Netanyahu – perdana menteri Israel – tiba-tiba menuduh Gunter Grass menyamakan atau tidak membedakan antara Israel dan Iran. Netanyahu merasa berhak membela kedaulatan rakyat dan negerinya terhadap kemungkinan serangan dari Palestina maupun Iran. Ia menolak pandangan dan sikap Gunter Grass. Sebaliknya, seperti ramalan para ahli strategi militer di negeri manapun, jika (dan hanya jika) Iran ternyata sudah memiliki peluru kendali nuklir, akan berarti Israel maupun Iran siap melakukan serangan pertama terhadap satu sama lain. Sesuatu yang sangat membahayakan perdamaian dunia. Kiranya inilah makna dan tujuan Was Gesagt Werden Muss seperti telah diucapkan oleh Gunter Grass. Novelis ini merasa perlu melakukan sesuatu sebelum segalanya terlambat dan manusia tidak dapat lagi mencegah terjadinya bencana perang.

Paling akhir Grass pun tampil dengan penegasan … “Saya tidak akan mencabut kembali pernyataan itu. Sikap membantu Israel tanpa kecaman, tak ubahnya seperti kabut rahasia yang samar-samar, dan kita tahu ke mana arahnya.“

Sebaliknya Benyamin Netanjahu menuduh Grass „seenaknya menyamakan Israel dengan Iran.“ Sesuatu yang sangat merugikan bagi Israel, bahkan „mengingatkan orang pada keanggautaan pengarang ini dalam Garda SS“ (angkatan bersenjata Nazi Jerman di bawah Hitler – ST)

Sampai saat ini bakuhantam verbal gara-gara puisi Gunter Grass itu tidak menemukan penyelesaian. Dalam sebuah siaran televisi SAT-1 di Jerman, Grass malah membalas dakwaan Netanyahu… „Ocehan seperti itu sama sekali tidak menyangkut isi puisi saya. Itu cuma sebuah kampanye untuk menjatuhkan nama baik saya agar pendirian saya tercela untuk selama-lamanya.”

Dalam sebuah wawancara dengan siaran televisi 3-Sat – Kulturzeit – , Grass menegaskan lebih lanjut ….. „Tuduhan massif seolah-olah saya antisemitis, itu merupakan kebencian tanpa bandingan. Sikap seperti itu pasti akan menghadapi kutukan telak dari khalayak pembaca.”

Grass sendiri hanya mengakui kesilapannya dalam perbincangan di televisi tersebut…. „Sebenarnya lebih baik jika kami tidak berbicara tentang Israel secara umum, melainkan tentang pemerintah Israel sekarang. Perlu juga ditegaskan, penyerahan sebuah kapalselam keenam kepada Israel oleh Jerman, merupakan suatu cara yang keliru dalam usaha pemulihan kerukunan kembali dengan Israel.“

Grass juga tak lupa mengecam pemerintah Israel karena sikapnya terhadap Iran sudah sangat membahayakan perdamaian dunia. Belum lagi adu argumentasi itu selesai, tiba-tiba jubir Deparlu Israel, Jigal Palmor, tampil dengan hujatan… „loncatan Gunter Grass dari fiksi ke non-fiksi sungguh memuakkan dan patut dikasihani.“

Bagaimanapun juga, Grass justru dibela oleh Ketua Akademi Seni Jerman, Klaus Staeck. Dalam sebuah siaran di koran Mitteldeutsche Zeitung, Staeck dikutip…. “Kita harus mengijinkan seseorang menyatakan sesuatu dengan jelas tanpa menghujatnya sebagai musuh Israel. Menghujat begitu saja sebagai antisemitis, saya rasa tidak pada tempatnya. Grass juga berhak memiliki kebebasan mengutarakan pendapat, dan dalam hal ini dia sekedar menegaskan kekhawatirannya. Kekhawatiran yang juga dirasakan oleh sejumlah besar manusia.“

Akhirnya perlu ditambahkan, ketika tulisan ini ditutup (awal April 2012), tiba-tiba tersiar berita bahwa pemerintah Israel melarang Gunter Grass memasuki wilayah Israel dan novelis ini divonis sebagai persona non grata. Grass sendiri tidak merasa perlu menjawab hujatan itu. Novelis ini hanya sekecap mengucapkan alasan …“Saya merasa perlu menegaskan pendirian saya sebelum segalanya terlambat.“**

(Laporan ringkas Soeprijadi Tomodihardjo)
___________

Sumber berita:
Siaran televisi 3-Sat di Jerman
Beberapa suratkabar Jerman

***

Puisi Gunther Grass

Sesuatu Yang Harus Diucapkan

Mengapa aku membisu – membisu begitu lama
terhadap sesuatu yang terbuka dan terencana
sedangkan kami semua selaku orang yang sempat selamat
akhirnya toh hanya menjadi catatan kaki

Ada pihak yang merasa berhak melakukan pukulan pertama
namun oleh seorang budak pembual
disetir demi sorak-sorai
atas kepunahan rakyat Iran
karena di kalangan penguasa sana
diduga telah membangun senjata atom

Tapi mengapa aku mesti menahan diri
tidak menyebut nama suatu negara lain
yang sejak bertahun-tahun
menimbun semakin banyak potensi nuklir, meski selalu dirahasiakan
dan berada di luar kontrol
pemeriksaan internasional yang tak diijinkan

Kebisuan umum tentang kenyataan ini
di mana kebisuanku sendiri tak dihargai
kuanggap sebagai kebohongan besar
dan memaksa kutukan padaku selaku ‘antisemitis’
tak dihiraukan…..

Kini, karena di negeriku sendiri
kejahatan kami berulang kali ditonjolkan dan dipercakapkan
semata-mata demi keuntungan perdagangan
dengan bermanis bibir dinyatakan sebagai
pemulihan hubungan baik….
mengirim lagi sebuah kapalselam ke Israel dengan muatan
berupa bahan peledak yang mampu melenyapkan segala-galanya
di negeri tempat keberadaan sebuah bom atom pun tidak terbukti
namun dianggap sebagai bukti
maka aku ucapkan apa yang harus kuucapkan

Tetapi mengapa selama ini aku membisu
sebabnya karena aku sekedar menyadari negeri asalku
yang tak lagi tertebus kembali dosa dan nodanya
lantas mencegah kenyataan ini menjadi kebenaran
yang diucapkan bagi Israel dengan siapa aku berurusan
dan ingin tetap dengan wajar berhubungan

Mengapa baru sekarang aku tegaskan
meski sudah basi dan dengan tetesan tinta terakhir….:
Israel sendiri telah menjadi sebuah negeri dengan kekuatan atom
yang membahayakan perdamaian dunia yang kian retak ini?
Sebabnya karena aku harus mengucapkan sesuatu
yang esok hari bisa sangat terlambat
juga karena kami– sebagai bangsa Jerman
sudah cukup memikul beban
barangkali sebagai penyalur bagi para penjahat
yang mungkin bisa menjawab mengapa dosa kami
tak bisa ditebus lagi
dengan ucapan-ucapan biasa

Sebagai tambahan, kini aku tak akan membisu lagi
karena kemunafikan negara-negara barat
bagiku sangat menjemukan dan hanya bisa diharapkan
semoga lebih banyak manusia bebas dari kebisuan ini
kebisuan terhadap sebab-musabab bahaya yang nyata itu
dengan tuntutan agar mereka mencegah kekerasan
dengan kontrol permanen oleh lembaga internasional
yang diijinkan tanpa rintangan oleh kedua negara
Hanya dengan begitu bangsa Israel maupun Palestina
yang saling bermusuhan itu
juga segenap umat manusia termasuk kita sendiri
terbebas dari rasa cemas **

(Terjemahan longgar dari siaran DER TAGESSPIEGEL tanggal 4 April 2012)

____________
Catatan:

Bakuhantam verbal tentang puisi Gunther Grass antara pengarangnya dan para pendukungnya di satu pihak, dengan para penentangnya di pihak lain, telah tersiar luas di media penerbitan Jerman maupun Israel selama beberapa pekan terakhir ini. Tetapi menjelang akhir minggu yang lalu (26 April), India telah melakukan percobaan peluru kendali nuklir dengan kapasitas melintas sampai 5000 kilometer jauhnya. Kemudian juga disusul oleh Pakistan dengan percobaan yang sama, meski hanya mencapai jarak 2500 kilometer. Lalu apalah lagi yang perlu diucapkan oleh Gunther Grass tentang „pelarangan senjata nuklir seluruh dunia“, kecuali membisu seribu bahasa…..?
Dalam konteks masalah ini penerjemah sengaja tidak melakukan analisis sastra, melainkan laporan biasa. (Penerjemah: Soeprijadi Tomodihardjo)

Koeln, 30 April 2012

SAHEWAN PANARUNG — RUANG KEBUDAYAAN HARIAN RADAR SAMPIT

SAHEWAN PANARUNG – RUANG KEBUDAYAAN HARIAN RADAR SAMPIT
Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentas Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

Tajuk Panarung
PELESTARIAN, PENAFSIRAN, PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN
Oleh Andriani S. Kusni

Lebih dari tiga puluh tahun lebih Institut Dayakologi nama baru dari Institut Dayakologi for Research and Development (IDRD), melakukan penelitian, terutama di bidang kebudayaan Dayak Kalimantan Barat (Kalbar). Di antara yang diteliti dan dikumpulkan itu adalah cerita-cerita rakyat Dayak Kalbar. Kegiatan ini berlangsung hingga sekarang. Si U’lek U’lek Akun yang kami terbitkan kali ini, adalah salah satu cerita rakyat Dayak Taman yang didapatkan melalui penelitian tersebut. Pengumpulan dan penulisan cerita-cerita merupakan salah satu bentuk pelestarian, pendokumentasian, pengarsipan – hal yang masih sangat lemah di negeri ini, termasuk dan lebih-lebih di Tanah Dayak yang tradisi lisannya masih sangat kuat. Budaya lisan tidak perlu ditiadakan, tapi tidak bisa dijadikan sandaran ke depan. Budaya lisan dibatasi oleh daya ingatan dan gampang mengalami reduksi serta subyektivitas yang besar.
Petinggi-petinggi penyelenggara Negara di negeri ini termasuk di Kalimantan Tengah (Kalteng) sering berbicara tentang pelestarian budaya (baca: budaya lokal cq. Dayak). Apa-bagaimana melakukan pelestarian itu tidak pernah dirinci.
Saya berpendapat bahwa pelestarian itu dilakukan dengan meregistrasri, mendokumentasi, merawat, mengarsipkan khazanah budaya lokal kita. Dan data yang diregistrasi, didokumentasi, diarsipkan dan dirawat itu diperoleh melalui penelitian. Dari tingkat ini maka bisa diketahui kekayaan khazanah budaya yang dimiliki.
Langkah berikutnya adalah menganalisa data-data tersebut. Mengkajinya untuk melihat kekuatan dan kekurangannya, relevan tidaknya dengan keadaan kekinian. Apa nilai universal yang terdapat dalam khazanah tersebut. Kajian tidak bisa dilakukan secara sekoral tapi dilakukan dengan metode multidisipliner. Kesimpulan kajian multidisipliner diperoleh melalui debat ide atau debat akademi – hal yang masih belum mentradisi di Kalteng. Di daerah ini sering terjadi dan masih kuat mengakar bahwa perbedaan dipandang sebagai permusuhan. Kritik dipandang sebagai hujatan dan hinaan. Petunjuk bahwa “Kalteng Harati” masih jauh dari kenyataan. Melalui kajian demikian, maka nampak betapa keragaman itu benar-benar suatu kekayaan dan rakhmat tak ternilai bagi kehidupan, sedangkan pikiran tunggal itu mendekati kita pada bencana. Kajian pula memperlihatkan bahwa tidak ada satu kebudayaan mana pun yang bisa berkembang dalam kesendirian dan ketertutupan sebab yang dikatakan oleh sejarah keterbukaan merupakan condition sin qua non untuk kehidupan kebudayaan. Kajian ini pula yang menunjukkan kepada kita tentang apa-bagaimana harus bertindak, bagaimana mengembangkan kebudayaan kekinian tanpa lepas akar. Pengembangan, jadinya adalah tahap ketiga.
Dari tiga tahap tersebut, Kalteng berada di tingkat mana? Kalau boleh berkata jujur, agaknya Kalteng baru mencoba memasuki tahap awal. Baru berada di ambang pintu tahap pertama. Sebab kalau benar sudah memasuki tahap pertama, tentu ada rencana dan kegiatan terencana atau sistematik. Saat berada di ambang pintu tahap pertama ini, kita masih kebingungan tak tahu berbuat apa sehingga hasilnya pun tidak menentu. Hal ini disebabkan, meminjam kata-kata Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur Putu Sudarsana: ”Orangnya ada tapi yang mikir tidak ada”. Dengan kata lain kita kekurangan tenaga pemikir, dan lebih banyak menunggu perintah serta terkungkung dalam rutinisme. Birokrasi memang gampang terjangkit penyakit rutinisme dan metode kerja “robot” alias “yes-man”. Yang kongkret terdapat di kalangan birokrasi kita, para penyelenggara Negara tidak mempunyai kemampuan mendengar, punya telinga tapi tidak bisa mendengar, punya mata tapi tidak bisa melihat karena memandang kekuasaan sama dengan kebenaran. Tidak, kita tidak bisa maju, lebih-lebih untuk bidang kebudayaan, dengan bersikokoh pada pandangan dan sikap yang gampang menjurus ke tiranisme dengan macam-macam kaliber. Kebudayaan itu sendiri tidak lain dari kemajuan manusiawi. Karena masyarakat Kalteng masih bercorak kuat “patron-clien” maka kebudayaan manusiawi niscayanya diperlihatkan oleh para patron. Sementara itu counter elitenya tanpa kenal lelah membangun budaya tandingan baru. Jalan kemajuan manusiawi bukanlah jalan bertabur bunga, bukanlah jalan mulus seperti ditunjukkan oleh dikhianati dan disalibnya Yesus di Golgota oleh bangsanya sendiri. Juga oleh maraknya orang-orang menempuh jalan gampang bernama kekerasan dalam berbagai bentuk di negeri dan provinsi ini. Lalu sudahkah kita menjadi bangsa berbudaya? []

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang
Ungkapan-ungkapan Filosofis Dayak
~ Isen mulang (lihat edisi terdahulu)
~Hatamuéi lingu nalata (lihat edisi terdahulu)
~Hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit (lihat edisi terdahulu)
~Réngan tingang nyanak jata. Anak enggang, putera-puteri naga.(lihat edisi terdahulu)
~Budaya Bétang (lihat edisi terdahulu).
~ Utus Panarung. Turunan pelaga.(lihat edisi terdahulu)..
~Mamut-Ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal (Gagah berani, pintar-berbudi atau beradat, urakan-tekun, handal tidak berbanding).
~ Uras pangkalima (Semua panglima). (lihat edisi terdahulu).
~ Kéba basuang.Kéba berisi. (lihat edisi terdahulu).
~Masi arepe (Bahasa Dayak Katingan: Mangasi arep eh). Menyayangi diri. Apa arti konsep “masi arepe?” Konsep ini menyarankan agar seseorang anak manusia itu niscayanya menyayangi diri melalui usaha-usaha keras agar bisa menjadi anak manusia layaknya sebagai anak manusia. Baik secara ekonomi, sosial, budaya dan politik sesuai konsep-konsep terdahulu. Dengan kelayakan demikian maka anak manusia itu menjadi setara dengan yang lain, tidak hidup sebagai hewan, tidak hidup dalam keterlontaan dan jadi keset orang lain. Posisi kelayakan sesuai konsep-konsep terdahulu, membuatnya hidup bermartabat, menempatkannya sebagai subyek, tuan atas dirinya dan tidak menjadi obyek. Untuk menjadi subyek usaha dia sendirilah, usaha sebagai turunan Utus Panarung, yang menentukan, bukan dengan merendahkan diri dengan mengemis atau menyerah tetapi dengan semangat isen mulang. Sebab dengan mengemis-ngemis ia tidak menghargai diri sendiri, menjadikannya tergantung, bukan anak manusia merdeka sebagaimana terangkum dalam konsep réngan tingang nyanak jata (anak enggang putera-puteri naga).

UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK
~ Ijé kungan hadangan ngalabangan, ijé karambang uras buah kinyak. Satu ekor kerbau berkubang, (kerbau) satu kandang kena lumpur. Pepatah ini melukiskan kehidupan satu kolektif atau komunitas atau kesatuan. Apabila salah seorang warga, anggota komunitas, kesatuan atau kolektif itu melakukan suatu perbuatan jahat atau kesalahan besar, akibatnya menyangkut seluruh nama baik kesatuan atau kolektif itu. Pada masa sekarang, untuk menghindari atau berkelit dari tanggungjawab dari kesalahan tersebut, kolektifnya sering mengatakan bahwa kesalahan tersebut dilakukan oleh oknum. Padahal sebenarnya kolektif atau kesatuan tersebut tidak bisa dengan begitu gampang melepaskan tanggungjawabnya. Padanan pepatah ini adalah “Nila setitik merusak susu sebelanga”.
~ Handak hadari kajariae balawu mangkawang. Hendak berlari (tapi) akhirnya jatuh (lalu) merangkak. Pepatah ini menggambarkan keadaan seseorang yang melakukan suatu pekerjaan secara tergesa-gesa tanpa melakukan persiapan yang cermat sehingga mengalami kesulitan bahkan kegagalan sehingga akhirnya ia melakukannya ulang secara “merangkak”, mulai dari awal lagi. Lawan dari sikap ini adalah “Biar lambat asal selamat”. Hari ini muncul ungkapan baru yang menjadi filosofi “cepat-tepat” atau “cepat-selamat”.
~ Galumbang ji kurik éla nantalua. Gelombang kecil jangan dibiarkan (diremehkan). Pepatah ini merupakan suatu nasehat agar jangan membiarkan persoalan kecil berlarut-larut tanpa diselesaikan sebab ia bisa berkembang menjadi masalah besar.

Cerita Rakyat Dayak Taman
SI U’LEK U’LEK AKUN *
Oleh Agustinus Sungkalang
Pada zaman dahulukala, semua binatang, tumbuhan, dan setan/jin masih bersahabat dengan manusia. Mereka masih bisa berkomunikasi secara langsung satu dengan yang lainnya.
Pada waktu itulah, hidup seseorang manusia bernama Si U’lek U’lek Akun. Ia hidup berdua saja dengan ibunya, sedangkan ayahnya sudah lama meninggal sejak Si U’lek U’lek Akun masih di dalam kandungan ibunya.
Si U’lek U’lek Akun merupakan seorang pemuda yang sangat pemalas. Siang malam kerjanya hanya makan dan tidur saja. Sementara ibunya pontang-panting bekerja dari matahari terbenam pergi ke hutan mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Hasil penjualan kayu bakar itu dibelikan untuk keperluan makan mereka. Suatu hari saat Si U’lek U’lek Akun sedang tidur, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara burung yang di telinga Si U’lek U’lek Akun sayup-sayup kedengaran memanggil namanya. “U’lek U’lek Akun, bangunlah, sumpit dan bunuhlah aku!” panggil seekor burung hantu dari atas pohon di belakang pondok.
Rupanya burung hantu itu adalah jelmaan dari roh Ayah Si U’lek U’lek Akun. Burung hantu itu terus memanggil Si U’lek U’lek Akun, akhirnya Si U’lek U’lek Akun dengan setengah terpejam, bangun dan mengambil sumpit peninggalan ayahnya.
Puuussshhh… Ceeekkk…
Buuubb, Burung hantu jatih ke tanah dan mati.
Si U’lek U’lek Akun tidur lagi. Tiba-tiba … bangkai burung hanti yang sudah mati, yang ia simpan di atas para-para kayu api itu masih bisa memanggil Si U’lek U’lek Akun. U’lek U’lek Akun terperanjat, ia duduk dan mencari sumber suara itu. “’U’lek U’lek Akun bersihkan buluku, masaklah dan makanlah aku sampai habis,” panggil burung hantu itu berulang kali.
Akhirnya, Si U’lek U’lek Akun bangun dan berdiri. Segera, ia menghidupkan api di dapur, membersihkan bulu burung itu dan memotong-motongnya. Setelah itu dimasaknya dan dimakan habis daging burung itu sesuai perintah si bangkai burung hantu itu.
U’lek U’lek Akun akan tidur lagi. Akan tetapi, belum sempat nyenyak ia tertidur, sayup-sayup kedengaran olehnya ada suara yang memanggil namanya. Ia pun duduk dan memasang telinganya, rupanya suara itu berasal dari dalam perut Su U’lek U’lek Akun .
U’lek U’lek Akun, keluarkan aku dari dalam perutmu, sambil engkau berlari ke sana ke mari dan memanjat-manjat dinding,” perintah daging burung hantu itu dari dalam perut Si U’lek U’lek Akun.
Si U’lek U’lek Akun dengan bersungut-sungut membuka celananya , buang air besar sambil berlari-lari dan memanjat-manjat dinding, sesuai perintah si daging burung…Ha…ha…ha… ha.. tahi Si U’lek U’lek Akun berceceran ke mana, yang dalam bahasa Taman-nya “Tati tararan-raran.”
Belum selesai Si U’lek U’lek Akun buang air besar, tiba-tiba keajaiban pun terjadi. Tahi Si U’lek U’lek Akun yang tersangkut di lantai sekonyong-konyong berubah menjadi perabot rumah tangga dan perhiasan yang indah-indah, sedangkan yang jatuh tercecer ke tanah berubah menjadi hewan peliharaan yang gemuk-gemuk siap untuk disembelih.
Bertepatan dengan selesainya Si U’lek U’lek Akun buang air besar, ibunya pun sudah berada di pintu dan sempat menyaksikan keajaiban itu. Ibunya juga terkejut bukan kepalang. Akhirnya ibu dan anak berpelukan dan berlutut. Berdoa mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Mereka hidup berkecukupan dan bahagia semasa hidupnya .(Dari Majalah Kalimantan Review , organ resmi Institut Dayakologi, Pontianak, [No.212/Th.XXIII/2014], jaringan kerja Ruangan Kebudayaan Sahewan Panarung Harian Radar Sampit].

Catatan Atas Tafsiran Agustinus Sungkalang
Oleh Andriani S. Kusni

Terhadap cerita rakyat suku Taman di atas Agustinus Sungkalang menafsirkan bahwa cerita rakyat yang ditulisnya mempunyai pesan moral di antaranya: “(1). Kita tidak boleh meniru sifat Si U’lek U’lek Akun yang pemalas itu. (2). Keajaiban Tuhan tidak terjadi pada semua orang. Karena itu, janganlah kita menunggu keajaiban seperti yang terjadi pada Si U’lek U’lek Akun. (3). Manusia wajib berusaha, bekerja keras dan berdoa mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih dan karunianya kepada kita”.
Apa yang ditulis oleh Agustinus Sungkalang di atas adalah satu tafsiran. Tafsiran bisa saja berbeda-beda . Tafsiran patut disimak dasar alasannya. Dalam menafsir, saya kita patut dilihat zaman yang melatari cerita itu. Latar ini bersegi banyak: sejarah, kepercayaan atau agama tokoh, tingkat perkembangan masuyarakat, psikhologi, filosofi tokoh, dll.
Secara ekonomi atau tingkat perkembangan masyarakat pada saat Si U’lek U’lek hidup , cerita menunjukkan bahwa masyarakat Dayak pada waktu itu sudah memasuki ekonomi uang seperti ditulis oleh Agustinus Sungkalang: “Sementara ibunya pontang-panting bekerja dari matahari terbenam pergi ke hutan mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Hasil penjualan kayu bakar itu dibelikan untuk keperluan makan mereka.” Dengan kata lain bersifat kapitalistik. Barangkali dibawa oleh kolonialisme Belanda. Sekalipun sudah memasuki ekonomi uang, tapi sistem baru dan mungkin juga agama baru (Kristen) belum berhasil melikwidasi budaya lokal, cq Suku Dayak Taman. Dari tuturan Agustinus nampak bahwa Suku Dayak Taman masih kepercayaan awal Taman , kalau di Kalteng disebut Budaya Kaharingan. Sebab kalau Si U’lek U’lek Akun sudah menganut agama Kristen, ia tidak akan gubris dengan suara burung hantu yang memanggil-manggil dan memintanya melakukan ini dan itu. Si U’lek U’lek Akun secara psikhologis masih nampak takut pada kekuatan lain, katakanlah roh nenek-moyang di dunia lain. Psikhologis erat hubungannya dengan pandangan hidup (filosofi) dan atau kepercayaan seseorang. Jika Si U’lek U’lek Akun sudah menjadi Kristen, dari cerita yang dituturkan oleh Agustinus, maka Kristen-nya Di U’lek U’lek Akun hanyalah Kristen Formal atau Kristen penenamaan tidak secara mendasar.
Dari segi kepercayaan Dayak sebelum berpindah agama, maka keajaiban yang didapatkan oleh Si U’lek U’lek Akun bukanlah dari Tuhan Kristen, agama Agustinus, tetapi dari alm. Sang Ayah yang sangat mencintai anak-isterinya sehingga menjadi sangat cemas oleh perangai Si U’lek-U’lek Akun dan sedih melihat sang isteri pontang-panting bekerja dari matahari terbenam pergi ke hutan mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar.” Cinta dan tanggungjawab suami kepada anak-isterinya inilah saya kira yang menonjol dari kisah di atas. Sehingga alm. Sang Suami yang menjelma menjadi burung hantu rela mengorbankan dirinya, sehingga di sini muncul tragedi yang menyentuh. Melo tragedi! Apakah perubahan wujud orang yang sudah meninggal terdapat dalam Christianisme?
Saya menduga Agustinus membuat tafsiran secara meloncat dan menggunakan subyektivisme sebagai seorang Katolik. Jika benar demikian, maka Agustinus Sungkalang melakukan anakronik dilihat dari kacamata sejarah. Tafsiran anakronik membuat tafsiran lepas akar budaya dan sejarah. Saya sendiri berdasarkan pandangan multi faset, memahami bahwa cerita Si U’lek U’lek Akun memperlihatkan kekuatan filsafat cinta atau kasih yang mampu menciptakan rupa-rupa keajaiban. Filsafat kasih ini hingga sekarang tetap aktual dan kontekstual. Sedangkan mengkritik kemalasan Si U’lek U’lek Akun lebih merupakan sisi samping dari filsafat kasih yang memang hidup dalam budaya Dayak. Barangkali demikian tapi pasti ini pun satu tafsiran juga. []

Sajak-Sajak Esun Sahun
Masih Sepi Kota Ini

masih sepi kota ini
padahal penduduk bertambah
matahari sudah lebih dari sepenggalah
apakah orang-orang masih lelap di ranjang
tanpa mimpi yang menguik?

berbincang di ruang tamu atau di jalan
aku lelah oleh suara sendiri
o, barangkali matahari terlalu terik
hujan deras hutan kian meranggas.
BUNDARAN
kukira bundaran
besar atau kecil
adalah politik hari ini

uang dan diri
dua titik tali
melingkar bundar

kau dan aku
aku dan kau
di tengahnya dilingkar mati
* Penyair tinggal di Kasongan.

SAHEWAN PANARUNG — RUANG KEBUDAYAAN HARIAN RADAR SAMPIT

SAHEWAN PANARUNG — RUANG KEBUDAYAAN HARIAN RADAR SAMPIT
Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentas Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

Tajuk Panarung
YANG KALTENG KURANG
Oleh Andriani S. Kusni

Meluas dan meninggi adalah suatu prinsip pengembangan kesenian. Prinsip meluas menginginkan bahwa kesenian itu berkembang di semua lapisan masyarakat, oleh, dari dan untuk masyarakat itu sendiri. Kalangan petani, nelayan, buruh pabrik atau pelabuhan, mahasiswa, pelajar dan lapisan-lapisan masyarakat lainnya mempunyai grup-grup kesenian mereka sendiri. Meluaskan dan meratakan kehidupan berkesenian ke berbagai lapisan masyarakat baik di kota atau pun di desa, dimaksudkan untuk memenuhi keperluan lapisan-lapisan masyarakat yang memang haus akan kesenian (yang salah satu perannya adalah menghibur). Berkembangnya kesenian secara merata dan meluas ke berbagai lapisan masyarakat, pada gilirannya merupakan salah satu cara kongkret dari upaya melestarikan dan mengembangkan kesenian dengan tidak lepas akar, bahkan mengakar pada kehidupan masyarakat. Mengakar dalam arti bentu maupun isi seperti yang diperlihatkan oleh ludruk di pedesaan Jawa Timur dan ketoprak di pedesaan Jawa Tengah. Meluas jadinya membuat masyarakat sebagai kreator dan penikmat kesenian, membuat mereka memiliki benteng pertahanan budaya yang memfilter budaya-budaya baru yang ditemui dalam pergaulan nasional dan internasional.
Barangkali ada yang berpendapat bahwa kesenian meluas demikian, mutunya tidak bakal tinggi dan tidak akan disukai, lalu menyebut kesenian meluas sebagai “kesenian kampungan”. Pendapat ini lupa bahwa kuantitas akan melahirkan kualitas. Ditambah lagi prinsip meluas niscayanya dibarengi dengan upaya sadar meningkatkan mutu. Untuk peningkatan mutu prinsip yang dilakukan adalah pemaduan tenaga ahli dengan massa. Artinya kegiatan kesenian masyarakat berbagai lapisan itu, seniscayanya dilakukan dengan memanfaatkan tenaga-tenaga profesional atau yang memang ahli di bidangnya. Dengan cara ini maka bisa diharapkan tercapainya tinggi mutu dari segi isi, sekaligus bermutu dari segi artistik. Melalui cara ini maka kesenian yang tadinya disebut kesenian kampungan meningkat menjadi kesenian yang bermutu.
Dilihat dari dua prinsip ini yaitu prinsip “meluas dan meninggi” dan prinsip pengembangan “tinggi mutu isi dan tinggi mutu artistik”, secara singkat disebut “dua tinggi”, maka lahirnya Sanggar Pényang Karuhéi, yang anggota-anggotanya terdiri dari para karyawan perusahaan perkebunan PT. Makin Group di kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi penting. Intervensi perusahaan besar dan orang-orang berduit memang diperlukan dalam upaya melestarikan dan mengembangkan kesenian, termasuk kesenian lokal. Karena salah satu keluham yang senantiasa terdengar di kalangan para pekerja kesenian adalah ketiadaan dana.
Adanya dana yang tersedia, ditambah dengan tersedianya organisator-pemikir kebudayaan dan tenaga ahli atau tenaga profesional, bisa dipastikan kebudayaan suatu daerah akan mengalami kemajuan tak terbayangkan. Selama ini yang Kalteng kurang adalah organisator-pemikir kebudayaan dan dana sehingga kehidupan kesenian di provinsi ini seperti kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau.
Jika perusahaan perkebunan PT Makin Group (yang bukan milik asing, tapi milik anak bangsa sendiri dengan konsep berusaha yang nasionalistis) di Kotim, merawat baik dan mengembangkan sanggar kesenian Pényang Karuhéi yang baru mereka bentuk, bukan tidak mungkin upaya mereka akan merupakan contoh bagaimana prinsip meluas dan meninggi, prinsip dua tinggi diterapkan, juga menjadi preseden bagaimana perusahaan besar melestarikan dan mengembangkan kesenian lokal secara berprinsip. Dari sisi lain, melalui sanggar komunikasi dan integrasi dengan masyarakat sekitar akan tergalang. Dari segi penanganan dan pencegahan konflik, komunikasi dan integrasi berprinsip ‘maju kembang bersama’ bisa memberikan sumbangan dalam menciptakan iklim berusaha yang nyaman. Jika sanggar ini dirawat dan dikembangkan, masyarakat akan melihat bahwa perusahaan seperti dikatakan oleh Dr. Antonius Kurniawan, pemikir dan penjaga roh Makin, berusaha bukan untuk memburu laba semata tapi juga untuk usaha pemanusiawian manusia.
Secara umum pelestarian dan pengembangan kebudayaan memang memerlukan kerja terpadu antara pekerja kebudayaan, organisator-pemikir kebudayaan dan penyandang dana. Apakah PT Makin Kotim bergerak ke jurusan ini? Kalteng kekurangan organisator-pemikir kebudayaan dan penyandang dana. []

Sketsa May Swan *
KEMATIAN

Berita kematian Jennifer seorang teman dekat cukup mengejutkan kami. Kabar itu aku terima langsung dari Peter suaminya. Pagi pagi hari menelpon interlokal dari Kuala Lumpur, diantara tangis dan ratapan memberitahu kabar sedih itu.
“Jennifer sudah pergi. Sudah pergi untuk selamanya,” ia tersedu sedan.
“Apa? Jennifer meninggal?”
“Ya, pagi in secara mendadak.”
“Tenang, kamu perlu tenang dan tabah,” aku ikut sedih.
“Sampai hati ia meninggalkan aku seorang diri,” dengan suara serak bercampur tangisan. “Sudah kemauan Tuhan, kita terima saja. Tabah, kita harus tabah menerima.”
“Lalu aku bagaimana? Bagaimana melalui hari depan? Tanpa dia apa artinya hidup bagiku?
Hampa, hidupku hampa tanpa dia. Lebih baik aku yang mati.”
“Rela, kita harus rela menerima kenyataan.”
Mereka berdua terkenal sebagai suami isteri yang sangat ideal. Kemana mana selalu bersama, tidak pernah sendiri sendiri. Para suami umumnya tidak gemar shopping, maka jarang melihat suami isteri keluar shopping bersama. Banyak isteri mengeluh, kalau kebetulan shopping bersama, suaminya sering tidak sabar, selalu mendesak agar cepat pulang sambil menunjukan paras masam muram, sangat menjemukan. Kalau ditanya apa pendapatnya mengenai baju yang baru dibeli, jawabnya selalu acuh tak acuh. Tapi lain halnya dengan pasangan Jennifer dan Peter, selalu tampak mesra kemana saja bersama bagaikan anak muda yang sedang berpacaran, sekali pun sudah beranak, bercucu. Sungguh mengagumkan bagi yang melihatnya.
Berdasarkan semangat setia kawan, kami berusaha memberi sokongan moral agar Peter dapat melalui masa gelap dalam kehidupannya.
Sekitar dua bulan kemudian, seorang teman menelponku.
“Terlalu, sangat terlalu,” katanya berkali kali dengan nada marah bergemetaran.
“Siapa yang kau maksud?” Tanyaku.
“Si Peter, siapa lagi?”
“Dia kenapa?”
“Mosok dia kawin lagi!”
“Lha, dia kan sudah menduda, kenapa tidak boleh kawin lagi?”
“Ya, tapi cepat sekali. Isterinya meninggal baru dua bulan, ia sudah terburu buru kawin lagi.
Kurang ajar.”
“Oh iya, baru dua bulan.” Aku mulai menghitung dengan jari. “Kalau lebih dari dua bulan,
apa itu ok?”
“Kurang asem, sama sekali tidak menghormati kenangan isterinya. Ketika isterinya
meninggal kita berusaha menasihatinya agar tidak jatuh dalam lembah kesedihan. Tahunya
baru dua bulan ia sudah kawin lagi. Agaknya ia hanya pura pura sedih, menangis meraung
ketika isterinya meninggal. Dasar laki laki buaya.” Ia mengabaikan gurauku.
“Kalau begitu nasihat kita manjur banget, ya?”Aku mulai melihat segi lucunya.
“Kamu tahu siapa yang ia kawini?”
“Siapa?”
“Perempuan muda seusia anaknya yang bungsu! Gila enggak!”
Ooh, itu rupanya yang membuat temanku jadi gusar. Ia tidak setuju karena Peter kawin
dengan perempuan muda. Aku jadi ingin bertanya, bagaimana kalau ia kawin dengan
perempuan yang sebaya tua dengannya. Apa itu masih salah? Tapi pertanyaan itu tidak aku
ajukan tidak ingin membuatnya bertambah marah.
Masyarakat umum berpendapat, setelah teman hidup meninggal, yang ditinggal perlu hidup murung bersedih bertahun tahun, makin lama makin terhormat, karena menunjukan rasa setia kepada yang pernah mendampingi dalam hidupnya. Sekali pun tidak ada ketentuan yang tegas, misalnya kalau dua bulan itu terlalu cepat, bagaimana dengan dua bulan tambah dua hari. Kalau tiga bulan juga terlalu cepat, bagaimana dengan tiga bulan tambah tiga hari, dan seterusnya. Siapa yang menentukan? Konvensi yang menentukan. Berdasarkan apa? Berdasarkan perasaan iri dan takut. Iri karena melihat orang yang baru mengalami kematian isteri koq semudah itu dapat mengecap bahagia. Takut karena terbayang nanti kalau ia mati, suaminya juga akan dengan cepat menggantikannya dengan perempuan muda.
Jarang ada yang berpandangan, bahwa pria yang ditinggalkan isteri ingin cepat mencari ganti justeru karena cintanya kepada isteri yang telah meninggal. Demikian indah cintanya, ia ingin mengalaminya sekali lagi. Bagaikan orang yang pernah merasakan sedapnya sebuah hidangan di rumah makan, senantiasa ingin kembali memesan hidangan itu. Apakah ia menunggu dua bulan atau dua tahun baru kembali, itu tidak masuk dalam rumusan. Yang penting ia kembali karena ingin mengalaminya sekali lagi. Bukankah itu wajar? ***

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang
Ungkapan-ungkapan Filosofis Dayak
~ Isen mulang (lihat edisi terdahulu)
~Hatamuéi lingu nalata (lihat edisi terdahulu)
~Hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit (lihat edisi terdahulu)
~Réngan tingang nyanak jata. Anak enggang, putera-puteri naga.(lihat edisi terdahulu)
~Budaya Bétang (lihat edisi terdahulu).
~Mamut-Ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal (Gagah berani, pintar-berbudi atau beradat, urakan-tekun, handal tidak berbanding). [Lihat edisi terdahulu]
~Uras pangkalima (Semua panglima). (lihat edisi terdahulu).
~ Kéba basuang.Kéba berisi. (lihat edisi terdahulu).
~ Masi arepe (Bahasa Dayak Katingan: Mangasi arep eh). Menyayangi diri. (Lihat edisi terdahulu).
~ Télu pain tungku. Tiga kaki tungku. (Lihat edisi terdahulu)
~ Panutung bulan matanandau pambélum. Menyulut (cahaya) pada bulan dan matahari kehidupan. (Lihat edisi terdahulu)
~ Tunjung Nyahu, cahaya kilat petir. (Lihat edisi terdahulu).
~ Mangalanja kilat matanandau. Melomba kilat dan (putaran) matahari. (Lihat edisi terdahulu).
~ Manakir Upun Tangga. Menumiti (dengan keras) pangkal tangga. (Lihat edisi terdahulu).
~ Kabujur (tuntang) katéték auh. Kebenaran tuntas. Dalam masyarakat Dauak dahoeloe, berbohong adalah suatu kehinaan besar. Kata pada masa itu tidak lain dari terjemahan dari tindakanm tindakan adalah alihbasa dari kata-kata. Kabujur katéték auh, dimaksudkan bahwa apa yang dikatakan hanyalah kebenaran dan kejujuran belaka. (Sumber: Damang Basel dari Sabangau).

UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK

~ Aluh galumbang hining, pasir dia gitan. Walaupun (deru) gelombang terdengar, (tapi) pasir tiada nampak. Pepatah ini mau mengatakan bahwa berita tentang suatu hal-ikhwal telah tersebar ke mana-mana tapi masih saja tiada berbukti kebenarannya sehingga masih bersifat desas-desus.
~ Tapisah éta bara béhas. Antah terpisah dari beras. Pepatah ini melukiskan bahwa seseorang itu bergaul menurut jenis dirinya. Karena itu ada pepatah yang mengatakan bahwa “dari teman seseorang, kita bisa mengenal apa-siapa orang itu. Dalam bahasa Inggris keadaan ini dikatakan “Burung sejenis akan terbang bersama” (The same kind of bird will fly together).
~ Gantang air arép, éla imbit éka uluh. Gantang milik diri sendiri, jangan dibawa ke tempat orang. Pepatah ini sama artinya dengan pepatah Melayu, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Atau pepatah orang Poso, Sulawesi, “kalau mau masuk Poso, gantung badikmu di pohon perbatasan”.
~ Amun mikeh buah gita, éla kuman nangka. Kalau takut kena getah, janganlah makan (buah) nangka. Pepatah ini menasehatkan bahwa jika takut menanggung resiko, janganlah lakukan pekerjaan yang berbahaya. Pepatah ini sama dengan pepatah Melayu, “kalau takut dilanda gelombang, jangan berumah di tepi pantai”.

SAJAK Magusig O Bungai *

PULANG
Untuk Leila Chudori
kupilih memang kembali ke tengah kekalutan dan kepapaan
menyerbu sarang macan lapar mengakhiri cinta bayang-bayang
kurasa aku masih turunan maharaja bunu yang pergi dari pantai sangiang

kupilih memang kembali menguji janji, kata dan mengasah kasihsayang
sebab kutahu kebolehan kekuatan naga diuji dalam kecamuk prahara
maka kematian yang pasti, tanpa kedip matanya kutatap tajam-tajam

kekalahan dan kejatuhan sesungguhnya hanya bagi yang tak bangkit kembali
yesus mati di salib golgota
maka aku kembali kepadamu karena kasih tak mati-mati

kumau hidup adalah terjemahannya yang utuh
jadi leila, aku pulang bukan untuk mati
kendati sunyi dan kepapaan jadi rumahku kembali
2014

KEPADA JOHN BAMBA
wajah kota dituju itu sayup-pinggirnya pun belum nampak, angin tak membawa kokok jago pertanda fajar tiba serta segala rupa suara, kita hanya tahu mesti ke sana sesuai peta kendati yang sayup dan jauh hanyalah bayangan lika-liku barangkali serupa pantai kelima
kota dengan wajah telah dipeta itu
adalah kota bersama
bukan hanya untuk yang di depan
atau untuk satu-dua berdiam
yang bergerak tentu saja beranjak
tidak akan tetap di tempat apalagi langkah sudah diayun mendasawarsa ditandai oleh ruparupa getir dan gelak tersimpan di kerut dahi tak terlupakan hati
lampau satu tikungan
ribuan menunggu
tak terbilang yang berjatuhan
sebelum ke bandara hari itu
aku mendengar peringatan waktu
tentang keniscayaan memetakan keberlangsungan
siapa nanti pembawa panji []

DARI SIANTAN

dari siantan seberang sungai bohang
aku melihat ketika kembali datang
langkang pulang betunas
punggur balik bedaun *)
kejatuhan membangkitkan manusia
menjadi dirinya kembali

• Ungkapan Dayak Jelai: ‘’yang mati tumbuh kembali, pohon yang jatuh di lubuk berdaun lagi’’.

SAHEWAN PANARUNG

SAHEWAN PANARUNG — RUANG KEBUDAYAAN HARIAN RADAR SAMPIT
Menumbuh Kembangkan Budaya Uluh Kalteng Beridentas Kalteng
Alamat: ken_prita_sjk@yahoo.com atau redaksi@radarsampit.com

Cerpen Drs.Supardi *
SAHUR DI RUMAH KOS

Wah, aku baru saja pulang kuliah ketika matahari menyinari tubuh lunglai. Mahasiswa berbondong-bondong menuju Masjid Unlam. Tak ada tawa mengirang waktu. Aku hempaskan tasku di hamparan masjid. Aku sendiri tak tahu gerangan apa sepulang kuliah kali ini merenung memanjang. Aku buru-buru mengambil wuduk, maksudku ingin salat berjamaah. Capeklah rasanya mengguyur perasaan seusai kuliah filsafat ilmu.
Setelah Salat Ashar di Masjid Unlam, dekat Pascasarjanaku. Teman-temanku hanya mampu sebatas bersalaman. Rasanya tangan mereka lemah tapi masih dibasahi sisa-sisa air wuduk. Aku ikuti bisik-bisik doa menerawang ke angkasa. Sore harinya sekitar pukul empat waktu Banjar. Bulan Ramaan kedua belas masih sembunyi di atas Kota Banjarmasin. Maklum senja belum datang.
Aku masih menyempurnakan puasaku. Tak apalah baru pertama kali aku puasa di kota Banua.Asik memang seperti di kotaku. Nuansa keislaman amat kental. Kucoba membayangkan ketika sewaktu masih duduk di program sarjanaku. Betapa aku kembali merasakan keimananku melambung tinggi. Tak ada beda bunyi suara-suara di Masjid Kota Banjarmasin dengan Kota Jambi. Orang-orang mengagungkan bulan Ramadan dengan penuh tawaduk dan istiqomah.Di mana-mana suara azan berkumandang ramai.
Meskipun aku hanya bisa makan sahur satu malam di kota Banua. Kota yang memiliki sejarah budaya yang kental, keramahan warga banua, peradaban yang tinggi, dan pendidikan yang tertata dengan baik. Sungguh aku tak menemukan ada orang Banua membedakan orang lain. Semuanya dianggap sama di mata mereka. Di sinilah keakraban dan kerukunan mengalir lancar bagaikan aliran Sungai Barito yang indah dan airnya tak pernah terputus.
Aku memang harus mengejar waktu setiap minggu, dan membagi waktu dengan cermat. Maklum seorang pengajar mencari nafkah di Bumi Tambun Bungai ingin menjemput harapan mencapai gelar magister di Kota Banua. Menggapai gelar ini telah lama terpendam di sudut hatiku. Berkali-kali aku mengeluh karena cita-citaku tak kunjung datang.Tapi kali ini Tuhan telah menulis dalam catatan-Nya bahwa aku ditakdirkan-Nya menimba ilmu di kota Banua tahun 2008. “Sudahlah!”, kuusir keluhanku, aku telah positif menjadi mahasiswa magister Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah.
“Ya, Tuhan! Aku telah sombong di depanmu.” Berkali-kali kukatakan tidak, aku tidak sombong tapi aku telah telanjur mengucapkam ingin mengejar gelar magister.
“Maafkan, Tuhan!”, aku minta ampun pada-Nya setiap usai salatku.
Kupikir apalah gunanya jika aku kuliah hanya mengejar gelar tanpa mengamalkannya. Kusadari tak ada yang mampu mengalahkan Ilmu Tuhan. Tuhan memberikan ilmu padaku hanya secuil.
Tapi ada benar juga semakin tinggi orang menuntut ilmu semakin banyak dia tahu. Tahu bahwa semuanya Tuhan yang menciptakan sesuatu.
“Manusia hanya bisa berikhtiar, yang menimbulkan sesuatu itu adalah Tuhan. Manusia tak mampu menciptakan sesuatu.” Ujar seorang profesor dosen filsafatku.
Jasatku semakin tiada berarti di sisi Tuhan. Aku tak berdaya menantang kehendak Tuhan. Misalnya, mati. Mati itu kalau tidak ada izin Al-Khalik tak mungkin bisa mati. Separah apa pun sakit yang menimpa seseorang kalau belum ada izin Tuhan mustahil bisa mati.
Sombongku telah kuhapus dalam hatiku. Kesombongan bagiku hanya menambah jauh dari Tuhan. Tuhan pun akan mencatat kesombonganku dengan perantara malaikat kesayangan-Nya. Sudah banyak bukti ditunjukkan oleh Tuhan bahwa umat yang sombong akan terkena kemarahan Tuhan. Sejak banjir datang menghancurkan kaum Nabi Nuh hingga sekarang, manusia tetp saja masih menyimpan sifat sombong. Sombong pada gelar yang dimilikinya, sombong pada pangkat yang disandangnya, sombong pada kedudukannya, dan sombong pada harta yang melimpah ruah.
Setiap kali aku berangkat menuju kota Banua. Ada-ada saja dialog dalam mobil teravel. Mereka saling berbagi pengalaman dan bergurau lucu, bahkan ada yang serius. Dialog tentang apa saja. Pak sopir pun ikut terlibat dialog.
“Masya Allah! Mengapa umat sekarang tidak mau mengambil pelajaran dari peristiwa pada masa nabi-nabi?” kata sopir teravelku sambil mengemudi mobilnya dengan kecepatan 60 kilometer per jam. Sementara para penumpang meliuk-liuk menahan dahaga puasa, Sambil bercerita menghilangkan rasa kantuk setiap perjalanan menuju kota Banua. Seloroh semakin ramai, gonjang-ganjing semakin menjadi-jadi dalam teravel. Tidak sedikit mereka membicarakan persoalan hikmah Puasa Ramadan. Tapi mereka berkerut kening memikirkan tentang penjabat yang gundul hasil puasanya.
“Puasa, ya tinggal puasa. Korupsi jalan terus!” seloroh seorang penumpang sambil senyum tipis. Mengapa ya bisa begitu? Semua terdiam tak ada yang menjawab pertanyaan itu. Tiba-tiba ada pembicaraan ‘tak usah dipikir kerja orang’ nanti kan ada malaikat yang mencatat. Mudah-mudahan malaikat tidak berpihak kepada sang koruptor. Jika malaikat berpihak kepada koruptor kan lebih para lagi.
“ucukan kalau malaikat berpihak kepada kuroptor,” kata penumpang seorang mahasiswa magister hukum.
“Mana mungkin malaikat bisa berpihak kepada sang koruptor,” jawab seoeang mahasiswa magister Manajemen Pendidikan.
“Lho, malaikat kan makhluk Tuhan? Bisa saja dia salah catat,” seloroh seorang mahasiswa magister bahasa.
Perbincangan dalam perjalanan menempuh hampir dua ratus kilometer itu, dalam waktu empat jam semakin menghilangkan rasa kantuk bagi penumpan. Tiga orang mahasiswa yang berbeda latarbelakang pendidikaannya saling adu argumentasi tentang merebaknya korupsi di negeri ini. Aku pun ikut terlibat dalam pembicaraaan itu. Tapi anehnya setelah ada malaikat dunia (disebut KPK= Komisi Pemberantas Korupsi) malah korupsi semakin merajarela, penduduk neraka dunia semakin padat (disebut Bui).
“Aneh, ya sang koruptor tetap menang. . Mereka juga memiliki KPK atau Koruptor Pantang Kalah. Kini penjara bukan saja rumah para preman kuno atau perampok masa lalu. Tapi perampok modern, yang merampok tidak tangung-tanggung juga menghuni penjara.” Ujar seorang mahasiswa manajemen pendidikan.
“Nah, itulah hukum yang harus ditegakkan. Tidak pilih siapa saja jika bersalah tetap dikenakan hukuman. “ Berkomentar mahasiswa magister hukum.
“Tapi sayang, , perampok biasa yang membongkar warung kecil dihukum berat. Kadangkala sering ditembak kakinya oleh polisi. Sementara perampok bermanejemen dengan rapi, pakaian rapi, serta berdasi sering bernego untuk dilepas dari cengkeraman hukuman berat. Jika dilihat hukuman terlalu tidak adil. Para perampok berpakaian rapi itulah yang seharusnya mendapat hukuman yang berat.” Tambah seorang mahasiswa magister Bahasa.
Desir angin AC mobil semakin deras., mobil teravel menuju jembatan Barito perlahan mengikuti napas para penumpang. Kota Banua telah berneon, semerbak bunyi zikir mulai bergema. Para penumpang bersiap-siap hendak turun mendekat warung terdekat.
“Kita ayo!” kataku . Kulepaskan topiku sambil mehgampiri meja warung. Seteguk air putih mengalir dalam kerongkonganku. Menghapus lelah sambil memandang gambar Kabah di dinding ruang warung.
“Sudah cepat saja minum!” kata temanku.
“Ya, Ding.” Jawabku.
“Persoalanb korupsi kita lupakan saja.” Ujar mahasiswa magister hukum. Kami masuk kembali ke dalam mobil teravel menuju agen wisana. Masing-masing kami di antar ke tempat rumah kos.
Di rumah kos amat sederhana ini, tapi terlalu mahal sewanya. Padahal aku dan temanku hanya tidursatu malam dalam seminggu. Ya kupikirkan total satu bukan hanya tidur empat malam. Namun pemilik rumah tidak peduli menginap atau tidak menginap wajib membayar Rp. 500.000, 000 per bulan. Dengan sewa semahal itu sering membuat temanku sewot dan mengeluh.
“Sama saja ongkosnya. Kalau kita menginap di rumah Pak Haji pun satu malam harus bayar Rp.100.000, 00 per malam. Di kamar ini kan sesuka hati kita. Kapan-kapan ke Banjar dalam satu bulan kan tidak bayar lagi.” Aku coba meneduhkan penyelesan temanku.
“Kita kan harus nenbaar bermacam-macam. Ongkos teravel, bayar SPP, fotokopi buku, belum lagi keperluan rumah di Palangka Raya.” Rewel temanku semakin menjadi-jadi.
“Lalu mau apa lagi? Katanya siap mencari ilmu di Program Pascasarjana Unlam.” Aku membantah pembicaraannya.
“Menyesal bukan.Tapi itu lho, masakan tidak bisa kurang sewa rumah. Hana tidur empat malam di sini.” katanya lagi.
“Sudahlah, yang penting kita bisa tidur dan sahur di sini. Untuk apa terlalu dipikirkan.” Kataku. Meski sewotnya berkurang. Tapi malah menggerutu semalam memikir sewa kos.
Aku sandarkan tubuhku di dinding papan triplek sambil memandang wajah temanku. Tangan kiri di atas keningnya. Sepertinya dia memikir sewa kos terlalu mahal.
Hingga waktu sahur tiba dia gelisah. Aku turun ke lantai dua untuk mengambil wuduk untuk salat tahajud. Seusai salat tajaud kuajak dia sahur.
“Ding! Sahurlah. Besok kita kuliah sampai sore. Mata kuliahnya sulit lagi. Kan ada Studi Bahasa Banjar, Linguistik Lanjut, Bahasa Inggris, dan Kemahiran Keterampilan Reseptif.” Sahitku. Dia tak peduli padaku.
“Tidak sesulit memikirkan sewa kos. “ Katanya. Aku tertawa kecil. Kulihat langkahna tidak begitu cepat. Tubuhnya lemasm dan sempoyongan untuk mengusap muka di lantai dua.
Bunyi suara manusia nyaring di mana-mana membangunkan umat Muslim untuk melaksanakan sahur. Bulan Ramadan malam ketiga belas menyinari kota Banua. Indahnya lampu neon yang menghampiri gedung Sultan Suriansyah. Aku coba menanti waktu Subuh dengan berzikir lembut. Aku ingin bermunajat menjelang pagi. Tuhan pasti akan mengintip hamba-Nya yang melaksanakan Salat Subuh. Dia pasti memberi kemudahan bagi hamba-Nya dalam menuntut ilmu.[]

* Penulis seorang pengajar di salah sebuah SMA di Palangka Raya.
BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang
Ungkapan-ungkapan Filosofis Dayak
~ Isen mulang (lihat edisi terdahulu)
~Hatamuéi lingu nalata (lihat edisi terdahulu)
~Hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit (lihat edisi terdahulu)
~Réngan tingang nyanak jata. Anak enggang, putera-puteri naga.(lihat edisi terdahulu)
~Budaya Bétang (lihat edisi terdahulu).
~Mamut-Ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal (Gagah berani, pintar-berbudi atau beradat, urakan-tekun, handal tidak berbanding). [Lihat edisi terdahulu]
~Uras pangkalima (Semua panglima). (lihat edisi terdahulu).
~ Kéba basuang.Kéba berisi. (lihat edisi terdahulu).
~ Masi arepe (Bahasa Dayak Katingan: Mangasi arep eh). Menyayangi diri. (Lihat edisi terdahulu).
~ Télu pain tungku. Tiga kaki tungku. (Lihat edisi terdahulu)
~ Panutung bulan matanandau pambélum. Menyulut (cahaya) pada bulan dan matahari kehidupan. (Lihat edisi terdahulu)
~ Tunjung Nyahu, cahaya kilat petir. (Lihat edisi terdahulu).
~ Mangalanja kilat matanandau. Melomba kilat dan (putaran) matahari. (Lihat edisi terdahulu).
~ Manakir Upun Tangga. Menumiti (dengan keras) pangkal tangga. (Lihat edisi terdahulu).
~ Kabujur (tuntang) katéték auh. Kebenaran tuntas. (Lihat edisi terdahulu).
~ Saluh, berubah bentuk karena melakukan suatu kesalahan fatal seperti pelanggaran adat. Misalnya anak mengawini ibu kandungnya seperti dalam kisah Bukit Tangkiling, Piring Malawen, dll. Oleh kekuatan di luar manusia, perbuatan ini lalu dikutuk dengan menjadi si anak tersebut menjadi batu.
Pesan utama dari konsep saluh, sebagai bentuk hukuman sangat keras terhadap kesalahan tidak termaafkan, saya kira adalah tuntutan kepada semua warga masyarakat untuk menghormati adat, moral dan nilai-nilai dominan yang berlaku demi menjaga ketertiban hidup bersama. Saluh merupakan kutukan dari kekuatan di luar manusia dan berlaku pada saat kutukan itu dilakukan. Kutukan oleh manusia, terutama mereka yang lebih tua, seperti dari kakek-nenek, orangtua, saudara tertua, paman-mina (tanté), disebut sapa, (kata kerja: manyapa). Sapa berlakunya tidak serta-merta tapi setelah lewat suatu kurun waktu.

UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK

~ Kéléh babilas bara babuté. Lebih baik juling daripada buta. Pepatah ini berarti bahwa lebih baik memiliki sesuatu dari pada tidak punya apa-apa.Dekat dengan pepatah ini adalah pepatah Indonesia: Tidak ada rotan, akar pun berguna.
~ Babilém inyéwut baputi, baputi inyéwut babilém. Hitam disebut putih (sedangkan yang), hitam disebut putih. Pepatah ini berarti tindakan seseorang yang memutarbalikkan kenyataan. Tidak jujur.
~Kilau bakatak pénda bangu. Katak di bawah tempurung. Perbandingan yang Menggambarkan bahwa seseorang itu pandangannya sangat picik.

SAJAK TUN RUANG *

SESUNGGUHNYA TAK BANYAK JALAN TERSISA

salah paham penyakit rentan di kampung pulau ini
kendati sama-sama berbahasa lokal atau nasional
sehingga penduduk menjadi asing dengan sesama
apalagi dengan para petinggi – para raja dan pangeran republik

kerukunan dan saling mengerti terjalin mengakrabkan
apabila menggunakan bahasa baru yaitu dusta
serta segala yang dahulu dipantangkan adat
orang-orang menyebutnya kehidupan modern

olehnya republik tak lagi zamani
sedangkan laparku, laparmu dan tangis anak kita
bangkai-bangkai hidup yang lalu lalang di antara mobil-mobil terkini
buah pembangunan mendasawarsa terpancang di tanda jasa para penguasa
meninggalkan tak seberapa jalan tersisa untuk kita mendirikan republik kembali

berada kembali di kampung-kampung pulau ini
di mana dusta jadi bahasa pengantar
menjadi manusia berbahasa manusia
adalah keinginan yang tetap membakar
entah berapa kali aku ingin menyapa orang papasan
terhalang karena tak tahu bahasa apa yang digunakan

2014.

FPI DAN GUBERNUR AHOK

FPI DAN GUBERNUR AHOK

Komentar “roeslan roeslan12@googlemail.com, in: [GELORA45]” GELORA45@yahoogroups.com, Tuesday, 2 December 2014, 18:00 :

Refleksi. Pemerinah Daerah Istimewa Jakarta adalah merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari herarki kekuasaan di NKRI secara keseluruhan; ini tercermin dalam bentuk UUD, bahwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur DKI, harus dilantik oleh Presiden NKRI yaitu Presiden Jokowi. Adanya saling ketergantungan ini mengharuskan pemerintah Jokowi untuk menjawab sikap arogan dan tantangan yang serius dari FPI yang merefleksikan dirinya dalam bentuk meproklamirkan (melantik) Gubernur tandingan di DKI. Jika tantangan ini dibiarkan, maka ia akan berdampak sistemik, artinya bisa dipercaya entah kapan FPI akan melantik Presiden tandingan, dan selanjutnya akan merombak bentuk NKRI menjadi NKSII (Negara Kesatuan Syariat Islam Indonesia). Oleh karena itu tantangan FPI harus dijawab dengan tindakan yang tegas dan keras yaitu menjadikan FPI sebagai organisasi terlarang diseluruh wilayah NKRI. Harus dipahami bahwa FPI hanyalah merupakan partai politik yang menggunakan selubung agama Islam, untuk melanjutkan perjuangan Masyumi dalam menggilas NKRI dan mendirikan Negara Islam Indonesia, dalam bentuknya yang baru yaitu NKSII.

Roeslan.

Lantik Gubernur Tandingan, Masyarakat: FPI Gila

http://www.gatra.com/nusantara-1/jawa-1/103691-lantik-gubernur-tandingan,-masyarakat-fpi-gila.html

Monday, 01 December 2014 13:29
Jakarta, GATRAnews – Presedium Penyelamat Jakarta yang terdiri dari Front Pembela Islam (FPI) dan Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) melantik KH Fachrurozy Ishak sebagai gubernur tandingan. Kedua ormas itu menolak mengakui Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur DKI.

‎Pelantikan ‘gubernur tandingan’ itu dilangsukan di depan Gedung DPRD DKI Jakarta. Pelantikan dilangsungkan bersamaan dengan unjukrasa kedua ormas itu menolak mengakui Ahok sebagai orang nomor satu di Jakarta.

“Rapat alot meski waktunya lima menit dan menimbang memutuskan dan menetapkan mulai hari ini di hati kita punya Gubernur Rakyat Jakarta, KH Fachroruzy Ishak,” ujar Ketua Presedium Penyelamat Jakarta, KH Munawir Asri, Senin (1/12) siang. ‎

Menanggapi pelantikan itu, masyarakat pun dibuat geli oleh massa yang mengatasnamakan Presedium Penyelamat Jakarta. Bahkan masyarakat menilai gubernur tandingan itu ‘gila’ dan mengada-ada.

“Gubenur tandingan, ha..ha…ha…ha..ha.. gila-gila FPI. Sudah enggak usah ditanggapi begitu, gubernurnya siapa juga nggak kenal,” respon warga yang melintas di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Penulis: Abdul Rozak
Editor: Arief Prasetyo
FPI-Backed Group Demonstrates Against Ahok as Jakarta Governor
By Carlos Roy Fajarta Barus on 02:04 pm Dec 01, 2014

http://thejakartaglobe.beritasatu.com/news/fpi-backed-group-demonstrate-ahok-jakarta-governor/

Hundreds of women of the Jakarta Citizens Movement (GMJ) demonstrate in front of the Provincial Legislative Council building in Jakarta on Dec. 1, 2014. (Antara Photo/OJT/Ajat Sudrajat)
[Updated at 2:40 p.m. on Monday, Dec. 1, 2014 to add comments about FPI picking its own governor]
Jakarta. A group opposed to Basuki Tjahja Purnama as Jakarta governor marched in the capital’s streets on Monday, bringing traffic to a standstill on a stretch of road that connects City Hall to the State Palace.
Supporters of the Jakarta Citizens Movement (GMJ), which was initiated by the Islamic Defenders Front (FPI), walked along Jalan M.H. Thamrin, from City Hall in Medan Merdeka Selatan, to the State Palace in Medan Merdeka Utara.
High Priest and former FPI Leader, Habib Muhammad Rizieq Shihab, said he wanted Basuki to step down and GMJ would not accept him as Jakarta’s governor.
The FPI and associated hardline Islamic groups are opposed to Basuki, who is Christian and ethnic Chinese, because he is not Muslim.
About 1,000 demonstrators are believed to have taken part in the demonstration. Unlike in previous rallies, GMJ mobilized women, who were seen marching at the front.
Yulina, 46, said on Monday morning that she was excited about the demonstration, despite the harsh sun.
“The sun won’t let us down because the most important thing is that Ahok step down as Jakarta governor,” she said, referring to Basuki by his nickname.
Yulina said her husband supported her participating in the demonstration.
In symbolic protest of Basuki’s governorship, the FPI also named one of its own as unofficial governor of Indonesia’s largest city.
“From now on we have our own governor, Fakhrur Rozi Ishak; Ahok can be discarded and Fakhrur is now our governor,” Habib told the crowd outside City Hall.
Fakhrur then read an oath and pledged the group would not stop until Ahok had been impeached.
Basuki, who was inside City Hall during the protest, responded nonchalantly to the commotion outside his office.
“Maybe they also need to appoint a new god as well,” Basuki said.
The police were monitoring the rally, and secured the area around the City Hall and the State Palace.[]

Orasi Demo FPI Munculkan Kekerasan Kultural
Prins David Saut – detikNews

http://news.detik.com/read/2014/12/01/222816/2764653/10/orasi-demo-fpi-munculkan-kekerasan-kultural?991101mainnews

Senin, 01/12/2014 22:28 WIB

Jakarta – Massa Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) yang salah satunya terdiri dari massa FPI berdemonstrasi menuntut Gubernur DKI Basuki T Purnama mundur. Orasi yang keras dan berbau SARA dalam demo itu menuai penilaian telah terjadi kekerasan kultural yang dilakukan oleh GMJ.

“Bila dicermati dengan seksama, retorika para pemimpin GMJ meninggalkan guratan kekerasan kultural (cultural violence) dimana kebencian berdasarkan agama dan ras diumbar secara eksplisit dan berulang-ulang di depan publik,” kata Direktur Eksekutif The Indonesian Institute (TII) Raja Juli Antoni melalui surat elektronik, Senin (1/12/2014).

Menurut Antoni, kekerasan kultural dalam jangka panjang sangat berbahaya bagi demokrasi. Hal ini karena kekerasan kultural memberikan pembenaran kultural-keagamaan untuk membenci dan mendiskriminasi kelompok tertentu.

“Retorika pemimpin GMJ dapat juga digolongkan sebagai hate speech (ujaran kebencian) yang sesungguhnya bertentangan dengan International Convention on Civil and Political Rights yang telah diratifikasi dalam UU no 12 tahun 2005,” ujar Antoni.

“UU itu menyatakan larangan tegas terhadap anjuran kebencian berdasarkan ras dan agama yang potensial memprovokasi tindak diskriminasi, permusuhan dan kekerasan,” tambahnya.

Menurut Antoni, berbagai belahan dunia menganggap pelaku hate speech adalah pelanggar hukum karena berpotensi menjadi hate crime. Kepolisian diharapkan mulai tegas mengantisipasi hate speech menjadi hate crime.

“Ketimbang mengumbar kebencian, mestinya Rizieq Shihab bersiap-siap berkompetisi menjadi calon gubernur DKI Jakarta tahun 2017 nanti. Buktikan dalam mekanisme demokrasi dirinya diterima masyarakat Jakarta. Meski nampaknya masyarakat Jakarta terutama yang beragama Islam tidak akan memilih pemimpin ‘preman berjubah ini’,” tutup Antoni.
(vid/ahy)

Ketika Ahok Tertawa Komentari Gubernur Tandingan Besutan FPI

http://news.detik.com/read/2014/12/01/115939/2763909/10/ketika-ahok-tertawa-komentari-gubernur-tandingan-lt;igt;besutanlt;/ketika-ahok-tertawa-komentari-gubernur-tandingan-besutan-fpi

Senin, 01/12/2014 11:59 WIB
Tandingan Besutan FPI
Hestiana Dharmastuti – detikNews
Jakarta – Gubernur DKI Jakarta tandingan. Itulah yang digadang-gadang Front Pembela Islam (FPI) plus puluhan ormas saat mendemo Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Menanggapi aksi FPI itu, Ahok kali ini justru tidak naik pitam.

Ribuan orang FPI dkk hari ini turun ke jalan untuk pelantikan gubernur tandingan ini sudah diklaim sudah direstui para Wakil Ketua DPRD. FPI mengusulkan Fahrurozi Ishaq menjadi gubernur tandingan.

Tuntutan FPI agar dilantiknya gubernur tandingan itu akhirnya sampai ke telinga Ahok. Tidak ada amarah yang terlontar dari Ahok saat mengomentari aksi FPI. Suami Veronika Tan ini memberikan komentar dengan disertai tawa. Ahok menanggapi langkah FPI dengan kalem.

Berikut 3 komentar Ahok:
Senin, 01/12/2014 11:59 WIB
Ketika Ahok Tertawa Komentari Gubernur
Tandingan Besutan FPI
Hestiana Dharmastuti – detikNews
1. FPI Tandingan Nggak Fair
Ribuan massa FPI dan 90 ormas yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Jakarta kembali mendemo Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Mereka mengancam akan melantik gubernur tandingan. Apa kata Ahok?

“Alah, ya ngapain tandingan ya nggak fair kan,” kata Ahok saat diwawancarai wartawan di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (1/12/2014) pagi.

“Kenapa nggak bikin tuhan tandingan sekalian gitu loh. Ya kan,” sambung Ahok seraya tertawa. Ketika ditanya lebih jauh, ia tidak mau banyak berkomentar dan memilih masuk ke kantornya.

Pelantikan gubernur tandingan itu disampaikan salah satu pimpinan FPI Mishabul Anam. Katanya pelantikan gubernur tandingan itu sudah direstui para Wakil Ketua DPR. “Kita lihat nanti, dilantik di DPRD,” jelasnya.

Saat ini ribuan massa dan 90 ormas yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Jakarta sudah berada di depan Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Mereka berdemo meminta Ahok segera lengser dari jabatannya.
Ketika Ahok Tertawa Komentari Gubernur
2. Pendemo FPI Tak Ber-KTP Jakarta
Ratusan massa Front Pembela Islam (FPI) dan Gerakan Masyarakat Jakarta kembali berdemo menolak Basuki T Purnama sebagai Gubernur. Ditanya soal demo ini, Ahok menanggapi dengan santai.

“2.000 orang yang mau demo? Bukannya 5.000 orang? Kalau nggak menuhi kuota nggak usah demo,” kata Gubernur DKI Basuki T Purnama santai.

Hal ini disampaikannya saat ditemui wartawan usai menghadiri acara ulang tahun Korpri di Monas, Jakarta Pusat, Senin (1/12/2014). Ia memilih tak ambil pusing dengan demo-demo yang kembali ramai untuk menolaknya sebagai gubernur.

Menurutnya, para pendemo dalam jumlah besar itu tak semuanya memiliki KTP Jakarta. Karena itu, ia tak mau menanggapi lebih jauh dan memilih naik ke mobil untuk kembali ke Balai Kota.

“Itu paling juga bukan yang punya KTP Jakarta. Ngapain demo-demo,” sambungnya.

Massa pendemo ini melakukan long march dari markas FPI di Jalan Petamburan, Jakpus menuju bundaran HI. Saat ini massa yang menyerukan penolakan Ahok menjadi gubernur itu masih berdemo di bundaran HI.
3. Duel Gubernur Ahok vs Gubernur Tandingan
Senin, 01/12/2014 11:59 WIB

3. Duel Gubernur Ahok vs Gubernur Tandingan
Front Pembela Islam (FPI) menolak Ahok menjadi gubernur. Ormas ini berencana membuat gubernur tandingan dengan meminta dukungan dari Koalisi Merah Putih di DPRD DKI Jakarta.

“Bagus dong. Kalau dia terpilih nanti jadi gubernur boleh, kita kan sudah sama-sama gubernur dan setara kan aku siap duel, satu lawan satu kalau dia jadi gubernur. Aku sangat siap asal caranya bukan pengecut gitu,” kata Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (11/11/2014).

Ahok tak mau meladeni permintaan FPI untuk bertemu saat demo kemarin karena merasa bukan levelnya. “Ngapain aku ketemu mereka, enggak jelas. Lu mau ajak duel sama gua, beraninya keroyokan. Satu lawan satu juga enggak pantas, kalau mau jadi gubernur lawan gubernur, gua ladenin,” tambah Ahok lagi.

Sebelumnya, pimpinan FPI Habib Rizieq kemarin menyebut akan membentuk gubernur tandingan. Nama Ketua Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) Fachrurozi Ishak sebagai orang yang pantas menggantikan Ahok. Dia mengancam jika Ahok masih tetap dilantik, ‎massa pendemo akan lebih besar menduduki Balai Kota.

“Kalau Ahok dilantik, kita juga akan melantik gubernur tandingan. Kita akan melantik gubernur versi ulama kita. Kita akan melantik Fachrurozi sebagai gubernur kita,” ucap Rizieq dalam orasinya di depan Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakpus, Senin 10 November.
(aan/nrl)

Kejaksaan Nyatakan Berkas Kasus FPI Sudah Lengkap
Senin, 1 Desember 2014 | 17:14

http://sp.beritasatu.com/home/kejaksaan-nyatakan-berkas-kasus-fpi-sudah-lengkap/70461

[JAKARTA] Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta menyatakan berkas berita acara pemeriksaan (BAP) kasus kericuhan aksi Front Pembela Islam (FPI) sudah lengkap atau P21.

“Hari (Senin) ini kasus FPI dinyatakan P21 (lengkap),” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto di Jakarta Senin (1/12).

Rikwanto menambahkan penyidik Polda Metro Jaya akan melimpahkan tahap dua berkas, tersangka dan barang bukti kasus FPI pada Selasa (2/12).

Rikwanto menuturkan kasus kericuhan aksi FPI yang terjadi di Gedung DPRD DKI Jakarta itu melibatkan 17 orang dewasa dan empat orang anak di bawah usia.

“Berkas empat orang di bawah usia dipisahkan dan dikenakan wajib lapor,” ujar Rikwanto.

Para tersangka dikenakan Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan, Pasal 160 KUHP tentang penghasutan dan Pasal 214 KUHP tentang perlawan terhadap aparat kepolisian dengan ancaman hukuman penjara lebih dari lima tahun.

Pada Jumat (3/10), sejumlah anggota FPI berunjukrasa menolak pelantikan Ahok sebagai Gubernur menggantikan Joko Widodo (Jokowi) yang menjadi Presiden di Komplek Balaikota dan DPRD DKI Jakarta.

Aksi tersebut berujung rusuh dengan merusak fasilitas umum dan melukai 16 personil kepolisian.

Akibat perbuatan itu, polisi menetapkan 21 tersangka anggota pengunjuk rasa termasuk penanggung jawab aksi Ustad Novel Bamukmin yang sempat menghilang sebelum menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya pada Rabu (8/10). [Ant/L-8]

FPI Berkeras Turunkan Ahok
01 Desember 2014 11:00 Christian Silitonga

http://sinarharapan.co/news/read/141201013/fpi-berkeras-turunkan-ahok

JAKARTA – Sebanyak 20 ribu massa diperkirakan akan menggeruduk kantor DPRD dan Balaikota, Senin (1/12) Mereka menyuarakan penolakan terhadap Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta. Aksi massa tersebut massa digawangi Front Pembela Islam (FPI), tergabung dalam elemen Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ).

Gerakan ini mengklaim ada sekitar 90 elemen Ormas akan turun dalam aksi. Saat diwawancarai di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Seketaris Umum FPI, Jafar Siddiq, mengatakan pihaknya memperkirakan sekitar 20 ribu massa akan datang untuk menolak Ahok sebagai Gubernur. Aksi ini dilakukan sebagai kekonsistenan mereka terhadap penolakan yang pernah dilakukan sebelumnya.

“Massa diperkirakan mencapai 20 ribu, yang tergabung dalam 90 ormas. Kita tetap lakukan aksi sebagai tekat kami terhadap penolakan Ahok yang pernah kami lakukan baik sebelum menjabat ataupun sudah menjabatnya Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta. Nah, kita akan minta Ahok turun,” cetusnya, Senin (1/12).

Saat ini ratusan massa yang akan melakukan unjuk rasa tengah berada di Bunderan Hotel Indonesia (HI). Aksi unjuk rasa hari ini juga akan diramaikan sejumlah elemen diantaranya FPI, FUI, FBB, FBR, hingga The Jak Mania dan sejumlah ormas lainnya, akan menyampaikan beberapa tuntutan. Dalam aksi ini akan dihadiri oleh sejumlah tokoh antara lain, Habib Rizieq Syihab, Rhoma Irama, dan sejumlah Habaib, ulama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat yang tersebar, se-DKI Jakarta.

“Nanti beberapa tokoh FPI dan Islam lainnya akan datang dengan menyuarakan hal yang sama, yaitu ‘Tolak Ahok’,” tegasnya. Terkait aksi tersebut, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto, mengatakan kepolisian akan mengawal aksi tersebut guna mengantisipasi berbagai kericuhan yang mungkin saja bisa terjadi.

“Aksi tersebut ditemakan ‘Lengserkan Ahok’. Kita mengerahkan sebanyak 750 ribu Personil kepolisian guna mengantisipasi jalannya aksi. Beberapa mobil barak kuda dan water Canon juga disiapkan,” jelasnya.

Rikwanto juga menjelaskan dalam aksi tersebut ada sekitar 2.000 orang dari GMJ pimpinan KH Fahru Rozy Ishak dan KH Endang yang akan mengawali aksinya dari Bunderan HI, kemudian massa akan longmars menuju Balai Kota dan DPRD DKI Jakarta.

Berdasarkan pantauan saat ini massa tengah berkumpul di Bundaran HI sambil menunggu para anggota yang lainnya datang. Sambil menunggu, seratusan pendemo yang umumnya mengenakan pakaian serba putih ini duduk-duduk dan bersalawat. Nampak pula spanduk dan boneka dengan foto Ahok dengan pesan penolakan Ahok.

Berkas Perkara Dinyatakan Lengkap Oleh Kejaksaan.

http://sinarharapan.co/news/read/141201049/penyidikan-polisi-atas-kerusuhan-fpi-selesai

TOLAK AHOK-Pimpinan ormas Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (tengah) berorasi di depan Gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (1/12). Dalam aksinya, massa menolak Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta dan menunjuk KH Fahrurrozy Ishaq sebagai Gubernur DKI versi Gerakan Masyarakat Jakarta.
JAKARTA- Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta menyatakan berkas berita acara pemeriksaan (BAP) kasus kericuhan aksi Front Pembela Islam (FPI) sudah lengkap atau P21. Para tersangka dikenakan Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan, Pasal 160 KUHP tentang penghasutan dan Pasal 214 KUHP tentang perlawan terhadap aparat kepolisian dengan ancaman hukuman penjara lebih dari lima tahun.

“Hari (Senin) ini kasus FPI dinyatakan P21 (lengkap),” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto di Jakarta Senin.

Rikwanto menambahkan, penyidik Polda Metro Jaya akan melimpahkan tahap dua berkas, tersangka dan barang bukti kasus FPI pada Selasa (2/12).

Rikwanto menuturkan kasus kericuhan aksi FPI yang terjadi di Gedung DPRD DKI Jakarta itu melibatkan 17 orang dewasa dan empat orang anak di bawah usia.”Berkas empat orang di bawah usia dipisahkan dan dikenakan wajib lapor,” ujar Rikwanto.

Pada Jumat (3/10), sejumlah anggota FPI berunjukrasa menolak pelantikan Ahok sebagai Gubernur menggantikan Joko Widodo (Jokowi) yang menjadi Presiden di Komplek Balaikota dan DPRD DKI Jakarta.

Aksi tersebut berujung rusuh dengan merusak fasilitas umum dan melukai 16 personil kepolisian.

Akibat perbuatan itu, polisi menetapkan 21 tersangka anggota pengunjuk rasa termasuk penanggung jawab aksi Ustad Novel Bamukmin yang sempat menghilang sebelum menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya pada Rabu (8/10).

FPI declares Ahok’s governorship illegal,

http://www.thejakartapost.com/news/2014/12/01/fpi-declares-ahoks-governorship-illegal-inaugurates-own-governor.html

The Jakarta Post, Jakarta | National | Mon, December 01 2014, 4:19 PM
Members of the hard-line Islam Defenders Front (FPI) “inaugurated” their choice for Jakarta governor, Fahrurozzi, during their latest protest outside the Jakarta City Council (DPRD) building against the governorship of Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.
Fahrurozzi was “sworn in” by the head of the Betawi Brotherhood Forum (FBR) and member of the Jakarta Saviors Presidium, Luthfi Hakim, who stated that Fahrurozzi, coordinator of the Jakarta Community Movement (GMJ), would begin his duties as Jakarta governor effective immediately.
“With this, the entire presidium has decided that the governor of Jakarta is Fahrurrozi Ishak,” Lutfi announced during the “ceremony” in front of the council building on Monday as quoted by tempo.co.
Because the protestors had deemed Fahrurozzi the true governor, Luthfi insisted that Ahok no longer had the authority to govern the capital.
He called upon all Jakartans to recognize the governorship of Fahrurozzi.
“If anyone [other than Fahrurozzi] claims to be the governor of Jakarta and visits your neighborhood, you must reject him because Jakarta’s true governor is now Fahrurozzi Ishak,” he said confidently. According to Tempo, approximately 200 demonstrators participated in the protest on Monday.
After the quick “inauguration ceremony”, Fahrurozzi and his supporters marched toward nearby City Hall, once again disrupting traffic with their protest. (dyl/nfo)(++++)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 59 other followers