DUH, LUCUNYA ORANG MADURA

Duh, Lucunya Orang Madura

Oleh: Moh. Mahfud MD

 

SALAH satu ciri utama yang melekat pada orang Madura adalah kelincahannya dalam berkelit dengan logika-logika polos. Orang Madura, konon, pandai berkelit dan cerdik, tapi tidak licik sehingga setiap kelincahan berdebat sering dikaitkan dengan kelincahan orang Madura. Simaklah contoh ini.

 

Suatu hari seorang antropolog asal Jerman melakukan penelitian di Madura. Dia mendapati seorang di desa yang sedang tidur-tiduran di kobhung (langgar keluarga) dengan santainya sekitar pukul 09.00. Sang peneliti bertanya, ”Mengapa Anda tidur-tiduran dan tidak bekerja saja?” Orang Madura itu menjawab malas bekerja. ”Enakan begini, santai sambil minum kopi dan makan tela rebus,” kata orang Madura itu.

 

”Kan lebih baik bekerja agar nanti sesudah tua bisa punya tabungan dan tinggal tidur-tiduran dengan enak, menikmati masa tua,” kata si peneliti. ”Lho, mengapa untuk tidur-tiduran harus bekerja dulu dan menunggu masa tua? Sekarang saja saya sudah tidur-tiduran,” jawab orang Madura itu dengan lincah. Si peneliti Jerman melongo, kalah. Dia pun ingin mewawancarai orang tersebut lebih jauh dan naik ke kobhung sambil bertanya.

 

”Apakah di sini aman dan tidak ada ular? Saya takut dipatuk ular,” kata si peneliti. ”Tenang, Tuan, di sini aman, tak ada ular,” jawab orang Madura itu. Tetapi, tiba-tiba di bawah kobhung ada ular yang sangat besar menyelinap dan terus masuk ke semak-semak di dekat kobhung itu. ”Lho, katanya di sini tak ada ular. Itu ada ular besar sekali. Hiii, takut,” kata peneliti Jerman tersebut dengan muka pucat karena saking takutnya. ”Oh, di sini memang tidak ada ular, Tuan. Yang barusan lewat itu adalah ibunya. Ibunya ular,” kata orang Madura tersebut dengan tenang.

 

Boleh jadi cerita itu tidak pernah benar-benar terjadi atau terjadi di tempat lain dan bukan di Madura. Tetapi, kecerdikan menjawab dan berkelit telah menjadi ciri khas orang Madura sehingga cerita seperti itu sering dikaitkan dengan orang Madura. Untuk menimbulkan kesan kecerdasan yang polos, spontan, dan lucu, kerap periwayat cerita seperti itu menyebutnya sebagai cerita dari Madura.

 

Orang-orang seperti Gus Dur, Cak Nun, Hasyim Muzadi, dan Sujiwo Tejo sering mengaitkan ceramah atau tulisan-tulisannya dengan cerita lucu yang, katanya, dari Madura. Padahal, cerita tersebut kadang tak jelas dari mana asalnya atau terkadang dibuatnya sendiri. Biar menarik dan terasa lucu, disebutlah cerita itu dari Madura. Hasyim Muzadi, misalnya, pernah bercerita bahwa gelar atau titel akademik doktorandus (Drs) bagi orang Madura jauh lebih tinggi daripada gelar dokter atau doktor sekalipun.

 

Ceritanya, Pak Imam mengadakan pesta syukuran karena anaknya lulus menjadi dokter (dr) dari Fakultas Kedokteran Unair. Pak Hamim yang anaknya lulus sebagai dokterandes (Drs) dari IAIN Sunan Ampel (kini UIN Sunan Ampel) tak kalah gaya. Dia pun mengadakan pesta syukuran. ”Anak saya lebih tinggi gelar dan ilmunya daripada anaknya Imam. Anaknya Imam hanya dokter, sedangkan anak saya sudah dokter masih ada andesnya. Bayangkan itu, sudah dokter, masih andes. Hebat, kan?” kata Pak Hamim tanpa peduli dirinya ditertawakan oleh hadirin.

 

Memang cerita-cerita lucu dan cerdas sering dikaitkan dengan suku Madura meskipun mungkin tak benar-benar terjadi di Madura. Cerita antropolog asal Jerman yang melakukan penelitian di Madura pada awal tulisan ini, misalnya, menurut saya tak pernah terjadi di Madura. Cerita itu di-Madura-kan karena kelucuan, keluguan, kecerdikan, dan kecerdasan yang melekat pada orang Madura. Orang Madura sendiri bukanlah pemalas yang hanya suka tidur-tiduran dan bersantai.

 

Orang Madura pada umumnya punya etos dan semangat kerja yang tinggi. Hampir semua orang Madura hafal lagu ”kesukubangsaan” Madura tentang semangat dan kewajiban bekerja keras, yaitu lagu Tandhuk Majang dan Pajjhar Lagghu. Tandhuk Majang (Pulang Melaut) dan Pajjhar Lagghu (Fajar Pagi) adalah dua lagu kesukubangsaan yang menggambarkan betapa uletnya orang Madura dalam bekerja, menjelajah alam, serta mencari kehidupan siang dan malam.

 

Makanya, merantau ke mana pun, orang Madura pada umumnya bisa survive, bahkan berhasil membangun ekonominya dengan gemilang, mulai tukang sate, pedagang besi tua, akademisi, bahkan pejabat tinggi setingkat menteri atau kepala staf di lingkungan TNI dan Kapolri. Selain pekerja keras yang gigih, orang Madura juga dikenal sebagai orang yang agamais, egaliter, pemberani, dan sportif.

 

Setelah Jembatan Suramadu diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2010, masyarakat Madura mau tak mau harus menghadapi perkembangan dan melakukan pembangunan dengan sentuhan-sentuhan baru. Agar budaya dan karakter orang Madura yang membanggakan itu bertahan, prinsip dan rambu-rambu pembangunan di Madura harus diperhatikan.

 

Badan Silaturahmi Ulama-Ulama Se-Madura (Bassra) sudah menggariskan bahwa pasca-Suramadu, pembangunan untuk Madura harus diartikan sebagai pembangunan Madura, bukan pembangunan di Madura. Pembangunan Madura itu bertumpu pada empat hal: manusiawi, indonesiawi, islami, dan madurawi. Katakan, ”Aku bangga pada Madura.” (*)

 

JAWA POS, 23 Maret 2015

Moh. Mahfud MD, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi

SAMBUTAN MENTERI PMK

MAKNA TAHUN BARU IMLEK

Date : 30-01-2014 08:36
Ditulis oleh : Ws.Budi S TanuwibowoSejak tahun 2002 Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, setelah dua tahun sebelumnya ditetapkan sebagai Hari Libur Fakultatif oleh Presiden KH.Abdurrahman Wahid. Jauh sebelumnya, pada tahun 1946, Presiden Republik Indonesia Pertama, Ir.Sukarno, telah menetap 4 (empat) Hari Libur Fakultatif bagi masyarakat Tionghoa yang waktu itu mayoritas masih beragama Khonghucu, yakni : Tahun Baru Imlek, Qing Ming (Ceng Beng), Hari Lahir Nabi Kongcu (Kongzi, Confucius) dan Hari Wafat Nabi Kongcu.
.
Meski sudah dikenal lama dan bahkan telah ditetapkan sebagai Hari Libur Fakultatif sejak tahun 1946, namun karena pernah mengalami masa pengekangan pasca keluarnya Inpres No.14 / 1967 yang membatasi agama, adat istiadat dan budaya Tionghoa (efektif berlaku 1978-1998), banyak orang yang kemudian bingung dan tidak memahami benar makna Tahun Baru Imlek selengkapnya, terutama dikalangan generasi muda.
==
Agama atau Budaya?
Banyak orang yang bingung dan kemudian berdebat, Tahun Baru Imlek itu hari raya agama, etnis ataukah budaya? Padahal, perdebatan itu sebenarnya sederhana saja dan mudah diakhiri dengan pertanyaan berikut :
.
Kalau budaya, apakah memerrlukan upcara dan sembahyang yang kita pahami benar menjadi ranah agama?
Kalau etnis (dalam hal ini Tionghoa), mengapa juga dirayakan oleh bangsa-bangsa lain seperti Jepang, Korea, Vietnam dan bangsa lainnya, meski dengan istilah berbeda? Bahkan banyak suku Jawa, Sunda, Manado, Papua dan sebagainya, yang meraykan Tahun Baru Imlek? Bagaimana menjelaskan fenomena ini?
Lihatlah semua hari libur nasional Indonesia, Kalau tidak terkait peristiwa penting nasional, pastti terkait dengan agama. Apa hebatnya suku Tionghoa dibanding suku lainnya, sampai hari raya budaya atau sukunya perlu dirayakan secara khusus? Bagaimana dengan suku Jawa, Madura, Sunda, Batak dan lainnya? Apakah nanti tidak terjadi iri hati?
.
Masih banyak hal sederhana yang bisa dengan mudah menegaskan bahwa Tahun Baru Imlek sejatinya agama. Namun agar kita tidak terjebak pada kesempitan pandangan, ada baiknya kita membahas makna Imlek secara luas, yang menyangkut berbagai aspek : astronomi, agama, agraris, sosial-budaya, politis dan bisnis.
==
Makna Agronomi
Ada tiga sistem perhitungan kalender yang setidaknya kita kenal, yakni : solar, lunar dan lunisolar. Kalender solar atau matahari, didasari orbit bumi mengelilingi matahari selama ± 365,25 hari per tahun. Contohnya Kalender Masehi, Kalender Lunar atau bulan, didasari orbit bulan mengelilingi bumi selama ± 29,5 hari per bulan, atau 354 hari per tahun. Contohnya Kalender Hijriyah atau Islam. Itulah sebabnya 1 Muharram, Idul Fitri atau yang lainnya, selalu jatuh maju 11 hari disbanding tahun sebelumnya.
.
Kalender Imlek, perhitungan hari per bulannya didasarkan pada edar bulan mengelilingi bumi, namun selisih 11,25 dengan sistem solar selama 19 tahun (19 x 11,25 hari, identik dengan 7 bulan) dikoreksi dengan menyisipkan 7 kali bulan ke-13 selama kurun waktu tersebut. Itulah sebabnya awal tahun penanggalan Imlek tidak maju terus seperti terjadi pada Kalender Hijriyah, namun selalu dalam kisaran 21 januari-19 Februari.
.
Dengan menggabungkan kedua sistem solar dan lunar, atau lunisolar, maka Kalender Imlek bisa digunakan untuk menghitung bulan baru dan purnama, pasang surut air laut, pergantian musim, dan letak semu matahari terhadap sumbu bumi.
.
Dari paparan di atas menjadi jelas bahwa Tahun Baru Imlek mempunyai makna astronomi, karena terkait dengan sistem tata surya, sistem penanggalan atau awal dari sebuah tahun baru, yang didasari sistem lunar (yinli, imlek) yang dipadu dengan system solar (yingli atau yanglek) atau sejatinya lebih pas disebut lunisolar (yinyangli atau imyanglek).
==

 

Makna Agama
Kalender YinYang Li atau Imlek diciptakan oleh Huang Di, yang merupakan nenek moyang orang Han (suku terbesar yang mendiami wilayah Tiongkok) dan sekaligus salah satu nabi utama dalam Ru Jiao (agama Khonghucu). Oleh karenanya banyak orang yang menamai Kalender Imlek sebagai Kalender Huang Di.
.
Namun semasa Huang Di berkuasa, Kalender ini belum digunakan. Baru pada masa Dinasti Xia (2205-1766 SM) kalender tersebut digunakan, sehingga lazim disebut pula sebagai Kalender Xia. Setelah Xia runtuh diganti Dinasti Shang (1766-1122 SM), Dinasti Zhou (1122-256 SM) dan Dinasti Qin (256-202 SM), kalender tersebut tidak lagi digunakan dan diganti dengan kalender dari setiap dinasti baru yang berkuasa.
.
Kalender Xia baru digunakan kembali setelah Kaisar keempat Dinasti Han yang bernama Han Wu Di memerintah. Pada tahun 104 SM, beliau menetapkan digunakannya kembali Kalender Dinasti Xia, mengacu pada sabda Nabi Kongzi yang tersurat pada Kitab Suci Si Shu, bagian Lun Yu, Bab XV, Pasal 11 ayat 2. Pada saat yang bersamaan Han Wu DI juga menetapkan Ru Jiao atau agama Khonghucu sebagai agama resmi negara. Untuk menghormati Nabi Kongzi, Han Wu Di menetapkan tahun pertama kalendernya dihitung sejak 551 SM, yang merupakan tahun kelahiran Nabi Kongzi. Itulah sebabnya Kalender Imlek 551 tahun lebih tua dari tahun Masehi.
.
Dari paparan di atas jelaslah bahwa ada 4 (empat) tokoh penting yang berperan dalam penggunaan kalender Imlek, yaitu : Huang Di, Xia Yu (pendiri Dinasti Xia), Kongzi dan Han Wu Di. Ketiga tokoh pertama di atas adalah nabi-nabi dalam agama Khonghucu, sedangkan Han Wu Di, adalah Kaisar pertama yang menetapkan Ru Jiao (agama Khonghucu) sebagai agama Negara. Maka jelaslah Kalender Imlek terkait erat dengan Ru Jiao atau agama Khonghucu.
.
Kalau kita perhatikan ritual yang terkait dengan Tahun Baru Imlek yang dilakukan sejak seminggu sebelumnya (Hari Persaudaraan) sampai dengan dua minggu sesudahnya (Cap Go Meh), jelas tak bisa dibantah bahwa Tahun Baru Imlek adalah Hari Raya Agama Khonghucu.
==

 

Makna Agraris
Ketika Huang Di menciptakan penanggalan Imlek, ada dua hal penting yang menjadi dasar pertimbangannya. Pertama menjadi pendoman bagi upacara keagamaan (Ru Jiao), dimana pada setiap musim, dilakukan sembahyang besar yang dipimpin oleh kaisar sendiri. Yang kedua adalah dapat digunakan sebagai pedoman bagi awal bercocok tanam. Itulah sebabnya awal tahun barunya dijaga di antara tanggal 21 Januari hingga 19 Februari, yang masing-masing berkisar 14 hari dari tanggal 5 Februari yang merupakan titik tengah letak semu matahari antara 23,5 derajat lintang selatang dengan khatulistiwa atau batas musim dingin dan semi bagi wilayah di utara khatulistiwa.
.
Hal di ataslah yang juga menjadi dasar bagi nasihat Nabi Kongzi kala menyarankan digunakannya kembali penanggalan Dinasti Xia atau yang kita kenal sekarang sebagai Penanggalan Imlek. Beliau sangat menekankan arti pentingnya kalender bagi kehidupan rakyat yang waktu itu sepenuhnya hidup dari pertanian. Kalender adalah pedoman bagi rakyat, bukan symbol legitimasi kekuasaan kaisar. Pada zaman itu, setiap kaisar atau dinasti baru muncul, sistem kalendernya selalu diganti, dihitung sejak kaisar tersebut berkuasa. Jelas hal ini membuat fungsi kalender sebagai pedoman bagi rakyat petani menjadi kabur, karena awal perhitungannya tidak lagi terkait dengan musim.
==

 

Makna Sosial Budaya
Sejarah Ru Jiao atau agama Khonghucu erat berhimpitan dengan sejarah bangsa Tionghoa. Dan ini terjadi dalam kurun waktu lama, tak terputus selama 5000 tahun lebih lamanya. Tak heran meski pun kini agama orang Tionghoa sudah beraneka ragam, tapi budaya dan sebagian tingkah lakunya terpengaruh kuat dengan Ru Jiao atau agama Khonghucu. Maka konsekuensinya, segala sesuatu yang dulu menjadi ranah agama, lama-lama diterima dan menjadi budaya yang mempengaruhi perilaku social orang per orang, diturunkan turun-menurun oleh orang tua. Salah satunya yang terkait dengan Tahun Baru Imlek.
.
Hal yang sama menimpa masyarakat atau bangsa Jepang, Korea, Mongolia, Manchuria dan Vietnam. Meski bukan orang Tionghoa, karena terpengaruh ajaran agama Khonghucu, mereka juga merayakan Tahun Baru Imlek meski dengan nama berbeda. Oleh karena tidaklah tepat bila Imlek disebut sebagai hari raya budaya atau etnis. Apalagi Indonesia Imlek juga dirayakan oleh suku-suku lainnya, yang kebetulan menganut agama Khonghucu. Lagi pula, Xia Yu, sang pendiri Dinasti Xia, dinasti yang pertama kali menggunakan Kalender Imlek, sejatinya berasal dari etnis proto Melayu, nenek moyang bangsa Indonesia.
==

 

Makna Politis
Sejak dahulu Imlek seolah menjadi barometer politik. Ketika Dinasti Xia runtuh pada 1766 SM, dinasti-dinasti sesudahnya tidak lagi menggunakan Kalender Imlek. Masing-masing dinasti sesudahnya punya kalender tersendiri. Baru setelah Han Wu Di dari dinasti Han menetapkan kembali penggunaannya dan menggunakan tahun kelahiran Nabi Kongzi sebagai acuan dasar, dinasti-dinasti sesudah Han tidak lagi menggunakan kalendernya sendiri.
.
Di Indonesia, Imlek juga seakan menjadi barometer politik Negara pada agama Khonghucu dan masyarakat Tionghoa. Ketika awal merdeka Imlek pernah menjadi hari raya fakultatif. Kemudian harus dirayakan secara terbatas di lingkungan keluarga. Setelah reformasi ditetapkan sebagai Hari Raya Nasional. Mudah-mudahan ke depan politik diskriminasi hilang lenyap di Negara tercinta yang Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan Pancasila ini.
==

 

Makna Bisnis
Kehidupan modern tidak lepas dari pengaruh bisnis dan teknologi. Setiap hari raya keagamaan kini tidak terbatas dirayakan oleh umatnya saja, namun juga dimanfaatkan banyak orang untuk kepentingan bisnis, mulai dari pariwisata, entertainment sampai perdagangan. Saat Idul Fitri (Islam), Natal (Kristen-Katolik) sampai Imlek (Khonghucu), mal-mal ramai berhias. Bisnis menggeliat, harga-harga melambung tinggi. Bukan mustahil suatu saat Nyepi (Hindu) dan Waisak (Buddha) juga dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis.
.
Dan kalau sudah demikian, maka kita tidak lagi bisa menbedakan suatu perayaan itu terkait agama, budaya atau apapun namanya. Semuanya berwajah bisnis, yang menjadi roh dunia modern.
==
Lantas Maknanya Apa?
Tak ada gunanya lagi memperdebatkan soal Imlek itu agama atau budaya. Sudah jelas rohnya adalah agama (Khonghucu). Namun kini ia tidak lagi menjadi monopoli umat Khonghucu, seperti halnya kita bersama menikmati Idul Fitri, Natal, Nyepi, Waisak dan lainnya sebagai Hari Kebersamaan umat manusia. Kita masih banyak membutuhkan hari-hari kebersamaan, agar wajah dunia tidak lagi tersekat-sekat secara eksklusif. Maka marilah kita jadikan Idul Fitri, Natal, Nyepi, Waisak, Imlek dan yang lain sebagai Hari Kebersamaan Umat Manusia, terlepas dari agama, ras, budaya dan atribut-atribut lainnya.
.
Gong He Xin Xi, Wan Shi Ru Yi. Salam bahagia di tahun, berlaksa perkara sesuai harapan. Shanzai.©2011

www.matakin.or.id | Valid XHTML | CSS

KOMENTAR ATAS ARTIKEL ‘JOKOWI DAN REZIM-REZIM SEBELUMNYA’.

 KOMENTAR ATAS ARTIKEL  ‘JOKOWI DAN REZIM-REZIM SEBELUMNYA’.
  “‘Lusi D.’ lusi_d@rantar.de , in:[nasional-list]” <nasional-list@yahoogroups.com>, Tuesday, 24 March 2015, 1:35
Saya tidak sependapat dengan pandangan yang dikemukakan MJ ini. Sebab
kalau diteruskan akan merangsang pembenaran pada logika otomatisme yang
bersifat rasial. Kenyataannya, Indonesia sejak lahirnya sudah terdiri
dari berbagai macam suku-suku bangsa. Namun demikian faham
suku-bangsa-isme bukanlah prinsip yang tepat. Bertentangan dengan
prinsip: bhineka tunggal ika.

Kalau tokh ingin menilai sekedar logika peranan “kesukuan”, walaupun
saya tidak sependapat, mengapa yang dihitung hanya beberapa gelintir
“penguasa” dari suku itu saja? Pernahkah dihitung juga berapa juta
orang yang menjadi korban dari “suku” yang itu bersama dengan suku-suku
bangsa lainnya juga? Tetapi kalau mau menggambarkan landasan berfikir
tentang perkembangan nasion, baik sekali berusaha mentrapkan metode
berfikir yang bebas secara rasialis, misalnya filsafat materialisme
dialektis dan historis tentang nasion untuk menyimpulkan hasil
perjuangan nasional Indonesia selama ini. Memang sampai sekarang
hasilnya belum memuaskan.

Nah sekarang dari materi sejarah. Yang saya ketahui berdasarkan
peristiwa historis yang terjadi: Yang meminta Soekarno menjadi presiden
seumur hidup itu adalah dari kalangan partai Murba, lewat Chairul
Saleh yang waktu itu jadi salah seorang Wakil Perdana Menteri.
Partai-partai lain sesuai dengan kalkulasi politik, termasuk
perhitungan menang-kalah dalam pemilihan umum, sesuai pandangan mereka
masing-masing terhadap pengaruh person Soekarno, tidak ada yang
keberatan. Jadi tidak semata-mata hanya “keinginan” Soekarno sendiri.
Yah, historis begitulah taraf berfikir kaum elite yang menentukan arah
politik waktu itu. Sedang Habibi pernah ada yang cerita kalau ibunya
itu masih trah ningrat Yogyakarta.

Akibat kelanjutannya; klik kediktaturan baik yang militer maupun yang
sipil selalu berusaha menghidupkan mantra-mantra gugontuhon trah ini.
Mereka itu sadar, bahwa antara zenialitet seseorang dan keturunan
sedarah itu tidak identik, tetapi bagi penguasa klik dwifungsi militer
bersama komplotan komprador dan kaum feodalnya dengan mengendalikan
personalia keturunan darah akan lebih mudah untuk menyelubungi watak
penindasan mereka itu terhadap rakyat ketimbang melalui tatanan
demokratis yang sudah dikenal rakyat pada umumnya.

Komentar”marthajan04@yahoo.com, in: [sastra-pembebasan]”
<sastra-pembebasan@yahoogroups.com>, Am 22 Mar 2015 15:19:29 -0700:

 Sukarno berkuasa selama 20 tahun adalah orang Jawa > Mbah Harto berkuasa selama 32 tahun adalah orang Jawa. Habibie berkuasa selama 1 tahun adalah orang Makassar, Gus Dur berkuasa selama 1 tahun adalah orang Jawa.Megawati berkuasa selama 4 tahun adalah orang Jawa   Sby berkuasa selama 10 tahun adalah orang Jawa. Jokowi ga tau kapan lengsernya, adalah jawa juga.

Presiden indonesia orang jJwa semua. Habibi ga dihitung sebab cuma presiden masa transisi. jadi yang salah adalah budaya Jawa yang feodal.

 Sukarno juga kepengennya berkuasa terus, minta diangkat jadi presiden seumur hidup dan minta dipanggil paduka yang mulia, senang  kalo punya harem ala raja Jawa. Selir-selirnya pada kaya. Jadi diragukan  kalau dia ga korupsi. Suharto sama cuma yang ini serakahnya sama  harta bukan perempuan. Habibie bukan orang Jawa jadi cuma berkuasa  selama masa transisi saja. Gus Dur ga tau apa kalau ga dilengserkan  gengnya AR pengen berkuasa terus atau tidak Tapi yang pasti kayanya  sih ga bakalan poligami sebab ga menarik secara seksual. Juga ga  bakalan korupsi sebab matanya ga bias hijau liat duit sebab sudah  bureng. Megawati pengen berkuasa terus juga ala ratu jawa cuma  sayangnya ga pinter dan tidak disukai rakyat indo. Sby beruntung ga  diganggu gugat walau kerjanya nangis dan bikin lagu entah enak  didengar apa ga, sebab ga niat dengerin hehehe… Jokowi ga tau belum  jadi sejarah tapi kayanya sih paling payah, bukan mental raja tapi  mental punggawa jawa yang mengabdi terus pada mantan bosnya.

mj

JOKOWI DAN REZIM-REZIM SEBELUMNYA

JOKOWI DAN REZIM-REZIM SEBELUMNYA
Oleh dan dikirim oleh Tatiana Lukman
in: temu_eropa@yahoogroups.com, 22 maart 2015 om 7:35
*Kutipan Diskusi bersama teman Saya Bedakah Rezim Otoriter Soeharto dengan Rezim Populis Jokowi?Jika tidak, maka terulangnya pengalaman lampau, bukan hal Mustahil lagi! Dulu, sejak 49 tahun yang lampau, selama 32 tahun dibawah kekuasaan dictator fasis Soeharto, rakyat diasingkan dari hak politiknya, dimiskinkan secara ekonomi dan dilempar jauh terbelakng secara kebudayaan. Rakyat terus dikerangkeng dalam jeruji otoritarian dan militeristik, kemudian hanya disajikan tontonan praktek culas atas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), serta Liberalisasi dan Deregulisasi sebagai khas dari pemerintahannya. Dalam waktu yang bersamaan, penguasaan tanah secara monopoli oleh segelintir Orang dan golongan (Swasta dan Negara) terus meluas. Demikian pula dengan pembukaan tambang-tambang besar, pembangunan Industri-industri manufaktur, rakitan dan semi prosesing milik imperialis terus tumbuh dan tersentral disejumlah daerah dan kota saja. Tidak terelakkan, penumpukan utang dan Investasi terus memperkuat ketergantungan Indonesia pada modal dan teknologi Asing. Sementara kriminalisasi, tindak kekerasan dan berbagai bentuk pelanggaran HAM senantiasa menempel dalam setiap kebijakan-kebijakan nya. Namun di Negeri ini, kepastian hukum atas perkembangan masyarakat telah dibuktikan, sebagai kata kuncinya, “Dimana ada Penindasan, disitulah ada Perlawanan!”. Sehingga Dulu, 17 (Tujuh belas) tahun yang lalu, Gerakan Rakyat Indonesia telah bangkit dan meluas, secara serentak dan bergelombang diseluruh Nusantara melawan tirani, akhirnya pada tahun 1998 telah berhasil “Menumbangkan Diktator Otoritarian si Tangan Besi-Kepala Batu, Soeharto”. Lantas, adakah yang kini Berbeda, atau sedikit berubah menjadi lebih baik?Tergulingnya Soeharto pada kenyataannya hingga Presiden ketujuh di Negeri ini, tidak ada yang berbeda atau sedikit berubah menjadi lebih baik. Cengkraman system kolot setengah jajahan dan setengah feudal (SJSF) di Negeri ini, terus diwariskan turun-temurun bak tongkat estapet kepada rezim-rezim berikutnya. Sistem tersbeut terus menyebabkan rakyat terjebak dalam kemiskinan dan penderitaan yang menyakitkan. Pergantian rezim sejak Habibi hingga Jokowi sekarang, tidak sedikitpun membawa perubahan yang lebih baik bagi penghidupan ataupun harapan masadepan bagi Rakyat. Memang semenjak 1965, pemerintahan di Indonesia telah menjelma secara sempurna menjadi rejim kaki tangan Kapitalisme monopoli (Imperialisme) dan berwatak anti rakyat karena telah terbukti menyengsarakan kehidupan rakyatnya. Dibawah system SJSF yang diwariskan pengkhianatan KMB, Rejim boneka bekerja untuk memperkaya diri dan kelompoknya, serta mengabdi pada imperialis. Kekuasaan rejim boneka di Indonesia berjalan, bahkan telah semakin matang hingga sekarang. Rejim Jokowi-JK yang bahkan belum genap setahun berkuasa saat ini, seperti rejim boneka sebelum-sebelumnya, tanpa sedikitpun keraguan terus menghisap ekonomi dan menindas kehidupan politik rakyat.Dibawah pemerintahan Jokowi-JK sekarang, yang sarat dengan berbagai ilusi atas Janji dalam Program Nawacitanya, :
– Adakah Fakta yang menunjukkan prosentase peningkatan kesejahteraan Kaum tani, ditengah perampasan dan monopoli tanah yang semakin luas?
– Adakah Fakta yang menunjukkan kesejahteraan Kaum buruh yang meski mendapatkan kenaikan upah hingga 30%, namun setelahnya dipukul dengan perampasan upah untuk Premi jaminan social, pajak progresif dan, yang paling menyakitkan adalah penaikan harga berbagai kebutuhan Pokok yang bahkan melebihi prosentase kenaikan upah?
Atau adakah Fakta yang menunjukkan peningkatan Keamanan, Kenyamanan dan perlindungan bagi Kaum buruh yang dijual (baik didalam maupun luar Negeri) melalui yayasan-yayasan penyalur tenaga kerja (Lembaga Outsourchin dan PJTKI) dan ikatan Sistem kerja Kontrak? 3. Adakah Fakta yang menunjukkan perubahan Nasib kaum perempuan menjadi lebih demokratis, sehingga kaum perempuan terbebas dari diskriminasi Budaya, Politik dan Ekonomi dalam kehidupan Sosialnya?Adakah perlindungan bagi perempuan untuk dapat posisi yang setara dalam pengambilan kebijakan baik dalam rumah tangga, tempat kerja atau dimanapun Ia berada?Adakah perlindunga yang membebaskan kaum perempuan dari perdagangan Manusia (Trafficking) untuk dijadikan budak, pelacur dan entah apalagi lainnya?4. Adakah Fakta yang menunjukkan Perbaikan nasib Anak-anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan yang luas dan setara, dengan kualitas memadai dari system penyelenggaraan Pendidikannya? Adakah Fakta yang menunjukkan bahwa Anak-anak Bangsa telah mendapatkan akses kesehatan dan terbebaskan dari busung lapar, gizi buruk dan berbagai peyakit menular lainnya?Adakah Fakta yang menunjukkan bahwa seluruh Anak Bangsa telah terbebas dari putus sekolah dan buta hurup akibat fasilitas dan biaya yang tidak terjangkau olehnya? *Kenyataannya, Jutaan anak bangsa dipelosok hingga pedalam negeri ini sama-sekali tidak terjangkau oleh fasilitas sekolah dan kesehatan, bahkan diperkotaan hampir disetiap lampu merah, angkutan-angkutan dan emperan, anak bangsa yang tidak terhitung jumlahnya terpaksa menjadi pedagang asongan, pemulung, pengamen bahkan pengemis, meskipun tidak sedikit dari mereka yang usianya masih balita!5. Adakah Fakta yang menunjukkan bahwa Pemuda dan Mahasiswa telah mendapatkan Akses pendidikan yang lebih tinggi dan lapangan pekerjaan yang dapat menjamin penghidupannya? Adakah Fakta yang menunjukkan bahwa Mahasiswa dapat mengembangkan ilmu pengetahuan berdasarkan keadaan objektif sosialnya (keadaan alam dan Masyarakatnya) dengan berbagai diskusi-diskusi ilmiah, studi-studi literature didalam kampus dan, riset-riset social ditengah masyarakat? Adakah Fakta yang menunjukkan peningkatan kesejahteraan, kesetaraan social dan penghormatan HAM yang lebih baik bagi jutaan pemuda yang tergusur dari persaingan pencari kerja ditengah sempitnya lapangan kerja yang tersedia, sehingga mereka terbebas dari tindak kriminal ataupun jebakan Narkoba akibat ke-Frustasian yang sudah kelewat keras dihadapinya? *Kenyataannya: Akses pendidikan terus menyempit, Angka putus sekolah dan kuliah meningkat, sehingga Pemuda yang dapat mengenyam pendidikan tidak lebih hanya 4,9 juta jiwa dari 25 juta total pemuda usia kuliah seluruuhnya (18-25 tahun) *Kenyataannya, Pemuda dan bahkan sarjana banyak yang terjebak menjadi Sales, buruh Migrant, atau pekerja kantoran yang tidak sesuai dengan bidangnya, sementara Mahasiswa terus dicekoki dengan Ilusi persaingan bebas, wiraswasta (Entrepreneurships) sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi, padahal penguasa modal yang tidak sepadan jadi saingannya, telah menghadang didepan mata. 6. Adakah Fakta dari PEMBANGUNAN yang diilusikan Jokowi dan segenap jajaran pemerintahannya saat ini, yang murni dan bersih tanpa sedikitpun mengusik hak dan sumber-sumber penghidupan Rakyat?Adakah Fakta yang menunjukkan bahwa Jokowi beserta segenap jajaran pemerintahannya telah menjalankan pemerintahan yang bersih, adil dan demokratis seperti janji kampanyenya? *Kenyataannya, Rakyat dibohongi sedemikian rupa. Korupsi merajalela, kekerasan, kriminalisasi dan berbaagai pelanggaran HAM meluas dimana-mana. Lantas apakah perbedaan anatara Jokowi dengan rezim-rezim sebelumnya, bahkan sejak Soeharto? Jika tidak ada perubahan baik bagi penghidupan Rakyat, atau pengalaman derita yang sama harus ditanggung pada masa rejim-rejim sebelumnya, Maka Rakyat berhak menentukan nasib dan jalannnya Sendiri. Rakyat mengetahui jalannya sendiri, Rakyat memiliki kemampuannya sendiri. Persatuan yang besar dan kuat, Gerakan yang massif, solid dan terpimpin, itulah pengetahuan atas jalan yang mampu dilakukannya berdasarkan pengalaman. Revolusi 1945 dan gerakan Reformasi 1998 adalah bukti. Jika itu terulang, bukan hal baru ataupun hal yang mustahil lagi![]w

KISRUH JOKOWI DIJEPIT KALLA-MEGA: HANYA TSUNAMI DALAM…

KISRUH JOKOWI DIJEPIT KALLA-MEGA: HANYA TSUNAMI DALAM…

http://www.tempo.co/read/news/2015/03/20/078651484/Kisruh-Jokowi-Dijepit-Kalla-Mega-Hanya-Tsunami-dalam

 

 

Jum’at, 20 Maret 2015 | 06:54 WIB

 

Kisruh Jokowi Dijepit Kalla-Mega: Hanya Tsunami dalam...

Presiden Joko Widodo (Jokowi). TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jakarta – Pengamat politik dari Center for Strategic and International Studies , Josep Kristiadi, mengatakan hubungan Presiden Joko Widodo dan Presiden Indonesia kelima Megawati Soekarnoputri tak akan terpecah meski banyak perbedaan pendapat. Misalnya, dalam kasus pembatalan pelantikan Komisaris Jenderal Budi Gunawan menjadi Kepala Kepolisian.

“Hanya tsunami dalam gelas, tidak ada apa-apa,” katanya saat dihubungi Tempo, Rabu, 18 Maret 2015.

Selain kasus Budi, mereka juga berbeda pendapat soal pengangkatan Wakil Kapolri Komisaris Jenderal Badrodin Haiti menjadi Kapolri. Mega tak sendiri. Wakil Presiden Jusuf Kalla sependapat dengannya.

“Karena saat kasus BG, Kalla dan Mega mempunyai kepentingan serupa,” ujarnya.

Mega, kata Kristiadi, menganggap Budi dapat dipercaya lantaran pernah menjadi ajudannya. Sedangkan Kalla juga merasa Budi berjasa melalui ajudannya untuk meyakinkan Mega agar menjadi wakil Jokowi. Dengan demikian, keduanya mempunyai kedekatan emosional dengan Budi dan tak menghendaki calon lainnya menjadi Kapolri, termasuk Badrodin.

Perkara terbaru terkait dengan dualisme kepengurusan Partai Golkar. Menurut Kristiadi, baik Mega, Kalla, ataupun Jokowi akan satu suara. Mereka akan menyetujui kepengurusan Agung Laksono yang sejak awal menyatakan pro-pemerintahan. Persetujuan tersebut dimaksudkan untuk memperkuat koalisi pemerintah di parlemen.

“Tinggal tunggu waktunya Jokowi akan bicara. Sudah selesai Ical (Aburizal Bakrie) itu,” ujarnya.

DEWI SUCI RAHAYU

KUDA-KUDA KALLA

 

XANANA GUSMAO AND KIRSTY SWORD GUSMAO ANNOUNCE SEPARATION

XANANA GUSMAO AND KIRSTY SWORD GUSMAO ANNOUNCE SEPARATION

http://www.smh.com.au/world/xanana-gusmao-and-kirsty-sword-gusmao-announce-separation-20150321-1m4q88.html

 

DateMarch 22, 2015

Lindsay Murdoch

President of East Timor Xanana Gusmao and his wife Kirsty Sword Gusmao on an official visit to Australia in 2008.

 

President of East Timor Xanana Gusmao and his wife Kirsty Sword Gusmao on an official visit to Australia in 2008. Photo: Jason South

East Timor’s former president and prime minister Xanana Gusmao has separated from his Australian wife Kirsty Sword Gusmao, ending a fairytale 15-year marriage that began when the then resistance fighter fell in-love with a 20-year younger undercover agent who came to his jail cell in the Indonesian capital Jakarta.

“We wish to inform our friends, colleagues and many wonderful supporters of our decision to separate as a couple,” Mr Gusmao, 68, said from Melbourne, where Ms Sword is now living with the couple’s three sons.

“Like all couples who decide to do this, it did not come easy,” he said.

 

Xanana Gusmao, son Alexandre and Kirsty Sword Gusmao in 2002.

Xanana Gusmao, son Alexandre and Kirsty Sword Gusmao in 2002. Photo: Craig Abraham

 

“We have both devoted a lot of our lives to firstly seeking and securing independence for Timor-Leste (East Timor) and then our whole married life to working through the various stages and challenges associated with building a nation from ground up.”

The announcement comes after Mr Gusmao last month stepped down as East Timor’s prime minister two years before his term expired, opening the way for a unity government that seeks to hand power to a new generation of leaders more than a decade after the half-island nation gained independence from Indonesia.

Working undercover for East Timor’s resistance movement under the code-name “Ruby Blade,” Ms Sword met Xanana in a Jakarta jail in 1994.

“I shook hands with Xanana and I had to pretend that I wasn’t particularly interested in him,” Ms Sword said in 2002.

Fluent in the Indonesian language after growing up in Bendigo and Melbourne and completing a degree at Melbourne University, Ms Sword was working as teacher and human rights campaigner in Jakarta when she began passing messages from Xanana under the noses of the Indonesian police and army.

Mr Gusmao, a wily leader of East Timor’s struggle for freedom, served seven years of a 20-year prison sentence before being released in 1999 after East Timorese voted to break-away from Indonesia.

Few people were surprised when Ms Sword soon became Xanana’s secretary and fell in love with the charismatic former guerrilla leader.

They married in 2000 and heir first son Alexandre was born soon after.

Ms Sword adopted East Timor as her home and became widely admired among East Timorese as she committed herself to the job of being the First Lady of the world’s newest nation as it struggled to recover from ruins and bloodshed following a violent backlash by pro-Indonesian militia to the independence vote.

She founded the ALOLA Foundation in 2001 to address the needs of East Timorese women and their families and worked as an ambassador for education in the country that remains one of the world’s poorest.

In 2008 Ms Sword protected her children from rebel gunmen stalking her family’s home in the hills above the capital Dili during an assassination attempt on her husband, after East Timor’s then president Jose Ramos-Horta had been shot and almost killed in his home.

Ms Sword moved temporarily to Rosebud on Melbourne’s outskirts in late 2012 as she was undergoing treatment for breast cancer.

Mr Gusmao said Kirsty will continue in her role as the president of ALOLA and will be a frequent visitor to East Timor where their sons were born and raised.

He said he will continue in his new role as East Timor’s Minister for Planning and Strategic Investment and will be a frequent visitor to Melbourne, where his sons will have a home as well.

“We face the future with some sadness of course, but with no regrets as our partnership and journey was unique and rich in experience,” Mr Gusmao said.

“We are buoyed by the prospect of a peaceful and prosperous Timor-Leste,” he said.

Mr Gusmao said he and Kirsty will continue to work together in the interests of East Timor, adding “it is something that our boys understand as it is their legacy.”

“With three much loved boys, who carry dual citizenship and are multi-lingual, we remain committed parents and will maintain our family partnership to rear our children and to make Timor-Leste a better place, for them and all children of Timor-Leste,” he said. []

 

KOMUNIKASI POLITIK ‘ANTISANTUN’ AHOK DAN LULUNG

KOMUNIKASI POLITIK ‘ANTISANTUN’ AHOK DAN LULUNG

Kompas.Com, Minggu, 15 Maret 2015 | 15:42 WIB
KOMPAS.com/KURNIA SARI AZIZA Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (dua dari kanan) berbicara dengan Wakil Ketua DPRD DKI Abraham Lunggana (dua dari kiri) pada acara Lebaran Betawi di Silang Timur Monas, Jakarta, Minggu (14/9/2014).

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengamat komunikasi politik dari LIPI, Firman Nur, mengatakan komunikasi politik Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Ketua Fraksi PPP DPRD DKI Jakarta, Abraham Lunggana (Lulung) berada di level yang sama. Keduanya dianggap melakukan gaya komunikasi politik ‘antisantun’.

“(Lulung dan Ahok) Sama tidak propernya karena mengedepankan emosi, membuat kegaduhan dan keresahan publik, jadi itu (komunikasi politik) tidak tepat di level demokrasi,” kata Firman Nur di Jalan Saharjo, Jakarta Selatan, Minggu (15/3/2015).

Ahok, kata Firman, lebih menekankan pada komunikasi yang dapat dengan mudah dipahami masyarakat. Sayangnya, komunikasi itu cenderung vulgar dan tidak mengindahkan dari segi bahasa.

“Spiritnya yang mau merobohkan politik santun tapi oligarki kemudian sekarang bisa berkata apapun. Itu membuat kontraprodukrif terhadap demokrasi itu sendiri,” kata Firman.

Sementara itu, Firman menilai gaya komunikasi Lulung terkesan mencari kegaduhan politik sehingga terlihat konfrontatif. “Attitude dia kan terlihat konfrotatif. Kalau dilihat bahasanya ya menunjukkan level komunikasinya segitu,” tegas Firman.

Komunikasi politik ‘antisantun’, kata Firman, sebenarnya menekankan pada pembuatan langkah-langkah politik baru yang tidak terpenjara atau terkesan santun, namun sebenarnya oligarki.

“Ini yang terjadi di masa masa sebelumnya yang kemudian jadi tren dan orang orang mengenal sebagai politik transaksional. Itu yang kemudian menjadikan politik artifisial,” jelas Firman.[]

AHOK: BAGI SAYA, KOMUNIKASI YANG SANTUN ITU TIDAK CURI UANG RAKYAT

AHOK: BAGI SAYA, KOMUNIKASI YANG SANTUN ITU TIDAK CURI UANG RAKYAT
Sabtu, 28 Februari 2015 | 16:21 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku tidak memiliki permasalahan mengenai gaya komunikasinya dengan anggota DPRD DKI Jakarta. Bahkan, lanjut dia, berulang kali pimpinan maupun anggota DPRD DKI bertemu dengannya di ruang kerja Gubernur, di Balai Kota.“Masalahnya cuma satu, saya dianggap tidak bisa mengakomodasi Rp 12,1 triliun. Nah, sekarang pertanyaan saya, apakah saya harus komunikatif untuk memasukkan usulan itu,” kata Basuki, di Rumah Tahanan (Rutan) Pondok Bambu, Jakarta Timur, Sabtu (28/2/2015).Meski permasalahan APBD ini tak kunjung usai, ia tetap meyakini program unggulan Ibu Kota tidak berantakan. Ia lebih memilih untuk menjalani angket dengan risiko dipecat dari Gubernur dan APBD belum cair daripada memasukkan usulan siluman tersebut.

Anggaran yang diajukan DPRD DKI ini merupakan hasil potongan program unggulan sebesar 10-15 persen dan dialihkan untuk pembiayaan bukan prioritas, seperti pembelian perangkat uninterruptible power supply (UPS) dengan harga Rp 6 miliar tiap unitnya.

Adapun total usulan siluman itu mencapai Rp 12,1 triliun. “Saya bilang kasihan orang DKI Rp 12 triliun dibelanjakan sesuatu tidak masuk akal. Rp 12 triliun itu kalau bangun rusun bisa dapat 60.000 unit lho dan kalau kami mau bikin lembaga pemasyarakatan (lapas) yang mampu menampung 9.000 penghuni di Ciangir, itu pembangunannya hanya butuh Rp 500 miliar,” kata Basuki.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Ahok itu pun lebih memilih disebut sebagai gubernur yang tidak memiliki etiket, tetapi menyelamatkan uang rakyat.

Semua anggota Dewan, lanjut dia, tidak akan menudingnya macam-macam jika berhasil meloloskan usulan siluman tersebut ke dalam APBD 2015.

“Ahok akan dibilang bisa menyatukan ideologi seluruh partai politik di Jakarta tahu enggak, kalau saya masukin Rp 12,1 triliun (ke dalam APBD). Bagi saya, komunikasi yang santun itu tidak curi uang rakyat, bukan (bersikap) baik-baik. Kalau (bersikap) baik-baik sama semua orang tetapi mencuri bersama, mendingan saya dicap tidak sopan,” kata dia.[]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 62 other followers