Archive for the ‘Uncategorized’ Category

KARIKATUR SINAR HARAPAN

Sinar Harapan Online

Karikatur

Motor Show

26 Agustus 2015

Gusur

24 Agustus 2015

MafiaHarga

21 Agustus 2015

kesempatan Politik

18 Agustus 2015

Kari 180815

14 Agustus 2015

07 Agustus 2015

03 Agustus 2015

Pilkada2015

24 Juli 2015

Karikatur

23 Juli 2015

Karikatur

22 Juli 2015

Karikatur

21 Juli 2015

KARTUN OPINI

15 Juli 2015

Rupiah

14 Juli 2015

Ilustrasi THR

10 Juli 2015

Alutsista

02 Juli 2015

Narkoba

02 Juli 2015
Mudik

30 Juni 2015

Lebaran Sale

JURUS NGEPRET RIZAL RAMLI

Rizal: Pak Jokowi suka saya karena saya petarung |

Permalink gambar yang terpasang

MARCO: JADILAH MANUSIA NDULU KALIAN ITU …

“SAKITNYA JK TEGURAN DARI TUHAN”

Kesel (ASTAGFIRULLAH INGAT UMUR PAK!!)Kesatria NU: Sakitnya JUSUF KALLA Teguran dari Tuhan

Kesatria NU: Sakitnya JK Teguran dari Tuhan

Quote:
INILAHCOM, Jakarta – Usai mengikuti debat pada Minggu (29/6/2014) malam, cawapres nomor 2 Jusuf Kalla (JK) sakit.

Menurut Ketua Kiai Santri Nusantara (Kesatria NU) Marwan Zainuddin, sakitnya JK usai mengikuti debat adalah teguran dari Tuhan.

“Soeharto saja meletakkan jabatannya pada usia 70 tahun. Ini JK sudah 72 tahun tetapi masih tergiur kekuasaan. Saya kira sakitnya JK usai debat kemarin merupakan teguran,” ungkap Marwan kepada INILAHCOM di Jakarta, Senin (30/6/2014).

Sejatinya, lanjut Marwan, keputusan JK mendampingi Jokowi maju dalam pilpres 9 Juli nanti, bertolak belakang dengan janji JK saat kampanye pilpres 2009. Kala itu, Daeng Ucu, sebutan JK, bertekad tidak akan mencalonkan diri apabila gagal di Pilpres 2009.

‘’JK bilang akan ngurus masjid di kampung, sekalian momong cucu. Kenyataannya, pilpres 2014 masih kebelet juga,’’ tuturnya.

Seperti dikabarkan, usai menjadi peserta debat cawapres, JK dilarikan ke RS Abdi Waluyo pada Minggu malam (29/6/2014). Pengusaha papan atas itu baru keluar rumah sakit pada Senin siang.

‘’Sebaiknya JK fokus ngurus masjid dan kegiatan sosial seperti PMI. Itu lebih barokah dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia,’’ ungkap Marwan. [rok]

sumber: [URL=”http://nasional.inilah..com/read/detail/2115165/kesatria-nu-sakitnya-jk-teguran-dari-tuhan#.U7JCe2NfOE8″]http://nasional.inilah..com/read/detail/2115165/kesatria-nu-sakitnya-jk-teguran-dari-tuhan#.U7JCe2NfOE8[/URL]

Mungkin ini peringatan dari Tuhan karna Pak JK tidak menepati janjinya jika kalah pilpres 2009 JK bilang akan ngurus masjid di kampung, sekalian momong cucu. Kenyataannya, pilpres 2014 masih kebelet juga

70 TAHUN KEMENANGAN PERANG ANTI JEPANG

The 70th annv. of the victory of war of resistance against Japanese aggression

Commemorating 70th anniversary of Victory of Anti-Japanese War

(People’s Daily Online)    10:25, July 08, 2015

Thisyearisthe 70th anniversaryofthevictoryoftheWarofChinesePeople’sResistanceagainstJapaneseAggressionandtheWorldAnti-FascistWar.

78 years ago, the Japanese militaristic government launched the “July 7th Incident,” and began a full-scale invasion of China. On the same day, the Chinese army and citizens fought back. China fought eight years of resistance against Japanese aggression and finally achieved a great victory.

Ontheoccasionofthe 70th anniversaryofthevictory, wecommemoratetheheroicandindomitableChinesepeople, fightingbloodybattlesandmakingtremendoussacrifices, defeatingferociousJapaneseinvadersandsafeguardingChina’sindependenceandnationalpride.

Aswecommemoratethevictoryofthewar, werememberthehistory.

Japanlaunchedafull-scaleinvasionofChinainthe 1930s-1940s. UndertheleadershipoftheCommunistPartyofChina, thewholenationmadeconcertedefforts, sharedbitterhatredagainsttheenemy, andjointlyresistedforeignaggression.

Aswecommemoratethevictoryofthewar, wedrawlessonsfromit.

ItisaninevitablecontinuationofthevictorythatChinapoolsthewisdomandstrengthofthepeopleofthewholecountrytoshakeoffpovertyandconcentrateontheconstructionanddevelopmentofapowerfulnation.

Aswecommemoratethevictoryofthewar, wesumuptheexperience.

Chinaputnationalsecurityfirmlyinthehandsofitsowncitizens, ratherthanentrustingtothecareofothermajorcountries. Chinaachievedagreatvictoryintheworldanti-fascistwar, butstillneedahighdegreeofvigilancetowardshistoricalrevisionists, wholingerrampantlyinsomepartsoftheworld.

Aswecommemoratethevictoryofthewar, wealwaysmaintainpeace.

ThePacificbattleofWorldWarIIbeganinChina, andfinallyendedinChina. TheWarofChinesePeople’sResistanceagainstJapaneseAggressionisanaccomplishedpartoftheworldanti-fascistwar. IntermsofbuildingavarietyofregionalsecuritymechanismsandactivelyparticipatinginUnitedNationspeacekeepingoperations, Chinahasmorepersonnelandstaysactiveontheinternationalstage.

The article is edited and translated from the Chinese version of 《抗战胜利七十周年,我们纪念什么》. written by Shen Dingli,who is a professor and Vice Dean at the Institute of International Studies, Fudan University. 

(For the latest China news, Please follow People’s Daily on Twitter and Facebook)

CHINESE SOLDIERS

Chinese soldiers conduct training at night for V-Day parade

By Zhang Yuan (People’s Daily Online)    10:12, August 24, 2015

Chinese soldiers conduct training at night for V-Day parade

Chinese soldiers conduct training at night for V-Day parade

Chinese soldiers conduct training at night for V-Day parade

Chinese soldiers conduct training at night for V-Day parade

Photo shows soldiers conducting training at night for the Sept. 3 military parade at a training base. Chinese soldiers and officers have been training hard for the upcoming high-profile parade in commemoration of the 70th anniversary of the victory of the Chinese People’s War of Resistance against Japanese Aggression for three months. (Photo/81.cn)

KEMAMPUAN BAYAR UTANG RI RENDAH

Sinar Harapan Online

Kemampuan Bayar Utang RI Rendah

Rasio utang terhadap PDB juga meningkat dibandingkan kuartal I 2015.

Ist / Foto

Ilustrasi

JAKARTA – Kemampuan bayar utang luar negeri Indonesia masih dalam level rendah. Hal ini tercermin dari masih tingginya rasio utang dibanding pendapatan dari sisi ekspor atau debt service ratio (DSR) yang tinggi.
Bank Indonesia (BI), Rabu (19/8), melansir posisi utang luar negeri (ULN) sampai akhir kuartal II tercatat US$ 304,3 miliar. Jumlah tersebut terdiri atas ULN sektor publik (pemerintah) senilai US$ 134,6 miliar (44 persen dari total ULN) dan ULN sektor swasta US$ 169,7 miliar (55,8 persen dari total ULN).
Dengan perkembangan tersebut, DSR hanya sedikit membaik, dari 56,94 persen pada kuartal I menjadi 56,34 persen pada kuartal II. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat mencapai 34,42 persen, meningkat dari kuartal I sebesar 33,58 persen.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikatif BI, Tirta Segara mengakui, DSR sekitar 56,3 persen tergolong tinggi. Level tersebut masih dinilai konservatif, karenanya perlu segera didukung oleh kinerja ekspor. “(DSR) Cukup tinggi karena lebih tinggi dari rasio normal. Menurut lembaga internasional sekitar 30-33 persen,” ujar Tirta di Jakarta, Rabu.
DSR kerap menjadi indikator kemampuan sebuah negara membayar utang. Semakin besar DSR, kemampuan negara itu membayar utang semakin lemah. Konsensus dunia menyebutkan, DSR aman di posisi 30 persen.
Ia memprediksi, tren peningkatan rasio terhadap ekspor dan DSR ini masih berlanjut dalam jangka pendek. Ini karena ekspor meski dalam volume terjadi perbaikan, namun dari sisi harga masih menurun.
Tahun ini dipekirakan harga komoditas turun 11 persen, dalam kenyataannya justru turun hingga 14 persen. Menurutnya BI akan mengamati hingga kapan penurunan harga komoditas yang berdampak ke ekspor ini terus terjadi.
Rasio utang terhadap PDB juga meningkat dibandingkan kuartal I. Itu karena pertumbuhan ekonomi kuartal II lebih rendah dibandingkan kuartal I. Padahal, jika melihat peningakatan utang tidak terlalu tinggi.
Tirta menambahkan, utang luar negeri swasta pada Juni sudah mulai melandai karena mereka mempertimbangkan pelemahan nilai tukar dan perlambatan ekonomi. Secara umum, ULN sektor swasta tercatat melambat dari kuartal sebelumnya 13,4 persen, menjadi 9,7 persen (yoy). “Pertumbuhan melambat sehingga mereka (pelaku usaha) berpikir ulang untuk menarik utang,” tuturnya.
Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede menilai, peningakatan rasio utang luar negeri terjadi memang karena perlambatan ekonomi. “Selain itu, pelemahan nilai tukar membuat nilai utang meningkat,” ucapnya.
Ke depan, tren rasio utang sangat tergantung belanja pemerintah dan pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan membaik, rasio akan membaik. Begitu juga sebaliknya. Josua menginggatkan agar utang luar negeri, khususnya swasta, untuk diawasi lebih hati-hati. Ini karena trennya terus meningkat dan dikhawatirkan bisa mengulang kejadian 1998.
Menko Kemaritiman, Rizal Ramli, yakin Indonesia sebenarnya bisa membangun tanpa harus menggunakan dana dari utang luar negeri. Menurutnya, negara ini bisa bebas membangun tanpa utang. Dengan kebijakan terobosan yang cepat dan tepat, perekonomian Indonesia bisa tumbuh dan rakyat langsung merasakan manfaatnya.
Rizal mengatakan, tingginya utang luar negeri akan menekan neraca pembayaran. Ujung-ujungnya, nilai tukar rupiah semakin melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia, khususnya dolar AS.
Ia menekankan, Indonesia membutuhkan pejabat publik yang punya kemampuan memahami masalah dan berani mengambil tindakan yang out of the box. “Satu lagi, pejabat harus tidak punya konflik kepentingan,” tuturnya.

Sumber : Sinar Harapan

GUNUNG NASI

Gunung Nasi

– See more at: http://www.thejakartapost.com/news/2015/08/19/gunung-nasi.html#sthash.zvn888Xn.dpuf

Gunung Nasi:

Guinness World Records adjudicator Lorenzo Veltri (left) inspects a giant tumpeng (Indonesian cone-shaped rice served with various side dishes) prepared by the organizers of the Indonesian pavilion at Expo Milano 2015 on Monday to celebrate the 70th anniversary of Indonesian independence. In a reception held later in the evening, Guinness and the Indonesian Museum of Records (MURI) judges officially named the 2.28 meter high tumpeng as the world’s and Indonesia’s tallest tumpeng, respectively. (JP/Hasyim Widhiarto) – See more at: http://www.thejakartapost.com/news/2015/08/19/gunung-nasi.html#sthash.zvn888Xn.dpuf

HARAPAN SUKU BADUI PADA JOKOWI

5 WIB

Harapan Suku Badui Dalam ke Presiden Jokowi di Hari Kemerdekaan

Bagus Prihantoro Nugroho – detikNews
Harapan Suku Badui Dalam ke Presiden Jokowi di Hari KemerdekaanFoto: Agung Pambudhy
Jakarta – Sejak kemerdekaan RI 70 tahun silam, hari ini adalah kali pertama Suku Badui Dalam menapakkan kaki di Istana Merdeka. Tentu saja ada harapan yang ingin mereka sampaikan kepada Presiden Jokowi.

“Kami tentu memohon yang terhormat bapak Presiden kita untuk memberikan kebijakan khusus untuk suku-suku adat,” kata salah seorang suku Badui Dalam bernama Mursyid di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2015).

Mursyid yang memiliki jabatan sebagai Wakil Jaro Tangkir Cibeok itu menganggap sebuah pengakuan akan menunjang kesejahteraan masyarakat adat. Pengakuam juga akan berpengaruh pada kelangsungan hidup dan hak-hak adat.

“Kami merasa hak-hak adat kami identitas utama adalah KTP, kami mohon agama kami Sunda Wiwitan dimasukan (di kolom KTP), kami Badui hidup sesuai musyawarah,” ungkap Mursyid didampingi empat kerabatnya.

Dia meminta agar harapannya ini disampaikan kepada Presiden Jokowi. Sehingga bisa menjadi pertimbangan dalam menentukan kebijakan.
(bpn/imk)

SISTEM BUDAYA DAERAH KITA DAN MODERNISASI

Sistem Budaya Daerah Kita dan Modernisasi

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid
Beberapa belas tahun lalu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan penelitian tentang 14 sistem budaya daerah di negeri kita. Sistem budaya daerah Aceh hingga Nusa Tenggata Timur (NTT) diteliti, termasuk sistem budaya Jawa I dan Jawa II. Yang dimaksudkan dengan sistem budaya Jawa I adalah sistem budaya Jawa yang ada di daerah-daerah pusat keraton, seperti Yogyakarta dan Solo. Sebaliknya, sistem budaya Jawa II adalah Jawa pinggiran, terutama di Jawa Timur.

Budaya pesantren, dalam hal ini, termasuk sistem budaya Jawa II. Hasil yang sangat menarik dari penelitian tersebut, yang dipimpin Dr. Mochtar Buchori, adalah pentingnya menerapkan sistem-sistem tersebut di saat sistem modern belum dapat diterapkan. Sistem budaya Ngada di Flores Timur, umpamanya, adalah substitusi bagi sistem hukum nasional kita di daerah itu, ketika belum berdiri lembaga pengadilan di sana. Kode etik Siri dalam masyarakat Bugis, yang berintikan pembelaan terhadap kehormatan diri, tidaklah lekang pada masa ini. Beberapa kejadian penggunaan badik untuk mempertahankan diri, di berbagai daerah di kalangan orang Bugis, jelas menunjukkan adanya penerapan nilai-nilai yang berlaku dalam sistem budaya daerah Bugis itu.
Penelitian menunjukkan, terdapat kemampuan hidup sistem budaya daerah kita di tengah-tengah arus modernisasi yang datang tanpa dapat dicegah. Karenanya, sikap yang tepat adalah bagaimana memanfaatkan sistem budaya daerah di suatu tempat dalam satu periode, dengan dua tujuan: menunggu mapannya masyarakat dalam menghadapi modernisasi, dan mengelola arus perubahan untuk tidak datang secara tiba-tiba. Dengan cara demikian, kita dapat mengurangi akibat-akibat modernisasi menjadi sekecil mungkin.
***

Clifford Geertz dari Universitas Princeton, menganggap kyai/ulama’ pesantren sebagai “makelar budaya” (cultural broker). Dia menyimpulkan demikian, karena melihat para kyai melakukan fungsi screening bagi budaya di luar masyarakatnya.
Nilainilai baru yang dianggap merugikan, disaring oleh mereka agar tidak menanggalkan budaya lama —kyai bagaikan dam/ waduk yang menyimpan air untuk menghidupi daerah sekitar. Namun pengaruh budaya luar yang datang ke suatu daerah, bagaikan permukaan air yang naik oleh adanya bendungan itu. Masyarakat dilindungi dari pengaruh-pengaruh negatif, dan dibiarkan mengambil pengaruh-pengaruh luar yang positif.
Hiroko Horikoshi dalam disertasinya2 berhasil membuktikan bahwa Kyai mengambil peranan sendiri untuk merumuskan gerak pembangunan di tempat mereka berada. Ini berarti, menurut Horikoshi reaksi pesantren terhadap modernisasi tidaklah sama dari satu ke lain tempat. Dengan demikian, tidak akan ada sebuah jawaban umum yang berlaku bagi semua pesantren terhadap tantangan proses modernisasi. Dengan kata lain, Horikoshi menolak pendapat Geertz di atas.
Menurut Horikoshi, masing-masing pesantren dan Kyai akan mencari jawaban-jawaban sendiri —dan, dengan demikian tidak ada jawaban umum yang berlaku bagi semua dalam hal ini. Pendapat Geertz di atas, dengan sendirinya, terbantahkan oleh temuan-temuan yang dilakukan Horikoshi terhadap reaksi Kyai Yusuf Thojiri dari Pesantren Cipari, Garut, atas tantangan modernisasi. Pesantren yang dipimpin oleh besan mendiang KH. Anwar Musaddad itu, tentu memberikan reaksi lain terhadap proses modernisasi. Pesantren yang sekarang dipimpin oleh Ustadzah Aminah Anwar Musaddad itu, sekarang justru tertarik pada upaya mendukung Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang bergerak di bidang garment dan pelestarian lingkungan alam melalui penghutanan kembali.
***

Jelaslah dengan demikian, bahwa bermacam cara dapat digunakan untuk mengenal berbagai reaksi terhadap proses modernisasi. Ada reaksi yang menggunakan warisan sistem budaya daerah, tapi ada pula yang merumuskan reaksi mereka dalam bentuk tradisi yang tidak tersistemkan. Ada pula reaksi yang bersifat temporer, tapi ada pula yang bersifat permanen. Ada yang berpola umum, tapi ada pula yang menggunakan caracara khusus dalam memberikan reaksi.
Kesemuannya itu dapat disimpulkan, keengganan menerima bulat-bulat apa yang dirumuskan “orang lain” untuk diri kita sendiri. Proses pribumisasi (nativisasi) berlangsung dalam bentuk bermacammacam, pada saat tingkat penalaran dan keterampilan berjalan, melalui berbagai sistem pendidikan. Dengan demikian, proses pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia berjalan dalam dua arah yang berbeda. Di satu pihak, kita menerima pengalihan teknologi dan keterampilan dari bangsa-bangsa lain, melalui sistem pendidikan formal—maka, lahirlah tenagatenaga profesional untuk mengelolanya. Di pihak lain, pendidikan informal kita justru menolak pendekatan menelan bulat-bulat apa yang datang dari luar.
Dengan demikian, tidaklah heran jika ada dua macam jalur komunikasi dalam kehidupan bangsa kita. Di satu sisi, kita menggunakan jalur komunikasi modern, yang bersandar pada sistem pendapat formal dan media massa. Media massa pun, yang dahulu sangat takut pada kekuasaan pemerintah, kini justru tunduk terhadap kekuasaan uang; dengan kemampuan yang belum berkembang menjadi proses yang efektif. Di sisi lain, digunakan jalur lain, yaitu komunikasi langsung dengan massa kongregasi jama’ah masjid/surau, gereja, pengajian-pengajian khalayak/majelis ta’lim, kelenteng/vihara, merupakan saluran wahana langsung tersebut. Apalagi, jika seseorang atau kelompok mampu menggunakan kedua jalur komunikasi itu, tentu akan menjadikan sistem politik kita sekarang dan di masa depan menjadi sangat transparan, akan menjadi lahan menarik untuk dapat dipelajari dan diamati dengan seksama. []
*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute).

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers