Archive for the ‘Sejarah’ Category

AKAR PEMBASMIAN KOMUNISME SAMPAI PENGGULINGAN BUNG KARNO (3)

AKAR PEMBASMIAN KOMUNISME

SAMPAI PENGGULINGAN BUNG KARNO (3)

Suar Suroso
in:”nasional-list@yahoogroups.com” <nasional-list@yahoogroups.com> , Wednesday, 28 March 2012, 5:22

 

Sikap Truman yang sangat tangguh anti komunisme dipaparkan lagi lebih jelas dalam pedato inauguralnya, 20 Januari 1949, saat mau menjabat Presiden Amerika Serikat, untuk masa jabatan kedua. Truman menyatakan: “Rakyat-rakyat di dunia menghadapi masa depan dengan ketidak-pastian yang gawat, yang terdiri dari menghadapi harapan besar yang sama juga dengan ketakutan besar. Dalam kebimbangan itu, melebihi dari masa lalu, mereka memandang Amerika Serikat dengan kemauan baik, harapan, kekuatan dan pimpinan yang bijaksana”….”Kita percaya, bahwa semua orang mempunyai hak untuk keadilan yang sama di depan hukum dan kesempatan yang sama untuk kebaikan. Kita percaya bahwa semua orang mempunyai hak kebebasan untuk berfikir dan menyatakan pendapat. Kita percaya bahwa manusia diciptakan sama, karena mereka adalah ciptaan Tuhan. Kita tidak akan bergeser dari keyakinan ini”.

 

Rakyat Amerika menginginkan, dan bertekad bulat bekerja untuk  satu dunia yang didalamnya semua bangsa dan semua rakyat adalah bebas untuk memerintah dirinya sendiri sesuai dengan keinginan sendiri, dan ingin mencapai penghidupan yang layak dan memuaskan. Di atas segala-galanya, rakyat kita menginginkan dan bertekad untuk berbuat demi perdamaian di dunia – satu perdamaian yang adil – berdasarkan persetujuan sejati yang dicapai dengan kesamaan.

 

Untuk mencapai tujuan ini, Amerika Serikat sebagaimana bangsa-bangsa lainnya menempatkan dirinya secara langsung bertentangan dengan rezim  yang mempunyai tujuan sebaliknya dan secara keseluruhan berbeda dalam gagasan hidup. Negara tersebut menganut filsafat palsu yang mengaku memberikan kebebasan, keamanan, dan kesempatan yang lebih besar bagi kemanusiaan. Disesatkan oleh filsafat ini, banyak rakyat sudah mengorbankan kebebasan mereka yang  hanya diimbali dengan kesedihan, kebohongan, kemiskinan dan tirani.

 

Filsafat palsu tersebut adalah komunisme.

Komunisme didasarkan pada kepercayaan bahwa manusia adalah lemah, tidak sempurna dan tidak mampu mengatur diri sendiri, oleh karena itu diperlukan pengaturan penguasa-penguasa yang kuat.

Komunisme membolehkan seseorang ditangkap ditahan tanpa hukuman yang memenuhi hukum, tanpa pengadilan, dan kerjapaksa dipakai sebagai alat kekuasaan negara. Negaralah yang menetapkan informasi apa yang bisa diterima, karya seni apa yang boleh dihasilkan, pemimpin mana yang harus diikuti, dan pandangan apa yang harus difikirkan.

Komunisme berpendapat bahwa dunia sudah terbagi demikian dalam menjadi klas-klas yang bertentangan hingga peperangan adalah tak dapat dihindarkan.

 

Saya memaparkan ini bukanlah hanya untuk sekedar mempercayainya, tetapi karena tindakan-tindakan akibat dari filsafat Komunis adalah satu ancaman terhadap usaha bangsa-bangsa merdeka untuk mewujudkan pemulihan dunia dan perdamaian yang abadi.” [ Harry S. Truman, Inaugural Address, Thursday, January 20, 1949]

 

Truman tidak ragu-ragu memalsu bahkan memfitnah tentang pengertian akan komunisme. Tanpa menggubris filsafat Marxis Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis yang ilmiah dan Ekonomi Politik Marxis yang bertujuan melenyapkan penindasan manusia oleh manusia, melenyapkan l’exploitation de l’homme par l’homme, Truman menuduh filsafah Marxis itu menyesatkan. Yang menyesatkan bukanlah filsafat komunisme, tapi pemahaman Truman tentang komunisme The policy of containment – Doktrin Truman – dimaksudkan bukan hanya untuk membendung tapi malah untuk membasmi komunisme sejagat. Di mana saja muncul komunisme haruslah dibasmi. Inilah akar Perang Dingin. Itulah yang terjadi, melanda dunia, termasuk Indonesia.

 

Pandangan anti-komunisme bukan hanya dikumandangkan Truman. John Foster Dulles juga tampil sebagai tokoh anti komunis yang tangguh. Semua Presiden Amerika menyusul Truman: Dwight Eisenhower, Richard Nixon , J.F.Kennedy, Lindon B.Johnson, Ronald Reagan, dan seterusnya adalah anti-komunis. Disamping itu terdapat Joseph McCarthy, Allen W.Dulles, Barry Goldwater, James Burnham, …..tokoh-tokoh tangguh anti komunisme.

 

Dalam tahun 1956 di Hongaria terjadi perobahan politik yang dianut pimpinan Partai Komunis Hongaria Imre Nagy. Imre Nagy ingin membebaskan diri dari ikatan Pakta Warsawa. Berbeda dengan Eisenhower, Barry Goldwater berpendapat menghadapi peristiwa Hongaria itu, Amerika seharusnya terjun mengintervensi, kalau perlu siap dengan menggunakan senjata nuklir…Dia mengkritik Eisenhower, karena ingin dan bersedia bertemu dan berunding dengan Khrusycyov. Dia menentang pemilikan umum atas alat-alat produksi, karena itu dianggapnya adalah sistim sosialis. Pembantu Goldwater, melukiskian Goldwater dalam buku-bukunya sebagai konservatif yang sadar, Goldwater dinilai sebagai pembawa panji politik anti-komunis yang tak kenal kompromi. Dia menganggap, kaum komunis mempunyai kemauan dan kemampuan untuk menguasai setiap jengkal bumi raya. Menurut dia “ancaman komunis tumbuh setiap hari” dia menuduh sementara pimpinan Amerika “secara sia-sia mencari cara untuk berbaik-baik dengan Uni Sovyet dengan mengorbankan nilai kebanggaan nasional”. Goldwater mengumumkan, bahwa Amerika sedang berperang melawan “musuh yang tak pernah menyembunyikan tujuannya untuk menghancurkan kita dan semua rakyat yang cinta damai”. Dinyatakannya, bahwa “kemenangan adalan kunci untuk semua problim”, dan “pilihan lainnya adalah kekalahan”. Ditambahkannya lagi: “strategi kita haruslah pertama-tama berwatak ofensif” “Kita harus menyatakan, bahwa gerakan komunis dunia adalah diluar hukum dalam masyarakat bangsa-bangsa berbudaya. Oleh karena itu, kita harus mencabut pengakuan diplomatik terhadap semua negara komunis, termasuk Uni Sovyet. Dan ditulisnya: “Kita harus, — kita sendiri – siap melancarkan operasi militer melawan rezim komunis yang mudah diserang”  [MACROHISTORY AND WORLD REPORT].

 

Menurut buku Francis P. Sempa The Firfst Cold-Warrior, John Foster Dulles dan George Kennan mempercayai strategi James Burnham (1905-1987) pada awal Perang Dingin. James Burnham adalah salah seorang tokoh anti-komunis yang tangguh, yang semula pengikut aliran           Trotskis Amerika. James Burnham banyak menulis buku dan artikel anti komunis yang analitis dan bersifat teori. Tulisan-tulisannya diikuti oleh Dulles dan Kennan. Sesudah diperkenalkan the policy of containment – Doktrin Truman — , sebelum dan sesudah masa kekuasaan Eisenhower, Dulles menampilkan politik rollback terhadap kekuasaan Sovyet. Kennan secara rahasia mengusulkan kepada Pemerintah Truman suatu program ambisius untuk melangsungkan perang politik terorganisasi melawan Uni Sovyet, termasuk melakukan operasi-operasi sabotase, subversif, propaganda, dan membantu kekuatan perlawanan di seluruh negeri yang dikuasai Uni Sovyet. Dulles meninggalkan operasi rollback sesudah kebangkitan pemberontakan di Jerman Timur, Polandia dan Hoingaria tidak mendapat sambutan dari Amerika. Tapi Kennan dan Dulles mengenal baik tulisan-tulisan James Burnham. Para anti-komunis yang liberal seperti Arthur Schlesinger menerima analisa Burham mengenai adanya ancaman Sovyet, tapi tidak menerima seruannya untuk menjalankan politik ofensif. Bagi para anti-komunis yang konservatif, karya-karya James Burnham  trilogi Perang Dingin dinilai sangat tinggi. Seperti George Nash menunjukkan bahwa “Burnham adalah satu-satunya yang mensuplai gerakan intelektual konservatif dengan rumusan-rumusan teoretis untuk mencapai kemenangan dalam Perang Dingin”.

 

Tulisan-tulisan Burnham yang sangat anti-komunis mendapat kritikan dari berbagai kalangan. Misalnya Charles Clayton Morrison menilai The Struggle for the World adalah suatu “blueprint untuk penghancuran”. Harry Elmerf Barnes menyebutnya, satu “buku anti-Amerika yang paling berbahaya”. George Orwell menuding Burnham seorang yang memuja kekuasaan. Karyanya The Coming Defeat of Communism mendapat tentangan dari James Reston, David Spitz, R.H.S. Crossman dan Louis Fisher. Burnham mengutamakan perhatiannya pada perkembangan komunisme di Amerika. Dia adalah penganut “McCarthyism”. Dia menyerukan untuk pelarangan Partai Komunis di Amerika. Disamping menulis buku-buku dan artikel mengenai Perang Dingin, Burnham memberi kuliah pada National War College, the Naval War College, the School for Advanced International Studies, dan the Air War College. Dia adalah konsultan pada lembaga CIA dan mempunyai peranan dalam merencanakan penggulingan Mohammad Mossadegh yang sukses serta memulihkan kekuasaan Shah di Iran pada awal tahun 1950an. Burnham mempunyai kemampuan menunjukkan perkembangan situasi dunia dari segi pandangan komunis Sovyet. Di sini, dia bisa memanfaatkan masa lampaunya sebagai seorang penganut aliran Trotskis.  Burnham adalah salah satu contoh bagaimana seorang ex-komunis mengajukan pandangan anti-komunis yang paling intelijen dan realistik.

 

Yang paling penting adalah pandangan strategis Burnham untuk memenangkan Perang Dingin. Inti dari strategi itu adalah melancarkan perang politik, psikhologi, dan ekonomi terhadap Uni Sovyet dengan tujuan memperlemah bahkan memecah pengawasannya atas Eropa Timur dan Tengah. Unsur-unsur pokoknya adalah sebagai berikut:

1.      Ofensif ideologi dan propaganda melawan kekuasaan Sovyet.

2.      Membantu para pembangkang dan grup-grup perlawanan di dalam daerah kekuasaan Sovyet.

3.      Menggunakan kekuatan ekonomi dan tekhnologi untuk menimbulkan ketegangan dalam ekonomi Sovyet yang lemah.

4.      Menggunakan perang psikho-politik untuk mendorong ketakutan dan perpecahan diantara para tokoh-tokoh pimpinan Sovyet.

5.      Menggunakan perdagangan dan senjata-senjata ekonomi lainnya untuk memperlemah perekonomian Sovyet dan

6.      Memaksa Sovyet untuk terjerumus ke dalam defensif geopolitik.

 

Ofensif Pemerintah Reagan di tahun 80an adalah sehaluan persis dengan strategi Burnham, yaitu melancarkan ofensif ideologi dan propaganda yang seru melawan Sovyet, menyatakan pemimpin-pemimpin Sovyet pembohong dan penipu, meramalkan kehancuran Sovyet dalam waktu dekat,.dan menantang pemimpin Sovyet untuk merobohkan Tembok Berlin. Reagan memberikan bantuan dan mendorong gerakan Solidaritas Polandia dan pemberontak Afganistan. Reagan membangun kekuatan militer Amerika Serikat, sedia menggunakan peluru kendali berkepala nuklir di Eropa dan mengumumkan plan Strategic Defense Initiative (SDI), jadi memberikan tekanan tambahan pada ekonomi Sovyet yang sudah keropos. Dengan demikian berusaha meyakinkan Sovyet, bahwa mereka tak akan menang dalam perlombaan senjata dengan Amerika Serikat.

 

John Foster Dulles yang menjabat sebagai Menteri Luarnegeri dalam Pemerintahan Eisenhower menganggap the policy of containment itu adalah defensif. Dia berpendapat, menghadapi perkembangan komunisme haruslah aktif dan ofensif. Tidak hanya dibendung, tapi harus dibasmi. Dia tampil dengan gagasan rollback.

 

 

(Bersambung)

 

G30S dan Kacamata Romo Magnis Suseno

G30S dan Kacamata Romo Magnis Suseno

(Harsutejo)

in: wahana-news@yahoogroups.com ; sadar@netvigator.com, 2012年3月25日 20:02

 

Di Kompas hari Sabtu 24 Maret 2012 Romo Magnis menulis tentang rasa terkejutnya terhadap apa yang katanya Presiden SBY “mau mengajukan permintaan maaf kepada segala korban pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Tanah Air sejak Indonesia merdeka”. Tentu saja “mau mengajukan” berbeda sekali dengan “mengajukan”. Kalau pun misalnya “mengajukan”, sesuatu yang didukung Romo Magnis, utamanya terhadap para korban peristiwa anti-kemanusiaan tragedi 1965,tidak  banyak perubahan yang akan terjadi. Tentu saja para penuntut keadilan akan mendapatkan tambahan landasan untuk melanjutkan tuntutannya. Tetapi para korban tidak boleh dibuat mimpi dan berilusi akan mendapatkan segala hak yang dituntutnya tanpa diskriminasi.

 

Jika sang rezim benar-benar meminta maaf kepada para korban (1965), itu berarti mereka harus melepaskan sejumlah hak yang telah digenggamnya dengan kekerasan selama ini untuk mengangkangi hak-hak kaum buruh dan tani serta jutaan rakyat kecil. Apa itu mungkin tanpa perjuangan sengit? Hanya melalui “permintaan maaf” seorang Presiden SBY? Pendeknya tidak akan ada perubahan signifikan!

 

Dengan penghargaan terhadap Romo Magnis dengan sikapnya yang mendukung permintaan maaf itu, lalu menambahkan bahwa kita ikut bersalah jika tidak menyebut jahat apa yang memang jahat dan tidak menyebut korban sebagai korban 1965. Dalam tulisannya Romo Magnis tak lupa memberikan bumbu-bumbu, seperti peristiwa Madiun 1948 “PKI membunuh 4.000 orang non-kombatan” tanpa menyebut pembunuhan 10.000 orang PKI atau yang disebut PKI. Kemudian juga disebutnya “Akhir Oktober 1965 saya membaca di koran bahwa di Banyuwangi ditemukan sumur berisi 80 mayat santri”. Betapa Romo kita ini perlu belajar lagi apa sesungguhnya isi koran rezim militer di masa itu yang sebagian besar berisi dongeng horor yang telah digodok rumah intelijen. Tiap pelajar yang belajar sejarah 1965 dengan cermat tentu tahu benar akan dongeng horor Lubang Buaya, fitnah keji jorok mengerikan terhadap gerakan perempuan Gerwani. Apa Romo Magnis juga percaya akan berita koran (utamanya dua koran AD: Berita Yuddha dan Angkatan Bersendjata), kaum Gerwani telah memotong-motong kemaluan para jenderal di Lubang Buaya dalam pesta pora sadis, bahkan mengulum potongan kemaluan itu? (maaf pembaca, lihat buku jorok Soegiarso Soeroso yang tersohor itu, salah satu pendiri koran AB). Dewasa ini telah diidentifikasi puluhan atau ratusan lubang kubur massal pembantaian terhadap orang PKI dan simpatisannya, utamanya di Jateng, Jatim dan Bali yang terjadi pada 1965/1966, termasuk yang digelandang dari berbagai rumah tahanan dan penjara sebagai penulis saksikan sendiri pada 1965 dari penjara Lowokwaru, Malang.

 

Romo Magnis juga menyebut sindiran John Roosa yang menyebut pembunuhan massal 1965 policy terencana Suharto sebagai naif. Dalam salah satu wawancara Jenderal Suharto dengan wartawan asing tentang pembunuhan terhadap para tahanan politik menyatakan dengan enteng, “Siapa yang mau kasih makan mereka?” Apa kalau bukan kebijakan Suharto dan rezimnya untuk membunuh mereka sebanyak-banyaknya, terutama para kader dan pimpinannya. Hal ini dilengkapi dengan kata-kata Jenderal Nasution yang ketika itu menjadi sekutunya: “Basmi sampai ke akar-akarnya”. Belakangan hasil penelitian sejumlah sejarawan muda dan peminat sejarah menunjukkan hari-hari sampai tiga minggu pertama bulan Oktober 1965, boleh dikata tak ada kekerasan berarti di seluruh pelosok Jateng. Tentunya Romo Magnis cukup mengenal hasil-hasil penelitian itu.

Selanjutnya Romo Magnis mencoba mereduksi dosa-dosa Suharto dengan mengatakan “Hal yang sepenuhnya jadi tanggung jawab Soeharto adalah kebijakan resmi negara sesudah 11 Maret 1966….” Artinya pembantaian massal sampai dengan 10 Maret 1966, termasuk penangkapan dan pemburuan kejam, pemerkosaan, penganiayaan, pembakaran rumah-rumah korban, perampasan harta milik dsb bukanlah tanggungjawab Suharto. Jadi tanggungjawab Presiden Sukarno, atau tanggungjawab PKI? Padahal sudah sejak 1 Oktober 1965, Jenderal Suharto sudah menentang dan menantang kebijakan Presiden Sukarno, artinya sudah mulai merebut kekuasaan dari Presiden Sukarno.

Betapa kacamata Romo Magnis perlu diasah kembali agar lebih peka. Tetapi jika hal itu sudah menjadi bagian dari pandangan politiknya yang anti-komunis deles, ya sudah, itulah Romo Magnis.

 

Jakapermai, 25 Maret 2012.

DUA MUKA JAN PIETIERSZOON COEN


DUA MUKA JAN PIETIERSZOON COEN

Gagasan Nusantara

Jangan membuat kepalamu menjadi perpustakaan. Sebarluaskanlah semua pengetahuanmu.

Saturday, March 17, 2012


Oleh Batara R. Hutagalung
Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB)

Selama lebih dari seratus tahun, sejak tahun 1893, Jan Pieterszoon Coen, mantan Gubernur Jenderal Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC)  “berdiri” dengan megah dan tenang di kota kelahirannya, Hoorn, di Belanda bagian utara. Namun sejak enam bulan belakangan, terutama dua minggu terakhir ini, “ketenangannya” sangat terusik.

Terusiknya ketenangan tersebut diawali dengan robohnya secara misterius patung JP Coen nan megah tersebut dari beton penyangganya pada 16 Agustus 2011, sehari sebelum bangsa Indonesia memperingati proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2011. Dan kurang dari satu bulan sebelum putusan pengadilan sipil di Den Haag, pada 14 September 2011, yang memenangkan gugatan 9 janda dan satu korban selamat peristiwa pembantaian penduduk sipil di Rawagede, terhadap pemerintah Belanda. Pengadilan sipil di Belanda menyatakan pemerintah Belanda bersalah dan bertanggungjawab atas pembantaian 431 penduduk desa Rawagede pada 9 Desember 1947, serta menghukum pemerintah Belanda untuk meminta maaf kepada keluarga korban pembantaian, dan memberi kompensasi kepada para penggugat. (Mengenai putusan pengadilan sipil di Den Haag ini, lihat: http://batarahutagalung.blogspot.com/2011/12/rawagede-putusan-pengadilan-belanda-14.html)

(Lihat juga: Rawagede. Akhirnya Pemerintah Belanda Meminta Maaf


Jan Pieterszoon Coen, nama ini menyimbolkan dua zaman berbeda, untuk kurun waktu yang bersamaan.

Hingga beberapa waktu yang lalu, untuk sebagian besar warga Belanda, JP Coen menyimbolkan awal dari zaman keemasan –de gouden eeuw– bagi Belanda. Ketika menjadi Gubernur Jenderal VOC (masa jabatan pertama 1619 – 1623, masa jabatan kedua 1627 – 1629), pada 30 Mei 1619 dia menyerang kota Jayakarta. Setelah menghancurkan dan membumihanguskan kota tersebut, dia mengganti nama kota tersebut menjadi Batavia, sesuai kehendak de Heeren Seventien, atau 17 orang penguasa kongsi dagang VOC di Belanda, yang waktu itu disebut sebagai Staaten Generaal. Dia menjalankan dengan keras dan kejam system perdagangan dengan kekuatan militer. VOC, suatu kongsi dagang yang mendapat hak (Oktrooi – piagam) dari Staaten Generaal di Belanda untuk memiliki pasukan sendiri, mencetak mata uang dan menyatakan perang terhadap suatu Negara. Dengan demikian VOC memiliki status seperti layaknya suatu Negara. Di zaman penjajahan Belanda, VOC dikenal sebagai “kumpeni.” (Lihat tulisan mengenai VOC di:

Namun untuk penduduk di bumi Nusantara, nama Jan Pieterszoon Coen identik dengan kekejaman dan awal dari sejarah panjang penjajahan Belanda di bumi Nusantara, yang di beberapa daerah, terutama Batavia dan Maluku, berlangsung lebih dari 300 tahun…sampai tanggal 9 Maret 1942, yaitu tanggal menyerahnya pemerintah India-Belanda kepada Jepang. (Lihat: 9 Maret 2012, 70 tahun berakhirnya Penjajahan Belanda di Bumi Nusantara. http://batarahutagalung.blogspot.com/2012/03/9-maret-2012-70-tahun-berakhir.html)

Pada waktu itu, Belanda belum menjadi penguasa tunggal di Asia Tenggara. Pesaing kuatnya adalah Inggris, Spanyol dan Portugal. Namun dengan kekuatan militernya, perlahan-lahan Belanda berhasil mengalahkan para pesaingnya di wilayah, yang kemudian dinamakan sebagai Netherlands Indië (India Belanda).
System “perdagangan” yang dilakukan VOC a.l.:
Apabila ada raja atau sultan yang menolak untuk berdagang dengan syarat yang ditentukan oleh VOC, maka raja atau sultan tersebut ditangkap dan dibuang ke daerah lain atau ke negara lain. Kemudian VOC mengangkat raja atau sultan yang mau berdagang dengan syarat yang ditentukan oleh VOC.

Kepulauan Banda, penghasil tunggal pala, pada waktu itu masih berdagang dengan Inggris, dan hal ini sangat tidak disenangi oleh Coen. Pada bulan Mei 1621 JP Coen mengerahkan armada dan kekuatan militernya yang terbesar untuk menyerang Banda. Ribuan penduduk Banda dibunuh, dan sisanya sebanyak 883 orang dibawa ke Batavia untuk dijual sebagai budak. JP Coen bukan hanya mengawali penjajahan di bumi Nusantara, melainkan juga mengawali perdagangan budak, yang secara resmi berlangsung hingga tahun 1863, namun pada kenyataannya, praktek-praktek perbudakan di beberapa daerah di Nusantara masih berlangsung hingga akhir abad 19.

Boleh dikatakan Coen “mengganti total” penduduk Banda dengan pendatang dan budak dari daerah lain untuk mengerjakan perkebunan dan perdagangan pala. Seorang kenalan saya yang berasal dari Maluku, setelah mendengar penjelasan dari saya mengatakan, bahwa selama ini dia heran, mengapa penduduk Banda kelihatan lebih putih, tidak seperti penduduk di sekitar Banda. Kini dia mengetahui, mengapa penduduk Banda sangat berbeda dengan penduduk pada umumnya di Maluku.

Di puncak masa perdagangan budak pada pertengahan abad 18, populasi budak di beberapa kota seperti Batavia dan Makassar mencapai lebih dari 50 (!) % dari seluruh jumlah penduduk..

Akhir tahun 1799 VOC yang hancur karena korupsi –pelesetan VOC menjadi Vergaan Onder Corruptie– dibubarkan, seluruh wilayah yang dikuasai oleh VOC kini diambilalih oleh pemerintah Be;landa, yang membentuk Netherlands Indië (India Belanda), yang juga diperintah oleh seorang Gubernur Jenderal. Gubernur Jenderal VOC yang terakhir juga merupakan Gubernur Jernderal India Belanda pertama. (Mengenai VOC lihat:

Setelah JC Coen tahun 1629 mati karena penyakit, kelihatannya para Gubernur Jenderal penerusnya bersaing dalam kekejaman. Sejarah mencatat antara lain Sistim Tanam Paksa; Hongi Tochten, yaitu ekspedisi pelayaran di Maluku untuk memusnahkan pohon-pohon cengkeh guna menjaga agar harga tetap tinggi; pengasingan/pembuangan raja/sultan/tokoh yang menentang Belanda.

Beberapa yang sangat menonjol antara lain Gubernur Jenderal Adriaen Valckenier (1737 – 1741). Di masa pemerintahannya pada bulan Oktober 1740 terjadi genosida terhadap etnis Tionghoa di Batavia, di mana diperkirakan sekitar 10.000 orang Tionghoa –termasuk lansia,wanita dan anak-anak- tewas dibantai.

Kemudian ketika Joannes Benedictus van Heutsz menjadi Gubernur Militer dan Sipil di Aceh (1898 – 1904) kemudian menjadi Gubernur Jenderal di India Belanda (1904 – 1909), Aceh menjadi ladang pembantaian tentara Belanda.


Jan Pieterszoon Coen berdiri dengan megah



Jan Pieterszoon Coen roboh pada 16.8.2011

Di kota kelahirannya, tahun 1893 masyarakat Hoorn mendirikan patung JP Coen yang sangat megah, dengan tulisan di bawah patungnya yang merupakan glorifikasi “prestasi’ nya selama menjadi Gubernur Jenderal. Patung itu berdiri tegak dengan megah …sampai 16 Agustus 2011.


Tanggal 20 maret 2002, pada puncak acara perayaan 400 tahun berdirinya VOC  Komite Nasional Pembela Martabat Bangsa Indonesia (KNPMBI) melakukan demonstrasi di kedutaan Belanda, memrotes perayaan besar-besaran tersebut. KNPMBI menyatakan, bahwa zaman VOC adalah awal dari penjajahan, perbudakan pembantaian ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan penduduk Nusantara, nenek moyang bangsa Indonesia, serta perampokan kekayaan Nusantara. Oleh karena itu, KNPMBI menuntut agar pemerintah Belanda meminta maaf kepada bangsa Indonesia, dan mengembalikan kekayaan Nusantara yang telah dirampok oleh Belanda selama ratusan tahun.

KNPMBI menerima usul Duta Besar Belanda, Baron Schelto van Heemstra untuk menyelenggarakan seminar mengenai dua sisi VOC. Seminar diselenggarakan pada 3 dan 4 September 2002, dengan menghadirkan 6 sejarawan Indonesia, dan 4 sejarawan dari Belanda.

Tuntutan KNPMBI berjalan terus. Pada 5 Mei 2005, aktifis KNPMBI mendirikan Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB), dan menuntut pemerintah Belanda untuk:
  1. Mengakui de jure kemerdekaan Republik Indonesia adalah 17 Agustus 1945,
  2. meminta maaf kepada bangsa Indonesia atas penjajahan, perbudakan, berbagai pelanggaran HAM berat, kejahatan atas kemanusiaan,
  3. Memberi kompensasi kepda keluarga korban agresi militer Belanda di Indonesia antara tahun 1945 – 1950.
Pada 15 Desember 2005, ketua KUKB bersama Ketua Dewan Penasihat KUKB membawa kasus pembantaian di Rawagede ke parlemen Belanda, juga disampaikan, bahwa hingga saat ini pemerintah Belanda tetap tidak mau mengakui de jure kemerdekaan RI adalah 17.8.1945. Bagi pemerintah Belanda, kemerdekaan RI adalah 27 Desember 1949, yaitu ketika pemerintah Belanda “melimpahkan” kewenangan (soeveriniteitsoverdracht) kepada pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS).

Sejak tahun 2002 hingga tahun 2008, hampir setiap tahun KNPMBI dan kemudian KUKB mengadakan demonstrasi di kedutaan Belanda di Jakarta, dan hamper setiap tahun menyelenggarakan seminar dan diskusi seputar penjajahan Belanda di bumi Nusantara, terutama mengenai pembantaian di Sulawesi Selatan dan di Rawagede.

Pada 16 Agustus 2005, Menteri Luar Negeri Belanda (waktu itu) Ben Bot, di Jakarta menyampaikan, bahwa kini (sejak 16.8.2005), pemerintah Belanda MENERIMA proklamasi 17.8.1945 secara moral dan politis. Sehari sebelumnya,  di Den Haag, dia menegaskan, bahwa pemerintah Belanda mulai saat itu, menerima de facto kemerdekaan RI 17.8.1945. Artinya, sampai 16.8.2005, ternyata Republik Indonesia untuk pemerintah Belanda, tidak ada samasekali, dan tanggal 16.8.2005 naik tingkat menjadi “anak haram”, yaitu hanya diterima keberadaannya, tetapi tidak diakui legalitasnya!

Pimpinan KUKB ke parlemen Belanda pada Desember 2005, Oktober 2007 dan April 2008. pada Desember 2005, dibentuk KUKB Cabang Belanda, yang pada Februari 2007 menjadi Yayasan KUKB.

KUKB berhasil melobi sejumlah pihak di Belanda, termasuk di parlemen Belanda (Tweede Kamer) untuk mendukung kegiatan dan gugatan KUKB kepada pemerintah Belanda. (Mengenai perjuangan KNPMBI dan KUKB lihat:

Sejak beberapa tahun belakangan, masyarakat Belanda, terutama generasi mudanya, mulai sangat kritis menilai masa lalu Belanda di Indonesia. Menurut beberapa kalangan, termasuk kalangan Belanda, kegiatan KNPMBI dan KUKB yang konsisten sejak 10 tahun (2001 – 2012), merupakan penyebab dibahasnya secara meluas peran Belanda di masa lalu di Indonesia. Di kalangan generasi muda Belanda, VOC kini mendapat penilaian yang negatif. Dalam suatu kesempatan, Harry van Bommel, anggota parlemen Belanda dari Partai Sosialis, mencap Perdana Menteri Belanda Balkenende memiliki mental VOC, dan ini dalam pengertian negatif.

Penilaian terhadap beberapa mantan Gubernur Jenderal-pun berubah. Patung Gubernur Jenderal Joannes Benedictus Heutsz pernah dirusak orang tak dikenal.

Sejak beberapa waktu yang lalu, timbul perdebatan mengenai keberadaan patung JP Coen. Adalah Eric van de Beek, seorang jurnalis, yang mengambil inisiatif untuk menentang keberadaan patung JP Coen, sebagaimana diberitakan di Noordholland Dagblad, 10 Maret 2012.

Dewan Kota Hoorn memutuskan, untuk tetap memasang kembali patung JP Coen di tempatnya semula. Anggota Partai Sosialis Hoorn pada 11 Maret 2012 di malam hari menempuh langkah untuk menempelkan plakat keterangan mengenai JP Coen dalam tiga bahasa, yaitu Belanda, Inggris dan Indonesia (!). Namun pejabat pemerintah kota Hoorn mengajak masyarakat Hoorn untuk pada 17 Maret 2012 bersama-sama menghancurkan plakat yang ditempelkan oleh anggota Partai Sosialis, yang dianggap illegal.

Teks dalam bahasa Indonesia di plakat tersebut sebagai berikut:

… JAN PIETERSZOON COEN (HOORN, 1587 – BATAVIA, 1629)
Pedagang, direktur jendral dan gubernur jendral di Persatuan Perusahaan
Hindia Timur (VOC).
Dipuji sebagai pendiri kekaisaran bisnis yang paling sukses di VOC dan Batavia,
yang saat ini dikenal sebagai jakarta. Dikritik karena kebijakannya yang agresif
dalam memperoleh monopoli di VOC.
Coen membasmi penduduk kepulauan Banda pada 1621, setelah para penduduknya memasok pala untuk orang-orang Inggris, yang dilarang oleh Verenigde Oost-Indische Compagnie. Ribuan warga Banda dibunuh. Ratusan dideportasi sebagai budak ke Batavia, di mana mereka akhirnya dikalahkan atau dibunuh.
Karena pembantaian ini Coen mendapat julukan “Jagal dari Banda”.
Patungnya, dibuat oleh Ferdinand Leenhoff pada 1893, tidak lagi dianggap sebagai tanda penghormatan oleh warga kota Hoorn…

Erich van de Beek, pemrakarsa kegiatan ini, mengirim beberapa informasi yang sangat penting kepada saya pada 16 Maret 2012, termasuk teks bahasa Inggris dan Indonesia tulisan di plakat yang ditempelkan oleh anggota Partai Sosialis di Patung JP Coen.

Kelihatannya JP Coen belum juga dapat “beristirahat” dengan tenang. Pro dan kontra patungnya ini sedang berlangsung dengan sengit sejak beberapa hari, di mana saya ikut terlibat. Lihat:

Demikian juga masalah Indonesia dengan Belanda tidak akan selesai, apabila pemerintah Belanda tetap bersikukuh tidak mau mengakui de jure kemerdekaanj republic Indonesia adalah 17.8.1945, dan tetap menganggap Indonesia sebagai “anak haram.”

Melihat sikap pemerintah Belanda seperti ini, generasi angkatan ’45 tentu masih ingat berbagai penghinaan yang dilakukan oleh Belanda terhadap pribumi sampai 9 Maret 1942. Di berbagai tempat, seperti kolam renang, tempat-tempat hiburan elit, dll., terpampang plakat dengan tulisan, yang dalam bahasa Indonesia artinya “terlarang untuk anjing dan pribumi. Dalam bahasa Belanda tulisannya adalah:

VERBODEN VOOR HONDEN EN INLANDERS

Jakarta, 17 Maret 2012

Sisi Gelap Sejarah Belanda

 

 

Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Sisi Gelap Sejarah Belanda

Diterbitkan : 17 Maret 2012 – 9:30am | Oleh Marco Hochgemuth (ANP/Wikimedia Commons)arsip dalam:

Bagi pelajar, mahasiswa dan setiap orang yang penasaran dengan masa lalu Belanda, tersedia sebuah Kanon Sejarah Belanda atau Canon of Dutch History. Ini merupakan sebuah daftar berisikan lima puluh tokoh dan peristiwa terpenting dalam sejarah Belanda.

Namun menurut beberapa kritisi, daftar tersebut terlalu sedikit mengungkap sisi negatif dan memalukan dari masa lalu Belanda. Mereka bahkan menyusulkan disusunnya sebuah Kanon Hitam atau Black Canon.

Warga Belanda bangga dengan sejarah mereka. Untungnya Belanda mempunyai banyak hal yang layak dibanggakan dan bahkan boleh dibilang berjasa yang bisa dimasukkan dalam daftar mereka. Enam tahun lalu peristiwa-peristiwa terpenting dalam sejarah Belanda disusun oleh sebuah komisi yang terdiri dari beberapa pakar.

Tercantum
Hasilnya tercipta sebuah Kanon Sejarah Belanda, yaitu sebuah kumpulan ‘pengetahuan yang harus diketahui oleh setiap orang mengenai sejarah dan kebudayaan Belanda’. Demikian para annggota komisi. Kanon ini lah yang menjadi tulang punggung pendidikan sejarah Belanda.

Apa yang tercakup di dalamnya? Orang-orang yang pernah mengukir sejarah seperti Erasmus, Rembrandt dan Anne Frank. Juga tentang kalimat pertama yang ditulis dalam bahasa Belanda, VOC, banjir tahun 1953 dan masyarakat multikultural.

Namun kanon tersebut dikritik, antara lain dari pakar sejarah Chris van der Heijden. Dia mengatakan hanya ada dua hal negatif yang tertulis dalam kanon: perdagangan manusia dan kegagalan Belanda mencegah pembunuhan massal di Bosnia Srebrenica.

Tidak tercantum
Van der Heijden berpendapat ini menimbulkan kesan bahwa ‘masa lalu negara Belanda seperti sebuah dongeng’. Misalnya, kanon menulis tentang perdagangan yang banyak membawa untung dan dinilai hebat di Indonesia, yang dulunya bernama Hindia Belanda. Kenyataan bahwa perdagangan telah menimbulkan banyak kesedihan dan kesengsaraan tidak disebutkan dalam kanon.

Van der Heijden menyerukan agar disusun kanon sisi gelap, yang memberikan sebuah gambaran sisi buruk dalam sejarah Belanda. Pakar sejarah mengharapkan agar tercipta kerjasama antara media publik dan sosial untuk menyusun daftar hitam tersebut.

Radio Nederland Wereldomroep telah membuat daftar berisikan lima belas sisi gelap dalam sejarah Belanda. Tahukah Anda sebagai seorang warga Belanda atau pendatang, ada berbagai peristiwa bersejarah yang seharusnya membuat Belanda merasa malu?

 

Diskusi
Jan Putu Mambesak 17 Maret 2012 – 1:30pm

disini bisa diliat, bahwa “JAVANESE APES men”, atau maaf manusa monyet jawa dari sejak 1621 – VOC berdiri, menjadi motor penggerak semacam KERBAU DI SAWAH sebelum adanya traktor, DIPECUT LAH KAU SELAMA 350 tahun ditambah lagi dgn SOEHARTO SBY.,org CIA amrik.

 

Saat Warga Ghana Merindukan SUKARNO

Saat Warga Ghana Merindukan SUKARNO

Timur Angin <timurangin@yahoo.com>, in: “pantau-komunitas@yahoogroups.com” <pantau-komunitas@yahoogroups.com>,Thursday, 15 March 2012, 8:53

lima pemimpin dunia sedang berpose. Dari kiri: Nehru (India), Nkrumah (Ghana),
Gamal Abdul Nasser (Mesir), Sukarno (Indonesia), dan Tito (Yugoslavia)
WARGA dan keturunan Ghana di Ohio University, Athens, Amerika Serikat (AS), merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-55. Acaranya sederhana. Tak ada kembang api yang memekakkan telinga. Tak ada aneka lomba dan pertandingan. Mereka hanya menyewa ruangan kecil, kemudian bersama memotong kue, lalu makan bersama. Ada pula hiburan ala kadarnya. Di tengah acara tersebut, tiba-tiba saja terselip kekaguman seorang warga Ghana pada sosok Sukarno. Saya merasa sangat bangga.
Tadinya, saya hanya sekadar berkunjung. Bersama beberapa mahasiswa internasional, saya datang menghadiri undangan. Mahasiswa asal Ghana itu menyapa dengan hangat, lalu mengajak bercerita, sebagaimana layaknya sahabat akrab. Mereka sangat ramah kepada siapa saja. Beberapa di antara mereka adalah sahabat akrab di kampus. Di tengah-tengah perayaan kemerdekaan Ghana yang ke-55, saya tiba-tiba saja berbincang dengan intelektual Ghana di Ohio, Dr Albert Akyeampong, ia tiba-tiba menyebut nama Sukarno dengan penuh kekaguman. Ia mengatakan Sukarno adalah api terang yang pernah membakar bara perlawanan bangsa-bangsa Afrika pada kolonialis.
pemotongan kue
kue kemerdekaan
Di negeri yang amat jauh dari tanah air ini, saya tiba-tiba saja merindukan Sukarno. Dr Akyeampong mengingatkan persahabatan abadi antara pendiri dan presiden pertama Ghana yakni Dr Kwame Nkrumah. Masih kata intelektual Ghana ini, Sukarno bersama Nkrumah pernah mencatat sejarah paling brilliant sebagai pemimpin negara dunia ketiga. Bersama tokoh lainnya yakni Nehru (India), Gamal Abdul Nassser (Mesir), dan Tito (Yugoslavia), mereka mengadakan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung dan menjadi momen bersejarah yang kemudian menggelorakan semangat bangsa Asia Afrika untuk bangkit melawan penjajahan.

“Harap dicatat. Saat itu Ghana belum berdiri. Tapi Sukarno memberikan kepercayaan kepada Nkrumah untuk sama-sama berdiri sebagai pemimpin negara yang berdaulat. Mereka lalu menantang negara-negara maju yang saat itu sibuk berkonflik. Mereka mendeklarasikan kesepahaman bahwa bangsa-bangsa Asia Afrika mesti bangkit dari penjajahan dan tekanan bangsa asing. Bukankah itu luar biasa?” kata Dr Akyeampong.
Sebagai pendiri Ghana, nama Nkrumah memang sangat membekas di hati semua orang Ghana. Sebab pria itu bukan saja mendirikan Ghana, namun juga dicatat sebagai salah satu intelektual Ghana yang cemerlang di zamannya. Sebagai seorang penganut paham sosialisme, ia menulis banyak buku yang kemudian jadi rujukan. Di salah satu kelas yang saya ambil, buku Nkrumah berjudul Coensciencism: Philosophy and Ideology for De-Colonisation menjadi buku wajib untuk dibaca. Lewat buku ini, tergambar jelas betapa jernihnya pemikiran Nkrumah untuk bangsa Afrika. Jika Nkrumah menempati posisi istimewa, bagaimanakah halnya dengan Sukarno yang di masa silam sangat menjaga persahabatan dengan Nkrumah?
Salah seorang warga Ghana lainnya, Dr Goodwill, mengatakan, bahwa Sukarno pernah mengunjungi Nkrumah di Ghana. Saat itu, Sukarno disambut sebagai seorang pemimpin dunia. Semua orang mengelu-elukan kedatangan Sukarno sebagai pemimpin bangsa dunia ketiga. Setelah mengecek pada beberapa kliping lama, kunjungan tersebut terjadi pada tanggal 16 Mei 1961. Saat Sukarno datang, ia disambut dengan 21 dentuman meriam sebagai tanda penghormatan.
Menariknya, koran-koran Ghana menulis nama Sukarno dengan sebutan Presiden Ahmad Sukarno. Memang, ia dan Nkrumah memiliki cara berpikir yang sama yang selalu merindukan pembebasan dari bangsa-bangsa yang disebutnya neo-kolonialisme dan neo-imperialisme. Sebagai pemimpin dunia, Sukarno diajak melihat beberapa proyek strategis di Ghana selama beberapa hari kedatangannya. Ia memang dielu-elukan seluruh warga Ghana hingga namanya membekas hingga kini.

Peran Sukarno 
Mengapa nama Sukarno begitu membekas di hati bangsa Afrika khususnya Ghana? Salah satu pengajar Ohio University, Prof Cambridge, punya jawabannya. Menurutnya, Sukarno telah menunjukkan satu peran yang sangat besar dalam hal memosisikan negara dunia ketiga, yang berada di belahan bumi selatan, demi menghadapi dominasi negara dunia pertama. Ketika negara adi daya sibuk memperdebatkan siapa pemilik supremasi tertinggi, Sukarno telah memberikan peta jalan serta menyuntikkan semangat nasionalisme yang menyala-nyala.
Indonesia bersama negara Asia-Afrika akan jadi satu kekuatan yang laksana air bah akan menjebol imperialism dan kolonialisme. “Strateginya sangat hebat. Ketika utara dan utara saling bertarung, Sukarno menggalang kekuatan bersama Nehru dari India, dan Tito dari Yugoslavia untuk sama-sama mengkonsolidasikan negara Asia-Afrika demi menantang kaum kolonial. Dia sosok hebat, bukan hanya bagi Indonesia, melainkan bagi dunia,” kata Cambridge.
Puluhan tahun setelah sosok Sukarno meninggal, namanya masih saja dielu-elukan dan dibahas dengan penuh kekaguman. Dan setiap kali ada pembicaraan tentang Sukarno, saya akhirnya menyadari betapa pentingnya peran Sukarno dalam menorehkan nama bangsa di panggung internasional. Indonesia memang butuh satu simbol yang kemudian menguatkan solidaritas bersama sekaligus memberikan rasa bangga pada bangsa Indonesia yang hendak berkiprah di level internasional.
Tapi, di saat bersamaan, saya juga miris karena negeri ini kehilangan satu sosok seperti beliau. Tak satupun anak bangsa yang punya kharisma, kiprah, serta mewarisi kecerdasan beliau dalam hal membawa bangsa ini terbang tinggi menjangkau mega-mega. Kita hanya dihadapkan pada sejumlah petualang politik yang hendak memperkaya diri di jalur politik. Di saat bangsa kita kehilangan kebanggaan pada anak bangsa sendiri, kerinduan akan Sukarno akan terus berdenyut sepanjang sungai kesejarahan kita.
Selagi kita dihadapkan pada sejumlah politisi tanpa visi, maka nama bangsa ini kian terpuruk di kancah dunia. Sungguh ironis sebab dahulu Sukarno sanggup mengisi ruang-ruang kosong kebanggaan tersebut, namun kita justru melupakannya. Sungguh bahagia kala mengingat nama Sukarno tetap berkibar hingga kini, namun langsung sedih saat menyadari bahwa tak satupun presiden yang bisa meniti di atas jejak yang diwariskannya. Tapi, setidaknya hari ini saya diliputi kebanggan. Saya bangga karena nama Sukarno sangat membekas di hati bangsa Afrika. Meskipun di negeri sendiri, namanya sering hendak dilupakan.

Sejarah Palestina yg sebenarnya

Sejarah Palestina yg sebenarnya

Sejarah yang netral? Apa ada sejarah yang netral?

Nasionalisme sempit? Menganggap diri sebagai “bangsa pilihan Tuhan” –dan dengan demikian bisa melanggar resolusi PBB berkali-kali tanpa sanksi– apa bukan nasionalisme sempit?


Satrio Arismunandar
Executive Producer, News Division Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 – 14 A, Jakarta 12790
Telp: 7917-7000 ext: 3542;   Fax: 021-79184558

HP: 0819 0819 9163
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://facebook.com/satrio.arismunandar

Denny Sibolangit <dennysibolangit@gmail.com>in: nasional-list@yahoogroups.com, Wednesday, March 14, 2012, 8:58 PM

Versi yang sebenarnya menurut sejarah dan netral tidak membawa urusan politik maupun nasionalisme yang sempit

Pada 14 Maret 2012 11:27, Fakih, Ridwan <rfakih@kockw.com> menulis:

versi yang sebenarnya menurut sejarah dan netral tidak membawa urusan politik maupun nasionalisme yang sempit

Pada 14 Maret 2012 11:27, Fakih, Ridwan <rfakih@kockw.com> menulis:
 

Saya Tanya kawan saya yang Palestina.

Ini justri Cerita Yang salah. Ini sejarah versi mana?

 Sebelum anda menggunakan kata zionisme dll baiknya mengetahui sejarah latar belakang lahirnya sejarah Palestina

Negara Palestina dan Bangsa Palestina adalah bukti kebohongan bangsa Arab dan keserakahan bangsa Arab. Sepanjang sejarah dunia tidak ada dan tidak pernah ada negara yang dinamakan Palestina, maka dari itu jelas tidak ada yang dinamakan rakyat atau bangsa Palestina. Palestina adalah nama tempat saja seperti nama-nama tempat lainnya didunia. Bangsa Palestina berasal dari suku Yahudi bukan Arab. Yang kita lihat sekarang  adalah tanah air suku Yahudi yang dinamakan Judea yang kemudian diganti namanya menjadi Syria Palestina atau yang kemudian dsingkat menjadi Palestina oleh bangsa Romawi. Negara Israel modern yang ada sekarang ini adalah kelanjutan dari sejarah panjang bangsa Yahudi, yakni lebih dari 3000 tahun eksistensi bangsa mereka.

Puncak kejayaan kerajaan Israel adalah pada saat David dan Salomón  berkuasa yang bahkan memiliki daerah kekuasaan jauh lebih besar dari pada Israel pada saat ini. Setelah kematian Salomón kerajaan Israel terpecah menjadi dua, Israel di utara dengan ibukota Samaria, dan Judah di selatan dengan ibukota Jerusalem. Dua kerajaan ini bertahan hingga 200 tahun.

Apabila kita perhatikan dengan seksama sedikitnya ada delapan bangsa pernah menjajah Israel, dan hampir setiap kali bangsa Israel diusir dari tanah air mereka. Tetapi setiap kali juga bangsa yang menjajah Israel selalu

tumbang, dan terbukti yang dijajah yaitu bangsa Israel tetap exist sampai sekarang.  Penindas brutal terakhir terhadap bangsa Israel/Yahudi adalah Hitler dan partai Nazinya, dan kita semua tahu apa yang terjadi pada mereka.

Bukti keserakahan bangsa Arab adalah tetap menuntut bangsa Israel keluar dari Timur Tengah dan menginginkan setiap jengkal tanah Israel. Ketika Inggris menerima mandat tanah Palestina, daerah ini cakupannya sangat

luas sampai ke Jordan dan memang mayoritas penduduk di daerah ini adalah bangsa Arab. Maka itu atas pertimbangan keadilan, Inggris meminta kepada Liga Bangsa untuk membagi daerah ini menjadi dua bagian, satu

untuk pendudukan suku Yahudi dan satu untuk bangsa Arab. Daerah untuk bangsa Israel hanya 23% dan dinamakan Palestina. Sedangkan untuk bangsa Arab 77% yang dinamakan Transjordan yang kemudian kerajaan

Jordania. Sampai titik ini, semua adil. Bangsa Arab sebagai penghuni mayoritas mendapat potongan tanah mayoritas pula. Tapi rupanya bagi mereka ini tidak cukup, maka yang kita lihat sekarang adalah orang‐orang

Arab yang menamakan dirinya bangsa Palestina ingin mencaplok semua daerah Israel dan mengusir semua bangsa Israel keluar dari tanah Timur Tengah.

Masalah sengketa tanah antara dua suku kemudian oleh bangsa Arab dikembangkan menjadi masalah agama demi untuk mendapat dukungan yang lebih luas. Dan tiba‐tiba umat muslim sedunia, bahkan yang tinggal beribu kilometer dari Timur Tengah seperti muslim Indonesia, merasa memiliki hak atas tanah tersebut. Muslim bahkan dengan enteng mengatakan bahwa daerah itu adalah tanah suci umat islam dan harus dipertahankan dengan segala cara.

Contoh yang paling jelas adalah Yasser Arafat yang ngotot ingin mendapatkan Jerusalem sebagai ibukota Palestina dengan alasan bahwa Jerusalem adalah kota “Ketiga” paling penting bagi umat muslim setelah Mekkah dan Medina. Ketiga terpenting ??,… bagaimana kalau kota‐kota itu juga kota terpenting bagi umat Israel/Yahudi dan Nasrani? itulah pertanyaan bangsa dan rakyat Israel kepada Yasser Arafat, dan sejak itu Yasser Arafat dan pemerintah Palestina tidak pernah lagi menggunakan alasan ini untuk mendapatkan Jerusalem.

 

Fakta Tentang Konflik ARAB-ISRAEL

 

• Israel telah mempunyai bentuk negara sejak pada 1300 BCE tahun sebelum munculnya Islam.

• Daerah territorial Israel hanya 1:650 dibanding keseluruhan jumlah lahan negara2 Arab. Penduduknya hanya 1:50 dari total penduduk negara2 Arab.

• Negara‐negara Arab telah menyulut 4 perang melawan Israel, dan selalu dimenangkan oleh Israel. Dalam setiap usai pertempuran, Israel selalu menarik mundur perbatasannya.

• Tahun 1948 kaum Yahudi kembali ke tanah leluhur mereka di Judea dan Samaria, lalu mendirikan negara Israel.

• Tak lama setelah itu, negara “Palestina” dibuat dan disebarkan oleh negara2 Arab ke seluruh dunia. Faktanya, tidak pernah ada namanya negara palestina, bahasa palestina, atau suku palestina sebelumnya.

• Jerusalem, dibawah pemerintahan Israel, bebas dikunjungi oleh setiap pemeluk agama dan situs2 agama direstorasi. Sebelumnya, kaum yahudi dilarang mengunjungi situs suci dan banyak yang dihancurkan.

• Dalam kitab suci Yahudi, kata Jerusalem muncul 669 kali, dan zion (=Jerusalem/ land of israel) 154 kali. Dalam kitab suci Kristen muncul 154 kali dan dalam kitab suci Islam Alquran tidak sama sekali.

• Piagam PLO sampai saat ini masih menuntut penghancuran negara Israel.

• Yahudi menjalankan Ibadahnya menghadap Jerusalem, sementara Muslim menghadap Mekah, bertolak belakang dengan Jerusalem.

• 21 dari negara2 arab adalah anggota PBB dan ada 52 tambahan suara dari negara‐negara islam.

• Perang enam hari (6 day war), di bawah perdana menteri Golda Meyer dengan jenderal Mose Dayan dengan stafnya Ben Gurion, disitulah dengan kemenangan Israel terhadap Mesir dan Syria, sampai dataran tinggi Golan,

  dengan waktu 6 hari Israel bisa merebut Jerusalem termasuk tembok harapan, barulah bangsa Israel diperhitungkan oleh bangsa2 Arab.

 

Yahudi menganggap Israel sebagai tanah airnya berdasarkan 4 (empat) hal:

1. Tuhan sendiri yang menjanjikan tanah warisan ini kepada Abraham

2. Orang2 Yahudi tetap hidup disitu dan merawat daerah itu

3. Pemberian kedaulatan penuh oleh PBB kepada Yahudi di Palestina

4. Penguasa daerah berdasarkan perang bela diri

 

Ahli sejarah Arab terkemuka AS, Prof. Phillip Hitti dari Universitas Princeton, membuat pengakuan di depan Anglo‐American Committée di tahun 1946, dengan mengatakan: “Tidak pernah ada“Palestina” dalam sejarah, sama sekali tidak.” Memang, Palestina juga tidak pernah ditulis dengan tegas dalam Qur’an yang disebut adalah “Tanah Suci” (al-Arad al-Muqaddash).

Sebelum adanya pembagian daerah, orang2 Arab Palestina tidak melihat diri mereka punya identitas yang terpisah. Tapi ketika First Congress of Muslim-Christian Associations bertemu di Jerusalem di bulan Februari

1919 untuk memilih wakil2 Palestina untuk Konferensi Perdamaian Paris,pernyataan berikut diumumkan:

Kami merasa Palestina adalah bagian dari Syria Arab, karena bagian ini tidak pernah terpisah dari Syria dalam waktu kapanpun. Kami berhubungan dengan Syria secara kenegaraan, agama, bahasa, ekonomi dan ikatan daerah.

Tahun 1937, pemimpin Arab setempat, Auni Bey Abdul-Hadi, menyatakan Peel Comissión yang pada prinsipnya menuntut bagian Palestina: “ Tidak ada negara (Palestina)!! Kata “Palestina” itu diciptakan oleh Zionist! Tidak

ada kata Palestina dalam Alkitab. Tanah air kami sejak berabad‐abad merupakan bagian dari Syria.

Wakil Arab Higher Committee untuk PBB mengajukan pernyataan di General Assembly di bulan May 1947 yang menyatakan bahwa “ Palestina” merupakan bagian dari Propinsi Syria” dan karenanya, secara politis, orang2 Arab Palestina tidak terpisah dari Syria dan tidak bisa membentuk kesatuan politis yang terpisah dari Syria.

Beberapa tahun kemudian, Ahmed Shuqeiri, yang lalu jadi PLO, mengatakan pada Security Council: “Sudah jadi pengetahuan umum bahwa Palesrtina adalah bagian Selatan Syria”.

Nasionalisme Arab Palestina kebanyakan muncul setelah Perang Dunia I. Tapi ini tidak jadi gerakan politik yang bermakna sampai terjadi Perang Enam Hari (six day war) di tahun 1967 dan Israel menguasai Tepi Barat.

 

 

Teks Patung Jan Pieterszoon Coen Direvisi

 

 

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/teks-patung-jan-pieterszoon-coen-direvisi

Teks Patung Jan Pieterszoon Coen Direvisi

Diterbitkan 14 Maret 2012 – 2:02pm

Setelah pembicaraan berbulan-bulan, pemerintah kota Hoorn, provinsi Noord Holland, memutuskan akan menempatkan informasi lebih lengkap tentang peran Jan Pieterszoon Coen pada patungnya.

Sekelompok warga Hoorn mengajukan gagasan tersebut karena menurut mereka adalah sebuah kekeliruan jika Coen hanya dipandang sebagai pahlawan, mengingat pembantaian yang dilakukannya di Nusantara. Demikian tulis situs penyiaran publik Belanda, NOS, hari Rabu (14/03).

Penuh kekerasan

Tahun lalu, setelah protes sekelompok warga, DPRD Hoorn mengatakan akan menyesuaikan informasi di patung yang terletak di pusat Hoorn, kota kelahiran Coen. Pada informasi di alas tumpuan patung saat ini tertulis: “Jan Pieterszoon Coen (1587-1629). Lahir di Hoorn. Gubernur Jenderal VOC dan pendiri Batavia, sekarang Jakarta. Patung ditempatkan tahun 1893.”

Akhirnya diputuskan naskah pada patung akan menyebutkan bahwa kesuksesan Coen sebagai gubernur jenderal di Nusantara, di bawah pemerintahan VOC, didapatkan dengan penuh kekerasaan. Selain itu, juga akan disebutkan bahwa patung ini bukannya tidak kontroversial.

Menurut para kritisi: “Kebijakan perdagangan Coen yang penuh kekerasan di Nusantara tidak layak disanjung.”

Penduduk dibinasakan

Tahun 1621, Coen memerintahkan pembunuhan massal di Pulau Banda, satu-satunya tempat tumbuhnya tanaman pala di masa itu. Coen menghukum warga yang menolak menjual hasil panen hanya kepada VOC dan kemudian membunuh para petinggi VOC. Seluruh penduduk pulau Banda dibinasakan.

Puluhan pemimpin rakyat Banda dieksekusi, warga Banda lainnya tewas dan sebagian dikapalkan sebagai budak. Penduduk yang berhasil melarikan diri ke pegunungan menderita kelaparan.

Sebenarnya, penggagasnya ingin melengkapi informasi dengan pembantaian yang dilakukan oleh Coen pada tahun 1621. DPRD Hoorn menganggap langkah ini terlalu berlebihan, tulis NOS. Untuk sementara, penggagas tidak akan bertindak lebih lanjut.

“Berkat gagasan kami, pemerintah mau meninjau kembali hal ini, sayangnya kurang memuaskan. Apa lagi yang harus saya perbuat. Mungkin generasi berikutnya bisa bertindak lebih jauh,” katanya. Demikian, NOS.

Glossy Khusus Untuk Jan Pieterzoon Coen

Hoorn, Belanda
Hoorn, Belanda

Glossy Khusus Untuk Jan Pieterzoon Coen

Diterbitkan : 12 Maret 2012 – 3:59pm | Oleh Jean van de Kok (Foto: Westfries Museum)

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/glossy-khusus-untuk-jan-pieterzoon-coen

Hoorn, kota kecil di Belanda utara menyimpan segudang warisan salah seorang putra mereka, Jan Pieterzoon Coen, gubernur jenderal kompeni dagang Belanda VOC, yang terkenal kejam. Di kota ini juga kita jumpai patung JP Coen yang oleh sekelompok warga Hoorn dianggap tidak pantas, karena ia juga membantai penduduk Banda di Maluku. Mengapa seorang pembantai diberi kehormatan. Mereka mengusulkan digusur saja.

DPRD kota Hoorn memutuskan mempertahankan patung ini dengan informasi lengkap tetang siapa JP Coen itu. Westfries Museum, museum sejarah lokal di Hoorn menanggapi permintaan informasi sejarah latar belakang Coen, putra tersohor mereka.

Layak
Ad Geerdink, direktur museum ini menjelaskan isi dan tujuan pameran serta penerbitan majalah lux atau glossy dengan judul COEN. Pada pameran itu juga diselenggarakan semacam pengadilan yang akan memvonis pantas tidaknya JP Coen diberi patung kehormatan. Para pengunjung mendapat informasi pro dan kontra. Sebagai juri mereka boleh memvonis kelayakan Coen sebagai pahlawan.

“Memang ada perbedaan citra JP Coen di mata orang Belanda, sebelum dan sesudah Perang Dunia Kedua. Dalam periode sejarah kolonial, orang Belanda menganggap jajahannya di Nusantara penting. Yang dianggap arsitek penjajahan ini adalah JP Coen. Mei 1940, Ratu Belanda yang berada di pengasingan di London, mengutip semboyan Coen: ‘dispereert niet’, janganlah putus asa. Saat itu Belanda diduduki Nazi Jerman, dan Ratu Wilhelmina berpidato lewat Radio Oranje, memberi semangat kepada rakyatnya,“ demikian Ad Geerdink.

Jadi Coen merupakan panutan di Belanda sebelum Indonesia merdeka, dia dianggap sebagai pahlawan yang gigih. Tapi jaman berubah. Sekarang setelah berpisah dari Indonesia, Belanda juga berubah sikap terhadap Coen. Bahkan ada warga kota Hoorn yang menganggap ia pembunuh massal di Banda.

Tanda-tanda zaman
Pakar sejarah VOC di Universitas Indonesia Liliek Suratminto berpendapat sikap kita terhadap Coen tergantung dari kacamata mana yang dipilih. “Kita menganggap Coen kejam tapi siapa yang tidak kejam pada saat itu? Para sultan di Nusantara kejam juga. Memang Coen dipuja-puja sebagai pendiri kota Batavia, kota bergaya Eropa yang dijuluki “mutiara dari Timur”. Namun Coen juga ditakuti oleh orang Belanda, di mana makamnya? Waktu itu, orang dimakamkan di dalam gereja.

Coen tadinya dimakamkan jauh dari tempat khotbah di gereja protestan Batavia. Tempat yang paling mahal adalah makam di dekat pendeta berkhotbah. “Kehormatan ini tidak diberikan kepada Jan Pieterzoon Coen,” demikian Liliek Suratminto yang menelusuri letak makam JP Coen di Jakarta.

Publik Belanda sekarang kurang tahu pengaruh Coen dalam masyarakat Belanda. Itulah sebabnya terbit majalah glossy COEN yang menyorot sisi lain kehidupan gubernur jenderal ini, misalnya pernikahannya yang tidak bahagia, sikap keras terhadap keluarganya, ia menyiksa puteri angkatnya yang kepergok selingkuh, dan berbagai karya seni yang diciptakan sekitar JP Coen.

“Di Belanda ada terowongan yang diberi nama Coentunel, tapi mana ada pengendara mobil Belanda yang tahu nama ini berasal dari JP Coen sebagai kehormatan,”demikian Ad Geerdink.

Sikap terhadap sejarah memang berkaitan dengan tanda-tanda jaman. “Yang penting di mana kita memusatkan perhatian pada sejarah VOC. Kekayaan yang melimpah yang membawa jaman keemasan Belanda pada abad ke 17 atau kekerasan untuk mengeruk kekayaan ini,” demikian Ad Geerdink direktur Westfries Museum di Hoorn.

Tamak
Masa silam hubungan Belanda-Indonesia tetap kontroversial, diskusi tanpa akhir. “Sebaiknya diskusi jangan dihentikan. Patung Coen di Hoorn sebaiknya juga dipertahankan saja, bukan sebagai kehormatan namun untuk mengundang diskusi,” demikian Ad Geerdink.

“Aneh juga, hubungan Belanda-Indonesia menjadi emosional gara-gara sosok semacam JP Coen. Memang sebagai gubernur jenderal VOC ia terkesan tamak, namun di sisi lain ia mendirikan Batavia, kota multi kultural.

Di Indonesia ingatan sejarah tentang JP Coen hanya berkisar pada kekejamannya. Sebaiknya para sejarawan jangan memihak, namun menilai berdasarkan semua fakta sejarah,” demikian pakar sejarah VOC Liliek Suratminto.

Favorit/Cari dengan:

Diskusi

mbahpur 12 Maret 2012 – 9:24pm / Indonesia

Kutipan artikel diatas : “Coen tadinya dimakamkan jauh dari tempat khotbah di gereja protestan Batavia.” Gereja Protesan Batavia yang mana?
Menurut pengamatan saya, sampai hari ini masih merupakan teka teki dimana mayat JP Coen dimakamkan. Ada yang mengatakan JP Coen dimakamkan di Musium Wayang bersama Gubernur Jendral2 yang lainnya di Jakarta Utara, disamping sebelah barat gedung musium Fattahillah. Akan tetapi menurut informasi ahli2 sejarah pada musium Fattahillah, hal ini tidak benar. Mayat JP Coen belum diketahui DIMANA..
JP Coen mati pada saat serangan pasukan Mataram yang ke dua pada September tahun 1629. Orang Belanda berpendapat(karena gengsi?) JP Coen mati karena terkena wabah Batavia koorts, demam Batavia karena ulah nyamuk..
Akan tetapi kalau di saat itu ada wabah kenapa tidak banyak orang yang mati serempak karena demam ini?
Sedangkan sejarah versi Jawa mengatakan, dalam upaya mengusir VOC-Belanda pasukan2 Kerajaan Mataram Sultan Agung dengan pimpinan Suro Agul Agul, maka JP Coen dikalahkan dan dibunuh oleh Pangeran Puger yang berhasil masuk ke dalam benteng VOC. Dan kepala JP Coen di bawa ke kerajaan Mataram (sekarang Kota Gede, Daerah Istimewa Yogyakarta), dan selang beberapa tahun kemudian ditanam di makam Sultan Agung di Imogiri. Versi mana yang benar? Silahkan ahli2 VOC menelitinya.
Semenjak JP Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC di Batavia (1619-1623)lalu (1627 – 1629), VOC mulai mengembangkan agresivitas. JP Coen mengatakan, tanpa agresivitas, VOC tidak akan mendapatlaba.
Moto VOC :”commercie als doel, politie, bestuur in vollen omvang als middel…”.Maka kerajaan2 harus di taklukkan. Secara halus maupun militer.
VOC sudah memiliki keunggulan ilmu2 metalurgi dan meriam2 kaliber besar yang jauh kedepan dibandinghkan Raja2 di Nusantara kala itu.

Dalam buku “de kracht van ons volk”, JP Coen termasuk tokoh panutan yang dibanggakan oleh orang Belanda. Dia adalah sebagai idol dari symbol salah satu keistimewaan dan kekuatan bangsa Belanda yaitu de “DRANG NAAR BUITEN”..Eben, VOC mentaliteit.

 

Supersemar dan Politik Machiavellian

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/supersemar-dan-politik-machiavellian/

10.03.2012 09:17

Supersemar dan Politik Machiavellian

Penulis : Endang Suryadinata*

Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) adalah surat sangat sakti penuh kontroversi, sekaligus berimplikasi luas.

Bahkan, pada peringatan Supersemar tahun ini, publik tetap terwarisi kontroversi dan memikul beban sejarah atas terbitnya surat itu, baik surat versi asli yang hingga kini tak jelas rimbanya, maupun terbitnya berbagai versi aspalnya.

Soal saktinya Supersemar, publik sudah tahu, karena dengan surat itu Soeharto merasa mendapat mandat atau transfer kekuasaan dari Bung Karno. Setelah menerima surat itu, Soeharto bertindak layaknya Presiden.

Padahal, presiden sah Bung Karno saat pelantikan Kabinet Ampera, pada 28 Juli 1966 mengatakan: ”Pers asing mengatakan bahwa perintah ini adalah a transfer of authority to General Suharto. Tidak. Its not a transfer of authority to General Suharto. I repeat again, its not a transfer of authority.”

Bung Karno boleh berkata seperti itu, tetapi kekuasaannya diam-diam telah dirampas Soeharto. Bahkan, agar Supersemar dinilai legitimate, Soeharto bisa bersekongkol dengan MPRS lewat Tap MPRS IX/MPRS/ 1966 sehingga membuat Bung Karno si pemberi mandat tidak bisa mencabut surat itu.

Lalu pada 12 Maret 1967, Soeharto dilantik menjadi penjabat Presiden, dan setahun kemudian dilantik sebagai Presiden pada 27 Maret 1968 oleh MPRS, kemudian dipilih kembali oleh MPR hingga 1998.

Kudeta

Tidak heran jika Supersemar dan segala sesuatu yang dilakukan Soeharto terkait surat itu disebut kudeta merangkak. Ini karena pemegang kekuasaan sah Presiden Soekarno perlahan tapi pasti bisa disingkirkan, lalu dikarantina dalam keadaan sakit, hingga akhirnya Bung Karno wafat dalam kesepian pada 20 Juni 1970.

Terkait Supersemar, sejumlah sejarawan atau pakar hukum tata negara sepakat menyebut apa yang dilakukan Jenderal Soeharto dan pihak di luarnya seperti MPRS sebagai kudeta atau peralihan kekuasaan yang tidak konstitusional.

Teman saya asal Talun, Kabupaten Blitar, mendiang Prof Dr Suwoto Mulyosudarmo, juga sudah membahas hal ini secara lebih detail dalam disertasinya di Unair pada 1990, yang berjudul ”Peralihan Kekuasaan: Kajian Teoritis dan Yuridis terhadap Pidato Nawaksara”.

Cara Pak Harto mengemas kudeta memang amat lihai. Seolah tercipta kesan tidak ada pertumpahan darah terhadap Bung Karno, tetapi para pendukung Bung Karno terlebih mereka yang diberi cap PKI, adalah pihak yang darahnya tertumpah.

Ada yang menyebut angkanya jutaan. Jangan lupa sehari setelah menerima Supersemar, Soeharto membubarkan PKI. Sebagian lain yang masih hidup hingga kini terpaksa jadi “eksil” di Eropa dan bagian lain dunia. Semua itu merupakan buntut dari Supersemar.

Bahkan, semasa berkuasa (1966–1998), Soeharto dengan amat cerdik bisa mendikte publik, termasuk para sejarawan, dengan menciptakan kesan betapa misteriusnya keberadaan naskah Supersemar.

Ada yang bilang naskah asli di tangan M Jusuf, tetapi mantan Pangab yang wafat pada 2004 itu mengatakan naskah asli ada di tangan Soeharto sendiri. Berbagai versi pun diciptakan, sementara naskah asalinya hingga kini tetap tidak diketahui.

Praksis Politik Machiavellian

Kelihaian Soeharto dalam mengemas kudetanya lewat Supersemar dan segala tindakannya sesudah memegang dan meraih kekuasaan, mengingatkan penulis pada pemikiran dasar Niccolo Machiavelli tentang politik.

Seperti diketahui, filsuf berdarah Yahudi bernama Italia yang hidup pada 1469–1527 itu sangat diagungkan para diktator dan politikus yang doyan menghalalkan berbagai cara, seperti tampak dari karya abadinya, Il Principe.

Sebenarnya, lewat karya-karyanya, Machiavelli layak disebut sebagai peletak dasar ilmu politik dan pemikir awal yang mendorong terjadinya proses sekulerisasi (desakralisasi) politik.

Namun publik, termasuk para diktator atau politikus banal negeri ini, lebih menyukai tafsir Machiavelli sebagai penganjur politik menghalalkan semua cara. Dalam upaya meraih dan mempertahankan kekuasaan, segala cara bisa ditempuh, mulai dengan berbohong hingga membunuh.

Kalau kita menyimak 32 tahun kekuasaan Pak Harto, praksis (teori dan praktik) politik yang machiavellian dengan mengabaikan etika atau moral memang amat menonjol.

Semua hal terpusat pada Soeharto dan bagaimana kekuasaannya bisa dilanggengkan di tangannya. Memang ada pemilu atau parpol, tetapi semua dibuat skenarionya demi menunjukkan pada publik dunia seolah dia demokrat. Padahal, nyatanya tak ada demokrasi.

Media pun dibungkam, kalau macam-macam, diberedel. Penyingkiran lawan politik seperti pembuangan ke Buru, penembakan misterius, dan penculikan para mahasiswa, sungguh mengabaikan etika. Martabat manusia bisa dikorbankan demi kekuasaan. Tidak heran korupsi dan segala bentuk KKN lain mulai tumbuh subur di era Pak Harto.

Harus kita akui, praksis politik di Tanah Air hingga kini masih bercorak machiavellian, karena anak didik Orde Baru atau mereka yang mengecap nilai-nilai Orde Baru masih “berjibun” di jajaran birokrasi yang tak tersentuh reformasi, kendati wacana reformasi birokrasi kerap didengungkan. Orientasi politik sebagian besar kalangan juga masih pada jabatan alias kekuasaan.

Simak kasus Wisma Atlet yang menyeret para politikus muda kita. Ini adalah contoh bahwa corak machiavellian itu tidak sirna begitu saja setelah Soeharto tidak ada. Kesejahteraan atau kekayaan untuk diri sendiri lebih diutamakan. Kesejahteraan hanya dirasakan segelintir orang yang beruntung memegang kekuasaan.

Aparat hukum pun suka memanipulasi hukum. Keadilan merupakan barang langka. Rakyat yang terkena busung lapar atau gizi buruk tak dipikirkan. Kemiskinan malah dijadikan jualan politik, termasuk data jumlah kaum miskin yang bisa dimanipulasi.

Ke depan kita tidak bisa mengharapkan banyak perubahan signifikan, jika para politikus dan pemegang amanat rakyat masih melakukan praksis politik machiavellian, yang kini tersebar di segenap lini eksekutif, legislatif, dan yudikatif

*Penulis adalah alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam.

Kudeta 1965 Versi Sukmawati Sukarno

Kudeta 1965 Versi Sukmawati Sukarno

 
Oleh Yons Achmad*

 

Yons <senjakarta@gmail.com>,in: mediacare@yahoogroups.com , Monday, 12 March 2012, 10:33
“Bapak menangis terisak-isak seraya berkata lirih,
`Kenapa Bapak dibeginikan oleh bangsa sendiri?’

(Sukmawati dalam Creeping Coup D’etat Mayjen Soeharto)

Jas Merah. Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah, begitu kata Soekarno. Saya tentu setuju dengan kata-kata ini. Pada malam Minggu (10/03/12), banyak anak-anak muda kasmaran yang memilih pacaran untuk membunuh sepi. Saya memilih menghadiri sebuah acara satu jam bersama Sukmawati Sukarno lewat acara bedah buku “Creeping Coup D’etat Mayjen Soeharto” di Toko Buku Leksika Kalibata Jakarta.

“Ceeping Coup D’etat” Sebuah kudeta merangkak atau bertahap, ini yang ingin disampaikan oleh Sukmawati. Sebenarnya, istilah ini berasal dari Dr Subandrio, mantan Waperdam I dari Kabinet Dwikora era pemerintahan Soekarno dan Sukmawati menyetujuinya. Kudeta Merangkak yang dilakukan oleh Mayjen Soeharto dan kawan-kawannya itu melalui 4 tahap:

Tahap 1: Pada tanggal 1 Oktober 1965. Terjadinya suatu aksi penculikan dan pembunuhan beberapa Jenderal TNI AD oleh kelompok G 30 S yang dipimpin oleh Letkol Untung dengan pasukan AD (Berseragam Tjakrabirawa/pasukan pengawal Presiden). Pada hari itu juga melalui RRI, Letkol Untung mengumumkan tentang dibentuknya Dewan Revolusi dan juga tentang Kabinet Dwikora Demisioner. Tahap II: Pada tanggal 12 Maret 1966 Letjen Soeharto sebagai Pengemban SUPERSEMAR atau Surat Perintah Sebelas Maret, membubarkan PKI.

Tahap III Letjen Soeharto memerintahkan penangkapan 16 Menteri Kabinet Dwikora yang merupakan kelanjutan aksi mendemisionerkan kabinet. Tahap VI: Pada tanggal 7 Maret 1967. Pencabutan kekuasaan Presiden RI, mandataris MPRS, Pangti ABRI, PBR, DR Ir Soekarno dengan Tap MPRS XXXIII/1967. Kesimpulannya, G 30 S adalah nama group/kelompok yang kenyataannya adalah bagian dari Dewan Jenderal (Soeharto dkk). Merekalah kelompok G 30 S yang mengawali gerakan atau aksi dari “Kudeta Merangkak” tersebut.

Beberapa hal diatas yang disampaikan oleh Sukmawati Soekarno. Saya sebagai peserta diskusi tidak percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan Sukmawati. Dalam forum tersebut, terkesan Sukmawati menyalahkan Soeharto yang mengatakan PKI tidak terlibat, sehingga hanya menyebut G 30 S bukan G 30 S PKI. Namun, yang namanya sejarah, kita tidak tahu persis. Tapi saya percaya bahwa PKI justru terlibat dalam aksi kudeta ini, walau saya kira kalah cepat, kalah “Canggih” dengan gerakan yang dilakukan Soeharto cs.

Mengenai hal ini, beberapa waktu sebelumnya, saya mengikuti acara “kumpul-kumpul” dengan Institut Peradaban, sebuah lembaga baru yang dipimpin oleh Prof Dr Salim Said (Direktur IP), saya juga kebetulan bergabung dan menjadi anggota lembaga ini. Beliau selain seorang Doktor Politik juga mantan wartawan (Tempo) yang telah bekerja selama puluhan tahun. Dalam obrolan ringan disela-sela diskusi rencana peluncuran lembaga kami, saya menangkap PKI memang terlibat. Seperti misalnya Syam yang seorang biro khusus PKI terlibat menculik AH Nasution walau keliru, yang diculik justru Tendean. Kenapa bisa begitu? Dikatakan oleh Prof Salim alasannya, Syam ini memang bukan orang militer jadi tidak cakap dalam bergerak. Saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh beliau. Jadi upaya untuk membalikkan opini bahwa PKI tidak terlibat dalam kudeta dan itu semua semata-mata kerjaan Soeharto, itu semua tidak benar. PKI jelas terlibat.

Ketika hal ini saya tanyakan ke pembicara (Sukmawati) dikatakannya bahwa ” PKI tidak terlibat, yang terlibat hanya petinggi- petingginya”. Baiklah, saya memang tidak melanjutkan perdebatan, untuk menghormati forum yang cenderung agak kaku itu. Hanya saja, yang perlu diwaspadai adalah upaya beberapa kalangan yang mencoba terus menyuarakan bahwa PKI tidak terlibat, PKI tidak terlibat. Semua itu bohong belaka dan pengingkaran terhadap fakta sejarah. Ini sama saja dengan sekarang mengatakan bahwa Partai Demokrat tidak terlibat korupsi, yang terlibat hanya oknum-oknumnya. Semua orang akan terbahak-bahak mendengar lelucon ini.

Namun, terlepas dari semua itu, saya selalu mengapresiasi seseorang yang membuat buku untuk menyuarakan apa yang dirasakannya, kesaksian, maupun pemikirannya. Buku ini adalah semacam “catatan harian” Sukmawati Sukarno sebagai putri dari Presiden RI pertama. Yang menarik justru sisi humanisnya, bagaimana keluarganya sebagai seorang tokoh yang turut serta mendirikan dan memimpin negeri mesti disingkirkan, ditelantarkan dan terusir dari istana dengan “tidak hormat”. Inilah nilai lebih buku ini.

Barangkali, inilah yang membuat luka dan menorehkan kenangan atas “kekejaman” Soeharto. Kondisi semacam ini yang kemudian tinta kemanusiaan mencatatnya, seperti Sukmawati mengatakan dalam buku ini “Bapak menangis terisak-isak seraya berkata lirih’ Kenapa Bapak dibeginikan oleh bangsa sendiri”

Inilah yang sempat saya catat dalam acara tersebut. Tapi yang menarik lagi, ada satu peserta yang berkata lirih juga kepada saya “Sukmawati Soekarno ini, cara bicaranya runut dan sistematis, lebih cerdas dari kakaknya, Megawati” Saya hanya tersenyum mendengar komentar tersebut, tentu pertanda setuju. []

*Kolumnis Majalah Wasathon.com.

Ket lengkap klik http://bit.ly/wQopMo

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers