Archive for the ‘Sejarah’ Category

KAA Ke-60, TERSISIHNYA BANDUNG SPIRIT

Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD), Agus Jabo Priyono‏ (Ist)Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD), Agus Jabo Priyono‏ (Ist)JAKARTA- Satu dasawarsa lalu, tepatnya pada tanggal 22-24 April 2005, Indonesia juga menjadi tuan rumah peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika. Sebagaimana dikutip dari laman resmi Asian African Conference Commemoration Indonesia 2015, seluruh peserta yang hadir pada tahun peringatan KAA 2005 meyakini bahwa Bandung Spirit senantiasa menjadi dasar yang kokoh untuk memelihara hubungan yang lebih baik di antara bangsa-bangsa Asia dan Afrika serta untuk menyelesaikan isu-isu global. Peringatan KAA tahun 2005 mengarah pada penciptaan Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (NAASP). Demikian Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD), Agus Jabo Priyono kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (20/4).

 

“Namun, jika kita melakukan refleksi, perjalanan sejarah menunjukkan semakin merosotnya peran mayoritas negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika 1955 dalam konstelasi global. Seiring dengan bubarnya Uni Sovyet dan berakhirnya perang dingin, Bandung Spirit sebagai suatu gerakan yang kemudian mengkristal dalam Gerakan Non Blok (1961) pun semakin tersisih,” jelasnya.

Cengkeraman Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya menurutnya makin hegemonik ditandai pula dengan cengkeraman kapitalisme global dengan berbagai instrumennya baik melalui lembaga keuangan maupun organisasi perdagangan dunia.

“Negara-negara di Asia-Afrika yang mayoritasnya negara berkembang jatuh dalam perangkap imperialism atau neo-kolonialisme, politik perang minyak, serta perdagangan bebas. Semangat KAA (Bandung Spirit) makin ditinggalkan,” ujarnya.

Ia mengatakan, banyak di antara pemimpin-pemimpin negara berkembang (Selatan) menjadi abdi yang setia bagi kapitalisme global dan gagal menjadi agen perubahan sebagaimana semangat KAA 1955.

“Sebagai pengecualian, perkembangan di Amerika Latin memberi angin segar dengan bangkitnya semangat berdaulat, menolak dikte negara-negara yang lebh maju,” jelasnya.

Pada saat yang sama menurutnya, rakyat di negeri-negeri maju (developed country) atau jantung kapitalisme global itu juga mulai tercerahkan, dan bersikap kritis kepada pemerintahnya. Peristiwa demonstrasi besar-besaran anti globalisasi terjadi dalam berbagai forum ekonomi dunia, seperti pada pertemuan WTO di Seattle (November 1999), pertemuan G-8 di Montreal (November 2000), Genoa (Juli 2008), penyelenggaraan forum tandingan World Social Forum, dan lain sebagainya. Mereka menyuarakan tuntutan tatanan dunia baru yang lebih baik. Slogan “Another World is Possible”, “Globalise Resistance”, “Global Justice”, “Fair Trade not Free Trade” menyebar seperti wabah.

“Pada akhirnya ‘Let a new Asia and a new Africa be born’ begitu kata Bung Karno dalam pidatonya di depan peserta Konferensi Asia Afrika 60 tahun lalu. Kami, percaya bahwa seruan Bung Karno ini bisa diwujudkan apabila para pemimpin negara Selatan-Selatan teguh menjiwai Bandung Spirit,” tegasnya.

Peringatan KAA ke-60 sendiri mengambil tema “Penguatan Kerjasama Selatan-Selatan dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan dan Perdamaian Dunia”. Diperkirakan sebanyak 109 negara Asia dan Afrika, 16 negara pengamat dan 25 organisasi internasional berpartisipasi dalam acara penting tersebut.

Adapun rangkaian pertemuan ini akan diawali dengan pertemuan tingkat pejabat tinggi (Senior Official Meeting) pada tanggal 19 April 2015, diikuti oleh pertemuan tingkat menteri (Ministerial Meeting) pada 20 April dan pertemuan tingkat kepala negara (Leaders Meeting) pada 22—23 April 2015. Selain itu, Asia-Africa Business Summit akan diselenggarakan pada 21—22 April di Jakarta sebagai acara pendamping. (Enrico N. Abdielli)

KISAH CIA DAN KMT YANG BERUSAHA ‘MENGGAGALKAN’ KAA 1955 DI BANDUNG

 Detik.com
PERINGATAN 60 TAHUN KAA.
KISAH CIA DAN KMT YANG BERUSAHA ‘MENGGAGALKAN’ KAA 1955 DI BANDUNG

 

Sudrajat – detikNews,Senin, 20/04/2015 13:06 WIB

Kisah CIA dan KMT yang Berusaha Menggagalkan KAA 1955 di Bandung - 1
Foto ilustrasi.

Jakarta – Bandung, 21 April 1955. Konferensi Asia Afrika memasuki hari keempat. Di salah satu sudut ruangan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo menerima nota rahasia dari koleganya, Perdana Menteri Cina Zhou Enlai. Nota itu disampaikan melalui Sekjen Konferensi Roeslan Abdulgani.

Isinya, Zhou meminta perhatian pemerintah Indonesia karena berdasarkan laporan intelijen kedutaannya di Jakarta, ada gerak-gerik mencurigakan dari sekelompok orang Cina anggota Kuo Min Tang (KMT). Kou Min Tang (KMT) adalah lawan bebuyutan Partai Komunis Cina. Saat melawan pemerintah Cina, KMT disebut banyak mendapat dukungan dari dunia Barat.

Kembali ke nota untuk PM Ali Sastroamidjojo. Menurut nota resmi tersebut, tokoh-tokoh KMT dari seluruh Indonesia sudah berkumpul di suatu tempat di Bandung. “Mereka pura-pura mengunjungi pesta perkawinan dari anak salah satu pedagang besar Cina di Bandung,” tulis Ali di halaman 507 memoarnya, ‘Tonggak-tonggak di Perjalananku’.

Dalam pesta tersebut beberapa pistol dengan alat peredam dibagikan. Tujuannya adalah untuk membunuh Perdana Menteri Zhou Enlai.

Pemerintah Indonesia pun menindaklanjuti nota rahasia itu. Pasalnya keselamatan diri para anggota delegasi KAA menjadi tanggung jawab pemerintah RI.

Menteri Ali segera menggelar rapat dengan para penanggung jawab keamanan di Jawa Barat (Jabar). Hadir dalam rapat tersebut Gubernur Jabar Sanusi Hardjadinata, Jenderal AE Kawilarang, Kepala Polda, dan Kepala CPM Kolonel Rusli.

Ali menginstruksikan mereka untuk memperketat penjagaan keselamatan Zhou. Dia juga menginstruksikan supaya orang-orang Cina yang sedang berpesta itu diawasi polisi sedemikian rupa agar tidak bisa menjalankan gerak-gerik yang mencurigakan.

Selain Kou Min Tang, Amerika Serikat yang menyokong Chiang Kai Sek di Taiwan juga pernah merancang sebuah operasi untuk membunuh Zhou Enlai saat menghadiri KAA di Bandung.Rencana operasi oleh CIA itu baru terkuak pada 1977 ketika William Corson, purnawirawan perwira di korps marinir Amerika Serikat yang bertugas di Asia menerbitkan “Armies of Ignorance”. Dia mengidentifikasi target operasi CIA yang cuma disebut seorang “pemimpin Asia Timur” yang menghadiri KAA pada 1955 tak lain adalah Zhou Enlai.

Kisah lain tentang hubungan Sukarno dengan PM Zhou Enlai bisa dibaca di majalah detik edisi 177.

(erd/nrl)

60 TAHUN KAA, KISAH BUNG KARNO DAN DETIK-DETIK PEMBUKAAN

 

60 TAHUN KAA, KISAH BUNG KARNO DAN DETIK-DETIK PEMBUKAAN

 

 

60 Tahun KAA, Kisah Bung Karno dan Detik-detik Pembukaan

Foto Bung Karno bersama Bung Hatta karya Inen Rusnan, fotografer Konferensi Asia Afrika sekaligus saksi sejarah dinamika perkembangan Kota Bandung sejak tahun 1950an, dipamerkan di Gedung Indonesia Menggugat di Bandung (6/6). TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Bandung, Selasa, 07 April 2015 | 07:05 WIB – Sehari sebelum perhelatan Konferensi Asia-Afrika pada 18-24 April 1955, Presiden Sukarno bersama istrinya dan istri Bung Hatta terbang ke Bandung dengan pesawat Convair Garuda Indonesia Airways. Wakil Presiden Mohammad Hatta menyambut mereka di Bandara Husein Sastranegara. Setelah itu, rombongan menuju rumah dinas Gubernur Jawa Barat, lalu Sukarno berpidato tentang Pancasila di Gedung Varia Bandung.

Senin, 18 April 1955, pukul 08.50, Sukarno-Hatta berangkat dari rumah dinas Gubernur ke tempat konferensi di Gedung Merdeka. Di Hotel Savoy Homann, pukul 08.45, para ketua delegasi yang berkumpul di lobI hotel mulai berjalan kaki ke Gedung Merdeka dan menunggu di serambi muka. Pukul 09.00, lagu Indonesia Raya menyambut Sukarno-Hatta setelah turun dari mobil. Setelah mereka berkenalan dengan para ketua delegasi, upacara pembukaan resmi konferensi dimulai pukul 09.05.

Berdasarkan “Risalah Konferensi Asia-Afrika” catatan Dinas Pengawasan Keselamatan Negara Djawatan Kepolisian Negara 1 Juni 1955, acara pembukaan itu selesai pukul 10.30. Sukarno-Hatta dan istri masing-masing menuju Gubernuran, sementara para perdana menteri dan wakil ketua delegasi ke Hotel Homann. Sebelum tengah hari, Gedung Merdeka kembali kosong.

Dalam risalah tersebut juga diceritakan suasana serbameriah dengan warga yang berjejal di sepanjang jalan di sekitar Gedung Merdeka menjelang pembukaan konferensi. Di dalam gedung, ada 29 perwakilan negara yang duduk berderet sesuai dengan abjad, perwakilan luar negeri, anggota kabinet Indonesia, parlemen, dan ratusan wartawan dari luar dan dalam negeri.

Bendera negara peserta konferensi berderet di belakang meja ketua konferensi. Perlengkapan sidang ditata seperti di persidangan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tiap anggota delegasi bisa mengikuti pidato dengan terjemahan bahasa Inggris, Indonesia, atau Prancis dengan menggunakan perangkat yang disebut kop telepon.

“Para anggauta delagasi kebanjakan berpakaian setjara nasional, misalnya delegasi Filipina memakai pakaian Tagalognja dari serat nanas, demikian pula anggauta delegasi dari Liberia, Kambodja, Birma,” tulis petugas dalam risalah yang ditandatangani Kepala Bagian Dinas Pengawasan Keselamatan Negara Djawatan Kepolisian Negara R. Moch. Oemargatab itu.

Malam harinya, pada pukul 19.00-21.00, digelar acara resepsi di Gubernuran dengan tamu undangan ketua dan perwakilan delegasi. Setelah jamuan makan malam, sajian penutupnya berupa pertunjukan kesenian. Esok harinya, sidang komisi yang membahas politik, ekonomi, dan sosial-budaya berlangsung di ruang-ruang di dalam Gedung Merdeka serta Gedung Dwi Warna di Jalan Diponegoro. Hasilnya berupa Dasa Sila Bandung yang menjadi dasar sikap politik bebas-aktif gerakan negara Non-Blok.

ANWAR SISWADI

PIDATO SUKARNO YANG MENGGELEGAR DI PEMBUKAAN KAA

PIDATO SUKARNO YANG  MENGGELEGAR DI PEMBUKAAN KAA

Pidato Sukarno yang Menggelegar di Pembukaan KAA

Soekarno

TEMPO.CO, Bandung – Presiden Sukarno membuka Konferensi Asia Afrika pada 18 April 1955 di Gedung Merdeka, Bandung, dengan pidato berbahasa Inggris selama 40 menit. Diawali ucapan selamat datang kepada peserta dari 29 negara Asia-Afrika, Sukarno selanjutnya memaparkan kondisi dunia internasional dan imperialisme. Sukarno membakar semangat peserta konferensi untuk melawan penjajahan.

“Tuan-tuan tidak berkumpul di dunia yang damai, yang bersatu, dan yang bekerja bersama. Jurang-jurang besar dan curam mengganggu antara bangsa-bangsa dan golongan bangsa. Dunia kita yang malang ini terpecah belah, dan ternyata rakyat dari semua negeri berada dalam ketakutan, kalau-kalau di luar kesalahan mereka, serigala-serigala peperangan akan lepas lagi dari rantainya,” kata Sukarno.

Berdasarkan Risalah Konferensi Asia Afrika catatan Dinas Pengawasan Keselamatan Negara Djawatan Kepolisian Negara 1 Juni 1955, Sukarno kemudian mengingatkan kekuasaan imperialisme dulu yang membentang dari Selat Jibraltar, Lautan Tengah, Terusan Suez, Lautan Merah, Hindia, Tiongkok, hingga Lautan Jepang. Daratan sepanjang garis lautan itu merupakan tanah jajahan, rakyatnya tidak merdeka, dan hari depannya tergadaikan kepada sistem asing.

“Dan pada hari ini, di dalam gedung ini, berkumpul pemimpin-pemimpin bangsa yang tadi itu. Mereka bukan lagi menjadi mangsa kolonialisme. Mereka bukan lagi menjadi alat perkakas orang lain, dan bukan lagi alat permainan kekuasaan-kekuasaan yang tak dapat mereka pengaruhi. Today, you are representatives of free peoples, peoples of a different stature and standing in the world,” ujar Sukarno.

Singa podium itu menyebutkan berbagai perbedaan tiap bangsa, seperti latar sosial, budaya, asal mula negara, hingga warna kulit. “Mankind is united or divided by considerations other than these. Conflict comes not from variety of skins, nor from variety of religion, but from variety of desires.”

Sukarno lantas menekankan persatuan negara peserta yang hadir, berlandaskan kesamaan sikap dalam membenci kolonialisme, rasialisme, dan memperkokoh perdamaian dunia. Ia mengingatkan hadirin semua agar tidak terlena dan tertipu bahwa penjajahan telah mati. “I say to you, colonialism is not yet dead. How can we say it is dead, so long as vast areas of Asia and Africa are unfree.”

“And I beg of you, do not think of colonialism only in the classic form which we of Indonesia, and our brothers in different parts of Asia and Africa, know. Colonialism has also its modern dress, in the form of economic control, intellectual control, actual physical control by a small but alien community within a nation.”

ANWAR SISWADI

GUA PRASEJARAH DI INDONESIA INI UNGKAP KEHIDUPAN BERSEJARAH MANUSIA

VIVAnews ForumsFri, 27 Mar 2015 | 20:41 WIB

Gua Prasejarah Di Indonesia Ini Ungkap Kehidupan Bersejarah Manusia


Quote:
Liang Bua merupakan peninggalan pra sejarah di Indonesia. Gua ini adalah salah satu dari banyak gua karst di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur di Indonesia. Gua ini terletak di Dusun Rampasasa, Desa Liangbua, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur. dan merupakan tempat penemuan makhluk mirip manusia (hominin) baru yang dinamakan Homo floresiensis pada tahun 2001. Liang Bua dalam bahasa Manggarai berarti “gua/lubang sejuk”

Situs Gua Liang Bua adalah salah satu situs arkeologi penting dunia. Di situs inilah ditemukan fosil Homo Floresiensis atau Manusia Flores. Tinggi badan manusia Flores sekitar 100 cm dan beratnya hanya 25 kg.

Tengkorak manusia kerdil ini ditemukan seukuran buah jeruk dan diperkirakan hidup 13.000 tahun lalu. Mereka hidup bersama-sama dengan gajah-gajah pigmi dan kadal-kadal raksasa seperti komodo.

Gua Liang Boa terletak di Pulau Flores, tepatnya di Dusun Rampasasa, Desa Liang Bua, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Secara geologi, gua ini merupakan bentukan endokars yang berkembang pada batu gamping yang berselingan dengan batu gamping pasiran. Batuan gamping ini diperkirakan berasal dari periode Miosen tengah atau sekitar 15 juta tahun yang lampau. Kawasan kars di NTT ini, sebagaimana kawasan kars di tempat lain di Indonesia, juga memiliki ciri-ciri khusus yang berlainan dengan kawasan kars lainnya.

Liang Bua dan gua-gua lainnya sekawasan telah digali secara arkeologi sejak tahun 1930-an. Temuan-temuan dari masa ini dibawa ke Leiden, Belanda. Penggalian dan penelitian dilanjutkan oleh tim pimpinan H.R. van Heekeren pada tahun 1950-an, lalu diteruskan oleh Th. Verhoeven, seorang pendeta Katolik. Timnya menemukan antara lain rangka sangat pendek (tetapi tidak katai) di Liang ****, di samping tulang-tulang di Liang Bua, Liang Momer, dan lain-lain. Kerangka-kerangka ini adalah H. sapiens.

Quote:
Para arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) sejak tahun 1976 sudah melakukan penelitian secara intensif di Liang Bua. Menjelang akhir tahun 1970-an, tim yang diketuai Prof. Dr. Raden Panji Soejono itu bahkan telah mendapatkan temuan “spektakuler” berupa tengkorak manusia dan kerangka tubuh manusia dewasa. Bersamaan dengan itu ditemukan pula kuburan manusia purba, lengkap dengan bekal kuburnya yang masih relatif utuh. Juga ditemukan lapisan budaya berupa berbagai artefak yang diyakini sebagai sisa pendukung keberadaan mereka.

Hanya saja, ketika itu para arkeolog Indonesia belum memiliki alat dan kemampuan yang memadai untuk membuat suatu kesimpulan yang agak menyeluruh. Hanya dikatakan bahwa ras manusia yang tinggal di sana paling tidak berasal dari sekitar 10.000 tahun lalu.

Karena ketiadaan biaya, penelitian pun sempat terhenti. Tahun-tahun berikutnya, hingga tahun 1989, penelitian cenderung bersifat sporadis. “Untuk melakukan penelitian di Liang Bua butuh biaya cukup besar. Dengan anggota tim sebanyak 18 orang, ketika itu kami harus naik Dakota ke Flores, setelah singgah di Denpasar dan Kupang. Belum lagi biaya untuk kebutuhan lain,” ujar Soejono.

Di tengah ketiadaan dana, tahun 2001, datang tawaran kerja sama dari Australia. Mike Morwood dari University of New England memimpin tim dari Australia, sedangkan RP Soejono bertindak sebagai ketua tim dari Puslit Arkenas. Setelah melakukan serangkaian ekskavasi, September 2003, tim gabungan ini berhasil mendapatkan temuan menghebohkan itu: si hobbit dari Liang Bua!

Peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian di sana adalah A.A. Sukadana, ahli antropologi ragawi dari Universitas Airlangga, pada tahun 1960-an menemukan pula sisa-sisa manusia termasuk rahang bawah, di Liang Bua. Dari tahun 1978-1989, Prof. R. Panji Soejono menemukan antara lain tulang paha di Liang Bua. Sisa-sisa kerangka dari periode awal hingga terakhir tersimpan di Leiden, London, Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, dan Flores. Penelitian selanjutnya dihentikan karena tidak ada pendanaan. Penelitian baru berlanjut setelah ada kerja sama antara Puslit Arkenas (dipimpin R.P. Soejono) dan Universitas New England, Australia (dipimpin Mike Morwood).

Pada bulan September 2003 ditemukan kerangka unik yang kemudian diidentifikasi sebagai H. floresiensis. Bersamaan dengan manusia purba itu ditemukan pula perkakas batu yang dikenal telah digunakan oleh Homo erectus (seperti yang ditemukan di Sangiran) serta sisa-sisa tulang Stegodon (gajah purba) kerdil, biawak raksasa, serta tikus besar.

Pra Sejarah Indonesia

Indonesia pada periode prasejarah mencakup suatu periode yang sangat panjang, kira-kira sejak 1,7 juta tahun yang lalu, berdasarkan temuan-temuan yang ada. Pengetahuan orang terhadap hal ini didukung oleh temuan-temuan fosil hewan dan manusia (hominid), sisa-sisa peralatan dari batu, bagian tubuh hewan, logam (besi dan perunggu), serta gerabah.

Secara geologi, wilayah Indonesia modern merupakan pertemuan antara tiga lempeng benua utama: Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Kepulauan Indonesia seperti yang ada saat ini terbentuk pada saat melelehnya es setelah berakhirnya Zaman Es, hanya 10.000 tahun yang lalu.

Pada masa Pleistosen, ketika masih terhubung dengan Asia Daratan, masuklah pemukim pertama. Bukti pertama yang menunjukkan penghuni pertama adalah fosil-fosil Homo erectus manusia Jawa dari masa 2 juta hingga 500.000 tahun lalu. Penemuan sisa-sisa “manusia Flores” (Homo floresiensis) di Liang Bua, Flores, membuka kemungkinan masih bertahannya H. erectus hingga masa Zaman Es terakhir.

Quote:
Homo sapiens pertama diperkirakan masuk ke Nusantara sejak 100.000 tahun yang lalu melewati jalur pantai Asia dari Asia Barat, dan pada sekitar 50.000 tahun yang lalu telah mencapai Pulau Papua dan Australia. Mereka, yang berciri rasial berkulit gelap dan berambut ikal rapat (Negroid), menjadi nenek moyang penduduk asli Melanesia (termasuk Papua) sekarang dan membawa kultur kapak lonjong (Paleolitikum). Gelombang pendatang berbahasa Austronesia dengan kultur Neolitikum datang secara bergelombang sejak 3000 SM dari Cina Selatan melalui Formosa dan Filipina membawa kultur beliung persegi (kebudayaan Dongson). Proses migrasi ini merupakan bagian dari pendudukan Pasifik. Kedatangan gelombang penduduk berciri Mongoloid ini cenderung ke arah barat, mendesak penduduk awal ke arah timur atau berkawin campur dengan penduduk setempat dan menjadi ciri fisik penduduk Maluku serta Nusa Tenggara. Pendatang ini membawa serta teknik-teknik pertanian, termasuk bercocok tanam padi di sawah (bukti paling lambat sejak abad ke-8 SM), beternak kerbau, pengolahan perunggu dan besi, teknik tenun ikat, praktek-praktek megalitikum, serta pemujaan roh-roh (animisme) serta benda-benda keramat (dinamisme). Pada abad pertama SM sudah terbentuk pemu****n-pemu****n serta kerajaan-kerajaan kecil, dan sangat mungkin sudah masuk pengaruh kepercayaan dari India akibat hubungan perniagaan.[]

SEJARAH NASIONALISME PECI UNTUK BANGSA INDONESIA

VIVAnews ForumsFri, 27 Mar 2015 | 20:36 WIB
SEJARAH Nasionalisme Peci Untuk Bangsa Indonesia

Peci bukan hanya identitas agama tapi simbol nasionalisme. Ia juga bukan milik Indonesia semata.

PEMUDA itu masih berusia 20 tahun. Dia tegang. Perutnya mulas. Di belakang tukang sate, dia mengamati kawan-kawannya, yang menurutnya banyak lagak, tak mau pakai tutup kepala karena ingin seperti orang Barat. Dia harus menampakkan diri dalam rapat Jong Java itu, di Surabaya, Juni 1921. Tapi dia masih ragu. Dia berdebat dengan dirinya sendiri.

“Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?”

“Aku seorang pemimpin.”

“Kalau begitu, buktikanlah,” batinnya lagi. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat… Sekarang!”

Setiap orang ternganga melihatnya tanpa bicara. Mereka, kaum intelegensia, membenci pemakaian blangkon, sarung, dan peci karena dianggap cara berpakaian kaum lebih rendah. Dia pun memecah kesunyian dengan berbicara: ”…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”

Quote:
Itulah awal mula Sukarno mempopulerkan pemakaian peci, seperti dituturkannya dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams. Sukarno menyebut peci sebagai “ciri khas saya… simbol nasionalisme kami.” Sukarno mengkombinasikan peci dengan jas dan dasi. Ini, menurut Sukarno, untuk menunjukkan kesetaraan antara bangsa Indonesia (terjajah) dan Belanda (penjajah).

Sejak itu, Sukarno hampir selalu mengenakan peci hitam saat tampil di depan publik. Seperti yang dia lakukan saat membacakan pledoinya “Indonesia Menggugat” di Pengadilan Landraad Bandung, 18 Agustus 1930. Dan peci kemudian menjadi simbol nasionalisme, yang mempengaruhi cara berpakaian kalangan intelektual, termasuk pemuda Kristen.

Quote:
Karena itulah, George Quinn dalam The Learner’s Dictionary of Today’s Indonesia, mendefinisikan cap (peci) dengan mengambil contoh Sukarno: Soekarno sat in the courtroom wearing white trousers, a white jacket and a black cap (Sukarno duduk di pengadilan, memakai celana putih, jas putih, dan peci hitam).

Sebenarnya Sukarno bukanlah intelektual yang kali pertama menggunakan peci. Pada 1913, rapat SDAP (Sociaal Democratische Arbeiders Partij) di Den Haag mengundang tiga politisi, yang kebetulan lagi menjalani pengasingan di Negeri Belanda: Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Ki Hajar Dewantara. Ketiganya menunjukkan identitas masing-masing. Ki Hajar menggunakan topi fez Turki berwarna merah yang kala itu populer di kalangan nasionalis setelah kemunculan gerakan Turki Muda tahun 1908 yang menuntut reformasi kepada Sultan Turki. Tjipto mengenakan kopiah dari beludru hitam. Sedangkan Douwes Dekker tak memakai penutup kepala. Tampaknya Sukarno mengikuti jejak gurunya, lebih memilih peci beludru hitam.

Pengaruh Sukarno begitu luas. Pada pertengahan 1932, Partindo melancarkan kampanye yang diilhami gerakan swadesi di India, dengan menyerukan agar rakyat hanya memakai barang-barang bikinan Indonesia. Orang-orang mengenakan pakaian dari bahan hasil tenunan tangan sendiri yang disebut lurik, terutama untuk peci –sebagai pengganti fez– yang dikenakan umat Muslim di Indonesia. Peci lurik ini mulai terlihat dipakai terutama dalam rapat-rapat Partindo. “Tapi Bung Karno tak pernah memakainya. Dia tetap memakai peci beludru hitam, yang bahannya berasal dari pabrik di Italia,” tulis Molly Bondan dalam Spanning A Revolution.

Sebenarnya, dari mana asal peci? Sukarno menyebut peci asli milik rakyat kita mirip dengan yang dipakai para buruh bangsa Melayu. Belum ada data penggunaan peci di kalangan buruh. Di Indonesia orang menyebutnya peci. Orang Melayu di Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan selatan Thailand, dan sebagian Indonesia menyebutnya songkok.

Menurut Rozan Yunos dalam “The Origin of the Songkok or Kopiah” dalam The Brunei Times, 23 September 2007, songkok diperkenalkan para pedagang Arab, yang juga menyebarkan agama Islam. Pada saat yang sama, dikenal pula serban atau turban. Namun, serban dipakai oleh para cendekiawan Islam atau ulama, bukan orang biasa. “Menurut para ahli, songkok menjadi pemandangan umum di Kepulauan Malaya sekitar abad ke-13, saat Islam mulai mengakar,” tulis Rozan.

Asal songkok menimbulkan spekulasi karena tak lagi terlihat di antara orang-orang Arab. Di beberapa negara Islam, sesuatu yang mirip songkok tetap populer. Di Turki, ada fez dan di Mesir disebut tarboosh. Fez berasal dari Yunani Kuno dan diadopsi oleh Turki Ottoman. Di Istanbul sendiri, topi fez ini juga dikenal dengan nama fezzi atau phecy. Di Asia Selatan (India, Pakistan, dan Bangladesh) fez dikenal sebagai Roman Cap (Topi Romawi) atau Rumi Cap (Topi Rumi). Ini menjadi simbol identitas Islam dan menunjukkan dukungan Muslim India atas kekhalifahan yang dipimpin Kekaisaran Ottoman.

“Menurut beberapa ahli, ini adalah tutup kepala yang merupakan pendahulu songkok di Asia Tenggara,” tulis Rozan.

Peci tampaknya sudah dikenal di Giri, salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa. Ketika Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di madrasah Giri, dia kembali ke Ternate dengan membawa kopiah atau peci sebagai buah tangan. “Peci dari Giri dianggap magis dan sangat dihormati serta ditukar dengan rempah-rempah, terutama cengkeh,” tulis Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia III.

Peci kemudian menjadi penanda sosial seperti penutup kepala lainnya yang saat itu sudah dikenal seperti kain, turban, topi-topi Barat biasa, dan topi-topi resmi dengan bentuk khusus. Pemerintah kolonial kemudian berusaha mempengaruhi kostum lelaki di Jawa. Jean Gelman Taylor, yang meneliti interaksi antara kostum Jawa dan kostum Belanda periode 1800-1940, menemukan bahwa sejak pertengahan abad ke-19, pengaruh itu tercermin dalam pengadopsian bagian-bagian tertentu pakaian Barat. Pria-pria Jawa yang dekat dengan orang Belanda mulai memakai pakaian gaya Barat. Menariknya, blangkon atau peci tak pernah lepas dari kepala mereka.

“Kostum tersebut berupa setelan ditambah dengan penutup kepala batik atau peci saat wisuda dari sekolah-sekolah Belanda…,” tulis Taylor, “Kostum dan Gender di Jawa Kolonial tahun 1800-1940” yang termuat dalam Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan.

Menurut Denys Lombard, Barat sangat sedikit mempengaruhi tutup kepala orang Jawa. Topi Eropa sama sekali tak populer. Demikian pula topi gaya kolonial (yang populer di Vietnam). Kuluk atau tutup kepala berbentuk kerucut terpotong tanpa pinggiran, yang dikenakan para priayi, dapat dikatakan hilang dari kebiasaan, dan kain tutup kepala yang dililitkan dengan berbagai cara (ikat kepala, blangkon, destar, serban) makin lama main jarang.

Quote:
“Tutup kepala yang paling lazim digunakan adalah peci atau kopiah yang terbuat dari beludru hitam, yang semula merupakan salah satu bentuk kerpus Muslim. Setelah diterima oleh Sukarno dan PNI sebagai lambang nasionalisme, peci mempunyai makna lebih umum,” tulis Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya.

Kini, peci dipakai dalam acara-acara resmi kenegaraan maupun keseharian umat Muslim di Indonesia seperti upacara perkawinan, lebaran, atau ibadah salat. Di Malaysia dan Brunei, songkok dipakai tentara dan polisi pada upacara-upacara tertentu. Pada 19 Juni 2008, anggota dewan DAP Gwee Tong Hiang disingkirkan dari Dewan Majlis Johor karena tak mematuhi aturan pakaian resmi dan songkok.[]

AKADEMISI: SEJARAH INDONESIA PERLU DIJADIKAN PELAJARAN WAJIB

AKADEMISI: SEJARAH INDONESIA PERLU DIJADIKAN PELAJARAN WAJIB

 

Rabu, 25 Maret 2015 21:56 WIB
Pewarta: Bambang Sutopo Hadi
Yogyakarta (ANTARA News) – Sejarah Indonesia perlu dijadikan mata pelajaran wajib di tingkat sekolah menengah atas/madrasah aliyah dan sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan, kata seorang akademisi.

“Hal itu perlu dilakukan mengingat betapa pentingnya pendidikan sejarah bagi pembentukan karakter dan kepribadian bangsa,” kata dosen Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sardiman di Yogyakarta, Rabu.

Pada seminar dan lokakarya bertema “Penguatan Mata Pelajaran Sejarah”, ia mengatakan Kurikulum 2013 yang memposisikan sejarah sebagai pelajaran wajib, penting, dan bermakna serta sebagai kurikulum perekat bangsa merupakan kebijakan yang tepat.

“Oleh karena itu, Kurikulum 2013 perlu diteruskan secara nasional dan bertahap. Kurikulum 2013 harus disosialisasikan secara sistemik dan sistematik kepada seluruh guru sehingga tingkat pemahaman dan pelaksanaan dapat diserap secara optimal,” katanya.

Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah FIS UNY Nurokhman mengatakan pendidikan sejarah perlu diperkuat sebagai elemen penting dalam membangun karakter bangsa.

“Pemerintah secara periodik wajib menyiapkan pelatihan dan penyegaran untuk guru sejarah dengan narasumber dan instruktur yang sesuai dengan kompetensi sebagai pendidik sejarah,” katanya.

Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah SMA DIY Tri Lestari mengatakan dalam Kurikulm 2013 perlu pedoman sistem penilaian yang sederhana sehingga mudah dipahami guru sejarah.

Selain itu juga perlu disiapkan “software” secara matang berkaitan dengan pengisian rapor/laporan capaian kompetensi yang baku standar nasional dengan memberikan fleksibilitas sesuai dengan karakteristik sekolah masing-masing.

“Pemerintah diharapkan segera melengkapi instrumen dan perangkat pendidikan sejarah untuk pelaksanaan Kurikulum 2013,” katanya.

Selain itu juga perlu adanya sinergi antara Jurusan Pendidikan Sejarah dengan MGMP dan Dinas Pendidikan dalam pelatihan dan pembimbingan guru sejarah.

“Sinergi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dan pemangku kepentingan menyangkut sosialisasi dan operasional Kurikulum 2013 secara komprehensif pada tingkat pelaksanaan juga diperlukan,” katanya.

Editor: Tasrief Tarmizi

Sumber: http://www.antaranews.com/berita/487375/akademisi-sejarah-indonesia-perlu-dijadikan-pelajaran-wajib

MENGINTIP JEJAK SEJARAH DI BENTENG DUURSTEDE AMBON LEBIH DEKAT

MENGINTIP JEJAK SEJARAH DI BENTENG DUURSTEDE AMBON LEBIH DEKAT

http://ambonekspres.com/2015/03/20/mengintip-jejak-sejarah-di-benteng-duurstede-ambon-lebih-dekat/

 

20 March, 2015

https://i2.wp.com/ambonekspres.com/wp-content/uploads/2015/03/444444444444444442.jpg

Pesona Manise

PULAU Saparua adalah sebuah pulau kecil sekaligus sebuah kecamatan yang terletak di dalam wilayah Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Pulau ini juga merupakan sebuah kecamatan yang bernama Kecamatan Saparua , dengan Ibukotanya Saparua.

Kota Saparua merupakan sebuah kota kecil yang berkembang pesat dengan berbagai potensi seperti  perdagangan dan pendidikan. Saparua juga  memiliki banyak objek wisata. Mulai dari air terjun maupun objek wisata yang bernilai sejarah, yakni Benteng Duurstede.

Zamrud Palijama, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Ambon, dalam tulisannya menyatakan sangat tertarik dengan sejarah benteng yang pertama kali dibangun oleh Portugis pada tahun 1676 ini.  Tapi,benteng ini ungkap Palijama, direbut dan dimanfaatkan serta dibangun kembali oleh Gubernur Ambon Mr. N. Schaghen pada tahun 1691. Benteng Duurstede berfungsi sebagai bangunan pertahanan serta pusat pemerintahan VOC selama menguasai wilayah Saparua.

Pada 16 Mei 1817, benteng ini diserbu oleh rakyat Saparua dibawah pimpinan Kapitan Pattimura. Seluruh penghuni benteng tewas kecuali putra Residen yang bernama Juan Van Den Berg. Jatuhnya benteng Duurstede ditangan rakyat Maluku mengakibatkan kedudukan VOC di Ambon dan Batavia goncang. Oleh karena itu, VOC memusatkan perhatiannya untuk merebut kembali benteng.

Segala usaha telah dilakukan VOC diantarannya adalah mengirim bantuan tentara dan persenjataan perang. Namun demikian, setiap penyerangan tersebut selalu gagal. Situasi ini mendorong VOC bertindak lebih agresif. Gubernur van Middelkoop terpaksa meminta bantuan kepada Raja Ternate dan Tidore.

Pada bulan November 1817, VOC mengirimkan armada yang berjumlah 1500 orang atas sumbangan dari Raja Ternate dan Tidore tentunya. Penyerbuan ini dipimpin oleh Komisari Jendral A. A Buyskers. Strategi yang dilakukan oleh Buyskers adalah menguasai pulau-pulau di sekitar Saparua, dan selanjutnya menguasai daerah kekuasaan Pattimura.

Strategi tersebut ternyata cukup berhasil. Pattimura beserta pasukannya terdesak ke hutan sagu dan pegunungan, hingga akhirnya Kapitan Pattimura beserta tiga orang panglima berhasil ditangkap. Mereka dijatuhi hukuman mati yang dilaksanakan di benteng Nieuw Victoria. (HIR)

TUJUH GOLONGAN MASYARAKAT DI ZAMAN WALI SONGO

ISLAM NUSANTARA

Ini Tujuh Golongan Masyarakat di Zaman Wali Songo

Menurut Sejarawan NU, Agus Sunyoto, pada zaman Walisongo terdapat tujuh struktur atau golongan masyarakat yang ditetapkan secara unik. Golongan tersebut diukur dari keterikatan seseorang dengan kebutuhan duniawi. Makin kuat keterikatan dengan materi duniawi, posisi seseorang paling rendah. Sementara orang yang tak memiliki keterikatan dengan duniawi, posisinya paling atas.

“Itulah golongan Brahmana. Mereka ini tinggal di hutan, di pertapaan, tidak pula punya kekayaan pribadi. Nah, mereka menempati posisi paling tinggi,” ujar Agus di hadapan para dosen Pascsarjana STAINU Jakarta.

Yang kedua, lapisan Ksatria. Golongan orang yang tidak diperbolehkan memiliki kekayaan pribadi tapi kehidupannya dijamin oleh institusi negara. “Waktu itu sudah ada istilah korupsi, korupsi itu kan mengumpulkan harta untuk pribadi. Ini ndak boleh ada,” tegasnya.

“Jadi, kalau ada ksatria punya kekayaan pribadi disebut ksatria panten: ksatria yang jatuh martabatnya. Dia tidak boleh dilayani. Kalau perlu dikucilkan. Karena dia abdi negara kok punya kekayaan pribadi, ndak boleh,” ungkap Agus.

Ketiga, lapisan Waisya. Itu golongan petani. Dia memiliki tugas menumbuhkan tanaman makanan untuk manusia. “Dia lebih rendah. Kenapa? Karena sudah punya rumah, sawah, dan ternak,” tuturnya.

Keempat, lanjut Agus, golongan Sudra. Siapa mereka? Menurut kitab Salokantara dan Nawanadya, yang dimaksud kaum Sudra itu ada beberapa kalangan: (1) saudagar. Orang yang memiliki kekayaan lebih. Pikirannya selalu tentang keuntungan. Lalu (2), rentenir (orang yang membungakan uang). Kemudian (3), orang yang meminjamkan perhiasan, pakaian, termasuk juga tuan tanah dan pemilik aneka kekayaan lainnya.

“Jadi, makin besar kekayaan seseorang, makin rendah kedudukannya. Mungkin konglomerat sekarang zaman dulu disebut Mahasudra. Karena kekayaannya berlebihan,” selorohnya disambut derai tawa para dosen Pascasarjana STAINU Jakarta.

Kelima, golongan Candala. Yakni orang yang hidup dari membunuh makhluk lain. “Jagal, pemburu, itu masuk di sini. Bahkan, aparat negara yang bergelar Singanegara dan Singamenggala, yaitu algojo yang membunuh pelanggar aturan pun masuk golongan ini,” paparnya.

Urutan berikutnya, keenam ada golongan Mleca. Yaitu semua orang asing yang bukan pribumi dan saudagar. Itu salah satu sebab Islam tidak mudah diterima masyarakat waktu itu. “Yang bawa Islam ke sini kan orang asing, dan saudagar yang sudra. Rangkep sudah. Jadi, pribumi ndak mau nerima,” tandasnya.

Nah, yang paling bawah atau ketujuh adalah golongan Tuja. Mereka yang hidupnya selalu merugikan masyarakat. Siapa mereka? Disebutkan riil, mereka adalah para penipu, pencuri (maling), perampok, begal, dan sejenisnya. “Pokoknya yang selalu merugikan orang lain. Koruptor masuk di sini,” tegasnya.

Walisongo itu Brahmana

Menurut Agus, para Walisongo menempati posisi Brahmana. Para sunan tersebut dianggap masyarakat sebagai orang suci. Oleh karena itu, Islam dengan mudah diterima penduduk. “Jadi, kalau ada teori bahwa Islam disebarkan oleh para saudagar, ndak masuk akal itu. Karena saudagar itu orang Sudra,” tandasnya.

Orang Sudra, lanjut Agus, tidak memiliki otoritas bicara soal agama. Karena ada aturan yang disepakati masyarakat waktu itu. “Jadi, yang boleh bicara tentang agama itu hanya Brahmana. Kalau Sudra yang cara berpikirnya keuntungan materi bicara agama, bisa jadi barang dagangan nanti,” ujarnya.

Jika ditarik ke era kekinian, menurut Agus, kiai merupakan gelar kebangsawanan brahmana. Bahkan, zaman Majapahit sudah ada gelar tersebut. Hingga zaman Mataram, orang yang tidak bergelar kiai tidak boleh mengajar. “Nggak boleh orang biasa menggunakan gelar kebangsawanan itu. Apalagi mengajar atau mendidik,” tandasnya. []

(Musthofa Asrori/Fathoni)

Sumber: NU Online


http://harian-oftheday.blogspot.com/

“…menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama…”
__._,_.___
________________________________________
Posted by: Ananto <pratikno.ananto@gmail.com>
________________________________________

TOKOH-TOKOH LEGENDARIS DARI NEGERI CINA

TOKOH-TOKOH LEGENDARIS DARI NEGERI CINA
Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?
(QS. AL MU’MINUN:105)
In: Blog Madrasah Kita, Minggu, 09 Mei 2010

 
WONG FEI HUNG SEORANG PENDEKAR DAN TABIB MUSLIM?

 

https://jurnaltoddoppuli.files.wordpress.com/2015/02/1e10d-11967440090.jpg?w=480
Sudah banyak orang yang tahu bahwa tokoh bahari legendaris asal Cina, Sam Poo Kong alias Muhammad Cheng Ho adalah seorang Muslim. Namun nampaknya masih banyak yang belum tahu bahwa masih banyak tokoh China legendaris yang ternyata beragama Islam. Dua di antaranya ialah Wong Fei Hung dan Judge Bao.
Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?
Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.
Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Alah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amin.

 
ZHU YUANZHANG KAISAR MUSLIM?

 

 

https://i2.wp.com/i292.photobucket.com/albums/mm17/BangNonki/Madrasah/81576200.jpg
Anda kenal Cheng Ho alias Zheng He alias Sam Poo Kong? Cheng Ho adalah tokoh Muslim Cina legendaris yang juga Panglima Angkatan Laut Cina di zaman Dinasti Ming. Ia disebut-sebut telah melakukan 7 kali pelayaran mengelilingi dunia. Masa pemerintahan Dinasti Ming di Cina adalah masa yang sangat menarik dan dapat dikatakan sebagai masa kejayaan Islam di Cina. Pada masa pemerintahan Dinasti Ming ini, banyak pejabat negara dan anggota keluarga kerajaan yang beragama Islam.

Banyak indikasi yang kuat juga menunjukan bahwa para Kaisar Dinasti Ming adalah para pemeluk Islam. Apa dan siapa sebenarnya Dinasti Ming? Jauh sebelum Dinasti Ming berdiri, pada pertengahan abad ke-12 Masehi, pasukan Mongolia di bawah pimpinan Jenghis Khan berhasil menaklukkan Khilafah Islam Abbasiyah di Baghdad. Pasukan Mongol juga berhasil menaklukkan Dinasti Sung di Cina. Saat itu, Pasukan Mongol berhasil menganeksasi wilayah yang membentang dari Gurun Gobi hingga Polandia. Ketika itu, di Cina sudah banyak penduduk yang memeluk agama Islam sejak zaman Dinasti Tang (Dinasti sebelum Sung). Populasi penduduk Muslim yang menetap di Cina kemudian semakin bertambah karena banyak muslim asal Arab dan Asia Tengah yang tertawan dan dibawa ke Cina oleh pasukan Mongol. Anak-cucu Jenghis Khan kemudian memerintah Cina dan mendirikan Dinasti Yuan (Guan).

Dinasti Yuan ini pernah mengirimkan pasukan untuk menaklukan Jawa (Kerajaan Singasari) atas perintah Kubilai Khan, cucu dari Jenghis Khan. Pasukan itu gagal menaklukan Jawa karena berhasil dipecundangi oleh pasukan Raden Wijaya yang kemudian menjadi Raja Majapahit pertama. Pemerintahan Mongol (Yuan) ini menjalankan politik diskriminasi yang membagi penduduk di Tiongkok kedalam tiga golongan yang terpolarisasi. Golongan atau hirarki pertama dan teratas adalah orang Mongol sendiri, golongan kedua yang setara dengan orang Mongol adalah penduduk Muslim yang berasal dari Arab dan Asia Tengah, dan golongan ketiga adalah bangsa Han atau bangsa Cina asli. Pada zaman Dinasti Yuan, Orang-orang Muslim dari Asia Tengah ini menduduki posisi dan jabatan penting dalam pemerintahan.
Sementara, pemerintahan Dinasti Yuan sendiri sangat korup dan mengeksploitasi para penduduk bangsa Han. Mereka mengenakan pajak yang tinggi. Situasi ini memicu kebencian bangsa Han terhadap orang-orang Islam. Tetapi situasi ini tidak berlangsung lama. Para penduduk Muslim pendatang tersebut akhirnya berhasil mengasimilasikan diri dengan bangsa Han dan mengadaptasi adat istiadat dan kebudayaan setempat sejauh tidak bertentangan dengan ajaran agama. Proses persatuan bangsa Han dan penduduk uslim pendatang itu kemudian berbalik menjadi mata pisau yang tajam dan mengarah kepada bangsa penjajah Mongol. Ketika berbagai pemberontakan terhadap kekuasaan Dinasti Yuan meletus, banyak di antara pemimpin pemberontakan atau orang-orang yang berperan penting di dalam pemberontakan merupakan orang-orang Islam.
Puncak perlawanan kepada Dinasti Yuan terjadi di tahun 1368, saat kekuasaan Dinasti Yuan di Cina pun tumbang. Kemudian, bangsa Han, bersama-sama dengan orang Islam mendirikan Dinasti Ming dengan mengangkat Zhu Yuanzhang sebagai Kaisar pertama dinasti itu. Zhu Yuanzhang (1328-1398) bukanlah seorang bangsawan. ia berasal dari kalangan jelata.yang miskin. Dia sangat dikagumi sekaligus juga dicerca. Ia dikagumi karena mampu mengusir penguasa atau penjajah asing dan memulihkan kekuasaan Cina di bawah naungan bangsa Han. Zhu Yuanzhang juga diakui telah banyak membangun Cina setelah dilanda peperangan yang panjang. Ia memperbaiki kanal yang terbengkalai dan rusak, menggalakkan sektor pertanian, menghijaukan kembali hutan-hutan yang gundul, melanjutkan pembangunan kembali Tembok Besar (Great Wall). Namun ia juga dicerca karena gaya pemerintahannya yang dijalankan dengan tangan besi, tirani, dan despotik. Tak pernah diketahui dengan jelas siapa sebenarnya Zhu Yuanzhang. Apakah ia seorang Muslim atau tidak telah menjadi bahan perdebatan yang hangat antara fakta dan spekulasi. Saya sendiri cenderung percaya bahwa Zhu Yuanzhang adalah seorang Muslim. Sekurangnya ada enam alasan mengapa Zhu Yuanzhang pantas diyakini sebagai pemeluk Islam.

Alasan pertama, Zhu Yuanzhang dilahirkan di Anhui, tempat di mana banyak orang Islam tinggal. Pada zaman itu, hampir semua penduduk Anhui adalah orang Islam. Jadi kemungkinan Zhu Yuanzhang tidak beragama Islam sangat kecil sekali. Kalaupun benar, pengaruh Islam yang kuat dari lingkungannya akan sangat membekas dan bukan tak mungkin membuatnya beralih keyakinan (seperti proses pada alasan keenam di bawah).

Alasan kedua, diketahui bahwa permaisuri Zhu Yuanzhang, Ratu Ma, adalah seorang Hui (muslim) yang berasal dari daerah yang sama dengannya yaitu Anhui. Zhu Yuanzhang sendiri memiliki 38 selir, tetapi Ratu Ma adalah istri yang paling disayanginya dan sangat berpengaruh. Saat Ratu Ma meninggal tahun 1382, Zhu Yuanzhang merasa sangat terpukul. Peristiwa inilah yang ditengarai menjadi penyebab mengapa perilakunya menjadi lebih irrasional dan tidak dapat diprediksi. Ketika Zhu Yuanzhang meninggal pada tahun 1398, dia dimakamkan disamping makam istrinya ini di Nanjing (Ming Xiaoling Mausoleum), [Jiangsu (Chronicle of the Chinese Emperors, Ann Paludin)]. Seperti kita ketahui, seorang perempuan Muslim dilarang menikah dengan orang kafir dan orang-orang Hui sangat menjaga hal ini dengan ketat. Tidak mungkin keluarga Ratu Ma mau menikahkannya dengan seorang yang bukan Muslim.

Alasan ketiga, ketika Zhu Yuanzhang berhasil merebut Nanjing, yang dijadikannya sebagai ibukota dinasti Ming (sebelum dipindahkan ke Beijing), dia memberikan instruksi untuk membangun sebuah Masjid Raya yang bernama “Jing Jue”, dan di Masjid ini terdapat sebuah pahatan syair yang dibuat untuk dedikasi Masjid tersebut.

Alasan keempat, banyak prajurit dan Jenderal yang berjuang bersamanya untuk menggulingkan dinasti Yuan dan mendirikan dinasti Ming yag beragama Islam. Jenderal Chang Yuchun, Hu Dahai, Mu Ying, Lan Yu, Feng Sheng yang menjadi inti kekuatan pasukannya adalah jenderal-jenderal yang beragama Islam. Selain itu, banyak di antara tentara Yuan yang menyerahkan diri adalah orang Muslim yang pindah dan menetap di ibukota Nanjing tersebut, sehingga populasi orang Muslim di Nanjing sejak itu bertambah jumlahnya.

Alasan kelima, orang-orang suku Hui di Cina meyakini bahwa Zhu Yuanzhang adalah seorang Muslim. Setidaknya ia seorang Muslim dalam kehidupan pribadinya. Seorang pakar sejarah Cina terkemuka , Prof. Bai Shouyi menulis di dalam sebuah bukunya tentang Sejarah Islam di Cina 1946.

Alasan keenam, Zhu Yuanzhang sendiri ketika mudanya adalah pengikut sekte agama “Mingjiao” (Teaching The Light) yang dipengaruhi ajaran Manicheanisme dari Persia. Namun saat ia naik menjadi Kaisar Ming pertama, sekte ini ditumpas habis olehnya. Ia juga menyangkal segala sesuatu yang menyangkut hubungannya dengan sekte ini (China Heritage Newsletter, No.5, March 2006). Berbagai pembahasan dan teori yang menarik mengenai Zhu Yuanzhang dapat kita jumpai di dalam berbagai forum milis yang membahas Sinologi seperti “Chinese Culture Forum at Asiawind” (www.asiawind.com/forums).

Selain itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa Pemerintah Cina sejak zaman Dinasti Chin yang korup hingga masa pemerintahan Partai Komunis yang anti-agama sangat dengki kepada Islam. Mereka tak ingin jika Islam tercatat ikut mewarnai khazanah kejayaan Cina. Banyak tokoh muslim legendaris dalam sejarah Cina dikaburkan bukti keislamannya dengan tujuan melenyapkan kontribusi Islam dalam kejayaan Cina. Fakta bahwa Judge Bao dan Wong Fei Hung adalah muslim saja mereka tutupi rapat-rapat. Apalagi fakta seorang Kaisar legendaris seperti Zhu Yuanzhang.[]
Blog MADRASAH KITA

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers