Archive for the ‘Sastra’ Category

Derai-Derai Cemara: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Derai-Derai Cemara: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (22)

Oleh Hernowo

hernowo hasim <hernowo_mizan@yahoo.com>,in: dikbud@yahoogroups.com, Sunday, 10 April 2011 04:56:23

cemara menderai sampai jauh

terasa hari akan jadi malam

ada beberapa dahan di tingkap merapuh

dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan

sudah berapa waktu bukan kanak lagi

tapi dulu memang ada suatu bahan

yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah

dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah

(Chairil Anwar, “Derai-Derai Cemara�E

Membicarakan Chairil Anwar tak bisa tidak harus membicarakan juga Asrul Sani—atau meminta bantuan Asrul Sani untuk mengurai siapa Chairil Anwar itu. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, Chairil Anwar mendirikan “Gelanggang Seniman�E(1946) dan secara bersama-sama pula menjadi redaktur “Gelanggang�Edalam warta sepekan Siasat. Pada 1950, Chairil-Asrul-Rivai menerbitkan kumpulan sajak, Tiga Menguak Takdir. Dan, dalam Derai-Derai Cemara: Kumpulan Puisi dan Prosa Chairil Anwar, Asrul Sani mengisahkan tentang siapa Chairil dan petualangannya bersama Chairil. Lewat kisah Asrul ini, saya jadi kenal betul sosok Chairil “Aku Ini Binatang Jalang�EAnwar.

Kecintaan Chairil kepada buku luar biasa. Menurut Asrul, Chairil pernah mengambil sebuah buku di sebuah toko buku dengan memasukkan buku itu ke kantong besar celananya. Apa yang dilakukan Chairil ini tidak diketahui oleh si pemilik toko. (Saya ingin berhenti sejenak di sini: Betapa inginnya dia membaca. Betapa menderitanya dia karena sebagai seorang seniman, dia mungkin tak punya banyak uang. Dan betapa dahsyat dorongan membaca itu.) Nah, sesampai di rumah, Chairil—mungkin dengan rasa senang yang tiada terkira—ingin membaca buku itu. Apa yang terjadi? Ternyata—menurut Asrul—yang diambil oleh Chairil adalah Injil. Injil? Ya. Padahal, yang mau diambil adalah buku karya Nietzsche, Also Sprach Zarathustra.

Chairil menguasai bahasa Belanda dengan baik sekali ketika duduk di MULO sehingga dia menjadi kesayangan para guru termasuk para guru bahasa Belanda. Menurut H.B. Jassin, ketika di Jakarta, Chairil suka meminjam buku—untuk mengembangkan pengetahuannya—kepada pamannya, Sutan Sjahrir. Kalau Chairil sudah membaca buku maka buku itu akan dibacanya dari malam sampai menjelang pagi. Beberapa bahasa yang dikuasai Chairil menolong dirinya sehingga buku-buku yang belum dibaca oleh teman-teman seniman lainnya, sudah dibaca dan diketahui isinya oleh Chairil.

Itu Tubuh

mengucur darah

mengucur darah

rubuh

patah

mendampar tanya: aku salah?

(Penggalan puisi Chairil Anwar, “Isa�E

Selain Asrul Sani, saya juga harus berterima kasih kepada Arief Budiman. Arief membuat sebuah skripsi—untuk meraih gelar sarjana psikologi—dengan membahas sajak-sajak Chairil Anwar. Skripsinya itu kemudian diterbitkan dengan judul Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan. “Begitulah, seluruh buku ini merupakan ungkapan pertemuan saya dengan sajak-sajak Chairil Anwar, pada suatu waktu,�Etulis Arief Budiman dalam mengantarkan bukunya.

“Pertemuan yang lain oleh orang-orang lain dengan sajak-sajak yang sama tentu saja akan melahirkan pengamatan-pengamatan yang lain, dan ini sangat diperlukan. Karena yang paling penting bukanlah benar atau tidaknya pengamatan kita. Bukan keseragaman yang kita cari, tapi keotentikan pengalaman masing-masing.�Elt;/p>

Saya, sungguh, sangat suka dengan kata-kata Arief Budiman tersebut. Karya seni bukan karya ilmiah. Jika—merujuk ke penjelasan Arief Budiman di tempat lain—dalam karya ilmiah unsur-unsur manusia sedapat-dapatnya dihilangkan, maka dalam karya seni justru faktor ini—faktor manusiawi—menjadi yang utama. “Membaca sebuah sajak, sebelum ada penilaian indah atau tidaknya, kita sebenarnya sedang melihat tanggapan si penyair terhadap sesuatu,�Etegas Arief Budiman.

Arief Budiman “bertemu�Edengan dan menganalisi sajak-sajak Chairil Anwar dengan metode “sequence analysis�E Melalui metode ini, Arief Budiman kemudian berusaha mencari dan menemukan sajak pertama yang diciptakan oleh Chairil Anwar. Ternyata, sajak itu berjudul “Nisan�E “Barangkali bukan suatu kebetulan bila sajak pertama yang ditulis Chairil Anwar berjudul ‘Nisan.�EKetika itu dia berumur dua puluh tahun. Dia menghadapi neneknya yang meninggal. Tampaknya sang nenek begitu “ridla menerima segala tiba�E begitu tenang—atau lebih tepat lagi barangkali, begitu tak berdaya. Sementara sang nasib begitu dingin, tanpa belas kasihan, perlahan-lahan menyeret umur si nenek.�Elt;/p>

Tuhanku

aku hilang bentuk

remuk

(Penggalan puisi Chairil Anwar, “Doa�E

Airef Budiman, barangkali, adalah seorang cendekiawan yang amat fasih dalam menguraikan dan menunjukkan pemikirannya. Saya senantiasa mengagumi kejernihan berpikirnya dan, terutama, cara menuangkan kejernihan itu. “Bagi seorang pemuda umur dua puluh tahun, yang sedang lahap-lahap0nya mencoba menghirup kehidupan, kenyataan ini rupanya cukup membuat dia tertegun,�Elanjut Arief Budiman. “’Bukan kematian benar yang menusuk kalbu,�Ekatanya. Kematian adalah sesuatu yang pasti harus dihadapi oleh setiap manusia. Sehingga dia menjadi rutin. Sehingga dia kurang dihayati lagi, tidak dikenal secara pribadi.�Elt;/p>

Menarik bukan? Saya benar-benar belajar kepada apa yang disampaikan oleh Chairil (dalam perenungannya tentang kematian, tentang “nisan�E tentang nasib) sekaligus apa yang ditafsirkan oleh Arief Budiman. “Kematian menjadi sesuatu yang abstrak, sampai dia secara pribadi datang mendekat kepada kita. Langsung kepada kita atau kepada orang yang sangat dekat kepada kita. Bagi Chairil, kematian yang datang mendekat melalui neneknya ini, membuat dia melihat dua hal.�EApa dua hal itu? Saya tidak akan membahasnya di sini.

Yang akan saya bahas dan tekankan adalah betapa mengasyikkannya jika di ruang-ruang kelas, di diskusi-diskusi yang membahas ihwal sastra—entah itu di tingkat SMP, SMA, atau universitas—pembahasan puisi atau karya sastra semengasyikkan pembahasan Arief Budiman atas puisi-puisi Chairil Anwar. Sastra atau puisi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan, bahkan kehidupan perlu dilibatkan secara sangat dekat dan intim. Jika sastra bisa dibahas seperti itu, alangkah kaya dan penuhnya kegiatan belajar sastra dengan nilai-nilai kehidupan. Sebaliknya dari kering kerontang dan membosankan, kegiatan belajar sastra bisa jadi lebih menarik dan penting ketimbang kegiatan belajar matematika.[]

 

JAWABAN TAUFIQ ISMAIL

JAWABAN TAUFIQ ISMAIL

TERHADAP PERCAKAPAN DI FACEBOOK ANTARA BRAMANTYO PRIJOSUSILO DENGAN PELUKIS HARDI DAN FADLI ZON, DLL,

31 MARET 2011

Inilah respons saya terhadap percakapan di atas, yang  saya baca dari fail internet.

Puisi

“Kerendahan Hati” disebutkan sebagai karya Taufiq Ismail, dituduhkan

sebagai plagiat dari puisi “Be the Best of What You Are” karya Douglas

Malloch.

Dalam tuduhan itu puisi “PK” tidak disebutkan dipublikasikan di mana dan kapan.

Karya

puisi saya selama 55 tahun (1953-2008) telah diterbitkan lengkap (Ketua

Panitya Fadli Zon), dengan judul Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit.

Jilid 1. Karya prosa lengkap dimuat dalam MKB-MBK Jilid 2 dan 3.

Kumpulan

MKB-MBK Jilid 1 itu, tebal 1.076 halaman, memuat  522 puisi. Untuk

informasi Bramantyo, puisi berjudul “Kerendahan Hati” itu, yang

dituduhkan sebagai karya plagiat, tidak ada di sana. Itu bukan puisi

karya saya.

Sekarang mengenai puisi “BBWYA” karya D. Malloch yang dituduhkan sebagai sumber plagiat.

Pada

tahun 1992 saya selesai menerjemahkan puisi Amerika Serikat, di

Universitas Iowa, yang kumpulannya saya beri judul Rerumputan Dedaunan,

meliputi kurun masa 1850an-1980-an.  Antologi ini belum terbit.

Kumpulan itu tebalnya 693 halaman, memuat karya 160 penyair. Nama David

Malloch tidak terdapat di dalamnya.

Dia bisa saja penyair bagus,

tapi dari begitu banyak penyair Amerika 1850an-1980an, Malloch tidak

termasuk ke dalam 160 penyair yang saya pilih. Kalau dia lulus seleksi

saya, karyanya tentu saya masukkan dalam antologi terjemahan RD itu.

Pertanyaan berikutnya sekarang:  kenapa dituduhkan itu sebagai sumber plagiat?

Dalam

12 tahun terakhir ini, frekuensi kegiatan saya yang mempertemukan saya

dengan sastrawan muda, guru, mahasiswa dan siswa tinggi sekali, melalui

program pelatihan MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra), SBSB

(Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya), sanggar-sanggar sastra, komunitas

ini-itu, dst. Dalam interaksi itu banyak karya sastra didiskusikan,

termasuk terjemahan puisi. Mungkin sekali dalam salah satu kontak itu

karya David Malloch dibicarakan, diterjemahkan peserta dan saya diminta

memberi komentar. Itu yang paling mungkin. Dan jelas saya tidak

membubuhkan nama saya untuk terjemahan itu, dan tidak

mempublikasikannya. Arsipnya saja saya tidak menyimpannya. Kalau

Malloch favorit saya, dia mestilah saya masukkan dalam antologi RD. Ini

tidak.

Dalam hal ini tidak jelas siapa yang mencantum-cantumkan

nama saya pada terjemahan  puisi Malloch itu. Saya jadi teringat pada

kasus lagu Tuhan, yang lirik dan lagunya digubah Sam Hardjakusumah,

dinyanyikan Bimbo. Karena saya menulis sekitar 70 lebih lirik Bimbo,

lirik lagu Tuhan  itu sering sekali dikira dari saya.  KCI malah pernah

salah kirim honorarium lirik lagu itu kepada saya. Saya berulang kali

menjelas-jelaskan ini kepada publik. Beda kasus saya dikelirukan dengan

Sam Bimbo, adalah bahwa saya sampai mendapat honor yang mestinya

dikirimkan kepada Sam, tapi  dalam kasus saya dikelirukan dengan

Malloch, saya dicaci-maki oleh facebookers yang salah tuduh. .

Saya

tidak terima dinista sedemikian. Saya akan membawa ini ke ranah hukum,

dengan mengadukan Bramantyo Prijosusilo ke Kepolisian RI, agar dia

diproses sesuai dengan undang-undang yang berlaku dalam hal pencemaran

nama baik.

Saya meminta bantuan pengacara sastrawan  Suparwan

Parikesit SH dan aktivis kampus Abrori SH, dengan saksi pelukis Hardi

dan budayawan Fadli Zon.***

Taufiq Ismail, Rumah Puisi, 1 April, 2011.

Sumber: Facebook Muhammad Subhan (pengelola Rumah Puisi Taufiq Ismail di Padang Panjang, Sumbar)

http://www.facebook.com/notes/muhammad-subhan/jawaban-taufiq-ismail-terhadap-percakapan-di-facebook-antara-bramantyo-prijosusi/10150500604690495

JAKARTA, PedomanNEWS.com – Fadli Zon, keponakan Taufiq Ismail membantah bahwa pamannya Taufiq Ismail melakukan tindakan plagiarisme atas puisi karya Douglas Malloch. Sebelumnya ramai diperdebatkan kalangan sastrawan dan budayawan khususnya  di media sosial bahwa puisi

Kerendahan Hati “karya” Taufiq Ismail adalah plagiarisme dari puisi Be the Best of Whatever You Are karya Douglas Malloch .Di facebook pegiat sastra, kebudayaan, dan teater Bramantyo Priyosusilo yang pernah aktif di Bengkel Teater Rendra 1983-18987 terjadi diskusi antara Bramantyo, pelukis Hardi, dan Fadli Zon, juga diselingi beberapa pendapat facebookers. Fadli Zon segera menyahut perbincangan yang mengerucut pada tuduhan tindakan plagiarisme Taufiq Ismail, “Mas Hardi dkk. Saya perlu sedikit komentar. Saya kebetulan Ketua Panitia 55 Tahun Taufiq Ismail berkarya tahun 2008. Kami terbitkan 4 buku besar karya-karya Taufiq Ismail (TI) “Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit”Fadli Zon menjelaskan lebih jauh, buku pertama adalah buku puisi setebal 1076 halaman. Itu semua adalah kumpulan puisi TI dari tahun 1953-2008.

Setelah saya periksa tak ada puisi “Kerendahan Hati.” Setahu saya TI memang menerjemahkan juga puisi 160 penyair   Amerika yang dikumpulkan dalam “Rerumputan Dedaunan” yang belum diterbitkan. Paling banyak puisi Walt Whitman. Tapi puisi Malloch tak pernah diklaim puisi

TI. Jika ada referensi mohon bisa ditunjukkan di buku mana TI mengaku puisi itu adalah miliknya. Puisi Malloch itu paling sering dikutip oleh Martin Luther King (MLK) dalam pidato2nya. Malah orang menyebutnya puisi itu karya MLK.Kemudian, “Bung Bramantyo. Barusan saya telpon TI, menyampaikan masalah ini. Jawabannya, ia tak pernah mengklaim puisi “Kerendahan Hati.” Ia juga sedang cari di file, sementara belum ada. Di kumpulan karya terjemahan “Rerumputan Dedaunan” juga tak ada puisi tersebut. Jadi TI belum tahu puisinya yang mana. Ia mengatakan rasanya pernah membahas puisi itu atau menerjemahkan puisi itu dalam kegiatan SBSB atau MMAS di sekolah2. Kalau itu puisi terbaiknya, tentu ada di buku yang saya terbitkan. Di internet, tak ada data yang jelas. Bahkan
penulisan namanya pun salah Taufik bukan  Taufiq. Mungkin ada info atau sumber yang lebih tajam, yang menyatakan bahwa TI memang menulis puisi itu? Kalau tidak ada, polemik ini menjadi pepesan
kosong,” tegas Fadli Zon.Lanjut Fadli Zon, Bung Bramantyo, saya sudah search di dunia maya dan belum ketemu sumber yang sahih soal klaim puisi Taufiq Ismail itu. Kelihatannya ada orang yang mem-posting puisi dan menulisnya karya Taufik Ismail. Kemudian dikutip di sana sini.

Biasalah salah paham. Puisi “Tuhan” yang dinyanyikan Bimbo juga sering orang tulis karya TI, tapi beberapa kali TI mengoreksi bahwa itu karya Sam Bimbo. Kecuali ada sumber lain yang solid dan jelas, baru kita bisa lanjutkan diskusi ini.”Mungkin ada artikel, atau buku yang pernah
menuliskan ini? Saya sudah susuri semua buku puisi TI, tak ada puisi ini. Juga tak ada di majalah-majalah atau koran yang memuat puisi,” terang Fadli Zon lagi.Kata Fadli dia mencoba menelusuri, juga di kumpulan karya terjemahan “Rerumputan Dedaunan” ternyata   tak ada Douglas Malloch. Tadinya saya menduga, karya Malloch ini diambil dari bagian karya terjemahan. Ternyata tak ada juga. “Jadi bagaimana dong, kalau sumbernya saja tidak jelas?”Mengapa Fadli Zon sangat serius
melakukan pembelaan ini? “Karena tuduhan plagiat adalah tuduhan serius dan bisa menjadi kematian perdata bagi penulis. Oleh karena itu harus dibuktikan dimana plagiatnya. Dan ini tak ada hubungannya dengan sastra progresif. Mari kita fokus pada tuduhan yang serius itu. Benarkah TI
melakukan plagiat?”Kemudian Fadli Zon bercerita, saya pernah membongkar kasus plagiat yang dilakukan seorang intelektual UI tahun 1997 sehingga batal menjadi profesor selama 10 tahun lebih. Dulu ramai polemik di koran. Sampai ada pengadilan akademik dipimpin oleh rektor UI. Dan terbukti a…danya plagiat itu. Nah apakah kawan2 yang menuduh plagiat ini berani meneruskan ke ranah publik yang lebih luas. Jika memang punya bukti kuat, kenapa tak diluncurkan saja? Sampai   saat ini
saya yakin 100% dalam hal berkarya, TI jujur. Soal sikap kesenian dan   kebudayaan, tentu bisa berbeda2. Zamannya kan juga berbeda.Karena itu kata Fadli Zon, saya saja sebagai Ketua Panitia 55 Tahun TI berkarya tidak pernah tahu karya TI itu. Tidak pernah dengar juga TI membacakannya. Padahal hampir di setiap pembacaan puisi TI saya selalu    hadir. Demikian pula tak ada di buku kumpulan puisinya yang 1076 halaman itu. Untuk konfirmasi lengkapnya besok Kamis saya kirimkan
print out thread diskusi ini kepada TI. Kalau ada yang perlu akses buku puisi TI saya lengkap. Saya punya perpustakaan yang kini bukunya sudah hampir 50.000 buah. Saya kumpulkan karya2 sastra Indonesia dari abad 19, masih aslinya termasuk cetakan pertama Balai Pustaka sejak 1917 dan
Pujangga Baru. Saya punya lengkap Panji Pustaka aslinya juga. Jadi kalau hanya puisi TI dari tahun 1950-an sampai sekarang, mudah sekalilah mencarinya. Saya juga punya majalah lama Siasat, Sastra,
Mimbar Indonesia, Horison dari no. 1 hingga kini dll. Lumayan lengkap.Akhirnya, Fadli Zon menutup diskusi, “Tadi Pak TI datang ke perpustakaan saya, dan mengkonfirmasi langsung bahwa puisi itu bukan karya TI. Jadi sudah cukup jelas.”Kemudian, Bramantyo juga menuliskan di wall facebooknya, “Taufiq Ismail bilang kepada Fadli Zon bahwa puisi “Kerendahan Hati” terjemahan karya Douglas Malloch bukan kerjaan dia.

Saya minta maaf telah menjerumuskan Soe Tjen Marching, Chandrasa Sedyaleksana, Antonius Made Tony Supriatma, Odji Lirungan, Kris Budiman dan kawan-kawan soal ini.”Secara tegas Bramantyo mengatakan, “TI (Taufiq Ismail) dalam hal ini, bukan plagiator.”

Facebook: Radityo Full

YM: radityo_dj

Twitter: @mediacare

Salam,pito-jogja

On Wed Mar 30th, 2011 11:13 PM ICT Syam Sdp wrote:

zaman chairil mengataptasi puisi archilbald mcleish (young death soldier) menjadi karawang bekasi, puisi saduran itu menjadi terkenal, meski si penyadur kemudian tertuduh menjadi plagiator, karena tidak mencatumkan nama penyair yang menulis puisi asli. meski dituduh palgiaotr, toh, si binatang jalang itu diakui karyanya, saduran karawang bekasi juga banyak yang nilai lebih bunyi dan menampilkan aspek lain di luar puisi asalnya.

kalau dalam kasus puisi mas douglas dan taufiq ismail , kok saya amati  benar2 terjemahan lepas ya? wah, perlu ditelusuri itu, jangan sampai malu kita jadi orang indonesia

salam

syam

Pada Rab, 30/3/11, Item <itemic@…> menulis:
Dari: Item <itemic@…>
Judul: [ajisaja] GEGER puisi TAUFIK ISMAIL yang mirip Douglas Malloch
Kepada: “ajisaja” <ajisaja@yahoogroups.com>, “jurnalisme” <jurnalisme@yahoogroups.com>, “mediacare” <mediacare@yahoogroups.com>

Tanggal: Rabu, 30 Maret, 2011, 1:58 PM

GEGER di dunia maya puisi TAUFIK ISMAIL yang sama dengan karya DOUGLAS MALLOCH. Mungkinkah Doughlas yang menjiplak karya Taufik Ismail, atau sebaliknya? Di bawah ini copy karya dua penyair beda kebangsaan itu dalam judul berbeda.

Saya berharap penyair yang saya hormati itu sempat mencantumkan puisinya sebagai karya saduran atau terjemahan. Kalau tidak, apa kata dunia??

Al Item

Be the Best of Whatever You Are

By Douglas Malloch

If you can’t be a pine on the top of the hill,

Be a scrub in the valley — but be

The best little scrub by the side of the rill;

Be a bush if you can’t be a tree.

If you can’t be a bush be a bit of the grass,

And some highway happier make;

If you can’t be a muskie then just be a bass —

But the liveliest bass in the lake!

We can’t all be captains, we’ve got to be crew,

There’s something for all of us here,

There’s big work to do, and there’s lesser to do,

And the task you must do is the near.

If you can’t be a highway then just be a trail,

If you can’t be the sun be a star;

It isn’t by size that you win or you fail —

Be the best of whatever you are!

Kerendahan Hati

Oleh: Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,

yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang

memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang

Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

tentu harus ada awak kapalnya.

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Tentang Bermain Drama: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

 

Tentang Bermain Drama: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (8)

Oleh Hernowo

“’Bagaimanakah saudara mendapat ilham untuk karangan-karangan saudara?’ ‘Apakah saudara mempunyai cara yang khusus untuk mencari ilham?’ Inilah pertanyaan yang sering diajukan oleh orang-orang kepada para pengarang. Sebagian besar surat-surat dari pembaca kepada saya juga menanyakan hal-hal tersebut,” demikian Rendra, si Burung Merak, membuka tulisannya tentang “Pengarang dan Ilhamnya” (lihat Dwi Klik Santosa [ed.], Catatan-Catatan Rendra Tahun 1960-an, Buruk Merak Press, Desember 2005).

 

Dalam subbab yang dijuduli dengan sangat bagus, “Hidup yang Berisi”, Rendra kemudian menjelaskan bagaimana dia, sebagai seorang pengarang, mendapatkan ilham. Menurut Rendra, kedatangan “ilham” itu—merujuk ke ilmu jiwa—bisa diterangkan sebagai berikut: “Suatu waktu kita pernah berpikir tentang sesuatu dan mendapatkan buah pikiran tertentu yang kemudian, karena susulan-susulan yang lain, terlupakan untuk beberapa saat lamanya. Tetapi kemudian, oleh suatu rangsangan, hal itu muncul kembali ke dalam kesadaran kita.” (Huruf miring dari saya).

 

Nah, Rendra sangat menekankan sekali soal rangsangan sebab “ilham” itu sesungguhnya sudah tertanam di dalam diri kita dan karena sesuatu hal lantas tidak kita ingat. Untuk dapat mengingat atau memunculkannya, perlulah sebuah rangsangan. Untuk mencari rangsangan itu, menurut Rendra, seorang pengarang tidak perlu ngeluyur atau semacam itu. Rangsangan yang baik akan timbul dengan sendirinya secara normal dan natural. Apabila rangsangan itu dicari-cari, jadinya akan tak natural.

 

 

”Pengarang akan selalu mengalami rangsangan-rangsangan itu yang timbul dengan sendirinya apabila hidupnya memang berisi,” tegas Rendra. ”Hanya pengarang yang hidupnya kosong dan iseng akan terpaksa mencari rangsangan itu. Jadi, sebetulnya tak ada gunanya ribut-ribut tentang bagaimana cara mencari rangsangan itu. Soalnya cuma bagaimana cara untuk membuat hidupnya jadi berisi sehingga ia akan selalu mengalami rangsangan-rangsangan yang timbul dengan sendirinya.”

 

Bagaimana membuat hidup kita berisi? Menurut Rendra, pertama, banyak-banyaklah belajar dan membaca. Kedua, lakukanlah perjalanan jauh. Ketiga, bekerjalah sehari-hari secara normal. Keempat, pandai-pandailah bergaul di segala lapangan. Kelima, laklukanlah pelbagai aktivitas yang berguna. Jadi, sebaliknya dari bertapa atau begadang malam-malam sembari minum kopi—yang kadang dimaknai sebagai sebuah keadaan sedang menunggu datangnya ilham—Rendra mengajak para pengarang untuk melakukan kegiatan-kegiatan normal sehari-hari untuk membuat hidupnya berisi terlebih dahulu.

 

 

Rendra, kita semua tahu, memang seorang dramawan dan penyair ulung. Namun, membaca karyanya yang berupa esai dan cerita pendeknya, ternyata, mengasyikkan juga. Di dalam setiap esai dan cerpennya, kita akan menemukan sebuah gagasan yang tak biasa. Kita diperkaya dan diberi sudut pandang berbeda dalam memandang kehidupan. Menurut Bakdi Soemanto, dalam Rendra: Karya dan Dunianya, cerpen-cerpen Rendra sudah dibukukan dalam buku Ia Sudah Bertualang. “Cerita pendek karangan Rendra tampaknya cukup banyak, tetapi yang berhasil dibukukan hanyalah sembilan judul dan diterbitkan pada1963…. Semua cerita pendek yang jumlahnya sembilan judul itu memiliki bobotnya sendiri-sendiri yang menarik,” tulis Bakdi. Bahkan Bakdi juga mencatat ada satu cerita pendek karya Rendra yang diciptakannya ketika masih “bocah”—entah umur berapa Rendra ketika itu.

 

Di samping buku kumpulan cerpen, buku tentang esainya ada empat: Mempertimbangkan Tradisi (1983), Penyair dan Kritik Sosial (2001), Tentang Bermain Drama (1986), dan Megatruh (2001). Nah, Tentang Bermain Drama, saya punya buku yang diterbitkan pertama kali oleh Pustaka Jaya pada 1976. Lantas, saya juga membelinya lagi ketika dicetak ulang pada 1986. Di buku ini Rendra memberikan pedoman pokok bagi calon aktor. Rendra menulis dalam bahasa dan analisis yang jelas tentang seluk beluk akting dan teater.[]

Sumber:1001buku@yahoogroups.com, Wednesday, 30 March 2011 09:17:19

Menggelinding: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Menggelinding: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (10)

Oleh Hernowo

Dalam pengantar penerbit untuk buku Menggelinding 1 karya Pram disebutkan bahwa Pram tidak ubahnya pengarang yang menggelinding digiring oleh jiwa mudanya yang meraungkan citanya dalam pencarian arah hidup. Saya ingin menyamakan kata “menggelinding” ini dengan “mengalir”. Ya, Pram adalah salah seorang penulis sastra yang saya kagumi karena tulisan-tulisannya yang mengalir sangat enak dibaca. Dalam setiap aliran yang saya ikuti, kadang saya dibuat tersentak dan harus berhenti sejenak. Bukan karena tulisan itu terputus melainkan saya yang terpaksa menghentikan aliran itu untuk saya renungkan dan “ikat” maknanya.

Saya sangat menikmati tetraloginya—Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca—yang dahsyat itu. Lantas saya juga sempat mencoba menikmati Arus Balik yang sangat tebal itu. Entah kenapa, saya tidak tuntas membacanya. Mungkin karena “sejarah” yang diungkapkan Pram dalam Arus Balik terlalu jauh untuk saya jangkau, tidak sebagaimana yang ada di dalam tetraloginya. Namun, saya kembali dapat ikut mengalir deras bersama Pram ketika saya membaca Panggil Aku Kartini Saja. Ini buku yang bukan saja memberi saya pandangan baru atas sosok Kartini tapi juga berhasil mengajak saya memasuki budaya Jawa yang tak biasa.

Pram lahir pada 1925 di Blora. “Aku dilahirkan di tengah-tengah keluarga guru yang gandrung kemerdekaan,” tulisnya dalam “Hikayat Sebuah Nama”. “Bulannya: Februari. Tahun 1925. Hari: Jumat. Buat nyatakan harapan patriotiknya, ayah telah hadiahi aku dengan nama: Pramoedya. Ibuku pernah terangkan padaku dan mungkin juga keterangan tangan kedua yang diterimanya dari ayah bahwa Pra yang berarti yang terutama atau yang paling pertama, sedang moedya berarti peperangan, jelas: yang paling pertama dalam peperangan.” Menarik penjelasan Pram ini. Kita selayaknya memanggilnya “Pra” bukan “Pram” sebab namanya adalah Pra-moedya. Nah, kita sekarang bahkan mengenalnya dengan nama Pramoedya Ananta Toer. Dari mana asal-muasal nama “Ananta Toer”?

Sebelum kita tahu asal-usul nama “Ananta Toer”, mari kita simak cerita Koesalah Soebagyo Toer—yang memberikan pengantar panjang untuk buku Menggelinding 1—tentang nama Pram sebagai seorang penulis: “Dari tulisan-tulisan awal Pram (tahun 1947-1954) bisa diketahui bahwa Pram belum secara mantap menggunakan nama seperti dikenal pembaca sekarang—Pramoedya Ananta Toer. Paling tidak ada sembilan bentuk namanya, sebelum akhirnya ia menggunakan nama terakhir itu. Ia menggunakan nama Pramoedya Tr., Pr. Toer, Ananta Toer, Pramoedya Tr., M. Pramoedya Toer, dll.” Menurut Koesalah lebih jauh, dalam buku Menggelinding 1 kita dapat menemukan pelbagai bentuk lain nama itu.

Menggelinding 1 adalah kumpulan tulisan awal Pram.Tulisan paling dini Pram berjudul “Si Pandir” yang selesai bertanggal “Jakarta, 2 Januari 1947”—saat usianya baru 22—dan dimuat oleh majalah Sadar pada 13 Juni 1947. Cerpen pertama Pram berjudul “Kemana” yang oleh H.B. Jassin diterbitkan di majalah Pantja Raja dengan nama Ananta Toer. Menggelinding 1 yang tebalnya mencapai 600 halaman lebih itu berisi easi, sajak, cerita, dan tulisan lain Pram. Lewat buku ini saya kemudian memahami prinsip-menulis Pram: “Semua harus ditulis. Apa pun… Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti ada gunanya.”

Lewat Menggelinding 1 pula saya tahu bahwa Pram sejak masih sangat muda telah berhasil menyentuhkan pikirannya dengan pikiran para sastrawan dunia. Kita akan mendapati nama-nama seperti Victor Hugo, Joze Rizal, Leo Tolstoi, Nikolai Gogol, Shakespeare, Steinbeck, Pushkin, Dostoyevsky, Montaigne, Nietzsche, dan masih banyak lagi yang lain dalam tulisan-tulisan awalnya. “Bukan kosong saja perjuangan Victor Hugo baik yang terpancar dalam buku-bukunya Si Bongkok dari Notre Dame, Napoleon si Cebol,” tulis Pram (halaman 135). “Mereka yang Menderita dan sebutlah buku-bukunya yang lain setelah citanya berkembang untuk menghukum kelaliman dan kemiskinan. Bahkan karena hebatnya perjuangannya, ia diburu oleh Lodewijk Napoleon.” Dalam “Kesusastraan dan Perjuangan”, secara menarik, Pram mencoba mengungkapkan ini dari buah pikiran para sastrawan dunia itu.

Penghargaan internasional yang diperoleh Pram juga banyak. Penghargaan itu merentang sejak 1988 (dia meraih “Freedom to Write Award dari PEN American Center”) hingga 2004 (mendapat penghargaan dari “Centenario Pablo Nureda” Chili). Ada sekitar 12 penghargaan internasional yang diperoleh Pram. Oh ya, hingga kini saya terus bertanya apakah Menggelinding 2 akan terbit? Menggelinding 1 terbit pada Desember 2004. Sudah hampir enam tahun lebih Menggelinding 1 terbit sendiri. Jika saja, Menggelinding 2 dapat terbit, kita—terutama saya—akan semakin lengkap dalam memahami Pram. Memahami pikiran seseorang, lewat tulisan, menjadi penting karena pikiran yang kita pahami itu akan membantu mengembangkan pikiran kita ke arah yang sangat jauh dan luas serta jembar (membuka).[]

Sumber:1001buku@yahoogroups.com, Thursday, 31 March 2011 21:52:53

“Catatan Pinggir”: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

 

“Catatan Pinggir”: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (11)

Oleh Hernowo

 

 

Setiap minggu saya membaca tulisan yang gurih dan kadang mengentak. Kadang saya membacanya baik secara online maupun online. Saya membeli tulisan itu secara offline jika, setelah saya lacak, ada banyak tulisan menarik lain di situ. Maksud saya “di situ” adalah di sebuah majalah bernama Tempo. Kini baik koran Kompas maupun majalah Tempo edisi baru dapat kita akses secara online yang waktu penerbitannya tak jauh dari penerbitan cetaknya (edisi offline). Saya, tentu saja, masih lebih nyaman membaca Kompas atau Tempo dalam bentuk edisi cetak.

 

Dan tulisan yang gurih dan mengentak yang saya baca setiap minggu itu adalah “Catatan Pinggir” (caping) Goenawan Mohamad di majalah Tempo. Saya kagum sekali dengan stamina GM—demikian singkatan namanya—yang terus mau dan mampu menyediakan waktu untuk menulis setiap minggu. “Catatan Pinggir” bukanlah tulisan yang enteng-entengan. Di dalam tulisan itu terkandung sebuah pemikiran yang dahsyat. Bagi saya, menulis yang powerful—sebagaimana tulisan caping GM—adalah menulis yang menggunakan kegiatan berpikir yang setara bertafakur.

 

Bayangkan GM, sekali seminggu, mencontohkan kegiatan menulis seperti itu. “Plato pun memutuskan untuk mengikuti orang yang tak suka bersandal dan bersepatu ini. Hampir dua setengah millennia kemudian kita tahu bahwa keputusan itulah yang menyebabkan dunia mempunyai seorang pendahulu filsafat yang tak ada bandingannya,” tulis GM dalam caping bertajuk “Sokrates”. Selanjut GM menulis, “Plato juga yang merawat kenangan tentang Sokrates. Bagaimanapun, ada yang memikat pada diri laki-laki berbibir tebal dan berhidung lebar yang lahir sebagai anak pemahat ini. Ia arif dan baik budi, tapi yang penting ialah bahwa ia telah menyebabkan hidup anak-anak muda seperti Plato mempunyai makna.”

 

 

Perhatikan kalimat terakhir yang saya kutip itu. Hampir semua pengkaji dan pencinta filsafat tahu benar kata-kata dahsyat Sokrates ini: “Sebuah kehidupan yang tak diamati dan direnungkan tidaklah berharga bagi seorang manusia.” Namun, GM berhasil mengungkapkan (memaknai)-nya secara berbeda. Caping-nya memang hanya berjudul “Sokrates”. Dan siapa tak tahu Sokrates? Meskipun ada orang yang tak tahu, tapi saya yakin jika dia mengenal ungkapan dahsyatnya itu, tentulah pengenalannya akan membuatnya merenung dalam-dalam seraya berkata lirih, “Untuk apa aku hidup?”

 

Dan GM berhasil menyeret kita untuk ke tepi yang berbeda dalam memandang Sokrates. Lewat Plato, GM ingin mengaitkan Sokrates dengan anak muda. Ujung-ujungnya, dia membahas Sokrates dalam konteks kekinian. “Sebab itulah saya teringat akan Sokrates ketika sasya melihat sesuatu yang luar biasa:” tulisnya di ujung dalam capingnya ini. “Pekan lalu, di Jakarta, di ruang yang sederhana di Teater Utan Kayu, lebih dari seratus anak muda, berusia 25 sampai 35 tahun, berjejal dan bertahan duduk di lantai selama tiga jam untuk mendengarkan ulasan tentang Ibn Rusyd atau Habermas, filsafat, setiap malam, selama tiga hari berturut-turut.”

 

Selanjutnya, GM menunjukkan kepada kita bahwa filsafat membuat seseorang terus bertanya: Apakah yang adil dan tak adil? Apa artinya kebebasan, sebenarnya? Apa artinya kekuasaan? Apa artinya “kuat” dan “lemah”? Benarkah Tuhan berperan dalam persoalan ini? “Tapi pertanyaan seperti itu adalah sesuatu yang mengandung kepedulian dan kecerdasan. Maka sebuah bangsa jangan-jangan menyembunyikan harapan sebenarnya ketika justru di tengah krisis, anak-anak muda masih berani bertanya dan mencari jawab” (lihat secara lengkap caping GM berjudul “Sokrates” ini dalam majalah Tempo, edisi 8 September 2002).

 

 

Saya tidak tahu sudah berapa caping yang dibuat GM. Saya yakin, dia tak hanya menulis caping yang setiap minggu muncul di Tempo. GM tentu juga menulis yang lain. Dalam bahasa Indonesia dan Jawa, GM menulis teks untuk wayang kulit yang dimainkan dalang Sudjiwo Tedo, Wisanggeni (1995), dan dalang Slamet Gundono, Alap-alapan Surtikanti (2002), serta drama-tari Panji Sepuh koreografi Sulistio Tirtosudarmo. Kumpulan esainya berturut-turut: Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Kata, Waktu (2001), Eksotopi (2002).

 

GM juga piawai dalam bersyair. Sajak-sajaknya dibukukan dalam Parikesit (1971), Interlude (1973), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998), dan Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001). Karya terbaru GM adalah buku berjudul Tuhan dan Hal Hal yang Tak Selesai (2007), berisi 99 esai liris pendek. GM nyaris jadi apa yang pernah ia tulis dalam sebuah esainya: transit lounger. Seorang yang berkeliling dari satu negara ke negara lain: mengajar, berceramah, menulis. Seorang yang berpindah dari satu tempat penantian ke tempat penantian berikutnya, tapi akhirnya hanya punya sebuah Indonesia. Seperti ditulisnya dalam sebuah sajaknya, “Barangkali memang ada sebuah negeri yang ingin kita lepaskan tapi tak kunjung hilang.”

 

Kita sesungguhnya hidup dalam negara yang kaya raya. Bukan hanya kaya raya secara alami, melainkan juga kaya raya dari sisi bacaan….[]

Segenggam Gumam: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Segenggam Gumam: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (17)

Oleh Hernowo

Helvy Tiana Rosa

“Adakah metode yang digunakan oleh Mbak Helvy dalam membuat buku? Atau, apa kira-kira tahap-tahap yang biasa ditempuh Mbak Helvy dalam membuat buku,” tanya saya secara tertulis kepada pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) itu. Lantas Mbak Helvy menjawab, “Sebenarnya tak ada metode khusus. Pada tahap awal, saya akan membuat naskah yang menurut saya baik, mewakili idealisme saya tapi juga sebisa mungkin laku di pasaran.

 

“Dalam tahap ini, kadang sangat diperlukan riset mendalam, kadang sama sekali tidak diperlukan. Begitu naskah selesai, saya segera menghubungi pihak penerbit yang saya percaya.” Jawaban Mbak Helvy itu merupakan satu dari 10 pertanyaan yang saya lontarkan untuk mengetahui, secara garis besar, bagaimana seorang pengarang menempuh proses kreatifnya.

 

 

Saya memuat pertanyaan untuk dan jawaban dari Mbak Helvy Tiana Rosa di buku saya, Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah (2004). Membuat buku itu unik. Setiap penulis atau pengarang tentu menempuh jalan yang tidak selalu sama. Calon penulis dapat saja belajar dari pengalaman penulis lain. Namun, ketika dia menirunya maka—di tengah proses meniru itu—dia pun perlu menciptakan jalannya sendiri.

 

Mbak Helvy adalah salah seorang pengarang yang layak dijadikan “model”—proses kreatifnya bisa ditiru—oleh pengarang lain, khususnya jika pengarang lain itu ingin mengembangkan potensi menulisnya di dunia fiksi. Lahir di Medan pada 2 April 1970, Mbak Helvy sudah menulis puisi, cerita pendek, naskah drama, dan berteater sejak Sekolah Dasar. Beberapa karya kreatifnya menjuarai berbagai lomba penulisan tingkat nasional.

 

 

Saya masih ingat sekali ketika cerita pengalamannya memenangkan sebuah lomba yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan yang memproduksi suatu produk. Tulisan yang bercerita tentang pengalamannya dalam mengandung putra pertamanya, Faiz Abdurahman, itu beredar di Internet. Intinya, Faiz kemudian dapat menciptakan puisi-puisi yang indah dan “menggigit” ketika masih bocah karena dididiknya ketika Faiz masih berada di kandungan.

 

Nah, menurut Mbak Helvy, sejak Faiz masih di dalam kandungan, Faiz suka dibacakan cerita dan puisi-puisi karya para penyair terkenal. Mbak Helvy juga suka berdialog dengan Faiz yang masih berada dalam kandungan. Ketika Mbak Helvy ketemu dengan seorang penjual bakso yang kepayahan, misalnya, Mbak Helvy kemudian menyapa Faiz bahwa Mbak Helvy berharap kelak Faiz mau menolong orang-orang yang kepayahan.

 

Menurut Mbak Helvy, selain kemudian jago puisi ketika masih bocah, Faiz pun memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Kalau melihat para penjual barang dagangan yang lewat di depan rumahnya dan tampak kepayahan, Faiz suka mengajak mereka untuk mampir di rumahnya dan memberikan air minum atau sekadar memberikan tempat untuk beristirahat dari sengatan teriknya matahari.

 

 

Betapa dahsyat jika apa yang dilakukan oleh Mbak Helvy juga ditiru oleh ibu-ibu muda yang sedang mengandung putra-putrinya. Pada tahun 1990, Mbak Helvy memelopori berdirinya Teater Bening. Pada 1991-2001, Mbak Helvy menjadi Redaktur dan Pemred majalah Annida. Koran Tempo menggelari Mbak Helvy sebagai “pabrik penulis cerita” saat mendirikan FLP pada 1997.

 

Hingga kini, ada sekitar 16 karya sendiri dan 15 karya antologi bersama penulis lain yang sudah diterbitkan. Berkat prestasi dan kiprahnya, pada tahun 2000, majalah Amanah memilihnya sebagai satu dari 10 Muslimah Berprestasi Tingkat Nasional. Harian Republika dan Straits Times menyebut Mbak Helvy sebagai salah satu pelopor genre baru sastra kontemporer.

 

Mbak Helvy juga punya Rumah Cahaya (Rumah BaCA dan Hasilkan KarYA)—tempat kalangan umum, khususnya kaum dhuafa, tak hanya bisa membaca gratis melainkan juga bisa belajar menulis secara cuma-cuma. Segenggam Gumam adalah kumpulan esainya tentang sastra dan kepenulisan yang terbit pada 2003.[]

Kita dan Kami: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Kita dan Kami: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (18)

Oleh Hernowo

Fuad Hassan

Saya punya kenangan-khusus dan mengesankan terhadap almarhum Fuad Hassan. Bahkan, hingga kini, saya masih terus mengagumi kehidupannya. Saya tahu bahwa Fuad Hassan itu perokok berat. Okelah, tak ada gading yang tak retak. Manusia, di tengah kehebatannya, tentu punya kelemahan. Saya ingin mengenang dan terus mengagumi kehebatan Fuad Hassan dalam konteks dia sebagai seorang penulis.

 

Saya berkenalan dengan Fuad Hassan lewat buku yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang. Judulnya Apologia. Buku itu merupakan pembelaan Socrates terhadap tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya yang direkam oleh muridnya, Plato. Fuad Hassan memang hanya menerjemahkan Apologia. Namun, terjemahannya begitu hidup dan benar-benar menyentuh diri saya waktu itu. Dari sini, saya menduga bahwa Fuad Hassan menyukai pemikiran filsafat.

 

Setelah Apologia, saya membaca Berkenalan dengan Esksistensialisme. Dugaan saya semakin mendekati kebenarannya. Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya—waktu itu bernama PT Dunia Pustaka Jaya—ini hanya setebal 144 halaman. Namun, isinya dahsyat. Oleh Fuad Hassan saya dikenalkan—secara mudah dan ringan—kepada pemikiran para filosof yang mengusung aliran eksistensial: Kiekergaard, Nietzsche, Berdayev, Jaspers, dan Sartre.

 

 

Ketika menuliskan tulisan ini, saya benar-benar merasakan jasa Fuad Hassan dalam menumbuhkembangkan diri saya. Entah apa jadinya saya jika tak sempat membaca buku-buku yang dikemas dan disajikan oleh Fuad Hassan dalam bahasa yang mengalir dan sangat enak dibaca. Saya menyadari bahwa ketika saya membaca buku-buku sajian Fuad Hassan, pikiran saya belum berkembang sepenuhnya. Kini, kematangan pikiran saya—jika dapat dikatakan begitu—terbangun berkat sumbangan buku-buku Fuad Hassan

 

Saya kemudian mendengar bahwa Fuad Hassan menerjemahkan tulisan-tulisan sastra. Salah satu yang terkenal adalah karya—kalau tak salah Presiden Hungaria—Aspad Goncz berjudul Pulang. Sebelumnya, Fuad Hassan sudah menerjemahkan dasacarita dari Hungaria juga dengan judul Sang Mahasiswa dan Sang Wanita. Namun, selain Apologia dan kemudian Berkenalan dengan Eksistensialisme, saya menyukai karyanya yang lain yang berjudul Heteronomia.

 

Saya belum membaca karya terjemahan sastranya. Saya hanya tahu bahwa Fuad Hassan juga menulis buku Renungan Budaya, Studium Generale, Pentas Kota Raya, Perlawatan ke Haramian (yang merupakan catatan perjalanan hajinya), dan—yang juga terkenal—Kita dan Kami. Kita dan Kami, kalau tak salah ingat, merupakan disertasi doktoralnya. Fuad Hassan mengulas makna kedua kata itu dalam konteks psikologis dan filosofis. “Kita” dan “kami” adalah dua modus eksistensial seorang manusia dalam konteks keindonesiaan.

 

 

Fuad Hassan memang seorang psikolog. Dia bahkan pernah menjadi guru besar di bidang psikologi (psikologi pendidikan) pada Universitas Indonesia. Selain sebagai guru besar di bidang psikologi, Fuad Hasan pernah menjadi dekan di fakultas psikologi Universitas Indonesia. Fuad Hassan juga menekuni bidang seni. Dia dikenal mampu bermain biola dan berkuda dengan baik dan juga terampil melukis.

 

Nah, izinkan saya memberikan perhatian saya atas dugaan saya bahwa Fuad Hassan menyukai pemikiran filsafat atau bahkan, seungguhnya dia adalah seorang filosof. Ada satu tulisan Fuad Hassan yang saya abadikan di buku saya, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza. Tulisan Fuad Hassan ini terdapat dalam buku hasil suntingan Riris K. Toha Sarumpaet, Sastra Masuk Sekolah (IndonesiaTera, 2002). Judul tulisan Fuad Hassan adalah “Catatan Pengantar Perihal Gagasan ‘Sastra Masuk Sekolah’”.

 

Inilah tulisan Fuad Hassan yang ingin saya tunjukkan yang, menurut saya, sangat mencerminkan pemikiran filosofisnya: “…kesanggupan berbahasa merupakan ciri keunggulan eksistensi manusia sebagai penghuni a world of discourses. Ini berarti bahwa perkembangan kesanggupan berbahasa sekaligus merupakan proses yang memperkaya dan mempercanggih gagasan dan wawasan (ideas and insights) seseorang.

 

 

“Sebagai kelanjutannya, dengan kekayaan dan kecanggihan tersebut, seseorang akan lebih peka dan tanggap dalam interaksinya sebagai penghuni dunia wacana. Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau kita simpulkan bahwa kesanggupan berbahasa adalah latar utama bagi pencanggihan perikehidupan manusia. Perlu segera disertakan catatan bahwa untuk mencapai pencanggihan itu, kesanggupan berbahasa bukan saja berkenaan dengan pernguasaannya sebagai sarana ujaran, melainkan juga sebagai sarana pengejawantahan kesastraan.” (halaman 230-231)

 

Seperti kita ketahui, jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pernah dipegang Fuad Hassan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto (1985 – 1993). Setelah berhenti sebagai Mendikbud, dia diangkat menjadi anggota DPA. Sebelumnya, dia pernah menjabat duta besar RI untuk Mesir dan anggota MPR. Rektor Universitas Indonesia, Gumilar Rusliwa Somantri, menilai bahwa Fuad Hassan adalah sosok yang memikirkan masa depan pendidikan bangsa. “Beliau mendambakan anak didik yang tidak hanya cerdas tetapi memiliki moralitas tinggi,” ujar Gumilar kepada Tempo suatu ketika.[]

Hujan Menulis Ayam: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Hujan Menulis Ayam: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (13)

Oleh Hernowo

Sutardji Calzoum Bachri

Saya membeli kumpulan cerita pendek karya Sutardji Calzoum Bachri sekitar sepuluh tahun lalu. Pertama, saya membeli buku karya Sutardji itu karena terpesona dengan judulnya, Hujan Menulis Ayam. Judul ini memberi saya sebuah pengalaman baru menata dan merangkai kata. Kedengarannya ganjil, namun seperti menyimpan sesuatu: Hujan kok Menulis tentang Ayam sih?

 

Kedua, saya mengenal Sutardji sebagai seorang penyair. O Amuk Kapak adalah buku kumpulan puisinya yang saya beli pertama kali. Sekali lagi, seperti ada daya magis dalam kata-katanya. Judul O Amuk Kapak dan Hujan Menulis Ayam setara. Judul-judul itu berasal dari tiga kumpulan “makna”. “O” adalah kumpulan puisi tersendiri, begitu juga “Amuk” dan “Kapak”. Lantas ketiganya disatukan.

 

Hujan Menulis Ayam pun begitu. “Hujan” adalah sebuah cerita pendek tentang hujan, lantas “Menulis” dan “Ayam” adalah cerita pendek tentang menulis dan ayam. Masing-masing cerita pendek itu terpisah dan tidak saling berhubungan. Dalam bayangan saya, buku kumpulan cerita pendek Sutardji ini berbicara soal air hujan yang jatuh dari langit yang dapat menulis tentang hewan bernama ayam. Ternyata, tidak.

 

Ketiga, selain pesona kata yang muncul dari buku-buku ciptaannya, saya benar-benar mengagumi sosok Sutardji yang disebut-sebut sebagai Presiden Penyair itu. Entah apa maknanya gelaran ini. Namun, menurut banyak kabar yang saya baca, Sutardji ini—dalam konteks perkembangan sastra di Indonesia—adalah seorang pendobrak. Dia membawa ide revolusioner dalam bermain dengan kata-kata.

 

 

Bagi saya, ide Sutardji itu dahsyat. Apa yang dahsyat? Bagi Sutardji, kata-kata harus dibebaskan dari beban penyampaian makna. Luar biasa bukan? Bayangkanlah jika Anda ingin menggunakan kata “makan”, misalnya, kata itu tidak harus diartikan memberi pemahaman kepada Anda tentang sebuah kegiatan dalam konteks mulut kita sedang mengunyah, misalnya, jagung.

 

Ide Sutardji kemudian diterjemahkan secara menggelegar dalam puisi-puisi ciptaannya. Anda bisa melihat bahwa “O” bukanlah “o”. Atau “Amuk” dan “Kapak” bukanlah sebuah kata yang memberikan pemahaman kepada kita tentang keadaan yang rusuh atau senjata yang dapat digunakan untuk membelah kayu, dan seterusnya dan seterusnya.

 

Lewat tulisan-tulisan Sutardji—baik itu berupa esai, cerpen, maupun puisinya—kita sesungguhnya sedang membaca sebuah “dunia baru”. Saya tidak tahu efek ide Sutardji itu dalam perkembangan bahasa Indonesia. Bagi saya, hanya satu: Sutardji sedang mencoba untuk memberikan alternatif tentang cara berbahasa. Dan ini sungguh menarik!

 

Ide bahwa kata-kata harus dibebaskan dari beban penyampaian makna dicetuskannya pada tahun 1973. Idenya itu merupakan kredo kepenyairan yang cukup mengejutkan waktu itu. Penyair mantra, penyair inkonvensional, dan penyair pendobrak kemudian melekat pada diri Sutardji. “Sekitar pertengahan tahun 60-an,” tulis Sutardji dalam mengantarkan Hujan Menulis Ayam, “masa awal kepengarangan saya, menulis cerpen dan puisi sama menarik perhatian saya.”

 

 

Karier kepengarangan Sutardji itu, ternyata, dimulai di Bandung. Ketika itu, dia menjadi mahasiswa FISIP Unpad. Dia lahir di Rengat, Indragiri Hulu, Riau, pada 24 Juni 1941. Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti “Poetry Reading International” di Rotterdam. Kemudian dia juga mengikuti seminar “International Writing Program” di Iowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975.

 

Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand. Demikian kita dapat membaca sedikit riwayat hidup Sutardji tersebut di Wikipedia.

 

Pertanyaannya kini, adalah, kapan di era internet seperti sekarang ini muncul pendobrak-pendobrak baru dalam bidang sastra sebagaiamana Sutardji?[]

__._,_.___

Ragam tanggapan untuk Taufiq Ismail

Ragam tanggapan untuk Taufiq Ismail

From: Farida Wardhani, Surabaya
E-mail: fwardhani@gmail. com

Taufiq Ismail patut dihargai

Saya membaca e-mail Taufiq Ismail, penyair Angatan 66, kepada Dubes Indonesia di Praha, Dr. Salim Said. Saya tidak tahu bagaimana e-mail itu tersiar? Akan tetapi setelah membaca sikapnya kepada yang disebutnya “Gerakan Syahwat Merdeka”, saya lega ketika saya sampai kepada kalimat, bahwa dia tidak akan membrangus kemerdekaan menulis dan menyatakan pendapat.

Kata Taufiq:

“Dua tahun lamanya saya tidak dapat menulis di media massa, 1964-1965, selepas pelarangan Manifes Kebudayaan (daftar hitam nama kami pendukung Manifes tersebar ke seluruh media massa zaman itu) dan pengalaman pahit tak terlupakan itu janganlah terjadi lagi pada siapa pun.”

Saya kira kita wajib menghargai sikap ini!

Yang membuat waswas, kalau nanti semua kecemasan Taufik Ismail kepada “kelompok atheis, homoseks, lesbian, feminis, dan anarkis” yang memperkuat “Gerakan Syahwat Merdeka” negeri kita ini dijadikan kecemasan atas nama agama dan atas nama negara, lantas ada tindakan pembredelan, sweeping, dan teror. Bukankah ini pernah terjadi dengan karya seni rupa Agus Suwage dalam Biennale Seni Rupa CP pada tahun 2005?

Saya sendiri menolak keras buku dan film porno yang melibatkan kekerasan kepada perempuan dan anak-anak. Akan tetapi MUI, dan juga polisi dapat menilai salah dan FPI bertindak sewenang-wenang terhadap apa saja yang mereka putuskan sebagai “porno”.

Kalau itu terjadi, saya berharap Taufiq Ismail berani bersuara menentang kesewenang-wenangan itu. Mudah- mudahan ia bersedia menyatakan sikapnya tentang pembrangusan karya Agus Suwage.

Farida Wardhani.

____________ _________ _____

From: Inez Dikara
E-mail: inezdikara@yahoo. com

Kalau seandainya Hudan Hidayat memang atheis, mengapa tidak membela keyakinannya seperti Taufiq Ismail membela/memperjuang kan keyakinannya? Jadi tidak perlu sembunyi- sembunyi/menafikan ‘tuduhan’ itu. Tetapi jika ternyata Hudan Hidayat memang bukan atheis, ya biarkan saja Tuhan yang menilai semua itu, terlepas dari apa yang dikatakan orang terhadap kita. Toh masing-masing orang nantinya akan mempertanggungjawab kan perbuatannya di hadapan Tuhan.

Untuk Pak Taufiq Ismail, bukankah Islam menciptakan kemanusiaan tidak melalui kekerasan yang fanatik, melainkan terwujudnya kemerdekaan dan persaudaraan tanpa memperhatikan ras dan keyakinan?

Mungkin sebaiknya memang kita menyibukkan diri saja dengan kekurangan dan segala dosa yang telah kita perbuat, tanpa perlu menilai/mengadili keyakinan orang lain.

Saya yang penuh dosa-dosa,

Inez Dikara

____________ _________ _____

From: Mariana Amiruddin, Jakarta
E-mail: mariana@jurnalperem puan.com

Taufiq Ismail menghina feminisme

Email Taufiq Ismail (TI) ke saya tentang Hudan Hidayat (HH) dan Gerakan Syahwat Merdeka (GSM).

Pertanyaan:
Pertama, untuk apa dikirim ke saya?
Kedua, untuk apa dikirim ke Salim Said juga?
Ketiga, memangnya Hudan-Hidayat itu siapa sih, kok segitunya menyerang dia?
Keempat, dia menghina feminisme, paling tidak menghina karena ketidaktahuannya dengan wacana feminisme dan pluralisme.
Ini orang mulai ketarik ke semangat terorisme, atau trend polisi syariat dimana-mana.
Nggak ada hujan, nggak ada badai tiba-tiba serang orang dari belakang.
Buat saya sangat mengganggu.

 

Pak Taufiq,

Anda harus hati-hati dengan kata-kata di nomor 5 tentang Amerika Utara terutama komentar anda tentang kaum feminis:

“Kaum feminis gencar-gencarnya mengumumkan liberasi atau pembebasan kaum perempuan, maknanya liberasi kopulasi atau kebebasan berkelamin.”

Dan point nomor 6 yang pukul rata menghina kaum feminis di Indonesia:

“Itulah adegan garis besar Gerakan Syahwat Merdeka, Amerika Utara, 1970-an, yang berulang 3 dasawarsa kemudian di negeri kita dalam format sama”

Pak Taufiq, anda harus belajar lebih banyak tentang gerakan kaum feminis di Indonesia yang plural, dan kalau anda bicara begitu sembarangan, itu bisa menyinggung seluruh tokoh feminis yang ada di Indonesia. Feminis muslimah misalnya seperti Ibu Sinta Nuriyah Wahid, Ibu Musdah Mulia, Ibu Maria Ulfah Anshor, Ibu Farha Ciciek, mereka adalah beberapa pejuang permpuan muslim, mereka membela agama dan hak-hak perempuan. Mereka anti terhadap eksploitasi dan seks bebas.

Jadi pernyataan anda ini bisa menghina kemajemukan gerakan kami di Indonesia. Untuk konteks pornografi, aliran feminis radikal (bahkan dari Amerika) bernama Chaterine McKinnon sangat anti, dan punya kontribusi terhadap terbentuknya UU pornografi di Amerika, begitu juga Andrea Dworkin.

Mereka malah lebih nyata pergerakannya dalam melawan pornografi, tidak dengan menyerang orang sana-sini, tetapi memberi argumentasi jelas, data dan solusi dari persoalan pornografi yang mengeksploitasi kaum perempuan tersebut.
Salam,

Mariana
____________ _________ _____

Tuan Taufiq Ismail sedang membisikkan hatinya sendiri?

Oleh Hudan Hidayat

Sejak Pidato Kebudayaan, sampai dengan kirim e-mail kepada Salim Said itu, Tuan Taufiq Ismail telah “main kayu” dalam berwacana tentang sastra Indonesia.

Coba bayangkan, dia yang melancarkan stigma sastra SMS, sastra FAK.

Samar-samar, tersebut nama Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami. Tapi tidak ada telaah, karya yang mana dan pada bagian mana sastra yang disebutnya bersyahwat-syahwat itu. Masa iya sih, dari ratusan lembar tulisan itu, syahwat semata seperti yang dituduhkannya? Karena itu saya bilang, sastra mereka bukan fiksi selangkangan, tapi memakai medium “seks” sebagai sampiran, untuk sesuatu yang lebih tinggi. Jadi, ada transendensi. Ada kontemplasi.

Belakangan, setelah saya merespon Pidato Kebudayaan yang membuat banyak orang geli itu, saya pun kena tuduhan serupa: Hudan Hidayat dan Gerakan Syahwat Merdeka.

Saya berani taruhan, bahwa “Tuan Penyuara Gerakan Syahwat Merdeka” kita ini, tak pernah membaca novel saya dan Mariana, “Tuan dan Nona Kosong” (meski awal terbitnya sudah saya berikan pada orang-orang HORISON untuknya), tetapi dengan sengit telah melancarkan tuduhan.

Coba saya tanya, Tuan Taufiq, apakah “seks” di dalam novel kami itu semata dunia selangkangan? Bila iya, pada bagian mana? Tidakkah ia adalah sebuah upaya yang luar biasa, dari seseorang untuk menjangkau Tuhannya?

Tentu saja, sastra bisa didekati dengan “bahasa” apa pun, meski pendekatan tetap harus ada batas-batasnya. Karena sastra adalah dunia tersendiri, di samping dunia-dunia tersendiri lainnya, yang memang diciptakan Tuhan seperti itu: mempunyai kekhasannya sendiri. Seperti ada gunung ada ngarai. Ada malam ada siang. Dan semua dunia ini mempunyai bahasanya sendiri dan hukum-hukumnya sendiri.

Jelas sekali Tuan Taufiq mendekati sastra dengan bahasa moral agama (Islam). Tetapi dia mengatakan, saya yang mengutip Quran, dia tidak. Baiklah. Tapi saya tanya, dari mana moralitas Tuan yang (seperti saya juga yang menolak), sepenuh energi mengerahkan segala daya untuk mengatakan telah terjadi syahwat-syahwatan semata dalam sebagian sastra Indonesia? Bukankah tindakan seseorang datang dari keyakinannya? Kalau demikian, apakah gerangan keyakinan Tuan?

Menyadari ini, maka saya langsung mengajak Tuan untuk sama-sama melihat, bagaimana sesungguhnya “maunya” Kitab Suci itu, terhadap pokok yang sedang kita bincangkan. Tapi Tuan bungkam.

Kebungkaman Tuan Taufiq, ternyata datang dari dua hal:

1) berlogika dalam sastra tidak dikerjakannya lagi, sudah dikerjakannya 30 tahun yang lalu. Dan ini kan lucu! Bagaimana mungkin? Dia kan harus mempertanggung- jawabkan stigmanya itu! Ini kan sama dengan tuduhan: hey, kamu kan penjahat! Lho, kok kamu menuduh saya penjahat? Iya pokoknya kamu penjahat. 30 tahun yang lalu saya juga menemukan penjahat kok.

2) bahwa Tuan Taufiq Ismail anti pada intelektualitas, dan kasar dalam “berdialog”, serta yang lebih berat lagi, dalam hatinya telah berkecambah tuduhan yang jauh sekali dari contoh-contoh yang diperagakan Nabi: lemah-lembut sesama, bersangka baik dengan sesama.

Mengapa? Simaklah surat kepada Salim Said itu (halaman 2): siapapun yang berbicara dengan aktivis 10 komponen gerakan ini dengan memakai ukuran moral manusia waras dan normal, apalagi agama, akan mereka tertawakan habis-habisan. Juga Tuan Taufiq suatu ketika berkata kepada saya: percuma berbicara agama dengan mereka. (Maaf Tuan, Nabi kita didustakan dan beliau tetap berbicara dengan musuh-musuhnya, dengan santun dan kasih sayang pula).

Dan siapakah aktivis itu: adalah atheis, homoseks, lesbian, feminis, dan anarkis – semua mahluk-mahluk Tuhan juga. Jadi di mata Tuan Taufiq, semua orang sudah bersalah semua, kecuali, mungkin, penulis-penulis sastra yang bergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP), karena tidak menulis sastra dengan sampiran “pornografi” dalam karya-karya mereka.

Lalu, ini apa? Bagaimana mungkin seorang Taufiq Ismail bisa menggenggam kebenaran sendirian? Bagaimana mungkin di dalam hatinya tidak sedikit pun terlintas untuk melihat kemungkinan kebenaran di dalam diri orang lain, setidaknya “kebenaran” dalam sastra – yakni kebermaknaan sebuah karya sastra untuk manusia.

Sudah jelas, saya bagian aktivis yang dituduh oleh Taufiq itu. Tetapi toh saya malah yang mengajaknya memandang karya sastra dalam perspektif agama. Saya tidak menertawakan. Malah Taufiq yang bungkam, diam. Mengungkapkan dengan kalimat “moral manusia waras dan normal” seperti itu, Taufiq hendak mengatakan mereka tidak waras dan tidak normal. Bagaimana dengan feminis seperti Musdah Mulia, Maria Ulfah, Sinta Nuriah Wahid, Farha Ciciek, dan Debra Yatim yang santun serta sangat Aceh itu, juga tidak waras dan tidak normal?

Haraplah dicatat, feminis-feminis ini mempunyai keluarga baik-baik, dengan suami dan anak- anak mereka yang baik-baik. (dengan segala hormat, mohon beliau-beliau ini ikut menyumbangkan suaranya dengan segenap tuduhan ini).

Saya melihat malah rekan se”ideologi” Taufiq lebih matang dalam berwacana, lebih dewasa pula. Semisal Saut Situmorang dan Kuswaidi, yang berani dan mau masuk ke substansi masalah yakni sastra pornografi, meskipun hemat saya, kedua penulis ini tidak menggunakan metodologi yang maksimal dalam argumen mereka.

Pada titik ini, akhirnya saya harus mengakui warning M. Faizi dalam tulisannya di harian Jawa Pos, bahwa “petasan-petasan yang disulut Taufiq Ismail dan Hudan Hidayat adalah berbahaya dan menakutkannya. ” Tapi saya memandang bahaya itu datang dari Taufiq Ismail dengan kedua poin yang sudah saya kemukaan ini.

Saya disebut Taufiq tidak peduli dengan destruksi sosial. Siapa bilang? Terasa bagi saya di sini Taufiq sangat sloganistik. Sangat verbal dan sempit pikiran. Semua pengarang boleh saja menggarap karyanya, tidak mesti seluruh kerusakan yang diterminologikan sebagai Gerakan Syahwat Merdeka oleh Taufiq itu, yang boleh diangkut ke dalam karya sastra.

Dalam kaitan dengan tuduhan a-sosial ini, terkait dan berkait dengan tuduhannya yang lain, bahwa saya mengalihkan 10 isyu yang dipeluk-ditimang oleh Taufiq Ismail yang, mohon maaf, tidak bisa saya hindari kesan seolah “dagangannya” ke muka publik, seperti sering dieejekkan kawan-kawan seniman.

Mengapa? Karena tidak pernah/atau belum pernah, saya mendengar atau melihat seorang Taufiq Ismail mempunyai gerakan konkret terhadap masyarakat kecil yang terkena seluruh destruksi yang disebutkannya itu, kecuali kegiatannya menulis, membaca puisi, atau ceramah. Tentu saja, kegiatan ini pun mulia.

Saya katakan, bahwa saya boleh memasuki dari bagian mana saja dari poin pidatonya, tanpa harus terkena tuduhan mengalihkan isyu. Apalagi poin yang saya masuki adalah hal yang langsung mengenai dunia yang saya geluti. Yakni sastra. Melarang saya mengekplorasi salah satu poin itu, sama dengan tindakan yang tidak demokrat dalam sastra. Menuduh saya tidak peduli karena saya fokus kepada poin itu, sama dengan tindakan/keinginan menyeragamkan pikiran manusia – sesuatu yang dilarang Tuhan secara keras. Dan kalau boleh berkata, saya menulis juga kok, akan imbas-imbas yang Tuan maksudkan itu, tetapi tentu, dengan “gaya sastra” yang pastilah Tuan tentang. Baca deh, buku-buku saya, Tuan Taufiq, sebagaimana saya membaca buku-buku Tuan.

Dan lihatlah cara-cara kasar dan antiwacana seorang Taufiq Ismail, dengan membuat metapora kebakaran yang seluruh keluarga sibuk memadamkan api, tapi ada anak kecil umur 10 tahun yang merengek-rengek minta jatah jajan belanjanya. Yakni, HH.

Inilah metapora yang sangat menghina pemikiran – khususnya pemikiran sastra. Inilah kehendak seorang fasis yang ingin dan memaksakan rakyatnya agar seragam dalam berpikir dan seragam dalam bertindak.

Dan ini terasa sekali dengan metaporanya yang lain lagi, yang bagi saya sangat berbahaya dan sangat menghina pendidikan di Indonesia . Lihatlah kata-kata Taufiq: seorang guru mengajarkan alphabet “a” sampai “k”, tapi ada seorang anak yang hanya mau menyebut “g” saja meski sudah dipaksa.

Apakah artinya ini? Sang guru telah melampaui wewenangnya sebagai manusia, yaitu seolah tidak mungkin luput dari kesalahan, dengan memaksakan sesuatu yang tidak/belum sempat “disukai/disentuh” oleh muridnya.

Dengan menindas dan mematikan kemandirian dan keberanian muridnya untuk berpikir lain, berpikir sendirian dari arus massa yang nota bene telah merusakkan segi-segi kita sebagai bangsa (ingatlah korpri, pakaian seragam, yang telah menjadikan bangsa kita tidak kreatif, takut dan tidak punya inisiatip kemandirian. Tidak punya visi sendiri).

(Idiiihhh, Tuan Taufiq genit deh, dengan memetaporakan diri sebagai guru, dan HH sebagai anak didiknya).

Ada satu lagi yang saya ingin tandaskan, Tuan Taufiq, Tuan Saut, dan Tuan Kuswaidi, bahwa dunia sastra adalah dunia kreatif yang kejam. Hanya orang bernapas panjang dan bersaraf baja saja yang berhasil. Dan tentu saja berbakat, Tuan. Tidak ada katrol-katrolan di dunia sastra. Setidaknya bagi saya. Sebagus apapun hubunganmu, kalau karyamu jelek, maka kamu akan tenggelam bersama waktu.

Sudah sejak awal saya masuk dunia sastra, saya tanamkan pikiran ini di hati. Hampir 15 tahun sejak saya pertama kali menulis, saya memendam sendiri keinginan saya, melatih sendiri diri saya, tidak pernah merengek, tidak pernah bergantung dengan siapapun. Saya membatu dalam hati saya sendiri.

Dan hingga hari ini prinsip itu saya anut. Tak tergantung. Jadi saya berjuang sendiri. Kalaupun saya berkawan, itu dalam kesetaraan. Begitu juga saya berkawan dengan penyair Sutardji Calzoum Bachri. Dan tak pernah sekalipun saya menunggangi kebesaran seorang Sutardji! Jadi kalau Tuan-Tuan berpikir saya (dan Mariana) menyerap tenaga-tenaga kalian, untuk sebuah popularitas, ini kelucuan dan kebodohan macam apa lagi? Dan Mariana, adalah seorang intelektual, seniman, aktivis dan Direktur di sebuah LSM perempuan. Jadi tak perlu kalian katrol, dia sudah mampu mengkatrol dirinya sendiri.

Anak muda ini cerdik sekali mencari cara mempublikasikan dirinya dan bisa jadi kasus contoh praktek di London School of Public Relations, tulis Taufiq.

Ini pun penghinaan bagi seorang yang ingin melihat dunia sastra maju, semarak dengan perdebatan, dan permainan yang membahagiakan. Lepas dari kesunyian dan keterpencilannya dibanding bidang-bidang lain. Dunia sastra yang bisa menjadi “oase” bagi dunia real di Indonesia.

Apanya yang cerdik, Tuan, kalau semua tindakan saya, saya letakkan dalam bingkai aksi-reaksi: ada pidato kebudayaan Tuan, saya tertarik, saya membuat esai. Ada SMS Tuan yang nyasar ke kantor saya, saya membela diri dengan menulis. (meskipun dalam surat Tuan itu, Tuan menyanggah telah mengadukan saya, tapi faktanya ada SMS tuan ke kantor saya).

Dengan kata-kata “cerdik” itu, malah saya jadi berpikir, jangan-jangan Tuan sedang membisikkan hati Tuan sendiri. Dan Tuan Taufiq minta ditunjukkan bagian mana dari Pidato Kebudayaan dan esai Tuan di Jawa Pos itu (HH dan Gerakan Syahwat Merdeka), yang menindas kebebasan kreatif. Saya akan jawab: stigma Tuan bahwa ada sastra Indonesia yang berputar pada selangkangan itu, (mau) mengkerangkeng pengarang Indonesia untuk memilih ekspresinya sendiri.

Padahal dia bukan berputar di selangkangan, tapi mengutarakan tubuhnya (tanpa terjatuh pada pornografi), sebagai bagian yang diberikan Tuhan padanya. Sebagai salah satu unsur cerita untuk meraih maknanya yang lebih luas. Tetapi kalau VCD porno, pelacuran anak dan sebagainya, kita pun menolak.

Saya akan menyudahi tulisan ini, dengan sekali lagi membuat sebuah argumen yang hemat saya sederhana sekali: tentu saja saya “atheis”, tidak percaya kepada Tuhan yang seperti dibayangkan oleh Taufiq Ismail, Tuhan yang mengkerangkeng hambanya untuk mengembangkan nikmat berupa bakat-bakat serta potensi yang sudah diberikan oleh-Nya sendiri. Melalui penceritaan kehidupan dengan memakai imajinasi dan aspirasinya. Bagi saya Tuhan tidak seperti itu.

Bagi saya Tuhan nyaman kok pada mahluk-Nya. Karena itu saya berkata, “Kita semua cuma anak-anak nakal di mata Tuhan”.

Tetapi terima kasih untuk doanya. Saya pun ingin mendoakan Tuan: semoga Tuan segera mendapat pencerahan, sehingga dapat lebih rendah hati terhadap kehidupan.

Jakarta, 26/102007

(hudan hidayat)
____________ _________ _____

blog: http://artculture- indonesia. blogspot. com

____________ _________ _________ _________ _________

Penghancur-busukan Sudah Dari Dalamnya

Penghancur-busukan Sudah Dari Dalamnya

Sekitar Tembok Berlin

(20)

 

Oleh : A. Kohar Ibrahim

 

 

 

TATKALA pertukaran pikiran dengan para mahasiswa-mahasiswi di kawasan balik barat Tembok Berlin itu sampai pada perlakuan biadab terhadap kaum perempuan dan anak-anak, baik Elke maupun Françoise bereaksi serupa. Merasa teringgung dan mengutuknya.

 

« Schwine ! » ujar Elle.

 

« Cochon ! » ujar Françoise pula hampir bareng. Meski dalam bahasa beda, namun maknanya sama : yang terkutuk bak binatang yang menjijikkan. Babi.

 

Barang tentu hujatan itu semata-mata tertuju pada penguasa militer fasis Indonesia. Yang di satu pihak, secara sepihak, melancarkan dusta-fitnah serta mencap kaum komunis,  khususnya kaum wanita Gerwani berprilaku biadab di Lubang Buaya. Mereka dinyatakan sebagai pelaku siksaan teramat kejam dan keji terhadap para jenderal dalam suasana pesta tarian pornografis. Sehingga mengobarkan dendam kebencian di kalangan masyarakat. Di pihak lain, dalam praktek penindasannya sehari-hari melakukan kebiadaban yang luar biasa. Termasuk pemerasan dan pelecehan seksual terhadap para tapol dan napol perempuan.

 

« Itu adalah variasi dari versi Maling teriak Maling, » ujar Bung Didi. Seraya menegaskan, bahwasanya merekalah yang melakukan kudeta yang sesungguhnya namun meneriakkan orang lain yang melakukan kudeta. Yang berprilaku amoral sesungguhnya namun menuduh orang lain melakukan kebejadan seperti itu. Sesungguhnyalah, implementasi teori « the rotten apple » — penghancur-busukan itu sudah dari dalamnya.

 

« Celakanya, sang korban tidak bisa membantah ataupun membela diri, » ujarku pula. Seraya menambahkan, sekalipun penindasan dalam bentuk pemerasan sekalian pemerkosaan atau pelecehan seksual yang dilakukan penguasa militer atau yang berkuasa di penjara-penjara itu tidak diberitakan pers, namun kabarnya tak bisa terbendung sama sekali.  Hal ihwal yang berkaitan dengan perlakuan yang menghinakan manusia dan kemanusiaan itu cepat ataukah lambat sampai keluar penjara juga.

 

Apakah itu yang terjadi di Sumatera ataukah di Jawa, Bali dan tempat tempat tahanan lainnya di Indonesia. Apakah itu yang terjadi di penjara wanita Bukit Duri Jakarta ataukah di Pelantungan, ataukah juga di tempat-tempat lainnya. Kabar secara lisan menjalar bertebar.

 

Akan halnya kabar atau informasi dalam bentuk tulisan dan bahkan berupa buku, barulah bisa diwujudkan di kemudian hari. Belasan bahkan puluhan tahun setelah kisah-kisah yang menggelisahkan itu terjadi. Dalam kaitan ini adalah cukup menarik berita sekitar terbitnya buku yang mengungkap kasus Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) seperti yang dilansir Tempo 29 Januari 2001.

 

Buku yang dimaksudkan adalah asalnya merupakan disertasi yang dipertahankan dengan sukses. Berjudul : « The Politization of Gender Relations in Indonesia. The Indonesian Women’s Movement and Gerwani Until the New Order State » karya Saskia Eleonora Wierenga selaku peneliti dan dosen International Social Studies (ISS), Den Haag. Dalam versi Indonesia yang diterbitkan oleh Kalyanamitra dan Garba Budaya, judulnya menjadi « Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia ».

 

Pada kesempatan peluncuran itu, antara lain diutarakan komentar Myra Diarsi. Bahwa « Kultur patriarki yang kental di masyarakat Indonesia sebetulnya menjadi faktor utama mengapa kampanye AD pimpinan Soeharto dimamah secara sangat gampang. »

 

« Maka ketika penis yang menjadi dignity laki-laki diberitakan disayat-sayat, muncul kesadaran untuk melakukan balasan. »

 

Diutarakan oleh Tempo, bawa « dengan kata lain, kampanye TNI AD disasarkan kepada sentimen patriarki. Tragisnya, Gerwani yang dituduh melakukan kegiatan asusila secara seksual justeru kemudian mengalami peristiwa-peristiwa seksual yang mengerikan. Tidak ada tempat aman bagi mereka. Aliansi perburuan perempuan Gerwani antara beberapa kelompok masyarakat dukungan TNI AD menoreh kisah tersendiri. Tidak terhitung banyak perempuan mati mengenaskan dengan tubuh dan alat kelamin tidak utuh. Bahkan di  penjara mereka tidak luput dari perlakuan serupa.

 

Selanjutnya diutarakan pula pengakuan seorang perempuan eks-tapol yang mengalami sekapan selama 14 tahun, Mujiati : « Waktu di kamp kerja paksa Plantungan, Jawa Tengah, kami sering diperkosa petugas. Malah dua perempuan sampai melahirkan anak. »

 

Sedangkan peneliti LIPI Asvi Marwan Adam menegaskan opininya, bahwa : « Soeharto bertindak dengan cepat dan tegas. Ia pasti menyadari bahwa yang diperlukannya bukan sekedar pameran kekuatan militer. Adanya para perempuan di Lobang Buaya itulah yang digunakan sebagai amunisi oleh Soeharto, demi transisi mental yang diangankannya. Dengan itu bukan hanya perempuan yang berhimpun di sana akan dimusnahkan dengan segala daya, tetapi juga kaum komunis dapat dijatuhkannya sama sekali. Sementara Soekarno dapat dipertontonkan sebagai pemimpin yang tidak becus. »

 

Bagi Eleonora Wierenga sendiri, jelas bahwa sesungguhnyalah Soeharto bertanggung jawab atas semua kampanye media massa dan dukungan langsung personil TNI AD, khususnya Resimen Para Komando AD (RPKAD).

 

Dalam kaitan kisah tragedi bangsa itu, diutarakan pula sajak salah seorang penyair wanita Indonesia yang sempat saya kenal, selain sastrawati lainnya seperti S. Rukiah dan Soejinah. Sajak termaksudkan itu adalah karya puisi Sugiarti Siswadi .

 

Sugiarti Siswadi:

 

“Kami Manusia”

 

Kami bukan lagi bunga pajangan

yang lalu dalam jambangan

Cantik dalam menurut

indah dalam menyerah

molek tidak menentang

ke neraka mesti mengikut

ke sorga hanya menumpang

Kami bukan juga bunga tercampak

dalam hidup terinjak-injak

penjual keringat murah

buruh separo harga

tiada perlindungan

tiada persamaan,

sarat dimuati beban

Kami telah berseru dari balik dinding pingitan

dari dendam pemaduan

dari perdagangan di lorong malam

dari kesumat kawin paksaan :

« Kami manusia ».

 

Tak ayal tak sangsi lagi sajak Sugiarti tersebut mampu menggugah hati dan pikiran saya. Rasa haru bangga bercampur sedih. Lantaran segera terbayang sosok perempuan yang pernah saya sebut-sebut sebagai tipikal puteri Solo. Yang halus perasaan tapi teguh dalam sikap pendirian keberpihakannya pada rakyat, kebenaran dan keadilan.

 

Selain itu, yang tak terlupakan adalah sikap ngemong-nya terhadap penulis muda. Tak pula saya lupakan ketika dalam perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya untuk menghadiri Sidang Pleno Lembaga Sastra Indonesia 1963, kami singgah di kota kelahirannya. Sambil mampir pula ke rumah reyot Mas Gesang — komponis rakyat yang masyhur dengan lagu gubahannya :  Bengawan Solo.

 

Menyimak sajak Sugiarti, saya jadi terdorng untuk juga menyimak sajak tokoh Gerwani, Mbak Sulami. Yang tertera dalam makalah Anne Pohlman berjudul « A Fragment of a Story : Gerwani and Tapol Experiences ».

 

Ini hanya sepenggal cerita lega rasanya / Meski hanya sepenggal / Tetapi / cerita ini datang dari / kengerian yang melaut. / Duka siksa mati manusia yang / menanggung / pengorbanan yang tiada habisnya / Kini telah kutulis. / Betapa tidak. / Anak manusia / ratusan ribu mati disiksa / ratusan ribu masuk penjara / terdampar di pulau buangan / bergulat dengan tanah hutan / Di bawah ancaman ular sanca / Ibu mati ayah pun mati / Ibu dibui ayah pun dibui / Anak-anak melata sendiri / Anak gadis diperkosa / Hamil tak terjaga / Dihardik anak keparat / Keluar dari sekolah ! / Bedebah !

 

Tahun satu sembilan tujuh delapan / Ibu dan ayah pulang dari bui / tetapi yang mati tak kembali / Hilang tanpa rimba / mati tanpa saksi / hukum rimba mengadili / Itu demokrasi ?! / Itu Pancasila ?! / Itu hak azasi ?! / Anak cucu bisa berkata : / Bukan ! / Itu jahanam ! / Batara Kala / Masih mencari mangsa / Mencari / di mana pemburu hak azasi / Demokrasi ekonomi / Keadilan sosial / Kebenaran berpendapat / Menulis dan kreasi / Itulah mangsanya. ***

 

 

Catatan :

Berkas esai sosio budaya STB (Sekitar Tembok Berrlin) : Lagak Lagu Manusia Dalam Perang Dingin Yang Panas disusun 2004-2005. Pernah disiar dibeberapa media cetak & online. ABE-Kreasi Multiply Site.

Biodata A.Kohar Ibrahim: http://16j42.multiply.com/hournal/item/517/

Disiar ulang Facebook 1 April 2011.

__._,_.___
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 72 other followers