Archive for the ‘Sastra’ Category

Segenggam Gumam: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Segenggam Gumam: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (17)

Oleh Hernowo

Helvy Tiana Rosa

“Adakah metode yang digunakan oleh Mbak Helvy dalam membuat buku? Atau, apa kira-kira tahap-tahap yang biasa ditempuh Mbak Helvy dalam membuat buku,” tanya saya secara tertulis kepada pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) itu. Lantas Mbak Helvy menjawab, “Sebenarnya tak ada metode khusus. Pada tahap awal, saya akan membuat naskah yang menurut saya baik, mewakili idealisme saya tapi juga sebisa mungkin laku di pasaran.

 

“Dalam tahap ini, kadang sangat diperlukan riset mendalam, kadang sama sekali tidak diperlukan. Begitu naskah selesai, saya segera menghubungi pihak penerbit yang saya percaya.” Jawaban Mbak Helvy itu merupakan satu dari 10 pertanyaan yang saya lontarkan untuk mengetahui, secara garis besar, bagaimana seorang pengarang menempuh proses kreatifnya.

 

 

Saya memuat pertanyaan untuk dan jawaban dari Mbak Helvy Tiana Rosa di buku saya, Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah (2004). Membuat buku itu unik. Setiap penulis atau pengarang tentu menempuh jalan yang tidak selalu sama. Calon penulis dapat saja belajar dari pengalaman penulis lain. Namun, ketika dia menirunya maka—di tengah proses meniru itu—dia pun perlu menciptakan jalannya sendiri.

 

Mbak Helvy adalah salah seorang pengarang yang layak dijadikan “model”—proses kreatifnya bisa ditiru—oleh pengarang lain, khususnya jika pengarang lain itu ingin mengembangkan potensi menulisnya di dunia fiksi. Lahir di Medan pada 2 April 1970, Mbak Helvy sudah menulis puisi, cerita pendek, naskah drama, dan berteater sejak Sekolah Dasar. Beberapa karya kreatifnya menjuarai berbagai lomba penulisan tingkat nasional.

 

 

Saya masih ingat sekali ketika cerita pengalamannya memenangkan sebuah lomba yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan yang memproduksi suatu produk. Tulisan yang bercerita tentang pengalamannya dalam mengandung putra pertamanya, Faiz Abdurahman, itu beredar di Internet. Intinya, Faiz kemudian dapat menciptakan puisi-puisi yang indah dan “menggigit” ketika masih bocah karena dididiknya ketika Faiz masih berada di kandungan.

 

Nah, menurut Mbak Helvy, sejak Faiz masih di dalam kandungan, Faiz suka dibacakan cerita dan puisi-puisi karya para penyair terkenal. Mbak Helvy juga suka berdialog dengan Faiz yang masih berada dalam kandungan. Ketika Mbak Helvy ketemu dengan seorang penjual bakso yang kepayahan, misalnya, Mbak Helvy kemudian menyapa Faiz bahwa Mbak Helvy berharap kelak Faiz mau menolong orang-orang yang kepayahan.

 

Menurut Mbak Helvy, selain kemudian jago puisi ketika masih bocah, Faiz pun memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Kalau melihat para penjual barang dagangan yang lewat di depan rumahnya dan tampak kepayahan, Faiz suka mengajak mereka untuk mampir di rumahnya dan memberikan air minum atau sekadar memberikan tempat untuk beristirahat dari sengatan teriknya matahari.

 

 

Betapa dahsyat jika apa yang dilakukan oleh Mbak Helvy juga ditiru oleh ibu-ibu muda yang sedang mengandung putra-putrinya. Pada tahun 1990, Mbak Helvy memelopori berdirinya Teater Bening. Pada 1991-2001, Mbak Helvy menjadi Redaktur dan Pemred majalah Annida. Koran Tempo menggelari Mbak Helvy sebagai “pabrik penulis cerita” saat mendirikan FLP pada 1997.

 

Hingga kini, ada sekitar 16 karya sendiri dan 15 karya antologi bersama penulis lain yang sudah diterbitkan. Berkat prestasi dan kiprahnya, pada tahun 2000, majalah Amanah memilihnya sebagai satu dari 10 Muslimah Berprestasi Tingkat Nasional. Harian Republika dan Straits Times menyebut Mbak Helvy sebagai salah satu pelopor genre baru sastra kontemporer.

 

Mbak Helvy juga punya Rumah Cahaya (Rumah BaCA dan Hasilkan KarYA)—tempat kalangan umum, khususnya kaum dhuafa, tak hanya bisa membaca gratis melainkan juga bisa belajar menulis secara cuma-cuma. Segenggam Gumam adalah kumpulan esainya tentang sastra dan kepenulisan yang terbit pada 2003.[]

Kita dan Kami: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Kita dan Kami: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (18)

Oleh Hernowo

Fuad Hassan

Saya punya kenangan-khusus dan mengesankan terhadap almarhum Fuad Hassan. Bahkan, hingga kini, saya masih terus mengagumi kehidupannya. Saya tahu bahwa Fuad Hassan itu perokok berat. Okelah, tak ada gading yang tak retak. Manusia, di tengah kehebatannya, tentu punya kelemahan. Saya ingin mengenang dan terus mengagumi kehebatan Fuad Hassan dalam konteks dia sebagai seorang penulis.

 

Saya berkenalan dengan Fuad Hassan lewat buku yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang. Judulnya Apologia. Buku itu merupakan pembelaan Socrates terhadap tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya yang direkam oleh muridnya, Plato. Fuad Hassan memang hanya menerjemahkan Apologia. Namun, terjemahannya begitu hidup dan benar-benar menyentuh diri saya waktu itu. Dari sini, saya menduga bahwa Fuad Hassan menyukai pemikiran filsafat.

 

Setelah Apologia, saya membaca Berkenalan dengan Esksistensialisme. Dugaan saya semakin mendekati kebenarannya. Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya—waktu itu bernama PT Dunia Pustaka Jaya—ini hanya setebal 144 halaman. Namun, isinya dahsyat. Oleh Fuad Hassan saya dikenalkan—secara mudah dan ringan—kepada pemikiran para filosof yang mengusung aliran eksistensial: Kiekergaard, Nietzsche, Berdayev, Jaspers, dan Sartre.

 

 

Ketika menuliskan tulisan ini, saya benar-benar merasakan jasa Fuad Hassan dalam menumbuhkembangkan diri saya. Entah apa jadinya saya jika tak sempat membaca buku-buku yang dikemas dan disajikan oleh Fuad Hassan dalam bahasa yang mengalir dan sangat enak dibaca. Saya menyadari bahwa ketika saya membaca buku-buku sajian Fuad Hassan, pikiran saya belum berkembang sepenuhnya. Kini, kematangan pikiran saya—jika dapat dikatakan begitu—terbangun berkat sumbangan buku-buku Fuad Hassan

 

Saya kemudian mendengar bahwa Fuad Hassan menerjemahkan tulisan-tulisan sastra. Salah satu yang terkenal adalah karya—kalau tak salah Presiden Hungaria—Aspad Goncz berjudul Pulang. Sebelumnya, Fuad Hassan sudah menerjemahkan dasacarita dari Hungaria juga dengan judul Sang Mahasiswa dan Sang Wanita. Namun, selain Apologia dan kemudian Berkenalan dengan Eksistensialisme, saya menyukai karyanya yang lain yang berjudul Heteronomia.

 

Saya belum membaca karya terjemahan sastranya. Saya hanya tahu bahwa Fuad Hassan juga menulis buku Renungan Budaya, Studium Generale, Pentas Kota Raya, Perlawatan ke Haramian (yang merupakan catatan perjalanan hajinya), dan—yang juga terkenal—Kita dan Kami. Kita dan Kami, kalau tak salah ingat, merupakan disertasi doktoralnya. Fuad Hassan mengulas makna kedua kata itu dalam konteks psikologis dan filosofis. “Kita” dan “kami” adalah dua modus eksistensial seorang manusia dalam konteks keindonesiaan.

 

 

Fuad Hassan memang seorang psikolog. Dia bahkan pernah menjadi guru besar di bidang psikologi (psikologi pendidikan) pada Universitas Indonesia. Selain sebagai guru besar di bidang psikologi, Fuad Hasan pernah menjadi dekan di fakultas psikologi Universitas Indonesia. Fuad Hassan juga menekuni bidang seni. Dia dikenal mampu bermain biola dan berkuda dengan baik dan juga terampil melukis.

 

Nah, izinkan saya memberikan perhatian saya atas dugaan saya bahwa Fuad Hassan menyukai pemikiran filsafat atau bahkan, seungguhnya dia adalah seorang filosof. Ada satu tulisan Fuad Hassan yang saya abadikan di buku saya, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza. Tulisan Fuad Hassan ini terdapat dalam buku hasil suntingan Riris K. Toha Sarumpaet, Sastra Masuk Sekolah (IndonesiaTera, 2002). Judul tulisan Fuad Hassan adalah “Catatan Pengantar Perihal Gagasan ‘Sastra Masuk Sekolah’”.

 

Inilah tulisan Fuad Hassan yang ingin saya tunjukkan yang, menurut saya, sangat mencerminkan pemikiran filosofisnya: “…kesanggupan berbahasa merupakan ciri keunggulan eksistensi manusia sebagai penghuni a world of discourses. Ini berarti bahwa perkembangan kesanggupan berbahasa sekaligus merupakan proses yang memperkaya dan mempercanggih gagasan dan wawasan (ideas and insights) seseorang.

 

 

“Sebagai kelanjutannya, dengan kekayaan dan kecanggihan tersebut, seseorang akan lebih peka dan tanggap dalam interaksinya sebagai penghuni dunia wacana. Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau kita simpulkan bahwa kesanggupan berbahasa adalah latar utama bagi pencanggihan perikehidupan manusia. Perlu segera disertakan catatan bahwa untuk mencapai pencanggihan itu, kesanggupan berbahasa bukan saja berkenaan dengan pernguasaannya sebagai sarana ujaran, melainkan juga sebagai sarana pengejawantahan kesastraan.” (halaman 230-231)

 

Seperti kita ketahui, jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pernah dipegang Fuad Hassan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto (1985 – 1993). Setelah berhenti sebagai Mendikbud, dia diangkat menjadi anggota DPA. Sebelumnya, dia pernah menjabat duta besar RI untuk Mesir dan anggota MPR. Rektor Universitas Indonesia, Gumilar Rusliwa Somantri, menilai bahwa Fuad Hassan adalah sosok yang memikirkan masa depan pendidikan bangsa. “Beliau mendambakan anak didik yang tidak hanya cerdas tetapi memiliki moralitas tinggi,” ujar Gumilar kepada Tempo suatu ketika.[]

Hujan Menulis Ayam: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Hujan Menulis Ayam: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (13)

Oleh Hernowo

Sutardji Calzoum Bachri

Saya membeli kumpulan cerita pendek karya Sutardji Calzoum Bachri sekitar sepuluh tahun lalu. Pertama, saya membeli buku karya Sutardji itu karena terpesona dengan judulnya, Hujan Menulis Ayam. Judul ini memberi saya sebuah pengalaman baru menata dan merangkai kata. Kedengarannya ganjil, namun seperti menyimpan sesuatu: Hujan kok Menulis tentang Ayam sih?

 

Kedua, saya mengenal Sutardji sebagai seorang penyair. O Amuk Kapak adalah buku kumpulan puisinya yang saya beli pertama kali. Sekali lagi, seperti ada daya magis dalam kata-katanya. Judul O Amuk Kapak dan Hujan Menulis Ayam setara. Judul-judul itu berasal dari tiga kumpulan “makna”. “O” adalah kumpulan puisi tersendiri, begitu juga “Amuk” dan “Kapak”. Lantas ketiganya disatukan.

 

Hujan Menulis Ayam pun begitu. “Hujan” adalah sebuah cerita pendek tentang hujan, lantas “Menulis” dan “Ayam” adalah cerita pendek tentang menulis dan ayam. Masing-masing cerita pendek itu terpisah dan tidak saling berhubungan. Dalam bayangan saya, buku kumpulan cerita pendek Sutardji ini berbicara soal air hujan yang jatuh dari langit yang dapat menulis tentang hewan bernama ayam. Ternyata, tidak.

 

Ketiga, selain pesona kata yang muncul dari buku-buku ciptaannya, saya benar-benar mengagumi sosok Sutardji yang disebut-sebut sebagai Presiden Penyair itu. Entah apa maknanya gelaran ini. Namun, menurut banyak kabar yang saya baca, Sutardji ini—dalam konteks perkembangan sastra di Indonesia—adalah seorang pendobrak. Dia membawa ide revolusioner dalam bermain dengan kata-kata.

 

 

Bagi saya, ide Sutardji itu dahsyat. Apa yang dahsyat? Bagi Sutardji, kata-kata harus dibebaskan dari beban penyampaian makna. Luar biasa bukan? Bayangkanlah jika Anda ingin menggunakan kata “makan”, misalnya, kata itu tidak harus diartikan memberi pemahaman kepada Anda tentang sebuah kegiatan dalam konteks mulut kita sedang mengunyah, misalnya, jagung.

 

Ide Sutardji kemudian diterjemahkan secara menggelegar dalam puisi-puisi ciptaannya. Anda bisa melihat bahwa “O” bukanlah “o”. Atau “Amuk” dan “Kapak” bukanlah sebuah kata yang memberikan pemahaman kepada kita tentang keadaan yang rusuh atau senjata yang dapat digunakan untuk membelah kayu, dan seterusnya dan seterusnya.

 

Lewat tulisan-tulisan Sutardji—baik itu berupa esai, cerpen, maupun puisinya—kita sesungguhnya sedang membaca sebuah “dunia baru”. Saya tidak tahu efek ide Sutardji itu dalam perkembangan bahasa Indonesia. Bagi saya, hanya satu: Sutardji sedang mencoba untuk memberikan alternatif tentang cara berbahasa. Dan ini sungguh menarik!

 

Ide bahwa kata-kata harus dibebaskan dari beban penyampaian makna dicetuskannya pada tahun 1973. Idenya itu merupakan kredo kepenyairan yang cukup mengejutkan waktu itu. Penyair mantra, penyair inkonvensional, dan penyair pendobrak kemudian melekat pada diri Sutardji. “Sekitar pertengahan tahun 60-an,” tulis Sutardji dalam mengantarkan Hujan Menulis Ayam, “masa awal kepengarangan saya, menulis cerpen dan puisi sama menarik perhatian saya.”

 

 

Karier kepengarangan Sutardji itu, ternyata, dimulai di Bandung. Ketika itu, dia menjadi mahasiswa FISIP Unpad. Dia lahir di Rengat, Indragiri Hulu, Riau, pada 24 Juni 1941. Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti “Poetry Reading International” di Rotterdam. Kemudian dia juga mengikuti seminar “International Writing Program” di Iowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975.

 

Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand. Demikian kita dapat membaca sedikit riwayat hidup Sutardji tersebut di Wikipedia.

 

Pertanyaannya kini, adalah, kapan di era internet seperti sekarang ini muncul pendobrak-pendobrak baru dalam bidang sastra sebagaiamana Sutardji?[]

__._,_.___

Ragam tanggapan untuk Taufiq Ismail

Ragam tanggapan untuk Taufiq Ismail

From: Farida Wardhani, Surabaya
E-mail: fwardhani@gmail. com

Taufiq Ismail patut dihargai

Saya membaca e-mail Taufiq Ismail, penyair Angatan 66, kepada Dubes Indonesia di Praha, Dr. Salim Said. Saya tidak tahu bagaimana e-mail itu tersiar? Akan tetapi setelah membaca sikapnya kepada yang disebutnya “Gerakan Syahwat Merdeka”, saya lega ketika saya sampai kepada kalimat, bahwa dia tidak akan membrangus kemerdekaan menulis dan menyatakan pendapat.

Kata Taufiq:

“Dua tahun lamanya saya tidak dapat menulis di media massa, 1964-1965, selepas pelarangan Manifes Kebudayaan (daftar hitam nama kami pendukung Manifes tersebar ke seluruh media massa zaman itu) dan pengalaman pahit tak terlupakan itu janganlah terjadi lagi pada siapa pun.”

Saya kira kita wajib menghargai sikap ini!

Yang membuat waswas, kalau nanti semua kecemasan Taufik Ismail kepada “kelompok atheis, homoseks, lesbian, feminis, dan anarkis” yang memperkuat “Gerakan Syahwat Merdeka” negeri kita ini dijadikan kecemasan atas nama agama dan atas nama negara, lantas ada tindakan pembredelan, sweeping, dan teror. Bukankah ini pernah terjadi dengan karya seni rupa Agus Suwage dalam Biennale Seni Rupa CP pada tahun 2005?

Saya sendiri menolak keras buku dan film porno yang melibatkan kekerasan kepada perempuan dan anak-anak. Akan tetapi MUI, dan juga polisi dapat menilai salah dan FPI bertindak sewenang-wenang terhadap apa saja yang mereka putuskan sebagai “porno”.

Kalau itu terjadi, saya berharap Taufiq Ismail berani bersuara menentang kesewenang-wenangan itu. Mudah- mudahan ia bersedia menyatakan sikapnya tentang pembrangusan karya Agus Suwage.

Farida Wardhani.

____________ _________ _____

From: Inez Dikara
E-mail: inezdikara@yahoo. com

Kalau seandainya Hudan Hidayat memang atheis, mengapa tidak membela keyakinannya seperti Taufiq Ismail membela/memperjuang kan keyakinannya? Jadi tidak perlu sembunyi- sembunyi/menafikan ‘tuduhan’ itu. Tetapi jika ternyata Hudan Hidayat memang bukan atheis, ya biarkan saja Tuhan yang menilai semua itu, terlepas dari apa yang dikatakan orang terhadap kita. Toh masing-masing orang nantinya akan mempertanggungjawab kan perbuatannya di hadapan Tuhan.

Untuk Pak Taufiq Ismail, bukankah Islam menciptakan kemanusiaan tidak melalui kekerasan yang fanatik, melainkan terwujudnya kemerdekaan dan persaudaraan tanpa memperhatikan ras dan keyakinan?

Mungkin sebaiknya memang kita menyibukkan diri saja dengan kekurangan dan segala dosa yang telah kita perbuat, tanpa perlu menilai/mengadili keyakinan orang lain.

Saya yang penuh dosa-dosa,

Inez Dikara

____________ _________ _____

From: Mariana Amiruddin, Jakarta
E-mail: mariana@jurnalperem puan.com

Taufiq Ismail menghina feminisme

Email Taufiq Ismail (TI) ke saya tentang Hudan Hidayat (HH) dan Gerakan Syahwat Merdeka (GSM).

Pertanyaan:
Pertama, untuk apa dikirim ke saya?
Kedua, untuk apa dikirim ke Salim Said juga?
Ketiga, memangnya Hudan-Hidayat itu siapa sih, kok segitunya menyerang dia?
Keempat, dia menghina feminisme, paling tidak menghina karena ketidaktahuannya dengan wacana feminisme dan pluralisme.
Ini orang mulai ketarik ke semangat terorisme, atau trend polisi syariat dimana-mana.
Nggak ada hujan, nggak ada badai tiba-tiba serang orang dari belakang.
Buat saya sangat mengganggu.

 

Pak Taufiq,

Anda harus hati-hati dengan kata-kata di nomor 5 tentang Amerika Utara terutama komentar anda tentang kaum feminis:

“Kaum feminis gencar-gencarnya mengumumkan liberasi atau pembebasan kaum perempuan, maknanya liberasi kopulasi atau kebebasan berkelamin.”

Dan point nomor 6 yang pukul rata menghina kaum feminis di Indonesia:

“Itulah adegan garis besar Gerakan Syahwat Merdeka, Amerika Utara, 1970-an, yang berulang 3 dasawarsa kemudian di negeri kita dalam format sama”

Pak Taufiq, anda harus belajar lebih banyak tentang gerakan kaum feminis di Indonesia yang plural, dan kalau anda bicara begitu sembarangan, itu bisa menyinggung seluruh tokoh feminis yang ada di Indonesia. Feminis muslimah misalnya seperti Ibu Sinta Nuriyah Wahid, Ibu Musdah Mulia, Ibu Maria Ulfah Anshor, Ibu Farha Ciciek, mereka adalah beberapa pejuang permpuan muslim, mereka membela agama dan hak-hak perempuan. Mereka anti terhadap eksploitasi dan seks bebas.

Jadi pernyataan anda ini bisa menghina kemajemukan gerakan kami di Indonesia. Untuk konteks pornografi, aliran feminis radikal (bahkan dari Amerika) bernama Chaterine McKinnon sangat anti, dan punya kontribusi terhadap terbentuknya UU pornografi di Amerika, begitu juga Andrea Dworkin.

Mereka malah lebih nyata pergerakannya dalam melawan pornografi, tidak dengan menyerang orang sana-sini, tetapi memberi argumentasi jelas, data dan solusi dari persoalan pornografi yang mengeksploitasi kaum perempuan tersebut.
Salam,

Mariana
____________ _________ _____

Tuan Taufiq Ismail sedang membisikkan hatinya sendiri?

Oleh Hudan Hidayat

Sejak Pidato Kebudayaan, sampai dengan kirim e-mail kepada Salim Said itu, Tuan Taufiq Ismail telah “main kayu” dalam berwacana tentang sastra Indonesia.

Coba bayangkan, dia yang melancarkan stigma sastra SMS, sastra FAK.

Samar-samar, tersebut nama Djenar Maesa Ayu dan Ayu Utami. Tapi tidak ada telaah, karya yang mana dan pada bagian mana sastra yang disebutnya bersyahwat-syahwat itu. Masa iya sih, dari ratusan lembar tulisan itu, syahwat semata seperti yang dituduhkannya? Karena itu saya bilang, sastra mereka bukan fiksi selangkangan, tapi memakai medium “seks” sebagai sampiran, untuk sesuatu yang lebih tinggi. Jadi, ada transendensi. Ada kontemplasi.

Belakangan, setelah saya merespon Pidato Kebudayaan yang membuat banyak orang geli itu, saya pun kena tuduhan serupa: Hudan Hidayat dan Gerakan Syahwat Merdeka.

Saya berani taruhan, bahwa “Tuan Penyuara Gerakan Syahwat Merdeka” kita ini, tak pernah membaca novel saya dan Mariana, “Tuan dan Nona Kosong” (meski awal terbitnya sudah saya berikan pada orang-orang HORISON untuknya), tetapi dengan sengit telah melancarkan tuduhan.

Coba saya tanya, Tuan Taufiq, apakah “seks” di dalam novel kami itu semata dunia selangkangan? Bila iya, pada bagian mana? Tidakkah ia adalah sebuah upaya yang luar biasa, dari seseorang untuk menjangkau Tuhannya?

Tentu saja, sastra bisa didekati dengan “bahasa” apa pun, meski pendekatan tetap harus ada batas-batasnya. Karena sastra adalah dunia tersendiri, di samping dunia-dunia tersendiri lainnya, yang memang diciptakan Tuhan seperti itu: mempunyai kekhasannya sendiri. Seperti ada gunung ada ngarai. Ada malam ada siang. Dan semua dunia ini mempunyai bahasanya sendiri dan hukum-hukumnya sendiri.

Jelas sekali Tuan Taufiq mendekati sastra dengan bahasa moral agama (Islam). Tetapi dia mengatakan, saya yang mengutip Quran, dia tidak. Baiklah. Tapi saya tanya, dari mana moralitas Tuan yang (seperti saya juga yang menolak), sepenuh energi mengerahkan segala daya untuk mengatakan telah terjadi syahwat-syahwatan semata dalam sebagian sastra Indonesia? Bukankah tindakan seseorang datang dari keyakinannya? Kalau demikian, apakah gerangan keyakinan Tuan?

Menyadari ini, maka saya langsung mengajak Tuan untuk sama-sama melihat, bagaimana sesungguhnya “maunya” Kitab Suci itu, terhadap pokok yang sedang kita bincangkan. Tapi Tuan bungkam.

Kebungkaman Tuan Taufiq, ternyata datang dari dua hal:

1) berlogika dalam sastra tidak dikerjakannya lagi, sudah dikerjakannya 30 tahun yang lalu. Dan ini kan lucu! Bagaimana mungkin? Dia kan harus mempertanggung- jawabkan stigmanya itu! Ini kan sama dengan tuduhan: hey, kamu kan penjahat! Lho, kok kamu menuduh saya penjahat? Iya pokoknya kamu penjahat. 30 tahun yang lalu saya juga menemukan penjahat kok.

2) bahwa Tuan Taufiq Ismail anti pada intelektualitas, dan kasar dalam “berdialog”, serta yang lebih berat lagi, dalam hatinya telah berkecambah tuduhan yang jauh sekali dari contoh-contoh yang diperagakan Nabi: lemah-lembut sesama, bersangka baik dengan sesama.

Mengapa? Simaklah surat kepada Salim Said itu (halaman 2): siapapun yang berbicara dengan aktivis 10 komponen gerakan ini dengan memakai ukuran moral manusia waras dan normal, apalagi agama, akan mereka tertawakan habis-habisan. Juga Tuan Taufiq suatu ketika berkata kepada saya: percuma berbicara agama dengan mereka. (Maaf Tuan, Nabi kita didustakan dan beliau tetap berbicara dengan musuh-musuhnya, dengan santun dan kasih sayang pula).

Dan siapakah aktivis itu: adalah atheis, homoseks, lesbian, feminis, dan anarkis – semua mahluk-mahluk Tuhan juga. Jadi di mata Tuan Taufiq, semua orang sudah bersalah semua, kecuali, mungkin, penulis-penulis sastra yang bergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP), karena tidak menulis sastra dengan sampiran “pornografi” dalam karya-karya mereka.

Lalu, ini apa? Bagaimana mungkin seorang Taufiq Ismail bisa menggenggam kebenaran sendirian? Bagaimana mungkin di dalam hatinya tidak sedikit pun terlintas untuk melihat kemungkinan kebenaran di dalam diri orang lain, setidaknya “kebenaran” dalam sastra – yakni kebermaknaan sebuah karya sastra untuk manusia.

Sudah jelas, saya bagian aktivis yang dituduh oleh Taufiq itu. Tetapi toh saya malah yang mengajaknya memandang karya sastra dalam perspektif agama. Saya tidak menertawakan. Malah Taufiq yang bungkam, diam. Mengungkapkan dengan kalimat “moral manusia waras dan normal” seperti itu, Taufiq hendak mengatakan mereka tidak waras dan tidak normal. Bagaimana dengan feminis seperti Musdah Mulia, Maria Ulfah, Sinta Nuriah Wahid, Farha Ciciek, dan Debra Yatim yang santun serta sangat Aceh itu, juga tidak waras dan tidak normal?

Haraplah dicatat, feminis-feminis ini mempunyai keluarga baik-baik, dengan suami dan anak- anak mereka yang baik-baik. (dengan segala hormat, mohon beliau-beliau ini ikut menyumbangkan suaranya dengan segenap tuduhan ini).

Saya melihat malah rekan se”ideologi” Taufiq lebih matang dalam berwacana, lebih dewasa pula. Semisal Saut Situmorang dan Kuswaidi, yang berani dan mau masuk ke substansi masalah yakni sastra pornografi, meskipun hemat saya, kedua penulis ini tidak menggunakan metodologi yang maksimal dalam argumen mereka.

Pada titik ini, akhirnya saya harus mengakui warning M. Faizi dalam tulisannya di harian Jawa Pos, bahwa “petasan-petasan yang disulut Taufiq Ismail dan Hudan Hidayat adalah berbahaya dan menakutkannya. ” Tapi saya memandang bahaya itu datang dari Taufiq Ismail dengan kedua poin yang sudah saya kemukaan ini.

Saya disebut Taufiq tidak peduli dengan destruksi sosial. Siapa bilang? Terasa bagi saya di sini Taufiq sangat sloganistik. Sangat verbal dan sempit pikiran. Semua pengarang boleh saja menggarap karyanya, tidak mesti seluruh kerusakan yang diterminologikan sebagai Gerakan Syahwat Merdeka oleh Taufiq itu, yang boleh diangkut ke dalam karya sastra.

Dalam kaitan dengan tuduhan a-sosial ini, terkait dan berkait dengan tuduhannya yang lain, bahwa saya mengalihkan 10 isyu yang dipeluk-ditimang oleh Taufiq Ismail yang, mohon maaf, tidak bisa saya hindari kesan seolah “dagangannya” ke muka publik, seperti sering dieejekkan kawan-kawan seniman.

Mengapa? Karena tidak pernah/atau belum pernah, saya mendengar atau melihat seorang Taufiq Ismail mempunyai gerakan konkret terhadap masyarakat kecil yang terkena seluruh destruksi yang disebutkannya itu, kecuali kegiatannya menulis, membaca puisi, atau ceramah. Tentu saja, kegiatan ini pun mulia.

Saya katakan, bahwa saya boleh memasuki dari bagian mana saja dari poin pidatonya, tanpa harus terkena tuduhan mengalihkan isyu. Apalagi poin yang saya masuki adalah hal yang langsung mengenai dunia yang saya geluti. Yakni sastra. Melarang saya mengekplorasi salah satu poin itu, sama dengan tindakan yang tidak demokrat dalam sastra. Menuduh saya tidak peduli karena saya fokus kepada poin itu, sama dengan tindakan/keinginan menyeragamkan pikiran manusia – sesuatu yang dilarang Tuhan secara keras. Dan kalau boleh berkata, saya menulis juga kok, akan imbas-imbas yang Tuan maksudkan itu, tetapi tentu, dengan “gaya sastra” yang pastilah Tuan tentang. Baca deh, buku-buku saya, Tuan Taufiq, sebagaimana saya membaca buku-buku Tuan.

Dan lihatlah cara-cara kasar dan antiwacana seorang Taufiq Ismail, dengan membuat metapora kebakaran yang seluruh keluarga sibuk memadamkan api, tapi ada anak kecil umur 10 tahun yang merengek-rengek minta jatah jajan belanjanya. Yakni, HH.

Inilah metapora yang sangat menghina pemikiran – khususnya pemikiran sastra. Inilah kehendak seorang fasis yang ingin dan memaksakan rakyatnya agar seragam dalam berpikir dan seragam dalam bertindak.

Dan ini terasa sekali dengan metaporanya yang lain lagi, yang bagi saya sangat berbahaya dan sangat menghina pendidikan di Indonesia . Lihatlah kata-kata Taufiq: seorang guru mengajarkan alphabet “a” sampai “k”, tapi ada seorang anak yang hanya mau menyebut “g” saja meski sudah dipaksa.

Apakah artinya ini? Sang guru telah melampaui wewenangnya sebagai manusia, yaitu seolah tidak mungkin luput dari kesalahan, dengan memaksakan sesuatu yang tidak/belum sempat “disukai/disentuh” oleh muridnya.

Dengan menindas dan mematikan kemandirian dan keberanian muridnya untuk berpikir lain, berpikir sendirian dari arus massa yang nota bene telah merusakkan segi-segi kita sebagai bangsa (ingatlah korpri, pakaian seragam, yang telah menjadikan bangsa kita tidak kreatif, takut dan tidak punya inisiatip kemandirian. Tidak punya visi sendiri).

(Idiiihhh, Tuan Taufiq genit deh, dengan memetaporakan diri sebagai guru, dan HH sebagai anak didiknya).

Ada satu lagi yang saya ingin tandaskan, Tuan Taufiq, Tuan Saut, dan Tuan Kuswaidi, bahwa dunia sastra adalah dunia kreatif yang kejam. Hanya orang bernapas panjang dan bersaraf baja saja yang berhasil. Dan tentu saja berbakat, Tuan. Tidak ada katrol-katrolan di dunia sastra. Setidaknya bagi saya. Sebagus apapun hubunganmu, kalau karyamu jelek, maka kamu akan tenggelam bersama waktu.

Sudah sejak awal saya masuk dunia sastra, saya tanamkan pikiran ini di hati. Hampir 15 tahun sejak saya pertama kali menulis, saya memendam sendiri keinginan saya, melatih sendiri diri saya, tidak pernah merengek, tidak pernah bergantung dengan siapapun. Saya membatu dalam hati saya sendiri.

Dan hingga hari ini prinsip itu saya anut. Tak tergantung. Jadi saya berjuang sendiri. Kalaupun saya berkawan, itu dalam kesetaraan. Begitu juga saya berkawan dengan penyair Sutardji Calzoum Bachri. Dan tak pernah sekalipun saya menunggangi kebesaran seorang Sutardji! Jadi kalau Tuan-Tuan berpikir saya (dan Mariana) menyerap tenaga-tenaga kalian, untuk sebuah popularitas, ini kelucuan dan kebodohan macam apa lagi? Dan Mariana, adalah seorang intelektual, seniman, aktivis dan Direktur di sebuah LSM perempuan. Jadi tak perlu kalian katrol, dia sudah mampu mengkatrol dirinya sendiri.

Anak muda ini cerdik sekali mencari cara mempublikasikan dirinya dan bisa jadi kasus contoh praktek di London School of Public Relations, tulis Taufiq.

Ini pun penghinaan bagi seorang yang ingin melihat dunia sastra maju, semarak dengan perdebatan, dan permainan yang membahagiakan. Lepas dari kesunyian dan keterpencilannya dibanding bidang-bidang lain. Dunia sastra yang bisa menjadi “oase” bagi dunia real di Indonesia.

Apanya yang cerdik, Tuan, kalau semua tindakan saya, saya letakkan dalam bingkai aksi-reaksi: ada pidato kebudayaan Tuan, saya tertarik, saya membuat esai. Ada SMS Tuan yang nyasar ke kantor saya, saya membela diri dengan menulis. (meskipun dalam surat Tuan itu, Tuan menyanggah telah mengadukan saya, tapi faktanya ada SMS tuan ke kantor saya).

Dengan kata-kata “cerdik” itu, malah saya jadi berpikir, jangan-jangan Tuan sedang membisikkan hati Tuan sendiri. Dan Tuan Taufiq minta ditunjukkan bagian mana dari Pidato Kebudayaan dan esai Tuan di Jawa Pos itu (HH dan Gerakan Syahwat Merdeka), yang menindas kebebasan kreatif. Saya akan jawab: stigma Tuan bahwa ada sastra Indonesia yang berputar pada selangkangan itu, (mau) mengkerangkeng pengarang Indonesia untuk memilih ekspresinya sendiri.

Padahal dia bukan berputar di selangkangan, tapi mengutarakan tubuhnya (tanpa terjatuh pada pornografi), sebagai bagian yang diberikan Tuhan padanya. Sebagai salah satu unsur cerita untuk meraih maknanya yang lebih luas. Tetapi kalau VCD porno, pelacuran anak dan sebagainya, kita pun menolak.

Saya akan menyudahi tulisan ini, dengan sekali lagi membuat sebuah argumen yang hemat saya sederhana sekali: tentu saja saya “atheis”, tidak percaya kepada Tuhan yang seperti dibayangkan oleh Taufiq Ismail, Tuhan yang mengkerangkeng hambanya untuk mengembangkan nikmat berupa bakat-bakat serta potensi yang sudah diberikan oleh-Nya sendiri. Melalui penceritaan kehidupan dengan memakai imajinasi dan aspirasinya. Bagi saya Tuhan tidak seperti itu.

Bagi saya Tuhan nyaman kok pada mahluk-Nya. Karena itu saya berkata, “Kita semua cuma anak-anak nakal di mata Tuhan”.

Tetapi terima kasih untuk doanya. Saya pun ingin mendoakan Tuan: semoga Tuan segera mendapat pencerahan, sehingga dapat lebih rendah hati terhadap kehidupan.

Jakarta, 26/102007

(hudan hidayat)
____________ _________ _____

blog: http://artculture- indonesia. blogspot. com

____________ _________ _________ _________ _________

Penghancur-busukan Sudah Dari Dalamnya

Penghancur-busukan Sudah Dari Dalamnya

Sekitar Tembok Berlin

(20)

 

Oleh : A. Kohar Ibrahim

 

 

 

TATKALA pertukaran pikiran dengan para mahasiswa-mahasiswi di kawasan balik barat Tembok Berlin itu sampai pada perlakuan biadab terhadap kaum perempuan dan anak-anak, baik Elke maupun Françoise bereaksi serupa. Merasa teringgung dan mengutuknya.

 

« Schwine ! » ujar Elle.

 

« Cochon ! » ujar Françoise pula hampir bareng. Meski dalam bahasa beda, namun maknanya sama : yang terkutuk bak binatang yang menjijikkan. Babi.

 

Barang tentu hujatan itu semata-mata tertuju pada penguasa militer fasis Indonesia. Yang di satu pihak, secara sepihak, melancarkan dusta-fitnah serta mencap kaum komunis,  khususnya kaum wanita Gerwani berprilaku biadab di Lubang Buaya. Mereka dinyatakan sebagai pelaku siksaan teramat kejam dan keji terhadap para jenderal dalam suasana pesta tarian pornografis. Sehingga mengobarkan dendam kebencian di kalangan masyarakat. Di pihak lain, dalam praktek penindasannya sehari-hari melakukan kebiadaban yang luar biasa. Termasuk pemerasan dan pelecehan seksual terhadap para tapol dan napol perempuan.

 

« Itu adalah variasi dari versi Maling teriak Maling, » ujar Bung Didi. Seraya menegaskan, bahwasanya merekalah yang melakukan kudeta yang sesungguhnya namun meneriakkan orang lain yang melakukan kudeta. Yang berprilaku amoral sesungguhnya namun menuduh orang lain melakukan kebejadan seperti itu. Sesungguhnyalah, implementasi teori « the rotten apple » — penghancur-busukan itu sudah dari dalamnya.

 

« Celakanya, sang korban tidak bisa membantah ataupun membela diri, » ujarku pula. Seraya menambahkan, sekalipun penindasan dalam bentuk pemerasan sekalian pemerkosaan atau pelecehan seksual yang dilakukan penguasa militer atau yang berkuasa di penjara-penjara itu tidak diberitakan pers, namun kabarnya tak bisa terbendung sama sekali.  Hal ihwal yang berkaitan dengan perlakuan yang menghinakan manusia dan kemanusiaan itu cepat ataukah lambat sampai keluar penjara juga.

 

Apakah itu yang terjadi di Sumatera ataukah di Jawa, Bali dan tempat tempat tahanan lainnya di Indonesia. Apakah itu yang terjadi di penjara wanita Bukit Duri Jakarta ataukah di Pelantungan, ataukah juga di tempat-tempat lainnya. Kabar secara lisan menjalar bertebar.

 

Akan halnya kabar atau informasi dalam bentuk tulisan dan bahkan berupa buku, barulah bisa diwujudkan di kemudian hari. Belasan bahkan puluhan tahun setelah kisah-kisah yang menggelisahkan itu terjadi. Dalam kaitan ini adalah cukup menarik berita sekitar terbitnya buku yang mengungkap kasus Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) seperti yang dilansir Tempo 29 Januari 2001.

 

Buku yang dimaksudkan adalah asalnya merupakan disertasi yang dipertahankan dengan sukses. Berjudul : « The Politization of Gender Relations in Indonesia. The Indonesian Women’s Movement and Gerwani Until the New Order State » karya Saskia Eleonora Wierenga selaku peneliti dan dosen International Social Studies (ISS), Den Haag. Dalam versi Indonesia yang diterbitkan oleh Kalyanamitra dan Garba Budaya, judulnya menjadi « Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia ».

 

Pada kesempatan peluncuran itu, antara lain diutarakan komentar Myra Diarsi. Bahwa « Kultur patriarki yang kental di masyarakat Indonesia sebetulnya menjadi faktor utama mengapa kampanye AD pimpinan Soeharto dimamah secara sangat gampang. »

 

« Maka ketika penis yang menjadi dignity laki-laki diberitakan disayat-sayat, muncul kesadaran untuk melakukan balasan. »

 

Diutarakan oleh Tempo, bawa « dengan kata lain, kampanye TNI AD disasarkan kepada sentimen patriarki. Tragisnya, Gerwani yang dituduh melakukan kegiatan asusila secara seksual justeru kemudian mengalami peristiwa-peristiwa seksual yang mengerikan. Tidak ada tempat aman bagi mereka. Aliansi perburuan perempuan Gerwani antara beberapa kelompok masyarakat dukungan TNI AD menoreh kisah tersendiri. Tidak terhitung banyak perempuan mati mengenaskan dengan tubuh dan alat kelamin tidak utuh. Bahkan di  penjara mereka tidak luput dari perlakuan serupa.

 

Selanjutnya diutarakan pula pengakuan seorang perempuan eks-tapol yang mengalami sekapan selama 14 tahun, Mujiati : « Waktu di kamp kerja paksa Plantungan, Jawa Tengah, kami sering diperkosa petugas. Malah dua perempuan sampai melahirkan anak. »

 

Sedangkan peneliti LIPI Asvi Marwan Adam menegaskan opininya, bahwa : « Soeharto bertindak dengan cepat dan tegas. Ia pasti menyadari bahwa yang diperlukannya bukan sekedar pameran kekuatan militer. Adanya para perempuan di Lobang Buaya itulah yang digunakan sebagai amunisi oleh Soeharto, demi transisi mental yang diangankannya. Dengan itu bukan hanya perempuan yang berhimpun di sana akan dimusnahkan dengan segala daya, tetapi juga kaum komunis dapat dijatuhkannya sama sekali. Sementara Soekarno dapat dipertontonkan sebagai pemimpin yang tidak becus. »

 

Bagi Eleonora Wierenga sendiri, jelas bahwa sesungguhnyalah Soeharto bertanggung jawab atas semua kampanye media massa dan dukungan langsung personil TNI AD, khususnya Resimen Para Komando AD (RPKAD).

 

Dalam kaitan kisah tragedi bangsa itu, diutarakan pula sajak salah seorang penyair wanita Indonesia yang sempat saya kenal, selain sastrawati lainnya seperti S. Rukiah dan Soejinah. Sajak termaksudkan itu adalah karya puisi Sugiarti Siswadi .

 

Sugiarti Siswadi:

 

“Kami Manusia”

 

Kami bukan lagi bunga pajangan

yang lalu dalam jambangan

Cantik dalam menurut

indah dalam menyerah

molek tidak menentang

ke neraka mesti mengikut

ke sorga hanya menumpang

Kami bukan juga bunga tercampak

dalam hidup terinjak-injak

penjual keringat murah

buruh separo harga

tiada perlindungan

tiada persamaan,

sarat dimuati beban

Kami telah berseru dari balik dinding pingitan

dari dendam pemaduan

dari perdagangan di lorong malam

dari kesumat kawin paksaan :

« Kami manusia ».

 

Tak ayal tak sangsi lagi sajak Sugiarti tersebut mampu menggugah hati dan pikiran saya. Rasa haru bangga bercampur sedih. Lantaran segera terbayang sosok perempuan yang pernah saya sebut-sebut sebagai tipikal puteri Solo. Yang halus perasaan tapi teguh dalam sikap pendirian keberpihakannya pada rakyat, kebenaran dan keadilan.

 

Selain itu, yang tak terlupakan adalah sikap ngemong-nya terhadap penulis muda. Tak pula saya lupakan ketika dalam perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya untuk menghadiri Sidang Pleno Lembaga Sastra Indonesia 1963, kami singgah di kota kelahirannya. Sambil mampir pula ke rumah reyot Mas Gesang — komponis rakyat yang masyhur dengan lagu gubahannya :  Bengawan Solo.

 

Menyimak sajak Sugiarti, saya jadi terdorng untuk juga menyimak sajak tokoh Gerwani, Mbak Sulami. Yang tertera dalam makalah Anne Pohlman berjudul « A Fragment of a Story : Gerwani and Tapol Experiences ».

 

Ini hanya sepenggal cerita lega rasanya / Meski hanya sepenggal / Tetapi / cerita ini datang dari / kengerian yang melaut. / Duka siksa mati manusia yang / menanggung / pengorbanan yang tiada habisnya / Kini telah kutulis. / Betapa tidak. / Anak manusia / ratusan ribu mati disiksa / ratusan ribu masuk penjara / terdampar di pulau buangan / bergulat dengan tanah hutan / Di bawah ancaman ular sanca / Ibu mati ayah pun mati / Ibu dibui ayah pun dibui / Anak-anak melata sendiri / Anak gadis diperkosa / Hamil tak terjaga / Dihardik anak keparat / Keluar dari sekolah ! / Bedebah !

 

Tahun satu sembilan tujuh delapan / Ibu dan ayah pulang dari bui / tetapi yang mati tak kembali / Hilang tanpa rimba / mati tanpa saksi / hukum rimba mengadili / Itu demokrasi ?! / Itu Pancasila ?! / Itu hak azasi ?! / Anak cucu bisa berkata : / Bukan ! / Itu jahanam ! / Batara Kala / Masih mencari mangsa / Mencari / di mana pemburu hak azasi / Demokrasi ekonomi / Keadilan sosial / Kebenaran berpendapat / Menulis dan kreasi / Itulah mangsanya. ***

 

 

Catatan :

Berkas esai sosio budaya STB (Sekitar Tembok Berrlin) : Lagak Lagu Manusia Dalam Perang Dingin Yang Panas disusun 2004-2005. Pernah disiar dibeberapa media cetak & online. ABE-Kreasi Multiply Site.

Biodata A.Kohar Ibrahim: http://16j42.multiply.com/hournal/item/517/

Disiar ulang Facebook 1 April 2011.

__._,_.___

SASTRAWAN RATNA INDRASWARI IBRAHIM

Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 28 Maret 2011

————————————-

Sebuah Obituari:

SASTRAWAN RATNA INDRASWARI IBRAHIM

** * **

Terus terang, baru sekarang inilah aku mendengar nama seorang sastrawan
bernama *RATNA INDRASWARI IBRAHIM (61). *Ia berkarya duduk di
kursi-rodanya. Ia tidak mampu menulis maupun mengetik karena kedua
tangan dan kakinya lumpuh (akibat rachitis).

Dengan rendah hati ia menamakan karya-karya sastranya (kurang lebih 400
naskah), termasuk belasan cerpen-cerpen dan novel-novelnya, — sebagai
*”SASTRA LISAN”*. Indonesia baru sekali ini melahirkan seorang sastrawan
luar biasa seperti Ratna Indraswari. Ya sastrawan, ya aktivis sosial.

Betapa tidak mengagumkan! Seorang yang cacad sejak berumur 10 tahun,
sepanjang hidupnya, sampai ia meninggal kemarin, 27 Maret 2011,
samasekali tidak merintanginya untuk berprofesi sebagi sastrawan aktif
dan produktif. Ini dilakukannya berkat bantuan seorang sahabat, Slamet,
dan seorang pembantu lainnya. Ratna telah memberikan sumbangan penting
pada khazanah sastra Indonesia. Siapapun akan mengagumi keterlibatan dan
dedikasinya pada profesi sastra dan perjuangan sosial lainnya.a

Dengan mengambil sebagai teladan, seorang feminis Inggris, Virgina
Woolf, seorang aktris, sastrawan dan aktivis, — bisa disimpulkan bahwa
Ratna Indraswati adalah seorang seniman yang memperjuangkan
hak-sama-sedrajat wanita dan laki-laki. Pernah diberitakan bahwa
sebagian besar pengagum Ratna yang bersemangat feminis itu, adalah dari
kaum laki-laki.

” . . . . secara umum yang ingin saya lakukan adalah menulis dengan
sangat tekun, sehingga bisa seperti Virginia Woolf,” kata Ratna Indraswari.

* * *

Ratna juga amat peduli masalah-masalah kongkrit sosial, speperti a.l
masalah pencederaan lingkungan. Rumahnya sering menjadi tempat kegiatan
organisasi-organisasi masyarakat yang terlibat dengan masalah-masalah di
masyarakat. Rumahnya terbuka bagi siapa saya yang datang mempesoalkan
masalah kebudayaan dan msalah sosial lainnya, khususnya kasus lingkungan.

Salah satu karyanya, novel “LEMBAH TANJUNG” (2003), bisa dikatakan
sebagai protes keras terhadap pengrusakan wilayah hutan kotanya di Kota
Malang, yang terjadi demi suatu proyek pembangunan perumahan mewah.

Tigabelas tahun lamanya, Indraswari mengetuai sebuah NGO untuk
orang-orang cacad. Kemudian Ratna mendirikan NGO peduli masalah-masalah
lingkungan. Ia juga berkerja untuk Yayasan Kebudayaan Payung (1998),
sebuah lembaga kebudayaan untuk menggalakkan dan memelihara sejarah dan
seni daerah. Ratna juga hadir di Konferensi Wanita Internasional (1997).
di Beijing, Tiongkok. Dalam konferensi tsb Ratna menyampaikan pidatonya.

Terhadap sikap pemerintah yang acuh-tak-acuh terhadap masalah-masalah
kongkrit masyarakat, Ratna menyatakan: “Saya tidak bisa menantikan
dukungan pemerintah, saya harus terus mengembangkan jaringan-kerja saya
agar mampu mengubah keadaan sekarang ini”.

Ratna Indraswari juga mendirikan ‘Forum Pelangi’, sebuah organisasi kaum
muda melakukan kegiatan sosial.(World People’s Blog).

Dimana letak kunci kesuksesannya? Ratna menjawabnya sendiri: ” Anda tahu
saya cacat kan, tetapi (sejak kecil) saya tidak dididik untuk cengeng.

“Saya setia menggeluti dunia sastra, itulah kuncinya,” ungkap Ratna
Indraswari.

* * *

Sastrawaan/budayawan dari generasi muda,*LAKSMI PAMUNTJAK, sehubungan
dengan meninggalnya Ratna Indraswari, menyatakan: — *

“*Sedih mendengar kabar wafatnya Ratna Indraswari Ibrahim, seorang
penulis yang tajam, sekaligus hangat dan peka terhadap kehidupan.
Selamat jalan, mbak Ratna; diri dan pemikiranmu kekal dalam sejarah
sastra Indonesia.”*

Kita sependapat dengan pernyataan Laksmi Pamuntjak itu. Patut
ditambahkan: *Yang mengharukan, mengagumkan adalah dedikasinya sebagai
sastrawan, keaktifannya sebagai anggota suatu organisasi masyarakat,
ketulusanan utk membantu orang lain, meskipun ia sendiri cacad, — serta
semangat hidupnya. *

Ibunya selalu menanamkan kepadanya, meski kemampuan fisiknya terbatas,
namun itu tidak bisa dmenjadi alasan untuk bersikap minder. “Mengapa
tidak. Kamu ‘kan punya otak. Kalau menulis kan bisa minta orang lain
untuk mengetik”.

Ratna patuh berbuat seperti dipesankan orangtuanya kepadanya, yaitu
MEMBIASAKAN MEMBACA BUKUJ. DENGAN MEMBACA APA SAJA, KITA AKAN BERFIKIR,
bahwa ADA CERITA LAIN DI DUNIA INI. Sungguh suatu pesan yang bijak.
Membaca dan membaca apa saja agar kita berfikir dan berfikir. (Sumber
informasi: BBC).

Dengan kepergian Ratna Indraswari Ibrahim, dunia sastra dan budaya
Indonesia telah kehilangan seorang sastrawan dan aktivis yang sulit
dicari bandingnya.

Ada Racun Dalam Lirik Puisi Mutakhir Taufiq

 

“HU AR Rini Endo. Saya baca di Internet undangan diskusi sastra di PDS HBJ (Jum 25/3, 15:30), judul atasnya memperingati 100 hari Asep Semboja, tapi judul berikutnya yg lebih penting “ttg pengarang2 Lekra.” Moderator Martin Aleida dg 2 pembicara. Saya terkejut. Ini keterlaluan. Kenapa PDS memberi kesempatan juga kpd ex Lekra memakai ruangannya utk propaganda ideologi bangkrut ini, yang dulu ber-tahun2 (1959-1965) memburukkan, mengejek, memaki HBJ, memecatnya sampai kehilangan sumber nafkah? Bagaimana perasaan beliau bila melihat PDS warisannya secara bulus licik dimasuki dan diperalat pewaris ideologi ular berbisa ini? Petugas PDS yg tentunya tahu rujukan sejarah ini seharusnya sensitif untuk menyuruh ex Lekra itu menyewa tempat lain saja, bukan di PDS. Hendaknya jangan ex Lekra berhasil lagi buang air besar di lantai PDS. Ajari mereka agar berak di tempat lain yang pantas (Taufiq Ismail).”Pesan beracun, yang menghambur sejak Jumat dinihari, 25 Maret 2011, itu tidak hanya diterima oleh HU (Husseyn Umar), Ketua Dewan Pengurus Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin, AR (Ajip Rosidi), Ketua Dewan Pembina Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin, serta Rini dan Endo masing-masing sebagai staf PDS HB Jassin. Racun itu menyebar cepat, sangat cepat, dan banyak. Wallahu alam, saya tak tahu berapa orang lagi yang menerima pesan itu. Saya kira, pastilah banyak! Karena, menjelang tengah malam pada hari Jumat, saya masih menerima SMS serupa yang diteruskan oleh Titiek, putri Pramoedya Ananta Toer. Kegemparan tidak hanya sampai di situ. Bagai serangan selepas Subuh, pukul 05.45, pagar rumah saya bergetar. “Pak Ajip…” bisik istri saya begitu membalik setelah mengintai siapa gerangan yang bertamu sepagi itu.

Pagi itu pertemuan saya dengan Ajip dengan cepat mencapai puncak yang tidak diinginkan oleh siapa pun. Juga tidak oleh tokek yang sudah kehabisan mangsa. Ajip meminta saya untuk membatalkan diskusi mejabudaya, yang dituduh Taufiq Ismail sebagai diskusi mengenai pengarang Lekra. Dia meminta perhatian khusus dari saya, karena PDS sedang menghadapi masa konsolidasi setelah Gubernur Fauzi Bowo berjanji akan menambah dana untuk kelangsungan hidup pusat dokumentasi sastra itu. Untung masih pagi, saya bisa mengendalikan diri menghadapi orang yang datang membawa kekuasaan dengan pongahnya. Yang mendesak saya untuk membatalkan apa yang sudah menjadi kesepakatan teman-teman. Saya hela nafas, dalam. Ucap saya: “Diskusi itu diselenggarakan oleh kelompok diskusi mejabudaya yang sudah berdiri sejak delapan tahun lalu. Diskusi akan membahas kumpulan tulisan Asep Sambodja dalam buku yang baru diterbitkan Ultimus, judulnya ‘Asep Sambodja Menulis,’  sekaligus peringatan 100 hari meninggalnya penulis. Itu diskusi buku. Bukan diskusi Lekra. Kami juga mengirimkan undangan lewat SMS kepada Taufiq. Dia boleh datang untuk ikut membicarakan buku itu.”

Penjelasan saya itu dengan keras dibanting oleh Ajip dengan hardikan: “Saya sudah baca buku itu! Tak perlu penjelasan! Pokoknya harus dibatalkan! Pilihannya cuma dua, kalian membatalkan diri sendiri atau dibatalkan oleh Taufiq Ismail. Taufiq akan datang membawa pasukan!” Begitu meluapnya emosinya di pagi yang memang tidak sejuk itu, sehingga Ajip lupa mengatakan bahwa buku Asep itu dia terima dari saya dua hari yang lalu. Kutatap matanya beberapa detik, jangka watu yang cukup memberikan kesempatan kepada seseorang untuk mengatakan sesuatu kepada dirinya sendiri yang beresonansi untuk menenangkan hati orang yang sedang dibakar amarah, apalagi amarah yang membabibuta.

Hati saya sesungguhnya sudah terketuk ketika Ajip mengatakan dalam suasana mengkonsolidasi diri, PDS memerlukan ketenangan, mencari kesempatan untuk merenung. Tetapi, ketika dia mengamangkan palu godam berapi yang diterimanya dari Taufiq Ismail bahwa mejabudaya harus bubar dengan acara Asep Sambodjanya, darah saya mendidih. Saya tarik nafas dalam-dalam. “mejabudaya itu bukan saya punya, dia tidak punya hirarki, tak ada ketua, tak ada sekretaris, dia bergerak karena ada yang menginginkan kemajuan, kebetulan saya yang  aktif. Nanti akan saya sampaikan kepada teman-teman pesan Bung Ajp ini. Keputusan ada pada mereka.” Penulis besar dari Tatar Sunda itu, yang cerita-cerita pendeknya sudah saya nikmati ketika saya baru duduk di SMP, tiba-tiba menyodorkan pantatnya ke depan, menenangkan hatinya dengan mereguk secangkir teh yang sejak dari tadi mengamati dirinya. Ajip bangkit, mengucapkan terima kasih, melafalkan salam. Kuikuti dia melewati serambi. Kubukakan pintu pagarku, dan dia pergi menyeret langkah kakinya yang kelihatan seberat pohon kelapa.

Begitulah. Saya segera mengontak teman-teman mejabudaya, memberi tahu mereka tentang Taufiq Ismail yang akan membawa laskar Munafiqin untuk membubarkan diskusi menghormati Asep Sambodja. Beberapa pegiat dan pemikir budaya juga saya kabarkan mengenai ancaman pembubaran diskusi buku itu. Membubarkan diri atau dibubarkan pasukan Taufiq Ismail. Tidak mengejutkan saya, ketika teman-teman mengatakan, “Biarkan dia yang membubarkan supaya publik tahu siapa yang biadab!”

Sebelum diskusi dimulai, secara kronologis saya ceritakan kepada sekitar 50 peserta diskusi tentang apa yang sedang terjadi. Diskusi yang diawali dengan pengantar yang dibawakan Okky Tirto, penyair-pemikir muda, dan penyair Sutikno W.S., mendapat tanggapan hangat dari hadirin. Adi Wicaksono, dan diperkuat oleh penulis-pemusik Vukar, mengatakan bahwa apa yang sudah dikerjakan oleh Asep Sambodja selayaknya diteruskan dan diperdalam oleh para peneliti sesudahnya, untuk melengkapi sejarah secara lebih luas, terutama sejarah kesusastraan Indonesia.

Diskusi berlangsung hangat walau pikiran sebagian teman terpecah. Mata, sebentar-sebentar melirik ke pintu masuk, siap untuk menghadapi gempuran kaum Munafiqin. Tegang juga rasanya dengan kuda-kuda yang terus terpacak seperti senapan yang terus terkokang, sementara musuh tak kelihatan batang hidungnya.  Sebelum azan Magrib diskusi ditutup. Kuda-kuda mengurai ketegangannya. Taufiq Ismail yang ditunggu-tunggu tak muncul juga, aaaah… Ternyata cuma gertak sambal (ijo). Kasihan Ajip Rosidi yang meneruskannya sampai repot-repot melangkahi bendul rumah saya.

Apa sesungguhnya yang terjadi sehingga Taufiq menyebutkan saya “pewaris ideologi ular berbisa”? Sekitar dua tahun lalu saya undang dia lewat SMS untuk menghadiri peluncuran kumpulan cerita pendek saya, “Mati Baik-Baik, Kawan,” dan dia datang, mengkritik salah satu cerita yang dia anggap lemah, serta bertukar pandangan dengan Agung Ayu yang menjadi pembicara utama dalam acara yang berlangsung di PDS HB Jassin itu. (Peluncuran buku itu tak ada hubungannya dengan mejabudaya.)

Saya masih ingat, ketika untuk pertama kali saya berkenalan dengan dia, semasa saya bekerja sebagai wartawan majalah TEMPO, mungkin hanya sekedar basa-basi, Taufiq memuji salah satu cerita pendek saya yang dimuat Horison akhir 1960-an. Dia kelihatannya berubah setelah saya dua kali tampil bersama dia sebagai pembicara di dua seminar yang diselenggarakan di Universitas Indonesia tentang sastra dan G30S, di mana saya secara tedeng aling-aling mengkritik sikapnya yang menutup mata terhadap ratusan ribu atau bahkan jutaan manusia tak berdosa yang jadi korban setelah bencana politik itu. Dia berbicara dengan catatan yang dibuat begitu akurat, tentang Komunis yang mebantai di mana-mana, tapi tidak sudi menyebutkan bahwa mereka yang dituduh Komunis dan simpatisannya yang justru di pelupuk matanya sendiri, dia anggap sebagai TIDAK ADA! BUKAN MANUSIA! Juga sikap saya yang antagonis dengan pendiriannya berhadap-hadapan dengan Lekra dan gerakan kebudayaan pertengahan 1960-an dalam apa yang dinamakan rekonsiliasi Lekra-Manifes Kebudayaan yang berlangsung di Teater Utan Kayu beberapa waktu yang lalu.

“… Hendaknya jangan ex Lekra berhasil lagi buang air besar di lantai PDS. Ajari mereka agar berak di tempat lain yang pantas.” Itu mungkin selarik dari puisi mutakhir Taufiq Ismail. Namun, kalau tidak dibaca dengan sebuah konstruksi sastrawi, maka kata-kata dalam pesan singkatnya itu tak-bisa-tidak dia bersifat perintah terhadap pimpinan dan staf PDS HB Jassin. Barangkali, kata-kata eks Lekra yang berhasil “buang air besar” di PDS, maksudnya adalah diskusi senirupa yang diselenggarakan oleh Bumi Tarung Fans Club yang berlangsung di PDS, 12 Maret 2011, yang coba digagalkan oleh Taufiq dengan membujuk Ajip sang budayawan, dan mengintimidasi Rini, staf pusat dokumentasi yang bermarkas di Taman Ismail Marzuki itu.

Suasana hati Taufiq Ismail ketika menulis SMS itu, kalau boleh saya tebak, adalah suasana kalang-kabut karena kebelet, tak bisa buang air besar. Gara-gara dia sendiri. Dia sudah tak bisa “memberaki” siswa-siswa sekolah menengah atas melalui program sastrawan bicara siswa bertanya, karena pemberi dana, Ford Foundation, menyetop bantuan Rp 100 juta/tahun, lantaran dia menyuarakan suara pemerintah ketika bersaksi mengenai pornografi. “Counter part kita bukan pemerintah, tetapi grassroots. Anda tidak menyuarakan apa yang selayaknya Anda suarakan,” begitulah kira-kira kata-kata mati yang disampaikan Ford Foundation kepada Taufiq. Dan, kabarnya, seperti juga kalau dia membaca puisi, maka dia pun menangis. Hikhikhik…[Dendang lagu Melayu menerabas dari rumah sebelah, meninabobo, katanya, ‘Buyung, anakku seorang, sudahi banjir air matamu di sini saja… langit tak bakal runtuh.’] Saya tidak melihat titik air matanya dengan mata kepala saya sendiri. Tapi, itulah kata-kata imajiner yang saya pungut beterbangan di jalan-jalan, juga di langit.

Untuk dia selalu saya doakan, kalau program itu bisa berkibar lagi. Siapa tahu, suatu ketika setelah pasukan sekutu berhasil menekuk Libya, Ford Foundation berkenan mengucurkan bantuan untuk program yang berguna untuk siswa-siswa sekolah menengah atas itu. Cuma harus diingat selama ini program itu samasekali bertolak-belakang dengan pedagogi pendidikan, karena sastrawan yang disertakan hanyalah teman-teman sendiri. Sudah saatnya melepaskan diri dari kungkungan tempurung kepala dewek.

Saya ingin bertanya dari dokumentasi yang disimpan siapa ada catatan yang menyebutkan bahwa HB Jassin kehilangan nafkah gara-gara Lekra. Sejak kapan HB Jassin bekerja di bawah “pemerintahan” Lekra, sehingga kesalahannya harus diganjar pemecatan. Catatan dari mana yang mengatakan Lekra membawahi Lembaga Bahasa Nasional (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) di mana HB Jassin bekerja? Kawan, sekalipun sebuah khayalan, logika hendaknya terpateri kuat-kuat di sana.

“Bagaimana perasaan beliau bila melihat PDS warisannya secara bulus licik dimasuki dan diperalat pewaris ideologi ular berbisa ini?” gugat Taufiq Ismail. Saya ingin bertanya, sejak kapan Taufiq Ismail diberikan Pak Jassin kuasa penuh untuk menafsirkan perasaannya? Saya tidak dekat, dan berusaha tidak duduk persis di depan meja kerjanya, sejauh itu berkenaan dengan karya sastra. Saya, sebagai watawan majalah TEMPO, pernah dua kali mewawancarai HB Jassin awal 1970-an, ketika kritikus ternama ini dalam proses menerjemahkan Al-Quran secara puitis. Sebagai basa-basi, sebelum memulai wawancara, saya katakan bahwa tiga cerita pendek saya dimuat Horison, yang dia pimpin. Dia tidak bertanya tentang latar belakang saya. Dia cuma senyum. Hamsad Rangkuti, yang bekerja di Horison di bawah pimpinan HB Jassin, mengenal saya, sebagai orang sekampung di Tanjung Balai-Kisaran. Saya tak tahu, dan tak perlu bertanya ke pada Hamsad, apakah dia pernah menceritakan latar-belakang saya kepada Pak Jassin. Sama seperti saya, Hamsad percaya bahwa cerita pendek hidup dengan membawa kodratnya sendiri, dengan keyakinan bahwa setan takkan pernah membawa surga dengan berkendaraan kata-kata.

PDS HB Jassin dalam sorotan. Saya yang sejak pensiun sering mangkal di situ, menulis hampir seluruh cerita yang perah saya terbitkan, termasuk satu novel. Endo Senggono, sebagai staf PDS, telah membuka ruang baca seluas 300 m2 sebesar-besarnya sebagai rumah para sastrawan dan pekerja seni di berbagai bidang: senirupa, film, musik, teater yang masih muda-muda untuk mangkal di situ, di luar jam kerja. Endo kelihatannya sadar sejarah, bahwa para seniman memerlukan tempat mampir, sebagaimana para seniman tahun 1950-an menemukan rumah di Pasar Senen. Dewan Kesenian Jakarta, dengan ruang tamu, dan sekat-sekat enam komite kesenian terlalu elit buat disinggahi.

Endo telah menjadikan PDS sebagai “pusat budaya,” rumah bagi anak-anak muda yang berbakat tetapi masih terlantar. Hati saya terenyuh ketika Ajip Rosidi mengatakan dia akan berupaya memutasikan Endo ke Dinas Kebudayaan dengan jalan membujuk sang kepala dinas. Karena Endo dianggap sesat. “Saya tak tahu apa motif Endo untuk memberikan kebebasan bagi semua orang untuk memanfaatkan PDS,” katanya.

Sepuluh tahun lalu Ajip menunjuk Endo untuk menggantikan Oyon Sofyan sebagai kepala pelaksana PDS, karena Oyon dianggap membangkang, menolak kebijakan Yayasan, karena menurut Oyon, Yayasan datang belakangan sesudah lahirnya pusat dokumentasi HB Jassin. Dalam kiprahnya selama sepuluh tahun, Endo tidak bebas dari kesalahan. Dan mustahil. Mungkin sebuah sistem disiplin sebuah kantor sudah terluka karena pintu yang sudah dia buka dengan hati yang jujur. Manusia terlihat kocar-kacir di situ. Namun, dia sudah membangun sebuah rumah buat mereka yang ingin berkembang. Membuka jalan. Membebaskan diri dari keterlantaran. Kita akan menulis dan melantunkan sebuah ode jika Endo, yang hanya bisa melangkah dengan bantuan ketiak penyangganya, dijatuhkan sampai terjerembab. ***

Martin Aleida, penulis cerita, in:Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com, Tuesday, 29 March 2011 21:20:14

__._,_.___

Islam yang Puitis

Asarpin

Ketimbang mendiskusi Islam Protestan, Islam Katolik, Islam Post-Tradisionalisme, agaknya yang lebih relevan sekarang adalah bagaimana merumuskan pandangan fikih tentang puisi dan kemungkinan untuk menggagas Islam puisi, yaitu Islam yang tidak marah.

Dengan Islam Puisi, saya membayangkan kitab suci, dogma dan syariat bisa dipahami secara puitis. Bukankah bahasa Kitab Suci sesungguhnya adalah puitis? Oleh karena itu, sudah selayaknya jika bahasa Kitab Suci dikembalikan pada bahasa yang puitis dan estetis. Bukan dengan bahasa yang logis argumentatif, tapi bahasa yang simbolik dan metaforik. Bukan dengan pendirian matematik-rasionalis, tapi pendirian ilustratif dan puitik.

Bisa jadi saya berlebihan ketika mengharapkan pergaulan umat beragama akan berjalan dengan sejuk dan saling menyapa dengan masing-masing menempatkan agama dan kitab sucinya sebagai kitab puisi. Sebagai titik awal, saya tidak ingin masuk ke dalam diskusi perbandingan agama sebagai perbandingan nilai, tapi saya berusaha mengajukan tawaran untuk menjadikan beragama melalui tafsir puisi.

Karena puisi pada dasarnya bersandar pada yang tak mungkin, yaitu dengan memakzulkan semua dogma. Sebab tak satu pun dari kepercayaan umat manusia yang pasti paling suci seperti hukum aritmetika dan geometri. Sikap kritis dan anti-dogma adalah hal yang wajar dalam puisi, karena ia menawarkan semacam pembebasan jiwa.

Islam Puisi berangkat dari pemahaman tentang Tuhan yang Mahaindah, dan menghargai keindahan. Sebagai bukti bahwa Ia tidak memusuhi keindahan, maka diturunkannya bacaan yang indah. Alquran adalah perkataan Tuhan yang mengandung keindahan. Bahkan identik dengan keindahan.

Secara psikologis, ada sebuah istilah yang disebut naluri keindahan. Manusia memiliki naluri keindahan, dan condong pada hal-hal yang indah. Quraish Shibab, dalam Wawasan Al-Quran (1996), pernah mgatakan dengan tak disangka-sangka: “Dorongan keindahan merupakan anugerah dari Allah. Ia merupakan fitrah bagi manusia. Adalah suatu hal yang mustahil bila Allah menganugerahkan kita potensi untuk menikmati atau mengekspresikan keindahan, kemudian Ia melarangnya”.

Pandangan Quraish Shibab dalam Wawasan Alquran itu cukup relevan dikuak jauh untuk konteks Islam Puisi di hari ini, kendati bukan satu-satunya, mengingat sampai kini di negeri kita masih dominan pandangan yang menganggap Tuhan memusuhi penyair dan puisi. Tapi tak cuma di Indonesia, bahkan di sebgaian besar negeri yang menganut Islam, puisi nyaris tak dihargai. Di Arab sendiri, kata Adonis, puisi adalah musuh Alquran. Puisi berlawanan dengan Alquran.

”Tak ada teks Alquran yang memuji atau menganjurkan puisi”, kata Adonis dalam sebuah wawancara. ”Sebaliknya, teks Alquran merendahkan puisi”. Untuk menguatkan argumennya, Adonis mengutip sejumlah ayat dari surat Asy-Syuara (Para Penyair) ayat 224-226: ”Dan para penyair diikuti oleh mereka yang sesat. Tidakkah kau melihat sesungguhnya mereka mengembara ke setiap lembah dan mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan.”

Quraish Shibab menempatkan puisi sebagai keindahan, yaitu ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan semesta keindahan. Apa pun definisi dan jenis keindahan itu, yang jelas puisi tidak lain adalah genre sastra yang begitu menekankan seni keindahan. Untuk menguatkan argumennya, Quraish Shihab mengutip sebuah hadis yang menegaskan: innalaha jamiylun yuhibbul jamala: sesungguhnya Tuhan Mahaindah dan menyenangi keindahan.

Bahkan, menurut Quraish Shihab lagi, ada hadis Nabi yang mengesankan pentingnya keindahan bagi seseorang hingga orang tidak disalahkan ketika “berlomba” atau “bersaing” menghadirkan keindahan ucapan. Malik Mararah Ar-Rahawi bercerita tentang seseorang yang ingin menyaingi kata-katanya, lalu ia merasa tak senang walau secuil pun. Dan ia bertanya kepada Nabi apakah sikapnya itu menunjukkan kesombongan, dan Nabi menjawab: tidak, karena keangkuhan adalah meremehkan hak dan merendahkan orang lain, bukan pada soal keindahan.

“Mengabaikan sisi-sisi keindahan yang terdapat di jagad raya ini”, tulis Quraish Shihab, ”berarti mengabaikan salah satu dari bukti keesaan Tuhan, dan mengekspresikannya dapat menjadi upaya membuktikan kebesaranNya, dan ini tidak kalah—kalau enggan berkata lebih kuat—dari upaya membuktikannya dengan akal-pikiran”. Mengabaikan keindahan berarti mengabaikan puisi. Dan mengabaikan puisi berarti mengabaikan pesan Tuhan.

Untuk melanjutkan sikapnya, Quraish Shihab mengutip Immanuel Kant, Syaikh Abdul-Halim Mahmud, lalu mengatakan: “Bukti terkuat tentang Ada (Tuhan) terdapat dalam rasa manusia”, bukan akal. Bahkan seperti kata Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin yang dikutip Quraish Shihab: “Siapa yang tak berkesan hatinya pada saat musim bunga dengan warna-warni kembangnya, atau oleh musik dan getaran nada-nadanya, maka hatinya telah mengidap penyakit parah yang sulit diobati”.

Amin al-Khuli bisa juga kita mintai pendapatnya di sini untuk memahami IsLam Puisi. Sebagai puisi, ia bertujuan membangkitkan semesta metafora dan makna yang ada di dalamnya sebagai petunjuk bagi manusia. Seorang mufassir mau tak mau mesti menggunakan bahasa puisi dengan bantuan gramatika, metafora, gaya, agar mampu menghindari makna monolitik terhadap Alquran, dan pada saat yang sama, mampu menghadirkan indahnya keragaman.

Memahami Islam sebagai agama puisi penting untuk diapresiasi mengingat kita hidup dalam ”abad puisi”. Puisi berkembang begitu pesat kini, dan hampir tak mungkin bisa dilarang dan ditolak. Kini filsafat dan sains tak lain adalah puisi. Bahkan agama pun adalah puisi.

Mengapa puisi? Karena puisi bisa memberikan kelapangan pandangan, keindahan hidup dan kehidupan, dan mampu menjamin kita untuk tak terjebak pada akidah tunggal. Puisi akan menjamin kita untuk tak melakukan kepastian di dalam membuat klaim; menjaga kita untuk tak menjadi orang alim hanya dengan jalan syariat semata.

Source: http://pustaka-pujangga.com

GEGER PUISI TAUFIK ISMAIL YANG MIRIP Douglas Malloch


Bener-bener mirip. Juga TI tidak konsisten: ENGKAU di bait pertama dan lain-lain, KAMU di bait di bait kedua.

Rahardjo Mustadjab <rahardjomustadjab277@gmail.com>
2011/3/30 Item <itemic@gmail.com>

GEGER di dunia maya puisi TAUFIK ISMAIL yang sama dengan karya DOUGLAS MALLOCH. Mungkinkah Doughlas yang menjiplak karya Taufik Ismail, atau sebaliknya? Di bawah ini copy karya dua penyair beda kebangsaan itu dalam judul berbeda.

Saya berharap penyair yang saya hormati itu sempat mencantumkan puisinya sebagai karya saduran atau terjemahan. Kalau tidak, apa kata dunia??

Al Item

Be the Best of Whatever You Are

By Douglas Malloch

If you can’t be a pine on the top of the hill,
Be a scrub in the valley — but be
The best little scrub by the side of the rill;
Be a bush if you can’t be a tree.

If you can’t be a bush be a bit of the grass,
And some highway happier make;
If you can’t be a muskie then just be a bass —
But the liveliest bass in the lake!

We can’t all be captains, we’ve got to be crew,
There’s something for all of us here,

There’s big work to do, and there’s lesser to do,
And the task you must do is the near.

If you can’t be a highway then just be a trail,
If you can’t be the sun be a star;

It isn’t by size that you win or you fail —
Be the best of whatever you are!

————-

Kerendahan Hati
Oleh: Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Ali Sadikin: Yang Mau Jadi Gubernur Jakarta Cintailah Karya Sastra

 

PDS HB JASSIN
Ali Sadikin: Yang Mau Jadi Gubernur Jakarta Cintailah Karya Sastra
Rabu, 30 Maret 2011 , 08:21:00 WIB
Laporan: Kristian Ginting

RMOL. Semua berawal dari 1930an ketika HB Jassin mulai mengoleksi dan mendokumentasikan buku harian dan karya-karya sastra baik karya yang ditulisnya sendiri maupun karya sastrawan lain.

Seperti kecintaannya pada buku dan dunia tulis menulis, hobi ini pun mengalir dari ayahnya, Bague Mantu Jassin, seorang pegawai Bataafsche Petroleum Maat-schappij (BPM) yang memiliki perpustakaan pribadi.

Pada 1940an, ketika Jassin bekerja di Balai Pustaka, satu per satu karya sastra, tulisan tangan, foto-foto dan surat-surat pribadi dikumpulkannya. Jumlahnya sangat banyak. Bila disusun di dalam lemari bisa mencapai 80 meter panjangnya.

Jumlah buku dan naskah yang sangat besar itu dikumpulkan Jassin sejak jaman Jepang sampai awal kemerdekaan Republik Indonesia. Pernah pada suatu ketika seorang asing yang tertarik pada koleksi Jassin meminta agar Jassin bersedia memindahtangankan koleksi itu. Tetapi Jassin menolak. Nilai sejarah dalam koleksinya terlalu berharga untuk diberikan kepada bangsa lain.

Pekan lalu, kepada Rakyat Merdeka Online, Endo Senggono, bercerita tentang saat-saat awal pendirian PDS HB Jassin.

Endo adalah mantan Kepala Perpustakaan PDS HB Jassin antara 2000 hingga 2010. Adalah HB Jassin yang mengajaknya bergabung pada 1987. Awalnya, lelaki kelahiran 1959 alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu bekerja tenaga sukarela seperti umumnya staf yang bekerja di PDS HB Jassin. Baru pada 1997 ia diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.

Di pertengahan 1970an, Gubernur DKI Jakarta ketika itu, Ali Sadikin, menawarkan agar dokumentasi HB Jassin dikelola pemerintah Jakarta. Ali Sadikin berjanji akan memberikan bantuan operasional untuk PDS HB Jassin melalui Dinas Kebudayaan dan Permuseuman.

HB Jassin dan pengelola perpustaakaan setuju. Maka pada 28 Juni 1976 berdirilah Yayasan Dokumentasi HB Jassin yang kemudian berubah nama menjadi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Gubernur Ali Sadikin menjadi ketua Badan Pendiri, sementara Ajip Rosidi sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan.

Setahun kemudian PDS HB Jassin dipindahkan dari Lembaga Bahasa dan Budaya di Jalan Diponegoro No. 82, Jakarta Pusat, ke gedung baru di lingkungan taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat.

“Masalah kebudayaan harus diurus oleh siapa saja yang ingin menjadi gubernur DKI Jakarta,” begitu antara lain kata Ali Sadikin ketika meresmikan gedung baru PDS seperti yang diingat Endo Senggono.

Menempati lahan seluas 900 meter persegi, PDS HB Jassin yang berlantai dua itu berada persis di belakang Planetarium TIM. Dinding-dindingnya dicat berwarna biru. Ruangan PDS HB Jassin dibagi menjadi tiga, yakni ruang kantor, ruang baca dan ruang koleksi. Pada tahun 2006 PDS HB Jassin tercatat memiliki tak kurang dari 48 ribu koleksi.

Koleksi sastra di tempat ini dapat dikatakan lengkap. Karya sastra tertua berasal dari masa keemasan sastra Melayu-Tionghoa yang diterbitkan di awal abad ke-20 antara 1900 hingga 1904, mulai dari karya Kwee Tek Hoay, Lim Kim Hok hingga F. Wiggers.

PDS HB Jassin sangat bergantung pada subsidi yang diberikan pemerintah. Itu pula, kata Endo, yang menjadi kelemahan PDS HB Jassin.

“Mungkin PDS HB Jassin dianggap tidak menghasilkan apa-apa, sehingga Pemprov DKI Jakarta berniat menghentikan bantuan,” kata Endo.

Sebetulnya, selain mengandalkan bantuan dari Pemprov DKI Jakarta, PDS HB Jassin juga berusaha sebisa mungkin mengumpulkan dana operasional dari berbagai kegiatan. Tetapi, saat ini, kata Endo lagi, tabungan PDS betul-betul habis terkuras.

Setelah berita mengenai kebijakan pemerintahan Fauzi Bowo mengurangi hingga akan memotong sama sekali anggaran bantuan untuk PDS HB Jassin berkembang luas, barulah banyak pihak yang memperlihatkan rasa simpati dengan memberikan sumbangan.

“Pada saat begini, PDS HB Jassin merasa lebih mudah untuk mengumpulkan dana. Tapi, pada saat tidak sakit, jual nama HB Jassin pun tidak laku,” Endo masygul.

Satu lagi yang tak habis-habisnya dipikirkan Endo: bila Ali Sadikin mengakui bahwa pelestarian karya sastra merupakan salah satu syarat penting bagi siapa saja yang ingin menjadi gubernur Jakarta, mengapa Fauzi Bowo yang dikenal sebagai salah seorang staf ahli Ali Sadikin dan kini memerintah Jakarta mengurangi dan memotong anggaran bantuan untuk PDS HB Jassin? (Bersambung)

http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=22597

__._,_.___
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers