Archive for the ‘Sastra’ Category

Dian Tak Kunjung Padam: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Dian Tak Kunjung Padam: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (25)

Oleh Hernowo

 DIKBUD@yahoogroups.com; Wednesday, 13 April 2011 04:51:46

  

”Ombak ria berkejar-kejaran

di gelanggang biru bertepi langit.

Pasir rata berluang dikecup,

tebing curam ditantang diserang,

dalam bergurau bersama angin,

dalam berlomba bersama mega”.

 

Sejak itu jiwa gelisah,

Selalu berjuang, tiada reda,

Ketenangan lama rasa beku,

gunung pelindung rasa pengalang

Berontak hati hendak bebas,

menyerang segala apa mengadang.

 

(Penggalan sajak STA, “Menuju Kelaut”)

 

Judul-judul buku Sutan Takdir Alisjahbana (STA)—lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908–meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994—sangat indah. Setiap kali menatap buku-buku STA, saya tentu terpesona atas kata-kata yang berpadu secara harmonis dan indah yang bertengger di sampul bukunya. Layar Terkembang: betapa ini mencerminkan semangatnya untuk terus mengembangkan pikiran meski badai mengadang. Dian Tak Kunjung Padam: hampir setara maknanya dengan Layar Terkembang tapi yang ini lebih indah dan menggigit karena semangat itu bagaikan tak pernah mati. Tebaran Mega, Tak Putus Dirundung Malang, Lagu Pemacu Ombak, Perempuan di Persimpangan Zaman, Kalah dan Menang—sekali lagi, sungguh-sungguh indah.

 

 

 

Bagaimana STA berhasil menemukan judul-judul yang indah dan menggetarkan itu? Bagaimana rangkaian 2, 3, atau maksimal 4 kata dapat benar-benar menghadirkan sebuah karya seni kata-kata yang indah bagai ukiran atau lukisan yang memancarkan pesona? Saya ingin sekali belajar menemukan kata dan merangkainya menjadi alat untuk mengidentifikasi buku-buku karya saya. Saya ingin dapat memiliki keterampilan tinggi dalam meletakkan 2, 3, atau 4 kata menjadi sebuah makna yang sulit ditandingi keindahannya. Saya juga ingin rangkaian kata itu—selain mewakili kandungan buku—juga dapat mencerminkan karakter penciptanya (diri saya). O, di mana saya dapat belajar dan memiliki kemampuan seperti itu?

 

 

STA adalah sastrawan Indonesia yang sangat bersemangat untuk maju. Menamatkan HKS di Bandung (1928), meraih Mr. dari Sekolah Tinggi di Jakarta (1942), dan menerima Dr. Honoris Causa dari UI (1979) dan Universiti Sains, Penang, Malaysia (1987). Pernah menjadi redaktur majalah Panji Pustaka dan Penerbit Balai Pustaka (1930-1933), kemudian mendirikan dan memimpin majalah Pujangga Baru (1933-1942 dan 1948-1953), Pembina Bahasa Indonesia (1947-1952), dan Konfrontasi (1954-1962). Pernah menjadi guru HKS di Palembang (1928-1929), dosen Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Kebudayaan di UI (1946-1948), guru besar Bahasa Indonesia, Filsafat Kesusastraan dan Kebudayaan di Universitas Nasional, Jakarta (1950-1958), guru besar Tata Bahasa Indonesia di Universitas Andalas, Padang (1956-1958), serta guru besar dan Ketua Departemen Studi Melayu Universitas Malaya, Kuala Lumpur (1963-1968)—lihat secara lebih lengkap di Wikipedia.

 

 

Mendengar nama STA, saya tak pernah melepaskannya dari riuh-rendah polemik kebudayaan yang melibatkannya sekitar hampir 76 tahun lalu. Haidar Bagir—dalam mengantarkan buku Sang Pujangga: 70 Tahun Polemik Kebudayaan Menyosong Satu Abad S. Takdir Alisjahbana (2006) yang disunting oleh S. Abdul Karim Mashad—mencoba membandingkan “semangat” STA dengan “semangat” Thaha Husayn, penulis, pemikir, dan sastrawan Mesir yang pemikirannya kontroversial. STA dan Husayn adalah para nasional gigih yang memimpikan kemajuan bangsanya. Keduanya ingin bangsanya maju dengan meniru Barat secara total—bukan setengah-setengah. “STA barangkali tak seekstrem Husayn, tapi pandangan-pandangannya pasti tak kalah tajam (jika dibandingkan dengan Thaha Husayn[HH]),” tulis Haidar.

 

Dalam buku Sang Pujangga, para pembaca dapat melacak secara detail sosok dan pemikiran STA karena selain disajikan biodata yang cukup komprehensi, juga terdapat bibliografi STA yang bisa dibilang lengkap. STA menulis karya pertamanya pada 1929 dengan judul Tak Putus Dirundung Malang. Usianya waktu itu baru 21 tahun. Pada 1945, beliau menyusun Kamus Istilah, menulis Pembimbing ke Filsafat (1947), Soal Kebudayaan Indonesia di Tengah-tengah Dunia (1950), Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah (1954), Sejarah Bahasa Indonesia (1956), Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (1969), Grotta Azzura: Kisah Cinta dan Cita (1970), Amir Hamzah sebagai Penyair dan Uraian Nanyi Sunyi (1979), Revolusi Masyarakat dan Kebudayaan di Indonesia (1988)—untuk menyebut beberapa bukunya yang diperkirakan ada sekitar 50 lebih.

 

 

Dalam kedudukannya sebagai penulis ahli dan kemudian ketua Komisi Bahasa selama pendudukan Jepang, STA melakukan modernisasi bahasa Indonesia sehingga dapat menjadi bahasa nasional yang menjadi pemersatu bangsa. Beliaulah yang pertama kali menulis Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (1936) dipandang dari segi Indonesia dan Kamus Istilah (1945) yang berisi istilah-istilah baru yang dibutuhkan oleh negara baru yang ingin mengejar modernisasi dalam berbagai bidang. Setelah Kantor Bahasa tutup pada akhir Perang Dunia Kedua, beliau tetap mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia melalui majalah Pembina Bahasa yang diterbitkan dan dipimpinnya. Sebelum kemerdekaan, Takdir adalah pencetus Kongres Bahasa Indonesia pertama di Solo. Pada tahun 1970 Takdir menjadi Ketua Gerakan Pembina Bahasa Indonesia dan inisiator Konferensi Pertama Bahasa- Bahasa Asia tentang “The Modernization of The Languages in Asia” (29 September-1 Oktober 1967).

 

“Wahai, apabilakah datang masanya kebudayaan Indonesia tumbuh rimbun dan dahsyat sebagai pohon beringin. Beribu akarnya menyelami bumi dan di bawah lindungannya bangsa Indonesia hidup jaya dan bahagia,” ucap Sutan Takdir Alisjahbana. Konon kata-kata ini dilontarkan oleh beliau pada 1943. Kini, hampir 68 tahun ucapan STA itu berproses. Sudahkah kebudayaan Indonesia tumbuh rimbun? Sudahkan prinsip-prinsipnya seperti beribu akar yang menyelami bumi? Apa yang akan diucapkan oleh anak-anak kita jika mereka ditanya tentang “Apa itu kebudayaan Indonesia?” Sudahkah, kini, bangsa Indonesia berjaya? Siapa saja dari sekitar 200 juta lebih bangsa Indonesia yang kini dapat merasakan kebahagiaan?[]

__._,_.___
Advertisements

Puisi yang Menginspirasi

 

Puisi  yang Menginspirasi

Oleh Hernowo, in:dikbud@yahoogroups.com, Sunday, 10 April 2011 19:13:01

 

William Ernest Henley

 

Out of the night that covers me

Black as the Pit from pole to pole

I thank whatever gods may be

For my unconquerable soul

In the fell clutch of circumstance

I have not winced nor cried aloud

Under the bludgeonings of chance

My head is bloody, but unbowed

Beyond this place of wrath and tears

Looms but the Horror of the shade

And yet the menace of the years

Finds, and shall find, me unafraid

It matters not how strait the gate

How charged with punishments the scroll

I am the master of my fate

I am the captain of my soul

(William Ernest Henley, “Invictus”)

 

William Ernest Henley (23 Agustus 1849 –11 Juli 1903) adalah penyair Inggris yang terkenal dengan puisinya yang diciptakannya pada 1875, “Invictus”. Invictus adalah kata dalam bahasa Latin yang bermakna “tak terkalahkan”. Puisi ciptaan Henley ini, dalam sebuah peristiwa penting, diberikan oleh Nelson Mandela kepada François Pienaar, kapten tim nasional rugbi Afrika Selatan, ketika tim tersebut sedang berlatih untuk memenangkan Piala Dunia Rugbi. Saya menyaksikan “semangat” puisi itu dilayarlebarkan dengan sangat mengesankan oleh Clint Eastwood dengan judul Invictus.

 

Madiba

 

Saya menonton Invictus, bersama anak perempuan saya, lewat saluran televisi berlangganan HBO pada Minggu, 10 April 2011, pukul 09.45 hingga 11.45 WIB. Film ini film lama karena beredar dua tahun lalu. Intinya bercerita tentang pembebasan  Nelson Mandela dari tahanan pada 1990 setelah ditahan selama hampir 30 tahun. Nelson Mandela kemudian memenangkan pemilihan presiden pada 1994 dan harus bekerja keras memperjuangkan rekonsiliasi bangsanya akibat sistem aparteid yang telah menyebabkan konflik berdarah selama 50 tahun di Afrika Selatan. Sebuah perjuangan yang tak mudah.

 

Nelson Mandela diperankan dengan sangat bagus oleh Morgan Freeman, sementara Matt Damon memerankan François Pienaar. Adegan dialog Mandela—yang lebih suka dipanggil Madiba atau Dada—dengan Pienar sungguh sebuah adegan yang luar biasa. Mandela merasakan perlunya semangat atau kata-kata yang menginspirasi untuk tim nasional rugbinya. Kata-kata? Ya, hanya kata-kata. Dia lalu bertanya kepada Pienaar apakah memiliki kata-kata yang menginspirasi? Lantas Mandela mengisahkan tentang lagu Afrika Selatan, “Tuhan Memberkati Afrika”, kepada Pienaar. Pienaar benar-benar merasakan “hantaman” sangat keras setelah bertemu dengan Mandela. Dia memerlukan kata-kata menginspirasi itu untuk membawa tim rugbinya mengalahkan lawan-lawannya.

 

Adegan kedua, yang lebih dahsyat ketimbang adegan yang saya sebutkan sebelum ini, adalah ketika tim nasional rugbi berkesempatan mengunjungi penjara tempat Nelson Mandela ditahan selama hampir 30 tahun. Penjara itu berada di Robben Island. Pienaar ingin merasakan puisi “Invictus” yang telah membakar semangat Mandela ketika dia dipenjara. Secara khusus, sesampai di tempat Mandela ditahan, Pienaar menyempatkan diri berkunjung ke sel sempit yang menahan Mandela. Seraya merasakan gelegar puisi “Invictus”, Pienaar membayangkan Mandela sedang berada di penjara tersebut. Saya tidak bisa melukiskan adegan ini sebaik tayangannya di film Invictus. Pokoknya dahsyat!

 

Poster film itu

 

Masih terkait dengan bagaimana menemukan inspirasi dan mencari semangat bertanding untuk menghadapi kejuaraan Piala Dunia rugbi, Mandela juga meminta tim nasional untuk tur—dengan menggunakan bus—ke pelosok-pelosok negeri Afrika Selatan menemui para penggemarnya. Semula, tur itu dianggap oleh beberapa orang yang ikut tim nasional tak ada gunanya. Apalagi setelah mereka digembleng habis-habisan saat berlatih sehingga kepayahan. Namun, bertemu dengan penggemar adalah sebuah suntikan tambahan yang nilainya tiada tara. Mandela tahu benar bahwa olahraga rugbi dapat menyatukan negaranya yang dicabik-cabik oleh perbedaan warna kulit.

 

Invictus didasarkan pada kisah nyata yang ditulis oleh John Carlin lewat bukunya, Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game That Changed a Nation. Di dalam buku karya Carlin memang dikisahkan bagaimana Nelson Mandela menggunakan tim nasional rugbi Afrika Selatan—dalam memenangi Piala Dunia rugbi di Afrika Selatan yang di final melawan tim nasional rugbi Selandia Baru pada 1995—untuk rekonsiliasi bangsanya. Ketika melihat perpecahan dan kekalahan tim nasional rugbinya, secara sangat khusus Mandela mengunjungi komunitas-komunitas yang masih peduli terhadap olahraga tersebut. Ketika bertemu dengan komunitas-komunitas itu, Mandela kemudian berpidato secara sangat menarik—menginspirasi.

 

Salah satu yang membuat kapten tim nasional rugbi mengagumi Mandela adalah fakta bahwa Mandela bersedia memaafkan orang-orang yang pernah menjebloskannya ke penjara. Dalam film juga ditunjukkan betapa Mandela sangat berdisiplin dan tidak mengenal rasa takut. Setiap pagi, dia tentu menyempatkan bangun pagi-pagi untuk menghirup udara segara dan berolahraga. Pada suatu ketika, pengawalnya menjumpai dia tergeletak di halaman. Setelah diperiksa dokter, Mandela kelelahan. Dia diminta untuk istirahat total. Namun, siapa bisa mencegah semangatnya untuk menyatukan bangsanya?

 

Matt Damon dan Morgan Freeman dalam Invictus

 

Film Invictus mendapat nominasi Academy Award (Oscar) pada 2010 untuk pemeran pria terbaik, Morgan Freeman, dan pemeran pendukung pria terbaik, Matt Damon. Broadcast Film Critics’ Association Award (2010) mengganjarnya sebagai “Film Terbaik”, “Sutradara Terbaik” untuk Clint Eastwood, “Aktor Terbaik” untuk Morgan Freeman, dan “Aktor Pendukung Terbaik” untuk Matt Damon. Sementara dalam ajang Golden Globe (2010), Morgan Freeman dan Matt Damon memenangkan Aktor Terbaik dan Aktor Pendukung Terbaik, sementara Clint Eastwood sebagai Sutradara Terbaik. Di ajang NAACP Image Award, Morgan Freeman menang lagi. Di ajang National Board of Review (2009) Clint, Morgan, dan filmnya juga menang. Di ajang Screen Actors’ Guild (2010), Morgan dan Matt menang, dan terakhir Morgan dan Clint meraih  Penghargaan WAFCA (2009).

 

Jika ingin menikmati puisi yang menginspirasi, lalu ingin pula menyaksikan dan merasakan bagaimana sosok Nelson Mandela yang kharismatik, serta ingin mendengar kata-katanya yang “menyihir” dan menginspirasi, bersegeralah menonton film yang sangat bagus ini— Invictus atau Tak Terkalahkan—jika memang Anda belum pernah menonton. Hiburlah diri Anda dengan sesuatu yang berkualitas yang akan membuat diri Anda terus berhasil meningkatkan kualitas diri dan kehidupan Anda secara nyaman dan menyenangkan—lewat kata-kata yang menginpsirasi.

 

I am the master of my fate

I am the captain of my soul.[]

__._,_.___

Derai-Derai Cemara: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Derai-Derai Cemara: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (22)

Oleh Hernowo

hernowo hasim <hernowo_mizan@yahoo.com>,in: dikbud@yahoogroups.com, Sunday, 10 April 2011 04:56:23

cemara menderai sampai jauh

terasa hari akan jadi malam

ada beberapa dahan di tingkap merapuh

dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan

sudah berapa waktu bukan kanak lagi

tapi dulu memang ada suatu bahan

yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah

dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah

(Chairil Anwar, “Derai-Derai Cemara�E

Membicarakan Chairil Anwar tak bisa tidak harus membicarakan juga Asrul Sani—atau meminta bantuan Asrul Sani untuk mengurai siapa Chairil Anwar itu. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, Chairil Anwar mendirikan “Gelanggang Seniman�E(1946) dan secara bersama-sama pula menjadi redaktur “Gelanggang�Edalam warta sepekan Siasat. Pada 1950, Chairil-Asrul-Rivai menerbitkan kumpulan sajak, Tiga Menguak Takdir. Dan, dalam Derai-Derai Cemara: Kumpulan Puisi dan Prosa Chairil Anwar, Asrul Sani mengisahkan tentang siapa Chairil dan petualangannya bersama Chairil. Lewat kisah Asrul ini, saya jadi kenal betul sosok Chairil “Aku Ini Binatang Jalang�EAnwar.

Kecintaan Chairil kepada buku luar biasa. Menurut Asrul, Chairil pernah mengambil sebuah buku di sebuah toko buku dengan memasukkan buku itu ke kantong besar celananya. Apa yang dilakukan Chairil ini tidak diketahui oleh si pemilik toko. (Saya ingin berhenti sejenak di sini: Betapa inginnya dia membaca. Betapa menderitanya dia karena sebagai seorang seniman, dia mungkin tak punya banyak uang. Dan betapa dahsyat dorongan membaca itu.) Nah, sesampai di rumah, Chairil—mungkin dengan rasa senang yang tiada terkira—ingin membaca buku itu. Apa yang terjadi? Ternyata—menurut Asrul—yang diambil oleh Chairil adalah Injil. Injil? Ya. Padahal, yang mau diambil adalah buku karya Nietzsche, Also Sprach Zarathustra.

Chairil menguasai bahasa Belanda dengan baik sekali ketika duduk di MULO sehingga dia menjadi kesayangan para guru termasuk para guru bahasa Belanda. Menurut H.B. Jassin, ketika di Jakarta, Chairil suka meminjam buku—untuk mengembangkan pengetahuannya—kepada pamannya, Sutan Sjahrir. Kalau Chairil sudah membaca buku maka buku itu akan dibacanya dari malam sampai menjelang pagi. Beberapa bahasa yang dikuasai Chairil menolong dirinya sehingga buku-buku yang belum dibaca oleh teman-teman seniman lainnya, sudah dibaca dan diketahui isinya oleh Chairil.

Itu Tubuh

mengucur darah

mengucur darah

rubuh

patah

mendampar tanya: aku salah?

(Penggalan puisi Chairil Anwar, “Isa�E

Selain Asrul Sani, saya juga harus berterima kasih kepada Arief Budiman. Arief membuat sebuah skripsi—untuk meraih gelar sarjana psikologi—dengan membahas sajak-sajak Chairil Anwar. Skripsinya itu kemudian diterbitkan dengan judul Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan. “Begitulah, seluruh buku ini merupakan ungkapan pertemuan saya dengan sajak-sajak Chairil Anwar, pada suatu waktu,�Etulis Arief Budiman dalam mengantarkan bukunya.

“Pertemuan yang lain oleh orang-orang lain dengan sajak-sajak yang sama tentu saja akan melahirkan pengamatan-pengamatan yang lain, dan ini sangat diperlukan. Karena yang paling penting bukanlah benar atau tidaknya pengamatan kita. Bukan keseragaman yang kita cari, tapi keotentikan pengalaman masing-masing.�Elt;/p>

Saya, sungguh, sangat suka dengan kata-kata Arief Budiman tersebut. Karya seni bukan karya ilmiah. Jika—merujuk ke penjelasan Arief Budiman di tempat lain—dalam karya ilmiah unsur-unsur manusia sedapat-dapatnya dihilangkan, maka dalam karya seni justru faktor ini—faktor manusiawi—menjadi yang utama. “Membaca sebuah sajak, sebelum ada penilaian indah atau tidaknya, kita sebenarnya sedang melihat tanggapan si penyair terhadap sesuatu,�Etegas Arief Budiman.

Arief Budiman “bertemu�Edengan dan menganalisi sajak-sajak Chairil Anwar dengan metode “sequence analysis�E Melalui metode ini, Arief Budiman kemudian berusaha mencari dan menemukan sajak pertama yang diciptakan oleh Chairil Anwar. Ternyata, sajak itu berjudul “Nisan�E “Barangkali bukan suatu kebetulan bila sajak pertama yang ditulis Chairil Anwar berjudul ‘Nisan.�EKetika itu dia berumur dua puluh tahun. Dia menghadapi neneknya yang meninggal. Tampaknya sang nenek begitu “ridla menerima segala tiba�E begitu tenang—atau lebih tepat lagi barangkali, begitu tak berdaya. Sementara sang nasib begitu dingin, tanpa belas kasihan, perlahan-lahan menyeret umur si nenek.�Elt;/p>

Tuhanku

aku hilang bentuk

remuk

(Penggalan puisi Chairil Anwar, “Doa�E

Airef Budiman, barangkali, adalah seorang cendekiawan yang amat fasih dalam menguraikan dan menunjukkan pemikirannya. Saya senantiasa mengagumi kejernihan berpikirnya dan, terutama, cara menuangkan kejernihan itu. “Bagi seorang pemuda umur dua puluh tahun, yang sedang lahap-lahap0nya mencoba menghirup kehidupan, kenyataan ini rupanya cukup membuat dia tertegun,�Elanjut Arief Budiman. “’Bukan kematian benar yang menusuk kalbu,�Ekatanya. Kematian adalah sesuatu yang pasti harus dihadapi oleh setiap manusia. Sehingga dia menjadi rutin. Sehingga dia kurang dihayati lagi, tidak dikenal secara pribadi.�Elt;/p>

Menarik bukan? Saya benar-benar belajar kepada apa yang disampaikan oleh Chairil (dalam perenungannya tentang kematian, tentang “nisan�E tentang nasib) sekaligus apa yang ditafsirkan oleh Arief Budiman. “Kematian menjadi sesuatu yang abstrak, sampai dia secara pribadi datang mendekat kepada kita. Langsung kepada kita atau kepada orang yang sangat dekat kepada kita. Bagi Chairil, kematian yang datang mendekat melalui neneknya ini, membuat dia melihat dua hal.�EApa dua hal itu? Saya tidak akan membahasnya di sini.

Yang akan saya bahas dan tekankan adalah betapa mengasyikkannya jika di ruang-ruang kelas, di diskusi-diskusi yang membahas ihwal sastra—entah itu di tingkat SMP, SMA, atau universitas—pembahasan puisi atau karya sastra semengasyikkan pembahasan Arief Budiman atas puisi-puisi Chairil Anwar. Sastra atau puisi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan, bahkan kehidupan perlu dilibatkan secara sangat dekat dan intim. Jika sastra bisa dibahas seperti itu, alangkah kaya dan penuhnya kegiatan belajar sastra dengan nilai-nilai kehidupan. Sebaliknya dari kering kerontang dan membosankan, kegiatan belajar sastra bisa jadi lebih menarik dan penting ketimbang kegiatan belajar matematika.[]

 

JAWABAN TAUFIQ ISMAIL

JAWABAN TAUFIQ ISMAIL

TERHADAP PERCAKAPAN DI FACEBOOK ANTARA BRAMANTYO PRIJOSUSILO DENGAN PELUKIS HARDI DAN FADLI ZON, DLL,

31 MARET 2011

Inilah respons saya terhadap percakapan di atas, yang  saya baca dari fail internet.

Puisi

“Kerendahan Hati” disebutkan sebagai karya Taufiq Ismail, dituduhkan

sebagai plagiat dari puisi “Be the Best of What You Are” karya Douglas

Malloch.

Dalam tuduhan itu puisi “PK” tidak disebutkan dipublikasikan di mana dan kapan.

Karya

puisi saya selama 55 tahun (1953-2008) telah diterbitkan lengkap (Ketua

Panitya Fadli Zon), dengan judul Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit.

Jilid 1. Karya prosa lengkap dimuat dalam MKB-MBK Jilid 2 dan 3.

Kumpulan

MKB-MBK Jilid 1 itu, tebal 1.076 halaman, memuat  522 puisi. Untuk

informasi Bramantyo, puisi berjudul “Kerendahan Hati” itu, yang

dituduhkan sebagai karya plagiat, tidak ada di sana. Itu bukan puisi

karya saya.

Sekarang mengenai puisi “BBWYA” karya D. Malloch yang dituduhkan sebagai sumber plagiat.

Pada

tahun 1992 saya selesai menerjemahkan puisi Amerika Serikat, di

Universitas Iowa, yang kumpulannya saya beri judul Rerumputan Dedaunan,

meliputi kurun masa 1850an-1980-an.  Antologi ini belum terbit.

Kumpulan itu tebalnya 693 halaman, memuat karya 160 penyair. Nama David

Malloch tidak terdapat di dalamnya.

Dia bisa saja penyair bagus,

tapi dari begitu banyak penyair Amerika 1850an-1980an, Malloch tidak

termasuk ke dalam 160 penyair yang saya pilih. Kalau dia lulus seleksi

saya, karyanya tentu saya masukkan dalam antologi terjemahan RD itu.

Pertanyaan berikutnya sekarang:  kenapa dituduhkan itu sebagai sumber plagiat?

Dalam

12 tahun terakhir ini, frekuensi kegiatan saya yang mempertemukan saya

dengan sastrawan muda, guru, mahasiswa dan siswa tinggi sekali, melalui

program pelatihan MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra), SBSB

(Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya), sanggar-sanggar sastra, komunitas

ini-itu, dst. Dalam interaksi itu banyak karya sastra didiskusikan,

termasuk terjemahan puisi. Mungkin sekali dalam salah satu kontak itu

karya David Malloch dibicarakan, diterjemahkan peserta dan saya diminta

memberi komentar. Itu yang paling mungkin. Dan jelas saya tidak

membubuhkan nama saya untuk terjemahan itu, dan tidak

mempublikasikannya. Arsipnya saja saya tidak menyimpannya. Kalau

Malloch favorit saya, dia mestilah saya masukkan dalam antologi RD. Ini

tidak.

Dalam hal ini tidak jelas siapa yang mencantum-cantumkan

nama saya pada terjemahan  puisi Malloch itu. Saya jadi teringat pada

kasus lagu Tuhan, yang lirik dan lagunya digubah Sam Hardjakusumah,

dinyanyikan Bimbo. Karena saya menulis sekitar 70 lebih lirik Bimbo,

lirik lagu Tuhan  itu sering sekali dikira dari saya.  KCI malah pernah

salah kirim honorarium lirik lagu itu kepada saya. Saya berulang kali

menjelas-jelaskan ini kepada publik. Beda kasus saya dikelirukan dengan

Sam Bimbo, adalah bahwa saya sampai mendapat honor yang mestinya

dikirimkan kepada Sam, tapi  dalam kasus saya dikelirukan dengan

Malloch, saya dicaci-maki oleh facebookers yang salah tuduh. .

Saya

tidak terima dinista sedemikian. Saya akan membawa ini ke ranah hukum,

dengan mengadukan Bramantyo Prijosusilo ke Kepolisian RI, agar dia

diproses sesuai dengan undang-undang yang berlaku dalam hal pencemaran

nama baik.

Saya meminta bantuan pengacara sastrawan  Suparwan

Parikesit SH dan aktivis kampus Abrori SH, dengan saksi pelukis Hardi

dan budayawan Fadli Zon.***

Taufiq Ismail, Rumah Puisi, 1 April, 2011.

Sumber: Facebook Muhammad Subhan (pengelola Rumah Puisi Taufiq Ismail di Padang Panjang, Sumbar)

http://www.facebook.com/notes/muhammad-subhan/jawaban-taufiq-ismail-terhadap-percakapan-di-facebook-antara-bramantyo-prijosusi/10150500604690495

JAKARTA, PedomanNEWS.com – Fadli Zon, keponakan Taufiq Ismail membantah bahwa pamannya Taufiq Ismail melakukan tindakan plagiarisme atas puisi karya Douglas Malloch. Sebelumnya ramai diperdebatkan kalangan sastrawan dan budayawan khususnya  di media sosial bahwa puisi

Kerendahan Hati “karya” Taufiq Ismail adalah plagiarisme dari puisi Be the Best of Whatever You Are karya Douglas Malloch .Di facebook pegiat sastra, kebudayaan, dan teater Bramantyo Priyosusilo yang pernah aktif di Bengkel Teater Rendra 1983-18987 terjadi diskusi antara Bramantyo, pelukis Hardi, dan Fadli Zon, juga diselingi beberapa pendapat facebookers. Fadli Zon segera menyahut perbincangan yang mengerucut pada tuduhan tindakan plagiarisme Taufiq Ismail, “Mas Hardi dkk. Saya perlu sedikit komentar. Saya kebetulan Ketua Panitia 55 Tahun Taufiq Ismail berkarya tahun 2008. Kami terbitkan 4 buku besar karya-karya Taufiq Ismail (TI) “Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit”Fadli Zon menjelaskan lebih jauh, buku pertama adalah buku puisi setebal 1076 halaman. Itu semua adalah kumpulan puisi TI dari tahun 1953-2008.

Setelah saya periksa tak ada puisi “Kerendahan Hati.” Setahu saya TI memang menerjemahkan juga puisi 160 penyair   Amerika yang dikumpulkan dalam “Rerumputan Dedaunan” yang belum diterbitkan. Paling banyak puisi Walt Whitman. Tapi puisi Malloch tak pernah diklaim puisi

TI. Jika ada referensi mohon bisa ditunjukkan di buku mana TI mengaku puisi itu adalah miliknya. Puisi Malloch itu paling sering dikutip oleh Martin Luther King (MLK) dalam pidato2nya. Malah orang menyebutnya puisi itu karya MLK.Kemudian, “Bung Bramantyo. Barusan saya telpon TI, menyampaikan masalah ini. Jawabannya, ia tak pernah mengklaim puisi “Kerendahan Hati.” Ia juga sedang cari di file, sementara belum ada. Di kumpulan karya terjemahan “Rerumputan Dedaunan” juga tak ada puisi tersebut. Jadi TI belum tahu puisinya yang mana. Ia mengatakan rasanya pernah membahas puisi itu atau menerjemahkan puisi itu dalam kegiatan SBSB atau MMAS di sekolah2. Kalau itu puisi terbaiknya, tentu ada di buku yang saya terbitkan. Di internet, tak ada data yang jelas. Bahkan
penulisan namanya pun salah Taufik bukan  Taufiq. Mungkin ada info atau sumber yang lebih tajam, yang menyatakan bahwa TI memang menulis puisi itu? Kalau tidak ada, polemik ini menjadi pepesan
kosong,” tegas Fadli Zon.Lanjut Fadli Zon, Bung Bramantyo, saya sudah search di dunia maya dan belum ketemu sumber yang sahih soal klaim puisi Taufiq Ismail itu. Kelihatannya ada orang yang mem-posting puisi dan menulisnya karya Taufik Ismail. Kemudian dikutip di sana sini.

Biasalah salah paham. Puisi “Tuhan” yang dinyanyikan Bimbo juga sering orang tulis karya TI, tapi beberapa kali TI mengoreksi bahwa itu karya Sam Bimbo. Kecuali ada sumber lain yang solid dan jelas, baru kita bisa lanjutkan diskusi ini.”Mungkin ada artikel, atau buku yang pernah
menuliskan ini? Saya sudah susuri semua buku puisi TI, tak ada puisi ini. Juga tak ada di majalah-majalah atau koran yang memuat puisi,” terang Fadli Zon lagi.Kata Fadli dia mencoba menelusuri, juga di kumpulan karya terjemahan “Rerumputan Dedaunan” ternyata   tak ada Douglas Malloch. Tadinya saya menduga, karya Malloch ini diambil dari bagian karya terjemahan. Ternyata tak ada juga. “Jadi bagaimana dong, kalau sumbernya saja tidak jelas?”Mengapa Fadli Zon sangat serius
melakukan pembelaan ini? “Karena tuduhan plagiat adalah tuduhan serius dan bisa menjadi kematian perdata bagi penulis. Oleh karena itu harus dibuktikan dimana plagiatnya. Dan ini tak ada hubungannya dengan sastra progresif. Mari kita fokus pada tuduhan yang serius itu. Benarkah TI
melakukan plagiat?”Kemudian Fadli Zon bercerita, saya pernah membongkar kasus plagiat yang dilakukan seorang intelektual UI tahun 1997 sehingga batal menjadi profesor selama 10 tahun lebih. Dulu ramai polemik di koran. Sampai ada pengadilan akademik dipimpin oleh rektor UI. Dan terbukti a…danya plagiat itu. Nah apakah kawan2 yang menuduh plagiat ini berani meneruskan ke ranah publik yang lebih luas. Jika memang punya bukti kuat, kenapa tak diluncurkan saja? Sampai   saat ini
saya yakin 100% dalam hal berkarya, TI jujur. Soal sikap kesenian dan   kebudayaan, tentu bisa berbeda2. Zamannya kan juga berbeda.Karena itu kata Fadli Zon, saya saja sebagai Ketua Panitia 55 Tahun TI berkarya tidak pernah tahu karya TI itu. Tidak pernah dengar juga TI membacakannya. Padahal hampir di setiap pembacaan puisi TI saya selalu    hadir. Demikian pula tak ada di buku kumpulan puisinya yang 1076 halaman itu. Untuk konfirmasi lengkapnya besok Kamis saya kirimkan
print out thread diskusi ini kepada TI. Kalau ada yang perlu akses buku puisi TI saya lengkap. Saya punya perpustakaan yang kini bukunya sudah hampir 50.000 buah. Saya kumpulkan karya2 sastra Indonesia dari abad 19, masih aslinya termasuk cetakan pertama Balai Pustaka sejak 1917 dan
Pujangga Baru. Saya punya lengkap Panji Pustaka aslinya juga. Jadi kalau hanya puisi TI dari tahun 1950-an sampai sekarang, mudah sekalilah mencarinya. Saya juga punya majalah lama Siasat, Sastra,
Mimbar Indonesia, Horison dari no. 1 hingga kini dll. Lumayan lengkap.Akhirnya, Fadli Zon menutup diskusi, “Tadi Pak TI datang ke perpustakaan saya, dan mengkonfirmasi langsung bahwa puisi itu bukan karya TI. Jadi sudah cukup jelas.”Kemudian, Bramantyo juga menuliskan di wall facebooknya, “Taufiq Ismail bilang kepada Fadli Zon bahwa puisi “Kerendahan Hati” terjemahan karya Douglas Malloch bukan kerjaan dia.

Saya minta maaf telah menjerumuskan Soe Tjen Marching, Chandrasa Sedyaleksana, Antonius Made Tony Supriatma, Odji Lirungan, Kris Budiman dan kawan-kawan soal ini.”Secara tegas Bramantyo mengatakan, “TI (Taufiq Ismail) dalam hal ini, bukan plagiator.”

Facebook: Radityo Full

YM: radityo_dj

Twitter: @mediacare

Salam,pito-jogja

On Wed Mar 30th, 2011 11:13 PM ICT Syam Sdp wrote:

zaman chairil mengataptasi puisi archilbald mcleish (young death soldier) menjadi karawang bekasi, puisi saduran itu menjadi terkenal, meski si penyadur kemudian tertuduh menjadi plagiator, karena tidak mencatumkan nama penyair yang menulis puisi asli. meski dituduh palgiaotr, toh, si binatang jalang itu diakui karyanya, saduran karawang bekasi juga banyak yang nilai lebih bunyi dan menampilkan aspek lain di luar puisi asalnya.

kalau dalam kasus puisi mas douglas dan taufiq ismail , kok saya amati  benar2 terjemahan lepas ya? wah, perlu ditelusuri itu, jangan sampai malu kita jadi orang indonesia

salam

syam

Pada Rab, 30/3/11, Item <itemic@…> menulis:
Dari: Item <itemic@…>
Judul: [ajisaja] GEGER puisi TAUFIK ISMAIL yang mirip Douglas Malloch
Kepada: “ajisaja” <ajisaja@yahoogroups.com>, “jurnalisme” <jurnalisme@yahoogroups.com>, “mediacare” <mediacare@yahoogroups.com>

Tanggal: Rabu, 30 Maret, 2011, 1:58 PM

GEGER di dunia maya puisi TAUFIK ISMAIL yang sama dengan karya DOUGLAS MALLOCH. Mungkinkah Doughlas yang menjiplak karya Taufik Ismail, atau sebaliknya? Di bawah ini copy karya dua penyair beda kebangsaan itu dalam judul berbeda.

Saya berharap penyair yang saya hormati itu sempat mencantumkan puisinya sebagai karya saduran atau terjemahan. Kalau tidak, apa kata dunia??

Al Item

Be the Best of Whatever You Are

By Douglas Malloch

If you can’t be a pine on the top of the hill,

Be a scrub in the valley — but be

The best little scrub by the side of the rill;

Be a bush if you can’t be a tree.

If you can’t be a bush be a bit of the grass,

And some highway happier make;

If you can’t be a muskie then just be a bass —

But the liveliest bass in the lake!

We can’t all be captains, we’ve got to be crew,

There’s something for all of us here,

There’s big work to do, and there’s lesser to do,

And the task you must do is the near.

If you can’t be a highway then just be a trail,

If you can’t be the sun be a star;

It isn’t by size that you win or you fail —

Be the best of whatever you are!

Kerendahan Hati

Oleh: Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,

yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang

memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang

Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

tentu harus ada awak kapalnya.

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Tentang Bermain Drama: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

 

Tentang Bermain Drama: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (8)

Oleh Hernowo

“’Bagaimanakah saudara mendapat ilham untuk karangan-karangan saudara?’ ‘Apakah saudara mempunyai cara yang khusus untuk mencari ilham?’ Inilah pertanyaan yang sering diajukan oleh orang-orang kepada para pengarang. Sebagian besar surat-surat dari pembaca kepada saya juga menanyakan hal-hal tersebut,” demikian Rendra, si Burung Merak, membuka tulisannya tentang “Pengarang dan Ilhamnya” (lihat Dwi Klik Santosa [ed.], Catatan-Catatan Rendra Tahun 1960-an, Buruk Merak Press, Desember 2005).

 

Dalam subbab yang dijuduli dengan sangat bagus, “Hidup yang Berisi”, Rendra kemudian menjelaskan bagaimana dia, sebagai seorang pengarang, mendapatkan ilham. Menurut Rendra, kedatangan “ilham” itu—merujuk ke ilmu jiwa—bisa diterangkan sebagai berikut: “Suatu waktu kita pernah berpikir tentang sesuatu dan mendapatkan buah pikiran tertentu yang kemudian, karena susulan-susulan yang lain, terlupakan untuk beberapa saat lamanya. Tetapi kemudian, oleh suatu rangsangan, hal itu muncul kembali ke dalam kesadaran kita.” (Huruf miring dari saya).

 

Nah, Rendra sangat menekankan sekali soal rangsangan sebab “ilham” itu sesungguhnya sudah tertanam di dalam diri kita dan karena sesuatu hal lantas tidak kita ingat. Untuk dapat mengingat atau memunculkannya, perlulah sebuah rangsangan. Untuk mencari rangsangan itu, menurut Rendra, seorang pengarang tidak perlu ngeluyur atau semacam itu. Rangsangan yang baik akan timbul dengan sendirinya secara normal dan natural. Apabila rangsangan itu dicari-cari, jadinya akan tak natural.

 

 

”Pengarang akan selalu mengalami rangsangan-rangsangan itu yang timbul dengan sendirinya apabila hidupnya memang berisi,” tegas Rendra. ”Hanya pengarang yang hidupnya kosong dan iseng akan terpaksa mencari rangsangan itu. Jadi, sebetulnya tak ada gunanya ribut-ribut tentang bagaimana cara mencari rangsangan itu. Soalnya cuma bagaimana cara untuk membuat hidupnya jadi berisi sehingga ia akan selalu mengalami rangsangan-rangsangan yang timbul dengan sendirinya.”

 

Bagaimana membuat hidup kita berisi? Menurut Rendra, pertama, banyak-banyaklah belajar dan membaca. Kedua, lakukanlah perjalanan jauh. Ketiga, bekerjalah sehari-hari secara normal. Keempat, pandai-pandailah bergaul di segala lapangan. Kelima, laklukanlah pelbagai aktivitas yang berguna. Jadi, sebaliknya dari bertapa atau begadang malam-malam sembari minum kopi—yang kadang dimaknai sebagai sebuah keadaan sedang menunggu datangnya ilham—Rendra mengajak para pengarang untuk melakukan kegiatan-kegiatan normal sehari-hari untuk membuat hidupnya berisi terlebih dahulu.

 

 

Rendra, kita semua tahu, memang seorang dramawan dan penyair ulung. Namun, membaca karyanya yang berupa esai dan cerita pendeknya, ternyata, mengasyikkan juga. Di dalam setiap esai dan cerpennya, kita akan menemukan sebuah gagasan yang tak biasa. Kita diperkaya dan diberi sudut pandang berbeda dalam memandang kehidupan. Menurut Bakdi Soemanto, dalam Rendra: Karya dan Dunianya, cerpen-cerpen Rendra sudah dibukukan dalam buku Ia Sudah Bertualang. “Cerita pendek karangan Rendra tampaknya cukup banyak, tetapi yang berhasil dibukukan hanyalah sembilan judul dan diterbitkan pada1963…. Semua cerita pendek yang jumlahnya sembilan judul itu memiliki bobotnya sendiri-sendiri yang menarik,” tulis Bakdi. Bahkan Bakdi juga mencatat ada satu cerita pendek karya Rendra yang diciptakannya ketika masih “bocah”—entah umur berapa Rendra ketika itu.

 

Di samping buku kumpulan cerpen, buku tentang esainya ada empat: Mempertimbangkan Tradisi (1983), Penyair dan Kritik Sosial (2001), Tentang Bermain Drama (1986), dan Megatruh (2001). Nah, Tentang Bermain Drama, saya punya buku yang diterbitkan pertama kali oleh Pustaka Jaya pada 1976. Lantas, saya juga membelinya lagi ketika dicetak ulang pada 1986. Di buku ini Rendra memberikan pedoman pokok bagi calon aktor. Rendra menulis dalam bahasa dan analisis yang jelas tentang seluk beluk akting dan teater.[]

Sumber:1001buku@yahoogroups.com, Wednesday, 30 March 2011 09:17:19

Menggelinding: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Menggelinding: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (10)

Oleh Hernowo

Dalam pengantar penerbit untuk buku Menggelinding 1 karya Pram disebutkan bahwa Pram tidak ubahnya pengarang yang menggelinding digiring oleh jiwa mudanya yang meraungkan citanya dalam pencarian arah hidup. Saya ingin menyamakan kata “menggelinding” ini dengan “mengalir”. Ya, Pram adalah salah seorang penulis sastra yang saya kagumi karena tulisan-tulisannya yang mengalir sangat enak dibaca. Dalam setiap aliran yang saya ikuti, kadang saya dibuat tersentak dan harus berhenti sejenak. Bukan karena tulisan itu terputus melainkan saya yang terpaksa menghentikan aliran itu untuk saya renungkan dan “ikat” maknanya.

Saya sangat menikmati tetraloginya—Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca—yang dahsyat itu. Lantas saya juga sempat mencoba menikmati Arus Balik yang sangat tebal itu. Entah kenapa, saya tidak tuntas membacanya. Mungkin karena “sejarah” yang diungkapkan Pram dalam Arus Balik terlalu jauh untuk saya jangkau, tidak sebagaimana yang ada di dalam tetraloginya. Namun, saya kembali dapat ikut mengalir deras bersama Pram ketika saya membaca Panggil Aku Kartini Saja. Ini buku yang bukan saja memberi saya pandangan baru atas sosok Kartini tapi juga berhasil mengajak saya memasuki budaya Jawa yang tak biasa.

Pram lahir pada 1925 di Blora. “Aku dilahirkan di tengah-tengah keluarga guru yang gandrung kemerdekaan,” tulisnya dalam “Hikayat Sebuah Nama”. “Bulannya: Februari. Tahun 1925. Hari: Jumat. Buat nyatakan harapan patriotiknya, ayah telah hadiahi aku dengan nama: Pramoedya. Ibuku pernah terangkan padaku dan mungkin juga keterangan tangan kedua yang diterimanya dari ayah bahwa Pra yang berarti yang terutama atau yang paling pertama, sedang moedya berarti peperangan, jelas: yang paling pertama dalam peperangan.” Menarik penjelasan Pram ini. Kita selayaknya memanggilnya “Pra” bukan “Pram” sebab namanya adalah Pra-moedya. Nah, kita sekarang bahkan mengenalnya dengan nama Pramoedya Ananta Toer. Dari mana asal-muasal nama “Ananta Toer”?

Sebelum kita tahu asal-usul nama “Ananta Toer”, mari kita simak cerita Koesalah Soebagyo Toer—yang memberikan pengantar panjang untuk buku Menggelinding 1—tentang nama Pram sebagai seorang penulis: “Dari tulisan-tulisan awal Pram (tahun 1947-1954) bisa diketahui bahwa Pram belum secara mantap menggunakan nama seperti dikenal pembaca sekarang—Pramoedya Ananta Toer. Paling tidak ada sembilan bentuk namanya, sebelum akhirnya ia menggunakan nama terakhir itu. Ia menggunakan nama Pramoedya Tr., Pr. Toer, Ananta Toer, Pramoedya Tr., M. Pramoedya Toer, dll.” Menurut Koesalah lebih jauh, dalam buku Menggelinding 1 kita dapat menemukan pelbagai bentuk lain nama itu.

Menggelinding 1 adalah kumpulan tulisan awal Pram.Tulisan paling dini Pram berjudul “Si Pandir” yang selesai bertanggal “Jakarta, 2 Januari 1947”—saat usianya baru 22—dan dimuat oleh majalah Sadar pada 13 Juni 1947. Cerpen pertama Pram berjudul “Kemana” yang oleh H.B. Jassin diterbitkan di majalah Pantja Raja dengan nama Ananta Toer. Menggelinding 1 yang tebalnya mencapai 600 halaman lebih itu berisi easi, sajak, cerita, dan tulisan lain Pram. Lewat buku ini saya kemudian memahami prinsip-menulis Pram: “Semua harus ditulis. Apa pun… Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti ada gunanya.”

Lewat Menggelinding 1 pula saya tahu bahwa Pram sejak masih sangat muda telah berhasil menyentuhkan pikirannya dengan pikiran para sastrawan dunia. Kita akan mendapati nama-nama seperti Victor Hugo, Joze Rizal, Leo Tolstoi, Nikolai Gogol, Shakespeare, Steinbeck, Pushkin, Dostoyevsky, Montaigne, Nietzsche, dan masih banyak lagi yang lain dalam tulisan-tulisan awalnya. “Bukan kosong saja perjuangan Victor Hugo baik yang terpancar dalam buku-bukunya Si Bongkok dari Notre Dame, Napoleon si Cebol,” tulis Pram (halaman 135). “Mereka yang Menderita dan sebutlah buku-bukunya yang lain setelah citanya berkembang untuk menghukum kelaliman dan kemiskinan. Bahkan karena hebatnya perjuangannya, ia diburu oleh Lodewijk Napoleon.” Dalam “Kesusastraan dan Perjuangan”, secara menarik, Pram mencoba mengungkapkan ini dari buah pikiran para sastrawan dunia itu.

Penghargaan internasional yang diperoleh Pram juga banyak. Penghargaan itu merentang sejak 1988 (dia meraih “Freedom to Write Award dari PEN American Center”) hingga 2004 (mendapat penghargaan dari “Centenario Pablo Nureda” Chili). Ada sekitar 12 penghargaan internasional yang diperoleh Pram. Oh ya, hingga kini saya terus bertanya apakah Menggelinding 2 akan terbit? Menggelinding 1 terbit pada Desember 2004. Sudah hampir enam tahun lebih Menggelinding 1 terbit sendiri. Jika saja, Menggelinding 2 dapat terbit, kita—terutama saya—akan semakin lengkap dalam memahami Pram. Memahami pikiran seseorang, lewat tulisan, menjadi penting karena pikiran yang kita pahami itu akan membantu mengembangkan pikiran kita ke arah yang sangat jauh dan luas serta jembar (membuka).[]

Sumber:1001buku@yahoogroups.com, Thursday, 31 March 2011 21:52:53

“Catatan Pinggir”: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

 

“Catatan Pinggir”: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (11)

Oleh Hernowo

 

 

Setiap minggu saya membaca tulisan yang gurih dan kadang mengentak. Kadang saya membacanya baik secara online maupun online. Saya membeli tulisan itu secara offline jika, setelah saya lacak, ada banyak tulisan menarik lain di situ. Maksud saya “di situ” adalah di sebuah majalah bernama Tempo. Kini baik koran Kompas maupun majalah Tempo edisi baru dapat kita akses secara online yang waktu penerbitannya tak jauh dari penerbitan cetaknya (edisi offline). Saya, tentu saja, masih lebih nyaman membaca Kompas atau Tempo dalam bentuk edisi cetak.

 

Dan tulisan yang gurih dan mengentak yang saya baca setiap minggu itu adalah “Catatan Pinggir” (caping) Goenawan Mohamad di majalah Tempo. Saya kagum sekali dengan stamina GM—demikian singkatan namanya—yang terus mau dan mampu menyediakan waktu untuk menulis setiap minggu. “Catatan Pinggir” bukanlah tulisan yang enteng-entengan. Di dalam tulisan itu terkandung sebuah pemikiran yang dahsyat. Bagi saya, menulis yang powerful—sebagaimana tulisan caping GM—adalah menulis yang menggunakan kegiatan berpikir yang setara bertafakur.

 

Bayangkan GM, sekali seminggu, mencontohkan kegiatan menulis seperti itu. “Plato pun memutuskan untuk mengikuti orang yang tak suka bersandal dan bersepatu ini. Hampir dua setengah millennia kemudian kita tahu bahwa keputusan itulah yang menyebabkan dunia mempunyai seorang pendahulu filsafat yang tak ada bandingannya,” tulis GM dalam caping bertajuk “Sokrates”. Selanjut GM menulis, “Plato juga yang merawat kenangan tentang Sokrates. Bagaimanapun, ada yang memikat pada diri laki-laki berbibir tebal dan berhidung lebar yang lahir sebagai anak pemahat ini. Ia arif dan baik budi, tapi yang penting ialah bahwa ia telah menyebabkan hidup anak-anak muda seperti Plato mempunyai makna.”

 

 

Perhatikan kalimat terakhir yang saya kutip itu. Hampir semua pengkaji dan pencinta filsafat tahu benar kata-kata dahsyat Sokrates ini: “Sebuah kehidupan yang tak diamati dan direnungkan tidaklah berharga bagi seorang manusia.” Namun, GM berhasil mengungkapkan (memaknai)-nya secara berbeda. Caping-nya memang hanya berjudul “Sokrates”. Dan siapa tak tahu Sokrates? Meskipun ada orang yang tak tahu, tapi saya yakin jika dia mengenal ungkapan dahsyatnya itu, tentulah pengenalannya akan membuatnya merenung dalam-dalam seraya berkata lirih, “Untuk apa aku hidup?”

 

Dan GM berhasil menyeret kita untuk ke tepi yang berbeda dalam memandang Sokrates. Lewat Plato, GM ingin mengaitkan Sokrates dengan anak muda. Ujung-ujungnya, dia membahas Sokrates dalam konteks kekinian. “Sebab itulah saya teringat akan Sokrates ketika sasya melihat sesuatu yang luar biasa:” tulisnya di ujung dalam capingnya ini. “Pekan lalu, di Jakarta, di ruang yang sederhana di Teater Utan Kayu, lebih dari seratus anak muda, berusia 25 sampai 35 tahun, berjejal dan bertahan duduk di lantai selama tiga jam untuk mendengarkan ulasan tentang Ibn Rusyd atau Habermas, filsafat, setiap malam, selama tiga hari berturut-turut.”

 

Selanjutnya, GM menunjukkan kepada kita bahwa filsafat membuat seseorang terus bertanya: Apakah yang adil dan tak adil? Apa artinya kebebasan, sebenarnya? Apa artinya kekuasaan? Apa artinya “kuat” dan “lemah”? Benarkah Tuhan berperan dalam persoalan ini? “Tapi pertanyaan seperti itu adalah sesuatu yang mengandung kepedulian dan kecerdasan. Maka sebuah bangsa jangan-jangan menyembunyikan harapan sebenarnya ketika justru di tengah krisis, anak-anak muda masih berani bertanya dan mencari jawab” (lihat secara lengkap caping GM berjudul “Sokrates” ini dalam majalah Tempo, edisi 8 September 2002).

 

 

Saya tidak tahu sudah berapa caping yang dibuat GM. Saya yakin, dia tak hanya menulis caping yang setiap minggu muncul di Tempo. GM tentu juga menulis yang lain. Dalam bahasa Indonesia dan Jawa, GM menulis teks untuk wayang kulit yang dimainkan dalang Sudjiwo Tedo, Wisanggeni (1995), dan dalang Slamet Gundono, Alap-alapan Surtikanti (2002), serta drama-tari Panji Sepuh koreografi Sulistio Tirtosudarmo. Kumpulan esainya berturut-turut: Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980), Kesusastraan dan Kekuasaan (1993), Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (2001), Kata, Waktu (2001), Eksotopi (2002).

 

GM juga piawai dalam bersyair. Sajak-sajaknya dibukukan dalam Parikesit (1971), Interlude (1973), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998), dan Sajak-Sajak Lengkap 1961-2001 (2001). Karya terbaru GM adalah buku berjudul Tuhan dan Hal Hal yang Tak Selesai (2007), berisi 99 esai liris pendek. GM nyaris jadi apa yang pernah ia tulis dalam sebuah esainya: transit lounger. Seorang yang berkeliling dari satu negara ke negara lain: mengajar, berceramah, menulis. Seorang yang berpindah dari satu tempat penantian ke tempat penantian berikutnya, tapi akhirnya hanya punya sebuah Indonesia. Seperti ditulisnya dalam sebuah sajaknya, “Barangkali memang ada sebuah negeri yang ingin kita lepaskan tapi tak kunjung hilang.”

 

Kita sesungguhnya hidup dalam negara yang kaya raya. Bukan hanya kaya raya secara alami, melainkan juga kaya raya dari sisi bacaan….[]

Segenggam Gumam: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Segenggam Gumam: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (17)

Oleh Hernowo

Helvy Tiana Rosa

“Adakah metode yang digunakan oleh Mbak Helvy dalam membuat buku? Atau, apa kira-kira tahap-tahap yang biasa ditempuh Mbak Helvy dalam membuat buku,” tanya saya secara tertulis kepada pendiri Forum Lingkar Pena (FLP) itu. Lantas Mbak Helvy menjawab, “Sebenarnya tak ada metode khusus. Pada tahap awal, saya akan membuat naskah yang menurut saya baik, mewakili idealisme saya tapi juga sebisa mungkin laku di pasaran.

 

“Dalam tahap ini, kadang sangat diperlukan riset mendalam, kadang sama sekali tidak diperlukan. Begitu naskah selesai, saya segera menghubungi pihak penerbit yang saya percaya.” Jawaban Mbak Helvy itu merupakan satu dari 10 pertanyaan yang saya lontarkan untuk mengetahui, secara garis besar, bagaimana seorang pengarang menempuh proses kreatifnya.

 

 

Saya memuat pertanyaan untuk dan jawaban dari Mbak Helvy Tiana Rosa di buku saya, Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah (2004). Membuat buku itu unik. Setiap penulis atau pengarang tentu menempuh jalan yang tidak selalu sama. Calon penulis dapat saja belajar dari pengalaman penulis lain. Namun, ketika dia menirunya maka—di tengah proses meniru itu—dia pun perlu menciptakan jalannya sendiri.

 

Mbak Helvy adalah salah seorang pengarang yang layak dijadikan “model”—proses kreatifnya bisa ditiru—oleh pengarang lain, khususnya jika pengarang lain itu ingin mengembangkan potensi menulisnya di dunia fiksi. Lahir di Medan pada 2 April 1970, Mbak Helvy sudah menulis puisi, cerita pendek, naskah drama, dan berteater sejak Sekolah Dasar. Beberapa karya kreatifnya menjuarai berbagai lomba penulisan tingkat nasional.

 

 

Saya masih ingat sekali ketika cerita pengalamannya memenangkan sebuah lomba yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan yang memproduksi suatu produk. Tulisan yang bercerita tentang pengalamannya dalam mengandung putra pertamanya, Faiz Abdurahman, itu beredar di Internet. Intinya, Faiz kemudian dapat menciptakan puisi-puisi yang indah dan “menggigit” ketika masih bocah karena dididiknya ketika Faiz masih berada di kandungan.

 

Nah, menurut Mbak Helvy, sejak Faiz masih di dalam kandungan, Faiz suka dibacakan cerita dan puisi-puisi karya para penyair terkenal. Mbak Helvy juga suka berdialog dengan Faiz yang masih berada dalam kandungan. Ketika Mbak Helvy ketemu dengan seorang penjual bakso yang kepayahan, misalnya, Mbak Helvy kemudian menyapa Faiz bahwa Mbak Helvy berharap kelak Faiz mau menolong orang-orang yang kepayahan.

 

Menurut Mbak Helvy, selain kemudian jago puisi ketika masih bocah, Faiz pun memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Kalau melihat para penjual barang dagangan yang lewat di depan rumahnya dan tampak kepayahan, Faiz suka mengajak mereka untuk mampir di rumahnya dan memberikan air minum atau sekadar memberikan tempat untuk beristirahat dari sengatan teriknya matahari.

 

 

Betapa dahsyat jika apa yang dilakukan oleh Mbak Helvy juga ditiru oleh ibu-ibu muda yang sedang mengandung putra-putrinya. Pada tahun 1990, Mbak Helvy memelopori berdirinya Teater Bening. Pada 1991-2001, Mbak Helvy menjadi Redaktur dan Pemred majalah Annida. Koran Tempo menggelari Mbak Helvy sebagai “pabrik penulis cerita” saat mendirikan FLP pada 1997.

 

Hingga kini, ada sekitar 16 karya sendiri dan 15 karya antologi bersama penulis lain yang sudah diterbitkan. Berkat prestasi dan kiprahnya, pada tahun 2000, majalah Amanah memilihnya sebagai satu dari 10 Muslimah Berprestasi Tingkat Nasional. Harian Republika dan Straits Times menyebut Mbak Helvy sebagai salah satu pelopor genre baru sastra kontemporer.

 

Mbak Helvy juga punya Rumah Cahaya (Rumah BaCA dan Hasilkan KarYA)—tempat kalangan umum, khususnya kaum dhuafa, tak hanya bisa membaca gratis melainkan juga bisa belajar menulis secara cuma-cuma. Segenggam Gumam adalah kumpulan esainya tentang sastra dan kepenulisan yang terbit pada 2003.[]

Kita dan Kami: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Kita dan Kami: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (18)

Oleh Hernowo

Fuad Hassan

Saya punya kenangan-khusus dan mengesankan terhadap almarhum Fuad Hassan. Bahkan, hingga kini, saya masih terus mengagumi kehidupannya. Saya tahu bahwa Fuad Hassan itu perokok berat. Okelah, tak ada gading yang tak retak. Manusia, di tengah kehebatannya, tentu punya kelemahan. Saya ingin mengenang dan terus mengagumi kehebatan Fuad Hassan dalam konteks dia sebagai seorang penulis.

 

Saya berkenalan dengan Fuad Hassan lewat buku yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang. Judulnya Apologia. Buku itu merupakan pembelaan Socrates terhadap tuduhan-tuduhan yang ditujukan kepadanya yang direkam oleh muridnya, Plato. Fuad Hassan memang hanya menerjemahkan Apologia. Namun, terjemahannya begitu hidup dan benar-benar menyentuh diri saya waktu itu. Dari sini, saya menduga bahwa Fuad Hassan menyukai pemikiran filsafat.

 

Setelah Apologia, saya membaca Berkenalan dengan Esksistensialisme. Dugaan saya semakin mendekati kebenarannya. Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya—waktu itu bernama PT Dunia Pustaka Jaya—ini hanya setebal 144 halaman. Namun, isinya dahsyat. Oleh Fuad Hassan saya dikenalkan—secara mudah dan ringan—kepada pemikiran para filosof yang mengusung aliran eksistensial: Kiekergaard, Nietzsche, Berdayev, Jaspers, dan Sartre.

 

 

Ketika menuliskan tulisan ini, saya benar-benar merasakan jasa Fuad Hassan dalam menumbuhkembangkan diri saya. Entah apa jadinya saya jika tak sempat membaca buku-buku yang dikemas dan disajikan oleh Fuad Hassan dalam bahasa yang mengalir dan sangat enak dibaca. Saya menyadari bahwa ketika saya membaca buku-buku sajian Fuad Hassan, pikiran saya belum berkembang sepenuhnya. Kini, kematangan pikiran saya—jika dapat dikatakan begitu—terbangun berkat sumbangan buku-buku Fuad Hassan

 

Saya kemudian mendengar bahwa Fuad Hassan menerjemahkan tulisan-tulisan sastra. Salah satu yang terkenal adalah karya—kalau tak salah Presiden Hungaria—Aspad Goncz berjudul Pulang. Sebelumnya, Fuad Hassan sudah menerjemahkan dasacarita dari Hungaria juga dengan judul Sang Mahasiswa dan Sang Wanita. Namun, selain Apologia dan kemudian Berkenalan dengan Eksistensialisme, saya menyukai karyanya yang lain yang berjudul Heteronomia.

 

Saya belum membaca karya terjemahan sastranya. Saya hanya tahu bahwa Fuad Hassan juga menulis buku Renungan Budaya, Studium Generale, Pentas Kota Raya, Perlawatan ke Haramian (yang merupakan catatan perjalanan hajinya), dan—yang juga terkenal—Kita dan Kami. Kita dan Kami, kalau tak salah ingat, merupakan disertasi doktoralnya. Fuad Hassan mengulas makna kedua kata itu dalam konteks psikologis dan filosofis. “Kita” dan “kami” adalah dua modus eksistensial seorang manusia dalam konteks keindonesiaan.

 

 

Fuad Hassan memang seorang psikolog. Dia bahkan pernah menjadi guru besar di bidang psikologi (psikologi pendidikan) pada Universitas Indonesia. Selain sebagai guru besar di bidang psikologi, Fuad Hasan pernah menjadi dekan di fakultas psikologi Universitas Indonesia. Fuad Hassan juga menekuni bidang seni. Dia dikenal mampu bermain biola dan berkuda dengan baik dan juga terampil melukis.

 

Nah, izinkan saya memberikan perhatian saya atas dugaan saya bahwa Fuad Hassan menyukai pemikiran filsafat atau bahkan, seungguhnya dia adalah seorang filosof. Ada satu tulisan Fuad Hassan yang saya abadikan di buku saya, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza. Tulisan Fuad Hassan ini terdapat dalam buku hasil suntingan Riris K. Toha Sarumpaet, Sastra Masuk Sekolah (IndonesiaTera, 2002). Judul tulisan Fuad Hassan adalah “Catatan Pengantar Perihal Gagasan ‘Sastra Masuk Sekolah’”.

 

Inilah tulisan Fuad Hassan yang ingin saya tunjukkan yang, menurut saya, sangat mencerminkan pemikiran filosofisnya: “…kesanggupan berbahasa merupakan ciri keunggulan eksistensi manusia sebagai penghuni a world of discourses. Ini berarti bahwa perkembangan kesanggupan berbahasa sekaligus merupakan proses yang memperkaya dan mempercanggih gagasan dan wawasan (ideas and insights) seseorang.

 

 

“Sebagai kelanjutannya, dengan kekayaan dan kecanggihan tersebut, seseorang akan lebih peka dan tanggap dalam interaksinya sebagai penghuni dunia wacana. Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau kita simpulkan bahwa kesanggupan berbahasa adalah latar utama bagi pencanggihan perikehidupan manusia. Perlu segera disertakan catatan bahwa untuk mencapai pencanggihan itu, kesanggupan berbahasa bukan saja berkenaan dengan pernguasaannya sebagai sarana ujaran, melainkan juga sebagai sarana pengejawantahan kesastraan.” (halaman 230-231)

 

Seperti kita ketahui, jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pernah dipegang Fuad Hassan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto (1985 – 1993). Setelah berhenti sebagai Mendikbud, dia diangkat menjadi anggota DPA. Sebelumnya, dia pernah menjabat duta besar RI untuk Mesir dan anggota MPR. Rektor Universitas Indonesia, Gumilar Rusliwa Somantri, menilai bahwa Fuad Hassan adalah sosok yang memikirkan masa depan pendidikan bangsa. “Beliau mendambakan anak didik yang tidak hanya cerdas tetapi memiliki moralitas tinggi,” ujar Gumilar kepada Tempo suatu ketika.[]

Hujan Menulis Ayam: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Hujan Menulis Ayam: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (13)

Oleh Hernowo

Sutardji Calzoum Bachri

Saya membeli kumpulan cerita pendek karya Sutardji Calzoum Bachri sekitar sepuluh tahun lalu. Pertama, saya membeli buku karya Sutardji itu karena terpesona dengan judulnya, Hujan Menulis Ayam. Judul ini memberi saya sebuah pengalaman baru menata dan merangkai kata. Kedengarannya ganjil, namun seperti menyimpan sesuatu: Hujan kok Menulis tentang Ayam sih?

 

Kedua, saya mengenal Sutardji sebagai seorang penyair. O Amuk Kapak adalah buku kumpulan puisinya yang saya beli pertama kali. Sekali lagi, seperti ada daya magis dalam kata-katanya. Judul O Amuk Kapak dan Hujan Menulis Ayam setara. Judul-judul itu berasal dari tiga kumpulan “makna”. “O” adalah kumpulan puisi tersendiri, begitu juga “Amuk” dan “Kapak”. Lantas ketiganya disatukan.

 

Hujan Menulis Ayam pun begitu. “Hujan” adalah sebuah cerita pendek tentang hujan, lantas “Menulis” dan “Ayam” adalah cerita pendek tentang menulis dan ayam. Masing-masing cerita pendek itu terpisah dan tidak saling berhubungan. Dalam bayangan saya, buku kumpulan cerita pendek Sutardji ini berbicara soal air hujan yang jatuh dari langit yang dapat menulis tentang hewan bernama ayam. Ternyata, tidak.

 

Ketiga, selain pesona kata yang muncul dari buku-buku ciptaannya, saya benar-benar mengagumi sosok Sutardji yang disebut-sebut sebagai Presiden Penyair itu. Entah apa maknanya gelaran ini. Namun, menurut banyak kabar yang saya baca, Sutardji ini—dalam konteks perkembangan sastra di Indonesia—adalah seorang pendobrak. Dia membawa ide revolusioner dalam bermain dengan kata-kata.

 

 

Bagi saya, ide Sutardji itu dahsyat. Apa yang dahsyat? Bagi Sutardji, kata-kata harus dibebaskan dari beban penyampaian makna. Luar biasa bukan? Bayangkanlah jika Anda ingin menggunakan kata “makan”, misalnya, kata itu tidak harus diartikan memberi pemahaman kepada Anda tentang sebuah kegiatan dalam konteks mulut kita sedang mengunyah, misalnya, jagung.

 

Ide Sutardji kemudian diterjemahkan secara menggelegar dalam puisi-puisi ciptaannya. Anda bisa melihat bahwa “O” bukanlah “o”. Atau “Amuk” dan “Kapak” bukanlah sebuah kata yang memberikan pemahaman kepada kita tentang keadaan yang rusuh atau senjata yang dapat digunakan untuk membelah kayu, dan seterusnya dan seterusnya.

 

Lewat tulisan-tulisan Sutardji—baik itu berupa esai, cerpen, maupun puisinya—kita sesungguhnya sedang membaca sebuah “dunia baru”. Saya tidak tahu efek ide Sutardji itu dalam perkembangan bahasa Indonesia. Bagi saya, hanya satu: Sutardji sedang mencoba untuk memberikan alternatif tentang cara berbahasa. Dan ini sungguh menarik!

 

Ide bahwa kata-kata harus dibebaskan dari beban penyampaian makna dicetuskannya pada tahun 1973. Idenya itu merupakan kredo kepenyairan yang cukup mengejutkan waktu itu. Penyair mantra, penyair inkonvensional, dan penyair pendobrak kemudian melekat pada diri Sutardji. “Sekitar pertengahan tahun 60-an,” tulis Sutardji dalam mengantarkan Hujan Menulis Ayam, “masa awal kepengarangan saya, menulis cerpen dan puisi sama menarik perhatian saya.”

 

 

Karier kepengarangan Sutardji itu, ternyata, dimulai di Bandung. Ketika itu, dia menjadi mahasiswa FISIP Unpad. Dia lahir di Rengat, Indragiri Hulu, Riau, pada 24 Juni 1941. Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti “Poetry Reading International” di Rotterdam. Kemudian dia juga mengikuti seminar “International Writing Program” di Iowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975.

 

Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand. Demikian kita dapat membaca sedikit riwayat hidup Sutardji tersebut di Wikipedia.

 

Pertanyaannya kini, adalah, kapan di era internet seperti sekarang ini muncul pendobrak-pendobrak baru dalam bidang sastra sebagaiamana Sutardji?[]

__._,_.___