Archive for the ‘Sastra’ Category

SASTRAWAN RATNA INDRASWARI IBRAHIM

Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 28 Maret 2011

————————————-

Sebuah Obituari:

SASTRAWAN RATNA INDRASWARI IBRAHIM

** * **

Terus terang, baru sekarang inilah aku mendengar nama seorang sastrawan
bernama *RATNA INDRASWARI IBRAHIM (61). *Ia berkarya duduk di
kursi-rodanya. Ia tidak mampu menulis maupun mengetik karena kedua
tangan dan kakinya lumpuh (akibat rachitis).

Dengan rendah hati ia menamakan karya-karya sastranya (kurang lebih 400
naskah), termasuk belasan cerpen-cerpen dan novel-novelnya, — sebagai
*”SASTRA LISAN”*. Indonesia baru sekali ini melahirkan seorang sastrawan
luar biasa seperti Ratna Indraswari. Ya sastrawan, ya aktivis sosial.

Betapa tidak mengagumkan! Seorang yang cacad sejak berumur 10 tahun,
sepanjang hidupnya, sampai ia meninggal kemarin, 27 Maret 2011,
samasekali tidak merintanginya untuk berprofesi sebagi sastrawan aktif
dan produktif. Ini dilakukannya berkat bantuan seorang sahabat, Slamet,
dan seorang pembantu lainnya. Ratna telah memberikan sumbangan penting
pada khazanah sastra Indonesia. Siapapun akan mengagumi keterlibatan dan
dedikasinya pada profesi sastra dan perjuangan sosial lainnya.a

Dengan mengambil sebagai teladan, seorang feminis Inggris, Virgina
Woolf, seorang aktris, sastrawan dan aktivis, — bisa disimpulkan bahwa
Ratna Indraswati adalah seorang seniman yang memperjuangkan
hak-sama-sedrajat wanita dan laki-laki. Pernah diberitakan bahwa
sebagian besar pengagum Ratna yang bersemangat feminis itu, adalah dari
kaum laki-laki.

” . . . . secara umum yang ingin saya lakukan adalah menulis dengan
sangat tekun, sehingga bisa seperti Virginia Woolf,” kata Ratna Indraswari.

* * *

Ratna juga amat peduli masalah-masalah kongkrit sosial, speperti a.l
masalah pencederaan lingkungan. Rumahnya sering menjadi tempat kegiatan
organisasi-organisasi masyarakat yang terlibat dengan masalah-masalah di
masyarakat. Rumahnya terbuka bagi siapa saya yang datang mempesoalkan
masalah kebudayaan dan msalah sosial lainnya, khususnya kasus lingkungan.

Salah satu karyanya, novel “LEMBAH TANJUNG” (2003), bisa dikatakan
sebagai protes keras terhadap pengrusakan wilayah hutan kotanya di Kota
Malang, yang terjadi demi suatu proyek pembangunan perumahan mewah.

Tigabelas tahun lamanya, Indraswari mengetuai sebuah NGO untuk
orang-orang cacad. Kemudian Ratna mendirikan NGO peduli masalah-masalah
lingkungan. Ia juga berkerja untuk Yayasan Kebudayaan Payung (1998),
sebuah lembaga kebudayaan untuk menggalakkan dan memelihara sejarah dan
seni daerah. Ratna juga hadir di Konferensi Wanita Internasional (1997).
di Beijing, Tiongkok. Dalam konferensi tsb Ratna menyampaikan pidatonya.

Terhadap sikap pemerintah yang acuh-tak-acuh terhadap masalah-masalah
kongkrit masyarakat, Ratna menyatakan: “Saya tidak bisa menantikan
dukungan pemerintah, saya harus terus mengembangkan jaringan-kerja saya
agar mampu mengubah keadaan sekarang ini”.

Ratna Indraswari juga mendirikan ‘Forum Pelangi’, sebuah organisasi kaum
muda melakukan kegiatan sosial.(World People’s Blog).

Dimana letak kunci kesuksesannya? Ratna menjawabnya sendiri: ” Anda tahu
saya cacat kan, tetapi (sejak kecil) saya tidak dididik untuk cengeng.

“Saya setia menggeluti dunia sastra, itulah kuncinya,” ungkap Ratna
Indraswari.

* * *

Sastrawaan/budayawan dari generasi muda,*LAKSMI PAMUNTJAK, sehubungan
dengan meninggalnya Ratna Indraswari, menyatakan: — *

“*Sedih mendengar kabar wafatnya Ratna Indraswari Ibrahim, seorang
penulis yang tajam, sekaligus hangat dan peka terhadap kehidupan.
Selamat jalan, mbak Ratna; diri dan pemikiranmu kekal dalam sejarah
sastra Indonesia.”*

Kita sependapat dengan pernyataan Laksmi Pamuntjak itu. Patut
ditambahkan: *Yang mengharukan, mengagumkan adalah dedikasinya sebagai
sastrawan, keaktifannya sebagai anggota suatu organisasi masyarakat,
ketulusanan utk membantu orang lain, meskipun ia sendiri cacad, — serta
semangat hidupnya. *

Ibunya selalu menanamkan kepadanya, meski kemampuan fisiknya terbatas,
namun itu tidak bisa dmenjadi alasan untuk bersikap minder. “Mengapa
tidak. Kamu ‘kan punya otak. Kalau menulis kan bisa minta orang lain
untuk mengetik”.

Ratna patuh berbuat seperti dipesankan orangtuanya kepadanya, yaitu
MEMBIASAKAN MEMBACA BUKUJ. DENGAN MEMBACA APA SAJA, KITA AKAN BERFIKIR,
bahwa ADA CERITA LAIN DI DUNIA INI. Sungguh suatu pesan yang bijak.
Membaca dan membaca apa saja agar kita berfikir dan berfikir. (Sumber
informasi: BBC).

Dengan kepergian Ratna Indraswari Ibrahim, dunia sastra dan budaya
Indonesia telah kehilangan seorang sastrawan dan aktivis yang sulit
dicari bandingnya.

Ada Racun Dalam Lirik Puisi Mutakhir Taufiq

 

“HU AR Rini Endo. Saya baca di Internet undangan diskusi sastra di PDS HBJ (Jum 25/3, 15:30), judul atasnya memperingati 100 hari Asep Semboja, tapi judul berikutnya yg lebih penting “ttg pengarang2 Lekra.” Moderator Martin Aleida dg 2 pembicara. Saya terkejut. Ini keterlaluan. Kenapa PDS memberi kesempatan juga kpd ex Lekra memakai ruangannya utk propaganda ideologi bangkrut ini, yang dulu ber-tahun2 (1959-1965) memburukkan, mengejek, memaki HBJ, memecatnya sampai kehilangan sumber nafkah? Bagaimana perasaan beliau bila melihat PDS warisannya secara bulus licik dimasuki dan diperalat pewaris ideologi ular berbisa ini? Petugas PDS yg tentunya tahu rujukan sejarah ini seharusnya sensitif untuk menyuruh ex Lekra itu menyewa tempat lain saja, bukan di PDS. Hendaknya jangan ex Lekra berhasil lagi buang air besar di lantai PDS. Ajari mereka agar berak di tempat lain yang pantas (Taufiq Ismail).”Pesan beracun, yang menghambur sejak Jumat dinihari, 25 Maret 2011, itu tidak hanya diterima oleh HU (Husseyn Umar), Ketua Dewan Pengurus Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin, AR (Ajip Rosidi), Ketua Dewan Pembina Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin, serta Rini dan Endo masing-masing sebagai staf PDS HB Jassin. Racun itu menyebar cepat, sangat cepat, dan banyak. Wallahu alam, saya tak tahu berapa orang lagi yang menerima pesan itu. Saya kira, pastilah banyak! Karena, menjelang tengah malam pada hari Jumat, saya masih menerima SMS serupa yang diteruskan oleh Titiek, putri Pramoedya Ananta Toer. Kegemparan tidak hanya sampai di situ. Bagai serangan selepas Subuh, pukul 05.45, pagar rumah saya bergetar. “Pak Ajip…” bisik istri saya begitu membalik setelah mengintai siapa gerangan yang bertamu sepagi itu.

Pagi itu pertemuan saya dengan Ajip dengan cepat mencapai puncak yang tidak diinginkan oleh siapa pun. Juga tidak oleh tokek yang sudah kehabisan mangsa. Ajip meminta saya untuk membatalkan diskusi mejabudaya, yang dituduh Taufiq Ismail sebagai diskusi mengenai pengarang Lekra. Dia meminta perhatian khusus dari saya, karena PDS sedang menghadapi masa konsolidasi setelah Gubernur Fauzi Bowo berjanji akan menambah dana untuk kelangsungan hidup pusat dokumentasi sastra itu. Untung masih pagi, saya bisa mengendalikan diri menghadapi orang yang datang membawa kekuasaan dengan pongahnya. Yang mendesak saya untuk membatalkan apa yang sudah menjadi kesepakatan teman-teman. Saya hela nafas, dalam. Ucap saya: “Diskusi itu diselenggarakan oleh kelompok diskusi mejabudaya yang sudah berdiri sejak delapan tahun lalu. Diskusi akan membahas kumpulan tulisan Asep Sambodja dalam buku yang baru diterbitkan Ultimus, judulnya ‘Asep Sambodja Menulis,’  sekaligus peringatan 100 hari meninggalnya penulis. Itu diskusi buku. Bukan diskusi Lekra. Kami juga mengirimkan undangan lewat SMS kepada Taufiq. Dia boleh datang untuk ikut membicarakan buku itu.”

Penjelasan saya itu dengan keras dibanting oleh Ajip dengan hardikan: “Saya sudah baca buku itu! Tak perlu penjelasan! Pokoknya harus dibatalkan! Pilihannya cuma dua, kalian membatalkan diri sendiri atau dibatalkan oleh Taufiq Ismail. Taufiq akan datang membawa pasukan!” Begitu meluapnya emosinya di pagi yang memang tidak sejuk itu, sehingga Ajip lupa mengatakan bahwa buku Asep itu dia terima dari saya dua hari yang lalu. Kutatap matanya beberapa detik, jangka watu yang cukup memberikan kesempatan kepada seseorang untuk mengatakan sesuatu kepada dirinya sendiri yang beresonansi untuk menenangkan hati orang yang sedang dibakar amarah, apalagi amarah yang membabibuta.

Hati saya sesungguhnya sudah terketuk ketika Ajip mengatakan dalam suasana mengkonsolidasi diri, PDS memerlukan ketenangan, mencari kesempatan untuk merenung. Tetapi, ketika dia mengamangkan palu godam berapi yang diterimanya dari Taufiq Ismail bahwa mejabudaya harus bubar dengan acara Asep Sambodjanya, darah saya mendidih. Saya tarik nafas dalam-dalam. “mejabudaya itu bukan saya punya, dia tidak punya hirarki, tak ada ketua, tak ada sekretaris, dia bergerak karena ada yang menginginkan kemajuan, kebetulan saya yang  aktif. Nanti akan saya sampaikan kepada teman-teman pesan Bung Ajp ini. Keputusan ada pada mereka.” Penulis besar dari Tatar Sunda itu, yang cerita-cerita pendeknya sudah saya nikmati ketika saya baru duduk di SMP, tiba-tiba menyodorkan pantatnya ke depan, menenangkan hatinya dengan mereguk secangkir teh yang sejak dari tadi mengamati dirinya. Ajip bangkit, mengucapkan terima kasih, melafalkan salam. Kuikuti dia melewati serambi. Kubukakan pintu pagarku, dan dia pergi menyeret langkah kakinya yang kelihatan seberat pohon kelapa.

Begitulah. Saya segera mengontak teman-teman mejabudaya, memberi tahu mereka tentang Taufiq Ismail yang akan membawa laskar Munafiqin untuk membubarkan diskusi menghormati Asep Sambodja. Beberapa pegiat dan pemikir budaya juga saya kabarkan mengenai ancaman pembubaran diskusi buku itu. Membubarkan diri atau dibubarkan pasukan Taufiq Ismail. Tidak mengejutkan saya, ketika teman-teman mengatakan, “Biarkan dia yang membubarkan supaya publik tahu siapa yang biadab!”

Sebelum diskusi dimulai, secara kronologis saya ceritakan kepada sekitar 50 peserta diskusi tentang apa yang sedang terjadi. Diskusi yang diawali dengan pengantar yang dibawakan Okky Tirto, penyair-pemikir muda, dan penyair Sutikno W.S., mendapat tanggapan hangat dari hadirin. Adi Wicaksono, dan diperkuat oleh penulis-pemusik Vukar, mengatakan bahwa apa yang sudah dikerjakan oleh Asep Sambodja selayaknya diteruskan dan diperdalam oleh para peneliti sesudahnya, untuk melengkapi sejarah secara lebih luas, terutama sejarah kesusastraan Indonesia.

Diskusi berlangsung hangat walau pikiran sebagian teman terpecah. Mata, sebentar-sebentar melirik ke pintu masuk, siap untuk menghadapi gempuran kaum Munafiqin. Tegang juga rasanya dengan kuda-kuda yang terus terpacak seperti senapan yang terus terkokang, sementara musuh tak kelihatan batang hidungnya.  Sebelum azan Magrib diskusi ditutup. Kuda-kuda mengurai ketegangannya. Taufiq Ismail yang ditunggu-tunggu tak muncul juga, aaaah… Ternyata cuma gertak sambal (ijo). Kasihan Ajip Rosidi yang meneruskannya sampai repot-repot melangkahi bendul rumah saya.

Apa sesungguhnya yang terjadi sehingga Taufiq menyebutkan saya “pewaris ideologi ular berbisa”? Sekitar dua tahun lalu saya undang dia lewat SMS untuk menghadiri peluncuran kumpulan cerita pendek saya, “Mati Baik-Baik, Kawan,” dan dia datang, mengkritik salah satu cerita yang dia anggap lemah, serta bertukar pandangan dengan Agung Ayu yang menjadi pembicara utama dalam acara yang berlangsung di PDS HB Jassin itu. (Peluncuran buku itu tak ada hubungannya dengan mejabudaya.)

Saya masih ingat, ketika untuk pertama kali saya berkenalan dengan dia, semasa saya bekerja sebagai wartawan majalah TEMPO, mungkin hanya sekedar basa-basi, Taufiq memuji salah satu cerita pendek saya yang dimuat Horison akhir 1960-an. Dia kelihatannya berubah setelah saya dua kali tampil bersama dia sebagai pembicara di dua seminar yang diselenggarakan di Universitas Indonesia tentang sastra dan G30S, di mana saya secara tedeng aling-aling mengkritik sikapnya yang menutup mata terhadap ratusan ribu atau bahkan jutaan manusia tak berdosa yang jadi korban setelah bencana politik itu. Dia berbicara dengan catatan yang dibuat begitu akurat, tentang Komunis yang mebantai di mana-mana, tapi tidak sudi menyebutkan bahwa mereka yang dituduh Komunis dan simpatisannya yang justru di pelupuk matanya sendiri, dia anggap sebagai TIDAK ADA! BUKAN MANUSIA! Juga sikap saya yang antagonis dengan pendiriannya berhadap-hadapan dengan Lekra dan gerakan kebudayaan pertengahan 1960-an dalam apa yang dinamakan rekonsiliasi Lekra-Manifes Kebudayaan yang berlangsung di Teater Utan Kayu beberapa waktu yang lalu.

“… Hendaknya jangan ex Lekra berhasil lagi buang air besar di lantai PDS. Ajari mereka agar berak di tempat lain yang pantas.” Itu mungkin selarik dari puisi mutakhir Taufiq Ismail. Namun, kalau tidak dibaca dengan sebuah konstruksi sastrawi, maka kata-kata dalam pesan singkatnya itu tak-bisa-tidak dia bersifat perintah terhadap pimpinan dan staf PDS HB Jassin. Barangkali, kata-kata eks Lekra yang berhasil “buang air besar” di PDS, maksudnya adalah diskusi senirupa yang diselenggarakan oleh Bumi Tarung Fans Club yang berlangsung di PDS, 12 Maret 2011, yang coba digagalkan oleh Taufiq dengan membujuk Ajip sang budayawan, dan mengintimidasi Rini, staf pusat dokumentasi yang bermarkas di Taman Ismail Marzuki itu.

Suasana hati Taufiq Ismail ketika menulis SMS itu, kalau boleh saya tebak, adalah suasana kalang-kabut karena kebelet, tak bisa buang air besar. Gara-gara dia sendiri. Dia sudah tak bisa “memberaki” siswa-siswa sekolah menengah atas melalui program sastrawan bicara siswa bertanya, karena pemberi dana, Ford Foundation, menyetop bantuan Rp 100 juta/tahun, lantaran dia menyuarakan suara pemerintah ketika bersaksi mengenai pornografi. “Counter part kita bukan pemerintah, tetapi grassroots. Anda tidak menyuarakan apa yang selayaknya Anda suarakan,” begitulah kira-kira kata-kata mati yang disampaikan Ford Foundation kepada Taufiq. Dan, kabarnya, seperti juga kalau dia membaca puisi, maka dia pun menangis. Hikhikhik…[Dendang lagu Melayu menerabas dari rumah sebelah, meninabobo, katanya, ‘Buyung, anakku seorang, sudahi banjir air matamu di sini saja… langit tak bakal runtuh.’] Saya tidak melihat titik air matanya dengan mata kepala saya sendiri. Tapi, itulah kata-kata imajiner yang saya pungut beterbangan di jalan-jalan, juga di langit.

Untuk dia selalu saya doakan, kalau program itu bisa berkibar lagi. Siapa tahu, suatu ketika setelah pasukan sekutu berhasil menekuk Libya, Ford Foundation berkenan mengucurkan bantuan untuk program yang berguna untuk siswa-siswa sekolah menengah atas itu. Cuma harus diingat selama ini program itu samasekali bertolak-belakang dengan pedagogi pendidikan, karena sastrawan yang disertakan hanyalah teman-teman sendiri. Sudah saatnya melepaskan diri dari kungkungan tempurung kepala dewek.

Saya ingin bertanya dari dokumentasi yang disimpan siapa ada catatan yang menyebutkan bahwa HB Jassin kehilangan nafkah gara-gara Lekra. Sejak kapan HB Jassin bekerja di bawah “pemerintahan” Lekra, sehingga kesalahannya harus diganjar pemecatan. Catatan dari mana yang mengatakan Lekra membawahi Lembaga Bahasa Nasional (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) di mana HB Jassin bekerja? Kawan, sekalipun sebuah khayalan, logika hendaknya terpateri kuat-kuat di sana.

“Bagaimana perasaan beliau bila melihat PDS warisannya secara bulus licik dimasuki dan diperalat pewaris ideologi ular berbisa ini?” gugat Taufiq Ismail. Saya ingin bertanya, sejak kapan Taufiq Ismail diberikan Pak Jassin kuasa penuh untuk menafsirkan perasaannya? Saya tidak dekat, dan berusaha tidak duduk persis di depan meja kerjanya, sejauh itu berkenaan dengan karya sastra. Saya, sebagai watawan majalah TEMPO, pernah dua kali mewawancarai HB Jassin awal 1970-an, ketika kritikus ternama ini dalam proses menerjemahkan Al-Quran secara puitis. Sebagai basa-basi, sebelum memulai wawancara, saya katakan bahwa tiga cerita pendek saya dimuat Horison, yang dia pimpin. Dia tidak bertanya tentang latar belakang saya. Dia cuma senyum. Hamsad Rangkuti, yang bekerja di Horison di bawah pimpinan HB Jassin, mengenal saya, sebagai orang sekampung di Tanjung Balai-Kisaran. Saya tak tahu, dan tak perlu bertanya ke pada Hamsad, apakah dia pernah menceritakan latar-belakang saya kepada Pak Jassin. Sama seperti saya, Hamsad percaya bahwa cerita pendek hidup dengan membawa kodratnya sendiri, dengan keyakinan bahwa setan takkan pernah membawa surga dengan berkendaraan kata-kata.

PDS HB Jassin dalam sorotan. Saya yang sejak pensiun sering mangkal di situ, menulis hampir seluruh cerita yang perah saya terbitkan, termasuk satu novel. Endo Senggono, sebagai staf PDS, telah membuka ruang baca seluas 300 m2 sebesar-besarnya sebagai rumah para sastrawan dan pekerja seni di berbagai bidang: senirupa, film, musik, teater yang masih muda-muda untuk mangkal di situ, di luar jam kerja. Endo kelihatannya sadar sejarah, bahwa para seniman memerlukan tempat mampir, sebagaimana para seniman tahun 1950-an menemukan rumah di Pasar Senen. Dewan Kesenian Jakarta, dengan ruang tamu, dan sekat-sekat enam komite kesenian terlalu elit buat disinggahi.

Endo telah menjadikan PDS sebagai “pusat budaya,” rumah bagi anak-anak muda yang berbakat tetapi masih terlantar. Hati saya terenyuh ketika Ajip Rosidi mengatakan dia akan berupaya memutasikan Endo ke Dinas Kebudayaan dengan jalan membujuk sang kepala dinas. Karena Endo dianggap sesat. “Saya tak tahu apa motif Endo untuk memberikan kebebasan bagi semua orang untuk memanfaatkan PDS,” katanya.

Sepuluh tahun lalu Ajip menunjuk Endo untuk menggantikan Oyon Sofyan sebagai kepala pelaksana PDS, karena Oyon dianggap membangkang, menolak kebijakan Yayasan, karena menurut Oyon, Yayasan datang belakangan sesudah lahirnya pusat dokumentasi HB Jassin. Dalam kiprahnya selama sepuluh tahun, Endo tidak bebas dari kesalahan. Dan mustahil. Mungkin sebuah sistem disiplin sebuah kantor sudah terluka karena pintu yang sudah dia buka dengan hati yang jujur. Manusia terlihat kocar-kacir di situ. Namun, dia sudah membangun sebuah rumah buat mereka yang ingin berkembang. Membuka jalan. Membebaskan diri dari keterlantaran. Kita akan menulis dan melantunkan sebuah ode jika Endo, yang hanya bisa melangkah dengan bantuan ketiak penyangganya, dijatuhkan sampai terjerembab. ***

Martin Aleida, penulis cerita, in:Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com, Tuesday, 29 March 2011 21:20:14

__._,_.___

Islam yang Puitis

Asarpin

Ketimbang mendiskusi Islam Protestan, Islam Katolik, Islam Post-Tradisionalisme, agaknya yang lebih relevan sekarang adalah bagaimana merumuskan pandangan fikih tentang puisi dan kemungkinan untuk menggagas Islam puisi, yaitu Islam yang tidak marah.

Dengan Islam Puisi, saya membayangkan kitab suci, dogma dan syariat bisa dipahami secara puitis. Bukankah bahasa Kitab Suci sesungguhnya adalah puitis? Oleh karena itu, sudah selayaknya jika bahasa Kitab Suci dikembalikan pada bahasa yang puitis dan estetis. Bukan dengan bahasa yang logis argumentatif, tapi bahasa yang simbolik dan metaforik. Bukan dengan pendirian matematik-rasionalis, tapi pendirian ilustratif dan puitik.

Bisa jadi saya berlebihan ketika mengharapkan pergaulan umat beragama akan berjalan dengan sejuk dan saling menyapa dengan masing-masing menempatkan agama dan kitab sucinya sebagai kitab puisi. Sebagai titik awal, saya tidak ingin masuk ke dalam diskusi perbandingan agama sebagai perbandingan nilai, tapi saya berusaha mengajukan tawaran untuk menjadikan beragama melalui tafsir puisi.

Karena puisi pada dasarnya bersandar pada yang tak mungkin, yaitu dengan memakzulkan semua dogma. Sebab tak satu pun dari kepercayaan umat manusia yang pasti paling suci seperti hukum aritmetika dan geometri. Sikap kritis dan anti-dogma adalah hal yang wajar dalam puisi, karena ia menawarkan semacam pembebasan jiwa.

Islam Puisi berangkat dari pemahaman tentang Tuhan yang Mahaindah, dan menghargai keindahan. Sebagai bukti bahwa Ia tidak memusuhi keindahan, maka diturunkannya bacaan yang indah. Alquran adalah perkataan Tuhan yang mengandung keindahan. Bahkan identik dengan keindahan.

Secara psikologis, ada sebuah istilah yang disebut naluri keindahan. Manusia memiliki naluri keindahan, dan condong pada hal-hal yang indah. Quraish Shibab, dalam Wawasan Al-Quran (1996), pernah mgatakan dengan tak disangka-sangka: “Dorongan keindahan merupakan anugerah dari Allah. Ia merupakan fitrah bagi manusia. Adalah suatu hal yang mustahil bila Allah menganugerahkan kita potensi untuk menikmati atau mengekspresikan keindahan, kemudian Ia melarangnya”.

Pandangan Quraish Shibab dalam Wawasan Alquran itu cukup relevan dikuak jauh untuk konteks Islam Puisi di hari ini, kendati bukan satu-satunya, mengingat sampai kini di negeri kita masih dominan pandangan yang menganggap Tuhan memusuhi penyair dan puisi. Tapi tak cuma di Indonesia, bahkan di sebgaian besar negeri yang menganut Islam, puisi nyaris tak dihargai. Di Arab sendiri, kata Adonis, puisi adalah musuh Alquran. Puisi berlawanan dengan Alquran.

”Tak ada teks Alquran yang memuji atau menganjurkan puisi”, kata Adonis dalam sebuah wawancara. ”Sebaliknya, teks Alquran merendahkan puisi”. Untuk menguatkan argumennya, Adonis mengutip sejumlah ayat dari surat Asy-Syuara (Para Penyair) ayat 224-226: ”Dan para penyair diikuti oleh mereka yang sesat. Tidakkah kau melihat sesungguhnya mereka mengembara ke setiap lembah dan mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan.”

Quraish Shibab menempatkan puisi sebagai keindahan, yaitu ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan semesta keindahan. Apa pun definisi dan jenis keindahan itu, yang jelas puisi tidak lain adalah genre sastra yang begitu menekankan seni keindahan. Untuk menguatkan argumennya, Quraish Shihab mengutip sebuah hadis yang menegaskan: innalaha jamiylun yuhibbul jamala: sesungguhnya Tuhan Mahaindah dan menyenangi keindahan.

Bahkan, menurut Quraish Shihab lagi, ada hadis Nabi yang mengesankan pentingnya keindahan bagi seseorang hingga orang tidak disalahkan ketika “berlomba” atau “bersaing” menghadirkan keindahan ucapan. Malik Mararah Ar-Rahawi bercerita tentang seseorang yang ingin menyaingi kata-katanya, lalu ia merasa tak senang walau secuil pun. Dan ia bertanya kepada Nabi apakah sikapnya itu menunjukkan kesombongan, dan Nabi menjawab: tidak, karena keangkuhan adalah meremehkan hak dan merendahkan orang lain, bukan pada soal keindahan.

“Mengabaikan sisi-sisi keindahan yang terdapat di jagad raya ini”, tulis Quraish Shihab, ”berarti mengabaikan salah satu dari bukti keesaan Tuhan, dan mengekspresikannya dapat menjadi upaya membuktikan kebesaranNya, dan ini tidak kalah—kalau enggan berkata lebih kuat—dari upaya membuktikannya dengan akal-pikiran”. Mengabaikan keindahan berarti mengabaikan puisi. Dan mengabaikan puisi berarti mengabaikan pesan Tuhan.

Untuk melanjutkan sikapnya, Quraish Shihab mengutip Immanuel Kant, Syaikh Abdul-Halim Mahmud, lalu mengatakan: “Bukti terkuat tentang Ada (Tuhan) terdapat dalam rasa manusia”, bukan akal. Bahkan seperti kata Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin yang dikutip Quraish Shihab: “Siapa yang tak berkesan hatinya pada saat musim bunga dengan warna-warni kembangnya, atau oleh musik dan getaran nada-nadanya, maka hatinya telah mengidap penyakit parah yang sulit diobati”.

Amin al-Khuli bisa juga kita mintai pendapatnya di sini untuk memahami IsLam Puisi. Sebagai puisi, ia bertujuan membangkitkan semesta metafora dan makna yang ada di dalamnya sebagai petunjuk bagi manusia. Seorang mufassir mau tak mau mesti menggunakan bahasa puisi dengan bantuan gramatika, metafora, gaya, agar mampu menghindari makna monolitik terhadap Alquran, dan pada saat yang sama, mampu menghadirkan indahnya keragaman.

Memahami Islam sebagai agama puisi penting untuk diapresiasi mengingat kita hidup dalam ”abad puisi”. Puisi berkembang begitu pesat kini, dan hampir tak mungkin bisa dilarang dan ditolak. Kini filsafat dan sains tak lain adalah puisi. Bahkan agama pun adalah puisi.

Mengapa puisi? Karena puisi bisa memberikan kelapangan pandangan, keindahan hidup dan kehidupan, dan mampu menjamin kita untuk tak terjebak pada akidah tunggal. Puisi akan menjamin kita untuk tak melakukan kepastian di dalam membuat klaim; menjaga kita untuk tak menjadi orang alim hanya dengan jalan syariat semata.

Source: http://pustaka-pujangga.com

GEGER PUISI TAUFIK ISMAIL YANG MIRIP Douglas Malloch


Bener-bener mirip. Juga TI tidak konsisten: ENGKAU di bait pertama dan lain-lain, KAMU di bait di bait kedua.

Rahardjo Mustadjab <rahardjomustadjab277@gmail.com>
2011/3/30 Item <itemic@gmail.com>

GEGER di dunia maya puisi TAUFIK ISMAIL yang sama dengan karya DOUGLAS MALLOCH. Mungkinkah Doughlas yang menjiplak karya Taufik Ismail, atau sebaliknya? Di bawah ini copy karya dua penyair beda kebangsaan itu dalam judul berbeda.

Saya berharap penyair yang saya hormati itu sempat mencantumkan puisinya sebagai karya saduran atau terjemahan. Kalau tidak, apa kata dunia??

Al Item

Be the Best of Whatever You Are

By Douglas Malloch

If you can’t be a pine on the top of the hill,
Be a scrub in the valley — but be
The best little scrub by the side of the rill;
Be a bush if you can’t be a tree.

If you can’t be a bush be a bit of the grass,
And some highway happier make;
If you can’t be a muskie then just be a bass —
But the liveliest bass in the lake!

We can’t all be captains, we’ve got to be crew,
There’s something for all of us here,

There’s big work to do, and there’s lesser to do,
And the task you must do is the near.

If you can’t be a highway then just be a trail,
If you can’t be the sun be a star;

It isn’t by size that you win or you fail —
Be the best of whatever you are!

————-

Kerendahan Hati
Oleh: Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Ali Sadikin: Yang Mau Jadi Gubernur Jakarta Cintailah Karya Sastra

 

PDS HB JASSIN
Ali Sadikin: Yang Mau Jadi Gubernur Jakarta Cintailah Karya Sastra
Rabu, 30 Maret 2011 , 08:21:00 WIB
Laporan: Kristian Ginting

RMOL. Semua berawal dari 1930an ketika HB Jassin mulai mengoleksi dan mendokumentasikan buku harian dan karya-karya sastra baik karya yang ditulisnya sendiri maupun karya sastrawan lain.

Seperti kecintaannya pada buku dan dunia tulis menulis, hobi ini pun mengalir dari ayahnya, Bague Mantu Jassin, seorang pegawai Bataafsche Petroleum Maat-schappij (BPM) yang memiliki perpustakaan pribadi.

Pada 1940an, ketika Jassin bekerja di Balai Pustaka, satu per satu karya sastra, tulisan tangan, foto-foto dan surat-surat pribadi dikumpulkannya. Jumlahnya sangat banyak. Bila disusun di dalam lemari bisa mencapai 80 meter panjangnya.

Jumlah buku dan naskah yang sangat besar itu dikumpulkan Jassin sejak jaman Jepang sampai awal kemerdekaan Republik Indonesia. Pernah pada suatu ketika seorang asing yang tertarik pada koleksi Jassin meminta agar Jassin bersedia memindahtangankan koleksi itu. Tetapi Jassin menolak. Nilai sejarah dalam koleksinya terlalu berharga untuk diberikan kepada bangsa lain.

Pekan lalu, kepada Rakyat Merdeka Online, Endo Senggono, bercerita tentang saat-saat awal pendirian PDS HB Jassin.

Endo adalah mantan Kepala Perpustakaan PDS HB Jassin antara 2000 hingga 2010. Adalah HB Jassin yang mengajaknya bergabung pada 1987. Awalnya, lelaki kelahiran 1959 alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu bekerja tenaga sukarela seperti umumnya staf yang bekerja di PDS HB Jassin. Baru pada 1997 ia diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.

Di pertengahan 1970an, Gubernur DKI Jakarta ketika itu, Ali Sadikin, menawarkan agar dokumentasi HB Jassin dikelola pemerintah Jakarta. Ali Sadikin berjanji akan memberikan bantuan operasional untuk PDS HB Jassin melalui Dinas Kebudayaan dan Permuseuman.

HB Jassin dan pengelola perpustaakaan setuju. Maka pada 28 Juni 1976 berdirilah Yayasan Dokumentasi HB Jassin yang kemudian berubah nama menjadi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Gubernur Ali Sadikin menjadi ketua Badan Pendiri, sementara Ajip Rosidi sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan.

Setahun kemudian PDS HB Jassin dipindahkan dari Lembaga Bahasa dan Budaya di Jalan Diponegoro No. 82, Jakarta Pusat, ke gedung baru di lingkungan taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat.

“Masalah kebudayaan harus diurus oleh siapa saja yang ingin menjadi gubernur DKI Jakarta,” begitu antara lain kata Ali Sadikin ketika meresmikan gedung baru PDS seperti yang diingat Endo Senggono.

Menempati lahan seluas 900 meter persegi, PDS HB Jassin yang berlantai dua itu berada persis di belakang Planetarium TIM. Dinding-dindingnya dicat berwarna biru. Ruangan PDS HB Jassin dibagi menjadi tiga, yakni ruang kantor, ruang baca dan ruang koleksi. Pada tahun 2006 PDS HB Jassin tercatat memiliki tak kurang dari 48 ribu koleksi.

Koleksi sastra di tempat ini dapat dikatakan lengkap. Karya sastra tertua berasal dari masa keemasan sastra Melayu-Tionghoa yang diterbitkan di awal abad ke-20 antara 1900 hingga 1904, mulai dari karya Kwee Tek Hoay, Lim Kim Hok hingga F. Wiggers.

PDS HB Jassin sangat bergantung pada subsidi yang diberikan pemerintah. Itu pula, kata Endo, yang menjadi kelemahan PDS HB Jassin.

“Mungkin PDS HB Jassin dianggap tidak menghasilkan apa-apa, sehingga Pemprov DKI Jakarta berniat menghentikan bantuan,” kata Endo.

Sebetulnya, selain mengandalkan bantuan dari Pemprov DKI Jakarta, PDS HB Jassin juga berusaha sebisa mungkin mengumpulkan dana operasional dari berbagai kegiatan. Tetapi, saat ini, kata Endo lagi, tabungan PDS betul-betul habis terkuras.

Setelah berita mengenai kebijakan pemerintahan Fauzi Bowo mengurangi hingga akan memotong sama sekali anggaran bantuan untuk PDS HB Jassin berkembang luas, barulah banyak pihak yang memperlihatkan rasa simpati dengan memberikan sumbangan.

“Pada saat begini, PDS HB Jassin merasa lebih mudah untuk mengumpulkan dana. Tapi, pada saat tidak sakit, jual nama HB Jassin pun tidak laku,” Endo masygul.

Satu lagi yang tak habis-habisnya dipikirkan Endo: bila Ali Sadikin mengakui bahwa pelestarian karya sastra merupakan salah satu syarat penting bagi siapa saja yang ingin menjadi gubernur Jakarta, mengapa Fauzi Bowo yang dikenal sebagai salah seorang staf ahli Ali Sadikin dan kini memerintah Jakarta mengurangi dan memotong anggaran bantuan untuk PDS HB Jassin? (Bersambung)

http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=22597

__._,_.___

Kisah-kisah Menggugah dari “Orang Buangan”

Kisah-kisah Menggugah dari “Orang Buangan”

Judul Buku: Cucu Tukang Perang (Kumpulan Cerpen)

Penulis:  Soeprijadi Tomodihardjo

Penerbit: Akar Indonesia

Tahun: Januari 2011

Jumlah Halaman: xvii + 130

SEBUAH cerita, apakah itu dalam bentuk novel atau cerpen, selalu mengandung nilai-nilai kemanusiaan universal. Cerita sering menggugah perasaan, sampai ke kedalaman nurani. Kisah-kisah dalam buku kumpulan cerpen karya Soeprijadi Tomodihardjo yang berjudul “Cucu Tukang Perang” ini juga sangat menggugah. Lewat alur cerita yang sederhana dan dialog-dialog para tokohnya, cerita-cerita yang dituangkan Soeprijadi, pengarang eksil (terbuang) Indonesia ini, banyak yang menyentuh nurani. Beberapa cerita, bahkan menemukan relevensinya dengan situasi sosial saat ini.

Dalam cerpen “Cucu Tukang Perang”, misalnya. Dilukiskan, seorang pemuda yang anti-perang dan menolak dinas wajib militer harus merawat orang (tentara) yang menjadi korban perang. Dengan sikap dan kata-kata yang dilontarkan ia ingin menunjukkan kepada orang yang ia rawat tersebut bahwa dirinya benar-benar antikekerasan. Ia mencontohkan beberapa peperangan, dan lengkap dengan akibat-akibatnya bagi kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Maka munculnya dialog semacam ini:

“Perang adalah cara paling gila untuk memecahkan perselisihan antar-manusia”. “Saya menentang perang, apalagi perang melawan bangsa sendiri”. Bukankah dialog-dialog tersebut layak direnungkan melihat situasi social-kemasyarakatan belakangan ini?

Lalu apa jawaban di pasien, orang yang dirawat pemuda tersebut. “Perang mesti dilanjutkan! Hanya dengan perang kita bisa melawan kebiadaban.”

Atau baca juga dalam cerpen “Lelaki yang Menyepi”. Dalam cerita ini dilukiskan seorang lelaki yang menyiksa diri, menyepi dan tirakat sejak ditinggal mati istrinya. Tidak makan, tidur beralas tikar. Seolah-olah ia menjauhi kepuasan duniawi, kepuasan jasmani-rohani yang membuat manusia kian ingin mewah dalam hidupnya. Bahkan sampai-sampai ia harus tidur di makam istrinya itu. Ternyata lelaki itu melakukan semua itu karena pengaruh gendam istrinya. Ia menyiksa diri seperti itu agar bisa lepas dari pengaruh sihir tersebut. Dengan cara menyepi dan menyiksa diri, termasuk puasa Senin-Kamis akhirnya lelaki itu berhasil. Sebuah kisah yang menunjukkan sihir dan klenik masih ada di dunia era teknologi informasi ini.

Kisah dalam cerpen “Rumah Bunda” tak kalah menggugahnya. Seorang Bunda yang diusir dari rumah dinasnya yang mewah di kota karena suaminya dipenjara. Sebagai istri pejabat pemda, Bunda semula tinggal di rumah dinas itu. Lantaran suaminya harus mendekam di penjara karena suatu kasus, akhirnya ia diusir meninggalkan rumah dinas itu. Akhirnya ia mengontrak rumah di pinggiran kota. Rumah sederhana berdinding bambu. Tak hanya kemewahan di rumah dinas yang hilang, ternyata rumah kontrakannya itu merupakan sarang pelacuran. Yang biasanya disewakan jam-jaman.

Cerita ini seperti mewakili fenomena yang banyak terjadi di masyarakat. So, buku ini memang perlu dibaca. (Yahya Umar).

(Dimuat dalam koran Denpasar Pos 13 Maret 2011).

 

Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra

Mencari Puisi Zen Hae: Mari Rame-Rame Membaca Karya Sastra (1)

Oleh Hernowo

 

 

Saya pernah tergila-gila dengan puisi Chairil Anwar. Saya sudah lapa kapan itu terjadi. Yang masih saya ingat sampai sekarang, “kegilaan” saya itu distimuli oleh skripsi Arief Budiman yang dibukukan dengan judul Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan. Skripsi psikologis Arief Budiman ini begitu memukau dan menggetarkan saya. Dulu skripsi ini diterbitkan oleh Pustaka Jaya.

 

Pustaka Jaya, kini, memang sudah tak ada lagi. Namun, ia tetap ada di dalam hati saya. Pustaka Jaya berjasa dalam membangun keindahan sastra di dalam diri saya. Saya pun dapat merasakan keindahan bertutur kata lewat buku-buku yang diterbitkannya. Dulu. Saya, yang awam dengan sastra, dapat bersentuhan dengan karya-karya sastra akibat produk-produk terbitan Pustaka Jaya.

 

Saya pun kemudian melebarkan bacaan saya. O Amuk Kapak karya Sutardji Calzoum Bachri saya beli. Seingat saya, buku puisi yang unik ini diterbitkan oleh Penerbit Sinar Harapan. Ada gambar Sutardji membuka tangannya lebar-lebar sedang membaca puisi di sampul depan yang berwara biru dengan semburat warna merah. “kakiku luka/luka kakiku/kakikau lukakah/lukakah kakikau…” sungguh dahsyat. Saya terpesona dengan permainan kata Sutardji dalam puisi-puisinya.

 

Jika terkait dengan puisi atau sajak, saya harus menyebut W.S. Rendra. Bukan dikarenakan saya tergila-gila kepada dan pengagum Rendra; saya bahkan mencintai sajak-sajaknya sejak saya masih mahasiswa. “Sihir” Rendra yang menggelora telah mengubah jalan hidup saya. Kumpulan puisinya yang diberi pengantar sangat menarik oleh A. Teuw, Potret Pembangunan dalam Puisi, senantiasa ada di tas milik saya ketika saya kuliah. Ketika saya kalut dan bingung, saya membacanya. “Sajak Seonggok Jagung” benar-benar mampu memberi inspirasi.

 

Potret Pembangunan dalam Puisi waktu itu diterbitkan oleh LSP (Lembaga Studi Pembangunan) yang digawangi oleh Adi Sasono. Sampul depannya hanya hitam putih namun sangat berkarakter karena ada gaya-khas Rendra ketika membacakan puisi. Tangan kirinya memegang berkas-berkas lembaran puisi dan tangan kanannya mengacung tinggi ke langit. Itu ciri Rendra ketika mengepakkan sayap burung meraknya. Saya terkesima dan membayangkan dapat menjadi seperti Rendra!

 

Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Rendra, Emha Ainun Nadjib, dan Taufiq Ismail adalah sebagian kecil para penyair Indonesia yang karyanya saya baca. Saya kadang juga menikmati karya Joko Pinurbo dan Nirwan Dewanto meski agak kesusahan menangkap maknanya. Saya membeli dan membaca karya-karya keduanya. Juga puisi yang diciptakan oleh Mochtar Pabottingi. Meski bergelut dengan dunia politik, Mochtar masih sempat menciptakan kata-kata yang indah dan tertata.

 

Yang belum saya baca adalah puisi karya Zen Hae. Saya mengetahui karya puisi Zen Hae dari majalah Tempo. Saya lupa kapan tepatnya, namun waktu itu majalah Tempo memberi apresiasi kepada para pencipta karya sastra yang senantiasa dilakukannya pada akhir tahun. Terpilihlah kemudian buku kumpulan puisi Zen Hae. Judulnya Paus Merah Jambu. Unik. Waktu itu saya berusaha keras mencarinya di toko-toko buku. Nihil. Hingga kini, saya masih mengimpikan untuk dapat membacanya….[]

Negara Tanpa Sastra

Negara Tanpa Sastra

Oleh Anwari WMK

Sumber: KOMPAS edisi Kamis, 24 Maret 2011

 

Sumber foto: Getty Images

 

Negara yang telah kehilangan sensibilitasnya terhadap sastra adalah Negara yang tengah menegasikan potensinya sendiri dalam hal menumbuhkembangkan kreativitas dan otentisitas.

 

Sudah menjadi aksioma, persaingan ekonomi dan industri pada abad ke-21 berbasis inovasi. Sementara inovasi itu sendiri berpijak pada kreativitas dan otentisitas. Tanpa inovasi, mustahil daya saing ekonomi dan industri dapat diwujudkan. Begitu pun tanpa kreativitas dan otentisitas, mustahil inovasi dapat digelorakan. Sementara tak dapat dielakkan, sastra merupakan lahan subur tumbuhnya ”pohon” kreativitas dan otentisitas.

 

Sudah lebih dari cukup berbagai penjelasan menyebutkan, negara-negara berteknologi maju dewasa ini adalah negara dengan warisan (legacy) sastra. Hampir tidak ada negara maju kini miskin karya sastra. Bahkan sebuah negara mampu beranjak maju tatkala elemen ekonomi dan industri negara tersebut mampu mereguk ilham dari narasi-narasi sastra.

 

Tidak mengherankan pula jika biografi tokoh-tokoh bisnis dan korporasi dipenuhi penceritaan tentang kekaguman mereka terhadap buku-buku sastra. Dengan mengambil jalan estetika, sastra menginspirasi timbulnya kemajuan sebuah bangsa.

 

Adalah filosof Immanuel Kant yang pernah menyebutkan tentang pemanusiaan manusia melalui karya-karya sastra. Dalam diri manusia terus-menerus timbul kerentanan justru karena relasi manusia yang tiada henti dengan ruang-waktu.

 

Logika yang berkuasa atas ruang-waktu acap kali menyudutkan manusia untuk terbentur serangkaian kesulitan. Logika yang mendikte ruang-waktu sedemikian rupa mengaduk-aduk perasaan manusia. Logika yang bekerja dalam ruang-waktu menyeret eksistensi manusia ke dalam pusaran keterpecahan dan keberkepingan perasaan.

 

Sastralah yang pada akhirnya mengutuhkan kembali perasaan manusia yang telanjur tersuruk ke dalam keterpecahan dan keberkepingan itu. Itulah yang dapat menjelaskan mengapa manusia menemukan keutuhan dirinya seusai menyimak karya-karya sastra. Melalui karya sastra, manusia berpeluang menemukan partikularitas dirinya yang hilang terporakporandakan oleh logika ruang-waktu.

Modal kultural

Ketika masyarakat pada suatu negara terlatih memanusiakan dirinya melalui jalan sastra atau karya-karya sastra, sesungguhnya sebuah negara memiliki modal kultural yang tiada tara untuk mengimajinasikan makna dan hakikat hidup adiluhung. Negara tersebut tidak akan menghadapi kesulitan superpelik tatkala harus masuk ke dalam agenda peningkatan daya saing ekonomi dan industri, berhadapan dengan negara-negara lain di dunia.

 

Di sini kita berbicara ihwal relevansi sastra terhadap timbulnya the ideas of progress dalam kehidupan masyarakat di sebuah negara-bangsa.

 

Dewasa ini kita menyaksikan secara terang benderang betapa produk-produk berteknologi tinggi suatu negara yang berdimensi humanistik dalam penggunaannya justru semakin diwarnai oleh penampilan yang estetik.

 

Tampak menonjol dalam produk-produk tersebut pengaruh sastra dan kesusastraan dalam totalitas proses inovasi.

 

Sebuah karya sastra memang tak harus dimaksudkan mengawal lahirnya sebuah produk teknologi tinggi. Namun, keagungan narasi dan keindahan literasi dalam karya sastra merupakan ilham penciptaan bagi lahirnya produk-produk berteknologi tinggi yang nikmat dalam penggunaan serta indah ditatap.

 

Sayang, tidak semua negara memiliki kejelasan posisi terhadap sastra. Bahkan muncul dialektika yang sedemikian rupa mengondisikan negara berjalan tanpa sastra.

 

Dengan menyebut ”negara tanpa sastra”, bukan berarti di negara tersebut sama sekali tidak lahir karya-karya sastra. Sangat mungkin justru karya-karya sastra telah berakumulasi menjadi warisan kesusastraan oleh suatu perkembangan jangka panjang dari generasi ke generasi. Negara tanpa sastra merupakan frasa yang mengilustrasikan tak adanya perhatian rezim yang tengah berkuasa di suatu negara terhadap arti penting sastra bagi kemajuan masyarakat dan pemerintahan di negara tersebut.

 

Tak pelak lagi, Indonesia sesungguhnya masuk ke dalam kategori negara tanpa sastra. Tersingkapnya fakta di seputar penelantaran Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin merupakan bukti hadirnya negara tanpa sastra di Indonesia.

 

Melalui penyikapan pemerintah sendiri, sastra belum dikondisikan berfungsi sebagai dasar tumbuhnya kreativitas dan otentisitas mendukung berlangsungnya inovasi ekonomi dan industri. Jangan heran pula jika ke depan Indonesia masih akan terseok-seok dalam arena persaingan antarbangsa di dunia.

 

Anwari WMK Peneliti Filsafat dan Kebudayaan di Sekolah Jubilee, Sunter, Jakarta

 

“Bung Karno! Kau dan Aku Satu Zat…”

http://oase.kompas.com/read/2011/03/27/08595062/.amp.Bung.Karno.Kau.dan.Aku.Satu.Zat.amp.

Editor: Jodhi Yudono
Minggu, 27 Maret 2011 | 08:59 WIB
Dibaca: 8672

 

istimewa
Bung Karno

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin djandji

Aku sudah tjukup lama dengar bitjaramu

dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu

Dari mulai tgl 17 Agustus 1945

Aku melangkah kedepan berada rapat disisimu

Aku sekarang api, aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat, satu urat

Di zatmu, di zatku, kapal2 kita berlajar

Di uratmu, di uratku, kapal2 kita bertolak & berlabuh

Kutipan di atas adalah puisi karya penyair Chairil Anwar (1922-1949) berjudul Perdjandjian Dengan Bung Karno yang ditulis tahun 1948. Naskah asli tulisan tangan sang penyair itu masih tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Dalam versi aslinya itu, kata ”lama” pada baris kedua tertulis mencuat dan terjepit di antara kata ”tjukup” dan ”dengar”. ”Aku sudah cukup ”lama” dengar bitjaramu….” Di bawah kata itu terdapat contrengan. Ada kesan kata ”lama” sempat lupa tercantumkan. Tentu ini hanyalah penafsiran atas teks asli. Yang jelas, begitulah naskah asli puisi disimpan dan bisa kita nikmati sebagai dinamika zaman perjuangan yang terekam lewat puisi, yang oleh HB Jassin kemudian digolongkan sebagai Angkatan ’45.

Gelegak revolusi itu terekam benar lewat tulisan tangan Chairil. Dan di sanalah, di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, gelegak ”api” dan ”laut” Chairil itu tersimpan. Sungguh memprihatinkan dokumentasi semangat zaman itu dalam kondisi merana terbengkalai sekarang.

Sesudah Chairil Anwar meninggal tahun 1949, karyanya menjadi rebutan para penerbit. Namun, Chairil sudah mengumpulkan sendiri karya-karya sajaknya dan diserahkan kepada PDS HB Jassin.

Surat cinta Motinggo

PDS HB Jassin tidak sekadar menjadi ”gudang” karya sastra, tetapi juga dinamika kehidupan para pelaku sastra dari zaman ke zaman. Jassin memang rajin mengumpulkan tulisan tangan, catatan kecil dan surat-surat yang ditulis para penulis. Surat pernyataan Motinggo Boesje yang asli dengan judul ”Saya Menolak Hadiah Sastra 1962” masih tersimpan di PDS HB Jassin.

Surat pernyataan yang ditulis bulan Januari 1953 itu berisi penolakan Motinggo atas hadiah sastra yang diberikan untuk cerita pendeknya. Menurut dia, ukuran keberhasilan karya sastra tidak dapat diukur dari penghargaan-penghargaan yang diperoleh.

Kisah hidup penulis flamboyan ini juga terungkap dari catatan-catatan kecil yang dikirimkan Mas Mot (panggilan untuk Motinggo Boesje) kepada beberapa perempuan. Dalam catatan itu, Mas Mot menulis puisi cinta lengkap dengan lukisan sketsa ketika sedang rindu, menyesal, atau kangen kepada sang kekasih.

Mari kita baca puisi Motinggo Boesje yang juga ditulis tangan, lengkap dengan ilustrasi bunga-bunga. Kita kutip bait pertama dan terakhir dari puisi karya novelis, cerpenis, dan sutradara itu. Di bawah puisi itu tertera angka tahun 1988.

”Inilah buah indah rasa bersalah/Penyesalan ibarat memindah dua gunung/Masih saja membayang tangismu pagi itu/Air matamu membasuh hati yang berdebu…”

”Sudahlah. Kesekian kali kumohon maafmu/Matamu bagaikan malam dengan dua lampu.”

Jassin menyimpan naskah-naskah yang dikirimkan para pengarang ini dengan takzim, seolah itu amanat yang tidak bisa diabaikan. Sungguh ironis jika kemudian kita membiarkannya tanpa arti, bahkan menganggapnya sebagai coretan berdebu tak bermakna. Dan pengelola PDS HB Jassin, Endo Senggono, mengaku belum semua naskah asli itu disimpan dalam bentuk digital. ”Belum. Masih dalam map begitu saja,” katanya.

Tidak hanya karya sastra. Jassin juga menyimpan dokumen, seperti undangan perkawinan Motinggo dengan Lashmi Bachtiar pada 2 September 1962. Pada keterangan ”Djam” dan tempat tertulis: ”Djam 12.00 s/d 15.00 siang di Djalan Salemba Tengah II No 7 Djakarta”. Nama Motinggo dalam undangan tertulis sebagai Bustami Djalid. Di belakang nama itu tercantum nama senimannya, Motinggo Busje (ejaan sesuai dengan aslinya).

HB Jassin tidak hanya menyimpan, tetapi juga mencatat dengan sangat detail peristiwa berkait dengan sastra dan para pelakunya. Kita tengok bagaimana sepotong kehidupan Pramudya Ananta Toer tercatat dalam buku harian.

Pada hari Kamis 1 Maret 1954, misalnya, HB Jassin menulis, kunjungan Pramudya Ananta Toer pada pukul 19.30-20.15 di rumah Jassin. Pramudya yang baru pulang dari Blora, Jawa Tengah, ini membawa naskah cerita perjalanan. Dari catatan harian itu tergambar dinamika kehidupan penulis Pramudya atau Pram pada masa lalu. Ceritanya, Pram sedang butuh uang segera. Ia sudah memasukkan tulisan perjalanan ke majalah Mimbar, tetapi majalah itu tidak bisa segera membayar honornya. Tulisan Pram itu dirasa Jassin cocok untuk majalah Zenith, tetapi majalah ini sering terlambat terbit.

Setidaknya kita bisa merekonstruksi, betapa pilihan hidup sebagai pengarang seperti Pram penuh dengan kenyataan pahit. Sesungguhnya celaka jika nasib dokumentasi mereka pun kini kita abaikan.

Merana

Dokumen kebudayaan itu tersimpan di antara buku-buku sastra, prosa dan puisi, naskah drama, catatan biografi, tulisan tangan, dan surat-menyurat sastrawan besar di Tanah Air. Sebagian dokumen tersimpan di rak yang berderet memenuhi ruangan, sebagian lagi dibiarkan menumpuk begitu saja.

Tumpukan koran dan majalah tua berjubel di sela-sela rak buku yang sudah tidak muat lagi menyimpan tambahan koleksi. Kondisinya berdebu. Kertasnya sudah lapuk dan berwarna kuning kecoklatan. Benda-benda itu seperti benda bekas yang sudah usang. Sementara di dalamnya tersimpan jejak sejarah yang mencerminkan cara berpikir intelektual kita pada masa lalu.

Di antara tumpukan tadi masih bisa ditemukan majalah yang terbit di Indonesia pada awal Perang Dunia II (tahun 1940), seperti Pujangga Baru dan Panji Pustaka. Ada juga majalah Jawa Baru dan Kebudayaan Timur yang terbit di Indonesia pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Koleksi lain yang lebih tua, seperti Kumpulan Sastra Melayu Tionghoa terbitan tahun 1900-1940, tersimpan di dalam sebuah lemari kaca.

Dengan ribuan buku, suasana pusat budaya itu sangat pengap. ”Sudah biasa kalau pengatur suhu udara di sini dimatikan. Dulu ketika pertama kali pusat dokumentasi ini resmi didirikan tahun 1977, enam bulan kemudian kami tidak mampu membayar listrik sehingga AC harus dimatikan total,” kata Harkrisyati Kamil atau Yati, yang pernah menjadi Kepala Dokumentasi PDS HB periode 1979-1983 mengenang.

Agar suhu di ruang dokumentasi tidak panas, Yati dan teman-temannya selalu membuka jendela lebar-lebar, lalu menyalakan kipas angin. ”Untungnya, waktu gedung itu dibangun, saya minta Pemerintah DKI Jakarta membuatkan jendela-jendela berukuran besar,” tutur Yati. Menurut Yati, gedung PDS HB Jassin yang dibangun pada masa Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta itu awalnya dirancang tanpa jendela.

Dirintis

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dirintis oleh penulis, penyunting, dan kritikus sastra almarhum Hans Bague (HB) Jassin. Penulis kelahiran Gorontalo, 13 Juli 1917, ini mengumpulkan dokumentasi sejak tahun 1930. Pada waktu ia masih berusia 13 tahun, HB Jassin gemar menyimpan buku-buku harian, buku-buku sekolah, karangan-karangan yang pernah ditulis di kelas, hingga surat dan foto pribadinya.

Kini pusat dokumentasi itu menyimpan 16.316 judul buku fiksi, 11.990 judul buku nonfiksi, 457 judul buku referensi, 772 judul buku/naskah drama, 750 map berisi biografi pengarang, 15.552 map kliping dari berbagai sumber, 610 lembar foto pengarang, 571 judul makalah, 630 judul skripsi dan disertasi, serta 732 kaset rekaman suara dan 15 kaset rekaman video dari para sastrawan Indonesia. Jumlahnya terus bertambah karena pengelola selalu memperbanyak koleksi. Boleh dibilang, PDS HB Jassin adalah pusat dokumentasi sastra modern Indonesia terlengkap. Bahkan, ada yang menyebutnya terlengkap di dunia, tetapi kenapa nasibnya begitu mengenaskan?

(Lusiana Indriasari/Luki Aulia/Putu Fajar Arcana/Frans Sartono)

 

KERAKUSAN PARA MUNAFIK ISMAIL

KERAKUSAN PARA MUNAFIK ISMAIL

                           Oleh F Rahardi
in: Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com, Saturday, 19 March 2011 02:06:07
    SETELAH absen sekian lama, "Presiden Penyair" Sutardji Calzoum 
Bachri, mengumumkan lima sajak terbarunya (Republika, 24/4/2005). 
Salah satu sajak yang diumumkan itu berjudul Para Munafik Ismail. 
Dugaan saya, sajak ini
 ditulis di sekitar Idul Adha atau hari raya 
Kurban. Hari raya ini memperingati peristiwa, saat Nabi Ibrahim 
diminta Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Sajak Sutardji 
itu pendek, hanya dua bait yang masing-masing terdiri dari tiga baris.
 
    Kutipannya,
    PARA MUNAFIK ISMAIL
    para ismail yang munafik
    bergegas menyodorkan leher
    » sembelihlah
 kami!
    Ibrahim yang hanif bilang
    - tak, kalian tak boleh mati!
    agar menjadi pertanda biar umat waspada
    2005
    
    SELAIN pendek dan sederhana, sajak ini sarat relevansi dengan 
kondisi Indonesia mutakhir. Terutama dengan peristiwa penangkapan 
tokoh pembela HAM atas tuduhan penyuapan. Sebelumnya, kita juga 
dikejutkan berita penangkapan tokoh LSM oleh aparat keamanan. Tokoh 
itu dituduh mencuri logistik para korban gempa dan tsunami Aceh. 
Seorang tokoh pembela HAM lain, ternyata juga menjadi pembela dari 
perusahaan multinasional. Perusahaan ini selain merusak lingkungan 
Tanah Air kita, juga sering meneror rakyat. Ketika disorot kamera 
teve, tokoh pembela HAM ini tampak manis bak malaikat pelindung 
rakyat. Di belakang kamera, secara formal dia pembela pengusaha yang 
menyengsarakan rakyat.
                                  ***
    
    KALAU disuruh memilih, saya pribadi akan memberi hormat kepada 
maling yang secara jujur mengaku sebagai maling. Saya salut dengan 
pengusaha Bob Hasan yang tanpa banyak lagak, menerima keputusan 
pengadilan untuk mendekam di Nusakambangan. Dibanding koruptor lain 
yang mengerahkan segala daya dan dana untuk tetap bertengger sebagai 
pimpinan
 dewan, lalu tampil anggun di depan kamera teve seperti anak 
tanpa dosa. Rampok yang datang dengan topeng, golok, pistol, atau 
atribut rampok lain, lebih mudah diwaspadai dibanding rampok yang 
datang berjas dengan rambut tersisir rapi.
    Dewasa ini korupsi telah berkembang pesat, kualitas maupun 
kuantitasnya. Demikian pula dengan kawasan penyebaran serta variasai 
kelompok yang dijangkitinya. Dulu, pada zaman Orde Baru, korupsi 
hanya disinyalir terjadi di kalangan eksekutif. Mereka melakukan 
kolusi dan nepotisme bersama pengusaha. Setelah reformasi, pola
 
korupsi pun ikut tereformasi. Para anggota legislatif dan yudikatif 
yang harusnya menjadi "benteng" keadilan ikut terjangkiti wabah 
korupsi. Lingkungan keagamaan, LSM, dan perguruan tinggi juga 
tercemari. Bahkan rakyat jelata dengan sigap menangkap peluang 
menjadi tenaga demo bayaran, penjarah perkebunan dan perusak tempat-
tempat hiburan.
    Korupsi jelas tidak ada kaitannya dengan kebudayaan. Meski banyak 
orang menyebut korupsi telah menjadi budaya di negeri ini. Korupsi 
merupakan alat bagi sifat rakus manusia
 yang nyaris tanpa batas untuk 
menumpuk harta. Kalau bisa, manusia ingin mencapai Allah tanpa lewat 
kebajikan dan ketakwaan, tetapi dengan membangun menara Babil. Jalan 
pintas yang terbukti lebih menyengsarakan manusia sendiri. Sifat 
rakus rakyat yang menjarah kebun, hanya untuk kebutuhan sehari-hari. 
Tetapi sifat rakus penguasa yang didukung kekuatan politik bisa 
merobohkan bangunan negeri.
    Korupsi juga bukan hanya masalah hukum. Hingga penyelesaian di 
pengadilan sering menjadi dagelan yang melukai nurani rakyat. Korupsi 
adalah kejahatan politik, maka penyelesaiannya harus dengan kekuatan 
politik. Ketika terjadi eforia reformasi tahun 1998, rakyat amat 
mendambakan adanya niat politik untuk membasmi korupsi. Istilah 
"Basmi KKN" dengan cepat menjadi slogan memasyarakat. Namun penguasa 
demi penguasa bukannya memainkan peran politiknya untuk memenuhi 
tuntutan rakyat, tetapi justru lebih gencar dari penguasa sebelumnya 
dalam menjarah uang rakyat.
                                    ***
    
    KETIKA ada seorang demonstran berteriak-teriak di depan kamera 
teve, seorang tukang bajai nyeletuk. "Mereka teriak-teriak begitu 
karena belum dapat bagian." Berteriak lantang membela rakyat, 
kebenaran, HAM, demokrasi dan lainnya, sebenarnya hanya "tiket" untuk 
masuk kawasan elite penguasa negeri ini. Setelah ada di dalam, godaan
 
dari sifat rakus manusia tetap sulit dikendalikan. Namun di lain 
pihak, naluri untuk mempertahankan predikat yang selama ini sudah 
telanjur melekat, juga amat kuat. Menurut para pakar psikologi, 
jadilah seseorang berkepribadian ganda.
    Di depan publik, terutama di depan kamera teve dan wartawan, 
seorang tokoh pembela HAM harus tetap berakting sebagai pembela HAM. 
Seorang pimpinan LSM pembela wong cilik, wajib terus nyerocos membela 
wong cilik. Seniman yang telanjur dikenal sebagai pembawa "panji-
panji
 kebenaran" juga perlu terseok-seok memikul sang panji-panji. 
Namun di belakang kamera dan wartawan, korupsi adalah sah. Uang 
lembaga donor nyaman buat dijarah. Lebih-lebih uang KPU yang katanya 
dimanfaatkan untuk belajar berdemokrasi di negeri ini.
    Nabi Ibrahim menolak untuk menyembelih "Ismail" yang munafik. Dia 
hanya bersedia memenuhi titah Allah untuk menyembelih Ismail yang 
tidak munafik, yakni putranya sendiri. Namun yang ini pun, juga tidak 
dikabulkan, sebab Allah hanya bermaksud menguji keteguhan hati 
UtusanNya. Nabi Ibrahim, dalam sajak Sutardji
 ini menyampaikan 
dalihnya enggan menyembelih para munafik ismail "agar menjadi 
pertanda biar umat waspada".
    
    
F RAHARDI
Penyair; Wartawan

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 62 other followers