Archive for the ‘Sastra’ Category

Gerakan Melawan Rezim Tunasejarah

 

Oleh Muhidin M Dahlan

 

 

Kasus dicabutnya perlahan-lahan infus hidup Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin bukan soal mengagetkan bagi rezim tunasejarah.

Jangankan berharap mereka mendirikan pusat dokumentasi seideal yang dikerjakan manusia tekun seperti HB Jassin sepanjang hayat, yang sudah ada pun akan mereka jadikan bubur kertas.

 

Tak banyak pusat dokumentasi sekhusus PDS HB Jassin di Jakarta. Di dunia sinema ada Sinematek, yang hidupnya makin hari makin rudin. Sementara itu, di bidang seni rupa, pemerintah sama sekali tidak hadir.

Di bidang pers, pemerintah hadir di Solo. Jangan bayangkan pusat dokumentasi ini mirip Newseum di Washington DC, Amerika Serikat, yang jadi salah satu wisata dokumentasi pers dunia. Di Solo, melihat dokumentasi dan penataan arsip pers Indonesia yang usianya sudah seabad lebih, peneliti yang tekun sekalipun akan mempertimbangkan berkali-kali untuk hadir kali kedua di gedung itu.

 

Ciri-ciri rezim tunasejarah, antara lain, lekas lupa, tak memiliki lembaga arsip yang dinamis dengan pengelolaan yang kreatif, dan mereka yang bergiat di dunia dokumentasi menjadi anak tiri dalam semua profesi.

Ciri lekas lupa mudah kita lacak ketika sekelompok pemuka agama mengajukan 18 arsip lisan tentang kebohongan rezim tunasejarah ini dalam tiga tahun belakangan. Responsnya? Kalang kabut. Lupa. Ketimbang membuka dokumen ucapan-ucapan mereka sendiri (maaf, tak ada Pusat Dokumentasi Presiden Indonesia), mereka malah menyerang balik mirip orang mabuk.

 

Bagi rezim tunasejarah, lebih istimewa mendirikan pusat-pusat kesenangan—mal dan industri hiburan—ketimbang pusat pembelajaran sejarah yang kreatif. Memang ada ”taman pintar” di mana-mana, tetapi itu hanya proyek citrawi rezim. Itu pun dananya disumbang Jepang.

Alergi terhadap dunia arsip tampak dalam canda serius para amtenar rezim tunasejarah. Jika seorang amtenar ”diarsipkan”, dipekerjakan di kantor arsip seperti Arsip Nasional Republik Indonesia, berarti karier kepegawaiannya mentok. Mengapa demikian? Djoko Utomo, sang kepala ANRI (2008), mengatakan bahwa koleganya pada rezim tunasejarah itu masih menganggap arsip seolah-olah barang rongsokan, berupa kertas usang.

 

Pantas kemudian dunia arsip kita tak mengikuti gerak zaman. Jangan bayangkan pusat dokumentasi yang dikelola rezim tunasejarah ini mengarsipkan dengan serius catatan blog, status Facebook, atau kicauan yang muncul di Twitter sebagaimana dilakukan Library of Congress sejak 2000. Gudang arsip digital LOC telah menampung data sebesar 167 terabita.



Berpikir historis


Rezim yang berpikir historis akan memahami arsip sebagai memori kolektif, tempat berlaku kesepakatan institusional yang saling berkait antara ruang/geografi dan waktu/sejarah. Lantaran itu, arsip bukan benda mati.

Arsip bagian dari kehidupan dengan cara terus-menerus dirawat melalui tafsiran untuk kehidupan yang akan datang, bersandar pada kepentingan-kepentingan masa kini dengan tolok ukur peristiwa yang sudah-sudah.

Bagaimana menghidupkan sebuah arsip sebagai bagian organis bagi kenyataan? Rahzen (2010) menghadirkan sosok Dang Hyang Nirartha, pedanda (pendeta) yang berasal dari Kerajaan Daha dan pendiri Pura Uluwatu di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

 

Tokoh ini memiliki pandangan unik yang bisa kita rujuk untuk melihat bagaimana arsip sebagai organisme yang hidup. Dang Hyang Nirartha memiliki trikonsep: masa, yasa, basa. Ketiganya mata rantai yang tak bisa dipisahkan satu dan lainnya.

 

Masa atau waktu, zaman, dan kurun adalah sejarah yang berlangsung setiap waktu. Untuk mengikat dan menandai kurun dalam pergerakan sejarah, kehidupan membutuhkan ruang. Ruang itu dinamakan yasa, yang mewujud dalam bentuk monumen, patung, arsip.

 

Bagaimana menghidupkan dan mengontekstualisasikan jalannya masa dan konstruk material yasa itu? Kehidupan membutuhkan apa yang disebut basa atau bahasa. Basa adalah medium menafsirkan mengalirnya masa dalam tonggak-tonggak yasa. Di sini basa bisa kita sebut sebagai paradigma.

Sebagai paradigma, arsip kemudian bisa jadi gerakan bersama yang memungkinkan berdiri dan kukuhnya sebuah bangsa. Karena itu, pengarang Ceko, Milan Kundera, dengan yakin mengatakan, ”Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa, mudah saja. Hancurkan arsipnya!”

Apa yang dilakukan sekelompok anak muda di Twitter dan Facebook saat ini untuk menyelamatkan PDS HB Jassin kita sebut saja ”Gerakan Nirartha”. Gerakan ini menolak bala penghancuran nalar dan manipulasi sejarah (literasi), khususnya kontinuitas hidup sastra Indonesia modern, yang dilakukan rezim tunasejarah.

 

Muhidin M Dahlan Kerani di Indonesia Buku (Iboekoe), Tinggal di Yogyakarta

Sumber: Muhidin D: Gerakan Melawan Rezim ,Tunasejarah 2011/3/23 Susanto Sigit <mbeling@gmx.ch>, in:[*Apresiasi-Sastra*] Muhidin D: Gerakan Melawan Rezim Tunasejarah

ketika-bumi-manusia-disandingkan-dengan-de-stille-kracht

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/ketika-bumi-manusia-disandingkan-dengan-de-stille-kracht

Avatar Prita Riadhini
Yogyakarta, Indonesia
Yogyakarta, Indonesia

Ketika “Bumi Manusia” Disandingkan Dengan “De Stille Kracht”

Diterbitkan : 24 Februari 2011 – 12:50pm | Oleh Prita Riadhini (Christina Dewi Elbers)

Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan De Stille Kracht karya Louis Couperus sama-sama menceritakan Indonesia di zaman Hindia Belanda. Bumi Manusia mengangkat pandangan pengarang Indonesia, sedangkan De Stille Kracht dari kacamata orang Belanda. Christina Dewi Elbers yang sedang menyelesaikan studi S3-nya di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, membandingkan kedua buku tersebut.

Bumi Manusia bercerita tentang tokoh bernama Minke. Minke adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS. Pada masa itu, yang dapat masuk ke sekolah HBS adalah orang-orang keturunan Eropa.

Buku itu menggambarkan kehidupan saat pemerintahan kolonialisme Belanda. Di buku itu ditekankan pentingnya belajar yang dapat mengubah nasib.

Sementara De Stille Kracht, yang baru pertama kali diterjemahkan–padahal buku ini terbit pertama kali tahun 1900–oleh Christina Dewi Elbers dengan judul Kekuatan Diam, menceritakan perbedaan budaya antara timur dan barat, dalam hal ini Jawa dan Belanda. Novel itu bercerita tentang pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda dan bangkitnya gerakan tak terlihat dari suku di Indonesia untuk merebut kemerdekaannya.

Novel De Stille Kracht ini kendati sebelumnya belum pernah diterjemahkan, sering dikaitkan dengan sastra Hindia Belanda dan dihubungkan dengan sastra Indonesia. Novel itu mengangkat seorang Indonesia sebagai tokoh yang cukup penting.

Keluarga Indo-Belanda
“Saya tertarik untuk melihat De Stille Kracht itu seperti apa, kemudian saya cari di internet, ternyata sudah pernah difilmkan. Dari situ saya lihat setting-nya mirip dengan Pramoedya, buku Bumi Manusia. Keduanya melukiskan pula keluarga indo Belanda yang morat-marit.”

Dalam Bumi Manusia diceritakan anak laki-laki Robert Mellema sempat memperkosa adiknya Anneliesse. Kemudian dalam novel De Stille Kracht, sang ibu tiri Van Oudyck juga selingkuh dengan anak tirinya sendiri. Menurut Dewi Elbers, kesimpulannya semua berasal dari keluarga bobrok.

Ia menambahkan, Pramoedya juga memberi perhatian atau kritik terhadap keluarga bangsawan, dalam De Stille Kracht juga ada keluarga bangsawan. Van Oudyck sangat menghormati keluarga bupati, tapi ternyata salah satu anak bupati terlibat judi dan minuman keras, serta main perempuan.

“Dari situ saya tertarik untuk membandingkan apakah ada kesamaan, karena saya lihat ada juga perbedaan. Lewat tokoh orang Belanda, Van Oudijck, Couperus melihat mistik di Jawa dan dituangkan judul Stille Kracht. Sementara Bumi Manusia lewat tokoh Mienke melihat sistem pendidikan dan hukum Hindia-Belanda pada waktu itu.”

Perbedaan Latar Belakang
Pramoedya sendiri dalam hidupnya terkenal sangat tidak suka dengan feodalisme. Jadi segala sesuatu yang berhubungan dengan bangsawan atau birokrasi tidak disukainya. Karena itu dia menuangkan ketidaksukaannya dengan perlawanan Mienke terhadap hukum Hindia Belanda.

“Pramoedya mengeluh, mengapa dalam pendidikan saya diajarkan untuk menjadi orang adil, untuk berpikir adil. Tapi ternyata hukum Belanda sendiri tidak adil terhadap warga pribumi. Sedangkan pada masa itu, kan, orang Indonesia dianggap warga Hindia Belanda. Itu yang dilihat oleh Pramoedya.”

Sudah banyak penelitian tentang Louis Couperus. Banyak tulisan yang mengupas ingatannya soal Jawa dan tentang suara harimau, kemudian tentang senja dan matahari terbit. Dan Couperus, lanjut Dewi Elbers, sangat intens melukiskan hal-hal itu dalam novelnya.

“Selama ini orang mengenal hanya Pramoedya saja. Sedangkan De Stille Kracht sebagian besar belum pernah  membaca dan tidak tahu hal itu.”

Kesimpulannya, kedua pengarang membidik zaman Hindia Belanda. Tapi akhirnya, semua kehidupan manusia punya nilai universal. Yang baik akan selalu menang daripada yang jahat.

“Saya juga melihat banyak hal yang terjadi di zaman Hindia Belanda ternyata di zaman sekarang masih banyak terjadi. Misalnya ketidaktransparanan, kemudian korupsi. Dalam kedua buku tersebut, terutama Stille Kracht, dibahas adanya korupsi. Jadi bupati Ngadiwo korupsi, dia tidak membayar gaji, dan menggelapkan uang untuk berjudi.”

 

The Poetry of Laksmi Pamuntjak

After Bisma Defeated Salwa

 

In the forest where Salwa stooped the night before, the trees loosen their limbs. The grass makes flush. The starlings look around for something to ingest, a bad odor maybe, an omen. Here there are no paddocks, no land left fallow. Each day people rise to light as splendid as moonbeams, rays of jewel filling in where eloquence defies.

 

Blink and you’ll miss that split second where the sun lights up a sad, claret stream. For it is morning’s duty to be on all fours, telling dawn to clear skulls and bones and a husband lost. During that vinous hour even the most noble of kings knows where honor ends and posterity begins.

 

In an instant of light passing through window, she looks up and sees his eyes mirror the brew of air. Clear broth, that is, like purity stirred out of true. Neither is his face the seraphic of legend – just the pleasing asymmetry of any man. Aquiline nose, hard mouth, a one-eyed gray. Hiding man and woman. Peeling now, a sort of icing made by cold too long lived in.

 

The ivory columns and their pearl inlays are stirring.

 

In the trail left by Salwa’s westbound chariot, scarabs roll horse manure into balls to provision their larvae.

 

Further upriver, a hermit tries to say a prayer to the rainbow but knows not the god on duty. The plaque is too small or else the clouds need trimming.

 

And in a chamber in a foreign palace a princess fights to lower her gaze: “My sisters – don’t you desire them?” Don’t you desire me?

 

What tells you what things are? Figures gliding out of carvings on the wall: Wisnu? Siwa? Krisna? Which is the source which is the avatar? What is this bird flapping about in the stomach? this crimson spot on the sheets? Doubt like illness leaks from the pores, and for a moment the noon is distended. Bisma cannot explain duty to Amba any more than she can explain to him what it means to be faithful. How can they when he has just stolen her life and she has made him want?

 

2005

Two Poets in Bed

 

1.

 

Sunday 8 am, and I put to you

the question of trees:

will you keep climbing or

will you rest your heels?

 

By the latter I mean

will you nip the filter off

where the sun falls in

patterns of stars

 

that are older than humans,

wiser than birds,

though too pallid, still,

for the stories of rivers

 

and ice, and perhaps

even light, or what

they hide from the sun

on the appointed day?

 

Or in other words, will this

be then what we accept of

planting, the melding of love

and limb into a greenness

 

profligate, until infirmity

drains the soil porous and

the trunks hide their

shame in pewter?

 

2.

 

Sunday 9 pm, and you say

yes, my love, they may be deep,

those layers of mould, but

ingraining goes no further than

 

an introduction. What follows

no one ever knows. Indents are

as impermanent as skin.

Starved for touch yet asleep

 

to sensation. So reach me your coral

then, pin them to me like a heart,

like honey blossom the shape of

dewdrop blood. Impale me

 

if you must with your needle,

thread me thus into your necklace.

But do not ask of me repentance.

For we all extort what we can from

 

the fleshy earth, suck them dry

and move on. All the while

time sheaths the divine in the riddle

of seventy thousand veils.

 

light and dark, vast as friends.

 

2005

TELEVISI JE AYUN ITAH

SAHEWAN PANARUNG

Untuk Kebangkitan Kebudayaan Dayak & Yang Majemuk Di Kalimantan Tengah

Catatan Panarung Andriani S. Kusni

MEWUJUDKAN MULOK, BUKAN DENGAN JALAN PINTAS

Apa tujuan mata pelajaran muatan lokal (mulok)? Secara sederhana:Untuk memperkenalkan bahasa/budaya dan sejarah lokal kepada peserta didik agar mereka tidak lepas akar dan menjadi angkatan tanpa sejarah serta agar tetap punya identitas diri. Untuk Kalteng, bagaimana membuat Kalteng Beridentitas Kalteng. Untuk mencapai tujuan ini yang terpenting adalah belajar bahasa-budaya dan sejarah lokal. Belajar bahasa berarti sekaligus belajar masalah budaya, karena bahasa tempat menyimpan budaya serta wacana-wacnanya, termasuk wacana adat. Sedangkan sejarah melukiskan perjalanan perjuangan suatu daerah atau dari masa ke masa. Kesenian, kuliner, anyal-menganyam, dan lain-lain, bisa dilakukan sebagai kegiatan ekstra –kurikuler bekerja sama dengan Taman Budaya, Komunitas dan atau sanggar-sanggar. Jika semuanya ini ingin dimasukkan ke jam mulok akan menambah jam pelajaran yang sudah cukup padat. Cara menyampaikan pelajaran niscaya menyenangkan, tidak membosankan. Tekhnisnya perlu didiskusikan rinci seperti penggunaan filem, slide, berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, situs-situs budaya, museum, mengundang pelaku-pelaku kebudayaa dan sejarah, dan lain-lain.

Apa masalah yang dihadapi oleh sekolah-sekolah SD-SMA Kalteng dalam soal mulok sekarang? Pertemuan dengan para guru di Balai Bahasa pada Oktober 2010 lalu mengatakan bahwa persoalan utama dan mendesak adalah tenaga pengajar dan bahan ajar. Karena demikian masalahnya maka apabila menyerahkan pemecahan soal tenaga pengajar dan bahan ajar itu kepada sekolah-sekolah sama dengan mengambil jla pintas, jalan gampang yang tidak memecahkan masalah. Sama dengan membengkalaikan mulok.Dinas Pendidikan Provinsi niscaya menyediakan bahan ajar tentang bahasa-budaya dan sejarah. Menyusun kurikulum adalah sekunder dibandingkan dengan penyediaan bahan ajar dan pengadaan tenaga guru. UUD 1945 sudah memerintahkan pengdaan mulok. Apa kesulitan Dinas untuk melakukannya?Dana dari APBN dan APBD cukup besar,lebih dari dari 20% dari APBN.Bahan-bahan tinggal mengorganisasisasi yang sudah ada untuk langkah pertama menanggulangi masalah. Tenaga pengajar, bisa diatasi dengan melakukan penataran singkat. Lupakan dahulu gelar akademi untuk menjawab persoalan mendesak ini. Dinas Pendidikan menjanjikan bahwa mulok akan diberikan dari Sehingga SMA pada awal tahun –ini. Sekarang sudah Februari 2011. Mana bahan ajar dan tenaga pengajar yang diperlukan oleh sekolah-sekolah? Menyerahkan penyelesaian soal pada sekolah-sekolah sama dengan tidak memecahkan masalah, cara untuk lepas tangan. Padahal mulok sangat penting untuk mencapai tujuan di atas. Tulisan ini menagih janji dan tanggungjawab Dinas Pendidikan Kalteng tentang pelaksanaan mulok, tidak hanya tinggal di lamis bibir (lip service) atau menjadi politik pencitraan.***

 

Catatan Kebudayaan Kusni Sulang

TELEVISI JE AYUN ITAH

Ketika Kalteng berusia 38 tahun, tanggal 17 Februari 1995 TVRI Kalteng didirikan. Seperti pada umumya segala usaha yang baru dimulai, tidaklah disertai dengan segala kelengkapan. Kelengkapan demi kelengkapan dilakukan sambil bekerja dan dalam proses bekerja. Mulai dari kelengkapan tekhnis sampai pada sumber daya manusia pendukung usaha tersebut.Ciri ini lebih-lebih lagi menandai segala yang ada di Kalteng. Gedung-gedug pemerintah seperti gedung DPRD Provinsi dibangun sedikit demi sedikit. Universits Plangka Raya (Unpar) dibangun bermodalkan tenaga seadanya,bukan dengan ketersediaa barisan profesor doktor. Demikian juga RRI dan kemudian TVRI Kalteng. Bhkan provinsi Kalteng ini sendiri bisa dikatakan didirikan bermodalkan tekad semata.Parapembagunnya berkantor di bawah tenda-tenda di tengah hutan dan kesunyian . Tenda-tenda itu selain merupakan kantor juga menjadi tempat tidur dan dapur dlm arti harafiah. Kendaraan roda empat yang ada hanya berupa sebuah Jip Willys 1945 Amerika, peninggalan Perang Dunia II yang digunakan oleh Gubernur Tjilik Riwut untuk mengunjungi daerah-daerah yang sedang dibangun. Bajunya pun  selalu kuyup keringat sehingga sering ia yang memang anak alam berbuka dada menantang matahari.Pegawai-pegawai pembangun provinsi lainnya, ke mana-mana berjalan kaki di jalan-jalan pasir putih belum beraspal.Mereka menghitung dan menghemat rupiah demi rupiah untuk membangun gedung demi gedung di Palangka Raya. Korupsi merupakan hewan buas yang tak dikenal sama sekali. Yang berkuasa adalah tekad Manggatang Utus Dayak, kejujuran, semangat Isen Mulang.dan kerja keras mewujudkan mimpi: Kalteng Berharkat dan Bermartabat. Kesederhanaan, kejujuran, semangat-tekad Isen Mulang, setia pada komitmen merakyat, penuh prakarsa,seorang pelopor dan kerja keras merupakan ciri Kalteng pada waktu itu.Ciri -ciri ini membuat kepasifan, rutinisme, manipulasi dan korupsi terhalau dan tak mendapat tempat seincipun di lubuk hati. TVRI Kalteng dibangun dan bekerja dengan sisa-sisa ciri-ciri Kalteng yang demikian. Saya katakan ‘’sisa-sisa’’ karena sejak Orba Soehrto berkuasa, dan Tjilik Riwut didepak ke atas pada tahun 1967, wajah pola pikir dan mentalitas seperti halnya wajah lingkungan dan alam Kalteng sangat berobah. Perkembangan politik nasional dan politik pemegang kuasa utama daerah ini tercermin dan mencerminkan diri pada TVRI dan siarannya. TVRI Kalteng yang sekarang menyebut diri Televisi Je Ayun Itah (Televisi Yang  Punya Kita) adalah hasil dari suatu perjalanan pergulatan panjang berliku mandi darah untuk menjadi Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng. Pertarungan menjadi diri sendiri melawan pencplokan budaya. Televisi Je Ayun Itah adalah penegasan politik siaran yang dipilih oleh pimpinan TVRI Klteng yang sekarang Drs.Burdju Daeng HS, MM.Penandasan dengan garis bawah bahwa TVRI Kalteng adalah TVRI Uluh Kalteng, TVRI Ayun Utah, bukan TVRI Jateng, Jatim, Minangkabau, Papua , Tapianauli atau yang lainnya. Penegasan dan penandasan dengn garis bawah oleh Biirju Daeng berarti mengangkat dan mengibarkan kembali Pnji Besar Sarikat Dajak tahun 1919 dan Pakat Dajak tahun 1926. , hal yang juga dilkukan oleh A.Teras  Narang sejak terpilih menjadi Gubernur Kalteng di tahun 2005. Dengan Televisi Je Ayun Itah sebagai politik siaran, maka di bawah pimpinan Burdju Daeng yang Indonesia berdarah Batak menjadikan TVRI Kalteng didominasi oleh siaran-siaran tentang Kalteng dengan warna lokal (Dayak) yang sangat jelas. Empat jam siaran lokal diisinya dengan program Katambung (berita Kalteng), Kéba (Kesah Budaya) , Gelar Tari Dayak, Pop Daerah, Jalan-Jalan Ke Desa (Kalteng). Menyaksikan siaran TVRI Kalteng orang tidak akan keliru apalagi sampai menduga bahwa siarannya adalah siaran dari daerah lain. Program baru sangat penting yang dirintis oleh Televisi Je Ayun Itah adalah pembuatan filem dokumenter tentang tokoh-tokoh Kalteng. Kecuali itu, untuk jangka jauh yang strategis, Burdju Daeng sangat memperhatikan pengkaderan dan meningatkan mutu SDM. Televisi Je Ayun Itah ini akan lebih melesat berkembang maju jika Dinas-Dinas dan instansi lain bersinergi dengannya. Ulangtahun ke-16 ini, saya kira, tidak lain dari janji pimpinan Televisi Je Ayun Itah dan seluruh pekerjanya untuk memberikan daerah, negeri dan dunia produk-produk bermutu dalam varian dan jumlah yang kian meningkat.Selamat Ulang Tahun, Kawan-kawan, Selamat memetik matahari .***

Eka SANSANA

Menyemai Benih Merajut Esok

Ruang Berkarya Untuk Siswa SD –SMU

Surat DariPengasuh

 

Adik-adik yang baik,

Terimkasih atas kesabaran Adik-adik menunggu giliran penerbitan karya-karya yang dikirimkan ke Eka Sansana. Kali ini Kakak terbitkan tiga puisi yang dikirimkan oleh Adik-adik dari SMAN-1 Palangka Raya. Terhadap tiga sajak tersebut Paman Talusung Tanjung berkenan memberikan apresiasinya. Apresiasi begini dimaksudkan untuk menambah acuan dalam menulis lebih lanjut. Karena itu akan selalu Kakak hadirkan.Perlu Adik-adik ketahui bahwa Eka Sansana juga menerima karya-karya dalam bahasa Dayak dlam upaya medorong tumbuhnya sastra tulis berbahasa Dayak sebagaimana dilakukan di Tanah Jawa dan Sunda. Kakak tahu bahwa di kalangan Adik-adik juga tidak sedikit yang senang melukis. Mengapa Adik-adik tidak megirimkanya ke Eka Sansana dengan alamat yang Adik-adik telah kenal : andriani_sjk(a)yahoo.com?

Tabe selalu dari Kakak,

Andriani S. Kusni

 

SAJAK-SAJAK DARI SMA NEGERI 1 PALANGKA RAYA

KEMARAU

Semilir anginmu hadirkan tawa riang

Lambungkan layang-layang di angkasa benderang

Terik mentarimu panjang menyengat

Merangsang kelopak bunga tuk kembang

Mendaulat senyawa glukosa rasuki batang-batang tebu

Pacu generatif hijauan tuk bercumbu

Ciptakan benih-benih yang ditunggu

Saat malam menjelang

Langit pun terang penuh gemintang

Kaki-kaki mungil tak henti berkejaran

Nikmati malam bermandikan rembulan

Saat fajar menjelang

Sang bayu berhembus lembab

Dingin menusuk tulang

Lahirkan titik-titik embun menggairahkan

Namun…

Masamu yang panjang

Membuat bumiku gersang

Sumur-sumur kering kerontang

Sungai-sungai bagai cawan sariawan

Leher-leher memanjang menahan kehausan

Rerumputan menguning sekarat

Lumut-lumut tinggal kerak

Kami menyebutmu paceklik

Karna tak satupun hasil yang dapat dipetik

Panas sinarmu bak pemantik

Hasilkan percikan api membara

Membakar hutan-hutan di bumi persada

Kemarau…

Bawa suka dan duka tiada terperi

Duka yang bukan kau maui

Tapi akibat ulah kami sendiri

Palangka Raya, Desember 2010

Evi Merdekawati

Kelas: XI IIA 1, SMA Negeri 1 P. Raya

 

SUASANA DI PAGI HARI

Ketikaku terbangun…

Kubuka mata ini perlahan-lahan

Kudengar suara alunan gemericik air yang berirama indah

Dari pancuran air bambu di belakang rumah

Kubuka jendela kamarku

Kuhirup udara pagi yang begitu bersahabat

Bebas dari polusi udara

Kulihat mentari mulai berbinar di ufuk timur

Memancarkan teriknya yang hangat untuk menyinari seluruh penjuru bumi

Kulihat embun pagi membasahi padang rumput lembut hijau yang terhampar luas

Seakan memberikan kesegaran Hidup ini

Kudengar burung-burung berkicau merdu

Seolah menyambut kehadiran mentari di pagi hari

Kulihat pepohonan seakan ikut menari juga melengkapi keceriaan di pagi hari ini

Kurasakan hembusan semilir angin yang lembut menyentuh kulitku

Seolah ingin mengajakku menikmati keceriaan di pagi ini

Kuambil sebuah pena dan selembar kertas

Kubiarkan penaku meliuk-liuk di atas kertas

Dan di atas kertas tersebut kutuangkan ungkapan hati, jiwa dan perasaan

Kuukir semua jalinan kata ungkapan hatiku

Menjadi sebuah rangkaian kalimat yang sederhana namun bermakna

Seakan mencerminkan ungkapan perasaan yang sedang kurasakan di pagi hari ini

O, Tuhan…

Terimakasih atas segala karunia yang kau berikan

Takkan kusia-siakan semua ini

Aku berjanji

Palangka Raya, Desember 2010

Feromiya Oksa

Kelas: X-3, SMA Negeri 1 P. Raya

 

SAHABAT

Kau tak ubahnya kertas putih

Selalu ada dalam duka dan sedih

Tempat mencurahkan rasa perih

Menghilangkan semua pedih

Kau bagaikan mentari pagi

Menghangatkan suasana hati

Menyinari hari-hari

Memekarkan bunga dalam taman hati

Sahabat,

Persahabatanmu sehijau daun

Seindah musik yang terdengar anggun

Bagai pagi berlimpahan embun

Palangka Raya, Desember 2010

Ria Janah Saputri

Kelas: XI IIA 2, SMA Negeri 1 P. Raya

Catatan Apresiasi Talusung Tanjung

DARI GEJALA MENUJU HAKEKAT

Eka Sansana nomor ini kembali menyajikan puisi-puisi dari SMA Negeri—1 Palangka Raya. Kali ini karya-karya Evi Merdekawati, Feromiya Oksa dan Ria Janah Saputri. Memperhatikan karya-karya yang disiarkan oleh Ruang Eka Sansana, SMA N-1, Sekolah-sekolah Yayasan Siswarta,MAN Model,untuk menyebut beberapa sekolah saja, memang gudang penulis-penulis berpotensi. Saya sangat yakin apabila potensi-potensi ini dipupuk dan dikembangkan, mereka akan tumbuh menjadi penulis-penulis handal yang bukan hanya membanggakan Kalteng, tapi juga negeri ini. Kalau lingkup dunia penulis bukan hanya sebatas satu langit tanahair, tapi dunia, maka yang memilih menjadi penulis tanahairnya tidak lain dari dunia itu sendiri. Untuk menjadi penulis bertanahair dunia tentu saja kerja keras, latihan, belajar, menyatu dengan, mengamati dan menganalisa kehidupan adalah suatu keniscayaan tanpa ada tawar-menawar. Dengan cara demikian, penulis bisa menjadi nurani bangsa dan anak manusia, bisa berada selangkah di depan kejamakan awam, menjadi pengawas masyarakat dan menyarankan jalan ke kemajuan. Tujuan menulis adalah melalui karya meyumbang dan menopang upaya memanusiawikan diri sendiri, anak manusia , kehidupan dan masyarakat, bukan memburu ketenaran. Yang bekerja akan dikenal karena masyarakat dan dunia tidak buta. Untuk menjadi penulis berkualitas demikian tidak mungkin melarutkan diri di permukaan gejala. Ia niscaya berupaya keras menjadikan gejala itu untuk menyelami hakekat. Pada hakekat, pada kebenaran terdapat keindahan. Sedangkan kesenian bergelut dengan keindahan. Mengatakan kebenaran sama dengan mengutarakan keindahan yang sanggup menggumul deraan waktu. Tiga sajak dari SMAN-1 di atas nampak memperlihatkan upaya mendalami gejala untuk mencari hakekat. Evi Merdekawati ketika melihat Kemarau tiba, setelah menyanyikan keindahan matahari, ia lalu mengajak pembacanya bencana kebakaran hutan yang saban tahun menimpa Kalteng. Kebakaran adalah suatu gejala. Evi tidak berhenti pada gejala kebakaran  tapi mencari sebabnya yang lebih dalam. Dalam pencarian sebab ini Evi sampai pada kesimpulan bahwa “Duka yang bukan kau maui/… akibat ulah kami sendiri”. Ulah manusia. Kecuali itu, dengan ketajaman pandang analisanya, Evi mengetahui bahwa hal ikhwal itu bukanlah sederhana, bukan hitam-putih, tapi kompleks. Terdiri dari hal yang positif dan negatif, yang biasa disebut “satu pecah jadi dua’’, bahwa yang ‘’satu’’ itu terdiri dari berbagai unsur.-Alam,matahari, embun yang indah tapi juga alam , matahari, embun yang sama kemudian menurunkan duka-nestapa. Hal-hal beginilah yang saya maksudkan dengan pendalaman gejala, mencari hakekat dari gejala. Mendapatkan hakekat, penyair lepas dari kecengengan.Hal serupa juga dilakukan oleh Feromiya Oksa dan Ria Janah Saputri. Feromiya ketika menyaksikan Suasana Di Pagi Hari, ia melihat kebesaran Tuhan. Artinya Feromiya bertanya dari mana gerangan asal muasal keindahan demikian. Pertnyaan yang bersifat pendalaman. Metode serupa juga digunakan oleh Ria Janah dalam puisinya berjudul Sahabat. Ria mencoba menggali arti Sahabat dalam kehidupan, bagaimana bersahabat. Penemuannya membawa kita pada kesimpulan tetua kita untuk saling asih, saling asah dan saling asuh.‘’Hatamuei lingu nalata’’ (saling mengembarai pikiran dan perasaan sesama) jika menggunakan ungkapan budaya Dayak. Hasil pencarian dan pendalaman ini diungkapkan oleh ketiga penyair muda langsung dari hati, tidak dibuat-buat. Tidak ‘’ndakik-ndakik’’ sehingga terjerumus ke puisi gelap yang hanya dimengerti oleh penyairnya sendiri. Pengungkapan langsung dari hati begini adalah suatu metode menemukan diri sendiri dalam menulis. Tentu akan sayang sekali, jika tiga penyair muda ini di hari-hari kemudian tidak lagi menulis. Tidak ada tua dalam menulis. Tidak ada jeda dalam mencari. Kalteng, tanahair, dunia, memerlukan penulis-penulis pencari dan pencinta. Penulis panarung!***

 

 

Zainal Afif Penyair Aceh

 

Oleh : A.Kohar Ibrahim

From: abdul kohar ibrahim <kohar_be@yahoo.fr>
To: GELORA45@yahoogroups.com
Sent: Saturday, 19 February 2011 05:04:55
Subject: [GELORA45] Zaenal Afif Penyair Aceh – Oleh A.Kohar Ibrahim

 

KETIKA aku menulis-saji apresiasi atas kreasi puisi

Penyair HR Bandaharo, ada yang tanya : “Asal Aceh, ya?”

Dan ada pula yang bilang: “Bapak orang Medan, tak?”

Ketika menyusun telaah puisi “Sekitar Tempuling Rida K Liamsi”,

Ada yang Tanya: “Dari Riau, Pak?”

Hehehe. Aku senyum: “Riau Daratan ataukah Pulau, ya?”

Ketika aku mengapresiasi penulis asal Minangkabau, ada

Yang tanya pula : « Asal Padang, Pak ? »

Tentu saja aku menggelengkan kepala, sembari mesem

nyaris ngakak. Lantaran yang jadi pemicu itu bukanlah

nada nuansa kelokalann kedaerahan atau kesukuan.

Meski aku menghargai yang lokal, tapi berdimensi

nasional, regional malah internasional. Global.

Universal.

Meski aku ngaku: tentu saja ada sebab yang menyebab

aku tergelitik untuk menulis apresiasi apakah dengan

sepatah kata atau menyusun naskah semacam

Telaah. Seperti misalnya atas kareasi puisi

penyair perempuan Gusmarni Zulkifli

penyaji saji sajak bertema Mak (Ibu)

tepat berkenaan dengan Hari Ibu.

“Bukan. Aku bukan asal Minangkabau, tumpuan utama

Pada hasil kreasi puisinya. Tapi aku ngaku, memang,

Aku suka rendang. Hahaha… Suka pula landskap

Sumbar pun Saluang yang mengingatkan ku

pada ranah Parahiyangan dengan Seruling

dan Kecapinya.

Meski aku ngaku, beritikad mengutarakan beberapa

nama Pekerja Kebudayaan yang senior dan yang

ku kenal sebagai guru pun teman seperjuangan

macam Joebaar Ajoeb dan Rivai Apin.

Meski aku ngaku: Iya – seketika dulu hingga detik ini

pun aku berkenalan dengan orang asal dari Sabang

hingga Merauke. Mereka yang aku nikmati

hasil kreasinya dan yang kerapkali aku

apresiasi pula adanya.

Mau contohnya?

« Syak tumpuk ! »

Silakan baca.

Antara lain

Z.Afifi.

(AKI)

 

Facebook : 18.02.2011.

 

*

 

Zainal Afif Penyair Aceh

 

SEORANG penyair asal Medan, Chalik Hamid, yang bermukim di negeri Kincir Angin menyampaikan berita duka kepada saya. Berita yang cukup mengejutkan sekaligus mengusik kenangan yang selama ini terpendam. Tentang seorang penyair yang saya kenal sejak lama : Z. Afif. Penyair Indonesia yang mengidap kecintaan luarbiasa pada daerah tanah tumpah-darahnya : Aceh.  Sedemikian rupa, sehingga untuk puterinya pun diberi nama yang kental makna kesayangan : Nyala Baceh. Nyala dari paduan  cinta Batak-Aceh.

 

« Barusan, pagi subuh jam 03.30 tanggal 28 Oktober 2004 waktu Belanda, » demikian kata Chalik Hamid mengawali surat elektronikanya, « saya menerima telepon dari Rondang Erlina Marpaung (isteri Z. Afif) yang bertempat tinggal di Sweden. Dalam pembicaraan di telepon, Rondang mengatakan bahwa :

 

« Pagi subuh jam : 02.30 waktu Sweden, tanggal 28 Oktober 2004, bertempat di salah satu rumah sakit di kota Stockholm, Z. Afif telah meninggal dunia dengan tenang. Z. Afif menderita sakit kangker di paru-paru. Di samping seorang isteri, Afif juga meninggalkan seorang puteri Nyala Baceh…. »

 

Tanggal 2 November 2004 saya terima pemberitahuan resmi dari isteri dan puteri almarhum bahwa, Zainal Afif kelahiran Lhok Sukon, Aceh Utara, 25 April 1936 dengan tenang telah mengakhiri perjalanan hidupnya di rumah sakit Huddinge, Swedia, pada tanggal 28 Oktober 2004. Pemakaman akan diselenggarakan pada hari Jumat, tanggal 19 November 2004 di S :t Botvids Kyrkogard, Huddinge.

 

Oktober dan November sungguh merupakan bulan yang sarat beragam kisah bermakna lagi bersejarah. Apakah yang menyangkut diri orang perseorangan atau rakyat dan bangsa Indonesia. Kisah kisah dengan saling kaitannya satu sama lain. Termasuk kisah kisah sementara orang Indonesia yang terpaksa menjadi pengelana buana atau menurut istilah Gus Dur sebagai « orang orang yang kelayaban » di mancanegara.

 

Kenapa ? Tak lain tak bukan lantaran pada 1 Oktober 1965 telah terjadi perubahan sikon drastis di Indonesia. Yakni terjadinya kudeta militer yang menumbangkan rezim orla Bung Karno demi tegaknya rezim orba Suharto. Sejak itu, banyak orang Indonesia yang kebetulan berada di mancanegara karena satu atau lain macam urusan  dalam aneka ragam bidang kehidupan, terpaksa tidak bisa pulang kembali ke Indonesia. Dari sekian banyaknya itu adalah kami, delegasi pengarang indonesia  yang diundang oleh Himpunan Pengarang Tiongkok untuk menghadiri perayaan nasional berdirinya RRT : 1 Oktober 1949-1965. Rencana kunjungan kebudayaan yang hanya untuk sebulan itu akhirnya berkepanjangan… !

 

Delegasi Pengarang Indonesia itu terdiri dari 5 orang yang terpilih dari beberapa asal daerah yang ketuanya adalah Aziz Akbar, « orang Padang » ; sekretarisnya Z. Afif, « orang Aceh ». Sedangkan anggota-anggotanya adalah Kusni Sulang, « orang Dayak » ; Sukaris, « orang Madura » ; dan saya sendiri, « orang Betawi ».

 

Sudah bisa diperkirakan dengan mudah, bahwasanya bagi sebagian besar generasi muda, kelima pengarang itu tidak dikenalnya. Meski apapun terjadi, dengan segala suka-duka hidup di tanah rantau yang berkepanjangan, mereka tetap eksis. Eksis sebagai insan biasa maupun sebagai seniman. Dan terutama sekali hasil kreasi mereka takkan bisa dipisah apalagi dihapuskan dari lembaran sejarah kesusastraan Indonesia. Mereka adalah bagian dari rakyat dan bangsa Indonesia, yang diperkokoh dengan hasil kreativitas sastra mereka pula. Hasil sastra pertanda kongkret pengayoman bahasa Indonesia. Apalagi orang macam Afif yang memang ahli bahasa Indonesia.

 

Seperti diketahui, Z. Afif selain sebagai penulis yang menyiarkan tulisannya di beberapa media massa cetak, juga sebagai penyiar dan tenaga pengajar bahasa Indonesia. Sebagai penyiar, dia pernah menangani siaran sastra di Radio Republik Indonesia Jakarta. Di luar negeri, pernah bertugas di pemancar radio Korea Utara dan Vietnam Utara. Sedangkan sebagai ahli bahasa, dia pernah menjadi tenaga pengajar bahasa dan sastra Indonesia di Guangzhou Institut of Foreign Languages di Kanton, China.  Dalam kesempatan itu pulalah dia menerbitkan bukunya berjudul « Sastra Indonesia, Angkatan dan Periodisasi ». Sebagai salah satu judul dari beberapa buku-bukunya yang belum kesempatan diterbitkan. Seperti « Sastra Indonesia Klasik, Apa dan Bagaimana Akronim dan Singkatan Indonesia » ; « Berkelana di Bumi Zhongguo » dan « Arus dan Darah », sebuah kumpulan sajak.

 

Selama tinggal di Eropa, seberkas tulisan Afif kami siarkan di majalah seni & sastra « Kreasi ».  Diantaranya mengisi buku kumpulan puisi berjudul « Di Negeri Orang » yang diterbitkan bersama oleh YSBI Amsterdam dan Amanah Lontar Jakarta tahun 2002. Saya manfaatkan kesempatan ini untuk menurunkan beberapa sajak-sajaknya sebagai berikut :

 

Musim Dingin

 

angin musim dingin

kering dan beku

sepiala arak maotai

belum apa-apa

mendekat ke nyala tungku

dalam luar

hangat menjalar

 

*

 

Kuil

 

merentang dawai-dawai mentari binar berbinar

juntai willow – lenggok pucuk cemara

menari-nari di bening telaga

gending bergending lonceng alit dipetik angin

iringi gaung suara berkisah zaman

nasib mereka para pereka dan pencipta

 

*

 

Rindu

 

sibayak sinabung

ale baya kunandung

bila rindu terkurung

kabar saja tiba ke kampung

 

(Dipetik dari kupuisi « Di Negeri Orang », AKI).

 

Seketika saya pun merindu. Kita merindu – seperti kerinduan Bang Afif. Seberkas kenangan membekas yang layak ditimang-timbang sayang. Semasa di Nusantara. Semasa di Mancanegara. Seperti harimau mati meninggalkan belang, nama Zainal Afif kan tergores abadi dalam lembaran sejarah kesusastraan Indonesia.***

 

 

Catatan: Naskah ini pernah disiar beberapa blog, situs, antara lain ABE-Kreasi Multiply Site.

 

“Mungkin Sekali Kita Sendiri Juga Maling “

Oleh Taufiq Ismail

Kita
hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda, terbungkuk dibebani hutang dan
merayap melata sengsara di dunia.

Penganggur 40 juta orang, anak-anak tak bisa bersekolah 11 juta murid, pecandu
narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang, VCD koitus
beredar 20 juta keping, kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan

… dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiah.

Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol diruang tamu Kantor Pegadaian Jagat Raya, … dan
dipunggung kita dicap sablon besar-besar: Tahanan IMF dan Penunggak Bank Dunia.

Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu, menjual tenaga dengan upah paling

murah sejagat raya.

Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh harapan dan
angan-angan di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka berdukacita

karena majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang disiksa malah diperkosa
dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula.

Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.

Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.

Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi kolonialis banyak

bangsa. Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya.

Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah
dipatahkannya.

Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.Berbagai format

perindustrian, sangat menjanjikan, begitu laporan penelitian.

Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi, dari depannya penuh
janji, adalah industri korupsi.

Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,
ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.

Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret, jalan di
depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras, yang diatas tukang
tindas.

Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung. Lihatlah
para maling itu kini mencuri secara berjamaah.

Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu’.

Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.

Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.

Begitu khusyu’nya, engkau kira mereka beribadah.

Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?

Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya, membentang dari depan sampai ke
belakang, melimpah dari atas sampai ke bawah, tambah merambah panjang deretan
saf jamaah.

Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.

Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?

Bagaimana menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi dari
atas sampai ke bawah?

Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang senjata dan
yang memerintah.

Bagaimana ini ? …….

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
Operation), tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan

sekolahan.

Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari, kaki kanannya

bersedekah, pergi umrah dan naik haji.

Otak kirinya
merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran, otak kanannya berzakat
harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.

Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?

Jamaahnya kukuh seperti dinding keraton, tak mempan dihantam gempa dan banjir
bandang, malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang,
penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian.

Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu,
barangkali sekitar satu juta orang ini, cukup jadi sebuah negara mini, meliputi
mereka yang pegang kendali perintah, eksekutif, legislatif, yudikatif dan dunia
bisnis, yang pegang pestol dan mengendalikan meriam, yang berjas dan berdasi.

Bagaimana caranya mau diperiksa dan diusut secara hukum ?

Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?

Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?

Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan ?

Percuma

Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan Insya Allah tak akan
terselesaikan.

Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?

Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia
mengembalikan jarahan yang berpuluh tahun dan turun-temurun sudah mereka
kumpulkan.

Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka
orang yang shalat juga, orang yang berpuasa juga, orang yang berhaji juga.

Kita bujuk baik-baik dan kita doakan

mereka.

Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada hubungan
darah atau teman sekolah, maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati
menegurnya.

Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita, orang
seagama atau sedaerah, Kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu

dimakruh-makruhkan dan diam-diam berharap semoga kita mendapatkan cipratan
harta tanpa ketahuan.

Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati.

Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap.

Kayu
kosen, tiang, kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai.

Dinding
dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap. Tempat tidur dan
lemari, meja kursi dan sofa, televisi rumah Indonesia dijarah anai-anai.

Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah Indonesia sudah mulai habis
dikunyah-kunyah rayap. Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang
sempurna.

Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.

Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.

“Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!” teriak mereka.

“Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!” bantahku.

Mereka berteriak dan mendekatiku dengan sikap mengancam.

Aku melarikan diri kencang-kencang.

Mereka mengejarkan lebih kencang lagi

Mereka menangkapku.

“Ambil bensin!” teriak seseorang.

“Bakar Rayap,” teriak mereka bersama.

Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.

Seseorang memantik korek api.

Aku dibakar.

Bau kawanan rayap hangus.

Membubung Ke udara.

Inikah akhir kehidupan rayap ? Semoga !

Dari Sastra Sabah:Isu Integrasi Nasional

Isu integrasi nasional


 

Oleh Nazmi Yaakub
nazmi@bharian.com.my 

Dalam sastera, ia menjadi api dalam sekam kerana tiada usaha perkukuhkannya

ISU integrasi nasional dalam dunia sastera boleh menjadi api dalam sekam sekiranya tiada sebarang tindakan bererti dalam memperkukuhkan jambatan antara Semenanjung dengan Sabah dan Sarawak.

Tidak hairanlah pengarang dari dua negeri yang kaya dengan budaya itu seolah-olah hanya akan dikenali di Semenanjung apabila mereka berhijrah atau berkhidmat di sini, manakala sebahagian besar pula lebih selesa berkarya dengan media pada peringkat negeri.

Kemudahan teknologi maklumat seperti e-mel, laman web dan blog serta pengangkutan tambang murah tidak banyak membantu dalam usaha mempereratkan hubungan kepengarangan, sebaliknya dibimbangi terjebak dalam senario seperti enau melepaskan pucuk masing-masing. Pegawai Perancang Bahasa, Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Jaafar Hamdan, mengakui penulis Sabah dan Sarawak kurang dikenali pada peringkat kebangsaan kerana wujud ‘sindrom rendah diri’ apabila berasa belum mencapai tahap untuk berada dalam kelompok kebangsaan.

“Mereka takut mencuba ruangan lebih besar bersifat kebangsaan kerana persaingan sengit sehingga mengambil jalan selamat untuk berada dalam kelompok kenegerian, meskipun ada sebahagiannya berjaya menembusi lingkaran kebangsaan.

“Secara umumnya, mereka lebih selesa menulis dan menghantar karya ke media di negeri sendiri atas sebab banyak faktor seperti isu yang diangkat lebih menjurus kepada negeri, nama yang lebih dikenali pada peringkat negeri, persefahaman antara editor dengan penulis, kurang persaingan daripada penulis dan lebih dekat dari segi isu, budaya serta sosial bagi pembaca,” katanya kepada Sastera di pejabatnya di DBP, Kuala Lumpur, baru-baru ini.

Faktor ruang media lebih luas di negeri dikatakan turut mengundang pengarang menghantar karya mereka, selain kehadiran hadiah menilai karya mereka di negeri, menjadikan mereka lebih berkeyakinan untuk karya disiarkan dalam akhbar setempat.
Beliau menyarankan usaha ditumpukan untuk mencetuskan kesefahaman antara penulis di Sabah dan Sarawak dengan Semenanjung bahawa perjuangan bahasa dan sastera perlu dilakukan secara bersama dan diteruskan dari semasa ke semasa.

“Hubungan penulis sudah lama terbina, tetapi ada beberapa kekangan pada peringkat pengurusan selain pemisahan ekoran kedudukan geografi. Setiap pengarang perlu yakin sastera yang mereka ceburi adalah hak bersama dan perlu diperkasakan semua pihak,” katanya yang juga penyair dari Sarawak.

Lompong kosong dalam perhubungan pengarang dari dua wilayah itu turut diakui Yang Dipertua Badan Bahasa dan Sastera Sabah (Bahasa), Jasni Mat Lani, yang menegaskan senario pengarang Sabah dan Sarawak kurang dikenali pada pentas kebangsaan.

“Saya sering membangkitkan pada pertemuan dengan Gabungan Persatuan Penulis Nasional (Gapena). DBP perlu menerbitkan lebih banyak buku penulis Sabah kerana pada tahun lalu, hanya dua buku untuk semua judul dihasilkan oleh pengarang negeri ini.

“Kalau kita lihat buku biografi penulis terbitan DBP, Wajah juga tidak menyenaraikan seorang pun penulis dari Sabah termasuk Ismail Abbas atau lebih dikenali sebagai Amil Jaya, meskipun beliau ialah Penerima Anugerah Penulisan Sea 1992,” katanya.

Jasni mencadangkan DBP untuk menganjur program mempertemukan pengarang Sabah dan Sarawak dengan Semenanjung, selain memperbanyakkan penerbitan judul buku pengarang kelompok terbabit untuk memperkenalkan mereka pada pentas kebangsaan.

“Seingat saya, DBP pernah menghantar penulis Sabah dan Sarawak untuk menghadiri program yang di Semenanjung, meskipun ketika itu tambang pengangkutan udara mahal. Malangnya ketika pengangkutan tambang murah kini, tidak ada pula sebarang program seumpama itu,” katanya.

Tanggapan pengarang itu diperakukan Pensyarah Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), Dr Awang Azman Awang Pawi yang mengakui pengarang dua negeri itu lebih selesa dengan wadah sedia ada bagi menampung karya kreatif dan bukan kreatif.

“Di Sarawak misalnya, ada Jendela Sarawak, Buletin Peribumi dan Yang Indah Itu Bahasa, selain pengarang baru meletakkan karya mereka seperti puisi dalam laman web dan blog. Saya percaya ada beberapa kelompok yang tidak tergerak hati untuk menghantar karya ke media di Semenanjung,” katanya.

Kelompok pertama ialah mereka yang berasa lebih selesa menulis dalam konteks di negeri sendiri kerana wadah terlalu luas di Sabah dan Sarawak, manakala kelompok kedua pula belum ada keyakinan tinggi untuk menembusi media arus perdana.

“Kelompok ketiga pula menolak persepsi yang menganggap karya tersiar di media Semenanjung bermakna sudah menjadi pengarang berjaya, sekali gus dianggap sebagai sikap media yang tidak mengiktiraf media di Sabah dan Sarawak
“Kelompok keempat pula berinteraksi dengan media baru untuk berkarya dengan sasaran dikongsi masyarakat dunia yang berbahasa Melayu dan Inggeris seperti Yusuf Fansuri, Zakaria Manan dan Hasyuda Abadi,” katanya.

Dr Awang Azman berkata, Sabah dan Sarawak bukan saja kaya dengan etnik berbanding Semenanjung Malaysia, bahkan mungkin menyamai jumlah etnik negara maju yang meraikan kepelbagaian etnik seperti Kanada dan New Zealand.

“Isu berkisar soal etnik ialah kekuatan yang diketengahkan sekiranya dilihat dalam konteks Sumpah Palapa, Bhinneka Tunggal Ika, 1Malaysia dan Islam Hadhari, manakala pemahaman budaya tempatan membantu menjayakan wawasan masyarakat glokal, iaitu berfikir global dan bertindak mengikut acuan lokal.

“Jika menekuni karya dari negeri ini isu integrasi memang dihasilkan sama ada sisi hitam atau sebaliknya kerana pengarang memperoleh sumber pengalaman langsung dan olahan kreativiti serta realiti, sesuai dengan hakikat tidak ada hitam atau putih sepenuhnya dalam kehidupan ini,” katanya.

Beliau turut menegur Perpustakaan Negara Malaysia yang belum pernah membeli buku kreatif pengarang Sarawak, selain mengharapkan Kementerian Penerangan, Komunikasi dan Kebudayaan menampung dana penyelidikan termasuk mengenai kesan sastera nasional di Sabah dan Sarawak.

Sumber: Berita Harian Online (23/3/2010)


Tahar Ben Jelloun: Seni Fiksi

 

Tahar Ben Jelloun adalah salah satu sastrawan Prancis yang sedang meroket: buku terbarunya Racism Explained to My Daughter masuk daftar best-seller; dan tahun 1987 ia dianugerahi The Prix Goncourt atas novelnya The Sacred Night, dimana penghargaan itu diberikan kepada karya pertama kali dari penulis Arab. Sejak dua tahun lalu, Jelloun masuk dalam short-list peraih nobel sastra.

 

Ben Jelloun lahir di Fez, Maroko. Ia dibesarkan dengan empat bersaudara, tiga laki-laki dan seorang perempuan. Keluarga ini tinggal di sebuah apartemen kecil di Medina, bagian kota tua Maroko yang paling indah dari abad pertengahan. Ayahnya memiliki warung kecil yang menjual bumbu-bumbu di pasar. Kemudian ayahnya sebagai penjahit, membuat Djellabas (Pakaian lelaki Arab).

 

Pada usia 5 tahun, Ben Jelloun mendaftar pada sebuah sekolah Alquran, dimana ia belajar menghafal dan melafalkan syair-syair dalam Alquran. Dua tahun kemudian ia masuk sebuah sekolah Franco-Arab. Ia mempelari bahasa Prancis di pagi hari (Ini pertama kalinya berhubungan dengan bahasa) dan di sore hari ia belajar bahasa Arab. Ia tekun dan sebagai siswa yang serius: “Sejak masih awal saya sudah belajar tanggung jawab untuk berdiri di atas kaki sendiri.“ Kemudian, ia belajar filsafat pada universitas Rabat.

 

Tahun 1971, pada usianya yang ke 26 tahun Ben Jelloun beremigrasi ke Prancis, untuk melanjutkan studynya di Sorbonne. Kemudian ia bekerja beberapa waktu di Paris sebagai ahli konseling kejiwaan. Novel perdananya terbit tahun 1973 berjudul Harrouda. Setelah itu disusul 9 novel lainnya termasuk kumpulan cerpen, puisi dan esai. Ia mungkin lebih dikenal dengan triloginya mengenai kehidupan Ahmed/Zahra, seorang anak gadis yang membuat ayahnya kecewa, sehingga tetap dipaksa dan dianggap sebagai seorang anak laki-laki. Novel tersebut berjudul The Sand Child menjadi best-seller di Prancis. Disusul The Sacred Night dan akhir-akhir ini diterbitkan The Wrong Night.

 

Wawancara ini dilakukan di kantor Ben Jelloun di St-Germain-des-Pres, beberapa ratus meter dari kantor penerbitnya, Editions du Seuil dan cafe de Flore, dimana ia sering bertemu kawan-kawannya. Di sebuah studio kecil di lantai paling atas pada sebuah loteng tinggi, ramping, dan modern yang berhimpitan dengan jalan raya dengan gedung blok kuno. Kantor itu dilengkapi dengan sofa, sepasang kursi yang nyaman dan sebuah meja besar dengan berserakan kertas, sebuah telepon dan layar komputer program word. Tingginya bangunan memisahkan ruangan dari suara bising lalulintas di jalan yang letaknya di bawah. Sedang jendela menghadap ke sebuah ujung-ujung pohon dengan lampu lalu lintas dan udara bebas.

 

Sikap Ben Jelloun yang menonjol, ia bersemangat, ramah, polos. Ia bicara bahasa P00rancis dengan fasih, hanya dengan sedikit intonasi Afrika Utara.

 

Penanya: P

Anda orang Maroko, dilahirkan dan dibesarkan di sana. Bahasa ibumu adalah Arab, sekarang Anda putuskan untuk menulis dalam bahasa Prancis. Bolah saya tanya, mengapa?

 

Tahar Ben Jelloun: TBJ

Kenyataannya saya menguasai dwi bahasa. Bahasa pertama saya, bahasa Arab. Tapi saya belajar ke sekolah dwi bahasa Franco-Maroccan. Ketika saya memulai menulis di waktu muda, tidak punya ambisi dalam sastra. Saya lebih merasa bahagia menulis dalam bahasa Prancis. Waktu itu tidak ada kesadaran untuk memilih.

 

P:

Apakah itu disebabkan Anda lebih banyak membaca karya Prancis daripada Arab?

 

TBJ:

Mungkin. Juga karena saya hanya menerima saja bahasa Arab. Hal itu tak mungkin akan sirna dan oleh karenanya tidak perlu untuk belajar lagi. Saya pikir, tanpa sadar, bahwa saya telah mempersiapkan tenaga saya ke dalam bahasa asing. Itu lah sebuah tantangan, sebuah dorongan. Pada saat saya berumur 20 tahun, saya mulai menulis dengan serius. Saya tak punya keraguan dalam benak saya, bahwa saya harus menulis dalam bahasa Prancis. Sekarang saya tidak pernah membuat sebuah pilihan kebetulan antara bahasa Arab dan Prancis. Hal itu berjalan secara alami. Kaum intelektual lain di negeri-negeri Arab mengkritik saya, kadang dengan sangat brutal, karena saya tidak menulis dalam bahasa Arab. Ini pengalaman pahit bagi saya, sepertinya saya merasa bahwa motivasi mereka itu sering curiga.

 

P:

Tak diragukan, setelah Anda memenangkan penghargaan Gouncourt, sebuah pembuktian dan dan kesuksesan, apakah iri itu masih layak?

 

TBJ:

Mungkin. Tapi jawab saya adalah saya menulis dalam bahasa yang saya paling kuasai secara baik. Saya bisa menulis sebuah artikel atau sebuah bahan pelajaran dalam bahasa Arab, tetapi tidak dalam sebuah novel. Tentu ini lepas dari penghormatan terhadap bahasa Arab, saya tidak akan membunuhnya.

 

P:

Bahasa Arab adalah sebuah bahasa yang kaya dan lunak. Akar dari katanya terdiri atas dua atau tiga konsonan yang bisa membentuk sebuah kosa kata besar dari nuansa-nuansa dan ornamen-ornamen. Bahasa Arab juga menghasilkan puisi dan prosa. Di luar itu, bahasa Arab sebagai bahasa suci seperti Hibrani. Allah telah berbicara dengan bahasa tersebut. Sebab itu Anda katakan, orang ragu untuk mencampuradukannya. Apakah Anda mempelajarinya di sekolah?

 

TBJ:
Pada sekolah Lycée kami belajar Arab klasik. Saya menjadi sadar kehalusan dan kekayaan bahasa Arab, jika saya melakukan terjemahan. Bagi saya itu alasan yang baik untuk tidak memperumit. Memang bahasa Arab sebagai bahasa suci yang diturunkan oleh Allah dalam bentuk Alquran. Itu intimidasi, sehingga orang menjadi merasa sangat kerdil menghadapi bahasa Arab ini. Pada hari yang lain, Adonis, penyair besar Lebanon bercerita kepada saya bahwa bahasa Arab belum membuat seorang pengarang menjadi lebih kuat dari bahasa itu sendiri, untuk ditundukkan. Orang bicara bahasa Inggris sebagai bahasanya Shakespeare, bahasa Italia dipakai Dante, tapi kami tidak akan mengatakan bahwa bahasa Arab adalah bahasanya Al-Ghazali, tetap saja bahasa Arab akan dianggap sebagai bahasa Alquran. Hal itu bisa menipu, orang akan merasa bersalah.

 

P:

Masih ada anggapan, orang yang mengatakan bahwa keuntungan menulis dalam bahasa Prancis atau Inggris, karena punya akses terhadap pembaca yang lebih besar.

 

TBJ:

Itu sebuah refleksi situasi politik dan imaji dunia Arab, yang mempengaruhi perkembangan budaya Arab. Itu tidak fair. Ada banyak sekali penyair dan sastrawan Arab yang tidak dikenal. Dengan demikian seolah-olah bahwa budaya sebuah negara tergantung dari situasi politik-ekonominya. Sekarang ini bahasa Arab dianggap sebagai bahasa yang dipakai oleh 200 juta orang. Dan pada bahasa Persia juga menghasilkan syair-syair besar seperti pada para rohaniwan di Teheran. Keduanya menjadi bahasa minor. Sekarang ini Eropa berpaling ke Timur Jauh dan tiba-tiba orang-orang bertemu budaya Jepang dan China. Hal itu tak ada yang bisa dilakukan yang menyangkut masalah-masalah negara, sepanjang imaji negara-negara Arab secara politis suram. Bahasa Arab akan terpuruk dalam kekalahan.

 

P:

John Updike pernah sekali bercerita kepada saya bahwa ketika ia berada di Mesir, ia jumpai penulis-penulis hebat yang tidak diketahui sama sekali di barat. Peristiwa itu sebelum Nagib Machfuz dapat nobel. Sementara John Updike dan sastrawan Anglo-Saxon lain bersin saja, segera diterjemahkan, dianalisis, dikomentari lebih dari sedosin bahasa dunia.

 

TBJ:

Kami lebih tertarik budaya barat ketimbang sebaliknya. Saya bisa memberi sebuah mata kuliah tentang Faulkner di Amerika, bisa juga terhadap para intelektual lain di dunia Arab, dan tak ada orang yang heran. Sementara itu pengetahuan satrawan kita di barat sangat terbatas, jumlahnya sedikit yang bisa disebut ahli orientalis. Saya harap suatu hari situasi ini akan berubah dan segera saja kekayaan sastra Arab dan Persia akan ditemukan dimana-mana untuk kepentingan atas nama kemanusiaan.

 

P:
Saya harap begitu juga. Tetapi kami bisa sangat optimis. Apakah Anda pikir bahwa jika Anda telah menulis dalam bahasa Arab, buku-buku Anda akan menjadi berbeda?

 

TBJ:

Tentu. Karena bahasa bukan hanya sebuah piranti, tapi sebuah satuan mekanisme mental, juga koper yang berisi semua budaya, yang mana orang menentengnya sendiri. Budaya Francophone lebih berkembang daripada budaya berbahasa Arab. Juga kalau saya katakan, bahasa Arab adalah sebuah bahasa suci dan para sastrawan Arab bangga akan hal itu. Mereka tidak bisa memakai kekerasan untuk melawannya

 

P:

Dalam hal apa buku-buku Anda menjadi berbeda?

 

TBJ:
Untuk memulai, tema akan menjadi berbeda. Ada sesuatu yang saya tidak bisa kaitkan dengan bahasa Arab. Misalnya, seksualitas atau kritik terhadap karakter tertentu keagamaan. Saya tidak yakin, bagaimana akan membedakan secara rinci, tapi saya tahu di sana ada beberapa larangan.

 

P:

Bisakah Anda mendekati tema seksualitas dalam banyak cara?

 

TBJ:
Ada teks erotis penting dalam sastra klasik Arab, pada abad 14, 15, dan 16. Misalnya, salah satunya berjudul The Scented Meadow karangan Shaykh Naszawi di abad 14. Itulah Kamasutra dari dunia Arab. Saya telah menuliskan dalam esensi yang sama. Tapi orang tak akan yakin tentang hal-hal seperti itu, karena jika orang mulai menulis, orang tersebut tidak bisa tahu 100% apa yang sedang berlangsung. Kisah itu berjalan secara alami. Sebab itu saya pikir, mungkin itu mengatasi seksualitas dalam bahasa Arab, namun saya tak lihai dalam bahasa semacam itu.

 

P:

Ada Kamasutra India dan syair erotis dari penyair Arab. Orang teringat dengan Abu Nawas. Tapi ekspresi erotis membedakan antara budaya dan bahasa. Pada sisi mana tulisan erotisme Arab berbeda dengan tulisan erotik kita di barat?

 

TBJ:

Saya pikir, orient punya lebih banyak konsep erotisme yang lebih halus daripada di barat. Contohnya, ada sebuah konsep erotisme penting dalam A Thousand and One Night, yang mana itu merupakan salah satu kunci memahami orient. Namun sekarang ada semacam sensor dan pencekalan di dunia Arab, mungkin karena sebagai hasil dari fundamentalisme, orang-orang ketakutan dan kaget.

 

P:
Jika Anda tinggal di Afrika Utara dan menulis dalam bahasa Arab, apa yang bisa Anda tulis sekarang dalam sebuah suasana fundamentalis.

 

TBJ:

Saya tidak mungkin bisa menulis apapun, itu tindakan bunuh diri. Fundamentalisme melawan kebebasan secara umum dan kebebasan untuk seorang pengarang tak hanya bebas, duduk dan menulis, tapi berpikir dengan bebas, mengekspresikan dirinya dengan bebas. Sehingga saya pikir bahwa sebuah masyarakat fundamentalis tak menghasilkan apa-apa, tapi diam atau sebuah sastra perlawanan yang ditulis di pengasingan.

 

P:

Ketika Anda memulai menulis, pertama kali puisi, berapa usia Anda?

 

TBJ:

Masa saya menulis yang serius, ketika saya belajar filsafat di universitas pada usia 22 tahun. Kurikulumnya sama dengan di universitas Sorbonne. Pada tahun 1966 saya ditahan bersama ratusan mahasiswa atas kegiatan politik. Secara alami saya beraliran kiri, seperti setiap orang pada masa itu. Kemudian kami dijebloskan ke penjara dan terasa sangat tertekan, pemerintah memaksa kami untuk masuk militer sebagai bentuk kewajiban nasional. Padahal saat itu tidak berlaku di negeri Maroko. Oleh karena itu kami sendiri melakukan latihan di dalam barak militer, tapi kami tahu bahwa sebetulnya itu sebuah penjara. Saya tertekan dan saya bereaksi dengan menulis puisi panjang secara rahasia. Setelah 18 bulan kami dilepas dan saya berpikiran mungkin saya bisa menerbitkan apa yang telah saya tulis di dalam penjara. Karena waktu itu saya merespon sebagai tugas intelektual untuk diwujudkan sebagai pengalaman. Puisi itu diterbitkan pada majalah Soufle yang didirikan oleh Abdellatif Laabi, seorang penyair Maroko.

 

Saya mendapatkan respon baik terhadap puisi tersebut dan saya merasa bahwa ada penerimaandari pembaca. Jika reaksi terhadap puisi itu tidak bagus, saya mungkin tidak akan bertahan dalam menulis. Reaksi publik terhadap upaya perdana dari seorang pengarang adalah sangat penting.

 

Setelah tamat dari universitas, saya mengajar filsafat para sebuah sekolah Lycée selama 3 tahun. Pertama di Tötouan dan kemudian di Casablanca. Pada tahun 1971 situasi politik di Maroko agak tidak stabil. Di Maroko terjadi sebuah kudeta, yang kedua saya diberitahu dan saya ingin meninggalkan mengajar supaya bisa menyiapkan sebuah program doktor. Sehingga saya pergi ke Paris, mendaftar di universitas Sorbonne, berterima kasih bisa berhasil. Di sini saya menemukan diri saya di sebuah lingkungan yang ramah. Prancis kemudian sebagai sebuah negara yang menyambutnya, yang sulit saya bayangkan di zaman sekarang. Orang-orang tak takut dengan hantu imigrasi sekarang ini. Bahkan saya was-was jika seseorang mendekati saya secara tiba-tiba di jalan. Sepertinya ini bicara baiknya saja, tapi kadang rasis tersebar. “Pulang sana, kau anjing kotor,“ atau beberapa ungkapan jorok.

 

Di Paris saya bertemu orang-orang yang benar-benar membantu saya. Misalnya, saya menjadi berkawan dengan editor Le Monde yang meminta saya menulis artikel-artikel tentang imigrasi dan tentang budaya Arab pada umumnya. Pada waktu yang sama saya menulis novel perdana saya Harrouda. Saya memberikan kepada Maurice Nadeau di Danoel`s yang kemudian menjadi penerbit berfokus sebagian besar untuk sastra asing yang berasal dari mana saja dan itu baru dan saya diterima. Itulah bagaimana saya mengawali.

 

P:

Anda telah menerbitkan sebuah buku puisi sebelum novel pertama?

 

TBJ:

Ya. Suatu hari saya bertandang ke kantor penerbit Francois Maspero dan saya serahkan manuskrip saya kepada istri Maspero, yang bertugas pada bagian koleksi puisi. Ia memutuskan untuk menerbitkan karya saya. Tanggapan berupa kritik dan masyarakat sangat murah hati. Karya itu dicetak sejumlah 2000 eksemplar, untuk ukuran buku puisi pada waktu itu sudah besar.

 

P:

Adakah banyak pengarang asal Afrika Utara saat itu atau Anda sebagai perkecualian?

 

TBJ:
Ada beberapa. Terutama para pengarang segenerasi dari Algeria di tahun 1960-an. Misalnya, Kateb Yacine, Mohammed Dib, Jean Pelegrini, T. Amrouche dan yang lain-lainnya. Karya mereka keseluruhan tentang akar perang Algeria untuk kemerdekaan. Tapi kalau saya katakan, saya diterima dengan baik, itu bukan sebuah penerimaan yang sopan dan sebuah konsesi, lebih daripada keberhasilan saya, sebuah proses yang lamban. Saya serius. Saya tidak suka hari ini, semua bilang tentang seorang sastrawan hanya untuk waktu tiga bulan dan setelah itu sirna, ia musnah tanpa sebuah jejak. Karya itu hanya dijual 3000 eksemplar untuk novel Harrouda, tapi sangat lebih berseberangan dengan kesuksesan yang flamboyan, 24 tahun kemudian novel itu masih nangkring dan dijual di toko-toko buku.

 

P:

Harrouda sebuah novel literaris dengan sebuah plot aneh. Apakah novel tersebut berdasar sebuah kisah sesungguhnya?

 

TBJ:

Ada seorang pelacur di kota Fez yang sering dihantui dengan imajinasi terhadap anak-anak dan remaja, ketika saya masih tinggal di kota itu, masih sebagai seorang bocah dan saya mengubah sosok pelacur itu menjadi seorang yang suci.

 

P:

Tapi keberhasilan yang sesungguhnya berasal dengan Goncourt. Anda termasuk penulis Arab pertama, sungguh seorang penulis asing pertama, untuk memenangi penghargaan tersebut.

 

TBJ:

Sudah ada seorang penulis Afrika tahun 1934 yang telah memenangkan Goncourt, tapi tak ada orang menyinggungnya. Pada tahun 1987 ketika novel saya memenangkannya, kemudian diasumsikan bahwa saya lah penulis yang pertama. Penghargaan tersebut memberi akses yang lebih besar kepada publik. Namun setelah novel perdana saya itu, novel The Sand Child diterbitkan dua tahun lebih awal, menjadi best-seller dan terjual 150.000 eksemplar. Ketika novel The Sacred Night memenangkan Goncourt, ikut mengangkat semua buku-buku saya yang lain.

 

P:

Bagian dari kurikulum sekolah Lycée, yang mana penulis memberi Anda impuls pertama untuk menulis?

 

TBJ:

Sepertinya itu aneh, tapi saya tidak akan kaitkan dengan para penulis, lebih dengan para pembuat film: Orson Welles, Federico Fellini, Yasujiro Ozu, Akira Kurosawa, Michelangelo Antonioni. Orang-orang inilah yang bercerita tentang banyak kisah. Tentu saja ada pengaruh intelektual dari Sartre, Camus, Genet dan yang lain-lain. Tapi memang saat itu masa Semangat Zaman (Zeitgeist). Bagi idola seni saya, saya berpaling kepada Welles dan Ozu agak lebih dari para novelis.

 

P:

Apakah Anda mencoba menjadi seorang pembuat film?

 

TBJ:

Saya bahkan inginnya belajar sinematografi di Lìnstitut des Hautes Etudes Cinématographiques. Tapi segera saya sadari bahwa sinema itu sebuah industri, sebuah industri yang berat dan rumit. Orang tak hanya selalu menjadi kreator, jika orang itu harus tergantung dengan begitu banyak orang dan lingkungan. Saya bingung terhadap kecintaan saya pada sinema dengan nafsu untuk membuat film-film. Sehingga saya menyerah dengan gagasan itu.

 

P:
Sinema sebuah gairah di Prancis, setelah segalanya di Perancis tersedia. Apakah Anda mengunjungi bioskop terus menerus, pada masa Anda menjadi mahasiswa dulu, seperti yang dilakukan oleh kita semua?

 

TBJ:

Saya kagum oleh imaji. Apa yang membantu saya sebagian besar dari sinema adalah cara sebuah cerita dikisahkan secara gambar, lewat imaji, karya seorang Welles atau seorang Hitchcock. Pada menit-menit pertama Anda temukan presentasi karakter dan situasi dan Anda akan tamat. Sekarang film-film Amerika mencoba dengan keras untuk realistik, Anda saksikan seseorang minum secangkir kopi, makan di sebuah restoran atau di sebuah bar, itu menonjok ke muka seseorang. Namun Ozu dan Welles tidak meniru realitas. Apa yang penting untuk menyiapkan sebuah cerita dan membuat pengagum mempercayainya. Apa yang penting adalah duduk dalam sebuah gedung bioskop yang gelap, di situ terbawa ke sebuah imajinasi lain yang universal. Itu lah apa yang saya coba lakukan dalam buku-buku saya.

 

P:
Anda mengunjungi bioskop, namun Anda juga banyak membaca, Anda katakan. Penulis siapa itu? Adakah penulis-penulis asing?

 

TBJ:

Saya saat masih remaja sudah baca Steinbeck, Dos Passos, Faulkner. Tapi penulis yang paling banyak membantu saya adalah James Joyce, bukan karena saya ingin melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan. Tapi karena keberaniannya yang tangguh. Saya pikir, jika Joyce bisa seberani itu, saya juga bisa dong. Ketika saya masih di barak militer, saya minta seorang kawan untuk mengirim novel tebal itu, ia menemukannya. Padahal saat itu kami tidak diizinkan membaca, saya baca dengan sembunyi-sembunyi dan saya ingin sebuah buku yang berakhir dengan cukup lama. Begitulah Ulysses diselundupkan ke dalam penjara dan saya seperti tersambar petir, begitu beraninya. Saya tak tahu sama sekali tentang Irlandia. Ulysses adalah perjalanan yang runut dari penulis yang memesonakan saya, keberaniannya. Saya tak berhasil mengkhatamkan Finnegans Wake. Saya pikir di situlah risiko kerumitan. Novel itu kabur.

 

P:

Sebelum Anda menulis puisi modern, bagian mana yang sering kabur, jika itu tidak bisa disebut buram.

 

TBJ:

Puisi yang kabur tidak akan jadi atau dengan kata lain, itu bukan puisi, tapi menjadi sesuatu yang lain. Puisi yang riil yang tak pernah kabur, bahkan Mallarmé itu jelas. Tempat saya tinggal bersama St. John Perse, René Char, puisi-puisi tertentu dari Yves Bonnefoy, Louis-René des Forets. Kadang saya membaca buku-buku puisi kiriman dan saya katakan pada diri saya sendiri, ini bukan puisi! Tak ada hubungannya dengan puisi. Tapi kadang seseorang tak bilang apa-apa atau tak ada lagi yang perlu dikatakan dan sekarang mereka melanjutkan bicara semuanya sama! Lihat saja Jean-Luc Godard: saya menemukan film pertamanya mengagumkan, kemudian suatu hari saya temukan sebuah fenomena aneh. Godard adalah orang yang tak bisa banyak ngomong atau jika tak ada sesuatu yang lebih untuk diomongkan. Ia masih memiliki teknik menakjubkan, memanipulasi imaji, namun filmnya tak menarik sama sekali, isinya kosong.

 

Ini juga berlaku dengan puisi-puisi tertentu. Untuk merujuk sebuah hasil saya merasa bahwa sementara ini ada kevakuman puisi, setidaknya di barat. Dan sebuah ketakutan atas puisi, seolah-olah orang-orang tidak berani. Di Prancis perlawanan menghasilkan puisi besar dengan inspirasi dari penyair seperti Aragon, Éluard, René Char. Mereka punya yang mendesak untuk disampaikan, nilai-nilai tertentu untuk dipertahankan, namun dalam bahaya. Apa yang diusung oleh penyair Perancis sekarang? Menulis sebuah puisi untuk menghantam Le Pen? Tentang pengangguran? Bunuh diri di antara kaum muda? Ini adalah tema yang terus berputar-putar, pokok bahasan yang sedang hangat.

 

Bukanlah sebuah kecelakaan bahwa seorang penyair yang jelek seperti Bobin menulis dengan sentimental, pseudoagama, pura-pura seperti puisi, dijual puluhan ribu eksemplar, setiap kali ia terbitkan dalam bentuk sebuah antologi. Dan The Alchemist, Paulo Coelho, menurut saya itu novel banal, tapi telah terjual 11 juta eksemplar. Itu karena orang-orang memerlukan puisi dan memburu beberapa spiritual khusus. Mereka butuh diyakinkan kembali dan didorong. Tetapi itu jenis spiritual obralan, lomba murahan.

 

P:

Tampaknya menurut saya sekarang ini lebih banyak penulis prosa menyeberang ke gender puisi. Misalnya, saya pikir kesuksesan buku-buku Anda, sebagian dikarenakan bahwa tulisan Anda dan sensibilitas Anda dalam ranah puisi.

 

TBJ:

Itu warisan Arab saya. Jika saya bercerita sebuah kisah, saya merasa sebagai orang Maroko dan menceritakannya seperti seorang pencerita Maroko. Menggunakan imajinasi dan sebuah konstruksi yang tidak selalu realistis, tapi puisi bisa bersemayam.

 

P:

Pada kisah A Thousand and One Night yang sangat filmis, pengarangnya melukis gambar, mungkin karena aslinya cerita itu diceritakan secara lisan. Dan para pencerita itu telah mengundang perhatian pendengar dan memukau mereka. Anda menceritakan kisah-kisah Anda seperti sebuah kisah oriental.

 

TBJ:

Saya tidak memosisikan sebagai penulis The Night, sama sekali tidak, saya mengaitkan dengan periode khusus sejarah Arab. Sekarang jika saya menulis, saya merasa dirasuki oleh budaya Arab. Setidaknya bahwa keterangan logis itu saya bisa berikan untuk “puisi“ saya yang sekarang dalam karya saya. Terkait dengan teknik narasi, saya sangat terpengaruh oleh Roland Barthes. Esai-esainya yang berhubungan antara teks dan sastra. Novel-novelnya membosankan saya, ketika saya masih menjadi seorang mahasiswa. Saya tidak ingin menulis apapun seperti itu, seperti diri saya. Apa yang saya lakukan, saya endapkan, saat saya beranjak, secara tak sadar. Saya pikir model saya adalah Maroko, tapi mungkin orang-orang Maroko tidak merasa begitu!

 

P:

Tema-tema dalam novel Anda juga tentang Maroko. Ceritanya selalu berlokasi di Maroko atau setidaknya di Afrika Utara.

 

TBJ:

Itu benar. Tema-tema itu terbenam di Maghrebi. Karena tema-tema itu terkait dengan masalah-masalah pra pendudukan kami, problem kehidupan sehari-hari. Hubungan antara lelaki dan perempuan dalam sebuah masyarakat muslim, antara negara dan hukum atau individu dan kolektif.

 

P:

Di negara-negara dunia ketiga, terutama negara Islam, di situ ada masa pergolakan dan ketidakpastian sebagai akibat dari kontak dengan modernitas dan barat. Ini bahasan dalam kesuksesan besar Anda pada novel The Sand Child, yang mana ceritanya bayi yang lahir seorang perempuan, namun orang tuanya berpura-pura sebagai bayi laki-laki. Karena mereka sudah punya 6 anak perempuan yang lain dan malu jika tidak memiliki keturunan anak laki-laki. Ini sebuah konsekuensi tragis untuk bayi tersebut dalam perkembangannya menuju dewasa. Apakah cerita itu berasal dari sebuah cerita nyata?

 

TBJ:

Bukan. Saya ciptakan cerita itu karena saya ingin menulis sebuah novel tentang kondisi kaum perempuan di Afrika Utara, namun tidak dalam sebuah bentuk pengajaran, berciri militansi. Saya ingin bereaksi terhadap sastra feminis tahun 1980, yang retoris, melengking dan tak berimajinasi. Sehingga jika saya menghadirkan seorang anak kecil yang nasibnya dipaksa untuk menyimpang dari takdirnya, yang hidup dalam kondisi keduanya, maskulin dan feminin, pada waktu yang sama, saya bisa menyoroti masalah-masalah tertentu.

 

P:

The Sacred Night, novel yang memenangkan Goncourt, kisahnya berlanjut. Novel itu sebagai jilid dua dari trilogi, sedang jilid yang ketiga adalah The Wrong Night. Jilid satunya The Sand Child telah ada beberapa kemungkinan untuk diakhiri. Semuanya Anda tunjukkan dalam sebuah ciri pencerita oriental. Tapi Anda telah memilih sebuah untuk meneruskan cerita itu. Bagaimana Anda menentukan pilihan?

 

TBJ:

Pembaca yang menyuruh saya melanjutkan ceritanya. Saya menerima surat berkali-kali. Apa yang terjadi dengan Ahmed/Zahra? Karakter utama dengan identitas seksual kembar. Itu cara berbicara tentang kondisi wanita tanpa dogma.

 

P:

Jika para pembaca tidak menyarankan untuk melanjutkan cerita, akankah Anda menulis sebuah jilid buku selanjutnya?

 

TBJ:

Kami akan melakukan dengan cara lain, jika memang tidak ada sebuah cerita untuk diteruskan, para pembaca tidak akan menasihatinya.

 

P:

Anda mengatakan, “Menjadi seorang wanita adalah secara alami lemah dan setiap orang menerimanya. Menjadi seorang laki-laki adalah sebuah ilusi dan sebuah kekerasan yang sesuatunya mengadili dan memperbaiki.“ Apakah itu apa yang Anda bayangkan keadaan wanita di dunia muslim, khususnya pada sisi maraknya fundamentalisme yang mana wanita khususnya dijadikan target? Saya bertanya Anda, pertanyaan ini karena terkait dengan tekanan bagi kaum wanita dari apa yang disebut kelompok fundamentalis, di sana juga ada sebuah perkembangan feminisme Islam.

 

Kaum feminis Islam menggambarkan argumen mereka dari doktrin dan sejarah Islam. Hal itu menunjukkan bahwa tekanan bagi kaum perempuan di negara-negara Islam tak ada hubungannya dengan Islam, yang secara alami sebagai sebuah pembebasan untuk mereka dan yang menghasilkan wanita-wanita tangguh, para pimpinan negara, para politikus, para penyair, para ahli mistik. Salah satunya yang paling mahir dan intelek dari kaum feminis Islam adalah senegara dengan Anda, seorang ahli sejarah dan sosiologi, yakni Fatima Mernissi. Menimbang bukunya The Forgotten Queens of Islam, Islam and Democracy, Beyond the Veil di antara karya-karya lain, yang mana menunjukkan melebarnya Islam menjadi tercemar terkait dengan cita-cita penemunya, oleh para aparat dan rohaniwan yang korup. Fatima Mernissi menganggap bahwa penindasan pada kaum perempuan terkait dengan keterbelakangan, kemelaratan, ketidakadilan dan korupsi, yang mewabah di negara-negara dunia ketiga.

 

TBJ:

Alasan-alasan itu benar adanya. Jilbab itu dipakai di semua agama. Bahkan dalam Kristen. Seorang menutupi kepala jika ia masuk sebuah gereja, sebuah sinagog, sebuah masjid. Hal itu disarankan selama dalam melakukan sholat. Tetapi saya pikir itu esensinya terpisah antara agama dan politik. Agama itu sebuah yang sifatnya pribadi, yang mana terkait antara individu dan Tuhan. Memakai Islam untuk kepentingan politik, itu penghasutan, sebuah tujuan menindas rakyat. Agama terkait dengan apa yang bersifat abadi, sedang politik sifatnya sesaat. Sebab itu kita harus memisahkan antara keduanya, jika tidak negara-negara muslim tidak akan pernah memperbaiki keterbelakangannya dan kenistaannya.

 

P:

Mari kita kembali ke tokoh Ahmed/Zahra. Bagaimana dia memecahkan dilema?

 

TBJ:

Tugas saya bukan memberi jawaban-jawaban atau menemukan penyelesaian, namun mempertanyakan, meneguhkan dalam sebuah suasana kemanusiaan. Saya menceritakan sebuah cerita dengan harapan bahwa cerita itu akan mendorong refleksi, memprovokasi perenungan.

 

P:

Di antara karya berseri dalam trilogi itu, Anda juga menulis sebuah buku kecil tentang persahabatan Anda dengan kawan-kawan yang selama bertahun-tahun telah mengukuhkan kehidupan Anda. Jean Genet sepertinya termasuk di antara mereka yang paling banyak Anda sebut. Ia punya karakter yang aneh, agak susah gaul, malu-malu, penyendiri, hanya mengenal sedikit orang. Bagaimana menurut Anda dan karyanya sekarang ini dengan jeda waktu yang ada?

 

TBJ:

Ia benar-benar seorang manusia yang luar biasa. Ketika novel perdana saya terbit, saya kirim satu eksemplar lewat penerbitnya, tanpa berharap ada tanggapan, karena setiap orang tahu betapa ia pemalu dan penyendiri. Suatu hari seorang kawan komunis saya yang membaca secara teratur di jurnal L`Humanité, memberitahu saya bahwa ada sebuah artikel tentang saya pada jurnal tersebut. Saya buru-buru dan membelinya. Artikelnya ternyata teks sebuah siaran Genet untuk sebuah stasiun Radio berkisar tentang penulis-penulis Arab. Dalam tema ini ia menyerang Sartre, yang disalahkan karena tidak membuat cukup perhatian terhadap penulis-penulis ini, di antara mereka sendiri.

 

Saya mengirim sebuah pesan berterima kasih atas kebaikan Genet, saya sebutkan saya tinggal di Cité Université. Esok harinya saya ditelepon dan itu Genet, menyarankan kami untuk bertemu. Itu lah awal persahabatan yang hebat, yang berlangsung hingga masa akhir hidupnya. Pada tahun 1979, selama revolusi Khomeini di Iran, Genet bilang kepada saya, Orang tua ini memikat saya, karena ucapannya, “Anda sekrup saja“ Amerika dan barat. Bukan perseteruan antara Shah dan Khomeini yang menarik Genet, namun seorang yang berdiri kokoh menentang sebuah sistem, menentang dunia. Khomeini mengambil langkah brutal karena ia seorang yang rebelis, menentang kekuatan segala bentuk.

 

Kami menjadi kawan yang akrab, meskipun Genet tidak percaya benar dengan persahabatan, karena baginya kebebasan dan kesetiaan itu tidak sebanding. Sekarang dia selalu menjadi kawan baik buat saya. Ia bilang kepada saya, “Jika Anda menulis, pikirkanlah para pembaca, sederhana saja.“ Saya telah mencoba sarannya, karena saya pikir kesederhanaan adalah sebuah pertanda kedewasaan.

 

P:

Tali persahabatan di negara-negara Timur Tengah telah dikultuskan begitu kuat. Di Persia agak bergelora, mendekati cinta. Apakah juga sama seperti di Maroko?

 

TBJ:

Tidak persis. Tetapi persahabatan memainkan peranan penting dalam kehidupan kami. Cinta adalah sesuatu yang berbeda, sering berseberangan dengan persahabatan. Cinta itu rumit, penuh kesulitan. Cinta tidak selalu berada di situ, itu tergantung pada sesuatu dimana orang tak memiliki kekuasaan. Persahabatan hanya kebalikannya, sederhana, sukarela, abadi.

 

P:
Novel Corruption yang diterbitkan tahun 1994, berhubungan dengan masalah korupsi di sebuah negara seperti Maroko. Korupsi itu yang paling politis dan paling akut dalam novel Anda. Anda pikir, politik bisa mengubah sesuatu di Maghreb dan di negara berkembang pada umumnya? Mungkinkah kebangkitan kembali terhadap moral dan spiritual juga diperlukan?

 

TBJ:

Pembaruan moral dan spiritual tidak bisa dilakukan tanpa politik yang sehat dan bersih. Sebab itu memerangi korupsi adalah sebuah upaya mengarah ke masyarakat bermoral dan berbudaya sehat.

 

P:

Novel Anda The Wrong Night jilid ke 3 dari trilogi, tokoh utamanya lagi-lagi seorang perempuan. Apakah Anda sedang merespon terhadap nasib perempuan yang telah terjadi di Algeria saat ini?

 

TBJ:

Tidak. Novel itu terkait dengan sebuah kekerasan tertentu yang lama terbengkelai menjadi protagonis. Akhirnya tokoh utama itu akan membuat pembalasannya. Itu sebuah cerita yang tidak realistis. Itu kekerasan dari seorang perempuan yang telah ditindas dalam waktu sangat lama dan akhirnya meledak. Tetapi tokoh itu bukan seorang perempuan riil, agaknya, ia termasuk ke ranah legenda.

 

P:

Bagaimana menurut Anda tentang realisme magis yang menggunakan figur-figur legenda dari sumber yang populer seperti di Amerika Latin, untuk diproyeksikan ke situasi terkini? Pada ciri sekolah yang mana para novelis Amerika Latin berbeda dari Anda? Sastrawan dan karya yang mana yang paling Anda kagumi?

 

TBJ:

Saya suka sekali Juan Rulfo, Juan Carlos Onetti, beberapa novel tertentu dari Gabriel Garcia Marquez. Tapi saya kira, kami tidak termasuk dalam sekolah yang sama. Mereka berakar dari budaya mereka sendiri dan saya dari budaya saya. Dan dua hal yang paling mencolok, bukan karena Islam, tetapi karena ada faktor-faktor lain seperti sejarah dan geografi.

 

P:

Anda ikut terlibat kasusnya Rushdie?

 

TBJ:

Tentu. Dan saya membela Rushdie. Itu menjadikan sebuah simbol dan sebuah kepentingan. Membela Rushdie adalah membela kebebasan menulis, berimajinasi dan mencipta.

 

P:
Bagaimana Anda mengorganisasikan karya Anda?

 

TBJ:
Saya di pagi hari meninggalkan rumah dan datang kemari. Saya bekerja sepanjang hari dan pulang, malam bersama keluarga saya, istri saya dan 4 anak saya.

 

P:

Anda menulis dengan tangan atau memakai program word?

 

TBJ:
Saya menulis dengan tangan. Program word itu untuk artikel-artikel, sebab koran memerlukannya teks itu dalam bentuk disket.

 

P:
Bagaimana ide itu muncul untuk sebuah novel baru? Apakah Anda menghentikan semua pekerjaan lain selama menulis sebuah buku?

 

TBJ:

Saya biarkan ide itu tumbuh matang melampaui periode panjang. Saya mulai menulis jika saya merasa ada sebuah kepentingan khusus. Saya tidak bisa banyak membaca, sementara saya menulis sebuah buku. Saya curahkan seluruh tenaga untuk menulis. Itu satu-satunya tugas yang membuat saya gembira.

 

P:

Apa yang menjadi pengganggu Anda dalam menulis? Hemingway mengatakan, yang terburuk itu telepon.

 

TBJ:

Frustrasi, gangguan-gangguan kecil, gangguan sosial, psikologi, buang waktu terjepit birokrasi, pekerjaan sehari-hari. Kini orang tak bisa menulis kalau tidak menjalani kehidupan dan kehidupan itu artinya berhubungan dengan pekawai kantor pos, menyetir di jam-jam sibuk, menghadapi kebutuhan sehari-hari. Sehingga apa yang mengganggu dalam menulis berasal dari faktor luar. Tapi jika harus menghentikan sama sekali, akan kehilangan harapan, mencari celah saat orang mengagumi, apa gunanya? Saya pernah merasa jika sastra sudah tak berguna, di situ saya akan berhenti menulis. Lepas dari semua belenggu tadi, saya terus melaju. Pendek kata, jika orang tak menganggap lagi perlu menulis, ya berhenti.

 

P:

Gore Vidal pernah bilang, bahwa penulis ibarat seorang penjaga toko yang pergi ke tokonya atau seorang dokter yang setiap hari mengoperasi pasiennya. Penulis duduk dan menulis, berarti menulis itu sebuah profesi. Menulis adalah apa yang sang penulis lakukan. Anda pikir sama?

 

TBJ:

Bukan. Itu kan visi orang Amerika. Bagi saya, jika seorang penulis mencari nafkah, ia harus terikat dengan sebuah kompromi dengan apa yang bisa dijual dan apa yang tidak bisa dijual. Itu bukan keasyikan saya. Saya suka menemukan sebuah masyarakat pembaca, tetapi orang lantas tidak bisa menulis apa yang bisa laku dijual. Seorang penulis bukan seorang penjaga toko. Seorang penulis mencipta sebuah dunia imajinasi yang ia kaitkan dengan yang lain.

 

P:
Apakah itu fungsi penulis? Sheley bilang dengan sangat populer, bahwa penyair adalah pembuat undang-undang yang tak diakui dunia. Anda percaya itu?

 

TBJ:

Saya tak seambisi seperti itu. Bagi saya seorang penulis adalah seorang saksi. Ia menyaksikan dengan penuh perhatian pada masanya. Ia punya posisi istimewa. Saya pikir, penulis itu tidak sampai punya aturan yang berkuasa. Ia menceritakan cerita-cerita dan memberi komentar pada masyarakat dan dunia. Dia berkomunikasi lewat imajinasi.

 

P:

Sekali Anda punya kerangka novel dan telah memulainya menulis. Anda mengontrol semua cara itu atau dinamika di dalam novel itu yang mengambil alih?

 

TBJ:

Saya tidak selalu tahu apa yang akan terjadi, tapi saya merasa bebas. Saya tidak merasa dibebani atau kehilangan kontrol. Saya tetap melaju sesuai intuisi dan mungkin berjalan bersama ide-ide dan kemungkinan-kemungkinan baru, menjemput sesuatu yang tak terduga.

 

P:

Apa yang muncul duluan, ide, plot atau tokoh?

 

TBJ:

Ide sentral itu penting, tapi begitulah kata-kata itu disortir dengan bagus dan dipakai dengan indah. Cara itu mirip matematika. Plot bisa berasal dari apa yang telah saya lihat atau baca atau dengar. Penulis tak tahu segalanya, jika ia tahu, maka menulis menjadi membosankan. Adapun kerangka cerita itu kondisional, dunia yang diciptakan di sekitar sang tokoh. Itu lah tokoh yang menyusup ke dalam cerita, sehingga penulis menindaklanjuti.

 

P:

Anda banyak menulis ulang?

 

TBJ:

Teks yang bagus jika sekali ditulis dalam satu draf. Tapi itu jarang, hampir tidak pernah. Saya menulis ulang satu bab penuh, tidak hanya sebuah paragraf di sini terkait dengan yang lain. Saya bisa mengontrol keseluruhan paragraf atau menambahkan sebuah.

 

P:

Apa rencana-rencana Anda ke depan?

 

TBJ:

Saya akan menulis novel baru yang bersetting di Naples. Baru kali ini saya mencoba meninggalkan cerita di luar Maroko. Saya baru saja merevisi dan memperbanyak sebuah esai bertema rasisme, diterbitkan tahun 1984 dengan judul French Hospitality. Saya telah menulis begitu jauh untuk menjelaskan apa yang telah berubah dalam 13 tahun, menjadi paling buruk.

 

P:

Saya sangat optimis, tapi saya pikir Le Pen adalah sebuah kelainan sesaat dan bahwa Prancis akan segera memulihkan tradisi mereka dengan menawarkan pengungsian dan melindungi terhadap penganiayaan. Setelah semua itu berlalu, budaya Prancis banyak diuntungkan karenanya. Tengok saja sejumlah penyair, penulis dan intelektual beberapa ratus tahun silam, berasal dari mana-mana.

 

TBJ:

Saya harapkan Anda sungguh benar adanya. Sementara itu, kita sebagai penulis, artis, intelektual hanya bisa melakukan yang terbaik dari kita untuk karya kita dan kita sendiri yang memberikan contoh.

Tahar Ben Jelloun. The Art of Fiction No:159

Interviewed by Shusha Guppy

Diterjemahkan oleh: Sigit Susanto

Sumber:Susanto Sigit <mbeling@gmx.ch>, in: Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com, Wednesday, 26 January 2011 13:37:05

Situasi dan Kondisi Sastra Eksil Indonesia

January 18, 2011 at 1:40pm
Situasi dan Kondisi
Sastra Eksil Indonesia[1]

hersri setiawan
kata kunci:
Indonesia, kesatuan politik, eksil politik, identitas, perang sejarah

Sastra eksil Indonesia ialah karya sastra orang-orang eksil Indonesia. Siapakah mereka itu? Mereka adalah orang-orang Indonesia yang terpaksa tidak bisa pulang kembali ke Indonesia karena situasi politik pada tahun 1965, khususnya mereka yang bermukim di Eropa Barat, dan lebih khusus lagi yang di Belanda. Situasi politik yang  saya maksud ialah perubahan pemerintahan  secara drastis dari pemerintahan sipil ke pemerintahan di bawah kekuasaan militer. Keadaan ini terjadi sejak sekitar kuartal pertama tahun 1966,  yang diawali dengan apa yang dinamakan ‘Peristiwa G30S’ tahun 1965. Terhambatnya warga Indonesia tidak bisa kembali ke tanah air, dan harus hidup dari satu negeri ke negeri lain, oleh mantan Presiden Abdulrachman Wahid alias Gus Dur  menamai orang-orang eksil Indonesia  sebagai  ‘orang-orang yang terhalang pulang’ atau ‘orang-orang klayaban’.
Dengan demikian yang disebut ‘Eksil Indonesia’ dalam kontek tulisan ini adalah ‘eksil politik’. Bukan ‘eksil sosial-ekonomi’, seperti yang pernah dialami orang-orang eksil Indonesia (baca: Jawa dan Madura) pada masa kolonial yang harus bekerja sebagai buruh dan tenaga administarsi di perkebunan-perkebunan besar di berbagai negeri, seperti Afrika Selatan, Sri Langka, Suriname dan Kaledonia Baru. Catatan-catatan narasi para eksil sosial-ekonomi dari Indonesia ini tidak ditulis oleh para eksil, dan belum dieksplorasi para peneliti, tetapi sebagai bagian dari sejarah tutur yang panjang tentang orang-orang yang ‘diselong’ atau ‘dibuang’, pada masa kolonial. Sepatah kata Jawa ‘sélong’, yang berarti ‘buang’ itu sendiri berakar pada kata ‘Ceylon’, pulau tempat pembuangan para penjahat (sebenarnya ‘pemberontak’) dari Pulau Jawa khususnya – pada masa ketika Ceylon menjadi tanah jajahan Belanda.
Perbendaharaan ‘eksil politik’ juga terdapat dalam  lakon cerita wayang purwa yang berjudul “Pandhawa Tundhung”, disadur dari salah satu episode dalam kakawin Mahabharata atau Astadasaparwa, yaitu episode Wirataparwa. Isi dan intinya, bahwa setelah  Pandawa kalah dalam bermain dadu – bahasa seni untuk ‘perang diplomasi’– dari musuh bebuyutannya, yaitu Kurawa, Pandawa dihukum buang selama 13 tahun, dan  identitas mereka harus dihapus selama dalam pembuangan itu. Para Pandawa yang telah membuang ciri-ciri dan jatidiri mereka, mencari suaka di wilayah Kerajaan Wirata. Pandawa hidup sebagai eksil Politik!
Ada dua contoh lain tentang eksil politik di dalam sejarah Indonesia, dari babakan sejarah yang jauh lebih muda, yaitu tentang masuknya Islam ke Jawa pada sekitar awal abad ke-15. Barangkali M. Prijohutomo benar ketika membantah teori ‘pénétration pacifique’ (dikemukakan antara lain oleh Josseline de Jong), karena menurutnya sebaliknyalah yang<span> </span>terjadi: Islam masuk dengan kekerasan dan pedang.[2] Masyarakat Badui berikut kebudayaan dan tradisinya di Banten Selatan, yang ‘tertutup dari dunia luar’ sampai sekarang, ialah korban kekerasan Islam ketika menundukkan dinasti Tarumanegara dan membangun kerajaan Islam Banten di pantai barat Pulau Jawa. Hal yang serupa terjadi pada masyarakat ‘Wong Using’ di Gunung Tengger Jawa Timur. Mereka, ‘Masyarakat Using’ itu, adalah sebagian dari masyarakat Hindu-Budha penduduk kerajaan Hindu-Budha Majapahit, yang berani berkata ‘Tidak!’ terhadap Islam, dan melarikan diri naik ke kaki pegunungan Bromo dan Tengger.
‘Using’ dari kata ‘sing’ ekuivalen dari kata Indonesia ‘tidak’ (bandingkan dengan kata ‘sèng’ dalam dialek Melayu-Ambon). Dilihat dari sudut ini, maka apa yang sekarang kita kenal sebagai sastra Bali kuno, yang tercatat dalam helai-helai lontar itu, tidak lain adalah buah kebudayaan atau sastra ‘hibrida’ yang berkembang dari sastra Jawa Kuno di dalam pengungsian, selama para pendukungnya mencari asil (asylum) di Pulau Dewata.
Kebudayaan eksil, tentu saja juga termasuk sastra eksil, lahir sebagai akibat terjadinya dua atau lebih kekuatan ideologi dan kekuatan politik – sekaligus juga kekuatan ideologi-politik – yang tidak terdamaikan, sehingga pihak yang satu harus dilenyapkan atau diusir sejauh-jauhnya oleh pihak yang lain. Hindu-Budha vs Islam (Badui, Wong Using, Bali Kuno – abad ke-15), Belanda vs Jawa (Samin – abad ke-19), Kiri vs Kanan/Militerisme (Diaspora Indonesia – dua dasawarsa pasca-PD II).  Atau, dalam bentuk yang ‘lebih lunak’, hasil dari sekelompok makhluk yang kalah kuat yang dipindahkan dengan paksa dari tempat satu ke tempat lain oleh sekelompok makhluk yang lebih kuat. Seperti misalnya, antara lain, sastra Jawa Suriname dan sastra Jawa Afrika Selatan, yang lahir dari kuli-kuli kontrak dari Jawa di kawasan-kawasan tersebut.
<span> </span>
Sama seperti halnya Eksil Pandawa, para Eksil Indonesia juga harus membuang ciri-ciri dan jatidiri mereka. Perbedaan antara eksil Pandawa dengan eksil Indonesia,  jika Eksil Pandawa menghilangkan jatidiri sebagai bagian dari hukuman yang dijatuhkan oleh Kurawa sebagai pemenang. Bagi Eksil Indonesia, penghilangan jati diri itu  dilakukan atas desakan dari penguasa di mana mereka berlindung – semua eksil Indonesia yang bermukim di China mereka harus bernama China, bahkan sampai di Eropa Barat pun (Perancis) mereka ‘mengubah nama’ mereka menjadi nama-nama Perancis!  Goncangan perubahan itu terlebih dirasakan oleh para eksil, karena di dalam ideologi mereka telah ditanamkan ajaran, bahwa ‘dunia proletariat mereka’ adalah ‘dunia murni’, sedang dunia di luar mereka adalah ‘lautan burjuasi’ yang serba kotor.
Tapi apakah bedanya antara (untuk mudahnya sebut saja:) ‘eksil PKI — Partai Komunis Indonesia’ dengan ‘eksil Pandawa’?  ‘Eksil PKI’ bersama dengan perkembangan waktu berubah menjadi ‘Eksil Persatuan Kematian Indonesia’, seperti diabadikan Basuki Resobowo dalam lukisannya, yang tidak berprospek kecuali hilang tanpa jejak.[3]. Beda dengan Pandawa. Masa 13 tahun pembuangan, yang hakikatnya pembunuhan, akhirnya tamatlah. Tamat satu episode kisah, sekaligus disusul oleh, dan bersambung dengan, satu episode kisah baru. Raja dan seluruh rakyat kerajaan Wirata dan sekitarnya berdiri di belakang Pandawa untuk menghacurkan keserakahan dan menegakkan keadilan.
Peristiwa pergantian episode ini diabadikan dalam satu bait syair kakawin, dalam bahasa Jawa:
Enjing bidhal gumuruh,
saking nag’ri Wiratha;
kèh ingkang bala-kuswa,
lir surya wedalira,
saking ing jalanidhi.

Arsa madhangi jagad,
duk mungup-mungup anèng;
nèng puncak ing awukir …

dalam terjemahan saya:
Bangkit gemuruh di pagi hari,
dari negeri Wirata;
bangkit asykar tak terbilang,
bagai matahari terbit,
di ujung cakrawala.

Hendak menyinari hitam dunia,
ketika mulai terlihat
di puncak gunung …

Maka perang Bharatayudha pun pecahlah!
Bandingkan kisah ini dengan kisah kaum eksil Polandia sejak negeri mereka dihancurkan Hitler dalam serangan ‘blitzkrieg’ 1939. Mereka segera bangkit dari negeri-negeri tempat pelarian mereka (Perancis, Inggris, dan Uni Soviet), dan berhasil menyusun kekuatan ratusan ribu partisan yang bergerak di bawah tanah.[4]
Tentu saja saya tidak hendak mengajak kawan-kawan saya eksil Indonesia untuk bangkit menyusun kekuatan dan melancarkan perang secara fisik pula, melainkan menyusun kekuatan spiritual dan akal-sehat untuk melancarkan perang-kemanusiaan secara damai. Saya setuju tanpa syarat pada seruan ‘Lawan!’, dari penyair Widji Thukul dalam baris penutup salah satu<span> </span>sajaknya.[5] Tapi ketika pada 1987 saya ajak kawan-kawan menyusun antologi bersama, ‘kumpulan suara’ selama 20 tahun lebih terbungkam (1965-1987) hanya dua penyair yang mengirim tidak sampai sepuluh karya puisi mereka, yaitu Sobron Aidit dan Agam Wispi. Lalu ketika sekitar satu tahun kemudian, saya ajak melakukan sensus terhadap sesama kawan eksil, baik yang masih hidup maupun yang sudah dikubur, suara ajakan saya itu ibarat angin tipis bertiup di gurun-pasir. Akhir yang sama terjadi ketika saya mencoba menawarkan inisiatif untuk menyelenggarakan ‘Pekan Pramudya’ di dua kota utama di Belanda, Den Haag dan Amsterdam, pada tahun 1989 – yang membantu saya, di Belanda, hanya W.F. Wertheim, Sampormes (anggota Tweede Kamer dari Groen Links), suami-istri Harsono-Darmini, dan dari Indonesia Joebaar Ajoeb.
‘Lawan’ tidak harus dalam gerakan yang berdarah. Tapi ‘lawan’ juga bisa diterjemahkan dalam gerakan ‘non-violence’. Anti-kekerasan bukan sekedar taktik perjuangan politik, tapi adalah asas perjuangan. Namun begitu ajakan demi ajakan gerakan non-violence untuk menyuarakan perlawanan terhadap ketidak-adilan dan pemberangusan, pada saat itu, tidak pernah mendapat sambutan sebagaimana mestinya. ‘Kawan-kawan masih tiarap! Kata Pramudya Ananta Toer.
Mengapa bisa begitu? Barangkali jawabannya bisa dicari dalam kata-kata terakhir yang diucapkan Oloan Hutapea, Direktur Akademi Sosial CC-PKI ‘Ali Archam’, ketika membekali kawan-kawan yang hendak diberangkatkan bersekolah ke luar negeri saat itu: ‘Belajarlah baik-baik. Jangan pikir ini-itu. Belajar dan hanya belajar. Nanti kalau kawan-kawan pulang kembali, Bendera Merah sudah berkibar di udara Tanahair …’
Eksil Indonesia tidak pernah disiapkan atau mempersiapkan diri menghadapi pergantian suasana dan cuaca. Mereka lupa atau memang tidak pernah mengerti, bahwa sejarah ialah perkara pilihan dan bukan urusan keberuntungan atau kecelakaan. Karena mereka selalu dibelai dan dibuai dengan kepastian tentang kemenangan, yang daripadanya jabatan dan kedudukan tinggi sudah tampak menjanjikan di depan mata-nasib.

<span> </span>Kata ‘Indonesia’ walaupun pada mulanya menunjuk pada fenomena sosio-kultural (‘Indos’ dan ‘nesia’, pulau-pulau [di bawah pengaruh kebudayaan] India), namun dalam perkembangan selanjutnya menunjuk pada sebuah kesatuan politik yang ditopang oleh berbagai kesatuan etnis dan kebudayaannya (1928), dan dimeteraikan pada awal sejarah Republik Indonesia dalam semboyan “bhineka tunggal ika”. Walaupun Eksil Politik Indonesia lahir dari guagarba yang sama, yaitu PKI dan gerakan kiri Indonesia, serta oleh paraji yang sama, yaitu militerisme Suharto-Nasution, namun sebutan ‘politik’ di dalam katagabung ‘eksil politik’ itu mempunyai isi dan sifat yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh karena: (1) PKI sebelum September-65 pun sudah tidak monolit; (2) para eksilnya berasal “dari Sabang sampai Merauke”, dan ditambah lagi (3) Eksil Politik Indonesia berasal dari dua raksasa Blok Timur, Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok dengan satelitnya masing-masing. <span> </span>
Situasi dan posisi Eksil Politik Indonesia menjadi bertambah  kompleks karena perkembangan kehidupan mereka sangat ditentukan oleh kekuasaan politik tempat para Eksil Politik Indonesia itu berlindung. Dua kekuatan politik raksasa blok Timur, yaitu Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok, sangat memengaruhi pembentukan identitas dan pola pikir para eksil politik Indonesia tersebut. Identitas itu membutuhkan ekspresi, dan untuk ekspresi diperlukan kebebasan, sedangkan untuk kebebasan dituntut keberanian. Tapi di sini, untuk menjadi berani, bagi eksil Indonesia harus berhadapan dengan kendala ‘self-censorship’, karena ada garis imajiner yang tebal antara ‘kawan’ vis-a-vis ‘bukan-kawan’, antara ‘kita’ vis-a-vis ‘mereka’. Malah lebih dari itu, sebagai kelanjutan dari perpecahan antara dua raksasa blok timur USSR vs RRT, masing-masing dengan satelitnya, maka kelompok-kelompok ‘perkawanan’ dan ‘perkitaan’ menjadi semakin banyak, dan bersamaan dengan itu lingkup ‘perkawanan’ dan ‘perkitaan’ pun menjadi makin sempit.
Hal-hal tersebut di atas itu barangkali merupakan alasan utama, mengapa proses kreatif harus terganggu. Harus menunggu datangnya waktu, ketika menggunakan media bahasa Indonesia tidak akan mengundang bahaya, apabila sampai tertangkap oleh ‘telinga musuh’.
Sebagai ilustrasi saya ingin menganalogikan keadaan semacam itu, meskipun dalam lingkup yang lebih sempit, dengan kehidupan tapol di tempat pengasingan mereka Pulau Buru. Di sana selama tahun 1968-1979, tapol-tapol yang berasal dari berbagai suku di Indonesia saling bertutur-sapa tidak dalam bahasa Indonesia, melainkan di dalam bahasa Jawa logat Surabaya dan bahasa Sunda. Sehingga oleh militer penguasa kamp-kamp konsentrasi penggunaan bahasa selain ‘Bahasa Nasional’ itu digolongkan sebagai ‘konsinyes’ (larangan) berat, dan mereka menamakan bahasa-bahasa daerah atau bahasa suku (notabene adalah ‘bahasa ibu’) sebagai ‘basa-basa’ yang ditabukan.[6]

Di atas sudah disebut, bahwa di dalam perjalanan sejarah mereka di luar negeri, sejak 1965 sampai sekitar 1984, konsep ‘eksil politik’ sudah berkembang dan menjadi berbeda, baik dalam isi maupun sifatnya. Sebuah analogi menarik diungkapkan oleh pelukis Basuki Resobowo, seorang pelukis ekpsresionis angkatan pertama Indonesia,  yang meninggal pada awal 80-an di Belanda. Di atas kanvasnya Basuki menggambarkan peristiwa dan suasana pemakaman salah seorang eksil Indonesia di Belanda: Di langit di atas kerumunan para pelayat di kuburan, melengkung warna-warni pelangi, bukan warna merahputih Indonesia apalagi merah Komunis, sebagai latar belakang rangkaian huruf-huruf yang berbunyi: Persatuan Kematian Indonesia – dengan tiga huruf ‘P’, ‘K’ dan ‘I’ berwarna merah dan selebihnya berwarna hitam.
Ungkapan itu adalah makna PKI  yang ingin dilukiskan oleh  Basuki Resobowo. PKI di tengah masyarakat eksil Indonesia sudah bukan lagi PKI di masa pra-Oktober 65! “PKI” versi Basuki hanya mampu mengerahkan ‘massa eksil politik Indonesia’ ketika ada sesama eksil meninggal. Sekedar untuk menyatakan sisa-sisa terakhir dari semangat setiakawan dan kesadaran klas, dan bukan untuk diskusi tentang idealisme dan revolusi!

Menurut fitrah atau sifat asalnya hasil karya eksil politik, seperti diatas sudah dikemukakan<span>,</span> selayaknya bersemangat dan berisi perlawanan. Maka sastra eksil pun selayaknyalah sastra perlawanan. Tapi tidak demikian halnya hasil karya eksil Indonesia. Sebelum mereka berduyun-duyun bereksodus ke Eropa Barat, khususnya Belanda, mereka dibuai dalam mimpi besar dengan slogan-slogan ‘revolusioner’ para pemimpin sendiri dan pemimpin tuan-rumah. Sesudah mereka tiba di Eropa Barat, mulai sekitar awal 80-an, pun tetap menempuh hidup tanpa jatidiri. Baru mulai tahun 1987 satu demi satu mereka mengganti secarik surat bukti ‘stateless’ dari PBB dengan paspor dari negara tempat mereka bermukim. Mulailah muncul tulisan-tulisan kecil, dalam berbagai bentuk, melalui aneka majalah penerbitan mereka. Pada umumnya bisa dikatakan dengan pasti, bahwa baru sesudah gelombang reformasi 1998 melimbur dinding-telinga radio dan layar cakrawala teve di tempat-tempat kediaman mereka, tulisan dan suara mereka membanjiri pers sibernetika dan memantul dari dinding-dinding ruang diskusi.

Di antara sekian banyak hasil karya yang tak terbilang itu, ada dua karya eksil politik Indonesia  yang kental dan sarat dengan nafas perlawanan. Pertama adalah  ‘Sansana Anak Naga’, sebuah antologi puisi karya JJ.Kusni, alias Emil, dengan  kata pengantar oleh alm. Prof. W.F. Wertheim, ditulis untuk mencatat peristiwa eksekusi mati atas Ruslan Wijayasastra dan kawan-kawan. Kedua, sebuah kumpulan puisi cukup tebal yang belum pernah diterbitkan, karya alm. Agam Wispi. Semangat perlawanan Agam, tak beda dari Basuki Resobowo, terungkap dalam sarkasme yang sudah segera terbaca pada judul kumpulan puisinya itu: ‘Amsterdam – Amstel – Amsteledam’.[7]
Di luar dari karya kedua penulis tersebut di atas, merupakan karya-karya yang merekam kejadian masalalu di Tanahair, dan/atau kerinduan pada mimpi kejayaan yang tak pernah terwujud. Tentang situasi ini Sitor Situmorang, kira-kira sepuluh tahun yang lalu, mencoba menerangkan dengan sepatah kalimat: “Kawan-kawan itu kaki mereka sudah di sini, sekarang, tapi kepala mereka masih di sana, Indonesia pra-G30S!”

Di tengah suasana eksil yang demikian itu, sebagai bukan seorang eksil, selama sepuluh tahun pertama dari delapanbelas tahun hidup saya di Belanda, saya mencoba berlawan melalui ‘medan perang’ lain, yaitu ‘medan perang sejarah’. Ini sebuah pilihan politik yang secara sadar saya yakini sebagai jawaban untuk menemukan kembali kisah-kisah perlawanan terhadap penghancuran gerakan rakyat. Melalui metode ‘oral history’ atau ‘sejarah tutur’ (sekaligus ‘tutur sejarah’),  saya kumpulkan ‘serbuk-serbuk mesiu’ dan ‘peluru perlawanan’, yang berbentuk kepingan-kepingan memori tentang kehidupan kawan-kawan di Eropa Barat, China, Vietnam, dan Australia.
Impian saya satu: untuk  menumbangkan hegemoni dan dominasi sejarah militer di Indonesia, dan membangun sejarah dari bawah: Sejarah Rakyat.***

[1] Naskah ini disusun untuk lokakarya tentang ‘Indonesian exiles: crossing cultural, political and religious borders’, Maret 2009 di Canberra Australia; teks Inggris dikerjakan oleh David T Hill, yang juga memberikan kata pengantarnya, dalam RIMA, Review of Indonesia and Malaysian Affairs, volume 44, number 1, 2010: 9-20.

[2] Prijohutomo, M., Sedjarah Indonesia, 1953. Ia mengatakan, antara lain, tidak mungkin tangan atau hidung patung Budha di dalam stupa-stupa di Borobudur itu banyak yang patah atau rusak, jika tidak dirusak dengan benda keras, tongkat besi misalnya, melalui lubang-lubang stupa itu.

[3] Basuki Resobowo [ed. Hersri Setiawan], Bercermin di Muka Kaca, 2005.

[4] Jósef Garlinski, Poland in the Second World War, 1939-1945, 1985.

[5] Widji Thukul penyair anti-militerisme yang gigih, lahir 1963, diculik dan ‘hilang’ sejak 1998.

[6] Hersri Setiawan, Kamus Gestok, 2003.

[7] Amstel kota lecil di barat-daya Amsterdam. ‘Amsteledam’ dilihat Wispi sebagai permainan kata, mengingat banyaknya ‘dam’ di Belanda (‘dam’, waduk, bendungan). Dengan ‘Amsterdam’ sebagai pola, ia ubah Amstel menjadi Amstel[e]dam, bukannya Amsteldam; karena: (1) menuruti ucapan orang yang tidak bisa melafalkan bunyi ‘r’. dan (2) menyindir kawan-kawannya eksil Indonesia yang belum fasih dan berlafal buruk jika berbicara dalam bahasa Belanda.

Bintang Utuy Tatang Sontani

Galeri Esai Situs Sastra Nusantara Cybersastra.Net 20.02.2003

Facebook 21.01.2011

Bintang Utuy Tatang Sontani

Esai Sastra

Oleh : A. Kohar Ibrahim

AKHIR akhir ini nama Utuy Tatang Sontani – salah sorang pujangga Indonesia kaliber internasional tapi telah digelapkan oleh penguasa OrBa sejak awal mula kudeta militer yang berhasil 1 Oktober 1965, ada disebut-sebut lagi. Penggelapan nama Utuy oleh OrBa yang didukung kaum Manikebuis itu, antara lain tercantum dalam daftar sederetan seniman dan sastrawan Lekra (termasuk penulis sendiri, AKI) dapat dilacak dalam buku Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia oleh Ajip Rosidi. Ajip, yang juga sastrawan besar Indonesia asal Sunda, sebagaimana Asep Sambodja, berupaya untuk tidak latah pada sejarah versi resmi penguasa OrBa.

 

Dalam rangka melacak simak sejarah yang selama ini dibengkokkan oleh rezim OrBa yang didukung oleh sementara budayawan yang masuk kantong kekuasaan tiranika itu, saya telah dan akan terus berupaya pula menyusun naskah dan menyajikan apa-siapa para seniman dan penulis yang terfitnah dan terpinggirkan. Kemestian atau yang saya sadari sebagai tugas bagi diri pribadi saya ini sudah sedang dan masih akan terus berkelanjutan. Sekuat bisa dan selaras situasi-kondisi yang tersedia.

 

Kaum OrBa-is terus bersitegar mempersolek topeng Sang Bapak Pembangunan Rezim Otokratiknya ; adalah wajar kaum yang cinta Kebenaran & Keadilan, terutama yang sebagai korban, terus berupaya pula untuk mengungkap siar apa yang diketahui, didengar, dialami, disaksikannya sendiri. Sekaitan ini, saya ulang bilang makna pepatah Perancis : « La Parole s’envole, l’Ecrit reste. » Omongan Mabur Tulisan Tetap Siap. Bisa dilacak dikaji bagi yang berminat dan berkenan kini pun kemudian hari.

 

Kepada pembaca, terutama generasi muda yang perhatian dan berkenan, saya ucapkan banyak terima kasih dan persilakan.

 

21 Januari 2011.

(AKI)

*

Bintang Utuy Tatang Sontani

SAYA sengaja memberi judul catatan yang sarat akan penilaian afirmatif: “Bintang Utuy Tatang Sontani”. Karya-karya tulis Utuy sebagai bintang dan bintang. Dan Utuy seorang pengarang sebagai bintang. Padahal bukunya yang akan saya berikan catatan judulnya dalah: “Di Bawah Langit Tak Berbintang”, setebal 150 halaman hasil terbitan Pustaka Jaya, Jakarta, 2001.

 

Buku tersebut disusun dan disertai kata pengantar oleh sastrawan Ajip Rosidi yang bukan saja sama-sama asal etnis Sunda tapi juga pakar bahasa dan sastra Indonesia yang cukup mengenal Utuy sejak masih muda.  Selain isi tulisan Utuy yang berupa memoar itu layak disimak, juga pengantar sang pakar layak pula menjadi perhatian. Terutama sekali perihal bagaimana sang dramawan kaliber besar itu sampai masuk Lembaga Kebudayaan Rakyat. Hingga diapun menjadi salah seorang korban kebiadaban penguasa Orde Baru.

 

Ada apa dengan judul dari saya tersebut diatas? Kok berani-beraninya memberi penilaian afirmatif segala? Ah, sederhana saja fasalnya.  Karena saya juga termasuk yang mengenal Utuy Tatang Sontani yang kelahiran Cianjur 1920 meninggal di Moskow 1979 itu. Saya sering ketemu dalam kegiatan di salah satu lembaga seni Lekra, yakni Lembaga Sastra Indonesia di Jalan Cidurian 19 Jakarta. Kemudian, selama beberapa tahun pernah sama-sama bermukim di negeri Naga Merah. Yakni Republik Rakyat Tiongkok (RRC).

 

Nah lho! Ajip kepergok saya — jadinya! Dalam hal kenapa-bagaimana-nya Utuy itu! Bahwasanya saya juga menyaksikan Utuy adalah Utuy, dimanapun dia berada. Apakah di tanah Parahiyangan, di Jakarta, ataukah di Peking atau di Moskow sekalipun! Kerna ketika masuk Lekra ketika itu dia sudah jadi tokoh. Seperti halnya juga Pramoedya Ananta Toer, S. Rukiah, Rivai Apin, Hr Bandaharo, Boejoeng Saleh dan yang lainnya lagi. Artinya, Utuy sebagaimana juga yang lainnya itu, menjadi besar atau terkenal bukan “dicetak” atau “digarap” Lekra — apalagi PKI! Dan tidak pula lantaran “terjerat oleh kelihaian orang-orang PKI menarik para pengarang dan seniman yang tidak tahu politik masuk ke dalam strateginya” seperti kata Ajip (hlm 19). Melainkan karena kreativitas dan kecendekiawanannya sebagai individu-individu yang sudah jadi. Maka apapun terjadi, mereka atau yang semacam Utuy tetaplah demikian adanya.

 

Begitulah, halnya dalam kaitannya dengan ideologi yang diharamkan penguasa Orde Baru: “komunisme, marxisme, leninisme.” Sebagaimana juga cap “G30S/PKI”, cap ideologi semacam itu bukankah hanya rekayasa sang penguasa Orde Baru itu sendiri dalam rangka aksi perampokan dan pelanggengan hasil rampokan kekuasaan negara (kudeta) yang mereka lakukan?

 

Main cantel-cantelan, main cap-capan dalam kampanye besar alias propaganda-hitam itulah penguasa Orde Baru telah menistakan ideologi lawan politiknya seraya menistakan secara serampangan siapa saja, golongan mana saja, yang dianggap membahayakan kekuasaan hasil rampokannya. Maka orang-orang semacam Utuy pun yang “seniman individualis” terkena prahara teroris Orba.

 

Padahal, apa buktinya? “Keyakinan saya dulu bahwa mustahil Utuy menjadi komunis, ternyata dibenarkan oleh memoarnya. Utuy menganggap komunisme sebagai sesuatu yang indah, tapi itu hanya menunjukkan bahwa ia tidak mengetahui komunisme…” (hlm 19).

 

Itulah buktinya. Itulah kenyataannya. Begitulah Utuy. Tetapi, hanya begitupun (“yang tidak mengetahui komunisme”) dan tanpa pembuktian apa dosanya dia sudah harus menerima penindasan yang dahsyat. Sejak hari-hari pertama kreasinya sudah diberangus penguasa Orde Baru. Dia sendiri menjadi pariah di negeri asing hingga akhir hidupnya. Bahkan sudah jadi mayatpun masih dinaziskan oleh kaum Orbais! Tanpa mempedulikan pesan harapan Utuy agar kalau meninggal dia dikuburkan secara Islam. Katanya: “Biar bagaimana, saya ini orang Islam dan kakek saya haji…” (hlm 20).

 

MENURUT hemat saya, buku ini memang layak disimak, bukan hanya dua bagian isinya. Yakni Bagian Pertama yang meraup subjudul “Mengapa Mengarang”, “Haru yang tak Kunjung Kering” dan “What is in a name?”; Bagian Kedua dengan subjudul sekalian judul buku tersebut: “DI Bawah Langit Tak Berbintang”, melainkan juga tak kalah pentingnya Pengantar oleh Ajip Rosidi itu sendiri yang bisa dijadikan salah satu bahan kajian sekaligus perdebatan yang menarik. Dalam rangka upaya kita untuk melempangkan sejarah yang telah dibengkokkan penguasa Orde Baru, khususnya di bidang kebudayaan. Dan lebih khusus lagi di bidang seni sastra dan seni drama Indonesia. Yang selama tiga dasa warsa telah menggelapkan Utuy Tatang Sontani hingga bangsa dan rakyat Indonesia tidak bisa lagi melihat karyanya “Di Langit Ada Bintang”.

 

Akan tetapi, bagaimana pun sukar-lambannya, angin perubahan terus berhembus membawa khabar yang lamat-lamat menjadi kian kentara. Hembusan angin segar itupun telah menguakkan mega mendung. Hingga belakangan ini terdengar berita: “Di Lampung Ada Bintang” ! Seperti yang dilaporkan oleh Nur Zain Saleh.

 

Berita itu berita peristiwa budaya yang penting, khususnya bidang seni drama atau teater. Karena memberi penjelasan, bahwa telah dilangsungkan suatu Festival Teater Utuy Tatang Sontani di Taman Budaya Lampung 23-26 Januari 2003. Dalam mana 9 kelompok teater mementaskan 5 karya Utuy: Awal dan Mira (Tetar Gemma), Bunga Rumah Makan (Komunitas Berkat Yakin), Di Langit Ada Bintang (Teater KaeM), Sayang Ada Orang Lain (Teater Sudirman 41, Teater Kolastra, Teater Moderatsis), dan Pengakuan (Teater Sumba, Teater Kurusetra, teater KSS).

 

Sungguh apa yang terjadi di Lampung itu merupakan peristiwa bersejarah. Sebagaimana diingatkan oleh Alex Supartono, anggota Tim Peneliti Sastra Eksil Indonesia. Bahwasanya, “sejak Amarzan Ismail Hamid dan kawan-kawan tahun 1950-an di Medan untuk pertama kalinya menyelenggarakan pekan drama karya Utuy Tatang Sontani, festival ini adalah kali kedua setelah lebih setengah abad. Karenanya, sebagai peristiwa dia menjadi sangat penting. Menjadi bentuk pertanggungjawaban kita terhadap sejarah teater kita sendiri.”

 

Sekalipun saya belum lagi membahas isi lengkap buku tersebut, maka saya rampungkan saja catatan ringkas ini. Dengan kesimpulan bahwa setelah periode Di Langit Ada Bintang, lantas disusul dengan Di Bawah Langit Tak Berbintang, maka kini bintang Utuy Tatang Sontani muncul lagi. Karena hasil kreasinya itu memang bagaikan bintang-bintang. Dan sosoknya sendiri adalah salah satu bintang cemerlang di alam kebudayaan Indonesia. ***

 

Catatan:

Disiar Galeri Esai Situs Sastra Nusantara “Cybersastra.net” 20 Februari 2003. Selanjutnya disiar pula beberapa media dan blog seperti ABE-Kreasi Multiply Site. Siar ulang di Facebook untuk menemukan pembacanya lebih banyak lagi sekalian penyegaran ingatan: 21 Januari 2011.

Ilustrasi : A.Kohar Ibrahim – Basuki Resobowo – Utuy Tatang Sontani seketika bermukim di Nanking 1966 (Foto dokumentasi AKI).

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 60 other followers