Archive for the ‘Sastra’ Category

“Bung Karno! Kau dan Aku Satu Zat…”

http://oase.kompas.com/read/2011/03/27/08595062/.amp.Bung.Karno.Kau.dan.Aku.Satu.Zat.amp.

Editor: Jodhi Yudono
Minggu, 27 Maret 2011 | 08:59 WIB
Dibaca: 8672

 

istimewa
Bung Karno

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin djandji

Aku sudah tjukup lama dengar bitjaramu

dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu

Dari mulai tgl 17 Agustus 1945

Aku melangkah kedepan berada rapat disisimu

Aku sekarang api, aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat, satu urat

Di zatmu, di zatku, kapal2 kita berlajar

Di uratmu, di uratku, kapal2 kita bertolak & berlabuh

Kutipan di atas adalah puisi karya penyair Chairil Anwar (1922-1949) berjudul Perdjandjian Dengan Bung Karno yang ditulis tahun 1948. Naskah asli tulisan tangan sang penyair itu masih tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Dalam versi aslinya itu, kata ”lama” pada baris kedua tertulis mencuat dan terjepit di antara kata ”tjukup” dan ”dengar”. ”Aku sudah cukup ”lama” dengar bitjaramu….” Di bawah kata itu terdapat contrengan. Ada kesan kata ”lama” sempat lupa tercantumkan. Tentu ini hanyalah penafsiran atas teks asli. Yang jelas, begitulah naskah asli puisi disimpan dan bisa kita nikmati sebagai dinamika zaman perjuangan yang terekam lewat puisi, yang oleh HB Jassin kemudian digolongkan sebagai Angkatan ’45.

Gelegak revolusi itu terekam benar lewat tulisan tangan Chairil. Dan di sanalah, di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, gelegak ”api” dan ”laut” Chairil itu tersimpan. Sungguh memprihatinkan dokumentasi semangat zaman itu dalam kondisi merana terbengkalai sekarang.

Sesudah Chairil Anwar meninggal tahun 1949, karyanya menjadi rebutan para penerbit. Namun, Chairil sudah mengumpulkan sendiri karya-karya sajaknya dan diserahkan kepada PDS HB Jassin.

Surat cinta Motinggo

PDS HB Jassin tidak sekadar menjadi ”gudang” karya sastra, tetapi juga dinamika kehidupan para pelaku sastra dari zaman ke zaman. Jassin memang rajin mengumpulkan tulisan tangan, catatan kecil dan surat-surat yang ditulis para penulis. Surat pernyataan Motinggo Boesje yang asli dengan judul ”Saya Menolak Hadiah Sastra 1962” masih tersimpan di PDS HB Jassin.

Surat pernyataan yang ditulis bulan Januari 1953 itu berisi penolakan Motinggo atas hadiah sastra yang diberikan untuk cerita pendeknya. Menurut dia, ukuran keberhasilan karya sastra tidak dapat diukur dari penghargaan-penghargaan yang diperoleh.

Kisah hidup penulis flamboyan ini juga terungkap dari catatan-catatan kecil yang dikirimkan Mas Mot (panggilan untuk Motinggo Boesje) kepada beberapa perempuan. Dalam catatan itu, Mas Mot menulis puisi cinta lengkap dengan lukisan sketsa ketika sedang rindu, menyesal, atau kangen kepada sang kekasih.

Mari kita baca puisi Motinggo Boesje yang juga ditulis tangan, lengkap dengan ilustrasi bunga-bunga. Kita kutip bait pertama dan terakhir dari puisi karya novelis, cerpenis, dan sutradara itu. Di bawah puisi itu tertera angka tahun 1988.

”Inilah buah indah rasa bersalah/Penyesalan ibarat memindah dua gunung/Masih saja membayang tangismu pagi itu/Air matamu membasuh hati yang berdebu…”

”Sudahlah. Kesekian kali kumohon maafmu/Matamu bagaikan malam dengan dua lampu.”

Jassin menyimpan naskah-naskah yang dikirimkan para pengarang ini dengan takzim, seolah itu amanat yang tidak bisa diabaikan. Sungguh ironis jika kemudian kita membiarkannya tanpa arti, bahkan menganggapnya sebagai coretan berdebu tak bermakna. Dan pengelola PDS HB Jassin, Endo Senggono, mengaku belum semua naskah asli itu disimpan dalam bentuk digital. ”Belum. Masih dalam map begitu saja,” katanya.

Tidak hanya karya sastra. Jassin juga menyimpan dokumen, seperti undangan perkawinan Motinggo dengan Lashmi Bachtiar pada 2 September 1962. Pada keterangan ”Djam” dan tempat tertulis: ”Djam 12.00 s/d 15.00 siang di Djalan Salemba Tengah II No 7 Djakarta”. Nama Motinggo dalam undangan tertulis sebagai Bustami Djalid. Di belakang nama itu tercantum nama senimannya, Motinggo Busje (ejaan sesuai dengan aslinya).

HB Jassin tidak hanya menyimpan, tetapi juga mencatat dengan sangat detail peristiwa berkait dengan sastra dan para pelakunya. Kita tengok bagaimana sepotong kehidupan Pramudya Ananta Toer tercatat dalam buku harian.

Pada hari Kamis 1 Maret 1954, misalnya, HB Jassin menulis, kunjungan Pramudya Ananta Toer pada pukul 19.30-20.15 di rumah Jassin. Pramudya yang baru pulang dari Blora, Jawa Tengah, ini membawa naskah cerita perjalanan. Dari catatan harian itu tergambar dinamika kehidupan penulis Pramudya atau Pram pada masa lalu. Ceritanya, Pram sedang butuh uang segera. Ia sudah memasukkan tulisan perjalanan ke majalah Mimbar, tetapi majalah itu tidak bisa segera membayar honornya. Tulisan Pram itu dirasa Jassin cocok untuk majalah Zenith, tetapi majalah ini sering terlambat terbit.

Setidaknya kita bisa merekonstruksi, betapa pilihan hidup sebagai pengarang seperti Pram penuh dengan kenyataan pahit. Sesungguhnya celaka jika nasib dokumentasi mereka pun kini kita abaikan.

Merana

Dokumen kebudayaan itu tersimpan di antara buku-buku sastra, prosa dan puisi, naskah drama, catatan biografi, tulisan tangan, dan surat-menyurat sastrawan besar di Tanah Air. Sebagian dokumen tersimpan di rak yang berderet memenuhi ruangan, sebagian lagi dibiarkan menumpuk begitu saja.

Tumpukan koran dan majalah tua berjubel di sela-sela rak buku yang sudah tidak muat lagi menyimpan tambahan koleksi. Kondisinya berdebu. Kertasnya sudah lapuk dan berwarna kuning kecoklatan. Benda-benda itu seperti benda bekas yang sudah usang. Sementara di dalamnya tersimpan jejak sejarah yang mencerminkan cara berpikir intelektual kita pada masa lalu.

Di antara tumpukan tadi masih bisa ditemukan majalah yang terbit di Indonesia pada awal Perang Dunia II (tahun 1940), seperti Pujangga Baru dan Panji Pustaka. Ada juga majalah Jawa Baru dan Kebudayaan Timur yang terbit di Indonesia pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Koleksi lain yang lebih tua, seperti Kumpulan Sastra Melayu Tionghoa terbitan tahun 1900-1940, tersimpan di dalam sebuah lemari kaca.

Dengan ribuan buku, suasana pusat budaya itu sangat pengap. ”Sudah biasa kalau pengatur suhu udara di sini dimatikan. Dulu ketika pertama kali pusat dokumentasi ini resmi didirikan tahun 1977, enam bulan kemudian kami tidak mampu membayar listrik sehingga AC harus dimatikan total,” kata Harkrisyati Kamil atau Yati, yang pernah menjadi Kepala Dokumentasi PDS HB periode 1979-1983 mengenang.

Agar suhu di ruang dokumentasi tidak panas, Yati dan teman-temannya selalu membuka jendela lebar-lebar, lalu menyalakan kipas angin. ”Untungnya, waktu gedung itu dibangun, saya minta Pemerintah DKI Jakarta membuatkan jendela-jendela berukuran besar,” tutur Yati. Menurut Yati, gedung PDS HB Jassin yang dibangun pada masa Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta itu awalnya dirancang tanpa jendela.

Dirintis

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dirintis oleh penulis, penyunting, dan kritikus sastra almarhum Hans Bague (HB) Jassin. Penulis kelahiran Gorontalo, 13 Juli 1917, ini mengumpulkan dokumentasi sejak tahun 1930. Pada waktu ia masih berusia 13 tahun, HB Jassin gemar menyimpan buku-buku harian, buku-buku sekolah, karangan-karangan yang pernah ditulis di kelas, hingga surat dan foto pribadinya.

Kini pusat dokumentasi itu menyimpan 16.316 judul buku fiksi, 11.990 judul buku nonfiksi, 457 judul buku referensi, 772 judul buku/naskah drama, 750 map berisi biografi pengarang, 15.552 map kliping dari berbagai sumber, 610 lembar foto pengarang, 571 judul makalah, 630 judul skripsi dan disertasi, serta 732 kaset rekaman suara dan 15 kaset rekaman video dari para sastrawan Indonesia. Jumlahnya terus bertambah karena pengelola selalu memperbanyak koleksi. Boleh dibilang, PDS HB Jassin adalah pusat dokumentasi sastra modern Indonesia terlengkap. Bahkan, ada yang menyebutnya terlengkap di dunia, tetapi kenapa nasibnya begitu mengenaskan?

(Lusiana Indriasari/Luki Aulia/Putu Fajar Arcana/Frans Sartono)

 

KERAKUSAN PARA MUNAFIK ISMAIL

KERAKUSAN PARA MUNAFIK ISMAIL

                           Oleh F Rahardi
in: Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com, Saturday, 19 March 2011 02:06:07
    SETELAH absen sekian lama, "Presiden Penyair" Sutardji Calzoum 
Bachri, mengumumkan lima sajak terbarunya (Republika, 24/4/2005). 
Salah satu sajak yang diumumkan itu berjudul Para Munafik Ismail. 
Dugaan saya, sajak ini
 ditulis di sekitar Idul Adha atau hari raya 
Kurban. Hari raya ini memperingati peristiwa, saat Nabi Ibrahim 
diminta Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Sajak Sutardji 
itu pendek, hanya dua bait yang masing-masing terdiri dari tiga baris.
 
    Kutipannya,
    PARA MUNAFIK ISMAIL
    para ismail yang munafik
    bergegas menyodorkan leher
    » sembelihlah
 kami!
    Ibrahim yang hanif bilang
    - tak, kalian tak boleh mati!
    agar menjadi pertanda biar umat waspada
    2005
    
    SELAIN pendek dan sederhana, sajak ini sarat relevansi dengan 
kondisi Indonesia mutakhir. Terutama dengan peristiwa penangkapan 
tokoh pembela HAM atas tuduhan penyuapan. Sebelumnya, kita juga 
dikejutkan berita penangkapan tokoh LSM oleh aparat keamanan. Tokoh 
itu dituduh mencuri logistik para korban gempa dan tsunami Aceh. 
Seorang tokoh pembela HAM lain, ternyata juga menjadi pembela dari 
perusahaan multinasional. Perusahaan ini selain merusak lingkungan 
Tanah Air kita, juga sering meneror rakyat. Ketika disorot kamera 
teve, tokoh pembela HAM ini tampak manis bak malaikat pelindung 
rakyat. Di belakang kamera, secara formal dia pembela pengusaha yang 
menyengsarakan rakyat.
                                  ***
    
    KALAU disuruh memilih, saya pribadi akan memberi hormat kepada 
maling yang secara jujur mengaku sebagai maling. Saya salut dengan 
pengusaha Bob Hasan yang tanpa banyak lagak, menerima keputusan 
pengadilan untuk mendekam di Nusakambangan. Dibanding koruptor lain 
yang mengerahkan segala daya dan dana untuk tetap bertengger sebagai 
pimpinan
 dewan, lalu tampil anggun di depan kamera teve seperti anak 
tanpa dosa. Rampok yang datang dengan topeng, golok, pistol, atau 
atribut rampok lain, lebih mudah diwaspadai dibanding rampok yang 
datang berjas dengan rambut tersisir rapi.
    Dewasa ini korupsi telah berkembang pesat, kualitas maupun 
kuantitasnya. Demikian pula dengan kawasan penyebaran serta variasai 
kelompok yang dijangkitinya. Dulu, pada zaman Orde Baru, korupsi 
hanya disinyalir terjadi di kalangan eksekutif. Mereka melakukan 
kolusi dan nepotisme bersama pengusaha. Setelah reformasi, pola
 
korupsi pun ikut tereformasi. Para anggota legislatif dan yudikatif 
yang harusnya menjadi "benteng" keadilan ikut terjangkiti wabah 
korupsi. Lingkungan keagamaan, LSM, dan perguruan tinggi juga 
tercemari. Bahkan rakyat jelata dengan sigap menangkap peluang 
menjadi tenaga demo bayaran, penjarah perkebunan dan perusak tempat-
tempat hiburan.
    Korupsi jelas tidak ada kaitannya dengan kebudayaan. Meski banyak 
orang menyebut korupsi telah menjadi budaya di negeri ini. Korupsi 
merupakan alat bagi sifat rakus manusia
 yang nyaris tanpa batas untuk 
menumpuk harta. Kalau bisa, manusia ingin mencapai Allah tanpa lewat 
kebajikan dan ketakwaan, tetapi dengan membangun menara Babil. Jalan 
pintas yang terbukti lebih menyengsarakan manusia sendiri. Sifat 
rakus rakyat yang menjarah kebun, hanya untuk kebutuhan sehari-hari. 
Tetapi sifat rakus penguasa yang didukung kekuatan politik bisa 
merobohkan bangunan negeri.
    Korupsi juga bukan hanya masalah hukum. Hingga penyelesaian di 
pengadilan sering menjadi dagelan yang melukai nurani rakyat. Korupsi 
adalah kejahatan politik, maka penyelesaiannya harus dengan kekuatan 
politik. Ketika terjadi eforia reformasi tahun 1998, rakyat amat 
mendambakan adanya niat politik untuk membasmi korupsi. Istilah 
"Basmi KKN" dengan cepat menjadi slogan memasyarakat. Namun penguasa 
demi penguasa bukannya memainkan peran politiknya untuk memenuhi 
tuntutan rakyat, tetapi justru lebih gencar dari penguasa sebelumnya 
dalam menjarah uang rakyat.
                                    ***
    
    KETIKA ada seorang demonstran berteriak-teriak di depan kamera 
teve, seorang tukang bajai nyeletuk. "Mereka teriak-teriak begitu 
karena belum dapat bagian." Berteriak lantang membela rakyat, 
kebenaran, HAM, demokrasi dan lainnya, sebenarnya hanya "tiket" untuk 
masuk kawasan elite penguasa negeri ini. Setelah ada di dalam, godaan
 
dari sifat rakus manusia tetap sulit dikendalikan. Namun di lain 
pihak, naluri untuk mempertahankan predikat yang selama ini sudah 
telanjur melekat, juga amat kuat. Menurut para pakar psikologi, 
jadilah seseorang berkepribadian ganda.
    Di depan publik, terutama di depan kamera teve dan wartawan, 
seorang tokoh pembela HAM harus tetap berakting sebagai pembela HAM. 
Seorang pimpinan LSM pembela wong cilik, wajib terus nyerocos membela 
wong cilik. Seniman yang telanjur dikenal sebagai pembawa "panji-
panji
 kebenaran" juga perlu terseok-seok memikul sang panji-panji. 
Namun di belakang kamera dan wartawan, korupsi adalah sah. Uang 
lembaga donor nyaman buat dijarah. Lebih-lebih uang KPU yang katanya 
dimanfaatkan untuk belajar berdemokrasi di negeri ini.
    Nabi Ibrahim menolak untuk menyembelih "Ismail" yang munafik. Dia 
hanya bersedia memenuhi titah Allah untuk menyembelih Ismail yang 
tidak munafik, yakni putranya sendiri. Namun yang ini pun, juga tidak 
dikabulkan, sebab Allah hanya bermaksud menguji keteguhan hati 
UtusanNya. Nabi Ibrahim, dalam sajak Sutardji
 ini menyampaikan 
dalihnya enggan menyembelih para munafik ismail "agar menjadi 
pertanda biar umat waspada".
    
    
F RAHARDI
Penyair; Wartawan

 

Gaya Taufiq Ismail Membungkam

 

Gaya Taufiq Ismail Membungkam…

Untuk kepentingan “dakwah”-nya, Taufiq Ismail telah menggunakan pengaruh teman-teman

dekatnya untuk membungkam apa yang dia tuduhkan sebagai orang-orang “Lekra generasi

kegita.” Stigma lama ini menimpa anak-anak muda yang bergabung dalam Bumi Tarung Fans

Club, yang menyelenggarakan acara diskusi senirupa, sebagai bagian dari kampanye informasi

publik menyongsong ulangtahun ke-50 dan pameran akbar Bumi Tarung, yang akan digelar di

Galeri Nasional, Jakarta, September mendatang.

Diskusi tersebut berlangsung di Pusat Dokumentasi HB Jassin, Taman Ismail Marzuki,

Sabtu, 12 Maret yang baru lalu, dengan mengetengahkan pembicara EZ Halim (kolektor), Hardi

(pelukis), Sihar Ramses Simatupang (wartawan-sastrawan), dan Amrus Natalsya (bos Bumi

Tarung). Menjelang diskusi, anggota Bumi Tarung, pelukis semiliar, Joko Pekik, juga berbicara

mengenai pengalamannya selama bergelut dalam kelompok pelukis yang bermarkas di

Yogyakarta awal 1960-an itu, termasuk penderitaannya selama meringkuk dalam tahanan rezim

yang simbolisasinya dia visualkan di atas kanvas dalam bentuk babi hutan: Celeng.

Taufiq Ismail –begitulah sejauh yang saya amati — berusaha, termasuk menggunakan

intimidasi, untuk membatalkan pertemuan yang dihadiri hampir 100 undangan itu. Sekitar jam

10 pagi di hari Sabtu itu, Ajip Rosidi menelepon saya yang sedang bersiapa-siap mengajar di

Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara. “Martin,” kata Ajip, yang saya duga berbicara dari

rumahnya, di Pabelan, Magelang, “saya dengar ada diskusi di PDS yang diadakan Lekra generasi

ketiga, ya?!” Saya katakan, setahu saya, itu adalah diskusi yang diadakan oleh sekelompok

pemuda yang menamakan diri ‘Bumi Tarung Fans Club’ sebagai bagian dari kegiatan

menongsong pameran besar Bumi Tarung yang akan berlangsung September.

Ajip tidak mengatakan dari siapa dia mendengar informasi itu. Dia lantas mengeluh dan

meminta bantuan saya untuk membatalkan diskusi tersebut. Bagaimana perasaan HB Jassin di

dalam kuburan. Dia yang dulu diserang oleh Lekra, sekarang tempatnya malahan jadi

gelanggang pertemuan orang-orang Lekra. Dan, apa kata keluarga Jassin kalau mendengar acara

itu, demikianlah keluhan Ajip. Saya katakana saya bukan anggota panitia diskusi itu. Lantas, dia

memahami mengapa saya tak bisa mencegah berlangsungnya diskusi. Dia kemudian

menimpakan kesalahan pada Endo Senggono, kapala PDS HB Jassin, yang tidak memberikan

laporan kepadanya. PDS HB Jassin berada di bawah sebuah yayasan yang didirikan oleh Ajip

Rosidi bersama HB Jassin (ketika kritikus ternama ini masih hidup).

Kapada Ajip saya berjanji untuk menghubungi Amrus Natalsya, dan meyampaikan

keberatannya terhadap diskusi yang akan berlangsung di PDS pukul 02.00 siang itu. Ketika saya

telepon, dan saya sampaikan keberatan Ajip terhadap rencana diskusi itu, Amrus tidak

berkomentar, dan kami sepakat untuk bertemu di PDS sebelum acara yang sudah dijadwalkan

dimulai. Setibanya di PDS Jassin, saya langsung menemui Endo Senggono dan menanyakan

apakah diskusi akan tetap berlangsung, karena Ajip ingin acara itu batal. Endo, yang murah

senyum itu, sambil kedua ketiaknya bergelayut pada tongkat penyangga tubuhnya,

berkata: “Jalan terus… Kalau dibatalkan malah bisa bikin masalah berkepanjangan. Kita lihat

saja nanti,” katanya. Saya terharu mendengar keputusannya itu. Dia berdiri di atas tongkat

ketiaknya, tetapi dia lebih tegak dari saya, kata saya dalam hati. Dia mengeluarkan undangan,

yang juga saya terima. Katanya, di mana ada kata Lekra di sini, di undangan ini? “Bumi Tarung

itu pimpinan Amrus, dan Amrus kan anggota Akademi Jakarta!” lanjutnya menguatkan pijakan

sikapnya.

Endo mengutarakan penyesalannya kepada saya bahwa Taufiq Ismail hanya

mengirimkan pesan singkat (SMS), yang meminta acara supaya dibatalkan, tetapi samasekali tak

bisa dihubungi untuk diajak bicara. Kemudian, saya menemui Rini, salah seorang staf PDS

Jassin, yang terpaksa datang (ditemani anak gadisnya) pada hari libur itu, karena dia, katanya,

mendapat perintah lisan dari Taufiq Ismail, melalui telepon genggam, “supaya membatalkan

diskusi tersebut.” Menurut Rini, Taufiq mengatakan jika diskusi tidak dibatalkan PDS Jassin bisa

dikenakan pasal pidana, karena Lekra adalah organisasi terlarang.

Menurut Rini, dia sempat bertanya dari mana Taufiq Ismail mendengar berita

bahwa “Lekra generasi ketiga” akan menyelanggarakan diskusi di PDS Jassin, yang dijawab

Taufiq dari “orang yang bisa dipercaya.”

Kata mati, “Jalan terus…” dari Endo saya sampaikan kepada Amrus Natalsya. Begitulah,

diskusi itu dimulai dan disudahi dengan damai. Saya deg-degan juga – mungkin juga Endo –

jangan-jangan Taufiq Ismail akan mengirimkan “orang yang bisa dipercaya”-nya dengan tutup

kepala khusus, membawa pedang terhunus, untuk membubarkan pertemuan. Syukurlah, tidak,

dan Joko Pekik bisa pulang ke habitatnya di Yogyakarta tanpa kehilangan jenggot barang

seujung rambut pun.

Sebagai seorang pegiat kebuadayaan yang berwibawa, saya kira Goenawan Mohamad

layak mendapatkan informasi mengenai niat buruk dari seorang sastrawan yang berkobar-kobar

puisi dan pidatonya untuk memberangus kehendak terpuji dari anak-anak muda penggemar

kesenian. Setelah membaca SMS saya mengenai niat Taufiq Ismail untuk membatalkan diskusi

di PDS HB Jassin itu, Goenawan mengatakan: “Kita lawan saja. Dia nggak punya hak apa pun.”

Kemudian saya jelaskan kepadanya, bahwa Taufiq ingin memanfaatkan Ajip Rosidi (salah

seorang pendiri PDS HB Jassin) untuk membatalkan diskusi itu, yang dia jawab dengan

lantang: “Pokoknya mereka nggak bisa menyetop kalian!” Saya menemukan kekuatan pada kata-

kata yang terpateri di layar HP saya, dan saya biarkan kata-kata itu terus berkedip di situ sampai

sekarang.

Hari Senin, 14 Maret 2011, KOMPAS menurunkan berita di halaman dua dengan

judul “Komunisme Masih Dianggap Ancaman.” Laporan dari sebuah diskusi yang berlangsung

di Jakarta. Di dalam diskusi itu, Taufiq Ismail dilaporkan sebagai mengatakan,

bahwa “…komunisme telah membantai 120 juta manusia di 75 negara sepanjang 1917-1991,

lebih besar dari korban seluruh perang dunia dan perang lokal pada abad ke-20, sebanyak 38 juta

orang.”

Membaca ucapannya itu, dengan berkelakar saya ingin bertanya kepada Taufiq, apakah

angka “120 juta manusia” itu sudah dikorting TIGA juta “komunis,” jumlah yang dikatakan

Sarwo Edhi kepada wartawan setelah kembali dari operasi penumpasan G30S akhir 1965. Paling

tidak dua kali saya diundang untuk berbicara di dalam diskusi mengenai G30S di Univesitas

Indonesia. Duduk bersama Taufiq Ismail. Undangan yang datang, terutama para mahasiswa,

tidak mendapat apa-apa. Karena Taufiq hanya menyampaikan angka-angka pembantaian yang

terjadi pada zaman Stalin di Uni Soviet, dan Kamboja. Yang hadir dibuat munafik, karena

Taufiq samasekali tidak menyinggung manusia-manusia Indonesia yang dibantai menyusul

gagalnya G30S. Agaknya, yang tiga juta, sebagaimana yang dikatakan Sarwo Edhi, atau sekitar

500.000 sebagaimana yang diyakini para peneliti asing dan 10.000 yang dibuang ke Pulau Buru

serta ratusan ribu yang ditahan tanpa proses hukum selama belasan tahun adalah BUKAN

MANUSIA!

Martin Aleida, penulis pegiat kesenian,in: apresiasi-sastra, Thursday, 17 March 2011

Sajak Melankolisme Taufiq Ismail

Sajak Melankolisme Taufiq Ismail

Oleh: Aguk Irawan Mn

Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah abad yang lewat
Dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu kucatat
Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima puluh lima
Ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun merdeka

***

Sebagai pencinta sastra, siapa pun barangkali tak pernah tidak memperhatikan proses kreativitas sastrawan Taufiq Ismail. Maka ketika belum lama ini Taufiq Ismail membacakan sajaknya yang terbaru “Ketika Indonesia Dihormati Dunia” di depan KPU— lantas media massa dengan reaksi yang cepat merekamnya— sampai sekarang kita masih ingat bahwa bait sajak di atas adalah bait pertama dari sajaknya Taufik Ismail yang baru itu.

Dalam bersastra, karya Taufiq memang nyaris tak pernah kering dan sepi dari muatan politik. Bahkan Taufiq sering membenturkan isu budaya, pendidikan, ekonomi dan sosial dengan hiruk-pikuk yang berbau politik. Demikian halnya dengan Asrul Sani, Pramoedya Ananta Toer, B. Soelarto, Muchtar Lubis, Wiratmo Soekito dan penulis-penulis lain, maka Taufiq sebagai sastrawan pelopor penandatangan Manikebu ingin juga memperlihatkan bahwa dengan berkesenian serta bersastra ia tetap menekuni politik. Hal ini bisa dibuktikan sejak pertama kali ia menyandang gelar penyair pada tahun 1966. Ketika itu, dengan semangat yang luar biasa— melalui sajak “Tirani dan Benteng”nya ia cukup andil menumbangkan Orde Lama (Soekarno), dan kita lihat di sana bagaimana ia menggambarkan zaman yang bergolak dan penuh idealisme itu. Lalu dilaksanakanlah Pemilu dengan hura-hura berdarah, segala tipu dan fitnah dalam teriakan histeris jurdil dan pesta demokrasi. Dan dengan gegap gempita masyarakat bergegas menyongsong lahirnya Orba. Kemudian saat Orba ditumbangkan (1998), Taufiq “malu-malu” meluncurkan buku berjudul “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”.

Sajak Taufiq memang mempunyai spirit juang yang tinggi. Daya ekspresi bahasa yang diluncurkan bisa membawa sentak tangan yang dikepalkan, telunjuk jari yang diacungkan, dan lengan baju yang disingsingkan. Dalam sajak-sajak “Tirani” terhadap Orde Lama dapat kita lihat pemandangan seperti itu, meskipun sajak ini hanya berlaku satu kali saja, yakni terhadap Orde Lama. Tapi pilihan kata Taufiq tampak begitu berbobot dan ‘matang’, bahkan hinggga sekarang masih mempunyai kekuatan yang sulit tertandingi oleh sastrawan lain. Saya yakin bahwa sajak-sajak Tirani Taufik Ismail tetap akan bernilai universal, meskipun Taufiq hanya memilih ‘diam’ dalam menghadapi kenyataan Orde Baru yang lebih tirani di permukaan Indonesia. Dengan demikian, bukankah ini lebih akan mempertegas bahwa Taufiq adalah sastrawan politikus.

Kemudian tidak berlebihan jika lahir hipotesis bahwa Taufiq adalah sastrawan politikus, yang kemudian citra ini lambat laun semakin pupus dan tergantikan dengan stigma negatif ketika Taufiq menciptakan sajak yang ganjil. Coba kita renungkan baat terakhir dari sajak itu.

Antara rasa rindu dan malu puisi ini kutuliskan
Rindu pada pemilu yang bersih dan indah, pernah kurasakan
Malu pada diri sendiri, tak mampu merubah perilaku Bangsaku.

Taufiq seperti mengalami kekecewaan yang luar biasa, sangat terpukul dengan kondisi Orde Reformasi. Bahkan ia seakan telah menyesali kenyataan kehidupan berkebangsaan yang sekarang ini kita jalankan bersama. Mungkin Taufiq menganggap bahwa proses reformasi ini terlalu pahit bagi kehidupan politiknya. Sehingga benar apa yang dikatakan Ulil Abshar Abdalla, bahwa sajak Taufiq Ismail “Ketika Indonesia Dihormati Dunia” adalah sajak “melankolis”, meratap, melihat masa lalu seolah-olah sebagai “surga” yang tak akan kembali. Pada kenyataannya sajak Taufiq memang mencerminkan sebagian pandangan yang berkembang dalam masyarakat; pandangan yang ingin saya sebut “melankolisme-masokis”.

Menjenguk sejarah memang penting dan sangat dibutuhkan bagi kesinambungan membangun Indonesia; di masa kini dan akan datang, agar penyegaran perjuangan selalu ada. Tapi meratapi kepergian masa lalu yang menggembirakan dan terus memujanya, adalah sikap memilukan bagi seorang yang berjiwa patriot. Sebab yang terpenting bagi kita sekarang adalah menciptakan “surga” di Indonesia yang telah lama dirampok oleh Orba. Agaknya, sajak Taufiq memang ambivalen dan hiperbolis dalam melihat masa lalu. Sementara kita pun mengerti bahwa pemilu 1955 memang tak semuanya sempurna, dan sejarah telah mencatat ada kejanggalan- kejanggalan di dalamnya yang berbelit. Selain masa itu, Pemilu 1955 militer masih belum begitu simpati terhadap kekuasaan dan belum menjadi gurita yang membelit negara.

Menurut Z. Afif. Pemilu 1955 dilaksanakan oleh para Republiken, orang-orang yang sangat merasakan penindasan kolonialisme yang juga memperalat feodalisme. Orang-orang yang bercita-cita membangun sebuah Republik yang benar-benar berlandaskan trias-politika yang sesungguhnya. Dan masa itu lepra politik uang seperti di tubuh elite politik belum berjangkit, walaupun tidak terbantahkan memang ada tikus dalam kepegawaian yang makan sedikit-sedikit milik negara untuk menombok belanja rumah.

Mungkin Taufiq lupa, bahwa ada perbedaan yang perlu diingat antara Pemilu 1955, Pemilu Orba dan Pemilu sekarang. Pemilu 1995 bertujuan untuk mewujudkan Republik yang demokratis dan parlemen yang ditempati oleh wakil-wakil rakyat. Pemilu Orba untuk memperkukuh kekuasaan otokrasi militerisme dan dilaksanakan dengan sistem politik uang dan nepotisme melalui Golkar. Sementara Pemilu sekarang berusaha keras menuju masyarakat yang berkedaulatan penuh. Untuk itu, nostalgia masa lalu yang menurut Taufiq patut dibanggakan, biarlah sebagai arsip pribadi dan bahan cerita untuk anak dan cucu.

Sampai akhir sajak itu ditulis “Ketika Indonesia Dihormati Dunia” Taufiq menunjukkan ratapan yang dahsyat dan merindui masa lalu yang sudah tenggelam. Ia seakan telah memerankan tokoh dalam kehidupan tanpa opsi dan solusi. Sastra yang seharusnya sebagai ruang pertemuan antara batin dan kenyataan, kandas di jalan, atau dalam bahasa Rene Wellek, Taufiq gagal memakai medium bahasa untuk institusi sosial. Menurut Teeuw sastra jenis ini telah kehilangan peran dalam meredamkan ketegangan antara konvensi (tradisi) dan inovasi (pembaruan). Sebab peran sastra sepanjang masa hendak memperjuangkan peralihan-peralihan formasi baru yang dapat dianggap menjalani transformasi dan sintesis. Tanpa adanya kerinduan yang berlebihan terhadap kebangkitan kembali nilai-nilai masa lalu.

Maka bentuk seni dan kebudayaan yang mencerahkan dan memberi semangat yang tinggi bagi pembangunan Indonesia ke depan masih tetap diperlukan sebagai lawan dari sastra melankolis yang lebih mengedepankan sikap apatis dan pesimisnya—adalah sastra heroik memang sepatutnya lebih ditampilkan kepada khalayak pada masa-masa “hilang rasa eling” sebagai pengimbang bahasa propaganda dan retorika luar biasa gencar yang acap kali membuat telinga pekak dan mata gelap. Dengan demikian, lepas dari kekurangannya, sajak Taufiq, bagaimanapun adalah cermin rakyat yang bimbang menghadapi gelombang masa depan, untuk itu tetap patut dibaca di depan rakyat untuk mengkritisi sikap pemerintah terhadap pemilu.

Akhirnya saya sepakat dengan Ulil. Tak usah meratap, melihat masa lampau terus-menerus sebagai “firdaus” yang hilang. Gejala ini tidak sehat untuk membangun negeri ini di masa depan. Karena ada banyak perkembangan positif di negeri kita yang harus diberi apresiasi; dan perkembangan itu hanya mungkin karena ada reformasi. Nilai, harga, dan bobot sebagai hasil yang diperoleh selama reformasi tak kalah dengan Proklamasi Kemerdekaan, Pemilu 1955, Sidang Konstituante, atau pidato-pidato Bung Karno yang menyulut “adrenalin” masyarakat kecil. Hasil-hasil selama reformasi juga tak kalah bobotnya dengan pembangunan selama periode Soeharto.

Bagaimanapun kita memang harus mengakui, kecuali kalau kita masih ingin terus memberi napas pada status quo (Orde Baru). []

Kairo, 9 April 2004
Penulis adalah Staf Peneliti Kebudayaan LKiS Yogyakarta, Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Al Azhar Kairo, Mesir.

Dimuat di: http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2004/0807/bud2.html

BUKU BARU A.SOEPRIJADI TOMODIHARDJO

ASAHAN <a.alham@kpnplanet.nl>in:artculture-indonesia@yahoogroups.com,Monday, 14 March 2011 21:03:29


Komentar sastra (singkat)
Buku baru Soeprijadi Tomodihardjo:
CUCU TUKANG PERANG
130 Halaman
Kata pengantar: Zaen Hae
Penerbit: Akar Indonesia-Yogyakarta
Cetakan pertama: Januari 2011
Jenis: Kumpulan cerita pendek( 14 cerpen)
Soeprijadi Tomodihardjo (ST- 78 tahun)  bisa memulai ceritanya darimana saja, mudah dan dengan lancar membuka kisah-kisahnya hingga ahir dan selalu punya daya pikat untuk “menawan”pembacanya hingga ke ujung cerita. Modal awal ini biasanya hanya dimiliki oleh para pengarang atau penulis yang punya klas master atau groot meester seperti Soeprijadi. Dan memang ST termasuk sastrawan senior yang mempublikasi karya-karnya sejak tahun lima puluhan dan hingga saat ini: puisi maupun prosa. Saya sendiri lebih menyukai cerpen-cerpen Soeprijadi terutama gaya Soeprijadi yang realis tapi tidak agressif bahkan terkadang subtiel dan saya lebih cenderung mengkategorikan ST sebagai pengrang realis ironis. Zaen Hae dalam kata pengantar buku Soeprijadi yang sekarang ini sebagai pengarang KIRI yang tidak terlalu diberati “kendaraan ideologis” dibadingkan dengan para pengarang KIRI lainnya yang eksil. Soal pembagian “pengarang eksil”dan pengarang biasa bukan eksil, untuk saya tidak punya dasar dan juga tidak punya ciri-ciri yang meyakinkan yang membedakan . Gabriel Gacia Marquez (pemenang Nobel sastra 1982) dan juga Mario Vargas Llosa (pemenang nobel sastra 2010) , dua-dua mereka, juga pernah jadi eksil dan tidak seorangpun yang  menyebut mereka sebagai pengarang eksil. Untuk saya pengarang eksil itu tidak ada, sama tidak adanya dengan “sastra eksil”karenanya kalau Zen Hae mau mengembalikan “sastra eksil”(melalui karya-karya ST) ke sastra biasa adalah seperti ingin mengembalikan arah angin ke arah sumbernya semula darimana angin bertiup. Sastra adalab keberagaman, karena sastra adalah gejala kehidupan. “Sastra eksil”tidak punya hak untuk memisahkan diri dari  kehidupan normal, dia tidak berdiri sendiri karena dia tidak bisa memisahkan dirinya dari kehidupan manusia lainnya, demikian pula di bidang sastra. Jadi yang ada, adalah keberagaman dalam sastra itu sendiri dan biarkanlah keberagaman itu menyebut dirinya sebagai sastra dan bukan “sastra eksil” atau bukan eksil.
Kembali ke Soepriadi. Sebagai pengarang dan penulis ST mempunyai gaya khusus terutamanya bahasanya yang rapi tapi lancar. Sebagai pengarang realis  moderat, ST juga menulis cerpen romantis (contoh: BANUADJI TIADA LAGI). Namun tidak ada sex dalam romantisme Soeprijadi tapi tetap saja menarik untuk dibaca yang itu adalah juga berkat kekuataan daya bercerita ST dengan bahasanya yang selalu enak diikuti. Kejutan-kejutan ringan di ahir cerita ST bukan sekedar naluri ingin memberikan surprais kepada pembacanya karena kewajaran tersebut memang diperlukuan pada ahirnya karena kalau tidak, cerita-certia ST cuma akan sekedar obrolan biasa tanpa klimax.
Selain itu, membaca cerpen-cerpen Soeprijadi, untuk saya mengingatkan kembali akan jaman majalah KISAH di tahun lima puluhan yang diasuh HB Jassin. Dalam majallah KISAH akan banyak ditemui karya-karya pengarang terkemuka pada waktu itu yang antara lain Subagio Sastro Wardojo. SM Ardan, Ajip Rosidi, Sobron Aidit, Riyono Pratikto dan masih banyak pengarang-pengarang terkemuka lainnya, termasuk Soeprijadi sendiri. Gaya menulis ST masih terasa adalah gaya penulisan para pengarang majalah KISAH. Karenanya membaca karya-karya Soeprijadi benar-benar seperti membaca karya sastra moderen klassiek jaman majalah KISAH atau sejenisnya. Saya sendiri  mendapat kepuasan sastra dalam membaca cerpen-cerpen ST.
Tidak diragukan, bila seorang penggemar sastra yang serius, klassiek maupun moderen sudah pasti tidak akan kecewa membaca kumpulan cerpen ST yang sekarang ini tapi tentu itu tidak berarti semua tanpa cacat barang segorespun. Di manakah cacat-cacat itu bisa ditemukan. Itu sepenuhnya tergantung pada setiap pembaca. Bagaimanpun hebatnya sebuah karya sastra tapi tetap saja sastra itu adalah juga sebagai sebuah gading yang tak ada yang tak retak. Realisme magisme Gabriel Garcia Marquez yang dikagumi dunia tapi untuk Mario Vargas Llosa( juga peraih nobel sastra) cumalah mengada-ada, banyak yang tidak realis. Saya sendiri  mengagumi kedua duanya karena mereka adalah keberagaman yang justru menambah keindahan sastra.
ASAHAN.
Hoofddorp, 13 Maret 2011.

Gerakan Melawan Rezim Tunasejarah

 

Oleh Muhidin M Dahlan

 

 

Kasus dicabutnya perlahan-lahan infus hidup Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin bukan soal mengagetkan bagi rezim tunasejarah.

Jangankan berharap mereka mendirikan pusat dokumentasi seideal yang dikerjakan manusia tekun seperti HB Jassin sepanjang hayat, yang sudah ada pun akan mereka jadikan bubur kertas.

 

Tak banyak pusat dokumentasi sekhusus PDS HB Jassin di Jakarta. Di dunia sinema ada Sinematek, yang hidupnya makin hari makin rudin. Sementara itu, di bidang seni rupa, pemerintah sama sekali tidak hadir.

Di bidang pers, pemerintah hadir di Solo. Jangan bayangkan pusat dokumentasi ini mirip Newseum di Washington DC, Amerika Serikat, yang jadi salah satu wisata dokumentasi pers dunia. Di Solo, melihat dokumentasi dan penataan arsip pers Indonesia yang usianya sudah seabad lebih, peneliti yang tekun sekalipun akan mempertimbangkan berkali-kali untuk hadir kali kedua di gedung itu.

 

Ciri-ciri rezim tunasejarah, antara lain, lekas lupa, tak memiliki lembaga arsip yang dinamis dengan pengelolaan yang kreatif, dan mereka yang bergiat di dunia dokumentasi menjadi anak tiri dalam semua profesi.

Ciri lekas lupa mudah kita lacak ketika sekelompok pemuka agama mengajukan 18 arsip lisan tentang kebohongan rezim tunasejarah ini dalam tiga tahun belakangan. Responsnya? Kalang kabut. Lupa. Ketimbang membuka dokumen ucapan-ucapan mereka sendiri (maaf, tak ada Pusat Dokumentasi Presiden Indonesia), mereka malah menyerang balik mirip orang mabuk.

 

Bagi rezim tunasejarah, lebih istimewa mendirikan pusat-pusat kesenangan—mal dan industri hiburan—ketimbang pusat pembelajaran sejarah yang kreatif. Memang ada ”taman pintar” di mana-mana, tetapi itu hanya proyek citrawi rezim. Itu pun dananya disumbang Jepang.

Alergi terhadap dunia arsip tampak dalam canda serius para amtenar rezim tunasejarah. Jika seorang amtenar ”diarsipkan”, dipekerjakan di kantor arsip seperti Arsip Nasional Republik Indonesia, berarti karier kepegawaiannya mentok. Mengapa demikian? Djoko Utomo, sang kepala ANRI (2008), mengatakan bahwa koleganya pada rezim tunasejarah itu masih menganggap arsip seolah-olah barang rongsokan, berupa kertas usang.

 

Pantas kemudian dunia arsip kita tak mengikuti gerak zaman. Jangan bayangkan pusat dokumentasi yang dikelola rezim tunasejarah ini mengarsipkan dengan serius catatan blog, status Facebook, atau kicauan yang muncul di Twitter sebagaimana dilakukan Library of Congress sejak 2000. Gudang arsip digital LOC telah menampung data sebesar 167 terabita.



Berpikir historis


Rezim yang berpikir historis akan memahami arsip sebagai memori kolektif, tempat berlaku kesepakatan institusional yang saling berkait antara ruang/geografi dan waktu/sejarah. Lantaran itu, arsip bukan benda mati.

Arsip bagian dari kehidupan dengan cara terus-menerus dirawat melalui tafsiran untuk kehidupan yang akan datang, bersandar pada kepentingan-kepentingan masa kini dengan tolok ukur peristiwa yang sudah-sudah.

Bagaimana menghidupkan sebuah arsip sebagai bagian organis bagi kenyataan? Rahzen (2010) menghadirkan sosok Dang Hyang Nirartha, pedanda (pendeta) yang berasal dari Kerajaan Daha dan pendiri Pura Uluwatu di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

 

Tokoh ini memiliki pandangan unik yang bisa kita rujuk untuk melihat bagaimana arsip sebagai organisme yang hidup. Dang Hyang Nirartha memiliki trikonsep: masa, yasa, basa. Ketiganya mata rantai yang tak bisa dipisahkan satu dan lainnya.

 

Masa atau waktu, zaman, dan kurun adalah sejarah yang berlangsung setiap waktu. Untuk mengikat dan menandai kurun dalam pergerakan sejarah, kehidupan membutuhkan ruang. Ruang itu dinamakan yasa, yang mewujud dalam bentuk monumen, patung, arsip.

 

Bagaimana menghidupkan dan mengontekstualisasikan jalannya masa dan konstruk material yasa itu? Kehidupan membutuhkan apa yang disebut basa atau bahasa. Basa adalah medium menafsirkan mengalirnya masa dalam tonggak-tonggak yasa. Di sini basa bisa kita sebut sebagai paradigma.

Sebagai paradigma, arsip kemudian bisa jadi gerakan bersama yang memungkinkan berdiri dan kukuhnya sebuah bangsa. Karena itu, pengarang Ceko, Milan Kundera, dengan yakin mengatakan, ”Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa, mudah saja. Hancurkan arsipnya!”

Apa yang dilakukan sekelompok anak muda di Twitter dan Facebook saat ini untuk menyelamatkan PDS HB Jassin kita sebut saja ”Gerakan Nirartha”. Gerakan ini menolak bala penghancuran nalar dan manipulasi sejarah (literasi), khususnya kontinuitas hidup sastra Indonesia modern, yang dilakukan rezim tunasejarah.

 

Muhidin M Dahlan Kerani di Indonesia Buku (Iboekoe), Tinggal di Yogyakarta

Sumber: Muhidin D: Gerakan Melawan Rezim ,Tunasejarah 2011/3/23 Susanto Sigit <mbeling@gmx.ch>, in:[*Apresiasi-Sastra*] Muhidin D: Gerakan Melawan Rezim Tunasejarah

ketika-bumi-manusia-disandingkan-dengan-de-stille-kracht

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/ketika-bumi-manusia-disandingkan-dengan-de-stille-kracht

Avatar Prita Riadhini
Yogyakarta, Indonesia
Yogyakarta, Indonesia

Ketika “Bumi Manusia” Disandingkan Dengan “De Stille Kracht”

Diterbitkan : 24 Februari 2011 – 12:50pm | Oleh Prita Riadhini (Christina Dewi Elbers)

Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan De Stille Kracht karya Louis Couperus sama-sama menceritakan Indonesia di zaman Hindia Belanda. Bumi Manusia mengangkat pandangan pengarang Indonesia, sedangkan De Stille Kracht dari kacamata orang Belanda. Christina Dewi Elbers yang sedang menyelesaikan studi S3-nya di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, membandingkan kedua buku tersebut.

Bumi Manusia bercerita tentang tokoh bernama Minke. Minke adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS. Pada masa itu, yang dapat masuk ke sekolah HBS adalah orang-orang keturunan Eropa.

Buku itu menggambarkan kehidupan saat pemerintahan kolonialisme Belanda. Di buku itu ditekankan pentingnya belajar yang dapat mengubah nasib.

Sementara De Stille Kracht, yang baru pertama kali diterjemahkan–padahal buku ini terbit pertama kali tahun 1900–oleh Christina Dewi Elbers dengan judul Kekuatan Diam, menceritakan perbedaan budaya antara timur dan barat, dalam hal ini Jawa dan Belanda. Novel itu bercerita tentang pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda dan bangkitnya gerakan tak terlihat dari suku di Indonesia untuk merebut kemerdekaannya.

Novel De Stille Kracht ini kendati sebelumnya belum pernah diterjemahkan, sering dikaitkan dengan sastra Hindia Belanda dan dihubungkan dengan sastra Indonesia. Novel itu mengangkat seorang Indonesia sebagai tokoh yang cukup penting.

Keluarga Indo-Belanda
“Saya tertarik untuk melihat De Stille Kracht itu seperti apa, kemudian saya cari di internet, ternyata sudah pernah difilmkan. Dari situ saya lihat setting-nya mirip dengan Pramoedya, buku Bumi Manusia. Keduanya melukiskan pula keluarga indo Belanda yang morat-marit.”

Dalam Bumi Manusia diceritakan anak laki-laki Robert Mellema sempat memperkosa adiknya Anneliesse. Kemudian dalam novel De Stille Kracht, sang ibu tiri Van Oudyck juga selingkuh dengan anak tirinya sendiri. Menurut Dewi Elbers, kesimpulannya semua berasal dari keluarga bobrok.

Ia menambahkan, Pramoedya juga memberi perhatian atau kritik terhadap keluarga bangsawan, dalam De Stille Kracht juga ada keluarga bangsawan. Van Oudyck sangat menghormati keluarga bupati, tapi ternyata salah satu anak bupati terlibat judi dan minuman keras, serta main perempuan.

“Dari situ saya tertarik untuk membandingkan apakah ada kesamaan, karena saya lihat ada juga perbedaan. Lewat tokoh orang Belanda, Van Oudijck, Couperus melihat mistik di Jawa dan dituangkan judul Stille Kracht. Sementara Bumi Manusia lewat tokoh Mienke melihat sistem pendidikan dan hukum Hindia-Belanda pada waktu itu.”

Perbedaan Latar Belakang
Pramoedya sendiri dalam hidupnya terkenal sangat tidak suka dengan feodalisme. Jadi segala sesuatu yang berhubungan dengan bangsawan atau birokrasi tidak disukainya. Karena itu dia menuangkan ketidaksukaannya dengan perlawanan Mienke terhadap hukum Hindia Belanda.

“Pramoedya mengeluh, mengapa dalam pendidikan saya diajarkan untuk menjadi orang adil, untuk berpikir adil. Tapi ternyata hukum Belanda sendiri tidak adil terhadap warga pribumi. Sedangkan pada masa itu, kan, orang Indonesia dianggap warga Hindia Belanda. Itu yang dilihat oleh Pramoedya.”

Sudah banyak penelitian tentang Louis Couperus. Banyak tulisan yang mengupas ingatannya soal Jawa dan tentang suara harimau, kemudian tentang senja dan matahari terbit. Dan Couperus, lanjut Dewi Elbers, sangat intens melukiskan hal-hal itu dalam novelnya.

“Selama ini orang mengenal hanya Pramoedya saja. Sedangkan De Stille Kracht sebagian besar belum pernah  membaca dan tidak tahu hal itu.”

Kesimpulannya, kedua pengarang membidik zaman Hindia Belanda. Tapi akhirnya, semua kehidupan manusia punya nilai universal. Yang baik akan selalu menang daripada yang jahat.

“Saya juga melihat banyak hal yang terjadi di zaman Hindia Belanda ternyata di zaman sekarang masih banyak terjadi. Misalnya ketidaktransparanan, kemudian korupsi. Dalam kedua buku tersebut, terutama Stille Kracht, dibahas adanya korupsi. Jadi bupati Ngadiwo korupsi, dia tidak membayar gaji, dan menggelapkan uang untuk berjudi.”

 

The Poetry of Laksmi Pamuntjak

After Bisma Defeated Salwa

 

In the forest where Salwa stooped the night before, the trees loosen their limbs. The grass makes flush. The starlings look around for something to ingest, a bad odor maybe, an omen. Here there are no paddocks, no land left fallow. Each day people rise to light as splendid as moonbeams, rays of jewel filling in where eloquence defies.

 

Blink and you’ll miss that split second where the sun lights up a sad, claret stream. For it is morning’s duty to be on all fours, telling dawn to clear skulls and bones and a husband lost. During that vinous hour even the most noble of kings knows where honor ends and posterity begins.

 

In an instant of light passing through window, she looks up and sees his eyes mirror the brew of air. Clear broth, that is, like purity stirred out of true. Neither is his face the seraphic of legend – just the pleasing asymmetry of any man. Aquiline nose, hard mouth, a one-eyed gray. Hiding man and woman. Peeling now, a sort of icing made by cold too long lived in.

 

The ivory columns and their pearl inlays are stirring.

 

In the trail left by Salwa’s westbound chariot, scarabs roll horse manure into balls to provision their larvae.

 

Further upriver, a hermit tries to say a prayer to the rainbow but knows not the god on duty. The plaque is too small or else the clouds need trimming.

 

And in a chamber in a foreign palace a princess fights to lower her gaze: “My sisters – don’t you desire them?” Don’t you desire me?

 

What tells you what things are? Figures gliding out of carvings on the wall: Wisnu? Siwa? Krisna? Which is the source which is the avatar? What is this bird flapping about in the stomach? this crimson spot on the sheets? Doubt like illness leaks from the pores, and for a moment the noon is distended. Bisma cannot explain duty to Amba any more than she can explain to him what it means to be faithful. How can they when he has just stolen her life and she has made him want?

 

2005

Two Poets in Bed

 

1.

 

Sunday 8 am, and I put to you

the question of trees:

will you keep climbing or

will you rest your heels?

 

By the latter I mean

will you nip the filter off

where the sun falls in

patterns of stars

 

that are older than humans,

wiser than birds,

though too pallid, still,

for the stories of rivers

 

and ice, and perhaps

even light, or what

they hide from the sun

on the appointed day?

 

Or in other words, will this

be then what we accept of

planting, the melding of love

and limb into a greenness

 

profligate, until infirmity

drains the soil porous and

the trunks hide their

shame in pewter?

 

2.

 

Sunday 9 pm, and you say

yes, my love, they may be deep,

those layers of mould, but

ingraining goes no further than

 

an introduction. What follows

no one ever knows. Indents are

as impermanent as skin.

Starved for touch yet asleep

 

to sensation. So reach me your coral

then, pin them to me like a heart,

like honey blossom the shape of

dewdrop blood. Impale me

 

if you must with your needle,

thread me thus into your necklace.

But do not ask of me repentance.

For we all extort what we can from

 

the fleshy earth, suck them dry

and move on. All the while

time sheaths the divine in the riddle

of seventy thousand veils.

 

light and dark, vast as friends.

 

2005

TELEVISI JE AYUN ITAH

SAHEWAN PANARUNG

Untuk Kebangkitan Kebudayaan Dayak & Yang Majemuk Di Kalimantan Tengah

Catatan Panarung Andriani S. Kusni

MEWUJUDKAN MULOK, BUKAN DENGAN JALAN PINTAS

Apa tujuan mata pelajaran muatan lokal (mulok)? Secara sederhana:Untuk memperkenalkan bahasa/budaya dan sejarah lokal kepada peserta didik agar mereka tidak lepas akar dan menjadi angkatan tanpa sejarah serta agar tetap punya identitas diri. Untuk Kalteng, bagaimana membuat Kalteng Beridentitas Kalteng. Untuk mencapai tujuan ini yang terpenting adalah belajar bahasa-budaya dan sejarah lokal. Belajar bahasa berarti sekaligus belajar masalah budaya, karena bahasa tempat menyimpan budaya serta wacana-wacnanya, termasuk wacana adat. Sedangkan sejarah melukiskan perjalanan perjuangan suatu daerah atau dari masa ke masa. Kesenian, kuliner, anyal-menganyam, dan lain-lain, bisa dilakukan sebagai kegiatan ekstra –kurikuler bekerja sama dengan Taman Budaya, Komunitas dan atau sanggar-sanggar. Jika semuanya ini ingin dimasukkan ke jam mulok akan menambah jam pelajaran yang sudah cukup padat. Cara menyampaikan pelajaran niscaya menyenangkan, tidak membosankan. Tekhnisnya perlu didiskusikan rinci seperti penggunaan filem, slide, berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, situs-situs budaya, museum, mengundang pelaku-pelaku kebudayaa dan sejarah, dan lain-lain.

Apa masalah yang dihadapi oleh sekolah-sekolah SD-SMA Kalteng dalam soal mulok sekarang? Pertemuan dengan para guru di Balai Bahasa pada Oktober 2010 lalu mengatakan bahwa persoalan utama dan mendesak adalah tenaga pengajar dan bahan ajar. Karena demikian masalahnya maka apabila menyerahkan pemecahan soal tenaga pengajar dan bahan ajar itu kepada sekolah-sekolah sama dengan mengambil jla pintas, jalan gampang yang tidak memecahkan masalah. Sama dengan membengkalaikan mulok.Dinas Pendidikan Provinsi niscaya menyediakan bahan ajar tentang bahasa-budaya dan sejarah. Menyusun kurikulum adalah sekunder dibandingkan dengan penyediaan bahan ajar dan pengadaan tenaga guru. UUD 1945 sudah memerintahkan pengdaan mulok. Apa kesulitan Dinas untuk melakukannya?Dana dari APBN dan APBD cukup besar,lebih dari dari 20% dari APBN.Bahan-bahan tinggal mengorganisasisasi yang sudah ada untuk langkah pertama menanggulangi masalah. Tenaga pengajar, bisa diatasi dengan melakukan penataran singkat. Lupakan dahulu gelar akademi untuk menjawab persoalan mendesak ini. Dinas Pendidikan menjanjikan bahwa mulok akan diberikan dari Sehingga SMA pada awal tahun –ini. Sekarang sudah Februari 2011. Mana bahan ajar dan tenaga pengajar yang diperlukan oleh sekolah-sekolah? Menyerahkan penyelesaian soal pada sekolah-sekolah sama dengan tidak memecahkan masalah, cara untuk lepas tangan. Padahal mulok sangat penting untuk mencapai tujuan di atas. Tulisan ini menagih janji dan tanggungjawab Dinas Pendidikan Kalteng tentang pelaksanaan mulok, tidak hanya tinggal di lamis bibir (lip service) atau menjadi politik pencitraan.***

 

Catatan Kebudayaan Kusni Sulang

TELEVISI JE AYUN ITAH

Ketika Kalteng berusia 38 tahun, tanggal 17 Februari 1995 TVRI Kalteng didirikan. Seperti pada umumya segala usaha yang baru dimulai, tidaklah disertai dengan segala kelengkapan. Kelengkapan demi kelengkapan dilakukan sambil bekerja dan dalam proses bekerja. Mulai dari kelengkapan tekhnis sampai pada sumber daya manusia pendukung usaha tersebut.Ciri ini lebih-lebih lagi menandai segala yang ada di Kalteng. Gedung-gedug pemerintah seperti gedung DPRD Provinsi dibangun sedikit demi sedikit. Universits Plangka Raya (Unpar) dibangun bermodalkan tenaga seadanya,bukan dengan ketersediaa barisan profesor doktor. Demikian juga RRI dan kemudian TVRI Kalteng. Bhkan provinsi Kalteng ini sendiri bisa dikatakan didirikan bermodalkan tekad semata.Parapembagunnya berkantor di bawah tenda-tenda di tengah hutan dan kesunyian . Tenda-tenda itu selain merupakan kantor juga menjadi tempat tidur dan dapur dlm arti harafiah. Kendaraan roda empat yang ada hanya berupa sebuah Jip Willys 1945 Amerika, peninggalan Perang Dunia II yang digunakan oleh Gubernur Tjilik Riwut untuk mengunjungi daerah-daerah yang sedang dibangun. Bajunya pun  selalu kuyup keringat sehingga sering ia yang memang anak alam berbuka dada menantang matahari.Pegawai-pegawai pembangun provinsi lainnya, ke mana-mana berjalan kaki di jalan-jalan pasir putih belum beraspal.Mereka menghitung dan menghemat rupiah demi rupiah untuk membangun gedung demi gedung di Palangka Raya. Korupsi merupakan hewan buas yang tak dikenal sama sekali. Yang berkuasa adalah tekad Manggatang Utus Dayak, kejujuran, semangat Isen Mulang.dan kerja keras mewujudkan mimpi: Kalteng Berharkat dan Bermartabat. Kesederhanaan, kejujuran, semangat-tekad Isen Mulang, setia pada komitmen merakyat, penuh prakarsa,seorang pelopor dan kerja keras merupakan ciri Kalteng pada waktu itu.Ciri -ciri ini membuat kepasifan, rutinisme, manipulasi dan korupsi terhalau dan tak mendapat tempat seincipun di lubuk hati. TVRI Kalteng dibangun dan bekerja dengan sisa-sisa ciri-ciri Kalteng yang demikian. Saya katakan ‘’sisa-sisa’’ karena sejak Orba Soehrto berkuasa, dan Tjilik Riwut didepak ke atas pada tahun 1967, wajah pola pikir dan mentalitas seperti halnya wajah lingkungan dan alam Kalteng sangat berobah. Perkembangan politik nasional dan politik pemegang kuasa utama daerah ini tercermin dan mencerminkan diri pada TVRI dan siarannya. TVRI Kalteng yang sekarang menyebut diri Televisi Je Ayun Itah (Televisi Yang  Punya Kita) adalah hasil dari suatu perjalanan pergulatan panjang berliku mandi darah untuk menjadi Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng. Pertarungan menjadi diri sendiri melawan pencplokan budaya. Televisi Je Ayun Itah adalah penegasan politik siaran yang dipilih oleh pimpinan TVRI Klteng yang sekarang Drs.Burdju Daeng HS, MM.Penandasan dengan garis bawah bahwa TVRI Kalteng adalah TVRI Uluh Kalteng, TVRI Ayun Utah, bukan TVRI Jateng, Jatim, Minangkabau, Papua , Tapianauli atau yang lainnya. Penegasan dan penandasan dengn garis bawah oleh Biirju Daeng berarti mengangkat dan mengibarkan kembali Pnji Besar Sarikat Dajak tahun 1919 dan Pakat Dajak tahun 1926. , hal yang juga dilkukan oleh A.Teras  Narang sejak terpilih menjadi Gubernur Kalteng di tahun 2005. Dengan Televisi Je Ayun Itah sebagai politik siaran, maka di bawah pimpinan Burdju Daeng yang Indonesia berdarah Batak menjadikan TVRI Kalteng didominasi oleh siaran-siaran tentang Kalteng dengan warna lokal (Dayak) yang sangat jelas. Empat jam siaran lokal diisinya dengan program Katambung (berita Kalteng), Kéba (Kesah Budaya) , Gelar Tari Dayak, Pop Daerah, Jalan-Jalan Ke Desa (Kalteng). Menyaksikan siaran TVRI Kalteng orang tidak akan keliru apalagi sampai menduga bahwa siarannya adalah siaran dari daerah lain. Program baru sangat penting yang dirintis oleh Televisi Je Ayun Itah adalah pembuatan filem dokumenter tentang tokoh-tokoh Kalteng. Kecuali itu, untuk jangka jauh yang strategis, Burdju Daeng sangat memperhatikan pengkaderan dan meningatkan mutu SDM. Televisi Je Ayun Itah ini akan lebih melesat berkembang maju jika Dinas-Dinas dan instansi lain bersinergi dengannya. Ulangtahun ke-16 ini, saya kira, tidak lain dari janji pimpinan Televisi Je Ayun Itah dan seluruh pekerjanya untuk memberikan daerah, negeri dan dunia produk-produk bermutu dalam varian dan jumlah yang kian meningkat.Selamat Ulang Tahun, Kawan-kawan, Selamat memetik matahari .***

Eka SANSANA

Menyemai Benih Merajut Esok

Ruang Berkarya Untuk Siswa SD –SMU

Surat DariPengasuh

 

Adik-adik yang baik,

Terimkasih atas kesabaran Adik-adik menunggu giliran penerbitan karya-karya yang dikirimkan ke Eka Sansana. Kali ini Kakak terbitkan tiga puisi yang dikirimkan oleh Adik-adik dari SMAN-1 Palangka Raya. Terhadap tiga sajak tersebut Paman Talusung Tanjung berkenan memberikan apresiasinya. Apresiasi begini dimaksudkan untuk menambah acuan dalam menulis lebih lanjut. Karena itu akan selalu Kakak hadirkan.Perlu Adik-adik ketahui bahwa Eka Sansana juga menerima karya-karya dalam bahasa Dayak dlam upaya medorong tumbuhnya sastra tulis berbahasa Dayak sebagaimana dilakukan di Tanah Jawa dan Sunda. Kakak tahu bahwa di kalangan Adik-adik juga tidak sedikit yang senang melukis. Mengapa Adik-adik tidak megirimkanya ke Eka Sansana dengan alamat yang Adik-adik telah kenal : andriani_sjk(a)yahoo.com?

Tabe selalu dari Kakak,

Andriani S. Kusni

 

SAJAK-SAJAK DARI SMA NEGERI 1 PALANGKA RAYA

KEMARAU

Semilir anginmu hadirkan tawa riang

Lambungkan layang-layang di angkasa benderang

Terik mentarimu panjang menyengat

Merangsang kelopak bunga tuk kembang

Mendaulat senyawa glukosa rasuki batang-batang tebu

Pacu generatif hijauan tuk bercumbu

Ciptakan benih-benih yang ditunggu

Saat malam menjelang

Langit pun terang penuh gemintang

Kaki-kaki mungil tak henti berkejaran

Nikmati malam bermandikan rembulan

Saat fajar menjelang

Sang bayu berhembus lembab

Dingin menusuk tulang

Lahirkan titik-titik embun menggairahkan

Namun…

Masamu yang panjang

Membuat bumiku gersang

Sumur-sumur kering kerontang

Sungai-sungai bagai cawan sariawan

Leher-leher memanjang menahan kehausan

Rerumputan menguning sekarat

Lumut-lumut tinggal kerak

Kami menyebutmu paceklik

Karna tak satupun hasil yang dapat dipetik

Panas sinarmu bak pemantik

Hasilkan percikan api membara

Membakar hutan-hutan di bumi persada

Kemarau…

Bawa suka dan duka tiada terperi

Duka yang bukan kau maui

Tapi akibat ulah kami sendiri

Palangka Raya, Desember 2010

Evi Merdekawati

Kelas: XI IIA 1, SMA Negeri 1 P. Raya

 

SUASANA DI PAGI HARI

Ketikaku terbangun…

Kubuka mata ini perlahan-lahan

Kudengar suara alunan gemericik air yang berirama indah

Dari pancuran air bambu di belakang rumah

Kubuka jendela kamarku

Kuhirup udara pagi yang begitu bersahabat

Bebas dari polusi udara

Kulihat mentari mulai berbinar di ufuk timur

Memancarkan teriknya yang hangat untuk menyinari seluruh penjuru bumi

Kulihat embun pagi membasahi padang rumput lembut hijau yang terhampar luas

Seakan memberikan kesegaran Hidup ini

Kudengar burung-burung berkicau merdu

Seolah menyambut kehadiran mentari di pagi hari

Kulihat pepohonan seakan ikut menari juga melengkapi keceriaan di pagi hari ini

Kurasakan hembusan semilir angin yang lembut menyentuh kulitku

Seolah ingin mengajakku menikmati keceriaan di pagi ini

Kuambil sebuah pena dan selembar kertas

Kubiarkan penaku meliuk-liuk di atas kertas

Dan di atas kertas tersebut kutuangkan ungkapan hati, jiwa dan perasaan

Kuukir semua jalinan kata ungkapan hatiku

Menjadi sebuah rangkaian kalimat yang sederhana namun bermakna

Seakan mencerminkan ungkapan perasaan yang sedang kurasakan di pagi hari ini

O, Tuhan…

Terimakasih atas segala karunia yang kau berikan

Takkan kusia-siakan semua ini

Aku berjanji

Palangka Raya, Desember 2010

Feromiya Oksa

Kelas: X-3, SMA Negeri 1 P. Raya

 

SAHABAT

Kau tak ubahnya kertas putih

Selalu ada dalam duka dan sedih

Tempat mencurahkan rasa perih

Menghilangkan semua pedih

Kau bagaikan mentari pagi

Menghangatkan suasana hati

Menyinari hari-hari

Memekarkan bunga dalam taman hati

Sahabat,

Persahabatanmu sehijau daun

Seindah musik yang terdengar anggun

Bagai pagi berlimpahan embun

Palangka Raya, Desember 2010

Ria Janah Saputri

Kelas: XI IIA 2, SMA Negeri 1 P. Raya

Catatan Apresiasi Talusung Tanjung

DARI GEJALA MENUJU HAKEKAT

Eka Sansana nomor ini kembali menyajikan puisi-puisi dari SMA Negeri—1 Palangka Raya. Kali ini karya-karya Evi Merdekawati, Feromiya Oksa dan Ria Janah Saputri. Memperhatikan karya-karya yang disiarkan oleh Ruang Eka Sansana, SMA N-1, Sekolah-sekolah Yayasan Siswarta,MAN Model,untuk menyebut beberapa sekolah saja, memang gudang penulis-penulis berpotensi. Saya sangat yakin apabila potensi-potensi ini dipupuk dan dikembangkan, mereka akan tumbuh menjadi penulis-penulis handal yang bukan hanya membanggakan Kalteng, tapi juga negeri ini. Kalau lingkup dunia penulis bukan hanya sebatas satu langit tanahair, tapi dunia, maka yang memilih menjadi penulis tanahairnya tidak lain dari dunia itu sendiri. Untuk menjadi penulis bertanahair dunia tentu saja kerja keras, latihan, belajar, menyatu dengan, mengamati dan menganalisa kehidupan adalah suatu keniscayaan tanpa ada tawar-menawar. Dengan cara demikian, penulis bisa menjadi nurani bangsa dan anak manusia, bisa berada selangkah di depan kejamakan awam, menjadi pengawas masyarakat dan menyarankan jalan ke kemajuan. Tujuan menulis adalah melalui karya meyumbang dan menopang upaya memanusiawikan diri sendiri, anak manusia , kehidupan dan masyarakat, bukan memburu ketenaran. Yang bekerja akan dikenal karena masyarakat dan dunia tidak buta. Untuk menjadi penulis berkualitas demikian tidak mungkin melarutkan diri di permukaan gejala. Ia niscaya berupaya keras menjadikan gejala itu untuk menyelami hakekat. Pada hakekat, pada kebenaran terdapat keindahan. Sedangkan kesenian bergelut dengan keindahan. Mengatakan kebenaran sama dengan mengutarakan keindahan yang sanggup menggumul deraan waktu. Tiga sajak dari SMAN-1 di atas nampak memperlihatkan upaya mendalami gejala untuk mencari hakekat. Evi Merdekawati ketika melihat Kemarau tiba, setelah menyanyikan keindahan matahari, ia lalu mengajak pembacanya bencana kebakaran hutan yang saban tahun menimpa Kalteng. Kebakaran adalah suatu gejala. Evi tidak berhenti pada gejala kebakaran  tapi mencari sebabnya yang lebih dalam. Dalam pencarian sebab ini Evi sampai pada kesimpulan bahwa “Duka yang bukan kau maui/… akibat ulah kami sendiri”. Ulah manusia. Kecuali itu, dengan ketajaman pandang analisanya, Evi mengetahui bahwa hal ikhwal itu bukanlah sederhana, bukan hitam-putih, tapi kompleks. Terdiri dari hal yang positif dan negatif, yang biasa disebut “satu pecah jadi dua’’, bahwa yang ‘’satu’’ itu terdiri dari berbagai unsur.-Alam,matahari, embun yang indah tapi juga alam , matahari, embun yang sama kemudian menurunkan duka-nestapa. Hal-hal beginilah yang saya maksudkan dengan pendalaman gejala, mencari hakekat dari gejala. Mendapatkan hakekat, penyair lepas dari kecengengan.Hal serupa juga dilakukan oleh Feromiya Oksa dan Ria Janah Saputri. Feromiya ketika menyaksikan Suasana Di Pagi Hari, ia melihat kebesaran Tuhan. Artinya Feromiya bertanya dari mana gerangan asal muasal keindahan demikian. Pertnyaan yang bersifat pendalaman. Metode serupa juga digunakan oleh Ria Janah dalam puisinya berjudul Sahabat. Ria mencoba menggali arti Sahabat dalam kehidupan, bagaimana bersahabat. Penemuannya membawa kita pada kesimpulan tetua kita untuk saling asih, saling asah dan saling asuh.‘’Hatamuei lingu nalata’’ (saling mengembarai pikiran dan perasaan sesama) jika menggunakan ungkapan budaya Dayak. Hasil pencarian dan pendalaman ini diungkapkan oleh ketiga penyair muda langsung dari hati, tidak dibuat-buat. Tidak ‘’ndakik-ndakik’’ sehingga terjerumus ke puisi gelap yang hanya dimengerti oleh penyairnya sendiri. Pengungkapan langsung dari hati begini adalah suatu metode menemukan diri sendiri dalam menulis. Tentu akan sayang sekali, jika tiga penyair muda ini di hari-hari kemudian tidak lagi menulis. Tidak ada tua dalam menulis. Tidak ada jeda dalam mencari. Kalteng, tanahair, dunia, memerlukan penulis-penulis pencari dan pencinta. Penulis panarung!***

 

 

Zainal Afif Penyair Aceh

 

Oleh : A.Kohar Ibrahim

From: abdul kohar ibrahim <kohar_be@yahoo.fr>
To: GELORA45@yahoogroups.com
Sent: Saturday, 19 February 2011 05:04:55
Subject: [GELORA45] Zaenal Afif Penyair Aceh – Oleh A.Kohar Ibrahim

 

KETIKA aku menulis-saji apresiasi atas kreasi puisi

Penyair HR Bandaharo, ada yang tanya : “Asal Aceh, ya?”

Dan ada pula yang bilang: “Bapak orang Medan, tak?”

Ketika menyusun telaah puisi “Sekitar Tempuling Rida K Liamsi”,

Ada yang Tanya: “Dari Riau, Pak?”

Hehehe. Aku senyum: “Riau Daratan ataukah Pulau, ya?”

Ketika aku mengapresiasi penulis asal Minangkabau, ada

Yang tanya pula : « Asal Padang, Pak ? »

Tentu saja aku menggelengkan kepala, sembari mesem

nyaris ngakak. Lantaran yang jadi pemicu itu bukanlah

nada nuansa kelokalann kedaerahan atau kesukuan.

Meski aku menghargai yang lokal, tapi berdimensi

nasional, regional malah internasional. Global.

Universal.

Meski aku ngaku: tentu saja ada sebab yang menyebab

aku tergelitik untuk menulis apresiasi apakah dengan

sepatah kata atau menyusun naskah semacam

Telaah. Seperti misalnya atas kareasi puisi

penyair perempuan Gusmarni Zulkifli

penyaji saji sajak bertema Mak (Ibu)

tepat berkenaan dengan Hari Ibu.

“Bukan. Aku bukan asal Minangkabau, tumpuan utama

Pada hasil kreasi puisinya. Tapi aku ngaku, memang,

Aku suka rendang. Hahaha… Suka pula landskap

Sumbar pun Saluang yang mengingatkan ku

pada ranah Parahiyangan dengan Seruling

dan Kecapinya.

Meski aku ngaku, beritikad mengutarakan beberapa

nama Pekerja Kebudayaan yang senior dan yang

ku kenal sebagai guru pun teman seperjuangan

macam Joebaar Ajoeb dan Rivai Apin.

Meski aku ngaku: Iya – seketika dulu hingga detik ini

pun aku berkenalan dengan orang asal dari Sabang

hingga Merauke. Mereka yang aku nikmati

hasil kreasinya dan yang kerapkali aku

apresiasi pula adanya.

Mau contohnya?

« Syak tumpuk ! »

Silakan baca.

Antara lain

Z.Afifi.

(AKI)

 

Facebook : 18.02.2011.

 

*

 

Zainal Afif Penyair Aceh

 

SEORANG penyair asal Medan, Chalik Hamid, yang bermukim di negeri Kincir Angin menyampaikan berita duka kepada saya. Berita yang cukup mengejutkan sekaligus mengusik kenangan yang selama ini terpendam. Tentang seorang penyair yang saya kenal sejak lama : Z. Afif. Penyair Indonesia yang mengidap kecintaan luarbiasa pada daerah tanah tumpah-darahnya : Aceh.  Sedemikian rupa, sehingga untuk puterinya pun diberi nama yang kental makna kesayangan : Nyala Baceh. Nyala dari paduan  cinta Batak-Aceh.

 

« Barusan, pagi subuh jam 03.30 tanggal 28 Oktober 2004 waktu Belanda, » demikian kata Chalik Hamid mengawali surat elektronikanya, « saya menerima telepon dari Rondang Erlina Marpaung (isteri Z. Afif) yang bertempat tinggal di Sweden. Dalam pembicaraan di telepon, Rondang mengatakan bahwa :

 

« Pagi subuh jam : 02.30 waktu Sweden, tanggal 28 Oktober 2004, bertempat di salah satu rumah sakit di kota Stockholm, Z. Afif telah meninggal dunia dengan tenang. Z. Afif menderita sakit kangker di paru-paru. Di samping seorang isteri, Afif juga meninggalkan seorang puteri Nyala Baceh…. »

 

Tanggal 2 November 2004 saya terima pemberitahuan resmi dari isteri dan puteri almarhum bahwa, Zainal Afif kelahiran Lhok Sukon, Aceh Utara, 25 April 1936 dengan tenang telah mengakhiri perjalanan hidupnya di rumah sakit Huddinge, Swedia, pada tanggal 28 Oktober 2004. Pemakaman akan diselenggarakan pada hari Jumat, tanggal 19 November 2004 di S :t Botvids Kyrkogard, Huddinge.

 

Oktober dan November sungguh merupakan bulan yang sarat beragam kisah bermakna lagi bersejarah. Apakah yang menyangkut diri orang perseorangan atau rakyat dan bangsa Indonesia. Kisah kisah dengan saling kaitannya satu sama lain. Termasuk kisah kisah sementara orang Indonesia yang terpaksa menjadi pengelana buana atau menurut istilah Gus Dur sebagai « orang orang yang kelayaban » di mancanegara.

 

Kenapa ? Tak lain tak bukan lantaran pada 1 Oktober 1965 telah terjadi perubahan sikon drastis di Indonesia. Yakni terjadinya kudeta militer yang menumbangkan rezim orla Bung Karno demi tegaknya rezim orba Suharto. Sejak itu, banyak orang Indonesia yang kebetulan berada di mancanegara karena satu atau lain macam urusan  dalam aneka ragam bidang kehidupan, terpaksa tidak bisa pulang kembali ke Indonesia. Dari sekian banyaknya itu adalah kami, delegasi pengarang indonesia  yang diundang oleh Himpunan Pengarang Tiongkok untuk menghadiri perayaan nasional berdirinya RRT : 1 Oktober 1949-1965. Rencana kunjungan kebudayaan yang hanya untuk sebulan itu akhirnya berkepanjangan… !

 

Delegasi Pengarang Indonesia itu terdiri dari 5 orang yang terpilih dari beberapa asal daerah yang ketuanya adalah Aziz Akbar, « orang Padang » ; sekretarisnya Z. Afif, « orang Aceh ». Sedangkan anggota-anggotanya adalah Kusni Sulang, « orang Dayak » ; Sukaris, « orang Madura » ; dan saya sendiri, « orang Betawi ».

 

Sudah bisa diperkirakan dengan mudah, bahwasanya bagi sebagian besar generasi muda, kelima pengarang itu tidak dikenalnya. Meski apapun terjadi, dengan segala suka-duka hidup di tanah rantau yang berkepanjangan, mereka tetap eksis. Eksis sebagai insan biasa maupun sebagai seniman. Dan terutama sekali hasil kreasi mereka takkan bisa dipisah apalagi dihapuskan dari lembaran sejarah kesusastraan Indonesia. Mereka adalah bagian dari rakyat dan bangsa Indonesia, yang diperkokoh dengan hasil kreativitas sastra mereka pula. Hasil sastra pertanda kongkret pengayoman bahasa Indonesia. Apalagi orang macam Afif yang memang ahli bahasa Indonesia.

 

Seperti diketahui, Z. Afif selain sebagai penulis yang menyiarkan tulisannya di beberapa media massa cetak, juga sebagai penyiar dan tenaga pengajar bahasa Indonesia. Sebagai penyiar, dia pernah menangani siaran sastra di Radio Republik Indonesia Jakarta. Di luar negeri, pernah bertugas di pemancar radio Korea Utara dan Vietnam Utara. Sedangkan sebagai ahli bahasa, dia pernah menjadi tenaga pengajar bahasa dan sastra Indonesia di Guangzhou Institut of Foreign Languages di Kanton, China.  Dalam kesempatan itu pulalah dia menerbitkan bukunya berjudul « Sastra Indonesia, Angkatan dan Periodisasi ». Sebagai salah satu judul dari beberapa buku-bukunya yang belum kesempatan diterbitkan. Seperti « Sastra Indonesia Klasik, Apa dan Bagaimana Akronim dan Singkatan Indonesia » ; « Berkelana di Bumi Zhongguo » dan « Arus dan Darah », sebuah kumpulan sajak.

 

Selama tinggal di Eropa, seberkas tulisan Afif kami siarkan di majalah seni & sastra « Kreasi ».  Diantaranya mengisi buku kumpulan puisi berjudul « Di Negeri Orang » yang diterbitkan bersama oleh YSBI Amsterdam dan Amanah Lontar Jakarta tahun 2002. Saya manfaatkan kesempatan ini untuk menurunkan beberapa sajak-sajaknya sebagai berikut :

 

Musim Dingin

 

angin musim dingin

kering dan beku

sepiala arak maotai

belum apa-apa

mendekat ke nyala tungku

dalam luar

hangat menjalar

 

*

 

Kuil

 

merentang dawai-dawai mentari binar berbinar

juntai willow – lenggok pucuk cemara

menari-nari di bening telaga

gending bergending lonceng alit dipetik angin

iringi gaung suara berkisah zaman

nasib mereka para pereka dan pencipta

 

*

 

Rindu

 

sibayak sinabung

ale baya kunandung

bila rindu terkurung

kabar saja tiba ke kampung

 

(Dipetik dari kupuisi « Di Negeri Orang », AKI).

 

Seketika saya pun merindu. Kita merindu – seperti kerinduan Bang Afif. Seberkas kenangan membekas yang layak ditimang-timbang sayang. Semasa di Nusantara. Semasa di Mancanegara. Seperti harimau mati meninggalkan belang, nama Zainal Afif kan tergores abadi dalam lembaran sejarah kesusastraan Indonesia.***

 

 

Catatan: Naskah ini pernah disiar beberapa blog, situs, antara lain ABE-Kreasi Multiply Site.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 61 other followers