Archive for the ‘INFO’ Category


Once Again, Singapore Chokes on Indonesia’s Haze

Once Again, Singapore Chokes on Indonesia’s Haze

17 years of regional top level meetings haven’t accomplished much

It is fire season again in Indonesia, with the annual burning of rainforests to clear agricultural land bringing choking haze to neighboring countries Singapore and Malaysia and raising the specter of adding millions of tons of greenhouse gases to the atmosphere.

Non-clearing pacts with major oil palm and paper pulp suppliers including Asia Pulp & Paper appear to have done little to a cut into the problem. Jakarta under President Susilo Bambang Yudhoyono in 2011 introduced a forestry moratorium, which was renewed in May by President Joko Widodo. At that time, it was hoped that  it would put a hold on new concessions for activities such as logging and plantations. 

The moratorium appears to have done at least some good. Annual tree cover loss declined in 2013 to the lowest point in almost a decade, according to new high-resolution satellite-based maps released by Global Forest Watch, a partnership led by the World Resources Institute. From 2011-2013 Indonesia’s average tree cover loss was 1.6 million hectares per year, indicating the past decade’s surge in tree cover loss may have now plateaued.

It obviously hasn’t been enough.  According to another new study by Nature and Climate Change, “Thirty-eight percent of all tree cover loss in Indonesia occurred in primary forests, the most pristine and biodiverse of all the country’s forest land. Notably, 40 percent of this loss [within official forest areas] happened within zones that restrict forest clearing, such as national parks, protected forests, and even areas protected under the moratorium.”

With the El Nino periodic weather phenomenon expected to extend the traditional dry period from May into September, the haze is expected to be worse than usual. The ASEAN Haze Monitoring System has detected 4,763 hotspots, indicating wildfires, across Indonesia between Jan. 1 and July 23, the vast majority of them in the Kelantan rainforest on the island of Borneo. A depressing example of Indonesia’s attitude toward chocking its neighbors was given in March by Jusuf Kalla, the country’s vice president, who was quoted in the Jakarta Post as saying:  “For 11 months, they enjoyed nice air from Indonesia and they never thanked us. They have suffered because of the haze for one month and they get upset.”

In 2013, Singapore suffered its worst air pollution in 16 years, impelling Singapore Environment and Water Resources Minister Vivian Balakrishnan to say a haze-free ASEAN by 2020 – a goal unlikely to be met in any case – wasn’t good enough for Singaporeans, who have already suffered too long.

Balakrisnan made the comments at the 17th meeting of the Sub-Regional Ministerial Steering Committee (MSC) on transboundary haze pollution, an indication of how long Singapore has been complaining about the air Indonesia sends across the Strait of Malacca and the South China Sea.

According to the World Resources Institute in November 2014, Indonesia ranked sixth among the world’s top emitters of greenhouse gases – despite the fact that it has almost no industrial plant, unlike such industrial powerhouses as China (1), the United States (2) and the European Union (3). But in intensity of emissions, it ranked third.


The United Nations estimates the conversion of forests to other land uses is responsible for nearly 20 percent of net global carbon emissions, more than the entire global transportation sector and second only to the energy sector. A World Bank – UK aid report in 2007 found that Indonesian forest fires were responsible for about a third of global emissions from tropical deforestation.

Ariana Alisjahbana, Fred Stolle and Belinda Margono, writing on the World Resources Institute website, say that “Indonesia is losing primary forest at a staggering rate. The country now has the highest rate of loss in tropical primary forests in the world, overtaking Brazil. Primary tropical forests are the most carbon- and biodiversity-rich type of forest ecosystem.

From 2000 to 2012, Indonesia lost more than 6 million hectares of primary forest – an area half the size of England, according to their report. In recent years, Indonesia even surpassed Brazil in deforestation, losing almost twice as much primary forest as Brazil in 2012. Perhaps most worryingly, the new data shows that the problem is getting worse. Indonesia’s primary forest loss is increasing by an average of 47,600 hectares every year, with an increasing proportion of loss occurring in wetlands, which often results in massive greenhouse gas emissions from peat soils.

“A storm of outside pressure has gathered around Indonesia from its neighbors and the wider international community to stop the haze and help combat climate change,” according to an Aug. 18 report on the Mongabay website.  “Nevertheless, the international impetus on Indonesia to stem the burning of its forests has not abated.

“The damage from the fires, of course, is not all about regional haze and climate change. The clearing of rainforests is also destroying invaluable reserves of plants and animals. Indonesia is ranked as the fourth most biologically diverse country in the world. The protection of these forests from burning would consequently help safeguard their unique inhabitants, such as the orangutan. The Bornean orangutan (Pongo pygmaeus) is listed by the IUCN as Endangered and the Sumatran orangutan (P. abelii) Critically Endangered, due primarily to destruction of their forest habitat.

As in many cases, trying to find an equitable path through the sometimes-uneasy balance between environmental protection and development is not easy. Many forests have been felled and burned in Indonesia to open up land for palm oil plantations and to produce paper and wood products for an ever-expanding global market.

Six years ago, Indonesia enacted a moratorium banning the establishment of new commodity concessions such as oil palm and wood fiber plantations in primary forest. However, some are concerned the moratorium doesn’t go far enough, with exemptions when it comes to secondary forest and “national development” activities.

A real challenge in solving Indonesia’s regional haze-climate change conundrum lies in finding ways to avoid rainforest destruction while safeguarding the livelihoods of its citizens. At the most basic level, this involves generating profits for Indonesian people to make it worth their while not to burn forests.[]




Kemiskinan di Indonesia Berada di Kawasan Timur

Ambon – Kemiskinan di Indonesia berada di Kawasan Timur. Sebagian besar masyarakat timur mengalami tingkat kemiskinan yang tinggi, terutama di wilayah perdesaan. Hal itu diungkapkan Gubernur Maluku Said Assagaff dalam sambutannya yang dibacakan Staf Ahli Gubernur Maluku Bidang Pembangunan, Lutfi Rumbia dalam acara Rapat Koordinasi Rancangan Pedoman Pembangunan Kawasan Perdesaan Wilayah V yang berlangsung di Amaris Hotel Jalan Diponegoro Kecamatan Sirimau Kota Ambon Senin (24/8).

Rapat Koordinasi Wilayah V itu meliputi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, NTT dan NTB. Gubernur mengatakan,  pembangunan desa merupakan bagian integral dalam pembangunan nasional dan bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat di semua sektor. Pasca penetapan UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa yang bertujuan untuk percepatan pembangunan desa sesuai dengan program nawacita Presiden Joko Widodo,  yakni memulai pembangunan daerah dari wilayah pinggiran atau desa.

“Konsep ini bertujuan untuk percepatan dan peningkatan kualitas pelayanan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa,” kata Gubernur.

Menurutnya, kawasan perdesaan membutuhkan tata ruang yang sistematis untuk dibangun sebagai wilayah perkotaan dan memulai perencanaan desa yang tepat akan melahirkan desa yang maju.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Zaenal Kwarin dalam laporannya menjelaskan, tujuan pembangunan kawasan perdesaan untuk percepatan dan peningkatan kualitas pelayanan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa melalui pendekatan pembangunan partisipatif.

Kementerian Desa Daerah Tertinggal ternyata selama ini bekerjasama dengan Universitas Pattimura (Unpatti). Olehnya Rektor Unpatti, Thomas Pentury dalam sambutannya mengatakan, dengan dipilihnya Unpatti maka hal itu menjadi tanggung jawab universitas dalam menjalankan Tri Dharma pendidikan terutama pembangunan perdesaan. Pentury berharap, dengan Rakor tersebut dapat memberikan kontribusi bagi kawasan Timur Indonesia dalam mengembangkan desanya masing-masing. (S-40

– See more at:

Tuesday, 25 August 2015



Pikir Itu Pelita Hati

Ilmu Berpikir Mengubah Dunia: dari Marxisme sampai Teori Deng Xiaoping

Sekapur Sirih: Koesalah Soebagyo Toer
Sambutan: Yoseph Tugio Taher, Ibrahim Isa, Chalik Hamid

Editor: Bilven, Darwin Iskandar
Desain sampul: Herry Sutresna

Pikir Itu Pelita Hati lahir dari hasrat untuk melawan pembodohan dan pembiadaban akibat sepertiga abad berkuasanya rezim orba jenderal fasis Soeharto. Soeharto naik panggung dengan penggulingan Bung Karno lewat kebohongan demi kebohongan dan pembantaian terhadap pendukung Bung Karno, para pimpinan dan anggota PKI, serta manusia tak berdosa. Pembantaian ini adalah teror. Membenarkan teror untuk mencapai tujuan adalah kebiadaban. Di bawah kekuasaan orba, teror bersimaharajalela. Berkembang ajaran yang membenarkan teror untuk mencapai tujuan. Bangsa beradab jadi biadab. Berlangsung kebiadaban yang tak ada taranya dalam sejarah Indonesia.

Pembodohan dan pembiadaban inilah yang menyebabkan meski berlalu setengah abad tapi pelaku kebiadaban ini masih terlindung. Jutaan sanak keluarga korban didera siksaan batin. Tiada permintaan maaf dari pemerintah, apalagi pengadilan atas yang berdosa. Korban dipaksa memaafkan pembunuh, memaafkan yang biadab. Kebiadaban menyebabkan tak tahu lagi membedakan mana benar dan salah.

Pikiran berperan membimbing setiap perbuatan sadar manusia. Tak bisa berpikir adalah bodoh. Berpikir tidak manusiawi adalah biadab. Bodoh dan biadab berakar pada cara berpikir yang salah. Menanamkan kebiasaan tidak berpikir atau membiasakan berpikir salah, memelihara kebiasaan serba percaya tanpa berpikir, adalah pembodohan. Dari bodoh, manusia bisa jadi biadab. Pikir Itu Pelita Hati memaparkan perkembangan pikiran ilmiah. Intinya terpusat pada perkembangan Marxisme, membantah pandangan yang menyatakan Marxisme sudah punah.

Pikir Itu Pelita Hati

  • Penerbit : Ultimus
  • Cetakan : 1, Agu 2015
  • Pengarang: Suar Suroso
  • Halaman : xlviii + 404
  • Dimensi : 14.5 X 20.5 cm
  • ISBN : 978-602-8331-58-6
  • Availability: 10
  • Rp 110,000

Related Products

Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI

Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI

[1920—1965]   Editor: Bilven. Pengantar: Sumaun ..

Rp 125,000

Akar dan Dalang

Akar dan Dalang

Pembantaian Manusia Tak Berdosa dan Penggulingan B..

Rp 65,000

 Akar dan Dalang
Arus Filsafat

Arus Filsafat

Pengantar: Eep Saefulloh Fatah. Editor: Bilven. ..

Rp 45,000

Manifesto Partai Komunis

Manifesto Partai Komunis

Ditulis pada bulan Desember 1847 sampai Januari 18..


Wakil Ketua Komite I DPD RI, Fachrul Razi (Ist)‏Wakil Ketua Komite I DPD RI, Fachrul Razi (Ist)‏JAKARTA- Dewan Perwakilan Daerah RI (DPD RI) mempunyai fungsi dalam pengawasan dan legislasi di bidang hukum di Indonesia. Belum ditetapkannya Rancangan Undang-undang (RUU) KUHP menjadi Undang-Undang mendorong Komite I DPD RI yang membidangi masalah tersebut melakukan Rapat Dengar Pendapat dengan pakar dan ahli hukum. DPD RI melalui Komite I ingin berkontribusi dalam memperkaya substansi RUU KUHP yang saat ini sedang di bahas oleh Komisi 3 DPR dan pemerintah.

“Hukum di Indonesia masih belum menjadi panglima dalam pondasi kenegaraan tetapi politik dan uang lebih berperan,”ujar Fachrul Razi Wakil Ketua Komite I DPD RI dalam rapat dengar pendapat di Jakarta Rabu (26/8).

Ahli hukum Prof. Dr Muladi dan Prof.Dr M Arif Amrullah memberikan masukan kepada Komite I DPD RI tentang isu-isu strategis yang harus dibahas dalam RUU KUHP. Prof Muladi mengapresiasi DPD karena ingin memperkaya substansi materi RUU KUHP tersebut.

“Karakter nasional, karakter pemerintah, karakter sosial harus dijadikan salah satu parameter dalam menguji RUU tersebut” jelas muladi.

Menurut Muladi hukum pidana di Indonesia saat ini masih belum seimbang. Hukum harus memberi nilai keseimbangan antara korban dan pelaku.  Dalam Hukum harus ada unsur pencegahan agar membatasi subjek hukum dalam bertindak, kemudian hukuman bagi pelaku, dan rehabilitasi bagi korban.

Muladi menilai bahwa KUHP yang ada sekarang ini perlu dilakukan revisi karena masih buatan Belanda di jaman penjajahan yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

“Dengan alasan sosiogis, alasan kultur, alasan praktis ini kenapa KUHP ini perlu dilakukan revisi,” jelasnya.

Komite I DPD RI ingin agar dalam RUU KUHP yang akan dibahas nanti akan lebih merinci substansinya dan seimbang dalam semua aspeknya, baik pelaku dan korban. RUU KUHP ini diharapkan segera disahkan oleh DPR agar Hukum Indonesia benar-benar menjadi pedoman.

Komite I akan menggodok lebih dalam lagi tentang pasal-pasal dalam RUU KUHP nanti agar semakin kaya substansinya dan menjadi satu suara dengan DPR dan Pemerintah saat dibahas nanti.(Enrico N. Abdielli)


Muhammadiyah Semakin Heran dengan Kebijakan Jusuf Kalla

Kamis, 23 Juli 2015, 13:54 WIB

Republika/Tahta Aidilla
Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'ti.
Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti mempertanyakan tujuan dan fungsi tim pemantau pemutaran kaset-kaset masjid. Persoalan speaker dan kaset rekaman bisa diselesaikan lewat komunikasi yang baik dengan pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI).

“Statemen Pak JK akhir-akhir ini agak mengundang banyak tanda tanya. Misalnya, ketika ada masalah Tolikara, kemudian dia menyebut karena speaker,” kata Abdul Muthi kepada Republika, Kamis (23/7).

Abdul Mu’timempertanyakan tujuan dan fungsi memantau pemutaran kaset-kaset masjid tersebut. Menurut dia, pernyataan-pernyataan JK tentang speaker ini membuat umat Islam senantiasa dicurigai. Dalam kasus Tolikara pun, Mu’ti menilai permasalahannya bukan pada speaker.

Dia menambahkan kalau dikaitkan dengan adanya reaksi keras dari masyarakat, masalahnya bukan pada speaker. Mungkin saja ada persoalan menyangkut pengeras suara, Muthi memandang, faktornya lebih pada keberadaan kelompok-kelompok yang intoleran terhadap dakwah Islam. Analisis serupa diterapkan dalam kasus Tolikara.

Menurut Mu’ti, persoalan speaker itu bisa dibicarakan di internal DMI. Alih-alih terus mencurigai umat Islam, DMI harusnya mengumpulkan pengurus-pengurus masjid, kemudian melakukan komunikasi yang baik.

Mut’i melanjutkan, pemerintah juga tidak bisa menerapkan sanksi apapun kalau ada pengurus masjid yang melanggar. Terlalu berlebihan kalau ada orang dikenai sanksi lantaran speaker. Ia menyatakan, kalaupun speaker masjid menimbulkan polusi suara, acara-acara hajatan yang memperdengarkan musik sepanjang malam itu lebih prioritas untuk ditertibkan.

“Banyak faktor yang membuat persoalan dakwah menjadi tidak kondusif, bukan persoalan speaker semata-mata. Kalau speaker itu disoal, nanti lonceng gereja itu disoal tidak?” kata Mu’ti.

Pada Senin (22/7), juru bicara JK, Husain Abdullah menyebutkan bosany akan membentuk tim pemantau pemutaran kaset-kaset pengajian di masjid. JK bermaksud menghimpun fakta di lapangan untuk mengukur tingkat kebisingan suara kaset pengajian.


Kompas Cyber Media

Menko Darmin: Besarnya Dana Asing di Perekonomian RI Membuat Rupiah Rentan

Selasa, 25 Agustus 2015 | 19:08 WIB
ESTU SURYOWATI/ Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang baru saja dilantik, Rabu (12/8/2015) Darmin Nasution, tiba di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta. Darmin menyoroti perekonomian Indonesia selama ini salah karena kebijakan yang diambil didasarkan pada data-data yang tidak akurat.

JAKARTA, — Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengakui, merosotnya nilai tukar rupiah tak hanya disebabkan oleh faktor eksternal. Besarnya dana asing dalam ekonomi Indonesia juga dinilai membuat rupiah rawan goyah.

“Tidak harus persoalan yuan ini yang harus didengungkan. Rupiah sudah rentan kalau soal kurs. Ya karena terlalu besar dana asing di dalam ekonomi kita,” ujar Darmin saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Selasa (25/8/2015).

Dia menjelaskan, besarnya dana asing dalam ekonomi Indonesia bisa terlihat dari besarnya kepemilikan asing pada surat berharga negara (SBN), yaitu surat utang negara (SUN) yang mencapai 38 persen.

Tak hanya Darmin, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo juga sempat resah dengan besaran persentase asing pada SBN. Berdasarkan keterangan Agus pada April lalu, kepemilikan asing pada SBN pernah mencapai 40 persen, tetapi turun hingga 37 persen dan naik kembali ke angka 38,8 persen saat ini.

Sementara itu, angka aman kepemilikan asing pada SBN, kata Agus, ialah di bawah 30 persen. Jika dibandingkan dengan beberapa negara, persentase kepemilikan asing pada SBN di Indonesia memang terbilang tinggi.

Di India, misalnya, kepemilikan asing pada SBN hanya 7 persen, Brasil 20 persen, Korea Selatan 16 persen, dan Thailand 14 persen. Selain pada SBN, dana asing juga banyak terdapat di bursa saham Indonesia. Bahkan, kata Darmin, persentasenya mencapai 60 persen.

“Nah, kalau sebanyak itu asing, itu artinya apa? ‘Batuk’ sedikit ya keluar dia, kita goyah,” kata Darmin.

Menurut dia, meski dana asing memiliki risiko tersendiri, Indonesia tetap membutuhkan dana tersebut untuk investasi di segala bidang. Dia pun mengatakan bahwa pemerintah tidak bisa menghilangkan semua dampaknya bagi perekonomian Indonesia saat ini.

Salah satu upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang saat ini dilakukan pemerintah adalah dengan mendorong belanja, terutama belanja modal.

Selain itu, pemerintah juga mengaku akan mengundang investor untuk mengerjakan proyek besar, tetapi investasinya tidak masuk ke dalam penanaman modal asing (PMA). Alasannya, dengan PMA, dana asing di Indonesia akan manjadi lebih besar.

Penulis : Yoga Sukmana
Editor : Bambang Priyo Jatmiko

AGAMI JAWI: SEBUAH PRANATA YANG TERLUPA – Berita dan Informasi Jawa Tengah

Agami Jawi : Sebuah Pranata yang Terlupa

25 Agustus 2015 18:30 WIB l


SISTEM religi Jawa merupakan hasil olah cipta rasa karsa dan daya spiritual orang Jawa. Olah cipta rasa karsa dan daya spiritual tersebut melahirkan pemahaman adanya maha kekuatan yang murba wasesa (mengatur dan menguasai) seluruh jagad raya dan isinya. Maka lahir kesadaran hakiki tentang adanya realitas tertinggi atau sesembahan yang disebut Kang Murbeng Dumadi (sebutan lain: Kang Maha Kuwasa, Hyang Wisesa, Hyang Tunggal, dan sebagainya).

Karena dasarnya telah berwujud hasil olah cipta rasa karsa dan daya spiritual maka ada perjalanan menuju kesadaran adanya Realitas Tertinggi yang disebut Kang Murbeng Dumadi tersebut. Perjalanan menuju kesadaran adalah suatu proses penalaran yang dibarengi dengan laku kebatinan yang dalam khasanah Jawa disebut laku nawungkridha. Hasilnya berupa deskripsi Kang Murbeng Dumadi yang disebutkan sebagai “tan kena kinayangapa lan murbawasesa jagad saisine”.

Sistem budaya agami Jawi setaraf dengan sistem budaya dari agama yang dianut orang Jawa. Terdapat berbagai keyakinan, konsep, pandangan dan nilai, seperti antara lain konsep keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa/Allah, konsep keykinan akan adanya Muhammad adalah pesuruh Allah, konsep keyakinan akan adanya nabi-nabi lain. Konsep keyakinan adanya tokoh-tokoh Islam yang keramat; keyakinan adanya konsep kosmogoni tertentu tentang penciptaan alam, yakni adanya dewa-dewa tertentu yang menguasai bagian-bagian dari alam semesta; memiliki konsep-konsep tertentu tentang hidup dan kehidupan setelah kematian, yakin akan adanya makhluk-makhluk halus penjelmaan nenek moyang yang sudah meninggal, yakni adanya roh-roh penjaga; yakin adanya setan, hantu dan raksasa; dan yakin adanya kekuatan-kekuatan gaib dalam alam semesta ini.

Dari hasil kesusasteraan juga dapat ditinjau keterkaitan antara agami Jawi dengan unsur-unsur agama Islam yang ditulis oleh para pujangga keraton Mataram pada abad XVI dan abad XVIII, seperti Serat Centhini, Primbon atau Suluk. Konsep keagamaan Jawa-Bali mengenai Tuhan yang dilambangkan sebagai Dewa Ruci juga dimasukkan dalam karangan yang mengandung pandangan magis-mistik yang sangat berorientasi kepada agami Jawi seperti Serat Darmogandhul dan Serat Gatholoco.

ranggawarsitaKonsep mengenai Tuhan-Dewa Ruci juga banyak dijumpai dalam karya para puajangga keraton yang terkenal yang hidup dua abad sesudah itu, seperti Yasadipura I dan puteranya Yasadipura II, serta R.Ng. Ronggowarsito. Dalam gubahannya yang berjudul Serat Sasanasunu, Yasadipura II banyak menulis bait-bait mengenai sifat Tuhan dan mengenai hakekat dari hubungan antara Tuhan dan manusia. Demikian halnya dengan keyakinan tentang Nabi Muhammad, sistem keyakinan agama Jawi memandang Nabi Muhammad sangat dekat dengan Allah. Dalam setiap ritus dan upacara, pada waktu mengadakan pengorbanan, sajian, atau slametan, selain mengucapkan nama Allah, mereka juga mengucapkan nama Nabi Muhammad, yang dalam bahasa Jawa dinyatakan sebagai Kanjeng Nabi Muhammad Ingkang Sumare Ing Siti Medinah.

Dalam hal keyakinan terhadap tokoh-tokoh keramat, selain keyakinan terhdap dewa-dewa yang berperan sebagai pelindung manusia, agama Jawi banyak mengangkat guru-guru agama menjadi orang keramat dalam sistem keyakinan orang Jawa seperti Walisanga, tokoh penyebar Islam yang bersifat historis. Agama Jawi juga memiliki keyakinan tersendiri terhadap konsepsi penciptaan alam semesta yang dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yakni :

  1. Mite-mite yang mengandung unsur-unsur dominan Hindu-Budha.
  2. Mite-mite yang mengandung unsur-unsur sinkretik antara Agama Jawi dan Islam.
  3. Mite-mite dengan unsur magis-mistik.

Maneges : Sebuah Laku Kebatinan Jawa

Spiritualisme atau laku kebatinan berkaitan dengan pemahaman manusia akan hakekat hidupnya. Hal ini berkaitan langsung dengan sistem religi yang dipahami dan dianut. Pada sistem religi, mitologi, dan hakekat hidup Jawa, maka laku kebatinan Jawa juga sejalan dengan ketiga hal tersebut. Laku kebatinan jawa terbagi dalam tiga golongan, antara lain :

  1. Laku kebatinan sebagai bagian dari ritual panembah kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai sistem religi Jawa.
  2. Laku kebatinan yang berhubungan dengan menjaga panunggalan semesta yang berkaitan dengan mitologi Jawa.
  3. Laku kebatinan yang berhubungan dengan upaya mencapai tingkat titah utama.

Spiritualisme keberadaban manusia, selanjutnya merupakan laku kebatinan untuk mencapai derajat manusia utama yang disebut Insan Kamil  dalam khazanah lain. Laku kebatinan ini lebih mengutamakan kepada pendidikan moral yang disebut Piwulang Kautaman. Isi ajarannya tentang budi pekerti luhur yang harus dipenuhi setiap insan yang bercita-cita menjadi titah utama.

semar1Cukup luas cakupan laku spiritualisme keberadaban manusia, namun intinya adalah upaya menyelenggarakan hidup bersama yang tata tentrem kerta raharja. Termasuk dalam hal ini laku kebatinan untuk kepentingan mendapatkan berbagai daya linuwih untuk menunjang kehidupan duniawi.

Laku kebatinan juga digunakan untuk mencari pesugihan, aji-aji, gendam, jimat, pusaka, dan sebagainya. Ilmu kebatinan jenis ini dalam Wedhatama dianggap kurang baik, karena dianggap melakukan persekutuan (kekarangan) dengan bangsa gaib, sebagaimana tercantum dalam pupuh Pangkur Wedhatama pada 9 berikut,

“Kekerane ngelmu karang, kekarangan saking bangsaning gaib, iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jasad, amung aneng sajabaning dagng kulup, yen kapengok pancabaya, ubayane mbalenjani”

(Pengaruh atau andalan ngelmu karang itu berteman atau menadakan perjanjian (minta pertolongan) kepada bangsa gaib. Yang seperti itu ibaratnya hanya bedak yang tidak masuk ke jiwa raga. Tempatnya masih di luar daging. Ketika digunakan untuk menghadapi bahaya, biasanya malah jadi hambar, tidak berdaya guna)

Laku kebatinan lain yang juga dipercaya dalam spiritualitas Kejawen terdiri atas tiga tingkatan, yaitu Maneges, Semedi, dan Wiridan.

  1. Maneges adalah perilaku kebatinan yang diwujudkan dalam kegiatan bertapa di tempat-tempat sepi yang bertujuan untuk meminta “petunjuk” Tuhan. Ada yang menyebutnya sebagai Sembah Jiwa kepada Tuhan.
  2. Semedi yang istilah populernya adalah meditasi, yaitu suatu kediatan kebatinan yang memiliki tujuan untuk mencapai ketenteraman batin dan menata dayaning urip (prana jati) agar dapat diberdayakan dalam menjalani hidup.
  3. Wiridan yaitu kegiatan batin dengan membaca atau melafalkan rapal (japa mantra) yang isinya untuk berserah diri kepada Tuhan. Umumnya dilakukan dengan rutin, dengan hitungan-hitungan tertentu.

Ada banyak tatacara maneges, semadi, dan wiridan. Setiap penekunan kebatinan Jawa memiliki tatacara sendiri. Ada yang mudah dijalankan, ada yang sangat sulit, bahkan mustahil. Ada yang hanya dilakukan begitu saja tanpa syarat dan sarana apa-apa, ada yang perlu ubarampe berupa sesaji dan membakar dupa. Kesemuanya punya muara yang sama: menuju tingkat tertinggi spiritualitas manusia.

(Fadhil Nugroho/CN41/SMNetwork)


Anggota Presidium Komite Kedaulatan Rakyat (KKR) Budayawan Burhan Rosyidi (Ist)‏Anggota Presidium Komite Kedaulatan Rakyat (KKR) Budayawan Burhan Rosyidi (Ist)‏JAKARTA- Indonesia harus bisa membendung krisis moneter yang sedang berlangsung di seluruh dunia, akibat devaluasi mata uang China, Yuan saat ini. Untuk itu semua pihak pemerintah, TNI/Polri dan seluruh rakyat harus bisa segera membangun dan menjaga persatuan nasional agar bisa bertahan dari berbagai kepentingan luar yang mencoba memecah belah bangsa Indonesia. Hal ini disampaikan oleh budayawan, Burhan Rosyidi kepada di Jakarta, Rabu (26/8).

“Nah, untuk itu lah, solusi jitunya adalah senantiasa tetap menjaga keintiman diantara kita bangsa Indonesia, Pemerintah harus memulai keintiman diantara sesama pejabat negara. Jangan saling serang. Kita semua akan menjadi korban,” tegas anggota Presidium Komite Kedaulatan Rakyat (KKR) ini.

Ia mengingatkan agar Menteri Koordinator Maritim, Rizal Ramli dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyadari bahwa soliditas pemerintahan saat ini menjadi sorotan masyarakat di tengah krisis moneter saat ini.

“Kalau perlu mengevaluasi proyek, ya laksanakan saja, jangan malah ribut ihadapan rakyat. Kita butuh kepemimpinan yang kuat dan berwibawa,” ujarnya

Ia mengingatkan bahwa, krisis moneter dunia saat ini sudah tak bisa lagi dibendung dan akan terus menekan hingga menjadi krisis ekonomi yang berkekuatan mengobarkan krisis sosial.

“Yang kalau tidak segera diantisipasi, akan berdaya-rusak dahsyat terhadap peradaban,” jelasnya.

Namun menurutnya dengan persatuan nasional yang dipimpin oleh pemerintah, maka rakyat dan pemerintah, sipil dan militer akan bersatu menahan dampak dari krisis moneter saat ini di dalam negeri.

Indonesia menurutnya harus belajar banyak dari devaluasi  mata uang China yang memberikan dampak krisis moneter internasional.

“Satu hal yang lupa dilihat dalam situasi goyang dollar sekarang ini, sementara di satu pihak dollar berada di bawah kendali daulat pasar, di pihak lain mata uang China, Yuan justru dalam posisi berdaulat terhadap pasar,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa kuatnya mata uang Yuan atas pasar menunjukkan kekuatan ekonomi China dalam kepentingan ekspor ke pasal internasional.

“Sementara itu, negara-negara yang selama ini menguasai pasar, justru tidak bisa menahan gejolak moneter akibat devaluasi Yuan. Ini menunjukkan bahwa faktor negera sangat menentukan fondasi ekonomi, ketimbang pasar internasional. Inilah jaman baru yang tidak dimengerti oleh banyak pihak,” ujarnya.

Indonesia menurutnya baru saja masuk dalam era liberalisasi pasar semenjak reformasi 1998. Sebelumnya, dimasa pemerintahan  Soekarno dan Soeharto, dibawah UUD’45 yang asli negaralah yang menentukan pasar. Liberalisasi oleh kekuatan Neoliberal berhasil melucuti kekuatan negara dengan amandemen UUD’45.

“Lah sekarang bisa kita buktikan bagaiman kekuatan negara di China menghadapi kekuatan pasar liberal yang sudah rontok saat ini. Supaya tidak terlambat, sudah waktunya mungkin bangsa ini kembali ke UUD’45 untuk menghadapi zaman baru,” ujarnya (Web Warouw)


Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers