Archive for the ‘esai’ Category

Soal TKI, Pemerintah Jangan Cuma Beri Santunan

http://nasional.kompas.com/read/2012/04/25/17545530/Soal.TKI.Pemerintah.Jangan.Cuma.Beri.Santunan

 

Soal TKI, Pemerintah Jangan Cuma Beri Santunan
Sandro Gatra | Laksono Hari W | Rabu, 25 April 2012 | 17:54 WIB
:
KOMPAS/RIZA FATHONIIlustrasi

 

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah Indonesia didesak menuntaskan kasus penembakan tiga tenaga kerja asal Indonesia oleh Kepolisian Diraja Malaysia. Pemerintah diminta jangan mengulangi kesalahan terkait kasus kematian beberapa TKI sebelumnya.

“Pemerintah jangan menyelesaikan hanya dengan memberikan santunan kepada pihak keluarga karena itu tidak menyelesaikan masalah. Kasus (TKI asal) Sampang hanya diberi santunan,” kata anggota Komisi IX DPR, Rieke Dyah Pitaloka, di Gedung MPR/DPR Senayan, Jakarta, Rabu (25/4/2012).

Tiga orang TKI asal Pancor Kopong, Pringgasela Selatan, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, bernama Herman, Abdul Kadir Jaelani, dan Mad Noon tewas ditembak polisi Diraja Malaysia. Malaysia menyebut mereka melakukan penyerangan saat akan ditangkap.

Ketika dipulangkan pada 5 April 2012, pada ketiga jenazah tersebut ditemukan jahitan tidak wajar, yakni di kedua mata, dada, dan perut bagian bawah. Diduga ada organ tubuh yang diambil dari jenazah TKI tersebut.

Rieke menjelaskan, pemerintah tak mengusut penembakan tiga TKI asal Sampang. Padahal, pemerintah Malaysia sudah mengakui kesalahan terkait penembakan itu. Untuk itu, dia meminta agar pemerintah segera melakukan otopsi ulang terhadap ketiga jenazah asal NTB.

Ahli forensik RSCM Abdul Munim Idris mengatakan, meski sudah satu bulan, otopsi terhadap ketiga jenazah TKI itu masih bisa dilakukan. Menurut dia, dengan otopsi ulang dapat dipastikan apakah benar penyebab kematian seperti yang dilaporkan Malaysia serta memastikan adakah organ tubuh yang hilang. “Kasus yang di Sampang, saya yang lakukan otopsi ulang. Ternyata ada luka lain selain ditembak dan tak sesuai dengan scan yang diberikan,” kata Munim.

Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah meminta agar pemerintah Malaysia membuka ruang seluas-luasnya kepada pihak luar untuk melakukan penyelidikan. Selain itu, pemerintah Malaysia juga harus memberikan klarifikasi resmi kepada Indonesia. “Evaluasi kelambatan KBRI Kuala Lumpur terhadap kasus TKI ini!” kata Anis.

Perempuan Publik

 

Sejak zaman pra-kolonial, telah tampil tokoh-tokoh perempuan sebagai pemimpin politik dan pemerintahan di berbagai kerajaan di seantero Nusantara. Sebutlah, Ratu Sinuhun di Palembang, Dayang Lela di Kalimantan Barat, Daeng Pasuli, Adi Matanang, Siti Aisya, dan I Madina Daeng Bau dari Sulawesi Selatan, We Tanri Ole dari Ternate, Ratu Nur Ilah, Ratu Nahrasiyah, Laksamana keumalahayati, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah. Sultanah Nurul Alam, Inayat Syah, dan Kamalat Syah dari Aceh, Ratu Shima (Kalingga), Pramodhawardhani (Mataram Kuno), Tribhuwanottunggadewi (Majapahit), dan Ratu Kalinyamat (Jepara) dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, Ratu Dewata, Ratu Sakti dan Ratu Nilakendra (Pakuan) dari Jawa Barat.

Dalam gerakan ”nasionalisme purba” (archaic nationalism), yang muncul sebagai reaksi perlawanan tradisional terhadap kolonialisme secara lokal dan sporadis, tokoh perempuan juga tampil. Sebutlah nama Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia dari Aceh, Martha Christina Tiahahu dari Maluku, Nyi Ageng Serang dari Jawa Tengah.

Dalam gerakan ”nasionalisme tua” (proto-nationalism), sebagai manifestasi kesadaran emansipasi modern dalam bingkai ethno-nationalism, tokoh perempuan juga hadir. Sebutlah nama Raden Ajeng Kartini di Jawa Tengah, Raden Dewi Sartika di Jawa Barat, Maria Walanda Maramis dari Sulawesi Utara, Hajjah Rangkayo Rasuna Said dari Sumatera Barat.

Dalam gerakan ”nasionalisme modern”, sebagai manifestasi transformasi kesadaran dari ethno-nationalism menuju civic nationalism dalam bingkai kebangsaan Indonesia, tokoh perempuan juga berkiprah. Salah satu tokoh terpenting dari Sumpah Pemuda adalah Siti Soendari, perwakilan dari Poeteri Indonesia.

Siti Soendari terkenal karena komitmen kebangsaannya. Selama mengikuti Kerapatan Besar Pemuda Indonesia (KBPI) II, 28 Oktober 1928, ia belum bisa mengemukakan pandangannya dalam bahasa Indonesia. Namun, selang dua bulan sejak peristiwa itu, ia secara heroik sanggup berpidato dalam bahasa Indonesia pada Kongres Perempuan Indonesia, 22-25 Desember 1928. Dalam pidatonya, ia mengajak kaum perempuan untuk menjadi bagian dari gerakan kesadaran keindonesian.

”Sebeloem kami memoelai membitjarakan ini, patoetlah rasanja kalau kami terangkan lebih dahoeloe, mengapa kami tidak memakai bahasa Belanda atau bahasa Djawa. Boekan sekali-kali karena kami hendak merendahkan-rendahkan bahasa ini, atau mengoerang-ngoerangkan harganja. Itoe sekali-kali tidak. Tetapi barang siapa diantara toean jang mengoendjoengi kerapatan pemoeda di kota Djacatra (Betawi), jang diadakan beberapa boelan jang laloe atau setelah membatja poetoesan kerapatan jang terseboet, tentoe masih mengingat akan hasilnja, jaitu hendak berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia, hendak bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia, dan hendak mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia. Oleh karena jang terseboet inilah maka kami sebagai poetri Indonesia jang lahir di poelau Djawa jang indah ini berani memakai bahasa Indonesia dimoeka ra’jat kita ini. Boekankah kerapatan kita kerapatan Indonesia, ditimboelakan oleh poetri Indonesia dan dioentoekkan bagi seloeroeh kaoem istri dan poetri Indonesia, beserta tanah toempah darah dan bangsanja.”

Akhirnya, ketika bangsa Indonesia mulai menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan dalam rangka mewujudkan Negara Republik Indonesia, tokoh-tokoh perempuan juga turut serta. Dalam membincangkan dasar negara (Pancasila) dan rancangan konstitusi (Undang-Undang Dasar 1945) di BPUPK setidaknya ada dua wakil perempuan: Ny. Maria Ulfa Santoso dan Ny. R.S.S. Soenarjo Mangoenpoespito.

Dengan bukti-bukti yang begitu meyakinkan tentang peran publik perempuan dalam lintasan panjang sejarah Indonesia, istilah founding fathers tidaklah tepat digunakan dalam kosakata politik Indonesia. Istilah itu barangkali cocok digunakan di negara semacam Amerika Serikat, yang dalam sejarah politiknya cenderung bersifat maskulin. Hak pilih perempuan di negara tersebut baru diakui setelah Perang Dunia kedua.

Karena political correctness dalam konteks kesetaraan gender di Indonesia telah memiliki landasan historis yang kuat, maka gerakan perempuan di Indonesia mestinya tidak perlu berkiblat ke negara-negara lain. Masalahnya, Indonesia kerapkali bisa memelopori dan memulai dengan baik, namun sering tak mampu merawat dan mengembangkan warisan-warisan terbaiknya. Akibatnya, sesuatu yang semua kita rintis dalam perkembangan lebih lanjut justru kita pandang sebagai sesuatu yang asing.

Yang harus dilakukan oleh gerakan-gerakan perempuan di Tanah Air bukanlah sekadar menuntut peran dengan harapan belas-kasih kaum lelaki, melainkan membuktikan kemampuan dirinya, seperti jalan yang telah ditempuh oleh tokoh-tokoh perempuan Indonesia di masa lampau. Di dalam pembuktian diri, diskriminasi pada akhirnya akan meleleh. (Yudi Latif)

The Swedish model for economic recovery

The Swedish model for economic recovery

 

http://www.washingtonpost.com/opinions/the-swedish-model/2012/04/25/gIQA3rvvgT_story.html?wpisrc=nl_opinions

The Swedish model for economic recovery

By Robert J. Samuelson, Published: April 25

Amid all the grim economic news from Europe, it’s worth noting that there
are also some success stories. Well, of course, you say: Germany. Okay.
But there’s another conspicuous candidate, and it might seem surprising:
Sweden. To many Americans, Sweden is a bloated, inefficient welfare state.
But the reality and the stereotype don’t match.

Sweden’s job growth (as a percentage) rivals Germany’s since 2006; present
unemployment at 7.5 percent is low among advanced economies; inflation
averages about 2 percent; economic growth in the past five years slightly
exceeds Germany’s; and government debt as a share of the economy is lower
than Germany’s, according to a detailed presentation this week from Anders
Borg, Sweden’s finance minister, at the Peterson Institute for
International Economics in Washington.

What’s intriguing is that Sweden suffered its own economic crisis in
1992 — and its response will please and discomfort American liberals and
conservatives alike.

Conservatives can take heart that many post-crisis policies came right
from their playbook. Sweden’s income tax base was broadened and tax rates
were sharply reduced. (In 1996, the average marginal rate — the rate on
the last bit of income — was 46 percent; in 2010, it was 33 percent.)
Spending was cut on old-age pensions, child allowances, unemployment
benefits and housing subsidies. Union power over wages was reduced. Many
markets (banking, air travel, telecommunications, electricity production)
were deregulated. Low inflation and balanced budgets became broadly
embraced popular goals.

On the other hand, liberals will also be reassured. Although Sweden
trimmed social benefits, it hardly abandoned the welfare state. Overall
government spending is still about 50 percent of the economy (gross
domestic product), much higher than in the United States ,where the usual
ratio is about 35 percent. To reduce income tax rates, the government
raised other taxes. Gasoline and cigarette taxes were increased; so were
taxes on dividends and capital gains, hitting the rich. Altogether,
deficit reduction totaled a huge 12 percent of GDP from 1991 to 1998.
Slightly more than a third of that came from higher taxes.

The lesson, Borg argued, is that it’s possible to embrace conservative
economics and liberal social policy at the same time. The aims were clear:
to reward work by cutting income tax rates; to push people back into the
labor market by reducing some government benefits; and to promote
productivity by increasing competition. Productivity and “real”
(after-inflation) wage gains improved markedly. Still, Sweden has less
economic inequality than most advanced countries.

Can the Swedish model be applied elsewhere? It requires, Borg said, a
broad political consensus about what needs to be done. Although spending
cuts are “preferable to tax hikes,” deficit reduction should rely on both.
He also argued that Sweden has been much more successful than the United
States in controlling health spending. As recently as 1980, health
spending in both countries — as a share of GDP — was roughly equal. Now
Sweden’s spending is about half the U.S. level. Among other things, he
said, Sweden has relied on higher patient co-payments to discourage people
from overusing health services.

Unfortunately, in one crucial respect, the Swedish experience can’t be
duplicated. In the early 1990s, the rest of the world economy was
relatively healthy. Sweden could offset the depressing effects of its
domestic policies by exporting more — and that’s what happened, aided by a
huge devaluation of its currency, the krona. The devaluation made its
exports more price-competitive.

“They let it [the krona] go down by about 25 percent, and that produced an
export boom,” says economist Desmond Lachman, a former top economist at
the International Monetary Fund who has studied the Swedish crisis. “It
allowed them to do massive [budget] adjustment without putting the economy
into a deep recession.”

Austerity is more bearable when only one or a few countries embrace it and
when devaluation can stimulate exports. In Europe, neither of these
conditions now holds. Many countries — not just Greece, Ireland, Portugal,
Spain and Italy — have adopted austerity policies. And all major debtor
countries use the euro, making it impossible for any one to resort to a
unilateral devaluation. Sweden’s good fortune is that it had its crisis
two decades ago.

Read more on the European debt crisis

Five economic lessons from Sweden

David M. Smick: The euro zone’s vicious cycle

The Post’s View: Europe’s day of fiscal reckoning is at hand

Gordon Brown: Europe’s shortsighted response to a worsening fiscal reality

Robert J. Samuelson: Europe’s financial crisis never went away

Perlindungan kepada Pekerja Indonesia

Perlindungan kepada Pekerja Indonesia


 

27 April 2012 | BP

Perkembangan globalisasi memberikan segala macam dinamika dalam kehidupan internasional. Salah satu akibat dari globalisasi tersebut adalah munculnya pekerja migran lintas negara. Pekerja tersebut, tidak saja bergerak di sektor industri, manufaktur sebagai seorang ahli atau konsultan tetapi juga di sektor perkembunan dan rumah tangga. Mereka yang bekerja sebagai ahli atau konsultan, bisanya mempunyai kualitas kemampuan rasio dan otak yang lebih baik. Mereka menggunakan otak dan intelektualnya untuk bekerja di negeri orang. Termasuk juga kini dokter pun banyak yang melakukan pekerjaan lintas negara. Tetapi ada juga mereka yang menggunakan fisiknya untuk bekerja. Biasanya mereka bekerja di lingkungan rumah tangga atau di areal perkebunan.

Sebagai bagian dari komunitas internasional, banyak juga pekerja-pekerja Indonesia yang bekerja secara lintas negara. Banyak juga mereka yang bekerja dengan mengandalkan otak dan intelektualnya, akan tetapi lebih banyak lagi yang bekerja dengan menggunakan otot dan fisiknya. Meski semuanya terkategori tenaga kerja Indonesia (TKI), akan tetapi sering kali yang disebut TKI itu dikonotasikan kepada mereka yang bekerja dengan menggunakan otot dan fisik. Puluhan juta TKI yang bergerak di sektor rumah tangga itu bekerja bertebaran di negara-negara kaya di luar negeri, di antaranya Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Taiwan, Singapura dan Malaysia. Inilah negara-negara yang paling banyak menjadi daerah tujuan bekerja dari para TKI kita.

Tidak adanya lowongan pekerjaan di tanah air adalah penyebab utama dari mereka bekerja di negara lain. Pemerintah kita sangat menghargai peran mereka dalam menggerakkan perekonomian negara. Triliunan rupiah datang setiap tahun devisa dari para TKI. Karena itulah pemerintah menyebutnya sebagai pahlawan devisa karena mampu menyelamatkan perekonomian negara. Kalau dilihat dari perjalanan ekonomi negara sekarang, dan coba dibandingkan dengan perkembangan jumlah penduduk Indonesia, tampaknya kita tidak bisa mengelak dari fenomena ini. Artinya tetap jutaan masyarakat kita akan mengandalkan negara luar sebagai tempat pencarian kerja. Di Bali, apalagi, bekerja di kapal pesiar seolah telah menjadi begitu dikenal di masyarakat.

Melalui pekerjaan seperti ini mereka mampu menyiasati masalah-masalah sosial dan pekerjaan yang dihadapinya. Misalnya, tidak dicap sebagai seorang pengangguran di umur 40 tahun. Karena itulah tidak bisa lain pemerintah kita harus melakukan perlindungan sebaik-baiknya kepada para TKI ini. Bagaimana pun mereka adalah warga negara Indonesia yang karena keadaan harus bekerja jauh dari keluarganya. Perlindungan yang kita maksudkan itu tentu saja tidak sebatas dalam keamanan fisik tetapi jauh dari itu. Hal paling awal adalah perlindungan dirinya sendiri ketika bekerja. Ini bisa dilakukan dengan cara membekali ilmu dan keterampilan yang lebih baik kepada pekerja. Ilmu itu termasuk ilmu tentang pekerjaannya serta norma-norma baik yang ada di tempatnya bekerja maupun daerah asal. Pemahaman terhadap norma ini sangat penting karena dengan cara itulah para TKI kita mengetahui tata tertib setempat dan cara untuk melakukan pekerjaannya. Pemerintah tidak boleh memandang remeh masalah pemahaman norma ini karena para TKI kita pendidikannya masih kebanyakan standar sekolah menengah, dan justru karena itu pemahaman akan norma tersebut penting karena mereka bekerja di luar Negara kita yang mempunyai bahasa dan kebiasaan yang berbeda.

Perlindungan lain tentu bisa dilakukan lewat sikap tanggap pemerintah. Karena begitu banyaknya TKI kita di luar negeri, tanggapan pemerintah harus dilakukan secepatnya jika ada masalah-masalah yang menimpa para pekerja itu. Kita sering kecewa akan sikap ini. Misalnya, masyarakat di tanah air baru tahu ada TKI yang tewas setelah kejadiannya berlangsung berminggu-minggu. Atau tiba-tiba saja TKI kita menghadapi pengadilan tanpa adanya pembela yang layak, atau malah telah dihukum cambuk, dihukum gantung dan sebagainya. Inilah yang harus banyak mendapat perhatian dari pemerintah. Kita mengingatkan hal ini agar para pekerja kita merasa nyaman bekerja jauh dari lingkungan keluarga.

 

Sindrom “Penyakit Belanda”

Sindrom “Penyakit Belanda”

Refl Sunny <ambon@tele2.se> : Siapa berkuasa dialah yang menentukan politik ekonomi negara! Jika
“penyakit Belanda” dipraktekan pada zaman Hindia Belanda, maka zaman tidak
berobah, hanya bendera merah putih biru hilang warna birunya.

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=38038

SABTU, 27 April 2012 |

Sindrom “Penyakit Belanda”
Muhammad Syarkawi Rauf, (Regional Chief Economist BNI/Kepala Lembaga
Pengkajian Ekonomi dan Bisnis Fakultas Ekonomi Unhas)

“Penyakit Belanda” atau “Dutch Deseas” adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan eksploitasi sumber daya alam (SDA) secara besar-besaran,
khususnya tambang yang tidak diikuti oleh berkembangnya sektor manufaktur.

Tambang migas dan non migas mengalami over exploitation tanpa diikuti
berkembangnya sektor industri di suatu negara atau daerah.

Sindrom “penyakit Belanda” banyak ditemukan dalam kasus eksplotasi SDA di
luar Jawa, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Daerah
yang mengalami eksploitasi tambang paling parah adalah Kalsel dengan batu
bara-nya, Kaltim dengan gas dan batu bara, Papua dengan tambang
tembaganya, dan Sulsel dengan nikel-nya.

Tidak bisa dipungkiri, sekitar 70 persen output perekonomian Papua
disumbangkan oleh hanya satu perusahaan pertambangan, yaitu PT Freeport.
Sementara kontribusi industri pengolahan masih relatif kecil atau bahkan
mengalami deteorisasi. Pertumbuhan sektor pertambangan jauh lebih besar
dibandingkan sektor industri pengolahan berbasis pertanian (agroindustry).

Demikian juga dengan Sulawesi, khususnya Sulsel dan Sultra yang
mengandalkan komoditas pertambangan nikel. Perusahaan nikel terbesar di
Sulsel adalah PT Inco dengan konsesi lahan yang sangat luas dan berjangka
panjang. Ekspor utama Sulsel ke sejumlah negara dalam beberapa tahun
terakhir sangat bergantung pada satu komoditas saja, yaitu nikel.

Perekonomian Sulsel belum juga bergerak ke resources based industry
(industri berbasis SDA). Secara sektoral perekonomian Sulsel masih sangat
didominasi oleh sektor perdagangan dan pertanian. Sektor industri
pengolahan masih tercecer di belakang dan bahkan mengalami proses
pelambatan dengan pertumbuhan yang lebih kecil dibanding sektor lainnya.

Kecenderungan yang lebih parah lagi terjadi di Kaltim, yaitu eksploitasi
tambang besar-besaran hanya menyisakan problem lingkungan yang serius.
Banyak yang memprediksi bahwa suatu saat Kaltim akan menjadi daerah miskin
ketika rezeki migas sudah mulai menipis. Pemerintah lalai atau alpa dalam
menggerakkan sektor industri manufakturnya.

Luar Jawa Berkembang?
Fenomena deindustrialisasi terjadi secara nasional. Hampir semua daerah
mengalami kemunduran dalam sektor industri pengolahannya. Pertumbuhan
sektor industri melambat karena dunia usaha lebih senang mengimpor barang
jadi dibanding memproduksi sendiri di dalam negeri. Ditambah lagi produsen
yang lebih senang menjual komoditas pertanian dan pertambangan gelondongan
dibanding memberikan nilai tambah tinggi.

Di tengah proses deindustrialisasi terdapat berita gembira karena pada
kwartal pertama 2012 realisasi investasi mengalami peningkatan secara year
on year (yoy). Tidak hanya itu, kecenderungan positif juga terjadi karena
distribusi investasi sudah lebih merata antara Jawa dengan luar Jawa.

Saat ini, dari sekitar Rp71,0 triliun realisasi investasi secara nasional,
sekitar Rp33,60 triliun atau sekitar 47,20 persen terdapat di luar Jawa.
Sisanya sekitar 51,80 persen terdapat di pulau Jawa. Meskipun Jawa masih
sangat dominan tetapi kecenderungan seperti ini seharusnya dapat menjadi
signal positif untuk segera merelokasi industri ke luar Jawa.

Namun jika data-data investasi dipelototi secara lebih detail lagi,
ternyata realisasi investasi terbesar di luar Jawa didominasi sektor
pertambangan dan perkebunan. Kedua jenis invesatsi ini terkonsentrasi di
Sumatera yang menyerap sekitar Rp12,10 triliun atau sekitar 17 persen.
Investasi ke Sulawesi hanya sekitar Rp5,2 triliun, dan yang terkecil
adalah Maluku–Papua yang hanya sekitar Rp0,7 triliun.

Pertumbuhan investasi yang tinggi bukan sebagai prestasi pemerintah karena
tidak sesuai rencana pemerintah sendiri yang akan menggerakkan sektor
industri pengolahan. Kecenderungan ini juga bertentangan program
pemerintah yang akan mempercepat relokasi industri ke luar Jawa.

Fenomena di atas juga bertentangan dengan semangat Master Plan Percepatan
dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang berorientasi pada
nilai tambah. Investasi sektor pertambangan dan perkebunan di luar Jawa
tidak sejalan dengan doktrin MP3EI yang menganut prinsip pertumbuhan yang
digerakkan oleh inovasi (innovation driven economy).

Jalan Keluar
Aliran investasi ke sektor pertambangan dan perkebunan di luar Jawa dan ke
sektor industri ke pulau Jawa akan membuat program pemerintah mengalami
kegagalan, khususnya terkait komitmen mempercepat proses industrialisasi
di luar Jawa. Sulit merealisasikan rencana pemerintah untuk menempatkan
Jawa hanya sebagai innovation centre atau pusat R dan D.

Pola penyebaran investasi baik investasi dalam negeri maupun foreign
direct investment (FDI) semakin memperkuat sindrom “penyakit Belanda” di
Indonesia. Di mana sekitar Rp21,50 triliun realisasi investasi ke KTI
hanya terkonsentrasi di sektor pertambangan. Sulawesi yang kebagian Rp5,1
triliun juga didominasi investasi pertambangan.

Idealnya, investasi ke luar Jawa diarahkan pada infrastruktur dasar dan
resources based industry. Pemerintah bisa mengendalikannya secara langsung
tidak hanya dengan membuat aturan mengenai bea keluar ekspor SDA non
olahan yang tinggi. Pengendalian bisa dimulai dari sejak awal penerbitan
izin investasinya, yaitu memprioritaskan izin investasi yang disertai oleh
industri pengolahannya di luar Jawa, khususnya KTI.

Jalan keluarnya adalah hilirisasi komoditas utama di setiap pulau atau
merujuk pada MP3EI pada setiap koridor ekonomi. Hilirisasi adalah kegiatan
mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi yang langsung bisa dijual ke end
user atau konsumen akhir. Pemerintah tidak boleh hanya berada pada rantai
produksi dengan nilai tambah rendah, seperti produk intermediate.

Hilirisasi komoditas utama nasional juga harus berhati-hati. Pembangunan
yang terlalu berorientasi pada nilai tambah dapat melahirkan masalah baru,
khususnya yang terkait ownership dari industrinya. Sebab tidak ada gunanya
pemerintah ngotot membangun industri, misalnya pengolahan nikel tetapi
mematikan pengusaha nikel lokal.

Peralihan ownership akan berdampak negatif jika pada akhirnya industri
pengolahan SDA dimiliki asing. Perusahaan pertambangan asing lebih mampu
berinvestasi di industri pengolahan nikelnya dan juga komoditas strategis
lainnya. Akhirnya, tidak ada gunanya jika usaha pemerintah menghindari
jebakan “penyakit Belanda” hanya membuat usaha kecil kehilangan
kepemilikan. Di sinilah seninya memerintah. Semoga sukses. (*)

Pemerintah Lembek Sikapi Kematian TKI

Refl  Sunny <ambon@tele2.se>:   Harus lembek agar dompet oknom-oknom pemerintah selalu diisi fulus
hasil keringat dan airmata TKI.

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/04/28/316056/265/114/Pemerintah-Lembek-Sikapi-Kematian-TKI

Pemerintah Lembek Sikapi Kematian TKI

Sabtu, 28 April 2012 00:00 WIB HASIL resmi autopsi ulang tiga jasad
tenaga kerja Indonesia (TKI) yang ditembak di Malaysia menyatakan dugaan
adanya sejumlah organ hilang dari tubuh ketiga TKI tidak terbukti. Seluruh
organ tubuh dinyatakan masih utuh. Meski demikian, pemerintah didesak
tetap meminta pertanggungjawaban Malaysia atas insiden penembakan warga
negara Indonesia itu.

Direktur Migrant Care Anis Hidayah menilai pemerintah bersikap terlalu
lembek terhadap Malaysia. Menurut dia, kematian tiga TKI di Malaysia harus
menjadi momentum untuk mengkaji ulang hubungan diplomatik dengan Malaysia.

“Ini akibat bentuk politik SBY yang membela negeri serumpun dan hubungan
diplomatik. Slogan pemerintah kan jangan sampai masalah TKI mengganggu
hubungan diplomatik dua negara. Harusnya satu nyawa pun tidak boleh
diabaikan demi diplomasi,” tegas Anis, kemarin.

Migrant Care mendokumentasikan setidaknya ada 700 kematian TKI per tahun.
Kasus kematian di Malaysia tercatat paling banyak, paralel dengan jumlah
TKI di negeri jiran tersebut.

Karena itu, pemerintah perlu menunjukkan sikap tegas yang akan memberikan
posisi tawar lebih kepada Indonesia untuk bisa memutuskan kerja sama dan
memberikan tekanan politik kepada Malaysia.

Ketua Komisi IX DPR Ribka Tjiptaning meminta pemerintah Indonesia segera
membuat nota protes kepada pemerintah Malaysia. Ribka juga sepakat jika
kasus penembakan TKI itu dibawa ke pengadilan internasional.

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia
Kementerian Luar Negeri Tatang Razak mengatakan pemerintah tetap menagih
Malaysia untuk melakukan investigasi menyeluruh. Apalagi Malaysia
dipandang telah melanggar Konvensi Wina 1961 mengenai hubungan diplomatik
terkait dengan kelambatan memberi informasi kematian WNI. Etikanya, begitu
ada warga asing meninggal, pemerintah setempat memberi kabar kepada
perwakilan negara yang bersangkutan.(IF/*/Ant/HZ/X-9)

AMIN Rais Harus Diwaspadai

Refleksi: AMIN Rais Harus Diwaspadai!!!

roeslan <roeslan12@googlemail.com>,in:  nasional-list@yahoogroups.com,Sunday, 29 April 2012, 1:03

Dari dulu sampai sekarang saya berpendapat bahwa di Indoneisa tidak pernah ada reformasi, yang ada hanyalah taktik pemunduran strategis dari rezim otoriterisme militer pimpinan jendral TNI AD Soeharto. Pemunduran strategis tersebut didukung oleh para elite-elite politik yang konyol, yang mengklaim dirinya sebagai orang-orang reformis, yang dipimpin oleh seorang oportulis tulen dan antek neoliberal, yang bernama Amin Rais.  Dampaknya adalah, terjadilah kehancuran NKRI secara sistemik; yang dimulai sejak Amin Rais sebagai ketua MPR diera “reformasi“, yang secara paksa mengetokan palu pimpinannya;  hanya berdasarkan pada emosi yang membuta terhadap kepentingan kaum kapitalis neoliberal pimpinan AS, maka para elite politik konyol bangsa ini telah memutuskan untuk mengamandemen UUD 45 naskah asli, dampaknya adalah: Menyimpan bahaya besar bagi masa depan bangsa dan negara!!!

Sekarang ini kita telah menyaksikan bahwa sebenarnya di Indonesia sama sekali belum pernah ada apa yang dinamakan reformasi, yang ada hanyalah pemunduran strtegis dimana Golkar, telah menyebarkan sayapnya menyusup kesemua partai politik, dan juga elemen-elemen pendukung setia orde baru seperti ICMI/HMI, telah mendominasi DPR dengan cara menyusup ke partai-partai politik seperti misalnya dalam fraksi PDIP ( 7 elemen HMI), F. GOLKAR (36 elemen HMI/ICMI), F.PPP (19 elemen HMI), F REFORMSI (27 elemen HMI) dan PKB (2 elemen HMI). (HMI Conection, sebaran dari aktivis mahasiswa Surabaya-Jakarta Mart 2001).

Demikianlan barisan pendukung Orde baru yang aktif dalam gerakan pemunduran strategis rezim militer fasis Soeharto ( yang lazim disebut orde baru itu). Dan disinilah peranan besar Amin Rais sebagai keua MPR yang telah berhasil merobek-robek UUD 45 naskah asli, yang antara lain sebagi berikut:

1. UUD 1945 yang disusun oleh para konseptor Kemerdekaan RI berdasarkan nilai- nilai sosial budaya yang dimiliki bangsa Indonesia berazaskan DEMOKRASI- MUFAKAT dalam negara yang berediologi Panca Sila, oleh  para elite  politik bangsa Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai orang-orang yang reformis, melalui MPR pimpinan Amin Rais, telah DIROMBAK (baca: diamandemen), sehingga menimbulkan dampak sistemik, yang termanifestasikan dalam keadaan dimana  NKRI didesak untuk mengkhianati UUD 45 asli dan Pancasila 1 Juni 1945, mengganti dengan ajaran Niccolo Machiaveli, dan selanjutnya meniru konsep politik USA yang menganut system perwakilan BIKAMERAL ( SENAT dan Congress ).

2.Pemilihan Presiden dan walik Presiden yang menurut UUD 45 naskah asli Pasal 6 ayat (2) yang mengatakan: Presiden dan wakil Presiden dipilih oleh Mejelis Premusyawaratan Rakyat (MPR) dengan suara yang terbanyak, diganti dengan pemilihan gaya   Amerika berupa pemilihan langsung baik untuk LEGISLATIF (parlemen)  maupun EKSKUTIF (pilihan Lurah, Camat, Bupati, Walikota, Gubernur sampai Presiden). Tanpa memperhatikan dampak-dampak sistemik yang akan terjadi pada pelaksanaan pemilihan Presiden secara langsung. Dampak dari pemilihan Prsiden secara langsung kini terlihat jelas dalam pelaksanaan Demokrasi yang berdasarkan musyawarah dan mufakat dirubah menjadi Voting yang berdasarkan pada UUD (Ujung-Ujungnya Duit).

3.Demokrasi di Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila 1 Juni 1945, setelah di adakan amandemen UUD 45 berubah menjadi  Demokrasi-liberal, yang mengikuti jejaknya  sistem demokrasi-neoliberalisme.  Sistem neoliberal yang mendambakan globlisasi secara menyeluruh telah di ikuti oleh pemerintah SBY yang dipilih secara langsung. Ini tercermin dalam kebijakkan-kebijakannya yang meliputi disegala bidang perekonomian,  masalah yang menonjol misalnya masalah import beras yang menyengsarakan kaum tani, dibidang sumber daya alam , misalnya emas, perak ,tembaga, uran sampai pada minyak bumi telah dijual atau digadaikan pada pihak asing demi keuntungannya para pemodal asing yaitu negara-negara kapitalis neoliberalisme.  Boleh dikata bahwa hampir semua aset-aset negara (BUMN) telah dijual habis. Sehingga kehidupan negara tergantung pada utang luarnegeri dan modal asing.  Inilah dampak sistemik dari amademen UUD 45. Yang saat ini dimotori oleh Partai Demokrat (PD) dibawah bimbingan Presiden SBY.

4.MPR yang oleh UUD 45 asli, justru ditempatkan menjadi ‘SUPER BODY” atau LEMBAGA TERTINGGI NEGARA yang bisa mengangkat dan memberhentikan Presiden, meminta pertanggungan jawab Presiden apa program pembangunan bangsa dan negara sudah dilaksanakan sesuai GARIS BESAR HALUAN NEGARA (GBHN) atau tidak, sudah tidak ada lagi!!!.  Sistem Konstitusionil telah diamandemen menjadi sistem absolutisme, sehingga bermunculanlah  1001 macam skandal yang sangat menonjol sekarang ini adalah: Skandal Bank Century dan korupsi kakap dari para kader PD.

 

5.Ukuran untuk menilai Presiden gagal atau berhasil sudah tidak ada lagi, karena MPR tidak berfungsi seperti UUD 45 yang asli, maka GBHN diganti dengan JANJI-JANJI KOSONG KAMPANYE PILPRES  yang tidak tertulis ! Dan Presiden mempunyai kekuasaan absolut, karena sudah tidak ada lagi “SUPER BODY” yang bisa  menghentikan Presiden atau meminta peratanggunagn jawab Presiden. dampaknya adalah terjadinya pelecehan UUD 45 oleh perisiden (baca: SBY) ,yang termanifestasikan dalam Perpu No.4 Tahun 2008 yang ditetapkan pada tanggal 15 Oktober 2008 oleh Presiden SBY, khususnya Pasal 27 (ayat 1) yang memberikan kekebalan hukum kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani dan mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono dalam mengambil kebijakan atas JPSK. Yang berdampak terjadinya skandal Bank Century. Dalam konteks ini saya berpendapat bahwa terjadinya skandal Bank Century tidak dapat dimengerti secara terpisah dari kebijakkan Presiden SBY (Perpu N0.4 -15 Oktober 2008), Gubernur BI dan Mentri keuangan Sri Mulyani

 

Dan masih banyak lagi dampak-damlak sistemik yang lainnya setalah UUD 45 asli di obrak-abrik oleh mantan ketua MPR Amin Rais. Semua yang ditulis diatas adalah merupakan hasil karya yang menunjukkan kesetiyaan yang membuta dari Amin Rais kepada tuannya, yaitu kelompok Globalisasi kapitalis Neoliberal pimpinan AS.

Seruan Amin Rais yang mengatakan : sebaiknya tokoh-tokoh tua tak usah lagi mencalonkan diri menjadi presiden tahun 2014, adalah merupakan tipumuslihat yang sangat licik, yang Ujung-Ujungnya untuk melestarikan kekuasaan kapitalis Neoliberal pimpinan AS di Indonesia, yang akan  diganti oleh partai PAN, yang sudah direncanakan oleh tuannya (baca : imperialisme AS) untuk mengantikan PD, yang namanya sudah babak belur gara-gara korupsi besar yang telah menimpa para kadernya.

Roeslan.

Von: GELORA45@yahoogroups.com [mailto:GELORA45@yahoogroups.com] Im Auftrag von indra wijaya
Gesendet: Samstag, 28. April 2012 14:45
An: GELORA45@yahoogroups.com
Cc: sastra pembebasan
Betreff: Re: [GELORA45] Ikrar: Amien Rais Kayak Enggak Pernah Belajar di AS

Siapa Amin Rais ?

Bacalah tulisan dibawah ini

INDAHNYA BEGAWAN POLITIK SOEHARTO DALAM MENAKLUKAN REFORMASI

Reformasi palsu  

Ketika terjadi reformasi, Suharto dengan tenang, aman, nyaman dan tentram tetap bercengkerama di jl. Cendana bersama anak cucunya, ini sungguh luar biasa! Para politisi dan profesor dari Luar Negeri sampai tidak habis herannya, mereka meminta bangsa Indonesia untuk secara cerdas, kritis dan analitis untuk mendalami hal ini mengingat fakta sejarah didunia mengatakan bahwa jatuhnya rezim diktator atau koruptor selalu dibarengi dengan lima faktor reformasi sbb.:

a) kaburnya penguasa ke luar negeri atau terbunuh

b) partai pendukung utamanya dibubarkan

c) militer kembali ke barak

d) ada repatriasi/pengembalian harta rampokan presiden, keluarga, dan kroninya kepada negara.

e) terjadi pergantian regim: baik manusianya, sistemnya, dan perangkat organisasinya

Marilah kita simak reformasi palsu yang terjadi di Indonesia berdasar fakta diatas:

a) Soeharto dkk. tetap aman dan tentram di istananya, jl. Cendana

b) Partai GOLKAR tetap jaya raya hingga kini, dan semua perangkat organisasi penting regim ORBA untuk politisasi praktis tak tersentuh, seperti: MUI, KORPRI, Dharma Wanita, dst.

c) Militer tetap rajin berpolitik bahkan menyusupi hampir setiap partai politik, bisnis TNI/POLRI yang menghancurkan ekonomi bangsa tetap sulit dibrantas. Mereka juga masih mendominasi birokrasi dan mass media informasi.

d) Harta rampokan regim Soeharto masih parkir dengan aman di bank2 luar negeri (saran: bacalah buku “Korupsi Kepresidenan” Karya George Adi Tjondro yang luar biasa bagus). Harta rampokan ini, ratusan trilyun rupiah, adalah modal yang baik untuk money politics dan untuk membeayai berbagai kekacauan di bumi nusantara.

e) Soeharto justru diperkenankan menunjuk Habibie sebagai penggantinya (mana ada di negara lain, diktator direformasi dibolehkan menunjuk pengganti ?).

Penunjukan Habibie merupakan titik balik sejarah dan awal dari segala mala petaka bangsa Indonesia. Kelima point ini terjadi dikarenakan kepiawaian regim Soeharto dalam menyusupi gerakan reformasi, salah satu pimpinan reformasi adalah kader sejati Soeharto yang telah lama dipersiapkan dan sengaja diselundupkan, maka jadilah reformasi palsu seperti kita alami ini. Persamaan mathematik reformasi di Indonesia sungguh kayal dan irasional, persamaan itu adalah: Orde Reformasi = Orde Baru cukup dikurangi satu Soeharto saja! Regim ORBA adalah ibarat rangkaian seratus gerbong kereta api Argo Bromo, kemudian melalui reformasi semu, yang turun baru satu masinis saja, yaitu Soeharto, sedangkan penumpang lainnya masih mendominasi semua gerbong. Regim Orba minus Soeharto masih mendominasi tatanan bisnis, birokrasi dan perpolitikan di Indonesia (terutama oknum petinggi militer/polri dan Golkar). Model persamaan matematik tidak logis ala Indonesia, telah menjadi bahan lelucon politik internasional yang disebut: “Mati Ketawa Ala Indonesia”. Mana ada suatu kantor yang bejat dan korup dapat berubah baik hanya karena ganti satu orang saja, yaitu kepala kantornya? Lalu siapakah tokoh reformasi palsu yang diselundupkan regim Soeharto ini? Megawati? Gus Dur? Ataukah Amien Rais? Saat artikel ini dibahas dan ditulis (Maret 2007), kekuatan regim bablasan (penerus) Orba sudah kembali sehat, kuat dan sejahtera. Jadi, masyarakat mohon sadar akan serangkaian pemalsuan sbb: sejarah 1965 dipalsukan, Supersemar dipalsukan, sejarah serangan umum di Yogya dipalsukan, reformasi dipalsukan, BPPN dipalsukan justru untuk menyelamatkan regimnya, data2 statistik negara dipalsukan demi justifikasi kebijaksanaan pemerintah, dan masih banyak kepalsuan ciptaannya, inilah “INDAHNYA BEGAWAN POLITIK SOEHARTO DALAM MEMPERDAYAI BANGSANYA”.

Berkelit dari himpitan USA dan kaum reformis

Pada sekitar tahun 1990 an, Soeharto menyadari kesalahan bahwa ia telah hampir 30 tahun menggadaikan bangsanya ketangan USA dkk. Seperti Sadam Husein dan Osama Bin Laden yang berbelok 180 derajat dari boneka menjadi musuh USA. Disamping itu, Regim Soeharto (regim Orba, regim militer) sudah terdesak oleh kaum reformis (cendekiawan kampus). Cara teraman dari tekanan USA dan kaum reformis adalah menggunakan politisasi agama terutama politisasi Islam sebagai agama mayoritas. USA, yang dipenuhi pemenang hadiah Nobel dan orang Yahudi yang cerdas, menyadari strategi Soeharto. Maka digunakanlah alat internet untuk menembus dominasi mass media dalam negeri Indonesia yang dikuasai regim ORBA; antara lain dibuatlah web site Apa Kabar yang dikelola John McDougall dari Maryland USA. Ingat, s/d sekarang musuh paling ditakuti oleh setiap regim militer/diktator diberbagai negara adalah internet, mengingat internet tidak bisa dikontrol. Melalui web site ini, para cerdas-cendekia di Indonesia dicerahkan dan disadarkan tentang berbagai strategi Soeharto untuk berkuasa selama 30 tahunan. Artikel berbobot itu silih berganti muncul dan berasal dari para pakar politik tentang Indonesia, misal: Ben Anderson, Wiliam Lidle, Jeffry Winters, Harould Crouch, Gus Dur, Arief Budiman, M. Prabot Tinggi, George Adi Condro, Budiman Sudjatmiko, dst. Berkat artikel berbobot ini, maka percepatan reformasi terjadi dengan pesat sekali. Setelah selesai mempersiapkan manusianya, maka jago pakar politik keuangan USA dengan cerdik meluluh lantakan regim Soeharto (yang dianggap telah membangkang USA) dengan cukup membanting nilai tukar rupiah, puncaknya: 1 $ = Rp. 16.000,-. Hancurlah regim Soeharto, namun ia tetap dengan lihai tuk menyelamatkan diri! Setelah regim Soeharto runtuh, media internet Apa Kabar pun dihentikan dengan alasan kekurangan biaya dan man power. Sungguh licik dan hebooaaat ya para politisi sekaliber pemenang Nobel di USA dalam menggulung regim didikannya yang membangkang! Walau gagal melepaskan diri dari USA dkk., berkat politisasi agama, regim Soeharto memang selamat dari reformasi; namun dengan ongkos bangsa yang besar sekali, yaitu berupa hasil sampingan: Indonesia saat ini masuk sekaligus dua mulut: harimau dan buaya! Dengan strategi save exit ini, Indonesia seolah-olah ingin dilepaskan dari mulut harimau (USA dkk.), namun hendak dimasukan ke mulut buaya (Arab/Timur Tengah). Indonesia s/d saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran ideologi antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. Sedangkan antara tahun 1960 s/d 1965 Indonesia menjadi ajang pertempuran antara kapitalis (USA) lawan komunis (Rusia, China). Pada dasarnya, Indonesia tak pernah merdeka, ia terus dibawah kekuasaan asing atau sekedar jadi ajang pertempuran ideologi besar dunia atau penjajahan ekonomi.

 

 Jurus indah reformasi palsu regim Soeharto

Begawan Politik Soeharto sungguh sulit dicari tandingannya dalam mengerjain (mempermainkan) bangsanya sendiri secara amat sangat licik. Senjata utama beliau bersama regim adalah: susupi dan tunggangi lawan, tipulah dan bodohilah bangsamu – kalau menipu jangan tanggung-tanggung (maling teriak maling) bahkan kalau bisa, tipulah Tuhanmu melalui politisasi agama, kedua kuasailah media informasi negara, ketiga buatlah jaringan politik/mafia preman dari Sabang s/d Merauke, keempat gunakan bunga uang hasil merampok negara (yang tersimpan aman dan rapi di luar negri) untuk money politics, keempat kuasailah militer dan polisinya . Berikut ini dijelaskan secara detail jurus politisasi agama dan money politics regim Soeharto (Orba):

– Dijaman Soeharto (Orba): agama diperalat untuk menggaet suara pemilih disaat Pemilu, misalnya saja penyalahgunaan dai Zainudin MZ yang sengaja sering ditampilkan di TV, kemudian sengaja digelari “Dai Sejuta Umat” agar rakyat mudah terpikat. Jurus ini disebut “politik kambing putih”. Setelah populer, dai ini dibawa safari Ramadhan oleh menteri Harmoko untuk menipu rakyat demi kemenangan GOLKAR. Memenangkan suara pemilu suatu daerah diuamakan melalui para ulamannya. Semenjak regim ORBA s/d saat ini para kyai dan ulama terus diperebutkan oleh politikus untuk menjadi sekedar alat politik. Oleh regim Suharto, para ulama busuk ini dibuatkan wadah yang dinamai MUI. Oleh orang bijak, kata MUI lebih tepat kalau diterjemahkan sebagai Majelis Ulama Istana (atau alat penguasa). Sampai dengan saat ini MUI diberikan income yang sangat besar sekali yaitu melalui labelisasi halal/haram semua makanan (semestinya Badan POM). Sebagai pembanding, Probo Sutejo, paman Soeharto, berawal dari guru SMA, diberikan kekuasaan labelisasi cengkeh, maka jadilah ia trilyuner; Probo mampu menyuap Rp. 16 milyar ke pada hakim agung di MA! Apalagi labelisasi halal-haramnya makanan! Saat ini adalah sulit untuk membedakan antara ceramah agama dan ceramah politik seorang ulama. Baru Gus Dur saja (saat itu sebagai presiden) yang berani memarahi para ulama di MUI, dan saat itupun disiarkan secara langsung di TVRI! Gus Dur menandaskan bahwa para ulama ini adalah para pengejar harta dan kekuasaan.

– Ketika regim militer sudah terdesak oleh kaum intelektual kampus, maka Habibie bersama para Jendral (Hartono, Ahmad Tirtosudiro, mbak Tutut, dsb.) mendirikan ICMI di Universitas Brawijaya Malang guna menarik simpati dan mengelabui kaum intelektual. ICMI menjadi begitu populer saat itu, lalu dibuat policy bahwa masuk ICMI adalah kunci jabatan birokrasi yang tinggi. Tak heran, saat itu, banyak Profesor dan Doktor terpikat masuk ICMI terbius tuk menduduki jabatan birokratis yang tinggi. Hal ini paling tidak menandakan adanya: kebutaan politik dan tingginya napsu manusiawi (harta dan kedudukan) para ilmuwan Muslim. Disini agama dipakai untuk menjaring, membius dan mengelabui cendekiawannya sendiri demi save exit regim ORBA. Jurus ini disebut “menjaring ikan gurami yang mabuk cap jay”, hebat bukan? Ini juga bukti bahwa agama mempunyai potensi memabukan manusia sampai rasio manusia mengalami kemunduran luar biasa.

– Seiring dengan ICMI, Suharto juga mengganti para menterinya yang semula berwajah Nasionalis menjadi bernuansa Arab-Islami demi mengambil hati umat Islam guna menyelamatkan regim militer dan ORBA. Para menteri keturunan Arab tsb. adalah: Marie Muhamad, Ali Alatas, Saleh Affif, Fuad Hasan, Bedu Amang, Fuad Bawazir, dsb. Kemudian mbak Tutut Suharto yang cantik dan seksi ke Mekah naik haji, dan sepulangnya dari Arab, beliau memakai jilbab. Bob Hasan pun berganti nama menjadi Muhamad Hassan. Sebelumnya, Suharto telah mengobral uang rakyat sebanyak 700 trilyun rupiah ke etnis Tionghoa yang nakal lewat BLBI (banyak Chinese yang baik, namun regim Suharto yang jahat lebih suka memilih yang hitam). Dengan demikian, regim ORBA ingin berganti baju, yang dulu: militeristik, pro nasionalis (dengan think-thank CSIS), dekat dengan Tionghoa, dekat dengan USA/IMF, dan terkesan menindas Islam, menjadi pro Islam atau bahkan ingin mengesankan diri sebagai pembela Islam, menjauhi Tionghoa dan Barat. Regim ORBA saat itu memang sudah diambang kejatuhan, maka strategi terjitu adalah politisasi agama. Disini agama dipakai untuk: meninggikan etnik keturunan (Arab), menipu para cendekiawan Muslim, meremehkan suku dan budaya asli bangsa sendiri (Jawa), memprovokasi anti Barat, dan menipu rakyatnya sendiri. Jurus ini disebut “bidadari bersolek diri”! Bagus bukan ?

– Seminggu sebelum tragedi Mei 1998 yaitu pembantaian/perkosaan umat Tionghoa di Jakarta dan Solo, yang didalangi Wiranto dan Prabowo (masih perlu dikonfirmasi!) dengan operator RPKAD dan Pemuda Pancasila, para provokator telah diinstruksikan untuk menulisi rumah2 penduduk dengan kata2 bernuansa SARA yaitu:”Milik Pribumi Muslim”. Dengan demikian, para oknum jendral AD tsb. berusaha mengadu domba agama Islam dengan etnis Tionghoa. Nampak bahwa regim Suharto/militer ingin mengalihkan tanggung jawab salah urus negara kepada etnis Tionghoa (direpresentasikan oleh konglomerat hitam), selain itu juga ingin membuat citra bahwa umat Muslim layak marah kepada etnik Tionghoa. Padahal hampir semua bisnis militer, politisi dan pejabat tinggi kebanyakan dijalankan oleh konglomerat hitam Tionghoa (sekali lagi, di Indonesia tercinta ini jauh lebih banyak Tionghoa yang baik, bijak dan pandai daripada yang “hitam”, dan jika mereka ini dipakai secara baik dan benar, maka seperti Hongkong, RRC, Tiwan, Singapore, Malaysia, dan Thailand, Indonesia akan maju pesat). Manusia Jawa lalu merasa: dianaktirikan (apalagi dibunuhi dijaman 1965) dan Tionghoa dianak emaskan (diberi BLBI 700 trilyun); sebaliknya manusia Tionghoa merasa: dianaktirikan (dilarang masuk PNS, diperkosa dan dilecehkan saat tragedi Mei 98, penindasan budaya, serta adanya persyaratan SKBRI) dan pribumi dianak emaskan (misalnya: diberi kesempatan lebih besar menjadi PNS); kemudian menjelang reformasi, keturunan Arab dianak emaskan. Dimulai semenjak regim Suharto, hubungan pribumi dan Tionghoa menjadi tidak harmonis bahkan cenderung saling curiga; demikian pula antara Jawa dan non luar Jawa (adanya sentralisasi mengakibatkan luar Jawa jauh tertinggal). Disini agama dipakai untuk adu domba, divide et’ impera (pemecah belah), kerusuhan, perkosaan bahkan pembantaian etnis. Jurus ini disebut “melempar tanggung jawab, memotong kambing hitam”. Luar biasa bukan ?

– Ketika Akbar Tanjung diadili masalah penyelewengan dana Bulog, ia berdalih bahwa uang itu telah disalurkan ke yayasan Islam yang disebut Rudhatul Janah guna mengentaskan kemiskinan; padahal uang itu dipakai untuk mendirikan berbagai partai politik agar PDIP saat itu tidak menang mutlak. Para politisinya (terutama militer) lalu disusupkan kesemua parpol, bahkan termasuk PDIP! Bila saat itu tetap hanya ada tiga partai, PDIP menang mutlak, pastilah regim ORBA sudah musnah! Salah satu partai politik yang didanai adalah PAN. Jurus penggunaan agama untuk bersembunyi dan sekaligus untuk ditunggangi disebut “bertengger dan bersenyum di jendela masjid”, cerdik bukan ?

– Ketika terjadi reformasi, Suharto dengan tenang, aman, nyaman dan tentram tetap bercengkerama di jl. Cendana bersama anak cucunya, ini sungguh luar biasa! Para politisi dan profesor dari Luar Negeri sampai tidak habis herannya, mereka meminta bangsa Indonesia untuk secara cerdas menganalisa hal ini mengingat fakta sejarah didunia mengatakan bahwa jatuhnya rezim diktator atau koruptor selalu dibarengi dengan lima faktor reformasi (sudah diterangkan diatas sendiri). Satu lagi hal yang paling tidak masuk akal adalah Soeharto justru diperkenankan menunjuk penggantinya yaitu Habibie (mana ada diktator direformasi dibolehkan menunjuk pengganti ?). Penunjukan Habibie merupakan titik balik sejarah dan awal dari segala mala petaka bangsa Indonesia. Memang sayang sekali, bangsa ini baru terlelap tidur sehingga otaknya tidak mampu menganalisanya. Para kaum genius politik (terutama pengamat politik luar negeri, akademisi kampus) mengatakan bahwa disamping Suharto mendapat jaminan keamanan dari kelompoknya (TNI AD lewat Jendral Wiranto dan Prabowo), Suharto juga mendapat jaminan keamanan dari salah seorang tokoh reformasi yang berhasil diselundupkannya… hebat bukan? Dalam politik, cara terbaik melumpuhkan lawan adalah strategi penyusupan (ingat dimasa ORBA: berapa kali PDI disusupi dan dipecah belah dari dalam). Siapakah diantara ketiga tokoh reformasi (Mega, Gus Dur, atau Amien Rais) yang merupakan tokoh selundupan itu ? Para genius politik menandaskan bahwa ia adalah Doktor Amien Rais, warga keturunan Arab asal Solo, sahabat lama Prabowo jauh hari sebelum reformasi (Prabowo = menantu Suharto); jadi regim Suharto sudah lama mempersiapankan strategi penyusupan Reformasi. Amien Rais, kader brilian ICMI, kemudian pura-pura bentrok dengan ICMI, keluar dari ICMI dan menyelundup sebagai tokoh reformasi. Bukti lain bahwa Amien Rais adalah antek Suharto terlihat jelas dari gerak zig-zagnya. Saat itu, media informasi seperti TV, radio, dan koran masih didominasi regim ORBA, namun Amien Rais “dikambing putihkan” dengan cara banyak dimunculkan di media informasi. Jurus ini disebut “menyelundupkan monyet diantara kambing tengik”, cerdik bukan? Ingat, hanya orang dekat saja yang dapat dan sering tampil di media massa, apalagi TV! Regim bablasan Orba s/d saat ini adalah paling banyak menguasai media informasi.

– Dengan cerdik dan licik, Golkar mengetahui bahwa tidak akan bisa memenangkan pemilu, dipilih strategi pelipat gandaan jumlah parpol (terutama berbasis Islam) dan penyusupan di setiap parpol oleh politikus ORBA (terutama petinggi militer), maka walau kalah dalam Pemilu sehingga tidak dapat menguasai eksekutip, namun Golkar tetap dapat menguasai legislatip (koalisi parpol baru dengan para penyelundup diberbagai Parpol). Dengan demikian kekuasaan dan semangat Orde Baru telah dipindahkan dari istana presiden ke gedung parlemen di Senayan. Dengan dominasi ini, tidak heran bila Amien Rais (ketua PAN) sebagai reforman selundupan dengan mudah berhasil dipilih dan didudukan sebagai ketua MPR, sungguh luar biasa taktik regim Soeharto! Kemudian, dengan kelicikan lagi, dilakukan amandemen UUD 1945 tahun 1999 yang dibikin(-bikin), maka kekuasaan pembuatan undang-undang menjadi dipindahkan dari istana negara ke gedung parlemen di Senayan. Negara menjadi berat di legislatip daripada eksekutip. Saat itu (jaman Gus Dur dan Mega), presiden boleh dikata hanya menjadi bulan2an DPR.

Tugas Khusus Amien Rais dkk.

Sebagai reforman selundupan dan bayaran dengan tujuan justru untuk menyelamatkan regim Orba, maka Amien Rais dkk. secara cerdik membelokan arah reformasi dengan cara:

a) Ketika Suharto dengan seenaknya/inkonstitusional (“Kebijakan”) menunjuk Habibie sebagai penggantinya, maka kaum intelektual kampus dan para mahasiswa menolak Habibie (Hbb) dan ingin menurunkannya, Amin justru melindungi Hbb dengan himbauannya agar Hbb diberi kesempatan tuk memimpin reformasi dan Amin sanggup menjadi sparing partnernya apabila Hbb menyeleweng. “Kebijakan semu” ini hingga hari ini menyisakan multiplikasi persoalan berlarut-larut yang semu dan tak berujung pangkal karena semua keadaan tiba-tiba berada dalam gerakan darurat yang tumpang tindih, simpang siur, tanpa pernah diusut benang merah sebab-musabab persoalannya.

b) Akhirnya PDIP menang pemilu, namun tidak bisa menang mutlak karena partai peserta Pemilu disengaja banyak sekali dan terjadi penyusupan (ini strategi devide et impera: susupi dan pecah belah). Mengingat regim ORBA masih merasa ragu & takut sekali apabila Megawati menjadi presiden (siapa tahu Mgwti, anak Sukarno, akan balas dendam thd regim Suharto) maka perlu kelicikan untuk menjegal Mega, Amien pun menjadi dalangnya dengan membentuk poros tengah yang bernuansa Islami dan dengan jargon “Wanita belum bisa diterima oleh ulama Islam sebagai presiden”. Gus Dur yang dianggap kurang berbahaya terhadap regim ORBA dinaikan menjadi presiden (walau dari persyaratan kesehatan jasmani jelas2 tidak mungkin ia menjadi presiden sebab buta; namun saat itu hanya Gus Dur yang dapat menandingi kepopuleran Megawati).

c) Ketika dalam perjalanannya sebagai presiden, Gus Dur ternyata dianggap membahayakan regim Orba, maka Amin Rais kembali beraksi lagi melalui MPR/DPR dan berhasil menjatuhkan Gus Dur. Gebrakan gus Dur yang membahayakan regim Orba misalnya adalah: membubarkan Deppen dan menetralkan LKBN serta TVRI (senjata informasi paling canggih regim Orba, pembius dan pembodoh rakyat), ingin menghapus TAP MPRS ’66, pemulihan hak kebudayaan etnis Tionghoa, serta diangkatnya Baharudin Lopa menjadi Jaksa Agung. Amien dkk. sebagai antek regim ORBA kembali beraksi, Gus Dur di skak mat dengan skandal yang disebut Brunei Gate, Gus Dur tumbang ditengah masa jabatannya, walau begitu ia adalah presiden yang cerdas dan dianggap “blessing in disguise”, banyak perubahan positip dijaman beliau. Sedangkan Baharudin Lopa dilenyapkan seperti nasib Munir, tokoh pembela HAM. Regim Orba memang pakar dalam culik-menculik, menghilangkan orang, dan bunuh-membunuh serta adu domba sesama anak bangsa. Pengakuan/pertobatan ki Gendeng Pamungkas, si pembunuh bayaran yang sering disewa keluarga Cendana dan para jendral untuk mengeliminasi musuh politik, dalam suatu vcd yang mudah didapat dipasaran adalah salah satu bukti nyata (demikian pula Ki Joko Bodo, tukang santet dan pembunuh bayaran yang kaya raya sekali). Termasuk yang dieliminir oleh regim Soeharto adalah: Soekarno, para mahasiswa idealis, Munir, serta jendral bersih dan cerdas Agus Wirahadikusumah, Baharudin Lopa, dan Juanda – pengamat intelijen/militer yang juga diperkirakan dihabisin di Paris (2006). Sedangkan pembunuhan massal, biadab dan membabi buta oleh regim militer ini adalah pada pembantaian PKI 1965, kerusuhan Dili di Timor Timur, pembantaian/pelecehan etnik Tionghoa 1998.

d) Ditahun 2004, Gus Dur ngotot ingin jadi calon presiden lagi; namun karena tidak dibutuhkan lagi oleh regim ORBA (untuk menjegal Megawati), maka cacat matanya dipermasalahkan, kali ini tidak ada lagi yang membelanya! Megawati yang sudah bisa dijinakan dan mulai dekat dengan militer akhirnya direstui tuk jadi presiden.

e) Kemudian, dalam salah satu pidatonya, Amin Rais menandaskan untuk tidak mengungkit-ungkit lagi Soeharto dengan alasan usia dan sakit; padahal Soeharto dkk. itu kunci keadilan, kunci KKN, kunci masalah dan pelurusan sejarah, kunci harta rampokan yang ada di bank2 L.N; Soeharto adalah sumber dari segala sumber malapetaka Indonesia (bagaikan Hitler bagi Jerman); jadi sebaiknya Soeharto diadili dulu, mengakui bersalah, harta rampokannya dikembalikan, barulah diampuni. Kasus terakhir, bulan Maret 2006, AM Fatwa dari PAN menjenguk Tommy Suharto dengan alasan kemanusiaan, diperkirakan ini adalah bagaikan balas jasa PAN atas pendanaan awal partai PAN oleh regim Soeharto, serta mengingat menguatnya kembali regim militer (kembali USA ingin dibelakang militer lagi). Dalam gerakan zig-zag si reforman palsu ini (Amin Rais), ia bagaikan mendapat dukungan resmi dan restu dari induk organisasinya yaitu Muhammadiah. Sampai dengan saat ini Amien Rais beserta petinggi ICMI, HMI, KAHMI, dan MUI sudah tidak pernah lagi mengusik Suharto beserta kroninya, karena mereka sudah kenyang akan keduniawian: kekuasaan dan materi/uang.

Jurus obok-obok bangsa sampai mabok

Reformasi palsu yang terjadi namun diterima oleh sebagian besar masyarakat yang kurang kritis dan cerdas pun perlu dikacaukan, agar rakyat membenci reformasi dan kembali rindu kepada regim Soeharto. Beberapa jurus obok2 regim bablasan ORBA adalah sbb.:

– Regim Orba dan regim militer (para oknum Jendral TNI AD, khususnya KOPASUS) menyadari bahwa rasa damai dan aman adalah kebutuhan mendasar manusia. Maka mereka mendanai, mengorganisasikan, dan menggerakan berbagai kerusuhan di bumi Nusantara, terutama menggunakan atribut Islam, misal Front Pembela Islam. Seringkali kerusuhan dan adu domba di Nusantara di outsourcingkan (disubkontrakan, politik pinjam tangan) kepada pihak ketiga (misalnya Pemuda Pancasila, Laskar Jihad, FPI, dst) melalui makelar, kemudian makelarnya dibinasakan. Sebagai contoh, kasus dukun santet di Banyuwangi; otaknya di Jkt (pada umumnya petinggi militer), pelaksananya preman2 luar Jkt dan luar Bwi; setelah sukses, makelarnya dihabisin, sehingga benang merah koneksi antara otak di Jkt dan pelaksana di BWI terputus; jadilah kasus itu sekedar kasus lokal, pejabat busuk di Jkt seolah-olah tidak terlibat. Demikian pula kerusuhan di Ambon, Pontianak, Poso, dst. adalah ulah mereka. Sebenarnya untuk menangkap otaknya/pendananya, cukup mudah sekali, cukup melacak aliran dana di Bank dan menyadap via telepon serta internet; namun Badan Intelijen (BIN) tidak melakukannya, mengingat BIN selama ini justru menjadi alat militer tuk berkuasa; musuh BIN yang terutama adalah justru manusia Indonesia yang baik dan idealis (bukan musuh dari luar). Pensiunan BrigJen Sumarsono, waktu itu Sekjen PBSI, ditangkap dengan milyaran rupiah uang palsu. Para pengamat politik supercerdas langsung tahu bahwa uang palsu itu untuk membayari para preman perusuh; jadi ada maksud untuk sekaligus mengacau keamanan (kerusuhan) dan mengacau ekonomi (uang palsu), luar biasa liciknya para oknum jendral AD itu. Dengan diciptakannya berbagai kerusuhan, patahlah kepercayaan rakyat pada “Reformasi” (palsu), dan rakyat rindu pada regim militer lagi. Jadi regim Orba sungguh licik, sudah palsu, masih diobok-obok sampai mabok, setelah rakyatnya tak tahan mabok, lalu rindu kembali kepada regim Soeharto. Berbahagialah kita yang terus terjaga dan sadar bahwa s/d saat ini yang berkuasa adalah regim bablasan Orde Baru, bahwa reformasi adalah palsu seperti sejarah G30S !

– Para oknum jendral AD di Mabes Cilangkap memang pintar, mereka selalu berada diantara bandul jam “radikal dan nasionalis”. Ketika mereka terdesak oleh kaum Nasionalis, maka kaum radikal sengaja dibesarkan/dihidupkan, dengan demikian kaum Nasionalis jadi keder nyalinya; sebaliknya bila regim Militer terdesak kaum radikal Islam, maka regim militer akan berbalik ke kaum Nasionalis untuk bersama-sama menghabisi kaum radikal. Dengan strategi ini, para oknum pejabat militer akan selalu berada diatas dan mendapatkan dana pengamanan yang luar biasa (baik dari negara maupun dari kaum minoritas yang kaya raya), demikian pula bisnis pengamanan tambang2 modal asing seperti di Free Port dan LNG Arun, bisnis keamanan sungguh luar biasa besarnya, sampai para jendralnya dapat menjadi milyader atau trilyuner di tengah bangsanya yang miskin.

– Dalam pemilu terakhir yang dimenangkan SBY, regim militer mensponsori dan menggunakan PKS (dari mana dana partai gurem ini? Ini mirip dengan kasus pendirian PAN). Pada saat kampanye, partai reformis selain PKS, hampir tidak pernah di cover di televisi, sebaliknya PKS terus-terusan dimunculkan di mass media. Politik kambing putih kembali dilakukan. Kalau dulu militer memakai PAN dan menokohkan Amien Rais, maka kali ini mereka menggunakan PKS dan memakai Hidayat Nur Mahmudi. Akhirnya HM Mahmudi menjadi ketua MPR (dengan agenda terselubung), persis seperti Amien Rais. Pemilu waktu itu didominasi oleh: rebutan para kyai (bukan para intelektual), rebutan sultan (Yogya/Solo/Cirebon), ziarah ke makam2 dan berdangdutan; nuansa keilmuan, kampus, science tidak ada sama sekali! Memang benar, reformasi tidak akan terjadi bila media informasi dikuasai regim ORBA.

– Beberapa hari sebelum pemungutan suara pada pemilu presiden 2004, bom sengaja diledakan di depan Kedubes Australia. Saat pemungutan suara, TV BBC Inggris mewancarai seorang pencoblos, pencoblos itu mengatakan tidak mau memilih Megawati lagi dengan alasan banyaknya bom yang meledak, terutama yang barusan meledak di kedubes itu. Itu adalah salah satu faktor penentu kemenangan militer kembali. Sungguh jitu strategi para oknum Jendral AD ini! Kemudian, pengebomnya berhasil dibekuk, padahal strategi ini buatan mereka sendiri (memakai radikal Islam)! Jadi sekali tepuk mereka dapat tiga point: membisniskan keamanan, menang pemilu & rakyat tambah percaya pada militer (bisa membekuk pelakunya).

– Setelah pemilu, tokoh2 KPU (kebanyakan dari sivitas akademika UI) banyak dijadikan pejabat tinggi: menteri, staff mentri, dst. Setelah sekian waktu, diketahui bahwa di KPU banyak terjadi penyelewengan saat pemilu. Sayang sekali, partai besar seperti PDIP mendiamkan kasus ini, jujur dan adilkah pemilu saat itu? Otak orang cerdas mengatakan tidak! Ada konspirasi jahat di balik KPU !

Akibat fatal reformasi palsu

Politik devide et impera (memecah belah) regim ORBA dengan menciptakan puluhan parpol baru (kebanyakan berisi preman) dan berbagai organisasi massa yang juga beranggotakan preman (demi politik pinjam tangan tuk melaksanakan kekerasan dan kerusuhan) agar PDIP tidak menang mutlak saat pemilu (setelah Soeharto jatuh), telah mengakibatkan negara dalam situasi buruk sekali. Badan legislatip (DPR/MPR), yudikatip dan eksekutip bagaikan dikuasai mafia preman (premanisme dalam negara, dengan koordinator/organisator para petinggi militer). Maka benarlah sinyalemen para ahli politik luar dan dalam negri bahwa persamaan mathematik reformasi palsu di Indonesia adalah: Orde Reformasi = Orde Baru cukup dikurangi satu Soeharto saja, plus munculnya permanisme di banyak parpol telah menjadikan situasi dan kondisi reformasi palsu jauh lebih jelek daripada saat regim Seharto.

Manusia yang cerdas dan kritis harus sampai pada kesimpulan sbb.: dijaman Soeharto, yang nakal dan merusak negara adalah Militer dan Golkar; disaat ini (2007, di era reformasi palsu) yang nakal dan merusak negara tidak hanya (masih) Militer dan Golkar, namun plus ulama, plus cendekiawan, serta plus preman2 predator bangsa (anggota parpol hasil rekayasa Orba, yang kini sudah terlanjur bercokol dan mendominasi lembaga legislatip, yudikatip dan eksekutip). Oleh sebab itu, tidak heran bila situasi dan kondisi bangsa lebih buruk daripada si-kon saat regim Soeharto, sehingga sementara orang yang buta huruf politik (iliterate) lalu merindukan kembalinya regim Soeharto; sungguh licik dan sangat merusak bangsa tindakan regim Orba itu!!! Jurus maling teriak maling seperti di jaman 1965 kembali dilakukan. Kalau dulu, kambing hitamnya adalah PKI; kalau sekarang kambing hitamnya adalah “reformasi” (yang palsu). Tak heran moralitas dan rasionalitas bangsa hancur; bangsa Indonesia tetap dalam status krisis multi dimensi, bahkan kemiskinan dan pengangguran semakin tinggi. Tuhan pun lalu sering mengamuk (banyak malapetaka), sebab melihat ulama dan cendekiawan Nya terusmenerus mempermainkanNya !

Dari sisi agama, bagi organisasi sebesar MUI, HMI, KAHMI dan ICMI yang terjebak menjadi alat regim ORBA, sungguh amat disayangkan; bagaimana moral bangsa tidak hancur, kalau ulama sebagai lambang moral dan cendekiawan lambang kecerdasan, kejujuran serta kebenaran telah diperalat oleh regim maha jahat yang telah membangkrutkan negara. Beberapa tokoh Islam moderat dan negarawan berseloroh: nabi para ulama MUI dan cendekiawan HMI, KAHMI dan ICMI adalah nabi Soeharto DUT (duit), bukan lagi nabi Muhammad SAW.

Pada saat tulisan ini ditulis (2007), kekuatan regim ORBA bagaikan telah pulih kembali. Dengan pulihnya mereka ini, maka penegakan keadilan dan penegakan hukum hampir tidak mungkin terjadi, sebab tokoh2 pelanggar HAM berat dan pelaku KKN kelas berat adalah para tokoh regim ORBA yang saat ini masih berkuasa baik di GOLKAR maupun di banyak partai (diselundupkan). Setiap usaha untuk memperbaiki bangsa dari sisi keadilan dan kebenaran dipastikan seperti membentur dinding, sebab pasti menabrak tokoh2 ini dulu – lalu proses berhenti disitu, maka hampir tidak mungkin sukses. Dengan lemahnya kualitas SDM politisi, ditambah banyaknya preman2 dalam parpol, serta sulitnya orang pandai-cerdas-bijak memasuki parpol (karena parpol bagaikan sudah dikunci dari dalam oleh Mafia preman), maka Indonesia saat ini benar-benar dalam genggaman para preman, Indonesia kini, boleh dikata, adalah dalam kondisi dijajah bangsanya sendiri !

Penutup

Berkat politisasi agama, akhirnya Suharto dan regimnya ternyata selamat, aman, tentram, dan sejahtera sampai saat ini; sedangkan bangsanya tetap dalam status krisis multi dimensi, bahkan kemiskinan dan pengangguran semakin tinggi. Disamping itu, bangsa ini lalu digendam dan dimabokan dengan agama; pertempuran ideologi Barat lawan Timur Tengah sangat meriah: dar … der .. dor … gleger … glegar … boommm, diseantero bumi Nusantara, rakyat yang tidak cerdas hanya bisa mlongo! Persis diramalkan sejahrawan internasional, Samuel Huntington dan Francis Fukuyama, akan terjadi “clash of civilization”, dan itu terjadi di Indonesia !

Ajaran yang dapat dipetik dari Begawan Politik Soeharto adalah: pertama susupi dan tunggangi, kedua kalau menipu jangan tanggung-tanggung (maling teriak maling): tipulah bangsamu – bahkan kalau bisa, tipulah Tuhanmu melalui politisasi agama, ketiga kuasailah media informasi negara, keempat buatlah jaringan politik seperti MLM (dari Jakarta s/d daerah misal sampai ke Free Port atau Balikpapan, kelima gunakan bunga uang hasil merampok negara (yang tersimpan aman dan rapi di luar negri) untuk money politics (membeli ilmuwan kampus, ulama, dan preman – yang saat ini murah sekali harganya). Dan yang paling penting (keempat) kuasai militer dan polisi; selama militer dan polisi masih berpolitik dan bisnis (tidak netral, tidak profesional, dan tidak terkendali) serta masih memihak regim Orba dan penerusnya, maka Indonesia tidak mungkin menjadi bangsa yang sehat, normal, baik, aman, tentram dan sejahtera, sebab regim/sistem yang dibangun lalu mirip regim militer terselubung.

Semoga ajaran Soeharto cepat berlalu seiring dengan akan cepat berlalunya dia dkk. (mati). Menurut pengamat politik asing, di Indonesia, yang nakal sekali justru generasi tuanya, bukan generasi mudanya, maka semoga mereka cepat berlalu. Dan kepada generasi penerus Indonesia, bangkit dan luruskanlah arah sejarah dan perjuangan bangsamu, pertinggi kecerdasanmu, jangan mau dikatakan tolol secara halus oleh bangsa lain! Mohon di camkan, reformasi palsu di Indonesia ini telah menjadi bahan lelucon politik internasional yang disebut: “Mati Ketawa Ala Indonesia”. Tolong selamatkan bangsa ini dengan menyebarluaskan artikel ini. Saran dan kritik anda kami harapkan. Selamat berjuang.

Kiriman dari:

Para Postgrad di Eropa plus Indonesianis

Relasi Gender Makrokosmos

Relasi Gender Makrokosmos (1)

Kamis, 19 April 2012, 21:29 WIB

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/04/19/m2qdkz-relasi-gender-makrokosmos-1

Relasi gender adalah hubungan timbal balik antara satu pasangan dan
pasangan lainnya, seperti hubungan antara suami dan istri dalam pasangan
mikrokosmos.

Sebagaimana diuraikan dalam artikel terdahulu, semua ciptaan Tuhan secara
kodrati berpasang-pasangan (likulli syai’ khalaqna az-zaujain), baik
manusia yang dikenal sebagai makhluk mikrokosmos maupun makhluk selainnya,
seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, dan alam raya yang lazim disebut makhluk
makrokosmos.

Relasi gender makhluk mikrokosmos dekade terakhir ini hangat dibicarakan
seiring maraknya gerakan feminis yang menuntut kesetaraan dan keadilan
gender antara laki-laki dan perempuan, terutama antara suami dan istri.

Kaum feminis menggugat budaya dan teologi karena dinilai merendahkan
derajat perempuan, baik sebagai anak, suami, saudara, maupun sebagai ibu.
Masyarakat kita dinilai terlalu memberikan peran dominan terhadap kaum
laki-laki dengan berbagai alasan. Teologi, budaya, dan sains dijadikan alat
dan kekuatan pembenaran untuk melegalkan konsep patriarki, androsentrisme,
sampai pada misoginisme.

Secara teologi, laki-laki diunggulkan karena tiga alasan. Pertama, yang
pertama kali diciptakan Tuhan ialah Adam. Kedua, disusul penciptaan
perempuan dari tulang rusuk Adam. Ketiga, perempuan dianggap paling
bertanggung jawab atas terjadinya dosa asal (original sin) dalam drama
kosmik karena dianggap penggoda yang menyebabkan anak manusia jatuh dari
surga kenikmatan ke bumi penderitaan, meskipun semuanya ini dapat dibantah
oleh kaum feminis.

Secara sosial budaya, kaum laki-laki diunggulkan karena dianggap the first
sex yang diberi peran lebih besar dan lebih dominan. Sementara kaum
perempuan diposisikan sebagai the second sex karena mereka lebih banyak
menjadi objek. Perannya lebih banyak dibatasi ke sektor privat dan
domestik, sementara kaum laki-laki lebih banyak diberi peran di sektor
publik. Akibatnya, terjadilah pembagian kerja secara seksual yang pada
gilirannya secara umum merugikan kaum perempuan.

Ironisnya, kaum perempuan dianggap bertransformasi dari mulut buaya ke
mulut harimau. Ketika dalam masyarakat primitif dan tradisional-agraris,
kaum perempuan diberi peran domestik mengasuh anak. Dan, pada masyarakat
modern-industrial, kaum perempuan diposisikan sebagai makhluk reproduktif
dan kaum laki-laki sebagai makhluk produktif.

Perempuan terkonsentrasi di sektor hilir dengan segala risiko dan laki-laki
di sektor hulu dengan berbagai fasilitas dan keunggulannya. Masyarakat
industri menganggap perempuan sebagai makhluk tidak produktif karena
terlalu banyak cuti.

Redaktur: Chairul Akhmad

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/04/19/m2qe5q-relasi-gender-makrokosmos-2

Relasi Gender Makrokosmos (2)

Thursday, 19 April 2012, 21:41 WIB

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Secara sains, perempuan dilegitimasi sebagai makhluk yang memiliki hambatan
reproduktif, sehingga secara sosiologis, antropologis, dan berbagai
disiplin ilmu lainnya, perempuan diasumsikan tidak bisa disejajarkan dengan
kaum laki-laki.

Bahkan, dalam disiplin ilmu sejarah yang kemudian diberi nama history (his
kata kepunyaan laki-laki dan story peristiwa dan kejadian).

Seolah-olah yang punya sejarah dan sekaligus pelaku sejarah ialah kaum
laki-laki. Tidak pernah dipopulerkan kata “herstory”. Ini sebuah
pengingkaran perempuan sebagai pelaku sejarah.

Keadilan dan kesetaraan gender mikrokosmos lebih awal (untuk tidak
mengatakan pertama kali) digagas oleh para pemikir sufistik, terutama Ibnu
Arabi yang berani mengatakan bahwa dalam pandangan sufistik perempuan lebih
utama dari pada laki-laki dalam berbagai sudut pandang, meskipun
pendapatnya juga tidak bebas dari kritik feminis.

Dari sudut teori asal usul penciptaan, laki-laki (Adam) diciptakan dari
tanah liat yang terkonotasi rendah dan kotor, sedangkan perempuan (Hawa)
diciptakan dari intisari tulang rusuk laki-laki (Adam). Adam jelas lebih
mulia daripada tanah.

Dari sudut potensi kedekatan diri kepada Tuhan, perempuan secara kodrati
memiliki sifat-sifat utama sebagai hamba (yin) dan laki-laki memiliki
sifat-sifat utama sebagai khalifah (yang). Seseorang tidak mungkin menjadi
khalifah ideal tanpa sebelumnya menjadi abid (ahli ibadah) ideal.

Dari sudut pandang tasawuf, laki-laki diasumsikan sebagai muatstsir yang
menimbulkan pengaruh dalam segala hal, sedangkan perempuan diasumsikan
sebagai ma’tsur yang menerima pengaruh dalam segala hal.

Sikap pasrah perempuan ternyata jauh lebih penting dibanding dengan sikap
kejantanan laki-laki. Sikap pasrah ringan melejit ke langit, sementara
sifat kejantanan amat berat bawaannya ke langit.

Dengan demikian, jelas bahwa kelemahan perempuan ternyata adalah
kelebihannya, sedangkan kelebihan laki-laki menjadi kelemahannya.

Redaktur: Chairul Akhmad

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/04/19/m2qek5-relasi-gender-makrokosmos-3

Relasi Gender Makrokosmos (3)

Kamis, 19 April 2012, 21:50 WIB

Perkawinan Makrokosmos (2)

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Dalam perspektif tasawuf, kepasrahan (Islam) kepada Allah SWT merupakan
syarat mutlak (sine qua non) yang harus dimiliki siapa pun. Perempuan
memiliki potensi syarat mutlak itu.

Perempuan sama dengan bumi, alam raya, yang pasrah (Islam) terhadap
ketentuan Tuhan. Inilah yang membuat bumi dan alam raya lainnya tenang
karena menerima tanpa reserve terhadap segala ketentuan Ilahi.

Seperti halnya mikrokosmos, langit (al-sama) adalah laki-laki/suami, maka
dia muatstsir yang memberi pengaruh, dan bumi (al-ardh) adalah
perempuan/istri, maka dia ma’tsur yang menerima pengaruh. Di dalam diri
sang ma’tsur itulah terdapat rahim makrokosmos (akan diuraikan dalam
artikel mendatang).

Relasi gender pasangan makrokosmos secara umum lebih mirip dengan apa yang
digambarkan oleh Ibnu Arabi bahwa relasi gender kosmos (baik makrokosmos
maupun mikrokosmos) ialah relasi fungsional, bukannya relasi struktural
sebagaimana kesan umum yang tercipta di dalam pasangan mikrokosmos.

Lihatlah, misalnya, bagaimana peran siang (al-nahar) dan malam (al-lail),
matahari (al-syams) dan bulan (al-qamar), langit (al-sma) dan bumi
(al-ardh), panas (al-harr) dan dingin (al-barr), serta surga (al-jannah)
dan neraka (al-nar) saling melengkapi dan membutuhkan satu sama lain.
Konon, nama-nama pasangan makrokosmos itu disebutkan dalam jumlah yang sama
di dalam Alquran.

Pasangan makrokosmos tidak mengenal poligami atau poliandri. Adam dan Hawa
ketika menjadi bagian dari makhluk makrokosmos di surga juga tidak
berpoligami atau berpoliandri.

Padahal, apa pun permintaan keduanya di surga sudah barang tentu dipenuhi.
Adam dan Hawa tidak pernah terdeteksi dalam kitab suci manapun pernah atau
ingin memiliki pasangan lebih dari satu.

Redaktur: Chairul Akhmad

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/tasawuf/12/04/19/m2qewd-relasi-gender-makrokosmos-4habis

Relasi Gender Makrokosmos (4-habis)

Kamis, 19 April 2012, 21:57 WIB

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar

Bahkan dalam riwayat, anak-anaknya pun konsisten melahirkan kembar yang
berpasangan laki-laki dan perempuan.

Masalah mulai muncul ketika salah seorang putranya, Qabil, tidak puas
dengan perempuan yang dijodohkannya dan ia menghendaki perempuan yang
dijodohkan dengan Habil, yang wajahnya lebih cantik. Kasus inilah nanti
yang berbuntut panjang dalam sejarah kelam anak manusia.

Relasi fungsional sebagai dasar pasangan makhluk makrokosmos patut ditiru
oleh makhluk makrokosmos. Ayat yang mengatakan, “Al-rijal qawwamun ‘ala
al-nisa” (laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan) dan “wa ‘ala al-rijal
‘alaihinna darajah” (dan bagi laki-laki sederajat di atas perempuan)
sebaiknya tidak diartikan secara struktural, yang satu lebih tinggi dan
lainnya lebih rendah.

Tetapi diartikan secara fungsional bahwa laki-laki dan perempuan atau suami
dan istri masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Jika bersatu
secara utuh, keduanya akan menjadi manusia sejati.

Pasangan makrokosmos betul-betul menampilkan interaksi secara fungsional,
satu sama lain saling memerlukan dan saling melengkapi. Interaksi yang utuh
dan simetris ini mengingatkan kita kepada konsep uniy (tauhid). Dua sisi
dari satu pasangan satu sama lain saling melengkapi.

Harmoni pasangan ini juga mengingatkan kita kepada wajah Allah sebagaimana
tergambar dalam 99 nama indah Allah (Al-Asma’ Al-Husna). Ada sepasang
substansi yang dapat dihimpun di dalamnya, yaitu sifat-sifat jamaliyyah
atau ketegaran (struggling/yang) dan sifat-sifat jalaliyyah atau kelembutan
(nurturing/yin).

Elaborasi kedua sifat substansial ini adalah lambang kesempurnaan. Jika
manusia mampu mengelaborasi kedua sifat-sifat utama ini secara utuh, ia
akan menjadi manusia paripurna (insan kamil).

Dari segi ini, makhluk makrokosmos lebih konsisten daripada makhluk
mikrokosmos. Jika anak manusia ingin damai, ada baiknya meniru pola relasi
gender pasangan makrokosmos.

Redaktur: Chairul Akhmad

MP3EI : Cetak Biru Pelayaran Nusantara


MP3EI : Cetak Biru Pelayaran Nusantara

MP3EI : Cetak Biru Pelayaran Nusantara

    • Konsep Gerbang Pelabuhan dan Bandar Udara Internasional di Masa Depan
Konsep Gerbang Pelabuhan dan Bandar Udara Internasional di Masa Depan

Deklarasi Djuanda.

NKRI berdasarkan Deklarasi Djuanda adalah Negara Kepulauan. Dimana laut-laut diantara pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai kelanjutan dari deklarasi itu, Pemerintah harus bertanggung jawab akan kelancaran perhubungan antar pulau dimana ada permukiman penduduk. Sama halnya dengan pembangunan jalan-jalan di pulau-pulau di seluruh Nusantara. Dimana jalan-jalan ini menghubungkan satu desa dengan desa lainnya atau satu kota dan kota lainnya. Atau menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya antar kota yang dikenal dengan Jalan Provinsi.
Adalah tanggung jawab Pemerintah untuk membina usaha-usaha pelayaran lokal dan pelayaran Nusantara sebagai “konsekuensi” dari Deklarasi Djuanda. Pelayaran lokal ibaratnya jalan antar desa, dan Pelayaran Nusantara ibaratnya jalan Propinsi. Ini perlu diwujudkan untuk memperlihatkan kepada dunia luar bahwa Deklasi Djuanda ini memang diperlukan dan memang merupakan infrastrukture yang nyata dan diperlukan dalam suatu Negara Kepulauan seperti Negara Kesatuan Republik Indonesia. Juga sebagai tindak lanjut Pemerintah dalam usaha memberikan kesejahteraan kepada warganegaranya diseluruh Nusantara di pulau yang besar sampai ke pulau-pulau yang kecil-kecil. Juga sebagai bukti yang nyata dari Pemerintah dalam usaha melindungi keselamatan warganegaranya dari gangguan dari luar.

Pelayaran Nusantara.

Pelayaran Nusantara dapat dibagi sebagai berikut:

1. Pelayaran lokal.
Pelayaran ini adalah pelayaran antar pulau dengan memakai perahu kayu layar atau perahu kayu bermesin. Jalur-jalur pelayarannya terbatas antara pulau yang satu dengan pulau lainnya.

2. Pelayaran dekat antar Propinsi.
Jalur-jalur pelayaran yang dilayari oleh kapal-kapal dengan bobot antara 500 ton sampai 1000 ton. Juga kapal layar Pinisi.

3. Pelayaran Nusantara
Melayari jalur-jalur panjang dengan kapal-kapal berbobot diatas 1000 ton.

4. Pelayaran Nusantara Jalur Pemerataan Ekonomi Nasional.
Kapal berkecepatan diatas 30 knots dari jenis Ro-Ro (Roll On- Roll Off), kombinasi kapal penumpang dan petikemas atau truk. Akomodasi penumpang diatas 1000 penumpang, dapat mengangkut sepeda motor, mobil dan truk. Kapal Ferry Ro-Ro ini menghubungkan Belawan/Bangka-Belitung/Tg.Priok/Tg.Perak/Makassar/ /Ambon/Jayapura dan Ambon/Banda/Merauke. Dengan jadwal yang tetap dan teratur. Mengingat harga kapal serta ongkos pengoperasian yang tinggi uluran pemerintah berupa subsidi BBM s angat diperlukan. Mengingat harga kapal serta ongkos pengoperasian yang tinggi uluran pemerintah berupa subsidi terutama dalam subsidi pembelian/pembangunan kapal baru dan dalam pembelian BBM sangat diperlukan.
5. Kapal Ferry Penyeberangan.
Penyeberangan dari satu pulau ke pulau lainnya seperti di Provinsi Riau, Selat Sunda, Selat Bali, Selat Lombok dan seterusnya. Kapal Ferry jenis Ro-Ro dengan kecepatan 20 knots sebagai kapal feeders dari pelabuhan utama yang disinggahi Kapal Ferry Jalur Pemerataan Ekonomi Nasional (Sabang — Merauke/Jayapura) ke pelabuhan-pelabuhan lainnya
Sebagai catatan, dalam usaha-usaha dunia perlayaran disetiap negara didunia ini tidak lepas dari uluran tangan Pemerintahnya. Apakah negara itu adalah negara industri atau negara berkembang. Uluran tangan itu apakah berupa subsidi dalam pembangunan kapal baru, pembangunan pelabuhan atau subsidi dalam pengeoperasian kapal-kapal berbendera negara itu.

Pelayaran antar pulau-pulau kecil.

Kapal Layar Lokal dan Kapal Layar Pinisi.

Perhubungan antar pulau ini dapat berupa usaha pelayaran rakyat dengan perahu layar atau perahu bermotor. Pengoperasian perahu layar dapat diserahkan kepada swasta setempat mengingat ongkos pengoperasian yang rendah. Namun subsidi Pemerintah diperlukan dalam usaha pengongkosan dari pembangunan perahu kayu. Penelitian dalam pembangunan perahu ini diperlukan untuk mencari bahan selain dari kayu yang murah. Apakah itu dari bahan ferrocement atau fiberglass atau bahan plastik lainnya. Atau kombinasi kayu dengan bahan-bahan kimia ini. Penelitian ini perlu untuk usaha pelestarian hutan. Jangan sampai karena menggalakkan pelayaran rakyat dengan perahu layar, persediaan kayu khusus dalam pembangunan kapal layar Pinisi yaitu kayu ulin jangan sampai habis.
Penelitian dalam design kapal kayu terutama dalam konstruksi ruangan palkah untuk disesuaikan dengan cara-baru dalam pengapalan barang muatan. Pengapalan baru secara unit (unitised cargo), muatan tidak lagi dimuat di dalam palkah satu persatu atau karton per karton atau karung per karung. Harus dipikirkan cara bongkar muat dengan memakai derek darat disetiap dermaga di seluruh pelabuhan pelayaran rakyat. Pemikiran untuk design kapal layar berdasarkan ciri-ciri khas kapal layar Pinisi dengan ukuran-ukuran yang lebih besar dengan bobot mati tertentu yang dianggap paling efisien untuk dipakai dalam pelayuaran lokal, antar Propinsi atau pelayaran Lautan Nusantara.
Desain dari tiang layar serta bahan untuk layar yang lebih enteng sehingga mudah untuk menggulung layar. Pemakaian motor listrik untuk menggulung dan mengembangkan layar dengan cepat. Bahan layar yang kuat dan tahan lama dan diusahakan dengan harga yang murah. Penelitian dalam pemakaian bahan pengawet kayu berupa cat kapal yang dapat memperpanjang umur kayu setelah dibuat sebagai perahu. Juga cat yang khusus dalam mencegah badan kapal dibawah permukaan air laut tetap bersih dan mulus bebas dari tempelan-tempelan karang. Ini perlu untuk mendapatkan kecepatan maksimum dalam pelayaran.
Penelitian dalam pemakaian mesin sebagai tenaga penggerak sewaktu masuk dan keluar pelabuhan serta dalam usaha merapat dan merenggang dari dermaga. Juga penelitian mesin apa yang paling cocok sebagai tenaga pengggerak ini. Apakah mesin diesel ukuran kecil atau mesin bensin dipakai langsung sebagai tenaga penggerak. Atau mesin diesel kecil atau mesin bensin ini dipakai untuk mengisi batre dan batre memutarkan motor listrik yang dipasang langsung ke baling-baling. Apakah cara pengisian batre yang paling murah ini dipakai solar panel, tenaga angin atau tenaga arus laut.
Kemudian harus dipikirkan pemakaian tenaga listrik ini apakah hanya dipakai sebagai tenaga penggerak kapal layar di pelabuhan atau dipakai juga sewaktu dalam pelayaran di laut lepas. Umpamanya sebagai tenaga untuk dipakai dalam menjalankan peralatan navigasi dan keselamatan kapal layar.
Pemakaian navigasi dalam menentukan posisi kapal layar memakai satelit. Sebagai peralatan elektronic dalam menentukan arah angin sehingga layar yang dikembangkan dapat memakai tenaga angin yang menghembus semaksimal mungkin. Sebagai peralatan electronic dalam pengiriman tanda-tanda darurat–S.O.S.-atau sebagai pemancar darurat (beacon) agar memudahkan dalam pencarian S.A.R.–secara otomatis. Sebagai peralatan elektronik dalam meramalkan cuaca. Sebagai peralatan elektronik dalam perhubungan radio atau pengiriman/penerimaan data memakai computer melalui satelit.
Pemikiran pengadaan tenaga listrik untuk dipergunakan sebagai alat penggerak mesin pendingin. Mesin pendingin untuk bahan makanan abk, juga mesin pendingin untuk mendinginkan peti-kemas ukuran kecil. Atau mesin pendingin khusus untuk mendinginkan palkah. Dengan kata lain, Kapal Layar Pinisi khusus dalam pengangkutan ikan, daging dan sayur mayur yang didinginkan.
Dengan kata lain penelitian bagaimana caranya untuk menaikan tingkatan kapal layar apakah kapal kayu atau kapal dari bahan plastik dengan kemajuan High-Tech. Juga penelitian mengenai lunas kapal layar ini, mungkin menjajagi lunas berganda (catamaran) untuk menaikkan kecepatan dikombinasikan dengan pemekaran palkah untuk muatan. Ini adalah tanggung jawab Pemerintah terutama dalam bidang penelitian. Hasil dari penelitian ini nanti ditawarkankan kepada para peminat usaha pelayaran rakyat dalam membangun kapal-kapalnya tanpa tambahan ongkos. Tentunya pengadaan alat-alatnya wajar menjadi tanggungan si pengusaha.

Kapal Kayu bermotor.

Kapal Kayu Bermotor dalam pelayaran antar pulau harus dirintis oleh Pemda. Mengingat ongkos yang tinggi dalam pembangunannya dan juga dalam pengoperasiannya. Kapal ukuran kecil milik Pemda ini khusus dalam pengangkutan penumpang, pos dan keuangan serta keperluan Pemda lainnya.
Dijajagi kapal-kapal ukuran kecil bermotor listrik. Tenaga Surya dipakai untuk pengisian batre. Batre memutarkan motor listrik yang dipasang langsung ke baling-baling. Diperlukan kapal dengan kecepatan minimum 15 knots dan dapat berupa Puskemas Terapung, Kantor Pos Terapung dan Bank Terapung.
Penelitian mengenai cara-cara pengapalan baru untuk muatan yang diangkut oleh Kapal Kayu Bermesin, Kapal Layar Pinisi apakah itu unitised (umpamanya karung-karung beras diikat menjadi satu disesuaikan dengan ukuran atau beratnya). Atau menciptakan peti kemas standard pelayaran nusantara, yang dapat diangkut oleh Kapal Ferry feeders, Kapal Layar Pinisi dan Kapal Kayu Bermesin dan tentunya dapat dimuat diatas truk.
Dalam jalur pelayaran tertentu di Maluku, dicoba pemakaian Kapal Ferry jenis Ro-Ro dimana kapal jenis ini di-“kandaskan” ke pesisir. Kendaraan mobil dan truk keluar masuk dari haluan kapal.(seperti kapal LST dari Perang Dunia ke-II).

Pelabuhan, dermaga.

Satu hal lainnya yang menjadi tanggung jawab Pemerintah sebagai dampak yang nyata dari Deklarasi Djuanda itu ialah membangun dermaga-dermaga di seluruh pulau-pulau di Nusantara yang ada pemukiman penduduknya. Sama saja dengan pembangunan gang, jalan kota dan jalan propinsi di pulau-pulau besar-besar di Nusantara. Dalam hal ini dermaga untuk merapat kapal layar,kapal kayu bermotor sampai kapal besar Pelayaran Nusantara. Alangkah baiknya juga peralatan bongkar muat berupa derek-derek, persediaan air minum dan bbm juga menjadi keperluan yang nyata dalam melancarkan usaha perhubungan antar pulau.
Pembangunan dermaga disetiap pulau di Nusantara dimana ada pemukiman penduduk adalah sangat penting dan erat sekali hubuingannya dengan pertahanan Nasional dan juga dalam usaha menaikkan taraf kehidupan penduduk setempat.
Disetiap pulau dimana ada pemukiman penduduk harus dibangun dermaga, besar kecilnya tentunya disesuaikan dengan kebutuhan. Dengan adanya dermaga disetiap pulau berarti setiap pulau dapat disinggahi kapal-kapal patroli TNI-AL. Malah ditentukan bahwa dalam waktu tertentu akan ada kapal patroli TNI-AL yang akan singgah dan merapat di demaga pulau itu. Ini adalah suatu usaha Pemerintah yang dapat dianggap sebagai subsidi kepada daerah atau pulau tersebut secara tidak langsung.
Penduduk setempat dapat menyediakan keperluan kapal-kapal patroli TNI-AL itu berupa sayuran-sayuran, tanaman bumbu dapur dan buah-buahan. Ini akan menggelitik penduduk untuk berusaha menanam dan menjual hasil tanamannya. Malah dianjurkan dan diajarkan penduduk setempat untuk menanam pohon jarak pagar. Juga diajarkan bagaimana untuk mengolah biji jarak menjadi minyak jarak. Minyak jarak ini dapat dipakai sebagai campuran minyak diesel kapal-kapal patroli TNI-AL.
Dengan demikian kapal-kapal patroli TNI-AL dapat berfungsi sepenuhnya walaupun jauh dari pelabuhan besar. Setiap kapal patroli perlu untuk merapat dan memperbaiki atau pemeliharaan alat-alat kapal dalam waktu-waktu tertentu. Diperlukan membangun bengkel-bengkel, dimana penduduk setempat diberi kesempatan untuk belajar. Para personel TNI-AL dapat membawa keluarga ke pulau-pulau ini. Usaha ekonomi akan berkembang. Para personel TNI-AL dan keluarganya akan membelanjakan gaji -gaji yang diterimanya. Perekonomian di pulau itu akan maju demikian pula perekonomian antar pulau yang mana akan menaikkan perekonomian propinsi.
Cetak biru Pelayaran Nasional perlu dikaji lebih lanjut serta mendetail, Pelayaran Nasional dengan Armada kapal baru yang cepat dan cocok dengan keadaan alamnya,merupakan tulang punggung dalam mensukseskan MP3EI.

MangSi 042212

Catatan Redaksi

Beberapa tautan eksternal dibawah ini insyaAllah dapat lebih membuka cakrawala sahabat terkait tema tulisan diatas :
1. Menggugat Deklarasi Djuanda 57, http://indomaritimeinstitute.org/?p=546
3. Deklarasi Djuanda dan Implikasinya Terhadap Kewilayahan Indonesia, http://www.budpar.go.id/userfiles/file/4547_1355-djuanda.pdf
4. Buku Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2023 MP3EI Edisi 1, http://docs.openthinklabs.com/home/mp3ei

Tentang TED


Tentang TED

Sumber:Satria Dharma <satriadharma2002@yahoo.com>,in: IGI <ikatanguruindonesia@yahoogroups.com>,Sunday, 29 April 2012, 8:10

TED merupakan acara tahunan dimana beberapa pemikir terkemuka di dunia dan pelaku kegiatan bisnis maupun nirlaba diundang untuk berbagi apa yang mereka tekuni. “TED” merupakan singkatan dari Technology (Teknologi), Entertainment (Hiburan) dan Design (Desain), tiga bidang yang luas dan secara kolektif membentuk masa depan kita. Kenyataannya, acara ini lebih luas daripada itu, menampilkan ide-ide dari setiap disiplin pengetahuan yang berbeda. Peserta menyebutnya sebagai “spa pemikiran” dan “perjalanan empat hari mendatang”.

Misi utama TED adalah “ideas worth spreading” atau “ide-ide yang layak disebarluaskan”. Program-program yang digagas TED didesain untuk memberi masyarakat, organisasi dan individu peluang untuk mendorong terciptanya dialog melalui berbagai kegiatan TED yang memiliki standard penyelenggaraan kelas dunia.

Para peserta sangat beragam, mulai dari CEO, ilmuwan, pelaku kreatif, pelaku usaha, dengan pembicara yang juga luar biasa. TED telah menghadirkan Bill Clinton, Bill Gates, Jane Goodall, Frank Gehry, Paul Simon, Sir Richard Branson, Philippe Starck dan Bono.

Ingin mengenal lebih jauh apa saja yang dibicarakan dalam event TED? Tonton ratusan video TEDTalks dari seluruh dunia yang luar biasa dan telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia. Penterjemahan dilakukan melalui program TED Open Translation Project.

TED pertama kali dilaksanakan di Monterey, California, pada tahun 1984. Pada tahun 2001, Sapling Foundation diserahi oleh pendiri TED, Richard Saul Wurman, untuk mengelolanya. Dalam beberapa tahun terakhir, TED telah diperluas menjadi berbagai program untuk berbagi seperti konferensi internasional, TED Global, TEDx di berbagai kota dan universitas, termasuk inisiatif media yang didalamnya TED Talks dan TED.com, dan juga TED Prize. Saat ini juga muncul berbagai insiatif dari TED yang masuk ke wilayah lebih spesifik seperti TEDxWomen, TEDxYouth, TEDEdUntuk informasi lebih lanjut dapat mengunjungi www.ted.com.

Penampilan pembicara semua direkam dan sudah menghasilkan ribuan video yang dikumpulkan dalam program TED Talks. Pada saat tulisan ini dibuat, sudah lebih dari 1100 talks di ajang TED yang sudah didokumentasikan dan bisa langsung dicari dan ditonton secara online di http://www.ted.com/talks (tidak termasuk dalam ajang TEDx atau diluar TED Conference).

Tentang TEDx

Dalam semangat menyebarkan gagasan, TEDx merupakan program lokal, diorganisir secara mandiri, membawa banyak orang bersama-sama untuk berbagi pengalaman serupa TED. Pada acara TEDx, video TED Talks dan pembicara langsung bergabung untuk memicu diskusi mendalam. Ini adalah organisasi lokal mandiri, dimana “x” bermakna kegiatan TED yang diorganisasi secara mandiri. Dan TEDx dilakukan secara swadaya. Saat ini TEDx telah dilaksanakan di berbagai tempat di seluruh dunia, dan berkembang tidak hanya di wilayah tertentu, tetapi juga di universitas, organisasi, komunitas tertentu seperti pemuda, wanita, dll. Untuk informasi lebih lanjut tentang TEDx, dapat dilihat di www.ted.com/tedx.

Hampir seluruh wilayah dunia sudah memiliki TEDx event, seperti TEDxAmsterdaam, TEDxTokyo, TEDxSingapore, TEDxSydney, TEDxHouston, TEDxCopenhagen, TEDxBuenosAires, TEDxRamallah, TEDxBerlin, TEDxLahore, TEDxPhnomPenh, TEDxParis, TEDxStockholm, TEDxBarcelona, dan wilayah lain yang terus bertambah. Suatu gerakan perubahan dunia yang sangat luas.

Tonton video pengenalan TEDx dari kurator TED, Chris Anderson disini.

Saat ini sudah ada beberapa event TEDx di Indonesia yaitu:

  • TEDxJakarta
  • TEDxBandung
  • TEDxYogyakarta
  • TEDxMakassar
  • TEDxUbud
  • TEDxTangsel
  • TEDxTepian
  • TEDxUI
  • TEDxUnpad
  • TEDxITB
  • TEDxMCU
  • TEDxBinus
  • TEDxITT
  • TEDxBandungWomen

Daftar ini masih akan terus bertambah seiring semakin banyaknya pihak yang merasakan manfaat yang didapatkan.

Pembicaraan di ajang TEDx dari seluruh dunia direkam dan dikumpulkan dan saat ini sudah mencapai angka lebih dari 12 ribu rekaman video. Seluruhnya didokumentasikan secara rapi dan bisa dicari dan ditonton online di http://tedxtalks.ted.com. Suatu kontribusi luar biasa dari acara-acara TED dan TEDx bagi masyarakat.

Tonton beberapa video TEDx events di Indonesia disini.

Tentang TEDxTepian

TEDxTepian lahir dari sebuah semangat perubahan untuk Kalimantan. TEDxTepian digagas untuk menghubungkan orang-orang yang luar biasa dan menginspirasi dari Kalimantan, dengan warga Kalimantan dan orang-orang di belahan dunia lainnya. TEDxTepian memperoleh lisensi dari TED pada tanggal 4 April 2012, yang diharapkan akan memberikan warna tersendiri dalam perkembangan pengetahuan, keahlian dan semangat warga Kalimantan, dalam bidang teknologi, hiburan dan desain, serta bidang-bidang pengetahuan lainnya. Untuk informasi lebih lanjut tentang TEDxTepian, dapat dilihat di www.tedxtepian.com.

Kalimantan merupakan bagian terpenting dari dunia. Jantung Borneo menghidupi seluruh nadi dunia. Keindahan dan berkilaunya kekayaan alam Kalimantan, telah pula melahirkan generasi yang berkilau di level nasional dan internasional. Sangat banyak bertebaran mereka yang lahir dan pernah belajar dan hidup di tanah Kalimantan, menjadi orang-orang yang menginspirasi banyak orang lainnya di belahan dunia lainnya.

Semangat Kalimantan harus terus dibarakan. Generasi hari ini di Kalimantan memiliki potensi yang luar biasa. Hanya diperlukan sebuah pemantik kecil untuk menghadirkannya di kehidupan internasional. TEDx merupakan salah satu hub bagi terhubungnya Kalimantan dengan bagian lain di dunia. TEDxTepian, menghadirkan pembicara yang merupakan orang-orang Kalimantan yang telah mendunia. Dari Kalimantan, akan lahir sebuah perubahan yang lebih baik bagi dunia.

Event ini dirancang agar bisa menjadi ajang pemberi motivasi dan inspirasi bagi masyarakat Kalimantan umumnya. Diharapkan acara seperti ini juga dapat menjadi ajang dimulainya diskusi dan dialog diantara para anggota masyarakat yang memiliki keinginan untuk maju dan go international. TEDxTepian diimpikan untuk menjadi wadah atau kendaraan pembawa perubahan bagi masyarakat Kalimantan, tidak hanya dalam batas event ini saja, namun akan meluas dalam berbagai inisiatif perubahan yang lain. Dibawah payung standarisasi program TED yang telah berpengalaman secara global dalam membawa perubahan di berbagai pelosok dunia, maka TEDxTepian juga diharapkan mampu memberi secercah kontribusi nyata bagi pembangunan Kalimantan.

Acara perdana TEDxTepian bertema “Inspiring Kalimantan” akan diadakan di kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia pada tanggal 17 November 2012, pukul 13.00-17.00 WITA. Lihat detail disini.

Kami mengundang semua pihak untuk berpartisipasi aktif, baik sebagai peserta, volunteer, sponsor atau pembicara (usulkan pembicara secara online disini). Ikuti dialog tentang TEDxTepian di Twitter dengan hashtag #TEDxTepian atau gabung di Facebook page kami.

Ingin mengenal lebih jauh apa saja yang dibicarakan dalam event TED? Tonton ratusan video TEDTalks dari seluruh dunia yang luar biasa dan telah diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia. Penterjemahan dilakukan melalui program TED Open Translation Project.

Bersama TEDxTepian, kita bawa semangat dan inspirasi dari jantung pulau Kalimantan, bringing the spirit and inspiration from the heart of Kalimantan.

Pembicara

TEDxTepian membuka kesempatan kepada publik untuk mengusulkan nama-nama pembicara yang akan tampil. Pembicara bisa berasal dari manapun dan dari bidang apapun selama bersedia mematuhi aturan yang berlaku di TEDxTepian. Pembicara akan diseleksi oleh Panitia Penyelenggara TEDxTepian sesuai dengan tema dan tujuan acara. Pembicara diutamakan individu (atau individu yang mewakili organisasi) yang memiliki kontribusi pada masyarakat pada level internasional dan nasional, nilai lebih akan diberikan pada topik/bidang yang memiliki keterkaitan dengan kemajuan Kalimantan.

Silahkan mengusulkan pembicara dengan mengirim ke email resmi kami yaitu tedxtepian[at]gmail[dot]com atau mention kami di Twitter @TEDxTepian. Panitia TEDxTepian tidak menjamin bahwa semua usulan akan diterima. Sampaikan usulan dengan menuliskan nama pembicara, alasan atau topik yang berhubungan dengan pembicara, cara kontak ke pembicara, dan informasi lain yang relevan. Penitia akan melakukan kontak langsung dengan calon pembicara dan melakukan audisi sesuai keperluan.

Perlu diketahui bahwa penampilan pembicara di TEDxTepian berdurasi maksimal 18 menit, pembicaraan harus fokus dan bersifat memberi inspirasi kepada audiens. Pembicara disarankan untuk menyiapkan presentasi yang akan dilakukan agar sesuai dengan alokasi waktu dan semangat TEDx. Pembicara dapat memakai alat bantu setelah melakukan koordinasi dengan panitia penyelenggara. TEDx berkomitmen untuk menghadirkan kualitas pembicaraan sebaik-baiknya dan sesuai dengan tujuan TEDx.

olunteer

TEDx adalah acara berbasis komunitas dan tidak berorientasi pada profit. Kami menerima volunteer (sukarelawan) untuk ikut membantu kegiatan operasional penyelenggaraan acara. TEDxTepian Organizer akan mengadakan MeetUp Volunteer secara berkala untuk melakukan silaturahmi dan koordinasi penyelenggaraan acara. Tidak ada persyaratan khusus untuk menjadi volunteer, siapapun bisa ikut aktif berpartisipasi sesuai kemampuan dan keperluan acara.

Kepanitiaan TEDxTepian akan dijalankan dengan azas keterbukaan, gotong-royong, saling berbagi dan kekeluargaan sesuai semangat TED dan kultur kita di Indonesia. TEDxTepian berkomitmen untuk membawa pengalaman berharga bagi setiap pihak yang terlibat aktif serta peluang menjalin network untuk masa depan kita yang lebih baik untuk kita semua.

Penggagas TEDx Tepian adalah Pak Mohammad Adriyanto.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 61 other followers