Archive for the ‘esai’ Category

Dahlan Iskan: Garuda Kalahkan MAS, BatanTek Meng-Asia

Garuda Kalahkan MAS, BatanTek Meng-Asia

Senin, 11 Juni 2012, 05:34 WIB

Menneg BUMN Dahlan Iskan

in:mediacre,Monday, 11 June 2012, 9:19

 

Dua lagi perusahaan BUMN yang tahun ini melejit melampaui batas negara: PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan PT Batan Teknologi (Persero).

 

Garuda, secara mengejutkan, saat ini sudah lebih besar dari Malaysia Airlines (MAS) dan Thai Airways, Thailand. Bahkan sudah lebih besar dari Air France! Value Garuda kini sudah mencapai Rp18 triliun. Sudah sekitar Rp1 triliun lebih besar dari MAS dan Thai. Dengan demikian untuk Asia Tenggara kini Garuda tinggal kalah dari Singapore Airlines.

 

Memang tidak ada alasan bagi Indonesia untuk serba kalah dari sesama negara ASEAN. Di antara 10 negara Asia Tenggara kekuatan ekonomi Indonesia sudah mencapai 51% sendiri. Baru yang 49% dibagi 9 negara lainnya.

 

Di bawah direksi Garuda yang sekarang dengan Dirut Emirsyah Satar, prestasi itu akan terus bisa dipacu. Inilah direksi yang dari segi umur relatif masih muda-muda. Inilah direksi yang berada di puncak antusias dan gairahnya. Iklim seperti itu secara otomatis akan menjalar dan mewabah ke jajaran di bawah dan di bawahnya lagi.

 

Ekonomi Indonesia yang terus membaik memang bisa menjadi ladang yang subur bagi Garuda. Penambahan pesawat yang terus dilakukan, termasuk yang kelas 100 tempat duduk, akan membuat Garuda terbang kian tinggi.

 

Langkah terbarunya untuk bisa dipercaya Kanada sebagai pusat perawatan pesawat Bombardier se Asia Pasifik, memberikan hope yang lebih besar lagi. Dengan demikian GMF AeroAsia, salah satu anak perusahaan Garuda, akan menjadi perusahaan kelas dunia juga. Ini karena pembuat mesin pesawat terkemuka di dunia lainnya, GE dari USA juga sudah mempercayakan perawatan mesin GE ke GMF AeroAsia.

 

Seperti tidak kalah dengan prestasi Garuda dan enam BUMN kelas dunia lainnya (BRI, Bank Mandiri, Telkom, BNI, PGN, dan Semen Gresik) kini muncul si cabe rawit: PT Batan Teknologi.

 

Tahun ini di bawah Dirut baru Dr.Ir.Yudiutomo Imardjoko, BatanTek tidak hanya bisa bangkit dari kuburnya bahkan begitu bangkit langsung bisa berlari dengan kencangnya. Larinya pun ke mana-mana termasuk ke puluhan negara Asia.

 

Padahal tahun 2010 lalu BatanTek sudah dicabut nyawanya. Ini gara-gara ada larangan internasional untuk melakukan pengayaan uranium tingkat tinggi. Ini dikhawatirkan bisa disalahgunakan menjadi senjata nuklir.

 

Sejak itu PT BatanTek berhenti memproduksi radioisotop. Tim BatanTek sudah berusaha mengubah proses pengayaan uranium menjadi tingkat rendah, tapi tidak mampu. Bahkan BatanTek sudah mendatangkan ahli dari USA untuk menularkan pengetahuan proses uranium tingkat rendah. Tapi juga gagal.

 

Akibatnya rumah-rumah sakit yang selama ini menggunakan radioisotop dari BatanTek memilih membeli dari sumber lain. Semua pelanggan marah dan memutuskan hubungan. BatanTek praktis mati.

 

Untunglah Dr Yudiutomo datang dan menjadi dirut baru. Anak Maospati, Magetan, lulusan Fakultas Teknik Nuklir UGM ini memang bukan sembarang orang. Dia meraih gelar doktor di bidang nuklir di Iowa State University USA.

 

Dr Yudiutomo mengajak ahli nuklir sealmamater di UGM, Dr.Ing Kusnanto untuk menjadi direktur produksi. Dr Kusnanto meraih gelar doktor nuklir dari Aachen, Jerman.

 

Karena PT BatanTek masih dalam keadaan sulit, sejak awal dua ahli nuklir ini memilih menghemat: menyewa satu rumah untuk dihuni berdua. Keluarga ditinggal di Yogya.

 

Dua orang inilah yang tidak henti-hentinya berpikir bagaimana agar BatanTek bisa melakukan pengayaan uranium tingkat rendah. Siang malam dua ahli ini terus berdiskusi. Keputusan untuk tinggal satu rumah membuat diskusi mereka berlanjut setelah jam kantor sekalipun. Di rumah kontrakan itulah mereka bisa berdiskusi sampai jam 2 dini hari.

 

Hasilnya luar biasa: mereka menemukan cara baru mengayakan uranium tingkat rendah. Bukan cara yang sudah dikenal di dunia sekarang ini, tapi cara baru yang untuk mudahnya saya beri saja nama “Formula YK” (Yudiutomo Kusnanto).

 

Formula YK ini menggunakan prinsip electro plating. Menggantikan cara lama sistem foil target. Prinsipnya, sebelum dimasukkan reaktor nuklir uranium itu di-plating dengan rumus tertenu. Cara ini meski kelak diketahui oleh ahli lain pun akan sulit ditiru. Rumus angka-angkanya tidak akan diungkap.

 

Masalahnya: dari mana perusahaan dapat tambahan modal? Reaktor nuklirnya sih bisa tetap menggunakan reaktor milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) yang di Serpong itu, tapi banyak peralatan PT BatanTek yang harus diperbaharui atau diperbaiki.

 

“Perlu berapa?” tanya saya saat rapat dengan dua ahli nuklir itu di Serpong.

 

“Cukup besar pak, Rp 85 miliar,” jawab Dr Yudiutomo.

 

“Saya carikan!”

 

Saya pun menghubungi Bank Rakyat Indonesia. Saya memang sangat kagum dan terharu melihat kejeniusan dua ahli ini. Saya bisa merasakan getaran semangatnya yang meluap. Dan saya juga melihat kilatan matanya yang menyiratkan keinginan untuk maju. Inilah ilmuwan yang memiliki kemampuan manajerial yang handal. Intelektual sekaligus entrepreneur!

 

Dengan penemuan baru Formula YK ini Indonesia berhasil menjadi satu-satunya negara di Asia yang mampu memproduksi radioisotop. Kini seluruh negara Asia datang ke BatanTek untuk membeli radioisotop!

 

Radioisotop adalah bahan yang sangat penting untuk pemeriksaan kesehatan di rumah sakit. Radioisotop adalah bahan yang tidak bisa dipisahkan dengan kedokteran nuklir. Dengan radioisotop organ-organ di dalam badan bisa dilihat secara berwarna dan tiga dimensi.

 

Ini sudah beda dengan radiologi yang hanya bisa hitam putih dan dua dimensi.

 

Maka pemeriksaan melaui MRI, CT, gamma camera, serta operasi yang menggunakan pisau gamma mutlak memerlukan radioisotop. Jepang pun tidak memproduksinya sehingga pasar radioisotop kita amat besar. Apalagi Tiongkok.

 

Waktu saya mendampingi Presiden SBY makan siang dengan Presiden Hu Jintao di Beijing yang lalu, saya pun promosi radioisotopnya BatanTek. Kebetulan saya berada di sebelah menteri perdagangan Tiongkok. Selama makan siang itu saya terus minta agar Tiongkok membeli radioisotop kita.

 

Dengan kemampuan Dr Yudiutomo dan timnya menembus pasar Jepang, Tiongkok, Malaysia, dan negara-negara Asia lainnya, maka masa depan PT Batan Teknologi amat cerah. Tahun ini omsetnya langsung bisa mencapai Rp 200 miliar. Tidak mustahil bakal bisa mencapai Rp 1 triliun dan kemudian Rp 3 triliun di kemudian hari.

 

Amerika dan Australia, meski mampu membuat radioisotop, mereka bukan pesaing kita. Umur radioisotop ini hanya 60 jam. Setelah itu daya radiasinya habis. Untuk kebutuhan Tiongkok 10 curie, misalnya, Tiongkok harus membeli 60 curie. Yang 50 curie hilang di jalan. Karena itu pengirimannya harus dengan pesawat. Harus dihitung waktu pengirimannya sejak dari Serpong ke bandara dan seterusnya.

 

Saya tentu ingin dua ahli kita ini tidak berhenti di radioisotop. Keduanya juga optimis pengetahuannya akan sangat berguna untuk pertanian dan pengeboran minyak.

 

Tapi biarlah BatanTek maju dulu. Jadi raja Asia dulu. Dua tahun lagi kita bicara nuklir untuk mengamankan pangan kita. []

 

Menneg BUMN Dahlan Iskan

Pidato Hasyim Muzadi yang Menghebohkan Beredar Luas

Pidato Hasyim Muzadi yang Menghebohkan Beredar Luas

  • Pidato Hasyim Muzadi yang Menghebohkan Beredar Luas

TRIBUNNEWS.COM – Pidato mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH HAsyim Muzadi beredar luas melalui pesan berantai BlackBerry Messenger dan media sosial seperti Facebook dan blog.

Pidato yang heboh itu berisi pandangan mantan pemimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia itu mengenai sejumlah isu kontroversial seperti Ahmadiyah, toleransi antarumat beragama, Gereja Yasmin, Lady Gaga, Irshad Manji, dan perkawinan sejenis.

“Pidato itu beredar di seluruh jagad raya. Saya dapat (pesan berantai) dari mana-mana,” kata Ali Mukhtar Ngabalin, Ketua Umum Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), Senin (4/6/2012), kepada TRIBUNnews.com.

TRIBUNnews.com, yang menerima beberapa pesan berantai itu pagi ini, coba menelusuri di Google dengan kata kunci “pidato Hasyim Muzadi”.

Beberapa halaman akun Facebook dan blog memuat pidato Hasyim tersebut, yang isinya persis sama dengan pesan berantai di BBM.

Hasyim Muzadi sendiri telah mengonfirmasikan isi pidato ini.

Berikut selengkapnya isi pesan BBM mengenai pidato Hasyim Muzadi:

KH. Hasyim Muzadi, Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) & Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) & Mantan Ketum PBNU ttg tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia oleh Sidang PBB di Jeneva :

“Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti krn laporan dr dlm negeri Indonesia. Slm berkeliling dunia, saya blm menemukan negara muslim mana pun yg setoleran Indonesia.

Klau yg dipakai ukuran adl masalah AHMADIYAH, memang krn Ahmadiyah menyimpang dr pokok ajaran Islam, namun sll menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tdk dipersoalkan oleh umat Islam.

Kalau yg jadi ukuran adl GKI YASMIN Bogor, saya berkali-kali kesana, namun tampaknya mereka tdk ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional & dunia utk kepentingan lain drpd masalahnya selesai.

Kalau ukurannya PENDIRIAN GEREJA, faktornya adl lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tp di Kupang (Batuplat) pendirian masjid jg sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu mlkkan mediasi.

Kalau ukurannya LADY GAGA & IRSHAD MANJI, bangsa mana yg ingin tata nilainya dirusak, kecuali mrk yg ingn menjual bangsanya sendiri utk kebanggaan Intelektualisme Kosong ?

Kalau ukurannya HAM, lalu di iPapua knp TNI / Polri / Imam Masjid berguguran tdk ada yg bicara HAM ?Indonesia lbh baik toleransinya dr Swiss yg sampai skrg tdk memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dr Perancis yg masih mempersoalkan Jilbab, lbh baik dr Denmark, Swedia dan Norwegia, yg tdk menghormati agama, krn disana ada UU Perkawiman Sejenis. Agama mana yg memperkenankan perkawinan sejenis ?!

Akhir’a kmbl kpd bngsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yg hrs sadar dan tegas, membedakan mana HAM yg benar (humanisme) dan mana yg sekedar Weternisme”.

+++++

http://id.berita.yahoo.com/hasyim-muzadi-indonesia-negara-muslim-paling-toleran-060810950.html

Hasyim Muzadi: Indonesia “Negara Muslim” Paling Toleran

AntaraAntara – Rab, 30 Mei 2012

Jakarta (ANTARA) – Presiden World Conference on Religions for Peace (WCRP) KH Hasyim Muzadi menyatakan, Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim memiliki tingkat toleransi beragama yang tinggi.

“Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara Muslim mana pun yang setoleran Indonesia,” kata Hasyim di Jakarta, Rabu.

Bahkan, menurut Hasyim, Indonesia juga memiliki toleransi beragama yang lebih baik dibanding sejumlah negara di Eropa. Ia lantas membandingkan dengan Swiss yang sampai sekarang tidak memperbolehkan pendirian menara masjid, juga Prancis yang masih mempersoalkan jilbab.

Karena itu, ia sangat menyayangkan penilaian sejumlah delegasi negara anggota Dewan HAM PBB yang menyebut Indonesia intoleransi dalam beragama dalam sidang tinjauan periodik universal II (Universal Periodic Review – UPR) di Jenewa, Swiss.

“Selaku Pesiden WCRP, saya sangat menyayangkan tuduhan intoleransi agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu pasti karena laporan dari dalam negeri Indonesia,” kata Hasyim.

Hasyim yang juga Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) itu mempertanyakan ukuran intoleransi beragama yang dituduhkan oleh peserta sidang tersebut.

Kalau yang dipakai ukuran adalah masalah Ahmadiyah, kata Hasyim, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan “stempel” Islam dan berorientasi politik Barat.

“Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam Indonesia,” katanya.

Kasus GKI Yasmin Bogor, lanjut Hasyim, juga tidak bisa dijadikan ukuran Indonesia tidak toleran dalam beragama.

“Saya berkali kali ke sana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional dan dunia untuk kepentingan daripada masalahnya selesai,” katanya.

Lebih lanjut Hasyim mengatakan, sulitnya pendirian tempat ibadah baru juga bukan ukuran bagi toleransi beragama karena persoalannya lebih pada persoalan lingkungan.

“Di Jawa pendirian gereja sulit, tapi di Kupang pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu melakukan mediasi,” katanya.(rr

Asal Usul Nenek Moyang Dari Asia

Asal Usul Nenek Moyang Dari Asia

Tanggal : 08 Jun 2012
Sumber : Harian Terbit

JAKARTA-Nenek moyang monyet, kera, dan manusia kemungkinan berasal dari Asia, bukan dari Afrika seperti yang selama ini diyakini oleh sejumlah ilmuwan. Teori baru ini didukung oleh fosil yang baru ditemukan di Asia Tenggara.

Asal-usul antropoid, kelompok simian atau “primata tingkat tinggi,” yang beranggotakan monyet, kera, dan manusia selama ini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Meski fosil yang digali di Mesir menunjukkan bahwa Afrika adalah tanah kelahiran antropoid, tulang elulang lain yang ditemukan dalam 15 tahun terakhir menguak kemungkinan bahwa Asia adalah tempat kelahiran mereka.

Teori ini menggeser teori sebelumnya yang menyatakan nenek moyang manusia berasal dari Afrika. Teori baru ini diungkapkan oleh tim ahli palaeontologi, setelah mereka menemukan fosil gigi Afrasia djijidae di Myanmar.

Bentuk fosil gigi antropoid ini mirip fosil Afrotarsius libycus, yang ditemukan di Libya, sehingga menjadi penghubung rantai evolusi yang hilang antara Afrika dan Asia. Bentuk gigi kedua spesies ini menunjukkan bahwa mereka adalah pemakan serangga.

Kemiripan antara Afrasia dan Afrotarsius melahirkan gagasan bahwa antropoid bermigrasi dari Asia dan membuat kolonisasi di Afrika.

Afrasia tidak hanya membantu menutup kasus tentang evolusi pertama antropoid di Asia, tapi juga mengatakan kepada kita bahwa nenek moyang pertama manusia justru berjalan ke Afrika,” kata Chris Beard, paleontolog, di Carnegie Museum of Natural History, Amerika Serikat.

Namun jangan dibayangkan bentuk leluhur manusia ini seperti hominid pada umumnya. Karena memang tidak demikian. Berdasarkan ukuran fosil gigi yang ditemukan, kedua spesies leluhur manusia itu diperkirakan berukuran 3,5 ons, kira-kira bentuknya seperti tarsius modern.

Tim peneliti menemukan empat fosil gigi yang sama setelah enam tahun melakukan penggalian dan pemilahan berton-ton sedimen di daerah dekat Nyaungpinle di pusat Myanmar. Temuan tim yang melibatkan ilmuwan dari University of Poitiers, Prancis, ini sempat membelah pakar paleontologi di seluruh dunia, khususnya kapan dan bagaimana antropoid Asia awal membuat jalan dari Asia ke Afrika.

Maklum saja, karena perjalanan ke Afrika pada saat itu tidaklah mudah. Sebab, ada sebuah laut yang lebih luas dibanding Laut Mediterania modern disebut Laut Tethys memisahkan Asia dan Afrika. Sementara penemuan fosil Afrasia tidak banyak membantu mereka memecahkan misteri rute awal antropoid menuju benua Hitam. “Hal ini menunjukkan kolonisasi terjadi relatif baru, hanya sesaat sebelum fosil manusia purba pertama ditemukan dalam catatan fosil Afrika,” ujar Beard.

Profesor Jean-Jacques Jaeger dari University of Poitiers mengatakan temuan fosil antropoid Afrasia djijidae di Myanmar menunjukkan salah satu keturunan dari antropoid awal telah membuat kolonisasi di Afrika sekitar 37-38 juta tahun lalu. Namun keragaman antropoid awal lebih banyak diketahui dari situs Libya yang menghasilkan Afrotarsius libycus.

Penemuan ini menjadi terobosan untuk menguak hubungan antara Afrasia djijidae dan Afrotarsius libycus. “Ini merupakan patokan penting untuk penentuan tanggal kolonisasi Afrika oleh antropoid Asia,” ujar Jaeger. ”Afrika adalah tempat asal manusia dan Asia adalah tempat kelahiran nenek moyang kita.”(tbt)

http://www.harianterbit.com/artikel/info/artikel.php?aid=152460

US-Indonesian Relations: A Balancing Act

US-Indonesian Relations: A Balancing Act
 

With increased Chinese assertiveness in the South China Sea and a re-posturing of U.S. focus towards East Asia, the most powerful Southeast Asian state finds itself at a crossroads as it seeks to balance long-standing relations with the U.S. and the growing importance of its relationship with China, says Daniel Bodirsky of Geopoliticalmonitor.

 

Since the ouster of authoritarian President Suharto in 1998, Indonesia has undergone a considerable period of political transformation. The post-Suharto period – known as “reformasi” – has seen a number of key reforms implemented. These have been aimed at transitioning Indonesia towards democracy and enhancing good governance.

One of the most important of these reforms has been the transferring of power from Indonesia’s highly-centralized federal government to provincial-level administrations. With 240 million people belonging to 490 ethnic groups spread across 17,000 islands, Indonesia has long been faced with several separatist conflicts. This devolution of power has been essential in helping to quell some of these conflicts.

These political developments within Indonesia have not just improved the domestic political climate. They have also opened the door to a closer relationship with Washington.

Indonesia’s bilateral relations with the United States are already well-cemented. It was seen as a strategic anti-communist bulwark during the Cold War, and as the world’s most populous Muslim country, Indonesia has also emerged as a key regional ally in the global war on terror. A hefty price has been paid for this anti-terror coordination with the U.S however, as evidenced by the Bali bombings and the ongoing struggle with homegrown fundamentalist movements like Jemaah Islamiyah.

But US-Indonesian relations go far deeper than just the war on terror. Indonesia’s 17,000 islands contain some of the most strategically-significant waterways in the world – namely the straits of Malacca, Sunda, and Lombok. These straits see nearly half of the global merchant fleet pass through them every year, as well as a much of Northeast Asia’s energy supplies. These waterways also contain some of the highest instances of piracy on earth. Ensuring the security of the straits and the goods that travel through them is an important strategic objective of the United States.

International focus on Southeast Asia in recent years has centered on increased Chinese activity in the area. China’s rapid naval modernization has gone hand-in-hand with a growing assertiveness in the South China Sea. The South China Sea and surrounding areas contain an estimated 28 billion barrels of oil, making control of the tiny islands that dot the sea a strategic imperative for regional actors. China, Vietnam, the Philippines, Malaysia, Taiwan and Brunei all have overlapping claims to the islands. This has led to armed skirmishes between China and some of its Southeast Asian neighbours- the most recent of which being with the Philippines over the Scarborough Shoal.

China’s increased military presence is understandably making its neighbours nervous. It is this fear that is driving Southeast Asian countries like Vietnam and the Philippines into the arms of the United States.  Indonesia however is somewhat of a unique case. Barring the tiny Natuna Islands near Borneo, Indonesia has very few overlapping land-claims with China. This has precluded any physical skirmishes with the PLA Navy.

In fact, there has been a marked lack of any substantial confrontation between China and Indonesia, and there are a few factors that may explain why. Nearly all of Indonesia’s pressing security concerns are internal – be they secessionist movements in Aceh and West Papua, or Islamic insurgents. China is not viewed as the threat that other countries in the region take it for, and most Indonesians hold favourable views of China (67%). There are also substantial trade links between the two powers (bilateral trade of $25.5 billion in 2009), so both countries will think twice before provoking the other.

While both the U.S. and China have been courting Indonesia, having Jakarta on friendly terms with Beijing could in fact serve as a boon to U.S. interests in the region. Washington has little interest in seeing more Chinese vessels in the South China Sea. With Vietnam and the Philippines actively seeking U.S. support to counter the growing Chinese presence in the area, Indonesia has the potential to serve as the lynchpin of a coalition of regional actors, perhaps under the auspices of ASEAN. This is one case where Sino-US competition doesn’t need to be a zero sum game. Indonesia’s good relations with China may be the key to a peaceful solution in the South China Sea.

Indonesia’s short-term strategic interests are based on carefully balancing its relationships with the United States and China. While its neighbours ratchet up anti-Chinese rhetoric over miniscule islands, Jakarta has chosen to follow a path of moderation. As an emerging middle-tier power, Indonesia cannot afford to sacrifice its deepening economic ties with China in favour of a stronger relationship with the U.S., as many of the other states in the region have already done. Thus, Indonesia will likely continue to pursue the middle-ground in conducting its relations in the near future.

Daniel Bodirsky is a contributor to Geopoliticalmonitor.com

INPUT Dari Dr SIAUW MAY LIE

INPUT Dari Dr SIAUW MAY LIE

Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 11 Juni 2012


Suatu PEMIKIRAN Yg MENGUNDANG ANALISIS

in: MEDIACARE-MEDIACARE-MEDIACARE <mediacare@yahoogroups.com> ,  Monday, 11 June 2012, 22:08

Sahabatku, seorang dokter di Amsterdam, Siauw May Lie namanya. Ia rajin
menyampaikan informasi bersangkutan dengan Tiongkok dewasa ini. Suatu
“hoby” yang sungguh bermanfaat. Terutama karena informasi yang
disampaikannya, biasanya sesuatu yang belum banyak diketahui. Lagipula
May Lie menyampaikan “apa adanya”. Tanpa komentar, tapi mengundang yang
membaca untuk memikirkannya dengan serius. Sering sekali yang
disampaikannhya itu benar-benar “otentik”, “menarik” dan “unik”.

Kali ini bahan yang disampaikan May Lie mengenai Uni Sovyet dan masalah
pembangunan Sosialisme, dll. Yang diambil dari sumber informasi Tiongkok.

* * *

Bicara masalah pembangunan Sosialisme di Uni Sobyet dan Eropah Timur,
aku teringat pada sebuah pembicaraan di Beijing, RRT. dengan penulis
Selandia Baru, Rewi Aley. Ketika itu pada tahun enampuluhan abad lalu,
Rewi baru saja kembali dari pulang kampung. Antara lain ia
menceriterakan padaku bahwa di Selandia Baru ia sulit propanda tentang
Sosialisme yang dibangun di kubu Sosialis. Karena, kata Rewi, apa yang
ia lihat di Selandia Baru ketika itu, adalah praktek Sosialisme dalam
kenyataan. Sejak lahir sampai masuk liang kubur, setiap warga terjamin,
tak akan terlantar. Padahal di negeri-negeri Sosialis tak demikian
halnya. Apalagi yang menyangkut masalah “kebebasan menyatakan pendapat”,
“kebebasan berorganisai”, dsb. Hal itu ada di Selandia Baru. Sedangkan
di negeri-ngeri Sosialis ketika itu, merupakan hal yang masih
dipersoalkan. Dan macam-macam pula interpretasinya.

Jadi, saya bisa propaganda apa mengenai Sosialisme di blok Timur?
Demikan Rewi Alley.

* * *

Belakangan Siauw May Lie menyampaikan sebuah berita wawancara seorang
cendekiawan Tiongkok, sbb

*Wawsancara HE FANG tentang sekitar *

“*KERUNTUHAN UNI SOVYET”*

*(oleh Ma GuoChuan). Chang Qing, 31 desember 2011, disiarkan melalui
BLOG CHINA). *

Bahan ini sudah diketahui umum. Umum yang bisa berbahasa Tionghoa. Siauw
May Lie membantu kita-kita, yang kurang faham bahasa Tionghoa, untuk
bisa membacanya dalam bahasa Indonesia.

* * *

Berikut ini adalah cuplikan apa yang dikemukakan dalam bahan tsb. <Bagi
yang merasa perlu untuk membaca wawancara itu selengkapnya, bilang saja.
Akan diusahakan mengirimkannya melalui e-mail.>

“*KATA PENGANTAR: *

Setelah perangdunia kedua, untuk jangka waktu yang lama partaipartai
BURUH dan SOSIALIS memegang kekuasaan pemerintahan di Inggris, Perancis,
Jerman, Belanda,Austria dll. Akibatnya, tidak hanya di Eropa Utara saja,
melainkan bahkan seluruh Eropa Barat pun sudah menjadi negerinegeri
SOSIALISME-DEMOKRATIS.

Membaca tulisan HE FANG, mantan wakil ketua umum Institut
Masalah-Masalah Internasional Dewan Negara,anda mungkin akan terperanjat
dan menjadi siuman, bahwa sebenarnya di masakini, yang dilaksanakan oleh
negeri-negeri Inggris, Perancis, Jerman, Austria, Swiss, Finlandia dll,
bahkan seluruh Eropa Barat adalah system sosialis, adalah sistem
Sosialisme-Demokratis.Sedangkan yang dilaksanakan oleh negerinegeri yang
menamakan dirinya sebagai negeri Sosialis sesungguhnya BUKAN Sosialisme.
Dengan pencerahan masalah besar ini, maka banyak masalah lainnya juga
akan menjadi jelas. Bahwa Sosialisme yang Sejati(yang sesungguhnya)
adalah baik, yang tidak baik adalah Sosialisme Gadungan.

“. . . . He Fang menyatakan dengan bebas dan terbuka: “KERUNTUHAN
UniSovyet bukan sebagai akibat dari agresi bersenjata dari kekuatan
musuh dari luar, juga bukan akibat dari evolusi secara damai”, “Partai
Komunis Uni Sovyet dan Kekuasaan Politik Pemerintahan Uni Sovyet
sesungguhnya telah dicampakkan oleh Rakyatnya sendiri”.

“. . . . . Bagaimana UniSovyet itu bisa bubar? Saya rasa penyimpulan
cekakaos dari ketua partai komunis Russia Juganov adalah sangat jitu:
Sebab yang fundamental adalah karena PartaiKomunis UniSovyet dan
pimpinannya telah memonopoli secara mutlak terhadap ketiga bidang
ekonomi, politik dan ideologi. Sehingga berakibat ekonomi tidak bisa
meningkat,masih pula mau melakukan perlombaan perlengkapan militer
dengan Amerika; Dibidang politik melaksanakan teror diktatur, samasekali
terlepas dari massa; dibidang ideologi mandeg dan kaku, sehingga
masyarakat berada dalam keadaan sesak dan tidak bernafas.

“. . . . Ya.Benar. Kita juga bisa meneliti pembubaran UniSovyet itu
dengan latarbelakang Gerakan Sosialisme(Komunisme) Internasional.
Gerakan Sosialisme Internasional dimulai pada abad ke 19. Dalam abad ke
20 negeri-negeri yang dikuasai oleh partai Komunis dan yang menamakan
diri sebagai negeri Sosialis bukan hanya UniSovyet saja. Akan tetapi
negeri-negeri lainnya itu semuanya meniru model UniSovyet, dibidang
ekonomi memusnahkan sistem pemilikan perseorangan, melaksanakan sistem
pemilikan umum sebagai satusatunya sistem yang berlaku, melaksanakan
ekonomi Berrencana, sehingga didalam negeri terjadi kekurangan
commodity(barang), menutup pintu terhadap dunia luar, mengurung diri
didalam rumah sendiri; dibidang politik dengan konsekwen melaksanakan
diktatur partai Tunggal dan Partailah yang menguasai se-galagalanya,
melaksanakan sistem kepemimpinan monolit dengan sentralisasi kekuasaan
yang mutlak dan kultus individu, sehingga apa yang dinamakan demokrasi
hanyalah formalitas saja, dalam kenyataannya samasekali tidak ada
hebebasan dan keadilan, kesamarataan dan hak azasi manusia; dibidang

saja, dalam kenyataannya samasekali tidak ada hebebasan dan keadilan,
kesamarataan dan hak azasi manusia; dibidang ideologi melaksanakan
monopoli partai TUNGGAL dan pengawasan yang sangat keras, melarang
kepercayaan ideologi, melarang kebebasan pers dan penerbitan serta
melarang berkumpul dan berorganisasi dsb.,dsb. Melakukan pekerjaan tanpa
transparansi, berfikiran kolot dan kaku, tidak memperbolehkan orang
berargumentasi, melarang perdebatan pendapat. Oleh karenanya, di
negerinegeri ini pada umumnya ekonominya tidak berkembang, masyarakat
tidak dewasa, kekuasaan politiknya tidak stabil,sehingga lambatlaun
sulit dipertahankan dan tidak bisa lain pasti terguling.

“. . . .Partai-partai Komunis di UniSovyet dan berbagai negeri
EropaTimur BUKAN terguling oleh agresi kekuatan bersenjata musuh dari
luarnegeri, juga bukan oleh evolusi secara damai, melainkan RUNTUH
dengan sendirinya dalam kompetisi secara damai dengan negerinegeri
kapitalis dan Sosialisme demokratis.

“Dalam propaganda di masalalu kita selalu menamakan Sosialisme
Demokratis sebagai “REVISIONISME”. Tapi sebenarnya, Sosialisme
Demokratis itu pun merupakan suatu macam PRAKTEK SOSIALISME. Pada tahun
1919, setelah perpecahan radikal dalam Gerakan Sosialisme Internasional,
yang utama terpecah menjadi dua aliran:

-Yang pertama adalah aliran INTERNASIONALE(KOMINTERN) KEDUA bersama
Partai-partai BURUH, Partai Sosialis-Demokratis di berbagai negeri yang
MENDEKLARASIKAN (akan)PELAKSANAAN SOSIALSME DEMOKRATIS;

-Yang kedua adalah INTERNASIONALE(KOMINTERN)KETIGA bersama PARTAI-PARTAI
KOMUNIS berbagai negeri yang MENDEKLARASIKAN(akan) PELAKSANAAN KOMUNISME.

Keduaduanya mengakui memeluk(menjunjungtinggi) ajaran MARXISME, pada
waktu permulaan bahkan menobatkan dirinya masing-masing sebagai “KAUM
MARXIS YANG TULEN(original)”, akan tetapi saling tidak mengakui
keberadaan satusamalainnya, SALING TIDAK MENGAKUI dan SALING TIDAK
MENERIMA. Sebelum Perang Dunia kedua, di Sweden dan Finlandia dan
beberapa negerinegeri Eropa Utara Partai Buruh dan Partai Sosialis telah
memegang kekuasaan pemerintahan. Setelah Perang Dunia kedua, di
negerinegeri Inggris, Jerman, Perancis, Belanda, Austria dll lagi
partaipartai Buruh dan Sosialis juga telah ber-tahuntahun menguasai
pemerintahan. Sehingga tidak hanya di Eropa Utara, tapi juga di
EropaBarat secara keseluruhan juga sudah melaksanakan Sosialisme Demokratis.

“. . . . Pada tahun 1951, DEKLARASI yang disahkan dalam “SIDANG
FRANKFURT” menyatakan: TUJUAN dan TUGAS Sosialisme Demokratis adalah
“MENGEMBANGKAN DEMOKRASI, MENYERAHKAN KEKUASAAN KEPADA RAKYAT”, “AGAR
MANUSIAMANUSIA YANG BEBAS BISA BEKERJA BERSAMA DALAM MASYARAKAT DENGAN
KEDUDUKAN YANG SAMARATA”. Prinsip daripada Sosialisme Demokratis adalah
:”BEBAS,ADIL(SEDERAJAT),SALING MENCINTAI(BROTHERHOOD), DEMOKRATIS”;
DIBIDANG EKONOMI MELAKSANAKAN SISTEM KEPEMILIKAN CAMPUR(BERLAKU
KEPEMILIKAN INDIVIDU DAN KEPEMILIKAN UMUM)SERTA EKONOMI PASAR YANG
BERADA DIBAWAH PENGONTROLAN

TERBATAS OLEH NEGARA; MEMBANGUN DAN MEREALISASI SISTEM KESEJAHTERAAN
MASYARAKAT DENGAN PRINSIP YANG ADIL DAN BERDASARKAN PERSAUDARAAN;
MEMPERBOLEHKAN KEANEKARAGAMAN IDEOLOGI; dengan demikian ketidak
percayaan (keraguan dan antipasti) terhadap Marxisme dikalangan pimpinan
atasan dan dikalangan massa luas bisa mencair dalam waktu yang singkat.

Di dalam abad ke-20, telah terjadi perbandingan dan perlombaan antara
dua macam MODEL sistem SOSIALIS DI NEGERI-NEGERI SosialismeDemokratis
dan negerinegeri yang berada dibawah kekuasaan Partai Komunis. Hasil
dari ujian praktek ini menunjukkan, sistem Sosialisme Demokratis telah
mencapai kemenangan dan keberhasilan dalam taraf yang berbeda-beda. Kita
ambil sebagai contoh Sweden dan Finlandia, dalam awal abad ke -20, kedua
negeri ini masih tergolong sebagai negeri yang paling terbelakang di
Eropa, tambahan pula kondisi alam dan cuaca yang sangat buruk, akan
tetapi dalam tahun 70-an abad ke 20, taraf kemakmuran mereka sudah
terhitung yang nomor wahid di seluruh Eropa, benarbenar terlaksana
kemakmuran ekonomi, demokratis dalam kehidupan politik, Rakyat menikmati
kebebasan individu yang optimal, mencapai kesejahteraan masyarakat yang
sempurna, kestabilan masyarakat yang kukuh. Telah menghapus sistem
perbedaan klas dan fasislitas istimewa, pimpinan negara dan
menteri-menteri yang mendapat fasilitas kendaraan istimewa dari negara
berjumlah tidak sampai 5 orang saja. Dalam rumahtangga perdana menteri
dan pejabat tinggi lainnya juga tidak diberikan perlayanan pembantu
rumahtangga yang dibeayai negara.Lebihlebih tidak ada pembedaan yang
terlalu menyolok dalam “nilai kandungan emas” perhitungan salaris
diantara menteri dan wakil menteri; juga tidak dalam perlayanan
pengobatan, tempat tinggal dan mobil dinas. Pada pokoknya telah
meniadakan ketiga selisih besar sehingga mencapai kemakmuran yang
samarata secara umum.

Pendek kata, diukur dari standard manapun tentang peradaban dan
modernisasi, bisa disimpulkan bahwa negerinegeri dibawah pimpinan
partaipartai Komunis JAUH TERBELAKANG disbanding dengan negerinegeri
SosialismeDemokratis. Kita samasekali tidak bisa menggunakan dalih bahwa
startingpointnya lebih rendah dan capital dasarnya terlalu miskin, lihat
saja selisih antara Korea Selatan dan Utara. Jadi dengan perbandingan
dan pertimbangan kedua belah pihak demikian ini, kita bisa menyimpulkan
bahwa jalan yang dijelajahi oleh negerinegeri SosialismeDemokratis pada
pokoknya adalah TEPAT, sedangkan model STALIN dibawah pimpinan
PartaiKomunis itu adalah KELIRU dan GAGAL. Ini merupakan kesimpulan yang
bisa ditarik dari GERAKAN SOLISALIS yang merupakan ciri terpenting dari
sejarah umatmanusia dalam abad ke 20.

“PERUBAHAN UNISOVYET DAN EROPA-TIMUR MERUPAKAN KEMAJUAN DALAM
PERKEMBANGAN SEJARAH”.

“. . . . Apakah Sosialisme? Hingga kini memang masih belum jelas
samasekali. Berdasarkan semangat prinsipiil Marxisme dan penyelidikan
ilmu dan praktek tentang Sosialisme selama 200 tahun selama ini,
pemahaman saya sendiri adalah: Negeri atau masyarakat Sosialis pada
pokoknya harus memiliki beberapa syarat sbb.:

1. TENAGA PRODUKTIF YANG BERKEMBANG MAJU dan HASILPRODUKSI yang
KAYARAYA, agar bisa memenuhi tuntutan dan syarat-syarat pokok untuk
merealisasi sosialisme, misalnya memushnahkan 3 selisihbesar, membangun
sistem kesejahteraan yang sempurna dll;

2. PERPADUAN (koexistensi) SISTEM KEPEMILIKAN dan cara PEMBAGIAN HASIL
yang beraneke ragam. Disebabkan karena kebutuhan pengembangan produksi
dan ekonomi pasar, dalam tahap permulaan sosialisme seharusnya
mengutamakan kepemilikan privat atas bahan produksi, kemudian baru bisa
bertahap berkembang menjadi kepemilikan sosial seperti yang dikemukakan
oleh Marx serta mengutamakan pembagian hasil berdasarkan kerja. Ini
berbeda dengan kepemilikan atasnama negara dan Rakyat serta pembagian
sumber alam;

3. KEBEBASAN, DEMOKRASI, KESAMARATAAN, HAKAZASI MANUSIA, PEMERINTAHAN
BERDASARKAN UNDANGUNDANG dan PEMECAHAN SOAL MENURUT HUKUM.TANPA
DEMOKRASI berarti TIDAK AKAN ADA SOSIALISME. Sedangkan KEBEBASAN adalah
prasyarat dan dasar dari DEMOKRASI. Jika tidak ada Undangundang dan
Hukum untuk pemecahan soalsoal, berarti akan ada terjadi ANARCHI
sehingga tidak akan ada ketertiban masyarakat yang normal.Dengan adanya
HUKUM untuk pemecahan soalsoal, harus meniadakan sistem pembagian klas
dan pangkat serta fasilitas istimewa, haruslah ditegakkan diatas dasar
keadilan dan kesamarataan. Apa yang dimaksudkan dengan KESAMARATAAN
adalah kesamarataan politik dan hukum,

kesamarataan dalam kehidupan masyarakat dan watak orang, adaalah
kesempatan yang sama bagi setiap orang dalam kesempatan uantuk mencari
nafkah dan berkembangmaju, bukan berarti kesamarataan dalam menikmati
materi dan kewajiban sosial.

4. Memiliki kebudayaan moral yang tinggi serta kesejahteraan masyarakat
yang sehat dan sempurna. Masyarakat Sosialis harus memiliki peradaban
jiwa yang bertingkat tinggi serta jaminan sosial yang sempurna,
memilikikebudayaan ilmu [pengetahuan yang maju serta sistem masyarakat
dan kebiasaan dan peradatan yang baik. Masyarakat menuntut keterbukaan
serta kejujuran , menentang aksi-aksi yang tidak transparant serta
siasatbusuk.Berdasarkan prinsip samarata dan semangat solidaritas
persaudaraan yang tinggi, kita bisa membina suatu struktur kesejahteraan
masyarakat yang sehat dan sempurna, agar setiap orang menikmati
kebahagiaan, agar masyarakat berada dalam keadaan harmonis dan stabil.

“. . . Memang demikian. Akhir tahun 70-an abad yl, Wang Zhen, yang
menjabat wakil menteri Perindustrian Tiongkok ketika itu menyatakan
kesankesannya kepada anggota delegasi kunjungan studinya di Inggris,
“Menurut kesan saya Inggris ini lumayan, dalam materi ia sangat
kayaraya. Di sana sudah pokoknya tidak ada lagi tiga selisih besar,
masyarakat adil dan kesejahteraannya juga mendapat perhatian, bila
ditambahkan lagi dengan partai Komunis yang memegang kekuasaan, maka
bisa dikatakan Inggris itulah masyarakat Komunisme yang kita idamidamkan.”

Jadi asalkan dipimpin partai Komunis, tak peduli apakah sesungguhnya
merupakan penjajahan kejam dan bengis, dimana mayat orang kelaparan
bergelimpangan memenuhi padanglalang, penduduk berbondongbondong lari
keluarnegeri,tetap saja dinamakan Sosialisme. Jika tidak demikian, tak
peduli faktorfaktor cirri sosialisme lainnya, tapi tidak dibawah
pimpinan partai Komunis, maka namanya tetap kapitalisme. Ini cara debat
kusir yang tidak tahu aturan dan merupakan sektarisme picik yang
menyalahi ajaran Marxisme. Oleh sebab itu, kita harus mengubah cara
menilai yang hanya melihat merk yang ditempelkan diluarnya, dan harus
secara objektif menakar berapakah factor sosialisme yang terkandung
didalam suatu negeri itu. Bagi negerinegeri yang mengandung kadar
sosialisme yang cukup banyak, tak peduli dipimpin oleh partai yang mana
dan apa nama sebutannya, kita harus mengkategorikannya sebagai negeri
sosialis atau negeri yang sedang menuju ke sosialsime.Demikian juga
sebaliknya, kalau menurut standard objektif yang dimiliki jauh tidak
mencukupi Sosialsime, kendatipun dikuasai sepenuhnya oleh partai
Komunis, ia tidak boleh dikategorikan sebagai negeri Sosialis. Hanya
dengan meluruskan nama Sosialisme menurut standard objektif beginilah
kita baru bisa memulihkan Kehormatan nama Sosialsime sesuai dengan
idam-idaman massa Rakyat sejak dikenal sejarah.

SELESAI, DITERJEMAHKAN UNTUK SAUDARA-SAUDARAKU TERCINTA DI EMPAT-PENJURU
DUNIA. SERMOGA BERMANFAAT. Siauw maylie, Amsterdam, 10 juni 2012. 19 20 21

* * *

BERITA-GEMBIRA DARI HERMAN BURGERS

Kolom IBRAHIM ISA
Minggu, 10 Juni 2012

in:MEDIACARE-MEDIACARE-MEDIACARE <mediacare@yahoogroups.com> , Sunday, 10 June 2012, 19:44

BERITA-GEMBIRA DARI HERMAN BURGERS

*<Penulis Buku Sejarah: De Garoeda en de Ooievaar>*

Tadi malam sekembalinya dari suatu pertemuan keluarga di Hoofddorp,
rumah si Bungsu Jasmin, — berkenaan dengan peringatan/perayaan hari
ultah tiga orang dari anggota keluarga kami, Oma Murti (83), putrinda
Gayatri (55) dan cucunda Anusha (9), *kubaca di e-mailku BERITA GEMBIRA
dari kenalanku sejarawan Belanda, Dr HERMAN BURGERS.*

Herman Burgers menyampaikan bahwa atas usaha keras a.l. Dr Tol, wakil
KITLV di Jakarta dan sebuah penerbit Jakarta, direncanakan terbit edisi
Indonesia buku “De Garoeda en de Ooievaar, — Indonesië van Kolonie tot
Nationale Staat”; bahasa Indonesianya, “Sang Garoeda dan Sang Bangau, —
Indonesia dari Jajahan sampai ke Negara Nasional”. Mudah-mudahan sudah
bisa keluar dari percetakan dalam bulan Agustus 2013.

Akan terbitnya edisi Indonesia dari buku Herman Burgers itu adalah suatu
perkembangan menarik dan penting sehubungan dengan usaha bersama kita
untuk mengenal sejarah bangsa sendiri. *Sehubungan dengan ini patutlah
kita berterima kasih pada penulisnya, Herman Burgers, KITLV dan sebuah
penerbit di Jakarta. *

Tak jelas sampai dimana usaha para sejarawan kita menulis buku sejarah
Indonesia yang agak menyeluruh atau yang difokuskan pada masa bangkitnya
gerakan kemerdekaan nasional, yang bisa dinilai sebagai suatu penulisan
sejarah yang tidak rekayasa seperti yang dilakukan oleh sementara
“sejarawan” Orba. Kita mengenal nama-nama sejarawan/sarjana muda seperti
*Muridan Widjojo, Asvi Adam, Bambang Purwanto, Gonggong, Bonnie
Triyana,* dan *Batara Hutagalung* untuk menyebut satu dua dari
beliau-beiau itu. Sebegitu jauh belum muncul dari mereka hasil studi
sejarah yang menyeluruh sebagaimana halnya hasil karya sejarawan
Belanda, Herman Burgers.

Dari sini menjadi lebih nyata bahwa di Belanda terdapat
cendekiawan-cendekiawan Belanda yang punya perhatian besar terhadap
masalah sejarah Indonesia, seperti *Harry Poeze *(penulis buku sejarah
Tan Malaka, yang sudah mulai terbit edisi Indonesianya;*Jan Breman, Henk
Schulte Nordhold*; *Nico S.Nordhold, Gerry van Klinken *dll. Kita akan
selalu ingat pada nama *W.F. Wertheim* (Pak Wim) yang telah menulis buku
klasik dan standar INDONESIAN SOCIETY IN TRASITION, sudah ada edisi
Indonesianya); serta buku *J. Pluvier*, Sejarah Gerakan Kemerdekaan
Indonesia (sayang masih belum ada edisi Indonesianya; walaupun pernah
ada usaha menterjemahkan dan mengedarkannya di kalangan terbatas) .

Betapapun mereka-mereka ini akan terus memberikan sumbangsihnya bagi
usaha lebih lanjut saling mengenal dan saling memahami di antara kedua
bangsa, Indonesia dan Belanda, yang punya sejarah yang panjang. Suatu
usaha yang akan lebih mendekatkan hubungan baik, wajar dan setara antara
kedua bangsa dan negeri. *<Disinilah ingin kuulangi dan lebih tegaskan
lagi BETAPA BODOH DAN DUNGUNYA penguasa yang berwewenang dari Wereld
Omroep Radio Nederland, yang bulan ini MENYETOP siaran seksi Indonesia
(Ranesi) dari Radio Nederland Wereld Omroep>.*

* * *

Pada tanggal 13 Mei, 2011, telah kutulis sebuah kolom SEKITAR BUKU
HERMAN BURGERS — “DE GAROEDA EN DE OOIEVAAR” <Penulisan Sejarah
Indonesia Yg Lebih Baik>. Isinya a.l sbb:, bahwa KITLV Leiden belum lama
(24/11/2010) menerbitkan buku yang menarik perhatian, yaitu,
*
“De Garoeda en de Ooievaar”.*
Sahabatku jurnalis Belanda (kawakan) Hans Beynon, menganggap buku
sejarah Indonesia yang ditulis oleh
sejarawan Herman Burgers, *sebagai salah satu penelitian terpenting
mengenai hubungan Indonesia-Belanda*. Tulisanku ini bukanlah sebuah
resensi atas buku H. Burgers. Sekadar kesan. Untuk menggugah. Menarik
perhatian pembaca mengenai buku sejarah Indonesia yang ditulis oleh
seorang sejarawan Belanda.

* * *

Bulan April 2011, yang lalu, sebelum memiliki sendiri buku itu, aku
beruntung bisa meminjam dari Openbare Bibliotheek Bijlmer, buku ‘bagus’
tsb :
“INDONESIË Van Kolonie Tot NATIONALE STAAT”. Judul besar buku sejarah
ini “DE GAROEDA En De OOIEVAAR”.

Tebalnya lumayan – 807 halaman. Di toko harganya paling tidak Euro 49,90.

* * *

Baik dijelaskan sedikit mengapa penulis Herman Burgers mengambil
‘Garoeda’ untuk melambangkan Indonesia. Dan mengambil ‘bangau’, sebagai
lambang Nederland. Mengenai ´Garuda´ sebagai lambang Indonesia, tak
perlu penjelasan. Anggap saja semua warga Indonesia yang peduli tanah
air, bangsa dan sejarahnya, sudah mengetahuinya.

Tulis H. Burgers: — Bagi Nederland bangau itu adalah burung terbesar.
Sejak zaman dulu bangau itu punya peranan mistik dalam mitologi Belanda.
Ratusan tahun lamanya burung bangau menjadi lambang kota Den Haag.
Bangau bukan simbol Nederland. Tapi simbol Den Haag. Sedangkan untuk
melambangkan kekuasaan Nederland, biasa orang menyebutnya pemerintah Den
Haag. Jadi Nederland dianggp identik dengan Den Haag dan sebaliknya. Ini
sederhananya saja.

J. Herman Burgers (75th) sejak semula mengikuti dengan penuh perhatian
konflik antara Belanda dan Indonesia, terutama yang menyangkut
tahun-tahun 1948-1950. Ketika itu Burgers anggota KL (Koninklijke Leger)
— (dinas wajib militer) dan berada di Indonesia. Burgers kemudian
bekerja di Kementerian Luar Negeri Belanda. Jadi tergolong ‘orang dalam’.

* * *
*
Membaca buku ini menyegarkan. Karena ditulis dengan jelas dan baik.
Fakta-faktanya cukup. Literatur yang digunakan juga cukupan. Namun yang
khusus patut dihargai ialah SIKAP DAN PENDIRIAN penulisnya. Boleh
dikatakan bertolak belakang dengan pandangan dan sikap banyak penulis
Belanda lainnya mengenai Indonesia.*

Satu contoh: Tulis H. Burgers dalam Kata Pengantarnya, a.l: — Oleh
karena pergerakan nasional Indonesia, berjuang melawan kekuasaan
Belanda, maka, orang baru bisa memahaminya dengan baik, bila mengetahui
bagaimana terjadinya penguasaan tsb. Suatu cara berfikir Burgers yang
logis dan wajar!

* * *

Juga menarik ialah analisis Burgers, bahwa berdirinya negara Indonesia
bukan saja berkat gerakan kemerdekaan nasional, — tetapi juga karena
adanya faktor dan peranan kekuasaan Belanda, yang dilawan oleh gerakan
kemerdekaan Indonesia. Dari pandangan ini Burgers memasuki masalahnya.
Pertama-tama dengan menelaah perkembangan pokok kebijakan Hindia-Belanda
terhadap Indonesia. Kemudian melanjutkannya dengan gerakan kemerdekaan
nasional, menyerahnya Hindia-Belanda dan pendudukan Jepang (1942-1945).

Penting pula analisis Burgers, bahwa periode pendudukan Balatentera
Jepang di Indonesia, (punya peranan) melapangkan jalan bagi kemerdekaan
Indonesia serta diprokalamasikannya Republik Indonesia, 17 Agustus 1945.
Burgers tampak kritis terhadap sikap Belanda yang hendak terus menguasai
Irian Barat. Tulis Burgers: Konflik Belanda-Indonesia berakhir dengan
Persetujuan KMB. Namun, menyisakan masalah Irian Barat. Belanda terus
saja menduduki Irian Barat. Analisis Burgers mengenai faktor pendudukan
Jepang di Indonesia yang dikatakannya punya peranan ‘melapangkan jalan’
bagi kemerdekaan Indonesia, pernah juga ku-utarakan dalam salah satu
seminar. Tidak banyak yang bersedia menerimanya.

Sikap Belanda, yang menolak menyerahkan Irian Barat, mengakibatkan 13
tahun lamanya Belanda bersengketa dengan Indonesia mengenai masalah tsb.
Sampai Indonesia akhirnya memutuskan samasekali hubungan dengan Belanda.
Demikian Burgers.

Penuturan mengenai sengketa Indonesia-Belanda mengenai Irian Barat,
mengambil tempat hampir separuh dari buku Burgers.

* * *

Menulis tentang berbagai periode dalam sejarah hubungan kedua negeri,
Burgers menunjukkan bahwa antara pelbagai periode itu terdapat saling
hubungan yang erat sekali. Kesinambungan tahap-tahap perkembangan tsb
tercermin pada kehidupan SOEKARNO, HATTA, dan banyak/tokoh dramatis/
lainnya, seperti Soewardi Soerjaningrat, Agoes Salim, Sam Ratulangi,
Jonkman dan Van Mook.

* * *

Penting untuk menjadi pengetahuan kita semua, khususnya para pemeduli
sejarah di Indonesia, apa yang dikemukakan oleh Herman Burgers dalam
bukunya, a.l sbb:

*Sehubungan dengan terjadinya penguasaan Nederland (atas Indonesia), —
Bagi kebanyakan orang Belanda dari periode sebelum Perang Dunia II, hal
itu sederhana sekali. Mereka menganggap bahwa seluruh “Hindia” sejak
abad ke-XVII sudah ada di bawah kekuasaan Nederland. Anggapan keliru
demikian itu juga masih terdapat pada banyak kaum nasionalis Indonesia.
Mereka bicara tentang ‘tiga ratus tahun’, bahkan ‘tigaratus limapuluh
tahun’ penindasan Belanda terhadap Indonesia.*

Sesungguhnya, perluasaan kekuasaan Nederland atas Indonesia, terjadi
selangkah demi selangkah, berangsur-angsur. Itu terjadi dalam jangka
waktu 350 tahun itu.

* * *

Herman Burgers mengungkapkan bahwa penguasaan Belanda atas Indonesia, —
kongkritnya dilakukan oleh VOC, berlangsung selangkah demi selangkah.
Pada tahap permulaan VOC harus berhadapan lebih-dulu dengan Portugis,
Spanyol dan Inggris. Karena tiga negeri itu, sudah lebih dulu usahanya
mencaplok sumber rempah-rempah di Asia. Belanda terpaksa lebih-dulu
mengalahkan saingan-saingannya. Mereka berkali-kali terlibat dalam
peperangan sampai Belanda akhirnya berhasil mengusir Portugis, Spanyol
dan Inggris. VOC mulai menjadikan sebagian kecil terlebih dahulu dari
Indonesia, yaitu kepulauan Maluku dan sekitarnya, — yang merupakan
penghasil utama rempah-rempah ketika itu, menjadi jajahannya langsung.

Herman Burgers juga mengungkapkan betapa luarbiasa kejamnya VOC, di
bawah Gubernur VOC Jan Pieterszoon Coen (1587-1629). Ketika menaklukkan
perlawanan rakyat Maluku, Banda, Ternaté,Tidoré dan sekitarnya. VOC
menggunakan serdadu-serdadu sewaanlangsung dari Eropah, lalu ditambah
dengan serdadu sewaan setempat. Selain itu, Belanda, khusus mendatangkan
‘pendekar-pendekar maut’ dari Jepang, untuk menteror dan membantai
rakyat Maluku, Banda, Ternate, Tidore dst.

Sejak digulingkannya Presiden Sukarno, sering disebut telah terjadinya
‘genocide’ terhadap rakyat di Indonesia (sehubungan dengan Peristiwa
Pembanrtaian Masal 1965 oleh tentara di bawah Jendral Suharto). —
Tetapi sesungguhnya, apa yang dilakukan oleh Gubernur Jendral VOC Jan
Pieterszoon Coen, terhadap rakyat Maluku dan Banda dalam abad ke-XVII
itu, —- adalah GENOCIDE PERTAMA yang terjadi di Indonesia.

Dalam proses memaksakan monopoli perdagangan rempah-rempah, serta
penguasaan wilayah, VOC, disatu fihak, melarang penanaman rempah-rempah
di tempar lain yang tak bisa sepenuhnya dia kuasai. Di lain fihak dengan
sewenang-wenang membakar tanaman rempah-rempah di tempat-tempat lainnya,
dan akhirnya membantai rakyat setempat. Peristiwa-peristiwa tsb, seperti
a.l pengiriman ekspedisi militer, dalam sejarah penjajahan Belanda atas
Indonesia dikenal a.l. sebagai ‘Hongi tochten’ di kepulauan Maluku,
Banda dan sekitarnya.

* * *

Studi sejarah Indonesia, seperti yang dilakukan oleh sejarawan Herman
Burgers, banyak mengungkap hal-hal yang rinci dalam hubungan
Indonesia-Belanda. Ini perlu jadi pengetahuan pemeduli sejarah
Indonesia, lebih-lebih para historikus, politisi dan generasi muda
Indonesia umumnya.

Tanggapan atas buku Herman Burgers diatas, — adalah secuplik saja dari
apa yang bisa dikemukakan mengenai karyanya itu. Sementara sampai di
sini dulu. Lain kali masih bisa ditanggapi bagian-bagian lainnya dari
buku Herman Burgers.

* * *

Buku Herman Burgers tsb ditulis dalam bahasa Belanda.

*Mudah-mudahan sudah terkandung niat pada KITLV, Leiden, dengan fihak
manapun partnernya di Indonesia, untuk menerbitkan *EDISI INDONESIA,
buku “DE GAROEDA EN DE OOIEVAAR”, “INDONESIË Van Kolonie Tot NATIONALE
STAAT”.**

* * *

Ketika diundang ke LIPI tahun lalu ( Agustus 2011) untuk bicara, dimana
Asvi Adam adalah tuan rumahnya aku tandaskan bahwa:

“. . . . . . di Belanda juga terdapat tidak sedikit orang dan
cendiakawan muda, penulis maupun sejarawan yang bisa dengan obyektif
menilai kejahatan kolonialisme Belanda di masa lampau terhadap
Indonesia. Salah seorang dari sejarawan itu adalah Herman Burgers, yang
tahun lalu menulis buku sejarah hubungan Indonesia-Belanda, berjudul ‘DE
GARUDA EN DE OOIEVAAR’. Diterbitkan oleh KITLV, tahun 2010. Buku sejarah
ini menurutku cuku obyektif dan berani dalam mengungkap kejahatan
kolonialisme, serta kekerasan kepala politik Belanda mengenai masalah
Irian Barat. Sehingga hubungan Indonesia-Belanda berlarut-larut memburuk
terus oleh karenanya.

” . . . . . di Belanda juga terdapat tidak sedikit orang dan cendiakawan
muda, penulis maupun sejarawan yang bisa dengan obyektif menilai
kejahatan kolonialisme Belanda di masa lampau terhadap Indonesia. Salah
seorang dari sejarawan itu adalah *Herman Burgers*, yang tahun lalu
menulis buku sejarah hubungan Indonesia-Belanda, berjudul *’DE GARUDA EN
DE OOIEVAAR’.* Diterbitkan oleh KITLV, tahun 2010. Buku sejarah ini
menurutku cuku obyektif dan berani dalam mengungkap kejahatan
kolonialisme, serta kekerasan kepala politik Belanda mengenai masalah
Irian Barat. Sehingga hubungan Indonesia-Belanda berlarut-larut memburuk
terus oleh karenanya.

Juga kuceriterakan, bahwa di Belanda ada sebuah buku yang ditulis oleh 9
orang sejarawan dan penulis berjudul *”DE GRROOTSTE NEDERLANDER”,* Orang
Belanda terbesar. Diantara orang Belanda terbesar *mereka masukkan nama
Ir Sukarno*. Yang telah berjuang sejak muda untuk kemerdekaan bangsanya.
Aku bilang kepada teman-teman LIPI: Tidak pernah kubaca tulisan orang
Belanda yang demikian baiknya tentang Ir Sukarno.

* * *

Seperti dijelaskan oleh Herman Burgers dalam surat e-mailnya yag
kuterima tadi malam itu, bahwa edisi Indonesia dari bukunya itu
didasarkan atas buku yang ditulisnya dalam bahasa Belanda. Isinya
sebagian terdiri dari terjemahan bukunya yg dalam bahasa Belanda, yaitu
teks mengenai sejarah Bab VI s/d VIII. Menyangkut masa konflik Belanda
dan Republik Indonesia sejak 1945 s/d Desember 1949.

Intinya ditambah dengan prolog dan epilog, Prolognya terutama
membehandel sekitar gerakan kemerdekaan pada dasarwarsa pertama abad
ke-XX . Sedangkan epilognya terdiri dari bab mengenai perbedaan tentang
Irian Barat, yang akhirnya berkembang ke pemutusan tuntas hubungan
antara Nederland dan Republik Indonesia.

Seluruh buku akan menjadi kira-kira 400 halaman, Dicetak sebanyak 2000 eks.

Itu berarti empat kali lipat edisi aslinya.

*Tidak ada sikap lain, kecuali KITA MENYAMBUT HANGAT edisi Indonesia
BUKU SEJARAH INDONESIA “DE OOIEVAAR EN DE GAROEDA” yang ditulis oleh
sarjana Belanda Herman Burgers.*

* * *

*Lampiran: <Surat edaran Herman Burgers sekitar rencana penerbitan
bukunya di Indonesia, dalam bulan Agustus 2013 yad.>*

*HERMAN BURGERS:*

Beste vrienden en andere relaties,

In maart 2010 verscheen mijn boek De garoeda en de ooievaar – Indonesië
van kolonie tot nationale staat bij de uitgeverij van het Koninklijk
Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) in Leiden. Gezien de
door u getoonde belangstelling voor dit boek en de ontvangst ervan wil
ik u graag op de hoogte stellen van enige nieuwe ontwikkelingen.

De gedrukte oplage van 500 exemplaren is medio 2011 uitverkocht geraakt.
Intussen had de uitgeverij het boek al in najaar 2010 in digitale vorm
beschikbaar gemaakt door plaatsing op de website http://www.oapen.org.Sindsdien
kan iedereen het daar kosteloos raadplegen en downloaden. In augustus
2011 is deze digitale editie bovendien vervangen door een nieuwe editie
met verscheidene correcties en aanvullingen van zowel de tekst als de
kaarten. Ik ben de uitgeverij hiervoor zeer erkentelijk.

Bij het schrijven van het boek heb ik van begin af aan niet alleen
Nederlandse lezers op het oog gehad, maar ook Indonesische en andere
buitenlandse lezers. Ik hoopte daarom steeds dat het tezijnertijd ook in
Indonesische en Engelse vertaling zou kunnen verschijnen. Dat was
bovendien één van mijn redenen om het KITLV als uitgever te kiezen.

Vooral dank zij inspanningen van de directeur van het KITLV-kantoor in
Jakarta, dr. Roger Tol, is er nu besloten tot een Indonesische uitgave
op basis van het boek. De kern daarvan zal bestaan uit een Indonesische
vertaling van dat deel van de tekst waarin het stuk geschiedenis wordt
behandeld dat ik als tijdgenoot zelf heb meegemaakt. Dat zijn de
hoofdstukken VI tot en met VIII, die het conflict tussen Nederland en de
Republiek Indonesië behandelen vanaf de uitroeping van de Indonesische
onafhankelijkheid in 1945 tot en met de Nederlandse
soevereiniteitsoverdracht in 1949.

Deze kern zal worden aangevuld met een nog door mij te schrijven proloog
en epiloog. De proloog zal vooral gaan over de Indonesische nationale
beweging uit de eerste decennia van de 20e eeuw. De epiloog zal in
hoofdzaak het geschil over West-Irian beschrijven dat uiteindelijk tot
een volledige breuk tussen Indonesië en Nederland heeft geleid. De
totale omvang zal neerkomen op ongeveer 400 pagina’s tekst.

Het boek zal worden uitgegeven door de Indonesische uitgeverij Suara
Harapan Bangsa (‘De stem van de hoop van het volk’) in samenwerking met
KITLV-Jakarta. De directeur van deze uitgeverij, Toenggoel Siagian, en
dr. Tol streven ernaar het boek in augustus 2013 te doen verschijnen in
een oplage van 2000 exemplaren (viermaal de oplage van het Nederlandse
boek!).

Met hartelijk dank voor uw aandacht,

Herman Burgers

No Rice Day Will ‘Violate Human Rights,’ Analyst Says

No Rice Day Will ‘Violate Human Rights,’ Analyst Says
Dessy Sagita | June 12, 2012

The government could be violating human rights if it implements a national One Day No Rice Program, an analyst has warned.

“That’s an authoritarian policy because it’s telling people what to eat,” University of Indonesia public policy expert Andrinof Chaniago said on Sunday.

The One Day No Rice Program was introduced in Depok by Mayor Nur Mahmudi Ismail, but the controversial policy has been adopted in other regions and there are now calls to implement it nationwide.

Andrinof said a policy that banned people from eating rice could not be justified even for health reasons because food choices were not in the realm of the law.

“It will not be effective and if the government insists [on implementing it], it will violate human rights,” he said.

Andrinof said there were many other ways for the government to promote food diversification in people’s diets.

He added that the One Day No Rice Program could only be a recommendation and should not be enforced by sanctions.

“It’s better if the government teaches people how to grow breadfruit and cassava, not dictate to them what they can or cannot eat,” he said.

The One Day No Rice initiative in Depok has received mixed responses. An official from the Agriculture Ministry said on Saturday that the program would be developed for all of Indonesia to help promote food diversification.

Achmad Suryana, the head of the food security division at the ministry, said the program aimed to lower the public’s dependence on rice as a food staple.

“Through the program, people are expected to consume less rice and shift to other foods such as tubers,” he said.

He said the aim was to reduce rice consumption by 1.5 percent annually.

The average Indonesian consumes 316 grams per day of rice, corn and wheat, above the recommended 275 grams.

Meanwhile, the average consumption of tubers is only 40 grams per day, far below the recommended 100 grams.

Menunggu Kereta Lewat

Menunggu Kereta Lewat

INDRA TRANGGONO

Kompas, Sabtu,9 Juni 2012

Bahaya laten negara-bangsa ini bukan hanya korupsi, melainkan juga stok pemimpin nasional kelas negarawan yang minim. Akibatnya, bangsa ini menyerah untuk dipimpin orang-orang berkapasitas ala kadarnya dalam rezim yang serba gamang.

Salah casting dalam penyelenggaraan negara pun sangat sering terjadi. Orang yang sesungguhnya hanya berkapasitas ”pegawai” diberi peran menjadi petinggi negara.

Kita pun selalu salah menerka: orang-orang yang kita sangka negarawan, ternyata tak lebih dari sekadar pedagang politik, pokrol, makelar kekuasaan, dan ”badut-badut” berdasi. Kenegarawan mereka hanya tampil dalam pencitraan dan retorika.

Mereka lantang bicara soal keadilan dan kesejahteraan sambil membobol Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dengan gaya yang sangat santun dan anggun. Inilah kekejaman yang dilakukan dengan sangat sopan atau kebrutalan yang diekspresikan dengan indah.

Di luar rezim, langit pun tetap gelap. Tak banyak muncul sosok pemimpin yang mampu menebarkan cahaya integritas, kilau kecerdasan, dan sinar keberanian. Sosok-sosok yang kita temui selama ini lebih banyak mirip pelancong yang menunggu kereta kekuasaan lewat.

Mereka muncul setiap menjelang pemilu tiba. Begitu kereta lewat, mereka cepat meloncat. Ada yang berhasil naik, akan tetapi banyak juga yang terpelanting jatuh.

Situs petualangan politik

Pemimpin sejati yang berkapasitas negarawan bukanlah pelancong kekuasaan yang menunggu kereta pemilu lewat, melainkan pencipta perubahan. Pelancong kekuasaan berkonotasi orang yang hanya mengandalkan modal material untuk berkuasa.

Setelah berkuasa pun, para pelancong kekuasaan ini tidak merasa punya komitmen untuk mengelola kekuasaan dengan baik dan jujur. Kekuasaan, bagi mereka, hanya dipahami sebagai situs petualangan politik yang memberikan sensasi kenikmatan dan bisa dibeli di loket resmi atau lewat para calo.

Kekuasaan berwatak material dan transaksional kini menguat di negeri ini. Pemimpin yang muncul pun tak lebih dari (dalam bahasa Jawa) tukang tebas (pembeli borongan) pohon melinjo yang berprinsip kuras habis.

Adapun pemimpin sejati lahir dari idealisme yang menyatu dengan degup jantung rakyat. Ia memberi kaki dan tangan kepada idealisme sehingga idealisme tidak hanya menjadi gumpalan konsep gagasan dan cita-cita besar, tetapi juga hidup dan bergerak menciptakan peristiwa: kenyataan yang dibaca sebagai perubahan.

Ibarat naskah drama, idealisme dipahami bukan sebagai drama kata, melainkan pertautan berbagai peristiwa dramatik yang melibatkan tokoh-tokoh dalam pergulatan persoalan. Tokoh-tokoh itu jatuh bangun membangun karakter dirinya dan memperjuangkan gagasannya.

Artinya, pemimpin sejati melakukan transformasi idealisme dan ideologi menjadi praksis dan realitas yang mengangkat eksistensi rakyat.

Transformasi itu dilakukan melalui berbagai pertarungan yang sengit terhadap sejumlah pihak yang memberikan antitesis atau bahkan resistensi. Di sini, pemimpin membutuhkan visi, kepercayaan diri, dan keberanian dalam memperjuangkan idealismenya demi melayani rakyat secara bermartabat, sekaligus terhormat, sejalan dengan konstitusi.

Teks itulah yang bisa kita baca dari perjuangan Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Tan Malaka, Ki Hadjar Dewantara, Jenderal Soedirman, dan manusia-manusia besar lainnya yang dimiliki negeri ini. Mereka adalah tokoh-tokoh yang lolos dan lulus dari berbagai peristiwa dramatik sejarah.

Semakin hilangnya peristiswa dramatik dalam sejarah kepemimpinan menjadikan negara-bangsa ini tidak memiliki stok yang banyak atas pemimpin sejati. Tokoh-tokoh yang lahir pun tidak bersimbah keringat beraroma pengabdian atas rakyat, tetapi tokoh-tokoh pemburu karier yang serba kinclong, klimis, necis, penuh parfum (merek) asing, dan sok santun.

Rakyat sudah tak tahan

Menjelang pemilu tiba, bangsa ini krabyakan atau kesulitan menemukan pemimpin sejati. Orang-orang yang muncul lebih banyak dari stok lama yang—terus terang—kurang memberikan harapan besar bagi rakyat. Munculnya tokoh-tokoh baru dan muda terasa dipaksakan demi banyak alasan. Misalnya, membangun dinasti kekuasaan, penguatan politik/ekonomi asing, atau mempertahankan kekuasaan.

Tokoh-tokoh lain, yang selama ini dikenal relatif bersih dan berkomitmen, tampaknya masih malu-malu atau kurang percaya diri. Agaknya mereka masih butuh banyak waktu untuk belajar berkuasa atau menunggu ”bebotoh” kekuasaan.

Padahal, rakyat sudah tidak tahan hidup dikepung korupsi dan kepemimpinan bergaya pencitraan. Rakyat tengah menunggu perubahan.

INDRA TRANGGONO Pemerhati Kebudayaan

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/06/09/02080525/menunggu.kereta.lewat

Insight: Unwise Nationalism

Insight: Unwise Nationalism
A. Lin Neumann | June 08, 2012

http://www.thejakartaglobe.com/opinion/insight-unwise-nationalism/522948

Hundreds of elementary school children raise Indonesian flags to mark 66 years of the nation Hundreds of elementary school children raise Indonesian flags to mark 66 years of the nation’s independence in Solo. (JG Photo/Ali Lutfi)

I certainly understand the impulse toward nationalism. Given the long history of colonialism in Indonesia and most of Southeast Asia, it is not unusual to feel that the sovereign nation is “ours” and that somehow “foreigners” are exploiting an unfair advantage.

Indeed during the independence struggles of former colonies like Indonesia, the thunderous calls of leaders like Sukarno to fight for the native soil against foreign oppressors were both right and necessary. The colonial occupation record — the Dutch in Indonesia, the Spanish and the Americans in the Philippines, the Japanese in Korea, the British in a host of Asian countries and the French in Indochina — was appalling.

Whatever their rhetoric, the colonizing nations entered the territories they seized in order to exploit natural resources, use the land for profit and pay the lowest wages possible to “natives” they treated as racial inferiors. They universally created small groups of compradors to help them govern the colonies and most held onto their profitable outposts of empire until armed insurgents or political necessity made it too costly to hang on. In some cases the colonizers first brutally conquered a territory with arms and massacres and then later rewrote history to make it appear that their motive was the salvation of souls or the uplifting of civilization. In others, it was a more straightforward proposition.

Either way, it is for good reason that the festering wounds of conquest and racial insult can take generations to heal but unfortunately the scab can easily be picked for the wrong reasons later. That may be what we are witnessing in Indonesia.

Especially during an election season, when politicians compete eagerly to attract public sympathy with little regard for the practical effect of the policies they may advocate, it is easy for nationalist sentiment to resonate and appear reasonable. Add to that the good notices Indonesia has been getting from analysts and this may appear to some officials to be a perfect time to get tough on foreign investors who want to exploit the country’s minerals, buy its banks or make other investments that might be better off going to the sons of the soil.

But hold on a moment. The various restrictions being proposed currently on mining, bank ownership, imports and other forms of foreign investment aren’t targeted at foreign oppressors, nor do they benefit some group of noble freedom fighters. The investors are as likely to come from Asia as the West and the potential local beneficiaries of some regulations are among the wealthiest people in the region. At a time when Indonesia’s domestic market has saved it from the worst effects of global economic troubles and made it the darling of foreign investors, I fear that too much attention may have been paid by some officials and politicians to the good news. Indonesia may very well become a top-tier economy but it hasn’t happened yet. It almost seems as if some politicians believe in a kind of “Genesis effect” — if you say something will happen it already has.

But mortals don’t have that kind of power and there is now a pretty consistent chorus of caution from foreign investors: Westerners and Asians. Indonesia has every right to exercise its sovereignty, but foreign investment has been good for this country in terms of jobs, expertise, tax revenues, best business practices, etc. There is considerable concern that the nationalist sentiments currently building may only be a thinly disguised attempt by some local business groups to gain an unfair advantage over foreign companies. If that is the case, it could do immeasurable harm to the country.

Whatever the motivation, if at precisely the time Indonesia is red hot in the eyes of the investment world, the country begins to look like it wants to turn the clock back to the 1950s, the good news could turn bad quickly. Indonesia needs the jobs and the income and the long-term appetite for risk that many foreign companies bring to the table. The best of those investors want a partnership that builds toward a mutually beneficial future. It would be unwise to make them feel unwelcome for the wrong reasons.

A. Lin Neumann, founding editor of the Jakarta Globe, is the host of BeritaSatu TV’s “Insight Indonesia” program.

_

Beda Islam dengan Demokrasi

Beda Islam dengan Demokrasi

Redaksi | Minggu, 03 Juni 2012 – 00:43:56 WIB |Abul Ala Maududi


 

Eramuslim.com | Media Islam Rujukan, Bisakah Islam bertemu dengan demokrasi barat? Apakah mereka sejalan? Atau apakah demokrasibarat mengambil konsep dari Islam? Atau sebaliknya Islam mengambil nilai nilaidemokrasi yang telah berkembang di Yunani? Atau konsep nilai Islam telahberubah karena zaman sudah berubah pula, dan karena saat ini penduduk duniasemakin banyak hingga dibutuhkanlah sebuah sistem yang berguna untukmenyederhanakan dalam sistem pemerintahan, makanya kaum muslim bersediamenerima konsep demokrasi barat sebagai jalan keluar yang modern?

Ada satu pertanyaan yang membuat berfikir berkali kali bagipenulis, kenapa barat (Amerika dan sekutunya) selalu mengirimkan pasukanperangnya bila ada suatu negara menolak sistem demokrasi barat? Dan kenapaamerika dan sekutunya tidak merasa perlu mengirimkan pasukan senjata perangnya bilasuatu negara muslim sudah mengadopsi sistem demokrasi barat dalampemerintahannya? Apakah demokrasi itu merupakan cara hidup kaum barat? Dan bilaada Negara muslim memakai sistem tersebut , kaum barat sudah merasakan negaramuslim demokrasi tersebut sudah satu millah / din yang sama dengan mereka? Jaditidak perlu berperang?

Beribu ribu pertanyaan yang terngiang.

Berikut disampaikan beberapa analisis pemikir Islam, semogahal hal tersebut terurai sedikit demi sedikit kenapa kita harus selalu memegang harta termahal kita yaitu Islam.

Abul Ala Maududi dalam bukunya Human Right in Islam,terbitan The Islamic Foundation, London, menjelaskan perbedaan mendasar antarkeduanya, Islam dan demokrasi barat. Dan ternyata tidak terdapat irisan dan titiksinggung antar kedua sistem tersebut.

Singkatnya, tidak ada penyandingan yang layak antar kedua sistemtersebut, tidak ada Islam demokrasi.

Demokrasi barat didasarkan atas kedaulatan rakyat . SedangIslam , kedaulatan hanya ada di tangan Allah, dan manusia /masyarakat hanyalahkhalifah khalifah atau wakil wakilnya.

Demokrasi barat , masyarakatlah yang membuat hukum hukummereka sendiri. Sedang Islam, masyarakatnya harus tunduk pada hukum hukum Allah(syariat Allah) yang diberikanNya melalui rasulNya.

Demokrasi barat , pemerintah memenuhi apapun kehendak rakyat.Sedang Islam , pemerintah dan rakyat yang membentuk pemerintahan, kedua duanyaharus memenuhi kehendak dan tujuan Allah.

Demokrasi Barat adalah semacam wewenang mutlak yangmenjalankan kekuasaan kekuasaannya dengan cara bebas dan tidak terkontrol .Sedang Islam, adalah kepatuhan kepadahukum Allah, dan melaksanakan wewenangnya sesuai dengan perintah perintah Allahdan dalam batas batas yang telah digariskan oleh Nya.

Sebagai melengkapi pemahaman demokrasi barat, menurutMuhammad Assad, dalam bukunya Minhaj Al Islam fi al Hukumi, konsep demokrasiasli yang dimiliki oleh bangsa yunani, Negara penemu sistem demokrasi berawal.Bagi bangsa yunani (kuno), istilahpemerintahan dari rakyat untuk rakyat , yang merupakan inti dari demokrasi,dimaksudkan sebagai suatu pemerintahan oligarchis , suatu pemerintahan yangdipegang oleh elite tertentu yang tidak mencakup seluruh rakyat. Di dalamnegara negara yang pernah ada pada masa mereka, istilah rakyat berarti warga negarasejati yang merupakan penduduk yang dilahirkan secara merdeka yang lazimnya jumlahnya tidak lebih dari seper-sepuluh jumlah penduduk yang ada. Sedangkansisanya yang Sembilan puluh persen ituterdiri dari budak budak dan hamba sahaya yang tidak diberi kesempatanmelakukan aktifitas apapun selain pekerjaan pekerjaan fisik yang kasar, danmereka , sekalipun tetap diwajibkan berpartisipasi dalam pertahanan negara,sama sekali tidak diberi hak dalam hal kewarga negaraan. Hanya warga negarasejati itu (yang hanya 10%) sajalah yang memegang hak kebebasan aktif maupunpasif, yang dengan demikian seluruh kekuasaan politik berpusat sepenuhnya ditangan mereka.

Sebuah sistem yang katanya menuntut persamaan , hak asasimanusia , tapi nyatanya persamaan dan hak asasi manusia itu semu dan hanyaberlaku bagi warga negara khusus antara mereka saja. Sistem yang berlaku bila hanya kelompok yang mereka setujuisaja yang memenangi pemilihan umum, dan tidak berlaku bila kelompok Islam yangmemenangi pemilihan rakyat , lihatlah FIS di Aljazair, Lihatlah Hamas dipalestina…Sistem demokrasi adalah sebuah sistem jadi jadian mereka, jebakanpolitik, sistem yang menuruti sekehendak hawa nafsu dan syahwat kelompokborjuis saja, dan tidak berlaku bagi yang mereka anggap sebagai musuh bersama mereka.

Semoga keterangan ini menjadi jelas adanya, dan di saat kehidupanakhir zaman ini, kedua sistem tersebut mengemuka dan menjadi pilihan bagi umat,nah sekarang kembali kepada anda, dalam kedua sistem tersebut, kembali ke andasebagai manusia dan hamba Allah, yang kelak semua hal yang kita lakukan diduniaini akan diminta pertanggung jawaban di akherat kelak, so , mana yang andayakini dan berniat berusaha untuk meninggikannya? (MM)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers