Archive for the ‘esai’ Category

Sakit Otak Permanen

Sakit Otak Permanen

Oleh: Adhie M. Massardi

Minggu, 26 Februari 2012 , 07:15:00 WIB

 

PEKAN-pekan belakangan ini kita diberondong berbagai berita yang bisa bikin perut mual dan airmata bercucuran. Yang bikin mual berita tentang para pembesar negara yang korup dan bergaya hidup mewah, tapi kalau di pengadilan berlagak bego. Sedangkan rakyat hidup melarat, dan setiap saat terancam maut.

Hampir setiap hari kita disuguhi berita kecelakaan lalulintas yang menimpa angkutan umum akibat kendaraan rakyat itu banyak yang tidak laik jalan. Peristiwa paling mengejutkan menimpa bus Karunia Bhakti di kawasan Taman Safari, Cisarua, Puncak, Bogor, yang jaraknya hanya beberapa puluh km dari rumah Presiden Yudhoyono di Cikeas.

 

Pada Jumat (10/2) petang yang menggiriskan itu, Lukman Iskandar (43) tak kuasa mengendalikan bus yang remnya blong, padahal jalan yang dilalui sedang menurun. Akibatnya, setelah menabrak mobil, motor, pedagang kaki lima dan pejalan kaki, bus Karunia Bhakti Z 7519 DA itu pun nyungsep. Belasan orang tewas, puluhan luka berat dan ringan.

 

Seperti biasa, tak ada pembesar negara menaruh empati pada rakyat melarat yang tewas mengenaskan itu. Mereka yang bertanggungjawab atas peristiwa (semacam) itu, baru sibuk beberapa hari kemudian. Itu pun, seperti biasa, menyalahkan pemilik bus dan sopir yang tidak pandai merawat kendaraannya. Padahal pembesar di Kementerian Perhubungan dibayar untuk mengawasi dan memeriksa laik tidaknya angkutan untuk rakyat itu.

 

Pemerintah tampaknya memang lebih bersemangat mengadakan pesawat super mewah untuk Bapak Presiden, yang harganya lebih dari Rp 90 milyar. Mahal karena di dalamnya selain ada tempat tidur luks, juga tersedia ruang bersantai yang permai. Tentu saja bisa buat nyanyi-nyanyi.

 

Presiden dari negara sebesar Indonesia sungguh sangat pantas punya pesawat mewah. Begitu alasan mereka. Tapi mereka tidak malu rakyatnya mengais rejeki tak seberapa di negeri tetangga yang dulu lebih miskin!

 

Hari-hari belakangan ini kita juga secara rutin disuguhi berita dari pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) yang melibatkan anak buah Presiden Yudhoyono, baik di Partai Demokrat maupun di kabinet, ada yang jadi saksi, ada juga sebagai terdakwa. Beberapa stasiun TV dan radio menyelenggarakan siaran langsungnya.

 

Pekan lalu, di tengah kegalauan masyarakat menyaksikan betapa uang rakyat milyaran rupiah begitu enteng seliweran di antara para pembesar negara, terselip tragedi jembatan Cihideung, di desa Cibanteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

 

Jembatan gantung darurat terbuat dari bambu dan kayu usang itu putus saat dilalui belasan warga yang baru menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad saw. Dari belasan orang yang terjatuh ke sungai, tujuh di antaranya tewas terseret arus Cisadane. Warga desa Cibanteng yang tak begitu jauh dari rumah Presiden Yudhoyono itu pun diliputi duka cita yang dalam.

 

Sementara dari pengadilan Tipikor, tersiar berita fee 8 persen (dari proyek seharga Rp 180 M) bagi anak buah Presiden Yudhoyono di kabinet. Padahal kalau satu persen saja dari jumlah fee yang diterima anak buah Presiden itu disumbangkan kepada warga Cibanteng, bisa dipakai untuk membangun jembatan permanen yang kokoh.

 

Tapi di banyak desa di negeri ini, memang banyak jembatan maut yang setiap saat mengancam nyawa anak-anak rakyat. Padahal kita tahu, APBN terus membengkak. Kini lebih dari Rp 1.300 triliun. Tapi infrastruktur (jalan dan jembatan) di negeri ini nyaris tak ada yang mulus.

 

Banyak yang dikorup. Dan koruptornya kalau di pengadilan mengingatkan kita pada Pak Harto yang dinyatakan tim dokter sakit otak permanen. Serba lupa dan serba tidak tahu. Apakah mereka yang masih cukup muda itu juga sakit otak permanen? Wallahu’alam bissawab. [***]

 

Sumber:

http://www.rakyatmerdekaonline.com/read/2012/02/26/55920/Sakit-Otak-Permanen-

What is the ‘establishment’? —Lal Khan

Sunday, February 26, 2012

COMMENT: What is the ‘establishment’? —Lal Khan


The relationship between the ruling classes and the state is never a straightforward one. It depends on the financial potency of the elite and their capacity to advance the means of production and develop society

There seems to be an incessant deliberation and debate about the alleged contradiction and conflict between the ‘establishment’ and the democratic setup that rules Pakistan at the present time. The masses are perplexed at this argumentation that they can neither comprehend nor feel its relevance to the grievances and the rapid deterioration of living conditions that is making their life miserable day in and day out. Yet the incomprehension of the masses is not their ignorance. They probably have a better conception of this as those involved in these discussions are far removed from the harrowing realities of society that the masses have to endure. Some of the very educated people can be very ignorant while a lot of illiterate toilers are blessed with startling wisdom, extraordinary talent and outstanding foresight. After all, in Goethe’s words, “life teaches”. The establishment is presented as some sort of a black hole wrapped in mystery. The reality is that different ‘experts’ mean by this nomenclature various sections and institutions clumped together in different formations at different times corresponding to their material acquisitions.

The establishment is the state. Its main cornerstones are the armed forces, judiciary, legislature, media and the executive, be it monarchical, parliamentary or dictatorial in accordance with the requirements of sustaining the exploitative system of class coercion. In the era of capitalism these institutions operate relatively in harmony as long as the economy is growing and somewhat developing society. But as the social, economic and political other basics of the system plunge into crisis, the equilibrium of the structures begins to unravel. In situations where the masses rise in movements of class struggle, these institutions tend to coalesce and try to crush the revolt. However, more often than not when the tactic of repression fails to defeat the movement, they resort to the policy of reforms. That can also backfire and result in emboldening the masses with a renewed confidence in their strength as a class. Even if the revolutionary movements are forced into retreat through betrayal and treachery, the organic crisis of the system does not subside. In such conditions of social stagnation and mass dejection, the conflicts between diverse sections of the state erupt with a greater ferocity. This is the real scenario that afflicts Pakistan today. The main role of the media is to engross the mass psychology to align with the antagonistic factions elite, although all are intrinsically rooted to the same socioeconomic paradigm. Their mutual antagonisms arise from the share in the pillage of an economy in dearth and are draped in diverse ‘ideological’ cloaks to boost their prerogatives and power. Hence they can go into any rotten compromise and would not have the slightest hesitation in changing sides and parties.

However, the relationship between the ruling classes and the state is never a straightforward one. It depends on the financial potency of the elite and their capacity to advance the means of production and develop society. In conditions like Pakistan where the ruling classes are not only inept and irredeemably corrupt but also historically belated and economically debilitated, the state elevates itself as an arbitrator. It often resorts to direct military rule and develops diverse variants of Bonapartism. But with the intensification of the crisis of the whole system, the state exacerbates its own internal contradictions. Like all other conflicts that are sizzling in society, the conflagrations within the state can inflame extremely dangerous outcomes.

The state as portrayed by the ruling classes and their intelligentsia is neither sacrosanct nor an eternal indispensable institution of society. It came into existence with the development of class society on the basis of the private ownership of the means of production and private property. Its forms changed and developed with the transformation of different socioeconomic systems through various revolutions in history. The state during slavery, Asiatic despotism, feudalism and capitalism evolved into diverse formations. Before that, human society did exist sans the state. Lenin quotes Engels in his famous book, The State and Revolution; “The state has not existed from all eternity. There have been societies that did without it, that had no idea of state and state power. At a certain stage of economic development, which was necessarily bound up with the split of society into classes, the state became a necessity owing to this split.” Architecture is perhaps the most forceful expression of culture and the social foundation of society. If one examines the excavated archaeological sites of the Indus Valley civilisation, particularly Mohenjo Daro, the courts, police stations, cantonments, palaces and other relics of the state and class structures are not there. The remnants show evidence of an egalitarian and collective social existence. Karl Marx elaborated these ancient societies: “The basic form of all phenomena in the East is to be found in the fact that no private property in land existed…communities with ownership in common of the means of production. This is the real key even to the oriental heaven.” However, with the transition of capitalism to imperialism and globalisation, we are witnessing monumental contradictions of advanced technology, industrial expansion and the modes of production against the nation state and private ownership.

The democratic executive cannot work without the ‘establishment’ and the establishment needs the democratic facade to perpetuate coercion to serve the interests of finance capital. They just keep on taking turns to acquire power for blatant plunder of the impoverished souls that inhabit this tragic land. The imperialists supervise this sinister debauchery and loot the most. This vicious cycle cannot go on forever while society suffers and suffocates in the misery of super exploitation. This decline of capitalism is not going to reverse. The burden of this crisis will be piled upon the oppressed masses and their lives will continue to be desecrated by this inhuman system. The conflicts within the state will explode further and society will descend into the unfathomable abyss of anarchy, chaos and bloodshed. This is the only destiny of Pakistan under capitalist rule. The question is: when will the mass revolt erupt to challenge and overthrow capitalism? Revolutionary periods are historical exceptions. The exact timings of revolutions cannot be predicted in advance. But with class exploitation intensifying, the class conflict is bound to explode. The discontent and agony is seething like blazing lava. All forms and strains of bourgeois rule have been tried and tested. They have failed miserably to solve anything. The plight of the populace has worsened as never before. They have been reduced to extremes of hardship and agony. In this din of meaningless debate, the masses are thinking in silence Once it breaks, it will be a revolution of proportions yet unforeseen.

The writer is the editor of Asian Marxist Review and International Secretary of Pakistan Trade Union Defence Campaign. He can be reached at ptudc@hotmail.com

The Prague Spring. Musim semi Praha.

The Prague Spring. Musim semi Praha.  Bahasa Ceko: Pražské jaro
Istilah Prague Spring muncul sebagai pengertian politik di tahun 1968. Ceritanya panjang. Tapi satu satu deh..
Saya ingat sekali sebuah hari yang cerah dimusim panas tahun 1968. Tepatnya di bulan Agustus. Takkan hilang kenangan ini dari ingatan saya.
Pagi pagi buta, saya naik mobil disopiri supir kedutaan Indonesia di Budapest, ibukota Hongaria. Saya baru saja menghabiskan week end di Budapest di tempat orangtua, Wisma Duta. Ayah waktu itu Dutabesar RI untuk Hongaria.
Budapest – Vienna hanya 2,5 jam perjalanan mobil. Dua kota itu memang tak terlalu berjauhan, Vienna terletak di timur Austria, Budapest di barat Hongaria. Dari Vienna lebih dekat ke Budapest daripada ke kota perbatasan barat Austria, Salzburg.
22 Agustus 1968.
Udara sejuk sekali. Alam masih kelam berkabut. Keluar Budapest mobil kami melaju sendirian di highway menuju perbatasan Hongaria-Austria, yang dijaga ketat oleh Pasukan Polisi Perbatasan Hongaria. Hongaria dipagari, terutama kearah Barat dengan pagar besi berkawat berduri. Diselingi menara menara penjagaan dengan pos pengawal diatas puncaknya dilengkapi senapan mesin kaliber 12,7 yang siap menyalak.
Dari pagar sisi Hongaria ini sampai ke batas pagar sisi Austria ada jalan 1 km. Sepi sunyi senyap. Jalan ini adalah No Man Land. Wilayah netral, dimana tak satu pihak bersenjata pun baik Austria ataupun Hongaria diizinkan melintas. Kalau ada orang Hongaria mencoba lari illegally dari Hongaria akan ditembak seperti ayam oleh polisi perbatasan Hongaria dari Watch Tower, ya apes, tergeletak di No Man Land, tanpa ada yang berani mendekat.
Mendekati perbatasan Hongaria-Austria, mulai kota Hegyeshalom, tiba tiba saya lihat truk truk militer berisi pasukan bersenjata mengaum disisi mobil kami. Saya hafal uniform pasukan Hongaria, saya kenali mereka.
Dibelakang truk truk ini menysusullah truk truk militer made in Sovjet, dengan pasukan yang tak pernah saya lihat. Di body truk terbaca oleh saya huruf Rusia. Saya tanya sopir, orang Hongaria, yang kelihatan tegang sekali memeluk kemudi, dalam bahasa Hongaria:
Rusian katonák?” (Prajurit Rusia?).
Dia jawab gemetar:
Igen, vannak” ( yes, they are).
Saya melongok kedalam truk yang padat prajurit dengan muka tegang dan tegar, semua membawa senapan AK 17. Lho kok mukanya gak kayak orang Eropa. Orang Rusia kan rata rata bule pirang? Ini kok tinggi, tegap, berbadan Eropa, raut muka Eropa, tetapi bermata agak sipit?
Saya tanya:
„Vajon Rusian?”.  (Mereka Rusia?)
„Igen” (yes), jawab pak sopir.
Saya tanya lagi:
Miért nem szőke, de úgy néz ki mint az ázsiaiak?” ( Kenapa nggak bule, tapi kayak orang Asia?”
„Ezek tatár katonák” (they are Tartarian soldiers”).
Ahhhh pantas, pikir saya, gak bule tetapi berambut hitam, bermuka Asia. Mereka prajurit Rusia berkebangsaan Kirgiztan. Mereka orang Kirgiz, turunan Dzengis Khan.
Mengiringi truk truk itu ada beberapa tank dan kendaraan lapis baja.
Disuatu tempat, kami belok ke arah Austria, mereka mengambil arah lain, arah ke Cekoslovakia.
Tiba disisi Austria, saya lihat tank tank Austria berpatroli. Pasukan Austria juga ber-jaga jaga. Apa apan sih?
Siang harinya, baru saya tahu. Di TV dan radio ramai diberitakan. Ya ampuunnn..
Di malam hari tanggal 21 Agustus 1968 itu, Cekoslovakia dikeroyok oleh pasukan pasukan anggauta persekutuan militer Pakta Warszawa: Pasukan Sovjet Uni, Bulgaria, Polandia dan Hongaria. Setengah juta prajurit masuk Praha! menduduki semua posisi strategis diseluruh negri. Ini adalah operasi milter TERBESAR setelah Perang Dunia II. Ini pasukan pasukan negara bersahabat lho, bukan musuh..
Wahhh mas Marco dan mas Bismo Gondokusumo sebagai student ada didalam Praha sana, cerita mas Marco.
Warga Cekoslovakia melawan dengan senjata seadanya. Juga beberapa prajurit Ceko. 98 warga Ceko tewas. Dipihak pasukan intervensi 50 prajurit tewas. Hari pertama clash dengan warga yang melawan, jatuhlah korban: 23 orang. Hingga tanggal 1 September  invasi pasukan pendudukan menelan korban 71 orang Ceko.
Satu satunya negara komunis tidak ikutan: pasukan Jerman timur. Tetapi mereka siaga disepanjang perbatasan Jerman Timur-Cekoslovakia. Warga mencoba melawan invasi, dan menghalangi laju pasukan.
Lalu, apa apan sih, kok menginvasi kawan sendiri?
Begini kisahnya:
Sejak awal 1968 muncul pimpinan baru daripada KPČ, Partai Komunis Cekoslovakia  (Cekoslovakia waktu itu masih satu negara terdiri dari duak kelompok etnis Ceko dan Slowakia. Bahasanya mirip tapi beda, seperti Sunda dan Jawa kira kira. Sejak beberapa tahun, negara ini terbelah dua, menjadi Republik Ceko dan Republik Slowakia. Mas Marco ada di Republik Ceko, ibukotanya Praha. Slowakia ibukotanya Bratislawa).
Partai Komunis Cekoslovakia, KPC, meng-introduce sebuah gaya komunis yang lebih manusiawi dengan lebih banyak kebebasan individu daripada standard negara komunis lainnya. Angin sejuk, katakanlah. Nah, ini yang lalu dijuluki Musim Semi Praha. Prague Spring. Pražské jaro..
Pemimpin yang humanis ini adalah Dubček.  Ini terjadi karena penduduk Cekoslovakia makin menginginkan lebih banyak kebebasan, tak terlalu dikungkung.  Ini sampai bukan Agustus yang mengenaskan itu.
Tetapi pemmpin yang setia pada garis komunis keras, dibawah pimpinan Gustáv Husák, mulai khawatir, nanti kelewatan, kebablasan, lalu tak lagi terkendali. Husák mulai melakukan perlawanan, dan meminta bantuan Moskow untuk memberikan bantuan.
Moskow juga khawatir, jangan lupa tahun tahun itu, Perang Dingin sedang berada dipuncaknya. Panas panasnya. Kebencian kedua pihak, Barat dan blok Timur tak terbayangkan. Moskow menyetujui, mengirim pasukan.
Cekoslovakia diduduki. Dubček dan politisi yang searah ditahan, dikirim ke Moskow. Habislahhh..
Musnahlah impian rakyat Cekoslovakia sejenak akan udara bebas didalam komunitas komunis. Komunisme dengan wajah manusiawi. Ini waktu itu sepertinya memang paradox, yang ada adalah rezim komunis yang garang.
Sejak Agustus 1968 kembalilah rakyat Cekoslovakia kedalam kungkungan sebuah sistim politik yang sangat ketat. Sampai…tibalah saatnya.. sistim komunis di Eropa rontok dengan sendiri. Natal 1989.
Kini, negara negara yang “kemarin doeloe” masih komunis ketat, sudah disulap menjadi AS kecil, super kapitalis. Mereka malah menyediakan pangkalan mereka untuk basis operasi pesawat militer AS. Padahal doeloe roket roket mereka setiap saat siap menghajar pesawat militer AS yang berani mendekat..
Kini, setiap waralaba AS hadir: Kentucky Fried Chicken, Mc Donnald’s, Coca Cola, Burger King, es krim, Sizler…
C’est la vie..
Salam
Agastya

 

Mengenal Sindrom Metabolik dan Bahayanya bagi Tubuh

26 Februari 2012 | BP
Mengenal Sindrom Metabolik dan Bahayanya bagi Tubuh
SINDROM Metabolik (Metabolic Syndrome) atau sindrom X atau Sindrom Resistensi Insulin atau CHAOS (sebutan di Australia) adalah keadaan dimana terdapat sekelompok kelainan pada tubuh seseorang, meliputi kegemukan, kelainan kadar lemak darah, peningkatan tekanan darah, peningkatan kadar gula darah. Dimana kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, kencing manis (diabetes Melitus tipe 2) sebesar 5-9 kali lipat, dan kematian 2-4 kali lipat.

Menurut National Cholesterol Education Program-Adult Treatment Panel III (NCEP-ATP III) kriteria Sindrom Metabolik adalah apabila terdapat minimal 3 dari kelainan-kelainan berikut ini pada seseorang. Kelainan-kelainan tersebut adalah terdapat Obesitas Perut (Sentral) yang ditandai dengan ukuran lingkar perut pada wanita > 88 cm dan pada pria > 102 cm. Kelainan kadar lipid atau lemak (dislipidemia) meliputi Trigliserida > 150 mg/dl, HDL pada wanita < 50 mg/dl atau HDL pria < 40 mg/dl. Peningkatan tekanan darah (hipertensi), dimana apabila tekanan darah > 130/85 mmHg. Meningkatnya kadar Gula Darah Puasa > 110 mg/dl. Di samping itu peningkatan kadar asam urat (hiperurikemia) juga berperan dalam timbulnya Sindrom Metabolik.

Suatu hipotesis menyatakan bahwa penyebab primer dari sindrom metabolik adalah resistensi insulin. Resistensi insulin mempunyai hubungan dengan timbunan lemak perut (viseral) yang dapat ditentukan dengan pengukuran lingkar pinggang, sehingga berefek pada timbulnya hipertensi, dislipidemia dan peningkatan kadar gula darah. Apabila kelainan-kelainan tersebut berlangsung lama dan tidak terkontrol dengan baik maka menyebabkan timbulnya atherosklerosis lebih dini terutama pada pembuluh darah arteri di jantung dimana terjadi pengerasan pembuluh darah arteri akibat penimbunan plak kolesterol, yang mempermudah timbulnya penyakit yang mengancam jiwa seperti penyakit jantung dan pembuluh darah (misalnya Penyakit Jantung Koroner), Kencing Manis, kerusakan ginjal, stroke bahkan kematian.

Berdasarkan penelitian setiap tahun prevalensi kejadian Sindrom Metabolik semakin meningkat baik di negara maju maupun di negara berkembang. Sindrom metabolik dapat terjadi mulai usia remaja dan risikonya meningkat seiring penambahan usia. Faktor –faktor yg berperan pada timbulnya Sindrom Metabolik pada seseorang diantaranya genetik, riwayat penyakit pada keluarga, dan yang tidak kalah pentingnya adalah pengaruh gaya hidup dan moderenisasi. Kemajuan teknologi membuat semua hal cenderung dapat dilakukan dengan mudah sehingga kurangnya aktivitas fisik dalam kegiatan sehari hari. Tuntutan akan rutinitas pekerjaan yg tinggi menyebabkan kurangnya waktu untuk istirahat dan berolahraga dan juga meningkatkan stress. Pola Makan yg tidak teratur dan lebih banyak mengkonsumsi makanan cepat saji (junk food) yang tinggi kadar kalori, kolesterol, lemak. Merokok dan alkohol juga merupakan biang kerok timbulnya kelainan-kelainan pada Sindrom Metabolik.

Penanganan

Strategi utama untuk penanganan penderita Sindrom Metabolik adalah intervensi terhadap gaya hidup yang ketat, meliputi diet, latihan fisik dan terapi dengan obat-obatan (farmakologik). Penurunan berat badan secara bermakna dapat memperbaiki semua aspek dari sindrom metabolik. Penurunan berat badan yang realistis adalah 7 – 10% selama rentang waktu 6 sampai 12 bulan. Perubahan diet spesifik ditujukan terhadap aspek-aspek tertentu dari sindrom metabolik seperti mengurangi asupan lemak jenuh untuk menurunkan resistensi insulin. Mengurangi asupan garam untuk menurunkan tekanan darah. Mengurangi asupan karbohidrat untuk menurunkan kadar glukosa darah dan trigliserida. Menu makanan yang banyak mengandung serat seperti buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, lemak tak jenuh dan produk susu rendah lemak bermanfaat pada sebagian besar pasien dengan sindrom metabolik. Selain mengatur diet latihan fisik terbukti dapat menurunkan kadar lipid dan resistensi insulin didalam otot. Penderita hendaklah diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan aktivitas fisiknya. Manfaat paling besar dapat diperoleh bila penderita menjalani latihan fisik sedang secara teratur dalam jangka panjang. Kombinasi latihan fisik aerobik dan latihan fisik menggunakan beban merupakan pilihan terbaik. Jalan kaki dan jogging selama 1 jam perhari juga terbukti dapat menurunkan lemak diperut (viseral) secara bermakna tanpa mengurangi jumlah kalori yang dibutuhkan.

Selain perubahan gaya hidup penderita Sindrom Metabolik perlu melakukan pengobatan yang teratur, karena komponen hipertensi, dislipedemia dan diabetes pada Sindrom Metabolik memerlukan terapi obat-obatan untuk mengontrol tekanan darah, kadar lemak darah dan kadar gula darah sampai batas-batas normal. Penderita Sindrom Metabolik dianjurkan untuk melakukan berbagai pemeriksaan klinis dan laboratorium yang teratur dan mendalam untuk mengetahui lebih dini terjadinya kerusakan-kerusakan organ tubuh.

Akhirnya yang terpenting adalah pencegahan terutama bagi Anda yang memiliki faktor risiko mengalami satu atau lebih kelainan-kelainan tersebut dengan menerapkan gaya hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan yang teratur agar Anda.

* dr. Kadek Dian Lestari

 

Magnis Suseno: “Cornell Paper” Tidak Mutu

Magnis Suseno: “Cornell Paper” Tidak Mutu

bambang murtianto <bambang_murtianto@yahoo.com>,in: “mediacare@yahoogroups.com” <mediacare@yahoogroups.com> ,Saturday, 25 February 2012, 23:11

Teman-teman milis,
Tanggal 9 Februari lalu, saya mengirim surat terbuka kepada Pak Ben Anderson lewat mediacare,
para sejarahwan, media dan kalangan lain yang saya anggap pantas menerimanya…

Metodenya: sebagaimana saya sebut dalam surat, adalah  “adu ayam jago”
–suatu permainan yang sangat demokratis di kalangan rakyat jelata Indonesia–

antara sebutlah saja “Cornell Kanan” (John O. Sutter) vs “Cornell Kiri” (Ben Anderson, Ruth McVey dkk)
perihal perkara  Tragedi 1965 yang diperdebatkan pra ahli
dan asal-usul Cornell Paper itu sendiri yang sepantasnya dikonfirmasikan kepada Pak Ben Anderson.

Karena saya datang dari dunia  filsafat (STF Drijarkara Jakarta)
istilah kerakyatan  “adu ayam” tersebut analog dengan
“diskursus komunikatif  (Habermas)”; “putaran dialektika (Hegel)”
dan arena “bellum omnium contra omnes (Hobbes)”
dimana  para jago-jago itu  memberikan argumen terkuatnya  “the fittest”– (berbau Darwinisme intelektual juga)
sehngga tercapailah sebuah sintesis yang “clara et distincta (Descartes)”
Tujuannya bukan untuk cari menang, tetapi untuk dapat diperbandingkan.
sehingga tercapailah  “utilitarisme universal”: yaitu “demi sebesar-besarnya nikmat kejelasan duduk perkara selengkap-lengkapnya
dari kiri sampai kanan untuk orang banyak”. Dengan demikian “konsensus yang lebih komprehensif” mudah tercapai.
karena sejarah kita kerap memang ditulis tanpa cukup perdebatan yang menyeluruh dari segala fihak.

Dalam waktu yang lewat  dua minggu ini
ayam jagonya Prof Magnis-Suseno –ahli etika, filsafat politik/ filsfat Marx/Marxisme/Leninisme/Stalinisme/komunisme,
yang kita kenal reputasinya, dan sudah tinggal di Indonesia tahun 1961,
serta faham betul ideologi komunisme di belahan dunia Eropa,  sudah berkokok paling awal!
Secara tak terduga memberi jawaban yang   mengagetkan
karena belum pernah kami dengar sebelumnya “Cornell Paper, dengan segala hormat, …tidak mutu…”
hanya butuh waktu satu jam lewat enam menit setelah saya “sent”

dikirim pukul  08.55 malam  dijawab jam 10.01 malam
Kemudian 16 Feb, saya mengemail Dr John O. Sutter
dan mendapat jawaban tanggal 18 Februari

Surat terbuka itu silakan  di fwd ke mana pun, tidak ada masalah.

Para  sejahrawan lain dari dalam dan luar negeri
terutama Pak Ben Anderson silahkan ambil bagian
memang ditunggu juga pandangannya, biar dapat ditonton
“ada seorang kawan mengirim email “ditunggu kabar jago-jago lainnya” .

Ya, karena ini medan diskusi publik bebas, pendapat apapun dari ujung kiri hingga ujung kanan dipersilahkan
masyarakat pembaca biasa pun tidak ada larangan memberi komentarnya.
Tentu akan muncul diskusi yang demokratis dan menarik…..

memang sudah ada perkembangan jawaban-jawaban lebih lanjut
sehingga kami perlu menulis surat lewt fb tersendiri untuk Prof John Rossa.
dan belum ada jawaban.

Tetapi sementara  dua pakar  ini cukup dulu.

kalaupun tidak ada yang memberi tanggapan  lagi, ya tidak ada masalah buat kami.
atau memberi tanggapan lagi tapi dengan catatan tidak ingin dipublikasikan ke publik,
juga dilayani sesuai permintaan.

selamat menikmati dengan senikmat-nikmatnya!

th. bambang murtianto
peneliti partikelir/mahasiswa Filsafat S-2 STF Dijarkara Jakarta
email: bambang_murtianto@yahoo.com
—– Forwarded Message —–
From: RM.Magnis Suseno SJ <magnis@dnet.net.id>
To: bambang murtianto <bambang_murtianto@yahoo.com>
Sent: Thursday, February 9, 2012 10:01 PM
Subject: Re: Surat TERBUKA untuk Pak Ben Anderson
Mas Bambang,
Saya jawab singkat saja.
1) Saya membaca buku Fic. Yang menarik adalah rincian kejadian tgl. 1 Oktober 1965. Tetapi tesis tentang Sukarno – bahwa ia bersedia menyerahkan kepresidenen kepada Aidit dan menarik diri ke tempat indah di Cina – adalah preposterous, sama sekali tidak dapat diterima. Kecuali fakta-fakta yang disebutnya, seluruh teori cacat dan kelihatan ideologis.
2) Rosa – betul: G30S adalah bikinan Aidit pribadi dengan Biro Khusus – tidak seluruhnya membebaskan PKI dari tanggungjawab. Krn PKI sudah membagi masyarakat ke dalam kawan dan lawannya (itu yang kemudian dibalik dan mereka, sebagai lawan, dieliminasikan) sehingga masyarakat penuh keterpecahan dan kebencian dan bersalah adalah PKI (yang waktu itu sangat menakutkan). Tetapi PKI, CC dan Politburo PKI, tidak terlibat dalam persiapan G30S, sehingga pada tgl. 1 dan 2 Oktober bingung.
3) Cornell Paper mrt saya – dgn segala hormat terhadap Anderson – tidak mutu. Itu tulisan ideolog-ideologi kiri yang melihat dunia hitam putih, yang putih adalah yang merah.
Salam
FMS
—– Original Message —–

From: John O. Sutter <Josutter@juno.com>
To: bambang murtianto <bambang_murtianto@yahoo.com>
Sent: Saturday, February 18, 2012 10:58 AM
Subject: Re: Surat TERBUKA untuk Pak Ben Anderson

Dear Sdr. Bambang,

     Terima kasih for writing me.  (Bahasa Indonesia saya is not as fluent as when I worked in Indonesia 6 times between 1950 and 1984.)
     I now work regularly for an LSM, and so cannot respond in detail now.  However, I shall write in greater detail a.s.a.p. (as soon as possible).
     Meanwhile, you might want to study the term “false flag operation.”  Perpetrators of an act, including a coup d’etat, often make it appear that orang lain — not the perpetrators — were responsible for the act, especially an attempted coup, for which they don’t take credit until, and if, it succeeds.
     It appears that Aidit (on behalf of P.K.I.) and Soekarno decided to collaborate and strengthen their control of the government (with the P.K.I. succeeding Soekarno if and when he died) by the putsch against the generals who did not personally support Soekarno and his collaboration with the P.K.I. in his NASAKOM government.  Thus, the two politicians apparently arranged to make it look as if a minor disgruntled military officer (Lt.Kol. Untung) and friends were the cause of the putsch/attempted coup.
     Unfortunately, some American scholars — thinking in the mid-1960s — that communism was “the wave of the future,” decided to write what at first glance appeared to be a disinterested scholarly paper.  However, as I pointed out, it in its secrecy and dissemination only to certain trusted contacts (each of whom got a copy with an I.D. on it) and preventing peer review by others, violated all principles of scholarly research.
     Sekianlah,
John O. Sutter
“If you are neutral in situations of injustice, you have chosen the side of the oppressor.”–Desmond Tutu
On Feb 16, 2012, at 11:59 PM, bambang murtianto wrote:
Dr. John O Sutter,
I hope you still remember me, Thomas Bambang Murtianto
editor  of  Prof. Fic’s books. I still impressed of that,
althought  did not at Obor anymore.
And now I still make a research on mistery G30S 1965.
I  have four book of it, two has been published.
-“Widjanarko Fle”  and “Asal Usul Dokumen Gilchirst” , I want to make the problem more clear.
And a week ago, I make an “open letter via inernet” to Ben Anderson
based on several parts of your offensif   strike to “Cornell Paper”,
in your introduction in the Prof. Fic book, that I qoute  below
I want to know his reaction or comfirmation openly,
to make all the problem more clear….
thanks a lot.
sincerely yours
 Th Bambang Murtianto


Surat terbuka kepada Ben Anderson
(mohon email ini akhirnya sampai).
Bogor, 9 Februari 2012
Perihal ” Cornell Paper Examined”
Pak Ben Anderson Yth,
Pakar Indonesianis yang paling dihormati oleh para sejarahwan di Indonesia,
Anda pasti kenal dengan almarhum Victor M. Fic, penulis buku Anatomy Jakarta Coup: October 1, 1965: The Collution with China which Destroyed the Army Command, President Sukarno and the Communist Party of Indonesia, yang bukunya yang semua dipenerbit tidak bergengsi di India  Abhinav Publication, 2004), kemudian diindonesiakan dan diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, 2005 (Moctar Lubis), dengan judul  Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah studi tentang konspirasi.
Saya kebetulan editor buku tersebut, yang mengawal hingga terbitnya. Kesan saya, buku itu merupakan antitesis dengan keras  terhadap tesis “Cornell Paper” , bahwa G30S adalah “perseoalan inter AD” , sama dengan tesis Untung dalam penampilannya, meksi tentu bias lain dalam penjelasan, sebab Untung kara John Rossa, lebih kuat modal patriotik dan beraninya daripada inteleknya.
Saya sendiri, Th. Bambang Murtianto sekarang, meski sudah  kepala empat,  masih Mahasiswa S-2 Filsafat  di STF Drijarkara Jakarta, dan bukan sejarahwan. Bila lelah bergumul dengan prinsip-prinsip filosofis dan perdebatan-perdebatannya sepanjang masa yang seperti tanpa akhir, maka membaca sejarah bagaikan “ bacaan hiburan/rekreasi”, karena ada bukti-bukti “pernah terjadi”.  Sedang di filsafat, bisa saja suatu hal sangat logis, meskipun tidak ada bukti empirisnya.
Pertanyaan untuk Anda memang ingin saya ajukan sejak lama: apa tanggapan Anda sendiri tentang buku Fic itu. Terutama tulisan pengantar buku tersebut khusus untuk edisi Indonesia dari Dr. John O Sutter, jebolan Cornell juga, saya pernah  bertemu dengannya, teman sekelas Prof. Daniel Lev,  yang nada tulisannya bukan saja  tajam, tapi cukup sinis perihal “Cornell Paper”.
Mohonlah ditanggapi apa yang ditulis Dr. Sutter itu, karena sungguh  berguna dan “membawa kenikmatan tersendiri bagi kami” untuk melihat raksasa-raksasa Indonesianis bertempur, sejauh mana Pak Ben setuju, dan sejauh mana tidak dengan Sutter.
Bukan maksud saya di sini  untuk  meng- “adu domba” para ahli, sebab adu domba itu adalah rekayasa  si kuat terhadap si lemah, seperti negeri Anda Amerika, terhadap negeri-negeri di Timur Tengah sana, atau seperti mantan Presiden kami Suharto yang mengadu domba jenderal-jenderal pembantunya agar tetap lemah dan under control..
Lebih tepatnya  “adu ayam” alias “adu jago”—itu permainan yang paling menarik yang banyak penggemarnya di  kalangan rakyat bawah Indoneisa.
Pendekatan “Adu ayam” kami ini dapat dipertanggungjawabkan, sebab dalam filsafat,  persis inilah yang dimaksud filosof Jūrgen Habermas sebagai “diskursus komunikatif”; sumber kemajuan pengetahuan yang menurut Hegel adalah proses dialektika tesis-antiteses, menuju sintesis yang lebih menjanjikan “clara et distincta” (Descartes). Kalau pun tidak sampai “clear” benar, setidaknya menyingkirkan sebagian kabut yang menggantung.
            Jadi, Inilah  sinisme John O. Sutter – yang seperti Fic lebih suka memakai istilah GESTAPU – sementara Pak Ben dan juga Bu Ruth McVey –  lebih suka memakai istilah G30S atau “Gerakan 30 September” saja:
“Cornell Paper”
Meskipun ada cukup banyak pakar spesialis tentang Indonesia di Amerika, terutama sekali di Cornell University, di mana saya mendapatkan gelar doktor, saya kaget  hampir-hampir tidak ada yang pernah mereka terbitkan—sekurang-kurangnya kalaupun ada, tidak secara terbuka. Apa yang memang muncul tampaknya telah dibangun dengan tesis a priori yang mengatakan bahwa Komunisme yang totalitarian itu pada tahun 1965 merupakan “gelombang masa depan,” bukan saja dalam hal Uni Soviet yang semakin agresif di bawah Brezhnev dan China di bawah Maoisme yang menindas dengan Revolusi Kebudayaannya, tetapi juga di Indonesia, tempat tinggal Partai Komunis terbesar ketiga  dunia.
Berbicara di World Affair Council bulan Oktober 1965, mantan rekan sekelas saya di Cornell, Daniel Lev, yang ketika itu berada di Universitas  California—Berkeley, mengatakan bahwa PKI mungkin sekali tidak terlibat dalam kudeta yang gagal itu, dan bahwa tajuk rencana surat kabar PKI, Harian Rakjat, tanggal 2 Oktober yang mendukung GESTAPU mungkin sekali tidak mencerminkan kebijakan elite kepemimpinan PKI tetapi hanya pandangan dari beberapa anggota partai yang lebih muda di surat kabar itu—suatu kesimpulan yang aneh tentang cara kerja sebuah partai otoriter yang besar itu. Ketika Lev menulis tentang kejadian-kejadian tahun 1965 di Indonesia untuk Asian Survey (Februari 1966), ia tidak hanya menolak bahwa PKI berada di belakang kudeta yang gagal itu, tetapi juga menolak bahwa Presiden Soekarno terlibat dalam perencanaannya.
Sebagai peserta diskusi makalah saya di Konferensi ASPAC itu, ia permasalahkan beberapa hasil pengamatan saya. Ketika seorang anggota yang hadir bertanya kepadanya tentang sumber-sumber apa yang dia pakai, Lev menjawab bahwa ia telah menerima pesan-pesan dari Indonesia, termasuk dari para anggota PKI, yang menolak bahwa partai mereka ada hubungannya dengan GESTAPU.
Di Cornell, the Modern Indonesia Project kadang-kadang mengeluarkan Interim Reports (Laporan-Laporan Sementara), untuk mana profesor saya yang tua itu, Project Director George McT. Kahin, telah menulis sesuatu yang kedengarannya seperti sebuah undangan untuk tinjauan kritis sesama koleganya:
“Kami berharap bahwa Laporan Sementara kami ini akan mendapat kritik yang terus-terang dan terbuka dari orang-orang yang tertarik membacanya. Karena kami percaya bahwa dengan demikian kami akan mendapat manfaat, dan bahwa dalam banyak hal, kritik-kritik  itu akan menunjukkan jalan kepada analisis data-data yang lebih baik yang kami miliki dan/atau penelitian selanjutnya tentang segi-segi permasalahan itu yang mungkin belum diliput secara memadai.”
Dalam pada itu, para ilmuwan di Cornell serta para alumni telah mengumpulkan dan menganalisis bahan-bahan sejak GESTAPU, dan pada Januari 1966 hasil penelitian mereka diterbitkan dalam sebuah buku tebal yang berjudul The Coup of October 1, 1965. Dua peneliti utama terlibat dalam penulisan laporan itu. Yang pertama adalah Dr. Ruth T. McVey yang telah bercerita pada saya di Manila bagaimana gembiranya dia mengajar di Akademi Ilmu Sosial Aliarcham milik PKI di Jakarta, di mana para kader partai sedang dilatih dalam administrasi pemerintahan sebagai persiapan untuk menjalankan pemerintahan setelah PKI merebut kekuasaan. Peneliti yang kedua adalah Benedict R. Anderson yang ahli dalam bahasa Jawa, telah memberikan hasil itu suatu piagam ilmiah (patina) dengan menghiasinya dengan kutipan dari buku Nagarakertagama tulisan Prapantja.
Orang-orang yang menghasilkan apa yang kemudian terkenal dengan nama “Cornell Paper” itu hanya mengulang kembali pernyataan elite PKI bahwa GESTAPU — sebuah istilah yang dihindari dalam paper itu — adalah semata-mata masalah intern AD, hanya merupakan sebuah konspirasi di kalangan para perwira lapangan yang merasa tidak puas, terutama sekali dari Jawa Tengah.
Namun, berbeda sekali dari kebijakan untuk tinjauan kritis sesama kolega yang dikemukakan Profesor Kahin, dan bertentangan dengan persyaratan akademis yang objektif, maka “Cornell Paper” itu tampaknya seperti sebuah dokumen pemerintah yang sangat rahasia. la diberi stempel “STRICTLY CONFIDENTIAL,” dan masing-masing copynya—hanya untuk dibaca oleh para penerima yang telah dipilih secara teliti—dengan diberikan nomor kodenya sendiri.
Meski para penulis itu mendorong para pembaca untuk menggunakan informasi yang telah dimuat di dalam Paper itu seluas-luasnya, namun para pembaca diperingatkan untuk tidak mengutip sumber atau merujuk dalam bentuk apa pun juga kepada risalah itu! Sayang sekali, saya bukan salah seorang dari mereka yang terpilih, dan permintaan saya untuk sebuah buku kepada para penulisnya, teman-teman sekelas saya dulu, diterima dengan diam seribu bahasa.
Di antara para pembaca yang dipercayai dan terpilih itu adalah para pejabat Kementerian Luar Negeri AS yang berada dalam posisi mempengaruhi kebijakan Amerika terhadap Indonesia, yang beberapa di antaranya mungkin telah terdorong untuk menerima sudut pandang Paper itu, dan salah seorang darinya, yang dulu pernah bekerja bersama saya di Kementerian itu menolak untuk saya melihat copynya dengan alasan bahwa Paper itu bersifat rahasia!
Dalam kenyataan, salah seorang penulis telah membriefing para pejabat Kementerian itu dan meyakinkan mereka bahwa G15STAPU hanyalah sebuah masalah intern AD Indonesia. Mungkin dengan melupakan peribahasa lama bahwa ‘power can corrupt’, termasuk orang-orang Komunis itu sendiri, maka dia dengan berapi-api menyatakan bahwa “PKI is incorruptible!”
Bagi orang awam yang bukan spesialis, orang biasa yang tidak mempelajarinya secara mendalam, namun mungkin perlu memberikan kuliah atau menulis tentang masalah-masalah Indonesia, maka sebuah versi yang lebih pendek dari Cornell Paper telah disediakan, yang berfungsi lebih jauh untuk mengaburkan fakta bahwa PKI-lah yang telah menjadi dalang percobaan kudeta 1 Oktober 1965 itu.
Tidak lama kemudian, cabang-cabang “anti-fascist” yang lebih keras muncul dalam publikasi Marxis Belanda dan the New Left Review, yang diterbitkan di London oleh saudara laki-laki Ben Anderson yaitu Perry, namun ada sebuah artikel yang dikatakan berasal dari Lucien Rey, yang tidak pernah bermaksud untuk menjadi seorang pakar tentang Indonesia dalam tulisan-tulisannya yang lain kepada majalah itu. (pertanyaannya saya : Lucien Rey ini nama samaran Pak Ben?)
Tambahan: Lampiran-lampiran dalam Cornell Paper itu berisikan terjemahan-terjemahan ke dalam bahasa Inggris yang luar biasa baik tentang sejumlah pengumuman/dekrit GESTAPU yang paling awal, dan untunglah hal-hal ini tidak dirahasiakan dari para pakar dan publik yang merasa tertarik. Stensilan-stensilan serupa digunakan untuk menggandakan halaman 134-142, ketika terbitan yang pertama kali dari publikasi Cornell yang baru, Indonesia, yang muncul dalam bulan April 1966.
Bagian selanjutnya dari penelitian yang mendalam oleh Dr. McVey diterbitkan tahun 1967 dalam A Preliminary Excursion Through the Small World of Lt. Col. Untung, sebuah buku setebal kira-kira 145 halaman dengan ukuran cukup lebar yang memuat rincian dari data-data tentang para perwira AD yang diperoleh dari pers Indonesia pada umumnya sebelum kudeta. Lagi pula, dorongan untuk kerahasiaan menyebabkan timbulnya peringatan berikut di dalam catatan halaman cover-nya bagi para pembaca pilihan: “Jika ada poin-poin informasi yang ingin Anda kutip tanpa merujuk kepada sumber ini, mungkin sekali yang paling baik dilakukan adalah dengan merujuknya sebagai sebuah komunikasi dengan saya.” Dengan demikian, para penulis selanjutnya, seperti Rex Mortimer, dapat menggunakan sumber ini dalam karya-karya mereka.
Secara berangsur-angsur, keberadaan Cornell Paper itu mulai bocor. Ketika Profesor Kahin mengunjungi Indonesia tahun 1967, ia menemui Nugroho Notosusanto, yang sebelumnya telah menyebutkan bahwa Paper itu telah didanai oleh Modern Indonesia Project kepunyaan Kahin. Kahin mengatakan bahwa ia tidak ada hubungannya dengan buku itu, sambil tertawa dan mengatakan kepada Nugroho bahwa hal itu hanyalah sebuah kinderachtigheid (“kekanak-kanakan” atau “sophomoric”), namun menolak permintaan Nugroho untuk membuat sebuah pernyataan pers guna mengklarifikasi masalah itu.
Sebuah kritik yang lebih luas atas Cornell Paper muncul pada tahun 1969 dalam buku The Communist Collapse in Indonesia oleh Arnold C. Brackman. Akhirnya pada tahun 1971, lama setelah Cornell Paper itu dibagi-bagikan kepada para pendukung setia dan pada gilirannya Profesor Kahin menjadikannya tidak rahasia lagi (declassified), dan secara resmi diterbitkan dalam serial Interim Reports dari Projectnya itu. Cetakan ulang itu tampak seperti aslinya, namun ungkapan “STRICTLY CONFIDENTIAL” yang dicapkan dan nomor-nomor kode di seluruh buku telah diganti hanya dengan kata “CONFIDENTIAL” saja di kulitnya. Namun, prakata Dr. Anderson yang panjangnya dua halaman itu telah dihilangkan. la menyinggung Negarakertagama dan Mahabharata dengan kata mutiara berikut:
“Hanya 600 tahun saja kemudian, para keturunan Prapantja jelas sekali telah memulai tugas mengelaborasi sebuah legenda baru—tentang sebuah Majapahit Raya baru, dan dengan sekali lagi (syukurlah!) sebuah despotisme yang dirahmati Tuhan …” dan [Dengan menunjuk kepada Pandawa], “korban-korban kekerasan, pengkhianatan dan kekejaman dari Kurawa yang tidak beruntung itu … mereka dipaksa untuk bergerak di bawah tanah, kemudian bersembunyi di hutan-hutan atau pergi menyamar ke negeri-negeri asing. Namun giliran mereka pada akhirnya pasti akan datang, ketika dengan bantuan sekutu-sekutu yang bersahabat di luar negeri, mereka akan menyusun kekuatan mereka yang telah diperbaharui, dan bertempur sekali lagi dengan para pencaplok yang kotor dan angkuh itu” untuk mencapai kemenangan.
Cukup sekian untuk “unbiased and objective scholarship” dari Cornell Paper itu.
Kartun Harian Rakjat
Walaupun penerbitan terakhir surat kabar Harian Rakjat disusun pada tanggal 1 Oktober 1965, namun ia baru diberi tanggal dan disirkulasikan pada keesokan harinya, yaitu Sabtu tanggal 2 Oktober. Meskipun tafsiran Cornell Paper menyediakan banyak halaman untuk merasionalkan tajuk-rencana pendek harian itu untuk mendukung GESTAPU, namun para penulis-nya meremehkan pentingnya deretan kartun politik di bagian bawah halaman depannya yang menggambarkan peristiwa-peristiwa revolusioner di minggu yang baru saja berakhir itu. Meskipun disebutkan pada halaman 143 bahwa Paper itu memuat kembali kartun-kartun hanya untuk akhir minggu itu saja—dan tidak memasukkan semua kartun untuk seluruh minggu sehingga memperlihatkan mengerasnya secara berangsur-angsur sampai kepada putsch itu—pastilah telah terjadi pemikiran-ulang tentang bijaksananya melakukan hal tersebut, karena tidak ada kartun itu yang diterbitkan kembali. Hal ini patut disayangkan, karena “sebuah gambai sama nilainya dengan seribu kata.”
a.       Kartun-kartun politik ini memperlihatkan serentetan keberhasilan yang telah didapat Partai musuh-musuh dalam minggu itu.
b.      Kartun hari Senin memperlihatkan seorang mahasiswa IPPI menyepak kepala “setan kota”.
c.       Kartun hari Selasa memperlihatkan kereta-api P.B.K.A. telah keluar dari relnya.
d.      Kartun hari Rabu sebuah tangan C.G.M.I. yang kuat menikamkan sebuah pisau belati pada lengan seorang anggota H.M.I, (yang memakai ban lengan C.I.A.).
e.       Kemudian hari Kamis-Jumat (30 September-1 Oktober), kartun itu memperlihatkan sebuah kepalan tinju yang perkasa “Gerakan 30 September” menghantam seorang tokoh yang digambarkan Dewan Jenderal yang didukung C.I.A., penuh dengan dollar Amerika, dan Paman Sam yang kaget. Kartun itu mau mengatakan bahwa Komandan Tjakrabirawa Untung telah menyelamatkan Presiden dan Republik dari sebuah kudeta Dewan Jenderal.
f.       Akhirnya, pada hari Sabtu, tanggal 2 Oktober—hanya beberapa jam saja setelah enam orang Jenderal AD menghilang, yaitu diculik, disiksa, dibunuh dan dimasukkan ke dalam Lubang—gambar kartun yang tampil memperlihatkan dua Jenderal yang tampaknya seperti Yani dan Nasution sedang dilempar ke dalam jurang. Karena hanya para anggota konspirator sajalah yang tahu siapa-siapa saja yang masuk dalam daftar para Jenderal yang akan dihilangkan, maka agaknya terlalu cepat bagi Harian Rakjat untuk memperlihatkan habisnya Jenderal Nasution.
Dengan demikian, salah satu dari banyak kekurangan para penulis Cornell Paper itu adalah alpanya mereka mencatat peristiwa-peristiwa penting di Indonesia yang terjadi hanya seminggu sebelum kudeta tanggal 30 September. Penghilangan apa saja yang berhubungan dengan perkembangan situasi minggu itu—yang seluruhnya diliput dalam pers Indonesia— jelas memperlihatkan bahwa monograph Cornell itu bukanlah sebuah analisis ilmiah yang tidak berbias, tetapi mungkin memiliki agendanya sendiri.
Victor M. Fic
Sejak tanggal 5-10 Agustus 1968, digelar Internasional Konference on Asian History di Universitas Malaya di luar Kuala Lumpur. la dibuka dalam suasana yang amat suram, karena suatu “gelombang masa-depan” totalitarian yang seolah tak dapat dihentikan tampaknya sedang terus mendesak maju—seperti Mao Tse-tung dan Para Pengawal Merahnya melancarkan Revolusi Kebudayaan membersihkan para anggota partai yang tidak cukup radikal, atau seperti  Soviet dan Pakta Warsawa di bawah  Brezhnev yang pada bulan yang sama menghancurkan “Musim Semi Praha” yang reformis itu.
Adalah menarik sekali sekaligus menyedihkan, melihat  seorang akademisi wanita Czeko datang dari Oriental Institute di Praha untuk mempresentasikan sebuah makalah tentang drama Indonesia. Seorang warga Czeko lain yang hadir adalah Victor M. Fie, yang telah mengalami penderitaan  di bawah belenggu Nazi dalam Perang Dunia II dan kemudian di bawah kaum Stalinis setelah mencaplok kekuasaan dalam bulan Februari 1948, dan Fic berhasil meloloskan diri dari penjara pada tahun 1949.
Pada hari pertama Konferensi itu, Profesor Fic yang datang dari Singapura, di mana ia mengajar Ilmu Pemerintahan dan Politik di Asia Tenggara, mengagetkan peserta konferensi dengan makalahnya—yang terpanjang dalam konferensi itu—”THE SEPTEMBER 30 MOVEMENT IN INDONESIA, 1965: A Gambler That Failed”.
Sebegitu jauh, menurut saya,  inilah analisis terbaik dan paling mencerahkan tentang GESTAPU sampai saat itu, karena lebih banyak detail yang tersedia baginya sejak tahun 1965, yaitu:
1.                             bukti-bukti yang dikemukakan di depan pengadilan MAHMILLUB yang dimulai tahun 1966 tentang kegiatan-kegiatan Aidit, Sjam dan Biro Chusus PKI; kegiatan Presiden Soekarno dan Subandrio; dan kegiatan Omar Dhani, Supardjo dan perwira-perwira militer lain yang diarahkan oleh PKI yang telah ikut dalam GESTAPU; dan
2.                             banyaknya kritik terhadap strategi Aidit yang berasal dari orang-orang PKI yang masih hidup di Jawa, Peking, Moskow, Paris, Amsterdam, Praha, Tirana, Havana dan tempat-tempat lain.
Sayang sekali, kebanyakan peserta konferensi tidak bisa membaca makalah Fic itu terlebih dahulu, dan Dr. Fic hanya diberi waktu beberapa menit untuk menyinggung beberapa poin utama analisisnya tentang peran Aidit yang penting. Maka tak heran, tanpa membaca makalah Fic, maka Jeremo Brass dari Universitas California-Berkeley, Harry Benda dari ISEAS di Singapura (yang suatu kali pernah berpendapat bahwa kediktatoran Soekarno di bawah “Demokrasi Terpimpin” lebih sesuai dengan kejiwaan Indonesia dibandingkan demokrasi liberal) dan Jaimie Mackie dari Australia, semua mereka menolak  analisis Fic itu.
Namun adalah W. F. Wertheim, seorang Belanda pakar Sosiologi Marxis, yang menyerang paling bertubi-tubi posisi Fic. la mengulang-ulang pendapatnya yang saat itu sudah usang bahwa “kudeta Untung” itu hanyalah masalah intern Angkatan Darat sesuai artikelnya yang pernah dimuat dalam majalah Pacific Affairs terbitan musim semi-musim panas tahun 1966 (yang diterbitkan jauh kemudian), yang menjadi penting karena kurangnya sumber-sumbemya untuk “kudeta Untung” itu, dengan hanya mengutip Daniel Lev, Rey dan “seorang penulis yang tidak mau menyebutkan namanya”.
Sejalan dengan penafsirannya yang naïf, Wertheim mencerca saya karena penuturan saya tentang kejadian-kejadian itu. la juga mengeritik Fic, mengatakan bahwa pengadilan militer alias MAHMILLUB hanya “dibuat-buat saja,” dan monograf Fic itu hanyalah sampah!
Dr. Sartono Kartodirdjo, sejarawan Indonesia yang juga ikut hadir dalam konferensi, menyatakan pada saya rasa kecewanya dengan mantan guru-besarnya itu, yang seringkalimaembuat penafsirannya sendiri tentang Marxisme ke dalam analisis-analisisnya, memutar-balikkan fakta, dan membuat terlalu banyak generalisasi dari data-data yang secara relatif terpisah-pisah dan sedikit jumlahnya.
Tahun 1967, saya memang kembali bekerja di Malaysia, kali ini sebagai Perwakilan Asia Foundation, hal ini memberi saya kesempatan untuk ikut-serta dalam Konference on Asian History tersebut, untuk berdebat dengan Wertheim, dan bertemu dengan Dr. Victor Fic. Kami selalu berhubungan untuk beberapa lama, kemudian kami pergi menempuh jalan kami masing-masing. Untunglah, setelah pindah ke Canada tahun 1971, setelah ia mendirikan studi-studi graduate dalam Ilmu Politik dan Program Studi Asia, Dr. Fic memperluas monograf awalnya itu menjadi karya yang sangat rinci yang sekarang Anda baca ini.
Sumber-sumber primer luas yang telah dikumpulkannya dalam beberapa kali perjalanan lapangannya ke Indonesia, dan wawancaranya dengan beberapa pelaku langsung, menjadikan bukunya ini sebuah karya yang kurang lebih mendekati definitif tentang pokok itu. Dr. Fic bukan saja menjelaskan “anatomi” kudeta itu dan mekanikanya, tetapi juga “psikologi” para pemainnya dengan cara memperlihatkan bagaimana mereka saling berinteraksi, sehingga seolah menjadikan keseluruhan drama kudeta itu sebuah lakon wayang kulit jawa [red: mungkin untuk sekedar mengimbangi keahlian Jawa Pak Ben Anderson saja].
Dalam pertemuan terakhir pelaku-pelaku utama itu di rumah Komodor Susanto di Halim pada sore hari tanggal 1 Oktober 1965, disorot seluruhnya dari segi lakon wayang kulit Kolomongso. Victor datang dengan peralatan lengkap untuk membedah kudeta tersebut, karena telah mempelajari secara mendalam baik realpolitik kekuatan bahan mentah Eropa dan juga aliran kekuasaan yang pelik dan bersifat mistik dalam budaya Jawa.  Dalam bulan Januari 2003, Dr. Fie menemui saya, sambil menghadiahi saya kegembiraan membaca manuskripnya untuk kemudian menulis pengantar ini….
Dr Fic meninggal pada Februari 2005
***.
Demikian Pak Ben surat saya yang pertama untuk Anda. Sangat  menyenangkan bila  Anda menjawabnya., apakah kritik dari Dr John O. Sutter itu  benar, atau  dapat dengan mudah dibantah, supaya saya punya alasan untuk mengirim surat saya yang kedua, pertanyaan-pertanyaan saya sendiri untuk Anda, yang bila saya tulis di sini, rasanya terlalu banyak. Tapi kalaupun surat ini tidak dijawab, surat terbuka kedua nanti tetap akan saya kirim, takut keburu Pak Ben tutup usia.   Salah satunya sebagai “pemanasan adalah ini,bahwa menurut Guru Besar Emeritus STF Drijarkara Jakarta, yang ahli Etika, Filsafat Politik dan ahli Marx/Marxisme,  Prof. Franz Magnis Suseno, “Penjelasan yang paling mutakhir dan paling meyakinkan tentang G30S adalah buku  John Rossa”. Ketika lantas saya dalami Pretext Mass Murder…itu, bahwa salah satu jangkar pentingnya, bahwa  pemberontakan G30S digerakkan oleh Biro Khusus yang langsung bertanggungjawab kepada Ketua Aidit, berdasarkan keterangan analisis  Supardjo yang diakuinya dan “keterangan rahasia dari Hasan” , kesimpulan saya, dan mudah-mudahan Prof John Rossa setuju,  dengan demikian PKI sebagai lembaga tidak tahu menahu, termasuk Njoto, salah satu pimpinannya, sehinngga saat dibantai pasca 9 Oktober massa PKI pasif, karena tidak tahu menahu rencana  Aidit dan Sjam itu.  Dengan demikian tesis “Cornell Paper” ditolak alias lewat pula (alias terfalsifikasi mnrt Bertrand Russell) dari tinjauan Prof John Rossa? Meski soal Dokumen Supardjo, Fic dalam publikasinya lebih dulu memasukkan dan mengakuinya.      
Banyak salam dan hormat senantiasa.
Th Bambang Murtianto
Peneliti partikelir, tinggal di Bogor

Analysis: Syria and Hamas: End of a honeymoon

Analysis: Syria and Hamas: End of a honeymoon

By KHALED ABU TOAMEH 02/25/2012 19:21

Now that Hamas has left Syria, its leaders are finally able to voice their true feelings about Assad.

Pictures of Bashar, Hafez Assad By Ahmed Jadallah/Reuters

The honeymoon between Hamas and the Syrian regime is now officially over.

Since the eruption of the uprising against Bashar Assad’s regime nearly a year ago, Hamas had refrained from taking sides. Its declared policy was that the movement did not interfere in the internal affairs of Arab countries.

But for Hamas, Syria is not just another Arab country. It is the only country that agreed to host Hamas leader Khaled Mashaal and some of his top aides after they were expelled from Jordan and stripped of their Jordanian citizenship more than a decade ago.

Syria’s decision to allow Hamas to set up a base in Damascus was mainly designed to undermine the PLO. It was not out of love for the Islamist movement or the Palestinians.

Syrian efforts to undermine the PLO go as far back as the early 1980s, when Assad’s father, Hafez Assad, supported and later hosted senior Fatah officers who led a revolt against Yasser Arafat in southern Lebanon. Since then, at least 10 other radical Palestinian groups have been given shelter in Syria, where they formed a “rejectionist front” opposed to Arafat and the PLO.

The Arab Spring has put Palestinian groups, including Hamas, in a delicate situation.

Palestinians have enthusiastically supported demands for regime change and reforms in the Arab world, and Hamas and the other Damascus-based groups could not afford to be seen as supporting an Arab dictator who was massacring his people.

The first sign of tension between Hamas and Assad surfaced a few months ago when Syrian authorities demanded that Mashaal follow Hezbollah and publicly declare his backing for the Assad regime.

Mashaal’s refusal made him persona non grata in Syria and forced him to start searching for a new home. In recent weeks, he and most of the top Damascus-based Hamas leaders and their families have moved to Egypt, Jordan, Qatar and the Gaza Strip.

Until recently, Hamas had been careful not to come out against Assad in public as long as its leaders and offices were still in Damascus. It did not want to end up like Hezbollah, which has lost points among the Arab and Muslim masses for siding with Assad in the bloody war against his people.

But now that Hamas has left Syria, its leaders are finally able to voice their true feelings. Last Friday, Hamas Prime Minister Ismail Haniyeh chose Cairo as the venue for expressing his movement’s support for the Syrian people’s efforts to get rid of the regime.

Haniyeh said that Hamas “lauds the Syrian people who seek freedom, democracy and reform.” This one sentence was enough to signal the end of a long honeymoon between Assad’s regime and Hamas.

Korupsi Dana Premi Asuransi TKI

Korupsi Dana Premi Asuransi TKI
by @TrioMacan2000

Al Faqir Ilmi,in: Gelora45@yahoogroups.com: Sunday, February 26, 2012 6:09 AM

Jreng..jreng..saya coba kultwitkan tentang korupsi dana premi asuransi TKI yg telah berlangsung sejak jaman orde baru

Asuransi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI) dimaksudkan untuk melindungi para #TKI yg bekerja di LN. TKI dlm negeri sdh ada jamsostek

Sejak jaman orba ATKI ini jadi lahan korupsi pejabat2 Depnaker, PPJTKI, DPR, Broker & prshn asuransi

ATKI ini menjamin risiko TKI mulai dari berangkat, bekerja di LN dan kembali ke tanah air. Risiko yg dijamin : mati, cacat, biaya perawatan di RS, penganiayaan & kehilangan upah jika TKI dipecat oleh majikannya. TKI kita mayoritas bekerja di Timteng & asia pasific

Di timteng, TKI kita mayoritas bekerja di arab saudi. Asia pasifik mayoritas di malaysia. Saat ini ada 7 juta TKI yg bekerja di LN. Setiap tahun rata2 TKI yg berangkat ke LN sebanyak 800 ribu orang. Itu yg resmi. Yg ilegal diperkirakan 500 ribu orang / tahun. Mekanisme pengiriman TKI ada 2 cara. 1. Dilakukan oleh swasta 2. Dgn pola G to G yg skrg dilakukan oleh BNP2TKI pimp Jumhur hidayat

Setiap TKI yg berangkat harus memiliki polis asuransi. Preminya 400 ribu utk periode 2 tahun. Artinya ada Rp. 360 milyar premi/thn. Dari premi 400.000/TKI tsb, premi yg diterima oleh prshn asuransi hny sktr 50%. sisanya dikorupsi berjamaah oleh pejabat2 depnaker, Oknum komisi IX DPR, broker asuransi dan PPJKTKI. Artinya ada kebocoran sekitar 180 milyar/tahun. Itulah sbbnya TKI sering tak dibayar

Knp korupsi ini sulit diberantas? Karena mereka berdalih bhw premi asuransi TKI itu bukan uang negara. Sehingga bebas jadi bancakan

Bgmn modus korupsinya? Dgn gunakan broker asuransi/konsorsium asrnsi Broker asuransi TKI lah yg mengatur distribusi uang 180 M /th itu. Uang TKI 180 M /tahun itu dibagi2 secara rapi kpd semua pihak yg terkait. Tapi disamarkan dgn seolah2 itu adalah komisi utk broker

Modus korupsi lain oleh pejabat2 kemenakertrans / BNP2TKi : dgn terima suap utk menentukan prshn asuransi mana yg jadi penanggung TKI. Konsorsium ACA disebut2 setor suap 5 milyar kpd PKB/ Menaker agar lolos jd konsorsium penanggung asuransi TKI. Sebelumnya jg sdh ada 7 konsorsium asuransi TKI yg jg dikabarkan setor suap msg2 5 milyar ke PKB/ menakertrans/BNP2TKI, jadi total suap utk dapat persetujuan jadi konsorsium asuransi TKI sekitar 40 milyar. Prshan2 berlomba suap krn bisnis ini menggiurkan. Belum lagi disebabkan bhw asuransi TKI ini bersifat given/captive shgga dana pemasaran asuransi adalah nol krna bisnis otomatis masuk

Modus korupsi lainya adlh dgn buat polis palsu bekerjasama dgn PPJTKI, kemenaker dan BNP2 TKI Caranya, polis yg diterbitkan itu bodong. Dgn polis TKI palsu itu PJTKI lah yg bertindak seolah2 sbg prshn asuransi. Jika terjadi klaim, asuransi ga usah bayar. Yg bayar PJTKI. Polis bodong itu dijual dgn harga 30-50 ribu per lembar. Hny sbg dokumen persyarat ketika TKI hendak berangkat ke LN. Sementara PJTKI kutip 400.000 dari TKI. Untung 370.000 yg kemudian dibagi2 kpd oknum2 pejabat depnaker/BNP2TKI/DPR. TKI tdk pny jaminan

Korupsi lainnya adalah asuransi TKI selama pelatihan dan biaya pemeriksaan kesehatan. Preminya 100.000/org. Komisi asuransinya 50.000 Total korupsi premi asuransi pra penempatan dan pemriksaan kesehatan sebesar 40 M /tahun. Diduga Dibagi2 kpd menteri/ka BNP2TKI dan DPR

Bgmn dgn klaim asuransinya? Inilah sulit dan repotnya. TKI kita bekerja diluar negeri tp penanggung asuransinya di dalam negeri. Akibatnya proses klaim TKI menjadi lama dan berbelit. Disini juga ada suap dan sunat uang klaim asuransi oleh oknum depnaker/BNP2TKI

Setiap tahun klaim asuransi TKI yg masuk kantong oknum depnaker/ BNP2TKI/PPJTKi sekitar 25-30 milyar. Ueanaaak tenaaan

Kenapa tidak TKI menuntut. Selain ribet, premi asuransi TKI itu dibayar terlebih dahulu oleh PJTKI alias utang yg nanti dicicil dr gaji TKI. Lahan basah korupsi premi asuransi yg totalnya bisa mencapai 200 milyar per tahun inilah yg buat Depnaker&BNP2TKi sering ribut. Rebutan Partai politik juga rebutan dapat jatah korupsi premi asuransi TKI ini. Sewaktu jaman ES jd menaker, seorg elit golkar minta jatah 5%

Kasus korupsi TKI ini pernah diusut oleh kejaksaan. Tapi akhirnya kandas. Tersangkanya AS suap 80 milyar kpd “dewa2″ diatas sana. Lolos

Ketika SBY bertamu ke M’sia dia marah besar karena mendapatkan pengaduan langsung ttg bobroknya pelaksanaan asuransi TKI ini di sana. SBY perintahkan kapolri utk usut kasus korupsi asuransi TKI ini. bumi gonjang ganjing. Semua pihak yg terlibat bersatu pada. Suap lagi. Kasus korupsi asuransi TKI pun kandas lagi. Alasannya selalu klasik. Tidak ada kerugian negara krna premi asuransi bukan APBN. Amaaan. Sdh lebih 20 tahun program asuransi TKI berjalan. TKI tetap tak telindungi. BNP2TKI pun macan ompong. Hnya berfungsi sbg penyalur TKI. Sampai sekarang TKI tetap menderita, sementara pejabat2 Depnakertrans / BNP2TKI /PJTKI / DPR / broker asurnasi pesta 200 M/thn dr keringat TKI

Secular revenge in Indonesia

Feb 25, 2012
Secular revenge in Indonesia

By Megawati Wijaya

JAKARTA – Since its founding in 1998, hardline vigilante group the Islamic Defenders Front (known by its Indonesian acronym FPI) has perpetuated violence in the name of Islamic morality. Now, Indonesians are calling for an end to the intimidation and intolerance, signaling growing rejection of the group’s and its supporters’ radical religious ideology.

Palangka Raya, the capital of Central Kalimantan province, was in the national headlines two weeks ago when its residents stopped FPI leaders from landing at the town’s airport. Four FPI leaders

had flown there to officiate the opening of a new provincial FPI branch but in an act of defiance a crowd of about 800 people staged a protest.

A few hundred, mainly indigenous Dayak people, forced their way onto the airport’s apron and runway to confront the FPI officials. Protesters dispersed only when airport officials convinced them that the FPI members would remain on board the plane and would travel on to another destination.

Local people said they feared FPI’s presence could destabilize the province, where the Muslim majority shares religious space with Christians, Hindus and native animists, said Lucas Tinke, a Dayak tribal spokesman involved in the protest.

In Jakarta, the national capital, hundreds of Indonesians, including civil activists, students and professionals, staged their own anti-FPI protests. The demonstration was peaceful until three men, later identified as FPI members, grabbed a banner and beat one of the demonstrators. The case is now under police investigation.

The anti-FPI movement spread to Surabaya, another major metropolitan area where people referring to themselves as “Surabaya Residents Against Violence” held a similar rally on February 17. Although the group did not specifically refer to the FPI in its addresses promoting non-violence, yells of “Indonesia without FPI, Indonesia without violence” could be heard from the gathered mass, according to local press reports.

Radical agenda
FPI was founded in 1998 by Saudi Arabia-educated Islamic leader Muhammad Rizieq Syihab in the wake of former strongman Suharto’s downfall. Whereas radical Islamic groups were stifled under Suharto’s 32-year authoritarian rule, FPI has exploited the country’s new democratic space to push for the implementation of Islamic Shariah laws and challenge secular traditions. The group’s members have often openly advocated the use of violence to push its hardline Islamic agenda.

From its stronghold in Central Java, FPI has quickly spread through a branch network to other parts of the archipelago. There are currently an estimated 5,000-6,000 committed FPI members around the country. FPI claims that its funding solely comes from its members, which include religious leaders and businessmen who share its radical ideology.

FPI has been held responsible for hundreds of violent incidents, including destructive attacks on entities considered in violation of Islamic values such as bars, brothels, massage parlors and gambling halls. Every year, FPI carries out raids on restaurants that operate during the Ramadan Muslim fasting season, forcing them shut while terrorizing their owners.

FPI has also directly targeted minority religious groups. For instance, FPI members have frequently interrupted prayer services in Christian churches and assaulted adherents of the Ahmadiyah, a minority Islamic group. There are also records of FPI attacking ethnic and sexual minority groups, including Indonesian Chinese-owned shops, or lesbian, gay, bisexual and transsexual groups. In the past two years, the FPI has been responsible for 34 serious breaches of laws across five different provinces, according to the police spokesman Saud Usman Nasution.

Notwithstanding those incidents, FPI exists more as a destabilizing influence than a serious security threat due to its lack of conventional weaponry and limited number of paramilitary members, according to a recent report by Jane’s Defense. A recent International Crisis Group (ICG) report on hardline groups in Indonesia referred to FPI as an “urban thug organization”.

Despite FPI’s regular and well-documented abuses, police seldom act against the group. ICG noted that the group has backing from the military and police generals, including former armed commander General Wiranto. FPI is seen by security officials as a useful “attack dog” for various purposes, ICG said.

US diplomatic cables made public by WikiLeaks claim that FPI receives funding from the police, including from Sutanto, former police head who now leads the Indonesian intelligence agency BIN. He reportedly stopped his funding activities after FPI attacked the US Embassy in Jakarta in February 2006 to protest the publication of cartoons in US media that depicted the Prophet Muhammad.

In a speech in Central Sulawesi in 2006, FPI leader Rizieq Shihab said the FPI and the police were “like husband and wife”, both committed to upholding public order.

“Whoever has money can hire FPI for political purposes, but no one outside FPI can control Habib Rizieq, who remains boss to himself,” a US diplomatic cable said.

FPI has more recently denied the US cables’ allegations and insists that it’s self-funded with donations from its own members. “FPI never receives funds from anywhere else, neither the government, the military, the police, or businessmen. All funds come from our own pockets,” FPI Jakarta head Salim Alatas recently said.

Grassroots defiance
Last week’s organized opposition to FPI represented the first major public defiance against the radical group. No individual or group had previously openly challenged FPI, due mainly to fear of violent reprisal and the risk of crossing unknown powerful members of government and the security forces.

The only high-profile anti-FPI case occurred last year when a group of housewives in Medan, North Sumatra, vandalized the car of Darma Bakti Ginting, FPI’s provincial head. Ginting and his FPI supporters had earlier torn down a local resident’s house that had allegedly been built on his land. Some analysts believe that grass roots resistance served as motivation for the recent protests.

“Resentment against violence that is often employed by the FPI is already widespread in society,” claims Noor Huda Ismail, a terrorism expert at the Institute of International Peace Building, a local organization that works to rehabilitate former Islamic radicals. “But this time, the silent majority are capable of reaching to the megaphone and extend their anti-violence, anti-FPI message to the wider public,” he said.

Before last week’s rallies, Indonesian authorities had handled the FPI mainly with kid gloves. Last year, President Susilo Bambang Yudhoyono called for mass organizations to adhere to the law or risk disbandment but refused to mention names.

“Organizations in Indonesia are allowed to operate on the basis of freedom of speech and freedom of action,” he said. “[But] any organization that violates the laws must face due legal process, with no exceptions,” he said.

In response to that vague statement, FPI threatened to overthrow Yudhoyono’s government if he “dares to disband mass organizations, including the FPI”.

“FPI will be like Ben Ali [Tunisian leader who led a bloodless coup d’etat in 1987] and Indonesia will become Egypt. We will activate the mass to overthrow [the president] for diverting issues,” FPI spokesman Munarman said at the time.

Belated response
There are signs the government’s position may be hardening. After last week’s anti-FPI rallies, home affairs minister Gamawan Fauzi said he would not hesitate to freeze mass organizations that disturbed public order. “If they keep on breaking the law we will certainly freeze them in accordance with the 1985 Law on Mass Organizations,” he said.

That law stipulates that a mass organization can be suspended if it has received at least two warning letters from the ministry. FPI was most recently warned after it vandalized the home ministry’s offices in Jakarta last month during a protest against a decision to revise several regional bylaws restricting the sale and distribution of alcohol.

During a visit to the Religious Affairs Ministry last week, Shihab said that FPI would fight for justice and corruption eradication only through peaceful means. “The [attack on] Home Ministry and various other incidents are no longer the group’s hallmark. FPI has left that paradigm,” he was quoted as saying by the Antara news agency.

Momentum is also building against the group among more moderate religious leaders. A recent gathering of Islamic scholars in Karawang, West Java province, urged the government to disband the FPI, saying the group’s violent tendencies are not reflective of how Muslims should behave. Mass Muslim organizations, such as the Nadlatul Ulama and Muhammadiyah, both of which have tens of millions of members, have consistently distanced themselves from FPI.

It is not clear, however, that disbandment would uproot the radical Islamic sentiment FPI has tapped and mobilized, analysts say. “Radical groups such as the FPI have very strong ideologies – disbanding one will only bring out splinter groups,” said Ismail. “Compared to NGOs or civil activists that have higher turnover or whose activities depend on availability of funding, the former would have stronger stamina to survive,” Ismail said.

“FPI can easily find sympathizers because it is strongly against things that are considered sinful by many Indonesians such as prostitution or gambling,” he said. “FPI’s consistent message calling for a clean government that is free of corruption is especially attractive when the people think they can’t trust the existing government.”

Megawati Wijaya is a Singapore-based journalist. She may be contacted at megawati.wijaya@gmail.com


(Copyright 2012 Asia Times Online (Holdings) Ltd. All rights reserved. Please contact us about sales, syndication and republishing )

Ketidakadilan Merupakan Sumber Konflik, Bukan Agama

|Ketidakadilan Merupakan Sumber Konflik, Bukan Agama

Kamis, 23 Februari 2012 | 15:32

Surahman Hidayat [google]

[JAKARTA] Ketua Dewan Syariah Pusat (DSP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Surahman Hidayat menegaskan, sumber konflik yang banyak berkembang pada saat ini bukan agama tapi karena adanya ketidak-adilan.

“Agama bukanlah sumber konflik. Selama ini sentimen agama sering dimunculkan untuk memicu konflik, padahal sumber konfliknya sebenarnya adalah ketidak-adilan,” ujar Surahman di Jakarta, Kamis (23/2), menanggapi kedatangan misi perdamaian yang dibawa delegasi lintas agama asal Amerika Serikat.

Sebelumnya sebanyak 13 orang delegasi lintas agama asal Amerika Serikat berkunjung ke Jakarta. Mereka mewakili komunitas agama Kristen, Yahudi, dan Islam. Mereka datang dengan membawa misi perdamaian guna mengubah paradigma dunia terhadap peran agama, yang sampai saat ini agama masih dianggap sebagai sumber konflik.

Menurut Surahman Hidayat yang juga Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI itu, pihaknya tetap menyambut baik misi perdamaian tersebut dan sepakat dengan perlunya mengubah paradigma masyarakat dunia terhadap agama.

“Kita setuju dengan misi perdamaian dengan mengubah paradigma masyarakat dunia terhadap agama. Tetapi jangan lupa pula bahwa perdamaian dunia tidak akan tercapai tanpa kondisi tatanan dunia yang berkeadilan dan berkeseimbangan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa mengubah paradigma tentang peran agama ini baik dan hal itu masih perlu dilengkapi lagi dengan membangun tatanan dunia yang harus memberikan keadilan.

“Kita berharap setelah ini tidak hanya misi perdamaian yang dilakukan, tetapi bagaimana upaya untuk membangun sistem dunia yang adil dan seimbang. Dengan begitu perdamaian dunia Insya Allah akan tercapai,” ujarnya. [Ant/L-9]

Stop Kekerasan Atas Nama Agama

Stop Kekerasan Atas Nama Agama

Tim Liputan 6 SCTV

Stop Kekerasan Atas Nama Agama

24/02/2012 01:51
Liputan6.com, Jakarta: Kekerasan atas nama agama beberapa tahun terakhir mewarnai berbagai sisi kehidupan masyarakat di Tanah Air. Dengan motif jihad, para pelaku menebar teror. Banyak yang sudah tertangkap serta dipenjara. Akan tetapi kegiatan teror mengatasnamakan agama tidak berhenti.

Mungkin sebagian warga Indonesia ingat dengan Cikeusik berdarah. Dengan meneriakkan nama Tuhan, tiga warga Ahmadyah dibunuh secara sadis. Enam lainnya luka berat dan meninggalkan trauma. Lima bulan setelah peristiwa mengenaskan itu, 12 pelaku hanya divonis tiga hingga enam bulan penjara.

Bukan hanya jemaat Ahmadyah sulit beribadah. Jemaat Kristen di GKI Yasmin yang telah dimenangkan di tingkat MA masih harus beribadah di jalan. Itu pun terus diintimidasi sekelompok orang yang mengatasnamakan warga. Padahal diketahui kebanyakan mereka dari luar wilayah tersebut.

Sebelumnya pada Hari Lahir Pancasila yang sejatinya harus menghormati keberagaman dinodai dengan pemukulan massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama oleh anggota Front Pembela Islam. Aksi kekerasan tampaknya terus melekat dengan organisasis ini. Isu pembubaran ormas pun mengemuka.

Budayawan dan pemuka Kristen, Romo Mudji Sutrisno, menyebutkan kekerasan yang terus terjadi disebabkan adanya krisis saling percaya sesama rakyat. Krisis ini merupakan akumulasi dari berbagai masalah yang mendera bangsa. “Mulai dari masalah ekonomi, politik, hingga ketidakadilan,” katanya.

Lebih jauh Romo Mudji mengatakan di wilayah agama, terlalu religi yang disoroti masyarakat bukan titik temu soal keimanannya. “Seharusnya bagaimana agama bisa memberi sumbangan untuk mengentaskan kemiskinan,” kata Romo Mudji dalam program Barometer di Studio SCTV, Jakarta, Kamis (23/2) malam.

Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan pemerintah dalam posisi sulit mengatasi persoalan ini. “Satu sisi penegakan hukum harus ditegakan, di sisi lain persoalan-persoalan yang ada sedemikian menumpuk. Nah inilah, perlu ada seni tersendiri menyelesaian dan memenej bangsa ini,” katanya.

Sementara itu cendekiawan muslim Azumardi Azra kekerasan atas nama agama hanya dilakukan sekelompok kecil. “Masyarakat muslim Indonesia itu cinta damai yang diwakili oleh NU, Muhammadiyah, dan lain-lain. Pemahaman keagamannya juga mengajarkan kedamaian,” kata Azumardi Azra.

Kekerasan hanya dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil yang akar-akarnya ada dua. Ideologi yang cenderung literal dan dalam melihat kemungkaran, bagi mereka tidak cukup dengan amar maruf tapi nahi mungkar. “Nahi mungkar itu ya harus dengan tangan termasuk pakai pentungan,” ungkap Azra.

Peristiwa-peristiswa kekerasan dan tragedi kemanusiaan atas nama agama juga terjadi di dunia internasional. Korban kekerasan terhadap mereka yang disebut terakhir hampir selalu yang punya pikiran-pikiran non mainstream dan kritis terhadap kebijakan dan praktik-praktik antikemanusiaan.

Pemuka agama dari Amerika Serikat Sayyid Syeed menyebutkan kekerasan atas nama agama sama sekali tidak dapat diterima. “Itu memprihatinkan karena agama mengajarkan kita tentang disiplin diri untuk menjalani hidup dan berhubungan dengan Tuhan tapi di saat yang sama agama menyiapkan kita untuk berinteraksi dengan ciptaan Tuhan dengan penuh kasih. Ini yang diajarkan Alquran atau kitab suci agama lain,” Sayyid Syeed.

Hal senada diungkapkan pemuka agama dari AS lainnya yakni Julie Sconfeld. Menurut Sconfeld, setiap manusia adalah suci dan setiap jiwa manusia mempunyai nilai yang suci. “Sehingga Yudaisme menolak segala bentuk kekerasan dan benar-benar berkomitmen untuk menyelamakan dan menjaga setiap jiwa manusia,” katanya.

Pendeta Chloe Anne Breyer juga sangat menolak kekerasan atas nama agama terutama jika dilakukan terhadap umat minoritas. “Di AS, kami punya konstitusi yang menjamin kebebasan beragama. Kongres juga akan mengesahkan hukum yang mengakui agama. Jadi di satu sisi para pendiri negeri kami datang dari Eropa mencari tempat untuk menjalankan agama mereka secara bebas,” katanya.

“Di New York, kami berurusan dengan 15 agama berbeda. Saya rasa kita jangan membatasi diri dengan agama-agama Ibrahim. Saya ingin membedakan antara kita memakai kata minoritas. Minoritas orang memakai kekerasan sebagai ekspresi keagamaan. Itu tidak bisa diterima,” ungkap Pendeta Chloe.

Menurut Sayyid untuk menghentikan kekerasan atas nama agama butuh waktu lama dan tanggung jawab bersama. Seperti perjuangan warga kulit hitam diakui di AS. “Warga kulit hitam di AS telah mendapatkan tempat terhormat. Jika kini seorang pria kulit hitam berada di Gedung Putih, itu tidak terjadi secara tiba-tiba,” katanya Sayyid.

Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyebutkan kalau Indonesia harus belajar banyak tentang toleransi beragama dari AS yang melibatkan banyak keyakinan. “Mereka bersatu menghadapi tantangan terorisme dan kekerasan. Terorisme tidak berakar pada agama,” kata Din Syamsuddin.

Din menambahkan di Indonesia mempunyai modal sosial keagamaan. Modal tersebut diwujudkan dalam ideologi negara yaitu Pancasila. “Ini kekayaan masyarakat Indonesia di seluruh komunitas agama bahwa agama dari Tuhan tapi itu untuk manusia dan kemanusiaan,” ungkap Din. Ia menambahkan wajah dari humanisme ini akan menjadi titik temu bagi kita semua walaupun berbeda agama.

Indonesia sudah menjadi sorotan dunia maka stop kekerasan yang mengatasnamakan agama. Aksi teror hanya menimbulkan kebencian terhadap sesama yang sejatinya harus hidup berdampingan satu sama lain. Maka kekerasan atas nama agama harus berhenti sekarang juga.(JUM)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 60 other followers