Archive for the ‘Budaya’ Category

Etika Penonton

 

Trans TV, tiap Sabtu-Minggu, Pk 15.30 WITA

Milis Remotivi

Gabung ke milis Remotivi *
06.03.2012

Bagaimana kita sebagai penonton menanggapi penderitaan di media?

Etika di dunia media, barangkali, bukan hal menarik untuk dibahas. Jauh lebih gampang memancing orang lain untuk terlibat jika bicara soal bagaimana kemajuan teknologi mengubah peta media, atau bagaimana konglomerasi menundukkan kemerdekaan wartawan, atau selingkuh politik para baron informasi dengan pejabat publik. Barangkali demikian.

Tapi etika penonton tetap perlu. Sebab, etika memuliakan kehidupan, menopang kita agar tidak terbenam lumpur media sehari-hari yang liat, lengket, dan menyesakkan.

Etika penonton sama penting dengan kode etik wartawan, hanya berbeda arah. Kode etik wartawan menerangi wartawan untuk memilih apa yang baik dilakukan saat pekerjaan menuntutnya memasuki wilayah remang-remang: suap atau bukan, hadiah atau rayuan, memuja-muja perusahaan atau mengutamakan khalayak umum. Memang, etika penonton tidak menjadi kode seperti itu, karena penonton bukanlah jenis pekerjaan. Meskipun demikian, etika penonton memandu penonton menyibak gunungan informasi, memilih mana susu mana tuba, dan melandasi tindakan berikutnya. Tulisan ini akan merenungkan etika yang khas di dunia media dari sudut pandang penonton, dilanjutkan dengan masalah etis kepenontonan terkini.

Etika dan Jarak

Sebenarnya media telah mengubah dunia yang menjadi landasan sistem etis kita. Dalam dunia tanpa media massa, jarak fisik mengatur mereka yang terdekat menjadi keluarga, agak dekat menjadi tetangga, lebih jauh merupakan orang asing, dan yang di luar batas adalah musuh. Berdasarkan perbedaan jarak dan penggolongan ini, orang membuat penilaian apa yang baik dan apa yang buruk, semisal, lebih mengutamakan yang dekat ketimbang yang jauh. Sekarang, media massa membuat orang terhubung terus-menerus dengan orang lain yang jauh, sehingga orang-orang di tempat, bahkan negeri, yang jauh pun menjadi tetangga. Akibatnya, muncul pertanyaan, siapakah tetangga? Siapakah yang dekat? Dan akhirnya, siapa yang diutamakan tidak lagi sesederhana dulu.

Meskipun jauh secara geografis, kita bisa merasa terlibat dekat dan terlibat dengan orang-orang yang sebenarnya asing. Sebagai contoh, dulu pernah terkenal lagu “Ethiopia” karya Iwan Fals. Lagu dimulai dengan adegan mendengar rintihan warga Ethiopia yang kelaparan, sehingga nurani seperti ditikam, telinga robek, dan kita seperti telanjang. Siapakah “kita”? Kita adalah penonton yang “melihat kesekaratan di layar TV” tapi hanya bisa mendengar.

Atau contoh yang lebih baru, yakni ketika tsunami melimpas Aceh. Berbondong-bondong orang dari berbagai daerah di Indonesia datang untuk menolong. Menolong siapa? Bukan saudara, bukan tetangga, tetapi warga sebangsa. Lantas, kalau kita bandingkan, manakah yang lebih terasa dekat? Apakah dorongan yang sama menggerakkan kita menolong warga Fukushima, atau Haiti, atau New Orleans? Meski sama-sama orang asing, keterlibatan khalayak dengan korban sebangsa seringkali lebih dalam ketimbang dengan korban dari bangsa lain. Dekat dan jauh dalam hal ini bukan lagi soal geografis, tetapi soal kesatuan sosial-budaya-politik yang salah satunya diteguhkan dengan media massa. Dan karena kesatuan sosial-budaya-politik ini adalah hal yang berubah-ubah, maka kedekatan kita terhadap orang lain juga berubah-ubah.

Etika dan Mediasi Kehadiran

Selain mendekatkan, media juga menghadirkan orang yang mangkir secara fisik. Namun media menghadirkan penderitaan orang lain dengan cara yang khusus, tidak benar-benar hadir seperti dalam kenyataan. Media menghadirkan penderita menggunakan kerangka cerita tertentu dan didasari persaingannya dengan media lain. Penderita dan korban dihadirkan di media sebagai tokoh dalam alur cerita yang ditetapkan, semisal korban kejahatan penguasa, korban penculikan tentara, korban penembakan, dan seterusnya. Kerangka cerita ini berisi peran-peran yang stereotipikal, juga alur yang klise. Contoh, tokoh korban yang ideal menurut media adalah perempuan, lansia, dan anak-anak. Dalam alur cerita yang klise, pribadi-pribadi nyata yang menjadi “pemerannya” sering kehilangan ciri pribadi, kekhasan persoalan, dan perbedaannya dengan korban yang lain.

Selain itu, kerangka cerita memudahkan khalayak segera menangkap makna kejadian dan menyediakan cara menanggapi yang dianggap tepat. Misal kata, Prita Mulyasari adalah korban Rumah Sakit Omni Internasional yang mesti kita selamatkan dengan memberi receh. Ratusan juta rupiah terkumpul. Tapi, apakah Prita korban rumah sakit ataukah korban Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)? Setelah Prita lepas, apakah tidak akan ada korban lain?

Media menjadi mata dan telinga masyarakat untuk melihat-mendengar serta melaporkan kembali apa yang tidak bisa masyarakat lihat secara langsung. Namun, media juga perusahaan yang mengejar laba dan harus bersaing dengan sesama media. Dalam menampilkan kejadian buruk, sering terlahir jurnalisme anut grubyuk akibat media satu tak mau kalah dari yang lain, yang melahirkan gelombang besar liputan dari banyak media dan segera surut meski masalah belum selesai.

Sebagai khalayak, kita seperti merasa dekat dengan sosok tertentu yang setiap hari dimunculkan, dan kemudian tiba-tiba kehilangan kaitan dengan sosok tersebut saat tidak ada lagi liputan tentangnya. Kepemilikan media yang terpusat di segelintir perusahaan besar turut membuat keadaan lebih buruk karena keragaman sikap dan sudut pandang menyusut.

Tahu dan Bertindak

Sesungguhnya ada jurang yang dalam antara “tahu melalui media” dan “cara kita bertindak”, seperti contoh lagu Iwan Fals tadi: jeritan Ethiopia yang hanya bisa didengar. Contoh lain, di waktu yang hampir bersamaan saat Mentawai terhanyut tsunami dan Gunung Merapi meletus. Keduanya hadir di media meskipun dengan derajat yang berbeda. Sekurang-kurangnya, orang sama-sama tahu keduanya, dan sama-sama tahu bahwa keduanya perlu pertolongan.

Manakah yang mendapat bantuan lebih besar? Yogyakarta. Karena bertindak di Yogyakarta jauh lebih mudah, dari segi biaya, waktu, jarak, sarana angkutan, dan lain-lain. Juga, karena mudah, maka media massa berbondong-bondong meliput Yogyakarta. Secara ringkas bisa dikatakan bahwa persebaran pengetahuan mengikuti hukum-hukum media, sedangkan bertindak mengikuti hukum-hukum kenyataan, seperti kesempatan, sumber daya, niat, sarana, dan seterusnya.

Bahwa media mendekatkan kita dengan orang yang jauh dan asing, sekaligus menghadirkan mereka dengan cerita khas media, dan berdasarkan persaingannya dengan media yang lain adalah perkara etis yang baru. Media mengalirkan informasi secara tidak merata. Sebagian kelompok lebih leluasa mendapat informasi, sebagian tidak; sebagian kelompok lebih mudah masuk media, sebagian tidak. Di dalam media massa, penonton melihat penderita, tetapi penderita tidak dapat melihat penonton. Demikianlah terjadi ketimpangan akses dan representasi di media. Selain itu, dalam kenyataan tetap ada jarak fisik yang tak terjangkau membuat asas-asas etika keadilan tidak lagi memadai.

Etika Keadilan dan Etika Welas-Asih

Mari kita lihat bagaimana implikasi etis dari permasalahan media dan kepenontonan kini. Selama ini salah satu model etis yang kerap diajukan untuk memahami masalah dan memandu tindakan adalah model etika keadilan. Etika keadilan menyatakan bahwa apa yang baik, adalah baik bagi semua orang. Keputusan tentang apa yang baik ini bisa dicapai secara rasional dengan masukan informasi yang sempurna. Ini berarti, misalkan, asas bahwa setiap orang berhak atas makanan yang cukup haruslah berlaku bagi semua orang, termasuk para pengungsi akibat letusan Gunung Merapi.

Namun tidaklah cukup kalau hanya sekadar memastikan bahwa makanan tersedia bagi pengungsi. Padahal dalam kenyataannya, ada yang tidak mengungsi tetapi kesulitan makan akibat terjebak di suatu tempat, misalnya. Ada juga banyak pengungsi yang tidak tertampung di pengungsian resmi, sehingga tidak terliput media. Dengan demikian, etika keadilan tidak memadai untuk memandu kita mengambil keputusan tepat. Kelompok yang termiskin dari yang miskin pasti tidak terliput. Kelompok yang terpinggirkan secara sosial pastilah tidak masuk cerita media, juga kelompok yang sulit masuk dalam struktur cerita media. Dan makin jauh jarak fisik kita dengan mereka, makin sedikit yang bisa kita lakukan.

Kita perlu etika welas-asih yang memberikan tekanan pada empati dan perbedaan. Tidak semua orang sama seperti kita. Apa yang baik bagi kita dan banyak orang, belum tentu baik bagi kelompok tertentu.

Contoh kejadian nyata, berdasar kesaksian seorang relawan pada krisis Merapi 2010 lalu, ada satu dusun yang tinggal di atas tidak ikut turun mengungsi. Mereka kesulitan makan karena hujan abu terus-menerus, sedangkan mereka memang tidak akan turun. Menurut nalar polisi, sebaiknya mereka dibiarkan saja supaya kelaparan, sehingga nanti mereka akan turun dengan kemauan sendiri. Pemerintah setempat tidak tahu dan tidak punya waktu mencari tahu tentang mereka. Media massa sepenuhnya memperhatikan barak pengungsian besar saja. Etika keadilan menuntun kita untuk mengambil keputusan bahwa perlakuan yang sama harus diberikan kepada semua orang. Pelanggar prinsip kesamaan tidak memperoleh hak yang sama.

Namun, kita juga tahu bahwa warga dusun di lereng Merapi kesulitan menggalang dukungan logistik untuk diri mereka, jika tidak dibantu. Jangankan mencari bantuan, membahasakan mengapa mereka memilih tidak turun saja mungkin tidak mudah. Dan tidak mudah menyebarkan alasan ini agar diterima banyak orang pula. Akhirnya, teman relawan tadi mengirim relawan-relawan lain untuk mendatangi dan menjumpai mereka yang sudah sangat kekurangan makan dan hanya minum dari air hujan.

Etika welas-asih mengajak kita tidak hanya mengandalkan media massa sebagai perpanjangan mata dan telinga, karena media adalah mata dan telinga yang sangat pemilih, punya cerita sendiri, dan sibuk bersaing antarmereka. Etika welas-asih mengajak khalayak melampaui cerita-cerita klise media dan menanggalkan sikap empati cepat saji yang telah disediakan oleh media, termasuk segala macam dompet yang media massa sodorkan. Etika welas-asih mengajak kita sebagai khalayak menyelami penderitaan dari kacamata penderita itu sendiri, yang sering tak diliput media, yang tak punya kata untuk menjelaskan dirinya dalam kerangka pengetahuan yang dianggap lumrah, tetapi benar-benar memerlukan kita.

Sumber gambar: http://www.laughparty.com/print.php?id=225

Kurniawan Adi Saputro adalah seorang pengajar Ilmu Komunikasi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia aktif melakukan kegiatan literasi media di Rumah Sinema.entar

Kemajuan China dan Spirit Konfusius

http://www.analisadaily.com/news/read/2012/03/05/38773/kemajuan_china_dan_spirit_konfusius/#.T1SXP9nZ2Sp

Oleh : M. Nafiul Haris. Siapa yang tidak tahu China, raksasa Asia kini menjelma menjadi raksasa dunia dengan berbagai kemajuan di setiap dimensi kehidupan, dari ekonomi, budaya, peradaban, olah raga sampai kepada ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, apa sebenarnya yang menjadi rahasia dibalik kesuksesan China tersebut?. Bagaimanakah cara menciptakan peradaban yang begitu agung, megah dan maju pesat dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi.
Dalam buku karya A. Zainurrofiq “China Negara Raksasa Asia, Rahasia Sukses China Menguasai Dunia “dijelaskan, kemajuan China dalam berbagai bidang, khususnya ekonomi yang mampu mencuri perhatian dunia. Bagaimanapun juga, dunia tercengang dengan perekonomian China yang melesat begitu cepat, jauh melebihi perkembangan perekonomian dunia pada umumnya. Tidak heran bila dari Presiden Hu Jintao dalam forum tahunan konferensi Boao di Hainan pada tahun 2004 pernah mengatakan bahwa perekonomian China tumbuh sangat pesat. Pertumbuhan ekonomi China ini lanjut Hu Jintao adalah karena investasi China yang datang dari dalam dan luar negeri dalam jumlah yang luar biasa.

Sebagai contoh, Jika pada 1985 investasi China hanya mencapai $ 1 miliar, maka pada 2002 investasi ini mampu menembus angka $ 50 miliar lebih. Lewat investasi ini China membangun perekonomiannya lewat sektor industri, infrastruktur, dan properti. Dari sektor inilah perekonomian China mampu tumbuh pesat hingga mencapai sekitar 7-8 persen setiap tahun. Wajar bila Ekonom CSIS (Center For Strategic And International Studies) Marie Eka Pangestu dalam acara seminar di kantor CSIS mengatakan bahwa China adalah naga raksasa China yang akan segera menggeser Amerika.

Akar Sejarah

Bagi penulis, kemajuan yang dicapai China sekarang ini tidak bisa lepas dari akar sejarah peradaban China yang telah dibangun selama ribuan tahun. Peradaban China lahir dari zaman Dinasti Sang (1766-1122 SM), Dinasti Zou (1122-256 SM), Dinasti Qin(221-206 SM), Dinasti Han (206 SM-221 M), Dinasti Sui (581-618 M), Dinasti Tang (618-906 M), Dinasti Song (960-1268), Dinasti Yuan (1279-1368 M), Dinasti Ming (1368-1644 M), Dinasti Qing (1644-1912 M) hingga zaman modern ini.

Selama kurun waktu tersebut China telah membangun peradabannya secara eksis, meski mengalami pasang naik dan pasang surut. Tidak salah bila Pearl S Buck, dalam “The Good Earth” melukiskan tentang peradaban China yang dinilai menyimpan sejuta khasanah peradaban. “Mengapa China mampu bertahan adalah karena penduduknya mampu membangun suatu peradaban yang praktis sehingga tidak mudah hancur. Peradaban ini tidaklah selalu memiliki struktur yang ketat. Orang China, disamping bukan termasuk orang yang mudah berubah, merupakan orang yang mampu menyesuaikan ketika tiba saatnya berubah. Pada dasarnya, orang China adalah orang yang praktis. Mereka tak terlalu terikat pada adat istiadat, atau tradisi, atau bahkan agama, hanya karena memang demikian. Tatkala mereka melihat bahwa ada sesuatu yang tak beres, mereka segera mengubahnya”. Tulisnya.

Spirit Konfusius

Namun, peradaban China bisa bertahan sedemikian kuat bukan tanpa sebab. Bagi penulis, peradaban China banyak dipengaruhi oleh pemikiran konfusius yang diajarkan oleh guru bangsa China, Kong Fuzi yang lahir pada tahun 551-472 SM di zaman Dinasti Zou(1122-256 SM). Kong Fuzi adalah ahli filsafat yang mengajarkan tentang prinsip kehidupan berdasarkan moral kebajikan (Ren). Ajaran kebajikan ini mendasari lahirnya filsafat konfusius yang menjadi landasan masyarakat China dalam ber-adat istiadat dan tatakerama (li) dan gaya hidup (Dao) untuk berkarya tanpa pamrih dan rela berkorban untuk orang lain.

Dengan spirit ajaran konfusius, masyarakat China mencapai puncak kejayaan. Sepeninggalnya konfusius, beragam berbagai cabang ilmu pengetahuan ditemukan. Salah satunya adalah di bidang teknologi, seperti ditemukannya kertas semasa Dinasti Han, alat gerobak di era Dinasti Wu, peta semasa Dinasti Jin, kompas semasa Dinasti Song, dan sederet penemuan lainnya.

Meski demikian, Ajaran konfusius tidak mendapat dukungan terus menerus dari para pemimpin China. Sewaktu China memasuki masa penyatuan dengan berdirinya Republik Rakyat China (RRC) di bawah kepemimpinan Mao Ze Dong, pada tanggal 1 Oktober 1949, ajaran konfusius pernah ditentang habis-habisan. Bagi Mao Ze Dong, konfusius adalah sebuah ajaran yang menghambat kemajuan China. Ia menilai konfusius adalah bentuk warisan feodal dan sarat kapital.

Itulah sebabnya, Mao melakukan gerakan revolusi dengan melibatkan kaum buruh tani sebagai kekuatan revolusioner dalam membangun kekuatan komunis China. Revolusi ini kemudian dikenal dengan istilah revolusi kebudayaan proletar. Untuk mewujudkan revolusi ini, maka berbagai proyek industri dibangun. Seperti pabrik peleburan baja di Wuhan dan Baodou (Mongolia Dalam), Pabrik Baja di Anshan, Pabrik mobil di Zhangzhun, pabrik traktor di Louyang dan Harbin serta pabrik pengilangan minyak di Lanzhou. Namun, yang menjadi ironis, revolusi ini telah menelan korban 250.000 hingga 500.000 jiwa akibat penderitaan fisik dan jiwa dari kamp-kamp kerja paksa.

Tahun 1976 Mao wafat. Kepemimpinan China kemudian dipegang Deng Xiaoping. Deng melakukan kebijakan reformasi melalui sistem tanggung jawab (Zerenzhi). Dalam sistem ini setiap pekerja tani tidak lagi bekerja bersama dalam sebuah komune, melainkan melakukan perjanjian dengan pemerintah administratif setempat untuk mengerjakan sebidang tanah dan mendapatkan keuntungan langsung. Perlahan, tapi pasti, perekonomian China mengalami peningkatan. Tahun 1982 saja, Pendapatan petani mengalami kenaikan sebesar 6,6 persen setahun. Kebijakan reformasi Deng menimbulkan perekonomian China akhirnya berkembang pesat dari tahun ke tahun. tahun 1978-1995, misalnya GDP China tumbuh 8 persen. Begitu pula dengan tahun berikutnya yang berkembang begitu pesat Bagi Ainurrofiq, keberhasilan kepemimpinan Deng ini tidak lepas dari ajaran konfusius yang menjadi prinsip gerakan Deng dalam setiap pengambilan kebijakan. ***

Penulis adalah Mahasiswa FISIP, aktif di Central Of ASEAN Society Studies (CASS) Universitas Wahid Hasyim Semarang.

Film Negeri Lima Menara

maryam, perempuan yang terusir karena iman

film negeri lima menara: siapa yang bersungguh-sungguh yang akan berhasil

film-film yang mengobarkan semangat optimisme memang selalu menarik, karena penonton seperti memperoleh inspirasi yang bisa memotivasi lebih tinggi untuk mencapai cita-citanya. dan negeri 5 menara pun menegaskan itu dengan kalimat saktinya: man jadda wajada

rupanya film ini ditunggu banyak orang. seperti novelnya yang best seller, tentu disebabkan film ini yang dibahas di mana-mana, seperti di kick andy show misalnya. saya sendiri belum membaca novel ini. karena saya suda apriori, novel-novel yang mengusung perjuangan menuju sukses bagus, tapi paling juga begitu-begitu saja, klise dan klasik.

hari pertama 1 maret ketika mau nonton, tiket film yang terinpisrasi dari novel pertama a fuadi ini sold out. baru pada hari ke empat (malam minggu) dengan datang telat, masih dapat kursi nyempil diantara orang-orang yang sedang pacaran.

namun dugaan saya keliru, film yang mengambil setting di padang, ponorogo dan inggris ini sungguh mempesona. apalagi pada pembukaannya yang men”close up” danau maninjau, sungguh indah. lulu tobing david chalik yang memakai bahasa padang juga sangat pas.

film ini menceritakan perjuangan seorang alif fikri (gazza zubizareta – @ga77a) mengejar mimpinya. gazza berakting sangat pas di film yang disutradari oleh affandi a rachman (@apar13) ini. (di sini gazza lebih culun dari aslinya).

alif , seperti kebanyakan sosok anak-anak muda di daerah lain yang pintar bersemangat dan ceria menjalani hari-harinya. setelah lulus sekolah di padang, ia ingin melanjutkan ke jawa. (jawa sampai sekarang rupanya masih punya daya tarik yang hebat buat anak-anak kota lain di indonesia). ia ingin melanjutkan ke itb, namun emaknya menginginkan ia belajar di pondok pesantren di ponorogo.

film ini yang nyaris dua jam ini menarik, tak membosankan. sangat rekomended untuk segala usia. tontonlah meski belum pernah membaca bukunya. (kepopuleran novel negeri 5 menara ini memunculkan sebuah komunitas yang membuat sekolah-sekolah gratis untuk anak-anak yang tak mampu.)

 

KALTENG POS BANGUN TRADISI AKADEMIK (1)

LIPUTAN HARIAN KALTENG POS

Tentang Bedah Buku Di Mana Bumi Dipijak Di Sana Langit Dibungun, Transformasi Sosial Pembebasan Melalui Re-Humanisasi Terbitan Bayu Media untuk Lembaga Kebudayaaan Dayak Kalimantan Tengah (LKD-KT)

KALTENG POS BANGUN TRADISI AKADEMIK

Palangka Raya  — Kegiatan bedah  buku Di Mana Bumi Dipijak Di Sana Langit Dibungun, Transformasi Sosial Pembebasan Melalui Re-Humanisasi mendapat sambutan hangat dari banyak kalangan. Tak kurang dari 50 orang turut hadir dalam Forum Diskusi Kalteng Pos (FDKP) yang digelar di Ruang TV Gedung Biru PT Kalteng Pos Press, Rabu (22/2) kemarin.

Para peserta yang hadir tak hanya dari kalangan budayawan atau akademisi, tetapi  juga kalangan PNS dan dari aktivis mahasiswa serta para pemerhati sosial.

Respons positif juga disampaikan oleh Dr. Muhammad, ketika membuka penyampaian materinya sebagai salah seorang pemateri.

“Bedah buku serta forum diskusi seperti ini merupakan tradisi akademik yang sangat bagus sekali”, kata Muhammad.

Sementara itu, sejak diskusi dibuka, para peserta nampak begitu bersemangat. Seperti salah satu  pengarang buku,  Kusni Sulang. Termasuk tokoh Lembaga Musyawarah Masyarakat Dayak Daerah Kalteng (LMMDD-KT), Prof. H.KMA Udop. Begitu pula dengan Dr. Muhammad dan Uskup Palangka Raya, Mgr. Dr. A.M.Sutrisnaatmaka, MSF yang saat itu menjadi pembedah.

Kedua pembedah diberikan  waktu kurang lebih dua jam untuk membedaqh buku karya Kusni Sulaqng dkk, yang berjudul Di Mana Bumi Dipijak Di Sana Langit Dibangun. Tranformasi Sosial Pembebasan Melalui Re-Humanisasi.

Pembahasan ini begitu menarik. Sebab, menurut sebagian besar peserta, buku tentang budaya cukup jarang dibahas. Apalagi dibedah.

Acara yang dimulai sejak pukul 13.00 hingga pukul l 16.30 ini tampak tidak terasa.  Mungkin karena membahas  tentang budaya., khususnya tentang budaya Dayak seperti tak ada habisnya.

Semakin didalami maka akan semakin banyak pertanyaan yang muncul. Terlebih lagi kalau dikaitkan dengan  jargon di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Termasuk kalau dikaitkan dengan konflik antara warga Dayak Kalteng dan Front Pembela Islam (FPI) beberapa waktu lalu.

Saat memasuki bagian diskusi atau Tanya-Jawab Bedah buku ini suasana menjadi sdemakin semarak. Ada banyak opini yang berkembang ketika dikaitkan dengan budaya.Dari masalah lahan, budaya korupsi hingga kemusnahan budaya Dayak yang sedang mengancam.

Bagi sebagian kalangan, diskusi dalam bedah buku ini seperti tidak tuntas. Sebab masih menyisakan banyak pertanyaan. Namun, paling tidak para pemateri sepakat bahwa diskusi se;acam ini sangat diperlukan. Paling tidak untuk membuka wawasan kita.

Dan lebih bagus lagi kalau lewat tradisi akademik seperti ini akan muncul berbagai kesimpulan. Tentunya yang dapat menjadi solusi. “Oleh karena itu diharapkan kegiatan atau tradisi akade;ik seperti ini dapat diteruskan. Tentunya dengan tema-tema yang beragam”, kata Muhammad (fad/tur).

Harian Kalteng Pos, Palangka Raya, Kamis, 23 Februari 2012.

 

BEDAH BUKU DIMANA BUMI DIPIJAK DI SANA LANGIT DIBANGUN TRANSFORMASI SOSIAL PEMBEBASAN MELALUI RE-HUMANISASI

BEDAH BUKU
DIMANA BUMI DIPIJAK DI SANA LANGIT DIBANGUN
TRANSFORMASI SOSIAL PEMBEBASAN MELALUI RE-HUMANISASI
Oleh Mgr. DR. A. M. Sutrisnaatmaka, MSF
1.      Topik yang Sangat Menarik
Dari kearifan lokal yang berbunyi “ dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung”, dua kata terakhir diubah menjadi “langit dibangun”. Tentu ini penemuan yang kreatif dan menarik, memelesetkan ke arah pemikiran yang menantang. Keingintahuan langsung muncul: membangun pencakar langit, gedung-gedung bertingkat tinggi: hotel, apartemen, tower atau menara-menara untuk provider seluler, pemancar radio, TV, dan lain-lain.
“Langit” bisa menjadi simbol “yang di atas”, bisa memberi cakarawala, sekaligus tempat terletaknya sesuatu yang ideal yang perlu diraih. Ada bulan dan bintang di langit. Manusia yang ada di bumi memandang ke atas dan bisa melihat dari kejauhan benda-benda yang menarik, mengundang rasa ingin tahu, dan mungkin karena jauhnya itulah, ada segumpal misteri yang perlu dipecahkan. Justru karena terletak di tempat yang jauh, kelihatan indah dan menarik, namun penuh misteri, segala sesuatu yang ada di langit menjadi obyek pengetahuan dan penelitian. Manusia penasaran akan apa yang dilihatnya di langit itu. Dalam konteks dan wacana refleksi seperti ini kiranya “di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung”, bisa menjadi dasar pembangunan dan berkonotasi yang bisa dilanjutkan menjadi “bumi dan langit dibangun” (untuk lebih jelasnya sekaligus menjawab pertanyaan sentral pertama, beberapa paparan di bawah bisa dipertimbangkan).
Lalu bagaimana dengan pembangunan? “Membangun adalah mencipta” (Goenawan Mohamad, hlm. 4). Tak bisa dipungkiri, pembangunan mengarahkan manusia untuk berkreasi mencapai sesuatu yang lebih, entah lebih banyak, lebih baik, atau lebih bermakna untuk hidupnya. Usaha untuk memaknai hiudp itulah yang menjadikan manusia berusaha sekuat tenaga dan dengan budi dayanya meraih apa yang diinginkannya, baik untuk dinikmati pada masa sekarang ini maupun untuk masa yang akan datang. Dengan menyertakan dimensi masa datang, maka pembangunan perlu direncanakan dan ditata sedemikian rupa, sehingga hasilnya tidak justru kontra produktif, misalnya: bisa menghasilkan sesuatu yang di masa sekarang bisa dinikmati dengan sepuas-puasnya, namun ternyata di kemudian hari menjadi malapetaka.
Contoh usaha pertambangan bisa menjadi ilustrasi yang jelas. Investor pertambangan membawa, manfaat ekonomi untuk sebagian warga tertentu, apakah warga setempat atau warga pendatang, itu bisa didiskusikan. Namun pengelolaan usaha pertambangan yang tidak memperhatikan lingkungan, pastilah akan menimbulkan kerugian besar dan bahkan malapetaka untuk masa yang akan datang. Dalam kondisi hutan dibabat dan tanah dimanfaatkan untuk diambil bahan tambangnya, maka terjadi banjir dimana-mana. Ada sebagian pertambangan yang menggunakan bahan merkuri, maka air tercemar. Apakah usaha semacam ini dapat dikatakan membanguna atau malah sebaliknya; menghancurkan bumi dan semua yang hidup di atasnya.
Itulah dua ide dasar bertolak dari dua unsur utama dari judul buku: langit dan bumi. Pastilah masih bisa dikembangkan ide-ide berbasis dua komponen utama itu, kita masih bisa meneliti dan mengembangkan lebih jauh pemikiran-pemikiran lebih mendalam terkait dengan soal pembangunan.
2.      Pembangunan Multi Dimensi
Bicara soal pembangunan memang ada sekian dimensi yang harus dicermati. Ada banyak bidang yang terkait di dalamnya. Dalam buku tersebut kita bisa mendapatkan panorama yang bermacam-macam. Ada analisis kebudayaan yang mendalam berkaitan dengan soal pembangunan dengan mencari perbandingan seperti Jawa, padang, atau tempat-tempat lainnya. Ada paparan yang mengupas soal kebudayaan Dayak dalam kaitan dengan segi kemanusiaan pada umumnya dengan perlbagai kutipan dari tokoh barat: John Pamberton (GM, hlm. 6), Karl Marx (Frans lake, hlm. 16), Frederick H. Butler (hlm. 22), pemikir Descartes, thomas Hobbes, John Locke (hlm. 38) dan lain-lain. Ada tiga artikel dari Frans Lake yang mendasari pemikiran tentang kebudayaan dari pemikiran segi-segi kemanusiaannya.
Selain para pemikir yang bergerak baik dibidang studi teoritis maupun empiris dan praksis lapangan, adapula tulisan-tulisan dari kalangan eksekutif. Kardinal Tarung menyumbangkan beberapa tulisannya ketika beliau mnejabat kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (hlm. 43-55: dua artikel “Mengerti Orang Lain Bangun Komunikasi” dan “Dayak yang Belajar dari Kehidupan”). Sumbangan tulisan ini pasti sangat berarti mengingat beliau adalah orang setempat yang bergulat dengan masalah-masalah konkrit seperti dilihat oleh pemerintah. Pada awal buku, ada pengantar dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Palangka Raya yaitu DR. (Cand.) Trecy E. Anden, M.Pd. yang memberikan penghargaannya pada buku yang mengupas soal kebudayaan dan pembangunan ini (hlm. 15-18).
Kejelian pembahasan dalam buku ini juga ditunjukkan dari tampilnya penulis yang berusia matang dengan penglaman yang sangat luas sampai mereka yang baru mulai menapakkan pemikirannya pada masalah kebudayaan dan pembangunan ini. Kusni Sulang yang sudah malang-melintang di dunia internasional dengan bekal pendidikan sampai S3 dan pengalaman panjang memberikan pemikiran-pemikirannya melalui beberapa artikel berkaitan dengan kebudayaan dan kongresnya (hlm. 97-114). Dari tokoh senior ini tentu muncul banyak pemikiran yang sungguh matang dan dan dalam.
Seterusnya ada beberapa penulis penerus dan relatif lebuh muda; Iman Budhi Santosa yang mengungkapkan tentang “Kalimantan yang Resah” (hlm. 57-71), Heyronimus Tumimomor “Merajut Kebersamaan Melintasi Ketertinggalan” (hlm. 89-96), Yanedi Jagau mewakili generasi muda yang juga ikut berpikir budaya Dayak (hlm. 73-88). Pemikir dari luar yang juga turut dengan kritis merefleksikan kebudayaan di Kalimantan Tengah adalah Andriani S. Kusni. Pemikiran-pemikirannya diuntai dalam 3 judul; “Identitas Uluh Kalimantan Tengah”, “Apakah Betang Mempunyai Filosofi?” dan “Kebudayaan Pembebasan” (hlm. 111-125). Itulah inti paparan Bab I yang merupakan isi pokok. Selanjutnya dicantumkan Bab II: Notulensi; Bab III: Catatan Akhir Prof. Dr. Bambang Garang, M. Pd.; IV: Annexes; V: Dokumentasi; VI; Notulis dan Penulis; ditutup dengan additional.
Menurut hemat saya, tulisan-tulisan yang ada dalam buku ini mencoba dengan perlbagai sudut pandang dan caranya sendiri mengungkapkan sikap yang diterjemahkan dalam perilaku uluh itah Kalimantan Tengah di Kalimantan Tengah. Dengan kata lain, pertanyaan sentral ke-2 dengan satu dan lain cara mendapatkan jawabannya.
3.      Berbasis Kebudayaan
Tentulah pemahaman dan permenungan tentang pembangunan bisa dikaitkan dengan soal-soal kebudayaan. Kebanyakan penulis memberikan kontribusi dari sudut pandangnya, mengingat kebudayaan juga merupakan bahan kajian yang sangat luas untuk dicermati. Segi-seginya bisa mencakup dari pemikiran yang sangat spekulatif sampai pemikiran dan penelitian empiris yang sangat kongkrit. Yang tidak mudah untuk ditemukan kiranya benang merah seluruh rangkain pemikiran dan paparan itu. Justru karena begitu luasnya bidang kebudayaan itu, kadang sulit untuk menemukan pangkal, awal pemikiran, proses yang ditempuh, dan akhir yang bisa dicapai.
Kebudayaan yang menyangkut segi antropologis akan menarik minat banyak pihak untuk lebih menghubungkannya dengan pembangunan yang berdimensi fisik, pembenahan infrastruktur, penampilan budaya dan segi-segi yang menyangkut bidang kemanusiaan ragawi lainnya. Sementara, kebudayaan yang lebih berkaitandengan segi filosofis, menyangkut pandangan hidup, soal etika dan moral, mengarah kepada perilaku dan latar belakang yang menjadi acuan setiap tindakan. Pembedaan ini sebenarnya tidak sangat riil, sebab dalam kenyataan hidup sehari-hari, segi antropologis dan filosofis bersatu erat tanpa bisa dipisahkan dalam rangka pembangunan secara keseluruhan. Namun juga perlu disadari bahwa masing-masing segi dapat mempertajam aspek kebudayaan dan pembangunan sehingga dengan menggunakan kedua segi itulah fokus usaha pembangunan bisa ditindaklanjuti.
Filosofi budaya huma betang memberi ruang untuk semua pihak berbagi dan berpartisipasi dalam membangun kalimantan Tengah, apabila prinsip-prinsip dasar hidup bersama itu dijunjung tinggi, sekaligus secara dinamis dan bersama-sama diteruskan dalam meningkatkan usaha pembangunan yang tidak merusak budaya, identitas dan suasana harmonis yang ada. Dinamika filosofi sendiri memberi ruang yang mencukupi untuk arah, koordinasi dan fasilitasi dalam pembangunan dengan memperhatikan segi-segi kebudayaan. (tanggapan umum atas pertanyaan sentral ketiga).
4.      Pembangunan: Prasyarat dan Partisipasi
Usaha pembangunan tak pelak lagi memerlukan macam-macam persyaratan agar hasilnya maksimal. Sebagai prasyarat awal dan mendasar tentulah suasana yang aman, tentram, tanpa gangguan dari pihak manapun. Itulah prasyarat yang akan memberikan semacam jaminan untuk terlaksananya pembangunan. Kalau masih ada gangguan, keresahan, ketidaktenangan, maka segala potensi pembangunan pasti tidak akan bisa dimanfaatkan secara maksimal. Malahan kalau terjadi kerusuhan, ketidakpastian bertindak, kurang terjaminnya pelaksanaan hukum yang konsisten, orang akan menjadi ragu untuk berinvestasi dan melaksanakan pembangunannya. Jadi, kalau terjadi kerusuhan dan tindak anarkis, dapat dipastikan hal tersebut sungguh menjadi kontra produktif untuk pembangunan. Tindakan anrkis yang merusak dan mengobrak-abrik ketenangan dan ketentraman memang selayaknya harus dihindari kalau pembangunan itu mau digalakkan secara mnyeluruh. Dengan kata lain, perlu ditolak semua kelompok organisasi atau perorangan yang tidak taat hukum, main hakim sendiri, dan berbuat anarki yang meresahkan masyarakat. (Diharapkan paparan ini mengarah kepada pertanyaan sentral ke empat).
Selain itu pembangunan yang bisa berhasil maksimal hanya dimungkinkan kalau ada partisipasi semua pihak, seluruh lapisan masyarakat. Pada dasarnya pembangunan itu untuk kemajuan dan kesejahteraan semua orang. Maka kalau semua lapisan masyarakat ikut dalam gerak dan derap pembangunan dengan koordinasi yang tepat dan perencanaan yang matang, tak ayal hasilnya bisa maksimal.
Dinamika pembangunan masyarakat memang perlu dimulai dari tokoh-tokoh atau pribadi-pribadi yang memiliki pemikiran dan wawasan lebih dari rata-rata, bisa melihat jauh ke depan sekaligus merencanakan untuk sampai ke sana. Juga diperlukan sosok-sosok yang lebih “altruistik” tidak memikirkan kepentingan diri atau kelompok yang sempit, tetapi berani berkorban meninggalkan “egoisme sektoral” dan berjuang untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama.
Apabila Kalimantan Tengah mau membangun, memang diperlukan visi dan misi kepemimpinan yang mantap. Juga harus ada SDM dengan kemampuan dan ketrampilan yang memadai untuk bisa dikoordinasikan dan disinergikan secara padu. Memang semua itu tak serta merta bisa dicapai dalam sesaat. Melalui tulisan, diskusi, urun rembug, dan pemikiran satu sama lain, lama-lama akan menjadikan situasi dan suasana menjadi sungguh diharapkan oleh warga, utamanya yang masih dalam keadaan memprihatinkan dari banyak seginya: sosial-ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.
5.      Peranan Agama untuk Transformasi dan Re-humanisasi
Tentu tidak mudah untuk menegaskan secara mutlak filosofi mana yang paling memungkinkan untuk membawa Kalimantan Tengah maju melesat dalam pembangunan. Tidak ada filosofi lengkap dan sempurna yang sudah memenuhi segala unsur dan tuntutan untuk menjadi dasar yang paling kokoh untuk mendapatkan hasil paling baik dalam pembangunan. Masing-masing acuan dan bentuk filosofi bisa menyumbangkan seginya paling baik. Sebagai penggiat dalam bidang agama, saya berpikir bahwa filosofi perlu mengakui keterbatasannya, bentuk dan peranannya, sehingga diperlukan agama yang bisa menyumbang dan melengkapai pelbagai pandangan hidup yang cukup terbatas, kadang sangat relatif peranannya. Maka peranan agama bisa disampaikans sebagai sumber,modal, dan fasilitasi yang patut dipertimbangkan dalam pembangunan. Segi keagamaan melengkapi dengan iman, etika, dan moral yang tentu ada dalam setiap filosofi, namun akan menjadi lebih terintegrasi dalam seluruh kehidupan manusia yang beriman.
Kadang agama dimengerti secara terbatas yaitu dalam ungkapan iman yang dilaksanakan di tempat ibadah. Memang benar, bahwa kegiatan agama di tempat ibadah menjadi awal dan dasar untuk kegiatan kemanusiaan yang didasari oleh iman dari agama yang dianutnya.namun harus segera ditegaskan bahwa kegiatan peribadatan itu tidak boleh berhenti di dalam ruang atau gedung peribadatan semata-mata. Pesan iman dan keagamaan harus dibawa keluar dan diteruskan keluar kepada seluruh umat dan masyarakat melalui kesaksian dan perbuatan-perbuatan baik yang diwujudnyatakan dalam kegiatan sehari-hari. Dalam bahasa gereja, “altar” tidak boleh terpisah dari “pasar”, kehidupan rohani keagamaan tak boleh terpisah dari kegiatan kemanusiaan yang nyata, kegiatan kemasyarakatan tenpat kehidupan semua orang disatukan.
Dengan latar belakang pengertian seperti di atas, maka peranan agama dan hidup beriman untuk mengadakan transformasi kehidupan terbuka lebar-lebar. Dari mimbar keagamaan itulah, umat didorong untuk menghidupi pesan-pesan perbaikan kehidupan (isitlah lain “pertobatan”), yang menyangkut pribadi atau kelompok. Isitlah lain dari perbaikan kehidupan, tidak lain adalah pembangunan. Di sini pesan keagamaan dan kebudayaan menemui titik temu, membawa pribadi dan seluruh masyarakat kepada martabat yang lebih tinggi, yang lebih manusiawi. Semua segi-segi kemanusiaan perlu mendapat perhatian dari masing-masing sektor dan aspek kehidupan sosial, ekonomi, budaya, edukasi, politik, keamanan, dan lain-lain.
Dengan pengandaian bahwa sudah banyak usaha untuk melibatkan semua orang menurut kemampuan dan bidangnya masing-masing dalam segi pembangunan kemanusiaan, maka setiap kali ada usaha baru ke arah itu, kita bisa menyebutnya sebagai re-humanisasi atau peningkatan martabat kemanusiaan terus-menerus tanpa henti, karena kesempurnaan itu hanyalah milik Yang Maha Tinggi, yang baru bisa dicapai oleh manusia apabila ia telah bersatu dengan-NYA.
Keuskupan sebagai lembaga gerejawi memiliki visi-misi dan arah dasar yang ingin menyentuh dan memberi kontribusi pada pembangunan kemanusiaan dengan transformasi sedikit demi sedikit, terprogram, terstruktur, dan dalam koordinasi yang rapi agar mendapatkan hasil  maksimal. Visi misi Keuskupan Palangka Raya adalah gereja yang hidup dalam karunia Allah mewujudkan imannya akan Tuhan dalam keterlibatannya meningkatkan harkat-martabat manusia dan dalam melestarikan alam.
Sebagai salah satu lembaga keagamaan yang ada bersama dengan lembaga-lembaga keagamaan lainnya, dialog dan kerjasama dari semua pihak bisa sangat bermanfaat untuk “menghasilkan” manusia-manusia pembangun yang dibekali yang dibekali dengan iman, moral, dan etika yang baik, sehingga usaha pembangunan tidak dihambat oleh tindakan-tindakan koruptif yang sudah sangat menderita di bumi nusantara kita ini. Semoga pemanfaatan lembaga keagamaan dengan perlbagai unsurnya (pendidikan, ibadat, pesan moral, dan lain-lain) bisa memaksimalkan pembangunan di Kalimantan Tengah.
Keuskupan, 21 Februari 2012
Mgr. DR. A. M. Sutrisnaatmaka, MSF
Uskup Palangka Raya, Kalimantan Tengah

Setuju, Dangdut Didaftarkan ke UNESCO?

http://oase.kompas.com/read/2012/03/03/14221235/Setuju.Dangdut.Didaftarkan.ke.UNESCO
.
Setuju, Dangdut Didaftarkan ke UNESCO?

M.Latief | Latief | Sabtu, 3 Maret 2012 | 14:22 WIB

*SURABAYA, KOMPAS.com* — Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung
Laksono menyetujui usulan musik dangdut didaftarkan untuk mendapat
pengakuan UNESCO sebagai milik dan karya Indonesia.
Tidak hanya berdampak bagi pelaku, bangsa Indonesia juga merasakan dampak
positifnya, antara lain dari unsur perekonomian ataupun perdagangan.
— Agung Laksono

“Kami sangat setuju. Segala bentuk persyaratan yang sudah ditentukan harus
dipenuhi. Pemerintah siap mendampingi,” ujar Agung Laksono di sela
pembukaan Musyawarah Nasional Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut
Indonesia (PAMMI) di Surabaya, Sabtu (3/3/2012).

Menurut dia, UNESCO merupakan lembaga internasional yang memiliki aturan
jelas sehingga usulan tersebut harus disiapkan dengan baik. Pihaknya
optimistis karena musik dangdut dinilai satu-satunya kesenian asal
Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain. Para insan musik dangdut, lanjut
dia, disarankan agar segera melakukan konsultasi dengan pihak terkait,
yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Pemuda, dan
Kementerian Kesejahteraan Rakyat.

“Sebagai penguatan eksistensi, musik ini harus diakui dunia. Tidak hanya
berdampak bagi pelaku, tetapi bangsa Indonesia juga merasakan dampak
positifnya, antara lain dari unsur perekonomian ataupun perdagangan,” tutur
mantan Ketua DPR tersebut.

Kendati demikian, pihaknya menilai saat ini semua rakyat di negeri ini
ataupun di luar negeri sudah mengakui bahwa musik dangdut adalah milik
Indonesia. Sementara itu, menanggapi peredaran musik dangdut di Indonesia
sekarang, Agung Laksono mengungkapkan keprihatinannya dengan maraknya
pembajakan di industri musik Indonesia.

“Yang menjadi sasaran dan marak adalah musik dangdut. Banyak sekali keping
kaset ataupun CD bajakan musik dangdut. Hal ini yang harus dicegah dan
tidak boleh terjadi,” kata politisi Golkar tersebut.

Pihaknya mengimbau kepada PAMMI ke depan agar lebih berkembang dan bersikap
tegas terhadap pembajakan. Adapun untuk internal, Agung berpesan agar lebih
kompak dan mampu menjadi panutan bagi pelaku dan penikmat musik dangdut.

“Siapa pun pemimpinnya, PAMMI harus menjadi organisasi terbaik di industri
musik. Semua pelaku dangdut harus berkoordinasi dan bekerja sama melakukan
perlindungan memberantas pembajakan karena merupakan bentuk kriminalitas
dan mengancam matinya kreativitas anak bangsa,” ucapnya.

Sumber : ANT

Kesenian Tradisional Semakin Terpinggirkan

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news_smg/2012/03/02/111239/Hilangkan-Rasa-Malu-Demi-Sesuap-Nasi

 

02 Maret 2012 | 21:33 wib
Kesenian Tradisional Semakin Terpinggirkan
Hilangkan Rasa Malu Demi Sesuap Nasi
 0

0

image

MENARI: Para pengamen dengan lebel kesenian tradisional yang sedang menari di perempatan Metro, Peterongan, Semarang (suaramerdeka.com/Lanang Wibisono)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Masyarakat di Kota Semarang yang melintas di sekitar perempatan Metro, Peterongan tentu kerap melihat atau menjumpai beberapa orang berbaju aneh, berambut panjang, menari dengan iringan kendang, bende dan dum (icik-icik). Setelah menari, anggota kelompok itu ada yang mengacungkan besek (tempat makanan) kepada pengguna jalan.

Kelompok pengamen media kesenian tradisional itu memanfaatkan jeda waktu berhenti di traffic light perempatan Metro guna menampilkan tarian yang sebenarnya tak jelas jenisnya itu. Harapannya ada pengguna jalan yang rela menyisihkan sedikit uang untuk diberikan kepada mereka.

“Memang secara kemampuan menari kami tak mumpuni. Niatan dari rumah memang untuk ngamen. Tujuannya mencari nafkah demi kelangsungan hidup,” kata Eko Triwaluyo (53), pria asal Bendungan, Kelurahan Barusari Semarang yang menjadi pimpinan kelompok ini.

Menurut Eko Triwaluyo yang sejak kecil sudah tergabung di kelompok kesenian kuda lumping, ludrug dan ketoprak itu, dia dan anggoat kelompoknya memang terpaksa mencari nafkah dengan cara mengamen. Media kesenian tradisional dipilih, karena dia merasa memiliki bekal untuk menjalaninya. Apalagi pekerjaan sebelumnya sebagai pekerja serabutan, tak mencukupi untuk membiayai hidup keluarga. Rasa malu kerap menghinggapinya ketika awal mengamen. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa malu itu terkikis atas semangat mempertahankan hidup di Ibu Kota Jawa Tengah ini.

“Total ada enam orang anggota yang ikut saya. Tidak hanya di Semarang, kadang kami juga ngamen di luar kota seperti Yogyakarta. Selain ngamen, kami juga kerap diundang tampil di beberapa acara. Terakhir di acara Polda Jateng dalam rangka sosialisasi anti narkoba bulan Desember 2011 lalu,” kata pria yang lahir di Solo ini.

Menjadi seorang pengamen jalanan, banyak kendala yang kerap dijumpai. Selain seringnya kena garukan petugas Satpol PP, cuaca di Kota Semarang yang tak menentu juga menjadi permasalahan tersendiri. “Jika turun hujan, kami tak bisa ngamen. Kalau cuma panas, itu sudah biasa. Dalam sehari, rezeki yang kami dapat lumayan. Setiap anggota bisa membawa pulang sekitar Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu,” timpal Riwayati sang istri yang juga tergabung di kelompok ngamen itu.

Ditemui terpisah, Ketua Dewan Kesenian Kota Semarang (DKSe) Marco Marnadi mengakui bahwa kesenian tradisional memang sudah terpinggirkan sejak lama. Maka untuk itu pihaknya berusaha membangkitkan dan menggairahkan kembali kesenian di kotnya. Salah satunya melalui kegiatan pelatihan serta sosialisasi ke sekolah-sekolah. “Tapi saya tegaskan, yang ngamen di perempatan dengan lebel kesenian itu kurang jelas jenis keseniannya apa. Tari atau gending yang digunakan tak jelas. Mungkin mereka sekadar mencari makan dengan lebel kesenian,” tandasnya.

( Lanang Wibisono / CN34 / JBSM )

Indonesia, Negara Paling Bahagia Sedunia

Indonesia, Negara Paling Bahagia Sedunia

Negara sangat bahagia kedua setelah Indonesia adalah India dan Meksiko.

Jum’at, 2 Maret 2012, 06:41 WIB
Denny Armandhanu, Winda Yanti

Kendati menempati posisi terbahagia sedunia, tapi tingkat kebahagiaan ini menurun dibandingkan survey sebelumnya (VIVAnews/Adri Irianto)

VIVAnews – Berbagai permasalahan, mulai dari krisis ekonomi, bencana alam dan perang, ternyata tidak membuat rakyat Indonesia kehilangan kebahagiaan mereka. Menurut studi terbaru oleh Ipsos Global, orang Indonesia adalah yang paling bahagia di dunia.

Hasil survei Ipsos Global yang diterbitkan awal Februari lalu, yang dikutip oleh majalah Time, Kamis 1 Maret 2012, menitikberatkan pada kategori “bahagia” dan “sangat bahagia.” Melibatkan 18.687 responden dewasa dari 24 negara dunia, Indonesia masuk dalam posisi teratas dalam kategori negara yang sangat berbahagia.

Sebanyak 51 persen dari warga Indonesia menyatakan mereka sangat bahagia. Kendati menempati posisi teratas, tapi tingkat kebahagiaan Indonesia dibandingkan survey Ipsos Global sebelumnya menurun hingga tujuh poin. Penurunan kebahagiaan drastis juga dialami oleh Brazil yang turun 9 poin dan Rusia yang turun enam poin.

Negara sangat bahagia kedua setelah Indonesia adalah India dan Meksiko dengan 43 persen, disusul Brasil dan Turki dengan 30 persen, Australia dan Amerika Serikat dengan 28 persen. Di sisi lain, beberapa negara diketahui hanya sedikit warganya yang  merasa sangat bahagia. Seperti Italia yang kebahagiaan warganya ada di level 13 persen, Spanyol 11 persen, Hunggaria enam persen, Korea Selatan tujuh persen dan Rusia delapan persen.

Ipsos memulai tracking happiness di 24 negara dari tahun 2007, dan di lakukan 2 kali dalam setahun. Maret 2010 survei di lakukan setiap bulan untuk mencari jawaban atas pertanyaan: Apakah kita pada saat ini lebih bahagia dari masa sebelumnya?

Secara keseluruhan, dunia adalah tempat yang bahagia. Pada tahun 2007, 20 persen dari populasi global menyatakan bahwa mereka sangat bahagia, dan pada tahun 2011 naik menjadi 22 persen. Pada bulan Maret dan April 2010 mencapai poin tertinggi yaitu 26 persen.

Dalam mengukur kategori sangat bahagia, perbaikan terbesar ditemukan di Turki, dimana tingkat kebahagiaan warganya naik 16 poin sejak 2007. Kemudian diikuti Meksiko dengan kenaikan sampai 10 poin, Australia naik 7 poin, Jepang naik 6 poin, India dan Kanada masing-masing naik 5 poin. (umi)

• VIVAnews

Sepuluh Langkah Menulis Surat Pembaca Yang Menembus Media

Sepuluh Langkah Menulis Surat Pembaca Yang Menembus Media

Oleh : Budi Purnomo

Menulis Surat Pembaca itu gampang, kata seorang penulis yang memang namanya sering terpampang di berbagai rubrik Surat Pembaca media cetak. Tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa menulis Surat pembaca itu sulit. Namun terlepas dari pro kontra tersebut, dibandingkan dengan karya tulis lainnya, menulis Surat Pembaca memang lebih gampang. Mudah-mudahan, Tips Sepuluh Langkah ini dapat menjadi obat bagi Anda yang masih merasa kesulitan menulis Surat Pembaca.

Langkah Pertama : Tentukan tema yang akan ditulis
Sebagaimana menulis artikel pada umumnya, menulis Surat Pembaca pun memerlukan tema yang jelas. Dengan tema yang jelas, diharapkan penulis akan konsentrasi dan fokus terhadap permasalahan yang berkaitan dengan tema. Entah itu memberikan solusi terbaik, menyampaikan pandangan pro dan kontra atau bahkan wacana alternative. Oleh karena itu pembuatan judul tetap harus memiligi daya tarik dan disesuaikan dengan isinya. Misalnya, kita akan menulis tentang lingkungan hidup, maka kita jangan ngelantur kemana-mana. Selain space tulisan yang terbatas, tulisan yang ngelantur sangat tidak produktif dan tidak enak dibaca.

Langkah Kedua : Tuangkan tulisan dengan bahasa yang jelas
Meskipun belum tentu merupakan suatu kesalahan, tetapi salah satu kelemahan para penulis adalah menonjolkan penulisan dengan menyisipkan bahasa-bahasa asing yang tidak perlu. Tujuannya (mungkin) agar terlihat intelek dan (terlihat) mengikuti perkembangan baru. Sebenarnya sih boleh-boleh saja. Tetapi untuk menulis Surat Pembaca tolong dipertimbangkan baik-baik. Bagaimana pun, menuangkan tulisan dengan bahasa yang lebih jelas dinilai lebih bagus. Penyebabnya, karena karakteristik penulisan Surat Pembaca yang harus singkat dan padat.

Langkah Ketiga : Jangan menulis terlalu panjang.
Kalau kita jeli meneliti tulisan-tulisan Surat Pembaca yang ada di media cetak, baik itu suratkabar, tabloid, maupun majalah, paling panjang hanya memuat 3 s/d 5 paragraph/alenea. Rumus seperti ini sebaiknya jangan Anda tabrak. Mengapa ? tulisan yang panjang dan lebar hanya akan menambah pekerjaan redaksi yang sudah bertumpuk pekerjaan. Kalau Anda menjadi redaksinya pun, tentu akan lebih senang memilih tulisan atau artikel yang pas, sesuai dengan harapan, dan tidak berpanjang lebar.

Langkah Keempat : Baca lagi, edit lagi.
Setelah tulisan selesai dibuat, sebaiknya jangan langsung dikirim ke media cetak. Cobalah diendapkan sebentar saja, lalu Anda cek sekali lagi. Apakah masih ada salah huruf atau salah kata ? Bahkan mungkin ada kalimat-kalimat yang dirangkai dari satu kalimat ke kalimat lain yang tidak nyambung ? Pastikan, semua tulisan yang Anda buat sempurna menurut versi Anda sendiri. Bila perlu, konfirmasikan lagi kepada senior Anda, apakah tulisan Anda ini sudah oke atau kurang ? Kalau Anda akan membacanya lagi, kemudian Anda edit lagi karena Anda kurang puas, lakukanlah dengan penuh perjuangan, sampai Anda benar-benar nyaman dengan tulisan yang Anda buat sendiri.

Langkah Kelima : Buat surat pengantar
Akan lebih sopan kalau dalam mengirimkan Surat Pembaca kita juga diberikan pengantar yang isinya bahwa surat yang terlampir adalah surat pembaca. Contoh isi surat pengantar secara ringkas adalah sebagai berikut : Bersama ini kami kirimkan tulisan berjudul : “ (tuliskan judulnya) ” untuk dimuat di Rubrik Surat Pembaca media cetak yang Bapak/Ibu pimpin. Semoga Surat Pembaca kami ini dapat dipublikasikan di media cetak Bapak/Ibu. Atas bantuan yang diberikan, kami menyampaikan terima kasih. Jangan lupa cantumkan Nama, Alamat, serta Nomor Telp/HP Anda yang gampang dihubungi.

Langkah Keenam : Jangan lupa lampirkan identitas diri.
Kalau kita buka media cetak di halaman opini atau pun di bawah box susunan redaksi media massa, selalu dicantumkan informasi agar setiap pengirim Surat Pembaca melampirkan fotocopy identitas diri. Anda dituntut ketaatan untuk memenuhi ketentuan ini. Kalau KTP tidak ada, Anda bisa menggunakan Kartu SIM, Kartu Pelajar, atau kartu identitas yang lainnya. Yang penting, jangan melampirkan yang kartu identitas yang asli, cukup fotocopy-nya saja,

Langkah Ketujuh : Kirimkan kepada alamat redaksi media
Setelah semuanya siap, barulah Anda mengirimkan surat kepada redaksi yang mengasuh rubrik Surat Pembaca. Biasanya redaksi Surat Pembaca juga mengelola halaman Opini. Alamat Redaksi media cetak selalu dicantumkan di box susunan redaksi, masing-masing media. Untuk alamat redaksi yang lebih lengkap, Komunitas Penulis Surat Pembaca “JEJak” sudah menyediakannya secara gratis di http://infojejak.blogspot.com/2006/04/daftar-alamat-redaksi-media-cetak.html atau di http://alamatmedia.blogspot.com. Setelah itu, silahkan kirim tulisan Surat Pembaca Anda ke media cetak yang memiliki visi dan misi yang sama dengan contain atau materi Surat Pembaca yang Anda buat. Kalau Anda memiliki minat besar untuk menulis, biasanya dengan membaca media cetak (atau membaca Surat Pembaca yang dimuat di situ), Anda akan memiliki feeling bahwa tulisan-tulisan dengan visi dan misi tertentu maka potensi untuk dimuatnya sangat tinggi.

Langkah Kedelapan : Monitoring pemuatan Surat Pembaca
Setelah mengirimkan Surat Pembaca ke redaksi media cetak, Anda tinggal menunggu pemuatan atau penerbitannya di media cetak yang kita kirim. Jangan berharap redaksi akan memberitahu Anda untuk pemuatan, karena mereka pun memiliki waktu yang terbatas dan dikejar dead line. Kalau punya uang, lebih baik Anda membeli media cetak tersebut untuk memonitor apakah Surat Pembaca kita sudah dimuat atau belum. Tetapi, kalau keuangan Anda terbatas, pinjam sebentar di agen media cetak atau tukang koran untuk ngintip rubrik Surat Pembaca, juga bisa Anda lakukan.

Langkah Kesembilan : Coba lagi, dan jangan putus asa
Kalau tulisan Anda tidak dimuat, jangan berputus asa. Kesuksesan penulis-penulis hebat adalah karena tulisan-tulisannya pernah ditolak oleh penerbit. Anda coba lagi, baca lagi, belajar lagi dan kirim lagi. Pokoknya jangan ada istilah berputus asa, karena dengan demikian maka Anda pasti bisa.

Langkah Kesepuluh : Dokumentasikan Surat Pembaca Anda
Tulisan-tulisan Surat Pembaca yang telah dimuat di media massa, jangan dibuang. Buatlah dokumentasi yang rapi, suatu saat pasti akan berguna bagi karir dan kehidupan Anda. Memang benar, kegiatan menulis Surat pembaca bukan karena alasan uang, tidak ada honor dari penerbit apabila tulisan Anda dimuat di rubrik Surat Pembaca. Tetapi, kalau kita rutin menulis, maka kemampuan interlektualitas kita terasah.
Kalau tulisan Surat Pembaca sudah menumpuk, Anda bisa mendokumentasikannya via blog pribadi,, dan kemudian ditawarkan kepada penerbit buku, siapa tahu ada yang berminat. Kalau jalannya mulus, Anda pun menjadi ngetop. Kata orang, ngetop adalah rejeki berupa benefit yang bisa mendatangkan profit. Mudah-mudahan, Anda termasuk keluarga besar penulis yang beruntung. Semoga!

Catatan:
Makalah ini pernah disampaikan dalam Workshop Kehumasan PDAM yang diselenggarakan oleh Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi), Jakarta, 26-28 Juli 2006.

Sumber: Komunitas Penulis Surat Pembaca Jakarta
URL: http://infojejak.wordpress.com/2007/02/13/sepuluh-langkah-menulis-surat-pembaca-yang-menembus-media/

Java Jazz Festival 2012 Empat Lagu SBY Rasa Jazz di Tangan Jeff Lorber

http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2012/03/02/7717.html

Jumat, 2 Maret 2012, 21:29:05 WIB

Java Jazz Festival 2012


Empat Lagu SBY Rasa Jazz di Tangan Jeff Lorber

*Presiden SBY menyalami Jeff Lorber usai pertunjukan pada Java Jazz
Festival di JIExpo Kemayoran, Jumat (2/3) malam. (foto: abror/
presidensby.info)

*Jakarta*: Empat lagu ciptaan *Presiden Susilo Bambang Yudhoyono* dibawakan
komponis dan keyboardis Jeff Lorber dengan rasa jazz pada hari pertama Java
Jazz Festival 2012 di Hall D Arena Pekan Raya Jakarta, Jumat (2/3) malam.
Hasilnya, penonton, termasuk Presiden SBY dan Ibu Negara Hj Ani Bambang
Yudhoyono, ikut termangu menikmatinya.

SBY dan Ibu Ani datang bersama Edhie Baskoro atau akrab disapa Ibas dan
Aliya. Dan Jeff Lorber seperti ingin memberi kejutan kepada SBY sekeluarga
yang khusus datang untuk menikmati lagu-lagu SBY yang diaransemen ulang
dengan irama jazz. Kejutan itu adalah tampilnya Menteri Perdagangan Gita
Wirjawan yang memainkan keyboard di atas panggung bersama Lorber.

Jeff Lorber adalah musisi jazz asal Philadelphia, Amerika Serikat. Ia
dikenal sebagai pionir contemporary instrumental music atau yang lebih
dikenal sebagai smooth jazz. Lorber beberapa kali masuk nominasi Grammy
Award.

Di depan ratusan penonton, Jeff Lorber menyajikan lagu Kuyakin Sampai di
Sana secara instrumental. Gita Wirjawan tampil dalam sesi ini dan mendapat
aplaus meriah. Di tangan Lorber, lagu-lagu SBY jadi terdengar beda.

Selain Kuyakin, Jeff Lorber juga membawakan tiga lagu gubahan Presiden SBY
yang lain, yaitu Like the Wind, Coming Home, dan Mother Earth (Save Our
World). Untuk ketiga lagu tersebut, pemusik beraliran fussion itu memanggil
vokalis dan juga penulis lagu kawakan Jeff Pescatto untuk mengambil bagian.
Joy Tobing dari Indonesia juga sempat tampil dan berduet bersama Pescetto
dalam lagu Like the Wind.

Setelah bermain selama kurang lebih satu jam, Jeff Lorber dan bandnya turun
panggung diiringi tepukan meriah dari para penonton. Bersamaan dengan itu,
SBY dan Ibu Ani serta Ibas-Aliya juga meninggalkan tempat.

Selain Presiden SBY, turut hadir Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menteri
Perindustrian MS Hidayat, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, dan Gubernur
DKI Jakarta Fauzi Bowo. (arc)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 61 other followers