Archive for the ‘Budaya’ Category

Ribuan Batu Candi untuk Pagar Rumah

Komentar awind <j.gedearka@upcmail.nl>: Sejak ORBA pemerintah tidak menghargai sejarah bangsanya sendiri. Hal itu bisa kita simak dengan dihancurkannya bangunan atau peninggalan sejarah baik peninggalan zaman kolonial maupun sejarah sebelum masehi. Apakah hal itu sengaja dilakukan oleh penguasa untuk menghilangkan/mempersulit mencari data-data kongkrit masa silam. Nasehat BK ialah supaya kita jangan melupakan sejarah. Nah kalau bukti-bukti sejarah “sengaja” dihilangkan maka generasi yang akan datang dengan sendirinya akan tetap gelap dan akan hidup dengan kebohongan dan penipuan seperti film G30S/PKI. Termasuk Supersemar aseli sampai saat ini tidak ketahuan jejaknya.
Salam,
Awind

http://oase.kompas.com/read/2012/04/28/2331092/Ribuan.Batu.Candi.untuk.Pagar.Rumah

Ribuan Batu Candi untuk Pagar Rumah
| Jodhi Yudono | Sabtu, 28 April 2012 | 23:31 WIB
:

 

Kompas/Thomas Pudjo Widijanto
Deretan batu-batu candi yang menglilingi pekarangan rumah warga di Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (28/4/2012).

YOGYAKARTA, KOMPAS.com–Ribuan batu candi disusun menjadi pagar pekarangan rumah milik Warto (70) di Dusun Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Meskipun terlihat rapi mirip dinding candi, batu-batu itu ditata secara acak, memanjang ke arah barat sekitar 50 meter dan melebar ke utara sekitar 40 meter dengan tinggi 1 meter-1,5 meter.

Menurut keterangan warga setempat saat ditemui Kompas, Kamis (26/4), batu-batu itu dikumpulkan pemilik rumah dari areal persawahan. ”Jadi tidak serentak mendapatkan ribuan batu, tetapi sedikit demi sedikit dikumpulkan baru dibuat pagar,” kata Tardi, salah satu ketua RT di Dusun Kebondalem Kidul.

Menurut Tardi, batu-batu candi banyak ditemukan di pekarangan rumah atau di lahan sawah penduduk. ”Batu-batunya dipakai untuk bendungan atau fondasi rumah,” katanya.

Diduga kuat batu-batu itu merupakan bagian dari kebesaran Candi Sojiwan yang Desember 2011 dipugar sebagian. Peneliti arkeologi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Cahyono, yang pernah menggali di seputar Candi Sojiwan, menyatakan, dari hasil temuannya, Candi Sojiwan memang dikelilingi parit yang cukup luas dari bahan-bahan batu andesit.

Hanya saja, parit itu sekarang di atasnya sudah menjadi permukiman penduduk. Kemungkinan besar dulu Sojiwan merupakan kompleks percandian yang tidak hanya terdiri atas satu candi besar.

Terhadap batu candi yang dijadikan pagar penduduk, Ketua Kelompok Kerja Perlindungan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah Gutomo menyatakan, semua batu yang ada di tangan penduduk sudah diinventarisasi. Penduduk pun sangat akomodatif, akan menjaga batu-batu agar tetap utuh dan dijaga agar tidak hilang.

”Tidak hanya untuk pagar, tetapi juga banyak digunakan oleh penduduk untuk fondasi rumah panggung. Ini malah bagus untuk penyelamatan,” kata Gutomo.

 

Banyak temuan

Kawasan Prambanan dulu kemungkinan besar merupakan kawasan suci yang banyak dibangun candi pada abad ke-9 dan ke-10. Sampai sekarang pun penduduk masih sering menemukan batu candi atau serpihannya saat menggali sumur atau menggali tanah untuk fondasi rumah.

”Bentuknya berbeda dengan batu biasa,” kata Sukidi, warga Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten.

Di Dusun Bener juga terdapat bangunan candi yang disebut penduduk setempat sebagai candi asu karena di situ pernah ditemukan arca yang menyerupai anjing. Saat ini candi itu sedang dipugar oleh BP3 Jawa Tengah. Hanya saja, pemugaran ini sedikit terganjal karena setelah dilakukan penggalian lebih jauh, bangunan candi mengarah ke bagian bawah rumah keluarga Purnomo.

”Kami telah mengusulkan kepada pemerintah pusat agar membebaskan lahan sehingga bisa dilakukan penggalian,” kata Gutomo, Ketua Kelompok Kerja BP3 Jawa Tengah. (TOP)

Kesenian Dalam Kuasa Negara

Kesenian Dalam Kuasa Negara

M Romandhon MK | Sabtu, 28 April 2012 – 11:35:09 WIB


(Foto:dok/antaranews.com)Di tingkatan pemimpin tidak terlihat sifat-sifat kenegarawanan.Pemerintah akhir-akhir ini sedang gencar mendaftarkan produk kebudayaan leluhur sebagai warisan kebudayaan dunia. Setelah batik, angklung, wayang, dan keris diakui UNESCO, kini giliran kesenian rakyat tayub dan dangdut yang mengantre untuk mendapatkan stempel dari induk organisasi negara dunia. Terobosan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini memberi decak antusiasme bagi publik Tanah Air. Ekspektasi masyarakat pun terhadap pemerintah semakin menguat, perihal kepedulian negara terhadap khazanah kesenian. Diajukannya kesenian tayub dan dangdut sebagai warisan budaya dunia, seolah memberi harapan sekaligus angin segar bagi keberlangsungan kesenian Tanah Air dewasa ini.

Di balik semarak kampanye peduli kesenian sesungguhnya masih menyisakan rasa getir. Sering kali, kampanye “cinta kebudayaan” menipu, pasalnya, anjuran berkesadaran budaya barometernya ditentukan seberapa banyak jumlah pengunjung ke museum. Tanpa disadari, kerangka berpikir deduktif ini sengaja digiring ke arah fosilisasi kebudayaan. Alih-alih mengenalkan keragaman peninggalan kebudayaan, sebaliknya hal ini berpotensi pada praktik “pembunuhan” kreativitas berbudaya.

Bagaimana tidak, satu sisi pemerintah hanya mendorong masyarakat mengarifi kebudayaan, di sisi lain pemerintah tak begitu peduli tentang kebudayaan sebagai basis kekuatan dan identitas bangsa. Dengan kata lain, kebudayaan kesenian tetap saja diposisikan sebagai peninggalan masa lampau. Bahkan, khazanah tradisi kesenian yang menjadi platform Indonesia mengalami “penuaan”. Ini artinya, kekayaan warisan budaya tampaknya hanya sebagai dongeng adiluhung ansich, tanpa mampu dimanfaatkan kembali.

Sejurus gayung bersambut, para ilmuwan dan pegiat kesenian dalam negeri sendiri pun tidak mampu mendaur ulang penemuan leluhur itu menjadi hasil penemuan yang lebih baik. Sebaliknya, hasil kebudayaan yang begitu menakjubkan itu, dengan dalih “melestarikan” dan “peduli” justru difosilisasikan. Istilah “fosilisasi kebudayaan” sebenarnya pernah dipopulerkan oleh Arthur Asa Berger dalam menjelaskan sebuah produk kebudayaan yang sengaja ingin dilenyapkan (dihilangkan). Mengutip Fritjof Capra, arus kebudayaan global semakin canggih dalam membinasakan produk budaya yang lain.

Bedanya, cara yang digunakan tidak tampak unsur kesadisan. Sebaliknya, terkesan sangat santun dan bermartabat. Hemat penulis, dapat dikatakan melestarikan, apabila gerak dan ruang berekspresi dalam berseni diberi keleluasaan. Adapun kesenian yang sudah ada, mampu didaur-ulang dan disesuaikan dengan konteks zamannya. Tatkala kesenian bisa bergerak dan mengalami dinamisasi, hal ini baru bisa dikatakan melestarikan (uri-uri) kebudayaan. Dalam istilah musicology arrangement.

Sayangnya elemen bangsa ini telanjur terkena sindrom “penyakit” kronis, di mana masyarakat sudah tak lagi responsif. Di tingkatan pemimpin tidak terlihat sifat-sifat kenegarawanan, orientasi tertutup, lebih mementingkan stabilitas daripada kemajuan, sedangkan kaum cendekiawan bisu. Tidak muncul gagasan orisinal dan besar, ciptaan yang berlangsung hanya imitasi, peniruan-peniruan kasar dalam bidang seni maupun kehidupan sehari-hari yang lain; dan yang terakhir tidak berfungsinya filsafat.

Ketidakberdayaan Kesenian
Setali tiga uang, antara tayub dan dangdut memiliki banyak catatan kontroversial. Kedua kesenian ini banyak mengekspos estetika body art (keindahan olah tubuh). Nilai seni inilah yang kerapkali menuai kontroversi lantaran dianggap erotis dan mempertontonkan aurat. Tak berlebihan, jika tayub dan dangdut senantiasa berada dalam posisi yang tak mengenakkan. Kesenian masyarakat kelas bawah ini selalu mendapat stereotipe buruk. Dengan dalih erotis dan jalang. Tak pelak keberadaan tayub ataupun dangdut secara perlahan teralienasi. Stigma pornografi dan cabul menempatkan kesenian ini tak kuasa dalam menghadapi monopoli politik kekuasaan. Bahkan, persoalan krusial yang dianggap presiden adalah agenda dibentuknya Satgas UU Pornografi.

Kesenian mengamini aroma erotik dan estetik; terejawantahkan melalui dentum gamelan, gerak (seperti gandrung, joget bumbung, lengger, tandakan) bahkan hingga dangdut. Stigma pornografi pun mencuat lantaran tubuh adalah agen utama. Negara kemudian dianggap berkepentingan untuk mengatur gerak, pakaian, dandanan secara visual. Muncullah aturan pembatasan dalam berseni (berkreativitas), seakan semuanya harus dikonvensionalkan. Ini yang kemudian menyebabkan kesenian berada pada posisi tak berdaya. Pemerintah masih belum bisa bersikap dewasa, cenderung memandang kesenian berdasarkan kuasa oposisi biner.

Ini artinya, selama sudut pandang digunakan masih sebatas hitam-putih, baik-buruk maka simpati ataupun ujud rasa prihatin pemerintah tak ubahnya sebuah harapan semu. Lantas apa gunanya mengusulkan kesenian tayub dan dangdut ke UNESCO, jika hanya bertujuan memperoleh draf legal? Selain itu, apa keuntungan yang diperoleh seni-seni tersebut setelah diakui sebagai warisan dunia? Adakah suatu perkembangan yang berarti? Atau justru hanya labirin politik dalam meraih ambisi yang penuh pamrih? Legalitas, “diakui” atau “tidak diakui” belum tentu mampu menyelamatkan eksistensi kesenian itu sendiri.

M Natsir dalam kitabnya Capita Selecta memaparkan bagaimana kemajuan kebudayaan di masa khalifah Al-Mansur, khalifah kedua dari dinasti Abbasiah yang sukses merawat peninggalan kebudayaan bangsanya; di mana ilmuwan dan para pegiat seni diberi ruang berekreasi tanpa ada intervensi. Selalu menghargai kreasi dalam bentuk apa pun dan mengedepankan “pendaur-ulangan” warisan kebudayaan yang sudah ada.

Jangan-jangan, hal sama yang dibutuhkan negara Indonesia untuk serius melestarikan kebudayaan mencontoh metode Al-Mansur. Ketika negara mampu memosisikan dirinya sebagaimana semestinya, seniman memosisikan tugasnya sebagai pekerja seni, dan rakyat dapat menyelesaikan tugasnya sebagai masyarakat, maka tanpa perlu seruan untuk maju dan berkembang, rasanya dengan sendirinya kemajuan itu akan lahir.

*Penulis adalah peneliti pada Central for Civilization and Cultural Studies,
Yogyakarta.

(Sinar Harapan)

Mengampanyekan dan Mendemonstrasikan MANFAAT Membaca, Bermanfaatkah?

Mengampanyekan dan Mendemonstrasikan MANFAAT Membaca, Bermanfaatkah?:
Apakah Pendidikan Kita Berbasis Buku? (5)

Oleh Hernowo

in:dikbud@yahoogroups.com, Saturday, 28 April 2012, 16:05

 
 
Rupanya sang pustakawati yang meminta bantuan saya untuk “menghidupkan” perpustakaan sekolah yang sudah “mati” tidak puas dengan jawaban atau saran saya. Menurutnya, dia pernah punya program mengisi perpustakaan sekolahnya dengan buku-buku yang dirasakannya akan disukai oleh anak didik yang bersekolah di situ yang rata-rata masih berusia remaja. Namun, tetap saja, perpustakaan itu sepi. Sempat ramai sih, tetapi hanya sebentar. Dan program itu, akhirnya, diberhentikan karena perpustakaan sekolah semestinya ya hanya diisi oleh buku-buku untuk kepentingan kegiatan pembelajaran di kelas—demikian tulisnya sembari berbisik-bisik karena yang menyetop programnya itu adalah kepala sekolahnya sendiri.
 
Saya tentu sangat bisa memahami kisah-sedih sang pustakawati. Saya juga menambahkan bahwa saran yang saya berikan itu memang hanya mudah sekali diomongkan tetapi akan sangat sulit dipraktikkan. Apalagi jika perubahan paradigma tidak menjalar ke semua pihak, termasuk ke kepala sekolah. Saya pun kemudian menyanggupi permintaannya untuk memberikan satu lagi saran tambahan. Tentu saran tambahan saya ini masih dalam konteks wacana. Sekadar wacana, saya tahu benar, tidak akan mengubah apa-apa. Wacana hanya akan menjadi ”obor” yang kan menerangi kita dalam sebuah perjalanan apabila ada tindak lanjut dari wacana tersebut. ”Obor” itu baru akan menyala sangat terang apabila wacana benar-benar dapat ditindaki (dipraktikkan) berkali-kali—tentu disertai dengan evaluasi di sana-sini. Dan ”obor” akan berubah menjadi ”alat” perubahan setelah nyalanya terus dijaga dalam waktu yang lama….
 
Apa saran tambahan saya untuk ”menghidupkan” perpustakaan—dalam arti menarik minat masyarakat untuk bergairah membaca? Saran tambahan saya adalah melakukan kampanye dan demonstrasi (pemeragaan) pelbagai manfaat membaca secara massif dan intensif di sekolah-sekolah. Siapa yang melakukan kampanye dan demonstrasi? Pertama, ya para pustakawan dan pustakawati yang sudah berpengalaman dalam bergaul dengan buku dan tahu benar pelbagai manfaat buku sebagai pembangun peradaban yang tinggi. Kedua, para public figures—kepala sekolah dan jajarannya serta tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap beken (top). Ketiga, para guru dan orangtua murid. Apa isi kampanye? Isinya ya menunjukkan saja pelbagai manfaat membaca. Daftar manfaat itu dibuat dalam bentuk poster dan selebaran yang ditempel di mana-mana—misalnya di seluruh perpustakaan atau di dinding-dinding kelas yang setiap hari dapat dibaca (dipahami) oleh anak didik dan pengelola sekolah.
 
 
Lantas ihwal demonstrasi manfaat membaca, bagaimana? Ihwal demonstrasi ini saya selipkan dengan maksud agar yang dikampanyekan itu memang bukan sekadar kata-kata melainkan sesuatu yang nyata. Maksud saya, demonstrasi adalah kata lain dari keteladanan membaca yang ditunjukkan oleh para pustakawan dan pustakawati serta orang lain yang memang telah merasakan pelbagai manfaat membaca. Sebenarnya ihwal kampanye saja sudah cukup memadai untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya membaca. Dahulu, ada kampanye program KB (Keluarga Berencana)—”Dua Anak Cukup” (kalau tak salah). Menurut saya, ingar-bingar kampanye KB itu cukup berhasil. Mungkin kampanye membaca—dengan membuat selebaran dan poster yang berisi daftar pelbagai manfaat membaca—dapat dijalankan sebagaimana kampanye KB dulu. Tentu akan sangat bagus apabila inisiatif itu berasal dari organ pemerintah yang memang terkait dengan kegiatan membaca.
 
Sedikit menyinggung program-program pemerintah dalam upaya meningkatkan minat baca, saya tak memungkiri bahwa itu sudah lama berjalan. Apakah program-program itu berhasil atau tidak, tentu bukan saya yang berwenang membicarakannya. Yang jelas, efeknya tentu ada. Seberapa jauh efek Taman Bacaan Masyarakat (TBM) misalnya? Atau, saya pernah mendengar dibentuknya Gerakan Masyarakat Gemar Membaca (kalau tak salah) atau apa misalnya. Juga saya sempat menyaksikan menjamurnya komunitas-komunitas yang peduli terhadap kegiatan membaca misalnya. Tentu semua itu berperan penting dalam mengajak masyarakat luas untuk bergairah membaca. Nah, kampanye membaca, nantinya, akan bersinggungan atau malah bersinergi dengan semua program peningkatan minat baca yang telah ada.
 
Jadi? Karena saya hanya diminta memberikan saran tambahan (dalam bentuk wacana), ya itulah yang dapat saya lakukan. Semoga ada manfaatnya—khususnya bagi sang pustakawati.[]

Dari Peluncuran Buku “Pendidikan Karakter”-nya Maarif Institute di Jakarta

Membaca, Tafsir, dan Takwil:
Dari Peluncuran Buku “Pendidikan Karakter”-nya Maarif Institute di Jakarta

Oleh Hernowo

in:dikbud@yahoogroups.com , Sunday, 29 April 2012, 9:11

Di samping pemilihan makanan, Prof. Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan itu, katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak keras harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting agar di mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna.
—Dahlan Iskan, “Susu Sapi Bukan untuk Manusia” (Jawa Pos, 15 Mei 2009)
Saya mengawali pengantar diskusi dalam acara peluncuran dua buku Pendidikan Karakter untuk SMA pada Jumat, 27 April 2012 di Jakarta—kedua buku tersebut diterbitkan oleh Maarif Institute bekerja sama dengan beberapa pihak—dengan mengisahkan sebuah buku karya Profesor Hiromi Shinya, The Miracle of Enzyme. Buku karya Profesor Hiromi ini sangat laris. Kebetulan ketika diterbitkan-ulang tahun ini, dalam “Gold Edition”, diselipkan sebuah pengantar yang berasal dari tulisan Pak Dahlan Iskan yang pernah dimuat di koran Jawa Pos beberapa tahun lalu.
Dalam karya saya, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, buku memang saya persepsi sebagai “makanan”, tepatnya “makanan ruhani”. Dengan mempersepsi buku sebagai makanan, saya pun memiliki cara membaca buku yang hampir persis dengan memakan makanan untuk jasmani. Ketika mengawali diskusi dua buku Pendidikan Karakter untuk SMA (yang dimasukkan dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan [PKn] dan Pendidikan Agama Islam [PAI]) itulah saya mengutip pernyataan Pak Dahlan Iskan yang merujuk ke pendapat Profesor Hiromi.
Apa efek yang ditimbulkan kepada tubuh kita apabila kita tidak sabar dalam mengunyah makanan hingga 30 kali atau, bahkan, kalau daging malah perlu hingga 70 kali? “Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian. Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu antara lain susu dan daging,” tulis Pak Dahlan Iskan.
Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan makanan/minuman yang ‘jelek’: benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.
“Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya kecapekan, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan menimbulkan penyakit lagi.”
Setelah mengutip agak panjang pernyataan Pak Dahlan Iskan yang didasarkan pada penelitian Profesor Hiromi, saya pun mempertanyakan kegiatan membaca buku kita. Apakah pola membaca kita sebagaimana pola kegiatan memakan makanan yang tidak dikunyah hingga 30 kali sehingga menyebabkan saluran pencernaan—dalam hal membaca ya tentu “saluran pemikiran”—kita rusak? Ketika menyinggung ihwal “saluran pemikiran” inilah kemudian saya teringat akan metode tafsir dan takwil—sebuah cara membaca yang menjadikan apa yang kita baca menghasilkan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi pengembangan dan perluasan pikiran.
Biasanya, tafsir dan takwil, dalam agama Islam, dikaitkan dengan pembacaan Kitab Suci Al-Quran. Dalam konteks diskusi buku Pendidikan Karakter, tafsir dan takwil saya kaitkan dengan kegiatan membaca teks atau tulisan yang ada di sebuah buku biasa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “tafsir” sebagai kata benda berarti keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Al-Quran sehingga lebih jelas maksudnya. Menafsirkan bisa berarti (1) menerangkan maksud ayat-ayat Al-Quran atau kitab suci lain; (2) mengartikan; menangkap maksud perkataan (kalimat, dsb.) tidak menurut apa adanya saja, melainkan diterapkan juga apa yang tersirat (dengan mengutarakan pendapatnya sendiri).
Sementara itu, kata “takwil” sebagai kata benda berarti keterangan atau penjelasan (seperti tafsir). Menakwilkan adalah menerangkan maksud (arti)—biasanya dikaitkan dengan mimpi dalam tidur. Saya pun kemudian memperluas arti tafsir dan, terutama, takwil dalam konteks kegiatan membaca teks (tulisan) biasa yang ada dalam sebuah buku. Menurut K.H. Husein Muhammad, “Takwil tidak sekadar berarti—sebagai arti literalnya—mengembalikan kepada makna awal dan tidak juga sekadar tafsir metaforis (majas) belaka. Tetapi, lebih dari itu adalah memahami teks melalui banyak hal, seperti latar belakang peristiwa yang mendahului teks), konteks bahasa atau kalimat (al-siyaq al-lisaniy/al-lughawiy), hubungannya dengan ayat lain, dan tidak kurang pentingnya adalah konteks sosial, budaya, politik, ekonomi (al-siyaq al-zharfiy al-ijtima’iy, wa al-tsqafiy wa al-siyasiy, wa al-iqtishadiy), dan lain-lain (lihat K.H. Husein Muhammad, Mengaji Pluralisme kepada Mahaguru Pencerahan, Mizan, 2011, h. 35).
Sudahkah kita membaca teks atau tulisan yang ada di dalam sebuah buku dengan cara “mengunyah” (menakwilkan)-nya hingga yang ke-30 kali?[]

Bagaimana ”Menghidupkan” Perpustakaan Sekolah?: Apakah Pendidikan Kita Berbasis Buku? (4)

 

Bagaimana ”Menghidupkan” Perpustakaan Sekolah?: Apakah
Pendidikan Kita Berbasis Buku? (4)

Oleh Hernowo
in:dikbud@yahoogroups.com , Friday, 27 April 2012, 2:00

http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/292619_10150795047639797_678704796_9635751_243046117_a.jpg
“Pak Hernowo, menurut saya, salah satu cara terampuh untuk mendeteksi apakah pendidikan kita berbasis buku atau tidak adalah dengan melihat perpustakaan yang ada di sekolah tersebut. Apabila perpustakaannya ‘mati’, ada kemungkinan kegiatan belajar di sekolah tersebut tidak memanfaatkan buku meskipun di situ ada banyak buku. Apabila perpustakaannya ‘hidup’, kemungkinan besar buku-buku yang ada di sekolah tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pikiran sebagaimana yang Pak Hernowo katakan,” demikian sebuah komentar saya peroleh lagi dari pembaca serial tulisan saya “Apakah Pendidikan Kita Berbasis Buku?”
Hanya komentar tersebut tak hanya berhenti di situ. Si pemberi komentar kemudian memberikan banyak pertanyaan yang, sepertinya, “memaksa” saya untuk memikirkan dan memberikan jalan keluar untuknya. Terus terang, saya terbebani tetapi saya juga merasakan sekali manfaat dari pertanyaan-pertanyaannya. Pertanyaan, meskipun kadang membebani, jelas membantu menggerakkan pikiran. Saya pun cepat-cepat mengambil sikap untuk berpandangan positif: Siapa tahu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut—meskipun jawaban yang saya berikan tidak lantas berhasil mememberikan jalan keluar—beban-beban yang tiba-tiba menekan saya dapat saya kurangi sedikit demi sedikit atau malah dapat saya hilangkan sama sekali.
“Pak Hernowo, mohon maaf, saya sudah bekerja di sebuah perpustakaan cukup lama. Tetapi, saya sesungguhnya juga tidak tahu bagaimana mempraktikkan pendeteksian yang saya usulkan itu,” demikian lanjutnya. “Saya malah ingin Pak Hernowo yang membantu saya. Pertama, apakah benar dugaan saya bahwa dengan mengaitkan ‘mati-hidup’-nya perpustakaan dengan pemanfaatan buku maka kita lantas bisa tahu apakah pendidikan kita berbasis buku atau tidak? Kedua, terus terang bahwa perpustakaan sekolah yang saya kelola ini sesungguhnya sudah lama ‘mati’ Pak (hiks…). Saya katakan ‘mati” karena perpustakaan itu sepi—sangat jarang dikunjungi. Dan ketiga, ini yang paling penting, apa saran Pak Hernowo agar perpustakaan sekolah saya kemudian dapat ‘hidup’ atau senantiasa ramai dikunjungi baik oleh para guru maupun siswa?”
http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/562457_10150795048599797_678704796_9635758_1323063161_a.jpg
Saya berharap Anda ikut merasakan “beban” yang saya tanggung akibat tiga pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang pembaca tulisan saya. Inginnya saya pun dapat cepat-cepat terhindar dari “beban” tersebut. Namun, saya tentu harus siap mempertanggungjawabkan tulisan-tulisan saya yang saya sebar ke mana-mana dan saya tidak tahu siapa saja yang membaca tulisan saya itu. Akhirnya, saya hanya menyanggupi untuk menjawab pertanyaan yang nomor tiga. Pertanyaan nomor satu dan dua tidak akan saya jawab (atau komentari) karena saya sendiri juga masih bingung. Semoga saja nanti ada pembaca tulisan saya ini yang kemudian membantu saya dalam menjawab dua pertanyaan tersebut.
Menurut saya, agar perpustakaan di sekolah itu dapat “hidup”, maka di perpustakaan itu perlu disediakan buku-buku yang memang disukai—atau kemungkinan besar memang disukai—oleh para anak didik yang sedang belajar di sekolah itu. Buku-buku apa saja kira-kira yang disukai oleh anak didik? Pertama, tentu BUKAN buku pelajaran. Jadi, jangan disediakan buku pelajaran. Kalau toh perlu ada ya jangan banyak-banyak. Kedua, tentu saja komik dan buku cerita bergambar atau buku cerita yang mudah dan ringan dibaca. Ketiga, buku-buku yang memang lagi laris atau bestseller di pasaran (buku-buku itu memang diminati oleh banyak orang). Titik tekan saya sesungguhnya adalah pada penyediaan buku-buku yang memang disukai oleh anak didik dan penyediaannya di perpustakaan juga dalam jumlah yang banyak—minimal, misalnya, 10 (sepuluh) eksemplar.
Bagi saya, perpustakaan adalah tempat paling strategis untuk menjalankan kegiatan membaca secara kontinu dan konsisten. Di samping itu, perpustakaan juga tempat paling baik untuk mengenali buku-buku yang dapat membangkitkan SELERA membaca—syukur-syukur dapat juga membangkitkan semangat dan gairah membaca. Perpustakaan akan “hidup” atau ramai dikunjungi oleh para penggunanya apabila di dalam perpustakaan itu memang ada buku-buku yang menarik dan mengasyikkan untuk dibaca. Paradigma lama bahwa perpustakaan hanyalah untuk para periset dan di perpustakaan hanya tersedia buku-buku langka—harus segera diubah. Paradigma baru bahwa perpustakaan adalah tempat yang menyediakan buku-buku yang menarik dan asyik dibaca serta tempat yang menyenangkan untuk membaca—harus segera dikampanyekan dan direalisasikan.
Adakah sekolah-sekolah yang siap dan bersedia untuk mengubah paradigma lama tentang perpustakaan sekaligus berani menjalankan perubahan paradigma tersebut?[]

Membaca (Memindai), Menulis (Meng-”Copy-and-Paste”)

 

Membaca (Memindai), Menulis (Meng-”Copy-and-Paste”): Apakah Pendidikan Kita Berbasis Buku? (3)

Oleh Hernowo

in:dikbud@yahoogroups.com,  Thursday, 26 April 2012, 6:53

 
 
“Konsep hak kekayaan intelektual, hak cipta, dan orisinalitas di era internet kini cenderung tidak diakui. Tersedianya fasilitascopy and paste di internet memang telah memudahkan pekerjaan. Tetapi, yang lebih jauh adalah internet juga telah meredefinisi bagaimana mahasiswa—yang hidup pada era berbagi file musik, Wikipedia, dan pencantolan web—memahami konsep menghasilkan karya (authorship) dan singularitas setiap teks atau gambar (image).”
Dr. Ninok Leksono. M.A. dalam “Apakah ‘Copy-and-Paste’ Musuh Berpikir?” (Kompas, Rabu 4 Agustus 20120)
 
 
Begitu seorang mahasiswa saya membaca catatan saya di Facebook yang menyamakan “membaca” dengan “memindai” (melihat tulisan dengan cepat tanpa berusaha memahami makna yang ada di balik tulisan tersebut), dia memberitahu kepada saya bahwa menulis juga ada padanannya. “Padanan menulis adalah ‘kopas’,” tulisnya enteng. Apa itu “kopas”? “Kopas” kepanjangan dari “copy paste”. Saya dapat memahami celetukan tertulis mahasiswa saya tersebut karena menulis (dan juga membaca) sesungguhnya sebuah proses berpikir tingkat tinggi. Dan berpikir itu berat. Di eracyberspace, rupanya ada kegiatan berpikir (membaca dan menulis) yang tidak begitu berat yang, seakan-akan, dapat dipadankan dengan kegiatan membaca dan menulis (berpikir) yang berat.
 
Ketika memberikan komentar-balik terhadap komentar sang mahasiswa, saya mengatakan bahwa,pertama, tentu tidak semua mahasiswa menjalankan kegiatan membaca dan menulis yang setara dengan memindai dan “kopas”. Saya percaya masih ada banyak mahasiswa yang benar-benar menjalankan kegiatan berpikir ketika membaca dan menulis. Mereka, para mahasiswa itu, ingin tetap berhasil menunjukkan jati dirinya sebagai calon “harapan bangsa” (intelektual) dengan menciptakan sesuatu atau—dalam bahasa Rhenald Kasali—mengeluarkan pikiran-pikiran “original” mereka. Tugas seorang calon sarjana (intelektual) adalah, memang, terus berupaya menemukan sesuatu yang baru ketika mereka mengerjakan tugas-tugas akademis dan, mungkin, sosialnya.
 
Yang kedua, saya juga menunjukkan kepada sang mahasiswa tentang sebuah buku yang pernah saya baca beberapa tahun lalu. Buku itu berjudul In Praise of Slow karya Carl Honore. Dalam karyanya itu, Honore bercerita tentang zaman yang serbainstan dan tergesa-gesa. Ringkasnya, kini kita tengah memasuki zaman yang segalanya ingin serbakilat dan, kayaknya, serbacepat-beres. Saat ini, misalnya, ada makanan “cepat saji” atau fast food. Dalam bidang pendidikan pun muncul sebuah kelas baru bernama “kelas akselerasi”, dan seterusnya. Sesuatu yang lambat, seakan-akan, merupakan sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman. Serbacepat tentu tidak salah. Yang salah adalah ketika ada sebuah proses kehidupan yang memang perlu kelambatan tapi kemudian dipercepat sehingga prosesnya tidak berlangsung secara benar dan mendekati sempurna.
 
 
Di samping bercerita tentang buku karya Honore, In Praise of Slow, saya juga bercerita tentang buku bagus lain yang ditulis oleh tiga pakar ahli tentang kreativitas—Daniel Goleman, Paul Kaufman, dan Michael Ray—yang berjudul The Creative Spirit. Goleman, kita tahu, adalah seorang psikolog yang tenar setelah menulis buku Emotional Intelligence yang terkenal itu. Paul Kaufman adalah pencipta, penulis, dan produser senior serial televisi The Creative Spirit–yang kisah-kisahnya dalam membuat serial televisi tersebut kemudian dibukukan dengan judul yang sama. Dan Michael Ray adalah pengajar Kreativitas dan Inovasi di Sekolah Bisnis Pascasarjana Universitas Stanford.
 
Dalam buku The Creative Spirit, ada cerita menarik tentang sebuah museum untuk anak-anak. Museum itu bernama Capital Children’s Museum dan terletak di Washington, D.C. “Sekarang ini bahkan mainan bisa bergerak sendiri, anak tidak mesti melakukan apa-apa lagi,” kata Ann Lewin, Direktur Capital Children’s Museum, mengawali penjelasannya tentang pentingnya keberadaan museum yang dipimpinnya. Menurut Ann lebih jauh, museumnya menyediakan banyak sekali proses produksi benda-benda yang jarang dinikmati lagi oleh anak-anak. “Anak-anak jarang mendapat kesempatan untuk melihat dari mana benda-benda yang mereka gunakan berasal, apalagi bagaimana membuatnya,” lanjut Ann. Di museumnya itu anak-anak bisa menikmati, misalnya, bagaimana gulungan kain diproses menjadi baju. “Hal pertama yang Anda butuhkan untuk memunculkan kreativitas pada anak-anak adalah memberi mereka kekayaan pengalaman,” ujar Ann Lewin.
 
Ada kemungkinan—setelah saya memberikan komentar dengan merujuk ke dua buku tersebut—pernyataan sang mahasiswa itu tak terlalu meleset. Menulis, khususnya di kalangan mahasiswa saat ini, memang sudah ada padanannya, yaitu copy and paste. Mereka terbiasa melakukan copy and paste karena terlalu banyak tugas akademis menulis yang diberikan oleh para dosen dan dosen-dosen mereka sendiri tidak sempat memeriksa tugas-tugas para mahasiswanya. Membaca dan menulis yang benar, sepengetahuan saya, tidak bisa dikerjakan dalam waktu yang singkat apalagi mepet-mepet. Kehidupan yang serbainstan dan cepat pada saat ini semakin menggiring para mahasiswa—dan mungkin juga sebagian dosen—untuk mengambil “jalan pintas”.
 
Terlepas dari semua itu, saya tetap ingin berharap semoga apa yang telah disampaikan oleh mahasiswa saya itu hanyalah dugaan belaka. Semoga saja di sekolah-sekolah kita dan juga di unversitas-universitas kita, kegiatan membaca dan menulis tetap berlangsung dalam konteks yang benar—yaitu tak dijalankan dengan terburu-buru dan benar-benar dapat membantu kaum terpelajar dan mahasiswa dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas pikiran mereka. Semoga saja di era cyberspace ini, seluruh fasilitas yang ada dan tersedia secara canggih juga malah semakin memudahkan mereka dalam menjalankan kegiatan membaca dan menulis, sekali lagi, yang tidak terburu-buru atau tergesa-gesa. Semoga.[]

Apakah Pendidikan Kita Berbasis Buku?

Apakah Pendidikan Kita Berbasis Buku?

Oleh Hernowo

in:dikbud@yahoogroups.com , Saturday, 21 April 2012, 8:50

http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc7/574527_10150780169439797_678704796_9591663_804792039_a.jpg
Pada Agustus 2004, saya membuat buku untuk para guru. Buku itu berjudul Bu Slim dan Pak Bil Menggagas-Kembali Pendidikan Berbasis Buku (Penerbit MLC, Bandung, 2004). Buku saya ini pernah diulas secara menarik oleh mantan Menteri Pendidikan Nasional RI, A. Malik Fadjar, ketika beliau memberikan kata pengantar untuk sebuah buku hasil penelitian yang diterbitkan oleh UIN Sunan Kalijaga. Menurut Pak Malik, sudah semestinya penyelenggaraan pendidikan itu berpijak pada buku. Hanya, apakah faktanya demikian?
Kata-kata Pak Malik Fadjar muncul kembali di dalam pikiran saya ketika saya menjadi narasumber di sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Puslitbang Bidang Lektur Kementerian Agama RI pada Rabu, 18 April 2012 lalu. Saya diminta membahas topik “Fenomena Perkembangan Buku Keagamaan di Era Cyberspace”. Salah satu fenomena yang saya sampaikan pada seminar tersebut adalah tentang diperlukannya buku-buku pendidikan agama yang memiliki paradigm baru. Saya pun merujuk (dan kemudian mengutipkan) sebuah artikel menarik di harian Kompas edisi Jumat, 13 Januari 2012.
Artikel menarik itu berjudul “Mengubah Paradigma Pendidikan Agama” yang ditulis oleh Agus Nuryatno, dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Agus menulis artikelnya dengan merujuk ke pemikiran Jack Seymour (1977) dan Dr. Tabita (2009). Disebutkan oleh Agus bahwa terdapat tiga model pendidikan agama: (1) in the wall, (2) at the wall, dan (3)beyond the wall. Model yang pertama mengajarkan agama sesuai ajaran agama tersebut tanpa disertai dialog dengan agama lain. Model yang kedua sudah lebih baik dari yang pertama karena lebih terbuka yaitu mengajarkan agama dengan cara mendiskusikan sebuah agama dengan agama lain.
Namun, untuk zaman sekarang—zaman cyberspace di mana interaksi masyarakat yang sangat beragam sudah begitu tinggi dan mudah—diperlukan model pendidikan agama yang ketiga: beyond the wall. Model yang ketiga ini tidak berhenti hanya berdialog dengan orang-orang yang berbeda agama tetapi sudah mengajak seorang pemeluk agama tertentu untuk bekerja bersama dengan pemeluk agama lain.  Bekerja bersama dalam hal apa? Bekerja bersama dalam mengampanyekan nilai-nilai luhur seperti perdamaian, keadilan, harmoni, dan pelibatan mereka dalam kerja kemanusiaan.
Lebih jauh, model pendidikan agama beyond the wall juga menegaskan bahwa musuh agama bukanlah pemeluk agama yang berbeda; musuh agama yang sesungguhnya adalah kemiskinan, kebodohan, radikalisme, ketidakjujuran, korupsi, manipulasi, kerusakan lingkungan, dan seterusnya, dan seterusnya. Apakah mungkin kita membuat buku pendidikan agama yang memiliki paradigm baru bernama beyond the wall tersebut?
Dalam diskusi, bukan soal apakah kita—bangsa Indonesia—memiliki peluang membuat buku pendidikan agama dengan paradigm baru tersebut yang menarik perhatian peserta seminar. Yang malah santer terdengar adalah apakah pendidikan kita benar-benar berbasis buku? Buku-buku memang dicetak dan diedarkan untuk keperluan pendidikan kita di sekolah-sekolah. Tetapi, apakah buku-buku itu dibaca dalam arti dipahami dan dimanfaatkan untuk mengembangkan pikiran? Usai seminar, saya pun berniat membuat buku lagi untuk para guru dengan judul Menyelenggarakan Pendidikan Berbasis Kegiatan Membaca….[]

Purifikasi Gerakan Politik Perguruan Tinggi

23 April 2012 | BP
Purifikasi Gerakan Politik Perguruan Tinggi
Meskipun partai politik mendukung gerakan politik perguruan tinggi turun ke jalan, nyatanya mahasiswa sebagai motor gerakan tidak terseret pada politik praktis, misalnya gerakan turunkan presiden atau bubarkan pemerintah seperti terjadi pada tahun 1998. Walaupun ada, wacana itu bukanlah premis mayor gerakan politik perguruan tinggi. Namun, fenomena ini telah menyulut api sekam gerakan politik perguruan tinggi.

——————————-

Oleh Jelantik Sutanegara Pidada

Disulut rencana pemerintah menaikkan harga BBM, gerakan politik perguruan tinggi mulai riuh. Kehidupan parlemen jalanan mulai berdenyut diprakarsai mahasiswa yang berdemonstrasi di seluruh Indonesia. Akibatnya, pemerintah mulai khawatir gerakan ini bakal mengganggu jalannya roda pemerintahan. Presiden SBY secara tidak langsung menyebut gerakan mahasiswa tersebut sebagai fenomena aneh. Ada apa dengan gerakan politik perguruan tinggi?

———————-

Kekhawatiran pada gerakan politik perguruan tinggi akan semakin membesar dan meluas secara kasat mata berusaha diantisipasi. Presiden dalam lawatannya ke Cina dengan pesawat kepresidenan baru, berusaha menyertakan mahasiswa. Alasannya pun dibuat logis, bahwa akan ada agenda pembicaraan mengenai kepemudaan, khususnya pertukaran mahasiswa. Setelah itu, Rektor Perguruan Tinggi seluruh Indonesia dikumpulkan Mendikbud untuk diberikan pemahaman mengenai logika pemerintah menaikkan harga BBM. Namun, mahasiswa tak bergeming. Ketua BEM perguruan tinggi menolak diajak jalan-jalan ke Cina. Rektor, pascapertemuan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tidak ada yang mengeluarkan statemen.

Sebaliknya, partai oposisi yang dipimpin PDI-P secara langsung mendukung gerakan politik mahasiswa dengan ikut serta turun ke jalan memprotes kenaikan harga BBM. Beberapa kepala daerah yang berasal dari partai oposisi dituduh menggerakkan masa mendukung demonstrasi mahasiswa. Akibatnya, menteri dalam negeri mengancam akan memecat bupati atau gubernur yang menggerakkan massa turun ke jalan itu.

Meskipun partai politik mendukung gerakan politik perguruan tinggi turun ke jalan, nyatanya mahasiswa sebagai motor gerakan tidak terseret pada politik praktis, misalnya gerakan turunkan presiden atau bubarkan pemerintah seperti terjadi pada tahun 1998. Walaupun ada, wacana itu bukanlah premis mayor gerakan politik perguruan tinggi. Namun, fenomena ini telah menyulut api sekam gerakan politik perguruan tinggi.

Purifikasi

Bila pada masa lalu gerakan politik perguruan tinggi dengan demonstrasi di jalanan dimulai dari perguruan tinggi besar di ibu kota, maka kini gerakan dimulai dari daerah, dari perguruan tinggi swasta kecil. Apakah ini menunjukkan perguruan tinggi besar di ibu kota tidak peduli dengan urusan harga BBM yang berkaitan dengan kepentingan rakyat kecil? Tidak juga, perguruan tinggi besar di ibu kota sebenarnya menyadari bahwa dari sudut pandang ekonomi makro, kenaikan (baca: penyesuaian) harga BBM dipandang logis. Demi terjaganya pertumbuhan ekonomi, dengan perhitungan yang akurat, kenaikan harga BBM dipandang sebagai salah satu turbulensi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena masalah kenaikan harga BBM ini sangat sensitif digunakan sebagai alat politik menjatuhkan pemerintah, maka ada nuansa kehati-hatian perguruan tinggi besar di ibu kota untuk melakukan kegiatan total dalam menyikapi kenaikan harga BBM itu. Mereka takut dituduh ditunggangi, dibayar, ataupun dikooptasi kepentingan politik praktis.

Alhasil, perguruan tinggi besar di ibu kota lebih memilih untuk memperjuangkan aspirasinya melalui jalur formal dengan mengikuti sidang di gedung parlemen. Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana wakil rakyat yang tengah dibelenggu ketidakpercayaan publik akibat korupsi, mobil mewah, malas sidang, perpecahan koalisi, dan persoalan lain mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM atau tidak.

Kalaupun ada gerakan demonstrasi cukup besar di luar gedung DPR/MPR saat paripurna penentuan kenaikan harga BBM, namun itu lebih diakibatkan desakan dari demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah oleh mahasiswa perguruan tinggi swasta kecil di daerah. Aparat pun terkesan membiarkan demonstrasi itu berlangsung, sampai waktunya harus dibubarkan.

Fenomena menarik dari gerakan politik perguruan tinggi yang terjadi selama ini ialah terjadinya apa yang disebut purifikasi gerakan yang dimurnikan oleh situasi dan keadaan konstelasi politik nasional yang semakin hari tampak semakin tak tentu arah. Kritik besar terhadap kegagalan sistem demokrasi yang diperjuangkan melalui gerakan reformasi semakin sering didengungkan, baik oleh politisi oposisi di luar pemerintahan maupun oleh politisi yang sedang menikmati kekuasaan di pemerintahan.

Purifikasi gerakan politik perguruan tinggi tampak dari gejala semakin kreatifnya gerakan politik itu dilakukan. Pengambilalihan lahan, blokade wilayah industri, sampai pendudukan bandar udara, pelabuhan, dan gedung pemerintahan telah mulai dilakukan. Bak gayung bersambut, gerakan politik perguruan tinggi juga diikuti oleh gerakan petani memperjuangkan lahannya, gerakan buruh menaikkan upah, dan gerakan kaum miskin kota memperjuangkan nasibnya.

Api Sekam

Rezim pemerintahan saat ini, bila dicermati dibebani oleh dua kasus besar, yakni kasus kecurangan pemilu dan mega korupsi. Dua periode pemerintahan SBY, ditandai hengkangnya anggota KPU ke Partai Demokrat. Anas Urbaningrum yang sekarang berhasil menjabat ketua umum Partai Demokrat lebih dulu meninggalkan KPU yang kemudian pada periode berikutnya disusul Andi Nurpati. Secara implisit peristiwa itu menandakan adanya hubungan antara anggota KPU dengan proses terpilihnya SBY sebagai presiden dan melambungnya perolehan kursi DPR yang direbut Partai Demokrat.

Mega korupsi? Tentu saja dapat menjadi alat ampuh lawan SBY dan Partai Demokrat untuk menghancurkannya. Bukankah dalam teori politik ada istilah to kill or to be kill? Kasus Bank Century, kasus politik uang pemilihan ketua umum Partai Demokrat, dan kini kasus-kasus mega proyek yang menyeret petinggi partai bisa menjadi senjata ampuh menghancurkan SBY dan Partai Demokrat.

Fenomena mantan kepala negara dijadikan pesakitan setelah menjabat telah terjadi di negara tetangga seperti Thailand dan Filipina. Melihat kecenderungan itu, bukan mustahil juga akan terjadi di negeri ini. Pada saat itu, api sekam gerakan politik perguruan tingga siap menyala.

Penulis, mengajar di Fakultas

Sastra Unud dan Pascasarjana Unhi

Membaca, Perlukah Didefinisikan-Kembali?: Apakah Pendidikan Kita Berbasis Buku?

Membaca, Perlukah Didefinisikan-Kembali?: Apakah Pendidikan Kita Berbasis Buku? (2)

Oleh Hernowo

in:dikbud@yahoogroups.com , Tuesday, 24 April 2012, 4:59

http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/527471_10150787499509797_678704796_9617112_1179656203_a.jpg
“Setiap kali aku membuka sebuah buku, aku menguak sepetak langit. Pabila aku membaca sederetan kalimat baru, aku lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan lebih luas.”
—Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup dalam Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
“Pak Hernowo, masyarakat kita—khususnya anak didik kita di sekolah—jelas memerlukan buku. Apalagi buku yang dapat memberikan paradigma baru terkait dengan sesuatu. Salah satu manfaat buku—kalau buku itu benar-benar dibaca lho—adalah ia akan membantu seseorang dalam membuka wawasan baru dan, kemungkinan besar, mengganti paradigma lama dengan yang baru. Paradigma baru kita perlukan karena yang lama mungkin sudah usang dan tak relevan lagi. Jadi, pendidikan berbasis buku adalah sebuah keniscayaan.”
Seorang peserta seminar tiba-tiba saja menyela dan memberikan sebuah pandangan yang jernih. Hanya, selang beberapa waktu kemudian—setelah menyampaikan pandangannya yang jernih tentang manfaat sebuah buku—dia terdiam cukup lama. Dalam keterdiamannya itu, seakan-akan dia ingin menarik pernyataannya yang jernih dan bermanfaat itu. Lantas, dia pun tiba-tiba juga menyampaikan hal berikut ini dengan lirih, “Namun Pak Hernowo, saya ragu, apakah buku-buku yang beredar di sekolah-sekolah kita itu benar-benar dibaca oleh anak didik kita?”
Saya tertegun dan tentu kaget mendengar keraguan yang dimunculkannya. Apakah anak didik kita benar-benar membaca buku-buku yang digunakan oleh mereka di sekolah sebagaimana makna membaca yang disampaikan oleh Gaarder dan Hagerup: mampu mengembangkan pikiran? Atau, buku-bukui tersebut tetap dibaca oleh anak didik kita tetapi cara membacanya berbeda dengan membaca dalam makna Gaarder dan Hagerup? Bagaimana kita dapat mendeteksi kegiatan membaca anak didik kita? Apakah kita dapat mengecek, misalnya, dampak membaca yang ditimbulkan oleh kegiatan membaca anak didik kita?
Di era cyberspace, seperti saat ini, definisi membaca sepertinya perlu dirumuskan kembali. Membaca yang saya maksud adalah membaca teks (tulisan)—yang terdiri atas deretan kata, istilah, kalimat, dan mungkin saja bentukan-bentukan lainnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991, h. 83), salah satu makna kata “membaca” dipadankan dengan “memahami”. Sementara kata “membaca” sendiri, salah satunya, didefinisikan sebagai “melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati).” Apakah di era sekarang, membaca (to read) cukup jika dipadankan dengan memindai (to scan)?
Apabila memang membaca saat ini tak lain dan tak bukan sekadar memindai, bolehkah definisi membaca di dalam KBBI direvisi menjadi cukup dikatakan sebagai “melihat dari apa yang tertulis”? Dalam definisi membaca yang baru ini, tambahan “serta memahami isi” menjadi tidak diperlukan lagi. Membaca, kemungkinan besar, memang hanya melihat dan tidak perlu memahami isi atau materi yang dibaca tersebut. Benarkah kita—terutama anak didik kita—tengah menjalankan kegiatan membaca yang demikian? Wallahu a’lam.[]

FALSAFAH HIDUP BUDAYA HUMA BETANG Dalam Membangun Kerukunan Hidup Umat Beragama Di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah

BEDAH BUKU

FALSAFAH HIDUP BUDAYA HUMA BETANG

Dalam Membangun Kerukunan Hidup Umat Beragama

Di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah

 

Oleh Drs. Silvanus Subandi, STL, Pr.

 

1.Pendahuluan

Puji syukur ke kahadiran Tuhan Yang Maha Esa karena berkat-Nya lah sehingga semakin banyak orang menaruh perhatian pada studi tentang  falsafah budaya yang memiliki nilai tinggi dalam kaitannya dengan kerukunan hidup antar umat beragama. Kita perlu memberikan kepada Dr.Muhammad dan Abubakar ,H.M. yang telah menyajikan hasil kajiannya yang berjudul Falsafah Hidup Budaya Betang Dalam Membangun Kerukunan Hidup Umat Beragama di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Hasil karya ini dapat menjadi tambahan referensi dalam studi tentang nilai-nilai universal yang melandasi prinsip hidup bersama yang terkandung dalam falsafah budaya huma betang. Perlu disadari bahwa buku referensi dalam studi tentang budaya Dayak sangat terbatas dan sulit untuk ditemukan, dan karena itu pula maka sangat sedikit kaum muda yang tertarik untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan budaya Dayak.

Dengan penerbitan buku Falsafah Hidup Budaya Huma Betang karya Dr. Muhammad dan Abubakar, H.M. ini dapat menambah minat para tokoh masyarakat Dayak dan terutama kaum mudanya untuk mengadakan penelitian dan menulis buku tentang kekayaan nilai budaya Dayak. Hal ini sangagt penting mengingat  masyarakat sekarang sedang menghadapi era globalisasi ekonomi dan teknologi yang dapat mengikis nilai-nilai budaya lokal yang sangat luhur ke periperi. Paradigma perubahan budaya ini sungguh nyata, sebagai contoh kita dapagt medlihat trend ke barat-baratan di kalangan kaum muda. Tidak jarang kita menemukan anak muda yang lebih mengenal budaya asing daripada budayanya sendiri. Ada anak Dayak malu menyebut dirinya sebagai orang Dayak karena takut dianggap orang udik. Bertolak dari paradigm tedrsebut maka studi tentang budaya sangatlah penting. Berkaitan dengan isi buku Falsafah Hidup Huma Betang ini penulis ingin menyampaikan beberapa gagasan berikut.

 

2.Nilai-Nilai Hidup Dalam Masyarakat Multireligius Dan  Multikultural

Bab 2 dalam buku yang berjudul Falsafah Hidup Huma Betang, Dr. Muhammad secara lugas menjelaskan tentang prinsip dasar kehidupan dalam masyarakat multireligius dan multikultural. Pada bagian awal dari bab ini beliau  menjdlaskan tentang agama sebagai identitas sosial. Bangsa  Indonesia yang berasakan Pancasila  dan UUD 1945 menggambarkan masyarakat yang religious. Dalam konteks ini agama memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Agama memberikan panduan dalam membangun kehidupan yang sempurna, di mana para penganut agama tersebut dapat mengalami kedamaian dan kebahagiaan. Agama Kristen misalnya mengajarkan umatnya untuk membangun hidup yang sempurna sesuai dengan martabatnya sebagai anak-anak Tuhan, “haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu adalah sempurna” (Mat.5:48). Kesempurnaan hidup tersebut  diwujudkan dengan  membangun kehidupan sesuai dengan ajaran Tuhan  yang tertulis dalam Alkitab. Kiranya tuntutan  membangun hidup sempurna ini juga tgerdapat dalam semua agama.Ajaran Kaharingan misalnya mengajarkan agafr pemeluk agama tersebutg membangun kehidupan yang harmonis dengan Tuhan, sesama dan alam.

Dengan tercapainya kehidupan yang sempurna maka terciptalah citra pribadi manusia yang integral, yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh pelbagai hal yang membahayakan baik hidupnya sendiri, keluarga dan masyarakat luas. Bangsa di mana masyarakatnya beriman kuat akan menjadi  bangsa yang kuat, bersatu dan peduli terhadap sesama.

Namun demikian, penghayatan agama yang sempit dapat menjadi sumber komflik, lebih-lebih dalam kehidupan masyarakat multireligius. Adanya pemahaman bahwa agamanyalah yang paling benar sedangkan agama yang lain tidak benar dapat menjadi sumber konflik dan berbahaya. Sejarah telah mencatat berbagai peristiwa konflik antar agama yang membawa kehancuran dan degradasi  nilai kehidupan yang merupakan pemberian Tuhan.Konflik antar agama dapat menjadi sangat berbahaya bilamana telah disusupi oleh motif politik yang menguntungkan bagi kelompok tertentu.

Konflik tidak hanya timbul dari perbedaan agama, tetapi bisa juga timbul dari masalah keragaman budaya. Perbedaan ungkapan dan bahasa dalam pelbagai  budaya dapat menjadi sumber  konflik horizontal  dalam masyarakat. Contoh, kata “lalawah” dalam kalimat “tege lalawah hete na” , harafiahnya berarti “ada penyengat di situ”, tetapi kalimat yang sama dalam bahasa lain bisa berarti “lama-lamalah kamu di situ”. Contoh lain, dalam kalimat “linon luen taka” yang harafiahnya berarti “apa sayur kita”. Hal semacam ini dapat menyebabkan miskomunikasi yang men garah pada konflik.

Dalam situasi keragaman budaya dan agama kiranya seluruh anggota masyarakat dan para tokoh agama kiranya perlu memiliki sikap inklusif dengan memandang yang lain juga berada pada jalan kebenaran. Karena sikap ekslusif tidak hanya dapat mengganggu relasi antar umat beragama, tetapi lebih dari itu yang paling merasakan dampaknya adalah kehidupan keluarga-keluarga yang menganut agama yang berbeda. Sebagai contoh dalam keluarga bedsar penulis ada yang pendeta, ada yang pastur, ada yang guru agama Kaharingan, dan ada yang Muslim. Pada peristiwa tertentu, kami semua  berkumpul   dalam satu rumah.

Bisa dibayangkan , bila orang memiliki sikap ekslusif maka keluarga ini tidak mungkin bisa bersatu, sebaliknya akan berseteru atas dasar agama masing-masing.Prinsip yang dipegang dalam keluarga ini adalah prinsip daqsar saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Prinsip hidup inklusif  dan pluralis membawa orang untuk bisa melihat kebenaran yang juga ada dalam agama dan  budaya yang lain. Sehubungan dengan relasi dengan agama-agama non Kristen , Konsiukli Vatikan II, khususnya dalam dokumen Nostra AQetate Art.2 mengajarkan bahwa:

“Gereja Katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serba benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi toh tidak jarang memantulkan kebenaran yang menerangi semua orang”.

Selanjutnya Dalam Art.5 dari dokumen yang sama, para pemimpin Gereja mengajarkan  bahwa “tidak ada dasar bagi setiap teori atau praktek, yang mengadakan pembedaan mengenai martabat manusia serta hak-hak yang bersumber padanya antara manusia dengan manusia, antara bangsa dengan bangsa”. Sikap demikian lahir dari ajaran Tuhan untuk mencintai sesama seperti dia mencintai diri sendiri . Tuhan bersabda: ”sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Dengan demikian sikap inklusif dan pluralis membawa setiap orang untuk memandang sesama sebagai saudara meski berbeda agama dan budaya.

Falsafah Huma Betang Sebagai Pemersatu Bangsa

Huma betang merupakan tipikal rumah keluarga masyarakat Dayak pada zaman dulu yang berukuran besar, tinggi, dan panjang, dan dapat dihuni oleh banyak keluarga, yang di Kalimangtan Timur disebut lamin.  Motif pembangunan huma betang, sebagaimana telah diuraikan oleh Dr.Muhammad pada halaman 51 dalam buku ini adalah, pertama, untuk menjaga keamanan keluarga dari bahaya serangan binatang buas, seperti ular, beruang, semut api, dll. Rumah dibuat tinggi, juga dimaksudkan untuk melindungi diri dari banjir dan serangan musuh dari suku lain, seperti perampokan dan pangayauan.

Pada zaman sekarang, orang tidak lagi membuat rumah panjang model zaman dulu, karena berbagai alasan, namun demikian, semangatnya tetap dihayati dan dipelihara.  Meski pun tidak lagi sebagai penghuni rumah betang, namun semangat atau nilai falsafah huma betang tetap dipelihara secara turun-temurun.

Nilai-nilai tersebut adalah:

a.Kesetaraan

Masyarakat Dayak pada dasarnya tidak mengenal adanya budaya feodalisme. Bagi mereka berlaku prinsip kesetaraan derajat di hadapan Ranying Hatalla Langit. Laki dan perempuan memiliki tanggungjawab  yang sama dalam keluarga. Dalam rumah betang seluruh penghuni memiliki kedudukan yang sama, dan semangat ini mengikat mereka akan tanggungjawab bersama atas kedamaian dan ketenteraman.

b. Persaudaraan dan Kekeluargaan

Semangat persaudaraan menjadi pemersatu  seluruh anggota komunitas. Semangat inilah yang membuat  mereka bersatu dan berjuang bersama dalam menghadapi tantangan dari luar dan menyelesaikan persoalan dengan semangat musyawarah mufakat dan gotong-royong. Berbeda dengan Dr. Muhammad yang mengatakan bahwa perbedaan kompetensi dianggap sebagai kunci  perekat komunitas betang dalam membangun kehidupan bersama (lihat:hlm. 59).Sebaliknya kami memandang bahwa justru semangat persaudaraan inilah yang menjadi perekat bagi anggota komunitas dalam menghadapi persoalan akibat perbedaan kompetensi. Perbedaan kompetensi dilihat sebagai karakter manusiawi yang kemudian saling melengkapi sebagai satu komunitas. Ibaratnya perbedaan-perbedaan kompetensi di antara anggota komunitas  dilihat sebagai karakter khas dari bagian-bagian tubuh tubuh yang pada akhirnya saling melengkapi sebagai satu keluarga. Segala persoalan dalam komunitas diselesaikan dengan musyaawah mufakat dalam ikatan persaudaraan dalam keluarga besar.

c. Belom Bahadat

Yang dimaksudkan dengan belom bahadat adalah prinsip dasar hidup yang menjunjung tinggi nilai adat-istiadat yang menekankan nilai moral dan spiritual seperti hormat terhadap orangtua, sesama, alam semesta dan Sang Pencipta. Falsafah “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” sebenarnya mau menekankan sikap moral untuk menghormati budaya orang di mana kita berada. Membangun sikap hormat terhadap sesama dan nilai-nilai budaya setempat.

d. Hubungan Antar Agama

Bertolak dari falsafah huma betang yang telah dijelaskan di atas sebenarnya, perbedaan agama dan komunitas masyarakat Dayak tidak menjadi permasalahan yang krusial. Orang hidup saling menghormati dan menghargai dalam semangat persaudaraan dan kekeluargaan. Masalah muncul ketika banyak pendatang yang karena kurang memahami, lalu kurang menghargai nilai-nilai budaya setempat (belom dia bahadat).

Demikian tanggapan kami atas isi buku “Falsafah Hidup Budaya Huma Betang Dalam Membangun Hidup Umat Beragama Di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah” /karya Dr. Muhammad dan Abubakar, H.M.***

Disampaikan dalam Forum Diskusi Kalteng Pos, yang diselenggarakan oleh kerjasama Harian Kalteng Pos dan Lembaga  Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, 13 April 2012 di Gedung Biru Kalteng Pos, Palangka Raya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers