Archive for the ‘Budaya’ Category

Buah dan Sayuran Disulap Jadi Alat Musik

Buah dan Sayuran Disulap Jadi Alat Musik  

Tim Liputan 6 SCTV

14/03/2012 12:32 | Gaya Hidup
Liputan6.com, Beijing: Buah dan sayur ternyata tak hanya jadi santapan lezat bergizi. Di tangan dua orang seniman Cina, buah dan sayur bisa disulap menjadi alat musik. Seperti apa kreativitas kakak beradik ini?

Berbelanja ke pasar tradisional menjadi kegiatan favorit Nan Weidong dan Nan Weiping, dua kakak beradik di Kota Beijing, Cina, Rabu (14/3).

Uniknya saat berbelanja, cara kedua kakak beradik ini memeriksa sayuran, berbeda dengan orang umumnya. Tak cuma melihat warna, bentuk, dan bau, keduanya juga kerap meniup sayuran yang dibeli.

Usai belanja, sayur dan buah mulai dipotong dan dikeruk. Namun, bukannya dimasak untuk dimakan, buah semacam singkong, labu, dan wortel dijadikan alat musik.

Sayur dan buah ternyata mempunyai nada yang berbeda jika ditiup. Hingga bisa dijadikan alat musik yang berbeda pula. Misalnya kentang bisa jadi Okarina, batang bambu jadi flute, dan sayur yam menjadi peluit.

Suara yang dihasilkan tak kalah dengan alat musik umumnya. Kuncinya adalah memilih buah dan sayur yang masih segar dan mengandung banyak air sehingga nada yang dihasilkan lebih akurat.

Berkat alat musik sayuran segar ini, dua bersaudara nan kerap mendapat undangan pertunjukan dan dibayar mahal antara 40 hingga 70 juta sekali tampil.(Reuters/MEL)

Transfer Pendidikan ke Singapura, Mau?

Transfer Pendidikan ke Singapura, Mau?

Indra Akuntono | Inggried Dwi Wedhaswary | Senin, 12 Maret 2012 | 08:24 WIB

Shutterstock Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com – Banyak sekali cerita tentang pelajar yang salah memilih program studi. Alih-alih menambah wawasan dan memperdalam suatu disiplin ilmu, yang terjadi justru berbanding terbalik saat telah memulainya. Hal ini bukan tak mungkin bisa menyebabkan mahasiswa menjadi stres dan putus asa.

Salah memilih program studi bisa terjadi karena berbagai alasan. Tergesa-gesa, atau tidak memahami betul konten program studi yang dipilih merupakan di antaranya. Tetapi, jangan berlarut-larut dalam penyesalan. Studi harus tetap lanjut, kan?

Saat ini, sistem transfer nilai banyak dilakukan oleh universitas di berbagai negara. Singapura salah satunya.

General Direktur Universal, sebuah agen pendidikan Singapura, Suwito mengatakan, univerisitas-universitas di Singapura sangat cocok dijadikan sasaran tembak untuk mengatasi kegagalan pada program studi yang telah dipilih sebelumnya. Mengapa?

Ia menjelaskan, sistem pendidikan di Singapura sangat bervariasi. Di mana seluruh pelajar, termasuk pelajar internasional dimungkinkan untuk menrasfer nilai kuliahnya. Pelajar dari program studi A, misalnya, dapat pindah ke program studi B dengan peluang maksimal mentransfer nilai sampai dengan 75 persen.

“Tak perlu putus asa, Singapura bisa dijadikan planning B. Meski program studinya berbeda, tapi mereka tak perlu memulai dari awal. Peluangnya cukup besar, bisa sampai 75 persen,” kata Suwito saat ditemui Kompas.com, dalam Pameran Pendidikan Singapura, di Jakarta, Minggu (11/3/2012).

Selain itu, menurut dia, Singapura menetapkanbiaya pendidikan yang relatif terjangkau. Jika dibandingkan, biaya pendidikan di Singapura lebih murah 40 persen daripada Australia.

Faktor lainnya adalah jarak yang tidak berjauhan dengan Indonesia, posisi mata uang yang cukup stabil, dan terbukanya peluang bekerja bagi seluruh pelajar internasional di negara tersebut.

“Banyak lulusan yang langsung kerja dan dihargai lebih bagus di atas standar,” ujar Suwito.

Menelusuri Situs Gunung Nagara

 

Menelusuri Situs Gunung Nagara

Aldo Desatura ™

<hanjakal@gmail.com>,

in: wanita-muslimah@yahoogroups.com, Monday, 12 March 2012, 9:35

DALAM peradaban tatar Sunda, Kabupaten Garut pada
umumnya, khususnya wilayah Garut selatan kurang begitu
diperhatikan. Terlebih jika dikaitkan dengan kerajaan
atau dengan isu penyebaran ajaran Islam. Sebab,
dipungkiri ataupun tidak, di wilayah Kabupaten Garut
tidak pernah berdiri kerajaan besar sekaliber Galuh
Pakuan, Sumedang Larang, Pajajaran, Kasepuhan dan
Banten. Akan tetapi, realitas tersebut tidak menutup
kemungkinan kalau di wilayah Garut pernah berdiri
kerajaan kecil yang dijadikan basis penyebaran agama
Islam di wilayah Garut Selatan yang terjadi sekira
awal abad ke 13.

Situs Gunung Nagara

BATU Nisan, salah satu peninggalan yang masih
tersisa.*DOK. PRIBADI

Berbicara tentang gunung, pikiran kita tertuju pada
sebuah gunung cukup tinggi. Sebenarnya, Gunung Nagara
bukanlah gunung dalam artian para pecinta alam. Ia
lebih merupakan bukit yang memiliki keragaman flora
cukup unik. Di tempat tersebut masih banyak terdapat
pohon burahol, menyan, kananga, bintanu, kigaru,
binong serta masih banyak jenis tumbuhan lainnya yang
mungkin secara ilmiah belum dikenal, dan belum
diketahui manfaatnya bagi kehidupan manusia.

Kekayaan fauna juga dimiliki hutan Gunung Nagara.
Kalau kebetulan, kita akan menemukan burung rangkong
(Buceros rhinoceros) yang sedang asyik berduaan
bersama pasangannya di atas pohon yang cukup tinggi.
Tubuhnya yang cukup besar diperindah dengan mahkota
oranye di atas kepalanya. Bagi yang pertama kali
menemukan burung ini, mungkin akan merasa aneh, sebab
ketika burung tersebut akan terbang, biasanya memberi
aba-aba dengan suara “gak” yang keras mirip suara
monyet. Lantas, ketika sudah tinggal landas, kepakan
sayapnya mengeluarkan suara yang dramatis. Selain
burung Rangkong, masih terdapat hewan langka lainnya
semisal kambing hutan, landak, kucing hutan, macan
kumbang, walik, surili, dan beragam jenis kupu-kupu.

Secara geografis, ia terletak di wilayah Desa
Depok-Cisompet-Garut. Menuju daerah tersebut relatif
gampang, dari terminal Garut kita hanya tinggal naik
elf jurusan Pamengpeuk-Garut dengan membayar ongkos RP
10.000,00, atau jika berangkat dari Bandung, kita
tinggal naik bus tiga perempat jurusan
Bandung-Pameungpeuk dengan membayar ongkos Rp
15.000,00. Kita minta diturunkan di Kampung Pagelaran.
Dari kampung tersebut, bukit gunung Nagara sudah
tampak begitu jelas, namun sekilas tidak ada jalan
menuju bukit tersebut, yang terlihat hanyalah tebing
cadas yang menurut pemikiran normal tidak mungkin
untuk didaki tanpa peralatan panjat.

Dari Kampung Pagelaran, kita tinggal berjalan kaki
menuju Kampung Depok dengan jarak sekira satu
kilometer. Menurut hikayat, nama Depok dikaitkan
dengan padepokan. Artinya, perkampungan tersebut pada
awalnya merupakan padepokan tempat peristirahatan para
gegeden. Sebenarnya, menurut Ki Ecep (sesepuh
kampung), pada era enam puluhan, kampung Depok masih
merupakan perkampungan dengan tradisi yang sama dengan
Baduy. Akan tetapi, setelah kampung tersebut
dibumihanguskan gerombolan DI/TII, terjadi perubahan
cukup signifikan. Sekarang tidak akan lagi terlihat
rumah-rumah panggung berjajar menghadap kiblat.

Perjalanan Pagelaran-Depok akan melintasi sungai
Cikaso. Bagi mereka yang suka akan keindahan alam,
alangkah baiknya terlebih dahulu mengunjungi Batu Opak
yang berada kurang lebih setengah kilometer ke arah
hulu. Di tempat tersebut kita akan menyaksikan
fenomena geologis, yakni batu yang berjajar secara
sinergis dari arah bukit menuju sungai dengan bentuk
mirip seperti opak. Penduduk sekitar menghubungkan
fenomena geologis tersebut dengan legenda Sangkuriang.
Yaitu, ketika Sangkuriang akan menikah, Embah
Rajadilewa (penguasa daerah selatan) mau membantu
nyambungan. Akan tetapi, baru saja mereka sampai di
Leuwi Tamiang, dari arah timur terlihat fajar,
sehingga mereka menyimpan barang bawaannya di tempat
tersebut, hingga ia berubah menjadi batu.

Bagi mereka yang baru mengunjungi tempat ini, di
kampung Depok inilah bisa menemui Ki Sanang (kuncen)
untuk minta diantar. Dari Depok, kita melanjutkan
perjalanan menuju Cidadap dengan jarak kurang lebih
setengah kilometer, perjalanan ini melewati pesawahan
yang tidak terlalu luas. Di Cidadap inilah terdapat
mata air yang dikeramatkan. Secara nalar, air dapat
menyegarkan badan. Perjalanan baru akan mendapat
tantangan manakala kita mulai merayap mendaki jalanan
setapak yang cukup terjal (Cidadap-Gunung Nagara).
Terkadang kita harus melewati jalanan yang
kemiringannya mencapai 75 derajat. Dari Cidadap, kita
tidak akan menjumpai jalanan yang datar, kanan kiri
jalan masih terdapat banyak pohon besar, sehingga
walaupun kelelahan kita bisa beristirahat cukup
santai. Perjalanan ini jika ditempuh dengan santai
paling-paling memakan waktu sekira setengah jam.

Sesampainya di puncak Gunung Nagara, secara langsung
kita telah sampai di kompleks pemakaman. Tempat itu
dikenal dengan pusaran ka hiji (kompleks pertama) yang
di tempat ini terdapat dua puluh enam kuburan.
Kuburan-kuburan tersebut relatif besar-besar. Setiap
kuburan dihiasi batu “sakoja” dan batu nisan. Dinamai
sakoja, karena batu tersebut berasal dari sungai
Cikaso diambil dengan menggunakan koja (kantong).
Kalau kita perhatikan secara seksama, komplek
pekuburan tersebut tersusun secara rapi membentuk
sebuah struktur organigram. Lima belas meter ke arah
utara, terdapat kuburan yang dikenal dengan pusaran
kadua. Di tempat ini hanya terdapat dua kuburan.
Sekira dua kilometer ke arah utara, terdapat kuburan
yang dikenal dengan pusaran katilu yang hanya terdiri
dari dua kuburan. Konon kabarnya, kuburan ini
merupakan kuburan Embah Ageung Nagara dan patihnya.

Menurut Kepala Desa Depok, Abdul Rasyid, tiga pusaran
tersebut melambangkan Alquran yang terdiri dari 30
juz. Pusaran pertama yang terdiri dari 26 kuburan
melambangkan bagian Mufassal (surat-surat) pendek,
pusaran kedua melambangkan al-mi’un dan pusaran ketiga
melambangkan sab’ul matsani. Oleh sebab itu, tidak
diperbolehkan menambah kuburan. Lebih lanjut, ia
mengatakan kalau pada pusaran pertama itu terdiri dari
para pengikut/pengawal yang salah satu di antaranya
perempuan, pusaran kedua merupakan kuburan panglima
dan pusaran ketiga merupakan kuburan raja dan patih.
Sebenarnya, jika kita mau melanjutkan perjalanan ke
arah utara, kita akan menemukan sebuah kuburan yang
terpisah, konon kabarnya kuburan tersebut merupakan
kuburan seorang berbangsa Arab.

Lebih jauh, menurut Abdul Rasyid, sebenarnya situs
Gunung Nagara terdiri atas beberapa peninggalan dalam
bentuk barang. Namun sayang, naskah aslinya terbakar
manakala gorombolan (DI/TII) menyerang Kampung Depok,
sedangkan beberapa naskah lainnya yang tersisa dan
barang-barang peninggalan sudah menjadi milik orang
Tasik. Barang-barang yang masih ada, terpencar di
perseorangan.

Bagi para peziarah yang terbiasa melakukan semedi,
disyaratkan baginya untuk melakukan ritual mandi di
Sumur Tujuh. Sumur tersebut berada sekira setengah
kilometer ke arah lembah. Sumur itu berada tepat di
dekat sungai kecil. Sebenarnya, sumur itu merupakan
kubangan-kubangan kecil akibat dari resapan air.

Legenda Kian Santang

Menurut sebagian besar masyarakat Depok, Situs Gunung
Nagara erat kaitannya dengan penyebaran Islam di
wilayah Garut Selatan yang disebarkan atas jasa Prabu
Kian Santang. Malahan diklaim kalau sesungguhnya
daerah Leuweung Sancang merupakan tempat
peristirahatan terakhir Prabu Siliwangi (raja
pajajaran yang terkenal), sehingga begitu melegenda
kalau di leuweung tersebut terdapat harimau
jadi-jadian, bekas pasukan Prabu Siliwangi. Sementara
itu, walaupun terdapat daerah yang diklaim sebagai
tempat peristirahatan terakhir Prabu Siliwangi,
penduduk Garut selatan meyakini bahwa kuburan asli
Prabu Kian Santang itu berada di kompleks pemakaman
Gunung Nagara.

Menurut mereka, keberadaan kuburan lainnya hanya
merupakan tempat persinggahan Prabu Kian Santang.
Misalnya saja pemakaman Godog di daerah
Suci-Karangpawitan-Garut. Mereka menyatakan kalau
sesungguhnya di tempat tersebut Prabu Kian Santang
hanya tinggal berkontemplasi merenungi kekeliruannya
dalam melakukan sunat terhadap orang yang masuk Islam.
Oleh sebab itu, tempat tersebut dinamakan “Godog” yang
mengandung arti tempat penyucian jiwa atau dalam
istilah pewayangan “Kawah Candradimuka”, dan karenanya
pula tempat ketika ia turun dari daerah tersebut
dinamakan “Suci”, yang berarti setelah melakukan
kontemplasi ia kembali pada kesucian yang kemudian
melanjutkan perjalanan menuju Garut Selatan.

Dari data-data sepintas tersebut, rasanya tidak
terlalu berlebihan kalau sesungguhnya Gunung Nagara
menyimpan rahasia yang harus segera dieksploitasi,
baik bagi kepentingan pendidikan ataupun bagi
kepentingan pariwisata. (Penulis adalah anggota KPA
Jirim)

OLEH RONI NUGRAHA

Menelusuri Peradaban Zaman Batu di Cipari

Menelusuri Peradaban Zaman Batu di Cipari

Aldo Desatura ™
<hanjakal@gmail.com>,

in:wanita-muslimah@yahoogroups.com,Monday, 12 March 2012, 9:41

Kuningan, bagi para arkeolog merupakan sebuah daerah yang banyak menyimpan misteri masa lalu, terutama zaman megalitikum. Memang masih banyak benda peninggalan masa lalu yang dapat ditemukan di Kabupaten Kuningan. Bahkan ekskavasi secara berkala pernah dilakukan oleh Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta pada tahun 1974.

Beragam temuan banyak didapati di hampir seluruh wilayah kabupaten yang terletak di kaki Gunung Ciremai ini. Mulai dari menhir, batu dakon, meja batu, hingga peti kubur batu tersebar. Tercatat, 14 buah peti kubur batu terdapat di Desa Cibuntu, Kecamatan Mandirancan, Palatagan (Pancalang), Rajadanu (Jalaksana), Raga Wacana (Kramat Mulya), Panawar Beas (Cigugur), dan di Desa Cigadung serta Pager Barang Citangtu Kecamatan Kuningan Kota.

Taman Purbakala Cipari berada di lingkungan Cipari, Kelurahan Cigugur. Terletak pada sebuah perbukitan dan berada di bagian barat Kuningan. Jarak tempuh dari pusat kota sekitar 3,5 kilometer dengan kondisi jalan sudah beraspal. Untuk menikmati suasana pedesaan, Anda dapat menggunakan sarana transportasi berupa delman. Hanya dengan membayar Rp 15 ribu, kusir delman akan mengantarkan perjalanan wisata Anda ke Taman Purbakala Cipari, Kolam Ikan Cigugur, dan Desa Adat Cigugur yang terkenal dengan tradisi Seren Taun -nya.

Perjalanan di Kabupaten Kuningan, diawali di situs purbakala Cipari. Di situs purbakala ini tersimpan beraneka ragam peninggalan manusia masa lalu terutama yang berkembang pada masa megalitikum. Yang menjadi daya tarik obyek wisata purbakala berupa peti kubur batu yang masih terawat dan tertata rapi serta insitu. Sehingga pengunjung obyek tersebut akan dapat menyimak tentang pola kehidupan manusia masa lalu.

Peti kubur batu yang berada di situs purbakala Cipari sebenarnya memiliki kesamaan fungsi dengan peti-peti kubur lainnya yang banyak ditemukan di wilayah Indonesia. Di Kepulauan Samosir, masyarakat setempat menyebutnya dengan sebutan Tundrum Baho, di Bondowoso Jawa Timur disebut dengan Pandusa, di Gianyar Bali dikenal dengan istilah Sarkofagus, dan di Sulawesi Utara disebut juga dengan nama Waruga. Yang membedakan, peti kubur batu di Cipari terbuat dari lempengan-lempengan batu yang dibentuk menyerupai peti. Batu-batu berupa papan tersebut banyak sekali ditemukan di sekitar lokasi taman wisata purbakala.

Peti kubur batu yang ditemukan di Kabupaten Kuningan rata-rata menghadap ke arah timur laut-barat daya. Pola ini sebenarnya merupakan penggambaran atas konsep-konsep kekuatan alam seperti matahari dan bulan, yang merupakan pedoman budaya manusia yang hidup pada masa megalitikum, di mana mereka selalu berpegang pada pola terbit dan terbenamnya matahari. Di dalam peti kubur batu itu sendiri tidak ditemukan kerangka manusia. Meski demikian, temuan berupa bekal kubur banyak ditemukan di situs yang pernah dijadikan area penelitian oleh Puslit Arkenas secara berkesinambungan sejak tahun 1972 di bawah pimpinan Teguh Asmar.

Selain kubur peti batu, di sekitar lokasi wisata purbakala juga terdapat bangunan punden berundak yang letaknya lebih tinggi dari bangunan megalitik lainnya. Menurut kepercayaan masa lalu, bangunan tersebut berfungsi sebagai sarana untuk penghormatian dan persembahan bagi roh para nenek moyang. Bangunan lain yang tak kalah uniknya adalah berupa menhir, berupa batu yang berdiri tegak yang berfungsi sebagai sarana untuk memperingati seseorang yang masih hidup ataupun kerabat-kerabat yang telah lama meninggal dunia. Menhir juga merupakan salah satu sarana yang berfungsi sebagai tahta kedatangan roh nenek moyang.
Di kawasan Museum Purbakala Cipari tersimpan benda-benda temuan hasil ekskavasi tim LPPN dan Puslitarkenas. Benda-benda seperti kapak batu persegi, gelang batu, kapak batu, gelang perunggu, lumpang batu, batu obsidian, hematite, batu bahan, bulatan tanah, kendil, pendil, jambaran, dan buli-buli tersimpan rapi di dalam museum yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof DR Syarief Thayeb pada 23 Februari 1978. Tidak jauh dari Taman Purbakala Cipari, kira-kira berjarak satu kilo meter ke arah barat, terdapat sebuah desa dengan komunitas masyarakat yang masih menganut tradisi karuhun. Setiap tanggal 22 Rayagung, mereka selalu merayakan tradisi Seren Taun. Yaitu sebuah upacara masyarakat agraris Sunda terhadap limpahan hasil bumi yang diberikan Sang Pencipta kepada umatnya.

”Sampurasun Ka Luluhur, tamada ka Sadayana, cunduk waktu nu rahayu nitih wanci numustari, syukuran Ka nu maha Agung.” Begitulah lantunan bait penuh makna yang diucapkan oleh pemimpin upacara menambah sakral upacara yang digelar setiap tahun sekali oleh masyarakat di Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan. Bahkan, iringan nada-nada gamelan renteng yang melantunkan tembang sanjungan berupa lagu papalayon dan babarit kepada Karuhun atau nenek moyang menambah sakral ruangan paseban Tri Panca Tunggal yang berdiri pada tahun 1840 itu. Tradisi Seren Taun yang setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat agraris di Cigugur sebenarnya makna hampir sama dengan upacara-upacara yang dilakukan oleh para petani di seluruh Indonesia, bahkan petani di negara-negara agraris masih melakukan kebiasaan atau upacara Thank’s Giving kepada Tuhan atas limpahan hasil pertanian.

Mungkin, kita pernah mendengar kebiasan petani di Jawa Tengah dengan tradisi Mapag Sri dan upacara-upacara sejenis lengkap dengan beragam uborampenya. Semua itu merupakan rasa penghormatan yang tak terhingga dari para petani atas limpahan rejeki yang telah diberikan oleh Tuhan Yang maha Esa sehingga hasil bumi-utamanya padi- dapat dinikmati oleh masyarakat. Melalui Seren Taun inilah masyarakat petani di kawasan Cigugur dan sekitarnya menyampaikan rasa syukurnya kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencerminan kesadaran pribadi atas suatu kenyataan yang mereka terima, yakni hidup dengan kehidupan, dengan kehalusan budi, cinta kasih, tatakrama dalam menerima sentuhan cipta, rasa, dan karsa yang diberikan sang Pencipta. Upacara Seren Taun bagi petani di Cigugur selalu diselenggarakan pada setiap bulan Rayagung.

Pangeran Djatikusumah, seorang pinisepuh masyarakat Desa Cigugur, kepada Republika mengungkapkan, prosesi Seren Taun diawali dengan upacara ngajayak atau menjemput padi. Kebiasaan menjemput padi dilaksanakan empat hari sebelum upacara puncak berlangsung. Ngajayak yang digelar pada tanggal 18 Rayagung memiliki makna menyambut cinta kasih atas kemurahan Tuhan. Rentetan prosesi tidak berhenti di situ. Pada tanggal 22 Rayagung, digelar upacara puncak penumbukan padi. Dalam perhitungan tahun Saka, bulan Rayagung merupakan bulan kedua belas atau penghujung tahun. Demikian dengan penetapan perayaan tradisi Seren Taun juga bermakna kehidupan manusia dari tahun ke tahun tidak lain karena keagungan Tuhan pada umatnya. Masyarakat Sunda lebih mengedepankan religiusitas ahklak, kesejahteraan masyarakat, dan menunujukkan bahwa nenek moyang telah memiliki peradaban moralitas.

Prosesi upacara puncak yang berlangsung sakral, diikuti oleh muda-mudi, serta warga masyarakat Desa Cigugur dengan penuh sukacita. Dengan formasi empat penjuru mata angin, upacara ini diawali dengan barisan lulugu, yakni dua orang gadis muda belia yang mengusung padi, buah-buahan, dan umbi-umbian hasil bumi masyarakat yang dikawal oleh seorang pemuda dengan membawa payung janur bersusun tiga. Pada barisan kedua, sebanyak sebelas gadis belia membawa padi yang masing-masing dipayungi juga oleh para pemuda.

Ini disusul dengan rombongan ibu-ibu yang membawa ikatan padi yang disunggi di atas kepala atau menurut masyarakat setempat disebut nyuhun. Rentetan barisan diakhiri dengan rombongan bapak-bapak paruh baya yang memikul padi dengan rengkong sambil digoyang-goyang. Menurut Pangeran Jatikusumah, semuanya itu mengandung makna yang sangat hakiki bagi masyarakat Cigugur.

Banyaknya hasil bumi yang dibawa masyarakat Cigugur ke arena upacara Seren Taun menandakan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan, meski masyarakat di Cigugur dan sekitarnya beragama Islam, Kristen, Budha, Hindu, dan aliran kepercayaan. Masih di kawasan Cipari-Cigugur, wisatawan dapat menikmati sejuknya hawa pegunungan Ciremai sembari bercengkrama dengan ribuan ikan kancra atau sering disebut ikan dewa yang oleh masyarakat setempat sangat disakralkan.

Lokasi kolam keramat Cigugur, terletak kira-kira 200 meter dari desa adat Cigugur atau empat kilometer dari pusat kota Kuningan. Menurut masyarakat setempat, komunitas ikan langka tersebut hanya terdapat di daerah Kuningan. Itu pula sebabnya pemerintah setempat mengangkat ikan kancra sebagai fauna yang dilindungi dan tanaman gadung sebagai flora yang dilindungi dengan perda. Ikan jenis kancra bodas ini selain terdapat di kolam keramat Cigugur, juga hidup secara alami di kawasan obyek wisata Darma Loka, Kolam Keramat Cibulan, Kolam Linggarjati, dan Kolam Cipaniis. n dedy setiono musashi

Legenda Ikan Kancra di Kaki Gunung Ciremai

Kolam Keramat Cigugur terletak sekitar tiga kilometer dari ibukota Kabupaten Kuningan. Secara geografis, ”balong” itu masuk wilayah Kelurahan Cigugur. Menurut cerita yang berkembang dan dipercaya oleh masyarakat setempat, sebelum lahir nama Cigugur, tempat itu acap disebut dengan nama Padara. Istilah ini diambil dari nama seorang tokoh masyarakat, yaitu Ki Gede Padara, yang memiliki pengaruh besar di desa itu.
Konon Ki Gede Padara lahir sebelum Kerajaan Cirebon berdiri. Menurut perkiraan, tokoh yang menjadi cikal bakal masyarakat Cigugur ini lahir pada abad ke-12 atau ke-13. Pada masa itu, beberapa tokoh yang sezaman dengannya sudah mulai bermunculan, di antaranya Pangeran Pucuk Umun dari Kerajaan Talaga, Pangeran Galuh Cakraningrat dari Kerajaan Galuh, dan Aria Kamuning yang memimpin Kerajaan Kuningan. Berdasarkan garis keturunan, keempat tokoh tersebut masih memiliki hubungan persaudaraan. Namun dalam hal pemerintahan, kepercayaan, dan ajaran yang dianutnya, mereka memiliki perbedaan. Pangeran Pucuk Umun, Pangeran Galuh Cakraningrat, dan Aria Kamuning menganut paham aliran ajaran agama Hindu. Sedangkan Ki Gede Padara tidak menganut salah satu ajaran agama.

Pada abad ke-14 di Cirebon lahir sebuah perguruan yang beraliran dan mengembangkan ajaran agama Islam. Tokoh yang mendirikan perguruan tersebut ialah Syech Nurdjati. Selain Syech Nurdjati, Sunan Gunungjati pun memiliki peran yang besar dalam pengembangan perguruan Islam di tanah Caruban itu. Sebagai kuwu pertama di Dusun Cigugur diangkatlah Ki Gede Alang-Alang. Hingga wafatnya, beliau dimakamkan di Kompleks Masjid Agung. Di usia tuanyan, Ki Gede Padara punya keinginan untuk segera meninggalkan kehidupan fana. Namun, ia sendiri sangat berharap proses kematiannya seperti layaknya manusia pada umumnya. Berita tersebut terdengar oleh Aria Kamuning, yang kemudian menghadap kepada Syech Syarif Hidayatullah. Atas laporan itu, Syech Syarif Hidayatullah pun langsung melakukan pertemuan dengan Padara. Syech Syarif Hidayatullah merasa kagum dengan ilmu kadigjayan yang dimiliki oleh Ki Gede Padara.

Dalam pertemuan itu Padara pun kembali mengutarakan keinginannya agar proses kematiannya seperti layaknya manusia biasa. Syech Syarif Hidayatullah meminta agar Ki Gede Padara untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagai syaratnya. Syarat yang langsung dipenuhi Ki Gede Padara. Namun, baru satu kalimat yang terucap, Ki Gede Padara sudah sirna. Setelah Ki Gede Padara menghilang, Syech Sarif Hidayatullah bermaksud mengambil air wudhlu. Namun, di sekitar lokasi tersebut sulit ditemukan sepercik air pun. Dengan meminta bantuan Allah SWT, dia pun menghadirkan guntur dan halilintar disertai hujan yang langsung membasahi bumi. Dari peristiwa inilah kemudian sebuah kolam tercipta.

Namun, masyarakat setempat tidak tahu menahu kapan persisnya kolam tersebut dibangun. Satu hal pasti, kolam tersebut dianggap keramat. Apalagi setelah kolam ”ditanami” ikan kancra bodas. Pengeramatan tersebut juga dilakukan oleh masyarakat terhadap ikan sejenis yang hidup di kolam Darmaloka, Cibulan, Linggarjati, dan Pasawahan. Maksud pengkeramatan terhadap ikan langka tersebut tidak lain bertujuan untuk menjaga dan melestarikannya dari kepunahan akibat ulah manusia.

Ada hal aneh yang sampai kini masih terjadi atas ikan-ikan itu: Jumlahnya dari tahun ke tahun tak pernah bertambah atau pun berkurang. Seolah ikan-ikan tersebut tidak pernah mati atau menurunkan generasi dan keturunan. Komunitas ikan kancra bodas ini tak dapat ditemui selain di kolam-kolam keramat yang ada di Kabupaten Kuningan. Keanehan lainnya terlihat dari polah tingkah laku mereka yang sangat akrab dengan manusia. Bila kolam dibersihkan, masyarakat sekitar sering melihat bahwa ikan-ikan yang ada di kolam tersebut menghilang. Mereka percaya bahwa ikan-ikan tersebut berpindah lokasi ke kolam-kolam keramat lainnya yang ada di Kuningan. Wallahhualam. ded

(deddy musashi)

 

Anggota DPR Dilanda Sakit Mental Kronis

10 Maret 2012 | 23:30 wib
Pengamat: Anggota DPR Dilanda Sakit Mental Kronis

 

JAKARTA, suaramerdeka.com – Pengamat politik Universitas Indonesia Iberamsjah mengatakan saat ini sakit mental kronis tengah melanda anggota DPR. Hal itu bisa dilihat dengan makin disorotnya kedisiplinan anggota belakangan ini.

Dalam rapat dengar pendapat Komisi III saja dengan sejumlah lembaga untuk membahas APBN-Perubahan 2012, anggota dewan yang hadir hanya delapan orang, sementara Sisanya tidak diketahui rimbanya.

“Mereka betul-betul tidak peduli dengan nasib rakyat yang semakin miskin, kebutuhan dasar yang semakin sulit dipenuhi. Nurani mereka untuk benar-benar bekerja untuk rakyat itu sudah mati,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (10/3).

Menurut Iberamsjah, jika tidak ada perubahan dari kalangan DPR sendiri, mekanisme seperti apa pun yang diberlakukan untuk mendisiplinkan anggota dewan, seperti penguatan tata tertib DPR dan penggunaan finger print, tidak akan terlalu berpengaruh.

“Perubahan itu harus datang dari mereka sendiri. Masalahnya sekarang, DPR sendiri tidak punya seorang yang bisa dijadikan teladan. Ketua DPR tidak berwibawa, begitu juga wakil-wakilnya. Badan Kehormatan sendiri tidak berfungsi dengan benar. Terakhir, bahkan di tengah rencana pemerintah menaikkan harga BBM, mereka (anggota dewan) malah studi banding ke luar negeri. Ini kan benar-benar menyakitkan hati rakyat,” ujarnya.

( MIOL / CN26 )

Gus Mus: Generasi Muda Kehilangan Identitas

Gus Mus: Generasi Muda Kehilangan Identitas

 

10 Maret 2012 | 20:47 wib

SEMARANG, suaramerdeka.com – Lunturnya karakter bangsa pada diri generasi muda saat ini dikarenakan telah kehilangan identitas kebangsaan dan keagamaan yang menjadi pegangan hidup dalan bernegara dan berbangsa. Bangsa Indonesia telah kehilangan Pancasila sebagai dasar sendi kehidupan dan sebagai bangsa dengan umat muslim terbesar telah kehilangan Islam sebagai agamanya.

“Keadaan ini diperparah dengan banyaknya kiai yang meninggalkan metode Nabi Muhammad SAW dalam melakukan dakwah kepada umat muslim. Mengakibatkan banyak umat Islam yang menjadi kehilangan pegangan dalam kehidupannya,” tandas KH Mustofa Bisri saat memberikan tausiah kepada murid-murid SMA Kesatrian 1 Pamularsih, Sabtu (10/3).

Kiai kharismatik yang akrab dipanggil Gus Mus ini menilai, kelunturan karakter bangsa ini juga akibat manusia terlalu mencintai apa yang didapatnya di dunia, contohnya banyak pejabat yang gila dengan kekuasaan dan melakukan tindakan korupsi.

“Hal ini mengakibatkan generasi muda kehilangan panutan dalam menjalani kehidupan. Karakter tidak butuh pembelajaran tetapi butuh keteladanan dari seorang pemimpin termasuk kepala sekolah,” tutur pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang.

Menurut Gus Mus ada dua hal kunci sukses bagi manusia untuk mencapai kenikmatan dunia dan akhirat. ”Yang pertama adalah istiqomah, jangan berlebihan dalam melakukan sesuatu. Lakukan semua aktivitas secara wajar termasuk salat tidak boleh berlebihan. Allah SWT tidak menyukai segala sesuatu yang berlebihan,” kata dia.

Yang kedua, sambungnya, sebagai umat beragama harus saling mengingatkan apapun keyakinan dan agama mereka. Ia meminta agar siswa berpegang teguh pada akidah dan fikih agama Islam. “Jangan jadi fotokopi pejabat yang korupsi atau ikut organisasi yang mengatas namakan agama untuk melakukan pembenaran atas apa yang dilakukan,” tegasnya.

Kepala SMA SMA Kesatrian 1 Pamularsih Drs Toto MM mengatakan, kedatangan Gus Mus ke sekolahnya untuk memberikan pendidikan budaya dan karakter bangsa untuk murid-murid. “Tidak sebatas SMA Kesatrian saja, kami juga mengundang siswa dari sekolah lain untuk mendengarkan petuah dan tausiah Gus Mus,” kata Toto.

( Krisnaji Satriawan / CN26 / JBSM )

 

GERAKAN DIPONEGORO: Kultur perlawanan anak muda

GERAKAN DIPONEGORO:

Kultur perlawanan anak muda

Large_diponegoro

JAKARTA: Perang Jawa pada 1825-1830 yang digerakkan Pangeran Diponegoro dari Kesultanan Yogyakarta bukan sekadar kisah perang yang berakhir dengan kekalahan rakyat, sebaliknya justru menjadi kemenangan gerakan anak muda.

Menurut budayawan Sardono W. Kusumo, gerakan Diponegoro yang mengilhami para pangeran adalah kultur perlawanan anak-anak muda. Salah seorang panglima Diponegoro adalah Sentot yang ketika memimpin perang baru berusia 17 tahun.

“Gerakan perlawanan selalu butuh semangat anak-anak muda. Ini kultur perlawanan yang memecah kebuntuan. Meski tokoh gerakan, Diponegoro gemar belajar. Dia pecinta sastra, ilmu pengetahuan, realistik dan pengagum keindahan ,” ujarnya dalam diskusi buku Kuasa Ramalan’karya sejarahwan Peter Carey, Sabtu, 10 Maret 2012.

Selain dosen berambut gondrong tersebut, hadir sejarahwan jebolan Leiden Prof Singgih sebagai pembahas, Peter Carey, Wardiman Djojonegoro seorang pengamat sejarah dan Prof Sudharto Hadi sebagai penanggap.

Singgih dan Carey sepakat Diponegoro adalah simbol mulianya sebuah kekalahan karena secara fisik Diponegoro kalah, tetapi secara moral dan spiritual justru menjadi pemenang.

‘The Power of Prophecy’ disusun Peter Carey berdasarkan Babad Jawa, arsip kolonial Belanda dan Inggris diterjemahkan ke bahasa Indonesia dalam tiga jilid bertajuk ‘Kuasa Ramalan, Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855′.

Buku ini bertutur tentang riwayat pahlawan nasional Diponegoro dengan latar belakang akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, ketika imperialisme baru Eropa melanda Nusantara. (tw)

Erotika: Tubuh, Nafsu Dan Spritualitas

 

Erotika: Tubuh, Nafsu Dan Spritualitas

Photo: Salihara.org


Jakarta. ourvoice.or.id – Erotika tidak perlu belajar dari Barat,karena sudah mengakar ada di Nusantara. Erotika di masyarakat Indonesia, ibarat bahan pangan seperti beras,gula atau garam yang dimport dari Barat,padahal sudah ada berabad-abad  di Indonesia. Bahkan sebelum kolonial dan agama-agama “import” datang ke bumi Nusantara.


Kira-kira begitu ungkapan Elizabeth D.Inandak, penyair asal Perancis yang menterjemahkan dan menafsirkan kembali sastra Serat Centhini (SC).  Karya “ulang” itu diberi judul Centhini,Kekasih Yang Tersembunyi. Melalui karya ini, Elizabeth banyak mendapatkan apresiasi oleh intelektual di Indonesia.  Diantaranya mendapatkan anugerah Lietary Prize for Asia (2003) atas karya tersebut.  Kali ini Elizabeth untuk kedua kalinya memberikan kuliah umum tentang Centhini di Komunitas Salihara, Jakarta, Sabtu (10/3/2012). Kegiatan ini bagian dari rangkaian kuliah umum di Komunitas Salihara tentang Erotika pada Maret 2012.

Serat Centhini sendiri sastra yang sering dijuluki sebagai karya adiluhunng yang erotik sekaligus mistik (religius). Tembang-tembangnya banyak berisi tentang persoalan seksualitas sampai yang paling intim dan “operasional”.  SC ditulis pada masa Pangeran Amangkunegara III yang menjadi Pakubuwono V di Solo (1820-1823 M).   Penulisnya tiga orang pujangga, Sastranagara-Ranggasustrasna-Sastradipura.  SC terdiri dari dua belas jilid, sembilan buku, 152 tembang dan 4.000 halaman. Semua sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.


Cerita dalam SC menampilkan tokoh Amongraga yang menikah dengan Tambanglaras. Sedangkan tokoh Centhini sebagai pendamping atau “pelayan” setia Tambanglaras. Menurut Elizabeth tokoh Centhini sering dianggap “misterius” karena bukan tokoh “besar” dalam cerita SC.  Tetapi tokoh Centhini seorang “pelayan” yang sangat abdi, setia dan menampilkan sosok yang penuh dengan “kesempurnaan” dan keserdahanaan sebagai manusia.  Mungkin tokoh Centhini sebagai simbol dari semua cerita keseluruhan dalam karya SC.


Selain itu, SC memberi pesan bagaimana menjadi manusia dapat memadukan antara nafsu, syahwat dan spritual menjadi satu kesatuan.  Menurut Elizabeth situasi ini disebut dengan “Erotisme tingkat tinggi”.  Dimana tidak lagi melihat seksualitas sebagai sesuatu yang kotor, hina dan tidak terjebak pada kepuasan tubuh dan nafsu belaka.  Tetapi lepas dari sekat-sekat identitas apapun, termasuk identitas kelamin ataupun orientasi seksual, tegas Elizabeth.  Hal ini seperti yang ada dalam tembang 72 SC, Empat Puluh Malam Dan Satunya Hujan. Sang tokoh suami-istri (Amongraga dan Tambangraras) melewati 40 malam dalam kamar pengantin tanpa bersetubuh (penetrasi) yang akhirnya menjadi satu kesatuan.Berikut isu tembangnya ;


Dikamar pengantin, angin diam mengembus kandil. Ini malam ke-39. Diranjang bidadari, Amongraga dan Tambangraras tidak lagi melihat ketelanjangan masing-masing maupun jarak pemisah mereka. Tidak ada lagi haluan maupun buritan, raib pula garis batas air.
Dalam empuk hangat kegelapan, mereka merasa makin lebur menyatu tubuh.  Mereka saling menjadi yang lain dan pasrah keduanya pada dekapan keremangan. Suara mereka pun mengalir yang satu dalam yang lain dan juga dalam yang kian pasang.(Tembang 72)


Dalam makalah Elizabeth ditegaskan, dari malam ke malam, erotik dan mistik, tasawuf dan Asmaragama berkembang berbarengan sehingga pada akhirnya mistik terbakar oleh api erotika dan erotika terbakar oleh nyala mistik. Dua-duanya musnah. Yang tersisa hanya cahaya. Cahaya sayap-sayapnya sang Eros.

Tembang-tembang SC banyak bercerita tentang hubungan seksual dari mulai hal yang “liar” dari seksualitas perempuan sampai praktek hubungan seksual sejenis.  Sehingga dari pengalaman Elizabeth ketika melakukan riset tentang SC untuk memintah bantuan para tasawuf/tokoh agama Islam di Jawa, para ulama keberatan ketika diminta mentejemahkan bagian tembang SC khususnya cerita-cerita tentang seksualitas yang dianggap terlalu vulgar pada konteks kekinian.

Ini beberapa tembang yang dianggap sangat vulgar dan sangat “operational”;


…Jayengraga (laki-laki) berkata kepada Banem (perempuan): ” Karena kamu yang mau, lakukan sesukamu.” Mendengar ucapan itu jantung Banem berdegup, tak pernah seorang laki-laki mempertaruhkan diri kepadanya. Ia menyingkap sarung Jayengraga dan memegang zakarnya, besar dan panjang walau masih menggelantung. Ia belum pernah melihat barang seaneh itu. Banem bertanya kepada Jayengraga : ” Dan sekarang, apa yang harus kulakukan?”. “Wah! Aku tidak tahu. Yang kepingin yang memimpin.” Jawab Jayengraga. (Tembang 127)


Selain itu masih ada tembang yang bercerita praktek hubungan sejenis;


…..Cebolang (laki-laki) berkata: “Kutunggu petunjukmu.” Seorang Warok berkumis menyuruhnya menanggalkan sarungnya, ia menggenggam batang Cebolang dan mengelusnya tanpa henti melancarkan rayuan gombalnya. Cebolang terpesona karena batangnya cepat mengeras ditangan wangi sang Warok : ” Selama hidup belum pernah kulihatnya begitu besar!”

Sang Warok menyodorkan pinggulnya yang lebih luwes. Kemudian Cebolang menghunjamkan lingganya yang bimbang ke dalam gua tempat bergema ketidakmampuan sang macan dan ejekan rebana reog. Semua bersetubuh seperti kucing jantan dan betina…. (Tembang 48)


Bahkan adegan sejenis antara Cebolang dengan seorang Adipati juga digambarkan dalam karya SC ini ;


Adipati membisikan dengan menggelitik kepada Cebolang; “Aku ingin tanya kepadamu, mana yang lebih nikmat, menunganggi atau ditunggangi? Bedanya gimana?” Cebolang menjawab tertawa: “Sesungguhnya, perbedaannya sangat besar, lebih nikmat yang ditunggangi, tiada bandingnya. Bila yang memasukannya pintar, nikmatnya menjalar ke seluruh tubuh, dari  dasar bol ke semua saraf otak yang kepayang. Seluruh nadi silau detaknya jantung dan bahkan sumsum di tulang gemetar. Daging membara dan orang dapat merasakan tubuh nurnya.

Adipati tampak tergoda: “Benar yang kamu katakan? Ayo kita buktikan omonganmu!”

Cebolang membujuknya dengan kata-kata lembut sambil meraba tebing-tebing curam duburnya. Sang Adipati bagai terguna-guna, lupa ia pria, merasa menjadi perempuan, sarungnya melorot, batang Cebolang kerja keras menerobos jalan masuknya. Ia lalu membaca salah satu rapal konyol rahasianya. Zakarnya semakin mengeras dan akhirnya amblas ke lubang yang disodorkan itu.

Si Adipati terloncat, pandangan nanar, semua terasa berputar. Cebolang menyogoknya hingga ambang diri. Adipati berteriak: “Sudah! Jangan! Cukup! Tarik kembali lelemu dari jambangku!” (Tembang 52)


Begitulah beberapa isi tembang dalam SC yang dinilai sangat sensual dan erotis. Sehingga jika kita membacanya sepotong-potong dan tidak dikaitkan secara menyeluruh pesan karya ini, maka akan terkesan ini sebuah karya yang “porno”. Hal ini juga ditegaskan oleh Elizabeth, bahwa membaca karya SC tidak boleh hanya mengambil adegan-adegan “seksualnya” saja. Tetapi harus melihat makna keseluruhan yang memadukan antara nafsu dan mistik.  Sehingga melahirkan “erotika tingkat tinggi” yang melepas dari sekat apapun.  Seksualitas berpadu dengan spritualitas menjadi Eros, ungkap Elizabeth dalam buku tersebut.

Kita bisa bayangkan ketika tembang-tembang SC ini dihadapkan pada Undang-Undang No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi pasal 1, meyebutkan:


Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.


Dari definisi itu, bagaimana nasib tembang-tembang itu yang merupakan karya tulisan? Apakah kemudian karya besar itu akan dianggap sebagai barang pornografi?

Sepertinya para pembuat UU pornografi lupa akan kesejarahan bangsa sendiri. Sekarang ini, kita seperti dihadapkan pada soal ajaran Islam yang “buta”.  Padahal jelas dalam SC memaduhkan pendidikan sex dan seni bercinta  dalam konteks ajaran Islam serta budaya Jawa (yang banyak dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan Budha).


Pesan utama karya SC, yang paling penting dalam melakukan hubungan sex harus dijunjung tinggi kesetaraan, keadilan, bukan hubungan seks yang eksploitatif.   Sehingga pelecehan seksual, pemaksaan hubungan sex, pemerkosaan diruang publik maupun private bukan erotika yang diajarkan dalam karya SC ini.  Alasan itulah SC ini dinilai sebagai karya sastra yang sangat adiluhung.


Karya SC ini juga pernah diteliti oleh Dr. Mohammed Rasjidi dalam disertasinya berbahasa Perancis, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Pertimbangan Kritis Dalam Centhini (1956).  Sayangnya penelitian itu belum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Rasjidi sendiri pernah menjadi menteri agama pertama RI masa pemerintahan Soekarno. Menurut Elizabeth, walau Rasjidi sendiri banyak tidak setuju makna didalam SC, tetapi melakukan kritis dan dialog dengan isi SC merupakan sikap yang sangat bijaksana.


Sepertinya kita (masyarakat Indonesia) mulai “mengingkari” kebudayaan, sejarah seksualitas di Nusantara Indonesia. Malu mengakui akan sejarah dan kebudayaan sendiri. Indikasinya banyak lahir kebijakan ditingkat nasional maupun daerah yang selalu menampilkan seksualitas manusia sebagai sesuatu kotor sehingga layak diredam. Lagi-lagi budaya Barat selalu dijadikan “kambing hitam” atas “kekotoran” erotika itu. Padahal sejarah budaya Barat penuh dengan moralis dan peredaman Erotika dan Mistik, berbeda dengan budaya Nusantara.


Dan yang paling ironis, kita sebenarnya sedang mengingkari kebertubuhan diri sendiri, sebagai manusia sensual sekaligus spritual. Padahal dua hal itu sesuatu yang sangat intim ada dalam diri manusia, apapun bentuk dan namanya.  Mudah-mudahan dengan diangkat kembali karya besar SC ini dapat menjadi bahan renungan bagi setiap orang tentang makna Erotika, sex,tubuh dan spitualitas. (Hartoyo)


Makalah Lengkap Elisabeth D.Inandak Dapat di Unduh :


Makalah_Diskusi_Centhini_Elisabeth_D_Inandiak


Ourvoice juga menerima tulisan berupa artikel, cerpen, puisi dan segala bentuk tulisan lainnya. Tulisan bisa dikirim ke E-mail redaksi Ourvoice: ourvoice.lgbtiq@gmail.com

Pesantren Beri Pendidikan Gratis

 

 

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/pesantren-beri-pendidikan-gratis
Suasana santri antri beli roti di koperasi

Avatar KBR 68H
Jakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia

Pesantren Beri Pendidikan Gratis

Diterbitkan : 6 Maret 2012 – 1:16pm | Oleh KBR 68H (Foto: KBR68H)

Diarsip dalam:

Syekh Habib Saggaf tak perlu suasana pemilu dan janji politik untuk memberikan pendidikan gratis. Lewat Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, ia memberikan pendidikan gratis kepada lebih dari 18 ribu pelajar di Bogor, Jawa Barat. Reporter KBR68H Rony Rahmatha mengunjungi pesantren ini dan menuliskan laporannya.

Pesantren itu dijalankan dengan gaya kewirausahaan untuk mendukung program pendidikan gratis tersebut. Suara mesin diesel riuh di sebuah pabrik mini yang memproduksi roti.

Pabrik roti berada di dalam lingkungan Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Jawa Barat. Semua murid mendapatkan jadwal rutin untuk belajar pengolahan roti. Roti yang dibuat ini dijual kembali ke lingkungan pesantren.

Omsetnya sekitar delapan juta rupiah setiap harinya dengan rata-rata produksi mencapai 10 hingga 15 ribu potong. Sebagian roti yang dijual disubsidi oleh pesantren, hingga harganya lebih murah, yakni hanya Rp 500.

“Setelah berjalan tambah lama, tambah banyak murid. Habib berfikir, orang banyak pasti perlu roti atau susu, daripada kita beli atau keluar uang, lebih baik kita buka usaha sendiri. Daripada kita beli roti yang harga di luar Rp. 1000, di pondok kita bisa buat sendiri, kita jual harga Rp 500, bagi yang tidak dapat kiriman, atau benar yatim piatu, maka kita gratiskan,” demikian Pemimpin Pondok Pesantren, Ummi Waheeda.

Daur ulang sampah
Ide mendirikan pabrik ini muncul dari Syekh Habib Saggaf. Lebih akrab dipanggil Abah atau Habib. Ialah yang mendirikan pesantren ini dan menjalankan kewirausahaan di sana. Setahun lalu Syekh Habib Saggaf meninggal dunia. Pengelolaan pesantren dilanjutkan oleh Ummi Waheeda, istrinya.

Pabrik roti ini berdiri berkat hasil usaha daur ulang sampah. Ini adalah unit usaha yang pertama kali dikembangkan oleh pesantren, kata Ummi Waheeda.

“Asal usul daur ulang, waktu itu dengan 10 ribu siswa-siswi dengan sampahnya itu bergunung-gunung. Waktu itu kebiasaan di sini, mereka suka bakar sampah. Saya alergi berat, ya namanya asap saya pasti pilek. Akhirnya saya bilang ke Habib, kalau di luar itu kan ada daur ulang, yuk kita lakukan itu juga. Kita mulai kumpul sampah dan dijual. Bayangkan kita dapat dari hasil daur ulang itu, plasmanya sekitar Rp. 20 juta, itu modal utama kita untuk bikin pabrik roti. Jadi bisa bayangkan, dari sampah akhirnya bisa modal pabrik roti.”

Tiga kali lipat
Manajer Unit Daur Ulang Muhammad Tholib, yang juga seorang santri, mengatakan, dari unit daur ulang sampah, omset yang didapatkan bisa mencapai Rp. 4 juta per bulannya. Kini pengolahan sampah sudah dengan mesin, nilai jual daur ulangnya semakin tinggi di pasaran.

Dari semula dihargai Rp. 4 ribu per kilogram, menjadi 3 kali lipatnya.

Kata Ummi, sejak punya mesin penggiling, saat ini para pemulung di sekitar Parung juga memasok sampah mereka ke pesantren.

Berbekal unit-unit usaha yang dikelola langsung oleh para santri inilah akhirnya pemimpin pesantren bisa memberikan pendidikan gratis sebagaimana digagas pendiri ponpes Syekh Habib Saggaf. Kemampuan pengembangan diri adalah satu dari sekian strategi pesantren mengembangkan potensi santri. Sesuai dengan cita-cita awal, pesantren boleh gratis, tapi tetap berkualitas.

Ketika Habib Saggaf, pendiri ponpes, meninggal tahun lalu, Ummi Waheeda, istrinya, khawatir tak mampu melanjutkan pendidikan gratis.

“Saya bilang sama Habib, kita tidak bisa terima terus. Habib bilang nggak apa-apa Waheed. Setiap anak yang datang itu membawa rezeki masing-masing, Insya Allah kalau kita jujur dan ikhlas, pasti Allah akan memberikan kita rizki, ketika anak itu datang ke sini dan mereka betah dan bertahan di sini, berarti kita harus memberikan mereka kesempatan.”

Bantuan pemerintah
Berbekal pesan itu, Ummi terus berupaya mengembangkan unit usaha pesantren untuk membiayai pendidikan gratis di ponpes itu. Namun untuk memenuhi kebutuhan pangan para santri, Ummi menanti realisasi bantuan yang dijanjikan pemerintah.

“Cuma saya sedikit kecewa dari dinas sosial untuk beras. Kita kan satu hari itu harus masak enam ton beras. Kita punya sawah 100 hektar di Karawang tapi kita tidak cukup untuk 18.000 orang, kita baru bisa cukup kalau sudah 500 hektar. Jadi saya minta ke dinas sosial, kalau mereka tidak kasih gratis, kita mau beli beras raskin. Tapi surat itu tidak pernah turun. Padahal surat itu perlu untuk rekomendasi menko kesra ke bulog. Padahal mensos sudah dua kali ke sini.”

Sampai kini Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman terbantu karena ada bantuan beras dari Yayasan Budha Suci. Setiap bulannya mencapai 50 ton. Koordinator Relawan Yayasan Budha Suci Indonesia, He Ming mengatakan, bantuan ini sudah berjalan selama 10 tahun terakhir.

Yayasan Budha
“Bantuan dari Yayasan Budha Suci dari Taiwan, memang diberikan langsung sebulannya 50 ton. Beras ini berasal semua dari Taiwan, itu bukan yayasan yang beli, itu sumbangan Budha Suci yang berpusat di Taiwan. Berasnya asli dari Taiwan, tidak beli di Indonesia, baru disumbangkan.”

Datangnya bantuan dari Yayasan Budha Suci ini buah sifat pluralisme yang diterapkan Habib Saggaf, kata Pengamat Pendidikan Agama Abdul Moqsit Ghazali.

“Saya kira Habib itu salah satu tokoh Islam yang perlu diteladani. Kehidupan sehari-harinya bisa menjadi contoh bagaimana menjadi Muslim yang baik. Menjadi Muslim bagi seorang Habib bukanlah harus menjadi Muslim eksklusif, yang tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, atau agama lain. Tapi Muslim yang baik, adalah selalu menunjukkan dirinya bukan hanya di depan umat Islam tapi di depan umat lainnya. Nah karena Habib, dikenal sebagai tokoh pluralis, maka kerjasama dengan umat agama lain, bukanlah sesuatu perkara yang tabu.”

Abdul Moqsit Ghazali menambahkan, pendidikan gratis di Ponpes Al-Ashriyyah Nurul Iman berbeda dengan yang diterapkan sejumlah sekolah, baik sekolah agama ataupun sekolah swasta. Itu karena kemandirian ponpes lewat kewirausahaan.

Cita-cita Habib
Ani Rofiastuti, salah seorang santri perempuan yakin Ummi Waheeda mampu melanjutkan cita-cita Habib Saggaf.

“Prinsip Ummi, bahwa di sini, pondok ini adalah free and high quality, jadi walapun gratis, tapi tetap mengedepankan pada kualitas. Dan ini sudah terbukti bahwasanya, setelah belajar di sini, nantinya bakal jadi pemimpin, penguasa dan menjadi pendidik.”

Cita-cita itu akan diteruskan atas wasiat Habib Saggaf, sang pendiri, tutup Ummi Waheeda.

“Jadi sebelum Abah sakit, abah jabat tangan dengan saya. Waheed, saya amanat pondok ini buat kamu. Kamu harus berjanji bahwa pondok ini sampai kiamat tetap gratis dan kualitas pendidikannya harus tinggi dan bermutu. So far sudah lebih setahun habib meninggal, Alhamdulillah anak-anak tetap makan dan tetap sekolah.”

Daryanto Mempersiapkan Roti Untuk Para Santri<br>&copy; Foto: KBR68H - www.kbr68H.comDaryanto Mempersiapkan Roti Untuk Para Santri

Gunung Padang, Misteri Peradaban yang Hilang

Gunung Padang, Misteri Peradaban yang Hilang

“Pernah ada peradaban yang sangat maju namun musnah akibat sebuah bencana yang besar.”

Rabu, 7 Maret 2012, 06:40 WIB
Elin Yunita Kristanti, Permadi (Sukabumi)

VIVAnews – Tak hanya situs megalitikum di permukaan, perut Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat diduga kuat menyimpan sebuah mahakarya, bangunan berbentuk piramidal.

Hasil pengeboran dan carbon dating terbaru di teras lima, dengan kedalaman 8-10 meter menunjukkan keberadaan konstruksi bangunan yang berusia 10 ribu tahun Sebelum Masehi (SM), merevisi hasil uji karbon sebelumnya yang memperlihatkan situs di bukit ini berasal dari 6.700 tahun lalu atau 4.700 SM.

Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam Andi Arief menjelaskan hasil riset bencana yang dilakukan Tim Bencana Katastropik Purba (BKP) selama 1,5 tahun berujung pada hipotesis adanya peradaban yang sangat maju di kawasan Gunung Padang.

“Di kawasan ini pernah ada peradaban yang sangat maju namun musnah akibat sebuah bencana yang besar,” kata dia kepada VIVAnews.com, Selasa 6 Maret 2012.

Bukti peradaban maju dilihat dari struktur dan bentuk pundek berundak yang ada di situs tersebut. Semua susunan di kawasan Gunung Padang terstruktur dengan baik dan disiapkan untuk berbagai kepentingan dan realita sosial masyarakat di masanya. Semua bongkahan batu megalit terbuat dengan pola yang sama dan disusun sesuai kebutuhan.

“Ini sangat luar biasa. Kami akan melakukan riset yang sangat eksklusif karena kita mempunyai akar kebudayaan yang lebih tua dari catatan sejarah yang ada dengan kemajuan peradaban yang luar biasa pula. Kami akan melakukan riset lebih dalam untuk memastikannya,” paparnya.

Tim, Andi menambahkan, juga menemukan sisa-sisa bencana alam yang memusnahkan peradaban yang maju ini. Bencana ini sangat luar biasa hingga bisa langsung memusnahkan peradaban ini dalam waktu yang cepat dan hampir tidak meninggalkan sisa. Untuk mencari sisa peradaban lain, tim berupaya untuk melakukan eskavasi di lokasi.

“Secara fisik sisa bencana dapat dilihat dari posisi bebatuan yang berserakan di mana-mana namun masih bisa terlihat strutur pola konstruksinya. Terutama di puncak Gunung Padang sendiri di mana berdiri sebuah menhir yang sudah rubuh lama akibat sebuah bencana besar,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan bencana di kawasan ini, diketahui petaka pernah terjadi pada tahun 1300-an. Berupa banjir bandang dan letusan gunung berapi yang luar biasa. Dari data ini diperkirakan saat itu peradaban Gunung Padang musnah dan punden berundak yang ada kini menjadi porak poranda.

Posisi Situs Megalitikum, Gunung padang berhadapan langsung dengan Gunung Gede Pangrango. Selain itu posisinya tidak jauh dengan lempengan sesar Bandung yang masih aktif dari jaman purba hingga kini.

Andi menjelaskan, jarak Gunung Padang yang dekat dengan sesar Cimandiri yang labil, selalu menjadi bagian yang menakutkan bagi para ahli geologi. Sebab, gempa bumi darat yang besar dan mempunyai daya rusak tinggi dimungkinkan terjadi lagi.

• VIVAnews

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 62 other followers