Archive for the ‘Budaya’ Category

Filosofi Isi Sesajen

Filosofi Isi Sesajen

Dikutip dari :anantö/ アナント <ananto.email@gmail.com>,in:mediacre,  Thursday, 1 March 2012, 8:00

SESAJEN merupakan sebuah keharusan yang pasti ada dalam setiap acara bagi orang yamg masih teguh memegang adat Jawa. Penyebutan sesajen biasanya bermacam-macam, ada yang di sebut dengan Dang Ayu dan ada yang disebut dengan Cok Bakal. Namun pada dasarnya inti dan tujuannya sama.

 

Banyak orang yang mengartikan sesajen mengandung arti pemberian sesajian-sesajian sebagai tanda penghormatan atau rasa syukur terhadap semua yang terjadi dimasyarakat sesuai bisikan ghaib yang berasal dari paranormal atau tetuah-tetuah. Sehingga warisan budaya Hindu dan Budha ini dianggap sebagai suatu kemusyrikan. Sebelum menilai demikian, ada baiknya untuk mengetahui terlebih dahulu arti simbol-simbol atau siloka kearifan lokal ini.

 

1.     Padi, gabah, beras, dan nasi (tumpeng): melambangkan ketuntasan dan kesempurnaan. Artinya, jika melakukan sesuatu harus dengan tuntas dan tidak setengah-setengah. Sedangkan tumpeng berasal dari kata tumungkulo sing mempeng, artinya jika kita ingin selamat, hendaknya kita selalu rajin beribadah.

2.     Urap: artinya jika selama hidup harus mempunyai arti bagi sesama, lingkungan, agama, bangsa dan negara. Bisa diartikan bahwa, dalam bermasyarakat harus bisa berbaur dengan siapa saja agar hidup tentram.

3.     Bubur panca warna: bubur beras merah, ketan hitam, bubur jagung, ketan putih, kacang hijau. Ditempatkan di empat penjuru mata angin, satu di tengah. Melambangkan elemen alam (air, api, udara, tanah, dan angkasa).

4.     Jajanan pasar: menggambarkan kerukunan walaupun ada perbedaan, tenggang rasa.

5.     Pisang raja gandeng: pisang raja menyimbolkan agar cita-cita kita senantiasa luhur, sehingga dapat membangun bangsa dan negara.

6.     Ayam ingkung: melambangkan pengorbanan selama hidup, cinta kasih terhadap sesama juga melambangkan hasil bumi (hewan darat).

7.     Ikan bandeng atau ikan asin (berduri banyak): melambangkan rejeki berlimpah, ikan teri (yang hidupnya bergerombol) melambangkan kerukunan.

8.     Telur: melambangkan asal mula kehidupan yang selalu berasa dari dua sisi yang berlainan seperti warna telur kuning putih, di antaranya laki-perempuan, siang-malam, dll.

9.     Air di gelas dan bunga: melambangkan air minum yang menjadi kebutuhan hidup manusia.

10.  Kopi pahit: melambangkan elemen air namun bukan suatu minuman pokok (kebutuhan sekunder), dan menjadi minuman persaudaraan bila ada perkumpulan/pertemuan.

 

 

Sumber: SMCN

yasir wa la tu’asir

“Lebih kepada kepantasan. Jam tangan Rolex hanya sebagai aksesori bukan hobi,” kata Anis sembari tersenyum kepada detikcom, Selasa (28/2/2012).

Jaringan

Panutung MATANANDAU

Ruang Kebudayaan Harian Palangka Post

Kerjasama dengan Lembaga Kebudayaan Dayak Kalteng

Untuk Kalteng Bermutu & Beridentitas Kalteng

Alamat: lamianglilis@rocketmail.com atau meldiwa@yahoo.com.sg

 

Tajuk Panutung Andriani S. Kusni

Jaringan

Yang  dimaksudkan dengan jaringan di sini adalah jaringan kerjasama setara saling menguntungkan  antar lembaga organisasi untuk bekerjasama dalam suatu bidang atau beberapa bidang  sehingga pelaksanaan visi-misi masing-masing menjadi lebih efektif dan cepat. Jaringan ini bisa meliputi berbagai tingkat atau skala: lokal, rejional,dan internsional.  Adanya sistem kerja jejaring ini  memungkinkan masing-masing pihak saling belajar baik dari segi kekurangan, lebih-lebih lagi dari keunggulan satu dan yang lain sehingga masing-masing pihak dalam pekerjaan melaksanakan visi-misi tidak niscaya memulai sesuatu melalui proses trial and error (mencoba dan melakukan kesalahan) karena pengalaman sudah diperoleh oleh mitra jaringan. Sistem kerja jejaring juga akan menambah kekuatan lembaga-lembaga atau organisasi yang bekerjasama. Kekuatan ini mencakup bidang material maupun non material seperti saling bersetiakawan. Makin kuat lembaga akan makin kuat pula posisi tawar (bargaining power)  dan kemungkinan melaksanakan program-programnya. Kekuatan ini pun membuka peluang melakukan hal-hal yang tidak terbayangkan oleh yang tidak berjejaring. Banyak hal yang tadinya nampak tidak mungkin, oleh sistem kerja jejaring jadi mungkin. Sistem kerja jejaring juga membuat kata-kata lebih berdaya paksa, pengaruh dan wibawa lembaga pun bertambah.  Dilihat dari sudut pandang zaman globalisasi, di mana planet kita oleh perkembngann tekhnologi yang terus  meningkat menjadi sebuah “desa kecil dunia”, maka sistem kerja jejaring pun niscaya diterapkan oleh upaya pembebasan melalui rehgumanisasi masyarakat dan sistem. Sistem jejaring mengeluarkan lembaga atau individu dari isolasionisme , menduniakan standar yang digunakan dalam kerja. Sistem jejaring adalah suatu sistem yang mempersatukan semua kekuatan yang mungkin dipersatukantanpa batas geografis. Sehingga apa yang dilakukan di Kalteng hanyalah bagian dari upaya pembebasan melalui rehumanisasi sedunia. Demikian pula sebaliknya. Keadaan ini oleh orng Perancis disebut “l’agir ici et là”(yang dilakukan di sini berarti juga tindakan di sana). Tindakan di sini mempunyai arti global, bukan hanya lokal.Jadi bukan seperti yang umum dikatakan di daerah ini:”Berpikir global, bertindak lokal”, kata-kata yang sering diucapkan tapi tak diresapi salah-benarnya.

Secara filosofis, sistem kerja jaringan,  bertolak dari pandangan bahwa “massa adalah pahlawan sesungguhnya”. Msssa yang sanggup membuat perubahan hakiki. Pemimpin sejati pun dilahirkan oleh badai topan perjuangan massa. Individu sehebat apa pun tanpa massa tidak akan bisa membawa perubahan mendasar. Demikian pula cendekiawan, hanya akan berarti apabila menyatukan diri dengan massa.  Dengan kelebihan-kelebihannya , cendekiawan menyimpulkan pengalaman massa. Mereka hanyalah bagian dari gerakan bessr  ini. Dengan demikian, sistem kerja jejaring, menolak pandangan manusia supra (über alles) yang mempahlawankan individu. Sistem kerja jejaring menolak kultus individu yang berbau mistik membelakangi rasio. Menjadikan individu sebagai juruselamat (messias), tapi tidak berarti menyangkal peran individu.

Sistem kerja jaringan terbentuk melalui suatu kerja keras, ia melebarkan langit selebar apa adanya lebar luas langit. Apakah kita di Kalteng sudah sungguh-sungguh keluar dari lingkupan langit Kalteng dalam pikiran dan perasaan kita? Berkurung di bawah langit sempit, manusia akan kerdil , hanya menjadi jago kandang, dan seekor katak yang merasa diri lebih besar dari kerbau. Kalteng melesat maju tak bisa terwujud dengan kekerdilan.****

CERPEN KATHIRINA TATI *)

Sogit 

Duduk merenung hamparan pada yang mula menguning emas, Inai Dodu mengelamun jauh. Sesekali dia melepaskan keluhan yang berat, menghembuskan keperitan  dan persoalan yang berpintl-pintal mengusutkan hati dan perasaannya. Tali Rapia masih di dalam lilitan  jari-jemari yang berkedut, penuh garis-garis usia. Sesekali direntapnya tali itu untuk menggerakkan pepatung dan bendera- bendera plastik yang memagari  bendang padinya,  menakutkan burung-burung pipit yang cuba  memakan padinya yang tidak lagi akan dituai.

“Suuuuh….suuih …!”, Jerit Inai Dodu sambil menarik tali menkutkan burung –burung. Anjing-anjig di bawah rumah  ikut menggonggong, menakutkan burung-burung pipit yang semakin  berani terbang  berkumpulan memakan padi yang sudah hampir dituai.  Anjing-anjingnya , seakan tahu Inai Dodu  sudah tidak segagah dulu. Suaranya sudah semakin serak, badan mula  membongkok dan dan tidak seceria dulu. Inai Dodu mengel,ciban lagi , cub menegakkan pinggang yang semakin keras dan melangkah perlahan menuju ke ruang rumah. Dalam fikirannya masih segar perbalahan antara dia dan anak bungsunya Melda. Luka di hatinya masih berdarah mendengar semua kata-kata Mekda padanya semalam.

“Biarlah saya ikut cara sendi, Ina!” Terngiang-ngiang kata-kata Melda.

“Inq.. kau selalu mau ikut adat saja, sekarang sudah moden, adat-istiadat sudah lapuk, tidak boleh pakai lagi!”. Bentak Melda.

Sakit hati Ina Dodu seperti ditikm-tikam sembilu berbisa. Dia tidak menyangka anak yang telah dia besarkan dengan penuh kasih sayang dan belajar tinggi sampai membawa ijazah pulang boleh lupakan adat resam suku kaumnya.

“Apakah pelajaran tinggi mengajar mereka melupakan adat?”. Terngiang-ngiang  persoalan ini  bermain di benak Inai Dodu.

“Melda,adat tetap adat, kalau lelaki itu berkenan dengan kamu, dia mesti kut adat kita di kampug ini”. Sambung Inai Dodu sambil menggulung kirai.

“Aah! Menyusahkan saja itu Ina, mau panggil Ketua Kampung lah, mau panggil wakl keluarga lah, kenapa Ina tidak boleh but keputusan?”.Tegur Melda lagi.

“Bukankah Melda anak Ina, kenapa harus orang lain masuk campur dalam perkawinan Melda dengnan wakah peuh kegeraman.

“Bukan begitu Meld, ini adat kita selagi ada keluarg terdekat yang lebh tua, dia yang berhak memberi keputusan tentang sogit, berian dan  lain-lain hantaran”, sambung Ina Dodu.

Inai Dodu mengeluh lagi. Dia masih punya abang yang sulung yang berhak membuat keputusan dalam hal ini, memandangkan suami Inai Dodu sudah lama meninggal dunia. Apalagi abangnya itu Ketua Kampung yang dilantik.

“Sudah!Susah!”. Bentak Melda bila Inai Dodu masih bersikeras supaya Melda kawin ikut adat suku kaum Kadazan.

“Kau boleh kawin di gereja Melda, tapi jamuan makan semua terus di adakan di Kmpung. Adat kita mesti sembelih kerbau untuk merayakan perkawinan  kau dan sembelih kerbau itu adalah sogit kampung”, pujuk Inai Dodu pada anak tunggalnya.

“Menyusahkan saja tu Ina, kawin di hotel lagi senang, tidak payah susah-susah, semua selesai cepat!” Melda berkeras menentang kemahuan ibunya.

“Kawin di kampung ramai lagi Melda, semua akan datang bergotong-royong buat kemah, sembelih, masak-memasak dan lain-lain kerja”, sambung Inai Dodu lagi.

“Inai, banyak kerja tu, bagus lagi kawin di hotel, tidak sakit kepala! Tidak payah sogit-sogit,” bentak Melda lagi.

“Kawin di kampung itu memang bagus bagi Inai, tapi Melda tidak suka orang mabuk-mabuk, lepas tu bergaduh di hari perkahwinan Melda!”

“Melda sudah puas tengok orang kahwin di kampung Inai, kalau belum habis Tapai, Bahar, Lihing dan Montoku, belumlah mereka berhenti minum sampai mabuk!”.

“Sampai bergaduh-gaduh,bertumbuk, berpukul, macam-macamlah ragam mereka, buat malu Melda saja!” Bentak Melda lagi.

“Janganlah Inai, Melda mau buat keramaian di hotel saja, lagi bagus, senang tidak banyak masalah!”. Melda membuat keputusan muktamad. Bagaimana Inai Dodu memujukpun, Melda tetap dengan keputusannya.Inai Dodu mengalah. Hatinya berdarah. Dia kecewa betul, dalam hatinya, mahu saja dia jatuh sakit dan mati pada hari perkahwinan anak tunggalnya yang keras kepala itu.

“Suuuhhhhh…Suuuhhh!”.Jerit Ini Dodu sambil menarik tali rapia itu sekuat hatinya.

“Burung Pipit ini, sama keras kepala macam Melda!”. Bentaknya. Sambil menghayunkan tngannya menarik tali itu, Inai Dodu terus merenung sawah padinya. Tanah yang  cuma besar  sekangkang  kera, peninggalan mendiang suaminya. Dengan tulang empat keratnya dia masih meneruskan kerja-kerja sawah  dan enggan berpindah ke kota bersama Melda.

“Di sinilah tempatku, tempat aku dapat ketenteraman,”bisik hati kecil Inai Dodu. Keriuduannya pada mendiang suaminya tergamit. Walau pun mereka kawin atas persetujuan orng tua mereka, mereka  tetap hidup aman dan sayang  menyayangi.Nasib tidak begitu menyebelahnya, suaminya meninggal dunia dalam usia muda dan Meld masih sekolahg rendah lagi.

Inai Dodu terbayang  bagai mana perkahwinannya dahulu dibuat mengikut adat suku kaum mereka.  Adat Kadazan yang sudah mula memudar sekarang. Adat yang tidak disenangi oleh anak tunggalnya  Mellda.Inai Dodu menarik nafas panjang.

Inai Dodu masih ingat dari  celah-celahg dinding bambu , dia melihat bakal suaminya berpakaian bldu hitam berjalur hiasan keemasan dan memakai Sigah bersama rombongan membaw nopung untuk dipersembahkan pada hari perkahwinannya.Suaminya Mamai Ulih , disambut dengan penuh adat tradisi, pukulan Tagung dan Kulintangan yang meriah sambil diiringi oleh jeritan pangkis oleh anak-anak muda dari rombongan pengantin lelaki.

Setelah rombongan pengantin lelaki  menyerahkan nopung serta barang-barang hantaran barulah mereka dibenarkan masuk ke rumah. Selepas itu. Pendeta wanita yng dipnggil  Bobohizan membaca mantera, Inai Dodu dan Mamai Ulih duduk di atas hamparan tikar yang sudah dihias.  Duduk di atas  tikar mengkuang yang dikhaskan sebagai pelamin mereka itu,Inai Dodu dan Mamai Ulih dihidangkan  makanan dan nasi mereka dihidang dalam kuali, supaya  rezeki  ùereka senantiasa murah dan tidak akan putus.

Inai Dodu masih ingat  betapa dia rasa berubah bila suaminya  menyuapkan nasi yang dipanggil  pinisi dan mereka berbalas suapan. Bobohizan  terus membaca mantera, Pinisi atau naii yang  dikepalkan bulat-bulat adalah lambang rezeki yang murah. Inai Dodu masih ingat beberapa hari sebelum berkahwin, dia dilarang untuk keluar atau turun memijak  tanah. Sebagai bakal pengantin dia tidak boleh luka berdarah dan takut disampuk orang halus. Macam-macam pantang magi yang harus dia ikuti.

Selepas tiga hari perkahwinan mereka, dia dan suaminya harus membawa dia ke rumah suaminya, dan meneruskan upacara perkawinan mereka. Tiba di perkarangan rumah pengantin lelaki, sebelum menaiki rumah mereka dimestinkan memijak batu besar   sambil Bobohizan membacakan  mantera. Batu itu adalah simbol keutuhan rumah tangga mereka dan mereka juga dipakaikan Siung untuk menutup kepala mereka. Siung adalah simbol perlindungan, supaya ikatan perkahwinan mereka suci dan jauh daripada percubaan dan malapetaka.

“Ah! Kempunanlah si Melda untuk merasakan keunikn adat istidat perkahwinan ini,” bisik hati kecil Inai Dodu. Sekali lagi dia melepaskan keluhan berat cuba memujuk jiwanya yang berkecamuk antara malu dengan orang-orang kampung sendiri kerana gagal menuediakan dan menyembelih kerbau sebagai sogit dan tidak dapat mengikuti adat suku kaumnya.

Tiadalah upacara adat istiadat untuk perkahwinan Melda dan tiadalah keramaian selama tujuh hari tujuh malam buat Melda”, bisik hati Inai Dodu. Sebenarnya  Inai Dodu sudah lama berangan untuk mengikuti adat kalau anaknya kawin, tetapi malangnya impiannya tidak akan tercapai kerana  anaknya Melda tidak bersetuju dengan cadangannya.

“Lagi satu bulan Melda ajab kahwin, apa alasan yang akan aku beri pada abang nanti,” Inai Dodu jadi resah. Pasti abang sulungnya akan marah dan menyalahkan dia kerana akur pada keputusan anaknya. Apalagi tiada hantaran kerbu sebagai berian dan sogit untuk Melda.

“Aduh! Baik aku mati saja!” Keluh Inai Dodu.Hati Inai Dodu pilu.Mengenangkan mendiang suaminya dan takut berhadapan dengan ketua-ketua adat dalam keluarganya.

“Kalau kau masih hidup, Ulih, tidaklah begini kesusahan saya”, rintih Inai Dodu.Masih hijau dalam ingatannya bagaimana suaminya ditegur dan dimarah oleh kedua ibu bapaknya kerana memakan daging kerbau  yang disembelih dan dimasak pada hari perkahwinan mereka.

“Kau tidak boleh makan daging kerbau ini!”

“Daging ini kau hantar sebagai berian, sebagai sogit, kau tidak boleh makan!” Marah ayah Inai Dodu pada Mamai Ulih.

“Nah, itulah kau Ulih , kalau kau tidak makan daging  kerbau tu, pasti kita dapat anak ramai, tidaklah Melda seorang”, Nisik hati Inai Dodu.

“Nasib baik juga Melda lahir, kalau tidak, tidak berzuriatlah kita, akibat kau makan sogit itu”, suara hati Inai Dodu terus membisikkan kenangan lalu dan membuat Inai Dodu terkenang peristiwa yang berlaku lebih kurang dua puluh lima tahun dahulu. Airmata Inai Dodu mengalir tanpa disedari, hatinya terus berdarah, duka di jiwa terus menghantuinya. Esok dia akan menghantar kad-kad jemputan kahwin Melda pada saudara maranya dan pada abang sulungnya.

Innai Dodu  risau, mencari alasan yang kukuh untuk dijelaskan  bila orang-orang kampung  bertanya nanti  kenapa Melda tidak kahwin di kampung. Mengapa Melda mesti kawi di hotel. Apa lagi  kakak iparnya yang terkenal  dengan mulut  celupar pasti mengejeknya dan pasti tidak  akan datang kerana bagi mereka, sebagai  anak jati dari suku kaum Kadazan, meski kawin ikut adat, bayar sogit kampung. Apa pun keramaian, urusan adat istiadat lebih penting, nopung harus dihantar dan kerbau harus disembelih, seluruh sanak saudara mesti  dijemput untuk berpest selama tujuh hari tujuh malam dan memakan kerbau yang dihantar oleh pengantin lelaki sebagai sogit kampung.

Inai Dodu bungkam!  Mau rasanya dia meminta Tuhan untuk mengambilnya dan dapat bersama mendiang ssuaminya, kerana dia tidak tahu apa akan dilakukan kalau abang daan masyarakat  kampung mengejek dia kerana anak tunggalnya Melda kawin di hotel tidak di kampung!

“Ya Tuhanku, berilah aku kekuatan untuk menghadapi semua ini, kerana untuk meminta Melda menukar   fikiran tidak mungkin.” Bisik hatinya.

Kad jemputan sudah ada di tangan untuk diedarkan dan Melda akan kahwin di gereja dan terus  ke hotel untuk upacara selanjutnya. Tiadalah upacara tradisi untuk majlis perkahwian anak tunggalnya Melda dan tiadalah kerbau yang bakal tumbang untuk dijadikan sogit kampung. Inai Dodu pasrah, terpaksa mengalah dan menelan segala kepahitan dan cemuhan masyarakat kampungnya.***

 

Keterangan:

*. Kathirina Susana Tati, sastrawan Sabah dari suku Dayak Kadazan-Dusun, lahir di Kota Kinabalu , Agustus 1948. Pernah dianuegerahi Hadiah Sastra Nasional 1996/1997 oleh Pemerintah Sabah. Anggota  Perhimpunan Sastrawan Dayak Sabah, mitra jaringan Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah. Karya-karyanya antara lain: Kucerpen: “Menanti Maut Mengamit Pulang”; Kusajak: “ Mahligai Pasir” (Kinabalu, 2009) dengan Kata Pengantar Kusni Sulang.

  • Nopung (bhs Dayak Kadazan-Dusun) : Hantaran perkawinan (Berian).
  • Sogit, dat orang Kadazan-Dusun , binatng ternakan disembelih  sebagai upacara agar masyarakat kampung jauh dari bencana dan malapetaka.
  • Pinisi, nasi yang dikepalkan bulat-bulat dan disuapkan kepada kedua pengantin.
  • Tapai, lihing, bahar, montoku, miuman keras yang dibuat  dari nasi.
  • Bahar, minuman keras yang diambil dari pokok buah nipah.
  • Siung, sejenis topi yang dianyam dari rotan atau bambu.
  • Tagung, gong.
  • Sigah, tanjak dipakai oleh kaum lelaki Kadazan-Dusun , kain tenunan.
  • Pngkis, jeritan memanjang.

 

Bétang Eka Nganderang

POTRET KAMPUNG HALAMAN

Oleh Zalaman

 

yang terjadi di kampung ini bukanlah kebingungan 

tapi keberadaan di puncak duka di mana asa ditikam

tergeletak di mulut jurang. orang-orang pun tak mampu bertanya

kecuali beringas kehabisan kata lalu diam

 

sebelum api membakar segalanya jadi abu

juga menghanguskan  asa yang membangkai

dalam kepanikan perahu karam

orang-orang mencari tukang tenung

sehingga bau dupa di seantero kampung

penduduk terjepit dinding batu

 

Katingan, 2012

KASIDA TANGAN TAK TERGAPAI

Oleh Federico Garcia Lorca (Spanyol)

tak ada lain yang kuingini kecuali satu tangan, tangan ini
sebuah tangan luka — inipun jika mungkin terjadi
tak ada lain yang kuingini kecuali satu tangan, tangan ini
kendatipun ribuan malam tiada ranjang kumiliki

tangan itu adalah kembang leli putih warna kapur
tangan itu adalah merpati tertambat di hatiku,
tangan itu adalah pengawal malam kematianku
yang tegas melarang bulan masuk menyerbu

tak ada lain yang kuingini kecuali tangan, tangan ini
yang kujadikan minyak hari-hari
dan sprei putih kematianku.
tak ada lain yang kuingin kecuali tangan, tangan ini
untuk menyangga sebuah sayap kematianku.

selebihnya berlalu
warna merah cacat muka pun sudah tak bernama, bintang kekal.
selebihnya adalah yang lain: angin duka,
sedangkan dedaunan berhamburan melayang

Alihbahasa: Kusni Sulang dari Federico Garcia Lorca, “Poésies III. 1926- 1936″, Editions Gallimard, Paris, 1954.

 

 

Ungkapan & Pepatah Dayak Ngaju

 

1.Biti  paringkung dia habaju. Orang kurus tidak berbaju. Artinya:  Mempertontonkan esusahan diri pada orang lain.

 

2.Bitik mtéi intu gula. Semut mati di dalam gula. Artinya: Mati atau binasa oleh bujuk rayu.

 

3.Ka bukit uras mandai , ka luau uras muhun.Ke bukit semua mendaki, ke dataran semua menurun. Artinya:Seia sekata.

 

4.Mangasai buring intu bau kabuat. Memupur arang ke muka sendiri. Artinya: Mempermalukan diri sendiri.

 

5. Lapis tau inarawang, bulat tau imbaring. Pipih bisa diterbangkan, bundr bisa digulingkan. Artinya:  Mengatasi persoalan sesuai keadaannya.

 

 

‘Saving Face’ Potret Perempuan Pakistan

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/saving-face-potret-perempuan-pakistan/

28.02.2012 15:26

‘Saving Face’ Potret Perempuan Pakistan

Penulis : Dina Damayanti

(foto:dok/boycottmag.com)

LOS ANGELES – Di tengah gemerlap pesta Oscar, Academy tetap memberikan perhatian bagi film yang memiliki pesan ingin mengubah kehidupan banyak orang. Ini dibuktikan dengan kemenangan film Pakistan berjudul ‘Saving Face’ sebagai Film Dokumenter Pendek Terbaik.

Film dokumenter berdurasi 40 menit itu menceritakan serangan asam terhadap perempuan Pakistan. Tiap tahun, lebih dari seratus perempuan dilempari asam ke wajah mereka, yang merusak kehidupan, menghancurkan fisik maupun emosional mereka.

Film dokumenter ini memfokuskan diri pada kisah dua perempuan dan ahli bedah plastik, Mohammad Jawad, yang pulang ke negeri kelahirannya untuk menolong para korban serangan asam ini.

Setelah film ini meraih kemenangan di Oscar -yang merupakan Oscar pertama bagi Pakistan-, asisten sutradara Sharmeen Obaid-Chinoy (33) menyampaikan pidato yang begitu menyentuh yang ditujukan bagi semua perempuan di Pakistan yang sedang berjuang melakukan perubahan. ”Jangan putus asa menggapai mimpi kalian,” imbuhnya, seperti dikutip dari Yahoo! Movies. Sandra Bullock yang berdiri di sampingnya untuk memberikan piala Oscar, terlihat hampir menangis saat Obaid-Chinoy menyampaikan pidatonya. Sutradara asal Amerika Daniel Junge juga tampil sebagai asisten sutradara dalam film ini.

Menurut film ini, serangan asam paling banyak dilakukan oleh para suami yang marah atau lelaki yang lamarannya ditolak. AP melaporkan bahwa di tahun 2010, setidaknya terjadi 8.000 insiden kekerasan terhadap perempuan, termasuk pernikahan paksa di Pakistan. Angka itu bisa dikatakan rendah karena sejumlah korban tidak melaporkan kekerasan yang mereka terima. Beberapa korban serangan asam tetap bertahan dengan suami mereka karena takut kehilangan anak-anak mereka.

Dengan kemenangan ‘Saving Face’ di Academy Award yang merupakan ajang pernghargaan film bergengsi di dunia, akan menumbuhkan kesadaran mengenai kejahatan yang mengerikan ini. Meski film ini mengungkapkan sisi buruk Pakistan, namun Perdana Menteri Pakistan, Yusuf Raza Gilani mengatakan bahwa bangsa Pakistan harus menganugerahkan Obaid-Chinoy “penghargaan tertinggi bagi warga sipil saat ia pulang nanti,” seperti dikutip dari MSNBC.

Menulis “Diary” untuk Membangkitkan Rasa Percaya Diri?

 

Menulis “Diary” untuk Membangkitkan Rasa Percaya Diri?: Menulis sebagai Sebuah Kegiatan Mencipta? (11)

Oleh Hernowo

 in: dikbud@yahoogroups.com , Tuesday, 28 February 2012, 5:40

Sekitar tahun 2002 Penerbit Kaifa—penerbit dalam Kelompok Mizan—mengadakan kompetisi menulis catatan harian untuk remaja. Saya ditunjuk untuk menjadi salah satu juri. Setelah kompetisi selesai dan para pememang diumumkan, saya meminta izin Kaifa untuk menerbitkan beberapa catatan harian yang—menurut pertimbangan saya waktu itu—memiliki hal-hal yang penting dan berharga. Saya pun kemudian menghubungi para penulis catatan harian untuk meminta kesediaan mereka.
 
Sejak awal saya sadar bahwa menulis catatan harian adalah kegiatan menulis yang bersifat sangat personal. Ada kemungkinan besar, catatan harian menyimpan materi-materi yang tidak boleh diketahui oleh orang lain—selain penulisnya sendiri. Menulis catatan harian memang menulis untuk keperluan pribadi. Hanya, dikarenakan materi yang akan saya bukukan itu berasal dari sebuah lomba (kompetisi menulis), saya menganggap para peserta sadar bahwa tulisan catatan hariannya akan dibaca oleh orang lain.
 
Ketika membaca catatan-catatan harian mereka, saya merasakan keterlibatan diri mereka secara total. Pertama, catatan-catatan harian mereka itu unik. ”Mereka menulis bukan sekadar menulis. Mereka menulis untuk mengukur dirinya. Mereka menulis untuk mengenali diri mereka masing-masing. Mereka menulis untuk (sebuah keberanian) menjelajah ’dunia’ yang sangat luas yang bernama diri,” demikian kata-kata ini saya tulis di pengantar buku kumpulan catatan harian mereka.
 
Kedua, tanpa mereka sadari, catatan-catatan harian mereka telah berhasil mengubah keadaan diri mereka yang mungkin awalnya nobody menjadi somebody. Mereka tidak lantas terkenal setelah berhasil menulis catatan harian. Mereka masih tetap menjadi diri mereka sebagaimana sebelum menulis catatan harian. Mereka juga tidak lantas mendapat puja-puji setelah berhasil menulis catatan harian dan memenangkan kompetisi. Hanya, yang sangat istimewa dari kegiatan mereka adalah tumbuhnya rasa percaya diri bahwa mereka ammpu menunjukkan siapa diri mereka.
 
 
Ketiga, catatan harian mereka menunjukkan bahwa menulis catatan harian bukan kegiatan yang mudah dan asal tulis. ”Menulis tentang diri berarti menulis tentang sesuatu yang penuh misteri,” lanjut tulisan saya di pengantar buku tersebut. ”Diperlukan energi luar biasa dan kesungguhan yang total untuk dapat masuk ke dalam diri. Apalagi sarana yang dipilih mereka adalah kegiatan menulis.” Bagi remaja—apalagi pada saat ini—memilih kegiatan menulis sebagai cara mengekspresikan diri bukanlah sesuatu yang biasa dan mudah dijalankan. Menulis—meskipun hanya menulis catatan harian—perlu kesungguhan, kedisiplinan, kegigihan, dan kedalaman berpikir agar hasil tulisan tidak hampa atau tidak ada apa-apanya.
 
Di sampul belakang buku yang saya juduli Menulis “Diary” untuk Membangkitkan Rasa Percaya Diri (MLC, 2003), saya membuka sinopsis buku dengan pertanyaan: “Siapakah kamu? Dari mana kamu berasal? Hendak ke mana kamu? Mengapa kamu ada di dunia ini? Apa tujuan hidupmu? Apa arti hidupmu? Kapankah seseorang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini? Apakah setiap orang akan berjumpa dengan pertanyaan-pertanyaan ini? Dapatkah seseorang menghindar dan tidak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?”
 
Sebagai pelengkap, di Bab “Apendiks”, saya melampirkan 15 contoh catatan harian yang pernah dibuat oleh para tokoh dari pelbagai ragam profesi. Ke-15 tokoh itu adalah Anne Frank (yang terkenal dengan catatan hariannya yang dipanggil dengan sapaan akrab, “Kitty”), Dr. Sir Muhammad Iqbal (seorang sufi, ahli hukum sekaligus ahli filsafat, dan pemikir hebat Islam), Yusuf Ali (penerjemah Al-Quran ke bahasa Inggris), R.A. Kartini, Michaela Ozelsel (ahli psikologi Jerman), Karl May, Zlata Filipovic (seorang remaja Bosnia), Sarah Ban Breathnach (penulis Simple Abundace), Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, John Quincy Adams, Bridget Jones, Totto-chan (yang terkenal dengan sebutan ”Gadis Cilik di Jendela”), Emha Ainun Nadjib, dan Kahlil Gibran.
 
Satu hal menarik yang saya peroleh dari buku Menulis “Diary” untuk Membangkitkan Rasa Percaya Diri adalah ketika beredar isu di sebuah sekolah bahwa ternyata para penulis catatan harian itu bukan hanya para cewek. Saya mendapatkan isu tersebut dari sebuah diskusi tentang buku Menulis “Diary” untuk Membangkitkan Rasa Percaya Diri di sekolah SMA khusus para lelaki. Para penulis catatan harian ternyata adalah juga para cowok. Bahkan disebutkan pula bahwa para pemenang Nobel sastra rata-rata memiliki buku catatan harian. Untuk apa para peraih Nobel sastra itu punya catatan hatian? Untuk merekam hal-hal menarik dan berharga yang bersifat original dari kehidupan mereka.[]
 


Kho Ping Hoo

Kho Ping Hoo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Asmaraman S Kho Ping Hoo.jpg
Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo
Lahir 17 Agustus 1926
Bendera Belanda Sragen, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Meninggal 22 Juli 1994 (umur 67)
Pekerjaan penulis
Kebangsaan Bendera Indonesia Indonesia
Aliran Sastra cerita silat
Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo (juga dieja Kho Ping Ho, Hanzi: 許平和; pinyin: Xǔ Pínghé, lahir di Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926 – meninggal 22 Juli 1994 pada umur 67 tahun) adalah penulis cersil (cerita silat) yang sangat populer di Indonesia. Kho Ping Hoo dikenal luas karena kontribusinya bagi literatur fiksi silat Indonesia, khususnya yang bertemakan Tionghoa Indonesia yang tidak dapat diabaikan.
Selama 30 tahun ia telah menulis sedikitnya 120 judul cerita. Walaupun menulis cerita-cerita silat berlatar Tiongkok, penulis yang produktif ini tidak bisa membaca dan menulis dalam bahasa Mandarin. Ia banyak mendapat inspirasi dari film-film silat Hong Kong dan Taiwan. Karena tidak bisa berbahasa Mandarin, Kho Ping Hoo tidak memiliki akses ke sumber-sumber sejarah negeri Tiongkok berbahasa Cina, sehingga banyak fakta historis dan geografis Tiongkok dalam ceritanya tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Dari sebab itu, karya Kho Ping Hoo akan membingungkan bagi yang mengerti sastra atau sejarah Tiongkok yang sebenarnya.
Selain karya-karya yang termuat di artikel ini, masih terdapat karya-karya Asmaraman S. Kho Ping Hoo lain yang merupakan karangan-karangan lepas (satu judul/kisah tamat) baik berlatar belakang Tionghoa maupun Jawa seperti serial Pecut Sakti Bajrakirana dan serial Badai Laut Selatan yang berlatarbelakang masa Kesultanan Mataram Islam dan zaman Airlangga.
Beberapa sinetron yang ditayangkan televisi Indonesia juga memiliki kemiripan cerita dengan novel Kho Ping Hoo. Beberapa di antaranya adalah sinetron serial Anglingdarma yang mirip dengan alur cerita Bu Kek Siansu dan sinetron serial Misteri Gunung Merapi yang mirip dengan Alap-alap Laut Kidul (Lindu Aji) dan Bagus Sajiwo. Padahal dalam cerita asalnya, Misteri Gunung Merapi lebih bernuansa daerah Sumatra dengan Gunung Sorik Marapi-nya. Tidak diketahui apakah ini merupakan kebetulan ataukah bukan.

Keindahan alam dan Budaya Nias

Keindahan alam dan Budaya Nias

Text dan foto Barry Kusuma

klik http://www.alambudaya.com/ untuk foto dan artikel selengkapnya

Nias adalah sebuah pulau indah yang terletak di sebelah barat pulau
Sumatera, berdekatan dengan Kepulauan Mentawai. Pulau Nias ini dihuni
oleh mayoritas suku Nias yang sebagian masih memiliki budaya
megalitik.

untuk menuju ke NIAS kita bisa mencapainya dengan menaiki Pesawat dari
Padang atau Medan, penerbangan banyak dari Medan. atau bisa mencoba
alternatif dengan kapal feri yang memakan waktu hampir 1 hari
perjalanan. memang waktu perjalanan untuk menuju Nias tidak ada
penerbangan langsung dari kota besar, karena dahulu sebagian besar
transportasi ke Nias melalui Kapal Feri.

Kalau di Medan kita mengenal kata Horas, di Nias ada sapaan khas
Masyarakat mereka kepada siapapun. yaitu “Ya’ahowu” (semoga
diberkati). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna:
memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh
Yang Lebih Kuasa dan makna lain adalah persaudaraan (dalam damai).
jadi jika anda bertemu dengan masyarakat Nias ucapkanlah Ya Ahowu.

Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan
kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias mengatur segala segi
kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno
hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah
berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah
pedalaman pulau ini sampai sekarang. karena Menurut masyarakat Nias,
salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon
kehidupan.

Keindahan alam dan Budaya Nias

Text dan foto Barry Kusuma

klik http://www.alambudaya.com/ untuk foto dan artikel selengkapnya

Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra

Pendidikan Karakter dengan Metode Sentra
Oleh Yudhistira ANM Massardi

 

in:A-CI <artculture-indonesia@yahoogroups.com> ,: Monday, 20 February 2012, 16:08

Sejak sekolah gratis untuk kaum dhuafa yang kami kelola, TK-SD Batutis Al-Ilmi Bekasi, menerapkan Metode Sentra pada 2006, kami bagai menemukan “setitik cahaya di ujung terowongan.” Begitu melihat hasilnya yang luarbiasa, kami yakin, jika pendidikan anak usia dini di sini diselenggarakan dengan menggunakan Metode Sentra, insya Allah bisa dilahirkan generasi baru bangsa yang lebih baik: cerdas, mandiri, berakhlak mulia.

 

Model pembelajaran Sentra dikembangkan oleh Pamela Phelps di Florida, Amerika Serikat, sejak tahun 70-an. Metode ini diadopsi dan dibawa ke Indonesia oleh drg. Wismiarti Tamin, pendiri Sekolah Al-Falah di Ciracas, Jakarta Timur, 1996. Kami mempelajari, mengembangkan dan kemudian menyebarluaskannya melalui seminar, pelatihan dan penerbitan majalah Media TK Sentra, setelah menjalani training yang diselenggarakan oleh Sekolah Al-Falah.

 

Metode Sentra adalah cara belajar-mengajar yang revolusioner bagi pendidikan anak usia dini. Inilah jawaban menyeluruh terhadap kebutuhan bangsa yang kini hibuk mencari formula bagi sebuah “pendidikan karakter” yang bisa mengubah  moral-mental-nalar bangsa ini menjadi lebih baik. Juga sekaligus menjadi jawaban bagi kebutuhan sebuah pendidikan “berstandar internasional” plus Islami.

 

Paradigma baru
Metode Sentra merupakan paradigma baru di bidang pendidikan dan pengajaran. Mengingat begitu luas tujuan dan cakupannya, di sini hanya akan dikemukakan beberapa prinsipnya yang berbeda dengan metode konvensional.

 

Dalam pembelajaran dengan Metode Sentra, kurikulum tidak diberikan secara klasikal, melainkan individual, disesuaikan dengan tahap perkembangan masing-masing anak. Maka, jumlah murid dalam satu kelas dibatasi, maksimal 12 anak. Selama proses pembelajaran, guru dilarang melakukan “3M”: tidak boleh melarang, menyuruh, marah/menghukum.

 

Basis pembelajaran adalah bermain sambil belajar. Suasana belajar-mengajar dibangun untuk memberikan rasa nyaman dan bahagia (happy learning). Untuk mencapai suasana tersebut, guru bersama murid duduk dalam lingkaran, supaya posisi mata guru sejajar dengan mata para murid, sehingga tidak ada jarak hierarkial. Maka, di kelas pun tidak ada papan tulis, sebab guru tidak memerlukannya. Materi ajar disampaikan secara interaktif dan kongkret, dengan menempatkan murid sebagai pusat. Guru pun menyapa para murid dengan sebutan “teman.” Ketika memasuki kelas, guru tidak datang dengan sikap “akan mengajar apa kepada anak hari ini” melainkan “aku akan belajar apa dari anak hari ini.”

 

Metode ini membangun “kecerdasan jamak” secara bersamaan dan berimbang: kecerdasan logika-matematika, bahasa, tubuh (kinestetik), ruang (spasial), kemandirian (intrapersonal), kepedulian sosial (interpersonal), musik. Seluruh potensi kecerdasan itu dibangun melalui sentra-sentra (wahana) bermain yang meliputi tiga jenis main: main pembangunan, sensorimotor dan main peran.

 

Ada tujuh sentra yang disediakan agar anak-anak bisa bermain gembira dan mendapatkan banyak pilihan pekerjaan:  Sentra Persiapan (membangun kemampuan keaksaraan); Sentra Balok (merangsang kemampuan konstruksi, prediksi, presisi, akurasi, geometri, matematika); Sentra Seni (membangun kreatifitas, sensori motor, kerjasama); Sentra Bahan Alam (membangun sensori motor, fisika sederhana, pemahaman akan batasan dan sebab-akibat); Sentra Main Peran Besar dan Sentra Main Peran Kecil (mambangun imajinasi, daya hidup, adaptasi, kemandirian, kebahasaan, kepemimpinan); serta Sentra Imtak (iman dan takwa). Setiap hari, anak bermain di Sentra yang berbeda (moving class).

 

Di setiap Sentra, kemampuan klasifikasi anak dibangun secara terus-menerus agar mereka bisa memiliki konsep berpikir yang benar, kritis, dan analitis. Semua pengetahuan (knowledge) diberikan secara kongkret, tidak abstrak. Anak-anak dirangsang untuk “menemukan sendiri” konsep-konsep faktual mengenai bentuk, warna, ukuran, ciri, tanda, sifat, habitat, manfaat, serta rangkaian sebab-akibat.

 

Sejak dini, anak pun dirangsang untuk bisa mengekspresikan diri dengan baik melalui kelisanan, tulisan dan gambar. Oleh karena itu, selama proses belajar-mengajar, guru melakukan komunikasi interaktif dengan menggunakan bahasa Indonesia yang  baik dan benar, agar cara kerja otak anak pun terstruktur dengan baik. Bersamaan dengan itu, dibangun juga laku praksis (bukan hafalan) karakter-karakter luhur berdasarkan sifat-sifat mulia Allah (Asmaul Husna).

Jendela kesempatan
Metode Sentra terbukti sangat efektif digunakan untuk membangun karakter dan kecerdasan anak sejak bayi (usia empat bulan) hingga jenjang SD kelas tiga (usia sembilan tahun). Itulah fase awal dalam kehidupan anak manusia yang oleh para ahli pendidikan disebut sebagai “usia emas (golden age: 0-7 tahun).” Itulah suatu rangkaian waktu yang juga disebut sebagai sebuah “jendela kesempatan” yang akan tertutup sesudah waktu itu berlalu. Itulah masa yang sangat menentukan kualitas dan masa depan anak: sukses atau gagal, jadi ahli surga atau ahli neraka.

 

Pertanyaannya adalah, sungguh-sungguhkah kita, para orangtua, para pempimpin bangsa, hendak memiliki anak-cucu yang bisa menjadi generasi baru bangsa yang lebih baik? Jika ya, satu hal yang sudah pasti adalah: fondasi bagi kecerdasan dan karakter mulia hanya bisa dibangun ketika anak usia 0-7 tahun. Itu artinya, Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional harus diubah, dan program wajib belajar 12 tahun harus berfokus pada pendidikan anak usia dini!
Itulah yang diyakini dan dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Begitu mengetahui kemerosotan kualitas para pelajarnya sebagaimana yang ditunjukkan oleh, antara lain, hasil tes PISA 2009 yang menempatkan posisi anak-anak Amerika dalam kemampuan membaca, sains dan matematika pada peringkat 17, 23 dan 31 di antara 65 negara, Presiden Obama langsung berkesimpulan: “Amerika berada dalam bahaya terjengkang ke belakang.” Maka, ia pun menggelontorkan dana US$ 10 miliar untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini, termasuk anak-anak kaum miskin, dan peningkatan kualitas serta gaji para guru.

 

Kini, kita memiliki sekitar 65 juta anak usia 0-14 tahun, dan separuhnya tidak mampu bersekolah. Kita juga memiliki sekitar 60 juta jiwa orang miskin dan sangat miskin. Maka, kita pun bisa membayangkan, seperti apa masa depan anak-anak mereka. Padahal, mereka juga adalah para ahli waris utang luar negeri sebesar US$ 214,5 miliar, sekaligus merupakan  generasi penerus bangsa yang harkat dan martabatnya ambruk terbenam kemiskinan dan moralitas para pemimpinnya yang buruk.

 

Apakah Anda, terutama Presiden SBY, sungguh-sungguh tidak mau bertindak dan mengulurkan tangan untuk memperbaiki nasib dan masadepan puluhan juta anak-cucu yang menangis dan merangkak dalam kebodohan dan kurang gizi itu? Pak SBY, inilah “jendela kesempatan” terakhir Anda untuk melakukan kebaikan di muka bumi.

 

Dengarlah apa yang dikatakan oleh Presiden Obama: “Saya tidak mau mengirimkan generasi baru Amerika berikutnya untuk gagal di sekolah. Saya tidak mau masadepan seperti itu bagi anak-anak perempuan saya. Saya tidak mau masadepan seperti itu untuk anak-anak Anda. Saya tidak mau masadepan seperti itu untuk Amerika.”[] (MEDIA INDONESIA, 20 Februari 2012)

 

* Yudhistira ANM Massardi adalah sastrawan/wartawan pengelola sekolah gratis untuk dhuafa, TK-SD Batutis Al-Ilmi Bekasi.

 

Yudhistira ANM Massardi
email: ymassardi@yahoo.com
HP 0813.8842.0811
Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa,TK-SD Batutis Al-Ilmi Bekasi
Pondok Pekayon Indah Blok BB 29 No 6, Jl. Pakis V B, Pekayon Jaya, Bekasi 17148

Writer’s Notebook: Menulis sebagai Sebuah Kegiatan Mencipta?(9)

Writer’s Notebook: Menulis sebagai Sebuah Kegiatan Mencipta?(9)


Oleh Hernowo

in:dikbud@yahoogroups.com , Saturday, 25 February 2012, 9:25

 
”Dulu ketika saya masih kecil, sebuah truk perbaikan telepon berhenti di rumah saya. Dua petugas turun dari truk dan menggali parit sempit untuk memasang kabel telepon. Ketika hari mulai gelap, mereka meninggalkan rumah saya dan berjanji akan melanjutkan pekerjaannya besok pagi.
 
”Besok paginya, sebelum kedua petugas datang, saya pergi keluar untuk melongok ke dalam parit yang kemarin kosong. Tapi, parit itu sekarang tidak kosong rupanya. Saya terkejut mendapatkan segala macam binatang kecil yang terjebak di sana: ada empat katak dan, bahkan, kura-kura kecil. Mereka tentunya berjalan ke parit itu dan kemudian jatuh ke dalamnya.”
 
Itulah cerita Ralph Fletcher mengawali buku ciptaannya, A Writer’s Notebook: Unlocking the Writer Within You. Setelah bercerita seperti itu, Ralph menulis bahwa buku catatan seorang penulis mirip dengan parit—sebuah ruang kosong yang digali dari kehidupan kita yang, mungkin saja, sangat sibuk, sebuah ruang yang akan dipenuhi oleh segala macam hal kecil yang menakjubkan!
 
Menurut Ralph lebih jauh, apabila kita mau menggali kehidupan kita—dengan menyediakan parit atau writer’s notebook—mereka, hal-hal kecil itu, akan datang. Kita akan terheran-heran dengan apa yang akan kita peroleh. Dengan bahasa yang lebih jelas, Ralph mengatakan bahwa writer’s notebook adalah tempat (parit) untuk mencatat (1) apa yang membuat diri kita takjub, kaget, dan marah; (2) apa yang membuat diri kita ingin tahu sesuatu.
 
Ralph Fletcher
 
Ada sekitar 11 manfaat writer’s notebook yang telah didata oleh Ralph. Kesembilan lainnya: (3) apa yang kita amati; (4) “benih ide” atau “pemicu” untuk mengarang cerita atau puisi; (5) detail-detail kecil tentang sesuatu yang memikat diri kita; (6) potongan pembicaraan yang tiba-tiba kita dengar; (7) kenangan; (8) daftar; (9) foto, artikel, potongan tiket atau artifak lain; (10) sketsa, gambar, atau coretan yang kita buat secara spontan; dan (11) kutipan dari buku atau puisi.
 
Jadi, apa sih sesungguhnya buku catatan penulis (writer’s notebook) itu? “Mari kita mulai dengan membicarakan apa yang bukan,” tulis Ralph. Pertama, buku catatan penulis bukanlah sebuah diary(buku catatan harian). Kedua, buku itu juga bukan catatan bacaan yang diisi dengan ringkasan ide utama sebuah buku, atau latihan menulis surat kepada seseorang seperti yang diperintahkan seorang guru.
 
Jadi, apa? ”Penulis adalah orang-orang biasa,” kata Ralph enteng. ”Pernulis sama dengan orang-orang lain, kecuali untuk satu perbedaan kecil yang penting. Orang lain berpikir dan merasa setiap hari, memperhatikan langit dan bau-bauan, tepi mereka tidak melakukan apa-apa dengan itu. Semua pikiran, perasaan, sensasi, dan pendapat itu berlalu seperti udara yang mereka hirup.”
 
Nah, menurut Ralph, tidak demikian dengan para penulis. Penulis bereaksi. Dan penulis perlu tempat untuk merekam reaksi-reaksi itu. Untuk itulah gunanya buku catatan penulis. Buku itu menjadi tempat untuk mencatat apa yang membuat kita marah atau sedih atau heran. Buku itu juga untuk mencatat apa yang ingin diperhatikan dan tak ingin dilupakan. Lewat buku catatan penulis, apa yang dibisikkan nenek di telinga sebelum nenek wafat pun dapat dicatatat di situ.
 
”Buku catatan penulis memberi kamu tempat untuk hidup seperti seorang penulis, bukan hanya ketika kamu di sekolah selama jam pelajaran menulis, melainkan di mana pun kamuj berada, kapan pun sepanjang hari di sepanjang hidupmu,” tegas Ralph.[]

It’s My Life: Menulis sebagai Sebuah Kegiatan Mencipta?(8)

 

It’s My Life: Menulis sebagai Sebuah Kegiatan Mencipta?(8)

Oleh Hernowo

  in:dikbud@yahoogroups.com , Friday, 24 February 2012, 2:45

 

 

It’s my life 

It’s now or never 

I ain’t gonna live forever 

I just want to live while I’m alive 

(It’s my life) 

My heart is like an open highway 

Like Frankie said  I did it my way 

I just wanna live while I’m alive  It’s my life 

 

Gerak Bon Jovi—dalam tayangan video—yang begitu bebas dan lepas ketika menyanyikan “It’s My Life” hamper senada dengan buku yang disusun oleh psikolog Dr. Tian Dayton,It’s My Life. Buku Dr. Tian mengajak para remaja untuk bebas dan lepas dalam menuliskan dirinya sebagaimana gerak Bon Jovi. It’s My Life, yang dirancang dalam bentuk buku catatan harian yang sangat personal, berisi tidak hanya lembaran-lembaran tempat untuk menuliskan teks, tetapi juga tempelan (dalam bentuk tiga dimensi), gambar, dan bentuk-bentuk ekspresi diri lainnya yang sangat unik dan kaya.

 

Lembaran-lembaran itu terbagi dalam lima wadah yang semua wadah itu dapat dimanfaatkan oleh seorang remaja untuk menumpahkan dan menunjukkan siapa diri sejatinya. Pertama, wadah untuk menampung “Diriku”. Di sini, Dr. Tian mengajak para remaja untuk menempelkan foto diri, kliping diri, memperkenalkan diri kepada dunia, hingga wajah batin dan wajah duniawi diri serta kritik-kritik yang terus terngiang di telinga sehingga membuat sang diri merasa tidak berharga. Semuanya—ekspresi diri tersebut—perlu ditumpahkan lewat gaya menulis personal: menggunakan kata ganti orang pertama, “aku”.

 

Dr. Tian Dayton

 

Kedua, setelah diri, wadah berikutnya adalah wadah yang diharapkan dapat menampung keluarga dan teman-teman. Sekali lagi, Dr. Tian meminta seorang remaja untuk mengumpulkan foto-foto tentang keluarga dan para sahabatnya. Dimulai dengan bagaimana merasakan cinta, lalu bagaimana meluapkan emosi (marah, sedih, bahagia), akhirnya sampailah pada kelokan-kelokan yang di dalamnya ada bagaimana memenuhi harapan orangtua, belajar dengan meniru, puisi keluarga, sebuah catatan perjalanan, diagram tentang seorang teman, catatan teman, serta bagaimana membangun kekuatan pribadi dalam menghadapi lingkungan yang kompleks dan terus berubah.

 

Ketiga—ini yang sangat menarik menurut saya—wadah untuk menampung gejolak perasaan. Betapa tidak mudahnya merumuskan dan mengenali persaan? Namun, menurut buku ciptaan Dr. Tian ini, membiasakan diri menuliskan gejolak perasaan akan mendekatkan diri kita ke cirri-ciri sebuah perasaan. Di bagian ketiga ini, misalnya, ada tanya-jawab dengan bagian diri yang terluka. Lalu dilanjutkan dengan otobiografi emosional—menarik sekali bukan?—dan bagaimana memahami rasa marah, mengendalikan rasa marah, dan mencegah rasa marah, serta bagaimana cara memisahkan diri dengan rasa marah yang bagaikan ledakan bom nuklir? Di samping semua itu, ada juga grafik stres, menciptakan kalimat penggugah khusus untuk bangkit dari keterpurukan, dan tentang luka hati yang menganga sangat besar.

 

Keempat adalah wadah yang dikhususkan untuk menampung bagaimana “Menentukan Nasib Sendiri” yang terkait dengan pemahaman diri dan kelima merupakan wadah untuk mengeksplorasi “Masa Depan”. Di sini, para remaja diajak untuk membuat pernyataan misi, merinci karunia dan bakat yang telah dimiliki, memandang masa lalu untuk keperluan menentukan masa depan, tentang cerita Amy (contoh bagaimana menuliskan diri), sepucuk surat berisi permintaan maaf, dan surat untuk Tuhan.

 

”Menulis dalam buku harian (jurnal) sebenarnya sama dengan menulis bebas secara pribadi. Goreskan saja ujung penamu pada kertas (mungkin kalau di zaman iPad seperti saat ini, kalimat itu dapat diganti menjadi: ’ketikkan atau tekan saja tombol-tombol huruf itu di gadget-mu’—H), lalu biarkan hatimu menumpahkan semuanya. Nggak usah cemas tulisanmu kelihatan atau kedengaran kayak apa. INI CUMA UNTUK DIRI KAMU SEORANG…,” tulis Dr. Tian Dayton.

 

Jadi, menulis di buku catatan harian adalah identik dengan menulis bebas. Dr. Tian Dayton yang doktor di bidang psikologi itu telah membuat kegiatan menulis menjadi mudah, sangat bermanfaat untuk membebaskan diri sekaligus menemukan diri, dan mengasyikkan. Bayangkan saja, lewat menulis, kita dapat memiliki sebuah kehidupan yang dapat kita rancang sendiri, kita kendalikan, dan tidak hilang… I just wanna live while I’m alive ….[]

BUDAYA MENULIS

Panutung MATANANDAU

Ruang Kebudayaan Harian Palangka Post
Kerjasama dengan Lembaga Kebudayaan Dayak Kalteng
Untuk Kalteng Bermutu & Beridentitas Kalteng
Alamat: lamianglilis@rocketmail.com atau meldiwa@yahoo.com.sg
 
Tajuk Panutung Andriani S. Kusni
 
BUDAYA MENULIS
Di samping oleh Pramoedya A. Toer, arti penting kegiatan menulis juga ditunjukkan oleh tidak sedikit cerdik pandai dan orang bijak lainnya. Menunjukkan arti penting menulis, orang-orang ini mengatakan bahwa yang tidak menulis akan hilang dan dilupakan. Tapi arti penting menulis bukanlah agar tidak dilupakan, bukan pertama-tama terletak pada agar tidak hilang, melainkan salah satu prasyarat bagi kehidupan baik dahulu mau pun sekarang. Salah satu syarat untuk mentransfer dan mengembangkan nilai dan peradaban.Salah satu ciri dari tingkat peradaban. Budaya lisan tidak cukup kokoh dan tidak bisa diandalkan untuk memelihara dan mengembangkan peradaban. Karena itu dismping emelihara budaya lisan, budaya menuls patut dikembangkan. Budaya lisan patut dikembangkan ke tingkat berikut yaitu budaya menulis. Salah satu faktor yang melemahkan budaya Dayak tidak lain karena ia tidak berbasiskan budaya tulis tapi pada budaya lisan. Pada budaya tutur yang gampang  digerus zaman. Tapi justru budaya tulis ini sampai sekarang masih belum juga mengalami perkembangan berarti dan kurang mendapat perhatian. Dari 31 perguruan tinggi dan universitas di Kalteng, boleh dikatakan tdk satu pun yang mempunyai penerbitan ilmiah yang berarti dan ajeg. Universitas Palangka Raya (Unpar) dengan 15.000 mahasiswa dan ratusan profesor doktor, penyandang S2 dan S1  sampai sekarang tidak mempunyai penerbitan ilmiah demikian. Media massa sangat-sangat jarang menampilkan tulisan-tulisan para sarjana yang membahas keadaan dan perkembangan masyarakat. Media massa cetak pun sepi dritlisan-tulisan bhasan mereka tentang kehidupan, keadaan dan perkembangan masyarakat. Sehingga sekali pun saban tahun 31 universitas dan perguruan tinggi mewisudakan ribunn dan ribuan sarjana tapi dampak maju Kalteng dari  kelulusan itu kurang dirasakan, kecuali barisan pengangguran sarjana  yang kian panjang serta jumlah orang-orng yang gemar menderetkan gelar-gelar akademi tanpa karya. Sehingga Kalteng seakan-akan provinsi tanpa universitas dan sarjana. Salah seorang profesor doktor Unpar ketika bertemu saya, mengatakan bahwa ia akan menulis sesudah pensiun. Pernyataan yang menyelipkan pandangan bahwa karya tulis terpisah dari kesarjanaan. Menulis hanyalah kerja para pensiunan.
Menulis erat hubungannya dengan membaca dan penelitian. Tingkat membaca dan penelitian pun tidak membanggakan di daerah ini. Keadaan universitas dan perguruan tinggi Kalteng hanyalah salah satu bukti dari apa yang dikatakan oleh Prof. Suyanto,Ph.D. bahwa “mahasiswa dan dosen kita tak bisa menulis”. Keadaan begini tidak boleh dipertahankan dan dikembangkan. Untuk mengubah keadaan begini, dengan kemampuan finansial sangat minim, dengan bersandar pada sistem kerja jaringan maka Lembaga Kebudayaan Dayak Kalmantan Tengah (LKD-KT) mencoba mendorong penggalakan penerbitan karya-karya tulis para sarjana dan penulis Kalteng. Mengajak para cedekiawan Kalteng menulis. Di bidang ini pun diperlukan inisiator dan organisator.***
Esai Prof. Suyanto Ph.D
MAHASISWA DAN DOSEN KITA
TAK BISA MENULIS
Mengapa kita bisa atau tak bisa menulis? Pertanyaan ini sengaja dibuat untuk menggambarkan bahwa menulis artikel (ilmiah) memang tidak mudah.
Meski ada sedikit yang bisa, sebagian besar dari kita—siswa, mahasiswa, dan dosen sekalipun— berada pada kategori kurang bisa sampai pada tidak bisa sehingga takut untuk mencobanya. Mudah sekali untuk membuktikan itu. Ketika Dirjen Dikti Kemendikbud membuat surat edaran yang mewajibkan semua lulusan perguruan tinggi baik jenjang S-1,S-2,maupun S- 3 untuk memublikasikan karya ilmiah (skripsi, tesis, atau disertasinya) sebagai syarat kelulusan, di antara mereka banyak yang kaget,“termehek-mehek” dengan reaksi yang beraneka ragam.
Semua reaksi itu merupakan gambaran bahwa kita semua,sebagianbesar,tidakdan belum bisa menulis,kecuali mereka yang bisa,tetapi tidak mau. Dalam tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman mengapa sebagian besar kita tidak bisa dan sebagian kecil saja yang bisa menulis.Memang betul kemampuan menulis tidak bisa dikarbit.Kemampuan menulis untuk kepentingan sebuah publikasi merupakan proses yang panjang. Ada beberapa syarat penting yang harus dimiliki penulis untuk menciptakan sebuah tulisan yang baik yaitu knowledge, courage, experience,dan inspiration.
Karena perlu ada ketiga aspek penting itulah, seseorang tidak bisa serta-merta selalu siap sedia dengan stok tulisan ilmiah. Jangankan menulis karya ilmiah kalau tidak memiliki keempat aspek penting tersebut, saya yakin yang bersangkutan juga tidak akan bisa menulis di rubrik pikiran pembaca di koran mana pun. Masih sedikit di antara kita yang bisa menulis ilmiah baik berupa buku maupun penerbitan ilmiah di berbagai jurnal ilmiah. Itulah sebabnya Dirjen Dikti Kemendikbud prihatin terhadap begitu rendahnya publikasi ilmiah di perguruan tinggi kita. Publication index kita saat ini ketinggalan jauh dibanding perguruan tinggi di Singapura atau bahkan dengan Malaysia sekalipun.
Ada yang Bisa
Di antara kita ada yang telah sukses melahirkan tulisan monumental.Mengapa begitu? Jawabnya,mereka memang memiliki cukup banyak repertoir pengetahuan (knowledge) yang diderivasikan dari penguasaan ilmu pengetahuan tertentu.Namun, untuk melahirkan sebuah tulisan ilmiah,tak cukup hanya ada persediaan atau stok pengetahuan dalam kepalanya. Dalam proposisi ilmiah kondisi ini bisa digambarkan secara lugas: “it is necessary but not sufficient”.
Masih ada syarat berikutnya yaitu keberanian (courage). Kalau seseorang tidak berani menghadapi bayangan dan perasaan yang menakut- nakuti akan penerbitan tulisannya di media mana pun, tentu tidak akan lahir sebuah tulisan yang baik. Faktor berikut yang bisa mendorong orang bisa atau tidak bisa menulis adalah pengalaman (experience).Pengalaman akan semakin memperkaya kosakata, metafora, substansi, serta artikulasi materi sehingga yang bersangkutan bisa menulis dengan gaya dan materi yang mengalir begitu saja bagaikan mata air yang tak pernah kering.
Pengalaman bisa terkait dengan “jam terbang”. Meskipun demikian,pengalaman dapat dipercepat tidak harus sesuai dengan usia kronologis seseorang. Hal ini terjadi karena sumber informasi di era digital,global,dan virtual ini terbuka lebar tanpa batas bagi siapa saja. Informasi apa saja saat ini bisa diperoleh di situs internet yang jumlahnya miliaran, dan setiap hari berkembang ratusan juta mengikuti prinsip deret ukur. Karena itu, supaya mahasiswa dan atau dosen bisa menulis dengan baik, rajinlah browsing di bidangnya masing-masing di banyak situs yang relevan dengan substansi ilmu yang dikembangkannya.
Komponen penting terakhir yang harus dimiliki agar mahasiswa atau dosen bisa menulis karya ilmiah ialah dimilikinya inspirasi (inspiration) yang kuat.Hanya dengan inspirasi, orang akan bisa melakukan kegiatan menulis secara produktif. Inspirasi bisa lahir kalau seseorang berada paa kondisi yang bebas tanpa tekanan sehingga ia memiliki imajinasi yang “liar” yang kemudian ditata menjadi sebuah inspirasi positif untuk dituangkan dalam sebuah tulisan. Ingat, imajinasi adalah dasar utama lahirnya semua teknologi penting di dunia ini.
Sebuah mobil amat sangat mahal, dan di Indonesia masih jarang ada yang punya kecuali para hartawan, juga lahir dari imajinasi chief executive officer-nya ketika membesuk koleganya yang dirawat rumah sakit.Pada saat menunggu, dia, sang CEO itu, melihat seorang anak larilari bermain di lingkungan rumah sakit.Salah satu dari anak itu meloncat ke atas meja yang agak tinggi, dan serta merta terjun kembali karena dikejar kawan-kawannya. Apa pentingnya anak terjun dari meja bagi CEO itu?
Dia melihat anak itu terjun dari meja dengan gaya jatuh yang anggun, tanpa ada gerakan menghentak, dan tetap stabil berdirinya kembali dari posisi: merunduk, jongkok, sampai berdiri tegak sebagai akibat high impact karena tergesa dikejar kawan-kawan sepermainannya. Sejak itu CEO itu berimajinasi akan membuat suspensi mobil dengan prinsip yang memberikan kenyamanan bak anak kecil yang jatuh dengan sangat anggun dan stabilnya tadi.Singkat cerita,lahirlah teknologi suspensi, yang mewah, nyaman, dan stabil bagi sebuah mobil mewah di dunia, dan sangat mahal harganya.
Itulah imajinasi yang kemudian diolah dan diproses secara kognitif menjadi inspirasi sebuahrekayasateknologiautomotif yang memiliki unggulan kompetitif. Prinsip menulis juga seperti itu. Manakala seorang dosen atau mahasiswa telah memiliki inspirasi yang kuat disertai dengan keberanian untuk mengomunikasikan ilmu pengetahuan yang mereka miliki, berdasarkan pengalaman positif selama ini, tak satu pun kekuatan yang bisa mencegah mereka untuk selalu menulis, dan menulis lagi.
Meski dengan tulisan itu mereka bisa saja menghadapi berbagai konsekuensi psikologis, sosiologis, maupun politis kalau saja tulisan itu akhirnya mengundang pro-kontra dan polemik yang berkepanjangan. Akhirnya, bisa disimpulkan bahwa kemampuan menulis bukan persoalan apakah seseorang itu pintar atau tidak secara kognitif semata,tetapi juga menyangkutmasalahkebe-ranian, pengalaman, dan inspirasi kuat yang bisa muncul di benak para calon penulis karya ilmiah itu sendiri.
Di era global seperti saat ini memang kemampuan menulis ilmiah sangat vital bagi para mahasiswa dan dosen kita. Itulah sebabnya di kampus di mana saya pernah belajar di Amerika Serikat pada 1980-an, di semua sudut-sudut kampus itu digelorakan semangat dan visi: Publish or Perish. Semoga kita juga bisa begitu.***

* PROF SUYANTO PHD ,Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta Plt Dirjen Pendidikan
Dasar Kemendikbud , in : In tehniomedia@yahoo.com.Rabu 22 Febuari 2012        
.
Cerpen Lisa Purnama Sari
Senyum yang Hilang
Sejak awal aku memang tak suka membaca surat kabar. Menurutku isinya hanya membahas tentang bisnis, para pejabat yang ditangkap karena korupsi atau tentang berita-berita yang kuanggap itu bukan urusanku. Tapi, entah mengapa semenjak aku melihat lelaki itu aku seperti tersihir oleh matanya yang membuat hatiku terasa berbeda. Ia memang hanya seorang penjaja koran di lampu merah, namun aku merasa ada yang istimewa dari lelaki itu. Ia hampir sama dengan lelaki lain pada umumnya. Yang membuatku kagum yaitu kesederhanaannya. Sejak itu, setiap melintas di lampu merah aku selalu membeli koran yang dijualnya. Setiap hari aku harus merelakan uang sebesar Rp 3.000,00 untuk membeli koran agar aku bisa dekat dengannya. Padahal ayahku juga berlangganan koran di rumah, tapi aku lebih memilih membuang uang untuk koran yang sama sekali tak pernah kubaca. Usahaku ternyata menunjukkan titik terang. Ia mulai akrab denganku, mungkin karena aku sudah menjadi pelanggan setianya. Aku selalu mendapatkan senyuman hangat di lampu merah itu. Senyuman yang selalu membuatku semangat bangun pagi, bahkan saat kuliah pun senyuman itu selalu terbayang di pikiranku.
“Ayo, lagi mikirin apa?” suara yang tak asing lagi di telinga memecahkan lamunanku.
Kuarahkan pandangan ke sumber suara ternyata Andin, teman kuliahku.
“Ah, kamu ini mengagetkan saja!” dengusku dengan kesal.
“Kamu sih dari tadi kuperhatikan senyum-senyum sendiri seperti orang gila,” celoteh Andin sembari mengambil surat kabar yang berada di atas bangku kuliahku.
Tak sempat mengucapkan sepatah kata, suara Andin kembali terdengar.
“Wah, tumben akhir-akhir ini kamu selalu beli koran. Yang aku tahu kamu kan paling malas membaca surat kabar?” tanya Andin dengan penasaran.
“Oh, itu cuma… ah, sudahlah An, tak usah dibahas,” ucapku tak karuan.
“Ya sudah,” sahut Andin sembari mengambil kursi dan duduk di sampingku.
Saat ini aku memang tak ingin Andin tahu jika aku sedang jatuh cinta dengan seorang lelaki penjaja koran di lampu merah. Bukan karena aku malu, tapi ini bukan waktu yang tepat.
Aku mulai berpikir kalau pertemuan kami memang terlalu singkat. Aku ingin memiliki senyuman itu setiap saat, senyuman yang mampu membuatku lebih hidup.
“Aku harus mengutarakan perasaanku, aku tak peduli ia seorang penjaja koran. Kalaupun perasaanku ini ditolak, aku terima yang penting aku tidak memendam rasa ini terlalu lama,” ucapku  dalam hati sembari mengambil secarik kertas.
Aku mulai menulis surat untuk mengajaknya bertemu di sebuah taman kota. Kuselipkan surat itu di amplop berwarna merah.
“Semoga besok malam ia datang,” harapku dengan wajah yang berseri-seri.
Pagi telah datang, sinar mentari menerobos dari sela gorden kamarku. Aku bergegas bangun dan mandi. Aku tak ingin melewatkan pagi ini karena surat yang kutulis tadi malam harus kuberikan kepadanya. Seperti biasa, senyumnya sudah nampak di lampu merah itu. Kusodorkan uang beserta surat, wajahnya yang tadi dihiasi dengan senyuman kini berubah menjadi kebingungan.
“Ini apa?” ucapnya penuh kebingungan.
“Baca saja,” jawabku seraya tersenyum dan pergi meninggalkannya.
Senja melenyap di kaki kota, lampu-lampu taman mulai gemerlapan menerangi gelapnya malam. Aku sejak tadi duduk di sebuah kursi taman menunggu sesosok laki-laki yang sangat kuharapkan kehadirannya. Hatiku tak karuan membayangkan aku akan menyatakan rasa suka kepada lelaki penjaja koran. Aneh memang, tapi aku tak peduli karena perasaan itu datangnya dari hati. Kulirik arloji di tanganku, sudah malam begini lelaki itu tak kunjung datang.
“Mungkin sebentar lagi ia pasti datang,” gumamku dalam hati seraya manghiburkan diri.
Butir-butir air sedikit demi sedikit mulai berjatuhan dari langit membasahi bumi, orang-orang sibuk mencari tempat untuk berlindung. Hanya aku yang tetap duduk di kursi taman itu. Kubiarkan tubuh ini dibasahi air hujan. Telah lama aku menunggu, namun ia tak datang juga. Aku tertunduk, tak terasa sebutir air keluar dari mata membasahi pipiku.
“Aaarrgggh, kenapa aku terlalu berharap denganmu!” pekikku seraya berlari meninggalkan taman itu dengan penuh air mata.
Pagi ini aku tak terlalu bersemangat seperti hari-hari biasanya. Perasaan kecewa masih melanda jika ingat kejadian tadi malam.
“Pagi ini akan kutanyakan alasannya tidak datang tadi malam!” gumamku dalam hati.
Sesampai di lampu merah, aku tak melihat sosoknya. Padahal setiap pagi aku bisa menikmati senyuman manisnya. Hatiku penuh dengan pertanyaan.
“Ke mana ia?” tanyaku dalam hati seraya melihat ke semua arah, namun tetap tidak kutemukan lelaki itu.
Lampu hijau telah menyala, aku pun pulang ke rumah. Hatiku masih penuh dengan rasa penasaran, kusandarkan tubuh di kursi teras rumah. Tak sengaja mata ku menatap surat kabar yang diantar pagi ini oleh loper koran langganan ayahku. Mataku terbelalak ketika membaca isi surat kabar itu, wajah yang tak asing lagi terpampang dalam surat kabar itu dengan bersimbah darah. Lelaki yang kucintai tewas akibat tabrak lari ketika menyebrang jalan menuju sebuah taman.
“Berarti malam itu ia ingin datang, namun Tuhan lebih dulu mengambil nyawanya,” ucapku dengan nada lirih.
Air mata mulai berjatuhan, aku sempat marah kepada Tuhan.
“Tuhan, kenapa Engkau ambil nyawanya begitu cepat. Apakah senyuman itu hanya milik-Mu, dan senyuman itu Engkau ambil agar aku tak dapat menikmatinya?” lirihku.
Menatap surat kabar itu aku menjadi sadar, dulu aku menyepelekan isi-isi berita di surat kabar yang kuanggap bukan urusanku. Namun setelah kejadian ini, aku tahu betapa pentingnya isi berita-berita di dalam surat kabar itu.
Kampus PBSI FKIP Unpar, 2011
Apresasi & Kritik Talusung Tanjung
Pesan Sastra
Untuk  bahan diskusi apresiasi kali in, saya mengambil karya Lisa Purnama Sari yang berjudul “Senyum Yang Hilang”. Apresiasi dan kritik hendaknya tidak dipahami sebagaimana kritik dipandang di negeri ini sebagai hujatan. Sastra tanpa  apresiasi dan kritik sulit diharapkan maju dan meningkat mutunya. Apabila di provinsi ini pernah ada pendapat yang datangnya dari pihak Dinas Kebudayaan, bahwa “sastra itu tidak menarik”, bahkan lebih konyol “di Kalteng tidak ada seniman dan budayawan“, pndangan begini hendaknya diterima sebagai alat mawas diri. Pernyataan begini menunjukkan bahwa kary-karya sastrawan Kalteng tidak menarik, antara lain mungkin karena cara pengungkapan dan isinya tidak menarik dan tidak memperkaya jiwa pembaca, tidak mampu membuatnya merenung dan tersentuh. Cerpen, novel, puisi, roman, reportase sastrawi bukan karena ia sudah ditulis maka ia sudah dengan sendirinya bersifat sastra. Bukan karena sudah menerbitkan satu dua cerita, puisi bahkan buku maka penulisnya serta-merta menjadi sastrawan handal. Untuk mampu menarik pembaca yang berdaulat, diperlukan tekhnik bersastra yang canggih. Agar tekhnik canggih  ini tidak merupakan tuturan kosong, permainan kata-kata hampa, maka karya niscayanya  bisa memperkaya serta mempertajam kepekaan pemikiran dan perasaan. Di sini saya sampai pada masalah pesan sastra.Pesan karya.
Dalam dangkalnya, kaya-miskinnya pesan ditentukan oleh kualitas penciptanya. Kualitas bertautan dengan suka-tidaknya belajar baik dari buku dan lebih-lebih kehidupan, malas-rajinnya berpikir, jauh-dekat  dengan kehidupan nyata, jam terbang sebaga penulis atau  seniman, dimlki tidak jiwa pencari tanpa tabu, komitmen pada profesi. Karena itu usia tidak menjadi ukuran mutu.  Chairil Anwar misalnya,  pada usia 20-an mampu menulis kata-kata “sekali berarti sudah itu mati”, “hidup hanya menunda kekalahan”, atau sajak “Aku”, dan lain-lain. Kerja sastra sesungguhnya adalah pekerjaan yang bergelut di permasalahan nilai. Dan soal nilai adalah soal filofosi, sosiologi, antropolog, psikhologi, … kehidupan seutuhnya.
Menggunakan premis-premis di atas, akan lebih adil jka saya menyerahkan kembali kepada pembaca untuk menyimak pesan sastra apa yang disampaikan oleh Lisa Purnama Sari dalam cerpennya di atas? Apakah Lisa telah mempertajam,memperhalus dan memperkaya pikiran, perasaan dan jiwa pembaca? Menggunakan standar tinggi, apakah pesan Lisa setars dengan pesan Chairil Anwar dalam usia 20-an? Standar tinggi kiranya patut digunkan sebab standar rendah akan melahirkan karya-karya yang  tidak tinggi pula. Tapi yang patut dihargai bahwa Lisa sudah berani dan mulai menulis. Hanya sampai kapan?  ***
 
  • Talusung Tanjung, pengajar SMA Pulang Pisau.
 
Bétang Eka Nganderang
 
PERINGATAN PETANI MANTANGAI
YANG MENOLAK PENJARAHAN
Oleh Enos Asong
duka subur menjalar di tanah warisan ibarat rotan berduri melilit batang-batang kehidupan; duka itu mengajar mereka  bagaimana semestinya hidup sebagai petani dayak menghadapi penjarahan serta kebuntuan; bagaimana menembus kebungkaman petinggi yang membuntukan harapan.
 
diam dan menyerah adalah kematian sia-sia tanpa martabat; mengingkari janji pada kelahiran.
 
duka yang subur dan melukai itu mengajar mereka untuk membela hak dan merebut tanah leluhur yang dijarah. kalimantan pulau bertabur bara bisa terbakar,tuan-tuan; sedangkan penduduknya biasa dan pandai berperang. apalagi pulau ini, tanah ini tanah kelahiran sedang kalian baru tiba. baris-baris ini baris-baris jiwa yang luka dan berdarah. jangan kami kau jajah.
 
 
duka yang subur dan sewenang-wenang melukai ini tidak memperkokoh putusasa karena itu mereka merebut kembali yang telah dijarah.
 
2012
 
 
SAISIR
Memegang
 
Oleh Jules Superville (Perancis)
 
Memegang, memegang mlam, apel dan patung
Memegang bayangan dan dinding dan ujung jalan
 
Memegang kki, kuduk perempuan terbaring
Da lalu membuka tangan . Berapa ekor burung lepas
 
Berapa ekor burung hilang jadi jalan,
Bayang-bayng tembok, tembok mlam, apel dan patung.
 
(Alhbahasa oleh Wing Kardjo)
 
Ungkapan & Pepatah Dayak Ngaju
 
1.Kilau batang pisang hanyut. Seperti batang sungai hanyut. Artinya, orang yang tak punya tutur-sapa, tak tahu tatakrama.
2. Kalahi bakéi. Perkelahian kera. Pertengkaran antara orang sesaudara kandung betppun tajam dan sengit, aka segera rukun kembali.
3. Uras pangkalima. Semua panglima. Artinya: merasa diri sama hebatnya dengan yang lain, sehingga sulit bersatu dan mengalah.
4. Hakayau kulae. Saling memenggal kepala orang sesaudara. Artinya, karena merasa diri sama-sama hebat, sama pengkalima, maka mereka saling menjatuhkan, tak membiarkan yang satunmegunggulinya.
 
 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 60 other followers