Archive for the ‘Budaya’ Category

Inikah Keistimewaan Buku-Cetak yang Tak Dimiliki Buku-Digital?

Inikah Keistimewaan Buku-Cetak yang Tak Dimiliki Buku-Digital?: The Man Who Loved Books Too Much (11)

Oleh Hernowo

in:dikbud@yahoogroups.com , Sunday, 20 May 2012, 5:12

 
 
“Kisah-kisah itu melibatkan pencuri berpendidikan, pencuri yang berprofesi pendeta, pencuri yang mencuri demi keuntungan, dan kisah yang kuanggap paling menarik: pencuri fanatik yang mencuri semata-mata karena rasa cinta terhadap buku.”
—Allison Hoover Bartlett
 
Masih ingat dengan buku tanaman yang terbit pada tahun 1630 yang berjudul Krautterbuch? Gara-gara rasa ingin tahunya yang tinggi atas buku Krautterbuch, Bartlett—pengarang The Man Who Loved Books Too Much—pun menjelajahi internet untuk mencari informasi mengenai buku-buku langka curian. The Man Who Loved Books Too Much adalah buku yang berisi kisah nyata tentang seorang pencuri, detektif, dan obsesi pada kesusastraan. Salah satu tokoh utama dalam buku ini menyebut dirinya sebagai bibliodick (penjual buku yang merangkap sebagai detektif).
 
Ketika menikmati halaman demi halaman buku Bartlett, saya seperti memasuki dunia buku yang tak biasa. Sudah hampir 30 tahun saya bekerja di sebuah penerbitan buku. Setengahnya dari 30 tahun itu, saya sudah malang melintang memasuki dunia buku—berikut menggulati dua kegiatan penting yang mengiringinya (yaitu membaca dan menulis). Namun, baru kali ini saya diajak untuk merasakan dunia buku dalam perspektif yang berbeda. Bartlett berhasil menunjukkan kepada saya tentang adanya hal-hal ajaib dalam dunia buku—khususnya buku antik.
 
Persis itulah yang saya rasakan ketika saya dahulu menikmati petualangan Bibbi Bokken—dalam buku yang mempesona pula, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken—meski dengan ”rasa” yang agak berbeda jika dibandingkan dengan buku Bartlett. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken ditulis oleh penulis bestseller Dunia Sophie, Jostein Gaarder, bersama Klaus Hagerup—salah seorang penulis buku anak dan remaja terkemuka di Norwegia. Karya-karya Hagerup, menurut kabar, amat digemari para pembacanya di kawasan Skandinavia dan Jerman.
 
 
”Selama mengumpulkan informasi mengenai pencuri buku, agen, dan perdagangan buku langka, aku menjadi paham bahwa kisah ini tidak hanya mengenai kumpulan kejahatan, tetapi juga mengenai hubungan intim dan kompleks dan terkadang berbahaya antara manusia dan buku,” tulis Bartlett. Hubungan intim dan kompleks dan terkadang berbahaya antara manusia dan buku? Ya. Sekali lagi, saya ingin mengutipkan di sini pendapat Erik Larson tentang keistimewaan buku Bartlett. Menurut Larson, narasi yang disampaikan oleh Bartlett benar-benar memukau. Dan itulah yang saya rasakan ketika mencicipi hubungan yang kadang berbahaya antara manusia dan buku!
 
Lewat The Man Who Loved Books Too Much, saya belajar, misalnya tentang vellum—perkamen dari kulit binatang—dan buckram—linen untuk menjilid buku—yang, tentu saja, pada era digital seperti saat ini, komponen-komponen buku seperti itu—dan tentu saja komponen lain buku yang dapat kita cium aromanya dan juga kita raba teksturnya—jelas sudah tidak ada. Ketika menikmati buku—tepatnya e-book atau buku digital—kita sudah bagaikan robot (mesin) yang melahap informasi tanpa sempat memanfaatkan secara luar biasa kepekaan indra-indra kita yang sangat kaya.
 
Lantas, yang lain, saya juga belajar tentang foxing misalnya. Apa itu foxing? Foxing adalah noda buku. Buku-buku kuno biasanya kaya akan ilustrasi. Nah, di dalam ilustrasi tersebutlah akan tampak noda kecokelatan yang tak teratur. Itulah foxing atau kadang juga disebut sebagai titik-titik usia buku. Foxing itu muncul disebabkan oleh kelembapan atau kurangnya ventilasi di tempat buku itu tersimpan. ”Meski demikian, sebagian noda gelap dalam lembar-lembar halaman sebuah buku kuno tampaknya berasal dari sejenis tumpahan. Minuman? Lilin? Air mata? Setiap halaman mengandung misteri, kisah yang membingungkan,” tulis Bartlett.[]

Konser Lady Gaga terkait Kepentingan Penguasa?

Konser Lady Gaga terkait Kepentingan Penguasa?

Penulis : Astri Novaria
Sabtu, 19 Mei 2012 20:38 WIB
http://www.mediaindonesia.com/read/2012/05/19/320718/65/10/Konser-Lady-Gaga-terkait-Kepentingan-Penguasa
JAKARTA–MICOM: Ada kabar beredar bahwa pembatalan konser Lady Gaga yang bertajuk The Born This Way Ball pada 3 Juni 2012 karena adanya kepentingan bisnis dan politik dari segelintir penguasa.

Terlebih lagi, isu tersebut dikaitkan dengan pemegang saham Promotor Berlian Entertainment ialah Edhie Baskoro Yudhoyono.

Karena tidak mau tersaingi, dengan menggunakan unsur kekuasaan, pihak Berlian Entertainment menggunakan caranya dalam membatalkan konser yang dipromotori oleh Big Daddy Entertainment.

Ketika dikonfirmasi kepada Promotor Berlian, Marcel Permadhi mengatakan tidak membenarkan isu tersebut.

“Itu sama sekali tidak benar. Kami bahkan tidak tahu isu itu dimulai dari mana,” pungkasnya saat dihubungi Media Indonesia, Sabtu (19/5).

Mengenai kepemilikan saham atas nama anak Presiden SBY, Edhie Baskoro atau akrab disapa Ibas, juga disaggahnya.

“Bisa dicek keabsahannya kok secara legal. Itu tidak benar,” pungkasnya. (*/OL-5)

Membaca adalah Belajar?

Membaca adalah Belajar?: The Man Who Loved Books Too Much (3)


Oleh Hernowo

in: dikbud@yahoogroups.com , Sunday, 13 May 2012, 6:07

Alif Danya Munsyi
“Sebab, penulis adalah ibarat cempiang yang menguasai segala senjata, jawara yang menguasai semua gaman, serta pendekar yang menguasai semua jurus silat.”
—Alif Danya Munsyi
 
Kata-kata Alif Danya Munsyi di atas saya peroleh dari halaman 10, tepatnya di paragraf 47 dalam buku Jadi Penulis? Siapa Takut! Kenapa saya mencantumkan nomor paragraf? Karena buku Alif Danya Munsyi ditulis dengan cara memberi nomor di setiap paragraf yang terdapat di setiap bab bukunya. Saya tidak tahu secara persis maksud dari penulisan nomor di paragraf tersebut. Ada kemungkinan, apabila ada kata-kata yang hendak kita rujuk kembali dari buku itu, dengan mudah kita akan menemukannya secara tepat.
 
Jadi, apabila saya ingin merujuk kembali kata-kata yang saya tulis sebagai pembuka tulisan ini, saya langsung dapat membuka halaman 10 dan langsung pula menuju ke paragraf bernomor 47. Gaya menulis dengan poin-poin seperti ini juga memudahkan saya untuk berhenti dan merenungkan sejenak apa yang telah saya peroleh. Kata, kalimat, lantas kelompok-kelompok gagasan menjadi tidak terlalu tampak panjang dan mudah saya identifikasi. Sepertinya, kita dinyamankan untuk menandai setiap kelompok gagasan yang memang penting dan perlu kita cermati di setiap halaman.
 
Selain keunikan cara menyajikan gagasan yang menomori setiap paragraf, satu kelebihan lain dari penulis Alif Danya Munsyi ini adalah keluasan wawasannya. Keluasan wawasan itu bisa saja terkait dengan pengetahuan tentang segala hal atau tentang sejarah asal-usul kata atau buku. Satu contoh menarik adalah ketika Alif menunjukkan kepada kita bahwa para penulis di zaman dulu, seperti Homerus, sesungguhnya tidak membaca buku untuk belajar (menjadi penulis). Pada zaman ratusan dan ribuan tahun sebelum Masehi, belum ada percetakan dan penerbitan yang membuat buku-buku.
 
 
Untuk mengetahui hal itu lebih jauh, lihatlah di halaman 3 paragraf 9 buku Alif. Di situ, Alif menulis. “Coba saja, dari mana para empu belajar, padahal pada zaman ratusan dan ribuan tahun sebelum Masehi belum ada percetakan dan penerbitan yang membuat buku-buku, majalah-majalah, suratkabar-suratkabar. Coba saja bayangkan, bagaimana pada 900 tahun sebelum Masehi di Yunani sudah ada Homerus yang melahirkan karya Iliad dan Odyssey.
 
“Atau mundur 1500-1000 tahun sebelum Masehi di India sudah ada Upanishad; atau bahkan mundur lagi 2000-1500 tahun sebelum Masehi di Mesir sudah muncul bentuk novel dengan aksara 24 tanda berjudul Sinuhe; serta pada 3000-2000 tahun sebelum Masehi di Sumeria, Babilonia, sudah muncul puisi epik yang mengisahkan tentang kematian dewa gembala Tammuz.”
 
Menurut Alif lebih jauh, semua karya tulis yang disebutkan di atas berasal dari zaman bukanmodern sebagaimana saat ini. Karya-karya tersebut lahir bukan disebabkan oleh kegiatan membacatetapi bakat! Meski dengan sangat jelas menegaskan ihwal bakat, Alif menambahkan bahwa bakat—bakat menulis—tetap sesuatu yang misterius. Untuk itu, sebaiknya, pada zaman sekarang, jangan mengandalkan bakat. Bukan bakat yang akan menentukan seseorang dapat sukses atau tidak menjadi penulis, melainkan kemauan. Kemauan dalam hal apa? “Kemauan untuk membaca,” tegas Alif. Kemauan untuk membaca inilah yang dibahas dengan sangat menarik dalam bab “Membaca adalah Belajar”.
 
Dan kenapa kemauan untuk membaca menjadi syarat penting agar seseorang bisa menjadi penulis di zaman modern? Bacalah, sekali lagi, paragraf paling awal tulisan saya ini. Jika Anda belum terlalu akrab dengan kata “cempiang”, maka kata ini berarti jagoan; dan jika Anda belum akrab dengan kata ”gaman”, maka kata tersebut berarti ”senjata” . Jangan kaget, ketika Anda memiliki kesempatan untuk membaca karya Alif, Jadi Penulis? Siapa Takut!, Anda akan bertemu dengan kata-kata yang tidak biasa digunakan oleh para penulis—misalnya cogah, mubtadi, driya, dibya, dan masih banyak yang lain. Asyik ’kan?[]


Buku tentang Perubahan?

Buku tentang Perubahan?: The Man Who Loved Books Too Much (4)
Oleh Hernowo

in: dikbud@yahoogroups.com , Monday, 14 May 2012, 5:46

Rhenald Kasali
“Buku ini adalah buku perubahan, yaitu kisah inspiratif dari orang-orang yang berjuang membangun kemandirian.”
—Rhenald Kasali
 
Kata-kata di atas ditulis oleh Rhenald Kasali di baris paling awal ketika mengantarkan bukunya, Cracking Entrepreneurs: Inilah Para Crackers Lokal yang Tak Ada Matinya! Rhenald memang punya lembaga bernama ”Rumah Perubahan”. Namun, bukan karena itu dia kemudian mengawali bukunya dengan kata-kata yang mengandung perubahan. Saya bisa merasakan apa yang Rhenald katakan ketika membaca kisah seorang tukang becak di daerah Cirebon yang kemudian memiliki industri garam yang sukses.
 
Nama tukang becak itu Sanin. ”Seperti rakyat jelata lainnya, selama bertahun-tahun dia begitu pasrah menjalani kehidupan dengan mengayuh becak di pesisir yang panas itu,” tulis Rhenald. ”Namun, berbeda dengan tukang becak lainnya, suatu ketika Sanin bertekad bahwa kehidupannya akan semakin buruk kalau dia tidak berubah. Dia pun membuka pikirannya, melihat dan mendengarkan suara alam dengan cara yang berbeda.”
 
Menurut Rhenald, ketika memarkir becaknya di pesisir yang terik, dengan kadar garam yang tinggi, Sanin merasakan bahwa para pengusaha garam tak jauh berbeda dengan dirinya. Mereka dulunya juga rakyat jelata, tak bersekolah tinggi, tapi rela bekerja keras. ”Lantas kalau mereka bisa, mengapa saya tidak,” demikian mungkin pikir Sanin ketika ingin mengubah hidupnya dari tukang becak menjadi pengusaha garam. Akhirnya, Sanin berhenti menjadi tukang becak dan mulai membuat garam.
 
Buku terbaru karya Rhenald
 
Sanin merintis usaha pembuatan garamnya dengan membuat sendiri, kemudian mencetak, lalau memasarkannya dengan mengendarai sepeda dari pasar ke pasar. Kini, mantan tukang becak tersebut telah memiliki sepasukan petani hingga pencetak garam di pabriknya. Wilayah pemasarannya pun sudah jauh meluas, tak lagi hanya sebatas pasar di daerahnya. Kini, Sanin juga tak lagi menggunakan sepeda, tetapi menggunakan truk-truk besar dengan omzet ratusan juta rupiah!
 
Sanin kini tak hanya membuat garam dapur. Dia melebarkan usahanya dengan membuat pupuk. CV Sanutra Utama yang didirikan Sanin pada tahun 1985 dengan modal awal Rp 1 juta dan dikerjakan sendiri, kini telah memiliki 50 pekerja dan omzet Rp 200 juta per bulan. Memang mengubah diri dari tukang becak menjadi pengusaha garam yang sukses bukanlah perjalanan yang mudah. Namun, kalau sejak dulu dia mudah berputus asa, mungkin bukan seperti ini hidup yang sekarang digenggam Sanin.
 
Kisah Sanin merupakan satu dari banyak kisah inspiratif yang ada di buku Cracking Entrepreneurs. Sebanyak19 pengusaha kecil sukses direkam oleh buku tersebut. Ada pengusaha bengkel yang menjadi ”Raja Bengkel” di kawasan Pelabuhan Ratu bernama H. Darjat. Ada tiga perempuan gigih—Sania Sari, Tri Asayani, dan Ranityarani—yang sukses menyeimbangkan bisnis dan seni batik. Dan ada perempuan muda, Atik Jumaeli, yang berhasil mengibarkan bordir Tasik hingga ke Rusia. Membaca kisah-kisah perjuangan mereka, saya bagaikan menemukan obor kehidupan.
 
”Mereka yang akan Anda baca kisahnya di dalam buku ini, pantas disebut crackers-nya usaha kecil. Ya, tak usah selalu membandingkan dengan yang besar-besar, yang modalnya sudah berkelimpahan, memakai teknologi tinggi yang terhubung secara virtual, atau memiliki profesional-profesional andal…. Crackers adalah perubahan sekaligus pahlawan ekonomi kerakyatan yang membuat hidup kita lebih bermakna,” tulis Rhenald Kasali.[]


Mempersatukan Rakyat lewat Adat

Mempersatukan Rakyat lewat Adat

 

Wahyu Dramastuti | Kamis, 10 Mei 2012

(SH/Wahyu Dramastuti)Tak mudah merajut kembali persaudaraan yang terkoyak, apalagi jika pedang telah terhunus, tombak ter

Asap rokok mengepul bergulung-gulung dari mulut lelaki berpakaian adat warna biru tua dan topi kemerahan itu. Tenang sekali dia, mengisap rokok dalam-dalam sambil menatap jauh ke arah jalan raya yang membentang di depan kantornya.

Dari kantor itulah dia mengendalikan roda pemerintahan Kabupaten Halmahera Utara. Karena lelaki ini adalah Bupati Halmahera Utara Ir Hein Namotemo, MSP. Kesan pertama yang tertangkap, orangnya low profile, sederhana, dan murah senyum.

Siapa sangka lelaki inilah yang telah mengembalikan suasana persaudaraan di Halmahera Utara. Dia berhasil meredam konflik kemanusiaan bernuansa SARA yang terjadi di kabupaten itu akibat rembetan konflik di Ambon tahun 1999-2000. Bahkan sampai hari ini nuansa keakraban antar-rakyat di wilayah itu masih terasa sangat kental.

Ketika SH melakukan liputan ke Tobelo, Ibu Kota Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, kaget melihat deretan salib putih berselempangkan pita ungu berjajar rapi di beberapa tepian jalan. Salib itu terpasang berderet-deret dari Pelabuhan Sofifi hingga Tobelo, bahkan juga di beberapa jalan di tengah kota pun dihiasi salib-salib kayu warna putih, sebagai perlambang memperingati Hari Paskah bagi umat Kristiani.

Tak ada yang mengusik keberadaan salib-salib itu. Padahal sekitar 80 persen penduduknya adalah Muslim, dan sekitar 20 persennya Kristen. Ini tidak lazim di Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Tapi di Halmahera Utara (Halut), seluruh masyarakatnya saling menghormati perbedaan agama yang dianut masing-masing individu. Harmoni masyarakat ini sudah berlangsung selama berabad-abad di Halut.

Maka terhenyaklah semua orang ketika tiba-tiba pecah perang antarwarga di sana. Puluhan warga meninggal, hilang, ratusan rumah hangus dibakar, ribuan orang kehilangan mata pencarian. Rakyat terpecah belah dan terbagi menjadi dua kelompok besar. Seluruh warga yang muslim mengungsi ke luar Pulau Halmahera, menyeberangi lautan menuju Pulau Ternate. Sementara penduduk Kristiani tetap bertahan hidup di Tobelo.

Keadaan kaos di tahun 1999-2000 yang terjadi secara “tiba-tiba” itu mampu dikendalikan dalam waktu singkat, hanya sekitar satu tahun, oleh Hein Namotemo.

Sebelumnya, gejolak sosial sudah dimulai tahun 1998 ketika terjadi transisi pemerintahan dari Presiden Soeharto ke BJ Habibie, yang kemudian berimbas menjadi kerusuhan massal di Ambon kemudian merembet ke Pulau Halmahera pada akhir 1999. “Antipati terhadap agama jadi tinggi sehingga pecah kerusuhan. Pada 2000 banyak sekali korbannya,” kata Hein.

Lalu di tahun 2001 Hein yang kala itu menjabat Kepala Dinas Perikanan Halut ditugaskan oleh Gubernur Maluku Utara Thaib Armayin untuk menjadi camat Tobelo. Tugas utamanya sebagai camat Tobelo adalah melakukan rekonsiliasi–perdamaian dan pemulangan pengungsi–dua tugas yang mahaberat dan penuh risiko karena masyarakat sedang dilanda rasa saling dendam. Untuk mengupayakan rekonsiliasi, dia hanya diberi waktu tiga bulan.

Hein dipilih, karena sebelum kerusuhan meletus, bersama sejumlah tokoh muda Hein telah membentuk Forum Solidaritas Halmahera Utara. Dalam forum ini Hein sering mengajak persatuan masyarakat agar tidak pecah kaos di Halut. Dia juga gigih memperjuangkan rekonsiliasi antara kelompok muslim dan Kristen seperti melalui Pertemuan Mamuya I, II, III; juga pertemuan di Morotai dan Bacan.

“Saya kaget disuruh jadi camat. Tapi mencoba menerima tanggung jawab ini sebagai tanggung jawab kemanusiaan. Meskipun saya bertanya-tanya apakah saya bisa,” tuturnya.

Hein berani menerima tanggung jawab dengan risiko keselamatan nyawanya sendiri, karena melihat ada sebuah celah yang bisa dijadikan sebagai alat pemersatu rakyat, yaitu simbol budaya dan adat yang bisa diterima semua warga. Ini karena tak ada jalan lain yang bisa ditempuh selain jalan damai, dan satu-satuya cara adalah menyatukan lewat budaya dan adat.

Pada 19 Maret 2001 dia dilantik menjadi camat Tobelo. Tapi satu bulan kemudian, 19 April 2001, Hein berhasil menggelar prosesi adat perdamaian penandatanganan naskah deklarasi damai di lapangan Hibua Lamo, Tobelo. Selanjutnya seluruh tokoh adat sedaratan Halmahera diundang untuk membentuk Lembaga Ketahanan Masyarakat Halmahera (LKMH). Hein terpilih secara aklamasi sebagai ketua.

Suatu kali masyarakat menolak kehadiran salah satu satgas yang disinyalir turut “bermain” dalam konflik, tetapi sejumlah perwira malah datang membujuk Hein supaya menerima satgas itu. Namun Hein tetap teguh sependapat dengan rakyatnya. “Silakan Anda tembak saya dulu, baru Anda tembak masyarakat saya,” kata Hein saat itu.

Suara Rakyat Suara Tuhan

Dalam buku Hein dan Hibua Lamo yang diterbitkan Tobelo Pos dan Pemkab Halut disebutkan Hein seperti filsuf besar Thomas Aquinas yang menegaskan vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan. Tetapi apa yang dibela Hein hanyalah sebuah kebenaran. Seperti katanya, “Saya berdiri bersama aparat jika aparat benar, tetapi saya akan berdiri bersama masyarakat jika masyarakat benar.”

Lalu sebagai tokoh adat, ketika situasi belum sepenuhnya pulih, Hein pergi ke Pulau Morotai untuk menggelar dialog dengan para pengungsi muslim asal Tobelo dan mengajak mereka kembali ke Tobelo. Hein malah dicerca dengan kata-kata kasar, tapi malah berujar, “Saya akan datang lagi!” Selang dua minggu kemudian Hein datang lagi ke Morotai. Ternyata kemudian salah seorang yang telah mencaci-maki Hein menangis di kaki Hein dan meminta maaf.

Ada pula kisah di mana suatu kali ada orang bersenjata yang menarik pelatuknya dan mengarahkan pada dirinya. “Saya tak tahu mengapa saya akan ditembak. Tapi kemudian moncong senjata itu digeser diarahkan ke posisi lain,” ungkap Hein.

Dia datang ke Morotai dengan kawalan tentara-tentara, namun tetap saja ada yang melempari dengan bom rakitan. “Saya diminta jangan sampai ada satu pun warga yang terluka. Yang Islam harus melindungi yang Kristen, yang Kristen juga harus melindungi yang Islam,” ia melanjutkan.

Setelah terpilih menjadi bupati Halut, Hein menjadi salah satu tokoh kunci di balik konsep pemekaran Provinsi Maluku Utara. Untuk mempertahankan rasa cinta terhadap daerah, kini dia mewajibkan seluruh pegawai negeri sipil (PNS) di Halut untuk memakai pakaian adat setiap Rabu. Hein berpegang teguh pada adat karena memang adat telah terbukti mempersatukan rakyat dan menghentikan jatuhnya banyak korban jiwa.

Maka dia menggalakkan kembali konsep hibua lamo yang berfalsafahkan keseimbangan dan keadilan. Salah satu nilai dari lima unsur hibua lamo adalah o hayangi, yang merupakan kerja sama antarwarga tanpa pamrih. Dengan falsafah hibua lamo, semua orang dihargai; duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Di bangunan hibua lamo, bisa terdengar lantunan azan dan pengajian, tapi juga nyanyian mazmur gerejani dan tetabuhan tifa. Semua umat melebur dalam persaudaraan yang tulus. Alangkah indahnya, andai ini tercipta tidak hanya di Halut, tapi juga di wilayah lain di Indonesia, tapi bukan sekadar ilusi.

(Sinar Harapan)

Lady Gaga concert under threat from Islamic hardliners after attack on author

Lady Gaga concert under threat from Islamic hardliners after

attack on author

Michael Bachelard

http://www.smh.com.au/world/lady-gaga-concert-under-threat-from-islamic-hardliners-after-attack-on-author-20120514-1ymyd.html

May 15, 2012

JAKARTA: Indonesia’s national police are considering banning a performance next month by pop diva Lady Gaga amid threats of violence by Islamic extremists.

It follows an attack by religious hardliners on lesbian Muslim author Irshad Manji prompted deep soul searching in a country regarded as the Islamic world’s most moderate.

The threats and attacks are part of a trend in Indonesia for extremists to bully and intimidate anyone who does not subscribe to their hard line doctrine. Police rarely act against them.

Advertisement: Story continues below
SMH FOREIGN 14 May 2012. Associate director of the Moral Courage Project, Emily Rees, and director and author Irshad Manji in Jakarta. Rees's arm is bound after being bashed with an iron bar by Islamic extremists last week. Pic taken on Sunday 13 May 2012 by Michael Bachelard.Fears … author Irshad Manji, right, with Emily Rees, who was bashed by Islamic extremists. Photo: Michael Bachelard

A book launch by Ms Manji, a Canadian author and Islamic reformist, was stopped by police in Jakarta this month for security reasons, and then, last Wednesday, in the university town of Yogyakarta, thugs violently broke up a discussion and attacked its 150 participants.

Ms Manji’s associate, Emily Rees, was bashed with an iron bar by men wearing motorcycle helmets and masks. She was among three women hospitalised.

Ms Manji was discussing her latest book, Allah, Liberty and Love, which urges reformist Muslims to show ”moral courage” in the face of intimidation. She said she was shielded from the attackers by ”a pyramid of women”.

supplied pic of lady gaga for tv columnLady Gaga … conflicts with Islamic aspirations.

Ms Rees got a badly bruised arm and said the men were yelling ”Where is Manji? Where is Manji?” as they smashed windows, crockery and computers and tore up copies of the book.

The Majelis Mujahidin Council claimed responsibility and other extremists including the Islamic Defenders Front (FPI) and Muslim Defenders Team have turned their attention to Lady Gaga.

The head of the front, Habib Rizieq Syihab, said the performer wanted to ”establish the evil Lucifer empire in Indonesia”. He threatened to stop her at Jakarta airport or mobilise 30,000 members to attack her June 3 stadium concert.

Indonesia has all but rid itself of its homegrown terrorist threat but violent rhetoric and religiously motivated physical assault has increased dramatically. Ms Manji visited Indonesia peacefully in 2008 but says it is ”going in the direction more of Pakistan than that of a democracy”.

”Four years ago, Indonesia was open enough and tolerant enough that FPI supporters and a transsexual could be there at my discussion. They disagreed strongly with each other but, as far as I know, everyone went home safely. That is simply inconceivable today.”

Foreign visitors are not the sole target. A Christian congregation in Bogor has been prevented for years by local Muslim hardliners from building a church, despite a Supreme Court ruling in its favour. Shiite Muslims and followers of the Ahmadiyya sect are increasingly victims of attack, and an atheist is on trial for blasphemy.

The FPI chief called at a recent public rally for the ”secretive assassination” of liberal Muslims as part of his followers’ ”freedom of expression”.

Liberal Muslim academic Luthfi Assyaukanie said the hardliners shared the view of terrorists of an earlier generation but used different tactics. But it was ”only a matter of time” until people were killed because ”the intensity is growing”.

Radical groups act with impunity from police, who, rather than enforce Indonesia’s constitutional right of freedom of speech, prefer to cite ”community opposition” and ”security”, and then shut down controversial events. National police spokesman Saud Nasution said Lady Gaga’s concert had so far been denied a permit, on the recommendation of police, even though 40,000 tickets have been sold.

Polda Metro Jaya: Batalkan Konser Lady Gaga

Lady Gaga

Avatar Bari Muchtar
Hilversum, Belanda

Polda Metro Jaya: Batalkan Konser Lady Gaga

http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/polda-metro-jaya-batalkan-konser-lady-gaga
Diterbitkan : 14 Mei 2012 – 11:04am | Oleh Bari Muchtar (Foto: TJ Sengel)

Konser superstar Lady Gaga harus dibatalkan, kata Polisi Jakarta Ahad Kemarin. Demikian koran online berbahasa Inggris The Jakarta Globe mengawali beritanya tentang bintang pop Amerika yang kontroversial ini.

Imbauan polisi ini berkaitan dengan protes berbagai organisasi Islam yang menilai bintang pop dari Paman Sam itu suka berpakaian provokatif dan menggalakkan orang menyembah syetan.

Konser Lady Gaga yang tiketnya sudah terjual habis itu dijadwalkan 3 Juni mendatang, tapi polisi Jakarta belum memutuskan apakah 40.000 calon penonton yang sudah membeli tiket bisa menyaksikan langsung penampilan idola mereka.

Konser yang direncakan itu menyulut kemarahan Front Pembela Islam (FPI) yang saat berdemo menyebutnya syetan. FPI juga mengkhawatirkan, konser Lady Gaga bisa merusak moral bangsa.

Polda Metro Jakarta menganjurkan agar konser dibatalkan, tapi keputusan akhir bukan di tangan mereka. “Izin konser dikeluarkan polisi nasional'” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, “ tapi Polda Jaya merekomendasikan agar konser dibatalkan.”

Mabes Polri masih belum mengambil keputusan apakah akan mengizinkan Lady Gaga mentas di Jakarta. “Kami masih mendiskusikan masalah ini,” kata Kabid Humas Polri Kombes Boy Rafli.

Mencegah konflik
Tim Pembela Muslim mengimbau polisi untuk membatalkan konser guna mencegah konflik antara kelompok Islamis dengan para penggemar Lady Gaga. “Kami mengimbau Polri agar mempertimbangkan keberatan publik terhadap konser Lady Gaga,” kata M. Mahendradatta, ketua Tim Pembela Muslim, sebuah organisasi yang dikenal sebagai pembela kelompok Islam garis keras dan para tertuduh teroris.

“Suka atau tidak suka, Lady Gaga mengajari menyembah syetan,” katanya. “Dan ini bertentangan dengan ajaran agama mana pun. Kami tidak setuju.” Namun Mahendradatta menambahkan, ia tidak mecoba untuk mendesak Polri membatalkan konser.

Ancaman
Namun FPI bersikap lebih radikal. Mereka mengancam akan memobilisasi 30.000 massa untuk menghalangi Lady Gaga datang ke Indonesia. “Kami akan halangi ia menginjakkan kaki di negera kami.

“Ia sebaiknya jangan menyebarkan kepercayaan syetannya di negeri ini,” tandas ketua FPI cabang Jakarta Salim Alatas. “Gayanya vulgar, pakaiannya yang seksi dan tidak bermoral, akan merusak moral anak-anak kita. Ia sangat berbahaya.”

Pemimpin FPI Rizieq Syihab juga mengancam. “Kalau ia jadi mentas, saya akan kirim umat Islam ke Jakarta untuk mencegah konser,” katanya di Temanggung seperti dikutip The Jakarta Globe.

Tur Asia Lady Gaga yang bernama “Born This Way” ini juga sempat menyulut protes dari kelompok agama yang konservatif di Korea Selatan dan Filipina. Demikian tulis The Jakarta Globe.

Diskusi
Anonymous 14 Mei 2012 – 3:16pm

Untuk kesekian kali nya polisi tunduk kepada tekanan dan desakan FPI….

Buku yang Mampu Meningkatkan Kadar Kecendekiaan dan Kerohaniaan?

Buku yang Mampu Meningkatkan Kadar Kecendekiaan dan Kerohaniaan?: The Man Who Loved Books Too Much (5)

Oleh Hernowo

in:dikbud@yahoogroups.com , Tuesday, 15 May 2012, 5:47

 
 
“Jika karya tulis yang dibaca tidak meningkatkan kadar kecendekiaan di satu pihak dan mutu kerohanian di lain pihak, maka memang patutlah bacaan itu—yang tidak peduli dibuat capek-capek oleh penulisnya—hanya mubazir, jadi bungkus kacang, atau penghuni tong sampah.”
—Alif Danya Munsyi
 
Perlukah bakat menulis untuk menjadi penulis? Demikian pertanyaan yang kerap dilontarkan kepada saya. Saya senantiasa menjawab, ”Perlu, tetapi untuk menjadi penulis yang baik, bakat dapat dinomorduakan.” Lantas, apa yang nomor satu? Kemauan-kuat untuk, secara kontinu dan konsisten, berlatih menulis. Bagi saya, menulis itu keterampilan—keterampilan dalam merangkai kata. Keterampilan menulis hampir sama dengan keterampilan merangkai bunga, memasak (mencampur bumbu-bumbu dalam masakan), dan menyanyi (mengolah nada dan suara).
 
Sebagaimana disampaikan oleh Alif Danya Munsyi dalam Jadi Penulis? Siapa Takut!, bakat adalah ”sesuatu yang misterius dalam wilayah insani seseorang” (halaman 3 paragraf 6). ”Bahwa bakat itu pasti merupakan sesuatu yang mustahak dalam pekerjaan kreatif, jangan dibantah, tetapi juga itu harus disertai oleh kemauan yang kuat untuk menjadikannya sebagai wujud” (halaman 3 paragraf 7). Kita tidak pernah tahu apakah kita memiliki bakat menulis atau tidak. Oleh sebab itu, tulis Aif, lebih afdol apabila kita mencoba membangkitkan kemauan—antara lain ”Ya kemauan membaca,” tambah Alif.
 
Karya lain Alif yang sudah difilmkan
 
”Kalau kita tidak suka membaca, kita telah memberikan jawaban yang pasti, bahwa kita tidak punya bakat menjadi penulis,” tulis Alif di halaman 7 paragraf 33. Menulis adalah memilih kata-kata dan merangkainya menjadi kalimat-kalimat. Oleh karena itu, prinsip dasar menulis adalah menguasai bahasa, memiliki kata-kata. Menurut Alif, berpijak pada semua itu, yang bisa kita urus dengan sungguh hati dalam diri kita adalah soal kemauan—kemauan membaca. Dengan kemauan tersebut, kita melatih diri melalui bacaan-bacaan yang tersedia sembari dengannya mengumpulkan sebanyak kata dari khazanah bahasa, serta menimba pengalaman-pengalaman batin dari yang kita amati dan kita hayati, menjadi ilham yang tersimpan dalam daya ingat kreatif kita. Sewaktu-waktu, ilham itu kita perintahkan untuk datang menjadi kekuatan dalam tulisan kita.
 
Ada tiga praktik membaca, menurut Alif, yang biasa dilakukan seorang pembaca: pertama, mendaras secara alami; kedua, menyimak dengan seksama; dan ketiga, mencamkan sambil menyaring. Seorang penulis—yang bekerja melahirkan bacaan-bacaan—harus juga membaca kamus dan tesaurus yang berisi anonim dan antonim. Tesaurus diperlukan supaya kelak, dalam menulis untuk dibaca orang, kalimat yang dibangun melalui kata-kata, tidak tertawan dalam kekeringan dan keausan vokabuler. Seorang penulis juga perlu berupaya untuk menghasilkan tulisan yang menggoda untuk dibaca.
 
Anda ingin menulis bacaan fiksi atau nonfiksi? Bacaan apa pun, fiksi atau nonfiksi, menjadi sesuatu yang penting dan dipedulikan orang kalau di dalamnya ada janji manfaat yang didapat pembaca. Menurut Alif, yang dimaksudkan dengan janji manfaat adalah dua sisi kekayaan yang, masing-masing, meliputi kekayaan kecendekiaan dan kekayaan kerohaniaan. Jika sebuah karya tulis—baik fiksi maupun nonfiksi—yang dibaca tidak berhasil meningkatkan kadar kecendekiaan di satu pihak dan mutu kerohaniaan di lain pihak, maka…(Anda dapat meneruskannya dengan membaca tulisan paling awal tulisan saya ini).[]

DIALOG KEBUDAYAAN : TUHAN PUNYA DUA BUKU

DIALOG KEBUDAYAAN : TUHAN PUNYA DUA BUKU

 

Satria Dharma <satriadharma2002@yahoo.com>,in:dikbud@yahoogroups.com , Tuesday, 15 May 2012, 7:56

Ternyata tidak rugi saya datang jauh-jauh dari Balikpapan untuk menghadiri Diskusi Terbatas tentang Kebudayaan yang diselenggarakan oleh YSNB Yayasan Suluh Nuswantara Bakti. Paparan Prof Daoed Joesoef sungguh menarik dan semua peserta terpaku mendengarkan presentasi yang disampaikannya secara lisan selama lebih dari dua jam. Saya bahkan menganggap presentasi Prof Daoed Joesoef ini adalah the best speech I’ve heard this year.  Pengetahuan Prof Daoed Joesoef sungguh luas dan mendalam sehingga kita seolah diajaknya berlayar ke samudra tiada bertepi mendengarkan presentasinya.

Beliau memulai presentasinya dengan mengatakan bahwa ia akan menyampaikan hal yang sama sejak 36 tahun yang lalu. Hal yang diulang-ulangnya sehingga sudah menjadi semacam khotbah yang orang tidak memerdulikannya dulu tapi kini baru disadari. Culture is the tendency of all nation now. Semua negara sekarang menoleh kepada budaya. Salah satu pertandanya adalah dipilihnya Doktor di bidang anthropology sebagai direktur utama World Bank dan bukannya seorang ekonom. Rektor Universitas Dartmouth, Amerika Serikat, Kim Yong diputuskan sebagai Direktur Utama Bank Dunia oleh Obama. Ini menandakan bahwa dunia (utamanya Amerika) telah menyadari kesalahannya menyerahkan persoalan penting dunia pada ekonom yang hanya bicara tentang welfare (kesejahteraan) tapi tidak paham tentang happiness (kebahagian). Manusia (utamanya di Barat)  menjadi semakin kaya tapi sebaliknya menjadi semakin tidak berbahagia. Hal ini sebenarnya telah disampaikan oleh Hatta yang mengatakan “We want to build so everybody can be happy”. Padahal beliau adalah seorang ekonom sedangkan ekonomi tidak bicara tentang kebahagiaan tetapi tentang kesejahteraan. Kesejahteraan sendiri bukanlah jaminan kebahagiaan. Jadi Hatta yang ekonom tersebut punya konsep yang lebih maju ketimbang para ekonom Barat. Amartya Sen sendiri juga mengingatkan masyarakat Barat yang berpendapatan tinggi tapi tidak bahagia. Kita tidak boleh mengikuti jejak Barat yang kapitalistik dan hanya mementingkan kesejahteraan. Kebahagiaanlah yang harus kita tuju. Kesejahteraan hanyalah salah satu alat untuk mencapai kebahagiaan. Di sini saya tiba-tiba ingat akan doa umat Islam yang selalu meminta kebahagiaan di dunia dan di akhirat dan bukan kekayaan atau kepandaian.

Beliau mengritik pandanganyang menyatakan bahwa kita adalah pewaris sumber daya alam. Menurut beliau kita hanya meminjam sumber daya alam ini dari anak cucu kita jadi kita harus bisa mengembalikannya dalam keadaan tetap bisa dipakai. Apa yang kita lakukan saat ini terhadap SDA kita adalah mengambilnya dengan semena-mena dan meninggalkan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki. Beliau mengutip pepatah Jawa ‘Bener Ning Ra Pener’ dan menjelaskannya sebagai ‘explained truth’ dan ‘valuable truth’. Apa yang benar menurut sebuah situasi belum tentu benar dalam nilai-nilai. Membangun jembatan di atas Selat Sunda mungkin benar menurut pandangan ekonomi dan lain-lain tapi kita juga harus mempertimbangkan adanya gunung yang ada di bawah lautan yang bisa tumbuh, hidup, dan meletus sewaktu-waktu. Kita memiliki potensi besar tapi untuk memanfaatkan potensi besar tersebut dibutuhkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan itu hanya bisa diperoleh melalui pendidikan. Jadi pendidikan adalah inti dari pembangunan bangsa. Sayang sekali bahwa pendidikan saat ini telah meninggalkan budaya sehingga kehilangan dayanya. Padahal Indonesia memiliki budaya yang tinggi sebelumnya tapi kini ditinggalkan tanpa diteruskan.

Beliau menjelaskan bahwa buku Serat Centhini yang ditulis oleh penulis Jawa jaman dulu adalah karya besar yang oleh Raffles disebut sebagai ‘The Javanese Encyclopedia’ yang memuat begitu banyak pengetahuan, termasuk pengetahuan seks. Sayangnya justru tulisan tentang sex itu yang lebih mendapatkan perhatian pada buku ini sehingga tidak dapat dibagi-bagikan kepada siswa karena memuat hal-hal yang tabu untuk siswa.

Menurut beliau bangsa kita saat ini telah kehilangan martabat. Kita memiliki begitu banyak sumber daya tapi diam saja ketika dikirimi limbah beracun dari luar negeri. Sayang beliau tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai ini. Kasus pekerja kita yang ditembak begitu saja di luar negeri dan tidak ada yang membela juga menunjukkan bahwa kita telah kehilangan martabat. Menurutnya martabat dan karakter adalah seperti dua sisi keping koin. Martabat itu adalah pandangan orang lain pada kita dan karakter adalah apa yang kita lihat pada diri kita.

Beliau juga mengritik dan tidak setuju dengan istilah SDM (sumber daya manusia). Menurutnya itu pandangan yang kapitalistik dan memandang manusia sebagai alat produksi semata dan sama dengan batubara, gas, minyak, dan semacamnya. Menurutnya manusia itu bukan sumber daya tapi manusialah yang memberi makna pada nilai. Human is not only homo economicus.

Dalam pendekatan budaya, manusia dipandang sebagai pemberi nilai dan menempati prioritas utama dalam pembangunan. Dengan demikian maka semua budaya dan tradisi setiap suku mendapat perhatian dan dihargai sebagai bagian penting dalam perspektif pembangunan.

Pada intinya Daoed Josoef mengajak para akademisi yang hadir pada ceramahnya tersebut untuk mengembangkan komunitas budaya dimana tradisi ilmiah merupakan salah satu kegiatan kebudayaan yang harus bisa dikembangkan oleh perguruan tinggi. Hanya perguruan tinggi yang bisa mengembangkan komunitas ilmiah, seperti yang dilakukan oleh para akademisi di negara-negara Barat. Sayangnya budaya ilmiah ini tidak terbentuk meski pun komunitas tersebut ada karena komunitas tersebut tidak melakukan komunikasi yang bersifat ilmiah melainkan sekedar komunikasi sosial. Padahal komunikasi ilmiah dari para kelompok akademisi inilah yang diharapkan akan dapat tumbuh menjadi budaya ilmiah.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa di Oxford adalah tradisi yang disebut Tea Hour, yaitu waktu istirahat minum teh bagi para dosen di Oxford, di mana mereka saling berbagi informasi tentang apa yang sedang mereka kerjakan di bidang masng-masing. Mereka bertemu dan berdiskusi secara informal tapi membicarakan tentang semua riset yang mereka kerjakan sehingga budaya akademik tersebut terbangun. Dari kegiatan seperti inilah scientific community itu terbangun.

Beliau mengritik lemahnya budaya dan integritas ilmiah yang ada saat ini. Keharusan dari Dikti untuk mengadakan publikasi ilmiah akan mubazir selama civitas academika tidak perduli terhadap karya koleganya dan selama mereka tidak menghayati integritas ilmiah. Tidak adanya publikasi ilmiah memang merendahkan martabat keilmuan perguruan tinggi namun ia hanya salah satu akibat saja. Selama komunitas ilmiah tidak terwujud maka akan hilanglah satu-satunya modal yang kita perlukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Selama 67 tahun merdeka komunitas ilmiah itu belum terwujud dan embrio komunitas ilmiah relatif lemah. Jumlah perpustakaan umum minim dan jurnal ilmiah belum menjadi fakta intelektual yang mapan. Yang ada baru ‘arisan kerja’ dan kesibukan di saat pemilihan pengurus komunitas ilmiah itu. Yang ada saat ini hanyalah sejumlah akademisi penyandang gelar kesarjanaan tanpa semangat ilmiah, tidak menghayati tradisi akademis, tidak kreatif, kalau pun bukan mandul.

Salah satu species dari budaya adalah ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan itu mesti dikembangkan. Ilmu pengetahuan adalah uraian tidak langsung dari kenyataan. Pengetahuan dibawa ke otak dan ketika otak diaktifkan maka ia menjadi akal atau penalaran. Upaya untuk mengembangkan otak menjadi akal itulah yang disebut pendidikan. Otak adan akal adalah dua hal yang berbeda.  Otak adalah organ tapi akal bukan.

Salah satu paparan yang sangat menarik dari beliau adalah ketika menjelaskan bahwa Tuhan memiliki dua jenis Buku yang harus dibaca. Buku tersebut adalah :

–          Kitab Suci dalam agama masing-masing.

–          Alam Semesta sebagai  ‘buku’ yang harus dibaca.

Untuk dapat membaca dua jenis Kitab tersebut manusia membutuhkan dua hal agar dapat memahaminya dan memperoleh manfaat darinya. Untuk membaca Kitab Suci diperlukan keimanan sedangkan untuk mengakses alam semesta dibutuhkan Ilmu Pengetahuan. Ilmu itu sendiri bukanlah kelanjutan dari pengetahuan. Ilmu adalah produk dari suatu pembelajaran tertentu. Jika cara pembelajaran tersebut salah maka ia tidak akan menjadi ilmu.

Beliau kemudian menjelaskan tentang lima ayat Al-Qur’an pertama yang diturunkan ke nabi Muhammad SAW, yaitu ayat “Iqra” dst. Dengan fasih beliau menjelaskan bahwa meski pun manusia ketika itu sudah hidup selama ribuan tahun dan telah memiliki pengetahuan tapi ayat tersebut menyatakan bahwa Allah akan mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya. Dan ternyata Allah memang membukakan 2 jenis Bukunya baik melalui Kitab Suci Al-Qut’an mau pun melalui ilmu pengetahuan. Sejak turunnya Islam itulah maka segala jenis pengetahuan kemudian mengalir dengan derasnya sampai dengan sekarang. Dan itu dimulai dengan lahirnya para ilmuwan Islam dari segala penjuru sampai berabad-abad lamanya yang kemudian baru diikuti oleh ilmuwan Barat lama kemudian. Itulah sebabnya beliau mengatakan bahwa Islam adalah ‘the religion of reason’, agama yang bernalar.

Bagi kita, sebagai bangsa, ilmu pengetahuan adalah sesuatu hal yang baru,  bahkan asing, yang tidak kita hayati sebagai sebuah sistem nilai (kebudayaan) yang kita warisi dari nenek moyang kita. Kita tidak serta merta menghayati tradisi akademik, yaitu ‘the ongoing communication of scientific knowledge as it should be’.

Daoed Josoef mengakhiri presentasinya dengan mengingatkan kepada para ilmuwan yang hadir pada dialog tersebut untuk benar-benar menghayati pentingnya peran mereka sebagai masyarakat atau komunitas akademis atau ilmiah untuk menumbuhkan budaya ilmiah secara sungguh-sungguh. Jika perguruan tinggi gagal menumbuhkan budaya ilmiah tersebut di lingkungannya maka kita akan gagal untuk menjadi bangsa yang memiliki budaya ilmiah.

 

Surabaya, 13 Mei 2012

MELAWAN LUPA – Pameran 1247 Surat, Foto & Lukisan

MELAWAN LUPA – Pameran 1247 Surat, Foto & Lukisan
andre andreas <mataharikusatu@yahoo.com>,in: “mediacare@yahoogroups.com” <mediacare@yahoogroups.com> , Saturday, 12 May 2012, 15:57

tahan rasa pedih itu / dengan ketabahan / ia akan menjadi mutiara bagi kerang yang luka
(dipetik dr puisi Amrus Natalsya “Warna dan Mata” )
14 – 31 Mei 2012
09.00 – 19.00 WIB
(termasuk hari sabtu dan minggu)
Di Galeri KONTRAS
Jl. Borobudur 14 Menteng
Jakarta Pusat
Dalam rangka memperingati 14 tahun Reformasi, Kontras dan Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mengadakan pameran dan perayaan kata dan warna MELAWAN LUPA.
…….
Merayakan kata pada 1247 surat-surat rakyat korban pelanggaran hak asasi manusia, yang sesungguhnya para survivor itu yakni mereka yang ; menahan pedih dengan ketabahan; mereka yang kukuh melawan lupa dan berjuang menegakkan keadilan. MUTIARA BAGI KERANG YANG LUKA. Surat-surat ini ditujukan kepada penguasa yang sibuk berbual-bual dengan pencitraan disatu sisi, serta abai, ingkar bahkan menghapuskan/memanipulasi ingatan rakyat. Surat-surat beserta Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan foto-foto para  survivorini berasal dari 27 wilayah/ kota dari Papua, Sulawesi, Kupang, Lampung, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta hingga Aceh.
…….
Merayakan warna pada goresan, guratan, irisan, sapuan warna pada serial 70 lukisan Praktik Agung Perjuangan Rakyat : sejatinya demokrasi, hak asasi manusia serta keadilan bukanlah gagasan dan praktik yang lahir dari menara gading atau juga pemberian negara, tetapi tak lain dan tak bukan lahir dari praktik perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan penjajahan. praktik agung perjuangan rakyat
Mohon kehadirannya untuk menambahkan kata dan warna MELAWAN LUPAserta menumbuhkan energi dan komitmen baru untuk melipatgadakan kualitas dan kuantitas PRAKTIK AGUNG PERLAWANAN RAKYAT.
Salam Pembebasan
KONTRAS (Ali Nursahid)
Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (Andreas Iswinarto)
HUMAN LOVES HUMAN