Pembauran

Sepanjang perjalanan dari Palangka Raya melalui jalan ke arah Kasongan, ibukota Kabupaten Katingan, kemudian berbelok ke kanan menuju desa-desa Kabupaten Gunung Mas (Gumas), seluruh percakapan kami lakukan dengan menggunakan bahasa Dayak Ngaju. Berempat kami dalam kendaraan: Yanedi Jagau, Diego Pilalli, Akri dan saya sendiri. Canda ringan dan diskusi tema-tema serius yang tak putus-putus dimaksudkan selain untuk mencegah Jagau yang menyetir tidak mengantuk, juga memanfaatkan waktu guna bertukar pikiran. Apalagi kami memang jarang sekali bertemu, bahkan ada yang  baru saya kenal seperti Diego dan Akri.

“Siapa yang disebut Dayak itu menurut Pak Kusni?” sambil menyetir, Jagau bertanya ketika kami berbicara tentang masalah keadaan Dayak hari ini. Saya memang lama merenungkan masalah ini sehingga pertanyaan itu bisa segera saya jawab. Apalagi pertanyaan ini pun pernah  dikemukakan oleh Dirjen Promosi Pariwisata Nasional asal Bali ketika kami bertemu di Aula Jayang Tingang Kantor Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), pada masa DR. A. Teras Narang, SH. menjadi gubernur.

“Dalam pemahaman saya, Dayak adalah pertama-tama mereka yang secara genealogis Dayak tapi secara budaya tidak. Apakah orang begini bisa disebut Dayak? Saya mengatakannya tidak. Sebaliknya mereka bisa disebut Dayak sekalipun secara genealogis sama sekali tak ada kaitannya dengan Dayak. Misalnya orang asal Jawa, Tapanuli, Flores, dll. Kebudayaan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal”, “keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya” (Koentjaraningrat, 2004:9), memperlihatkan apa-siapa seseorang itu. Pendapat ini juga bermaksud mengatakan bahwa Dayak itu secara budaya bersifat inklusif.

Ketika berhenti di sebuah desa melihat pelaksanaan di lapangan program satu juta pohon séngon, Jagau mengatakan bahwa Akri yang sangat fasih berbahasa Dayak Ngaju bahkan dengan kosakata-kosakata “khas” yang jarang digunakan, adalah Uluh Kalteng asal Flores. Hal yang sama sekali di luar dugaan saya. Sebagai penggiat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Akri selain bergerak di daerah perkotaan, sangat sering berada di daerah pedesaan luas Kalimantan Tengah. Orang-orang Dayak di sekitarnya dan yang  ditemuinya akan serta-merta memandangnya sebagai orang Dayak juga.

Pengalaman saya dengan Akri bukanlah hal pertama saya alami.  Ketika kecil di Kasongan, sekarang ibukota Kabupaten Katingan, saya mengenal seorang lelaki jangkung berkulit kuning. Seorang pedagang. Orang Kasongan memanggilnya Yungtai. Saya baru mengetahui bahwa Yungtai adalah warga negeri ini asal etnik Tionghoa setelah ia pindah ke Surabaya setelah puluhan tahun tinggal di Katingan.

Puluhan tahun kemudian, sekitar tahun 2009, saat membuat film “Gerilyawan-Gerilyawan Kecil” berdurasi 45 menit, berdasarkan novelet Andriani SJ Kusni, bersama TVRI Kalimantan Tengah di Kasongan, di salah sebuah rumah yang kami jadikan tempat shooting, saya bertemu dengan seorang lelaki berumur. Ia fasih berbahasa Katingan dengan logat Katingan yang kuat. Berkegiatan sebagaimana umumnya orang Katingan sehingga betul-betul menyatu dengan orang setempat. Saya baru mengetahui bahwa ia seorang Jawa berasal dari Yogyakarta setelah kami berbincang-bincang. “Saya sekarang adalah Orang Dayak Katingan, Nak. Yogyakarta adalah asal dan tempat lahir saya saja,” ujarnya menjawab pertanyaan.

Pandangan dan sikap ini juga dianut oleh mantan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Kalteng, Salengkat Pardosi. Pardosi dengan tegas menyatakan kepada saya saat memenuhi undangan makan siang bersama di kediaman kami, “Saya Uluh Kalteng lahir di Sumatera Utara.” Serupa dengan pandangan dan sikap Salengkat Pardosi adalah pandangan dan praktek penanggung-jawab keamanan provinsi ke-17. Yang terakhir ini berasal dari Jawa. Ia mengisahkan bagaimana ia mengintegrasikan diri dengan masyarakat Dayak dimana ia bekerja selama bertahun-tahun hingga sekarang. Tidak ada acara penting yang tidak ia ikuti. Ia pun ikut turun ke ladang bekerja bersama-sama penduduk Dayak. Melalui pembauran dan bekerja bersama, ia dipandang oleh masyarakat Dayak sebagai bagian dari diri mereka sendiri. Sekat-sekat etnik runtuh. Apalagi sekat agama yang dalam sejarah dan kebudayaan Dayak Ngaju pada dasarnya tidak pernah ada. Jika ada, hal demikian merupakan perkembangan baru.

Ketika turut-serta dalam penelitian pedesaan di Kabupaten Gunung Mas baru-baru ini, saya bertemu dengan Hotlan Situmorang. Ketika berbincang-bincang selama bekerja bersama, saya sama sekali tidak menduga bahwa Hotlan bermarga Situmorang, seorang pria berasal dari Tapanuli. Bahasa pengantar yang kami gunakan adalah bahasa Dayak Ngaju yang dikuasai Hotlan dengan baik. Penguasaan bahasa lokal mempermudah komunikasi dan memungkinkan pelajar (student, orang yang mempelajarinya) mengenal budaya setempat. Penguasaan bahasa dan budaya memudahkan sekat-sekat perintang melenyap dan kerukunan terjalin.

Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas, saya juga pernah berjumpa dengan seorang asal Tapanuli. Ia sudah puluhan tahun tinggal di Kalimantan Tengah. Karena ia merasa dirinya tidak lain dari seorang Dayak juga maka secara ekstrim ia menamakan diri sebagai ‘Raja Dayak’.

Sadar akan kemajemukan masyarakat Kalimantan Tengah, maka sejak tahun 1990-an ketika kembali ke kampung kelahiran ini, saya menawarkan sebuah konsep yang saya namakan “Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng”. “Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng” tidak lain dari sebuah wacana yang disarankan kepada semua Uluh Kalteng untuk mengatur hubungan keragaman budaya dan etnik di provinsi ini dalam upaya meminimkan konflik fisik yang hanya merugikan semua pihak. Wacana tersebut juga bertujuan bagaimana keragaman itu bisa menjadi kekuatan untuk memberdayakan dan membangun Kalimantan Tengah sehingga Kalimantan Tengah menjadi tempat dimana warganya hidup secara manusiawi dengan kualitas yang terus-menerus meninggi.

Konsep Uluh Kalteng Beridentitas Kalteng hanyalah pelaksanaan konkrit rangkaian nilai republikan dan berke-Indonesia-an. Konsep ini menyarankan sekat-sekat etnik, agama, keyakinan, dan aliran ditiadakan, tanpa menegasi asal etnik dan pandangan serta keyakinan dan budaya asal, sehingga yang tersisa adalah Batak Kalteng, Minang Kalteng, Jawa Kalteng, dll, bukan Batak Tapanuli, Minang Sumatera Barat, Jawa di Jawa, dll, yang diperjuangkan untuk diwujudkan di Kalimantan Tengah. Melalui pembauran sadar dengan etnik-etnik lokal dan yang lain diharapkan identitas baru yaitu identitas Kalteng, tanda telah terjadi kohesi sosial, akan lahir. Budaya baru yang mereka lahirkan melalui pembauran mendapat bahan mentah dari kemajemukan budaya. Budaya asal masing-masing boleh dibilang sebagai modal sosial-budaya Uluh Kalteng, nama bagi kohesi baru.

Oleh kohesi ini maka mereka resapi bahwa Kalimantan Tengah adalah kampung halaman mereka sendiri, bukan hanya tempat bekerja, dan apalagi bukan kebun belakang rumah mereka yang berada di tempat lain. Dengan demikian mereka akan merasa bertanggungjawab penuh terhadap timbul-tenggelamnya, maju-mundurnya Kalimantan Tengah. Tanggung jawab yang lahir dari rasa memiliki Kalimantan Tengah dan tidak menjadi wisatawan jangka panjang. Dengan menghayati Kalimantan Tengah sebagai kampung halamannya maka pepatah “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” menjadi kadaluwarsa sebab yang kemudian menjadi relevan adalah “di mana langit dijunjung di situ bumi dibangun”.

Budaya Kalteng Beridentitas Kalteng yang merupakan budaya Uluh Kalteng karena itu bisa disebut sebagai budaya hibrida atau budaya yang diramu melalui dua pemaduan: pemaduan antara tradisi baik dan kekinian yang positif. Pekerjaan kreatif bukanlah pekerjaan sederhana. Demikian pula upaya melahirkan dan mengembangkan Budaya Kalteng Beridentitas Kalteng, sebagai pekerjaan kreatif bukanlah jalan lurus dan sekali jadi.

Dari segi ke-Indonesia-an, Budaya Kalteng Beridentitas Kalteng yang dalam proses menjadi, tidak lain dari pengejawantahan konkrit dari wacana dan politik kebudayaan sekaligus yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Konsep ini di dunia sastra-seni ada yang menyebutnya sebagai sastra-seni kampung halaman dan atau sastra-seni pulau. Atau adakah orientasi dan cara lain?[]

Kusni Sulang

Harian Radar Sampit, 19 Februari 2017, Pembauran

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: