Puisi-puisi Amrus Natalsya: Berterang-terang dalam Remang Kebudayaan

Oleh Sumasno Hadi

008

Foto/Dokumentasi Andriani S. Kusni/Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, Banjarmasin, 26 Februari 2016

 

Melalui kehendak baik kawan-kawan Sanggar Bumi Tarung Fans Club (SBTFC), Kasisab dan Gusdurian Kalsel-lah, malam ini kita bisa membicarakan sekaligus mengapresiasi buku puisi karya seorang maestro, Amrus Natalsya, yang lebih dikenal masyarakat seni kita sebagai perupa, ketimbang penyair atau penulis puisi. Demikian karena jejak kesenimanan Amrus memang lebih banyak terekam di jalan seni rupa, melalui karya-karya lukis maupun patung-patungnya. Oleh karena konteks malam ini bincangan sastra, tentunya pembicaraan kita pun harus disandarkan pada teks puisinya, pada sajak-sajak Amrus. Tapi bersandar pada teks saja juga akan pincang rasanya, jika kita menafikan konteks penting di luar dimensi tekstualnya (sosiologis, psikologis, hostoris, idiologis dll.) atau ekstrinsik puisinya.

 
Muatan Puisi
Secara tekstual, tiga ratusan judul sajak Amrus di buku Puisi-Puisi Amrus Natalsya ini punya tiga muatan, atau sebut saja karakteristik puisi yang menyolok. Pertama, ini yang paling kentara, adalah pilihan bentuk-gaya puisi persajakan yang khas. Yaitu pada keseluruhan teksnya yang ditulis dengan huruf kapital (Besar). Kata Misbach Tamrin, pilihan bentuk persajakan yang tak lazim ini adalah konsekuensi dari pilihan Amrus yang lebih mementingkan tema-isi ketimbang bentuk atau bungkusnya, yakni sajak-sajak yang mementingkan visi pendidikan politik bagi rakyat. Makanya ungkapan dan diksi-diksinya pun cenderung menggunakan bahasa umum, sederhana, jelas dan terang, tanpa metafor-metafor yang rumit (dalam bahasa Misbach: bahasa rakyat yang cekak-aos, seringkali kasar secara artistik). Jadi perihal artistik-estetika puisi bukanlah yang utama dalam sajak-sajak Amrus. Akan hal ini, kita dapat menyimak penggalan sajak-sajaknya yang akan saya kutip di bawah ini. DI situ, terasa betapa misi penyadaran dan edukasi politiknya terasa sangat diutamakan.

 
Khusus tentang kritik-edukatif terhadap jalannya demokrasi bangsa kita yang terseok-seok, Amrus pun bersajak dengan lugas: kalau kau pintar kau takkan meninggalkan sejarah…// kalau kau pintar sejarah menjagamu/ kalau kau pintar kau tahu sejarah lahir sendiri/ kalau kau pintar kau tau sebab demokrasi dibikin mati. Juga pada sajak bergaya pantun slengean¬-nya: jalan jalan ke bekasi bukan jalan jalan ke jakarta/ beli dasi dan peci – minyak wangi untuk mertua/ demokrasi kita banyak derita hampir merata/ orang kaya – hanya sedikit saja/ pak manaf naik kereta ke jatinegara/ maafkan saya – bila salah berkata-kata. Selain itu, tema kesenjangan sosial-ekonomi pun banyak disajakkannya, misal pada kutipan berikut: ini negeri tampat aku dilahirkan – kau – kita semua/ juga tempat menutup mata/ mengapa tak bisa beras – menjadi murah/ lapangan kerja dimana mana/ tidak saja untuk yang pintar berdiploma/ juga untuk yang bodoh – juga tersedia/ walau tak bisa – tulis dan baca… .

 
Muatan atau karakteristik kedua, sebagaimana yang dikatakan Fadli Zon pada epilog buku ini, di sini teks puisi Amrus akan selalu punya konteks yang kuat. Konteks yang dimaksud adalah peristiwa, sejarah, atau fenomena sosial yang melatari proses kreatif penulisan sajak-sajaknya. Dan ketika saya membaca sajak demi sajak Amrus, seperti kata EZ Halim pada prolog buku ini, memang terasa sekali ungkapan yang memoarikal. Secara kronologis, sajak-sajak Amrus membentangkan ingatan kuat, juga realis-empirikal, mengenai persinggungannya dengan berbagai peristiwa sosialnya. Dan yang paling banyak muncul adalah konteks-peristiwa di sekitar peristiwa 1965. Demikian karena konteks 1965 adalah peristiwa yang paling mengubah perjalanan hidupnya. Ini terkait dengan pemberangusan aktivitas kesenimanan Amrus di Sangggar Bumi Tarung, yang pada akhirnya berujung pada mimpi buruknya, kehilangan kebebasan. Ia diciduk dan dibui selama lima tahun oleh penguasa Orde Baru tanpa proses hukum.

 
Pada konteks ini, kita pun bisa membaca dua sajak memoarikal Amrus yang cukup menarik, yakni tentang pengalaman cintanya bersama mendiang sang istri, Prayati. Sajak ini menarik karena akan menggugah humanisme kita, melalui suara-suara kisah-kisah perjuangan hidup, penindasan, ketidakadilan, yang semuanya dibahasakan Amrus secara romantik. Dan di sajak ini pun tetap muncul lagi persoalan sekitar tragedi 1965, berikut gambaran tumbangnya pemerintahan Bung Karno yang digantikan penguasa Orde Baru bertangan besi: Jenderal Soeharto. Di sini pula, sajak-sajak Amrus kerap dijadikan wadah ungkapnya untuk menggambarkan masa-masa derita lagi memilukan, ketika ia dipenjara yang penuh siksaan fisik maupun mental. Juga kesaksiannya atas kekejaman manusia atas manusia lainnya. Ketika di berbagai kota, desa, banyak orang-orang (kiri) yang bahkan petani lugu tak bersalah ditangkapi oleh tentara, diburu, diarak dan habisi oleh amuk massa yang buta, lantaran dituduh terlibat G.30S/PKI! Berikut saya kutipkan penggalan sajak “Puisi Tiga Belas =Halaman Pertama= yang dengan lugas menggambarkan tragika kamanusiaan itu: th 1965 prahara terjadi/ g. 30. s. hanya sehari/ 7 jenderal ditembak mati pasukan cakrabirawa/ dipimpin kolonel untung/ golongan kiri dicari – kayak berburu babi – di gunung merapi/ ditangkapi ada yang dimatiin/ tanpa diperiksa – di pengadilan/ soeharto kepala keamanan/ basmi sampai ke akar-akarnya/ di semua penjuru tanah air/ terjadi pelanggaran hak azasi manusia/ kehilangan hati nurani.

 
Suara-suara lantang, tajam dan tanpa tedeng aling-aling adalah bunyi yang terdengar jelas ketika kita menyimak sajak-sajak memoar Amrus. Bunyi ini adalah kesaksian Amrus atas berbagai peristiwa sosial bangsanya. Mulai dari peristiwa 1965 yang diikuti oleh penindasan dan kekejaman, perampokan alam oleh bangsa imperialis asing lantaran kongkalikong dengan elit politik yang khianat, kesenjangan sosial, kemiskinan, bangkrutnya moral politik, kanker korupsi yang terus menggerogoti tubuh bangsanya, serta persitiwa-peristiwa sosial yang aktual seperti pelarangan konser Lady Gaga, jatuhnya pesawat sukhoi, tertangkapnya presiden partai gara-gara daging sapi, penembakan di Lapas Cebongan, hingga fenomena Jokowi-Ahok.

 
Suara kesaksian Amrus itu, nampaknya adalah wujud kegelisahan nuraninya. Betapa tidak, ia telah menyaksikan dan mengalami perjalanan panjang hidup bangsanya yang tertatih. Dalam konteks kekinian, ketika kegelisahan itu tidak “memadai” lagi untuk diekspresikan lewat media lukisan atau patung, maka narasi teks persajakanlah pilihannya. Lantas, pada dinamika masyarakat global kita yang telah menjadi demikian teknis, pragmatis dan instatif kini, hal itu adalah fakta kebangkrutan kebudayaan yang berdiri menantang di depan Amrus. Dan ia pun menjawab tantangan itu dengan sajak-sajak terangnya. Inilah muatan sekaligus karakteristik sajak-sajak Amrus yang ketiga. Yaitu konsistensi Amrus dalam memuisikan konteks atau maksud puisinya dengan narasi-narasi lugas, diksi-diksi yang terang-benderang, tak remang-remang apalagi gelap.

 
Sajak-sajak Terang sebagai Strategi Kebudayaan
Ketika Amrus memilih sajak yang terang-benderang, ini adalah konsekuensi Amrus untuk memrioritaskan puitikanya kepada isi, ketimbang tampilan, bungkus atau bentuk. Pilihan tersebut pun bisa kita maknai sebagai endapan estetika realisme revolusioner Sanggar Bumi Tarung dan konsep 1-5-1-nya Lekra yang dihayati oleh Amrus sejak masa mudanya. Oleh karenanya, sajak-sajak atau puisi bagi Amrus diposisikan sebagai jalan, bukan tujuan. Karena tujuan keseniannya adalah pembebasan manusia: kemerdekaan. Maka ia pun menuliskan bahwa: seni adalah alat memenangkan revolusi/ … demi keselamatan negara tentu bisa apa saja/ lewat syair-pantun – cerpen – berbagai media.

 
Bagi Amrus, pembebasan manusia harus dicapai melewati jembatan revolusi, sebuah perubahan yang radikal. Dan jiwa nasionalisme Amrus pun menjadi vokal utama untuk menyuarakan visi kebenaran. Kalau sudah begitu, puisi yang terlalu cerewet dengan perangkat estetika dan nilai intrinsiknya menjadi tak relevan di tangan Amrus. Katanya: bila bisa menulis – tulislah puisi/ menurut kata hati/ tak soal – merdu atau cempelang/ asal ada kebenaran/… tulislah puisi/ jangan takut salah/ …jangan takut tak indah… . Demikian karena bentuk hanyalah alat, sedangkan tujuan puitika Amrus adalah makna, yang berada pada isi. Pesan Amrus: bila gelisah ungkapkan semua yang terendam/ dalam kubangan perjalanan/ jangan fikirkan melodi kata kata/ tentukan isi dan makna.

 
Kemudian, ketika Amrus dalam sebuah sajaknya menyatakan bahwa: puisi bisa berguna bila orang bisa baca dan tidak tuli, ini cukup relevan dengan kebudayaan kontemporer kita. Penyakit tuli, buta serta lupa yang menjangkiti organ kebudayaan kita, makin hari makin kronis saja. Ketulian politik via penguasa akan rintihan penderitaan rakyatnya yang tertindas, banyaknya pejabat yang bergaya hidup mewah dan menghambur-hamburkan uang negara di tengah rakyat yang miskin, kebutaan sosial bangsa kita yang abai dalam mengelola alam dan menjaga kekayaan kulturalnya, serta penyakit lupa sejarah, adalah ruang remang kebudayaan kita hari ini, yang barangkali telah menuju keadaan redup dan gelap pekat!

 
Meski demikian keadaan kebudayaan kita, tapi bagi Amrus, ia tetap merespon secara optimis dan strategis. Yakni dengan tetap kreatif-produktif menuangkan rasa cinta manusia dan cinta kebangsaannya ke dalam ratusan halaman sajak-sajaknya. Strategi kebudayaan Arus ini, barangkali adalah bentuk konsistensinya pada ideologi kesenian: realisme revolusioner. Bahwa ia lebih memercayai sajak-sajak yang realis, faktual, lugas lagi terang-benderang, untuk mampu merevolusi mental kebudayaan masyarakatnya yang makin remang, ketimbang berabstrak-ria dalam puisi gelap. ***

 
Penulis adalah dosen Prodi Pendidikan Sendratasik, FKIP, Universitas Lambung Mangkurat, juga bergiat di Forum Kajian Sastra Banjarmasin (FKSB)

2 comments so far

  1. cuatcuitcom on

    waw bagus… jarang ada artikel yang menjelaskan tentang puisi

  2. jurna on

    waw bagus… jarang ada artikel yang menjelaskan tentang puisi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s