MENYELAMATKAN INDONESIA DARI KEBANGKRUTAN

 

MENYELAMATKAN INDONESIA DARI KEBANGKRUTAN

Di bidang ekonomi, bangsa ini sedang menata agar kondisi ekonomi nasional membaik.

Sinar Harapan, Jakarta, 23 November 2015 21:00

Oleh Fauzi Aziz clip_image002

Ist / Foto

Fauzi Aziz

Kami, rakyat Indonesia, tidak menginginkan dan tidak mau melihat bangsa Indonesia pintar dan cerdas, tapi bodoh dan tidak bermartabat. Sebagai wong cilik, kami pun tidak menghendaki negeri ini kaya, tetapi miskin sehingga menjadi terjebak dalam fenomena paradox of plenty. Dalam fenomena ini, negara amat kaya memiliki sumber daya alam, tapi rakyatnya sebagian masih hidup miskin.

Wong cilik tidak berharap pula Indonesia menjadi tidak bermakna bagi rakyatnya karena negerinya dijarah sebuah “kejahatan korporatokrasi” yang bisa membangkrutkan negeri ini.

Kita ingat pada masa lalu, ketika proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton I dan II yang nilai proyeknya mencapai US$ 3,7 miliar. Itu adalah megaproyek korban mark-up yg konon kala itu dikatakan harga listrik yang dihasilkan 60 persen lebih mahal dari Filipina dan 20 kali lebih mahal dibandingkan di Amerika Serikat (AS).

Sekarang ada proyek PLTU Urumuka di Papua, yang konon dalam berbagai pemberitaan saham nasional yang nilainya 49 persen juga menjadi rebutan sejumlah elite politik untuk bisa mengusai saham tersebut. Kabar yang lain lagi seperti yang diberitakan dalam situswww.ifeng.com, paket investasi yang ditawarkan Tiongkok untuk Indonesia dalam pembangunan kereta api (KA) cepat Jakarta-Bandung tidak menarik.

Pasalnya, harga per kilometer yang ditawarkan terlalu tinggi. Untuk yang berkecepatan 250 km per jam ditawarkan sekitar 253 juta renmimbi atau setara Rp 453,6 miliar per kilometernya.

Sebagai wong cilik, saya yang mendengar kabar seperti itu hanya bisa mengelus dada. Kenapa juga hanya bisa menjadi wong cilik, mengapa tidak bisa menjadi wong gede supaya bisa ikut mengurus negeri ini.

Kalau nasib baik, “berani”, dan tak punya malu; barangkali bisa dapat upeti gratifikasi, atau punya saham di mana-mana akan datang mengalir. Kalau demikian, bisa menjadi wong sugih (orang kaya harta dan takhta).

Tidak, bukan itu kehendak rakyat, tidak pula mengharapkan negeri ini terus geger soal keburukan. Kita berharap yang selalu duterima adalah kabar baik, yang benar-benar akan menjadi lebih baik untuk kepentingan seluruh rakyat.

Rakyat mau dipimpin para “CEO”. Siapa saja asal mereka bermoral. Rakyat juga ikhlas diwakili anggota DPR asalkan mereka juga bermoral dan bekerja tidak hanya mengurus diri sendiri. Kita tidak rela jika negeri hanya menjadi mainan dan dijadikan objek jarahan orang-orang pintar, ta pibodoh dan tidak bermoral.

Di bidang ekonomi, bangsa ini sedang menata agar kondisi ekonomi nasional membaik. Output produksi nasionalnya diharapkan bermanfaat bagi seluruh rakyat, bukan malah dibiarkan mengalir keluar melalui repatriasi aset dan keuntungan.

Bumi dan air dirusak dan dikuras habis. Jadi, negeri ini merana, hanya bisa memandang hutannya gundul, sawahnya mengering tidak ada air, dan produktivitasnya rendah. Karena itu, pembangunan ekonomi membutuhkan arah baru untuk mengatasi masalah kesenjangan yang kian melebar.

Data LPS tahun 2011 memberikan gambaran bahwa, 51 persen dari simpanan deposito sebanyak Rp 1.700 triliun dimiliki 0,13 persen ?nasabah. Pada ? sisi yang lain, jumlah orang yang membelanjakan uangnya US$ 2-20 per hari naik dari 81 juta orang tahun 2003 menjadi 134 juta pada 2011. Namun, ini tidak menjamin pertumbuhan ekonomi nasional berkualitas karena mereka lebih suka membeli barang impor, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Itulah yang sehari-hari menjadi bahan berita tentang dongeng negeri ini. Hal tersebut seperti tanpa harapan sama sekali. Jika Anda pernah membaca buku yang ditulis Andrew Hitchchcock berjudul History of Money, ada satu pernyataan yang cukup mengagetkan, yakni tidak banyak yang tahu bahwa keruntuhan perekonomian sebuah negara, termasuk Indonesia, sebenarnya sudah “diatur” sedemikian rupa oleh bandit ekonomi dalam permainan kotor zionis (yang notabene adalah kaum neolib).

Mudah-mudahan tulisan ini tidak sekadar sensasi, tapi sebagai peringatan awal. Pernyataan semacam itu perlu juga diperhatikan. Nam?un demikian, kita masih mempunyai sedikit harapan semoga pemerintah dan DPR masih bisa berpikir dan bertindak waras.

Mereka diharapkan tahu cara menyejahterakan rakyat. Itu karena kita nilai mereka lagi keblinger dan tidak sedang bermain sinetron, tapi benar- benar sedang bekerja mengabdi sebagai abdi rakyat, bangsa, dan negara.

Kalau mau kaya, jangan menjadi “pencuri” atau sekadar “jual diri” menjadi makelar proyek. Lebih baik menjadi manusia Indonesia seutuhnya yang berketuhanan, serta berperikemanusiaan yang adil dan beradab. Jadi, negeri ini bersih dari KKN, berburu saham kosong, dan sebagainya yang serbamenjijikkan dan memilukan karena mau menjadi orang pintar, tapi bodoh.

Penulis adalah pemerhati masalah ekonomi dan industri.


Sumber : Sinar Harapan

http://www.sinarharapan.co/news/read/151123104/menyelamatkan-indonesia-dari-kebangkrutan

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: