SIAPA SUDIRMAN SAID?

SIAPA SUDIRMAN SAID?
Dari FB Sunardian Wirodono

SUDIRMAN SAID | Ingat iklan rokok di televisi, tentang seseorang yang bisa melenyapkan kasus korupsi di Indonesia? Dengan ‘abrakadabra’ ia menyulap kasus korupsi. Dan benar, kasusnya hilang. Korupsinya? Tetep!

Kasus pelaporan Sudirman Said atas tindakan tak patut dari Setya Novanto, herannya justeru mendapat tantangan keras dari kalangan DPR, dari Azis Syamsuddin (Golkar), Fadli Zon (Gerindra), Fahri Hamzah (PKS), Luhut Panjaitan (pemerintah), dan masih banyak lagi. Dorongan yang muncul, justeru ada upaya bagaimana mempidanakan atau melaporkan balik apa yang dilakukan SS. Rizal Ramli, yang konon pro-rakyat dan selalu anti neo-liberal itu, pun juga berkomentar sumir. Komentar orangtua yang post-power syndrome, padahal ia ada di dalam pemerintahan juga.

Kita seolah sedang dikaburkan dari inti masalah yang dilakukan SS. Melaporkan tindakan ‘pelanggaran etika’ seorang anggota parlemen ke mahkamah yang mengurusi persoalan etik anggotanya. Tetapi reaksi berlebihan, dengan berbagai dalihnya (baik yang pokrol bambu maupun seolah benar prosedural-formal), hendak mementahkan atau setidaknya mengaburkan persoalan pokoknya. Azas kepatutan pejabat tinggi negara dalam menjalankan tugas sebagaimana sumpah jabatannya.

Sudirman Said bukan ‘anak kemarin’ sore dalam perjuangan melawan korupsi. Ia tentu tahu persis apa yang dilakukannya, termasuk resikonya. Rekam jejaknya, bisa dibaca dengan jelas. Jokowi memilihnya sebagai Menteri ESDM karena reputasinya tersebut.

Sebelumnya, ia dikenal sebagai tokoh antikorupsi, pekerja rehabilitasi kawasan bencana, eksekutif di industri minyak dan gas, serta direktur utama perusahaan senjata nasional (Pindad).

Kelahiran Brebes (52) ini, Master Bidang Administrasi Bisnis dari George Washington University, Washington, DC, Amerika Serikat (1994). Ia pendiri dan pelaksana Masyarakat Transparansi Indonesia, bersama aktivis anti korupsi lainnya seperti Erry Riana Hardjapamekas, Kuntoro Mangkusubroto, Sri Mulyani, Mari’e Muhammad, dan beberapa tokoh lainnya. MTI bertujuan mendukung percepatan pemberantasan korupsi di Indonesia dengan mendorong penyelesaian beberapa kasus rasuah.

Selain itu juga SS mendirikan Indonesia Institute for Corporate Governance (IICG), untuk mendukung gerakan anti korupsi adalah dengan menciptakan dunia usaha yang sehat, memasyarakatkan konsep, praktik, dan manfaat Good Corporate Governance (GCG) kepada dunia usaha. IICG merupakan salah satu peran masyarakat sipil untuk mendorong terciptanya dunia usaha Indonesia yang terpercaya, etis, dan bermartabat. Organisasi independen ini juga mendorong dan membantu perusahaan-perusahaan dalam menerapkan konsep Tata Kelola (Corporate Governance).

Pada tahun 2001 saat menjabat menjadi Ketua MTI, SS mendorong agar menteri yang terpilih dapat melepaskan jabatannya di parpol dan keterlibatannya dalam dunia usaha. Menurut Sudirman jabatan di partai politik dan keterlibatan dalam bisnis sangat mempengaruhi kredibilitas menteri bersangkutan.

SS bersama Todung Mulya Lubis dan Imam B Prasodjo (sosiolog) mendorong Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menyampaikan hasil audit terkait dugaan korupsi oleh KPU pada Pemilu 2004. Sudirman yang merupakan Ketua Badan Pelaksana MTI, bersama Todung dan Imam mendorong agar Ketua BPK dapat menemui Ketua KPK untuk mempercepat penyelesaian kasus korupsi terkait penyelewengan dana Pemilu.

Bersama Rhenald Kasali dan Bambang Harimurti selaku pendiri MTI mendorong agar dua pimpinan KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah tidak dikriminalisasi. Sudirman, yang pernah dipercaya menjadi pejabat [enanggung jawab rektor Universitas Paramadina, menilai kasus kriminalisasi Bibit dan Chandra adalah kemunduran dalam upaya pemberantasan korupsi.

Reputasinya dalam BRR-Aceh, mampu mensinergikan ratusan LSM dan para aktivis untuk menyelesaikan masalah Aceh paska Tsunami. Mulai 2013, SS mulai terlibat dalam persoalan migas dan menjadi orang dalam Pertamina, hingga menjadi Executive Director APEC CEO Summit 2013. Dari sini karirnya melesat, hingga ditunjuk Jokowi menjadi Menteri ESDM, selain juga menjadi direktur utama PT Pindad. Pernah juga membuat geram SBY soal pembubaran Petral.

Dengan reputasinya, SS lebih bisa dipercaya daripada SN. Dan kalau dia jadi sasaran tembak yang menihilkan tindakannya, kita tahu siapa saja mereka. Dalam teori freudian, gajah di pelupuk mata cenderung diabaikan karena posisi gajah itulah yang diperebutkan atau ingin dikuasai.

Kenapa para ketua umum partai, seperti SBY, PS, ARB, SP, tak banyak yang berkomentar soal kasus pelanggaran etika SN, padahal ini menyangkut juga kredibilitas partai politik? Karena mereka juga basah kuyup dengan bisnis energi dan sumber daya mineral ini.

Minyak memang basah, dan perubahan selalu menggelisahkan, bagi yang kehilangan comfortable zone yang dikangkanginya selama ini. | Bahan dari berbagai sumber.

Foto Sunardian Wirodono.
Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: