PESAN SEBUAH PAMERAN

Tajuk Panarung Andriani S. Kusni

IMG_1025

Workshop dan Pameran Seni Rupa Lintas Warna Borneo di Palma, Palangka Raya, 9-13 November 2015. (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah /Kusni Sulang, 2015).

 

PESAN SEBUAH PAMERAN

Mengambil tempat di atrium Palangka Raya Mall (Palma), 25 orang perupa dari Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Timur (Kaltim), dari tanggal 9-13 November 2015, bersama-sama mengadakan Workshop dan Pameran Seni Rupa Lintas Warna Borneo di Palangka Raya. Pameran dan Workshop ini disponsori oleh antara lain Walikota dan Wakil Walikota Palangka Raya, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palangka Raya, Kadis Pariwisata Kota Palangka Raya, Neo Hotel, PT. Wanasawit Subur Lestarim PT. Sapta Karya Damai, BEST Group, dan lain-lain… Pameran Lintas Borneo yang memajangkan kurang-lebih 50 lukisan ini diselenggarakan oleh para perupa Kalimantan secara bergiliran di provinsi-provinsi peserta. Penyelenggaraan pameran kali ini dipercayakan kepada para perupa Kalteng yang dikoordinir oleh P. Lampang S. Tandang, S.Sn., M.Si.
Menurut Lampang, pameran seperti ini paling akhir diselenggarakan di Palangka Raya pada tahun 2011.” Patut pula dicatat pada tahun yang sama Komunitas Seniman-Budayawan Palangka Raya (KSB-PR), juga dengan mengambil Palma sebagai tempat kegiatan, telah menyelenggarakan pameran lukisan kanak-kanak se-Palangka Raya selama tiga hari. Setelah itu tidak ada pameran lukisan, apalagi pameran lukisan para perupa Kalteng. Kegiatan-kegiatan yang menyangkut senirupa sesudah kegiatan-kegiatan tersebut di atas, sebatas pada lomba mewarnai untuk kanak-kanak.
Lampang juga mengungkapkan bahwa “kegiatan ini muncul dari kegelisahan para perupa terkait kurangnya apresiasi apresiasi masyarakat terhadap dunia seni rupa”.
Tanpa berbicara tentang kualitas, dari segi kuantitas pameran seperti apa yang diakui oleh Lampang sendiri sangat kurang, mengapa masyarakat tiba-tiba disalahkan? Apa yang harus diapresiasi kalau apa yang mesti diapresiasi tidak ada? Apresiasi seni muncul jika ada yang diapresiasi dan berkembangnya kritik seni. Salah satu peran kritik seni adalah meningkatkan daya apresiasi seni masyarakat. Kritik bukanlah ‘ujaran kebencian’ (hate speech) atau ‘meludahi muka seseorang di depan umum’.
Hal lain yang erat hubungannya dengan apresiasi masyarakat adalah tema karya. Dari 50 lukisan yang dipamerkan di Palma, yang mengangkat tema’ kehidupan masyarakat Kalimantan, bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Yang paling banyak diangkat adalah tema-tema perempuan bungas alias cantik, baik itu dari Kalimantan atau pun dari Jawa. Kalau mau mengetahui permasalahan masyarakat Kalimantan, cq Kalteng, dari pameran ini, maka keinginan tersebut akan sia-sia. Hampir semua perupa asyik dengan diri mereka sendiri, seperti halnya dengan kehidupan puisi-gelap. Keterasingan seniman dari masyarakatnyalah yang justru menonjol tapi oleh Lampang malah belum-belum sudah menyalahkan masyarakat yang tidak bisa memberikan apresiasi kepada seni rupa.Sehingga kalau Dr. Basuki Sumartono, M.Sn, yang selain pelukis juga pemerhati pendidikan seni, dalam kata pengantarnya di Katalog yang luks, “Pada dasarnya karya seni berangkat dari fenomena atau pun realitas sosial”, yang disebut “pada dasarnya” itu justru minim didapatkan dalam pameran ini.
Ketika mengapresasi karya-karya yang dipamerkan, Dr. Basuki menulis: “…para perupa yang ikut menggelar karya-karyanya dengan kesadaran yang kuat, secara massif sengaja mengeksplorasi sumber inspirasinya dari dalam entitas budaya yang ada daerah Kalimantan yang sangat eksotis, selanjutnya mereka mengelolanya sampai menghasilkan karya-karya kreatif dalam seni visual” yang dalam kata-kata Lampang S. Tandang karyanya merupakan “proses kristalisasi dalam pengungkapan nilai-nilai spiritual budaya lokal (terutama Dayak), dan sekaligus merupakan eksplorasi perpaduan nilai-nilai spriritual yang agamis dan nilai-nilai kehidupannya yang secara sadar disalurkan melalui media seni.” Hanya saja seperti dikatakan oleh Dr. Basuki Sumartono, M.Sn., para perupa perlu mempunyai daya kritis. “Daya kritis yang dimilikipun tidak serta-merta mereka dapatkan, mereka harus pandai dan peka dalam pembacaan terhadap budaya dan lingkungannya… ”. Tapi justru pada daya kritis dan “harus pandai dan peka dalam pembacaan terhadap budaya dan lingkungan” demikianlah barangkali terdapat masalah besar. “Kesadaran yang kuat” saja tidak menjamin dan tidak membuat serta-erta adanya kepandaian, kepekaan serta kemampuan membaca. Kepandaian, kepekaan dan kemampuan membaca patut diasah melalui belajar, dan kedekatan dengan budaya lokal dan kehidupan masyarakat yang mau dijadikan sumber inspirasi dalam berkarya. Asal etnik Dayak misalnya, tidak serta-merta membuat seseorang mengerti dan menghayati budaya serta permasalahan masyarakat Dayak atau Kalteng secara umum, sekali pun orang itu lahir, besar dan tinggal di Tanah Dayak. Apalagi sekarang, tidak sedikit orang Dayak mengasingkan diri secara sukarela dari budaya Dayak.
Kalau kita berbicara tentang nilai, maka yang dibicarakan adalah masalah filosofis, sari budaya suatu bangsa atau suatu etnik. Saya khawatir, lukisan-lukisan yang dipajangkan dalam pameran ini cenderung memperlihatkan ciri pengasingan diri secara sukarela demikian. Yang dieksplorasi bukan sesuatu yang hakiki, bukan nilai, tetapi eksotisme. Dan memang eksotisme tidak sama dengan kedalaman (lihat: Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, 1999:253; Eko Endarmoko, 2006:168; Oxford Advance Learner’s Dictionary, 2000:459). Sehingga sikap ramah terhadap alam dan sesama, tidak seperti yang dikatakan oleh Dr. Basuki Sumartono, M.Sn. yang mabuk pada eksotise Kalimantan, sebagai “manifestasi ujud keramahan masyarakat adat”, tetapi ungkapan dari suatu pandangan hidup atau pernyataan keluar dari suatu pandangan filosofis. Sebagai salah satu contoh saja adalah lukisan Lampang S. Tandang, yang diberi tajuk “Keganasan Naga”. Naga (Bahasa Dayak Ngaju: Jat) dalam sastra lisan Dayak dipandang sebagai lambang kekuasaan di bawah, berpasangan dengan kekuasaan di atas yang dilambangkan oleh enggang (tingang). Tapi dalam lukisan “Keganasan Naga”, Lampang S. Tandang memandang kekuasaan di bawah (baca: Yang Mahasa Kuasa) itu sebagai simbol ‘keganasan’. Sementara di lain pihak Lampang S. Tandang memandang karyanya sebagai “proses kristalisasi dalam pengungkapan nilai-nilai spiritual budaya lokal (terutama Dayak), dan sekaligus merupakan eksplorasi p erpaduan nilai-nilai spriritual yang agamis dan nilai-nilai kehidupannya yang secara sadar disalurkan melalui media seni.” Apakah dengan menempatkan “Naga” sebagai simbol keganasan, Lampang S. Tandang memandang keyakinan agama dan filosofis orang Dayak sebagai ‘kejahatan’, sebagai ‘keganasan’ yang harus diperangi? Ataukah simbol demikian, merupakan isyarat dari keterasingan Lampang terhadap budaya Dayak sekali pun secara etnis ia sendiri adalah seorang berdarah Dayak. Atau inikah sisa dari pengingkaran diri sebagai Dayak, yang banyak terjadi, setelah tidak lagi menganut paham Kaharingan?
Seperti saya katakan di atas, kalau mencari permasalahan masyarakat Kalimantan dan ingin mengetahui konsep masyarakat Dayak atau Kalimantan tentang alam, hubungan antar manusia, hubungan dengan kekuasaan lain dan kerja manusia dalam ruang dan waktu, para pencari tidak akan mendapatkannya di pameran ini. Yang didapat adalah eksplorasi eksotisme – hal penting bagi suatu komoditas seperti pandangan anutan formal dewasa ini tentang kesenian.
Soal lain yang ingin saya catat adalah konstatasi Dr. Basuki Sumartono, MSn tentang kebebasan berekspresi di Kalimantan, termasuk di Kalteng. Dr. Basuki menulis: “Perkembangan seni rupa di Kalimantan tidak terlepas dari perjuangan terhadap nilai kebebasan dan kreativitas. Kadang kala di daerah pengaruh seseorang tentang senioritas sangat mempengaruhi nilai kebebasan berekspresi”.
Saya tidak melihat ada masalah demikian di Kalteng yang dalam seni rupa belum bisa dikatakan berkembang pesat. Seperti yang tampil di pameran ini, jumlah perupa Kalteng pun bisa dihitung dengan jari. Apakah dengan pernyataan di atas, Dr. Basuki sedang berbicara tentang seni rupa di Kalimantan cq Kalteng ataukah tentang kebebasan berekspresi di Indonesia? Saya khawatir oleh kemabukan pada eksotisme Kalimantan, Dr. Basuki mengada-ada masalah, khusus untuk Kalteng. Kalau pun ada satu dua kasus terjadi, kasus khusus demikian belum bisa disebut sebagai gejala umum.
Lepas dari segala apa yang secara singkat, dalam artian tidak menyeluruh, saya paparkan di atas tentang pameran ini, penyelenggaraan pameran langka seperti ini di Kalteng sungguh patut dihargai dan didorong. Pameran ini merupakan satu perkembangan baru dalam kehidupan berkesenian di Kalteng. Tentu saja akan sangat menggembirakan apabila pada masa mendatang yang tidak jauh, pameran begini akan kembali diselenggarakan bersama-sama dengan pameran seni patung-patung (bentuk) lokal yang sedang berkembang tapi kurang dilirik. Penghargaan juga pada tempatnya diberikan kepada Walikota-Wakil Walikota Palangka Raya yang turut mensponsori pameran ini. Mengapa tidak sponsorship begini dilanjutkan?
Kecuali hal-hal di atas, pameran ini pun kembali dan lagi-lagi mengingatkan penyelenggara Negara berbagai tingkat di Kalteng nuntuk membangun Taman Budaya yang di dalamnya terdapat gedung pertunjukan dan pameran yang layak.
Dalam pembicaraan di Yogyakarta Oktober 2015 lalu, mantan Gubernur Kalteng Dr. A. Teras Narang, SH. menyesal pada masa tugasnya ia tak sempat membangun Taman Budaya sebesar dan setipe yang di Yogyakarta. Yang direncanakan di kawasan pameran Tamanggung Tilung, Palangka Raya, oleh Teras dipandang sebagai “terlalu kecil” dan tidak sesuai dengan yang ia inginkan.
Apakah gubernur atau bupati yang akan datang akan menaruh perhatian pada masalah kebudayaan? Lebih dari 57 tahun Kalteng berdiri, masalah kebudayaan selama kurun waktu lebih dari setengah abad tetap menjadi anak-tiri yang diperlakukan tidak layak sambil menyebut diri berbudaya adiluhung.
Barangkali beberapa titik di ataslah yang dikatakan sebagai pesan dari pameran seni rupa 9-13 November 2015 di Palma. Pesan yang mungkin seperti batu dilempar ke sungai sambil bergumam: ”Lestarikan dan kembangkan budaya lokal”.[]

IMG_1002

“Keganasan Naga” (Kawak Tambun) karya P. Lampang S. Tandang, S.Sn., M.Sn., salah sebuah lukisan yang turut dihadirkan pada Pameran Seni Rupa, 9-13 November 2015 di Palma, Palangka Raya. (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015)

 

 

BAHASA DAYAK NGAJU
Asuhan Kusni Sulang.
UNGKAPAN (SEWUT), IBARAT (TANDING) PERIBAHASA (PARIBASA) DAYAK

~ Kéncéng manara kabuat. Kuali mendidih sendiri. Menggambarkan perilaku seseorang yang tak habis-habis memuji diri sendiri. Semacam bentuk narsisme.
~ Itah uras matéi, tapi kubur hakabékén. Kita semua (akan) mati, tapi kuburan sendiri-sendiri (berlainan). Melukiskan bahwa walau pun rambut sama-sama hitam, tapi seperti halnya peruntungan, pikiran dan sikap berbeda-beda. []
~ Hung kuéh tégée batang, hété tégé kulat tumbu. Di mana ada batang (pohon rebah), di situ (akan) tumbuh jamur. Pepapatah ini melukiskan keadaan seseorang yang mempunyai kemampuan beradaptasi terhadap keadaan di mana pun dan yang bagaimana pun.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: