MOZAIK KATA, MELACAK JEJAK SASTRA DI PAPUA

ORANG PAPUA BACA JUBI
tabloidjubi.com
MOZAIK KATA, MELACAK JEJAK SASTRA DI PAPUA

Jayapura, Jubi – Sastra Papua seakan terkubur dalam lembah sunyi. Membutuhkan waktu yang lama untuk melacak jejak sastra, terutama sastra tulisan. Lalu bagaimana merunutnya?

Sabtu, 24 Oktober 2015  Sekolah Menulis Papua (SMP) meluncurkan sebuah buku berjudul Mozaik Kata di Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat, Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura. Belasan sekolah dan komunitas-komunitas hadir dalam peluncuran buku tersebut.

Mozaik Kata merupakan buku kedua yang ditulis SMP setelah kumpulan cerita pendek Cerita dari Timur tahun lalu. Mozaik kata semacam ontologi karya murid-murid SMP dan beberapa penulis cum sastrawan asli Papua, John Waromi serta penulis senior Papua lainnya.

Menurut Kepala SMP, Burhanudin Kudi, buku tersebut merupakan kumpulan puisi, cerpen dan esai. Oleh karena itu, dinamakan Mozaik Kata.

“Tema yang penting adalah merunut jejak sastra di Papua,” kata Burhanudin.

Disebutkan bahwa ada beberapa tulisan, seperti puisi John Waromi tentang realitas di sekitarnya, Al Qatiri yang menulis tentang plagiarisme di Jayapura dan beberapa esai tentang sejarah sastra dan filosofi masyarakat beberapa suku di daerah pegunungan serta beberapa cerpen tentang Papua.

Novelis pertama Papua, Igir Al Qatiri mengapresiasi atas bertambahnya referensi literasi sastra di Papua.

“Saya bangga. Setidaknya menambah referensi tentang kebudayaan Papua. SMP berhasil menghimpun penulis Papua dalam satu buku,” kata penulis novel Retak-Retak Cinta, terbitan 2003 itu.

Penulis novel Mawar Hitam Tanpa Akar dan Dua Perempuan, Aprilla R.A. Wayar menilai orang asli Papua (OAP) mengalami shock culture dalam dalam sastra, terutama sastra tulisan.

“Beda dengan orang Melayu yang lompatan budayanya sangat jauh ebi maju,” kata Aprilla.

Oleh karena itu, ia mengimbau agar OAP mulai menulis, paling tidak menulis sejarahnya untuk menambah referensi sastra di tanah ini.

Senada dikatakan penulis novel Cinta Putih di Bumi Papua, Dzikry el Han. Ia mengatakan, saatnya generasi muda Papua menulis, baik puisi, cerpen, novel atau menulis apa saja tentang Papua.

“Ayo menulis sekarang!” kata Dzikry. (Timo Marten)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: