MEMECAH BUDAYA BISU

Opini0

Aksara Bali - luc.devroye.org

Oleh : I Ngurah Suryawan

Bahasa, daya manusia untuk mengartikan dunia, mengartikan relasi sosial, mendirikan logos, membangun pengetahuan, hanya datang dari atas(an). Yang ada sebelum peradaban/pengetahuan datang hanya bunyi tanpa arti, tanpa daya membangun apa pun. Kebebasan untuk mengartikan dunia direnggut. Bagi Fraire, pemangkasan kebebasan inilah yang menjadi salah satu ciri pendidikan yang menindas.(Paolo Freire, Pedagogy of the Oppressed, Pendidikan Kaum Tertindas,2005)

Dalam sebuah kunjungan ke sebuah sekolah dasar YPK (Yayasan Pendidikan Kristen) di sebuah kampung di Teluk Wondama, saya betul-betul menyaksikan bagaimana anak-anak Papua yang berada di sekitar kampung menjadikan sekolah sebagai tempat “bermainyang sebenar-benarnya.”Mereka berlari-lari, tersenyum, berteriak, dan tertawa bersama teman-temannya.Sekolah ini berada di ujung kampung, di tengah hutan belantara, anak-anak yang mengenakan seragam merah putih seadanya berlari-lari mengitari halaman sekolah yang luas.Di tengahnya terdapat bendera merah putih lusuh yang menjulang tinggi ditegakkan tiang bendera.Sekolah itu terbentuk persegi empat dengan gedung-gedung sederhana yang mengelilingi halaman sekolah.Anak-anak Wondama ini saya rasakan begitu bebas mengekspresikan diri mereka ketika senang bertemu dengan temannya.Anak-anak ini saya rasakan betul-betul menemukan diri dan identitasnya.Kegembiraan dan rasa percaya dirinya terlihat jelas.Mereka inilah anak-anak Papua yang tumbuh di lingkungan alam Papua.

Sementara di sisi yang lain saya menyaksikan bagaimana gedung-gedung yang mengelilingi sekolah tersebut berdiri angkuh menyaksikan anak-anak bermain. Di dalam gedung tersebut hanya terdapat meja-meja dan kursi-kursi yang mulai rusak. Di ruang-ruang guru hanya terdapat beberapa orang guru yang hanya mengobrol sambil membaca salah satu koran lokal di Papua Barat edisi dua bulan yang lalu. Sama sekali tidak ada aktivitas pendidikan di ruang tersebut.Sang kepala sekolah berada di ruangan khusus saya saksikan hanya membuka map-map berwarna merah.Di belakangnya adalah papan putih besar yang menuliskan jumlah siswa dan perlengkapan yang berada di sekolah tersebut.Kedua ruang ini memiliki konteks yang berbeda dan juga berimplikasi serius terhadap konsep tentang pendidikan yang berkembang selama ini di Papua.Ruang pendidikan menjadi hal yang sangat penting sekaligus mereproduksi makna dan pengetahuannya masing-masing.Oleh sebab itulah, ruang menjadi hal yang sangat penting untuk menggambarkan apakah proses pendidikan menghasilkan “manusia yang merdeka” atau “manusia yang bisu” tidak bisa bersuara karena dibungkam oleh lingkungan yang menindasnya. Tanpa menyadarinya dengan mendalam, gedung sekolah ternyata membawa ideologinya sendiri.Gedung bukan hanya sebatas bangunan fisik tapi mereproduksi pengetahuan di dalamnya.

Akar Budaya Bisu
Secara ilustratif, Tiwon (2014: xv-xvi) menggambarkan bahwa dalam kitab Jawa Kuno, Tantu Panggelaran, manusia penghuni pulau Jawa—yang baru mengalami “stabilisasi” oleh para dewa—digambarkan sebagai mahluk-mahluk tanpa peradaban: dalam keadaan telanjang mereka hidup di hutan, tanpa pekerjaan untuk ditiru. Mereka punya hanya berbuni, tidak memiliki bahasa: “mengucap tanpa mengetahui apa yang diujarkannya, tanpa mengetahui maknanya”. Dewa-Dewa kemudian turun dari kahyangan utnuk memberikan berbagai pengetahuan: menenun, membangun rumah, dan mengelola tanah. Dan tentu juga pelajaran bahasa dalam bentuk aturan-aturan jadi.Semua untuk ditiru oleh manusia.

Manusia diposisikan sebagai mahluk telanjang dan bisu yang hanya “diberi” bahsa dan pengetahuan dengan cara mengajar yang boleh dikatakan jatuh dari langit dalam bentuk utuh dan sempurna. Manusia tinggal menjadi peniru. Tidak mengherankan kalau salah satu tanda lulus adalah penorehan aksara suci pada lidah murid. Lidah yang dikenal tak bertulang (dan karenanya tidak beraturan) dengan demikian dikekang untuk hanya mengucapkan apa yang dikehendaki para dewa (penguasa). Bahasa, daya manusia untuk mengartikan dunia, mengartikan relasi social, mendirikan logos, membangun pengetahuan, hanya datang dari atas(an). Yang ada sebelum peradaban/pengetahuan datang hanya bunyi tanpa arti, tanpa daya membangun apa pun. Kebebasan untuk mengartikan dunia direnggut. Bagi Fraire, pemangkasan kebebasan inilah yang menjadi salah satu ciri pendidikan yang menindas.

Konteks yang terjadi di Tanah Papua secara gamblang menunjukkan bagaimana pengetahuan diintroduksi oleh kuasa dari luar dan kemudian secara perlahan namun pasti menciptakan “kuasa pengetahuan” itu sendiri terhadap Tanah Papua. Penciptaan pengetahuan tentang “apa dan bagaimana itu Papua” menjadi kuasa dari rezim penjajah yang menganggap diri mereka lebih beradab daripada orang Papua.Oleh sebab itulah, kebebasan bagi orang-orang Papua untukmendefinisikan dirinya guna membangun pengetahuan serta menafsirkan dunia menjadi terhalang.

Dasar dari keseluruhan argumentasi itu adalah konsepsi tentang “beradab” dan “tidak beradab” yang berimplikasisangat serius terhadap cara pandang politik kebudayaan terhadap suatu bangsa dan kebudayaan. Secara tajam Tiwon (2014: xvii) mengungkapkan bahwa waktu senantiasa berjalan menuju pengetahuan, karena waktu merupakan bagian tak terlepaskan dari menjadi manusia dan imajinasinya. Karena itu, konseptualisasi waktu pun harus dilihat sebagai sumberdaya yang direbut, sebagai bagian yang sangat mendasar dari akumulasi awal yang membentuk kapital. Waktu dibelah menjadi menjadi dua: masa tanpa peradaban/pengetahuan di satu pihak dan masa beradab/berpengetahuan di pihak lain. Kadang-kadang diakui adanya masa ketiga, atau masa transisi, tetapi inipun menekankan pembelahan antara dua konsepsi waktu yang dipertentangkan itu. Cara pembelahan waktu karenanya sarat politik, apakah politik elit kekuasaan atau politik pembebasan, tetapi umumnya yang memiliki daya untuk menentukan pengertian waktu adalah pihak penguasa elit, sehingga bentuk peradaban dan pengetahuan merupakan cerminan kehendak elit yang memposisikan kaum bawahan untuk menjaga utuh dan lestarinya cerminan tersebut.

Di Tanah Papua, kuasa untuk melegitimasi kebudayaan juga sangat kolonialistik (menjajah). Kuasa pengetahuan inilah yang membungkam orang-orang Papua untuk mendefinisikan dirinya.Jika mereka berekspresi, maka stigmatisasi separatisdengan sangat mudah dilekatkan karena mengganggu legitimasi kuasa negara.Hal yang kemudian terjadi adalah budaya bisu di tengah masyarakat, ketika ekspresi untuk menyuarakan identitas diri dan kebudayaan tersumbat.

Kebisuan di tengah-tengah kebisingan kata milik kepentingan di luar pengalaman realitas komunitas dan diri sendiri: inilah kebisuan hakiki. Dan kebisuan hakiki ini mematahkan hak dan daya untuk mendefinisikan dunia, mematahkan hak dan daya untuk membangun pengetahuan yang bukan sekadar informasi dalam arti fungsional atau instrumental. Sistem pendidikan di Indonesia hingga kini masih menjadi matarantai pembisuan dengan system pendidikan yang amburadul Tiwon (2014: xix).

Pemerintah berulang kali menggulirkan strategi strategi baru untuk perbaikan pendidikan, dengan merujuk kepada cita-cita percerdasan kehidupan kehidupan berbangsa sebagai tujuannya. Pada rencana strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2010-2014, sifat instrumentalis yang melihat pendidikan sekadar sebagai cara untuk mencapai target ekonomistik masih sangat terasa dalam kata kunci: “berdaya saing” (atau “kompetitif”) untuk menggambarkan manusia yang berubah menjadi “sumberdaya” (resources) untuk didayagunakan demi memantapkan pembangunan nasional. Target tersebut memang dibungkus dengan rangkaian panjag frasa muluk seperti “memajukan kebudayaan nasional”, membentuk “ahlak mulia”, “bermoral”, “beretika”, “berbudaya”, “beradab” yang semua tidak diberikan landasan kongkrit, tidak berakar pada penggalian cerdas terhadap pengalaman nyata dan konkrit, tetapi hanya hidup dalam kebiasaan meniru ide abstrak.

Menjadi sumber daya yang kompetitif: kalau ini merupakan tujuan pendidikan, apa bedanya dengan membuat komoditas dengan harga bersaing? “Bersaing” karena menilai unsur manusia serendah mungkin? Lawan dari pendidikan yang sangat kapitalis ini adalah pendiidkan (sekolah) yang alternatif yang berupaya mengembangkan pola pendidikan yang bukan tiruan, yang tidak sekadar melihat pendidikan secara instrumentalis, sebagai mesin pencetak sumberdaya yang bermanfaat untuk pola pembangunan yang bersandar pada rezim “pasar bebas”, rejim yang sungguh tidak membebaskan Tiwon (2014: xii).

Sekolah alternatif mengembalikan nilai manusia kepada tempatnya yang utama dalam masyarakat dan dalam sekolah, meruntuhkan tembok pemisah di antara keduanya yaitu masyarakat dan sekolah itu sendiri. Untuk itu dibutuhkan kasih saying karena hanya kasih saying yang dapat menjalin dialog yang sesungguhnya, dan tanpa dialog pendidikan hanya merupakan cara membuat manusia menjadi objek penguasaan. Freire (2005) dengan tajam mengungkapkan: “If I do not love the world, If I do not nlove life, If I do not love people, I Cannot enter into dialogue” (Kalau saya tidak mencintai dunia, kalau saya tidak mencintai kehidupan, kalau saya tidak mencintai orang-orang, saya tidak akan berdialog).

Kasih sayang dalam pendekatan Freire (2005) menjadi kunci pendidikan dialogis yang memerdekakan. Tapi justru istilah kasih sayang yang hilang dari alam pikiran kebijakan pendidikan, sehingga kita perlu bertanya apakah dunia modern sudah terlalu “maju” untuk mengakui pentingnya unsur ini dalam kehidupan, dalam pembentukan dan pemeliharaan relasi social. Kasih sayang ini sering dipahami dengan terlalu sempit: di dalam ruang lingkup keluarga terdekat atau cenderung dileburkan dengan kata “cinta” dalam pengertian romantis. Kasih saying yang hampir-hampir tidak disebut sebagai dasar pendidikan pada semua taraf tidak dipahami sebagai daya positif, daya yang memanusiakan, daya yang memerdekakan.

Penulis adalah Staf Pendidik/Dosen Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Editor : Victor Mambor

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: