MEMBANGUN LEMBAGA ADAT YANG BERWIBAWA

MEMBANGUN LEMBAGA ADAT YANG BERWIBAWA
Oleh Kusni Sulang

 

 

Orde Baru Soeharto yang berkuasa sejak 1966 hingga 1998 dengan menerapkan pendekatan “keamanan dan stabilitas nasional”, “politik massa mengambang” (floating mass policy) yang menabur ‘budaya takut’ dengan harapan bisa melanggengkan kekuasaan militeristiknya, telah menimbulkan kerusakan berat pada masyarakat adat Dayak dan kelembagaan adatnya. Untuk mengontrol masyarakat Dayak Kalimantan Tengah (Kalteng) maka tatanan masyarakat adat Dayak Kalteng dihancurkan dengan cara menggolkarkannya. Hal ini berlangsung selama 32 tahun lebih. Turunnya Soeharto dari panggung kekuasaan, tidak serta-merta mengakhiri keadaan tersebut. Kerusakan masyarakat adat dan kelembagaan adat Dayak yang dilakukan oleh Orde Baru Soeharto jauh lebih berat daripada yang dilakukan oleh kolonialisme Belanda dengan politik kebudayaan ‘ragi usang’nya. Upaya menata kembali masyarakat adat dan kelembagaan adatnya baru dimulai pada tahun 2008 ketika A. Teras Narang, SH terpilih menjadi gubernur Kalteng.
Lepas dari segala kesalahan dan kekurangannya, upaya Teras ini, patut dihargai dan memperlihatkan niat baik serta menunjukkan bahwa ia tetap ingat akan nasib Orang Dayak-nya. Menata kembali hal yang sudah rusak berat, bukanlah sebuah pekerjaan gampang, tidak seperti membalik telapak tangan.
Pada masa sebelum Orde Baru Soeharto mengendalikan negeri ini, yang menjadi pemuka adat, entah itu damang atau pun mantir, adalah orang-orang yang dipilih menduduki posisi itu karena kualitas mereka. Kualitas ini diketahui oleh semua warga adat. Mereka secara aklamasi dipilih dan diterima karena mereka adalah yang terbaik dari dari kalangan warga adat. Dengan kata lain mereka adalah yang ‘utama terbaik di antara yang ada’ (primus inter pares) Dengan kualitas primus inter pares demikian, para pemangku adat menjadi panutan dan teladan bagi warga adat.
Sejak lembaga adat dikendalikan oleh Orde Baru Soeharto dengan menggolkar-kannya, kualitas para pemangku adat menjadi merosot sedikit demi sedikit tapi terus berlanjut selama 42 tahun (1966-2008). Kerusakan adat dan kelembagaan adat Dayak makin menjadi-jadi ketika hedonisme yang ditebar oleh ‘uang sang raja’ (l’argent roi) mewabah ke seluruh lapisan warga masyarakat dari atas hingga yang paling bawah. Yang menjadi pemuka adat, entah itu damang atau mantir, sekarang ditambah dengan pemuka adat baru yaitu para petinggi Dewan Adat Dayak (DAD), tidak sedikit yang tidak tahu adat, tidak mengerti hukum adat dan terjangkit virus hedonisme yang ditabur oleh ‘uang sang raja’. Virus yang mewabah ini diperhebat lagi sebarannya bersamaan dengan invasi besar-besaran investor yang dipandang sebagai sandaran ‘pembangunan’ serta ’kemajuan’. Para pemuka adat dari tiga kategori di atas, tidak lagi mempunyai kualitas primus inter pares seperti dahulu kala. Pada posisi tersebut, selain terdapat kekuasaan yang disebut pemangku ‘adat’, posisi tersebut sekaligus membuat pintu terbuka lebar bagi masuknya ‘rezeki’ alias sumber pendapatan. Pepatah rakyat Perancis berkata : ‘Ketika uang haram masuk rumah, kejujuran meloncat dari jendela’.
Kerusakan masyarakat adat, nilai adat dan kelembagaan adat secara sederhana bisa diketahui dari pernyataan Bupati Gunung Mas Arton S. Dohong dalam Musyawarah Nasional MADN di Hotel Swissbel Danum, Palangka Raya, bulan September 2015 lalu yang menyebut “DAD Gumas sebagai tidak beradat”. Sedangkan Dr. A. Teras Narang, SH ketika ditanya oleh Harian Kalteng Pos menilai bahwa “daya tawar masyarakat adat Dayak lemah”.
Kemerosotan tipikal adalah apa yang terjadi di DAD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Harian Tabengan Palangka Raya menggunakan kolom cukup besar memberitakan bahwa Hamidan IJ Biring, Ketua DAD Kotim berselingkuh dan loncat pagar ketika ketangkap basah”. Sementara Harian Radar Sampit menulis “Ketua DAD Kotim Dipolisikan” (11 November 2015) dan “Kasus DAD Kotim Ditingkatkan” (17 November 2015) terkait soal korupsi.
Dari paparan di atas nampak bahwa masyarakat adat dan kelembagaan adat Dayak, selain lemah dari segi organisasi, wacana dan pengetahuan, juga korumpu secara moral. Ia tidak lagi bisa dijadikan panutan, tidak mampu menjadi pemikir dan organisator masyarakat adat. Dalam keadaan demikian, bagaimana kelembagaan adat bisa mempunyai wibawa dan disegani? Kalau tidak mempunyai wibawa dan hanya dipandang sebelah mata, bagaimana mungkin ia mempunyai daya tawar untuk memajukan warga adat? Paling-paling yang terjadi adalah menjual diri, menjual adat dan kelembagaan adat untuk mendapatkan remah-remah ‘upah’ dari pihak-pihak yang menggunakan mereka.
Dalam sajak terbarunya (Januari 2015) Adhie Massardi melukiskan figur-figur dan karakater seperti di atas dalam kata-kata: “Apabila para bajingan sudah memasuki struktur kekuasaan /mustahil alat negara bisa membawa mereka ke dalam penjara/dan apabila para bajingan sudah menguasai Istana maka tinggal menunggu datangnya bencana”. Ikan busuk mulai dari kepalanya.
Jika demikan apa yang perlu segera dikerjakan? Saya kira untuk menjadi pemuka adat, prinsip primus inter pares yang digunakan oleh kelembagaan adat dahulu masih relevan. Barangkali prinsip inilah yang perlu segera diterapkan agar kelembagaan adat berwibawa, mampu menjadi lembaga pemikir dan organisator warga adat. Para pemangku adat kembali bisa jadi panutan. Pembersihan kelembagaan adat dan penegakan prinsip primus inter pares menjadi mendesak karena posisi Dayak sudah terhimpit. Secara demografis misalnya, Orang Dayak Kalteng sudah menduduki urutan keempat atau kelima setelah Jawa, Banjar, Bugis dan Batak (sekarang masih di urutan kelima). Posisi demografis begini tentu saja berdampak banyak dan berpengaruh di segala bidang kehidupan.
Sejarah Kalteng dan Dayak menunjukkan bahwa tidak siapa pun yang bisa menolong warga adat Dayak selain orang Dayak sendiri. Warga adat Dayak hari ini tidak lain dari warga masyarakat otopilot dan jatim-piatu. Lebih-lebih Pasca-Teras. Bencana bukan lagi sedang ditunggu tapi ia sudah tiba. Bisakah kita menolong diri sendiri? []

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: