SUDAH BAKAR HUTAN, NGEMPLANG PAJAK PULA

SUDAH BAKAR HUTAN, NGEMPLANG PAJAK PULA
Komentar Lusi,D.
“‘Lusi D.’ lusi_d@rantar.de, in: [GELORA45]” GELORA45@yahoogroups.com, Sunday, 1 November 2015, 19:24
Nimbrung.
Yah inilah praktek neo-liberalisme. Memainkan uang melalui pembentukan perusahaan fiktif. Permainan semacam ini sudah menjadi bagian dari sistem neo-liberalisme. Pembuktian antara perputaran nilai real hasil produksi dengan jumlah perputaran nilai uang sulit dihitung. Kegiatan yang paling sulit ditaksir dan dikontrol eksistensinya adalah bidang bangunan maupun infrastruktur dan manipulasi proses transportasi jenis apa saja. Ironisnya justru bidang semacam inilah yang digandrungi Jokowi. Opo tumon (Jw) – Mencengangkan. []
Am Sun, 1 Nov 2015 09:41:48 +0000
(UTC) schrieb Tatiana Lukman <jetaimemucho1@yahoo.com>:
Sudah Bakar Hutan, Ngemplang Pajak Pula
Setelah Asian Agri, siapa menyusul?IndonesianReview.com –
Sinar Mas Agro, Tbk dengan pendapatan Rp 32,3 triliun hanya membayar pajak Rp 745 miliar. Sedangkan Astra Agro Lestari, Tbk dengan pendapatan Rp 16,3 triliun membayar pajak Rp 1,1 triliun.Tiga perusahaan pembakar sawit terbesar menurut Walhi adalah : Sinarmas, Wilmar dan Asian Pacific Resourches International Holding (APRIL). Sinarmas saat ini sedang menghadapi gugatan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan nilai sebesar Rp 7 triliun. Menurut Kemen LHK, anak perusahaan Sinarmas, PT Bumi Hijau Mekar bertanggung jawab terhadap pembakaran hutan di Sumatera Selatan.Pendiri Sinarmas Group adalah Eka Tjipta Widjaya, karena sudah berumur lanjut, sekarang bisnisnya dilanjutkan oleh anak-anaknya. Sedangkan pendiri Wilmar adalah warga negara Singapura bernama Robert Kuok dan Martua Sitorus, seorang warga negara Indonesia berasal Sumatera Utara. Terakhir, pendiri APRIL adalah Sukanto Tanoto.Mendengar nama Sukanto Tanoto, tentunya orang langsung teringat mega skandal pajak PT Asian Agri. Benar, Sukanto Tanoto adalah pemilik dari PT Asian Agri. Terungkapnya, skandal pajak Asian Agri mirip cerita film Hollywood.Dimulai dari informasi orang dalam Asian Agri, bernama Vicentius Amin Sutanto, kasus pajak Asian Agri mulai terbuka.
Vincentius memberikan informasi kepada seorang wartawan majalah ternama. Informasi tersebut akhirnya sampai ke Direktorat Jendral Pajak (DJP). Dimulailah penyidikan terhadap skandal pajak Asian Agri.Tapi menegakkan kebenaran di Indonesia tidak mudah. Berbagai macam hambatan menerpa. Itu, terjadi karena jejaring Asian Agri sangatlah luar biasa. Vicentius bahkan sempat masuk bui karena dituduh menggelapkan uang Asian Agri. Tapi, berkat kegigihan pendukung Vincentius, akhirnya Asian Agri terpaksa harus melunasi Surat Ketetapan Kurang Bayar dari DJP dengan nilai pokok sebesar Rp 1,96 triliun. Karena terkena sanksi pidana, Asian Agri juga harus membayar denda sebesar Rp 2,5 triliun.Kasus pajak bukan hanya dialami oleh perusahaan Sukanto Tanoto. Martua Sitorus, pemilik perusahaan PT Wilmar Nabati Indonesia (PT WNI), juga pernah terbukti melakukan penggelapan pajak. Penggelapan pajak ini diungkapkan oleh seorang petugas pajak. Hanya saja, walau sudah dilaporkan kepada pimpinan, kasus penggelapan pajak tersebut tidak dilanjutkan.Ahirnya pegawai pajak tersebut membawa kasus pajak PT WNI ke DPR. Karena DPR adalah lembaga politik, kasus pajak Wilmar jadi melebar tidak jelas arahnya. Sebenarnya, Pusat Pelaporan Analisa Laporan Keuangan (PPATK) juga melihat ada ketidakwajaran transaksi PT WNI.Perusahaan milik itu Martua Sitorus ditenggarai membuat transaksi fiktif antar perusahaan terafiliasi dari tahun 2006- 2012 dengan nilai sebesar Rp 6 triliun. Dari transaksi fiktif tersebut, PT WNI melakukan restitusi PPN sebesar Rp 600 milyar. Walau transaksi
> tersebut fiktif, anehnya DJP tetap mengabulkan restitusi PT WNI. Akibatnya, negara rugi Rp 600 milyar. Saat ini perkembangan kasus PT WNI tidak jelas arahnya. DJP dan Kejaksaaan saling lepar tanggung jawab.Sedangkan keluarga Widjaya pemilik Sinar Mas, memang belum pernah terdengar punya kasus penggelapan pajak. Tapi, kalau melihat laporan keuangan PT Sinar Mas Agro, Tbk (SMAR) tahun 2014 terasa ada kejanggalan.SMAR dengan pendapatan Rp 32,3 triliun hanya membayar pajak Rp 745 miliar. Sedangkan Astra Agro Lestari, Tbk (AALI) dengan pendapatan Rp 16,3 triliun membayar pajak Rp 1,1 triliun. Artinya, SMAR hanya membayar pajak sebesar 2,3% dari pendapatannya, sedangkan AALI membayar pajak sebesar 6,6% dari pendapatnya.AALI walau pendapatannya hanya 50% dari SMAR tapi dapat membayar pajak lebih besar dari SMAR. Padahal, kedua perusahaan bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Untuk diketahui, laporan keuangan SMAR tahun 2014 telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik, Mulyamin Sensi Suryanto & Liany, sedangkan laporan keuangan AALI tahun sama diaudit oleh Kantor Akutan Publik, Tanudiredja, Wibisana & Rekan. Hasil audit kedua perusahaan mendapatkan opiniWajar Tanpa Pengecualian.Walau begitu, masih tetap menimbulkan pertanyaan. Mengapa dengan kinerja sebaik itu SMAR membayar pajak kalah kecil dibandingan dengan AALI?Tag: Sinar Mas AgroTiga perusahaan pembakar sawitWilmar Nabati IndonesiaAsian Agri
Editor: Gigin Praginanto
Sumber Foto: Antara- See more at: Sudah Bakar Hutan, Ngemplang Pajak Pula

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: