“PULANG” MEMBUKA LUBANG HITAM SEJARAH

INFO:
Henri Chambert-Loir, Indonesianis Perancis yang sekarang sedang mengajar di Kuala Lumpur, telah menulis sebuah artikel bertajuk “PKI STROGONOFF. Lela Chudori’s Novel Pulang”.  Dalam artikel ini, Henri Chambert-Loir telah membahas novel Pulang, Leila Chudori  secara mendalam dari berbagai sudut pandang. Pandangan Henri terhadap novel ini jauh  berbeda dengan pandangan umum yang beredar di publik selama ini.Paling tidak, Henri melihat hal-hal yang tidak dilihat oleh para peresensi lainnya, termasuk pandangan Lea Pamungkas di bawah ini.
Kusni Sulang
EnglishBahasa Indonesia

‘Pulang’ Membuka Lubang Hitam Sejarah

tong tong fair

Martijn Eikhoff dari NIOD, Leila Chudori, dan Aboeprijadi Santoso dari IPT di acara Tong Tong Festival 2015 di Den Haag

Dari Tong Tong Festival 2015 Den Haag

Tahun 1965 adalah tahun traumatis bagi Bangsa Indonesia, karenanya kami menyediakan tempat khusus bagi perbincangan yang selama ini kurang mendapat perhatian di khalayak umum, demikian jelas Leslie Boon programmeur gesproken woord & projecten/ Ketua Program Perbincangan dan Proyek Tong Tong Festival (TTF) 2015, saat ditanya mengapa dalam TTF kali ini memberikan perhatian khusus untuk Peristiwa 1965 di Indonesia.

¨Hampir setiap bangsa mempunyai tahun traumatis. Bagi kami kaum Indo dan Indisch tahun 1945 adalah tahun traumatis. Kami terpaksa meninggalkan Indonesia, tanah lahir kami dan setengah dari darah kami terikat di sana. Sementara 1965 adalah tahun traumatis bagi Bangsa Indonesia. Meski berbeda alasan, setiap trauma adalah hitam dan berat. Dan saya yakin, hampir setiap orang tahu bagaimana rasanya dibungkam, atau terpaksa pergi,¨ tegas Leslie yang berdarah campuran Belanda dan Indonesia.

Tahun ini TTF digelar untuk ke-57 kalinya di Lapangan Malieveld Den Haag Belanda, 27 Mei – 7 Juni 2015. Pertamakali dilakukan pada tahun 1959, TTF yang dulu dikenal dengan Pasar Malam Tong Tong, lahir atas ide Tjalie Robinson (1911 – 1974). Tjalie yang nama aslinya Jan Johannes Theodorus Boon adalah putra seorang serdadu KNIL, yang pada tahun 1954 terpaksa pulang ke Belanda sebagai konsekuensi serah terima kekuasaan antara Belanda ke Indonesia tahun 1949.

Di Den Haag, Tjalie memulai perjuangannya untuk pengakuan Budaya Indo, yang waktu itu kurang dihargai keberadaannya dalam masyarakat Belanda. ¨Saya tidak perduli sebagian orang menyebut saya seperti kura-kura, yang tidak hidup di laut ataupun di darat, dan menyebut saya sebagai Indo, bukan Belanda dan bukan juga Indonesia. Kita tak perlu memilih salah satu diantaranya kan ? Tidak perlu. Saya dilahirkan sebagai kura-kura yang hidup tidak di darat dan di laut, tapi itu binatang unik, mencintai lautan dan daratan dan bisa hidup ribuan tahun. Bisa menikmati banyak hal melewati batas benua. Lebih lagi saya tidak merasa mempunyai mentalitas inferior, baik atas Belanda maupun Indonesia. Tidak terpikir,¨ jelas Tjalie. Untuk cita-cita persamaan itu, antaranya ia menerbitkan Majalah Tong Tong dan menulis puluhan buku. Yang sangat terkenal adalah Tjies dan Tjoek. Sebagai pengarang, ia memakai nama samaran Vincent Mahieu.

Untuk membiayai perjuangan, Tjalie bersama rekan-rekannya, antara lain Mary Brükel-Beiten, membuat Pasar Malam Tong Tong. ¨Sekeping Kebudayaan Timur di Barat. Pasar Timur, oase ditengah model Belanda yang kaku, mata air bagi ide-ide baru, dengan tidak melupakan aspek dagang dan gembira,¨ jelas Tjalie seperti ditulis dalam buku De Pasar Malam Tong Tong, Een Indische Onderneming (Koning, 2009).

Di kemudian hari, upaya ini diteruskan oleh turunan Tjalie Robinson, yakni salah seorang anaknya Rogier Boon (1937 – 1995), dan mantan menantunya Ellen Derksen –-kini menjabat sebagai Direksi TTF 2015, dan tiga cucunya, Siem Boon, Leslie Boon dan Robin Boon. Dari tahun ke tahun TTF menjadi tempat bersilaturahmi kaum Indo dan Indisch (orang Belanda yang lahir dan punya ikatan emosional dengan Indonesia) dari berbagai penjuru Belanda. ¨Bau durian, sambal terasi, satay bakar, batik, dupa.. ditambah program tari, musik, wayang dan orang masak. Campur aduk ini memunculkan sfeer (atmosfer,red.) pasar kelontong di Jatiroto,¨ ungkap Wouter van Eldik (73), anak seorang karyawan pabrik gula. ¨Tapi lebih dari itu saya setiap tahun bisa bereuni di sini dengan teman-teman masa muda saya¨

Lubang Hitam 1965

Munculnya perbincangan tentang Peristiwa 1965 ini, berkait erat dengan novel Pulang karya Leila Chudori yang tahun ini dipilih untuk program Trans/Lit (28/5) TTF 2015, yang menitikberatkan dalam urusan penerjemahan. ¨Kata pulang mengingatkan saya pada rubrik Opa saya. Tetapi, sebenarnya nasib orang-orang di Pulang yang lebih mengingatkan saya akan nasib kaum Indo yang terpaksa pindah ke Eropa dan meninggalkan tanah kelahiran mereka karena dampak politik. Selain rubrik Tjalie, tapi yang jelas bukan alasan utama¨ sambut Leslie yang adalah lulusan Fakultas Bahasa dan Kebudayaan Indonesia Universitas Leiden ini. Tahun ini Pulang diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda oleh Henk Maier menjadi Naar Huis, dan akan dilansir bulan Oktober mendatang, bertepatan dengan 50 tahun Peristiwa 1965.

Seperti diakui Leila Chudori, Pulang diilhami oleh kehidupan kaum eksil (orang-orang yang ditolak,red) anggota PKI atau yang dituduh menjadi anggota PKI oleh Rezim Orde Baru, yang kemudian terpaksa bermukim di luar negeri. ¨Awalnya saya datang ke Paris untuk mengenalkan makanan Indonesia kepada kawan-kawan saya. Saya datang ke Restoran Indonesia, yang ternyata dikelola oleh dua orang eksil, yakni Umar Said dan Sobron Aidit. Saya sangat tertarik, banyak berkomunikasi dengan keduanya,”jelas Leila yang kemudian melakukan penelitian 6 tahun untuk buku ini.

Umar Said (1926 – 2011) pernah bekerja di Harian Rakyat, dan menjadi salah satu penggagas Persatuan Wartawan Asia-Afrika di tahun 1963. Ia tengah berada di Aljazair untuk mempersiapkan kongres Wartawan Asia-Afrika ke-2, ketika peristiwa Peristiwa 1965 terjadi. Sementara penulis Sobron Aidit (1934 – 2007), adik kandung Ketua PKI D.N Aidit, pernah aktif di Lembaga Persahabatan Indonesia – Tiongkok. Saat Peristiwa 1965, Sobron tengah berada di Beijing sebagai guru besar Sastra dan Bahasa Indonesia. Mereka dan kaum eksil lainnya, kemudian mendirikan Restoran Indonesia. Yang akhirnya tidak cuma berfungsi sebagai tempat makan tetapi juga tempat berkumpul, berkesenian dan berdiskusi untuk orang-orang yang tertarik pada Indonesia.

Terbit dan diterjemahkannya Pulang ke dalam pelbagai bahasa, tampaknya banyak membuka persepsi baru bagi pembacanya. ¨Saya merasa ribuan kali lebih kaya,¨ tulis Helga Ruebsamen dalam Indisch Anders (24/05/2015). Helga yang konon baru pertamakali membaca novel Indonesia ini, dan mengaku sangat terkesan. Sekaligus, tambahnya, mengetahui adanya lubang hitam dalam sejarah Indonesia yang sampai sejauh ini belum diungkap tuntas.

Sri Ningsih (71) seorang eksil yang sejak tahun 1966 terpaksa menetap berpindah di beberapa negara di Eropah, menyambut gembira Pulang. ¨Novel ini memaparkan bahwa kaum eksil adalah manusia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dan bukan setan seperti yang selama ini digembar-gemborkan oleh Orde Baru¨. Sri Ningsih yang ibunya aktif di Gerwani, sampai hari ini tidak pernah tahu bagaimana nasib ayahnya yang pernah menjadi anggota DPR dalam masa pemerintahan Presiden Soekarno. Kala Peristiwa 1965 terjadi, ia tengah belajar dan mendapatkan bea siswa di Hongaria. ¨Yang saya sayangkan, adalah Pulang kurang menggambarkan karakter penyebabnya yakni Peristiwa 1965¨

Sementara Cisca Pattipilohy (89) yang pernah ikut diciduk karenanya suaminya bekerja di Harian Rakyat, mengatakan, ¨Bagi saya, buku ini kurang menggambarkan perasaan-perasaan. Peristiwa 1965, bukan sekadar pembunuhan dan penghilangan ribuan orang, tapi perasan ribuan orang yang kehilangan suami, ayah, anak, dan seterusnya. Perasaan-perasaan ini diwariskan dari generasi ke generasi¨

Perspektif Lain

Sejarawan Martijn Eickhoff dari NIOD ( Institut untuk Studi Perang, Holocaust dan Genocida), yang memandu perbincangan bersama Leila Chudori dan Aboeprijadi Santoso dari International People´s Tribunal (IPT) 1965 pada 31 Mei, antaranya mempertanyakan mengapa sampai sejauh ini komunisme masih ditakuti di Indonesia. Eickhoff yang baru menyelesaikan penelitian tentang korban Peristiwa 1965 di Semarang ini, berpendapat selain IPT 1965, ia belum melihat munculnya perspektif lain dalam upaya menyelesaikan masalah 1965.

¨Dipeliharanya historical memories yang berlarut-larut dan tidak adanya niat untuk membongkar, itu yang menjadi masalah. Padahal Gus Dur telah berupaya untuk mencabut Tap MPR No XXV/1966 yang isinya melarang paham komunisme,¨ jelas Aboeprijadi, jurnalis dan kolumnis yang kini aktif di IPT 1965. IPT 1965 adalah sebuah prakarsa dari sejumlah aktifis, pakar hukum, para korban, kaum eksil, seniman, dan masyarakat biasa dari Indonesia maupun internasional untuk menggelar pengadilan rakyat tentang Peristiwa 1965 di Den Haag, 3-6 November mendatang.

Pernyataan tersebut disepakati Leila, yang lebih lanjut mengatakan selama Tap MPR XXV/1966 tetap dipakai, tampaknya sulit untuk menciptakan situasi lain. ¨Saya adalah produk Orde Baru, kerangka berpikir saya selama ini sebangun dengan apa yang dibentuk oleh Pemerintah. Tapi saya tetap optimis bahwa Peristiwa 1965 ini tak akan begitu saja hilang¨

Upaya memunculkan perspektif baru dalam Peristiwa 1965, dihadirkan dalam perbincangan TTF 2015 hari berikutnya (1/6). Perbincangan yang cukup mengundang banyak perhatian publik ini, menghadirkan Prof. dr Saskia Wieringa dan Dr Ratna Saptari dari IPT 1965, dengan dipandu penulis Joss Wibisono.

¨Tahun 1965 adalah titik yang menentukan bagi Indonesia. Karena sejak itu masyarakat Indonesia telah dihambat untuk mengetahui kebenaran tentang kejahatan terhadap kemanusiaan. Negara Indonesia tidak pula memberikan keadilan terhadap korban, dan tidak pula memberikan rehabilitasi dalam bentuk apapun,¨ jelas Wieringa, dosen politikologi di Universitas van Amsterdam (UvA) dan penulis novel Het Krokodillen-gat (Lubang Buaya), yang diilhami kisah para Gerwani.

Dalam dua film karya Joshua Oppenheimer, The Act of Killing dan The Look of Silence, demikian Saskia, jelas digambarkan bagaimana wajah impunitas yang berkait dengan kejahatan terhadap kemanusiaan selama ini berlangsung di Indonesia. ¨Karenanya sejak dua tahun yang lalu, didirikan IPT 1965 untuk membongkar impunitas tersebut. Memberi suara pada korban, serta memberikan pencatatan yang transparan ¨

Berbagai penelitian yang selama ini dilakukan oleh berbagai organisasi atau pribadi yang berkait dengan Peristiwa 1965, baik bentuk dokumen tertulis, audiovisual, pernyataan saksi korban maupun bahan lain; tengah dikumpulkan dan dianalisis untuk dijadikan bahan tuntutan dalam pengadilan. ¨Dimulai dari pelbagai peristiwa di daerah, maupun perkasus,¨ demikian jelas Dr Ratna Saptari, dosen di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Leiden. Selain itu juga tentang kuburan massal, kerja paksa, kekerasan dan kekerasan seksual, propaganda, aksi Anti Cina dan kaum eksil.

¨Pengadilan ini bukanlah pengadilan kriminal, tetapi pengadilan kemanusiaan; karenanya akan menunjuk pada Negara Indonesia untuk bertanggungjawab. Selama ini negara telah melakukan pembiaran kejahatan kemanusiaan terjadi, secara meluas dan sistematik paska September 1965,¨ tambah Saskia.

(Lea Pamungkas).

sumber: Koran Tempo 5 Juni 2015

Advertisements

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: