DARI MEDIOKRITAS KE LABIRIN

DARI MEDIOKRITAS KE LABIRIN

Oleh Andriani S. Kusni

Ubud Writers Readers Festival 2015 (UWRF), sebuah pertemuan para sastrawan dan peminat sastra internasional yang berlangsung saban tahun di Ubud, Bali, karena tekanan pihak aparat, terpaksa membatalkan seluruh acara yang berkaitan dengan Tragedi Kemanusiaan September 1965. Di antara 225 program Festival tahunan ini, terdapat acara bedah buku Siauw Giok Tjhan “G.30 S, Kejahatan Negara”, filem dan buku Oppenheimer sutradara dan pembuat film “Jagal” dan “Senyap”. Adanya tiga acara yang bersangkutan dengan Tragedi Kemanusiaan September 1965 ini, tidak dikehendaki oleh pihak aparat Negara. Aparat mengancam jika pihak Panitia bersikeras mempertahankannya maka penyelenggaraan Festival akan dilarang, termasuk penyelenggaraannya di tahun depan. Untuk menyelamatkan Festiva, akhirnya pihak Panitia terpaksa membatalkan tiga acara tersebut.
Perlarangan juga telah dilakukan terhadap Majalah Lentera, yang di terbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Lentera Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga yang diterbitkan pada 9 Oktober 2015 lalu karena menurunkan laporan berjudul “Salatiga Kota Merah.” Menurut Komisioner Komnas HAM Nur Khoiron, dalam diskusi publik yang bertajuk ‘Menguak Tabir Pembredelan Majalah Lentera’ di Jakarta Pusat, Minggu (25/10), pembredelan Majalah Lentera oleh pihak kepolisian adalah pelanggaran hukum dan pengekangan kebebasan Pers. Tindakan ini juga melanggar Undang-undang No 40 Tahun 1999 Tentang Pers.(Bergelora.Com, 26 Oktober 2015).“Penarikan ini menjadi insiden memalukan. Ada ketakutan yang berlebih terhadap isu 65. Ini bisa mencederai demokrasi,‘’ tegas Komisioner Komnas HAM Nur Khoiron.
“Di era sekarang, mengekang informasi itu sangat mustahil. Ketika bentuk cetak diberedel, dengan gampang sekali akan muncul dalam bentuk pdf atau di internet,” kata Ketua AJI Indonesia, Suwarjono yang selanjutnya mengatakan pembredelan begini merupakan “cara-cara kuno dan Orde Baru yang seharusnya sudah ditinggalkan.” . Menurut Koordinator subkomisi mediasi Komnas HAM, Ansori Sinungan di hadapan perwakilan sejumlah lembaga masyarakat sipil pelarangan peredaran majalah Lentera, merupakan ‘’ tindakan bodoh’’, sebagai ‘’ tindakan yang justru anti-mainstream. Kalau dilarang, orang justru akan mencari. Di online, bahan itu akan mudah didapatkan dengan mudah dan cepat,” tandasnya.
Suwarjono menyebut tindakan Rektorat dan Dekan Fiskom UKSW Salatiga sebagai “cara-cara kuno dan Orde Baru yang seharusnya sudah ditinggalkan.”
Sementara, Presidium FAA PPMI Agung Sedayu mengatakan, pelarangan peredaran majalah Lentera “melanggar HAM mahasiswa UKSW untuk berekspresi dan menyampaikan informasi.” “Kami juga menilai pelarangan peredaran majalah itu melanggar HAM warga negara lain untuk memperoleh informasi dan karya jurnalistik lembaga pers mahasiswa Lentera,” kata Agung Sedayu.
Selain melanggar UU No. 40 Tentang Pers dan melanggar HAM, apakah arti pelarangan-pelarangan ini bagi kehidupan berbangsa dan kehidupan kebudayaan ?
Kemajemukan subyek dan posisi subyek negeri ini memerlukan titik-temu (common denominator). Pecahan-pecahan yang banyak dan beraneka (subyek) tak mungkin bisa dijumlahkan menjadi kebersamaan jika tidak memiliki “bilangan penyebut” yang sama. Penyebut bersama sebagai titik temu itu mereka temukan dalam nama Indonesia, dengan imaji komunitas bersama yang dikonstruksikan melalui Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928: bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia; menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Demikian Yudi Latif, , Sekretaris Dewan Pakar FKPPI dan anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dalam artikelnya bertajuk ‘Pemuda Cerdas Kewargaan’ (KOMPAS, 28 Oktober 2015)
Sumpah Pemuda itu berisi kebesaran. Kebesaran jiwa yang mengatasi kekerdilan kepentingan sempit demi kebaikan hidup bersama. Meski bahasa Jawa dengan jumlah penutur paling banyak, dan pemuda-pelajar yang menghadiri Kongres Pemuda itu juga banyak yang berasal dari tanah Jawa, bahasa Jawa tidak dipilih sebagai bahasa persatuan. Demi mengusung gagasan kebangsaan yang egaliter, mereka sepakat menjadikan bahasa Melayu-Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Sumpah Pemuda itu berisi keluasan. Keluasan horizon imajinasi kebangsaan yang mengatasi kesempitan primordialisme agama dan kedaerahan. Di bawah payung “nasionalisme kewargaan”, segala kesempitan dan keragaman dipertautkan ke dalam keluasan imaji keindonesiaan. Kesanggupan mentransendensikan kesempitan etnosentrisme menuju keluasan solidaritas kebangsaan itu pada akhirnya berhasil mengantarkan bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaannya.” Demikian selanjutnya Yudi Latif.
Apa yang terjadi sekarang? Yang terjadi adalah merajalelanya mediokritas yang membatasi kreativitas. Beberapa bentuk mediokritas itu adalah stigmanisasi, penetapan tersangka dan pembredelan sekehendak hati, politik pencitraan nama lain dari dusta, dll. Sehingga akibatnya seperti dikatakan oleh Edward Shils, “Kendati intelektual negara-negara terbelakang telah menciptakan ide tentang bangsa di negeri mereka sendiri, mereka belum sanggup mencipta sebuah bangsa.” Mediokritas ini pula menempatkan kita pada sebuah labirin Dilihat dari kebesaran dan keluasan isi Sumpah Pemuda, mediokritas yang merajalela hari ini menunjukkan kemunduran kita dalam berbangsa, dalam pemikiran dan tekad. Mediokritas yang menempatkan kita pada sebuah labirin ini, membawa kita makin jauh dari ‘kesanggupan menciptakan sebuah bangsa’. Indonesia sebagai sebutan bagi keragaman subyek (yang dalam kenyataan lebih banyak dijadikan obyek) masih merupakan papan nama penunjuk tujuan. Ketika mediokritas merajalela, tempat kebudayaan digantikan oleh ketidakadaban. Apakah Kalteng bebas dari mediokritas ini? Mediokritas di mana-mana. Labirin Kalteng berkabut-asap pekat sehingga oleh mediokritas ini, Kalteng sesungguhnya masih berada di kegelapan atau sengaja dibikin gelap, keadaan yang oleh Kusni Sulang disebut “ideologinya dan atau pola pikir sertadan mentalitasnya masih bercawat.”[]

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: