SOEHARTO SUDAH KORUPSI SEJAK PANGDAM DIPONEGORO?

Soeharto Sudah Korupsi Sejak Pangdam Diponegoro?
Ini Catatan Pranoto
07:10
01 OKT 2015

http://budaya.rimanews.com/buku/read/20151001/237184/Soeharto-Sudah-Korupsi-Sejak-Pangdam-Diponegoro-Ini-Catatan-Pranoto-

clip_image009
Rimanews – Pada setiap penghujung September, kisah-kisah kelam kekerasan pemberontakan 1965 kembali bergaung di Indonesia dan masih saja banyak pihak mempertanyakan kebenaran peristiwa berdarah itu.
6 Hal Yang Harus Ditempa Rutin Oleh Seorang Petarung
Jenderal (Purn) Pranoto Reksosamodra, salah seorang petinggi militer pada masa itu, puluhan tahun lalu telah menulis perjalanan hidupnya yang terkait dengan sejarah pergolakan kemerdekaan hingga masa gerakan 30 September 1965 yang dulu senantiasa dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pranoto Reksosamodra menulis kisah hidupnya semata-mata untuk diwariskan kepada putra-putri dan cucunya, guna mengungkapkan kebenaran. Maklum, sang jenderal ditangkap dan ditahan pada masa Orde Baru selama 15 tahun tanpa diadili, bahkan dilucuti hak-haknya sebagai seorang jenderal TNI.
Catatan yang ditulisnya sedikit-demi sedikit ketika Pranoto menjalani masa tahanan, sebagian besar berupa tulisan tangan di atas berjilid-jilid buku tulis itu baru diterbitkan oleh penerbit Kompas pada 2014 setelah tersimpan lama, kini sudah dicetak ulang pada Januari 2015 sebanyak 3.000 eksemplar serta Mei 2015 sebanyak 4.000 eksemplar.
Membaca tulisan Jenderal Pranoto yang jabatan terakhirnya adalah “caretaker” Menteri/Pangad dan Asisten III Menteri/Pangad, layaknya membaca dongeng seorang ayah atau seorang kakek kepada putra-putri dan cucunya, ceritanya mengalir bak karya fiksi.
Buku yang disunting oleh Amalia Bachtiar disertai kata pengantar oleh sejarawan dari LIPI Asvi Warman itu diawali dengan cerita masa kecil Pranoto sebagai anak Desa Bagelen, Purworejo, yang bercita-cita menjadi guru, namun akhirnya menjadi tentara yang terlibat dalam perang gerilya memperjuangkan kemerdekaan.
Bagian penting dari buku ini adalah ketika Pranoto bercerita dengan runtut mengenai kegiatannya pada 30 September hingga 1 Oktober 1965 dan juga masa-masa ketika menjabat sebagai Panglima Tentara Teritorium IV/Diponegoro, menggantikan Kolonel Soeharto, rekannya selama perjuangan.
Pranoto menceritakan, pemeriksaan atas dugaan penyelewengan keuangan oleh pendahulunya itu membuat hubungan kedua sahabat itu meregang dan tidak pernah pulih kembali dan setelah peristiwa penculikan para jenderal pada 30 September 1965 dalam situasi politik yang tidak menentu, Soeharto memerintahkan penangkapan terhadap dirinya pada 16 Februari 1966.
Dibuka dengan kisah kanak-kanaknya di Desa Bagelen, Purworejo, pembaca bisa menikmati suasana desa saat itu melalui penuturan Pranoto mengenai kenangan masa kecilnya, masa berselolah bahkan juga mengenai pengalamannya mencuri-curi mandi di sungai.
Masa kanak-kanak yang dianggap pahit karena dipisahkan dari eyang canggah (kakeknya ayah) yang memanjakannya untuk ikut pada keluarga kakak sulung di Semarang hingga ke perantauan di Batavia (Jakarta pada waktu itu) disertai kisah-kisah menarik saat ia melihat hantu dan tersengat listrik.
Pranoto juga menulis kenakalannya sebagai anak ketika mengganggu adiknya dan berusaha menghindari kejaran ayah yang akan menghukumnya. Ketika akhirnya ia tertangkap dan mendapat hukuman fisik dipukul dengan lidi di kaki, ia pun mengeluarkan sumpah-serapah, “Besok bila aku menjadi bupati, bapak tidak akan kubelikan rumah gedung!” (hal.30).
Keceriaan masa kanak-kanaknya pudar ketika ayahnya, R. Soempeno Reksosamodra meninggal dunia dan membuat ibunya, R.Ngt. Wasiah menjanda serta harus menghidupi sembilan anak (seorang anak sudah meninggal ketika kecil).
Kegetiran akibat himpitan ekonomi membuat Pranoto yang lahir pada 16 April 1923 itu nyaris tidak bisa melanjutkan sekolah ke MULO (setingkat SMP) dan ibunya menyuruhnya mencangkul serta bercocok tanam.
Ibu dan kakak-kakaknya bahu membahu menyekolahkan Pranoto yang merupakan anak ke sembilan dari sepuluh bersaudara dan anak lelaki kedua dalam keluarganya, setelah melihat tekatnya yang kuat untuk melanjutkan pendidikan dengan cita-cita menjadi guru.
Memanggul Senjata Alih-alih menggapai cita-cita sebagai seorang pengajar, Pranoto malah memutuskan bergabung dalam militer melalui pendidikan Pembela Tanah Air (PETA) angkatan pertama yang menjadi awal karirnya sebagai tentara.
Perang gerilya, pernikahan dengan gadis idaman, Rr. Soeprapti Poerwodisastro di masa perang dan lahirnya anak-anak pada masa sulit mewarnai hidup Pranoto yang banyak berjuang di seputar Jogjakarta-Salatiga-Semarang.
Berkejar-kejaran dengan tentara Belanda (Agresi II), bersembunyi di ceruk sungai, melewati gorong-gorong penuh tinja, bersembunyi di rumah penduduk dan menyaksikan anak buah gugur, menjadi cerita sejarah yang memukau dan heroik.
Pada saat itu Pranoto juga merekam memorinya mengenai kesan sederhana kehidupan sang raja Jawa, Sultan Habengkubuwono IX yang pernah mendapat “perintah” dari seorang pedagang beras di pasar untuk mengangkut beras di mobilnya, atau bagaimana ketika ia berlindung di bawah pohon gayam ketika pesawat militer Belanda menembakinya.
“Tetapi masih malang pula nasibku. Buah gayam yang terkena tembakan mitraliur dari pesawat Mustang tadi rontok menjatuhi badanku, cukup sakit juga karena buahnya sebesar telur-telur itik” (hal.99).
Setelah Indonesia merdeka, Pranoto sempat dikirim ke Irian Jaya (Papua) untuk operasi pembebasan, kemudian juga menumpas pemberontakan dan mengamankan kekacauan di Sumatra Barat. Ia pun dikenal dekat dengan Presiden Soekarno, yang pernah memintanya “mendalang” pada suatu peringatan ulang tahun Soekarno di Istiana Merdeka.
Semua perjuangannya seperti terlupakan ketika ia kemudian harus mendekam di rumah tahanan Boedi Oetomo dan Nirbaya selama 15 tahun tanpa tuduhan yang jelas dan tidak pernah diadili, kecuali beberapa kali pemeriksaan yang berupa wawancara oleh tim pemeriksa.
Isi pemeriksaan pun ditulisnya dengan lengkap dan tersaji dalam buku ini, untuk pertamakali disiarkan ke muka publik.
Keteguhan jiwa membuat ia tetap tidak kehilangan akal dan mengisi hari-hari yang kosong di balik dinding rumah tahanan dengan menulis, melukis, mengukir dan berbagai aktivitas lain yang digemarinya.
Pembaca dapat menikmati kesaksian Pranoto di seputar peristiwa 1965 dan gerakan politik yang menyertainya sampai saat ia ditangkap pada 1966.
Menurut Asvi Warman Adam dalam kata pengantarnya, buku ini menggambarkan perjuangan yang tidak pernah henti yang dilakukan Pranoto sejak 1945 hingga 1965. Namun ia dilemparkan dari puncak karir militer dan dicampakkan sebagai pesakitan politik yang tidak jelas kesalahannya.
Buku ini, yang ditulis untuk kepentingan keluarga, menjelaskan kepada keturunannya sendiri akan keadaan yang sebenarnya, bisa menjadi catatan sejarah yang layak dibaca, bersanding dengan puluhan bahkan ratusan buku sejenis.
Para pembaca akan dapat belajar dan menemukan kebenaran dengan mempelajari fakta-fakta sejarah dari sumber-sumber yang terpercaya, setidaknya seperti sang penyunting, Imelda Bactiar yang juga bersedia menelisik kebenaran kisah ini melalui riset pustaka dan penulusuran lapangan yang disertakan dalam catatan kakinya.
Pranoto tutup usia pada 9 Juni 1992 tanpa mendapat jawaban akan kasus penahanan yang juga membuat karir militernya terhenti, tidak lagi menerima gaji dan pensiun serta tidak juga menerima pemberhentian resmi sebagai anggota militer aktif.
“Nama baik Pranoto Reksosamodro perlu dipulihkan,” tulis Asvi Warman Adam.
***
Peresensi: Maria D. Andriana
Judul Buku: Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra dari RTM Boedi Oetomo sampai Nirbaya
Penerbit: Kompas tahun 2014.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: