MENTALITAS KOLONIAL VERSUS INLANDERS

Surat-Surat dari Den Haag (4)

MENTALITAS KOLONIAL VERSUS INLANDERS

KIIni tentang orang-orang Belanda yang rindu bekas jajahannya. Kerinduan kadang-kadang yang janggal.

Oleh: Bonnie Triyana
Gudang penyortiran hasil perkebunan tembakau milik Belanda di Jawa, 1939. Foto: TropenmuseumClick to zoom

Gudang penyortiran hasil perkebunan tembakau milik Belanda di Jawa, 1939.
Foto: Tropenmuseum

Beberapa hari lalu saya bertandang ke rumah Professor Jan Breman. Dia seorang antropolog dan juga sejarawan ahli Indonesia yang terkemuka. Karya-karyanya banyak mengungkap kekejaman kolonialisme Belanda di Indonesia. Pada 1997 dia menulis buku tentang perlakuan buruk tuan-tuan perkebunan pada buruhnya di Deli.

Baru-baru ini, bukunya tentang keuntungan kolonial dari tanam paksa kopi diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku tersebut lagi-lagi mengungkap praktik busuk kolonialisme yang menghisap rakyat tanah jajahannya. Breman membuktikan bahwa kaum kolonialis meraup untung berkali lipat dari penanaman kopi di Indonesia sementara para petani semakin terhimpit hidupnya karena menerima upah minim.

Lucunya, naskah buku mengenai tanam paksa kopi tersebut sempat ditolak oleh sebuah lembaga penerbit di Belanda. Lembaga penerbitan tersebut telah dikenal sebagai lembaga yang banyak mencurahkan perhatiannya pada Indonesia dan memiliki banyak koleksi tetang sejarah Indonesia. Mereka beralasan naskah Breman tersebut “bermutu rendah”. Breman mengatakan itu kepada saya sambil mengangkat kedua bahunya dan tersenyum kecil.

Ketika saya tiba di rumahnya di kawasan Heemstede, sebuah permukiman yang terletak di antara Leiden dan Amsterdam, dia langsung menunjukkan secarik koran. “Ini untuk kamu. Sengaja saya robek untuk menunjukkan sebuah resensi buku bagus tentang kolonialisme,” kata dia.

Buku itu berjudul Album van de Indische Poëzie disusun oleh Bert Paasman dan Peter van Zonnenveld. Dalam buku tersebut termuat puisi-puisi tentang kerinduan orang Belanda pada Indonesia. Sebuah gambar ilustrasi karya Willy Sluiter yang berjudul “Aan Boord van de Juliana” melengkapi gambaran kenangan tentang Indonesia pada buku itu.

Dalam gambar tersebut nampak dua orang pelayan pribumi berdiri menyuguhi makanan kepada dua orang perempuan Belanda yang sedang duduk. Salah seorang perempuan memegang pundak anaknya yang tengah menyodorkan cangkir kepada sang pelayan pribumi. Sang pelayan dengan sikap hormat mengisi cangkir dengan teko kecil di tangannya.

“Inilah apa yang saya sebut dengan metalitas kolonial,” kata Breman. Menurut dia, kerinduan orang Belanda terhadap Indonesia acapkali disertai sikap mendominasi. Kerinduan yang berelasi kuat dengan perasaan penaklukan seorang tuan kepada jajahannya. “Hal itu tercermin dari buku ini,” kata Breman.

Kebalikan dari sikap mendominasi dari kaum kolonialis adalah mentalitas minderwaardegheid complex atau perasaan rendah diri yang sering diidap warga jajahan. Inilah yang sebenarnya ingin diubah oleh Sukarno. Pembangunan karakter manusia Indonesia, dari sekadar bangsa jajahan menjadi tuan bagi bangsanya sendiri. Berdaulat di negerinya sendiri.

Dari buku-buku yang ditulis Breman, terekam betul bagaimana bangsa Indonesia sejak dahulu diperlakukan budak. Bahkan kaum feodalnya, yang tentu saja tanpa sadar, juga digunakan sebagai perantara untuk menguasai orang-orang kecil yang dipekerjakan sebagai budak. Boleh saja ada pendapat lain soal hal ini.

Namun, dari beberapa arsip yang saya temukan di Belanda ini, menunjukkan bagaimana Indonesia atau Hindia Belanda, merupakan obyek penjajahan yang mendatangkan banyak kemakmuran bagi Belanda. “Pada abad ke-17, hampir setengah dari dana anggaran pemerintah diperoleh dari hasil tanam paksa,” kata Breman.

Bukan itu saja, sebuah perusahaan minyak Belanda, bahkan pernah membuat semacam laporan tentang betapa cemasnya mereka pada gerakan kemerdekaan di Indonesia. Mereka juga menghwatirkan masifnya gerakan kiri yang bahu-membahu dengan kaum nasionalis Indonesia.

Akhirnya, kita harus kembali memikirkan bagaimana mengubah mentalitas bangsa Indonesia. Dari sekadar mental sisa-sisa bangsa jajahan, menjadi bermental kuat setara dengan bangsa lain. Tentu saja ada berbagai cara yang bisa dilakukan, bukan hanya dengan cara “Revolusi Mental” ala Mas Jokowi. Bukan begitu bukan, mas?!{Sumber: Majalah Historia]

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: