BERKAT G30S, PENGUASA BARAT BERPESTA-PORA

Sepenggal tulisan dari buku “Akar dan Dalang” Suar Suroso:

BERKAT G30S,
PENGUASA BARAT BERPESTA-PORA
Suar Suroso

OKTOBER 1965. Dunia buncah. Disentak berita dahsyat mengagetkan. Malapetaka melanda Indonesia. Lebih mengerikan dari Nero membakar Roma, melebihi korban bom atom menimpa Hiroshima, lebih dahsyat dari pertempuran Stalingrad yang jadi titik-balik Perang Dunia kedua, lebih menegakkan bulu roma dari Perang Korea dan Perang Vietnam. Indonesia berlumuran darah. Manusia tak berdosa, yang tak melawan dibunuh secara semena-mena. Mayat-mayat bergelimpangan, berhanyutan di Bengawan Solo, di Sungai Musi, di Sungai Asahan, dan sungai-sungai lainnya. Bertebaran kuburan tanpa nisan. Terjadi pembantaian manusia yang tak ada taranya dalam sejarah Indonesia, bahkan dalam sejarah dunia. Inilah muara dari rencana Sang Angkara Murka, demi menggulingkan Bung Karno. “Keputusan untuk menjatuhkan Presiden Soekarno ini telah diambil oleh Presiden Eisenhower pada tanggal 25 September 1957, lima bulan sebelum proklamasi PRRI.” [Tim Weiner, Membongkar Kegagalan CIA: Spionase Amatiran Sebuah Negara Adidaya, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008, hal.186].

Dengan Peristiwa 30 September 1965, di Indonesia terjadi pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira menengah pucuk pimpinan Angkatan Darat. Belum pernah terjadi dalam sejarah peperangan mana pun, baik dalam Perang Dunia pertama, maupun Perang Dunia kedua, Perang Korea, maupun dalam Perang Vietnam, sekian banyak perwira tinggi, pucuk pimpinan Angkatan Darat terbunuh dalam satu peristiwa, dalam satu malam. Dan peristiwa ini disusul oleh penangkapan dan pemenjaraan besar besaran tanpa melalui pengadilan. Berlangsung pembantaian manusia, pembasmian kaum kiri, pelarangan Partai Komunis Indonesia, pelarangan penyebaran Marxisme-Leninisme di seluruh Indonesia. Peristiwa bermuara pada penggulingan Bung Karno; hingga berubahnya Indonesia dari mercusuar perjuangan melawan imperialisme menjadi negeri yang mengekor pada kekuasaan asing, terutama Amerika Serikat.

Ada yang menilai kejadian ini sebagai “satu peristiwa yang paling membuat zaman dalam sejarah Asia sesudah Mao Zedong tampil berkuasa di Tiongkok” [Kulit buku karya Arnold C. Brackman, The Communists Collapse in Indonesia, W.W. Norton Inc. New York, First edition, 1969].

”Pemerintah Johnson sangat gembira dengan berita dari Indonesia.” [Max Frankel, New York Times, 12 Maret 1966].

Bertrand Russel menulis, bahwa The Times, London, memperkirakan “Telah terbunuh sekitar satu juta orang selama empat bulan. Jadi dalam empat bulan di Indonesia terbunuh sebanyak dalam dua belas tahun perang Vietnam” [The Silent Slaughter, The Role of the United States in the Indonesian Massacre, Youth Against War and Fascism, 58 West 25 Street, New York, N.Y.10010, 1966].

Dalam waktu kurang dari satu tahun sesudah terjadinya G30S dan pembantaian berdarah, James Reston, kolumnis The New York Times menulis menunjukkan kekaguman atas kejadian ini sebagai “pancaran cahaya di Asia”.

Tahun 1967, Richard Nixon melukiskan Indonesia sebagai “hadiah terbesar di daerah Asia Tenggara.” [Richard M. Nixon, “Asia After Vietnam”, Foreign Affairs, October 1967, p.111.].

U. Alexis Johnson, Wakil Menteri Luar Negeri AS, 1966, menyatakan bahwa “pembasmian komunis di negeri Indonesia yang besar adalah peristiwa yang setara dengan Perang Vietnam, yang barangkali adalah titik balik historis di Asia abad ini.” [Joe Nunes, Indonesia: The Final Solution] [http://chss.montclair.edu/english/furr/ nunesindonesia.html].

Rex Mortimer menulis, “Banyak orang Barat kala itu justru melihat pembunuhan massal tersebut dengan penuh rasa puas dan kelegaan sebagai penghilangan sepenuhnya ancaman dan hambatan bagi kepentingan mereka, sementara kalangan lain melihatnya sebagai pemecahan bagi jalan buntu politik tak terelakkan yang disesali dan memalukan, namun masih bisa dimaklumi. Pembunuhan ratusan ribu manusia yang kebanyakan tidak mengerti, mengapa mereka harus dibunuh itu tidak banyak menarik perhatian apa lagi menggugat perikemanusiaan kita dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa lain di belahan dunia lain, yang sebenarnya dalam dimensi maupun skalanya jauh lebih kecil.” [Rex Mortimer: Indonesian Communism Under Sukarno, Cornell University Press, 1974, edisi Indonesia, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2011, hal.viii].

Dr. Brad Simpson, Princeton University, menulis, “Pembunuhan besarbesaran di Indonesia adalah satu bentuk teror yang manjur, syarat yang tak boleh tidak untuk mengintegrasikan Indonesia masuk sistem ekonomi politik regional dan internasional, untuk peningkatan rezim militer yang modern dan untuk menggulingkan Soekarno.” [Memo of Conversation, 14 Februari 1966, RG 59, State Department Central Files 1964—66, POL 2 INDON, NA].

Rakyat awam bingung, terpana. Buruh, tani, massa rakyat tercengang. Bahkan anggota-anggota PKI umumnya terheran-heran. Tak tahu apa sesungguhnya yang terjadi. Tak pernah membayangkan akan terjadinya peristiwa yang demikian. Yang terpaku dalam pikiran adalah: jika berlangsung pemilihan umum, PKI akan mencapai kemenangan besar. Tak ada yang membayangkan, apalagi siap menghadapi bencana berupa pembasmian, pembantaian manusia. Karena itu, peristiwa ini adalah mahamusibah bagi rakyat, bagi kaum kiri.

Dari hasil penelitian CIA sendiri mengenai operasinya di Indonesia ini, pemerintah Amerika memainkan peranan penting dalam satu pembunuhan massal yang paling buruk dalam abad ini dengan memberikan nama ribuan pimpinan Partai Komunis kepada tentara Indonesia, yang membunuh mereka dalam pembantaian berdarah yang diperkirakan sampai setengah juta manusia.

Tapi para penguasa Barat, terutama Amerika Serikat “bergendang paha”, bahkan berpesta-pora. Gembira ria melebihi kegembiraan seusai Perang Dunia pertama dan Perang Dunia kedua mengalahkan fasisme. Bagi penguasa Barat, terutama Amerika Serikat, peristiwa ini bukanlah suatu kebetulan, yang terjadi di luar dugaan. Sudah lama diharapkan, dan dinantikan bahwa peristiwa ini akan terjadi. Bukan hanya harapan, tapi direncanakan dengan perhitungan yang masak dan telah diambil berbagai tindakan dengan persiapan kekuatan yang cukup untuk mewujudkan kejadian ini.

“Pada 1950-an, pemerintahan Eisenhower bahkan memutuskan bahwa, jika diperlukan, mereka akan mendukung terbelahnya Indonesia dan terpisahnya Jawa (yang merupakan basis golongan kiri) dari wilayah lain di negara ini.” [Audrey R. Kahin dan George Mc T. Kahin, Subversion as Foreign Policy: The Secret Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia, 1995].

Ada bukti pembicaraan di lingkaran-lingkaran diplomatik Amerika Serikat, Inggris, dan Sekutu sebagai poros yang membenci perkembangan politik di Indonesia beserta solusinya. “Menurut sudut pandang kami, tentu saja, upaya kup PKI yang gagal kiranya merupakan perkembangan paling efektif untuk membalikkan kecenderungan politik di Indonesia,” demikian kata Howard P. Jones, Duta Besar AS untuk Indonesia, Maret 1995. [John Roosa (2006) dalam Pretext for Mass Murder].

Usahakan terjadinya suatu “perebutan kekuasaan”, “suatu coup d’etat” di mana terlibat Partai Komunis Indonesia. Ini dapat dijadikan dalih untuk membasminya. Inilah gagasan, yang sesungguhnya terwujud dalam kenyataan. Partai Komunis tertua di Asia, terbesar di luar negeri-negeri sosialis, terbesar sesudah Partai Komunis Uni Sovyet dan Partai Komunis Tiongkok, Partai Komunis Indonesia jadi berantakan. Semua pimpinan tertingginya terbunuh atau dipenjarakan. Lebih satu juta anggotanya dibunuh, dipenjarakan. Kekuatan kiri Indonesia, kaum Soekarnois pendukung Bung Karno dibasmi habis-habisan.

CIA membikin pemaparan palsu mengenai apa yang terjadi, kemudian diterbitkan berupa sebuah buku Indonesia 1965, Kup Yang Prematur, yang ketahuan sebelumnya. Para pejabat Amerika, wartawan, dan para sarjana yang berhubungan dengan CIA menciptakan dongeng, bahwa pembunuhan berdarah itu adalah “reaksi mendadak dari rakyat yang spontan terhadap terorisme PKI.” Maka, dalam Oktober 1965, para jenderal Angkatan Darat mengambil langkah, menyerang balik terhadap kup para kolonel yang gagal, menjadi pogrom anti-komunis, dan mengubah Indonesia yang kaya sumber alam itu bisa dieksploitasi oleh korporasi-korporasi raksasa Amerika. Jika Vietnam adalah kekalahan besar sesudah Perang Dunia kedua, maka Indonesia adalah satu kemenangan terbesar.

Gabriel Kolko menyimpulkan: ”penyelesaian terakhir” tentang masalah komunis di Indonesia adalah jelas satu tindakan yang paling biadab yang tak berperikemanusiaan dalam abad ini, bagian terbesar dari ini jelas setara dengan kejahatan perang yang sama dengan jenis yang dilakukan oleh Nazi. Tak seorang pun orang Amerika dalam masa sesudah 1945 yang haus darah, sebagaimana yang dilakukan di Indonesia memprakarsai pembunuhan besar-besaran, dan yang berbuat segala-galanya yang dalam kekuasaannya untuk mendorong Soeharto, termasuk mempersenjatai para pembunuh, untuk menyaksikan bahwa pelikuidasian PKI dilakukan sampai pada puncaknya. [Gabriel Kolko, Confrontation the Third World: United States Foreign Policy 1945—1980, Pantheon Books, 1988].

Di tahun 1965, pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Soeharto, membantai 500.000 anggota PKI. Amerika Serikat mendorong orang Indonesia menjalankan pembunuhan besar-besaran dengan memberikan bantuan diplomatik dan materiil demi mendukung pembunuhanpembunuhan tersebut.

Jumlah tepat mereka yang terbunuh tak akan pernah bisa diketahui. Kementerian Luar Negeri Amerika menaksir di tahun 1966, jumlah terbunuh sekitar 300.000. Data resmi yang diumumkan Indonesia pada pertengahan tahun 1970 adalah 450.000 sampai 500.000 meninggal. [Gabriel Kolko, Confrontation the Third World: United States Foreign Policy 1945—1980, Pantheon Books, 1988].

Dalam bulan Oktober 1976, Laksamana Sudomo, Kepala Kopkamtib menyatakan dalam wawancaranya kepada wartawan Belanda, bahwa lebih dari 500.000 terbunuh. Amnesti Internasional mengutip sebuah sumber lain yang menyatakan lebih dari 700.000, dan yang
lainnya menaksir bahwa lebih dari satu juta orang meninggal [Chomsky, Herman, 79].

Sarwo Edhie Wibowo yang mengomandoi pengerahan pasukan baret merah Kostrad mengakui bahwa dalam peristiwa ini telah terbunuh sebanyak tiga juta manusia.

__._,_.___

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: