Oleh: Drs. Alfian Tanjung M.Pd*

(Arrahmah.com) – Pernyataan Sudisman, CC-PKI, dalam sidang Mahmilub 1967: “Jika saya mati sudah tentu bukannya berarti PKI ikut mati bersama dengan kematian saya. Tidak samasekali tidak. Walaupun PKI sekarang sudah rusak berkeping-keping, saya yakin ini hanya bersifat sementara, dan dalam proses sejarah, nanti PKI akan tumbuh kembali sebab PKI adalah anak zaman, yang dilahirkan oleh zaman”

Gerakan PKI rentang 1920-1997

Dalam kurun 45 tahun keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI), ada dua peristiwa besar yang sangat mempengaruhi ingatan bangsa Indonesia, yakni Pemberontakan PKI 18-19 September 1948 di Madiun dengan tokoh utamanya Musso dan Gerakan 30 September 1965 atau Kudeta Dewan Revolusi 1 Oktober 1965 yang diotaki oleh DN Aidit sebagai Ketua atau Pimpinan CC PKI. Beberapa catatan tentang PKI dari awal berdirinya sampai berakhirnya rezim orde baru :

Pertama, kelahiran PKI tidak bisa dilepaskan dengan nama HJMF Sneevliet dkk yang nota bene mereka adalah orang-orang Belanda yang berpaham Komunisme, hal ini menjadi penting dipahami kenapa kader PKI tua maupun PKI muda kerap melakukan kegiatan di Belanda, selain di Inggris, Perancis juga di Cina, Rusia dan beberapa Negara lainnya yang memiliki ikatan dengan sejarah gerakan PKI atau komunisme Internasional.

Kedua, Gerakan PKI gemar melakukan KKM yakni Kerja di Kalangan Musuh yakni aktifitas infiltrasi, Sarekat Islam dirusak namanya dan kemuliannya dengan terbentuknya Sarekat Rakyat, yang sebelumnya muncul SI-Putih dan SI Merah. Hal yang sama juga mereka lakukan baik pada waktu orde lama, orde baru juga orde reformasi ( mereka PKI menyusup kekampus Islam dengan program Komunis Putihnya)

Ketiga, Aksi sepihak yang hampir selalu mengakibatkan korban nyawa terjadi sejak tahun 1927, 1946, 1948, 1962, 1964, 1965 bahkan sampai 1972, Oloan hutapea dkk di Blitar selatan masih melakukan gerakan bersenjata. Yang selanjutnya Gerombolan PKI selalu menuduhkan apa yang dilakukannya pada orang lain atau lembaga lain sehingga bisa disebut lempar batu sembunyi tangan. Termasuk teror politik yang membuat bubarnya Masyumi dan PSI, 1960.

Keempat, Kaderisasi, dari indoktrinasi, pembuatan sel dan kerja-kerja operasi militer atau operasi bersenjata termasuk menyusup dan kerja-kerja merusak tatanan masyarakat dengan cara halus maupun dengan cara kasar bahkan sadis. Gerakan PKI selalu membuat kerusuhan dan keresahan dimasyarakat diseluruh daerah di Indonesia. Kader PKI memiliki militansi yang cukup kuat dengan idiologi mereka, yang tertanam dalam perkaderan dan peran berstruktur.

Kelima, Regenerasi, konsep Kritik auto Kritik bisa dibaca dari Muso ke DN Aidit dari DN Aidit ke Sudisman dari Sudisman ke generasi transisi seperti Begug sastro, yang pada waktu era Reformasi dipegang oleh Mirah Mahardika (nama samaran), kepemimpinan PKI hasil kongres X adalah Wahyu Setiaji, Ketua Umum dan Teguh Karyadi (Wakil Ketua Umum), sementara Kongres ke XI belum terlaksana, relatif masih dipegang oleh kader-kader besutan Imam Sarju (92 tahun) dari hasil kerja Kongers PKI yang ke-10 yang dilaksanakan pada pertengahan Agustus 2010, tepatnya didesa ngabrak, Magelang Jawa Tengah.

Gerakan palu arit pasca reformasi 1998

Keberadaan Partai Rakyat Demokratik (PRD), merupakan eksistensi keberadaan PKI selain gerakan bawah tanah yang dilakukan dalam negeri maupun disupport oleh jaringan Komunis Internasional (komintern), PRD dibentuk dengan nama Pergerakan Rakyat Demokratik, yang pada tanggal 31 Mei 1996 berubah menjadi Partai Rakyat Demokratik. Pada Tanggal 24-26 Maret 2015 PRD menyelenggarakan Kongresnya yang ke VIII di Hotel Acacia, Kramat Raya Jakarta Pusat. Sejak berdiri PRD merupakan reinkarnasai dari PKI, sementara itu PKI-nya sendiri tetap berjalan.

Kongres PKI dimasa orde lama merupakan kongres yang ke VII di Blitar pada tahun 1965, dimasa orde reformasi sudah berlangsung beberapa Kongres PKI, yakni Ke VIII di Sukabumi Selatan Jawa Barat, 2000 yang kesembilan di CIanjur selatan jawa Barat, 2006 dan yang ke 10 di Desa Ngabrak Magelang Jawa Tengah, 2010 berlangsung kongres dengan cover Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik. PKI hasil kongres ke X dipimpin oleh Wahyu Setiaji (DN Aidit yunior) dan Teguh Karyadi ( Nyoto muda), sementara PRD hasil kongres VIII dipimpin oleh Agus Jabo, sebagai Ketua umum dan Dominggus Oktavianus sebagai Sekretaris jenderal PRD, Partai Rakyat Demokratik (PRD/PKI).

Menjelang reformasi kita mendapatkan data buku harian seorang kader Gerwani Muda, yang bernama Dita Indah sari tertanggal 16 April 1996 yang berisi : “Partai sudah berdiri, Well, 31 tahun terkubur, dibantai dihina, dibunuh, dilarang, diawasi dikhianati, sekarang dibangun lagi”. Kalimat 31 tahun,… menyiratkan bahwa tahun 1965 adalah PKI. Peristiwa 27 Juli 1996 merupakan aksi pertama yang monumental dari kader PRD/PKI untuk mengeksiskan dirinya sehingga mereka merasa percaya diri untuk ikut pemilu pada tahun 1999. Peluncuran buku : “Aku Bangga Jadi Anak PKI” digedung YTKI Jalan Gatot Subroto Jakarta, pada 1 Oktober 2002. Disusul dengan buku Anak PKI masuk Parlemen, September 2005, dan menyusuri jalan perubahan/PKI Juli 2012.

Beberapa catatan kegiatan PKI yang menjadi indikasi kuat akan keseriusan kaum PKI untuk hidup kembali baik secara idiologi maupun secara kelembagaan Partai Politik dengan nama PKI atau menunggangi partai tertentu untuk eksisnya idiologi dan kader PKI, adalah sebagai berikut : temu raya eks napol/tapol di cempaka putih 2003, Rapat tertutup dikawasan perkemahan wisata koppeng Kabupten semarang Jawa Tengah 24 Mei 2003, Amandemen UU Pemilu no 12 tahun 2003 pasal 60 G, Harian Sore Sinar Harapan kamis 18 Maret 2004 Ribka Tjiptaning mengatakan hanya Front nasakom yang bias keluarkan bangsa ini dari krisis, dibebaskannya 475 kader PKI dari Pulau Buru oleh SBY tahun 2005, Deklarasi Papernas (Partai Persatuan Nasional) 2007, Peristiwa Pakis ruyung hari kamis 10 Juni 2010, LKS Pkn di SMU Sukabumi 2012 : “Indonesia mengembangkan sendiri Idiologi bangsa yang dinamakan Komunis”, Kostum Kotak-kotak yang digunakan oleh Jokowi merupakan seragam pemuda Partai Komunis Cina ( Lihat Koran Media Indonesia hari senin tanggal 17 September 2012 halaman 12 pojok kanan atas), penetapan 1 Mei sebagai hari Libur Nasional merupakan kemenangan gerakan buruh Komunis,dalam masa kampanye pilpres 2014 ada slogan yang mirip dengan slogan Nasakom adalah Kita, Ayo Kerja-kerja-kerja ! Pembacaan susunan Kabinet Indonesia Hebat tanggal 26 Oktober 2014 bersamaan dengan tanggal revolusi Komunis Stalin tanggal 26 Oktober 1917, pemutaran film senyap diberbagai daerah diawal tahun 2015, dikenakannya kaos belambang Palu Arit oleh Puteri Indonesia 2015, pertemuan kader PKI 24 Februari di solo dan pertemuan kader PKI yang dimotori oleh YPKP 65 dibukittinggi Sumatera Barat dan kongres PKI/PRD pada tanggal 24-26 Maret 2015 di Jakarta.Yang sangat mengejutkan adalah pada saat HUT RI ke 70 dibeberapa daerah seperti di Pamekasan Madura, di Jember Jawa Timur, di Payakumbuh Sumatera barat, di TMII Jakarta dan dibeberapa daerah dikibarkan bendera palu arit, foto-foto tokoh PKI serta graffiti ditembok-tembok diberbagai tempat, seperti ditembok kampus UNP (Universitas Negri Padang).

Gerakan mereka yang terus berjalan adalah rapat rutin, kaderisasi dan menata jaringan dan KKM yakni Kerja di-Kalangan Musuh termasuk penggalangan dana termasuk acara ceremonial seperti Kongres ke XI serta HUT PKI yang ke 90 bertepatan dengan tanggal 23 Mei 2015. Peringatan HUT PKI ke 90, hari Sabtu 23 Mei 2015 dari jam 10.00 s/d 13.00 di Gedung Aula Kantor Cabang NU Kabupaten Kendal, berlangsung acara diskusi kebangkitan Nasional dalam rangka peringatan HUT PKI yang ke 90 ( 23 Mei 1920- 23 Mei 2015). Pada hari ahad tanggal 24 Mei 2015 dari jam 10.00 s/d 13.00 di Parakan Temanggung berlangsung acara HUT PKI ke 90. Ada hal yang harus diperhatikan oleh kita semua dengan dipugar dan dijadikan cagar budaya Gedung sarekat Islam (SI) di Jalan Gedong Semarang oleh Pemkot Semarang dan difasilitasinya pembuatan batu Nisan atau prasasti atau kuburan anggota PKI di Plumbon, Wonosari kecamatan ngliyan oleh Pemkot Semarang serta akan dijadikan situs yang diusulkan oleh Paguyuban Masyarkat Semarang untuk Hak Asai Manusia (PMS HAM), merupakan upaya dari kaum PKI untuk eksis kembali. Gerakan PKI semakin mewujud dan mereka melenggang tanpa respon yang berarti, bagaikan pepatah anjing menggonggong kafilah berlalu, atau anjing ompong yang tidak bisa mengonggong kafilah berlalu, menari dan berlari gembira.

Sikap kaum anti PKI

Sejak 1998, Gerakan yang membaca adanya aroma dan keterlibatan kader PKI, yang dilakukan oleh anak cucu PKI baik “anak-cucu” idiologis, biologis dan akademis Sekuleris. Keberadaan HAMMAS Indonesia merupakan gerakan Mahasiswa yang spirit awalnya adalah merespon kader PKI yang muncul dalam bentuk KAMERAD, FORKOT, FIM, FAM, KAM, JARKOT, Juga keberadaan PINTAR, AAK, FAKCTA yang lebih wujud dengan keberadaan Gerakan Nasional Patriot Nasional (GNPI) yang langsung dibesut oleh Moch Husnie Thamrin (Ketua Umum KAPPI 1966). Gerakan lokal juga bermunculan di Surabaya yang dipimpin oleh Drs. Arukat Tjaswadi, dengan CICS, FAK di DIY yang dipimpin oleh Pak Burhan, PERMAK di Bandung Jawa Barat, juga ada FAK Madiun dan gerakan lainnya.

Aksi mensikapi gerakan PKI dilakukan secara lokal, personal dan komunitas yang terbatas, secara kelembagaan hanya para senior baik angkatan 1966 maupun TNI AD. Sejak 2010-an sampai hari ini gerakan perlawanan nyaris tidak terdengar, tidak teroroganisir, apalagi dalam skala nasional. Keberadan gerakan perlawanan yang selama ini ada masih bersifat parsial dan hanya kegiatan diforum-forum terbatas atau malah tertutup, padahal gerakan PKI semakin terbuka dan terang-terangkan. Disisi lain landasan konstitusi kita yang berkekuatan hukum tetap masih sangat kuat: UUD 1945, dalam pembukaannya jelas termaktub atas berkat Rahmat Allah swt, Pancasila dan Pasal 29, Tap MPRS XXV tahun 1966 dan UU nomer 27 tahun 1999 pasal 107 ayat a s/d f.

Sudah saatnya gerakan Pembasmian PKI segera dicanangkan, apapun namanya yang penting terjadi atau terbangunnya gerakan Pengganyangan dan pembasmian PKI secara nasional, dalam bentuk sistem kerja yang lincah, terukur dan memiliki beberapa prinsip: Menjaga keutuhan NKRI, Melibatkan semua elemen dan komponen anti PKI terutama ABRI/POLRI dan Umat Islam juga umat lainnya yang sepakat PKI sebagai musuh Negara, musuh kaum Beragama dan musuh kemanusiaan dalam perjalanan sejarah manusia.

Keberadaan GNPI, CICS Jawa Timur, AAK, FAK, BARAK Banten, PERMAK Jawa Barat, maupun kelembagaan resmi seperti TNI semua angkatan, POLRI, Kesbang secara nasional disemua tingkatan, ormas dan partai politik sangat berkepentingan bahkan berkewajiban dalam menggalang kekuatan untuk mengganyang atau membasmi PKI sampai keakar-akarnya, karena PKI adalah sejarah hitam Indonesia dan tanpa PKI adalah syarat kemajuan dan kedamaian Ibu Pertiwi. Melibatkan dan keterlibatan angkatan muda merupakan suatu keniscayaan maka organisasi yang dibentuk agar memberi ruang dan peluang yang luas dan jelas untuk generasi muda yang menghayati arti ketuhanan yang Maha Esa, dalam peran mereka melawan/membasmi PKI.

Agenda nasional basmi PKI

Pembentukan dan terbentuknya kelembagaan yang berskala nasional dalam rangka menghadapi, melawan, mengganyang dan membasmi anasir PKI dalam bentuk apapun menuntut adanya kejelasan kerja-kerja untuk itu, yaitu : Pertama, Deklarasi atas keberadaan organisasi perlawanan secara nasional yang diikuti dengan pembentukan sayap gerakan di diberbagai daerah sebagai gerakan perlawanan rakyat terhadap kebangkitan dan keganasan PKI.

Kedua, Mencetak buku-buku yang menyadarkan akan bahaya dan keganasan PKI dengan memutar kembali film G30S-PKI yang disutradarai oleh Arifin C Noer.

Ketiga, adanya forum yang menyadarkan dan menggalang perlawanan terhadap gerakan PKI diantaranya: workshop Guru sejarah sekitar gerakan PKI, pelatihan/ kuliah wawasan tentang gerakan PKI bagi kaum muda dan lainnya, serta kader khusus perlawanan terhadap PKI.

Keempat, mobilisasi massa dalam bentuk partisipasi yang menyadarkan akan bangkitnya PKI dan kesiapan untuk melawan gerakan PKI dengan segala bentuk.

Kelima, sosialisai secara massif dan terdesentarlisir secara swakarsa dan tersentralisir dalam gerakan pembasmian dan pengganyangan PKI lama/baru.

Untuk ini diperlukan film-film documenter, seperi peristiwa penyerbuan PSM Takeran Madiun 1948, peristiwa cemetuk/cluring 1962 & peristiwa kanigoro, 1965 peristiwa Bandar betsi, peristiwa jengkol, MMC, tiga selatan, dan lainnya.

Keenam, memasukkan pembahasan sekitar gerakan kejahatan PKI sejak awal berdirinya sampai dinyatakan bubar dalam Tap MPRS XXV tahun 1966, serta tanda-tanda kebangkitan mereka/PKI/PRD dalam waktu belakangan ini, kedalam buku sejarah sejak pelajaran ditingkat SD sampai di perguruan tinggi.

Ketujuh, kaderisasi untuk menghadapi berbagai situasi dari sekedar berdebat diberbagai forum sampai kemungkinan berhadapan secara pisik atau bentuk lain.

Kedelapan, adanya inisiasi berupa derivasi atau ketentuan hukum yang menguatkan atau mengaplikasikan aturan konstitusional yang sudah ada, misalnya adanya Juklak dam juknis dalam bentuk PP atau Kepmen berupa kebijakan yang berkekuatan hukum tetap, sebagai pelaksanaan dari UU nomer 27 tahun 1999.

Kesembilan, gerakan sambung generasi, secara alamiah dan ilmiah bahwa melawan dan membasmi PKI merupakan sikap patriot yang berjiwa Pancasila, dalam khasanah Islam merupakan jihad melawan kaum musyrikin.

Kesepuluh, Pertemuan nasional, dalam bentuk forum ilmiah diberbagai daerah dan dipuncaki dengan seminar nasional juga diadakan rapat akbar diseluruh daerah basis PKI yang puncaknya adalah peringatan kewaspadaan nasional terhadap gerakan PKI. Selanjutnya mari kita kawal Indonesia tanpa PKI !

Catatan khusus

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait dengan kebangkitan PKI, karena pada saatnya kita akan kesulitan menghadapi mereka:

Pertama, Keberadaan Kader Muda mereka, baik yang PKI Malam maupun PKI Siang, seperti sosok Wahyu Setiaji, Teguh Karyadi, Rudy HB Daman, Harry Sandi Ame dkk mereka lainnya. Harus dihentikan karena mereka seperti sel Kanker yang terus membelah, yang mereka kerjakan diantaranya : Menyusun kekuatan massa, Agitprop dan perlawanan bersenjata di semarang, temanggung, Malang dan Blitar Selatan, serta diluar jawa seperti di Sulawasi Tengah maupun di Sumatera utara.

Kedua, Penetapan 1 Mei sebagai Libur nasional sebagai unjuk kekuatan mereka dalam tiap tahunnya dan ini akan menjadi komando waktu untuk mereka pada tahun-tahun kedepan, karena pada tahun 2015 ini mereka telah menyusup dan mengibarkan bendera Palu Arit dalam bebeapa aksi di Jakarta maupun didaerah, 1 Mei Libur nasional merupakan program Partai Komunis Perancis 1916 sebagai bagian dari komunis Internasional (Komintern).

Ketiga, Hubungan Internasional, keberadaan Ibrarury Aidit (Perancis), Carmel Budiarjo (Inggris) secara berkala terkoneksi dengan kader komunis dari Eropa Timur, Korea Utara dan Cina dalam rangka membangun kekuatan PKI.

Keempat, Familiarisasi atau mengakrabkan dengan pola budaya, warna-warna, lagu dan life style yang selaras dengan paham Komunisme, seperti KTP tanpa kolom Agama, pelarangan berdoa diawal kegiatan PBM disekolah, pembolehan menikah sesama jenis, mempermainkan langgam qiroati cara membaca quran dan cara-cara penyelesaian masalah secara anarkis, terutama yang dimainkan oleh Pasukan Nasi Bungkus (Cyber Sekuler Komunis), memecah kekuatan anti PKI kasus PPP dan Golkar, melindungi yang membahayakan keutuhan NKRI dan melecehkan otensitas ajaran Agama Islam seperti Syiah, Ahmadiyah, LDII, Bahai dan aliran menyimpang lainnya.

Kelima, upaya-upaya konstitusional, yang harus diikuti adalah RUU KKR Jilid 2 hal ini merupakan upaya yang menguntungkan PKI dan membahayan keutuhan NKRI dan kedamaian dalam menjalankan ajaran Agama sesuai ajarannya masing-masing. Selain membangun opini secara terencana dan terukur yang mengarahkan bahwa PKI bukanlah pelaku tetapi PKI adalah korban dari berbagai peristiwa yang telah dlakukan oleh PKI sejak berdirinya sampai kerusuhan 27 Juli 1996 (PKI berkolaborasi dengan Serikat Jesuit, Gerakan katolik Radikal didikan Pater Beek, di Pusat kader mereka di Roleano di Klender Jakarta Timur).

Penutup

Demikianlah tulisan ini dibuat untuk ditindaklanjuti oleh kita semua. Sedemikan terencana dan terlaksana secara sistematis upaya mengeksiskan PKI di Indonesia. Adalah baik kepada semua pihak bahwa kita harus menghadapi mereka (Kaum PKI). Pembentukan satuan perlawanan seperti KAPPI, KAMI, KOKAM, BANSER dan Front Anti Komunis (FAK) Nasional. Seiring dengan workshop atau Pelatihan Kewaspadaan Nasional dari Kebangkitan PKI bisa menjadi kegiatan yang dilakukan secara intensif.

Dalam jangka menengah dan jangka panjang, mematikan PKI adalah dengan mensejahterakan masyarakat dan membangun sistem sosial yang berkeadilan dan berkemakmuran. Karena dengan situasi yang normal dan berkeadilanlah paham Komunisme akan mati dengan sendirinya dan PKI akan mati.

Yang paling bertanggung jawab dalam menghadapi gerakan kaum PKI ini adalah : Pemerintah, karena mereka terikat dengan dasar konstitusi yang masih berlaku yakni Tap MPRS nomer 25 dan UU No. 27 tahun 1999 pasal 107 ayat a-f, TNI-Polri, sebagai institusi pengawal Negara yang secara loyal harus membantu pemerintah dalam menghadapi bahaya makar ke-3 PKI dan Umat Beragama, terutama umat Islam sebagai warga mayoritas dan umat lain yang meyakini kalau PKI adalah musuh Negara dan musuh agama mereka.

Upaya menyehatkan seluruh organisasi kemasyarakatan dan partai politik yang berjiwa anti Komunis (baca: PKI) terutama partai Islam : PPP, PKS dan PBB. Keberadaan dan aksi perlawanan yang terbuka membuat PKI berhitung ulang untuk memproklamirkan rencana mereka untuk mendeklarasikan sebagai sebuah kekuatan politik sabagaimana mimpi mereka pada tahun 1955, Pemilu pertama. Karena peda pemilu pertama tersebut PKI menempati urutan ke-4.

Jangan biarkan PKI menjadi tumbuh besar, meluas dan kuat, hal ini akan membuat kita mengulangi kelalaian masa lalu ketika mereka membuat aksi berdarah pada tahun 1948 dan 1965, tindakan deteksi dini, sosialisasi rencana jahat dan kejam mereka (PKI), menjaga kekuatan konstitusi yang masih berlaku bahkan perlu diperkuat dengan UU yang terbarukan serta Fatwa MUI tentang Haramnya Idiologi Komunis (PKI) di bumi Nusantra.

Kelahiran Gerakan Bela Negara (GBN) pada awal bulan Juni 2015, merupakan darah segar sebagai penambah barisan dan upaya menata serta menggerakan perlawanan untuk menghadapi PKI; baik PKI konvensional (PKI 1920) komunis gaya baru pasca orde baru maupun gerakan yang bermuara atau berafiliasi dengan ideologi komunis. Bersama dengan gerakan yang sudah ada seperti Gerakan Nasional Patriot Indonesia (GNPI) yang didirikan pada tahun 2000, atas inisiatif Moch. Husnie Thamrin (Alm) sebagai ketua KAPPI 1966.

*Penulis adalah pemerhati PKI dan Ketua Umum BPP Gerakan Nasional Patriot Indonesia (GNPI)