MENGENAL DIRI DAN MUSUH UNTUK MENJADI MANUSIA BERHARKAT

MENGENAL DIRI DAN MUSUH UNTUK MENJADI MANUSIA BERHARKAT
Pokok-pokok Pikiran Disampaikan Pada Seminar Budaya Pesta Seni dan Budaya Dayak se-Kalimantan 2015 ‘’Menggagas Strategi Kaum Muda Dayak Dalam Transformasi Masyarakat Global’’ di Yogyakarta, 3 Oktober 2015

/: Kusni Sulang

Kenali dirimu dan musuhmu, maka kau akan tak terkalahkan dalam peperangan (Sun Tzu)

Pengantar:

1.Terimakasih kepada kawan-kawan muda Kalbar yang telah mengajak saya turut serta dan diberi kesempatan berbicara dalam seminar ini. Basis kegiatan pertama saya di Kalimantan memang berawal di Kalbar. Setelah Kongres Dayak Nasional 1992, Kongres meminta saya ke Kalteng.

Di Kalteng, sejak beberapa tahun saya tak lagi sering diajak dalam pertemuan-pertemuan. Apakah disebabkan karena pendapat-pendapat saya sering berlawanan dengan pendapat arus-utama? Saya tidak tahu. Diajak atau tidak, saya mengajak semua untuk berlomba memberikan yang terbaik untuk kampung-halaman, (dalam artian sempit dan luas), pétak danum atau Utus seperti yang terekam dalam filosofi Dayak Ngaju “hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit” (berlomba-lomba menjadi anak manusia yang terbaik agar menjadi yang pertama-tama tiba di gerbang sorga) salah rincian (detail) dari konsep hidup-mati manusia Dayak “réngan tingang nyanak jata” (anak enggang putera-puteri naga) sebagai turunan Maharaja Bunu yang memegang senjata dari sanaman léténg (besi tenggelam) , bukan sanaman lampang (besi timbul) dengan segala konsekwensinya. Ajakan ini saya sampaikan karena bermartabat, berharkat tidaknya léwu (kampunghalaman), pétak danum dan atau Utus tergantung dari mutu manusianya atau warganya. Dayak bermutu, manusia bermutu adalah tuntutan dari filosofi “hatindih kambang nyalun tarung mantang lawang langit”.

2.Sebelum memaparkan pokok-pokok pikiran, saya ingin membacakan sajak berikut:

BERTAHAN DI KALTENG

menahun pulauku terbakar
saban kemarau menjadi pulau api
menyembunyikan bulan dan matahari
menyekap penduduk di bumi bencana
“ini demi kemajuan kalteng”
“tanpa investasi kita berada di kegelapan langgeng”
para petinggi berkata di hadapan duka yang mengamuk penduduk
ketika kocek mereka kian gemuk, perut kian gendut
di sini, bung
disini para saudara
tak ada tempat berlindung menghindari kejaran bencana
ia telah menyerbu dapur, ruang makan dan ruang tidur
bau ajal tertinggal di tikar lampit, kasur dan bantal
setiakawan dan omong kosong menjadi sinonim
semua merasa pahlawan dan pangkalima
republik tinggal nama
indonesia jadi tameng penjajahan
hari-hari kelabu dan senyap
dikenakan serupa celana dan kemeja oleh siapa saja
sehingga kukira secara spiritual orang –orang di sini
ibarat ikan mengapung tertuba menunggu mati
dituba pendidikan, perbudakan jiwa dan ketakutan
serta racun kepentingan sedetik
yang berani berdiri dan bersuara di tengah sunyi dan tukang kroyok
hanyalah sisa-sisa dayak dahulu
itu pun bung bisa hitunrg dengan jari
apakah ini kemajuan?
apakah ini modern yang dibangga-banggakan angkatan kekinian?
ataukah keterbelakangan tersamar?
kabut asap ini mengungkapkan kenyataan seadanya

dari negeri salju
kutahu jalan kembali
tak kuduga kalteng dibakar api
udaranya bertuba
stigma kadaluwarsa — racun warisan
aku melihat orang-orang berlari ke belakang
harapan yang menyakitkan dalam kabut
kian sayup dan jauh
di tengahnya aku bertahan
mencoba tidak munafik dengan cinta
mengasah dan menempanya
tak menjadi bayang-bayang
di kampung ini aku berdiri
memandang tanahair
merangkul bumi
kabut asap bencana
bagian dari pilihan lama
sebagai dayak anak dunia

September 2015.

Saya kira “pokok masalah dan bahasan” yang diajukan di dalam TOR Seminar kuranglebih terdapat dalam dua sajak tersebut (kalau boleh dibilang sajak atau puisi).

Inti Permasalahan:

Dalam pemahaman saya, ini “pokok masalah dan bahasan” yang diketengahkan jika diungkapkan secara lain barangkali berintikan: kita berada di mana sekarang atau bagaimana keadaan kita, mengapa demikian, lalu mau ke mana dan bagaim ana menuju ke mana itu? Suatu pertanyaan klasik yang menjadi salah satu bahasan utama ketika kami bahas pada kurang lebih 30 tahun silam, ketika membangun Institut of Dayakology for Research and Development (IDRD), nama awal dari Institut Dayakologi sekarang.

Tidak mengetahui kita berada di mana sekarang atau bagaimana keadaan kita, mengapa demikian, lalu dan seperti sabut di sungai, hanyut begitu saja di bawa arus dan tersangkut entah di mana. Tanpa mengetahui kita berada di mana sekarang atau bagaimana keadaan kita, mengapa demikian, lalu mau ke mana dan bagaimana menuju ke mana itu, strategi dan taktik bagaimana menuju ke mana itu, kiranya tidak mungkin disusun. Sebab kita berada di mana sekarang atau bagaimana keadaan kita, mengapa demikian, lalu mau ke mana dan bagaimana menuju ke mana berarti sama dengan mengenal keadaan, sadar akan kenyataan. Strategi dan taktik yang tanggap hanya tersusun dengan mengenal kenyataan. Menggantikan kenyataan dengan kemauan subyektif untuk menyusun strategi dan taktik hanya menghasilkan strategi dan taktik ilusioner. Apabila meminjam istilah Bung Karno, ibarat layang-layang putus tali, melayang-layang tidak menentu.

Pertanyaan kita berada di mana sekarang atau bagaimana keadaan kita, mengapa demikian, lalu mau ke mana dan bagaimana menuju ke mana itu pada hakekatnya sama dengan mengenal diri sendiri. Untuk mengenal diri sebagaimana adanya, diperlukan kejujuran dan keberanian mengakui keadaan sebagaimana adanya. Tidak boleh bersikap seperti tokoh Ah Q dalam cerita Lu Sin yang memandang diri selalu menang dan hebat, padahal pada kenyataannya ia kalah dan babak-belur. Dalam cerita rakyat Dayak, barangkali mempunyai kesejajaran dengan Kisah Pang Palui. Saya khawatir Dayak sekarang merupakan Pang Palui Kekinian yang perlu ditempeleng agar batu kahumung (batu kebodohan) keluar dari kepala.
Kita Berada Di Mana?

Yang saya maksudkan dengan kita di sini adalah Orang Dayak, baik Dayak Kalimantan Tengah, Barat-Timur, Selatan dan Utara. Di mana sekarang kita berada? Bagaimana keadaan Dayak?

Demografis: di Kalteng sekarang, secara jumlah, Dayak menempati posisi ke-empat dari uturtan sbb: (1). Jawa; 2. Banjar; 3. Bugis; 4. Dayak. Melihat arus kedatangan etnik Batak ke Kalteng, bukan tidak mungkin dalam waktu singkat etnik Batak akan menggeser posisi Dayak. Sedangkan Jawa dengan politik transmigrasi yang akan digalakkan oleh pemerintah Jokowi, bisa dipastikan akan bertambah besar dan dominan. Ditambah lagi dengan politik Keluarga Berencana pukul rata yang membuat yang mayoritas akan makin mayoritas, yang minoritas akan makin minoritas. (Karena itu saya menolak politik transmigrasi dan keluarga berencana seperti yang diterapkan sekarang).
Perubahan demografis ini membawa pengaruh dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya.
Etnik-etnik ini secara budaya berkurung dalam ghetto budaya mereka yang berkembang menjadi budaya politik. Sehingga mengarah ke aneksasi wilayah melalui kekuasaan politik dengan kontrak politik pilkada.

Ekonomi: Kehilangan alat produksi utama, yaitu tanah, sehingga Dayak bergerak menjurus ke arah proletarisasi. Dengan hilangnya alat produksi utama maka kesenjangan tingkat hidup antar etnik terjadi.
Konflik agraria di Kalteng, menurut data HuMa adalah tertinggi di Indonesia.

Invasi besar-besaran Perusahaan Besar Swasta (perkebunan dan tambang) merupakan sarang korupsi, kolusi dan gratifikasi. Izin diobral dan tumpangtindih.
Sumber Daya Manusia: Dayak kalah bersaing. Untuk menjadi Dayak Bermutu, yang mampu bersaing dengan tenaga-tenaga dari luar. Menurut Analisis (SWOT) Peringkat Daya Saing 33 Provinsi di Indonesia yang dilakukan oleh Asia Competitiveness Institute Lee Kuan Yew School of Public Policy National University of Singapore (2015) kualitas pendidikan di Kalteng -1.2879. Pada zaman pemerintahan Gus Dur, Menteri Pendidikan menyebut Unpar mendapat score D. Yang turut membawa kualitas pendidikan di Kalteng tidak tinggi adalah unsur korupsi dan sistem pendidikan, jual-beli nilai dan ijazah. Akibatnya terjadi pengangguran akademisi makin besar.

Karena komersialisasi pendidikan maka mutu pendidikan jadi rendah. Tidak mampu bersaing. Kampus yang mestinya jadi sarang pemikir dan kecendekiawanan menjadi sarang pengejar gelar dan kertas ijazah tanpa melahirkan cendekiawan. Tidak mengherankan apabila sekian banyak Profesor Doktor tapi tidak mempunyai karya tulis, kerdil sebagai yang disebut akademisi. Adakah dan berapa banyak cendekiawan Dayak di Kalteng, di Kalbar, Kaltim, Kalsel dan Kaltara. Pemegang gelar kertas sarjana tidak otomatis menjadi intelektual.

Komersialisasi pendidikan yang dilakukan oleh orang Dayak sama dengan menghancurkan masyarakat Dayak itu sendiri.

Sosial: Penyakit sosial mewabah berbarengan dengan invasi besar-besar PBS. Pelacuran, HIV menjalar hingga ke pedesaan luas. Bahkan diterapkan sistem ijon di dunia pelacuran. Narkoba merajalela sekalipun dislogankan bahwa Tahun 2015 Kalteng Bebas Narkoba.

Budaya: Terjadi gejala bunuh diri budaya secara kolektif. Generasi muda kurang menghargai budayanya sendiri dipandang sebagai budaya jadul zaman Siti Nurbaya. Tidak modern, tidak zamani.
Apakah modern dan tradisional, pasca tradisional? Mereka tidak tahu. Penyepelean atas budaya diri tidak didasarkan atas pengetahuan dan pengkajian tetapi semata-mata bertolak dari ketiadaan budaya kritis. 31lebih penidikan tinggi di Kalteng tidak serius melakukan penelitian dan pengkajian.

Ada tiga tendens sikap dalam menghadapi budaya luar: (1). Menerima tanpa filter; (2). Lari ke masa lalu; (3).Pasca tradisional.

Pelajaran mulok memang ada, tapi tidak disediakan materi-materinya. Diserahkan kepada masing-masing sekolah.

Masalah kebudayaan Dayak atau lokal, bukanlah seperti yang dikatakan oleh TOR Panitia berkisar pada soal “cultural protection”. Masalah sentralnya adalah bagaimana menjadi Dayak Kekinian Yang Bermutu. Menjadi Dayak atau bukan terletak pada apakah seseorang itu menghayati dan menghidupi budaya Dayak. Seorang Dayak genealogis tanpa menghayati dan menghidupi budaya Dayak, sebenarnya bukanlah orang Dayak lagi. Melainkan orang asing. Dengan menghayati dan menghidupi budayanya, budaya etnik atau bangsa itu, bukan saja akan terproteksi tapi justru berkembang tanggap zaman.(secara zamani).
Budaya lokal, termasuk budaya Dayak, secara nilai bersifat universal. Contoh konsep “hatamuéi linggu nalata” (Saling mengembarai pikiran dan perasaan sesama), konsep Dayak Utus Panarung, mangalanja kilat matanandau (melomba petir dan matahari), tunjung nyahu sebagai konsep intelektualitas, dll. Karena itu menjadi Dayak, tidak bertentangan dengan menjadi Indonesia dan anak manusia penghuni desa planet kita. Lokalitas justru menjadi bahasa dalam pergaulan nasional dan internasional, ejahwantahan dari bhinneka tunggal ika (ika dari segi kemanusiaan dan juga ber-republik dan berkeindonesiaan).

Apalagi dilihat dari segi filosofis, sari nilai kebudayaan Dayak menunjukkan budaya Dayak dan manusia Dayak itu bersifat inklusif.

Politik: Dari 14 kabupaten/kota di Kalteng, paling banyak hanya dua yang bupatinya bukan orang Dayak. Sekali pun demikian, kenyataan memperlihatkan kepaladaerah-kepaladaerah ini tidak berhasil mengangkat kehidupan Dayak jadi berharkat dan bermartabat. Penyelenggara Negara dengan kekuasaan di tangannya lebih menjadi pedagang primer daripada Negarawan.

Masyarakat Adat dan unsur-unsur patner sosial lainnya dalam penyelenggaraan Negara masih lemah. Masyarakat Adat selain lemah dari segi organisasi, wacana dan pengetahuan juga korumpu secara moral. Ketua DAD Kotim Hamidan selingkuh dan loncat pagar ketika ketangkap basah.
Karena itu Bupati Gunung Mas Arton S. Dohong dalam Musyawarah Nasional MADN di Hotel Swissbel Danum, Palangka Raya, bulan September 2015 lalu mengatakan “DAD Gumas sebagai tidak beradat”.
MA Dayak menjadi masyarakat otopilot, padahal niscayanya pemangku adat adalah organisator dan pemikir serta panutan bagi warga MA atau dalam istilah Dr.A.Teras Narang, SH, “daya tawar MA Dayak lemah”.

Kesimpulan:
Dayak berada di pinggir dan makin kepinggir. Keadaan ini bsia menjadi salahsatu sumber keresahan bahkan konflik sosial serta . Makin terpinggirnya masyarakat Dayak disebabkan karena peminggiran sistematik oleh pilihan politik penyelenggara Negara. Hasilnya dalam bidang kebudayaan adalah budaya kemiskinan dengan berbagai bentuknya seperti eskapisme, fatalisme, dll, dengan kepekaan tinggi berkembang menjadi hamuk.
Kita Mau Ke Mana?

Kita mau menjadi Dayak Kekinian Yang Bermutu. Dayak yang berharkat dan bermartabat. Berharkat artinya bertaraf, bermutu, berharga, berkekuatan. Bermartabat mempunyai harkat kemanusiaan. Harga diri kemanusiaan.
Bagaimana Menuju Ke Mana Itu?

Dalam rapat bisnis APINDO, 10 September 2015 di Aula Batang Garing Palangka Raya, seorang pembicara yang menyandang gelar doktor mengatakan bahwa Kalteng tidak bisa maju tanpa pendatang. Nampaknya doktor ini tidak belajar sejarah Kalteng dan Dayak dari masa ke masa.

Kemajuan Dayak tidak pernah diperoleh sebagai hadiah. Kalteng berdiri dan didirikan dengan perjuangan mandi darah dan airmata. Unpar didirikan bukan dengan tersedianya barisan profesor doktor. Sejarah
Kalteng dan Dayak juga mengatakan bahwa kita tidak eklusif tapi inklusif. Karena itu AM Arsyad yang asal Bugis, Kapten Mulyono yang asal Jawa kita pandang sebagai bagian dari Dayak.

Sejarah juga mengatakan terutama sejak Orba, Dayak kian terpojok. Masa kebangkitan yang dimulai pada 1957 terpotong pada tahun 1967.

Bagaimana menuju ke mana yaitu Dayak Kekinian Yang Bermutu. Dayak yang berharkat dan bermartabat?

(1). Berorganisasi menggunakan sistem administrasi sederhana dan bermutu. Mempunyai program yang jelas, bukan hanya dibiarkan tertera di kertas. Organisasi ini mempersatukan semua kekuatan yang mungkin di satukan. Dengan adanya organisasi yang solid maka Dayak mempunyai kekuatan dan daya tawar serta kata-katanya mempunyai daya paksa. Politik adalah masalah imbangan kekuatan. Hal ini ditunjukkan oleh sejarah pendirian provinsi Kalteng, perjuangan Sarikat Dajak (1919) dan Pakat Dajak (1926).

(2). Membangun barisan sumber daya manusia yang berdaya atau berharkat secara sistematik. Manusia ideal Dayak oleh orang Katingan dirumuskan sebagai “mamut-ménténg, pintar-harati, maméh-uréh, andal dia batimpal” (gagah-berani, cerdik-beradat/berbudi, tak gentar melawan arus dan rajin, hebat tidak bertara). Tentu saja manusia ideal ini berkomitmen sebagai Dayak Panarung turunan Maharaja Bunu yang bertugas menjadikan bumi yang chaos menjadi tempat manusiawi untuk kehidupan manusiawi dengan kualitas terus-menerus.

Dalam hal ini, kita patut belajar pada etnis Tionghoa dan politik pembangunan sumber daya manusia RRT.(lihat: I. Wibowo, “Belajar dari Cina”, Jakarta, 2004; Dahan Iskan:’Belajar dari Tiongkok; Priyaanto Wibowo, “Perubahan Sosial Cina Tahap Pertama: Mao dan Pedesaan [1949-1959), Jakarta, 2008).

(3). Memperkuat sistem kerja jaringan.;

(4). Belajar dan mengkaji sejarah dan budaya sendiri melalui riset berkelanjutan;.

(5). Menagih hak memasuk pendidikan strategis;

(6). Menuntut penyelenggara Negara menerapkan politik diskriminasi positif, terutama untuk memperkuat posisi ekonomi Dayak, dan pengembalian alat produksi utama kepada Dayak;

(7). Kepala daerah berbagai tingkat mutlak Dayak yang berkomitmen pada cita-cita Dayak Kekinian Bermutu, Berharkat dan Bermartabat. Bukan Dayak yang memojokkan Dayak.

(8). Mengembalikan perguruan tinggi sebagai tunjung nyahu, bukan menjadi komoditas. Mahasiswa harus aktif dan membela kebebasan mimbar.

(9). Dana pendidikan gratis dari Taman Bermain hingga S3 gratis didapat dari PBS, APBD, APBN . Jangan terulang pengalaman Yayasan Isen Mulang.
Sebenarnya Kita Tidak Siap Menghadapi MEA

Desember 2015 MEA akan dilaksanakan. Kita baru bicara bagaimana menghadapinya. SDM kita sangat lemah sehingga menjadi kuli perusahaan asing pun barangkali kita tidak masuk hitungan.
Penutup

“Aku mendengar suara
jerit hewan yang terluka

Ada orang memanah rembulan
Ada anak burung jatuh dari sarangnya

Orang-orang harus dibangunkan
Kesaksian harus diberikan
Agar kehidupan terjaga”

Rendra
Palangka Raya, Oktober 2015.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: