MEMAHAMI ISLAM DAN TANTANGAN MODERNISASI

Memahami Islam dan Tantangan Modernisasi

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

kader cikarang <nu.pkb.cikarang@gmail.com>
To: kmnu2000@yahoogroups.com
Sent: Friday, 9 November 2012, 16:18
Banyak cara dapat digunakan dalam memahami agama Islam melalui sejarahnya
yang panjang, lebih dari empat belas abad lamanya. Kita harus dapat
memahaminya dengan tepat, untuk dapat menghindarkan diri dari
kesalahan-kesalahan kesimpulan yang dapat berakibat sangat berat bagi kaum
Muslimin pada umumnya. Ambil sebagai contoh, tragedi gedung WTC di New York
11 September 2001. Tindak kekerasan yang ditimpakan atas diri Osama bin
Laden, yang belum pernah dibuktikan melalui pengadilan manapun, telah
menimbulkan citra di banyak negara bahwa para teroris saat ini “menguasai”
dunia Islam. Bahkan lebih jauh, banyak orang di sejumlah negara menggangap
Islam adalah agama terorisme, minimal Islam membenarkan penggunaan
kekerasan. Ini tentu adalah tuduhan yang tidak benar, tetapi itu dipercayai
banyak orang. Dan kalau yang percaya itu adalah seorang presiden, seperti
Presiden Bush dari sebuah negara adi kuasa, dalam hal ini Amerika Serikat
maka dapat dibayangkan betapa dahsyat akibatnya bagi kaum Muslimin.
Salah satu diantaranya adalah kesulitan bagi kaum Muslimin dari berbagai
negara untuk memasuki Amerika Serikat, apalagi jika orang itu menggunakan
nama berbahasa Arab. Ditambah, kalau orang yang bersangkutan bernama 3
orang Nabi, Muhammad Ismail Daud, walaupun dipakai seorang keturunan
Tionghoa bermata sipit dan beragama Konghucu, jelas akan ditolak
permintaannya untuk memperoleh visa memasuki negara tersebut. Ini belum
lagi hal-hal lain, seperti wakil Perdana Menteri Malaysia, yang harus
menanggalkan sepatu di sebuah lapangan terbang A.S, ketika melewati
pemeriksaan security (keamanan). Hingga hari inipun, lebih setahun setelah
terjadinya peristiwa tragis itu, kaum Muslimin masih menghadapi
kesulitan-kesulitan itu.
Penulis sendiri pun mengalami kejadian yang tidak mengenakan. Ketika
diwawancarai oleh seorang penulis Amerika Serikat, penulis menyatakan bahwa
ada kerancuan dalam sikap publik A.S terhadap kaum Muslimin hingga
menggangap semua kaum Muslimin adalah teroris, karena itu harus menerima
perlakuan tertentu sebagai teroris. Bukankah ini juga sebuah terorisme dari
negeri itu? Ternyata dalam buku “ Bush on War” dimuat kutipan sepenggal
saja, yaitu ucapan penulis bahwa bangsa Amerika Serikat adalah negara
terorisme. Untunglah CIA (Central Intelegence Agency) di Amerika Serikat,
melalui seorang direkturnya segera melakukan penelitian ulang tentang hal
itu dengan bertanya apa lengkapnya ucapan penulis. Penulis menjawab dengan
sejujurnya, ketika digambarkan di atas. Itupun penulis tidak tahu, apakah
keterangan itu dipercaya atau tidak oleh pihak-pihak yang bersangkutan di
negeri Paman Sam.

****
Untuk mencegah kesalahpahaman tersebut, pengetahuan mereka tentang agama
Islam harus benar-benar mendalam, atau paling tidak kita mempercayai
pandangan sejumlah pakar ke-Islam-an. Salah satu diantaranya, kita harus
memahami benar bahwa hidup kaum Muslimin tidak dapat diterangkan hanya
dengan menggunakan ajaran-ajaran formal Islam saja, namun juga harus
digunakan hasil-hasil “kajian kawasan Islam” (Islamic Area Study’s).
Penulis pernah mengajukan kepada Rektor Universitas PBB di Tokyo, perlunya
didirikan 6 buah pusat kajian kawasan Islam tersebut. Yaitu Islam di
masyarakat Afrika Hitam, masyarakat Turko-Persia-Afgan, di masyarakat
Afrika utara dan jazirah Arab, di masyarakat Asia Selatan (Bangladesh,
Nepal, Pakistan, India, Sri Lanka), masyarakat Asia Tenggara (ada 7 negara)
dan minoritas muslim di negara berindustri maju.
Dalam mempelajari berbagai masyarakat muslim itu, kita juga harus
mengetahui bahwa secara umum kaum Muslimin selalu membedakan antara dua
buah pendekatan: pengetahuan tentang capaian masyarakat Islam secara
kultural (budaya) dan capaian secara kelembagaan (institusional). Dari masa
ke masa kaum Muslimin memberikan tekanan berbeda atas kedua pendekatan itu,
sesuai dengan kebutuhan di masing-masing kawasan. Yang ideal, kalau
dilakukan pendekatan berimbang atas kedua macam capaian tersebut. Tekanan
pada capaian kultural saja, seperti di lakukan NU sejak lahir, akan
menunjukan betapa berantakannya organisasi tersebut. Tetapi tekanan pada
capaian institusional saja, -seperti yang dilakukan ICMI (Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia)- juga berakibat fatal dan hanya memenuhi
ambisi-ambisi pribadi belaka.
Mencapai keseimbangan antara kedua capaian itu dalam pendekatan yang
dilakukan kaum Muslimin dalam sebuah masyarakat, akan menunjukan hasil
optimal secara teoritik. Walaupun “menggeliatnya” kaum Muslimin di negeri
ini dalam beberapa dasawarsa tahun belakangan ini, sudah membawa hasil
tersendiri. Bayangkan jika dalam pendekatan yang diambil untuk memecahkan
masalah-masalah yang dihadapi kaum Muslimin dalam berbagai bidang, ada
keseimbangan antara kedua capaian tersebut. Kita sendiri sebenarnya sering
kali menggunakan “temuan-temuan” orang lain yang tidak tepat untuk kita
gunakan. Karenanya kita perlukan pendekatan masalah berdasarkan pengetahuan
mendalam atas diri kita sendiri. Kepemimpinan politik umat harus diarahkan
kepada penciptaan kondisi tersebut., bukan untuk kepentingan golongan
sendiri. Kepentingan golongan atau kelompok memang harus diperjuangkan,
tetapi tidak boleh merusak kepentingan bersama yang lebih besar.

****
Dari sekian banyak hal yang harus diperhatikan dalam memahami Islam, ada
beberapa hal yang sangat penting. Umpamanya saja perbedaan antara berbagai
kawasan kaum muslimin. Islam di Asia Tenggara, umpamanya, sudah terbiasa
dengan adanya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau organisasi
Non-Pemerintah (Ornop). Sedangkan di kawasan Timur-Tengah tidak demikian
halnya. Bandingkan ini, di Indonesia ketua Palang Merah Indonesia (PMI)
dipilih langsung oleh masyarakat, sedangkan di Mesir ditunjuk presiden. Hal
lain misalnya, terlihat pada perbedaan di tiap kelompok masyarakat Islam
tentang status wanita dan pembagian warisan. Belum lagi jika kita berbicara
mengenai kaum Muslimin dimanapun berada dalam menghadapi tantangan
masyarakat modern.
Aspek lain yang tidak boleh dilupakan adalah perbedaan responsi terhadap
perkembangan zaman, antar masyarakat kawasan yang saling berbeda. Di banyak
kawasan, kaum Muslimin meninggalkan baik secara harfiah maupun dalam sikap
hidup mereka, perbudakan yang semula memang disebutkan dalam kitab suci
Al-Qur’an maupun Hadist Nabi Muhammad S.A.W. Tetapi di beberapa kawasan,
kaum Muslimin justru masih mempraktekan perbudakan. Juga kaum Muslimin
sudah menggunakan berbagai bentuk sangsi dengan hukum ‘sekuler” atas
pelanggaran-pelanggaran, tapi masihada juga yang memberlakukan hukuman
potong tangan untuk pelanggaran-pelanggaran yang sama. Ini berarti terjadi
perbedaan respon terhadap “berbagai tantangan modernisasi” yang dihadapi
kaum muslimin dewasa ini.
Jelas dari uraian diatas, bahwa Islam adalah agama yang berhubungan sangat
erat dengan sejarah. Karenanya, jika kita hanya menggunakan versi-versi
yang bersifat ajaran formal belaka, maka kita akan ditinggalkan masyarakat.
Kita harus pandai memanfaatkan pendekatan formal maupun non-formal itu,
jika Islam diinginkan maupun menjawab tantangan-tantangan tersebut. Wilfred
Cantwell Smith, dalam salah satu tulisannya, menunjukkan perbedaan
pengertian antara ajaran Islam dan ajaran Kristen. Orang Islam, menerima
Al-Qur’an dan Hadist sebagai dua buah revelasi (wahyu) yang agak berbeda
tingkatannya, sedangkan kaum Kristiani tidak memberlakukan kitab suci
mereka sedemikian mutlak. Sebabnya karena Kitab Suci Injil adalah kumpulan
“rekaman” para Rasul atas ucapan dan tindakan Yesus Kristus. Sedangkan bagi
kaum Muslimin kedua sumber itu memang benar-benar berasal dari Tuhan; satu
langsung dari-nya dan satu lagi melalui Nabi Muhammad SAW. Kita harus
sanggup memahami itu semua, hal yang mudah dikatakan, tetapi sulit
dilaksanakan, bukan?
Jakarta, 1 Oktober 2003


Gus Dur selalu di Hati…….

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: