KALIMANTAN

KALIMANTAN
 
/: Kusni Sulang
 
 
 
untuk apa membicarakan luka-luka
jika dari raga hingga ke hati
darah sudah mencurat
memberi garis merah
memotong kabut asap
 
 
untuk apa kecewa dan  meratap
khianat seperti sunyi dan duka
mereka senantiasa seakrab tetangga
sesetia haruei* sepasang
 
 
dari segala penjuru angin
dari hutan
dari langit
dari sungai
tepian
dan bukit-bukit
ajal tiba berlindung di kabut
perkasa dan bertekad tempur
ibarat pasukan komando
menghancurkan
 
 
aku tahu muasalnya
aku pasti musababnya
pasukan tempur komando perkasa ini
tiba dari mana
 
 
ada kolone ke lima di sini
berpangkat pejabat tinggi
 
 
di pulau kalimantan ini, bung
empat bulan sudah kami rapat terkepung
seluruh kampung terkepung
sedangkan bala cadangan sudah tiada
saat nurani tewas tanpa tarung
tanpa laga
 
 
lelaki dan perempuan pulau ini dahulu memang pernah membangun
lasykar demi lasykar untuk mengibarkan merahputih
ada lasykar perempuan dayak
ada lasykar lawung
ada mn1001
naga-naga sungai naik ke permukaan
menciptakan topan
mengaduk hutan
saban tapak
maut menjebak
 

 

terhalau belanda
jogja tiba                                                                                  
mereka tak dipandang sebelah mata
 
 
harapan kembali melukai
luka dan sunyi
sahabat lama
menggandeng kami
 
 
rapat terkepung berbulan-bulan
aku rasakan kembali kesunyian hutan
tapi barangkali kesendirian memang hakiki
luka-luka bahkan tertembak mati
bagian dari jalan pelaga 
 
 
lalu apa yang mesti kami banggakan
jika di republik dan indonesia terjadi penjajahan
terjadi penyingkiran
kemerdekaan yang diimpi seperti cakrawala
nampak di mata tak tergapai tangan
merahputih bukan lagi lambang kemerdekaan
 
 
tanpa keluh akan luka
tanpa ratap akan khianat
dalam sunyi kesendirian
kepadamu kupastikan:
“kalimantan rumah kelahiran”
“kalimantan kampunghalaman
tak dijual, tuan-tuan
tak dirombeng, puan-puan”
 
 
ya, ada memang  
memang ada dayak yang menjualnya atas nama kita
ada dayak yang campakkan martabat atas nama adat
pembangunan dan modernitas pulau
 
 
orang-orang kampung memandangku
mengangguk sebagai dayak anak bumi
di balik tirai kabut kelabu
kulihat  isyarat tersirat
 
 
harapan lagikah ini
ataukah aku bermimpi
oleh demam luka-luka dalam
sebab di luar
runyam temaram
kendati  berapi 
 
 
2015. 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: