ETNOSIDA KULTURAL DAN MODERNITAS

ETNOSIDA KULTURAL DAN MODERNITAS
Oleh Andriani S. Kusni

Lokalitas, jika dilihat dari wilayah kenegaraan, maka merujuk pada wilayah geografis tertentu yang didiami etnik tertentu. Etnik tertentu ini tentu saja mempunyai kebudayaan tertentu pula yang membedakannya dengan etnik-etnik lain di wilayah negara tersebut. Apabila dilihat dari segi skala global, maka kebudayaan suatu bangsa bisa disebut sebagai budaya lokal yang mempunyai ciri-ciri tersendiri pula.
Pertanyaannya di sini : Apakah lokalitas itu mempunyai nilai universalitas ataukah nilainya hanya seluas lokalitas itu semata? Terhadap pertanyaan ini, salah seorang pembicara utama dalam Semiloka Media Massa Dalam Upaya Mendukung Konservasi di Hotel Luwansa Palangka Raya pada 20 Juli 2010 lalu, mengatakan bahwa ‘’kearifan lokal bagian dari budaya suatu masyarakat. Nilai-nilai kearifan lokal itu menyatu dalam kelompok masyarakat pemiliknya sebagai pengetahuan kolektif dan dijadikan blue print bagi seluruh sikap dan perilaku anggota masyarakatnya. Karenanya, kearifan lokal umumnya hanya bersifat lokalitas dan sedikit yang bersifat universal ‘’ (Harian Tabengan, Palangka Raya, 21Juli 2010). Jika pendapat ini ditelusur lebih lanjut maka ia berarti pelestarian, revitalisasi dan pengambangan budaya lokal tidak menjadi sesuatu yang penting, apalagi mendesak. Karena secara kegunaan, ia hanya sangat terbatas pada geografi lokal tertentu saja dan sangat sedikit mempunyai nilai universal. Sementara kita hidup dalam masa globalisasi, baik itu globalisasi sebagai tingkat terbaru kapitalisme, maupun globalisasi sebagai “alter-mondial” yang diwacanakan oleh Porto Allegre. Dengan nilai “hanya bersifat lokalitas dan sedikit yang bersifat universal” di era globalisasi seperti yang kita hidupi sekarang, budaya lokal, tidak perlu ditekuni, apalagi dilestarikan, direvitalisasikan dan dikembangkan. Dengan kesempitan makna demikian, hilangpun budaya lokal, tidak menjadi soal penting, apalagi sampai menggundahkan. Yang terpenting pada era globalisasi ini adalah bagaimana menjadi manusia global yang umum diungkapkan dalam kata-kata “bertindak lokal berpikir global” (pada hal sebenarnya tindakan di suatu lokalitas sebenarnya, lebih-lebih di zaman ini mempunyai arti global. Karena itu orang Perancis mengatakan ‘’Agir ici et là’’ (Tindakan di sini sekaligus di sana’’).Demikian kurang-lebih lanjutan logis dari pendapat di atas. Apakah barangkali pendapat begini jugalah yang turut menjelaskan mengapa kebudayaan Dayak di Kalteng menjadi merosot, kurang berkembang? Dikhawatirkan secara tidak sadar ‘’teori kebudayaan lokal bersifat lokalitas dan sedikit yang bersifat universal’’ memberi varian kekinian bagi politik desivilisasi kolonialisme Belanda ‘’ragi usang’’ yang diterapkan pasca sejak Pertemuan Tumbang Anoi 1894.
Secara teori pendapat di atas sejak lama disanggah oleh teori ‘Jalan Kalimantan’ Prof.Dr. Sajogyo, disanggah pula oleh para ekonom pembangunan dengan mengajukan ‘’teori teknologi tepat-guna’’, lebih tegas ditolak pula oleh filosof humanis terkemuka Perancis Paul Ricoeur dengan menyatakan bahwa ‘’kebudayaan lokal adalah bahasa lokal untuk berdialog dengan budaya dunia’’. Lebih tegas lagi Paul Ricoeur mengatakan bahwa ‘’kebudayaan itu majemuk, kemanusiaan itu tunggal’’. Artinya Ricoeur melihat bahwa pada lokalitas terdapat universalitas bernama ‘’kemanusiaan yang tunggal’’. ‘’Kemanusiaan yang tunggal’’ merupakan subtansi universal dari bentuk yang majemuk di mana substasi ini diwadahi. Universalitas artinya berlaku di semua geografi hunian manusia. Sementara teori multikulturalisme, dan bhinneka tunggal ika, republik dan berkeindonesiaan sebagai rangkaian nilai yang kemudian dikokohkan dalam UUD ’45 Pasal 32, apakah pada dasarnya bukan suatu pengakuan terhadap arti penting kebudayaan lokal ? Kemudian tentu masih banyak lagi teori budaya kekinian yang menyanggah teori kadaluwarsa dan berbahaya dari antropolog Kalteng kita seperti yang disampaikan di Semiloka Luwansa.
Apakah benar bahwa kebudayaan lokal atau kearifan lokal secara kenyataan ‘’ hanya bersifat lokalitas dan sedikit yang bersifat universal ‘’? Ambil sebagai pepatah-petitih yang disebut oleh penggulat linguistik dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Fari Subagyo ‘’museum pesan’’, « pelembagaan pengalaman dan kearifan kolektif kultural sebuah masyarakat’’ (Fari Subagyo, 2010).Sebagai contoh konsep-konsep ‘’hatamuei lingu nalata’’ (saling mengembarai pikiran dan perasaan satu dan yang lain), hatindih kambang nyahun tarung mantang lawang langit’’ (berlomba-lomba menjadi anak manusia yang manusiawi’’, ‘’Utus Panarung’’, dan lain-lain, apakah ‘’hanya bersifat lokalitas dan sedikit yang bersifat universal ‘’ ? Demikian juga konsep tentang keniscayaan melakukan antisipasi seperti yang tertuang dalam pepatah : ‘’sedia payung sebelum hujan’’, ‘’sebelum jatuh sediakan penangkalnya’’, ‘’menganga baru meludah’’, ‘’ingat sebelum kena, berhemat sebelum habis’’, ‘’kriwikan dadi grojogan’’, apakah budaya antisipasi begini hanya sebatas lokal nilainya? Sedangkan pada pepatah ‘’tangan mencencang bahu mimikul’’, ‘’menepuk air di dulang memercik ke muka sendiri’’ terkandung unsur dialektika Hegel atau Karl Marx.
Dari segi teori dan kenyataan, teori kebudayaan lokal ‘’hanya bersifat lokalitas dan sedikit yang bersifat universal ‘’ sulit dipertanggungjawabkan dari segi apapun , kecuali dari segi yang disebut oleh Naomi Klein sebagai doktrin pengrusakan oleh kapitalisme — capitalism disaster doctrine (Naomi Klein, 2007). Jika teori ini dikembang-luaskan ia akan menjadi dasar teori bagi sebuah etnosida kultural, sama berbahayanya dengan politik desivilisasi Belanda ‘’ragi usang’’ terhadap Orang Dayak dahulu yang masih berdampak sampai hari ini (Naomi Klein, 2007). Kalau yang ingin dicapai adalah modernitas, menjadi manusia global, modernitas dan globalitas yang alternante (alter mondial) bukanlah penghancuran budaya diri, tapi justru modernitas tanggap zaman itu adalah modernitas yang tidak lepas akar. Kalau tidak kita akan menyamakan modernitas sama dengan Barat-isasi (Westernisation). Ini bukan modernitas tanggap zaman, tapi harakiri budaya. ***

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: