“DI MANA LANGIT DIJUNJUNG, DI SITU BUMI DIBANGUN”

“DI MANA LANGIT DIJUNJUNG, DI SITU BUMI DIBANGUN”
 Oleh Andriani S. Kusni

“Pantha Rei”, segalanya mengalir, ujar filosof Yunani Kuno. Mengalir artinya berubah, bergerak.Gerak adalah hukum yang mengendalikan segala, berada di luar kemampuan dan kemauan manusia untuk mengendalikannya. Karena itu Mao Tse-dong mengatakan bahwa kemerdekaan itu jika kita mengenal hukum hal-ikhwal dan berdasarkan hukum itu kemudian bertindak untuk mengubah hal-ikhwal, termasuk keadaan. Jika diterapkan pada keadaan sosial, maka yang dimaksudkan adalah melakukan perubahan sosial mnusiwi. Sebab mengenal keadaan adalah salah satu tahap saja dari suatu proses keberpihakan mausiawi. Tesis ke-11 Marx tentang Feuerbach menyebutkan bahwa “The philosophers only interpreted tje world differently, but what counts, is to change it (the world”.Para filsuf tealh menafsirkan dunia secara berbeda-beda, tapi yang terpenting adalah mengubah dunia itu” (Dikutip dari makalah Frans Sani Lake, “Reintegrasi Kebudayaan Dayak, Oktober 2011).

Kalteng pun tidak bisa mengelak dari hukum gerak yang universal. Kalteng sekarang berbeda dengan Kalteng zaman Tumbang Anoi 1894, berbeda pula dengan Kalteng zaman Pakat Dayak 1919 yang mengkroreksi kesalahan Pertemuan Tumbang Anoi 1894, berbeda dengan zaman Tjilik Riwut 1957 dalam hampir seluruh bidang. Dari segi demografis, Kalteng tidak lagi didominasi oleh Orang Dayak. Di beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS), bahkan Orang Dayak hanya berjumlah 5% atau 45%. Secara keseluruhan sekarang (2015), Dayak menempati posisi keempat setelah Jawa, Banjar, Bugis. Posisi keempat ini tidak lama lagi bakal digeser oleh etnik Batak.

Perubahan komposisi demografis in akan terus berlangsung. Perubahan juga sangat nampak di bidang kebudayaan. Budaya Dayak. Kebudayaan dan masyarakat Dayak, oleh Frans Sani Lake dinilai mengalami “tragedi historis di tengah modernitas yang menghasilkan disintegrasi historis” (Frans Sani Lake, 2011). Perubahan juga melanda dunia politik, ekonomi dan sosial.

Di hadapan perubahan demikian, elite Dayak dan Kalteng menawarkan budaya yang disebut filosofi budaya huma betang. Isi filosofi budaya huma betang itu pada tahun 1990 dirumuskan sebagai “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’’, rumusan yang diambil dari pepatah Melayu lama. Hanya saja oleh perkembangan agaknya common sense begini sudah menjadi ketinggalan zamn, tidak lagi tanggap terhadap perkembangan serta rangkaian nlai republikan dan berkeindonesiaan.

Uluh Kalteng bukan hanya Uluh Itah (Orang Dayak). Tapi semua yang tinggal, bekerja dan hidup di Kalteng. Ketika menjadi Uluh Kalteng, tanggungjawab mereka terhadap Kalteng mestinya sama. Kalteng adalah kampung-halaman mereka. Jika hanya menjunjung langityang mereka pijak, mereka tidak mempunyai tanggungjawab dan tidak pernah merasa satu dengan Kalteng. Kalteng tidak pernah mereka hayati sebagai kampung-hamaman. Mereka selamnya akan menjadikan Kalteng sebgai tempat usaha, numpang kerja mecari hidup. Mereka akan selamanya jadi wisatawan domestik. Selamaya akan merasa diri sebagai pendatang. Padahal Manusia Indonesia, demikian juga republik dan berkeindioesiaan sesungguhnya mengandung gagasan yang berbeda dengan pandangan, sikap dan perasaan demikian. Pandangan, perasaan dan sikap demikian bertolak belakang dengan rangkaian nilai republikan dan berkeindonesiaan. Jika common sense begini yang dominan maka tidak terelakkan sekat-sekat tebal akan memisahkan unsur-unsur komposisi demografis yang yang heterogen. Pandangan budaya begini akan menjadi dasar pembenaran secara filosofi untuk memelihara ghetto-ghetto dalam diri semua pihak, menyemai kekerasan (secara tidak disadari), yang bisa menyeret Kalteng meluncur akhtret, laju ke belakang. Apabila pandangan, perasaan dan sikap demikian dijadikan pegangan maka ia lagi-lagi hanya memperlihatkan bahwa Republik Indonesia dan Manusia Indonesia adalah sesuatu yang sedang menjadi. Republik dan keindonesiaan sekarang tidak lebih dari sesuatu yang formal. Dasarnya belum solid. Lagi-lagi hal ini pun memperlihatkan betapa perlunya politik kebudayaan yang tanggap dan apresiatif untuk mengejawantahkan rangkaian nilai republikan dan berkeindonesiaan, bukan retorika. Saya khawatirkan retorika hanya membuat “tragedi historis” dan “disintegrasi historis”, meminjm istilah Frans Sani Lake, akan menjadi-jadi. Hal ini berlangsung oleh pandangan kita yang meremehkan kebudayaan dan belum menghayati makna kebudayaan sesungguhnya.Masyarakat Kalteng sekarang pada dasarnya mengarah ke hedonisme yang meremehkan human value dan valuation,. dibayangi oleh “budaya” kekerasan, mulai dari kalangan elite hingga ke akar rumput.

Pandangan, sikap dan perasaan yang tanggap zaman dan apresiatif sekarang tidak lain “dimana bumi dipijak di sana langit dibangun”. “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” sudah kadaluwarsa. Il n’y a plus de sense (Tak punya arti apa-apa lagi). Common Sense yang ketinggalan zaman dan berbahaya. Yang good sense adalah “di mana bumi dipijak di sana langit dibangun”. Di mana langit dijunjung di situ langit dibangun. Ia meniscayakan pembauran, tanggungjawab (hak dan wajib) warganegara dan manusiawi yang dalam sastra lisan Dayak Katingan disebut “rengan tingang nyanak jata” (anak enggang putera-puteri naga).***

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: