BARATISASI,MODERNITAS DAN PASCA TRADISIONAL

BARATISASI,MODERNITAS DAN PASCA TRADISIONAL

Oleh Kusni Sulang
‘’Zaman Siti Nurbaya’’, ‘’jadul’’ (jaman dahulu), ‘’kuno’’, ‘’ketinggalan zaman’’, ‘’trdisional’’,adalah beberapa istilah yang digunakan oleh sementara orang, terutama anak-anak muda untuk melukiskan adat-istiadat, budaya lokal sekaligus sebagai alasan pembenaran terhadap gaya hidup mereka yang mereka pandang ‘’modern’’. Pandangan begini tidak hanya terdapat di Kalimantan Tengah, tetapi juga di pulau-pulau lain tanahair dan berlangsung di negeri-negeri lain di dunia, terutama di negeri-negeri yang sedang berkembang (less developping countries, LDC). Dengan pandangan demikian, maka terjadilah pengabaian sadar atau setengah sadar , paling tidak memandang budaya lokal , yang notabene adalah budaya diri sendiri. Bahkan terjadi keengganan menggunakan bahasa daerah sampai ke kalangan anggota keluarga sendiri – sebagai entitas masyarakat terkecil. Anggapan tentang modernitas yang demikian, berdampak terjadi bunuh diri budaya secara tidak sadar. Karena budaya lokal dipadankan dengan kekolotan, dengan ‘’zaman Siti Nurbaya’’ atau ketinggalan zaman. Modernitas demikian mewujudkan diri, dengan ‘’pergaulan bebas’’, mengenakan perkembangan fesyen (fashion) Barat,makanan, minuman, lelap terbuai oleh lagu-lagu pop Barat, telepon genggam mutakhir, berpacu laju dengan sepeda motor, menggunakan kosmetik Barat, dan meniru gaya hidup (way of life) Barat. Akibatnya budaya tiruan, epigonisme, budaya copy paste, yang dipandang sebagai budaya modern menjadi dominan. Barat dan modernitas dilihat sebagai identik. Sehingga Baratisasi ‘’semu’’pun berlangsung dalam masyarakat kita. Dalam mengungkapkan diri, dirasa kurang modern jika bahasa Indonesia tidak dicampur dengan bahasa Barat, terutama bahasa Inggris sehingga melahirkan bahasa campuran antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, yang disebut oleh sementara penulis sebagai ‘’Indonglish’’. Dalam bahasa campuran ini , Anda, kau, kamu, Saudara, diganti dengan ‘’you’’. Apa yang dikatakan di atas, melukiskan bahwa dalam masyarkat kita telah terjadi kekacauan, atau pemahaman salah kaprah terhadap Barat dan modernitas.

Di samping itu, modernitas sering dipahami juga sebagai penggunaan dan penguasaan tekhnologi mutakhir, seperti komputer, alat pengukur tingkat polusi, berdirinya mall-mall, hotel-hotel mewah, telepon genggam, satelit, pesawat terbang, obat-obatan baru, dan lain-lain, dan teknologi-teknologi ini umumnya ditemukan oleh Barat. Hal ini misalnya terungkap antara lain dalam sebuah diskusi yang berlangsung hampir 10 tahun silam di Kantor Gubernur Kalteng, semasa Asmawi Agani. Salah seorang cendekiawan Kalteng yang berbicara dalam seminar mengenai bagaimana mengisi otonomi daerah waktu itu, antara lain mengatakan bahwa ‘’Kalteng hanya bisa bangkit jika melakukan modernisasi. Dan modernisasi itu tidak lain dari penggunaan tekhnologi modern’’. Apakah sebenarnya tekhnologi modern itu? Mengapa tekhnologi terus-menerus berkembang? Pertanyaan terakhir ini, sesungguhnya menyangkut inti dari tekhnologi modern atau yang oleh Lubna Ramay, seorang penulis bebas (freelance), dalam tulisannya di Daily Time (30 Oktober 2010) disebut juga sebagai mekanisasi (machinasation). Teknologi yang terus-menerus berkembang tidak lain dari wujud semata dari ide, pikiran yang ada di dalam benak para penemunya. Mekanisasi atau modernisasi yang berkembang tiada henti itu bermula dari ide manusia dalam upayanya menjawab pertanyaan bagaimana membuat kehidupan manusia makin manusiawi dari hari ke hari. Bagaimana manusia hidup dari hari ke hari, bukan makin sulit tapi makin mudah. Misalnya bagaimana orang dari muara bisa mencapai kampung di hulu, bagaimana orang bisa lebih gampang dan cepat datang dari Jakarta ke Palangka Raya. Dengan adanya speed boat, jalan raya, kapal terbang, maka perjalanan yang tadinya berhari-hari, bahkan sampai berminggu-minggu, dengan adanya teknologi baru, jarak itu bisa ditempuh dalam beberapa jam. Pikiran atau filosofi memanusiawikan manusia dan kehidupan inilah yang melatari modernisasi. Hanya saja filosofi ini sering tidak dihayati oleh banyak orang. Sehingga yang ditiru dari Barat hanyalah bentuk luar dari yang disebut Barat. Inti budaya Barat berupa filosofi di balik penemuan-penemuan baru mereka, sama sekali dilupakan apalagi diserapi. Karena itu modernisasi yang diduga sebagai modernisasi terhenti pada bentuk luarnya saja.

Pada konteks tertentu modernitas nampaknya disinonimkan dengan kekinian.Misal pada kata-kata ‘teror modern’, ‘senjata modern’, dan lain-lain.
Modernisasi di Barat berawal dari berlangsungnya Revolusi Industri pada akhir abad ke-18 dengan ditemukannya mesin uap oleh James Watt di Inggris. Revolusi Industri ini membuat wajah dunia berobah secara drastis. Ide filosofis yang mendasari penemuan James Watt tidak lain bagaimana manusia hidup bisa lebih manusiawi, walaupun dengan penemuan teknologinya, kapitalisme dan kemudian imperialisme juga berkembang. Dari segi sejarahnya, jika kita sepakat bahwa Revolusi Industri Abad Ke-18 sebagai awal modernisasi bisa dikatakan bahwa modernisasi memang bermula dari Barat. Sedangkan yang melahirkan Revolusi Industri itu adalah ide filosofi: bagaimana memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat. Filosofi ini adalah ide progresif. Yang terjadi sekarang, kita menggunakan hasil temuan itu secara fisik, tapi mengabaikan ide filosofisnya yang progresif. “We use the technology from the west yet resist progressive ideas that can bring about a positive change and steer us progress” (Kita menggunakan teknologi dari Barat tapi menolak ide towards -ide progresif yang bisa membawakan kita perobahan positif dan membimbing kita ke arah kemajuan ). Dari segi ini belajar dari Barat, terutama kegiatan-kegiatan penelitian mereka untuk terus-menerus melakukan penemuan tekhnologi dengan bimbingan filosofi progresif, bukanlah sesuatu yang salah. Tetapi belajar tidak berarti meniru, mencontek. Kita bisa menjadi modern dengan tetap mempertahankan tatanan nilai dan budaya kita sendiri.
Apakah yang disebut modern itu? Lubna Ramay berpendapat bahwa modern itu pertama-tama dalam pikiran. ‘’The first step towards that is the ‘thought’’’. Karena itu kita bisa menjadi modern tanpa melakukan ‘Westernised’ (Pembaratan) diri. Apakah ‘Westernised’ itu? ‘’Westernised’’ adalah pencontekan, melakukan copy paste Barat, terutama bentuk-bentuk luarnya. Barat yang modern tidak lain, jika dilihat dari sejarah Revolusi Industri tidak lain adalah pikiran yang terbuka untuk mewujudkan kemajuan, bukan sebaliknya menyuburkan keterbelakangan. Karena itu sangat mungkin dan sudah seniscayanya kita menjadi seorang yang modern serta berindentitas. Artinya tetap berpegang pada nilai-nilai budaya kita sendiri. Dan cara utama melakukan hal ini dimulai dari alam pikiran kita. ‘’ Modern thought to me means thinking out of the box: look forward rather than backwards, peel off the garb of religiosity that creates nothing but resentment, welcome scientific advancements, ask questions. Timid acceptance of primitive ways of thinking (thinking that resists progress in the worldly sense) hinders progress” (Pikiran modern bagi saya berarti berpikir keluar dari batasan kotak, lebih melihat ke depan daripada ke belakang, menguliti cengkeraman relijiusitas yang tidak menciptakan apapun kecuali kekangan, menyambut kemajuan ilmu pengetahuan, mengetengahkan pertanyaan-pertanyaan. Penerimaan malu-malu terhadap cara berpikir primitif (pikiran yang melawan kemajuan dalam arti harafiah), menyembunyikan kemajuan), tulis Lubna Ramay. Saya menyebut modernitas begini sebagai Pasca Tradisional. Karena modernitas tidak lain kemampuan suatu angkatan menjadi anak zaman yang tanggap zaman, tanpa tercerabut dari akar budayanya. Di mana tempat Uluh Kalteng? Mereka ada di permukaan Baratisasi yang dikira modern, tapi tidak membawa mereka ke mana-mana. Keadaan beginilah yang menunggu kerja keras kita.***

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: