MÉNYU

IMG_0929

Seminar Budaya “Menggagas Strategi Kaum Muda Dayak Dalam Menghadapi Era Globalisasi “ bagian dari kegiatan tahunan Festival Budaya Mahasiswa Dayak Se-Kalimantan Ke-XIII di Yogyakarta pada 1-3 Oktober 2015. Pembicara utama seminar budaya ini adalah Dr. A. Teras Narang, SH, Dr. Arie Setyaningrum Pamungkas, MA dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan Kusni Sulang dari Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, Palangka Raya. (Foto. Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015).

Tajuk Panarung
MÉNYU
Oleh Andriani S. Kusni

Mahasiswa/i Dayak dari lima provinsi Kalimantan-Indonesia yang sedang belajar di berbagai perguruan tinggi, baik negeri atau swasta, dan berbagai kejuruan, di Yogyakarta, jumlahnya tidak kurang dari 10 ribuan orang. Di antara jumlah ini terdapat dua ribuan mahasiswa dari berbagai kabupaten Kalimantan Tengah (Kalteng). Yang paling banyak mengirim mahasiswa/I ke Jawa, terutama Jawa Tengah,cq Salatiga dan Yogya, adalah kabupaten Landak, Kalimantan Barat (Kalbar). Pengiriman besar-besaran anak kampung untuk sekolah di berbagai perguruan tinggi dan sekolah kejuruan di Jawa Tengah (Jateng) dimulai pada masa Cornelis (sekarang Gubernur Kalbar), saat menjadi bupati kabupaten Landak.
Pengiriman masif anak-anak kampung kabupaten Landak untuk belajar di Jawa dengan beasiswa (bukan hanya sekedar bantuan untuk riset atau penulisan skripsi dan tesis) oleh Cornelis selaku Bupati, tentu dengan harapan agar kelak kembali kampung, mereka menjadi tulang punggung berkelanjutan atau sumber daya manusia yang berdaya untuk melakukan pemberdayaan dan pembangunan kabupaten Landak sebagai kampung-halaman. Sebab pemberdayaan dan pembangunan dilakukan oleh manusia dan untuk manusia. Sehingga pembentukan barisan kokoh dan berjumlah banyak, merupakan kunci pemberdayaan dan pembangunan berkelanjutan serta terencana. Upaya pemberdayaan dan pembangunan tidak bisa dan tidak mungkin dilaksanakan dengan kebodohan. Jual-beli ijazah, nilai dan gelar adalah bentuk dari tindakan bodoh dan membodohkan orang lain, membuat sumber daya manusia pemegang gelar, ijazah dan nilai itu menjadi tidak berdaya, tidak berkemampuan.
Ribuan mahasiswa Dayak Kalteng yang sedang belajar di Yogya mestinya juga diharapkan bisa menjadi tulang punggung pemberdayaan dan pembangunan Kalteng.
Tahun 2009 di Aula Jayang Tingang Kantor Gubernur Kalteng, mereka yang telah selesai dengan pendidikannya menyelenggarakan sebuah seminar besar. Dalam term of reference seminar tersebut antara lain ditulis: “dari sini (seminar – ASK) akan lahir para pemikir dan para pemimpin Kalteng generasi keempat”. Hanya saja pernyataan hebat percaya diri ini, sampai sekarang tidak terbukti. Yang nampak adalah ribuan mereka yang telah kembali ke Kalteng setelah selesai dengan studi mereka di Yogya, ibarat krupuk masuk angin. Mlempem, dalam bahasa Jawa. Ményu, dalam bahasa Dayak Ngaju.
Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kalteng yang 2,5 juta, di antara tiap 28 orang warga terdapat seorang yang disebut sarjana. Tapi kenyataan memperlihatkan bahwa yang disebut sarjana itu tidak berarti apa-apa bagi 28 orang warga. Artinya alumni perguruan tinggi di dalam dan di luar Kalteng sama ményu-nya. Menggunakan kata-kata Mahfud MD, “di Indonesia banyak sarjana kertas, tapi minim cendekiawan”. Lulusan perguruan tinggi tidak otomatis menjadi cendekiawan. Kalteng kekurangan, kalau bukan ketiadaan, cendekiawan. Keterampilan kejuruan tanpa dibarengi dengan wacana, menyisakan diri hanya sebagai tukang ahli tapi belum manusiawi.
Alumni perguruan tinggi, baik yang di dalam, mau pun di luar Kalteng, ketika terjun ke kehidupan riil yang tidak ramah dan tidak berbelas kasihan, mencampakkan idealisme dan menyerah. Menjadi pragmatis, apabila menggunakan istilah umum dalam masyarakat sekarang. Gelora idealisme pada masa studi seperti kandil padam ditiup angin. Lenyap bagai mode musiman. Sedangkan Dayak Utus Panarung (Dayak Turunan Pelaga) tinggal kisah masa silam atau sejarah budaya yang dilupakan. Menjadi pelaga (petarung) sampai akhir hayat dengan segala konsekwensinya adalah suatu pilihan. Ményu, itu pun suatu pilihan. Hanya saja pilihan ini jika dijadikan sandaran, akan membuat Kalteng bangun-bangun dari tidur mendapatkan masih berada di tempat semula. Ketika ményu menjadi pilihan utama maka secara pemikiran dan mentalitas, secara ideologis Kalteng sesungguhnya masih bahéwah (bercawat). Budaya ghetto dan ghettoisme budaya yang menjelma menjadi budaya politik adalah salah satu bentuk dari héwah itu! []
.
PESTA SENI DAN BUDAYA DAYAK SE-KALIMANTAN Ke-XIII DI YOGYAKARTA

Yogyakarta. Radar Sampit, 3 Oktober 2015. Pesta Seni dan Budaya Dayak se-Kalimantan ke-XIII, telah dilangsungkan dari tanggal 1 sd 3 Oktober 2015 di Yogyakarta. Kegiatan tahunan yang merupakan salah satu agenda tetap kebudayaan pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta ini diorganisir oleh para mahasiswa Dayak dari Kalimantan Barat, Timur, Tengah, Selatan dan Kalimantan Uatara yang sedang belajar dalam berbagai cabang ilmu di berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta sejak 13 tahun lalu. Penyelenggaraannya dilakukan secara bergiliran oleh organisasi-organisasi mahasiswa dari lima provinsi Kalimantan.ahun lalu organisator kegiatan ini dilakukan oleh para mahasiswa dari provinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan tahun ini dipercayakan kepada para mahasiswa dari kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Apakah penyelenggaraannya dilakukan oleh organisasi mahasiswa tingkat provinsi atau kabupaten, ditetapkan berdasarkan kemampuan organisasi dari daerah tersebut.
Pesta Seni dan Budaya Dayak se-Kalimantan tahun 2016 mendatang masih dipercayakan kepada Kalimantan Barat, hanya lain kabupaten yaitu kabupaten Skadau.
Walau pun yang ditampilkan dalam Pesta Seni dan Budaya Dayak se-Kalimantan ini adalah seni dan budaya Dayak, tapi Pesta Seni dan Budaya ini bukanlah kegiatan kesenian eksklusif. Penyelenggara juga mengundang organisasi-organisasi mahasiswa dari daerah-daerah lain yang ada di Yogyakarta. Bahkan dalam pertunjukan penutupan 3 Oktober 2015 sebuah komunitas tari Jawa turut mengisi acara. Demikian dalam karnaval.
Pesta Seni dan Budaya ini selain di isi dengan pergelaran-pergelaran kesenian, juga dimeriahi oleh berbagai lomba seperti menyumpit, tari kreasi, menulis esai, pameran, dan seminar. (ask-01-1015).

IMG_0955
Suasana menjelang ritual adat untuk menutup Festival Budaya Mahasiswa Dayak Se-Kalimantan Yogyakarta Ke-13 (Foto. Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani S. Kusni, 2015).

Para pengunjung Festival Budaya Dayak 2015 di Yogyakarta (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani.S. Kusni, 2015).J

Para pengunjung Festival Budaya Dayak 2015 di Yogyakarta (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah/Andriani.S. Kusni, 2015).J

MENGGAGAS STRATEGI KAUM MUDA DAYAK DALAM ERA GLOBALISASI

Yogyakarta. Radar Sampit, 3 Oktober 2015. Salah satu mata acara puncak Pesta Seni dan Budaya Dayak se- ke-XIII, telah dilangsungkan dari tanggal 1 sd 3 Oktober 2015 di Taman Budaya Yogyakarta oleh para mahasiswa Dayak di Yogyakarta adalah seminar bertemakan “Menggagas Strategi Kaum Muda Dayak Dalam Era Globalisasi”. Dr. A. Teras Narang, SH, Dr. Arie Setyaningrum Pamungkas, MA sosiolog dari Gadjah Mada dan Kusni Sulang dari Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, Palangka Raya, hadir sebagai pembicara utama. Dr.A. Teras Narang, SH membawakan makalah berjudul “Aktualisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Mewujudkan Good Governance”. Sedangkan Dr. Arie Setyaningrum Pamungkas, MA membawakan makalah bertajuk “Penataan Ruang Publik Bagi Masa Depan Generasi Muda Indonesia”. Adapun paparan Kusni Sulang membahas perlunya “Mengenal Diri dan Musuh Untuk Menjadi Manusia Berharkat”.
Dalam makalahnya A.Teras Narang antara lain mengatakan bahwa “Kesenjangan dan sakralisasi pembangunan yang dilakukan pemerintahan sebelumnya telah melahirkan banyak korban. Unformalitas terhadap budaya lokal dengan dan persatuan adalah dalih kesatuan dan persatuan adalah contoh yang nyata.” Sedangkan sekarang ketika otonomi daerah dilaksanakan “pemerintah selalu dihadapkan pada dua tugas utama yang harus mereka emban. Pertama, membangun Negara kesatuan (integrasi) yang mampu mengatasi ikatan-ikatan primordial. Kedua, membangun demokrasi yang dapat memberikan ruang politik dan aspirasi masyarakat secara luas”.
Dr. Arie Pamungkas, MA menunjukkan arti penting kegiatan seperti Pesta Seni dan Budaya Dayak se-Kalimantan di hadapan makin menyempitnya ruang publik. Sedangkan Kusni Sulang menunjukkan bahwa Dayak sekarang makin terpinggir. Terpinggir secara menyeluruh. Dipinggirkan secara sistematik. Ia juga menunjuk musabab keterpinggiran menyeluruh tersebut, dan bagaimana keluar dari keterpinggiran antara lain dengan mengembangkan pola pikir dan mentalitas ofensif. Bukan agresif. Ofensif artinya mengubah situasi, menciptakan syarat-syarat untuk maju, membuat dari tiada menjadi ada, dari kecil menjadi besar. Dalam paparannya, Kusni juga menekankan penolakannya terhadap kebijakan transmigrasi dan keluarga berencana pukul rata seoerti sekarang. Sebab jika diteruskan maka yang mayoritas akan makin mayoritas, yang minoritas makin minoritas, akhirnya terjadi kolonialisme internal. Strategi kebudayaan yang niscaya dipilih menurut Kusni adalah strategi ofensif dan menciptakan budaya hibrida Kalimantan atas dasar budaya Dayak. Bukan menumbuhkembangkan budaya ghetto yang kemudian menjadi budaya politik. (ask-02-1015).
IMG_0932
Iwan Djola (moderator seminar) dan para pembicara dalam seminar Pesta Seni dan Budaya Dayak se-Kalimantan 3 Oktober 2015 di Yogyakarta : Dr. A. Teras Narang, SH; Dr. Arie Setyaningrum Pamungkas, MA, sosiolog dari Univ. Gadjah Mada dan Kusni Sulang dari Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah (Foto.Dok. Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah /Andriani S. Kusni, 2015).

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: